8 Maret 1965, Marinir Amerika Mendarat di Pantai Da Nang

Pada tanggal 8 Maret 1965, Pangkalan Udara di Da Nang, tidak nampak sebagai tempat yang bakal menjadi salah satu bandar udara tersibuk di dunia. Disana hanya terdapat beberapa deret bunker yang ditinggalkan oleh Jepang, beberapa bangunan bekas kolonial Prancis, dan sebuah landasan udara sepanjang 3.000 kaki yang mengarah ke arah pantai yang menghadap Laut China Selatan. Pada hari itu 4 kapal (USS Mount McKinley, Henrico, Union, dan Vancouver) yang menjadi bagian dari Amphibious Task Force 76, setelah selama 6 minggu berlayar dari Jepang, menghabiskan hari terakhir di lepas Laut China Selatan, di tengah cuaca yang tergolong buruk di Laut China selatan. Kapal-kapal ini mengangkut 3.500 prajurit Marinir Amerika dibawah pimpinan Jenderal Frederick J Karch, veteran pertempuran di Saipan, Tinian, dan Iwo Jima saat PD 2. Marinir-marinir di geladak ke 4 kapal dalam kondisi tegang, mereka membayangkan bahwa suasana pendaratan akan mirip dengan pendaratan Amfibi di Pasifik selama PD 2, dengan kemungkinan serangan gencar dari segala penjuru.

Wilayah Da Nang sekitar tahun 1965.

Kondisi genting di Vietnam Selatan

Da Nang waktu itu ber populasi 200.000 orang, yang sebagian berasal dari para pengungsi akibat perang. Pada kenyataannya Da Nang tergolong, satu dari sedikit tempat aman di wilayah itu. Di luar wilayah seluas 10.000 mil persegi yang sering disebut sebagai Zona Taktis Korps I, sebagian besar dikuasai Viet Cong/VC/Charlie. Di wilayah ini, ARVN hanya berani bertahan di balik tembok bambu dan tembok lumpur, mereka tidak berani bergerak terlalu jauh dari perimeter pertahanan garnisun garnisun mereka.

Kondisi miiter di Vietnam Selatan saat itu tidak terlalu bagus, dalam satu pertempuran, sebuah kamp pasukan khusus yang terisolasi milik pemerintah di BinhDinh, VietCong menyerang mereka selama 6 jam dengan mengakibatkan 500 pasukan dalam kamp tewas, dengan kerugian 100 orang di pihak mereka. Kejadian-kejadian serupa menjadi hal yang kerap terjadi kemudian, pada tanggal 1 November 1964, mereka menyamar sebagai petani yang menggunakan sampan melewati Pangkalan Udara Amerika di Bien Hoa, untuk kemudian menembaki pangkalan itu dengan menggunakan mortir yang mengakibatkan 4 orang Amerika tewas, 5 bomber hancur dan merusakkan 8 lainnya (sebagian tipe B 57 Canberra). Pada malam Natal, sebuah truk bermuatan bom menubrukkan diri ke sebuah hotel di Saigon, yang banyak dipenuhi orang Amerika yang menunggu pertunjukan Bob Hope. Ledakan menyebabkan 2 orang Amerika terbunuh dan melukai 70 lainnya.

VIETNAM WAR 1964 – The results of a heavy mortar attack on Bien Hoa Air Base, 15 miles north of Saigon, November 1964.

Akan tetapi yang paling parah adalah pada tanggal 7 Februari 1965. Di Kamp Holloway, dekat ibukota propinsi, Pleiku, saat sekitar 400 prajurit Amerika anggota 52d Combat Aviation Battalion tertidur, 300 VietCong menyerang mereka. VC menggunakan jeda waktu gencatan senjata festival beragama untuk menumpuk mortir-mortir rampasan Amerika. Pada pukul 02.00 mereka memborbardir pangkalan itu yang menyebabkan dentuman-dentuman eksplosif yang menghancurkan pesawat-pesawat, membunuh 7 orang Amerika, dan melukai 100 lainnya. “They are killing our men while they sleep in the night,” kata presiden Johnson dengan geram “I Can’t ask our American Soldier to continue to fight with one hand behind their back”.

Pendaratan yang antiklimaks

Kembali ke pantai Da Nang di 8 Maret, Marinir menyerbu ke pantai pada pukul 09.03 dengan maksud untuk “membebaskan tangan mereka yang selama ini terbelenggu” dalam istilah Johnson. “we’ve ready to do this job for some time” kata Jenderal Karchs ’there a sense of relief at the prospect of getting some action’. Yang pertama kali mendarat adalah para pasukan katak, yang langsung mengarah ke deretan pohon kelapa, di belakangnya mengekor 11 kendaraan amphibi LVTP seberat 45 ton, dengan 34 prajurit di masing-masing kendaraan; dibelakangnya mengikuti 200 kendaraan yang lebih besar LCM-8. Semuanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mendaratkan para prajurit dalam 4 gelombang pendaratan. Dalam 65 menit, 1400 prajurit bersenjata lengkap-membawa senapan, senapan mesin, dan roket serta peluncur granat, berhasil didaratkan di pantai.

Members of the 9th U.S. Marine Expeditionary Force go ashore at Da Nang, South Vietnam, March 8, 1965, and run to assigned positions. The Marines were ordered into Da Nang to beef up defense of the air base nearby from which air strikes against North Vietnam targets had been launched. The 3,500 Marines dispatched on March 8, 1965, marked the start of the ground war in Vietnam.
AP Photo

Para marinir diindoktrinasi di kamp pelatihan bahwa pada dasarnya tidak ada namanya PANTAI YANG BERSAHABAT. Dan pada saat mereka mendarat di pantai yang diberi kode Red Beach Two, para marinir telah siap menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi-kecuali apa yang kemudian terjadi. Walikota Da Nang, dengan membawa kamera polaroid, menyambut mereka. Begitu juga televisi dan para wartawan yang segera menyerbu para marinir yang sedang dalam kondisi siaga dalam tempat perlindungan!!!!

Beberapa Banner diusung para penyambut dengan tulisan “Vietnam welcomes the US Marine Corp” dan “Happy welcome the marine in defense of this free world outpost”, kemudian menyusul sambutan manis dari gadis-gadis siswa Vietnam yang mengalungkan kalungan bunga Dahlia dan Gladiol di leher-leher marinir yang berpostur menjulang. Bahkan Jenderal Karch yang lulusan Annapolis bahkan tidak mengantisipasi penyambutan yang jauh dari perkiraannya ini. Sebuah foto yang diabadikan pada momen itu menampilkan san Jenderal yang sama sekali tidak tersenyum. “Foto ini menimbulkan beberapa masalah buat saya”, kata Karch kemudian.”orang-orang menanyakan “kenapa kamu tidak bisa tersenyum saat itu?” kemudian Karch menjawab “tetapi kamu harus tau, jika saya melakukan itu, gambarnya mungkin tetap sama, tapi saya pikir jika kita punya anak di Vietnam dan kemudian terbunuh, kamu tentunya tidak ingin melihat foto Jenderal yang tersenyum dengan kalungan bunga di leher pada momen tersebut”.

Jenderal Frederick Karch, yg irit senyum di pagi hari 8 Maret 1965.

Yang jadi pertanyaan adalah kenapa Marinir mendarat dengan kondisi full siaga seperti dalam gambar komik seperti itu, sementara Da Nang telah memiliki landasan udara dan pelabuhan yang baik? Hal ini tidak lain dikarenakan para marinir dilatih untuk menjalankan prosedur semacam itu, mereka membutuhkan pantai pendaratan yang mampu menampung pendaratan pasukan dengan perlengkapan dan kendaraan dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat. Penggunaan Landasan udara dan pelabuhan akan memakan waktu yang lebih besar, untuk mendaratkan tank-tank M 48 dan Ontos. Akan tetapi tujuan utama pendaratan semacam ini adalah sebagai sebuah pesan bagi Vietnam Utara dan sekutu China-Russia nya, bahwa Amerika tidak bermaksud diam saja membiarkan sekutu mereka jatuh ke tangan komunis.

U.S. Marines get tanks and other equipment ashore north of Da Nang.
Larry Burrows/The LIFE Picture Collection/Getty Images

Can’t wait for hunting time

U .S. Marines take up defensive positions after landing at Da Nang Bay in South Vietnam on March 8, 1965 during the Vietnamese War. The members of the 9th Marine Expeditionary Force were to increase defenses against possible Communist Viet Cong attacks on the Da Nang air base.
AP Photo

Dalam beberapa hari tidak ada satupun yang terbunuh. Pada saat ARVN terlibat dalam tembakmenembak hanya 2 mil dari perimeter marinir, mereka tidak meminta bantuan marinir. Beberapa prajurit Vietnam menunjukkan performa yang cukup menawan, hingga poin ini. “Orang-orang Vietnam terlihat memahami apa yang sedang mereka kerjakan”, kata Letnan Donald H Hering,”akan tetapi kita sedikit terkejut ketika mereka mulai menyalakan rokok dan mendengarkan musik Jazz ketika mereka berpatroli”.

Piknik yang segera berakhir

Dengan berjalannya peperangan, para marinir mulai berpatroli. Mereka berpatroli ke bukit-bukit sebelah barat. Dalam kondisi ini, di malam-malam yang miterius di kawasan tropis amat mudah timbul gambaran-gambaran dan suara-suara yang aneh. Marinir pertama yang terbunuh terjadi di kondisi patroli semacam ini. 2 diantara mereka, dari 3 orang yang berpatroli, tersesat dalam perjalanan pulang dan muncul di belakang rekan-rekan mereka di kegelapan. Rekan-rekan mereka berbalik dan menembak, keduanya terbunuh. The Kiling Fields of Vietnam had begun to claim their victims.

Sumber:

Nam The Vietnam Experience (1965-75), Konsultan editor Tim Page & John Pimlo, 1995

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *