1 November 1968: Serangan Pasukan Komando Vietcong Pada Kapal USS Westchester County

USS Westchester County (LST 1167) adalah Kapal Pendarat Tank (LST) kelas Terrebonne Parish-class yang mulai dibangun pada tanggal 11 Januari 1952 di galangan kapal Christy Corporation di Sturgeon Bay, Wisconsin. Kapal ini diluncurkan pada tanggal 18 April 1953, yang kemudian dinamai menurut nama daerah di tenggara New York. Kapal ini memiliki panjang di garis air sepanjang 384 kaki (117 meter) dan lebar 56 kaki (16 meter), serta berbobot kosong 2.590 ton dan 5.800 ton saat bermuatan penuh. Meskipun draf maksimumnya adalah 17 kaki (5,2 meter), namun dia dapat berlayar hingga dekat pantai untuk melakukan pendaratan amfibi. Jumlah awak normalnya adalah sebanyak 153 pelaut, dan dia bisa juga mengangkut beberapa ratus marinir. Kapal ini dipersenjatai dengan tiga meriam tembak cepat ganda kaliber 3 “/ 50 MK33. Setelah siap dioperasikan, Westchester County kemudian bergabung dengan armada AL AS pada tahun 1954. Pada tahun 1958 ia kemudian dipindahkan ke Armada Pasifik, yang ditransfer ke Yokosuka, Jepang. Operasi rutin telah dilakukan kapal ini di seluruh wilayah Pasifik barat sampai bulan Maret 1965, ketika dia menyediakan angkutan laut bagi Marinir yang dikirim ke Danang, sebagai bagian dari unit darat pertama Amerika yang dikirim secara resmi ke Vietnam. Pada bulan April ia berpartisipasi dalam pendaratan amfibi di Chu Lai dan terus bertugas sebagai kapal transport, kapal serang amfibi, serta menjalankan peran sebagai “kapal induk” dari armada Mobile Riverine Force selama tiga tahun ke depan di wilayah Delta Mekong.

USS Westchester County (LST 1167) sekitar tahun 1960an. Westchester County adalah salah satu kapal pendarat tank yang dialih-fungsikan sebagai kapal pendukung satuan Mobile Riverine Force di Vietnam. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

WESTCHESTER COUNTY DALAM SATUAN MOBILE RIVERINE

Menurut seorang veteran perang sungai di Vietnam, ‘Delta Mekong sangat sunyi di malam hari, begitu sunyinya, sehingga Anda dapat mendengar benda jatuh dari jarak satu klick [satu kilometer].’ Dan untuk awak LST (kapal pendaratan tank) USS Westchester County, (nomor lambung 1167), malam tanggal 1 November 1968, tidak terkecuali – pada pukul 0322, ketika tim perenang sapper VC hampir berhasil mengubah kapal itu menjadi bola api raksasa. USS Westchester County, awalnya dirancang untuk mengangkut dan mendaratkan pasukan langsung ke bibir pantai, tapi pada akhir 1968, Westchester County berfungsi sebagai rumah sementara dan markas bagi 175 tentara dari Batalion ke-3 Divisi Infanteri ke-9, Artileri ke-34, dan bagi para kru Divisi Serang Angkatan Laut ke-111. Kapal ini ditugaskan sebagai kapal pendukung untuk Mobile Riverine Group Alpha, ‘Wesco’. Kapal ini dikenal di seluruh armada, sebagai kapal yang berlabuh di tengah sungai di Sungai My Tho yang berlumpur, 40 mil di hulu dari pelabuhan pantai Vung Tau. Bergerombol di sekitar LST ini adalah kapal komando satuan “Brown Water Navy” (yang bertugas menjaga wilayah perairan pantai dan sungai-sungai di Vietnam Selatan), USS Benewah, kapal perbaikan USS Askari, dua kapal barak besar, sebuah kapal penyelamat kecil dan sejumlah kapal squat, kapal serang berlapis baja yang dicat hijau. Semuanya penuh dengan bahan bakar dan amunisi. 

USS Benewah, kapal barak Mobile Riverine Force, yang berada di dekat USS Westchester County saat petaka terjadi, 1 November 1968. (Sumber: http://davidbruhn.com/)
Helikopter serang Huey yang kerap disebut sebagai “Seawolf” oleh AL Amerika di Vietnam. Pada saat serangan VC di kapal USS Westchester tercatat terdapat 5 helikopter Seawolf diatas dek kapal LST itu. (Sumber: Pinterest)

Diikat ke sisi kanan Wesco dan ditopang dengan lambung kapal adalah kayu jati sepanjang 50 kaki yang disebut ‘camel’ dimana terdapat tiga ‘ammis,’ yakni tongkang ponton aluminium besar yang dihubungkan bersama yang berfungsi sebagai kombinasi dermaga, tempat bongkar muat dan depot amunisi serta penyimpanan bensin. 25 kapal monitor, kapal patroli pendukung serangan dan kapal transport lapis baja Divisi Serang ke-111 ditambatkan juga ke ammis. Di dek utama kapal terdapat Lima helikopter serang UH-1B Iroquois (Seawolf) yang diisi penuh dengan bahan bakar; di bawah, di dek tangki, lebih dari 350 ton bahan peledak tingkat tinggi dan amunisi disimpan. Biasa beroperasi di Yokosuka, Jepang, LST sepanjang 384 kaki itu adalah salah satu dari banyak kapal perang amfibi yang ditempatkan di armada “Brown Water Navy”. Kapal ini tidak asing dengan wilayah sungai-sungai di kawasan Delta Mekong yang berwarna coklat kopi, dan pada malam 1 November, kapal itu tengah berada di penugasan tempur kelimanya di Republik Vietnam. Sejauh ini, pelayaran rutin mereka – untuk tur tempur – diisi dengan melewati minggu demi minggu bekerja di lingkungan yang panas, lembab, dengan sedikit waktu bebas di darat sementara peluang serangan dari pasukan komando sabotase VC selalu ada.

PASUKAN SAPPER KOMUNIS VIETNAM 

Tim “Sapper” (bagaimana satuan zeni pelopor ini diberi nama) VC, adalah anggota Bo Doi Dac Cong (“prajurit pasukan khusus”), sebuah organisasi yang sangat terorganisir, terlatih dan berperalatan lengkap yang ditunjuk untuk melakukan berbagai operasi khusus. Istilah ‘Sapper’ berasal dari kata Prancis saper, yang merujuk kepada prajurit Prancis yang ditugaskan menggali parit sempit, atau “sap”, menuju benteng musuh untuk menyediakan jalur yang agak terlindungi untuk memindahkan orang-orang dan artileri yang lebih dekat ke benteng sebagai persiapan sebelum melakukan serangan. Istilah “sapper” di era modern telah mengacu pada bidang yang lebih luas, yakni sebagai pasukan zeni tempur yang melakukan berbagai tugas konstruksi dan penghancuran. Di Vietnam, pasukan Amerika menggunakan nama tersebut terutama untuk satuan Tentara Vietnam Utara (NVA) dan Viet Cong (VC) yang menggunakan taktik lebih mirip dengan pasukan komando daripada tugas-tugas pasukan Zeni biasa. Sebelum Serangan Tet pada awal 1968 (serangkaian serangan terkoordinasi yang dilancarkan tentara Vietnam Utara dan Viet Cong terhadap target-target terpilih di seluruh Vietnam Selatan), satuan sapper di selatan dikontrol oleh Viet Cong dan beroperasi secara independen dari Tentara Vietnam Utara. Namun setelah Viet Cong menderita banyak korban selama Serangan Tet, semua operasi tim sapper di Vietnam Selatan diawasi oleh Grup Sapper ke-429, yang melaporkan langsung ke Komando Tinggi Sapper, sebuah departemen di Komando Tinggi NVA di Hanoi. Pusat pelatihan Sapper di Vietnam Selatan dan Kamboja dijalankan oleh Grup Sapper ke-429, sementara pusat pelatihan di Vietnam Utara dan Laos dipimpin oleh Komando Tinggi NVA. Pelatihan biasanya berlangsung tiga hingga delapan belas bulan, tergantung pada apakah peserta pelatihan akan menjadi prajurit di unit reguler atau satuan penyerang yang beroperasi di luar struktur militer formal.

Tim Sapper Vietcong. (Sumber: https://www.deviantart.com/)

Dalam Grup Sapper ada tiga jenis unit Sapper yang berbeda. Sapper perkotaan dikhususkan untuk tugas-tugas pengumpulan intelijen, terorisme, pembunuhan, dan operasi khusus di daerah perkotaan besar seperti Saigon dan Hue. Sapper lapangan ditugaskan untuk melakukan operasi melawan pasukan AS dan Vietnam Selatan, melatih pasukan Komunis lainnya sebagai satuan sapper, dan memimpin pasukan elit untuk melakukan serangan kilat. Sementara itu tim sapper angkatan laut bertanggung jawab untuk menyerang kapal-kapal dagang, kapal angkatan laut, jembatan, dan pangkalan di dekat jalur perairan. Kapal-kapal dagang yang mengantarkan amunisi dan bahan-bahan lainnya ke pelabuhan-pelabuhan Vietnam untuk mendukung upaya perang sekutu adalah sasaran yang populer, demikian pula kapal-kapal dan tongkang-tongkang dari satuan Mobile Riverine Force yang menampung sejumlah besar tentara Amerika, dan sedikit personil Pasukan Riverine. Sebuah serangan pada kapal semacam ini membutuhkan penempatan satu atau lebih bahan peledak langsung ke lambung kapal yang ditarget. Tantangan pertama yang dihadapi para perenang adalah bagaimana mereka bisa mencapai target secara diam-diam. Tergantung di mana kapal itu ditambatkan atau berlabuh, para perenang harus membawa muatan peledak mereka ke target dengan berenang dari pantai atau diantar oleh sampan. Setelah cukup dekat dengan target, tim perenang yang terdiri dari dua orang biasanya berenang diam-diam di bawah permukaan air menggunakan snorkel, masing-masing membawa beban mereka sendiri-sendiri atau bekerja sama untuk membawa muatan besar tunggal. Kedua anggota biasanya mengikatkan tali di antara mereka untuk memudahkan serangan dan mencegah diri mereka terpisah satu sama lain. Setelah mendekati kapal, keduanya mencoba menangkap rantai jangkar di antara mereka dengan menggunakan tali. Jika berhasil menjerat rantai, hal ini akan mengamankan mereka dari kemungkinan terseret arus yang bisa mendorong mereka menjauh dari kapal. Para perenang kemudian dapat bermanuver dan menempatkan bahan peledak pada lambung target. Bahan peledak dipasang, baik secara magnetis atau diikat ke lambung, lalu sekering diaktifkan. Yang terakhir dapat berupa peledakan secara manual atau dengan penunda waktu, tetapi metode peledakan dengan penundaan waktu tampaknya menjadi metode yang paling disukai karena tidak memerlukan aktivitas tambahan bagi para perenang, yang tujuan utama mereka setelah memasang bahan peledak adalah untuk melarikan diri tanpa terdeteksi dengan selamat secepat mungkin.

SERANGAN SAPPER ATAS WESCO

Kembali ke kapal ‘Wesco’. Meski ancaman serangan Vietcong selalu mengintai, namun semangat personel Amerika saat itu tetap tinggi. Departemen teknik kapal baru-baru ini mengistirahatkan Skuadron ‘E’ yang baru-baru ini memenangkan penghargaan, dimana penghargaan itu sekarang dengan bangga ditampilkan di anjungannya. Dengan hanya satu bulan tersisa di wilayah delta, 132 orang awak kapal ‘Wesco’ berharap dapat melepas ‘satuan’ mobile riverine mereka dan berlayar ke Singapura untuk beristirahat dan menikmati rekreasi yang memang layak mereka terima. Saat itu adalah malam yang khas di sungai Mekong. Kapal dalam keadaan gelap, dengan hanya lampu navigasi yang dinyalakan. Di bagian depan dan belakang, meriam tembak cepat 3-inci dalam posisi terisi dan siap ditembakkan, diawaki oleh personel yang dikurangi jumlahnya. Personel bersenjata ditempatkan di dek. Seorang perwira berkeliling memastikan bahwa kru dan personel bersenjata tetap siaga. Penjagaan nonstop ditempatkan di bagian anjungan, dan di ruang mesin, dimana personel “snipes” ruang mesin, berdiri siap setiap saat menanti petunjuk bell. Di kejauhan, terdengar bunyi benda jatuh di air saat perahu patroli melakukan tugas mereka menjatuhkan granat air untuk menangkal musuh. Di bawah geladak, di kompartemen yang penuh sesak, keheningan hanya terganggu oleh suara kipas pendingin udara dan gumaman para lelaki yang sedang tidur. Tetapi ketika para kru tidur, tim pasukan sapper VC berhasil menghindari kapal patroli dan diam-diam mendekati kapal. Pembawa pesan para penjaga baru saja pergi ke bawah untuk membangunkan tim tugas jaga jam berikutnya ketika tiba-tiba dua ledakan besar merobek sisi kanan Wesco. Sepasang ranjau yang dipasang para perenang VC, masing-masing diperkirakan mengandung antara 150 dan 500 pon bahan peledak, telah secara bersamaan meledak langsung di bawah kapal. 

USS Westchester County dikelilingi oleh kapal-kapal kecil dari satuan Mobile Riverine Force. (Sumber: http://davidbruhn.com/)

Terkompresi antara ponton dan lambung LST, kekuatan ledakan menjadi terdorong ke atas, yang merobek lapisan baja, menghancurkan tangki bahan bakar dan meledak ke kompartemen tempat istirahat. Salah satu ammis tampaknya terlontar keluar dari air membawa semburan minyak, air, dan serpihan kayu keras yang terlempar ke udara. Dalam sekejap, jarak pandang di dalam kapal berkurang menjadi nol karena pencahayaan padam dan udara dipenuhi awan uap yang mencekik dan bahan bakar diesel yang menguap. Di tempat tidur yang penuh sesak, ledakan menggulung seluruh geladak ke atas dan belakang, seperti alas sepatu, hanya menyisakan sedikit ruang merangkak sempit yang penuh dengan logam bengkok dan tubuh-tubuh yang hancur di antara geladak dan sekat. Di bawah, di ruang-ruang tempat beristirahat personel Angkatan Darat, orang-orang, tempat tidur, senjata, amunisi, dan peralatan pribadi dilemparkan melintasi kompartemen melalui dua lubang menganga terbuka di bagian dalam kapal, yang segera membawa bersama mereka air berlumpur Sungai My Tho. 

Sungai My Tho, yang menjadi tempat bersandar USS Westchester County merupakan salah satu cabang dari Sungai di Kawasan Delta Mekong. (Sumber: Pinterest)

Gelombang kejut bergema di air, dan Wesco mulai miring ke kanan. Bel alarm kemudian dibunyikan di seluruh kapal ketika orang-orang yang meraba-raba dalam kegelapan yang kacau mempersiapkan diri atau membantu teman-teman sekapal mereka yang terluka. Komandan LST, Letnan Cmdr. John Branin, telah dilemparkan dari tempat tidurnya oleh ledakan itu. Mengira kapalnya berada di bawah serangan roket, Branin bangkit dari geladak, berjuang mengenakan celananya dan berlari ke anjungan. Tepat di bawah dek utama, sesuatu yang kritikal menunggu untuk meledak. Dua pertiga dari dek, yang memanjang hampir seluruh panjang kapal, digunakan untuk menyimpan amunisi. Lebih dari 10.000 butir peluru amunisi kaliber 105mm dan 155mm disimpan di sana, ditumpuk dekat dengan palet amunisi kaliber 20mm, kotak peledak plastik C-4, ranjau Claymore, amunisi fosfor putih dan peluru suar serta pyro-technics. Setelah ledakan, amunisi yang lepas dan rusak berserakan di sekitar geladak. Awan bahan bakar yang sangat mudah terbakar menguap tergantung di udara. Dengan hanya satu percikan, seluruh isi Westchester County dapat dengan mudah menjadi ‘ledakan besar.’

Lukisan dari Richard DeRosset yang menggambarkan serangan Perenang Sapper VietCong, 1 November 1968. (Sumber: http://www.davidbruhn.com/)

Di tengah kapal di dek kedua, di kompartemen perwira senior yang terhantam ledakan keras, Hospital Corpsman 1st Class John Sullivan berjuang untuk bernapas ketika dia sadar kembali. Lampu pertempuran darurat di geladak di atas memberi sedikit cahaya ditengah kabut diesel dan kehancuran di sekelilingnya. Terlempar dari tempat tidurnya, Sullivan mendapati dirinya separuh terbaring di tengah geladak dan separuh di lubang menganga yang tiba-tiba muncul enam inci dari tempat dia tidur. Bingung pada awalnya, dia secara naluriah lalu menarik diri dari lubang yang menganga. Di bawah, tak terlihat dalam kegelapan, air sungai My Tho mengalir ke kapal. Sullivan merasakan sensasi terbakar di kaki kanannya. Sepotong besar daging telah robek dari bagian dalam lututnya. Dengan alarm yang berbunyi samar-samar di latar belakang, petugas medis yang setengah tuli akibat ledakan itu menyadari adanya teriakan minta tolong yang teredam di tengah hirup pikuk. Dengan hati-hati, berjalan dengan penglihatan terbatas, Sullivan mengitari lubang di geladak dan mulai merangkak melalui kegelapan, melintasi reruntuhan dan menuju sumber suara. 

MENYELAMATKAN WESCO

Di anjungan, Commander Branin dan pejabat eksekutifnya, Richard Jensen, menghadapi situasi yang suram. Laporan awal menunjukkan kerusakan parah di tengah kapal dan melaporkan adanya korban besar, terutama di kalangan petty officer senior. Mobilitas di sekitar kapal sangat berbahaya karena geladak yang licin. Komunikasi antara pihak-pihak yang berusaha memperbaiki dan pusat pengendalian kerusakan hampir terabaikan. Di dek tangki, bahan bakar yang menguap dan keberadaan berton-ton amunisi menimbulkan potensi terjadinya ledakan mematikan. Dan sementara sekarang jelas bahwa LST tidak sedang ditembaki roket, namun ada kemungkinan yang sangat nyata bahwa VC telah memasang lebih dari dua ranjau. Tetapi untuk saat ini, perhatian Branin dipenuhi oleh masalah yang lebih mendesak. Wesco makin tenggelam karena berton-ton air sungai terus mengalir ke kompartemen yang pecah. Ketika kapal mulai miring, papan tulis, papan publikasi, kaca yang pecah dan peralatan yang terbalik mulai meluncur melintasi dek anjungan.

Lubang menganga bekas ledakan ranjau tempel VC pada USS Westchester County, 1 November 1968. (Sumber: http://www.virtualwall.org/)

Jika kapal LST itu harus diselamatkan, banyak hal harus diperbaiki – dan harus diperbaiki dengan cepat. Dengan pengalaman dua puluh empat tahun berdinas angkatan laut dan punya pengetahuan mendalam tentang kemampuan unik dari Wesco, hal ini kemudian memberi Branin solusinya. Dirancang untuk mendukung serangan amfibi, kapal pendarat ini dilengkapi dengan sistem ballasting yang canggih. Dengan membanjiri serangkaian tangki internal besar, kapal ini dirancang untuk dapat menenggelamkan sebagian dirinya ke pantai dan menurunkan muatan kendaraan lapis baja melalui pintu besar di bagian depan. Setelah melakukan itu, akan mudah baginya untuk memompa keluar air, mengapungkan kapal dan bergerak mundur menjauhi pantai. Karena kedalaman di sungai Delta Mekong, dimana pasang surut dapat berubah dengan cepat dan bisa menjadi sangat dangkal, tangki pemberat depan Wesco sudah dibanjiri air sebagai tindakan pencegahan ketika ranjau meledak. Branin tahu bahwa jika lambung di bagian depan kapalnya masih kedap air, ia dapat memompa air di tangki kanan depan LST dan, secara teoritis, akan mampu mengimbangi berton-ton air yang meluap di tengah kapal. 

Berita di media massa megenai serangan pada USS Westchester County. (Sumber: https://eastonvietnammemorial.homestead.com/)

Dengan begitu banyak perwira senior yang terbunuh atau terluka, banyak lokasi vital kapal harus segera direorganisasi. Perwira-perwira junior dan prajurit rendahan, secara naluriah mengambil tanggung jawab di berbagai tempat vital yang tiba-tiba tanpa personel dan tanpa pemimpin. Ketika pintu-pintu kedap air ditutup di seluruh kapal, Petty Officer kelas 2 berusia 22 tahun Rick Russell mendapati dirinya sendirian di stasiun pompa depan LST. Menemukan adanya sedikit kerusakan di bagian depan kapal, Russell melakukan kontak dengan bagian anjungan kapal lewat pengeras suara, melaporkan kesiapan dirinya dan menunggu perintah. Hampir 30 tahun kemudian, Branin masih memberikan penghargaan kepada rekan mudanya itu karena membantu menyelamatkan Wesco dengan ‘melakukan persis seperti yang diperintahkan.’ Ajaibnya, dengan masih adanya daya listrik ke pompa dan, dengan petugas kontrol kerusakan yang melaksanakan instruksi yang diberikan Branin dengan tepat, Russell berhasil memulai proses rumit deballasting tangki kanan depan. Sementara sang kapten menahan napas, instruksi dijalankan, katup dibuka dan pompa dihidupkan. Ketika air dipaksa keluar dari tangki, kapal mulai beranjak naik ke permukaan air. Wesco mulai menegakkan tubuhnya dan perlahan mulai berguling kembali ke posisi normal. 

Lubang bekas ledakan dari sisi samping kapal. (Sumber: http://davidbruhn.com/)

Karena kegelapan dan kehancuran, penyelidikan terperinci atas kondisi kapal masih sangat sulit dilakukan, satu setengah jam sebelum fajar menyingsing, upaya pengendalian kerusakan dan upaya penyelamatan terus berlanjut. Indikasi menunjukkan bahwa air sungai yang masuk ke kapal telah dapat dikendalikan ketika kompartemen di daerah yang hancur berhasil ditutup. Selama setengah jam berikutnya situasinya mulai stabil, tetapi jauh di dalam kompartemen istirahat di geladak kedua Wesco, petugas rumah sakit John Sullivan hanya tahu bahwa ada orang yang terluka masih terjebak dalam kehancuran di sekelilingnya. Setelah meraba-raba jalannya melalui kegelapan di markas perwira senior, Sullivan akhirnya menemukan teman-temannya yang terluka. Terjepit di antara sisa-sisa ranjang mereka dan berton-ton baja bengkok, dua pelaut terbaring terjepit di reruntuhan. Sullivan berteriak minta tolong dan mulai memberi pertolongan pertama. Tanpa cahaya untuk bekerja, petugas medis itu merawat pasien-pasiennya dengan sentuhan. Salah satu pria yang terluka masih sadar; kait penopang besar dari logam telah menembus melalui lengannya. Pelaut lainnya tidak membuat suara sama sekali. Sullivan memeriksa bagian atas kepala pria itu – nampak hancur, tapi dia masih bernapas. Kedua pelaut itu mengalami beberapa luka. Setelah merawat luka-luka mereka sebaik mungkin, Sullivan mampu membebaskan orang-orang itu dan, dengan bantuan tim penyelamat dadakan, mengevakuasi mereka ke dek yang lebih tinggi. Menurut Sullivan: ‘Kami tidak mematuhi banyak peraturan pertolongan pertama tentang memindahkan korban. Pada saat itu, yang penting hanyalah bagaimana bisa mengeluarkan mereka dari sana. ” Dari 11 orang yang ada di area istirahat perwira kelas satu, tiga di antaranya sedang bertugas jaga; lima orang terbunuh seketika. Sullivan dan dua rekannya yang terluka adalah satu-satunya pelaut yang bisa keluar hidup-hidup dari kompartemen setelah ledakan. 

Ledakan hebat turut meluluhlantakkan ponton dan menara penjaga yang ada di samping USS Westchester County. (Sumber: http://davidbruhn.com/)

Setelah mengevakuasi para personel yang terluka dari ruang kelas satu, Sullivan menuju anjungan untuk mencari tahu di mana lagi dia dibutuhkan. Sepanjang jalan, petugas medis itu menyadari bahwa kakinya masih berdarah dan pakaian apa yang telah dia kenakan pada saat ledakan sudah lama hilang. Sullivan akhirnya dapat menemukan sepasang celana dan sepasang sepatu yang pas, tetapi kakinya harus segera dirawat. Sekarang, setiap anggota kru masih fit bekerja keras. Segera setelah terbukti bahwa kapal itu tidak diserang oleh serangan susulan, Kapten Branin membebaskan orang-orang yang masih fit dari perintah siaga tempur mereka untuk membantu upaya penyelamatan dan evakuasi korban. Sampai blower dapat membersihkan geladak bawah dari bahan bakar yang menguap, penggunaan obor dilarang. Rantai, batang pengungkit, sekrup dan jack sekrup digunakan untuk membebaskan orang yang terjebak dalam reruntuhan. Lampu pertempuran dan peralatan pencahayaan portabel digunakan untuk memberikan penerangan. Di dek tangki yang sarat amunisi, para pelaut dengan hati-hati melakukan pekerjaan mengumpulkan amunisi yang rusak, dengan hati-hati menyisihkannya sampai bisa dinetralkan dan dibuang. Di kompartemen pasukan di dek keempat yang banjir, lonjakan air sungai dan minyak diesel akhirnya mereda, menstabilkannya pada kedalaman 6 kaki. Tetapi di dalam area itu 88 orang itu menghadapi neraka di sekeliling mereka. Tim penyelamat ditahan oleh jalinan puing yang tak bisa ditembus. Seprai, selimut, bantal, senapan M-16 dan tas ransel bercampur dengan loker logam, tempat tidur susun, dan tumpukan perlengkapan pribadi yang luar biasa berantakan. Bahaya lain yang dihadapi tim penyelamat adalah adanya bermacam-macam granat, ranjau dan amunisi yang dibawa kembali ke kapal oleh tentara yang kembali dari medan tempur (sebuah hal yang sebenarnya dilarang). Setelah semua korban yang terperangkap dan terluka dievakuasi, kompartemen ditinggalkan sampai investigasi lengkap dapat dilakukan. Keesokan harinya, penyelam penyelamat mengambil sisa-sisa dari lima prajurit yang telah hancur dalam ledakan.

PERBAIKAN

Pada fajar pertama, ketika kapal-kapal mengangkut peralatan penyelamat dan orang-orang yang terluka ke dan dari tempat kejadian, ruang lingkup serangan VC dan kerusakan yang diakibatkannya menjadi jelas. Lambung Wesco robek oleh sepasang lubang berukuran 10 kaki yang menganga, dan kapal masih miring 11 derajat ke kanan. Di geladak utama yang basah kuyup oleh minyak, dua helikopter Angkatan Darat hancur berantakan. Lusinan roket anti-tank ringan yang rusak, ranjau Claymore, blok peledak plastik C-4, peluru suar, granat, dan persenjataan lainnya berserakan di geladak yang bengkok. Ponton penjagaan berubah menjadi tumpukan kayu yang terpecah-pecah; Petty Officer Kelas 3 Harry Kenny, pelaut yang berjaga di pos ini, telah hilang. Beberapa kapal serang lapis baja yang ditambatkan ke ammi rusak parah dan dalam bahaya tenggelam. Dudukan kayu jati tidak lagi berada di air. Setengah bagian depan dari balok kayu yang sangat besar telah hilang, dan potongan seukuran tiang telepon sepanjang 25 kaki yang tersisa telah menembus melalui lambung aluminium ammi dengan sisa serpihannya tersebar di atas dek ponton dan LST. Sementara seorang medis dari Divisi Assault River ke-111 merawat korban di ruang perawatan, John Sullivan kembali ke area istirahat di sisi kanan kapal yang hancur. Dua pria ditemukan masih hidup di salah satu kompartemen bawah yang banjir sebagian. Selembar baja besar telah menjepit mereka dan ranjang mereka di atas kepala. Tepat di bawah orang-orang itu, sinar matahari dan air Sungai My Tho memasuki kapal melalui lubang selebar 10 kaki. Sekali lagi Sullivan masuk ke reruntuhan dan tinggal bersama dua teman kapalnya selama lebih dari satu jam, memberikan pertolongan pertama dan memberi dorongan semangat. Perlahan, logam itu berhasil ditarik mundur cukup jauh untuk menarik para pelaut yang terluka itu jepitan. 

Wesco saat diperbaiki di Dong Tam. (Sumber: https://eastonvietnammemorial.homestead.com/)

USS Westchester County di Vietnam tahun 1970. Wesco menunjukkan ketangguhannya, serangan ranjau mematikan VC tidak menghentikannya karirnya di Vietnam. (Sumber: https://www.navsource.org/)

Sekitar pukul 1100, Sullivan sendiri akhirnya meninggalkan kapal untuk menerima perawatan medis. Setelah kakinya yang terluka dijahit, anggota medis ini kembali ke LST untuk menjalankan tugasnya yang paling sulit hari itu, yakni mengidentifikasi dan mengambil sidik jari mayat-mayat rekan sekapal yang gugur. Beberapa hari kemudian, setelah gagal mencoba menghitung total kerusakan pada kapalnya, Branin dengan enggan memberi perintah untuk mengandaskan Wesco ke pantai, dan kapal LST itu dengan tenang kandas di tepi Sungai My Tho dekat Dong Tam. Saat air surut, lambung kapal cukup terbuka sehingga kapten dapat merencanakan perbaikan sementara. Dengan bantuan divisi perbaikan dari kapal Askari dan sebuah tim dari Naval Support Activity, Dong Tam, kru Wesco bekerja sepanjang waktu selama 14 hari ke depan, membangun sebuah penghalang untuk menjaga air sungai tidak membanjiri kapal, memotong baja yang hancur dan menutup lubang pada LST. Tetapi sebelum perbaikan sementara dapat diselesaikan, Branin dan anak buahnya menghadapi satu tantangan lagi. Kekurangan lapisan baja struktural dan balok-I mengancam keberadaan kapal untuk tetap bisa diam dalam posisi di tepi sungai yang rentan sampai pengiriman bahan-bahan penting dapat tiba dari pangkalan perbaikan di Jepang atau Filipina. Tidak mau menunggu, Branin memutuskan untuk mengikuti “tradisi Angkatan Laut” dengan mengirim sebuah tim ke pantai untuk melakukan apa yang dikenal sebagai ‘midnight requisitioning’. Malam itu di kompleks zeni Angkatan Darat dekat Dong Tam, tim yang dikirim Branin menemukan tumpukan portable bridging equipment, lengkap dengan berbagai macam balok-I dan banyak pelapis baja. Dalam beberapa jam, balok dan tambalan ‘yang dipinjam’ itu berhasil dipotong menurut ukuran dan dilas pada tempatnya di Wesco. 

Wesco di pangkalan AL di Subic, Filipina tahun 1970. (Sumber: https://www.navsource.org/)

Pada tanggal 14 November 1968, dengan bantuan kapal tunda besar Angkatan Laut, awak Westchester County mengisi ulang kapal mereka dan berlayar ke My Tho, berlayar ke Laut Cina Selatan dan menempuh perjalanan sejauh 2.500 mil ke Yokosuka untuk melakukan dry-docking dan perbaikan permanen. Perjalanan pulang Wesco itu bukanlah hal yang mudah. Sepanjang jalan, LST yang rusak itu menghadapi topan. Kondisi laut yang keras menyebabkan retakan dan pecah pada beberapa tempat yang mendapat perbaikan sementara, dan kapal yang rusak mulai kemasukan air. Pada saat LST memasuki Teluk Tokyo pada 25 November, banjir dari lubang di bagian belakang kapal telah melampaui kemampuan pompa yang hanya mampu memompa 3.200 galon per menit. Sekali lagi, bagian dari daerah yang rusak ini dibanjiri sampai ke garis air. Kali ini para kru sudah siap. Pintu kedap air dan sekat yang kokoh untungnya berhasil menahan kompartemen yang banjir dari bagian lain kapal. Pihak-pihak pengontrol kerusakan yang telah teruji, percaya pada kemampuan Wesco untuk menghadapi tantangan itu. Pada jam 1000 keesokan harinya, dalam kondisi babak belur tetapi tidak bisa ditaklukkan, Westchester County berhasil melewati pemecah gelombang di Yokosuka dan berlayar ke pelabuhan. Bercak-bercak yang jelas menandai di mana ranjau VC telah merobek sisi kapal, dan di dek utamanya masih menumpuk tinggi puing-puing yang dipotong selama upaya perbaikan. 

KISAH PENUTUP

Ketika jumlah korban akhirnya dihitung, data menunjukkan bahwa 17 awak Westchester County telah terbunuh dalam ledakan; lima prajurit dari Divisi Infanteri ke-9 tewas di reruntuhan kompartemen pasukan. Juga yang tewas dalam serangan itu adalah seorang pelaut dari River Assault Division 111, satu pelaut Angkatan Laut Vietnam Selatan dan satu penerjemah ‘Tiger Scout’ Vietnam Selatan. Dua puluh dua awak telah terluka. Ke-25 KIA yang gugur dalam aksi menyebabkan serangan peranjauan atas Westchester County menjadi insiden paling mematikan yang dialami Angkatan Laut AS selama Perang Vietnam. Ke-23 prajurit Amerika yang gugur dalam serangan itu adalah sebagai berikut:

USS WESTCHESTER COUNTY

◦ SA Jackie C. Carter, San Jose, CA

◦ SK1 Richard C. Cartwright, Jamestown, OH

◦ QM2 Chester D. Dale, Capitan, NM

◦ RD3 Keith W. Duffy, Yonkers, NY

◦ SN Timothy C. Dunning, Santa Ana, CA

◦ PN1 David G. Fell, Van Wert, OH

◦ ETN2 Thomas G. Funke, Coeur D Alene, ID

◦ RM3 Gerald E. Hamm, Camden, AR

◦ SN Floyd W. Houghtaling, Canajoharie, NY

◦ SK1 Aristotoles D. Ibanez, Philippines, XP

◦ YN1 Jerry S. Leonard, Greensboro, NC

◦ RM3 Joseph A. Miller, Lebanon, PA

◦ RM1 Rodney W. Peters, Grants Pass, OR

◦ YN3 Cary F. Rundle, Aldan, PA

◦ RM3 Reinhard J. Schnurrer, St Paul, MN

◦ QM2 Thomas H. Smith, Markesan, WI

◦ CS1 Anthony R. Torcivia, Easton, PA

RIVRON 11, TF 117

◦ EN3 Harry J. Kenney, Cincinnati, OH

B Company, 3rd Battalion, 60th Infantry

◦ SGT Dennis K. O’Connor, San Francisco, CA

◦ SP4 Leslie V. Bowman, Wallace, IN

◦ SP4 Wilfredo Cintron-Mendez, Utuado, PR

◦ SP4 Paull D. Jose, Garden City, MI

◦ PFC Ernest F. Cooke, Hampton, VA

Dalam analisis pascaperang tentang serangan itu, pensiunan ahli bahan peledak Angkatan Darat, Kapten Robert Shelley, menyatakan pendapatnya bahwa peranjauan itu merupakan sebuah operasi musuh yang terencana dan dilaksanakan dengan baik, yang hampir menjadi bencana yang tak tertandingi bagi pihak sekutu. Shelley, yang mengenyam 21 tahun masa dinas aktifnya termasuk 14 tahun dengan tim explosive ordnance disposal, dua tur di Vietnam dan  bertugas bersama unit komando yang bertugas membersihkan Terusan Suez setelah Perang Arab-Israel tahun 1973, mengatakan bahwa Westchester County telah kehilangan banyak munisi peledak tingkat tinggi selama serangan itu, dimana ledakan yang dihasilkan nyaris sama dengan ledakan senjata nuklir kecil, yang akan menghancurkan kapal secara instan dan menghasilkan gelombang besar yang mampu membalik kapal-kapal berukuran besar lainnya. Ribuan galon bahan bakar diesel yang tumpah ke sungai, dengan berton-ton amunisi yang tidak meledak dan potongan-potongan kapal berukuran sedang dilemparkan ke garis pantai, kota setempat, dan ke kapal-kapal yang berlabuh beberapa ribu meter jauhnya. Menurut Shelley, jika peledakan di Westchester County sepenuhnya berhasil, hal itu bisa dengan mudah mengakibatkan lumpuhnya atau bahkan menghancurkan seluruh unit Mobile Riverine Force di tempat itu. Meski demikian Shelley memuji tindakan dan pemikiran cepat kru Wesco – dan dengan sedikit ‘bantuan’ akibat salah penempatan bahan peledak oleh VC – telah berhasil menghindari tragedi mengerikan yang bisa jadi jauh lebih besar.

TCG Serdar (L-402), kapal eks USS Westchester County dalam dinas AL Turki. TCG Serdar diketahui terus berdinas hingga tahun 2005. (Sumber: https://www.navsource.org/)

Menyusul perbaikan di Jepang, Westchester County terus ditempatkan secara reguler di Vietnam hingga akhir keterlibatan militer Amerika di sana. Pada saat dia dinonaktifkan pada tahun 1973, Wesco telah dianugerahi tiga Navy Unit Commendations, dua Meritorious Commendations dan 15 Engagement Stars, sebuah rekor yang hanya bisa ditandingi oleh 2 kapal LST lainnya. Lebih dari 36 penghargaan dan pujian diberikan kepada para awak kapal atas kinerjanya selama dan segera setelah serangan tanggal 1 November itu. Lieutenant Commander Branin menerima Bintang Perunggu. Petugas Medis Kelas Satu John Sullivan dianugerahi medali Silver Star dan Purple Heart. Branin dan Sullivan kemudian pensiun dari Angkatan Laut, dan hari ini keduanya tinggal di Ramona, California. Pada tahun 1974, USS Westchester County diserahkan ke angkatan laut Turki, di mana ia terus bertugas sebagai kapal TCG Serdar (L 402).

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

USS Westchester County: Attacked During the Vietnam War by Gene Frederickson

USS WESTCHESTER COUNTY (LST-1167)

http://www.virtualwall.org/units/lst1167.htm

Viet Cong Sappers Nearly Sink USS Westchester County

http://davidbruhn.com/Gators%20Offshore%20and%20Upriver%20Ch1.pdf

8 thoughts on “1 November 1968: Serangan Pasukan Komando Vietcong Pada Kapal USS Westchester County

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *