7-11 Desember 1950: Gerak Mundur Legendaris Divisi Marinir ke-1 Amerika di Tengah Kepungan Tentara China di Korea

Pada tanggal 7 Desember 1950 cuaca dingin yang menggigit menyelimuti sebuah pegunungan terpencil di wilayah Korea Utara. Lebih dari 14.000 tentara PBB yang terperangkap di dataran tinggi di Koto-ri telah mengalami 10 hari tinggal dalam “neraka beku”. Pada tanggal 26 November, seluruh Grup Angkatan Darat ke-9 China Komunis telah menghantam pasukan dari dua resimen Divisi Marinir AS yang terlalu lemah, sebuah Tim Tempur Resimen Angkatan Darat AS, dan berbagai unit lain yang terpencar-pencar bermil-mil di sepanjang jalan pegunungan sempit yang diselimuti es, di sekitar Waduk Chosin. Kemudian pada malam yang berbintang dan dingin tanggal 6 Desember, sebuah Divisi China menghantam Resimen Marinir ke-5 di Hagaru. Kedisiplinan menembak ala Marinir dan penggunaan masif senjata-senjata pendukung lalu menunjukkan kegunanaannya, ratusan tentara China berjatuhan dalam pembantaian terburuk di kawasan Waduk Chosin. Malam berikutnya, 800 tentara China kembali menyerang pasukan batalion ke-3, resimen Marinir ke-11 pimpinan Mayor Francis F. “Fox” Parry. Parry kemudian mengerahkan pasukan artilerinya dan memukul balik serangan China itu. Ketika gelombang serangan kedua pasukan China berkerumun dalam jumlah banyak didepan pertahanan perimeternya, prajurit-prajurit Marinir pimpinan Parry menurunkan elevasi meriam howitzer nya dan menembak dalam jarak sangat dekat ke kerumunan pasukan musuh yang bergerak maju. Peluru meriam meledak dalam jarak dekat sedekat 45 yard (41,15 meter) dari posisi Marinir. Dalam aksi lain pada sore harinya, sebuah unit China menghantam pos komando divisi. Pasukan Marinir kemudian bergerak mundur bersama dengan kendaraannya, saat pesawat-pesawat Corsair dari Skuadron VMF (N)-513 menembakkan senapan-senapan mesinnya dalam jarak hanya beberapa meter dari jalan. Pada saat itu Resimen Marinir ke-7 telah mencapai perimeter pertahanan pasukan pimpinan Kolonel Chesty Puller di kota Koto-ri. Pada tanggal 7 Desember Resimen Marinir ke-5 membakar semua perbekalan dan persediaan amunisi yang masih tertinggal di Hagaru, untuk kemudian beranjak pergi meninggalkan waduk Chosin. Mao Zedong sendiri menilai pasukan yang terkepung di kawasan Chosin tersebut sebagai berikut: “Mereka (amat) bergantung pada tank, pesawat, dan artileri mereka; mereka telah mengkhususkan diri dilatih dalam pertempuran di siang hari dan tidak terbiasa dengan pertarungan tangan kosong atau infiltrasi. ” Mao lebih lanjut berkata, “Mereka takut jika bagian belakang mereka dipotong; ketika transportasi (beroda rantai atau beroda ban) mereka mogok, Pasukan infanteri mereka akan kehilangan keinginan untuk bertempur. ” Hanya waktulah yang akan membuktikan apakah penilaian Mao ini benar atau salah.

Anggota Divisi Marinir ke-1 mundur dari kawasan Chosin Reservoir, 1950. (Sumber: https://napavalleyregister.com/)

RUTE TENTARA AMERIKA MENUJU KESELAMATAN TERHALANG OLEH CELAH PADA JEMBATAN YANG DILEDAKKAN

Di sebelah timur waduk, sejumlah besar tentara China telah menghantam Resimen ke-31 Angkatan Darat AS, memaksa para korban yang selamat menyingkir dengan cepat ke posisi pertahanan Marinir yang relatif lebih aman di sepanjang jalan raya yang berkelok-kelok dan berbahaya yang oleh para Marinir disebut Jalur Pasokan Utama (Main Supply Route/MSR), yang mengular dari kota pelabuhan Hungnam di Laut Jepang ke wilayah pegunungan yang kosong terbengkalai di ujung utara Korea. Pasukan China kemudian dengan cepat mengepung posisi-posisi Marinir. Sekarang, setelah 10 hari yang tak berkesudahan menghadapi gelombang demi gelombang serangan tentara China dan cuaca terburuk yang bisa dibayangkan, Divisi Marinir pertama sudah diambang menyelesaikan gerak mundur mereka. Tapi jembatan yang diledakkan di atas ngarai gunung yang berbahaya di Funchilin Pass mengancam akan menghentikan penarikan mundur pasukan mereka dari Korea Utara. Celah sepanjang 29 kaki di jembatan beton itu berarti bahwa para Marinir harus meninggalkan semua kendaraan mereka, dan membawa mereka yang terluka dan tewas di bawah tembakan gencar dimana hal ini menjadi tugas yang hampir mustahil untuk dilakukan. Celah itu harus dijembatani, tetapi Marinir tidak memiliki peralatan penghubung di Koto-ri. Jadi mereka membuat permintaan darurat pada unit Zeni untuk mengirimkan perlengkapan ke Koto-ri dengan bantuan Angkatan Udara AS untuk menjatuhkan via parasut bagian-bagian dari jembatan darurat. Tidak ada yang tahu apakah rencana itu akan berhasil; karena hal itu tidak pernah dilakukan selama ini dalam sejarah peperangan. 

Pesawat-pesawat angkut C-119 Flying Boxcar digunakan untuk menerjunkan bagian-bagian jembatan darurat di Funchilin Pass. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Pada jam 9 pagi, tanggal 7 Desember, delapan pesawat angkut C-119 Flying Boxcar milik Angkatan Udara muncul di atas langit Koto-ri. Setiap pesawat membawa satu bagian jembatan, yang beratnya mendekati 2.500 pon (1,133 ton). Pihak Marinir sebenarnya hanya membutuhkan empat bagian, tetapi kemudian meminta delapan sebagai cadangan kalau beberapa tidak selamat dalam penerjunan itu. Pesawat-pesawat itu kemudian turun hingga ketinggian delapan ratus kaki (243,84 meter), yang segera memicu datangnya tembakan dari tentara Cina di perbukitan sekitarnya, dan para kargo master mulai membuang muatan kargo mereka yang berharga itu. Setiap bagian jembatan memiliki parasut G-5 raksasa yang dipasang di kedua ujungnya sebagai pengaman jika salah satu diantaranya gagal berfungsi. Latihan menjatuhkan dengan parasut yang lebih kecil di lapangan terbang Yonpo dekat Hungnam sebenarnya telah gagal, tetapi tidak ada waktu lagi untuk bisa melakukan eksperimen lebih lanjut. Bagi Divisi Marinir Pertama penerjunan itu harus dilakukan atau tidak sama sekali. Setelah kejutan serangan China pada akhir bulan November, menjadi jelas bahwa posisi pasukan PBB di Korea Utara tidak dapat dipertahankan lagi. Awal tahun itu, setelah pasukan Korea Utara menginvasi Korea Selatan dan memaksa pasukan PBB mundur ke daerah kantong di sekitar kota bagian tenggara semenanjung itu, yakni Pusan, komandan pasukan PBB, Douglas MacArthur kemudian melakukan gerakan mengapit yang brilian dengan melakukan pendaratan amfibi di pelabuhan kota Seoul, Inchon. Tentara Korea Utara sebagian besar hancur dalam menghadapi serangan balik itu dan melarikan diri ke arah utara menuju perbatasan China, pasukan PBB kemudian melakukan pengejaran. Tetapi pemimpin China, Mao Zedong dan para pemimpin Komunis China memandang bahwa kemungkinan pendudukan seluruh Korea yang dipimpin Amerika sebagai ancaman yang tidak dapat diterima untuk kepentingan mereka sendiri dan kemudian mereka memutuskan untuk memasuki gelanggang perang. 

PASUKAN CHINA MEMAKSA MARINIR MUNDUR KE GARIS 38 DERAJAT PARAREL

Sekarang, di bagian barat semenanjung, Angkatan Darat Kedelapan AS mundur menuju garis Paralel 38 derajat. Di timur, Korps X, di mana Divisi Marinir pertama turut menjadi bagiannya, berada dalam situasi yang berbahaya. Bulan Desember tahun 1950 mungkin adalah masa-masa terburuk dalam sejarah militer Amerika. Pada saat tentara China memasuki gelanggang perang, seluruh garis depan pasukan PBB yang terdiri dari 5 satuan Tentara (Army) dan 8 Divisi Korea Selatan (ROK) runtuh, dengan perkecualian Divisi Marinir ke-1. Dalam keadaan kacau balau dan diselimuti rasa pesimisme, Pasukan PBB mundur dalam keadaan tidak beraturan setelah berasa mengganggu “sarang lebah”. Unik-unit ROK membuang senjata mereka melarikan diri ke perbukitan dan berjalan menuju ke rumah mereka. Unit-unit Angkatan Darat Amerika juga berpencar melarikan diri dengan membuang senjata, helm dan perlengkapan mereka untuk beranjak pergi. Kedisiplinan telah hilang, kendaraan dan artileri ditinggalkan, dan kadang lengkap dengan petunjuk manualnya, yang tidak lain nantinya akan menjadi barang-barang jarahan yang bermanfaat bagi tentara China. Mereka yang tewas dan terluka terpaksa ditinggalkan. Ini adalah periode yang memalukan bagi militer Amerika saat tentara PBB mundur ke belakang perbatasan kedua Korea, meninggalkan Seoul dan Inchon pada prosesnya. Serangan besar tak terduga dari pasukan China, yang secara diam-diam telah menyusup ke seberang Sungai Yalu selama bulan-bulan sebelumnya, berarti bahwa satu-satunya jalan kesempatan bagi pasukan PBB di sektor ini dalam menghindari kehancuran adalah dengan melakukan penarikan pasukan ke arah pantai, dengan diikuti oleh evakuasi lewat laut dan udara dari wilayah Hungnam. Sementara itu Grup Angkatan Darat ke-9 China telah diberi tugas untuk memusnahkan Divisi Marinir Pertama. Meski demikian, kondisi sebenarnya tidak terlalu menakutkan seperti yang terlihat, meski tidak bisa dibilang mudah juga. Marinir dan unit-unit lain yang terjebak di sepanjang jalan raya berjumlah sekitar 20.000 orang ketika tentara Cina menyerang. Sembilan divisi Cina yang melawan mereka memiliki keunggulan dalam jumlah enam banding satu. Tetapi Marinir memiliki beberapa elemen pendukung yang menguntungkan mereka. Mereka diperlengkapi dan dipasok peralatan yang lebih baik daripada tentara-tentara Cina, dan mereka memiliki kendali penuh udara di atas medan perang.

Mayor Jenderal Edward Almond, komandan Korps X. (Sumber: http://veterantributes.org/)
Letnan Jenderal Walton Walker, komandan Korps ke-VIII. Dalam invasi ke Korea Utara hubungan antara Jenderal Almond dan Walker tidak begitu baik. Almond ditengarai ingin lebih dulu mencapai perbatasan Sungai Yalu dibanding Walker. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sebelumnya, pada bulan Oktober 1950, divisi tersebut telah mendarat di Wonsan dan diperintahkan oleh komandan Korps X, Mayor Jenderal Edward Almond, untuk maju melalui jalan sempit dari Hungnam jauh menuju ke pegunungan. Tujuannya adalah untuk mencapai perbatasan antara Yalu dengan China. Pada saat itu, kemampuan Jenderal Almond, yang kerap dinilai sebagai “anak emas” dari Jenderal MacArthur, kerap dipertanyakan, sementara Almond sendiri tidak pernah menyembunyikan fakta bahwa ia ingin lebih dulu mencapai Sungai Yalu, dari rekan sekelasnya di West Point, Jenderal Walton Walker, komandan tentara ke-8 yang namanya telah dikenal luas sejak pengepungan Pusan. Mayor Jenderal Oliver P. Smith, yang memimpin Divisi Marinir ke-1, percaya bahwa instruksi Almond agar divisi tersebut segera berpindah ke Waduk Chosin adalah perintah yang keliru. Sebagai seorang perwira tempur yang berpengalaman, Smith dapat mencium adanya masalah meskipun markas korps dimana Almond dan markas umum berkantor di Tokyo tidak mengenali tanda-tandanya. Misalnya, sebelumnya telah terjadi kontak yang tidak menyenangkan dengan “sukarelawan” China yang lebih kecil di wilayah front Angkatan Darat Kedelapan dan Korps X sejak bulan Oktober. Kedua front ini dipisahkan oleh celah selebar 75 mil di wilayah pegunungan utara, tempat tentara-tentara Cina berhasil melakukan menyusupan yang menjadi spesialisasi keahlian mereka. Dengan ofensif pasukan China yang datang pada akhir bulan November, divisi Smith mendapati dirinya dalam posisi taktis yang buruk. Resimen Marinir ke-1, ke-5, dan ke-7 nya tersebar di sepanjang jalan raya. Hanya karena Smith telah menentang perintah yang tidak bijaksana dari Almond dengan mendesak agar para komandan-komandan resimennya lebih berhati-hati alih-alih maju dengan cepat ke wilayah pegunungan, divisi tersebut berhasil meredam serangan Cina dengan tetap secara utuh mempertahankan diri sebagai sebuah unit tempur yang utuh. Namun demikian, dengan hampir ada 1.500 kendaraan dan hanya ada satu jalan yang bisa dilalui, Marinir menjadi sasaran serangan terus-menerus tentara China di sepanjang rute penarikan mundur, dari Yudam-ni ke Hagaru-ri dan ke Koto-ri. 

Komandan Divisi Marinir ke-1, Mayor Jenderal Oliver P. Smith (kiri), membahas taktik segera setelah pendaratan di Inchon, 15 September 1950, dengan bosnya, Mayor Jenderal Edward M. Almond, komandan Korps X. (Sumber: Defense Department photo, Marine Corps/http://kcm.kr/)
Tentara China dengan truk yang dikamuflase dengan baik. Dengan kemampuan superiornya dalam melakukan infiltrasi, pergerakan Tentara China menyeberangi Sungai Yalu, nyaris tidak terdeteksi oleh intelijen Amerika. (Sumber: https://china-underground.com/)
Pasukan PBB menyerah pada Tentara China. (Sumber: https://china-underground.com/)

Sekarang, pada akhir minggu pertama di bulan Desember, sebagian besar personel divisi ditambah dengan berbagai macam pasukan PBB lainnya berkumpul di Koto-ri untuk mempersiapkan tahap akhir penarikan mundur mereka. Smith memperkirakan bentangan sejauh 10 mil antara Koto-ri dan Chinhung-ni akan menjadi tantangan yang terberat: perjalanan yang dilakukan mengharuskan mereka untuk menuruni bukit melalui jurang terjal dengan tentara-tentara Cina menempati puncak bukit di sepanjang rute tersebut. Situasi ini semakin diperumit oleh fakta bahwa tentara China baru saja meledakkan jembatan penting di Funchilin Pass untuk ketiga kalinya, yang membuat Smith mengalami masalah yang pelik. Dia menggambarkannya sebagai berikut: “Pada titik ini air yang berasal dari Waduk Chosin telah melalui terowongan yang keluar dari sisi gunung dan dibuang ke dalam empat penstocks [pipa beton besar] yang turun dalam sudut yang curam menuruni lereng gunung menuju turbin pembangkit listrik di lembah bagian bawah. Di mana penstocks itu melewati jalan dimana ada kotak beton, tanpa dasar, di sisi jalan menanjak yang menutupi penstocks. Di sisi bawah beton induk ada jembatan beton satu arah. Penurunan di sisi gunung di sini sangat curam. Tidak ada kemungkinan untuk bisa mem-bypass. Keutuhan jembatan ini sangat penting bagi kami, karena tanpanya kami tidak akan bisa membawa keluar kendaraan, tank, dan meriam-meriam kami. ”

TENTARA CHINA DAN CUACA DINGIN YANG BRUTAL MEMBUAT SEMUANYA MENJADI SULIT

Sayangnya jembatan itu telah diledakkan pada tanggal 1 Desember dan sekali lagi pada tanggal 4 Desember, dan segera diperbaiki setiap kali oleh pasukan zeni tempur AS. Tapi sekarang kerusakannya lebih parah, dan 14.000 tentara PBB di Koto-ri jelas membutuhkan bantuan dari luar. Hanya untuk bisa mencapai Koto-ri saja, sebagian besar dari orang-orang ini telah bertempur selama 10 hari dengan tentara China, tetapi pertempuran melawan faktor-faktor lainnya terbukti lebih buruk. Meski saat itu belum secara resmi memasuki musim dingin, tetapi pegunungan yang berat medannya di Korea Utara, telah dihantam oleh angin Siberia yang ganas, membuat kondisi Pertempuran Bulge pada Perang Dunia II terlihat biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan di Korea. Terkadang, angin dingin di sepanjang jalan raya mencapai suhu 90 derajat di bawah nol. Suhu Fahrenheit sendiri hampir selalu jauh di bawah nol. Hanya karena upaya luar biasa dari para pasukan zeni Angkatan Laut (Seabee) dan Angkatan Darat, lapangan terbang telah dibuat di medan yang membeku, sehingga berbagai kasus radang dingin dan korban pertempuran yang paling parah dapat dievakuasi melalui udara. Tetapi banyak Marinir dengan kasus radang dingin yang sangat parah sehingga kaki mereka menjadi hitam menolak untuk diberikan perawatan medis dan terus berjalan ke selatan di sepanjang MSR dalam keadaan mati rasa baik secara mental maupun fisik. Hanya pengemudi kendaraan dan korban luka-luka yang tidak bisa berjalan yang naik jeep atau truk. Lainnya berbaris di jalanan. Gerak mundur itu harus menempuh jarak 78 mil dari Yudam-ni ke laut. Seluruh dunia menyaksikan dengan penuh tanda tanya saat Divisi Marinir pertama mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Pasukan China. Hanya sedikit wartawan yang mengira bahwa mereka bisa melakukannya. Hanya Marinir itu sendiri, dan mereka yang bersamanya, yang tidak pernah meragukan bahwa itu bisa dilakukan. Ketika para jurnalis menanyakan kepada jenderal Smith apakah Marinir sedang melakukan gerak mundur, ia menjawab: “Mundur, persetan! Kita hanya sedang menyerang ke jurusan yang lain!”

Serangan Tentara China di kiri-kanan jalur yang digunakan pasukan Marinir untuk mundur ke pelabuhan Hungnam membuat pergerakan di jalan raya menjadi berbahaya. (Sumber: https://china-underground.com/)
Ucapan legendaris Mayor Jenderal Oliver P. Smith saat ditanya apakah pasukannya melakukan gerak mundur. (Sumber: https://www.pinterest.co.uk/)

SEBUAH TAWARAN UNTUK MENERBANGKAN KELUAR SELURUH DIVISI DITOLAK

Namun demikian, situasinya begitu buruk sehingga pada tanggal 5 Desember, sebelum sebagian besar Divisi Marinir pertama berhasil mencapai Koto-ri, Mayor Jenderal William Tunner dari U.S. Air Force’s Combat Cargo Command telah terbang ke landasan udara kasar baru sepanjang 2900 kaki (883,92 meter) di Hagaru-ri dan menawarkan untuk menerbangkan seluruh divisi dari keluar dari tempat itu. Tapi itu berarti pasukan Marinir hanya bisa membawa serta senjata ringan mereka. Namun pilihan itu juga akan menghadirkan situasi taktis yang semakin sulit karena dengan semakin banyak pasukan yang diangkut pergi, maka pasukan China akan semakin meningkatkan tekanan pada mereka yang masih tersisa bertahan. Singkat katanya harus ada yang dikorbankan. “(Ini) Tidak bisa dilakukan”, kata Smith. “Divisi Marinir pertama telah mencapai Waduk Chosin sebagai unit tempur yang utuh, dan demi Tuhan, mereka akan pergi sebagai satu kesatuan yang utuh juga”. Fakta bahwa lebih dari seratus ribu orang Cina memiliki pemikiran yang berbeda (bahwa mereka akan dengan segala upaya menggagalkan rencana Marinir untuk pergi dalam keadaan utuh) tidaklah penting. Buat para Marinir ini bukan hanya soal kemanusiaan saja, tetapi juga soal prestise dan kehormatan satuan mereka. Saat menerbangkan beberapa dari mereka yang terluka, Marinir juga membawa pasukan pengganti baru ke Hagaru-ri. Sementara Marinir yang terkepung mendapatkan perlengkapan musim dingin mereka — parka, sepatu boot, topi wool, sarung tangan dan kebutuhan lain — lewat udara, Pasukan China meski dilengkapi dengan banyak senjata-senjata buatan Soviet, seperti senapan, senapan mesin, dan senapan sub mesin, mereka hanya dilengkapi dengan pakaian ringan dari katun dan sepatu kanvas. Meski demikian dengan tekad kuat Tentara China mampu mendaki perbukitan di kanan kiri jalan yang dilalui Marinir dan mengganggu pergerakan tentara Amerika selama 2 minggu.

C-47 ini sedang menurunkan muatan di landasan kecil Hagaru-ri. Tawaran untuk mengevakuasi Marinir lewat udara ditolak oleh jenderal Smith. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Perimeter pertahanan di Hagaru-ri, 28-29 November 1950. (Sumber: http://bobrowen.com/)
Wartawan perang wanita Marguerite “Maggie” Higgins, dipaksa Kolonel Chesty Puller untuk pergi meninggalkan Hagaru-ri bersama pesawat yang ditumpangi Jenderal Lemuel C. Shepherd Jr, komandan Marinir wilayah Pasifik. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Rencana gerak mundur Smith sendiri sebenarnya cukup mudah. Sekarang setelah dia mengumpulkan semua anak buahnya di Koto-ri, dia akan mengirim masing-masing batalyon ke selatan di sepanjang dataran tinggi di setiap sisi jalan dengan tujuan untuk mengusir tentara Cina dari posisi-posisi bukit yang menjadi kunci. Unit infanteri ini akan didukung oleh unit artileri yang juga bergerak ke selatan. Sebagian besar Resimen Marinir Pertama Kolonel Lewis “Chesty” Puller akan mempertahankan perimeter di Koto-ri sampai semua formasi lain berpindah, dengan melakukan tugas sebagai penjaga barisan belakang. Sebelum Divisi Marinir ke-1 mundur ke Koto-ri, Jenderal Lemuel C. Shepherd Jr, komandan Marinir wilayah Pasifik sempat datang dengan maksud untuk menemani para Marinir dari Divisi itu dalam gerak mundur mereka ke laut, namun Smith kemudian meminta Shepherd untuk pergi saja, ketimbang menambah kekhawatirannya akan kemungkinan seorang Jenderal bintang tiga Marinir terbunuh atau tertangkap tentara China. Kolonel Chesty Puller kemudian juga menempatkan wartawan wanita yang pemberani, Maggie Higgins ke dalam pesawat Shepherd, meski mendapat protes dari Higgins yang ingin tetap tinggal bersama para Marinir. Kolonel tua berusia 52 tahun itu kemudian berkeliling memberi semangat pada para ‘Leathernecks’ (sebutan lain dari Marinir Amerika) muda dengan keyakinan tinggi: “kamu adalah prajurit Divisi Marinir ke-1” ia mengatakan dengan karakteristik bravado-nya, “dan kamu jangan lupa ini. Kita adalah satuan militer terbaik yang pernah berjalan diatas muka bumi ini. Tidak satupun orang-orang komunis di neraka itu dapat menghentikanmu. Kita akan mundur ke laut dengan langkah kita dan tidak ada satupun yang dapat menghalangi kita. Jikapun ada, kita akan menghancurkannya berkeping-keping”.

PERLINDUNGAN SANGAT DIBUTUHKAN OLEH PASUKAN ZENI

Sementara itu, Batalyon Pertama pimpinan Letnan Kolonel Donald Schmuck dari Resimen Puller, yang berada di Chinhung-ni, 10 mil selatan Koto-ri, dan akan bergerak ke utara untuk merebut dataran tinggi yang mendominasi Terusan Funchilin. Yang paling penting dari tempat itu adalah Bukit 1081, medan terpenting antara Koto-ri dan Chinhung-ni, dan yang berdiri sekitar satu mil di selatan jembatan utama yang melewati celah itu. Bukit 1081 harus diambil alih, atau para pasukan zeni tempur akan terkena tembakan gencar dari ketinggian ketika mereka berusaha merekonstruksi jembatan. Dukungan udara untuk seluruh rangkaian operasi akan tetap penting; tanpanya, orang-orang di lapangan akan dibiarkan sendirian, dalam kondisi kalah jumlah dan dalam situasi taktis yang buruk. Wing Udara Marinir ke-1 berusaha untuk menjaga agar 24 pesawat serang Corsair terus bisa terbang setiap saat selama siang hari di atas barisan prajurit yang melakukan penarikan mundur untuk memberikan dukungan tembakan kapanpun diminta. Pada malam hari, pesawat tempur yang dilengkapi dengan peralatan khusus dapat juga menawarkan bantuan dalam batas-batas tertentu. Selain Marine Air Wing, pesawat-pesawat Angkatan Laut yang terbang dari kapal-kapal induk yang berlayar di Laut Jepang dan pesawat-pesawat Angkatan Udara dari wilayah lain di Korea berusaha untuk menjaga agar pasokan bagi pasukan di darat tetap bisa berlangsung sembari tetap membuat pasukan China ada di bawah tekanan yang konstan. Tetapi cuaca sering tidak memadai, dan Angkatan Udara sendiri secara bersamaan harus memberikan dukungan udara besar-besaran pada front Tentara Kedelapan yang berantakan di Korea bagian barat.

Pesawat-pesawat serang F-4U Corsair Marinir memberikan perlindungan udara bagi pasukan yang melakukan gerak mundur di darat. Peran Corsair sangat krusial dalam mengurangi tekanan serangan dari tentara China. (Sumber: https://www.adammakos.com/)

Karena para penerbang ini, pasukan di darat yang mundur dari Waduk Chosin bisa tetap mendapatkan banyak amunisi. Namun, pasokan makanan adalah masalah yang berbeda. Ransum-C dan ransum-K yang dibawa pasukan membeku dan tidak bisa langsung dicairkan, sementara menyalakan api di sepanjang rute mereka mundur menghadirkan masalah yang jelas dalam hal memancing tembakan musuh, terutama di malam hari. Saat gerak mundur berlanjut dari Yudam-ni ke Hagaru-ri dan ke Koto-ri, para prajurit itu terus-menerus kehabisan energi. Dalam momen yang sangat menggelikan, di Koto, sebuah penerjunan udara malah mengirimkan sekotak kondom kepada Marinir, yang kemudian menggerutu, “Menurut mereka, apa yang (sedang) kita lakukan dengan orang-orang China itu?” Sementara itu Pasukan China sendiri mengalami masa-masa yang sulit. Posisi mereka di perbukitan kerap menjadi sasaran serangan udara, yang memakan banyak korban jiwa yang menghancurkan selama periode dua minggu. Meskipun terus menerus mengganggu barisan Marinir yang bergerak mundur, mereka tidak mampu mencegah pergerakan mereka dari Chosin reservoir ke Koto-ri dan menelan korban yang mengerikan setiap kali mereka berkonsentrasi dan melancarkan serangan. Mereka juga dihancurkan sedikit demi sedikit saat kelompok-kelompok kecil mencoba melancarkan serangan yang tampaknya tidak terkoordinasi dalam jarak setiap tiga ratus yard di sepanjang barisan marinir. Upaya untuk menyusup ke dalam barisan itu sendiri terus dilakukan dan senantiasa berakhir dengan dipukul mundur. 

PRAJURIT-PRAJURIT CHINA YANG KEDINGINAN MENYERAH TANPA PERLAWANAN

Tentu saja, hawa dingin itu punya dampak menghancurkan baik bagi orang Cina maupun Amerika. Mereka tidak siap menghadapi cuaca paling ekstrim dengan hanya mendapat dukungan logistik mereka sangat sedikit. Akibatnya, banyak unit-unit tentara China yang ditangkap secara utuh oleh Marinir karena secara fisik mereka tidak mampu bergerak dan senjata mereka telah membeku. Beberapa orang Cina menyerah dengan tangan mereka membekukan pada senapan mereka; para Marinir sampai harus mematahkan jari para tahanan hanya untuk melepaskan senjata dari tangan mereka. Pada serangan di selatan dari Koto, sebuah unit Marinir menemukan seorang Cina di lubang perlindungan menyerah dalam kondisi beku sedemikian rupa sehingga Marinir hanya bisa mengangkatnya keluar dari lubang mereka dan menempatkannya di jalan untuk mencair dengan sendirinya. Sementara itu masalah pada jembatan itu sendiri unik. Untungnya, bersama dengan para Marinir di Koto adalah unit zeni Angkatan Darat AS yang memiliki dua truk pengangkut Brockway seberat enam ton. Meskipun tidak ada peralatan jembatan yang menyertai truk itu, namun tanpa mereka akan sangat sulit untuk memindahkan bagian jembatan yang dijatuhkan untuk digunakan menjembatani dari Koto ke lokasi jembatan yang diledakkan, dan untuk memasang bagian tersebut begitu mereka berada di jembatan.

Cuaca yang dingin menusuk bukan cuma menjadi masalah para Marinir, pasukan China pun juga mengalaminya. Banyak Pasukan China kemudian menyerah tanpa perlawanan karena kedinginan. (Sumber: https://www.thesun.co.uk/)

RENCANA UNTUK MENYAMBUNG JEMBATAN DISETUJUI

Ketika jembatan roboh untuk ketiga kalinya dan menghalangi pergerakan ke selatan Koto, Letnan Kolonel John Partridge, yang memimpin Batalyon zeni Marinir pertama dan bertanggung jawab atas semua unit zeni di Koto, melakukan pengintaian udara di atas lokasi jembatan untuk menilai apa yang akan dibutuhkan. Dia melihat di empat bagian treadway, dan jarak yang harus direntangkan adalah sepanjang 19 kaki (5.79 meter). Smith menyetujui rencananya, dan Partridge meminta latihan penerjunan di Yonpo untuk melihat apakah bagian jembatan bisa selamat dari pengedropan. Unit Angkatan Udara di Yonpo menggunakan parasaut G-1 biasa, dan pengujian tersebut gagal. Tetapi tidak ada waktu lagi untuk latihan lebih lanjut; penerjunan berikutnya adalah hal yang nyata. Partridge meminta agar delapan bagian jembatan dijatuhkan di Koto, agar terdapat cadangan jika terjadi kesalahan. Operasi penerjunan ini sendiri bukanlah hal yang mudah karena Koto-ri terletak beberapa ribu meter diatas permukaan laut, dengan ditambah saat itu cuaca sangat buruk dan visibilitas amat minim. Yang dapat dilakukan para prajurit hanyalah berdoa. Doa mereka terjawab, pada malam harinya diatas langit muncul bintang yang cukup terang, dan keesokan harinya cuaca cukup baik untuk dilakukan pengedropan dari udara. Ketika bagian-bagian jembatan didorong keluar dari pesawat-pesawat C-119 pada pagi hari tanggal 7 Desember, enam bagian jembatan berhasil diambil dalam kondisi yang baik. Marinir menemukan bagian yang ketujuh rusak tetapi masih dapat digunakan. Sementara bagian kedelapan mendarat di wilayah yang dikuasai pasukan China. Angkatan Udara sengaja menjatuhkan bagian-bagian tersebut tepat di luar perimeter pertahanan Marinir di Koto untuk menghindari serangan dari tentara Sekutu. Menjelang sore hari tanggal 7 Desember, semua peralatan yang diperlukan untuk operasi penyambungan jembatan telah dikumpulkan di Koto dan Marinir siap untuk berpindah ke Celah Funchilin. 

Celah di jembatan di Funchilin mencegah pergerakan kendaraan Amerika ke arah selatan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

CUACA BURUK MENGHALANGI MARINIR

Di bawah kegelapan pada pagi hari tanggal 8 Desember, batalion pimpinan Letnan Kolonel Schmuck memulai perjalanan enam mil ke utara dari posisinya di Chinhung-ni menuju tujuan mereka di Bukit 1081. Beberapa jam kemudian, Marinir di Koto memulai perjalanan mereka. berkendara ke selatan menuju jembatan yang diledakkan. Cuaca pagi itu sangat buruk — dengan salju lebat yang membutakan dan suhu 14 derajat di bawah nol. Jarak pandang hanyalah 50 kaki. Tidak ada perlindungan udara atas cuaca buruk ini. Batalyon Schmuck memanfaatkan kondisi tersebut saat merayap mendekati Bukit 1081 yang dipertahankan tentara China, tetapi perjalanannya sangat lambat: Butuh enam jam untuk bergerak sejauh enam mil dan melakukan kontak dengan pertahanan tentara China. Kapten Robert Barrow, yang memimpin Kompi A, Marinir ke-1 dan ditugaskan untuk merebut puncak Hill 1081, kemudian mengatakan bahwa Divisi ke-60 China “jelas dalam posisi yang baik untuk bisa mengontrol, mendominasi dan benar-benar mampu menghentikan Divisi Marinir pertama bergerak ke selatan. Mereka harus disingkirkan. ” Anak buah Barrow mendaki tebing berlapis es di tengah angin yang menderu-deru. Tapi mereka berhasil mengejutkan tentara Cina yang menjaga di puncak, dengan Kopral Joseph Leeds memelopori serangan ke bunker utama di atas bukit setelah dia dan anak buahnya merangkak naik ke posisi musuh dengan tangan dan lutut.

Cuaca yang buruk menghalangi pergerakan para marinir yang mudur ke arah selatan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Tentara China dalam bunker pertahanannya. Posisi-posisi semacam inilah yang harus dieliminasi marinir satu per satu. (Sumber: https://china-underground.com/)
Untuk mengamankan jalur yang dilewati, unit-unit kecil Marinir dikirimkan untuk membersihkan titik-titik pertahanan tentara China di bukit-bukit yang dingin di sepanjang jalur menuju pelabuhan Hungnam. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

PERGERAKAN MARINIR TELAH TERLAMBAT DARI JADWAL KARENA CUACA DAN KELELAHAN

Secara keseluruhan, Marinir yang menyerang Bukit 1081 menderita 13 orang tewas (termasuk Leeds, yang menerima Navy Cross secara anumerta), dan 17 personel luka-luka dalam prosesnya. Tetapi mereka berhasil mengusir pasukan Cina dan mempertahankan posisi yang mereka rebut melawan serangan balik pasukan musuh yang gigih pada malam tanggal 8 Desember, di mana suhu mencapai 25 di bawah nol. Cuaca dingin benar-benar membawa efek menghancurkan, bahkan parka, sarung tangan double, sweater wool dan sepatu karet, tidak dapat mencegah para prajurit mengalami radang dingin, yang memakan korban lebih besar dibanding serangan musuh. Sepatu karet dengan 2-3 lapis kaus kaki sama sekali tidak berguna karena mereka malah menyerap keringat dan membeku. Mengganti kaus kaki — jikapun punya pengganti — dalam situasi gerak mundur sambil bertempur, serta mencoba menghangatkan diri, nyaris tidak mungkin. Makanan membeku, jikapun bisa dibuka, maka isinya seperti blok es. Pembuka kaleng tidak bisa digunakan dengan menggunakan sarung tangan, sementara jika sarung tangan dibuka — meski cuma semenit —tangan yang sudah kedinginan akan membeku bersama logam. Sebagian besar Marinir cuma makan permen batangan dan cracker yang dikirim bersama Ransum-C mereka. Untuk air, mereka memakan salju yang ada di sekitar mereka. Cairan dalam tubuh mereka tidak berfungsi dengan baik, sehingga semakin menambah kelelahan mereka. Disentry merebak, sementara mereka tidak bisa melepas pakaian untuk buang air, sehingga mereka membuangnya didalam pakaian hingga nanti menjadi gumpalan-gumpalan membeku dan jatuh dengan sendirinya. Sebagian besar prajurit tidak pernah mengganti baju mereka hampir lebih dari sebulan, apalagi untuk mandi. Sementara itu, kemajuan ke arah selatan dari Koto-ri terbukti lebih lambat dari yang diperkirakan. Beberapa unit Marinir yang diperintahkan untuk memimpin serangan tersebut telah sangat kelelahan oleh radang dingin dan menderita banyak korban pertempuran sehingga mereka tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukan serangan terkoordinasi. Hal ini terutama berlaku untuk Batalyon ke-3, Marinir ke-7, yang tiga kompi senapannya secara total hanya tinggal memiliki 130 personel siap tempur — digabungkan. Kolonel Homer Litzenberg, yang memimpin Resimen Marinir ke-7, memerintahkan Batalyon ke-2 untuk membantu Batalyon ke-3 membersihkan posisi musuh di sebelah barat jalan. Mengingat cuaca yang ada, hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak dapat diselesaikan sebelum gelap pada tanggal 8 Desember. Truk Brockway yang membawa bagian jembatan telah dipindahkan ke depan dalam jangkauan yang dekat dengan lokasi jembatan, tetapi kemudian ditarik kembali ke arah Koto ketika tampak bahwa para personel zeni tidak dapat melakukan operasi menyambung jembatan pada hari itu. Partridge tidak mau mengambil risiko supaya truk itu tidak terkena serangan artileri atau tembakan mortir musuh. Upaya lain akan dilakukan keesokan paginya. 

Pasukan Marinir berhenti di jalan selatan Hagaru-ri menunggu pemblokiran jalan dibersihkan. Kondisi begitu parah, sehingga untuk sekedar buang air saja mereka tidak bisa. (Sumber: https://www.businessinsider.com/)

CELAH PADA JEMBATAN LEBIH LEBAR DARI YANG DIPERKIRAKAN

Letnan Satu David Peppin dari Kompi D, Batalyon Zeni Pertama, diberi tugas untuk memasang bagian jembatan baru di seberang celah. Dengan cuaca yang lebih baik di awal tanggal 9 Desember, kedua truk Brockway itu kembali menderu di jalan menuju lokasi. Peppin kemudian melihat tumpukan kayu di dekat jembatan yang roboh; Orang-orang Jepang telah menempatkan kayu itu di sini bertahun-tahun sebelumnya ketika Korea masih menjadi jajahan Jepang. Saat Peppin mengukur celah di jembatan, ternyata celah tersebut terlalu lebar, yakni 29 kaki (8,84 meter) untuk bisa ditutup oleh bagian treadway M-2 itu sendiri yang hanya sepanjang 27 kaki (8,23 meter). Ini adalah masalah yang tidak terduga yang berasal dari kerusakan tambahan yang entah bagaimana telah dibuat oleh orang-orang China sejak Partridge melewati celah itu beberapa hari sebelumnya. Tapi Peppin (atas rekomendasi sersan peletonnya) memanfaatkan situasinya yang ada di sekelilingnya dengan menggunakan tumpukan kayu yang ada di dekat jembatan untuk membangun semacam landasan tepat di bawah jalan raya. Bagian jembatan M-2 itu kemudian dapat diletakkan di alas tersebut untuk menutup sisa celah, sehingga berhasil memperbaiki jembatan tersebut untuk bisa berfungsi kembali. Peppin juga menggunakan para tawanan China untuk memindahkan kayu ke lokasi jembatan, tempat para personel pasukan zeni membangun landasan dan memasang bagian jembatan baru. Kolonel Litzenberg memberi waktu dua jam lagi kepada Peppin untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pada pukul 3:30 sore, bagian-bagian baru jembatan telah dikaitkan dan jalur tersebut diberi jarak sehingga tank dapat menyeberanginya. Truk dan jip harus menggunakan bagian tengah jembatan yang terbuat dari kayu lapis yang telah dikirimkan kepada para pasukan zeni bersama dengan bagian jembatan yang berat. 

Masalah yang dihadapi oleh Marinir belum berhenti ketika mereka mendapati bahwa celah di Funchilin Pass lebih lebar dari yang diperkirakan semula. (Sumber: https://www.military.com/)

Peppin juga punya pekerjaan lain. Orang-orang Cina sebelumnya juga telah mendinamit jembatan kereta api baja yang melewati tempat itu sekitar seribu yard di sebelah selatan jembatan yang sekarang diperbaiki. Jembatan kereta api itu sebenarnya melintas di atas jalan tetapi sekarang tergeletak berantakan pada sudut kanan di seberangnya dan menutupi jalan. Mengikuti batalion infanteri yang melintasi jembatan treadway, Peppin bergerak dengan buldoser ke rintangan baru itu. Namun tina-tiba rentetan mortir meledak. Tetapi dari sini, Peppin dan pengemudi buldoser berhasil keluar tanpa cedera, dan Peppin memutuskan untuk melihat apakah buldoser tersebut dapat mendorong jembatan baja besar itu ke luar. Es di jalan terbukti membantu saat buldoser mendorong jembatan baja itu keluar dari jalan. Kini Rute ke Chinhung-ni telah terbuka! Namun bencana segera muncul lagi. Meskipun jalan pada jembatan yang baru diperbaiki di atas celah tersebut dapat menahan berat 50 ton, bagian tengah kayu lapis setebal empat inci hanya akan menopang beban 20 ton. Ini lebih dari cukup untuk sebagian besar tujuan, tetapi traktor penarik peralatan pemindah tanah mematahkan kayu lapis dan tergantung di tepi jurang. Hal ini secara efektif memblokir gerakan lebih lanjut melintasi jembatan. Tetapi Sersan Marinir, Wilfred H. Prosser, seorang pengemudi traktor yang ahli, berhasil “menyelamatkan hari itu” dengan naik ke atas traktor dan dengan hati-hati menarik kendaraannya dari jembatan.

PEMIKIRAN CEPAT MEMUNGKINKAN TANK DAN JEEP UNTUK LEWAT

Sekarang para pasukan zeni memiliki masalah baru: Tanpa bagian tengah kayu lapis, tank memang masih bisa menyeberang di atas track logam, tetapi jarak sumbu roda yang lebih sempit dari truk dan jip akan mencegah pergerakan lebih lanjut dari kendaraan tersebut. Berpikir cepat, Partridge memerintahkan bagian treadway baja didorong sejauh mungkin, yang akan memungkinkan tank untuk menyeberang sementara jip bisa naik di atas treadways dengan hati-hati menyelaraskan roda mereka sehingga mereka menggunakan bagian dalam bibir bagian logam hanya setengah inchi di kedua sisi. Tidak boleh ada kesalahan, dan prosedur penyeberangan yang awalnya dilakukan dengan kecepatan dua mil per jam menjadi lebih lambat. Saat kendaraan dalam satu barisan melintasi jembatan treadway, setiap pengemudi harus berkonsentrasi sepenuhnya. Kesalahan yang tidak disengaja akan berarti terjun 1.500 kaki ke sisi gunung. N. Harry Smith, seorang koresponden perang, kemudian berkata, “Saya tidak ingin naik kendaraan apa pun melalui jalan yang mengerikan ini, sambil menuruni gunung yang tidak pernah datar.” 

Dengan beberapa improvisasi dari personel pasukan Zeni, akhirnya celah di Funchilin Pass dapat dilewati. (Sumber: https://www.kpbs.org/)

Pasukan yang lewat di jembatan yang diperbaiki masih berada di bawah ancaman tembakan penembak jitu jarak jauh, dan saat kegelapan turun, operasi penyeberangan menjadi sangat berbahaya. Para personel pasukan zeni memandu pengemudi yang lewat hanya dengan menggunakan senter, karena lampu depan kendaraan yang dinyalakan akan segera menarik perhatian tembakan mortir musuh. Namun demikian, barisan yang bergerak mundur itu terus mengalir ke selatan dari Koto-ri sepanjang malam. Partridge mengenang: “Sensasi sepanjang malam itu sangat menakutkan. Sepertinya ada cahaya di atas segalanya. Tidak ada penerangan, namun Anda tampaknya bisa melihat dengan cukup baik; ada tembakan artileri, dan suara banyak artileri dilepaskan; ada banyak kaki berderak dan banyak kendaraan di atas salju yang segar. Ada banyak pengungsi sipil Korea Utara di satu sisi barisan dan Marinir berjalan di sisi lain. Sesekali, ada suara bayi yang meratap. Ada banyak ternak di jalan. Semuanya menambah sensasi umum adanya kelegaan, atau kelegaan yang diharapkan, dan pada saat yang sama muncul sensasi menakutkan lebih dari apa pun yang pernah saya alami dalam hidup saya. ” Pada pukul 2:45 pagi tanggal 10 Desember, unit-unit Marinir pertama berhasil mencapai tempat yang relatif aman di Chinhung-ni, meski masih 43 mil dari Hungnam, tetapi berhasil keluar dari perangkap di Chosin yang mematikan. Mereka naik truk dan dibawa ke arah Hungnam. Tetapi sebagian besar sisanya harus terus berjalan dengan susah payah menuju pantai sampai lebih banyak kendaraan transport tersedia.

“CHESTY” PULLER MEMBAWA PASUKAN BELAKANG BERSAMA DENGAN MARINIR YANG GUGUR DAN TERLUKA

Pada tanggal 9 Desember 1950, jurnalis foto majalah Life David Douglas Duncan berbicara kepada seorang marinir di Resimen Pertama Kolonel Chesty Puller yang legendaris. “Jika saya adalah Tuhan dan saat ini adalah Natal, apa yang akan Anda minta?” “Marinir itu yang berdiri tak bergerak” dengan “mata kosong”, mencoba makan kacang Lima dari kaleng bekunya, menjawab, “Beri aku hari esok.” Pada hari itu, Koto-ri telah ditinggalkan oleh Marinir. Bagian belakang barisan terdiri dari tank-tank yang dilindungi oleh orang-orang dari Kompi Pengintai Divisi Marinir (personel pengintai berada di sana karena adanya perintah yang kacau). Setelah beberapa ratus yard, ada sekelompok besar pengungsi Korea. Chesty Puller adalah orang terakhir yang meninggalkan Koto. Dia keluar dengan jipnya yang membawa segelintir Marinir yang tewas dan terluka. Barisan Marinir, yang membentang di sepanjang lereng gunung sejauh 10 mil, diatur sedemikian rupa sehingga setiap bagian dari kendaraan suplai dipisahkan satu sama lain sejauh seperempat mil. Setiap pengemudi kendaraan memisahkan diri dari yang berikutnya sejauh 50 yard. Meskipun adanya jarak berarti menambah kerentanan barisan terhadap ancaman infiltrasi oleh sekelompok kecil tentara China, namun pengaturan itu juga memastikan bahwa keseluruhan kendaraan suplai tidak akan dihancurkan jika terjadi penyergapan tiba-tiba atau adanya tembakan musuh yang akurat. Di atas kedua sisi jalan, kompi senapan Marinir yang bergerak di sepanjang punggung bukit memberikan perlindungan bagi kendaraan yang melewati jalan tersebut. Di sepanjang sisi jalan silhouette tentara China bisa terlihat di kaki langit dengan menggunakan teropong. Secara sporadis mereka akan menembaki marinir yang bergerombol. Dimana akan segera dibalas dengan tembakan senapan, senapan mesin, recoilles, dan kanon 90 mm tank mereka. Kadang mereka juga membalas dengan howitzer 105 mm mereka. Patroli-patroli kecil secara rutin dikirim untuk menghancurkan posisi-posisi China yang mengganggu di sepanjang rute.

Kolonel Chesty Puller yang mengomandani satuan belakang yang terakhir kali meninggalkan Koto-ri. Puller adalah sosok legenda di kalangan marinir, Puller sudah bergabung dengan Marinir sejak berakhirnya Perang Dunia I. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Gerak mundur marinir dari Chosin Reservoir ke Pelabuhan Hungnam. (Sumber: https://napavalleyregister.com/)
Beberapa Tentara China ditawan oleh para Marinir, namun yang lainnya ditembak ditempat oleh marinir-marinir yang melawan perintah atasannya. (Sumber: https://www.businessinsider.com/)

Antara Koto-ri dan Chinhung-ni, Marinir berhasil menangkap lebih dari seratus tawanan China, beberapa di antaranya telah sangat membeku sehingga gangren telah muncul pada luka-luka mereka. Tetapi kompi senapan Marinir di perbukitan tidak mampu untuk menahan tawanan. Sudah berada diluar batas daya tahan manusia, mengalami kelelahan yang sangat dan terdesak oleh waktu, beberapa unit kecil yang menangkap tahanan melawan perintah dari markas yang lebih tinggi untuk membawa tawanan mereka turun gunung, dan memilih menembak mereka dengan alasan keadaan darurat perang (dari laporan saksi mata yang dikutip dalam buku The Korean War: An Oral History, oleh Donald Knox). Baku tembak sengit terakhir meletus di selatan Chinhung-ni pada tengah malam tanggal 10 Desember. Tetapi pasukan Marinir berhasil melewati penghalang jalan yang dipasang pasukan China dan terus menuju ke arah Hungnam. Partridge memerintahkan agar jembatan treadway di Funchilin Pass dihancurkan pada sore hari tanggal 11 Desember. Dia mengenang: “Saya merasa senang setelah semua orang menyeberang dan saya akan menghancurkan jembatan itu.” Selama gerakan mundur terakhir ke selatan dari Koto-ri ke Chinhung-ni dan seterusnya, Divisi Marinir pertama dan unit-unit yang terkait menderita 75 korban tewas, 16 hilang, dan 256 luka-luka. Saat mencapai Hungnam, divisi tersebut dievakuasi bersama pasukan PBB lainnya di timur laut Korea. Orang-orang Cina sendiri sudah terlalu babak belur untuk bisa melanjutkan pertempuran sampai mencapai ke tepi laut. Sebagai tindakan terakhir, tim penghancur AS menghancurkan pelabuhan Hungnam untuk mencegah penggunaan kembali oleh pihak Komunis. Demikian pula mereka juga tidak akan pernah kembali lagi ke tempat itu.

”PERTEMPURAN YANG TIDAK ADA BANDINGANNYA DALAM SEJARAH MILITER AMERIKA” 

Pendobrakan pengepungan yang dramatis yang dilakukan oleh Divisi Marinir Pertama dari Waduk Chosin secara luas dilaporkan pada saat itu oleh pers dunia. Majalah Time mengatakan bahwa itu “adalah pertempuran yang tak ada bandingannya dalam sejarah militer AS,” yang memiliki “beberapa aspek seperti di Bataan, sebagian di Anzio, sebagian dari Dunkirk, beberapa dari Valley Forge, dan beberapa dari ‘Retreat of the 10,000’ (dari tahun 401-400 SM ) seperti yang dijelaskan dalam Xenophon Anabasis. ” Faktanya, sebagian besar dunia tidak pernah berpikir bahwa para Marinir akan memiliki kesempatan selamat sampai mereka benar-benar melintasi Funchilin Pass. Tetapi Grup Angkatan Darat ke-9 China mungkin telah kehilangan sebanyak setengah kekuatan numeriknya sebagai korban perang dan karena cuaca dingin yang parah. Intelijen Amerika memperkirakan kerugian pasukan China dalam Pertempuran di Kawasan Chosin Reservoir amat besar, sekitar 37.500, dengan 25.000 diantaranya terbunuh — lebih dari 50% prajurit yang dikerahkan. Kemungkinan 35-40% dari korban di pihak musuh disebabkan oleh serangan udara jarak dekat yang dilakukan oleh pilot-pilot Marinir. Para pilot Marinir kemudian membuat sajak untuk menghormati pesawat-pesawat F-4U Corsair mereka yang terpercaya:

“Di Korea di tengah karang, es dan salju

Seorang China menunduk begitu dalam

Saat Corsair-Corsair kita terbang diatas mereka

Ia tahu bahwa kawan-kawannya akan segera mati

 

Lin Piao bergegas menuju ke Koto-ri yang dingin,

Dengan harapan dapat melihat tentara China beraksi

Ia bilang tentaranya tidak pernah kalah perang

Tetapi yang ia temukan cuma topi-topi dan sepatu mereka”

Pasukan China yang menyerang para Marinir kemudian akan tersingkir dari medan perang selama lebih dari tiga bulan pada waktu yang sangat kritis. Divisi Marinir Pertama menderita hampir tujuh ribu korban dalam dua minggu pertempuran yang hampir konstan, meskipun sekitar setengahnya karena radang dingin dan penyakit. Korps X menderita lebih dari 2.700 korban tambahan, sebagian besar di unit Angkatan Darat AS yang beroperasi bersama Marinir. Mayor Jenderal Oliver P. Smith jelas layak mendapat pujian. Tidak seperti Jenderal MacArthur dan bawahannya yang terlalu percaya diri, Smith bisa dengan jernih melihat apa yang mungkin terjadi dan selalu siap sedia untuk menghadapi kemungkinan terburuk, meski dia tetap menjalankan perintah yang diberikan padanya, meski ia sendiri tidak setuju. Dengan menghantam Grup Tentara ke-9 China, ia menyelamatkan tidak hanya divisinya tetapi juga pelabuhan Hungnam dan mungkin juga Seluruh Korps X itu sendiri. Pasukan-pasukan Marinir menghancurkan tidak kurang 7 Divisi Tentara China. Keluar dari Chosin Reservoir ditengah hujan salju yang dinginnya dibawah nol derajat dalam sebuah musim dingin di benua Asia, para Leathernecks memberikan dorongan semangat yang amat dibutuhkan pasukan PBB dan orang-orang Amerika yang babak belur menghadapi gelombang invasi Pasukan China. Chesty Puller sendiri kemudian mendapatkan medali Navy Cross kelimanya — menjadi orang yang paling banyak mendapatkan medali itu dalam sejarah dan mendapatkan bintang pertamanya (pangkat Brigadir Jenderal). Selain berbagai medali untuk keberanian dan Purple Heart untuk mereka yang terluka, 14 Medali Medal Of Honor juga diberikan, 7 diantaranya secara anumerta. Seperti yang kemudian ditulis oleh seorang Marinir, “Kami (terpaksa) menyerahkan wilayah yang telah kami kuasai, tetapi kami mungkin telah menyelamatkan perang.” Pasukan itu sendiri tahu bahwa mereka akan berhasil. Jikapun diperintahkan kembali ke utara, mereka pun akan tetap pergi juga.

Pelabuhan di Hungnam dihancurkan untuk mencegah agar tidak dapat digunakan lagi oleh Tentara China. (Sumber: https://www.businessinsider.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Americans Faced Blown Out Bridge During Retreat To 38th Parallel By Marc D. Bernstein

The U.S. Marine Corps: An Illustrated History By Merrill L. Bartlett & Jack Sweetman; p 238-240; 2001

Semper Fi: The Definitive Illustrated History of the U.S. Marines by H. Avery Chenoweth and Brooke Nihart; p 298, p 300-301, p 303, p 306, p 308, p 310; 2005

The Forgotten War: Bloody retreat from Frozen Chosin by John Stephen Futini; Updated Aug 3, 2020

https://www.google.com/amp/s/napavalleyregister.com/news/opinion/mailbag/the-forgotten-war-bloody-retreat-from-frozen-chosin/article_5f418546-c3cb-52f5-8e5c-ec42b9d82701.amp.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *