24 Desember 1969: Kena Embargo, AL Israel “Curi” Kapal Cepat Pesanan dari Pelabuhan Cherbourg-Prancis

Lima puluh satu tahun yang lalu pada Malam Natal, lima kapal kecil angkatan laut menyelinap keluar dari Pelabuhan Cherbourg lewat tengah malam di tengah badai angin kencang. Dibeli oleh pihak Israel dari galangan kapal lokal, “kapal patroli” tersebut telah diembargo oleh Prancis karena alasan politik. Orang-orang Israel kemudian melarikan diri kapal-kapal itu bersama dengan mereka. Kapal-kapal itu kemudian akan diisi bahan bakar di laut oleh kapal dagang Israel yang bergerak ke posisinya sejauh 5.600 km rute pelarian yang dijalani. Saat kru televisi terbang di atas Laut Mediterania mencari kapal-kapal itu, menteri pertahanan Prancis meminta angkatan udara untuk “menghentikan” kapal-kapal yang yang dibawa lari itu. Namun pada Malam Tahun Baru 1970, Radio Israel melaporkan kedatangan lima kapal patroli Israel yang baru saja dibuat itu di Pelabuhan Haifa. Saat Prancis kemudian marah, berbagai Media di dunia segera memberitakan kisah unik dan “lucu” itu. Tapi kisah sebenarnya dari aksi berani itu jauh lebih besar dari sekedar yang para wartawan ketahui. Seluruh operasi yang direncanakan oleh Angkatan Laut Israel ini telah diberi nama sandi sebagai Operasi Noa, yang diambil dari nama putri Kapten Binyamin “Bini” Telem.

Buku karya Abraham Rabinovich yang mengisahkan tentang “pencurian” kapal dari Pelabuhan Cherbourg. (Sumber: https://www.amazon.com/)

LATAR BELAKANG

Aksi itu dimulai pada tahun 1961 ketika komandan Angkatan Laut Israel, Vice Adm. Yohai Bin-Nun, memanggil para staf senior untuk mengikuti sesi dengar pendapat selama dua hari di markas angkatan laut di Gunung Carmel, kota  Haifa. Dia menyampaikan peringatan bahwa angkatan laut Israel mungkin harus “turun peringkat” menjadi pasukan penjaga pantai jika armada kuno kapal-kapal perang peninggalan Perang Dunia II yang mereka miliki tidak bisa lagi mempertahankan keamanan jalur laut Israel. Tugas itu kemudian terpaksa akan diserahkan kepada angkatan udara yang dinilai lebih siap. “Untuk mencegah hal yang memalukan itu, kira-kira opsi apa yang dimiliki angkatan laut agar bisa tetap relevan?” Demikian Bin-Nun bertanya pada para stafnya. Dari pertemuan dua hari itu, sebuah proposal yang tidak biasa muncul ke permukaan. Industri militer Israel yang baru berkembang telah mengembangkan sebuah desain rudal kasar yang ditolak oleh Korps Artileri dan angkatan udara. Jika rudal itu dapat dipasang di sebuah kapal kecil, seorang perwira di pertemuan itu menyarankan, maka rudal itu bisa memberi kapal-kapal kecil itu daya pukul setara dengan kapal penjelajah berat. Disamping itu (Kapal) Kecil berarti biayanya terjangkau. Itu juga berarti kru yang dibutuhkan jauh lebih kecil; sementara tenggelamnya sebuah kapal perusak dengan awak 200-250 orang, yang saat itu menjadi tulang punggung angkatan laut, akan menjadi bencana besar bagi negara kecil seperti Israel, kehilangan kapal kecil bukanlah isu yang besar. Kapal kecil memang tidak dapat membawa meriam kaliber berat karena daya tolak balik yang besar dari meriam semacam ini, tetapi sebaliknya rudal tidak memiliki daya tolak balik sebesar itu. Ide tersebut kemudian ditolak oleh sebagian besar hadirin, yang mencatat bahwa tidak ada negara Barat yang memiliki kapal seperti itu. Namun, usulan itu selaras dengan pemikiran Bin-Nun. Ide itu mungkin fantastis dan terlalu berani, tapi dia tidak mendengar ada ide yang lebih baik. Setelah mempertimbangkannya selama beberapa bulan, dia meminta wakilnya, Kapten Shlomo Erell, untuk memeriksa proposal tersebut dengan serius. Wakil menteri pertahanan Shimon Peres, yang mana Bin-Nun meminta sumber pendanaan, memberikan restu untuk proyek tersebut. Bin-Nun berkata bahwa kalaupun dia hanya mendapatkan enam kapal bersenjata rudal, dia akan membuang sisa kapal di armada yang dipunyainya.

Vice Adm. Yohai Bin-Nun, keputusan yang diambilnya mengenai pengadaan kapal cepat bersenjata rudal bagi AL Israel telah membentuk karakter pengembangan AL Israel yang masih membekas hingga sekarang. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Dua tahun sebelumnya, Peres telah melakukan perjalanan ke wilayah Bavaria yang tertutup salju untuk melakukan pertemuan rahasia selama lima jam di rumah menteri pertahanan Jerman, Franz-Josef Strauss. Pusat pembicaraan mereka adalah hubungan antara negara Yahudi dan negara yang telah membunuh enam juta orang Yahudi kurang dari dua dekade sebelumnya. Jurang emosional yang terbentang di antara kedua negara masih belum terjembatani oleh hubungan diplomatik. Peres menyarankan agar Jerman mengambil langkah signifikan untuk mengakui sejarah gelap masa lalunya dan melengkapi Israel dengan senjata yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya, dimana yang terakhir mereka diharapkan untuk melakukannya tanpa publisitas, untuk menghindari kemarahan negara-negara Arab, dan tidak mengharapkan pembayaran, karena Israel tidak mampu membelinya. Strauss mengatakan dia akan merekomendasikan proposal tersebut kepada pemerintahnya. Kanselir Jerman Konrad Adenauer kemudian mengkonfirmasi janji itu kepada David Ben-Gurion, ketika dua negarawan tua itu bertemu di New York. Dari kesepakatan yang dicapai, anggaran berikutnya dari Republik Federal Jerman akan berisi alokasi senilai $ 60 juta untuk “bantuan dalam bentuk peralatan” selama periode lima tahun, meski tanpa menyebutkan negara penerimanya. Daftar peralatan militer lalu disusun, sebagian besar merupakan barang standar seperti artileri dan kendaraan halftrack untuk Angkatan Darat. Sementara itu, setelah percakapannya dengan Bin-Nun, Peres kemudian menyesuaikan daftarnya untuk memasukkan enam kapal bersenjata rudal. (Enam lagi akan ditambahkan nantinya.) 

Kanselir Jerman, Konrad Adenauer yang memberi lampu hijau pendanaan persenjataan bagi Israel melalui anggaran Republik Federal Jerman. Salah satu pengadaan alutsista yang dibiayai adalah pengadaan kapal cepat rudal yang menggunakan desain kapal asal Jerman. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Wakil Menteri Pertahanan Shimon Peres (kiri), bertemu dengan Ori Even-Tov, kepala tim pengembangan rudal Gabriel. Pada awal 1960-an, hanya Uni Soviet dan negara kliennya yang memiliki kapal cepat bersenjata rudal. Jika Israel ingin mengikuti konsep mereka, Israel harus memetakan jalurnya sendiri. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

Erell, yang lalu menggantikan Bin-Nun sebagai kepala angkatan laut, kemudian membentuk sebuah sebuat tim “think tank” yang terdiri dari personel angkatan laut dan dari Israel Aircraft Industries untuk mendalami konsep kapal rudal secara mendetail. Proyek ini diberi kode nama Shalechet (Daun Jatuh). Dalam mendukung proyek ini seorang insinyur ambisius, Ori Even-Tov, ditarik dari Rafael, perusahaan pertahanan terkemuka Israel, dan kemudian berhasil mengembangkan rudal laut-ke-laut yang efektif bernama Gabriel, yang akan menjadi inti dari keseluruhan program. Sebelumnya Angkatan Laut Israel telah mengalami kegagalan berulang kali saat mencoba mengarahkan rudal yang diarahkan ke target di laut dengan joystick. Ide yang brilian akhirnya muncul dengan pemikiran untuk menempatkan radar pada rudal itu sendiri dan menggunakan altimeter untuk memungkinkannya menghantam ke kapal musuh sambil menjelajahi permukaan laut. Dari konsep itulah rudal Gabriel lahir. Tapi sementara itu, Erell juga menginginkan sebuah kapal multiguna, yang bukan hanya menjadi platform senjata rudal. Dalam pertemuan di Kementerian Pertahanan Jerman ia mengatakan, bagi Israel, kapal tersebut merupakan kapal utama yang harus mampu melaksanakan berbagai macam misi. Kapal ini harus memiliki sistem senjata tembak cepat yang dapat digunakan melawan pesawat, kapal atau target pantai, sonar untuk berburu kapal selam, ditambah radar dan peralatan komunikasi yang lebih canggih, daripada yang dibawa oleh kapal perusak yang berukuran beberapa kali lebih besar. Tim Shalechet kemudian berkembang dengan pesat, yang mendorong angkatan laut untuk melipatgandakan jumlah orang yang mengikuti pendidikan perwira. Pada puncak proyek selama satu dekade ini, ratusan insinyur, ahli mesin angkatan laut, dan lainnya mengerjakan proyek tersebut setiap hari sepanjang tahun kecuali di hari raya Yom Kippur, seringkali dalam waktu 12 hingga 14 jam sehari; beberapa bahkan masih bekerja di hari Yom Kippur juga. 

Detail rudal anti kapal Gabriel. Untuk mengarahkan rudal ke target, Rudal Gabriel varian awal menggunakan sistem panduan radar semi aktif. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Uji coba peluncuran PKR G-25, yang menjadi pendahulu rudal Gabriel di gurun Negev pada tahun 1958. Sejak awal tahun 1960an, Israel secara intensif mengembangkan sistem rudal anti kapal untuk meningkatkan daya tembak AL nya yang berukuran kecil. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Sebuah Rudal Gabriel terbang dari dek kapal rudal Israel. Dalam inkarnasi pertamanya sebagai Rudal Luz, rudal tersebut secara konsisten gagal dalam pengujian di laut dan terus gagal bahkan setelah Even-Tov ‘ hadir dalam pengujian ketiganya pada tahun 1965. Tov kemudian memukau para pengamat dan memberikan momentum pada proyek kapal rudal Israel. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

Proyek itu kemudian dialihkan ke pabrik modern tanpa jendela. Kadang-kadang personel yang datang pagi-pagi dikejutkan ketika mereka meninggalkan gedung untuk melihat bahwa malam telah tiba; bahkan waktu demi waktu berlalu tanpa mereka sadari. Disamping itu tidak ada panduan untuk apa yang mereka lakukan dan tidak ada juga buku teks. Para anggota tim itu telah bekerja di bagian teknologi angkatan laut yang mutakhir, menempa solusi demi solusi inovatif, yang menjadi pendahulu kemunculan Israel sebagai Bangsa yang penuh inovasi teknologi. Bagi banyak orang yang terlibat, itu akan menjadi titik tertinggi dalam hidup mereka. Pemimpin untuk tim yang mengembangkan sistem senjata kapal adalah Aviah Shalif, seorang insinyur yang dibesarkan di Yerusalem bersama Bin-Nun dan Even-Tov. Kuat dan tajam, dia dengan cepat akan mengungkap masalah yang rumit dan mengusulkan solusinya. Kemampuannya untuk menjaga segala sesuatunya bergerak maju lebih penting daripada manfaat relatif dari pendekatan teknis yang harus dia pilih. Dalam dokumen yang terdiri dari beberapa ratus halaman, Shalif merumuskan “logika” sistem senjata, menunjukkan bagaimana semua elemen saling mempengaruhi. Itu semua dilakukan tanpa bantuan komputer, yang belum pernah dia pelajari untuk digunakan. Di tengah perjalanan, Israel mengetahui bahwa Uni Soviet telah mengalahkan mereka habis-habisan. Soviet telah mengembangkan kapal bersenjata rudalnya sendiri dan memasok lusinan unit kapal jenis itu ke Mesir dan Suriah, dalam wujud kapal rudal kelas Komar. Kapal-kapal itu dipersenjatai dengan rudal Styx, yang kemampuan mematikannya kemudian didemonstrasikan tak lama setelah Perang Enam Hari.

Rudal anti kapal Styx buatan Soviet yang banyak melengkapi kapal-kapal cepat rudal milik negara-negara Arab yang menjadi lawan Israel pada awal tahun 1960an. Rudal Styx memiliki jangkauan dua kali lebih jauh dari versi awal rudal Gabriel buatan Israel. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Kapal cepat rudal kelas Komar yang banyak diekspor Soviet ke negara-negara sahabatnya. Kombinasi kelas Komar dan Rudal Styx terbukti mematikan di medan tempur. (Sumber: https://weaponsystems.net/)
Destroyer ‘Eilat,’ korban pertama dari rudal anti kapal dalam pertempuran laut di era modern paska Perang Dunia II (kredit foto: GPO/https://www.jpost.com/)

Korbannya adalah INS Eilat yang merupakan Kapal Perusak kuno buatan Inggris era Perang Dunia II, sebelumnya kapal ini dikenal oleh Inggris sebagai HMS Zealous. Selama Perang Dunia II HMS Zealous “telah menemani konvoi-konvoi kapal Inggris ke Rusia membawa pasokan penting pada masa perang untuk “membantu Rusia” bertahan hidup dari musuh bersama mereka setelah bulan Juni 1941, yakni Jerman-nya Hitler. Pada tahun 1940-an HMS Zealous merupakan kapal yang terhitung tangguh, tapi selepas Perang Dunia II, kapal itu dengan cepat menjadi ketinggalan jaman. Israel telah membelinya dan mengganti namanya menjadi Eilat. Pada tanggal 21 Oktober 1967, hari Sabtu, pukul 17:20, dimana War of Attrition sudah berjalan beberapa lama (meskipun pertempuran terburuk baru terjadi pada tahun 1969-70), sebuah kapal kecil Mesir, yang hampir tidak terlihat di cakrawala, menembakkan empat rudal ke kapal perusak Eilat, Yang merupakan kapal bendera Israel saat itu. Semua rudal yang ditembakkan mengenai sasaran, dan Eilat tenggelam, menjadi kapal pertama yang ditenggelamkan oleh rudal anti kapal di era modern Paska Perang Dunia II. Dari 200 awak, 47 tewas dan 100 luka-luka. Ancaman Styx tampak semakin besar ketika intelijen mengetahui bahwa rudal itu memiliki jangkauan dua kali lipat lebih jauh (versi awal Styx punya jangkauan hingga 45 km) ketimbang Gabriel punya Israel. Kapal-kapal Arab bisa dengan mudah berada di luar jangkauan Gabriel dan melepaskan rudal anti-kapal mereka dengan aman. Erell kemudian bertanya kepada kepala bagian elektronika angkatan laut, Kapten Herut Tzemah, apakah ada yang bisa dilakukan untuk menanggulangi hal ini. Dengan menebak-nebak parameter elektronik radar yang digunakan oleh rudal Styx, Tzemah lalu merancang perangkat penangkal elektronik untuk mengecoh rudal yang datang. Dia juga merekomendasikan penggunaan roket cadangan yang menembakkan chaff – strip aluminium yang membingungkan radar lawan. Namun apapun kreasi yang dilakukan oleh Tzemah untuk membuat payung anti-Styx, namun pembuktiannya hanya bisa diuji dalam pertempuran sesungguhnya. Jika dia salah menebak, maka perang di laut akan berakhir dengan cepat bagi kekalahan pihak Israel. 

“MENCURI” KAPAL DARI CHERBOURG

Sementara itu dengan dana yang disediakan oleh Pemerintah Jerman, 12 “kapal patroli” dipesan oleh Israel. Kapal-kapal itu adalah versi modifikasi dari kapal torpedo Jaguar Jerman yang kokoh, Kapal torpedo itu sendiri merupakan keturunan dari E-boat (Schnellboot) yang mengganggu jalur pasokan sekutu di Laut Utara selama Perang Dunia Kedua. Kapal-kapal itu akan berfungsi sebagai platform untuk kapal bersenjata rudal yang muncul di benak komando angkatan laut Israel. Sesuai spesifikasi, Israel mencari tipe kapal kecil dan efisien yang dapat berpatroli di pantainya dan melakukan operasi lepas pantai dengan kecepatan tinggi, sementara pada saat yang sama mampu menghindari pelacakan dan tembakan sebanyak mungkin rudal-rudal  musuh. Kapal-kapal baru juga harus memiliki kemampuan ofensif lebih dari yang mereka miliki sebelumnya – yaitu, kapal generasi baru ini harus bisa dilengkapi dengan senjata rudal. Pada akhir tahun 1964 tiga dari dua belas kapal rudal itu telah dibangun dan dikirim dari Jerman ke Israel. Tetapi seorang anggota pemerintah Jerman membocorkan berita tentang kesepakatan itu ke New York Times pada saat itu. Dia rupanya masih menyimpan simpati kepada Nazi dan tidak ingin membantu Israel.

Kapal cepat torpedo kelas Jaguar yang menjadi dasar rancangan kapal cepat yang dipesan oleh Israel. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Ketika berita itu muncul, negara-negara Arab sangat marah, dan Jerman menyerah pada ancaman sanksi ekonomi dan bahkan boikot, barang-barang Jerman oleh negara-negara Arab. Namun Jerman, bagaimanapun, setuju bahwa kapal itu tetap dapat dibuat di tempat lain. Israel kemudian memberikan pekerjaan itu ke galangan kapal Cherbourg di pantai selatan Prancis. Pada pertengahan tahun 1960-an, Prancis telah memasok Israel dengan mungkin total tiga perempat persenjataan yang digunakan oleh Israel. Buat Israel memberikan proyek ke Prancis adalah hal yang masuk akal, sementara untuk Pemerintah Prancis sendiri, proyek itu juga memberi lapangan kerja bagi warga Cherbourg yang kekurangan pekerjaan. Di sisi lain, walau para pekerja galangan kapal Cherbourg hanya memiliki sedikit pengalaman dalam membangun kapal yang dibutuhkan Israel, tetapi dengan rancangan Jerman dan Israel di tangan, mereka dapat memulai pembuatan kapal yang masih tersisa. Hingga akhir tahun 1967 empat dari kapal buatan galangan kapal Cherbourg kemudian diluncurkan – satu setiap dua atau tiga bulan – dan berlayar ke Israel, sebelum Presiden Prancis Charles de Gaulle memerintahkan embargo menyusul serangan komando Israel di Bandara Beirut pada tanggal 28 Desember 1968. Embargo itu melarang pengiriman kapal yang tersisa ke Israel, tetapi proses pembuatan dan bahkan pengujian mereka di laut diizinkan karena pembuat kapal akan menerima pembayaran akhir hanya jika semua kapal telah selesai dibuat. Embargo ini sendiri dirasa Israel sebagai bentuk diskriminasi Prancis, saat Prancis diduga terus melanjutkan penjualan senjata senilai $ 400 juta ke Libya, kesepakatan dengan Libya ini dilaporkan mencakup penjualan 50 jet Mirage. 50 Mirage itu sebenarnya sudah dibeli dan dibayar Israel selama dua tahun sebelumnya, namun sama dengan kapal-kapal yang dibuat di Cherbourg, keduanya sama-sama terkena embargo.

Lima kapal cepat yang telah dibuat di galangan kapal Cherbourg kemudian diembargo pengirimannya oleh pemerintah Prancis yang saat itu memilih condong ke negara-negara Arab. (Sumber: https://sydneyjewishmuseum.com.au/)

Sementara itu, VICE ADM. Mordecai (Mocca) Limon, telah ditunjuk sebagai komandan Angkatan Laut Israel pada usia 26 tahun dan sekarang ia menjadi kepala misi pembelian militer Israel di Paris. Dia bertekad untuk membawa lima kapal yang tersisa ke Israel segera setelah yang terakhir diluncurkan. Ia berpandangan bahwa dalam perang berikutnya, angkatan laut mungkin harus bertempur secara bersamaan di front Mesir dan Suriah dan membutuhkan setiap kapal yang dimilikinya. Perdana Menteri Golda Meir keberatan dengan proposal Limon untuk membawa kabur kapal pada suatu malam, dengan mengatakan bahwa Prancis kemungkinan akan memutuskan hubungan antara kedua negara. Limon terus mendesak, dan Golda Meir yang marah memveto dengan mengatakan bahwa tidak ada tindakan “ilegal” yang boleh dilakukan yang dapat membahayakan hubungan diplomatik Israel. Bagi Limon, perbedaan antara legal dan ilegal tidak lebih dari tanda koma yang “digunakan pengacara”, dan dalam situasi yang mungkin cukup berbahaya untuk menekan kekuatan skuadron kapal bersenjata rudal Israel. Operasi pengambilalihan kapal terus berlangsung.

Mordechai Limon (kiri) dan PM David Ben Gurion. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Ketika kapal terakhir hampir selesai menjelang akhir tahun 1969, dia mengatur waktu untuk bertemu makan siang di Bandara Kopenhagen dengan pemilik galangan kapal Norwegia, Martin Siemm – pahlawan gerakan perlawanan dalam perang dunia II – yang telah mengunjungi Israel dan memiliki teman di sana. Itu adalah seorang teman yang bisa “diandalkan” Limon. Menjelaskan situasi kapal-kapal Israel di Cherbourg, Limon bertanya apakah Martin mau untuk membantu Israel keluar dari masalahnya. Tidak akan ada bayaran, hanya kemungkinan ada rasa malu atau lebih buruk jika plotnya terbongkar. Wajah Siemm menjadi cerah saat dia memahami taruhan yang dilibatkan dan taktik yang dijabarkan. “Beri aku 48 jam,” katanya. Ketika dia menelepon Limon dari Oslo, ia menyetujui tawaran itu. Sementara itu, kapal-kapal pesanan Israel yang diembargo sedang disiapkan untuk pelarian. Limon mengusulkan agar kapal-kapal tersebut diberangkatkan pada Malam Natal, ketika keamanan terhitung minim. Para petugas pemasok perbekalan untuk misi rahasia itu kemudian sengaja menghindari pembelian barang-barang yang diperlukan secara grosir yang mencurigakan untuk perjalanan tersebut. Sebaliknya mereka memilih untuk membeli makanan dalam jumlah kecil di banyak toko bahan makanan dan toko daging di sekitar area Cherbourg yang lebih besar. Bahan bakar juga ditambahkan ke kapal sedikit demi sedikit hampir setiap hari sehingga, saat kapal semakin berat di dalam air karena bahan bakar, orang-orang sulit untuk melihat perubahannya.

Felix Amiot pemilik galangan kapal Cherbourg. Simpatinya ada pada pihak Israel. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada saat yang sama, permasalahan hukum yang harus diselesaikan berlangsung dengan cepat. Siemm mengirim surat kepada pemilik galangan kapal Cherbourg, Felix Amiot yang berusia 75 tahun, dengan menyatakan minatnya untuk memperoleh empat hingga enam kapal cepat untuk digunakan membantu eksplorasi minyak lepas pantai. “Apakah Amiot memiliki kapal-kapal seperti itu” demikian tanya Siemm. Kebetulan “sekali” karakteristik kapal yang dia cari ternyata “cocok” dengan karakteristik kapal Cherbourg yang dipesan Israel. Amiot segera menjawab bahwa dia memiliki lima kapal yang cocok, dimana pemiliknya mengalami “kesulitan dalam menerima pengiriman”. Kedua surat itu sendiri sebenarnya dirancang oleh Limon. Amiot mengirimkan salinannya kepada Jenderal Louis Bonte, pejabat Prancis yang harus menyetujui penjualannya. Bonte senang dengan prospek menyingkirkan kekacauan yang memalukan dari lima kapal yang diembargo di Pelabuhan Cherbourg – yang buruk bagi citra Prancis sebagai pengekspor senjata yang andal. Dia menelepon Limon untuk memberi tahu dia tentang tawaran Norwegia dan menanyakan apakah Israel siap untuk melepaskan klaimnya atas kapal dan menerima uangnya kembali. “Itu adalah kapal kami,” jawab Limon bersandiwara. “Kami (telah) membayarnya dan kami membutuhkannya.” Namun, dia berkata, dia akan menyampaikan pertanyaan Bonte ke Kementerian Pertahanan di Tel Aviv. Limon dengan cekatan telah memasukkan “sengatnya”. Beberapa hari kemudian, Bonte yang cemas menelepon untuk menanyakan apakah dia sudah menerima balasan. “Belum,” kata Limon. “Aku akan meneleponmu saat aku mendapat jawabannya.” Dia membiarkan beberapa hari berlalu sebelum menelepon Bonte. “Mereka menolak saran saya dan memilih membiarkan kapal itu ‘pergi’. Mereka sudah muak dengan seluruh bisnis yang berlarut ini. ” Dengan ini Komite Antar Kementerian Perancis untuk Ekspor Senjata sepatutnya memberikan persetujuan akhir penjualan kepada pihak Norwegia. 

Pengusaha Norwegia Martin Siemm yang membantu operasi Israel mendapatkan kembali kapal pesanan mereka dari Cherbourg. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada 22 Desember, tiga aktor utama dalam “penjualan” ini – Limon, Siemm dan Amiot – bertemu di Paris untuk menandatangani dua kontrak yang akan dikirim ke kantor Bonte – salah satunya untuk membatalkan kontrak awal yang digunakan Israel untuk membeli kapal dari Amiot, yang lainnya adalah kontrak antara Amiot dan Siemm yang mentransfer lima kapal pesanan ke Oslo dengan harga yang telah dibayar Israel. Transaksi sebenarnya terjadi keesokan harinya. Ketiga pria itu bertemu lagi dan menandatangani satu set perjanjian baru yang membatalkan semua yang telah mereka tanda tangani sehari sebelumnya, mengembalikan situasi ke status quo ante (status sebelumnya). Kapal-kapal itu secara resmi kembali ke tangan Israel meskipun mereka seolah-olah telah dijual ke sebuah perusahaan Norwegia. Dokumen-dokumen ini tidak dikirim ke Bonte; dokumen-dokumen ini dimaksudkan hanya untuk memastikan bahwa ketiga pihak tidak akan memiliki klaim di masa depan satu sama lain terkait penjualan fiktif ke Norwegia. Rencana pelarian, yang tadinya dijalankan  sepenuhnya oleh Mocca Limon, sekarang telah beralih menjadi operasi militer yang dijalankan langsung dari markas angkatan laut Israel. Beberapa kapal-kapal dagang Israel yang biasa melakukan perjalanan rutin ke dan dari Eropa diberitahu oleh markas besar angkatan laut untuk ditempatkan di lokasi dan waktu tertentu sepanjang jalan sejauh 5.600 km rute pelarian dari Cherbourg ke Haifa untuk membantu mengisi bahan bakar kapal kecil dalam perjalanan mereka selama seminggu atau memberikan bantuan lainnya yang dibutuhkan. Instalasi bahan bakar sementara dibangun di atas dua kapal, dan kru mereka dilatih untuk mengisi bahan bakar kapal kecil di laut – yang faktanya tidak semudah kelihatannya. 

Perangkat pensuplai bahan bakar yang ditambahkan pada kapal pendukung Operasi Pencurian kapal dari Cherbourg. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Bahkan ada kursus bahasa singkat untuk memungkinkan awak kapal Cherbourg – para wajib militer muda yang mungkin bisa atau mungkin tidak dapat berbicara bahasa Inggris – untuk berkomunikasi dengan awak kapal sipil di kapal “induk”, yang merupakan campuran orang Israel dan orang asing yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi di antara mereka. Kursus ini mencakup padanan istilah kelautan Ibrani-Inggris. Panjang gelombang radio yang digunakan dalam operasi ini memungkinkan kapal Cherbourg untuk berkomunikasi dengan kapal-kapal kargo yang digunakan. Beberapa hari sebelum Natal, hampir 100 awak angkatan laut Israel dengan pakaian sipil diterbangkan ke Paris dan dikirim dengan kereta api dalam kelompok-kelompok kecil ke Cherbourg, di mana mereka bersembunyi sampai keberangkatan mereka dari pelabuhan. Yang memimpin pelarian dari Cherbourg ini adalah Kapten Hadar Kimche. Dia telah mengatur keberangkatan, yang akan dilakukan pada Malam Natal sekitar jam 8 malam. ketika umumnya warga Cherbourg akan duduk bersama untuk makan malam pada hari libur mereka. Namun, badai yang kuat saat itu sedang mengaduk-aduk Selat Inggris di luar pemecah gelombang, dan bahkan kapal barang besar pun tidak berani keluar. Kelima kapten kapal kemudian berkumpul di kapal Kimche, mendengarkan laporan cuaca dari BBC dan sumber lainnya. Bersama mereka ada petugas galangan kapal, Monsieur Corbinais, yang mengawasi pembuatan kapal. Menjelang tengah malam, dia pergi sebentar untuk menghadiri misa tengah malam di sebuah gereja abad ke-14 di dekatnya. Dia dengan lembut menambahkan doanya sendiri ke dalam liturgi: “Semoga mereka bisa mencapai pelabuhan yang aman.”

Sistem pengisian bahan bakar MV Lea yang menjadi kapal “induk” dari kapal-kapal cepat yang dilarikan dari Cherbourg. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Limon sendiri juga datang untuk melihat kapal-kapal itu diberangkatkan. Dia mendesak Kimche untuk tetap pergi terlepas dari cuacanya. Jika tidak, mereka mungkin akan terjebak selama berhari-hari, dengan bahaya rencana mereka terbongkar setiap saat. Namun, Kimche, bagaimanapun, mengatakan mereka tidak akan bergerak sampai kondisi angin berubah. Terlalu berbahaya bagi mereka sekarang untuk menyeberangi Teluk Biscay. Sebagai komandan kapal, keputusan ada di tangannya, bukan pada Limon. Pada pukul 1:30 pagi, seorang petugas radio yang memantau siaran BBC, datang dengan berita cuaca terbaru: angin barat telah bergeser ke barat laut dan kekuatannya berkurang. Kimche mengatakan mereka akan menunggu siaran jam 2 pagi untuk mengkonfirmasi kebenaran berita itu. Ketika berita itu terkonfirmasi. “Kita (akan) berangkat jam 2:30,” kata Kimche. “Sinkronkan jam tangan Anda.” Para kapten kemudian bergegas ke kapal mereka yang terikat di samping. Saat kapal-kapal bergerak dalam satu barisan, Limon menunggu di dermaga di tengah hujan lebat, kerah mantelnya berdiri tegak, untuk melihat apakah kapal-kapal itu akan berbalik. Setelah setengah jam, dia pergi ke kediaman terdekat milik Amiot dan mengetuk pintu. “C’est moi, Mocca”. kata Amiot, sambil mempersilahkan Limon masuk. “Saya ingin memberi tahu Anda,” kata Limon, “bahwa kapal-kapal telah berlayar.” Amiot menundukkan kepalanya dan menangis. Limon merasakan kelegaan dari orang tua itu karena kontraknya telah dihormati. Amiot menuangkan cognac dan kedua orang itu saling bersulang dan bersulang untuk kapal-kapal yang telah berangkat. Sebelum pergi, Limon mengeluarkan dompet dari saku jaketnya dan menyerahkan cek senilai $ 5 juta kepada Amiot, sebagai pembayaran terakhir. Kapal-kapal terakhir sekarang telah dikirimkan.

MV Netanya, salah satu kapal pendukung operasi. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Jalur pelarian kapal dari Cherbourg ke Haifa. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)
Kapal-kapal yang dilarikan dari Cherbourg tertambat di Pelabuhan Haifa pada tanggal 1 Januari 1970 setelah pelayaran mereka sejauh 3.200 mil. Diluncurkan sebagai kapal patroli, kapal ini diubah menjadi kapal bersenjata rudal di Israel. Dengan panjang hampir 148 kaki, kapal ini biasa berlayar dengan awak 5 perwira dan 30 hingga 35 orang tamtama. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

Kapal-kapal itu bergerak melalui laut yang ombaknya menjulang tinggi dan kadang-kadang kehilangan satu sama lain tetapi semuanya bisa bergabung kembali di lepas pantai Portugal. Karena dilakukan di musim Natal, pelarian mereka diketahui hanya dua hari setelah kepergian mereka oleh jurnalis lokal. Ketika pelarian kapal-kapal itu diketahui, aksi Israel itu segera menjadi sensasi di dunia internasional. Beberapa kru televisi terbang di atas Laut Tengah untuk mencari kapal yang melarikan diri. Yang lainnya terbang ke utara, mengira mereka mungkin dalam perjalanan ke Norwegia. Petunjuk palsu yang disebar oleh Limon sendiri juga menyebutkan Alaska dan Panama sebagai tujuan yang memungkinkan mereka lewati. Menteri pertahanan Prancis yang marah mengusulkan pada pertemuan kabinet agar Angkatan Udara Prancis “mencegah” mereka tetapi Presiden Pompidou menenangkannya dan rencana itu batal dilakukan. Saat lima kapal Cherbourg melewati Gibraltar, pos angkatan laut Inggris di tempat itu menanyakan “Kapal apa?” Kimche tidak menanggapi tetapi orang-orang Inggris, yang sementara itu senantiasa menghargai “semangat Nelsonian”, memberi isyarat “selamat jalan.” Kapal-kapal itu bertemu dengan kapal-kapal pengisian bahan bakar di teluk-teluk yang tersembunyi. Saat mereka mencapai Kreta, sebuah flight dari Pesawat-pesawat Jet Tempur Phantom Israel meraung rendah di atas kepala, mengibaskan sayap menyambutnya. Pada akhirnya mereka tiba di Haifa pada malam Tahun Baru 1970 diiringi sirene dan kerumunan besar orang. Bagi publik Israel, kapal Cherbourg, hanya dianggap sebagai kapal angkatan laut biasa, yang telah menyelesaikan misinya mencapai pelabuhan Israel dengan selamat. Tapi akan dibutuhkan hampir empat tahun sebelum konversi mereka menjadi kapal rudal selesai, dan doktrin taktis dirumuskan serta awaknya dilatih dalam jenis perang yang baru. Kapal-kapal Cherbourg ini kemudian diklasifikasikan sebagai kapal cepat rudal kelas Sa’ar 3.

PERAN PENTING KAPAL CHERBOURG DI MEDAN PERANG

Pertama kali seluruh armada kapal rudal itu terlibat dalam manuver bersama adalah pada minggu pertama bulan Oktober 1973. Kapal-kapal itu kembali ke pangkalan mereka pada pagi hari sebelum hari raya Yom Kippur, tepat sehari sebelum pecahnya perang. Pada malam pertama perang, empat kapal rudal Israel Israel itu menyerang tiga kapal rudal Suriah di lepas pelabuhan Latakia-Suriah dalam pertempuran rudal pertama di lautan. Orang-orang Suriah, seperti yang diperkirakan, menembak lebih dulu. Para pelaut Israel menyaksikan bola api melengkung diatas langit dan kemudian turun langsung ke arah mereka. Semua tahu bahwa setiap rudal Styx yang ditembakkan ke sasaran Israel sampai saat itu selalu mengenai sasarannya – empat yang mengenai dan menenggelamkan Eilat dan dua yang menenggelamkan kapal kayu kecil setahun kemudian. Kehidupan para kru kini tergantung pada perkiraan Tzemah tentang kemampuan Styx. Pada detik-detik terakhir lintasan mereka, rudal-rudal itu menyerah pada “kekuatan tak terlihat” yang menarik mereka dan jatuh ke laut, saat kapal-kapal Israel mengaktifkan perangkat elektronik penangkal. Kapal buatan Soviet di armada negara-negara Arab tidak memiliki pertahanan elektronik seperti itu. Kapal-kapal Israel yang ada di lepas pantai Latakia dari jarak dekat menembak dan menghancurkan dua kapal rudal serta dua kapal perang Suriah lainnya dengan rudal Gabriel. Kapten kapal rudal Suriah ketiga, menyaksikan apa yang terjadi pada rekan-rekannya, dan tanpa rudal yang tersisa membawa kapalnya ke pantai sehingga dia dan krunya dapat melarikan diri. Dua malam kemudian, tiga kapal rudal Mesir tenggelam di dekat Aleksandria. Erell, yang meninggal tahun 2018, sedang berada di Eropa saat perang meletus. Dia kemudian kembali ke Israel, dan bergabung dengan armada laut Israel selama salah satu malam saat menyerang pantai Suriah. Dia terpesona oleh cara para kaptennya – salah satunya adalah putranya sendiri, Udi – yang mengoordinasikan gerakan mereka, meskipun penuh ketegangan dan tampak kebingungan dalam pertempuran malam hari ditengah kecepatan 40 knot. Kapal-kapal Israel menyapu pelabuhan Suriah dengan tembakan dan berlayar didekat pelabuhan, mencoba untuk memancing kapal-kapal perang Suriah keluar. Tentara Suriah tidak keluar, tetapi ada tembakan dari artileri pantai dan terkadang rudal ditembakkan dari dalam pelabuhan mereka. Kapal-kapal itu tampak meluncur berbelok-belok menghindari percikan air akibat tembakan lawan di permukaan laut. Sementara itu di sepanjang pantai, tangki-tangki minyak terbakar oleh tembakan kapal-kapal Israel. 

INS Hanit, kapal kelas Sa’ar 3, salah satu kapal yang dilarikan dari Cherbourg. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Dari arah Tartus ke selatan, empat bola api tiba-tiba muncul di langit, menuju ke arahnya seperti pesawat dalam formasi. Erell membatu; tetapi yang lain yang sama-sama ada di anjungan, mereka berhasil menyembunyikan diri. Mereka mulai membawa kapalnya berbelok, kata seorang perwira di anjungan.  Bagi Erell, sepertinya cahaya masih bergerak di antara matanya. Tetapi para perwira di anjungan, dengan dua minggu pengalaman tempur, tahu apa yang harus dilakukan. Sejak hari keempat perang, armada kapal negara-negara Arab tidak keluar dari pelabuhan. Sementara itu, tidak ada kapal Israel yang terkena tembakan dalam perang 18 hari tersebut, dan jalur perkapalan ke Haifa tetap terbuka untuk membawa masuk perbekalan yang sangat dibutuhkan. Lebih dari 100 kapal kargo akan mencapai Haifa dengan selamat selama perang dengan kargo yang mereka bawa. Sebagai sebuah negara dengan hanya sedikit tradisi maritim, pangkalan industri yang terbatas dan populasi hanya tiga juta – setengah dari Kota New York pada saat itu – telah berani menantang persenjataan canggih buatan negara adidaya (Soviet) di laut dan mencapai kemenangan total, dengan memperkenalkan teknologi baru yang membawa pertempuran laut dalam era yang baru adalah prestasi yang luar biasa. Sementara saat orang-orang Israel yang trauma mencoba memahami apa yang terjadi dengan angkatan darat dan udara yang kerap mereka banggakan di Perang Yom Kippur, performa gemilang angkatan lautnya sayangnya tidak banyak diperhatikan. Butuh waktu dua tahun sebelum performa angkatan laut mereka yang sukses dalam perang diumumkan di forum publik.

Sekuen Pertempuran Latakia 7 Oktober 1973. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)
Kapten Shlomo Erell, salah satu saksi mata pertempuran Latakia. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

Tapi banyak angkatan laut dunia telah memperhatikannya. Amerika Serikat, yang sangat menaruh perhatian dengan tenggelamnya kapal Eilat dan karena apa yang mungkin ditimbulkannya bagi mereka juga, mengirim tim angkatan laut yang besar untuk menanyai Israel. Pemeriksaan yang dilakukan termasuk analisis komputer dari hantaman rudal. AS kemudian telah menginvestasikan sejumlah besar uang dalam membuat sistem anti rudal kapal perang, sedangkan Israel telah bekerja luar biasa dengan sistem yang tampaknya lebih sederhana, sehingga orang-orang Amerika takjub bahwa sistem itu berhasil. Tim dari Amerika termasuk Laksamana Julian Lake, salah satu ahli perang elektronik terkemuka di dunia. Dia telah mempelajari sistem EW di sejumlah negara sekutu di seluruh dunia. Dia lalu memberi tahu seorang reporter bahwa cara Angkatan Laut Israel menganalisis sifat ancaman yang dihadapi dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memecahkan masalah “memperlihatkan salah satu contoh yang jelas [dalam pengembangan sistem persenjataan modern] di mana semuanya dilakukan dengan Baik.” Kapal rudal milik Israel – kalah jumlah dan kalah jangkauan senjata dengan kapal rudal dari negara-negara Arab – telah menyapu kawasan Mediterania Timur dari kapal musuh, menjaga jalur laut ke Haifa tetap terbuka, mencegah serangan di pantai-pantai Israel yang rentan, menenggelamkan setidaknya delapan kapal perang negara-negara Arab, termasuk enam kapal rudal, mendatangkan malapetaka di konsentrasi tangki-tangki minyak di sepanjang pantai Suriah dan menarik pasukan darat Arab jauh dari medan perang utama untuk menghadapi ancaman pendaratan komando. Hebatnya semua ini dilakukan tanpa kehilangan satupun personel atau kapal. (Kecuali dua pasukan katak Israel yang tewas saat berupaya menembus pelabuhan Port Said, dan dua awak kapal patroli yang tewas dalam bentrokan di Laut Merah.) 

Rudal anti kapal Gabriel keluar dari tabung peluncurnya. Meski memiliki jangkauan lebih pendek dari rudal Styx, namun kapal yang dilengkapi dengan rudal Gabriel didukung oleh perangkat penangkal perang elektronik. (Sumber: https://br.pinterest.com/)
Salah satu ‘Kapal Cherbourg’, INS Mitvach, dipamerkan di Museum Imigrasi Klandestin dan Angkatan Laut di Haifa. (Sumber: Amanda Borschel-Dan/Times of Israel/https://www.timesofisrael.com/)

Sementara itu kapal-kapal rudal Israel berhasil menghindari total 54 rudal Styx yang ditembakkan ke arah mereka, serta ratusan peluru yang ditembakkan oleh baterai artileri pantai selama serangan malam yang mereka lakukan. Pengembangan kapal dan rudal Gabriel kemudian memacu Israel ke era teknologi tinggi di mana sebagian besar ekonominya di masa depan akan bertumpu pada hal tersebut. Proyek Cherbourg adalah merupakan penegasan kembali dari aset paling berharga dari sebuah bangsa yang terkepung – yakni tekad seluruh bangsa itu sendiri. Yang ditunjukkan dari bagaimana mereka memahami dan menjalankan sesuatu yang sangat tidak ortodoks dan berisiko; dalam dedikasi yang diinvestasikan lewat program pengembangan Shalechet; dalam ketangguhan hati yang membuat kapal-kapal itu berhasil dilarikan dari Cherbourg dan kemudian dikerahkan untuk melawan serangan rudal-rudal Styx, Operasi “Cherbourg” menunjukkan bahwa semangat dan kekuatan hidup bangsa Israel belum hilang. Di sisi lain, meski pemerintah Prancis marah atas aksi “pencurian” kapal-kapal itu, sebagian besar publik Prancis memuji orang-orang Israel atas keberanian mereka, hal ini terlihat dari jajak pendapat publik Prancis, dan begitu pula dari apa yang disampaikan dari hampir semua media Prancis. Embargo, mereka sadari, tidak diberlakukan karena kerugian yang telah diakibatkan aksi Israel terhadap Prancis, tetapi lebih karena kecondongan politik Presiden Charles de Gaulle yang mendekat ke dunia Arab setelah penarikan kekuatan dari Aljazair. Satu-satunya pembalasan yang dilakukan Prancis terhadap Israel adalah mereka menuntut Limon agar ditarik kembali dari Perancis. Banyak orang di Israel berpikir bahwa dia akan dinyatakan sebagai persona non grata, yang akan melarang dia masuk kembali bahkan sebagai turis. Penarikan langsung ternyata tidak membawa sanksi sampai sejauh itu. Setelah kembali ke Israel, Limon menjadi perwakilan lokal Baron Edmond de Rothschild dari Prancis, yang memiliki kepentingan bisnis yang luas di Israel. Hubungan Limon dengan House of Rothschild akan menjadi lebih intim ketika putrinya menikah dengan salah satu anggota keluarga Rothschild. Limon menunda kepulangannya ke Prancis selama setengah tahun tetapi akhirnya terbang ke Paris untuk menghadiri pertemuan bisnis. Dengan sedikit ketakutan, dia mendekati petugas pengawas paspor di bandara yang memeriksa paspornya selama beberapa waktu. Petugas itu membalik halaman, melihatnya ke samping, dan kemudian menatap pria jangkung itu. “Anda Admiral Limon?” Dia bertanya. Limon mengakui identitasnya. Petugas itu bangkit dan membuka partisi kaca. “Selamat”, katanya sambil menjabat tangan Limon.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The story of the ‘stolen’ missile boats Israel used in the Yom Kippur War By ABRAHAM RABINOVICH; DECEMBER 21, 2019 20:36

https://www.google.com/amp/s/m.jpost.com/israel-news/the-story-of-the-stolen-missile-boats-israel-used-in-the-yom-kipur-war-611433/amp

The Cherbourg Boats

http://archive.jewishagency.org/secret-service/content/25328

How Israel became a naval startup nation with the famous boats of Cherbourg By ABRAHAM RABINOVICH; 17 April 2018, 10:13 am

https://www.google.com/amp/s/www.timesofisrael.com/how-israel-became-a-naval-start-up-nation-with-the-famous-boats-of-cherbourg/amp/

Israel Military Intelligence: The Boats of Cherbourg by Abraham Rabinovich

https://www.jewishvirtuallibrary.org/the-boats-of-cherbourg

Five Gunboats, Embargoed by French, Speeding Across Mediterranean to Haifa, December 29, 1969 5:00 am

https://www.google.com/amp/s/www.jta.org/1969/12/29/archive/five-gunboats-embargoed-by-french-speeding-across-mediterranean-to-haifa/amphttps://en.m.wikipedia.org/wiki/Cherbourg_Project

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *