11 Desember 1917, Jenderal Allenby dari Inggris Merebut Yerusalem dari Tangan Turki Ottoman

Pertempuran merebut Yerusalem terjadi selama “Operasi Yerusalem” yang dilancarkan oleh pasukan Kerajaan Inggris melawan pasukan Kesultanan Turki Ottoman, dalam Perang Dunia I. Pertempuran untuk merebut kota ini berlangsung dari tanggal 17 November, kemudian berlanjut setelah penyerahan kota ini hingga tanggal 30 Desember 1917, saat Inggris berhasil mengamankan tujuan akhir dari Ofensif Selatan mereka selama Kampanye Militer mereka di Sinai dan Palestina dalam Perang Dunia I. Sebagai hasil dari kemenangan ini, pasukan Kerajaan Inggris  berhasil merebut Yerusalem dan membentuk garis pertahanan baru yang kuat dan strategis. Garis ini membentang dari daerah utara Jaffa di dataran maritim, melintasi Pegunungan Yudea ke Bireh di utara Yerusalem, dan terus memanjang hingga ke timur Bukit Zaitun. Dengan direbutnya jalan dari Bersyeba ke Yerusalem melalui Hebron dan Betlehem, bersama dengan wilayah Turki Utsmani di selatan Yerusalem, kota itu berhasil direbut. Pada tanggal 11 Desember, Jenderal Edmund Allenby memasuki Kota Tua Yerusalem dengan berjalan kaki melalui Gerbang Jaffa alih-alih mengendarai kuda atau kendaraan bermotor untuk menunjukkan rasa hormat terhadap kota suci itu. Perdana Menteri Inggris, David Lloyd George, menggambarkan berhasil dikuasainya Yerusalem itu sebagai “hadiah Natal bagi rakyat Inggris”. Pertempuran itu juga merupakan dorongan moral yang besar bagi Kerajaan Inggris, di tengah perkembangan suram kekuatan militer sekutu di Front Barat-Prancis dalam melawan kekuatan Kekaisaran Jerman.

Jenderal Edmund Allenby, Penakluk Turki Ottoman di Palestina dalam Perang Dunia I. (Sumber: https://www.gettyimages.dk/)

LATAR BELAKANG

Pada Juni 1917, di tengah berbagai berita menyedihkan dari Front Barat, Perdana Menteri Inggris David Lloyd George memanggil Jenderal Edmund Allenby ke London. Allenby sebelumnya telah menunjukkan kenaikan cepat jabatan militernya dari seorang komandan satu-satunya satuan kavaleri British Expeditionary Force’s pada tahun 1914 menjadi komandan Angkatan Darat Ketiga pada tahun 1916. Tetapi unit-unitnya telah menderita korban besar dalam kampanye terbarunya, dan ia dikritik karena penanganan pasukannya selama Pertempuran Arras. Allenby tahu bahwa dia telah kehilangan kepercayaan dari komandannya, Field Marshal Sir Douglas Haig, dan dia pergi ke pertemuan di Gedung Downing Street no 10 (tempat tinggal Perdana Menteri Inggris) dengan penuh kekhawatiran, menantikan kabar buruk dari Lloyd George yang tajam dan kerap bermusuhan. Alih-alih mendapat kritik tajam, Lloyd George malah menawarkan Allenby jabatan komando baru, yaitu untuk menggantikan posisi Letnan Jenderal Sir Archibald Murray sebagai komandan Pasukan Ekspedisi di Mesir. Perdana menteri berjanji akan memberikan Allenby semua sumber daya yang diperlukan untuk bisa membuat pasukan Inggris menguasai Yerusalem sebelum Natal. Lelah karena kebuntuan berdarah di Front Barat, Lloyd George telah berusaha mengidentifikasi wilayah-wilayah strategis lain di mana pasukan militer Inggris dapat melakukan serangan dengan sukses dan memecah kebuntuan. Palestina saat itu tidak hanya memiliki daya tarik penguasaan Tanah Suci tetapi juga menjaga area masuk Terusan Suez dari arah timur dan jalur menuju India di barat. Baginya, tempat Itu adalah area yang tepat untuk meluncurkan ofensif baru. 

Perdana Menteri Inggris David Lloyd George yang memandang Timur Tengah merupakan medan yang tepat untuk memecah kebuntuan perang di pihak sekutu. (Sumber: https://speakola.com/)

Allenby pada awalnya menganggap tugas barunya itu sebagai sebuah lelucon. Dia tahu medan Timur Tengah kekurangan sumber daya untuk sebagian besar masa perang, dan dia yakin bahwa hasil perang akan ditentukan di Front Barat, dan bukan di Palestina. Rumor yang beredar juga mengatakan bahwa bahkan Murray sendiri berpikir komando di Timur Tengah adalah pengalihan yang tidak perlu dari perang yang sebenarnya berlangsung di Prancis. Allenby tahu bahwa para komandan tentara Inggris akan sangat menentang segala upaya untuk memindahkan orang-orang dan peralatan berharga dari Prancis ke medan yang hanya dianggap sebagai “sideshow”. Selain itu,  Murray memiliki reputasi ketidakefisienan, dan bahkan ia sendiri jarang meninggalkan markas besarnya di Kairo. Semangat dalam unit-unit yang dikomandoinya rendah, dan orang-orang Mesir terbukti sebagai sekutu yang tidak bisa diandalkan. Tidak ada komandan yang waras yang rela meninggalkan medan utama di Prancis untuk bertempur di daerah terpencil seperti Timur Tengah. 

Pada tahun 1917, pertempuran di front barat menjadi buntu, dimana perang berlarut terjadi di parit-parit tanpa ada kemajuan yang signifikan. (Sumber: https://investoramnesia.com/)

Namun demikian, dibawah Lloyd George, sikap Inggris terhadap Palestina — dan Timur Tengah pada umumnya — telah mengalami perubahan dramatis. Pada awal perang, Inggris tidak menginginkan runtuhnya kekaisaran Ottoman. Mereka takut kekaisaran Ottoman yang hancur dan terfragmentasi akan menawarkan terlalu banyak peluang bagi sekutu mereka, yakni Prancis dan Rusia (belum lagi orang Jerman) untuk meningkatkan pengaruhnya di wilayah yang dekat dengan kepentingan strategis utama Inggris. Jauh lebih baik, pikir mereka, untuk membiarkan Turki bersatu tetapi terlalu lemah untuk menantang kekuatan Inggris.

Kekalahan pasukan Persemakmuran Inggris di Gallipoli oleh Pasukan Turki, turut memantik semangat Inggris untuk mengalahkan Pasukan Turki di Timur Tengah. (Sumber: Pinterest)

Tetapi, seperti banyak prakonsepsi strategis lainnya, perang memicu perubahan besar dalam pemikiran Inggris tentang Timur Tengah. Sikap Inggris terhadap orang-orang Turki semakin keras setelah dua kekalahan besar Inggris di tangan Ottoman — di semenanjung Gallipoli pada tahun 1915 dan di kota Kut-al-Amara di Mesopotamia, tempat 8.000 tentara Inggris dan India menyerah tanpa syarat kepada pasukan Turki pada tahun 1916, yang adalah penyerahan terbesar pasukan pimpinan Inggris hingga saat itu dan sekaligus merupakan penghinaan yang mendalam kepada orang-orang yang punya kebanggaan diri besar seperti orang Inggris. Meruntuhkan kekaisaran Ottoman tampak menjadi semakin menarik, dan di mata banyak ahli strategi Inggris, hal itu semakin tak terhindarkan. Pada saat Lloyd George dan Allenby bertemu, Rusia sedang berada dalam pergolakan revolusi, dan Prancis terpukul karena pemberontakan yang terjadi setelah serangan April yang berubah menjadi bencana di wilayah Chemin des Dames yang dikuasai Jerman. Pada saat itu tampaknya tidak ada negara yang mampu mengancam kepentingan Inggris di wilayah tersebut setelah perang. Inggris, apalagi, waktu itu di Timur Tengah, militer Inggris telah mendapat banyak bantuan di medan perang. Sebagian berkat upaya petugas intelijen yang eksentrik tapi efisien T.E. Lawrence (“Lawrence of Arabia”) dan pangeran Hejaz yang dinamis, Faisal bin Hussein, Inggris berhasil mendukung pecahnya pemberontakan orang Arab asli yang — meski tidak memiliki dukungan Orang Arab secara universal — telah membuat mereka menjadi sekutu militer yang kuat. Selain itu, melalui janji-janji diplomatiknya dalam Deklarasi Balfour untuk menjadikan Palestina sebagai tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi, Inggris juga percaya bahwa negara itu akan mendapat dukungan dari penduduk Yahudi di kawasan itu. 

PERSIAPAN

Dengan kondisi semacam ini, Lloyd George merasa punya cukup alasan kuat untuk menjalankan strateginya di Timur Tengah. Akhirnya Allenby menerima penugasan itu meskipun ada peringatan dari Kepala Staf Umum Kerajaan Jenderal William “Wully” Robertson bahwa ia tidak akan mendukung janji Lloyd George untuk mengirim lebih banyak personel dan peralatan ke Mesir dan Palestina. Bagaimanapun juga, lebih dari dua minggu setelah pertemuannya dengan perdana menteri, Allenby telah berada di Kairo. Sebulan kemudian sang jenderal mengetahui bahwa putra tunggalnya, Michael, telah terbunuh dalam pertempuran di Front Barat. Hanya menunjukkan sedikit emosi di depan publik, Allenby segera menceburkan diri ke dalam tugas barunya dan siap untuk membuat beberapa perubahan. Yang pertama dari perubahan ini termasuk memindahkan markasnya dari Kairo yang nyaman dan lebih dekat ke garis depan yang sebenarnya, di kota Rafah, yang ada di perbatasan Jalur Gaza dan Mesir kini. Kairo, sarang intrik politik, penuh dengan mata-mata Ottoman, meyakinkan Allenby bahwa tempat itu adalah tempat yang buruk untuk merencanakan operasi militer. Kepindahannya ke Rafah juga mengirim sinyal kuat kepada anak buahnya bahwa komandan baru mereka bermaksud memimpin dari garis depan. Allenby menata ulang unit-unitnya menjadi tiga korps — XX, XXI dan Desert Mounted Corps — sebuah skema organisasi yang memungkinkannya lebih fleksibel dan memiliki kekuatan yang lebih meyakinkan. Akhirnya, dia juga memberi Lawrence lebih banyak uang untuk memastikan kesetiaan para laskar Arab yang bertempur bersama pasukan Inggris.

Allenby diuntungkan oleh keberadaan dan aksi dari T.E. Lawrence /”Lawrence of Arabia” (berdiri nomor dua dari kanan), yang berhasil menggalang pemberontakan orang-orang Arab terhadap kekuasaan Turki di Jazirah Arab. (Sumber: https://internasional.kompas.com/)

Allenby bermaksud memulai upayanya di Palestina dengan memutus garis pertahanan Ottoman dari garis pantai Gaza ke kota gurun Beersheba, sekitar 40 mil ke daratan di sepanjang serangkaian jalanan yang primitif. Pasukan Inggris telah mencoba dua kali sebelumnya untuk menerobos, menyerang garis dekat ke pantai untuk mengambil keuntungan dari dukungan tembakan lepas pantai yang dilepaskan dari kapal-kapal perang Angkatan Laut Kerajaan. Pantai ini juga menawarkan dukungan logistik yang lebih baik, terutama pasokan air dan jalur kereta api yang cukup. Terlepas dari keunggulan ini, dua Pertempuran Gaza pertama telah berakhir dengan kegagalan, sebagian besar karena posisi pertahanan Turki yang kuat di medan yang menguntungkan mereka. Pada tahun 1917 Ottoman juga mendapat keuntungan dari komandan-komandannya yang berpengalaman, dua di antaranya berasal dari Jerman. Jenderal Friedrich Kress von Kressenstein yang telah mengawal dua posisi pertahanan di Gaza dipromosikan untuk memimpin Angkatan Darat Kedelapan Ottoman. Sementara yang memimpin Kelompok Tentara Yildirim (“Petir”) di wilayah itu adalah Jenderal Erich von Falkenhayn, arsitek pasukan Jerman dalam kampanye berdarah di Verdun pada tahun 1916 dan orang yang telah menghancurkan tentara Rumania dalam kampanye brutal akhir tahun itu. Selain itu banyak komandan unit Turki Utsmani yang telah mendapatkan pengalaman berharga di Gallipoli atau melawan tentara Rusia di Pegunungan Kaukasus yang mengesankan di bawah kedua jenderal Jerman itu. Secara keseluruhan, unit Turki Utsmani di Palestina dapat menerjunkan 21.000 prajurit infanteri dan 3.000 pasukan kavaleri. 

Pasukan Turki Ottoman. Meski tidak bisa dibilang kuat, namun pasukaan Turki berpengalaman dan dipimpin dengan baik, termasuk oleh 2 Jenderal Jerman yang diperbantukan disana. (Sumber: https://learnodo-newtonic.com/)

Allenby tidak tertarik meluncurkan serangan frontal terhadap pasukan yang dipimpin dengan baik dan memberikan perlawanan yang solid. Dia mungkin juga telah menilai berlebihan jumlah pasukan Ottoman yang dihadapinya. Namun, dia tahu bahwa dia kemungkinan hanya akan memiliki satu kesempatan untuk mendapat kepercayaan Lloyd George dan mengatasi keraguan rekan-rekannya sesama jenderal Inggris. Apa pun yang ia rancang, haruslah berhasil, dan Allenby kurang percaya pada metode yang digunakan Murray sebelumnya. Sebuah rencana sudah ada dalam pikiran Letnan Jenderal Philip Chetwode, yang memberi pengarahan kepada Allenby tak lama setelah kedatangannya di Mesir. Chetwode berpendapat keuntungan nyata Inggris di medan Palestina berpusat pada jumlah superior pasukan kavaleri terlatih, termasuk brigade elit Australia Light Horse. Jika Inggris dapat menemukan cara untuk mengkompensasi masalah logistik gurun – khususnya problem kelangkaan air – mereka dapat menyerang Beersheba, di mana pertahanan Ottoman secara signifikan lebih lemah, kemudian mengepung dan menyerang jalur komunikasi Turki sementara pasukan infanteri Inggris akan menekan posisi musuh utama di Gaza. Cepat atau lambat salah satu posisi akan melemah, menciptakan peluang untuk eksploitasi dan penerobosan yang cocok untuk unit kavaleri. Persiapan Inggris dalam menghadapi pertempuran karena itu bergantung pada dua faktor. Pertama, mereka harus memberi perhatian yang cukup ke wilayah pantai untuk meyakinkan pihak Turki Utsmani bahwa tempat itu tetap merupakan poros utama gerakan pasukan Inggris. Kedua, sementara Allenby mengalihkan perhatian orang-orang Turki, pasukan zeni Inggris harus memasang rel melalui gurun menuju Beersheba untuk memindahkan puluhan ribu galon air yang dapat diminum, yang tanpanya prajurit maupun kuda tidak bisa beroperasi. Dengan kata lain, Inggris harus “menciptakan kebisingan” sebanyak mungkin di pantai sambil bekerja dengan tenang tetapi dengan tekun mempersiapkan struktur pendukung untuk serangan besar mereka di padang pasir. 

Pasukan Inggris mengisi air di medan Timur Tengah, tahun 1918. Dalam medan perang gurun, pasokan logistik dan air memegang peran penting dalam taktik dan strategi militer pihak yang bertarung. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Inggris menggunakan tipu muslihat yang rumit, termasuk membuat perintah palsu, membuat lalu lintas radio yang menyesatkan dan serangkaian aksi untuk meyakinkan pihak Turki bahwa Inggris akan kembali menyerang Gaza dari pantai. Dalam satu episode aksi semacam itu, seorang perwira intelijen Inggris yang berani bergerak cukup dekat ke garis-garis pertahanan Turki guna memancing tentara  Ottoman untuk mengejarnya. Dia melarikan diri dengan meninggalkan kantong berlumuran darah yang berisi serangkaian rencana untuk serangan di Gaza dan dokumen penempatan militer yang membantah rencana serangan di Beersheba dengan alasan kurangnya air di daerah tersebut untuk memberi minum kuda. Tentu saja rencana itu salah, dan darahnya berasal dari seekor kuda, tetapi skema itu berhasil. Pihak Turki yakin bahwa mereka telah menembak dan melukai seorang perwira Inggris yang sedang menyelidiki garis pertahan mereka dan akibatnya “secara tidak sengaja” pihak Turki berhasil merampas rencana operasi tempur musuh mereka. 

PERTEMPURAN 

Dibandingkan dengan Gaza dan sekitarnya, Beersheba dipertahankan oleh garnisun yang jauh lebih kecil, berjumlah sekitar 4.000 orang, di bawah komando Kolonel Ismet Bey, dengan diperkuat lebih dari 60 senapan mesin dan 24 meriam lapangan. Kota ini dipertahankan oleh garis parit parit di bagian barat, selatan, dan sebagian kecil di pinggiran timur, didukung oleh parit yang lebih dangkal dan benteng pertahanan kecil, yang pada kenyataannya hanya berupa gundukan tanah. Titik tertinggi, seperti puncak bukit kecil juga digunakan dan ini mengamati semua jalur menuju ke kota. Namun ada sedikit atau malah tidak ada sama sekali kawat berduri yang dipasang untuk menghalangi para penyerang. Dari sudut pandang militer, Beersheba tampaknya dipertahankan tidak cukup baik untuk lokasi yang begitu strategis seperti itu. Meski demikian, Pasukan Utsmani yang ditempatkan di Beersheba tidak bisa dibilang lemah juga. Beersheba bukan hanya merupakan titik kuat di ujung timur garis pertahanan Ottoman, kota ini juga memiliki 17 sumur air, dan persimpangan jalan kereta api utama, yang bersinggungan dengan Jalan menuju ke Hebron. Ofensif di Palestina Selatan dimulai pada tanggal 31 Oktober 1917, persis seperti yang dirancang oleh Allenby, yakni XX Corps dan Desert Mounted Corps, yang dipimpin oleh pasukan berkuda Australia dan Selandia Baru (ANZAC), mereka menyerang Beersheba. Keberhasilan operasi ini bergantung pada kejutan; Meskipun sudah ada upaya terbaik dari satuan zeni Inggris, tetapi tidak ada cukup air untuk mempertahankan operasi dalam waktu yang lama di iklim Gurun Negev yang panas dan gersang. Pasukan Inggris perlu masuk ke Bersyeba dan merebut persediaan airnya sebelum pasukan Ottoman dapat menghancurkan sumur-sumur atau meracuni airnya. Pasukan Infantri Inggris yang terdiri dari empat divisi Korps XX menyerang kota dari arah selatan dan barat daya, sementara pasukan kavaleri mendekat dengan kecepatan tinggi dari arah timur. Di beberapa tempat, terutama puncak bukit pertahanan Ottoman di Tel el Saba, pasukan Inggris dan ANZAC menemui perlawanan, tetapi mereka berhasil mendapatkan kejutan yang mereka butuhkan. Faktor air memang terbukti menjadi masalah yang ditakuti Allenby dan Chetwode, tetapi orang-orang Turki itu tidak memiliki jawaban atas kecepatan dan kemampuan manuver pasukan kavaleri Inggris. Pasukan Ottoman, terkejut dan bingung, bertarung selama beberapa waktu tetapi akhirnya menyerah. Pasukan Inggris berhasil menangkap hampir 2.000 tahanan dalam hanya beberapa jam pertempuran.

Pasukan Kavaleri Unta ANZAC dalam kampanye pertempuran di Palestina. (Sumber: https://www.historyhit.com/)
Serangan Pasukan Kavaleri Berkuda Australia-New Zealand (ANZAC) di Beersheba , 31 Oktober 1917 tercatat sebagai salah satu serangan kavaleri berkuda terakhir dalam sejarah peperangan. (Sumber: https://legendsworkshop.com.au/)

Inggris merebut Beersheba dalam waktu kurang dari sehari. Momentum dan kejutan serangan itu memampukan Inggris merebut 15 dari 17 sumur air penting di Beersheba dan dua waduk terbesarnya dengan utuh. Inggris juga mendapat bantuan dari alam ketika hujan badai mengisi lubang-lubang bekas ledakan meriam, yang kemudian malah menyediakan air tambahan bagi kuda-kuda mereka. Kemenangan yang menentukan di Beersheba tercatat didapat lewat salah satu serangan kavaleri besar terakhir dalam sejarah. Meskipun jumlah pasukan Ottoman di Beersheba lebih banyak dari 10 banding 1, jika bukan karena serangan Pasukan Berkuda Ringan pada sore hari, kota itu mungkin tidak akan jatuh ke tangan Sekutu sebelum malam tiba. Jenderal Allenby kemudian meringkas aksi pasukannya saat merebut Beersheba sebagai berikut, “Orang-orang Turki di Beersheba tidak diragukan lagi benar-benar terkejut, sebuah kejutan di mana pasukan London dan Yeomanry, yang didukung dengan baik oleh artileri mereka, menyerang dengan cepat dengan tidak pernah memberi mereka waktu untuk memulihkan diri. Serangan Australian Light Horse kemudian melengkapi kekalahan mereka. ” Kemenangan di Bersyeba telah membuka sisi kiri posisi pertahanan Ottoman di pantai, membuat mereka tidak bisa lagi dipertahankan. Selama berhari-hari sebelum serangan darat di Beersheba, dengan didukung oleh meriam-meriam besar angkatan laut besar dari kapal-kapal perang Inggris dan Prancis, telah menghantam Gaza, menghancurkan pertahanan Turki Utsmani yang dirancang dan dibangun dengan cermat menjadi puing-puing. Dengan Beersheba di tangan Inggris, prajurit infantri XXI membuka Pertempuran Gaza Ketiga pada 1 November dengan melakukan serangan malam hari di sepanjang garis pertahanan Turki. Selama beberapa hari berikutnya pihak Inggris secara berganti-ganti melakukan serangan terarah dan melakukan pemboman baru terhadap posisi Turki. Menyadari ancaman nyata mengalami pengepungan, pihak Ottoman kemudian memulai evakuasi malam hari dari garis pertahanan Gaza-Beersheba. Pasukan Pengawal belakang mereka memperlambat pengejaran Inggris dan memberi unit-unit Turki lainnya yang mundur waktu dan ruang yang cukup. Kedua pasukan Ottoman berpisah, satu mundur ke pantai dan yang lainnya mundur kembali ke Junction Station, di utara Beersheba, untuk mempertahankan rel dan jalur jalan menuju Jaffa dan Yerusalem. Allenby ingin melakukan pengejaran segera ketika pasukan Ottoman sedang tidak terorganisir dan dalam gerak mundur, tetapi kurangnya air memaksanya untuk bergerak lebih hati-hati. 

YERUSALEM DIREBUT

Namun waktu adalah hal yang sangat penting. Dia harus segera melancarkan serangan berikutnya sebelum Turki bisa mengirimkan bala bantuan, dan sebelum mereka memiliki kesempatan untuk membuat garis pertahanan baru di depan kota Yerusalem. Maka pada tanggal 13 November dia terus maju dan menyerang Junction Station. Meskipun korban lebih banyak dari yang diperkirakan, Inggris berhasil merebut pusat transportasi utama keesokan paginya, yang segera mengancam seluruh posisi Ottoman di Palestina selatan. Allenby akhirnya memiliki kesempatan yang sudah lama ia idam-idamkan. Yerusalem kini berada dalam genggamannya. Meski begitu, dia menghadapi dilema. Pertempuran singkat dan keras di Gaza dan Bersyeba telah membuat kota-kota itu hancur. Yerusalem memiliki pertahanan yang lebih kuat dan cukup berarti bagi Ottoman sehingga pertarungan yang berlarut-larut mungkin akan terjadi. Allenby ingin membebaskan dan merebut Yerusalem, bukan memimpin pertempuran yang bisa membuatnya hancur menjadi puing-puing. Selain itu, Kabinet Perang Inggris telah memperingatkan Allenby untuk tidak melaksanakan operasi apa pun yang berlarut-larut dalam jangka panjang, karena mereka tidak dapat berjanji bahwa kekuatan pasukan Inggris di daerah itu dapat dipertahankan dalam waktu lama. Kekhawatiran mereka mungkin terkait dengan proposal perdamaian yang diterbitkan pada tanggal 8 November oleh pemerintah Bolshevik Rusia yang baru antara Rusia dan Jerman. Dokumen itu, dijadwalkan akan ditandatangani pada tanggal 3 Maret 1918, dimana keduanya akan membuat perjanjian damai terpisah dan akan menyebabkan ditariknya semua pasukan Rusia dari medan perang. Hal ini akan memampukan dialihkannya pasukan Jerman di front timur untuk dialihkan guna memerangi pasukan Inggris dan Perancis di tempat lain. 

Tipikal perbukitan di Yudea tahun 1917, dengan medan seperti ini, gerak maju pasukan Inggris akan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk mensuplai pasukan di garis depan dengan makanan, air, dan amunisi. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu gerak maju pasukan Inggris ke Pegunungan Yudea akan sangat bergantung pada kemampuan untuk mensuplai pasukan di garis depan dengan makanan, air, dan amunisi. Karena Pasukan Inggris telah beroperasi pada jarak yang cukup jauh dari jalur kereta api dan pusat perbekalan mereka, sebagai akibatnya gerak maju Pasukan Allenby pada serangan pertama mereka atas pertahanan Yerusalem terpaksa dihentikan pada tanggal 17 November untuk memungkinkan perbekalan dibawa ke garis depan satuan-satuan di bawah kendali korps, yang telah dikirim kembali ke jalur kereta api untuk mendapat perbekalan. Mengangkut perbekalan ke garis depan dari jalur kereta api adalah proses yang lambat tapi harus dilakukan terus menerus selama 24 jam sehari, karena Angkatan Darat Ottoman telah menghancurkan sebanyak mungkin infrastruktur mereka selama melakukan gerak mundur. Hanya truk-truk dari Kompi Angkutan Angkatan Darat Britania Raya (ASC) dan kompi pengangkut unta dari Korps Angkut Unta Mesir yang tetap dapat menggunakan jalan tunggal, sempit, yang tidak beraspal dari Gaza ke Stasiun Junction. Di sisi lain kurangnya infrastruktur di Jaffa berarti semua pasokan yang dibawa melalui kapal harus dimuat ke kapal kecil, yang kemudian harus dibongkar di pantai. Operasi semacam itu sangat tergantung pada cuaca, sehingga jumlah pasokan yang diangkut melalui laut menjadi terbatas. Problem lainnya adalah pada kenyataannya memberi makan pasukan yang bergantung pada angkutan kuda adalah tugas besar; ransum makanan seekor kuda adalah 9,5 pon (4,3 kg) gandum sehari. Bukan jumlah yang besar, namun jumlah yang kecil ini akan membesar ketika dikalikan dengan 25.000 kuda dari Desert Mounted Corps, yang kemudian menghasilkan angka lebih dari 100 ton gandum per hari. Seratus truk akan dibutuhkan untuk kuda-kuda serta transportasi untuk jatah yang dibutuhkan oleh pasukan di garis depan.

Walikota Yerusalem, Hussein Salim al-Husseini (berdiri tengah, mengenakan topi Fez) saat menyerahkan kota Yerusalem pada tentara Inggris, 9 Desember 1917. (Sumber: https://www.pri.org/)

Serangan pertama Allenby terhadap pertahanan Yerusalem pada pertengahan November sempat terhenti karena kurangnya dukungan artileri dan jalur pasokan yang tidak efektif. Allenby lebih siap ketika dia melancarkan serangan keduanya terhadap Yerusalem, yang dimulai pada tanggal 7 Desember. Kali ini dia berhasil mengamankan jalur suplai. Dia menyerang dari selatan kota, bukan melalui Pegunungan Yudea, sehingga perbekalan dapat dipindahkan dengan mudah di sepanjang jalan dari Ramleh. Namun rencana ini berarti bahwa ia akan menyerang pertahanan kota terkuat. Ketika serangan dilakukan, pasukan Sekutu memperkirakan bahwa mereka akan menghadapi pertahanan alot dari pihak Ottoman. Namun mereka kenyataannya justru menemukan bahwa moral para prajurit Turki Utsmani telah hancur dan kota itu ditinggalkan setelah hanya satu hari pertempuran. Meski demikian, Pasukan Inggris beristirahat lagi pada tanggal 9 Desember ketika walikota Ottoman di Yerusalem memberanikan diri keluar dengan kereta kuda disertai oleh polisi yang membawa bendera putih. Kerumunan penduduk desa yang penasaran mengikutinya dari belakang. Suatu kejadian aneh terjadi kemudian, pada saat seorang juru masak Inggris ditugaskan oleh atasannya untuk pergi ke desa Lifta guna mencari telur untuk makan pagi sang perwira pada tanggal 9 Desember. Juru masak itu bernama Prajurit Murch. Para pejabat setempat memberi tahu prajurit Inggris itu bahwa pasukan Ottoman telah mundur ke Nablus dan Jericho, dan bahwa Kota Suci itu dibiarkan tanpa dijaga, menunggu masuknya tentara Inggris. Ketika itu, Murch didekati oleh walikota Yerusalem, qdengan menunggang kuda dan mengenakan topi fez merah serta mengibarkan bendera putih, dan menawarkan untuk menyerahkan kunci-kunci ke kota, dengan menyapanya dalam bahasa Inggris, dan berkata, “Kamu tentara Inggris? Saya ingin menyerahkan kota, ”dan mencoba memberikan kunci kepada Murch. Murch menjawab, “Saya tidak ingin kota Anda. Saya ingin telur untuk para atasan saya! ” Meskipun demikian, Murch melaporkan perkembangan tersebut kepada atasannya, dan Brigjen C.F. Watson bergegas menuju kota untuk menerima penyerahannya dari walikota, Hussein Salim al-Husseini. Namun, ketika komandan divisi, Jenderal John Shea, mengetahui perkembangan ini, ia menghubungi lewat telepon lapangan dan memerintahkan agar Watson berhenti: “Saya sendiri yang akan menerima penyerahan Yerusalem!” Jadi dia melakukannya, setelah itu Watson kembali ke kota untuk mengembalikan kunci ke Husseini. Kemudian ketika Shea mengirim berita baik itu kepada Jenderal Allenby, yang terakhir menulis kembali bahwa dia akan tiba dalam dua hari untuk menerima penyerahan kota. Malangnya, Walikota Husseini meninggal karena pneumonia beberapa minggu kemudian. Kemungkinan dia terkena infeksi fatal ketika berada di luar di udara dingin bulan Desember, menunggu untuk menyerahkan kunci kota kepada pihak Inggris.

ALLENBY MASUK YERUSALEM & KONSEKUENSINYA

Allenby dan para atasannya di London dengan hati-hati memikirkan arti simbolisme dari momen yang akan datang. Mereka tidak ingin pasukan Inggris memasuki Yerusalem seperti yang dilakukan Kaiser Wilhelm II Jerman selama kunjungan kenegaraan pada tahun 1898 — dimana dia masuk kota dengan megah melalui serangkaian kegiatan seremonial di atas seekor kuda putih besar yang menampilkan kesan pada orang-orang sezamannya sebagai aksi yang arogan. Masuknya Allenby sendiri ke Yerusalem jelas dirancang secara sederhana dan terukur. Pada tanggal 11 Desember dia berjalan melewati Gerbang kota Jaffa dengan sesedikit mungkin membuat keriuhan mengingat keadaan di sekitar. Inggris tidak mengibarkan bendera untuk acara itu, dan mereka mengirim tentara Muslim dari Punjab untuk menjaga Masjid al-Aqsa dan Dome of the Rock. Allenby membacakan ungkapan niat baik yang ditulis untuknya dari London dan menerbitkannya dalam tujuh bahasa untuk disebarkan di seluruh kota. Lewat pengumuman itu, Inggris berjanji untuk tidak akan mengganggu aktivitas perdagangan atau pemerintahan di Yerusalem dan berjanji untuk menghormati dan melindungi banyak situs suci di kota itu.

Kaisar Wilhelm dari Jerman memasuki Yerusalem dengan berkuda pada tahun 1898, yang memberikan kesan sikap yang arogan pada masanya. (Sumber: https://www.historyhit.com/)
Jenderal Allenby memasuki kota Yerusalem dengan berjalan kaki untuk menampilkan kesan bersahabat. (Sumber: https://www.historyhit.com/)

Selama gerak maju ke Yerusalem dari Bersyeba dan Gaza, total korban di pihak Kerajaan Inggris adalah 18.000, dengan pihak Ottoman menderita 25.000 korban. Sementara itu korban di pihak Inggris selama Pertempuran merebut Yerusalem dari tanggal 25 November hingga 10 Desember adalah 1.667. Pada periode yang sama, 1.800 prajurit Ottoman berhasil ditangkap. Sebelas divisi infanteri Ottoman juga telah dipaksa untuk mundur, dengan menderita 28.443 korban; sekitar 12.000 prajuritnya menjadi tawanan, 100 meriam, dan puluhan senapan mesin juga dirampas. Karena kekalahan ini, Pihak Tentara Ottoman perlu mengerahkan pasukan dari medan lain untuk menebus kerugian yang signifikan ini. Lewat aksinya ini, Allenby segera menjadi pahlawan untuk, seperti yang kemudian dikatakan, telah mengakhiri 673 tahun kekuasaan Kerajaan Muslim atas Tanah Suci. Lonceng Gereja di seluruh dunia berdentang untuk merayakan perebutan kembali atas kota besar itu. Perdana Menteri Lloyd George menggambarkan perebutan Yerusalem sebagai “hadiah Natal bagi rakyat Inggris.” Namun, sang jenderal memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Secara militer, masalah berikutnya adalah bagaimana ia bisa terus menekan pasukan Turki Utsmani yang mundur dan merebut Damaskus, sebuah kota yang didambakan baik oleh orang Arab maupun Prancis. Problem itu semakin sulit pada musim semi 1918 ketika serangan Jerman di Front Barat memaksa Allenby mengembalikan sebagian pasukannya ke Prancis. Secara politis, ia juga menghadapi proses rekonsiliasi atas semua banyak janji yang diberikan oleh kerajaan Inggris selama masa perang kepada orang-orang Arab, orang-orang Yahudi dan Prancis. Allenby berperan dalam proses itu sebagai komandan lapangan, viscount Megiddo dan komisaris tinggi untuk Mesir dan Sudan. Pria yang merebut Yerusalem dari Ottoman itu pensiun dari kehidupan sebagai pejabat negara pada tahun 1925 setelah mandat Liga Bangsa-Bangsa memberikan wilayah mandat Palestina ke tangan kendali pihak Inggris, yang ia bantu mendapatkannya. Berkat keberhasilan Allenby di Beersheba, sejarah Inggris yang ruwet di Palestina dimulai dengan kemeriahan yang luar biasa, tetapi pada saat ia meninggal pada tahun 1936, Palestina telah menjadi sumber masalah yang tak berkesudahan bagi kerajaan Inggris.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Allenby Captures Jerusalem by Michael Neiberg

Battle of Beersheba Narrated by Richard Roxburgh

https://www.abc.net.au/ww1-anzac/beersheba/story-of-the-day/

This Day in Jewish History 1917: General Allenby Shows How a ‘Moral Man’ Conquers Jerusalem by David B. Green; 11.12.2014 | 03:46

https://www.google.com/amp/s/www.haaretz.com/amp/jewish/.premium-1917-general-allenby-shows-how-a-moral-man-conquers-jerusalem-1.5343853

In 1917, Jerusalem tried to surrender to a British army cook who was lost looking for eggs; December 09, 2016 · 3:45 PM EST

By Christopher Woolf

https://www.pri.org/stories/2016-12-09/1917-jerusalem-tried-surrender-british-army-cook-who-was-lost-looking-eggs

The Palestine Campaign: How Britain Captured Jerusalem in World War One

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Jerusalem

7 thoughts on “11 Desember 1917, Jenderal Allenby dari Inggris Merebut Yerusalem dari Tangan Turki Ottoman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *