30 Januari 1971: Pertempuran Terakhir Pleton Zulu US Navy SEAL di Vietnam

Pada awal tahun 1970, Amerika Serikat telah memutuskan untuk memulangkan semua pasukan tempurnya dari Vietnam secara bertahap dan kemudian menyerahkan tanggung jawab militernya di Vietnam kepada tentara Vietnam Selatan. Pada bulan Februari, Henry Kissinger telah melakukan negosiasi rahasia dengan pihak komunis Vietnam untuk mencari solusi damai. Sementara itu, di Kamboja, dimana Vietcong dan NVA membuat persembunyian dan menimbun perbekalan, diluar jangkauan militer konvensional Amerika, Pangeran Norodom Sihanouk, telah dikudeta oleh Jenderal Lon Nol yang pro Amerika. Di Amerika sendiri, demonstrasi anti perang Vietnam besar-besaran pecah di wilayah barat Amerika, termasuk di ibukotanya Washington DC. Dengan jumlah pasukan Amerika di Vietnam semakin berkurang, unit-unit Pasukan Khusus terus melakukan aktivitasnya membantu sekutu Vietnam Selatannya dalam menjaga keamanan. Bagi satuan US Navy SEAL, itu berarti misi-misi sibuk di hutan-hutan mangrove dan kanal-kanal di seluruh Vietnam Selatan melawan musuh yang sama yang mereka perangi selama bertahun-tahun. Umumnya mereka bekerja di malam hari, namun ada kalanya hal itu harus dilakukan di siang hari, seperti yang dialami oleh Letnan Grant Telfer berikut ini.

Sekitar 300 tentara dari Divisi Infanteri ke-9 yang dijadwalkan untuk diberangkatkan meninggalkan Vietnam Selatan berbaris untuk naik pesawat menuju Hawaii, 27 Agustus 1969. Pada tahun 1970, Presiden Nixon semakin mempercepat penarikan tentara Amerika dari Vietnam, satuan yang tersisa lebih ditugaskan untuk membantu pasukan Vietnam Selatan yang menggantikan peran mereka. (Sumber: AP/https://www.wbur.org/)

GRANT TELFER

‘Itu adalah operasi yang konyol,’ kata Lieutenant Commander Angkatan Laut AS Grant Telfer. ‘Kami telah menjalani seluruh masa penugasan enam bulan tanpa ada yang terluka.’ Selama ini anggota pletonnya telah melaksanakan tugas nyaris tanpa cela dan berjalan lancar, misalnya pada 23 September 1970, anggota Pleton Zulu dari SEAL TIM ONE bersama dengan 2 personel SAS Australia dan 5 anggota UDT (Underwater Demolition Team) berhasil menemukan pabrik senjata besar milik musuh secara utuh (berasal dari informasi pembelot) beserta mesin-mesinnya yang masih operasional di kawasan hutan Nam Can. Dalam aksi itu, 3 VC terbunuh dan 350 senapan serbu, serta beberapa senapan mesin, ranjau, granat dan peluru mortir berhasil ditemukan. Namun pada menit terakhir, tak lama sebelum anggota Pleton Zulu dari satuan SEAL (sea-air-land) Telfer dijadwalkan kembali ke Amerika pada bulan Januari 1971, bencana melanda. Untuk lima anggota SEAL dari satuan itu, perjalanan pulang mereka akan tertunda. Faktanya, tiga dari mereka akan mampu hidup hanya karena keajaiban medis. Telfer sendiri akan menjadi salah satu saksi mata kisah keajaiban itu. Lahir pada bulan Juli 1941 di Seattle, Washington, Telfer dibesarkan di daerah itu, ia lulus dari Seattle University Preparatory School dan kemudian mengikuti pendidikan di Akademi Angkatan Laut. Dia banyak melakukan aktivitas ski di tempat-tempat seperti Stevens Pass, dekat Seattle, pergi bermain American football (defensive guard) dan Telfer juga merupakan perenang yang kuat. Telfer ingat bahwa dia sering berenang dari Beaux Arts, di Danau Washington, ke Pulau Mercer, sebuah perjalanan pulang pergi sekitar dua mil. Tidak seperti banyak anggota SEAL lainnya, dia tidak belajar menembak atau berburu saat masih muda. Di Akademi Angkatan Laut, Telfer menghabiskan sebagian besar tahun pertamanya belajar di bawah selimut dengan senter di asrama. Pengalaman itu mungkin berkontribusi pada berkurangnya penglihatan di mata kanannya, yang menghasilkan julukan, ‘Cyclops’ baginya. Penglihatan malamnya yang berkurang menjadi nol, membuatnya sukar menembak kecuali dia memakai kacamata. 

Tipikal penampilan personel US Navy SEAL dalam Perang Vietnam, nampak pada gambar 4 orang prajurit membawa senapan mesin modular Stoner 63 yang menjadi salah satu icon senjata personel SEAL dalam Perang Vietnam. (Sumber: https://www.sealtwo.org/)
Senjata recoilless M18 kaliber 57 mm. Dalam Perang Vietnam kedua belah pihak menggunakan senjata recoilless. Seperti layaknya satuan khusus lainnya, setiap personel Navy SEAL diwajibkan untuk bisa mahir menggunakan senjata standar kawan maupun musuh. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

Selama pelatihan SEAL-nya, Telfer merasa hampir tidak mungkin untuk bisa menembakkan setidaknya satu senjata yang kerap digunakan oleh Viet Cong (VC) – senjata recoilless 57mm – karena lokasi pembidiknya. Telfer tidak dapat menembakkan senjata seperti itu tanpa menggunakan kacamata, namun dia tidak dapat menggunakan kacamata dalam kondisi pertempuran karena dapat menjadi kotor dan mempengaruhi keahlian menembaknya atau karena cahaya dapat dipantulkan dari lensa dan bisa memperingatkan musuh akan kehadirannya. Patut dihargai kegigihan dan ketelitian Telfer yang, terlepas dari mata kanannya, dia tetap bersikeras untuk dapat menjalankan operasi di malam hari. Pada akhir bulan Januari 1971, Telfer tidak terlalu senang dengan operasi-operasi terakhir peletonnya. Dia lebih suka bekerja pada malam hari, tetapi semua operasi yang telah diikuti Pleton Zulu selama bulan itu dilakukan di siang hari. SEAL dalam kurun waktu itu telah mendukung upaya pemukiman kembali warga sipil Vietnam selama beberapa minggu sebelumnya.

MEMPERSIAPKAN MISI TERAKHIR

Selama periode terakhir tahun 1970, pemerintah Vietnam Selatan telah memutuskan untuk memukimkan kembali warga provinsi An Xuyen, yang terletak di wilayah berpenduduk jarang dan kerap diteror VC di sebelah timur Nam Can, di Semenanjung Ca Mau. Peleton Zulu Telfer bermarkas di Solid Anchor, yakni daerah pangkalan Korps Zeni Sipil Angkatan Laut di wilayah Nam Can yang rusak parah. Pleton Zulu bertugas sebagai pasukan keamanan untuk mendukung pemukiman kembali warga sipil Vietnam ke kompleks tempat tinggal baru mereka di dekat Nam Can. Pemerintah Vietnam memindahkan orang-orang dan harta benda mereka pada siang hari, dan prajurit-prajurit SEAL mulai menjalankan operasi di siang hari untuk mendukung proses pemukiman kembali tersebut. Pleton Zulu kerap melakukan beberapa operasi menggunakan helikopter angkut milik Angkatan Laut untuk melakukan pendaratan siang hari di daerah yang dikenal sebagai ‘perkebunan’, di sebelah timur Nam Can. Prajurit-prajurit SEAL, bersama dengan Tentara Republik Vietnam (ARVN) dan pasukan lokal, bertugas untuk mencegah para petempur gerilya VC mengganggu proses pemindahan warga. Terlatih dan memang dikondisikan untuk melakukan misi klandestin, beberapa anggota Pleton Zulu menjadi tidak nyaman bekerja dalam operasi terbuka. Bagi SEAL, sepertinya pendaratan helikopter di siang hari akan memberitahukan tentang operasi yang mereka lakukan, termasuk pada musuh. Telfer meringkas keprihatinan mereka dengan cara yang bersahaja: ‘Sulit untuk menjadi (sebuah operasi) klandestin di siang hari bolong.’ 

Nam Can di Semenanjung Ca Mau, Vietnam Selatan merupakan markas dari Pleton Zulu US Navy SEAL dalam Perang Vietnam akhir tahun 1970. (Sumber: https://warontherocks.com/)

Peleton Zulu telah menjalankan salah satu misi dukungan pemukiman kembali pada tanggal 28 Januari. Mereka tidak banyak mendapat perlawanan selama patroli keamanan mereka, karena SEAL telah mengembangkan teknik rutin untuk operasi pembersihan di siang hari. Para anggota peleton telah mengemasi sebagian besar perlengkapan mereka untuk bersiap kembali ke Amerika Serikat dan sedang menjalani periode yang dikenal sebagai periode “stand down”, atau menghindari terlibat dari operasi-operasi berisiko yang mengancam nyawa. Dalam seminggu, mereka berharap, semua orang akan bisa pulang dengan selamat. Namun orang-orang Vietnam kemudian meminta agar mereka melakukan patroli keamanan tambahan, dan Telfer mulai merencanakan penyisiran pengamanan di siang hari. Dia lalu mendekati komandan Seawolves, sebuah detasemen helikopter serang ringan Angkatan Laut di Solid Anchor, dan mempersiapkan dua helikopter Seawolf untuk bisa digunakan sebagai pendukung tembakan selama misi. Pada malam hari tanggal 29 Januari, Telfer dan Letnan J.G. Nelson, komandan dari dua helikopter Seawolves yang tersedia untuk operasi tersebut, minum bir dan melanjutkan perencanaan penyisiran yang akan mereka lakukan. Pada malam yang sama, Telfer mengeluarkan perintah peringatan siap sedia kepada peletonnya. Dia menugaskan lima personel SEAL untuk mempersiapkan operasi dan membuat daftar peralatan wajib untuk mereka bawa. Telfer juga memberlakukan pembatasan minum maksimal tiga bir pada anak buahnya untuk malam itu. Dia dan para prajurit yang akan bergabung dengannya pada misi hari berikutnya semuanya dalam keadaan sehat, tanpa penyakit yang mungkin mengurangi efisiensi mereka. Semangatnya tinggi karena orang-orang itu tidak menderita korban dan telah beroperasi secara efektif pada sekitar 58 misi sebelumnya. 

ARROYO TERTEMBAK

Sekitar jam 09.30 pada tanggal 30 Januari 1971, Telfer dan Nelson pergi bersama untuk mencari helikopter pengangkut untuk membawa pasukan SEAL di kompleks VC yang dicurigai, yang terletak kira-kira satu mil di utara Sungai Cai Ngay. Pendekatan mereka untuk bisa menemukan helikopter transport untuk misi tim dilakukan secara informal. Kedua perwira itu tahu bahwa sebuah helikopter tiba dengan surat setiap hari dari Binh Thuy, lebih jauh ke utara. Mereka juga tahu bahwa pengiriman surat bukanlah tugas paling menarik yang dikerjakan di Vietnam. Oleh karenanya, Telfer tidak mengalami kesulitan meyakinkan pilotnya, Letnan j.g. Dyer, dimana akan lebih menarik buatnya untuk mengirimkan pasukan SEAL ke titik penugasan mereka daripada sekedar melanjutkan rute pengiriman surat seperti biasa. Sekitar tengah hari, Telfer memberitahukan perintah patrolinya kepada lima personel SEAL dari action squad. Dia juga meminta para pilot helikopter untuk turut menghadiri briefing yang sama untuk memastikan bahwa semua orang yang terlibat dalam misi akan mendapat informasi dengan baik. Dia meminta tim untuk membawa amunisi yang relatif ringan dan beberapa material penghancur, sehingga mereka dapat secara selektif menghancurkan beberapa struktur bangunan VC. 

Helikopter Huey yang menjadi icon dalam Perang Vietnam. Selama Perang Amerika bisa mengerahkan ribuan helikopter dalam satu waktu di seluruh Vietnam, namun bagi satuan khusus kecil semacam Navy SEAL mereka tidak memiliki satuan helikopter khusus untuk mendukung satuan mereka, sehingga untuk transport dan helikopter serang, mereka membutuhkan dukungan dari satuan lain. (Sumber: https://www.themodellingnews.com/)

Pada pukul 1330, regu yang terdiri dari enam orang lepas landas dengan helikopter dari pangkalan di Nam Can. Telfer mungkin bisa saja membawa lebih dari lima orang bersamanya, tetapi helikopter itu memiliki batasan berat yang ketat dan hanya dapat menampung enam personel Amerika. Melalui langit yang cerah, helikopter menuju ke arah timur laut selama kurang lebih 20 kilometer perjalanan ke titik pendaratan. Sekitar satu mil dari tempat mereka berencana untuk mendarat, Gary Lawrence, personel bersenjata otomatis yang duduk di sebelah Telfer, mengguncang dia dan berteriak karena suara helikopter, ‘Arroyo tertembak!’ Telfer tidak mendengar ada suara tembakan. Berpikir bahwa Marcus Arroyo, petugas radio, pasti menghantam peralatan di helikopter, Telfer berteriak kembali dengan terkejut, “Dia tertembak apa? ” Dia kemudian melirik ke arah Arroyo dan menyadari bahwa petugas radio itu jelas-jelas tertembak tembakan. Donald Futrell, personel bersenjata otomatis lainnya, membawa peralatan medis yang besar. Dia dan Lawrence mulai membantu Arroyo. Pria yang terluka itu memiliki luka akibat dua peluru AK-47 kaliber 7.62mm di bahu kirinya. Kedua rekannya itu melepas rompi dan kemeja Arroyo serta membalut lukanya dengan kompres. Setelah kejutan pertama, saat rasa sakit mulai meningkat, mereka memberinya suntikan morfin. Sementara itu, Telfer telah memberi isyarat kepada pilot helikopter untuk memutar helikopter dan kembali ke pangkalan di Nam Can. Mereka kemudian mengantarkan Arroyo ke ambulans yang menunggu di Nam Can. Para personel SEAL itu terkejut dan marah karena mereka telah mengalami korban serius pertama mereka dalam enam bulan. Serangan itu juga memiliki karakteristik yang aneh, hampir supernatural. Setelah pencarian intensif, awak helikopter dan petugas pemeliharaan tidak dapat menemukan lubang peluru di helikopter. Namun dua peluru dari senapan AK-47 memang mengenai Arroyo hanya beberapa inci satu sama lain. Peluru rupanya telah memasuki helikopter melalui salah satu dari dua pintu yang terbuka di kompartemen penumpang, berhasil membuat luka, setidaknya merupakan hal yang aneh dan absurd secara statistik. 

Helikopter tempur Angkatan Laut Amerika, Seawolf, merupakan helikopter Huey Gunship yang bertugas memberikan dukungan udara bagi misi-misi Angkatan Laut di Vietnam, seperti pengamanan jalur sungai hingga membantu misi satuan khusus macam Navy SEAL. (Sumber: http://www.seaforces.org/)

Saat Arroyo ada di ambulans, dia berhasil berteriak kembali kepada anggota tim lainnya, ‘Bagaimana kalau membelikan saya satu?’ Pada saat itu, operasi mulai membawa ke arah baru yang emosional. Bahwa sesuai dengan pedoman SEAL begitu mereka diserang oleh tembakan, mereka harus mundur dan tidak (akan) kembali ke area yang sama. Tapi Telfer dan anak buahnya secara unik mulai frustrasi dengan operasi ini. Operasi tanggal 30 Januari adalah yang terakhir yang mungkin mereka lakukan selama tur mereka di Vietnam. Balas dendam dalam bentuk apa pun terhadap VC yang menembak Arroyo harus dilakukan hari itu, atau tidak sama sekali. Personel Pleton Zulu bertindak karena dorongan emosi saat mereka memutuskan lepas landas untuk kedua kalinya. Telfer memutuskan bahwa mereka harus mendarat di titik di mana Arroyo terkena serangan. Bersamaan dengan pilot dan awak helikopter transport, personel tim SEAL itu telah menentukan bahwa peluru yang ditembakkan pasti berasal dari tanggul yang tertutup pohon dan rumput sekitar satu mil di sebelah barat tujuan awal mereka. Telfer memerintahkan dua helikopter tempur Seawolf, yang dipimpin oleh Letnan Nelson, untuk bersiap-siap menembak ke arah tanggul dari selatan ke utara. Personel SEAL kemudian akan mendarat di sebelah barat tanggul di sebelah tanggul lain yang sejajar dengan tempat yang dicurigai. 

NIAT MENUNTUT BALAS

Hilangnya Arroyo jelas sangat mengurangi daya tembak pasukan dan kemampuannya untuk berkomunikasi. Arroyo biasa membawa senapan komando CAR-15 (M-16A1 yang dimodifikasi dengan laras lebih pendek dan popor logam pendek yang dapat dipanjangkan menurut kebutuhan) yang dikombinasi over-and-under dengan peluncur granat kaliber 40mm serta ia sekaligus juga membawa perangkat radio tim. Telfer telah meminta wakilnya di Pleton Zulu, Lt. j.g. Thomas Richards, yang membawa senapan mesin ringan Stoner 63, untuk menemaninya dalam patroli tersebut. Selain membawa senapan mesin ringan, Richards juga turut membawa radio regu, model PRC-77. Dia telah bertemu dengan helikopter tim ketika mereka tiba dengan Arroyo yang terluka dan tanpa perlu banyak disuruh, ia segera menemani tim. Sekitar 15 menit setelah lepas landas dari Nam Can untuk kedua kalinya, skuad SEAL mendekati tujuan barunya dari arah barat daya. Helikopter itu mendaratkan pasukan Telfer pada pukul 1430 di sebuah sawah terbuka dan kering sekitar 250 meter barat daya tanggul tempat tembakan datang pada penerbangan sebelumnya. Tim dukungan tembakan ringan Seawolf – dua helikopter gunship di bawah pimpinan Nelson – berada terbang hanya beberapa menit dari tempat itu untuk bisa memberikan dukungan tembakan jika diperlukan. Pendaratan berjalan mulus. Tim SEAL Telfer segera menjauh dari helikopter transport menuju tanggul yang berjarak sekitar 50 meter di timur laut. 

Senapan CAR-15 XM177 yang dikombinasi dengan peluncur granat 40 mm. (Sumber: https://fi.pinterest.com/)

Tembakan senjata kecil mulai mengenai daerah sekitar regu segera setelah orang-orang itu mulai bergerak ke utara, menaiki tanggul yang menghalangi. Tembakan yang ditujukan ke arah mereka, cukup berat dan jelas berbahaya, dan itu berasal dari tanggul yang menjadi target mereka, yang sekarang berjarak sekitar 150 meter dari posisi peleton. Telfer ingat bahwa tembakan tampaknya sebagian besar berasal dari senapan serbu AK-47. Tembakan seperti itu biasanya adalah pertanda buruk. Hal itu menimbulkan kecurigaan bahwa ada Pasukan Utama VC atau unit lokal yang bersenjata lengkap yang terlibat disana. Di sisi lain, tim SEAL tidak mendengar tembakan senapan mesin, dan tidak adanya tembakan (senapan mesin) semacam itu biasanya juga adalah pertanda baik. Telfer kemudian menghubungi tim helikopter Seawolves di radio PRC-77 dan meminta untuk dilakukan serangan besar-besaran dari selatan ke utara di tanggul tempat VC diperkirakan berada. Helikopter-helikopter Seawolf kemudian segera “menampilkan pertunjukan” yang bagus. Setiap helikopter gunship membuat satu kali rangkaian tembakan roket dan minigun (senapan mesin berkecepatan sangat tinggi yang mampu menembak hingga 6.000 peluru per menit). Telfer kemudian ingat melihat pohon palem di dekat posisi VC berada terangkat ujung-ujungnya ke udara. Wajah Futrell terkena pecahan selongsong dari roket atau potongan pohon palem. Kebisingan, asap dan puing-puing yang dihasilkan dari serangan Seawolf sangat mengesankan, dan tembakan dari VC kemudian berhenti. 

Prajurit Amerika dengan perangkat radio PRC-77 di Vietnam, 16 Oktober 1969. Bagi Tim Kecil US Navy SEAL, petugas radio memegang peran kunci komunikasi satuan dengan satuan-satuan pendukung tempur, termasuk satuan heli serbu. (Sumber: https://www.cryptomuseum.com/)
Helikopter Seawolf dilengkapi dengan senapan mesin dan peluncur roket, cukup mampu untuk menghajar posisi-posisi musuh yang tersembunyi di dalam hutan. (Sumber: http://www.seaforces.org/)

Melalui radio, Nelson memberitahukan dari helikopter gunship nya bahwa dia dapat melihat dua VC tergeletak di tempat terbuka, tidak bergerak dan tampaknya mati, tepat di sebelah timur garis tanggul. Dia juga bisa melihat adanya senjata di dekat mereka, serta setidaknya satu VC melarikan diri ke utara, jauh dari daerah tersebut. Dalam retrospeksi, laporan Nelson mewakili titik krusial dari operasi tersebut. Tim SEAL telah terdeteksi dan ditembaki, disini Telfer dihadapkan pada kemungkinan bahwa dia bisa saja memindahkan pasukannya saat itu juga daripada menempuh bahaya. Tapi ada dua hal mengganggunya. Pertama, dia ingin bisa melaporkan mengenai beberapa bukti nyata akan korban dan kerusakan yang diderita VC saat bertemu Arroyo nantinya dan anggota skuad lainnya. Kedua, dia karena didorong oleh laporan Nelson tentang adanya dua VC yang tewas dan satu lari keluar dari area tersebut, ia ingin menghabisinya juga. Telfer kemudian memerintahkan komandan Seawolf untuk menangani VC yang tampaknya melarikan diri ke arah utara. Pemimpin patroli itu lalu memindahkan timnya perlahan-lahan ke utara di sepanjang tanggul yang tertutup rumput yang sejajar dengan apa yang dia perkirakan adalah posisi bekas tanggul VC, sekitar 50 meter ke timur. Dia puas dengan mood skuadnya. Sepertinya tidak ada yang bisa menahan mereka dan mereka tidak memiliki firasat akan adanya bencana. Sebaliknya, James Rowland, point man (prajurit yang berjalan memimpin di depan sebuah satuan yang sedang bergerak), berkata, ‘Ayo kita kejar mereka, Tuan T.’ Telfer kemudian menjawab: ‘Jangan terlalu yakin mereka semua sudah mati. Jaga interval patroli Anda. Kita tidak perlu tergesa-gesa untuk pergi ke sana. ” 

DISERGAP VC

Hari itu hangat, tidak terlalu lembab, dan awan putih mengembang di langit. Patroli itu bergerak ke utara sepanjang tanggul beberapa meter lagi dan kemudian berbelok ke kanan ke tanggul lain yang membentang langsung ke timur menuju posisi VC yang sunyi dan tampaknya kosong. Rowland keluar dari tanggul penghubung dan perlahan mulai menyeberang. Tidak ada yang terjadi sampai Oliver Hedge, personel keamanan belakang, melangkah keluar menuju ke tanggul yang sama. Rowland pada saat itu berjarak sekitar 20 meter dari tanggul VC. Telfer, yang berada sekitar 6 meter di belakang pointman-nya, tidak mendengar apa-apa selain melihat Rowland tiba-tiba berputar ke kanan, menghadap hampir ke belakang, dan kemudian jatuh ke sawah yang kering. Peluru yang menghantam Rowland telah melewati dari sisi kiri ke kanan melalui perutnya dan keluar dari sisi kanan punggungnya, bersarang di dalam blok bahan peledak plastik C-4 yang dibawanya. Ajaibnya, proyektil itu tidak melubangi satu organ pun saat melewati tubuhnya. Saat dia berguling di tanah, dia terkena satu peluru lagi, kali ini di belakang. Meskipun terluka parah, Rowland akan selamat. Rowland rupanya terkena peluru dari senapan semi-otomatis asal Soviet, Simonov SKS kaliber 7.62mm atau pistol buatan Soviet Tokarev Type 51. Peleton yang masih tersisa sekarang segera berada di bawah tembakan keras dari VC dengan senjata serupa dan senapan serbu AK-47, sementara musuh bersembunyi di tanggul yang tertutup pohon dan rumput di depan tim patroli SEAL. Alih-alih menjatuhkan diri ke tanah dan mulai menembak, Telfer secara naluriah melangkah maju untuk membantu Rowland. Setelah bergerak sekitar empat kaki, pemimpin peleton itu terkena peluru arah kiri yang membuatnya berputar ke kanan dan masuk ke sawah. Dia bergabung dengan Rowland di sana, berbaring tengkurap. 

Senapan SKS/Type-59 Carbine, salah satu senjata yang kerap digunakan Vietcong dalam Perang Vietnam. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Seperti luka yang diderita Rowland, luka Telfer juga tidak biasa. Peluru AK-47 kaliber 7.62mm yang mengenai Telfer memasuki lutut kirinya dari sebelah kiri tanggul, menjatuhkannya dari tanggul dan membuatnya masuk ke sawah. Alih-alih hanya melubangi lutut, proyektil berat itu hampir membunuh Telfer dengan mengubah arah 90 derajat dan meluncur langsung ke atas paha kiri perwira muda itu, ke sisi kiri selangkangannya, di mana ia berubah arah lagi untuk melewati selangkangan menuju ke kaki kanan, dan akhirnya berhenti pada arteri femoralis. Jika peluru itu menembus setengah inci lagi, Telfer akan mati. Hebatnya, dia praktis tidak merasakan sakit pada awalnya. Namun, dalam beberapa detik, kedua kakinya mulai mati rasa. Telfer merangkak kembali ke tanggul yang baru saja dia naiki, bermaksud untuk menemukan arah tembakan musuh dan membalasnya dengan tembakan ala SEAL. Pergerakannya ke atas tanggul itu sukar namun profesional, sebuah tindakan ofensif yang agresif. Telah terluka di kedua kaki dan perut bagian bawah, dia bisa saja – tanpa mengambil resiko untuk dikritik – menyerahkan komandonya kepada Richards, wakilnya, dan berkonsentrasi untuk melakukan apa yang dia bisa untuk membela dirinya sambil berbaring di tanah di sawah. Saat Telfer kembali ke tanggul, Richards muncul dengan radio tim patroli, dan pasangan itu segera memanggil helikopter pengangkut untuk segera membawa mereka keluar dari lokasi sekitar 80 meter di belakang mereka dan ke arah barat. Area ekstraksi itu berada di sawah kering yang luas, ditutupi oleh tanggul besar di belakang mereka. Proyektil senjata kecil terus menghantam dan berhamburan di sekitar mereka. Saat peluru mulai menembusi tanah di dekatnya, kedua perwira itu menyadari bahwa tembakan VC datang tidak hanya dari sebelah kiri tanggul — arah dari mana Rowland dan Telfer telah diserang — tetapi juga dari kanan. Personel Tim SEAL tidak lagi memiliki pelindung. Mereka jelas berada dalam kesulitan. 

Senapan Modular Stoner 63 karya Eugene Stoner, senapan ini banyak beredar secara ekslusif di kalangan personel US Navy SEAL. (Sumber: https://guns.fandom.com/)

Lawrence, dengan senapan mesin ringan Stoner 63, dan Futrell, dengan senapan mesin M-60-nya, mendekati Telfer, yang menyuruh mereka membantu Rowland. Lawrence mulai menembak di sepanjang tanggul dan kearah timur laut sementara Futrell memberikan pertolongan pertama kepada Telfer. Melihat di mana peluru VC menyerang, Lawrence juga mulai menembak ke arah timur dan tenggara. Pada saat itu, Hedge dan Richards juga ikut menembak. Terlepas dari luka-lukanya, Telfer berhasil melepaskan satu peluru dengan peluncur granat 40mm Arroyo dan mengosongkan satu magasin 5.56mm dari CAR 15. Ketika dia merogoh rompi amunisi Arroyo, yang dia pakai, untuk mencari magasin senapan otomatis lainnya, dia terkejut ketika dia malah mengeluarkan kamera instamatic Arroyo, yang disimpan oleh petugas radio itu bersama dengan amunisi tambahannya. Pertempuran pada saat itu telah berlangsung kira-kira tujuh menit, dan waktunya kira-kira pukul 1503. Telfer memikirikan tentang operasi penyelamatan, tetapi dia merasa bahwa situasinya terkendali terlepas dari lukanya dan kemungkinan kematian Rowland. Namun, beberapa detik kemudian, peristiwa berubah drastis menjadi lebih buruk. Futrell yang menghadap jauh dari Telfer dan menembakkan senapan mesin M-60 dengan selempang amunisi yang menutupi bahunya ketika dia tiba-tiba terkena peluru 7,62 mm yang membuatnya berputar. Sekarang menghadap Telfer, Futrell berseru, ‘Dada saya tertembak!’ Peluru telah mengenai dia di sisi kiri dada, dan menembusnya, melewati sepersekian inci dari jantungnya dan mengenai paru-paru kiri dan arteri besar serta pembuluh vena di dada.

DISELAMATKAN 

Telfer, menyeret kakinya yang mati rasa, dan mulai merangkak menuju Futrell. Untuk pertama kalinya dia mulai khawatir seluruh unitnya akan dimusnahkan. Kepada Richards dia berteriak, ‘(segera) Masukkan helo itu ke sini!’ Beberapa saat kemudian, Richards berteriak, ‘Aduh!’ Dan meraih tangan kanannya. Dia telah terkena peluru 7.62mm lagi, menjadikannya korban keempat dari tembakan musuh dalam beberapa menit setelah pertempuran berlangsung. Dengan dilindungi oleh Lawrence dan Hedge, para personel SEAL yang terluka itu merangkak melewati tanggul ke sisi utara. Meskipun dua anggota tim terkena peluru yang ditembakkan dari arah itu, tim patroli merasa bahwa mereka mungkin menemukan perlindungan di selokan kecil yang sejajar dengan tanggul di sepanjang utara. Dan tembakan VC paling besar terjadi dari sisi selatan tanggul, beberapa di antaranya tampaknya berasal dari sebuah rumah kecil tepat di selatan, sekitar 100 meter jauhnya. Tiga orang anggota tim yang terluka parah – Rowland, Telfer dan Futrell – tidak dapat mendaki ke tempat aman melewati tanggul yang lebih besar di ujung parit. Terlepas dari tangannya yang terluka, Richards menarik masing-masing secara bergantian melewati tanggul besar. (Richards kemudian akan menjadi kepala Komando Perang Khusus Angkatan Laut, dengan pangkat Rear Admiral yang memimpin semua operasi SEAL). Helikopter pengangkut kemudian mendarat hanya beberapa meter jauhnya. Bergabung dengan sisa anggota patroli, personel yang terluka itu dengan susah payah naik ke helikopter. Jari-jari dan lengan terbakar oleh senjatanya yang panas, luka Telfer mulai terasa sakit di sepanjang jalur hantaman pelurunya yang rumit. Helikopter itu dihantam peluru beberapa kali saat lepas landas. ‘Barndance 59,’ sebagaimana aksi pertempuran itu akan diberi nama dalam catatan resmi, akhirnya berakhir. 

Personel Navy SEAL percaya bahwa salah satu prosedur latihan keras mereka yang diberi nama “Hell Week” amat membantu kekuatan dan keteguhan mereka dalam menghadapi tekanan di medan tempur. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Keempat personel SEAL yang terluka parah – termasuk Arroyo – dievakuasi ke rumah sakit Angkatan Udara di Jepang, di mana para dokter menjelaskan kepada Telfer, Rowland dan Futrell bahwa mereka berhasil lolos dari kematian yang nyaris saja terjadi. Selama mereka tinggal di rumah sakit, orang-orang itu membahas misi terakhir mereka yang hampir fatal serta membahas berbagai titik balik dalam operasi tersebut. Saat mereka berbicara, satu pertanyaan muncul lagi dan lagi: ‘Bagaimana mereka bisa keluar hidup-hidup?’ Mereka semua setuju bahwa mereka seharusnya tidak pernah bisa mencapai tanggul. Mereka juga setuju bahwa pelatihan intensif SEAL yang mereka terima sangat penting untuk membantu mereka bertahan hidup. Mereka telah dikondisikan dalam pelatihan mereka untuk bisa bereaksi dengan dingin dan efektif terhadap krisis seperti yang mereka hadapi bersama pada tanggal 30 Januari 1971 itu. Dan mereka menjadi percaya bahwa satu bagian dari pelatihan mereka secara khusus – ritual pelatihan di sekolah SEAL yang dikenal sebagai ‘hell week’ — telah mencegah unit mereka hancur ketika keadaan menjadi semakin sulit.

Selain Stoner 63, Tim Kecil SEAL kerap membawa sekaligus senapan mesin serbaguna M-60 untuk menambah daya gempur satuan kecil mereka. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pasukan Vietnam dan Amerika di Nam Can kemudian melancarkan aksi tindak lanjut yang gencar sebagai buntut aksi baku tembak pada tanggal 30 Januari itu. Sebagian besar helikopter Seawolves yang ditempatkan di wilayah delta dipanggil dan dikirim ke daerah tersebut. Selama sisa sore hari segera setelah proses ekstraksi Tim SEAL Telfer, helikopter-helikopter tempur itu melakukan penembakan atas posisi tanggul dimana VC diperkirakan berada. Dalam tampilan kegigihan yang belum pernah terjadi sebelumnya, personel-personel VC menembaki sebagian besar helikopter-helikopter tempur itu, mereka tidak kabur begitu saja. Seorang agen Vietnam melaporkan beberapa hari kemudian melalui jaringan intelijen mereka bahwa sebuah kompi VC yang beranggotakan 65 orang mendominasi daerah di mana Pleton Zulu mendarat. Kira-kira 30 prajurit musuh telah terlibat pertempuran dengan Tim SEAL itu pada tanggal 30 Januari 1971, dan mungkin telah bergabung dengan sisa kompi mereka dalam pertempuran sore hari dengan armada gunship Seawolves. Jelas, menghadapi rintangan yang jauh lebih besar seperti itu, para personel Tim Pleton Zulu tentunya beruntung bisa selamat dari pertempuran melawan setengah kompi VC yang bertahan di tempat yang tersembunyi dengan baik.

Awak helikopter Seawolf memberondong sasaran musuh. Dalam Perang Vietnam, peran helikopter bersenjata amat krusial dalam mendukung pasukan di darat. Terkadang firepower yang disediakan helikopter bersenjata bisa menentukan hidup mati unit-unit darat yang terkepung satuan musuh yang jauh lebih besar. (Sumber: http://www.seaforces.org/)

Sementara itu, setelah sekitar enam tahun terlibat secara besar-besaran dalam Perang Vietnam, unit SEAL yang relatif kecil menyumbang setidaknya 600 VC yang dikonfirmasi tewas dan 300 lainnya hampir pasti tewas atas aksi mereka, meski menurut pendapat lain korban mereka bisa mencapai 2.000 orang di pihak musuh. Banyak pasukan musuh lainnya yang ditangkap atau ditahan atas aksi satuan SEAL. Tidak ada penghitungan statistik yang dapat memperkirakan efek intelijen yang dikumpulkan oleh aktivitas SEAL, tetapi tidak diragukan lagi bahwa mereka memberikan kontribusi dalam perang melebihi proporsi jumlah personel mereka. Peleton SEAL terakhir meninggalkan Vietnam pada tanggal 7 Desember 1971. Sementara itu, Penasehat SEAL terakhir meninggalkan Vietnam pada bulan Maret 1973. Per tahun 1974, SEAL adalah salah satu unit yang menerima penghargaan tertinggi untuk ukuran mereka dalam perang Vietnam, yakni personelnya menerima satu Medal of Honor, dua Navy Cross, 42 Silver star, 402 Bronze Star, dua Legion of Merit, 352 Commendation Medal, dan 51 Navy Achievement Medal. Kemudian penghargaan ini bertambah menjadi tiga Medal of Honor dan lima Navy Cross. Antara tahun 1965 dan 1972 terdapat 48 personel SEAL yang tewas di Vietnam. Nama-nama mereka selamanya akan dikenang di Navy SEAL Memorial yang ada di National Navy UDT-SEAL Museum.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Zulu Platoon’s Final Fight in Vietnam written by Russel H.S. Stolfi

SEALs: UDT/SEAL Operations in Vietnam Book by T. L. Bosiljevac; p 135, p 146

Vietnam – The Men With Green Faces

https://en.m.wikipedia.org/wiki/United_States_Navy_SEALs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *