15 April 1986: Buntut serangan Amerika, Libya menyerang pulau milik Italia dengan rudal Scud

Rakyat Libya sangat terkejut oleh serangan udara AS (dengan kode Eldorado Canyon) di Tripoli dan Benghazi. Duta Besar Bulgaria Philip Ichpekov mengunjungi Gaddafi tak lama setelah penyerangan dan menemukan seorang pria yang kecewa, mengeluh dengan pahit bahwa ia tidak bisa mempercayai siapa pun. Dubes Bulgaria menjawab bahwa negaranya selalu mendukung dan bahwa semua personel Bulgaria telah dimobilisasi untuk merawat mereka yang terluka. Tentu saja, secara resmi Tripoli bertindak seolah-olah tidak terkesan sama sekali, menyatakan kemenangan dan telah menembak jatuh tiga pesawat AS, termasuk F-111F, puing-puingnya yang konon ditemukan dan akan diberikan ke Uni Soviet. Sebenarnya, Libya menjadi sangat gugup waktu itu sehingga pertahanan udara mereka berulang kali melepaskan tembakan ke udara selama beberapa malam, meskipun tidak ada pesawat AS yang beroperasi di sekitar Tripoli atau Benghazi pada saat itu.

Tripoli pagi hari 15 Oktober 1986, setelah pemboman Amerika di malam sebelumnya
Serangan Amerika membuat Gaddafi shock sekaligus meluapkan kemarahannya kepada Italia yang dianggap berkomplot dengan Amerika.

Sebagaimana dijelaskan oleh Tom Cooper, Albert Grandolini dan Arnaud Delalande dalam buku mereka Libya Air Wars Part 3: 1986-1989, setelah memulihkan ketenangannya, orang kuat Libya itu dengan cepat memerintahkan pembalasan. Sekitar pukul 17.00 pada tanggal 15 April 1986 dua rudal permukaan-ke-permukaan SS-1c Scud-B ditembakkan ke pulau Lampedusa di Italia – tempat Penjaga Pantai AS menjalankan stasiun navigasi LORAN-C. Kedua rudal itu meleset dari target mereka, jatuh di laut sekitar 2 km barat laut dan barat daya Cap Ponente. Tetapi ledakannya terdengar di seluruh pulau dan mengejutkan penduduk setempat. Libya menuduh bahwa fasilitas navigasi di Lampedusa turut membantu mengarahkan pemboman pada operasi Eldorado Canyon.

Sore Hari 15 April 1986, Libya menembakkan 2 rudal SS-1 Scud ke Pulau Lampedusa, Italia.
Pulau Lampedusa yang terletak di antara Libya dan Italia.

Ironisnya, sekitar satu jam setelah serangan ini, Washington memperingatkan Roma – dan langsung mengumumkan penarikan semua personel AS dari Lampedusa, “untuk alasan keamanan”. Kepergian orang Amerika pada gilirannya menyebabkan kepanikan kolektif di antara penduduk setempat: di tengah desas-desus liar tentang peledakan tambahan, pesawat terbang rendah dan dugaan kapal perang Libya mendekat, beberapa orang lebih suka meninggalkan rumah mereka dan mencari keamanan di salah satu dari banyak bunker yang peninggalan Perang Dunia atau di gua-gua. PM Bettino Craxi sangat marah tentang apa yang dianggapnya sebagai “pengkhianatan Gaddafi”. Untuk diketahui, pada masa itu, Italia sebenarnya sering berseberangan pendapat dengan Amerika, musuh besar Libya dalam hal menangani isu terorisme. Serangan Scud di Lampedusa menyebabkan kemarahan publik di Italia yang menganggap hal ini adalah akibat kesalahan pemerintah dalam menangani masalah Libya. Disamping itu, 4.700 warga di Lampedusa juga turut meminta agar personel Amerika segera menarik diri dari Lampedusa sebelum berakhirnya perjanjian ijin penggunaan pangkalan disana berakhir pada tahun 1988. Di bawah perjanjian yang mengatur pendirian stasiun Loran di Lampedusa tahun 1972 – setelah Amerika Serikat dipaksa untuk memindahkan fasilitas serupa dari pulau Malta – Amerika Serikat akan menggunakan pangkalan itu setidaknta sampai tahun 1988, ketika perjanjian tersebut akan dinegosiasikan ulang.

PM Italia Bettino Craxi. Penembakan Scud oleh Libya membuat berang Craxi, yang uniknya selama ini banyak berseberangan pendapat dengan Amerika, musuh Libya.
Pangkalan Amerika di Lampedusa yang menjadi target Libya.

Pagi berikutnya, Perdana Menteri Italia memanggil Kepala Staf, Jenderal Riccardo Bisognero, dan Panglima Angkatan Udara Italia (Aeronautica Militare Italiana, AMI), Jenderal Basillio Cottone, dan memerintahkan mereka untuk menempatkan status militer waspada sekaligus merancang rencana pembalasan terhadap Libya – termasuk serangan udara terhadap target terpilih di Tripoli dan Benghazi! AMI langsung membatalkan semua cuti, memanggil kembali semua personil dan mulai mempersenjatai dan mengisi bahan bakar semua pesawat operasional, mempersiapkan mereka untuk tinggal landas dengan pemberitahuan singkat. Beberapa unit juga disiapkan untuk ditempatkan di pangkalan udara di Sisilia. Menariknya, sementara AMI dilaporkan memiliki kekuatan total 40 F-104G dan 126 F-104S Starfighters (dengan 54 pembom tempur F-104S-CB dan 72 pencegat F-104S-CIO), 54 Fiat G.91R dan 36 Fiat G.91Y yang sepenuhnya siap bertugas, namun para komandannya lebih memilih Tornado yang masih baru dari CLIV Gruppo / 6th Stormo dan CLVI Gruppo / 36th Stormo untuk melakukan serangan terhadap Libya. Awak mereka menghabiskan dua minggu berikutnya menjalankan latihan intensif di Gioia del Colle dan Trapani Air Basis, sementara militer mulai merencanakan serangan gabungan udara dan amfibi untuk menghancurkan Angkatan Laut Libya dan sejumlah target lainnya di sepanjang pantai.

Angkatan Udara Italia segera menyiapkan pesawat-pesawat tempur F-104 Starfighter jika sewaktu-waktu tindakan militer dilancarkan terhadap Libya.

Pada 16 April, AMI meluncurkan Operasi Girasole, dalam rangka meningkatkan pertahanannya di Lampedusa dan Sisilia secara signifikan. Sebagai salah satu langkah pertama, 12 F-104S tambahan dari XXI Gruppo dari 53th Stormo dipindahtugaskan dari Trapani ke NAS Sigonella, memperkuat 18 F-104S dari XVIII Gruppo yang sudah dikerahkan di sana. Semua Starfighters dipersenjatai dengan rudal Sidewinders AIM-9L yang baru diterima. Meskipun sebenarnya sebelumnya rudal ini sudah tersedia dalam inventori AMI, namun untuk alasan yang tidak diketahui senjata seperti itu tidak pernah dipasang pada pesawat interceptor Italia sebelumnya. Ditengah kesibukan yang disebabkan oleh serangan Scud di Lampedusa, tugas ini diselesaikan hanya dalam satu minggu. Bahkan kemudian, pada awal Operasi Girasole, pilot yang terbang dengan Starfighter yang bersenjata AIM-9L tidak memiliki panduan yang diperlukan dan tanpa pelatihan yang memungkinkan mereka untuk menggunakan senjata baru tersebut. Butuh berminggu-minggu untuk memperbaiki semua masalah terkait dan mengembangkan taktik yang tepat.

Rudal AIM-9L Sidewinder yang baru dimiliki Italia turut dilibatkan dalam latihan militer untuk membalas serangan Libya.

Selain Starfighter, Skuadron Radar Jarak Jauh ke-134 mengirimkan radar AN / AFPS-8 ke Lampedusa, tempat stasiun SIGINT baru – Pusat Operatif untuk Penelitian Elektronik (Centro Operativo Ricerca Elettronica) – dibangun. Pertahanan Sisilia juga diperkuat. Dua stasiun radar baru yang dioperasikan oleh AMI didirikan di dekat Crotone dan Marsala, memungkinkan pembentukan sistem pertahanan udara termasuk sekitar 10.000 tentara dari ketiga cabang militer Italia, yang meliputi wilayah udara Sisilia dan Lampedusa. Pertahanan udara diperkuat melalui penyebaran dua situs SPADA SAM (satu di Sigonella dan lainnya di Comiso, di mana ia melindungi unit AS yang dilengkapi dengan rudal jelajah BGM-109G yang bisa dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir) dan situs MIM-23B I-HAWK SAM dari Tentara Italia (dikerahkan di Sigonella). Selanjutnya, sebuah detasemen yang terdiri dari beberapa Tornado dan setidaknya tiga pesawat latih Aermacchi MB.339A dari Lecce Air Academy dikerahkan ke garis depan ke lapangan terbang kecil di pulau Pantelleria, dan disiapkan untuk operasi tempur.

Rudal SAM HAWK turut dikerahkan Italia di Pulau Sigonella.
Pesawat latih Aermacchi MB.339A dari Lecce Air Academy dikerahkan ke garis depan ke lapangan terbang kecil di pulau Pantelleria.

Pesawat pengangkutan militer Lockheed C-130H Hercules dan Aeritalia G.222 juga mulai mengerahkan pasukan payung dari Batalion 5 Airborne ‘Folgore’, Batalyon 1 Airborne `Tuscania ‘dan kompi Carabinieri ke Lampedusa pada tanggal 16 April. Penumpukan kekuatan ini dilanjutkan hingga musim semi dan musim panas dengan bantuan pesawat sipil, kapal amfibi Angkatan Laut Italia dan bahkan kapal dagang yang dibeli kembali yang dikawal oleh enam kapal perang. AMI Starfighter menerbangkan 68 sorti dalam operasi ini, untuk perlindungan pesawat Atlantic MPA yang berpatroli di area tersebut dan untuk penerbangan transportasi sipil. Mereka juga melakukan 70 penerbangan lainnya, 450 jam operasi pertahanan udara dan 108 jam operasi pengintaian.

Pesawat angkut Aeritalia G.222 mengerahkan pasukan payung dari Batalion 5 Airborne ‘Folgore’, Batalyon 1 Airborne `Tuscania ‘dan kompi Carabinieri ke Lampedusa pada tanggal 16 April.

Sebagai salah satu bagian terakhir dari persiapan untuk pembalasan Italia terhadap Libya, sebuah pesawat tempur pengintai AMI, RF-104G dipersiapkan membuat penerbangan kecepatan tinggi di atas Tripoli, untuk mengumpulkan data intelijen terkini, pada tanggal yang tidak diketahui. Apakah misi semacam itu benar-benar dilaksanakan atau tidak, Libya tampaknya tidak mendeteksi adanya operasi semacam ini. Satu-satunya reaksi mereka yang terkait dengan Italia setelah serangan Scud di Lampedusa adalah intelijen Libya mengumpulkan semua warga Italia yang bekerja di negara itu, membawa mereka ke Tripoli dan menginterogasi mereka selama sekitar sepuluh hari. Orang-orang Libya sangat penasaran untuk mencari tahu siapa yang memberi tahu pada pihak Italia tentang serangan AS, yang mereka untuk mengevakuasi Benina AB. Akhirnya, semua personel Italia dipulangkan atas perintah pribadi Khadafi.

Sebuah pesawat tempur pengintai AMI, RF-104G dipersiapkan membuat penerbangan kecepatan tinggi di atas Tripoli, untuk mengumpulkan data intelijen.

Persiapan militer Italia dikatakan telah berlanjut sampai pembatalan serangan yang sebenarnya, hanya beberapa menit sebelum serangan itu akan dimulai, pada tanggal yang tidak diketahui. Sepertinya, alasan utama dari pembatalan itu adalah karena adanya keluhan dari komandan AMI bahwa pesawat mereka akan menderita kerugian besar karena kurangnya peralatan ECM yang memadai, serta adanya kemungkinan kerusakan luas atas serangan tersebut. Namun, tampaknya alasan sebenarnya pembatalan serangan ini adalah karena keraguan yang diungkapkan oleh Jenderal Cottone tentang sifat serangan Scud Libya, yang kemudian membuat Craxi percaya bahwa ia telah dibohongi oleh Amerika untuk terlibat dalam perseteruan mereka dengan Gaddafi. Cottone mengamati bahwa dari data intelijen satelit yang dikumpulkan dari tempat peluncuran Scud Libya tidak menunjukkan apa-apa dan wakilnya, Jenderal Mario Arpino – yang hadir di markas besar Angkatan Udara Sekutu Taktis (ATAF) NATO ke-5 di Vicenza – melaporkan tidak ada peringatan tentang serangan Scud yang datang. Akhirnya, kapal perang Angkatan Laut Italia yang dikerahkan di sekitar Lampedusa tidak menemukan jejak rudal apa pun.

Untuk melakukan serangan udara ke Libya, AU Italia lebih memilih untuk menggunakan pesawat serang Tornado baru mereka. Serangan akhirnya dibatalkan karena AU Italia khawatir akan collateral damage dan pertahanan udara Libya yang bisa menimbulkan banyak kerugian.

Fakta bahwa duta besar Libya untuk Roma kemudian membuat pernyataan ambigu tentang negaranya menembakkan dua Scud, “terhadap pasukan Amerika saja, bukan terhadap orang-orang Italia”, tampaknya dianggap tidak relevan. Namun demikian, semua pelatihan dan perencanaan angkatan bersenjata Italia selama periode April-Juli tidak sia-sia: rencana yang dihasilkan kemudian terus ditingkatkan, untuk menghadapi langkah-langkah Gaddafi yang sukar diprediksi.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Libyan Scud Attack on Lampedusa and the Italian Retaliation against Gaddafi that never was By Dario Leone – 21 Sep 2019

https://theaviationgeekclub.com/the-libyan-scud-attack-on-lampedusa-and-the-italian-retaliation-against-gaddafi-that-never-was/

ITALIAN ISLE, SITE OF U.S. BASE, IS FEARFUL OF QADDAFI’S ANGER

By E. J. Dionne Jr., Special To the New York Times, May 27, 1986

Italy Takes Over U.S. Base By Loren Jenkins; June 2, 1986

https://www.washingtonpost.com/archive/politics/1986/06/02/italy-takes-over-us-base/3a3e7c32-d0be-4025-961d-66e39ecf16a6/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *