14-15 Februari 1942, Dengan Granat dan Pistol Pasukan Payung Jepang Merebut Palembang Dari Udara

Pada hari jatuhnya Singapura tanggal 15 Februari 1942, armada invasi Jepang sedang berlayar menuju ladang minyak Palembang di Sumatera Selatan. Sumatera pada saat itu merupakan bagian dari Hindia Belanda. Minyak di wilayah ini paling melimpah dan termasuk minyak mentah terbaik yang diproduksi di dunia. Setelah pasukan Sekutu yang mundur menghancurkan kilang dan sumur di daerah Kalimantan dan Sulawesi, dimana hal ini membuat kesal Jepang, kemudian mereka mengeluarkan peringatan bahwa “Kepala setiap orang Eropa akan dipertaruhkan di daerah di mana sebuah sumur atau kilang dihancurkan”. Dengan keberadaan kilang minyak Royal Dutch Shell di dekat Pladju, kota Palembang di Sumatera bagian selatan, Hindia Belanda adalah tujuan utama di awal kampanye Jepang ke arah selatan. Dalam rangka merebut ladang minyak dan instalasi strategis di kawasan Palembang ini, pihak Jepang kemudian mengerahkan pasukan payung, yang kemudian akan menjadi salah satu operasi langka yang melibatkan pasukan payung Jepang selama perang.

Setelah sukses menggunakan pasukan payung angkatan laut dalam merebut Manado, Jepang menggunakan lagi pasukan payungnya untuk merebut Palembang, kini mereka menggunakan pasukan payung dari Angkatan Darat. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

LATAR BELAKANG

Pada saat serangan di Pearl Harbor menjerumuskan Amerika Serikat ke dalam Perang Dunia II, Jepang telah mempersiapkan rencana serangan habis-habisan di Pasifik selama berbulan-bulan. Jepang sampai saat itu amat mengandalkan impor bahan mentah dan sumber daya alam untuk bisa bertahan hidup. Karet, timah, besi, dan terutama minyak harus diimpor agar industri Jepang dapat berfungsi. Disamping itu bahan mentah yang sama juga penting untuk keperluan mesin perang Jepang. Pada tahun 1894-1895, Jepang mengalahkan Cina dalam perang singkat dan menguasai pulau Formosa, bagian dari Korea, dan sedikit wilayah Manchuria. Bersama dengan dikuasainya wilayah ini datanglah semua sumber daya alam keperluan mereka. Pada tahun 1905, setelah Jepang mengalahkan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang, kini Kekaisaran Matahari Terbit menambah wilayah taklukannya dengan menguasai seluruh Korea dan sebagian Manchuria yang sebelumnya dikuasai oleh Rusia. Pada tanggal 19 September 1931, di tengah-tengah depresi ekonomi yang melanda seluruh dunia, Jepang melancarkan insiden di sebuah stasiun kereta api di perbatasan Korea Manchuria, yang kemudian digunakan sebagai alasan untuk menyerang provinsi Cina yang kaya mineral itu. Ketika Liga Bangsa-Bangsa mengutuk tindakan tersebut, Jepang memutuskan untuk mengundurkan diri dari Liga. Pada tahun 1936, untuk memperluas kekuatan angkatan lautnya, Jepang membatalkan Perjanjian Angkatan Laut Washington tahun 1922, yang membatasi ukuran Angkatan Laut Jepang. Pada bulan Juli 1937, Jepang melancarkan invasi besar-besaran ke China dengan dalih tentara China menembaki pasukan Jepang di Manchuria. Meskipun Jepang tidak dapat menaklukkan seluruh China, pada tahun 1939, Jepang telah menguasai hampir semua kota pelabuhan yang penting dan memiliki kendali yang kuat atas bahan mentah yang masuk atau keluar dari raksasa Asia itu. 

Pasukan Jepang bergerak menuju kota Haiphong, Vietnam. Masuknya Jepang ke Indochina semakin mendorong Amerika untuk mengetatkan embargo ekonominya, yang pada akhirnya mendesak Jepang untuk segera menginvasi wilayah Asia Tenggara yang kaya bahan mentah. (Sumber: https://saigoneer.com/)

Pada bulan Juni 1940, setelah Jepang bergerak ke Indochina Prancis saat Prancis berada di bawah pendudukan Nazi, Kongres AS mengeluarkan Undang-Undang Kontrol Ekspor, yang melarang ekspor “mineral dan bahan kimia strategis, mesin pesawat, suku cadang, dan peralatan” ke Jepang. Yang tidak ada dalam daftar ini adalah minyak mentah. Hubungan yang tegang antara Amerika Serikat dan Jepang memburuk pada bulan September 1940 ketika Jepang menandatangani Pakta Tripartit dengan Nazi Jerman dan Fasis Italia. Hitler, yang telah merencanakan untuk memulai perang di Eropa, berharap Pakta Tripartit akan mendorong Jepang untuk menyerang wilayah kepemilikan Inggris di Timur Jauh untuk menaklukkan kekuatan yang sudah ada di sana. Dengan ini Hitler berharap agar konsentrasi Inggris dalam melawan Jerman di Eropa terpecah. Pada saat yang sama, Jepang berharap bahwa pakta tersebut akan memberikan keamanan baginya ketika mereka merumuskan rencana untuk menyerang dan merebut ladang minyak yang kaya di Hindia Belanda. Menanggapi Pakta Tripartit, Amerika Serikat mengembargo lebih banyak lagi bahan mentah — kuningan, tembaga, dan besi. Namun, Presiden Franklin D. Roosevelt tidak melarang pembelian minyak oleh Jepang. Pada musim semi 1941, Jepang menandatangani pakta non-agresi selama lima tahun dengan Rusia, yang memastikan bahwa “pintu belakangnya” tertutup dan aman. Selanjutnya, Jepang memindahkan lebih banyak pasukan ke Indocina Prancis dan mulai mengincar Hindia Belanda. Menanggapi pergerakan pasukan tersebut, Roosevelt membekukan semua aset Jepang di Amerika Serikat dan setelah banyak pertimbangan akhirnya melakukan embargo minyak mentah. Setelah embargo Amerika, Belanda turut menyatakan bahwa Hindia Belanda juga akan berhenti menjual minyak ke Jepang. 

PASUKAN PAYUNG JEPANG

Untuk menaklukkan wilayah Hindia Belanda dan merebut ladang minyak vitalnya, Jepang pertama-tama harus menghancurkan benteng pertahanan Inggris di Singapura, menghancurkan pasukan Amerika di Filipina, dan melumpuhkan Armada Pasifik AS di Pearl Harbor. Dalam waktu 24 jam pada tanggal 7 Desember 1941, Jepang telah melancarkan serangan terhadap Pearl Harbor, Filipina, Singapura, Hong Kong, Malaya Utara, Thailand, Guam, Pulau Wake, dan Atol Midway dan mulai berencana untuk merebut pulau Sumatera, sebelah timur Jawa, bersama dengan kilang minyak dan lapangan terbang utama di sekitarnya. Sementara itu pada bulan Desember 1940, Angkatan Darat Jepang mulai bereksperimen dengan pasukan payung. Pelatihan relawan pertama pasukan payung dilakukan di Ichigaya dekat Tokyo. Kemudian didirikan juga tempat pelatihan lainnya di Shimonoseki, Shizvoka, Hiroshima dan Himeji. Dengan kedatangan instruktur Jerman pada musim panas tahun 1941, kursus selama enam bulan dapat dikurangi menjadi hanya dua bulan. Sembilan sekolah baru kemudian menyusul didirikan dengan 14.000 hingga 15.000 peserta mengikuti pelatihan. Persyaratan untuk unit itu amat kaku. Sebagian besar relawan berusia antara 20 dan 25 tahun, dan untuk perwira tidak boleh berusia lebih dari 28 tahun. Semua harus melalui pemeriksaan medis yang ketat. Tes psikologis dan fisik tambahan juga diberikan dan, karena atas dasar keyakinan bahwa pasukan terjun payung harus memiliki kemampuan seperti kucing untuk mendarat dengan selamat, para sukarelawan diberikan pelatihan kebugaran fisik yang intens yang serupa dengan yang diberikan pada para pesenam.

Pasukan Payung Angkatan Darat Kekaisaran Jepang 1941-1942. (Sumber: https://www.pinterest.co.uk/)

Setelah sekitar 250 sukarelawan dipilih, pelatihan dipindahkan ke taman hiburan Tokyo yang memiliki wahana khusus yang menampilkan tempat penerjunan parasut setinggi 165 kaki. Sejarawan Gordan Rottman dan Akira Takizawa menulis, “para pencari ketegangan biasanya akan diikat pada kanopi yang dikencangkan dengan kabel sebelum dilepaskan untuk mengapung di atas tanah. Karena keberadaan unit terjun payung dirahasiakan, peserta pelatihan diarahkan untuk mengunjungi taman dengan menyamar sebagai mahasiswa, untuk menjalani beberapa simulasi penerjunan. ” Pelatihan tambahan lalu diberikan juga, yang terdiri dari jungkir balik dan jatuh, melompat dari berbagai ketinggian untuk mempelajari teknik pendaratan dan, akhirnya, melakukan lompatan sebenarnya dari pesawat yang bergerak. Setelah kelompok sukarelawan awal cukup terlatih, kelompok itu kemudian dipecah untuk menjadi beberapa kader guna menerima dan melatih peserta baru. Baik Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang memiliki pasukan parasut yang terpisah. Unit parasut Angkatan Darat adalah bagian dari Kekuatan Udara Angkatan Darat Jepang dan disebut sebagai Unit Penyerang. Sebuah resimen penyerbuan dapat disamakan dengan satuan seukuran batalion dan unit terbesar adalah Grup Penyerang, dengan ukuran setingkat divisi dan dipimpin oleh seorang Mayor Jenderal. Resimen Serbu Udara menyediakan armada pesawat angkut bagi satuan ini, yang umumnya melekat pada Grup Penyerang tersebut.

Perlengkapan dan persenjataan pasukan payung Jepang. Senapan pasukan payung Jepang dapat diurai menjadi 2 bagian untuk mempermudah saat penerjunan. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Parasut militer yang digunakan pasukan payung Jepang adalah Type 01 buatan tahun 1941, mirip dengan versi RZ Jerman, yang memiliki lebih banyak kesamaan dengan parasut seri D-30 asal Italia. Parasut ini memiliki diameter kanopi 28 kaki (8,5 meter) dalam bentuk setengah bola dengan skirting dan lubang ventilasi untuk mendapatkan kestabilan saat melayang. Setiap penerjun payung juga membawa paket payung cadangan di dada sepanjang 24 kaki (7,3 meter). Angkatan Darat Jepang mengadopsi dan menetapkan senapan Tipe 00 sebagai senjata standar untuk pasukan penerjun payungnya, senapan ini memiliki berat 9lb 8 ons (4,3 kg) dengan magasin kotak integral berisi 5 peluru, yang desainnya berasal dari senapan Arisaka Meiji 38. Senapan ini diperpendek dan didesain ulang untuk bisa menembakkan peluru kaliber 7,7mm yang baru-baru dan cukup mematikan. Senapan model 38 ini dengan didampingi oleh varian Carbine, awalnya ditujukan untuk pasukan kavaleri, artileri dan zeni, namun pada tahun-tahun berikutnya senapan bolt action sepanjang 38 inci (96,52 cm) secara bertahap menggantikan senapan militer standar yang memiliki panjang 50 inci (127 cm) di banyak formasi infanteri, karena lebih mudah digunakan di hutan. Untuk pasukan penerjun payung, Arisaka Type 00 tahun 1940 ini dapat diurai menjadi beberapa bagian. Jadi setiap orang sejatinya dapat membawa senjatanya sendiri saat diterjunkan, alih-alih bergantung pada kontainer yang diterjunkan di dekatnya, dan kadang-kadang dalam situasi taktis di daerah tropis sebagian besar kontainer yang dijatuhkan hilang atau berakhir di tangan musuh. Senapan untuk pasukan payung Tipe 2 diperkenalkan pada tahun 1942 sebagai peningkatan dari senapan Type 99, tetapi hanya sedikit yang diproduksi. Senjata-senjata kecil, ditambah bayonet wajib dibawa oleh pasukan payung Jepang dalam kantung-kantung kotak datar besar di dada dengan parasut cadangan terpasang didepannya. Baik penerjun payung Angkatan Darat Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran mengenakan pakaian tempur berdasarkan model gabardine Jerman. Juga mirip adalah granat “pelumat kentang” Jerman, namun granat tongkat rancangan Jepang ini lebih mematikan dengan memiliki lebih banyak fragmentasi logam pada saat meledak. Sistem pin kerap tidak bisa diandalkan setelah talinya ditarik, tampaknya hal ini merupakan cacat yang berbahaya pada granat Jepang, terutama setelah disimpan di lingkungan yang lembab. Granat tongkat mulai dianggap usang ketika Jepang terlibat dalam perang dunia.

PERSIAPAN

Pada bulan Januari 1942, Angkatan Darat Jepang telah memiliki cukup banyak pasukan terjun payung yang terlatih untuk membentuk Brigade Penyerang Pertama di bawah pimpinan Kolonel Seiichi Kume yang terdiri dari Markas Brigade Penyerang Pertama, Resimen Penyerang ke-1 (pimpinan Mayor Takeo Takeda), dan Resimen Penyerangan ke-2 (pimpinan Mayor Takeo Komura). Selain itu, ditambahkan pula Resimen Penyerbuan Udara Pertama (pimpinan Mayor Akihito Niihara), dan sebuah sebuah kelompok transport udara, yang ditempatkan pada brigade tersebut sehingga pasukan terjun payung akan memiliki kelompok pesawat otonom milik mereka sendiri. Setiap resimen hanya terdiri dari sekitar 700 orang, bukan 3.800 seperti resimen infanteri standar. Setiap resimen terdiri dari kelompok markas resimen, tiga kompi senapan, dan satu kompi zeni. Persiapan penerjunan pasukan payung Angkatan Darat di Sumatra sebenarnya telah selesai pada akhir Desember 1941, tetapi kebakaran yang tidak disengaja di atas kapal kargo Meiko Maru pada tanggal 3 Januari 1942, yang sedang mengangkut Resimen Penyerbuan ke-1 ke sebuah lapangan udara di Semenanjung Malaya, menyebabkan pasukan terjun payung meninggalkan kapal tersebut tanpa membawa parasut, peralatan, dan senjata mereka. Lelah dan berantakan dari cobaan berat yang mereka alami dan terdampar di Pulau Hainan di lepas pantai utara Indocina Prancis, pasukan terjun payung itu tidak dalam kondisi siap untuk melakukan penerjunan tempur. Ketika berita tentang bencana tersebut sampai ke Staf Umum Angkatan Darat Kekaisaran, mereka beralih ke Mayor Komura dan Resimen Penyerang ke-2. Meskipun unit tersebut masih diorganisir, sekitar 450 pasukan terjun payung kemudian mempersiapkan senjata, peralatan, dan parasut untuk menjalankan misi yang diberikan. Pada tanggal 15 Januari, Resimen Penyerangan ke-2 yang berkekuatan lebih kecil meninggalkan Kyushu, dan tiba di Phnom Penh, Kamboja, pada tanggal 2 Februari.

Mitsubishi Ki-57 Topsy, pesawat angkut pasukan payung Jepang. (Sumber: http://japaneseaircraftofwwii.blogspot.com/)

Resimen Penyerbuan ke-2 lalu dipecah menjadi Grup Penyerang ke-1 dan ke-2 untuk melakukan serbuan udara di lapangan udara dan kilang minyak di Pladju, Palembang. Grup Penyerang Pertama, yang terdiri dari sekitar 350 perwira dan prajurit, akan diangkut ke daerah tersebut dengan pesawat Tachikawa Type LO “Thelma” dan Mitsubishi Ki-57 Type 100 Model 1 “Topsy” milik Resimen Terbang Penyerang Pertama, dengan jadwal penerjunan tanggal 14 Februari. Satu hari kemudian, Grup Penyerang ke-2, yang hanya terdiri dari 90 perwira dan prajurit, akan diterjunkan oleh Satuan Transport Chutai ke-12. Entah mengapa, peti kemas kecil yang sedianya membawa senapan, senapan mesin, amunisi, dan perbekalan lainnya akan dijatuhkan oleh Unit Sentai ke-98 yang terdiri dari 27 pembom medium Mitsubishi Type 97 “Sally” bermesin ganda. Rencana ini membuat khawatir pasukan terjun payung. “Jika (kontainer)salah diterjunkan atau ditunda penerjunannya,” tulis sejarawan Rottman dan Takizawa, “pasukan terjun payung di darat akan dipaksa untuk melawan musuh yang bersenjata lengkap hanya dengan pistol dan granat.” Kedua penerbangan itu akan dikawal oleh pesawat-pesawat tempur Nakajima Ki-43 “Oscar” dari Sentai ke-59 dan 64. Selain itu, penerjunan awal akan didahului oleh sembilan pembom ringan Kawasaki Ki-48 Tipe 99 “Lily” dari Sentai ke-90 yang menjatuhkan bom antipersonel di seluruh lapangan udara Belanda. Pada tanggal 13 Februari, seluruh pasukan penyerang telah pindah dari Kamboja ke sisi barat Semenanjung Malaya, dengan Grup Penyerang pertama berkumpul di lapangan udara Sekutu yang baru saja direbut di Keluang dan Kahang dan Grup Penyerang ke-2 pindah ke Sungai Petani. Saling bersulang dengan saké, para perwira dan pasukannya bersiap untuk diterjunkan di pagi hari di Palembang, ibu kota Sumatera. 

Bomber medium Mitsubishi Type 97 “Sally”. (Sumber: https://www.daveswarbirds.com/)
Bomber ringan Kawasaki Ki-48 Tipe 99 “Lily”. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Palembang, dengan penduduk lebih dari 108.000, terletak di Sungai Moesi sekitar 50 mil ke arah pedalaman dari Selat Bangka. Ladang minyaknya dikatakan yang terbaik di Asia Tenggara. Dua kilang minyak telah dibangun di Pladju, sekitar empat mil timur kota di sisi selatan Sungai Moesi. Anak sungai Moesi, Sungai Komering, membagi dua kilang minyaknya. Di tepi timur dan terjauh dari Palembang adalah Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM), sebuah kilang untuk Standard Oil Company. Di tepi barat ada Bataafsce Petroleum Maatschappij (BPM), milik Shell Oil. Kilang terakhir dibangun sebagai dua instalasi terpisah, satu di seberang kilang NKPM di sisi barat Sungai Komering dan yang lainnya tidak jauh di tepi selatan Sungai Moesi. Meskipun pihak Belanda dapat memprediksi bahwa Jepang ingin kedua kilang tersebut tetap utuh, mereka tidak bermaksud untuk menghancurkan fasilitas tersebut sebelum waktunya. Selain lapangan terbang sipil terkenal yang disebut Pangkalan Benteng (P1), delapan mil di utara Palembang, terdapat juga lapangan terbang militer yang baru dibangun, yakni lapangan terbang Praboemoelih (P2), 40 mil ke selatan. P1 telah digunakan oleh pesawat sipil selama bertahun-tahun dan memiliki landasan pacu beton keras, bangunan barak, dan menara kontrol, namun tidak memiliki tempat untuk menyembunyikan pesawat. Sial bagi orang Belanda, P1 sudah diketahui oleh orang-orang Jepang. Namun, P2 yang baru didirikan memiliki landasan pacu tanah yang tersembunyi dengan baik yang tertutupi di bawah kanopi hutan di sekitarnya untuk menyembunyikan pesawat Sekutu. Karena lokasinya yang tersembunyi dengan baik, P2 tidak diketahui oleh Jepang. Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) telah memilih Palembang sebagai markas besarnya di Sumatera.

Kompleks Pangkalan Minyak di Pladju. (Sumber: Hurricane Over the Jungle)

Pada pertengahan Januari ketika Jepang semakin mendekat, RAF menempatkan setengah lusin skuadron tempur dan pembom di P1 dan P2. Kekuatan Inggris di sana terdiri dari Grup Pengebom No. 225 Angkatan Udara Kerajaan/RAF Inggris (dengan dua skuadron Angkatan Udara Australia/RAF) dengan 40 pembom Blenheim (Blemheim 1, 1F, dan 1V) dan 35 pembom ringan Hudson (Hudson II dan III) dan Grup Pesawat Tempur No. 226 dengan dua skuadron Pesawat Tempur Hurricane dan sejumlah Pesawat Tempur Buffalo yang ditarik mundur dari kampanye militer di Malaya dan Singapura sebelumnya. Di Timur Tengah, pesawat-pesawat Blenheim (dari Skuadron 34th RAF, 27th RAF, 84th RAF and 211th RAF) dan Hudson (dari Skuadron 1st RAAF, 8th RAAF, 59th RAF dan 62nd RAF) sudah dianggap ketinggalan jaman saat berhadapan dengan pesawat-pesawat tempur Jerman yang lebih baru sehingga dipindahkan untuk digunakan di kawasan Timur Jauh. Beberapa pembom berat B-17 Flying Fortress asal Amerika sempat berada di Palembang pada bulan Januari 1942, tetapi mereka kemudian ditarik ke Jawa dan Australia sebelum invasi Jepang. Dengan menggunakan bahan bakar pesawat beroktan tinggi yang diproduksi di dua kilang, pilot-pilot Inggris menerbangkan lusinan serangan mendadak melawan tentara Jepang yang bergerak cepat di wilayah tersebut. Grup RAF (Fighter) ke-226 telah didirikan di Palembang pada awal Februari. Pesawat-pesawat dari Skuadron RAF 232 dan 258 telah menerbangkan Hurricane Mk1 mereka dari dek kapal induk HMS Indomitable pada tanggal 27 Januari. Dari 48 Hurricane yang tiba di Palembang hari itu dan tambahan tujuh Hurricane dari Pangkalan Udara Tjililitan pada tanggal 13 Februari, hanya 14-15 yang masih dapat digunakan pada saat invasi Jepang. Selama periode menjelang invasi, Hurricane telah memberikan perlawanan sebaik yang bisa mereka lakukan, dengan rasio kill sekitar satu banding satu dibanding pesawat-pesawat tempur Jepang.

Tonggak-tonggak bambu tajam untuk menangkal pendaratan pasukan payung Jepang. (Sumber: https://dutcheastindies.webs.com/)

Seluruh wilayah di sekitar Palembang berada di bawah komando Letkol L.N.W. Vogelesang dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) Komando Teritorial Sumatera Belanda. P1 dijaga oleh Batalyon Garnisun Sumatra Selatan, dengan jumlah personel sekitar 110 orang, dan diperkuat oleh dua mobil lapis baja tua. Karena pesawat Jepang menembak lebih banyak pesawat di darat daripada jumlah personel yang mengawaki, maka ada lebih banyak penerbang daripada pesawat di P1. Selanjutnya, tiga perwira dan 72 awak udara dari RAF dan Royal Australian Air Force (RAAF) dibentuk untuk menjadi unit pertahanan darat darurat. Sayangnya, orang-orang ini kekurangan senjata yang tepat dan pelatihan yang memadai sebagai penembak. Di kota Palembang, Kolonel Vogelesang memiliki satu kompi infanteri Stadswacht / Landstorm (home guard / cadangan) dan delapan meriam lapangan stasioner kaliber 75mm. Sebuah kompi senapan mesin reguler KNIL ditempatkan di kawasan kilang minyak. Vogelesang kekurangan senjata antipesawat untuk melindungi lapangan terbang dan kilang minyak sampai dua baterai Resimen AA Berat ke-6, Artileri Kerajaan, dan satu baterai Resimen AA Ringan ke-35, Artileri Kerajaan, dengan 16 senjata AA berat kaliber 3,7 inci dan 16 senjata Bofors AA kaliber 40mm tiba dari Singapura pada tanggal 2 Februari. Satu pasukan dari baterai antipesawat yang berat, sekitar 150 orang, dengan enam meriam kaliber 3,7 inci dan enam senjata Bofors, kemudian dikirim ke P1. Sebuah baterai dari Resimen ke-6 dan baterai antipesawat ringan dikirim ke P2 dengan enam meriam kaliber 3,7 inci dan enam senjata Bofors. Satu pasukan terakhir, dengan sisa empat meriam kaliber 3,7 inci dan empat senjata Bofors, dikirim untuk melindungi kilang minyak. Sayangnya, kapal yang membawa sebagian besar amunisi untuk senjata antipesawat tenggelam, sehingga membatasi kemampuan kedua resimen untuk menyerang musuh. Untuk membantu mempertahankan tepi sungai Palembang dan dermaga kilang minyak, Kolonel Vogelesang memiliki satu kapal penyebar ranjau milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda, HNLMS Pro Patria, dan dua kapal patroli (P-38 dan P-40). Ketiga kapal tersebut terus-menerus berpatroli di Sungai Moesi dengan perintah untuk melawan setiap upaya Jepang untuk bergerak menggunakan sungai ke Palembang. Dengan segala persiapan yang dibuat dan yang bisa dilakukan, kemudian oleh tentara Belanda, Inggris, dan pribumi yang bertahan hanyalah duduk dan menunggu datangnya tentara Jepang.

Hawker Hurricane, pesawat pemburu paling modern sekutu yang tersedia di Palembang saat Pasukan Jepang menyerang. (Sumber: https://thejavagoldblog.wordpress.com/)

Rencana keseluruhan di pihak Jepang adalah agar Resimen Penyerbuan ke-2 bisa merebut satu-satunya lapangan udara yang diketahui, yakni P1, dan dua kilang minyak. Jepang ingin merebut kilang secara utuh dan mencegah penghancuran fasilitasnya. Dengan demikian, kelompok Markas Resimen Penyerbuan ke-2 (17 orang di bawah pimpinan Mayor Komura), Unit Sinyal (30 orang dipimpin oleh Letnan Komaki), Kompi Senapan ke-4 (97 orang di bawah pimpinan Letnan Mitsuya), dan Peleton 3, Kompi Senapan ke-2 (36 orang dikomandani) oleh Letnan Mizuno), sebanyak 180 orang, akan mendarat tiga perempat mil tenggara lapangan udara. Kelompok lain, Peleton ke-1 dan ke-2, Kompi Senapan ke-2 (60 orang dengan Letnan Nobutaka Hirose yang bertanggung jawab sebagai pimpinan) akan mendarat seperdelapan mil sebelah barat dari P1. Begitu sampai di darat, kedua unit (240 orang) akan bergerak maju, mengepung, dan merebut lapangan udara. Pada saat yang sama, Peleton ke-1 dan ke-2 dari Kompi Senapan Pertama (60 orang yang dipimpin Letnan Kikuo Nakao) akan diterjunkan sepertiga mil di sebelah barat fasilitas BPM Minyak Shell di sisi barat Sungai Komering. Bersamaan dengan itu, Peleton ke-3, Kompi Senapan Pertama (39 orang di bawah pimpinan Letnan Hasebe) akan mendarat hampir setengah mil di selatan fasilitas Minyak Standar NKPM di sisi timur Komering. Setelah seluruh Grup Serang Pertama berada di darat, Kolonel Kume dan beberapa stafnya akan mendaratkan pesawat transport antara lapangan terbang dan Palembang. Di dalamnya akan ada senjata antitank kaliber 37mm. Setelah semua orang berada di darat, pasukan terjun payung itu akan bergerak cepat ke depan, merebut lapangan udara dan kedua fasilitas minyak, dan bertahan sampai digantikan dengan pasukan bantuan yang mendarat dari laut dan bergerak maju ke Sungai Moesi. Bala bantuan untuk resimen parasut itu akan dilakukan dengan pendaratan amfibi oleh Resimen Infantri ke-229 dan satu batalion dari Resimen Infantri 230, keduanya dari Divisi Infanteri ke-38. Sesuai rencana, pasukan infanteri akan mendarat di muara Sungai Moesi dengan tongkang dan menyerang wilayah hulu ke Palembang. Sampai mereka tiba, yang diperkirakan akan memakan waktu dua hari, satu-satunya bala bantuan bagi pasukan terjun payung akan datang dari Pasukan Penyerang ke-2 —90 orang di bawah pimpinan Letnan Ryo Morisawa dari Kompi ke-3. Beberapa orang ini dijadwalkan untuk diterjunkan ke P1 pada hari kedua. Bahkan dengan bantuan kecil ini, Resimen Penyerang ke-2 diperkirakan akan kesulitan untuk mempertahankan tujuan yang telah ditetapkan sampai pasukan infanteri tiba.

INVASI

Pada tanggal 10 Februari, sebuah pesawat pengintai Inggris melihat konvoi penyerbuan di utara Pulau Bangka dan mereka bisa menebak dengan benar bahwa mereka menuju ke Palembang. Selama beberapa hari dan malam berikutnya, Inggris berulang kali menyerang kapal-kapal Jepang, dan pada tanggal 14 Februari, Belanda, Inggris, dan penduduk asli Sumatera di sekitar Palembang telah sangat menyadari niat dari Jepang. Pada saat fajar pertama, 15 pesawat tempur Hawker Hurricane, satu-satunya pesawat yang dapat digunakan di P1, lepas landas untuk mengawal beberapa flight pembom RAF dari P2 untuk menyerang konvoi Jepang yang mendekat dengan cepat. Sementara itu pesawat-pesawat angkut yang berisi pasukan terjun payung Resimen Penyerangan ke-2 mulai lepas landas dari lapangan terbang di Malaya sekitar pukul 8:30 pagi. Secara keseluruhan, 150 pesawat sedang dalam perjalanan untuk melakukan serangan serbu udara di Sumatera. Saat penerbangan masih 100 mil dari Palembang, orang-orang Jepang ditemukan oleh pos pengamatan Sekutu, dan kabar itu segera disampaikan ke P1. Komandan Udara S.F. Vincent, yang bertanggung jawab atas salah satu skuadron RAF di P1, segera “mengatur agar perwira pertahanan lapangan udara diperingatkan untuk bersiap menghadapi serangan pasukan terjun payung, sambil memerintahkan agar senapan dan amunisi segera dikeluarkan.” Sayangnya untuk personel RAF, tidak ada cukup senapan untuk dibagikan. Hanya sekitar 60 penerbang yang benar-benar menerima senjata dan memposisikan diri untuk membantu 200 pasukan KNIL yang mempertahankan lapangan terbang. 

Gambaran denah posisi di Pangkalan Udara P1. (Sumber: Hurricane Over the Jungle)

Pada pukul 11:20, hampir tiga jam setelah lepas landas, pesawat-pesawat Jepang sudah sampai di muara Sungai Moesi. Mengikuti sungai dan terbang ke selatan, pesawat-pesawat Jepang terbang diam-diam melewati beberapa pembom Inggris, tidak pernah berbelok dari tujuan yang dimaksudkan. Saat pesawat Jepang semakin dekat ke kedua tujuan, baterai antipesawat Inggris di lapangan terbang dan kilang minyak melepaskan tembakan. Sebuah peluru meledak dalam laras salah satu senjata antipesawat Bofors, menewaskan satu orang secara langsung dan melukai beberapa lainnya. Setelah pembom Sentai ke-90 mengebom lapangan terbang dan bangunan barak, pesawat-pesawat tempur Jepang mulai memberondong daerah tersebut. Sementara pesawat-pesawat tempur dan pembom menyerang secara langsung di atas lapangan udara, 18 pesawat angkut terbang di sekitar ketinggian 600 kaki pada pukul 11:26 dan mulai menerjunkan 180 pasukan terjun payung pimpinan Mayor Komura di tenggara lapangan udara. Pada waktu yang hampir bersamaan, enam pesawat angkut lagi mulai menerjunkan 60 orang dari Peleton ke-1 dan ke-2 dari Kompi Senapan ke-2 di sebelah barat lapangan terbang. Tiba-tiba sebuah flight yang terdiri dari 15 pesawat tempur Hurricane dan segelintir pembom Lockheed Hudson yang baru saja menyerang konvoi invasi Jepang di utara tiba-tiba datang di atas lapangan terbang. Datang di ketinggian tinggi melalui awan tebal, pilot-pilot Inggris melihat musuh di bawah mereka. Sementara pembom-pembom terus menuju P2, pesawat-pesawat tempur sekutu, meskipun kehabisan bahan bakar, segera terjun untuk menyerang.

Pesawat pembom Lockheed Hudson yang dilibatkan dalam menyerang konvoi Jepang yang menuju ke Palembang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Keluar dari awan, Pilot Officer Bill Lockwood dan wingman-nya membidik bomber Sally yang memimpin. Menukik dengan cepat, Lockwood menembak jatuh pembom yang membawa beberapa kontainer kargo. Mengerem dengan tajam, Lockwood dan wingman-nya terbang mendatar dan berlari menuju hujan badai yang deras. Pada saat mereka keluar dari sana, mereka sudah melewati lapangan terbang dan harus menyusuri Sungai Moesi kembali ke Palembang. Mendekati P1 untuk kedua kalinya, Lockwood melihat sejumlah “benda putih” di tanah dan beranggapan bahwa pasukan terjun payung Jepang sudah berada di tengah-tengah serangan. Ketika dia melihat suar Very flare merah ditembakkan dari P1 yang memperingatkannya untuk tidak mendarat, Lockwood dan wingman-nya terbang ke P2. Sekelompok pasukan terjun payung yang mendarat di tenggara lapangan terbang diterjunkan sekitar dua mil jauhnya dari P1 ke daerah yang ditutupi dengan pepohonan kecil. Perbekalan mereka tersebar, dan dengan beberapa orang yang hanya bersenjatakan pistol dan granat tangan yang mereka bawa selama pendaratan, pasukan terjun payung yang tidak teratur mulai bergerak dalam kelompok-kelompok kecil yang terisolasi menuju lapangan udara. Satu pesawat pasukan terjun payung, anggota Kompi Senapan ke-4 yang dipimpin oleh Letnan Minoru Okumoto, seharusnya mendarat di zona penerjunan di tenggara tetapi menghadapi pintu yang macet dan tidak bisa keluar dari pesawat tepat waktu. Sebaliknya, pasukan payung itu terjun lebih dari empat mil di selatan zona penerjunan seharusnya, dekat jalan utama yang mengarah dari Palembang ke lapangan terbang. Bergerak cepat, Okumoto mengumpulkan empat pria lain, semua yang bisa dia temukan, dan hanya bersenjatakan pistol dan granat mulai berjalan ke utara di sepanjang jalan menuju P1. Selama pergerakan mereka, mereka memutus saluran telepon antara lapangan terbang dan kota. 

Dalam persiapan untuk melakukan serbuan udara mereka di Palembang dan pulau Sumatera, pasukan lintas udara Jepang dari Resimen Penyerang ke-2 mengenakan parasut mereka. Penerjunan di Sumatra adalah salah satu dari sedikit operasi lintas udara Jepang yang dilakukan selama Perang Pasifik. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Sementara itu, di sebelah barat lapangan terbang, 60 orang dari Peleton ke-1 dan 2, Kompi Senapan ke-2 di bawah Letnan Hirose terjun diatas buluh lebat setinggi enam kaki, meskipun foto udara menunjukkan bahwa daerah itu datar dan ditutupi rumput rendah. Tidak dapat menemukan kontainer kargo mereka, beberapa kelompok kecil pasukan terjun payung mulai berjalan ke timur menuju lapangan udara, lagi-lagi dengan hanya dipersenjatai pistol dan granat tangan. Sementara itu meskipun Letnan Hirose hanya dapat menemukan dua orang lainnya, dia terus maju ke arah P1. Ketika pesawat-pesawat Jepang akhirnya terbang menjauh, para prajurit Belanda dan Inggris yang bertahan menggali pertahanan, menolak untuk menyerah bahkan satu inci pun kepada tentara Jepang yang menyerang. Personel awak darat dan udara yang tidak mendapatkan senapan mencabut senapan mesin Browning dari pesawat yang tidak dapat digunakan dan meletakkannya diatas gundukan tanah. Pada saat yang sama, awak senjata antipesawat kaliber 3,7 inci dan Bofors menurunkan elevasi senjata mereka dan mulai menembak secara horizontal di atas medan terbuka. Selama sekitar satu jam berikutnya, mereka melawan beberapa orang Jepang pertama yang berhasil mencapai lapangan terbang. Tersebar luas saat penerjunan, banyak pasukan terjun payung tiba dalam satu atau dua orang atau dalam kelompok kecil. Beberapa, tampaknya telah mengambil senapan mereka dari kontainer kargo yang berserakan, memanjat pohon di sisi selatan lapangan terbang dan mulai menembaki kru senjata antipesawat. Setelah para penembak jitu itu diceraiberaikan, keadaan menjadi sangat sunyi di lapangan terbang. Sebagian besar pasukan terjun payung telah mendarat beberapa mil jauhnya dari lapangan dan mengalami kesulitan mengumpulkan perlengkapan mereka, berkumpul, dan menuju P1. Memanfaatkan ketenangan sebelum serangan diperkirakan akan datang dan menyadari bahwa peluang bertahan mereka sudah habis, sekelompok perwira Belanda, yang tidak dapat mencapai markas di Palembang karena terputusnya kabel telepon, memutuskan untuk menyerah dan mulai menarik 200 prajuritnya menjauh dari P1. 

Saat parasut mereka mengembang tertiup angin, pasukan terjun payung Jepang dari Resimen Penyerangan ke-2 jatuh menuju zona pendaratan mereka di dekat kota Palembang di Sumatera, Februari 1942. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Sementara beberapa orang bersiap untuk membakar setumpuk drum bahan bakar penerbangan seberat masing-masing 44 galon dan yang lainnya membuat persiapan untuk menghancurkan pesawat yang tidak dapat digunakan, prajurit artileri Inggris mulai melepas senjata antipesawat mereka. Sayangnya, hanya tersedia satu kendaraan sehingga hanya dua senjata yang bisa dipindahkan. Setelah menyabotase senjata lainnya, sebagian besar awak mulai menyusuri jalan menuju Palembang, sementara dua awak memulai proses memindahkan sisa dua senjata antipesawat kaliber 3,7 inci. Meskipun demikian beberapa mobil berisi perwira dan prajurit berhasil melarikan diri dari P1 melalui jalan utama menuju selatan ke Palembang, tidak lama kemudian beberapa kendaraan lain ditembaki oleh Letnan Okumoto dan sekelompok kecil anak buahnya yang telah diterjunkan jauh di selatan dari lapangan terbang karena pintu pesawat mereka yang macet. Dengan jumlah pasukannya sekarang mencapai sekitar 20 orang, Okumoto menyergap di sekitar tikungan jalan sekitar empat mil di selatan lapangan terbang dan menunggu. Dalam waktu singkat sebuah truk beroda enam datang dan langsung diserang dengan granat tangan dan tembakan pistol, yang berhasil menjungkirbalikkan kendaraan dan membuatnya menjadi penghalang jalan. Kendaraan berikutnya yang turun di jalan dikemudikan oleh Johnny Johnson, dari RAF. Saat dia mengemudi di tikungan dan melihat truk yang terbalik, dia diserang oleh anak buah Okumoto. Meskipun Johnson berhasil keluar dari kendaraannya dan membalas tembakan dengan revolver dari parit pinggir jalan — dilaporkan mengenai setidaknya dua pasukan terjun payung — dia akhirnya kehabisan amunisi dan harus menyerah. Komandan Jepang kemudian mengambil revolver Johnson dan menembaknya di paha, mungkin untuk mencegahnya melarikan diri. Kemudian, ketika tampaknya pasukan terjun payung lain akan membunuhnya, terdengar kendaraan lain mendekat dari arah P1. Setelah berpencar ke parit pinggir jalan, tentara Jepang, dengan Johnson di belakangnya, melepaskan tembakan ketika kendaraan itu terlihat. Penuh dengan personel RAF, mobil itu terkena tembakan pistol dan diguncang granat tangan, dan juga terbalik, menambah penghalang jalan tambahan. Beberapa personel RAF tewas, tetapi setidaknya terdapat empat yang terluka dan ditangkap. Keempatnya dengan cepat ditembak dan dibunuh oleh pasukan payung Jepang. 

Setelah mendarat, pasukan payung Jepang bertempur dengan gigih meski hanya dengan bersenjatakan pistol dan granat. (Sumber: https://dutcheastindies.webs.com/)

Pada saat beberapa kendaraan berikutnya mencapai lokasi pemblokiran jalan, evakuasi dari P1 sedang berjalan. Meskipun satu kendaraan berhasil melewati penghalang jalan yang semakin besar, yang lainnya, termasuk truk bahan bakar, tidak. Dihantam dengan granat tangan, truk bahan bakar tergelincir di luar kendali dan terbalik. Meski truk tidak meledak, satu orang terjebak di bawahnya dan kendaraan besar itu menambah penghalang di tengah jalan. Orang-orang dari kendaraan lain melompat keluar dari truk dan mencari perlindungan di hutan atau di selokan di sepanjang jalan. Beberapa pengungsi dengan senjata mereka mulai menembaki kembali tentara Jepang. Sementara itu, tentara Belanda di Palembang berusaha mengirim bala bantuan menuju P1. Setelah mengumpulkan tiga truk berisi pasukan Belanda dan sebuah van milik RAF berisi makanan, Komandan Udara S.F. Vincent dan sopirnya melompat ke kendaraan mereka sendiri dan memimpin konvoi ke utara menuju P1. Setelah berjalan sekitar sembilan mil, mereka tiba di tikungan jalan dan menghadapi penghalang jalan musuh. Segera, mereka diserang. Meski mobil van berisi persediaan makanan itu berakhir di selokan, truk-truk lainnya buru-buru berbalik dan kabur kembali ke Palembang tanpa melepaskan tembakan. Komandan Vincent menulis, “Saya merasa jijik dan malu.” Menjelang siang, upaya lain dilakukan untuk memperkuat lapangan udara ketika dua mobil lapis baja dan empat truk pasukan yang membawa sekitar 150 tentara Belanda mendekati pembatas jalan dadakan dari Palembang. Pada saat ini, lebih banyak pasukan terjun payung Jepang yang telah keluar dari hutan untuk memperkuat Letnan Okumoto. Ketika konvoi Belanda mendekati truk bahan bakar yang terbalik, sementara tentara Jepang menyerang dengan granat, tembakan pistol, dan tembakan dari senapan yang mereka rampas. Dikejutkan oleh serangan mendadak, sebagian besar tentara KNIL meninggalkan kendaraan mereka dan melarikan diri kembali ke kota, kecuali salah satu awak mobil lapis baja dan satu truk tentara. Dalam baku tembak berikutnya, dua pasukan terjun payung Jepang tewas dan Letnan Okumoto terluka. Namun, tentara Jepang entah bagaimana berhasil mempertahankan penghalang jalan, memaksa sisa tentara Belanda untuk melarikan diri, dan merampas mobil lapis baja mereka.

Peta serbuan Jepang di Palembang 14-15 Februari 1942. (Sumber: https://www.quora.com/)

Tak lama setelah pukul 13:30, Mayor Komura, yang telah diterjunkan di tenggara, tiba di penghalang jalan dengan sekitar 25 orang dari Kompi Senapan ke-4. Komura memutuskan bahwa penghalang jalan harus dipertahankan untuk menghentikan bala bantuan yang datang ke utara dari Palembang serta menangkapi setiap pengungsi yang melarikan diri ke selatan dari P1. Memanfaatkan mobil lapis baja yang baru saja dirampas, Komura mengirim Letnan Ooki dan 20 orang ke utara di sepanjang jalan menuju P1 untuk merebut kantor lapangan udara Belanda, yang terletak sekitar satu mil di selatan lapangan udara, sementara dia memposisikan anak buahnya yang lain untuk mempertahankan penghalang jalan. Sesuai rencana, pesawat transport Kolonel Kume, yang membawa staff nya dan senjata antitank kaliber 37mm serta awaknya, telah mendarat dengan baik beberapa mil di tenggara P1 tak lama setelah pasukan terjun payung lainnya mendarat. Sayangnya, pesawat itu menerjunkannya di hutan yang basah. Terjebak lumpur, basah, digigit nyamuk, dan dipisahkan dari kebanyakan anak buahnya, Kume menghabiskan malam tanpa tidur untuk mencoba keluar dari rawa. Setelah maju hanya sekitar tiga mil menuju P1, Letnan Ooki dan kelompok mobil lapis baja bertemu dengan 300 tentara Belanda dan penerbang Inggris yang melarikan diri dari lapangan terbang. Evakuasi di P1 sekarang benar-benar sedang berlangsung. Melepaskan tembakan dengan mobil lapis baja dan senjata yang berhasil dirampas, pasukan terjun payung Jepang mengejutkan orang-orang yang melarikan diri dan mulai mendesak mereka kembali. Pada waktu yang hampir bersamaan, sekelompok pasukan terjun payung lainnya, beberapa dari kelompok tenggara dan beberapa dari kelompok barat, akhirnya berhasil mencapai lapangan terbang dan bergabung dalam penyerangan. 

Nakajima Ki-43 Hayabusa “Oscar” yang memberikan perlindungan bagi pesawat-pesawat angkut yang membawa pasukan payung Jepang ke Palembang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Di sisi barat, Letnan Gamo dari Kompi Senapan ke-2 berhasil mengumpulkan 16 orang dan mendesak ke arah timur menuju lapangan udara. Meskipun orang-orang itu hanya bersenjatakan pistol dan granat, mereka tidak segan-segan menyerang ketika akhirnya sampai di tepi lapangan terbang. Melihat posisi senjata antipesawat Inggris, Letnan Gamo melempar granat dan berlari ke depan. Dia terbunuh hampir seketika. Pasukan terjun payung lainnya, tanpa gentar, terus menekankan serangan itu, meskipun agak lebih hati-hati daripada pemimpin mereka. Komandan Kompi Senapan ke-2, Letnan Hirose, bersama dengan dua orang yang bisa dia temukan, akhirnya mencapai lapangan udara sekitar pukul 2 siang. Bergerak dengan hati-hati, Hirose dan anak buahnya perlahan-lahan menuju ke barak Belanda ketika mereka tiba-tiba melihat sekitar 300 tentara Belanda, mungkin orang yang sama yang diserang oleh Letnan Ooki dan kelompok mobil lapis baja nya. Sangat kalah jumlah, Hirose dengan bijak menarik kedua anak buahnya kembali dan diam-diam menyelinap ke hutan sekitarnya. Kembali ke penghalang jalan, suasana mulai memanas lagi. Pasukan Belanda dan personel RAF bersenjata dari Palembang telah melaju di dekat pemblokiran jalan sebelum memarkir truk mereka untuk menyerang musuh dengan berjalan kaki. Merayap melalui hutan sampai mereka dapat melihat pasukan Jepang, pasukan Sekutu mulai menembaki anak buah Mayor Komura dan Letnan Okumoto. Pada saat yang sama, sekelompok kecil mulai bekerja lebih dekat, berniat untuk membakar truk bahan bakar yang terbalik itu. Saat orang-orang itu mendekati truk, mereka diberitahu oleh beberapa tentara Sekutu yang terluka bahwa seorang personel RAF yang masih hidup masih terperangkap di bawah kendaraan. Sementara mereka membahas apa yang harus dilakukan, mortir Jepang mulai berjatuhan di sekitar mereka dan tembakan senapan mesin musuh mulai merobohkan pepohonan. Membuat keputusan yang tergesa-gesa, kelompok itu membatalkan rencana mereka dan melarikan diri ke rawa terdekat. Akhirnya, pasukan bersenjata Belanda dan RAF berada di atas rintangan jalan dan berhasil mengusir Mayor Komura dan yang lainnya. Sayangnya, mereka terlambat untuk menyelamatkan personel RAF yang terjebak di bawah truk bahan bakar. Pada saat kelompok penyelamat datang, dia sudah lama meninggal. 

Profil pasukan KNIL saat Invasi Jepang tahun 1942. (Sumber: https://in.pinterest.com/)

Sekarang sudah lewat jam 6 sore, dan 20 pasukan terjun payung Letnan Ooki dengan menggunakan mobil lapis baja yang dirampas berhasil mengusir 300 pasukan Belanda dan RAF yang bertahan serta merebut kantor lapangan udara. Meninggalkan beberapa orang di belakang untuk menjaga kantor, Ooki mengirim mobil lapis baja itu kembali ke penghalang jalan untuk memberi tahu Mayor Komura tentang keberhasilannya sementara dia membawa anak buahnya ke utara menuju lapangan terbang. Di penghadang jalan, Flying Officer Macnamara yang berhasil kabur dari P1 dan yang lainnya berseliweran saat tiba-tiba muncul mobil lapis baja rampasan itu. “Kami secara alami mengira bahwa tentara Belanda akhirnya berhasil meloloskan diri,” kenang Macnamara, “tetapi setelah banyak yang menampakkan diri dari pinggir jalan, mereka disambut dengan granat tangan.” Seketika menyadari bahwa mobil itu ada di tangan Jepang, tentara bersenjata Sekutu melepaskan tembakan, menyebabkan pengemudinya menabrak kendaraan lain yang menghalangi jalan. “Orang-orang Jepang,” Macnamara melanjutkan, “mengetahui bahwa permainan mereka telah berakhir… mencoba untuk membuat terobosan — tembakan dari senjata kecil — senapan dan revolver — menyambut keluarnya mereka dari turret.” Mungkin menyadari bahwa lapangan terbang mungkin telah berada di bawah kendali Jepang, sekelompok kecil penerbang Inggris bersenjata menuju ke P1 dan segera tiba di kantor lapangan udara yang telah direbut dengan menjumpai empat atau lima pasukan terjun payung Jepang yang telah ditinggalkan untuk menjaganya. Baku tembak yang berkepanjangan kemudian terjadi sampai sekitar 20 bala bantuan Belanda, satu diantaranya bersenjata Bren, tiba dan membantu untuk merebut tempat itu. Sementara itu, di lapangan terbang pasukan terjun payung terus berdatangan dari zona penerjunan yang tersebar dan melawan mereka yang masih bertahan. Menjelang sore, sebagian besar tentara Sekutu yang bertahan telah meninggalkan lapangan terbang atau tewas. Hanya sekitar 60 orang RAF bersenjata dan beberapa tentara Belanda yang tersisa. Meskipun mereka kehabisan amunisi, mereka bertahan dengan keras kepala. Awak darat RAF Leslie Baker mengenang, “[Para] awak darat RAF telah siap untuk mereka dan para pemuda RAF bertahan dengan gigih di pos mereka menembak tentara Jepang saat mereka mendarat. Kami melakukannya, RAF sendirian. [Kami] menyapu para penerjun payung Jepang tetapi sebelumnya kami telah membunuh beberapa orang…. [Itu] membuat bandar udara kami menjadi berantakan…. ” 

Dengan hanya bersenjatakan Pistol dan Granat Tangan, pasukan payung Jepang bertempur melawan pasukan sekutu di Palembang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Kendaraan penggerak mencoba menarik dua senjata antipesawat kaliber 3,7 inci ke tempat aman untuk mencapai jalan utama menuju Palembang sebelum diserang Jepang. “Sayangnya,” tulis sejarawan Angkatan Darat AS, “salah satu [senjata] ini harus ditinggalkan di jalan, karena tembakan senapan mesin ringan telah merusak ban kendaraan.” Faktanya, tidak ada senjata antipesawat yang berhasil keluar dari P1. Semua 12 senjata, kebanyakan dirusak oleh kru mereka, atau dirampas oleh pasukan terjun payung. Selama sedikit jeda dalam pertempuran, Komandan Wing H.J. Maguire dan Perwira Peleton O.D. Creegan mengira mereka mendengar pasukan di jalan menuju Palembang dan, mengira mereka sebagai bala bantuan Belanda, bergegas ke jalan untuk menyambut mereka. Sebaliknya, mereka bertemu 60 hingga 70 tentara Jepang yang berkumpul di jalan raya. Mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengalahkan musuhnya sendirian, Maguire dan Creegan memutuskan untuk mencari jalan keluar. Kedua perwira itu meletakkan senjatanya dan kemudian berjalan ke arah seorang tentara Jepang terdekat. “Dia tampak sangat terkejut tetapi tidak melakukan apa-apa,” kenang Maguire. “Jadi, dengan gaya seyakin mungkin, saya meminta untuk bertemu dengan perwiranya dan, yang membuat saya takjub, dia pergi dan mencari seorang perwira. Perwira ini memiliki beberapa kemampuan berbahasa Inggris, dan saya segera menuntut penyerahannya, dengan mengatakan bahwa saya memiliki kekuatan besar di belakang saya. Dia menjawab bahwa dia memiliki kekuatan besar dan bahwa dia berjanji akan menjamin keamanan kami jika kami keluar menyerah. ” Melanjutkan gertakan mereka, Maguire dan Creegan mengatakan bahwa mereka harus mendiskusikan kemungkinan penyerahan komando Sekutu dengan “perwira senior yang nyatanya tidak ada” dan kemudian, berbalik, berjalan mengambil kembali senjata mereka, dan berjalan dengan tenang kembali ke lapangan terbang. Ketika kedua perwira itu tiba di P1, mereka menemukan bahwa segelintir orang yang tersisa telah memanfaatkan jeda dalam pertempuran untuk membakar tempat penimbunan bahan bakar (dalam drum-drum berukuran 44 galon) dan membakar sisa-sisa beberapa pesawat yang tidak dapat digunakan. Kemudian, dengan menggunakan sedikit truk yang tersisa, 60 atau lebih prajurit yang gigih telah mundur dengan tergesa-gesa ke utara, mengambil jalan menuju ke Djambi. Maguire dan Creegan segera menyusul.

Pilot Belanda di Sumatra bersiap untuk melakukan operasi penerbangan melawan Jepang pada awal 1942. Sebagian besar oposisi udara sekutu berhasil dihilangkan pada masa awal kampanye Jepang untuk merebut pulau itu. Pada saat pasukan payung Jepang menyerbu, awak udara sekutu memberikan perlawanan singkat sebelum bergerak mundur ke Pulau Jawa. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Pada pukul 5 sore, P1 benar-benar sudah bebas dari personel Sekutu. Ketika Letnan Hirose dan ketiga anak buahnya akhirnya keluar dari persembunyian di sisi barat lapangan terbang dan mendekati barak yang sama dengan yang mereka dekati sebelumnya, mereka menemukan barak itu benar-benar kosong. Melihat sekeliling, mereka menemukan ransum yang dimasak masih di atas kompor, suatu kebetulan yang menguntungkan karena mereka tidak dapat menemukan kontainer mereka dan hanya membawa wafer nasi dan ikan kering yang dikompres bersama mereka. Satu jam kemudian, Mayor Komura, yang telah mengumpulkan sekelompok kecil pasukan terjun payung menjadi kelompok yang lebih besar sepanjang hari, akhirnya tiba di lapangan terbang. Semuanya tenang. Semua tentara Sekutu telah melarikan diri atau terbunuh. Pada saat kegelapan turun, P1 sudah berada di tangan 100 pasukan terjun payung dari Resimen Penyerangan ke-2. Pukul 11:30 tanggal 14 Februari 1942, enam menit setelah pasukan terjun payung mulai terjun di P1, enam pesawat angkut Thelma mulai menerjunkan Letnan Nakao dan 60 orangnya dari Peleton 1 dan 2, Kompi Senapan Pertama di sisi barat Sungai Komering dekat dengan fasilitas BPM Minyak Shell. Pada waktu yang hampir bersamaan, Thelma yang ketiga membawa Letnan Hasebe dan 39 pasukan terjun payung dari Peleton 3, Kompi Senapan Pertama mulai menerjunkan pasukannya di sisi timur Komering, sebelah selatan fasilitas Standard Oil NKPM. Meskipun senjata Bofors dan senjata antipesawat kaliber 3,7 inci di kilang minyak menembaki pesawat, semua pesawat transport lolos tanpa cedera. Satu dari sembilan pembom Mitsubishi G4M “Betty” yang membawa kontainer ditembak hancur dari langit. 

Mitsubishi G4M “Betty”, selain digunakan sebagai bomber, juga dapat dipakai sebagai pesawat angkut. (Sumber: https://www.pinterest.pt/)

Berbeda dengan pasukan terjun payung di P1 yang mendarat di antara pepohonan hutan atau rumput alang-alang tinggi yang menyulitkan untuk menemukan kontainer mereka, anak buah Letnan Nakao mendarat di tanah berawa yang dangkal dan menemukan senjata serta perbekalan mereka dengan hanya menjumpai sedikit kesulitan. Bergerak cepat menuju bagian terdekat dari kilang BPM dekat persimpangan Sungai Moesi dan Komering, satu kelompok yang terdiri dari enam orang yang dipimpin oleh komandan peleton Letnan Tokunaga berhasil menyerbu bunker pertahanan di sudut barat daya fasilitas tersebut. Maju ke depan, ketujuh pria itu masuk ke daerah pemukiman kilang sebelum bertemu dengan sekitar 60 tentara Belanda yang bersenjatakan senapan mesin. Tokunaga dan anak buahnya segera mencari perlindungan dan melepaskan tembakan. Sementara Letnan Tokunaga mendesak ke kilang, Letnan Ogawa dan Yosioka sedang mengumpulkan kelompok-kelompok pasukannya yang tersebar. Setelah cukup banyak orang bersamanya, pasukan terjun payung mengikuti Letnan Tokunaga dan menyusulnya selama baku tembak di daerah pemukiman. Sementara Tokunaga membuat Belanda tetap sibuk, Ogawa dan Yosioka membawa sekitar selusin orang dan naik ke puncak menara, mengibarkan bendera Matahari Terbit antara pukul 1:10 dan 13:50, sekitar dua jam setelah mendarat. Di bawah, Letnan Tokunaga dan pasukan terjun payung, yang telah bergabung dengan Letnan Nakao, komandan Kompi Senapan Pertama, melihat bendera Jepang dikibarkan dan mulai bergerak menuju menara tersebut. Saat mereka bergerak maju, mereka buru-buru menutup katup, memutar engkol, dan melepaskan bahan peledak yang dipasang oleh tentara Belanda ketika mereka pertama kali melihat pasukan terjun payung itu turun. 

Pasukan terjun payung Angkatan Darat Kekaisaran Jepang membuka kontainer kargo mereka untuk mengeluarkan senapan mesin ringan, senapan, dan peluncur granat selama pertempuran di Palembang, 14 Februari 1942. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Pada saat tentara Jepang mengibarkan bendera di atas puncak menara, tentara Belanda dan Inggris telah mengumpulkan cukup banyak orang untuk melancarkan serangan balik. Pasukan terjun payung Jepang, yang menggunakan tempat perlindungan serangan udara di area kilang minyak sebagai bunker pertahanan melakukan perlawanan keras. Pertempuran berkecamuk di seluruh kompleks dengan para kombatan terkadang hanya berjarak 50 yard satu dengan yang lainnya. Pipa bahan bakar tertembus peluru, dan minyak mentah yang tebal, hitam, tumpah. Ketika mortir Sekutu mengenai beberapa tumpahan minyak, seluruh area terbakar, mengirimkan asap hitam mengepul ke langit sore itu. Bertekad untuk mempertahankan area penting yang diperoleh dengan susah payah saat matahari mulai terbenam, Komandan Nakao memerintahkan Letnan Tokunaga untuk mengambil peletonnya dan menyerang ke utara melintasi kilang, mungkin berharap mendapatkan pijakan di bagian terpisah dari kilang BPM di sepanjang Moesi Sungai. Meskipun mereka melakukan pertarungan yang bersemangat, Tokunaga kehilangan banyak orang dan hanya berhasil maju dalam jarak pendek. Ketika malam akhirnya tiba dan nyala api oranye terang dari kebakaran minyak yang membara membuat bayangan menakutkan daerah itu, tentara Belanda dan Inggris telah merebut kembali sebagian besar kilang BPM. Namun demikian, beberapa personel Peleton ke-1 dan 2 dari Kompi Senapan Pertama dan Resimen Penyerang ke-2 masih hidup. Dengan pasukan terjun payung yang memegang bagian vital dari kompleks, tim penghancur Sekutu menemukan bahwa mereka tidak dapat menghancurkan secara permanen daerah yang mereka inginkan. Tidak dapat menghancurkan fasilitas tersebut, tentara Belanda dan Inggris diam-diam menyelinap pergi dalam kegelapan. 

Pasukan Jepang menyaksikan instalasi minyak yang terbakar di Palembang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Sementara itu, Peleton ke-3 Kompi Senapan ke-1 yang dipimpin oleh Letnan Hasebe telah mendarat di rawa yang dalam di sisi timur Sungai Komering, sebelah selatan fasilitas Standard Oil NKPM. Dua orang, hanya membawa pistol dan beberapa granat tangan, mendarat di depan posisi senjata Belanda. Melucuti tali pengaman parasut dan baju luar mereka, kedua tentara itu menyerang, menewaskan delapan prajurit Belanda yang terkejut. Melanjutkan gerakan, mereka memanjat keluar dari rawa dan menuju jalan yang lurus menuju kilang. Namun, ketika mereka mendekat, para prajurit yang bertahan melepaskan tembakan, melukai salah satu dari mereka. Dibantu oleh rekannya, kedua penyerang mundur ke jalan menunggu sisa dari Peleton ke-3. Sementara itu, Letnan Hasebe telah berhasil mendapatkan sebuah perahu dari penduduk asli dan dapat bergerak dengan cepat, mengumpulkan peletonnya dan kontainer kargo mereka. Ketika mereka sampai di jalan yang melewati rawa menuju kilang minyak, Hasebe dengan cepat menduga bahwa jalan itu akan menjadi zona pembunuhan. Tidak dapat bergerak dengan sukses melalui rawa, Hasebe tidak punya pilihan lain selain mencoba untuk bergegas maju di sepanjang jalan yang berbahaya itu. Berbondong-bondong keluar dari rawa, Hasebe dan anak buahnya bergegas menuju gerbang depan kilang minyak dan berada dalam jarak 100 yard sebelum Hasebe dan beberapa lainnya terbunuh oleh tembakan musuh. Tanpa pemimpin mereka, serangan pasukan Jepang terhenti. Mengambil alih pimpinan, Sersan Tanba membatalkan serangan frontal dan memimpin orang-orang yang masih hidup kembali ke rawa, berharap untuk bergerak maju lagi di bawah naungan kegelapan. Pukul 11 malam, saat kegelapan akhirnya turun dan satu-satunya cahaya datang dari nyala api kilang BPM yang terbakar di seberang Sungai Komering, Tanba dan pasukan payung lainnya merayap ke depan. Tanpa diduga, mereka menemukan fasilitas itu benar-benar telah kosong. Pasukan yang mempertahankan NKPM telah menyelinap di bawah kegelapan. 

Pasukan Jepang tambahan mendarat melalui laut selama invasi Sumatera pada Februari 1942. Dalam foto ini tentara Jepang mendekati pantai Sumatera sementara ladang minyak di Palembang terbakar dari kejauhan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Sepanjang malam, pasukan terjun payung di P1 dan dua kilang minyak mengkonsolidasikan objek-objek yang bisa mereka kuasai sambil menunggu bala bantuan. Dini hari tanggal 15 Februari 1942, pasukan Jepang dari Resimen Infantri ke-229 Divisi Infanteri ke-38 mulai turun dari kapal pengangkut yang telah bergerak di delta Sungai Moesi. Pesawat pengawal yang terbang di atas kapal telah berulang kali melawan serangan oleh pesawat Belanda dan Inggris. Saat pasukan yang memenuhi di atas tongkang pendaratan menunggu untuk mendarat, gugus tugas yang melindungi mereka bergerak kembali ke laut untuk melawan gugus tugas Sekutu yang berkumpul di laut lepas. Saat tongkang dan beberapa kapal pendukung bergerak ke selatan menyusuri Sungai Moesi menuju Palembang, pesawat-pesawat RAF dan RAAF keluar untuk menemui mereka. Sepanjang hari, kedua angkatan udara melakukan serangan berulang-ulang terhadap kapal tongkang, meskipun pesawat Jepang selalu ada untuk mencoba mencegat mereka. Sebuah perkiraan menyatakan sekitar 20 kapal tongkang tenggelam, tapi jumlahnya itu dianggap terlalu banyak. Akhirnya para pilot RAF dan RAAF diperintahkan untuk meninggalkan Sumatera dan pergi ke Pulau Jawa. Sementara itu di Palembang dilakukan evakuasi sepanjang malam. Meskipun penghalang jalan Jepang di dekat P1 akhirnya berhasil diatasi, Jepang masih menguasai lapangan terbang dan memiliki penembak-penembak jitu dan pos terdepan di sepanjang jalan yang mendekat. Tidak terlalu jauh dari Palembang, di jalan menuju lapangan terbang, Belanda telah membuat penghalang jalan mereka sendiri, bermaksud untuk menghentikan pasukan terjun payung Jepang agar tidak melesat ke kota secara tiba-tiba. Sepanjang malam dan sepanjang hari berikutnya, baik personel militer maupun sipil mengevakuasi Palembang, membakar barang-barang yang tidak bisa mereka bawa dan kemudian diangkut melintasi sungai Moesi ke stasiun kereta api dan jalan yang aman di sisi selatan sungai. Saat fajar menyingsing, saat para pengungsi melihat ke belakang, mereka bisa melihat asap hitam tebal menggantung di atas kota, bukti nyata dari gedung-gedung yang terbakar dan Kilang Minyak BPM. 

Perwira Jepang dari Resimen Penyerbuan ke-2 dan Resimen Infantri ke-229 saling menyapa di gerbang kilang minyak NKPM pada tahap terakhir penaklukan Sumatera. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Di dua kilang, pasukan terjun payung Jepang yang tersisa mendengarkan kabar evakuasi di Palembang sepanjang malam. Kemudian, menjelang pukul 6 pagi, bom penghancur Belanda yang tertunda meledak di kilang NKPM. Tidak dapat mencegah ledakan lebih lanjut dan penyebaran api yang diakibatkannya, Sersan Tanba dan segelintir Peleton 3, pasukan terjun payung 1 Kompi Senapan sekarang tahu mengapa fasilitas itu telah sepenuhnya ditinggalkan. Ujung-ujungnya, sekitar 80 persen fasilitas Standard Oil NKPM hancur. Di P1 semua relatif tenang sepanjang pagi hari tanggal 15 Februari. Kemudian, pada pukul 10:30 sebuah pesawat pengintai Jepang dari Lapangan Udara Keluang di Malaya tiba-tiba menukik turun dan mendarat di landasan beton. Dengan segera, Mayor Komura memberi tahu pilot bahwa meskipun lapangan udara berada di tangan Jepang, sebagian besar kontainer kargo telah hilang selama penerjunan udara dan anak buahnya bertempur dengan pistol atau senjata yang berhasil dirampas, mereka kekurangan amunisi. Pilot pemberani itu kemudian terbang langsung kembali ke Keluang. Laporannya merupakan berita pertama yang didapat komando tertinggi Jepang bahwa penerjunan tempur di P1 telah berhasil, karena semua radio Resimen Penyerang ke-2 telah hilang bersama kontainer kargo mereka. Dalam beberapa menit, senjata dan amunisi tambahan dikirimkan untuk memperkuat pasukan payung yang dijadwalkan dilaksanakan pada pukul 1 siang. Menjelang tengah hari, Kolonel Kume yang digigit nyamuk dan beberapa anggota stafnya akhirnya berhasil keluar dari hutan yang basah dan menuju P1. Tidak diragukan lagi, dia senang melihat kemajuan yang telah dicapai pasukannya selama dia tidak ada. Satu jam kemudian dan sesuai jadwal, pesawat-pesawat dari Grup Penyerang ke-2, pasukan terjun payung bantuan, tiba di atas lapangan terbang Palembang. Saat pesawat-pesawat tempur Oscar dari Sentai ke-59 dan ke-64 menerbangkan patroli tempur di atas, pesawat-pesawat Thelma dari Chutai Transportasi ke-12 mulai menjatuhkan 90 orang dari Kompi Senapan Ketiga pimpinan Letnan Morisawa langsung ke lapangan udara yang telah direbut itu. Di belakangnya, kru Sentai ke-98 mulai menurunkan puluhan kontainer kargo dari pembom-pembom Betty mereka. 

Tentara Hindia Belanda dengan bendera Jepang, yang dirampas di dekat Palembang. Foto diambil di Batavia, Pulau Jawa. Tidak lama kemudian pulau Jawa pun dikuasai oleh Jepang. (Sumber: https://alchetron.com/)

Ketika penerjunan udara kedua selesai dan senjata serta amunisi yang berharga telah dibagikan, Kolonel Kume mengirimkan satu peleton di bawah pimpinan Letnan Adachi menuju Palembang. Bergerak dengan hati-hati, pasukan terjun payung mengikuti jalan utama melewati penghalang jalan mereka sendiri dan penghalang jalan Belanda yang telah ditinggalkan dengan tergesa-gesa. Sesampainya di ibu kota sekitar pukul 17.30, mereka menemukan kota itu tidak dipertahankan dan sebagian kota Palembang terbakar. Bergerak ke sungai untuk melihat apakah tongkang Resimen Infantri ke-229 sudah terlihat, orang-orang itu kebetulan melihat dua kapal patroli Belanda, P-38 dan P-40. Mereka dengan cepat melumpuhkan salah satu perahu, tetapi yang lainnya berhasil melarikan diri ke hulu. Setelah mengetahui bahwa Palembang tidak dijaga, Letnan Adachi mengirimkan informasi tersebut kembali kepada Kolonel Kume, yang memerintahkan Letnan Morisawa untuk membawa Kompi Senapan ke-3 yang baru diterjunkan ke Palembang untuk mengamankan kota. Menjelang sore, Letnan Morisawa melakukan kontak dengan tentara yang mempertahankan dua kilang minyak. Sore itu, 15 Februari, dalam keadaan gelap gulita, tongkang pendarat yang membawa Resimen Infantri 229 akhirnya sampai di Palembang. Menunggu di sana untuk menyambut mereka adalah pasukan terjun payung dari Resimen Penyerang ke-2. Lima hari kemudian, pasukan terjun payung dengan bangga menyerahkan kendali ibu kota Sumatera kepada Divisi Infanteri ke-38.

CATATAN-CATATAN

Setelah semua diselesaikan, Resimen Penyerang ke-2 meninjau aksi mereka selams beberapa hari terakhir. Pasukan terjun payung mengklaim bahwa mereka telah membunuh 1.080 tentara Belanda dan RAF dan menangkap total 23 senjata antipesawat, beberapa mobil lapis baja, dan banyak truk. Tentu saja, angka-angka ini terlalu dibesar-besarkan. Di sisi lain, Jepang mengakui bahwa selama penerjunan tempur awal, satu pembom medium mereka ditembak jatuh baik oleh tembakan antipesawat atau oleh Pilot Officer Lockwood sementara dua pesawat angkut jatuh karena mendarat darurat, salah satunya disengaja. Dari 339 pasukan terjun payung yang diterjunkan, 29 tewas (dua tewas karena malfungsi parasut), 37 luka berat, dan 11 luka ringan, kerugian yang diderita sekitar 23 persen, cukup tinggi untuk pasukan sekecil itu. Sementara itu Serangan Resimen Penyerang ke-2 di P1 dan dua kilang minyak telah dianggap sukses dan gagal oleh sejarawan. Pada Oktober 1942, dokumen intelijen singkat diterbitkan oleh Angkatan Darat AS yang menyebut serangan itu gagal. Laporan tersebut menyatakan bahwa Jepang ”menggelar sekitar 70 pesawat angkut”, suatu pernyataan yang berlebihan. Laporan tersebut melanjutkan, “Sebanyak sekitar 300 pasukan payung menyerang di lapangan udara, dan sekitar 400 berusaha untuk merebut kilang. Hampir semua penerjun tewas atau ditangkap, kecuali kelompok yang berhasil menguasai salah satu kilang dan mencegahnya dihancurkan. Kilang lainnya dihancurkan oleh Belanda. Secara keseluruhan, serangan itu gagal. ” Dua laporan Angkatan Darat lainnya, satu diterbitkan pada tahun 1942 dan satu lagi pada tahun 1945, terus meningkatkan jumlah jumlah penyerang Jepang dan mengulangi bahwa serangan itu gagal mencapai tujuannya untuk merebut kilang minyak secara utuh. Namun, seiring berjalannya waktu, sejarawan mulai mempelajari serangan itu dan mengoreksi sebagian besar ketidakakuratannya. Dalam waktu singkat, setelah Palembang dikuasai, kapal tanker Jepang membawa minyak sulingan penting kembali ke Jepang. Terlepas dari keberhasilan mereka, pasukan terjun payung tidak diterjunkan dalam pertempuran lebih lanjut di Sumatera. Divisi Infanteri ke-38, dengan bantuan pembom dan pesawat tempur Jepang yang terbang dari P1, terus bergerak melintasi Sumatera bagian selatan dan pada 24 Februari, mereka telah berhasil mengamankan sebagian besar pulau itu. Pada awal Maret, sebagian besar pasukan pertahanan Belanda yang tersisa telah melarikan diri ke bagian barat laut pulau dan melakukan perang gerilya. Pada tanggal 28 Maret 1942, sekitar 2.000 tentara Belanda menyerah kepada pasukan Divisi Infanteri ke-38. Pulau Sumatera dengan aman kini telah berada di tangan Jepang.

Beberapa pihak menilai Jepang tidak sukses dalam menggelar pasukan payungnya di Palembang, namun apapun itu, mereka berhasil merebut Palembang pada akhirnya. (Sumber: https://www.quora.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Deadly Dash Forward By Gene Eric Salecker


The Battle for Palembang, February 1942

https://dutcheastindies.webs.com/palembang.html

Dutch East Indies Campaign, Sumatra 13 Feb 1942 – 28 Mar 1942 By C. Peter Chen

https://ww2db.com/battle_spec.php?battle_id=213

The Japanese Invasion of Sumatra Island

https://web.archive.org/web/20121203032143/http://www.dutcheastindies.webs.com/fall_sumatra.html

The Japanese paratroopers in the Dutch East Indies, 1941-1942 by Graham Donaldson https://dutcheastindies.webs.com/japan_paratroop.html

JAPANESE AIRBORNE FORCES

https://www.paradata.org.uk/article/japanese-airborne-forces

Hurricane Over the Jungle: 120 Days Fighting the Japanese Onslaught in 1942 Book by Terence Kelly; p 85; 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *