17 April 1975: Penerbangan Terakhir Meninggalkan Kamboja Yang Jatuh Ke Tangan Khmer Merah

Ketika Khmer Merah Komunis menyerbu Kamboja, seorang mantan pilot CIA menyelamatkan diri di saat-saat terakhir. “Terbang untuk Air America Inc., sebuah maskapai penerbangan yang secara diam-diam dimiliki oleh CIA di Asia Tenggara selama Perang Vietnam, adalah sembilan tahun yang paling memuaskan dalam hidup saya”, demikian kenang Neil Hansen. Dari tahun 1964 hingga 1973, saya bermarkas di Saigon dan Vientiane, Laos, menerbangkan kargo dan mengirimkan persediaan ke penduduk lokal yang bersahabat di wilayah yang tidak bersahabat. Saya meninggalkannya pada September 1973 ketika pangkalan udara Air America di Vientiane ditutup. Saya bergabung dengan keluarga saya yang telah tinggal di Selandia Baru dan dengan mudah mendapatkan beberapa pekerjaan yang tidak menantang, yakni menerbangkan wisatawan di atas kawah gunung berapi dan mencari asap atau sambaran petir di tengah hutan. Setelah setahun menjalankan pekerjaan yang membosankan itu, saya membutuhkan perubahan.”, demikian kenang Neil Hansen membuka kisahnya. 

Neil Graham Hansen, pilot ex Air America yang menerbangkan penerbangan terakhir dari Kamboja saat Khmer Merah menguasai Kamboja, 17 April 1975. (Sumber: https://www.sheboyganpress.com/)

DARI PILOT JIMMY HOFFA MENUJU KE LAOS

Neil Graham Hansen dilahirkan di Grand Rapids pada tahun 1937, Hansen dibesarkan di luar wilayah Interlochen oleh ibu dan orang tuanya. Ia sempat menjadi teknisi di Angkatan Udara A.S., dan mengatakan bahwa dia tidak pernah menerima pelatihan penerbangan militer dan benar-benar belajar secara otodidak untuk bisa terbang. “Di masa itu, Anda tidak perlu siapa pun untuk terbang saat memeriksa pesawat terbang,” katanya. “Saya telah menerbangkan lebih dari 130 pesawat bermesin tunggal, dan belajar hanya dengan langsung mencobanya sendiri, membaca manual, dan memahami secara mendalam apa yang sedang dilakukan oleh pesawat (saat terbang).” Setelah bertugas sebentar untuk menerbangkan kargo dengan Zantop Air Transport Detroit yang sekarang sudah tidak beroperasi lagi, Hansen akhirnya memasuki lingkaran Jimmy Hoffa, bos serikat pekerja dagang Teamsters Union yang terkenal di masa itu sebagai salah satu serikat pekerja yang terbesar di Amerika. Apa yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai tugas penerbangan singkat ke Chattanooga, Tennessee berakhir dengan Hansen menghabiskan waktu selama tiga bulan disana. Dia menunggu sementara Hoffa menjalani persidangan karena berusaha menyuap seorang jaksa agung. Hansen menggambarkan Hoffa sebagai “orang baik dalam bekerja” dan “gila kerja.” Ketika Hoffa, akhirnya dinyatakan bersalah dan dikirim ke penjara federal, Hansen mengatakan bahwa ia menemukan iklan di Washington Post yang sedang mencari pilot untuk bertugas di Asia Tenggara. Dari iklan inilah yang akhirnya membawa Hansen bekerja pada Air America.

Jimmy Hoffa, bos serikat pekerja dagang Teamsters Union. Sebelum bekerja dengan Air America, Hansen bekerja dengan Jimmy Hoffa. (Sumber: https://www.biography.com/)
Hansen terbang untuk Air America dari tahun 1964 hingga 1973, dengan mencatat 29.000 jam terbang (9.000 diantaranya dengan menghindari tembakan anti-pesawat di zona pertempuran rahasia). Dia dijuluki “Weird” oleh sesama pilot karena perilakunya yang aneh. (Sumber: http://aviadejavu.ru/)

Dia pikir dia akan bekerja untuk Angkatan Udara, tetapi setelah sejumlah wawancara aneh, dia mulai curiga akan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah ditawari pekerjaan, ia pergi untuk mendapatkan paspor. Pria di konter mengatakan bahwa secara normal membuat paspor akan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sementara itu tempat kerja baru Hansen ingin agar dia bisa berangkat dalam waktu tiga minggu. Setelah menunjukkan kartu Air America yang diterimanya, ia segera mendapatkan paspor dalam waktu lima hari. “Semacam memberi petunjuk bahwa sesuatu yang lucu sedang terjadi,” katanya. Ternyata Hansen benar-benar akan bekerja untuk pasukan udara rahasia CIA, Air America, dan dia akan ditugaskan untuk melaksanakan bagian perang yang terkadang dilakukan dengan kotor dan selalu ditutupi secara rahasia oleh AS. Hansen kerap diberi tugas, yang mengharuskan ia terbang ke daerah-daerah yang jauh ketika bertugas di Laos, Kamboja, dan tempat-tempat lain sepanjang perang. Dia sering ditugaskan membawa amunisi ke pasukan Amerika dan Laos. Hansen terbang untuk Air America dari tahun 1964 hingga 1973, dengan mencatat 29.000 jam terbang (9.000 diantaranya dengan menghindari tembakan anti-pesawat di zona pertempuran rahasia). Dia dijuluki “Weird” oleh sesama pilot karena perilakunya yang aneh. Selama bergabung dengan Air America, Neil menerbangkan berbagai jenis pesawat, termasuk Douglas DC-6 dan DC-3, Beechcraft 18 dan C-45, Dornier Do 28, dan Fairchild C-123. “Bekerja bersama Air America bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Saya (hanya) beruntung. Dalam 18 bulan terakhir ketika saya berada di sana bersama Air America, kami kehilangan lebih dari setengah armada C-123 kami.”

PILOT MASKAPAI LIAR

Setelah meninggalkan Air America, dan sebentar bekerja di Selandia Baru, ia kemudian dihubungi oleh mantan rekannya. “Saya dipenuhi dengan rasa lega dan ekstasi yang bercampur aduk ketika saya menerima telepon dari mantan rekan sejawat dari Air America, Pete Snyder (bukan nama sebenarnya, yang telah diubah untuk melindungi privasinya), pilot kepala di Kamboja untuk maskapai penerbangan Tri-9”, kenangnya saat ditawari pekerjaan baru. Pete menawari Neil pekerjaan menerbangkan Convair 440, yang pada dasarnya merupakan versi tandingan Convair dari pesawat penumpang dan kargo Douglas DC-3 yang digerakkan yang didorong dengan mesin baling-baling. Neil mulai bekerja untuk Tri-9 pada Desember 1974. “Saya awalnya berbasis di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Terbang di Kamboja tidak seperti yang terjadi di mana pun di dunia penerbangan yang teregulasi. Perusahaan itu, diinisiasi oleh seorang konglomerat dengan dibantu sekelompok pilot dan pesawat bebas — maskapai penerbangan yang berbeda, tetapi dengan seragam yang sama. Siapa pun yang memiliki lisensi pilot untuk maskapai apa pun yang kebetulan memiliki pesawat  yang siap diberangkatkan bisa bergabung. Para kru beroperasi dengan cara yang hampir sama dengan para pelaut yang nongkrong di pelabuhan mencari pekerjaan mengangkut barang.”, jelas Neil saat menerangkan modus operandi tempat kerjanya yang baru.

Convair 440, pesawat yang digunakan oleh Neil Hansen di Kamboja. (Sumber: https://www.historynet.com/)
Keberingasan Khmer Merah dalam Perang Saudara Kamboja, menjadi terror tersendiri bagi warga sipil dan orang asing, jelang jatuhnya Republik Kamboja ke tangan Khmer Merah, April 1975. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Banyak pesawat dimiliki oleh perusahaan truk yang tidak lagi bisa melewati jalur darat dengan aman karena pemberontak Komunis Khmer Merah telah menguasai wilayah pedalaman negara itu. Para penyerang secara teratur menembaki pesawat-pesawat, dan akibatnya sebagian besar pesawat dihiasi dengan kaleng-kaleng bir yang digunakan untuk menambal pesawat mereka sebagai perbaikan darurat. Pengalaman yang nyaris merenggut nyawa Neil terjadi ketika sebuah peluru kaliber .50 menembus melewati sayap dan badan pesawat tetapi melewatkan katup selector bahan bakar yang hanya berjarak satu inci. Khmer Merah telah bertempur melawan pemerintah anti-komunis Presiden Lon Nol yang didukung Barat selama bertahun-tahun. Lon Nol melarikan diri ke pengasingan pada tanggal 1 April 1975, dan pada 17 April pasukan Khmer Merah memasuki Phnom Penh. Penduduk kota itu awalnya menyambut mereka dengan perayaan. Karena perang saudara telah berakhir dan orang-orang Amerika telah keluar dari negara itu, ketertiban akhirnya akan bisa dipulihkan, demikian pikir banyak orang. Namun, dalam beberapa jam, seluruh populasi Phnom Penh dikumpulkan dan diperintahkan untuk mengungsi ke pemukiman di pedesaan (dengan alasan Phnom Penh akan dibom oleh pembom B-52 Amerika), tempat para mantan warga kota itu dipaksa menjadi buruh di masyarakat pertanian yang primitif untuk melayani “masyarakat bersama.” Orang-orang kelaparan dan dipaksa bekerja tanpa henti. Keluarga dipisahkan. Banyak warga Kamboja meninggal karena penyakit, penyiksaan atau eksekusi. Rezim baru, di bawah pimpinan Pol Pot, adalah layaknya pertunjukan horor yang kejam. Meskipun tidak ada statistik yang pasti, diperkirakan bahwa Khmer Merah menewaskan antara 1,5 juta dan 2 juta orang, sekitar seperempat dari populasi Kamboja. 

RENCANA KABUR

“Saya telah meninggalkan Phnom Penh pada bulan Februari 1975 dan pindah ke kota Kompong Som, di pantai barat daya, kira-kira 150 mil dari ibukota, untuk menerbangkan muatan beras dengan pesawat Convair 440 untuk Angkor Wat Airlines, maskapai yang dinamai menurut nama kompleks kuil Budha terkenal Kamboja yang dibangun pada abad ke-12. Kompong Som adalah kota pantai berpasir putih yang mungkin memenuhi persyaratan untuk menjadi sebuah resor wisata yang populer, kecuali adanya “hiburan malam” menonton baku tembak dengan Khmer Merah di kejauhan” demikian Neil melanjutkan kisahnya lagi. Kamis, 17 April 1975, Neil memulai aktivitas pada pukul 6 pagi. “Suara si juru masak membanting pintu kasa di dapur di seberang halaman motel tepi pantai membangunkan saya. Dari apa yang bisa kulihat dari langit di luar, nampaknya hari itu akan menjadi hari yang menyenangkan untuk terbang. Aku mengemas barang-barangku di dalam koper aluminium tua yang sudah usang, mengenakan seragam bersih dan mengambil sekaleng susu kental PET. Di sisi jauh halaman, si juru masak telah menyiapkan meja untuk sarapan. Saya menemukan sebuah meja dan meninju lubang kaleng susu ketika co-pilot saya asal Filipina bergabung dengan saya. Saya telah mendengar hari sebelumnya bahwa helikopter telah mengevakuasi staf Kedutaan Besar AS di Phnom Penh, dalam Operasi Eagle Pull. Pada saat ini, Khmer Merah hanya sekitar 10 mil dari ibukota. Dengan kedatangan berita itu, Pete dan saya sepakat bahwa dia akan menemui saya di Kompong Som dan kami akan pergi bersama.”

Pesawat Douglas DC-3, versi sipil dari pesawat angkut militer C-47 di Phnom Penh Airport, Kamboja. (Sumber: http://robertdyoung.blogspot.com/)

Seorang kapten Douglas DC-3 dan co-pilot — pria keturunan Cina yang terbang untuk Khmer Airlines, yang dimiliki oleh sebuah perusahaan truk — juga duduk di meja kami. Mereka telah meninggalkan bandara Kompong Som jauh lebih lambat daripada malam sebelumnya, jadi saya bertanya kepada mereka apakah mereka melihat pesawat Convair Tri-9 masuk. Pete mungkin ada di sana. Mereka melaporkan bahwa hanya ada DC-3 dan Convair 440 kami yang ada di landasan ketika mereka meninggalkan lapangan terbang. Mereka dijadwalkan untuk menerbangkan pesawat bermuatan beras ke Phnom Penh setelah sarapan. Saya menyarankan bahwa ini bukan waktu yang baik untuk pergi ke Phnom Penh. Kapten Khmer Airlines itu tersinggung. “Khmer Merah tidak akan menyakiti kita — hanya orang Amerika yang berhidung panjang (yang jadi musuh mereka),” katanya dan pergi. Tidak ingin himbauan berakhir sia-sia, Neil mengatakan kepada co-pilot Khmer Airlines dan co-pilot nya sendiri , bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk pergi meninggalkan Kamboja. “Ide bagus, kapten,” kata co-pilot nya. Neil juga mengatakan kepada co-pilot Khmer Airlines bahwa dia bisa ikut jika dia mau tetapi Neil menambahkan bahwa ia tidak ingin co-pilot itu memberi tahu kaptennya atau siapa pun. Ia khawatir militer Kamboja mungkin mengetahui tentang rencana mereka, dan menghentikan upaya mereka serta menyerahkan mereka kemudian ke Khmer Merah, sebagai bagian dari upaya yang dapat dimengerti merupakan upaya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dengan menunjukkan bahwa mereka sekarang adalah kawan-kawan dari para penguasa baru. “Tidak, aku (akan tetap) terbang bersamanya,” kata co-pilot yang loyal itu, “tetapi jika tidak ada gunanya, (dan) tidak bisa mendarat, (aku) akan kembali menemuimu.” “Baiklah,” aku setuju, “tetapi jika kamu tidak kembali pada siang hari, aku (akan) pergi.” Jipnya muncul, dan ia pergi ke bandara dengan kaptennya. Setengah jam kemudian, Land Rover yang dikirim oleh Angkor Wat Airlines muncul dengan manajer stasiun mengemudi dan pramugara dan pramugari kami di belakang. Pramugara adalah salah satu kerabat pemilik maskapai, dan pramugari tidak melakukan tugasnya selain menjadi pacar sang pramugara. 

HARI H

Bandara berjarak sekitar 9 mil. Ketika kami mulai menuruni bukit di sisi barat lapangan terbang, kami bisa melihat Convair 440 kami, dengan sebuah lukisan dinding kuil-kuil Angkor Wat di ekornya, bertengger di landasan dan sedang dimuat. Satu-satunya pesawat lain di landasan adalah pesawat transport militer tipe Curtiss C-46 tua yang sedang teronggok di atas rumput liar. Sementara itu DC-3 Khmer Airlines mungkin sekarang sedang dalam perjalanan ke Phnom Penh. Kami membawa banyak muatan normal seperti babi, beras dan manusia. Penerbangan kami dijadwalkan untuk pergi ke Battambang di barat laut Kamboja pada perjalanan pertama dan kemudian ke Kampong Cham, 75 mil timur laut Phnom Penh. Co-pilot saya mengajukan rencana penerbangan ke Battambang dengan seorang mayor Kamboja dan memberinya “bonjour” — sebuah kata yang dalam konteks ini diterjemahkan sebagai “uang suap” daripada “hari baik,” arti dalam bahasa Prancis yang sesungguhnya. Sementara itu, aku berjalan ke warung-warung yang berjajar di tepi jalan dan membeli sepotong tebu untuk dimakan.

Peta Kompong Som-Phnom Penh-Kompong Cham dalam sebuah artikel berbahasa Indonesia, jelang jatuhnya Phnom Penh, ke tangan Vietnam awal tahun 1979 untuk mengenyahkan penguasa Khmer Merah. (Sumber: https://docplayer.info/)

Pada pukul 8:05 proses lepas landas dimulai. Saya memulai pemeriksaan normal sebelum penerbangan. Kami harus melakukannya dengan tenang. Jika kami kelihatan mencoba untuk meninggalkan negara itu, kami mungkin akan dihentikan oleh pihak militer atau dikerumuni oleh orang-orang yang berusaha melarikan diri sebelum Khmer Merah mengambil kendali kota. Saya mengatakan kepada co-pilot saya untuk bertindak seperti kita seolah-olah akan terbang ke Battambang. Kami harus menunda tinggal landas sampai tengah hari supaya Pete bisa bergabung dengan kami. Saya telah melihatnya hari sebelumnya di Battambang. Dia harus memperbaiki ban roda hidung yang kempes tetapi dia seharusnya sudah bisa keluar dari sana sekarang. Pukul 8:30 pagi, tangga pesawat mulai terlipat ke dalam badan pesawat. Di kokpit, rutinitas berjalan normal. Mesin Pratt & Whitney R-2800 CB16 berkekuatan 2.500 tenaga kuda di sisi kanan mulai hidup, mengeluarkan awan asap minyak berwarna biru-putih yang keluar dari augmentor dan kemudian mengendap-endap menjadi gumaman halus karena semua 18 silinder mesin mulai memanas. Mesin kiri tidak kooperatif, mati beberapa kali ketika augmenter terlalu panas dan mengeluarkan bunyi bip. Karburator pada mesin itu telah diisi dan memunculkan campuran yang terlalu pekat. Saya secara manual mengurangi campuran itu sampai kemudian tidak ada lagi asap hitam keluar. Temperatur dan tekanan meningkat dengan baik, jadi saya menjulurkan tangan ke luar jendela dan membalik ibu jari saya ke samping, memberi tahu manajer stasiun yang berdiri di bagian kiri depan pesawat untuk melepaskan penahan roda. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia kembali ke depan kiri, memberi hormat militer dan melambaikan tangan kepada kami untuk bergerak di landasan. “Apa yang dia pikirkan, apakah Pesawat kami adalah pesawat Air Force One, dan bukannya pesawat tua yang bau kencing dan muntahan babi?” demikian pikiran sinis dari Neil. Neil lalu membalas hormatnya dan mendorong throttle untuk meluncur ke landasan. 

Jenderal Lon Nol (tengah) yang membawa Kamboja dalam Perang Saudara yang lebih buruk setelah kudeta terhadap Pangeran Norodom Sihanouk. (Sumber: https://www.voacambodia.com/)

Dalam perjalanan di landasan, saya membuat beberapa panggilan di radio menggunakan frekuensi pesawat ke pesawat untuk mencari informasi apakah ada pesawat yang akan mendarat di bandara Kompong Som, yang mana mengenai ini tidak ada satupun di menara kontrol yang bisa memberikan informasi. Tak ada jawaban. Jadi dimanakah Pete? Di ujung landasan, saya meningkatkan daya mesin dan putaran baling-baling beberapa kali, lalu memajukan throttle ke area tekanan barometrik untuk memeriksa magneto — perangkat pemantik menggunakan magnet yang berputar untuk menciptakan aliran listrik. Mesin kanan terpantau dengan baik, tetapi ketika saya memeriksa magneto di mesin kiri, saya menekan saklar magneto ke posisi “off” dan kembali menyalakannya kembali. Hal ini membuat mesin menjadi mati. “Apa apaan ini ? Sebaiknya kita memeriksa kembali masalah ini, ”kataku dan menghela nafas berlebihan. Saya kemudian menggelengkan kepala dengan menampilkan roman muka jengkel. Itu semua sebenarnya adalah bagian dari rencana kabur saya, dan saya bangga dengan “keterampilan” saya berpura-pura ini. Kembali ke landasan, kami berhenti. Setengah lusin penumpang kami turun. Kami tidak bertanya apakah ada yang ingin melarikan diri bersama kami karena kami takut seseorang akan membocorkan rencana kami kepada pejabat militer di bandara. Saya memanjat keluar dan meminta tangga kepada manajer stasiun agar saya bisa memeriksa mesinnya. Ketika saya menaiki tangga, saya melanjutkan aksi “penipuan” saya, dengan pura-pura mengeluh tentang betapa sulitnya mencapai dua perjalanan hari ini. Saya mengeluarkan beberapa busi, menuruni tangga, duduk di tangga udara dan mulai membersihkan beberapa karbon dari busi.

MEMBANTU DC-3 KABUR KE THAILAND

Pukul 9:30 pagi. “Kapten, ada pesawat datang!” teriak co-pilot saya. Nyaris tepat di atas bukit di utara ada pesawat DC-3 yang menuju ke arah kami. Pilotnya terbang terlalu rendah. Beberapa saat berlalu, dan dia bisa terdengar datang dengan kekuatan penuh, lurus dan cepat. Ketika dia melewati ujung landasan, Pilot pesawat mematikan mesin tiba-tiba dan ketika mesin-mesin pesawat mati menyemburlah api. Pendaratan pesawat itu kasar dan cepat. Crew pesawat DC-3 Khmer Airlines itu adalah orang-orang yang sarapan pagi bersama kami. Pesawat itu berbalik di ujung landasan dan menuju ke tempat parkir sementara pesawat masih berjalan dengan sangat cepat. Ban memekik keras, dan satu sayap mulai naik, tetapi pilotnya masih bisa mengendalikan pesawat. Baling-baling pesawat masih berputar ketika kapten melompat keluar dari pintu, berteriak minta bahan bakar. Co-pilotnya mengikuti, berusaha menenangkannya. “Apa masalahnya?” Saya bertanya. “Phnom Penh terbakar,” jawab kapten, gelisah. “Mereka menembaki kita!” teriaknya, seolah hal itu adalah sesuatu yang mengejutkan. “Kita pergi Bangkok sekarang!” Saya menariknya dan mendesis, “Diam, jangan biarkan (pihak) militer mendengarmu, atau kita akan ditangkap.” Para penumpang di DC-3 mulai memanjat keluar. “Apa yang akan kamu sampaikan kepada para penumpang?” Saya bertanya. “Kami memberi tahu mereka bahwa kami mencoba lagi untuk pergi ke Phnom Penh, tetapi (sebenarnya) pergi ke Bangkok,” kata kapten. “Petugas Bea Cukai Thailand akan menyukaimu,” kataku. “Kamu sebaiknya pergi juga.” “Tentu, tapi mari kita sedikit berhati-hati,” kataku. “Kenapa kamu tidak menunggu di pesawatmu? Dan aku akan membantu co-pilot mu mendapatkan bahan bakar dan izin. ” Pilot itu kembali ke DC-3-nya. Pada pukul 10 pagi. Co-pilotnya muncul dengan truk bahan bakar, dan saya segera menyudutkannya di pojokan. “Kamu tahu kaptenmu ingin pergi ke Bangkok?”

Bandara Pochentong di Phnom Penh saat ditembaki oleh artileri Khmer Merah, April 1975. (Sumber: https://thefallofphnompenh.wordpress.com/)

“Iya.” jawabnya. “Saya tidak berpikir itu ide itu cukup bagus,” saya mengatakan kepada co-pilot itu. “Dengan penumpang, bea cukai di sana akan memberimu masalah, terutama jika beberapa penumpang tidak ingin pergi ke Bangkok.” “Ya, tapi apa lagi yang bisa dilakukan?” “Pergi ke Sattahip, disana terdapat Pangkalan Angkatan Udara Thailand, jadi tidak akan ada petugas bea cukai yang akan memberimu kesulitan. Jika mereka mulai menjengkelkan, beri tahu mereka bahwa kamu tersesat, atau ada masalah dengan pesawat. Jika kaptenmu tidak menyukai ide itu, dinginkan bajing*n itu dengan perangkat  pemadam api. ” Saya memberinya frekuensi dari menara penerbangan di Sattahip dan memintanya untuk memantau frekuensi 123,9, yang biasa digunakan untuk panggilan antar pesawat. Saya akan menghubungi dia ketika kami mendarat. Pada pukul 10.30 pagi. Mesin DC-3 kembali berputar, dan saya kembali ke pesawat Convair 440 saya. Pramugara bertanya apakah pesawat itu sudah diperbaiki. Saya mengatakan sepertinya kita harus menurunkan muatan dan mengujinya terbang, bahkan mungkin harus terbang pergi ke suatu tempat pada malam hari untuk memperbaikinya. Dia mungkin bisa mengubah rencanaku karena dia ingin pulang untuk mengambil sejumlah uang dan pakaian. “Kamu harus kembali sebelum jam 11:30,” kataku. DC-3 mulai lepas landas, perlahan-lahan meluncur di ujung landasan dan berbelok ke arah barat-barat daya. Manajer stasiun, berdiri di sebelah saya, tidak mengatakan apa-apa tentang DC-3 yang menuju ke arah yang salah untuk penerbangan ke Phnom Penh. Jika dia tidak tahu sebelumnya, dia tahu sekarang bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi. Saya memintanya untuk menurunkan muatan pesawat saya sehingga kami bisa menerbangkannya. Dia dengan ragu-ragu dan kemudian pergi untuk mendapatkan beberapa pekerja yang menurunkan beras dan babi. 

Pangkalan udara U Tapao di Sattahip. Pada bulan April 1975, pangkalan udara menjadi sibuk dalam menampung pesawat pelarian dari Vietnam Selatan dan Kamboja yang jatuh ke tangan pasukan Komunis. (Sumber: Pinterest)

Pada pukul 11 pagi Pesawat saya sekarang telah menurunkan muatan, dan saya telah mengganti businya. Saya meminta co-pilot untuk mengajukan izin melakukan penerbangan uji lokal. Ketika dia kembali, dia berkata, “Mayor gugup, dia tidak bisa mengontak siapa pun di radio.” Mayor, perwira yang menerima “bonjour” sebelumnya, telah mencoba untuk menghubungi pos militer di utara bandara untuk mencari informasi apakah gerombolan Khmer Merah sudah dekat. Saya tidak ingin mengambil risiko baterai sampai habis, jadi kami hanya melakukan beberapa panggilan singkat lewat di radio kokpit, tanpa hasil kecuali pada frekuensi 123,9. Pesawat DC-3 menjawab dengan lemah, melaporkan semuanya baik-baik saja, tetapi belum mampu menghubungi Bangkok Center. Saya memberi pilot itu nomor identifikasi pesawat saya kalau-kalau dia bisa melakukan kontak dengan Bangkok, sehingga dia bisa memberi tahu kru di sana bahwa saya akan tiba dalam beberapa jam. Ketika kami naik kembali ke pesawat, saya perhatikan beberapa warung mie di tepi landasan sudah hilang dan sisanya sepertinya buru-buru tutup. Saya mengatakan kepada co-pilot untuk mengawasi jalan yang membentang ke bukit di kejauhan dan melaporkan jika dia melihat debu datang dari utara. Saya berjalan ke kantor operasi darurat bandara, bertempat di dalam kontainer pengiriman logam bergelombang besar yang disebut kotak Conex. Saya perhatikan dua warung mie yang ada di depan mereka ditutup dan gerobak berisi tebu ditarik di jalan oleh sepeda motor kecil Honda 50cc. Satu-satunya kendaraan yang tersisa adalah truk dan jip mayor.

INI SAATNYA

Sang mayor mendongak setelah menutup koper yang menyimpan “bonjour-nya”. Wajahnya memperlihatkan wajah seperti seseorang yang telah melihat ular beracun merayap melewati pintu. “Sudah (mau) pulang?” Saya bertanya. “Tidak ada lagi penerbangan hari ini,” katanya. Kemudian saya bertanya, “Jika Anda pergi, bisakah kami berkendara dengan Anda?” “Tidak diizinkan!” jawabnya. “Lupakanlah, mobil perusahaan kami sebentar lagi akan segera kembali. Sampai jumpa besok.” Tentunya saya cuma berbohong. Sang mayor menolak saya untuk berkendara dengan dia karena dia tidak ingin berada di dekat “mata bundar” (orang barat) yang menurut Khmer Merah adalah CIA. Dia bergegas naik ke jip sementara tentara dari bagisn penyimpanan bahan bakar dan minyak naik ke truk. Pukul 11:24 pagi, hanya tinggal kami bertiga di bandara: manajer stasiun, co-pilot saya dan saya. Pukul 11:32 pagi, di mana Pete? Istrinya berada di Phnom Penh. Dia mungkin akan terbang dengan salah satu penerbangan ke Bangkok karena sebagian besar kru udara mengenalnya, tapi saya khawatir kalau Pete akan berusaha memastikan istrinya benar-benar telah meninggalkan Phnom Penh. Pukul 11:46 pagi. Manajer stasiun berjongkok di sebelah co-pilot saya di bawah naungan sayap. Tidak ada yang berbicara, hanya menatap ke utara di mana panas yang berkilauan tampak membesarkan di bukit di kejauhan. Tidak ada debu, tidak ada angin, hanya sepi yang menakutkan. Pada pukul 11:58 pagi. Di sinilah muncul sebuah Land Rover, dimana pengemudinya tampak seperti sedang berusaha memenuhi syarat untuk ikut balapan di Indi 500. Dia segera membawa mobilnya mendekat ke pesawat, dimana pramugara dan pramugari saya melompat keluar. Pramugara itu panik. “Tidak ada orang di jalanan, semua orang (sudah) pergi!” dia berkata. “Kemana mereka pergi?” Saya bertanya. “Aku tidak tahu, pergi saja. Tidak bagus di sini, kita pergi sekarang? ” “Mari kita mulai pertunjukan ini.”

Flight (2019), buku tulisan Neil Hansen yang memuat kisah pelariannya dari Kamboja, April 1975. (Sumber: https://www.goodreads.com/)
Kapten Neil Hansen berpose di pintu kargo C-123, jenis pesawat tempat ia ditembak jatuh di Laos pada tahun 1972. (Sumber: https://www.mlive.com/)

Pukul 12:07, Pete tidak muncul, tidak ada yang bisa dilakukan selain pergi. Sebelum naik tangga udara, saya melihat ke mata manajer stasiun. “Kita akan (pergi) ke Bangkok. Aku ingin kamu ikut juga. ” Tanpa henti, dia menatap langsung ke arahku dan berjuang untuk mengendalikan emosinya. “Tidak, Tuan, saya (tetap) tinggal. Keluarga saya. Keluargaku (tinggal) di Phnom Penh, tuan. ” Saya tidak membalas. Apa lagi yang bisa saya katakan? Kami berjabat tangan untuk yang pertama dan terakhir. Pukul 12:11, kami menyalakan mesin dan memecah keheningan. Tidak ada kesulitan untuk menyalakan mesi, tetapi manajer stasiun masih berdiri di tempatnya, seperti biasa, menatap kokpit, air mata mengalir di pipinya. Dia memberi hormat. Sikap sinis saya yang sebelumnya menghilang, saya membalas hormatnya, dan dia melambaikan tangan kepada kami ketika pesawat bergerak di landasan. Di ujung landasan, suhu dan tekanan terlihat bagus, jadi saya berbalik dan bersiap lepas landas. Kecepatan meningkat, dan ketika kami melewati landasan, manajer stasiun masih berdiri di sana. Saya menyadari bahwa saya bahkan tidak tahu namanya. Kecepatan delapan puluh knot. Saya menurunkan pengendali roda hidung dan menuju ke kemudi pesawat dengan tangan kiri saya. Rotasi mesin sekarang sudah Seratus knot. Pesawat itu naik meninggalkan Kamboja untuk terakhir kalinya.

KISAH PENUTUP

Sisa-sisa dari kuburan massal di dekat Phnom Penh, sebuah gambaran mengerikan dari pemerintahan Khmer Merah, yang berlangsung dari 1975 hingga 1978. (Mike Goldwater / Alamy / https://www.historynet.com/)

Pete tiba di Kompong Som setelah gagal mencari istrinya yang ada di Phnom Penh. Khmer Merah menangkapnya pada hari berikutnya di kamar motel tempat saya menginap. Mereka menggiringnya ke perbatasan Thailand dan, secara ajaib, membebaskannya. Pete tidak pernah menemukan istrinya. Dia menjadi salah satu korban holocaust Kamboja. Sementara itu pesawat DC-3 tiba dengan selamat di Pangkalan Udara Sattahip dengan sedikit keriuhan. Pesawat saya mendarat di Bangkok, dan saya ditugaskan oleh putra mahkota Laos untuk membawanya ke Vientiane dan terbang untuk Royal Air Lao. Saya tinggal di sana selama beberapa bulan sampai pasukan Komunis Pathet Lao mengharuskan saya melarikan diri lagi ke Thailand, kali ini dengan menggunakan perahu. Asia Tenggara jatuh ke tangan komunis. Akhirnya datang waktunya bagi saya untuk pulang ke Amerika Serikat.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Last Plane Out of Cambodia by Neil Hansen; April 2018

Pilot for Jimmy Hoffa, CIA to tell wild life story at Yankee Air Museum by Samuel Dodge, Posted Jan 17, 2020

https://www.google.com/amp/s/www.mlive.com/news/ann-arbor/2020/01/pilot-for-jimmy-hoffa-cia-to-tell-wild-life-story-at-yankee-air-museum.html%3FoutputType%3Damp

He flew secret CIA missions with Hmong fighters in Laos. A new play tells their story by MARINA AFFO | SHEBOYGAN PRESS | 6:24 pm CDT August 9, 2018

https://www.google.com/amp/s/amp.sheboyganpress.com/amp/832847002

Recalls his escape from Captured Cambodia 1975; May 14, 2020

https://portal.clubrunner.ca/2178/Speakers/f46ea83a-cdc8-4608-9343-eea0031db9af

RFT 386: AIR AMERICA PILOT NEIL HANSEN

http://readyfortakeoffpodcast.com/rft-386-air-america-pilot-neil-hansen/

5 thoughts on “17 April 1975: Penerbangan Terakhir Meninggalkan Kamboja Yang Jatuh Ke Tangan Khmer Merah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *