Kisah Heroik Brigade Ke-1 Turki Dalam Perang Korea (1950-1953)

Perang Korea, seperti yang dijelaskan oleh banyak orang, termasuk kemudian oleh Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, sebagai aksi polisionil, yang menandai untuk pertama kalinya Amerika Serikat dan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang masih muda menjalin kemitraan untuk menghentikan invasi Komunis pada masa Perang Dingin di Kawasan Timur Jauh. Sebanyak 22 negara setuju untuk mengirim pasukan atau unit medis dibawah payung PBB. Enam belas negara menanggapi resolusi PBB dengan mengirimkan pasukan tempur untuk menghentikan invasi di Korea Selatan oleh Pasukan Korea Utara. Salah satu negara pertama yang mengirim kontingen militer satuan setingkat brigade adalah Turki. Satuan Turki ini kemudian dikenal sebagai Turkish Brigade (Dengan nama North Star, Turkish: Şimal Yıldızı atau Kutup Yıldızı)

Brigade ke-1 Turki dalam Perang Korea. Keberadaan Turki dalam Perang Korea mungkin mengejutkan sebagian orang awam, namun bagi mereka yang bahu-membahu dengan Tentara Turki bertempur di Korea, keberadaan Tentara Turki adalah sebuah anugerah. (Sumber: https://kknews.cc/)

AWAL MULA KEHADIRAN BRIGADE TURKI DI KOREA

Setelah Perang Dunia II, masalah kebijakan luar negeri terbesar Turki adalah isolasi yang telah dilakukan negara itu selama berpuluh-puluh tahun. “Setelah terkuras tenaganya oleh dua perang besar – Perang Dunia I dan perang kemerdekaan berikutnya – dan dalam proses membangun republik muda itu di atas sisa-sisa kejayaan Kekaisaran Ottoman yang sudah mati, Turki telah menahan diri selama Perang Dunia II untuk menghindari terseret ke dalam konflik, terutama karena mereka juga tidak diserang oleh pihak manapun saat itu”, menurut beberapa pengamat. Setelah perang, komunitas internasional memandang Turki sebagai negara netral. “Hal itu membuatnya sangat rentan di mata Uni Soviet … yang masih ingin mengendalikan selat di Laut Hitam,”. Terancam oleh tuntutan Soviet untuk bisa ikut serta dalam mengelola jalur air strategis, Turki kemudian berupaya membina hubungan yang lebih dekat dengan Amerika Serikat. Pejabat pemerintahan Truman, sementara itu, telah menyimpulkan pada bulan Januari 1946 bahwa Soviet akan berani menyerang Turki kecuali jika dihadapkan dengan perlawanan dan dukungan Amerika yang kuat di sisi Turki. Sebuah sikap simbolis lalu memperkuat ikatan antara Turki dan Amerika Serikat. Ketika pada bulan April 1946, Presiden Truman secara khusus mengirim kapal tempur Amerika, USS Missouri untuk mengembalikan jenazahnya ke Turki Duta Besar Turki, Munir Ertegun meninggal di Washington tahun 1944, kembali ke Turki. “Reaksi di Turki sangat luar biasa sehingga sejak itu, beberapa ahli menyebut episode Missouri sebagai awal dari hubungan cinta antara Turki dan A.S.,” kata seorang pengamat Turki. Dengan deklarasi Doktrin Truman pada tahun berikutnya, Amerika Serikat mulai memberikan bantuan ekonomi dan militer besar-besaran ke Turki dan Yunani. Kurang dari sebulan setelah pemerintah Turki pertama yang terpilih secara demokratis mengambil alih kekuasaan, Perang Korea pecah. Pada tanggal 29 Juni 1950 Republik Turki menanggapi Resolusi PBB nomor 83 yang meminta bantuan militer ke Korea Selatan, menyusul serangan oleh Korea Utara pada 25 Juni, pemerintah Turki lalu memutuskan untuk mengirim brigade tempur berjumlah sekitar 5.000 orang – terlepas dari risiko pembalasan dari Uni Soviet, dan tanpa meminta syarat jaminan penerimaan Turki sebagai anggota NATO.

Kehadiran Kapal Tempur USS Missouri pada bulan April 1946 untuk mengembalikan jenazah Duta Besar Turki yang meninggal di Washington tahun 1944 menjadi penanda hubungan mesra antara Amerika Serikat dan Turki setelah berakhirnya Perang Dunia II. (Sumber: https://www.ibiblio.org/)

Kontingen Turki pertama tiba di Korea pada tanggal 17 Oktober 1950, dan dengan berbagai variasi kekuatan, mereka bertahan hingga pertengahan musim panas tahun 1954. Awalnya, Turki mengirimkan Brigade Turki ke-1 yang dipimpin oleh Brigadir. Jenderal Tahsin Yazici. Brigade tersebut terdiri dari tiga batalyon yang dikomandoi oleh Mayor Imadettin Kuranel, Mayor Mithat Ulunu, dan Mayor Lutfu Bilgon. Komando Angkatan Bersenjata Turki (TAFC) di Korea waktu itu adalah sebuah tim tempur  setingkat resimen dengan tiga batalyon infanteri, bersama dengan unit artileri pendukung dan satuan zeni. Satuan itu adalah satu-satunya unit PBB seukuran brigade yang melekat secara permanen ke divisi tempur Amerika selama Perang Korea. Satuan terdepan dari Komando Brigade Turki tiba di Pusan pada tanggal 12 Oktober 1950. Kemudian menyusul 5.190 personel dari Brigade Turki ke-1, termasuk unit penghubung yang tiba di Pusan, Korea Selatan, pada tanggal 17 Oktober, setelah berangkat dari pelabuhan Iskenderun di Mediterania timur, Turki. Brigade ini diturunkan dari kapal mereka dan melanjutkan perjalanan ke pusat penerimaan satuan PBB yang baru dibuka yang terletak tepat di luar kota Taegu. Sebagian besar tamtama berasal dari kota-kota kecil dan desa-desa di pegunungan Turki timur. Bagi para  prajurit sukarelawan dan sukarelawan bintara yang baru menyelesaikan wajib militer dua tahun ini, penugasan ini bukan hanya pertama kalinya mereka meninggalkan negara asal mereka, tetapi juga pertama kalinya mereka keluar dari desa kelahiran mereka. Dan setidaknya bagi para tamtama, ini adalah kesempatan pertama kalinya mereka bertemu orang-orang non-Muslim. Perbedaan budaya dan agama yang besar juga terjadi antara orang Turki dan orang Amerika. Komandan mereka, Brigjen. Jenderal Yazici, Veteran pertempuran Gallipoli tahun 1915, yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Kolonel Celal Dora sebagai asisten Komandan Brigade, sudah termasuk senior, namun sangat dihormati dalam militer Turki dengan rela turun pangkat untuk memimpin kontingen pertama Turki di Korea. Dia hanya memiliki satu kelemahan — tidak benar-benar bisa berbahasa Inggris dengan baik — meski dia terikat pada sebuah divisi Amerika. Belakangan, kurangnya kemahiran bahasa itu terbukti menjadi penghalang besar bagi pemahamannya tentang perintah dan penempatan pasukan.

Brigadir Jenderal Tahsin Yazıcı, Komandan Pertama Brigade Infanteri Ke-1 Turki yang dikirim dalam Perang Korea. Yazıcı, yang adalah veteran pertempuran di Gallipoli tahun 1915 adalah sosok prajurit Turki senior yang dihormati di negerinya. (Sumber: https://alchetron.com/)

Komando Angkatan Darat A.S. tidak begitu menyadari kesulitan dalam hal koordinasi, logistik, dan, yang terpenting, komunikasi dasar dalam bahasa yang sama yang nantinya akan mempersulit pemberian perintah dan pergerakan pasukan, terutama di bulan-bulan awal yang penting dari latihan bersama mereka. Perbedaan makanan, kebutuhan pakaian, dan transportasi kemudian menciptakan lebih banyak masalah daripada yang diperkirakan oleh komando tinggi Amerika. Dari sisi makanan, persyaratan makanan orang Turki yang melarang penggunaan produk daging babi, berbeda dengan ransum Amerika yang jelas mengandung produk daging babi yang dilarang untuk semua umat Muslim. Untuk mengatasi hal ini pembuat makanan asal Jepang disewa untuk menyediakan jatah ransum yang memenuhi persyaratan Turki. Roti dan kopi, juga menghadirkan masalah lain. Orang Turki lebih menyukai roti yang berat dan besar yang mengandung tepung yang tanpa pengembang bersama dengan kopi yang kental, kuat, dan sangat manis. Meski demikian pada akhirnya Angkatan Darat A.S. bisa menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan ini bersama dengan pasukan Sekutu lainnya. Beberapa perwira penghubung Amerika terikat ditempatkan di beberapa kompi Turki, hal ini kemudian menambah masalah yang dihadapi Turki dalam operasi tempur awal mereka akibat salah tafsir atas perintah akibat kurangnya komunikasi antara Sekutu. Masalahnya, yang pada awalnya terabaikan dan dinilai hanya kecil, kemudian menjadi masalah yang lebih parah ditengah panasnya pertempuran. 

Pada saat pertama kali mendarat di Korea, Pasukan Turki masih mengenakan seragam tentara Inggris yang berat dan ketinggalan jaman, kemudian secara bertahap mereka menerima perlengkapan standar seperti tentara Amerika dimana satuan mereka diperbantukan. (Sumber: http://espritdecorps.ca/)

Kedatangan tentara Turki di Korea mendapatkan publisitas yang cukup besar. Penampilan garang tentara Turki, dengan kumis melintang dan pisau besar adalah laksana impian koresponden perang akan hal-hal simbolis yang menjadi kenyataan. Meskipun mereka tidak pernah bertempur dalam konflik besar sejak Perang Dunia I, tentara Turki memiliki reputasi sebagai pejuang yang gigih dan keras yang lebih menyukai aksi ofensif dan tidak memberikan ampun pada musuh dalam pertempuran. Sebagian besar tamtama masih muda dan membawa pedang sebagai senjata cadangan, yang bagi orang Amerika dan pasukan PBB lainnya, tampak seperti pisau panjang. Tidak ada pasukan PBB lainnya yang dipersenjatai dengan pisau semacam itu, sebuah senjata yang tidak biasa. Para prajurit Turki juga memiliki kemampuan berbahaya dalam pertempuran jarak dekat dengan pisau panjang mereka yang membuat semua pasukan Sekutu ingin menjauh dari mereka. Sebagian besar tamtama berasal dari wilayah stepa timur Turki dekat perbatasan Rusia dan memiliki sedikit lebih dari tiga atau empat tahun di sekolah dasar. Dalam proses wajib militer, mereka diberi seragam, ditambah beberapa pelatihan oleh militer Turki dan penasihat militer AS mereka. Kehidupan di desa asal mereka sebagian besar tidak berubah selama ratusan tahun. Sumur pusat desa masih menyediakan air, dan berita tentang dunia luar jarang merasuki kehidupan sehari-hari desa mereka. Ketika Brigade Turki tiba di Korea, perlengkapan mereka buruk, karena peralatannya sudah ketinggalan zaman. Para tentara itu mengenakan seragam “perang” Inggris yang baru saja diadopsi oleh Angkatan Darat Turki, dengan mantel militer yang berat, helm Mk2 Inggris dan webbing peralatan dari kulit buatan Jerman. Baru pada saat menjelang pertama kali memasuki medan pertempuran pada bulan November, mereka mulai dilengkapi dengan senjata dan seragam standar M1943 buatan AS, yang tidak segera diedarkan secara luas. Secara bertahap, pakaian dan peralatan Turki diganti dengan buatan AS dan terutama brigade yang tiba kemudian di Korea semuanya sudah menggunakan seragam dan senjata AS. Setelah, mendarat di Pusan brigade Turki berhenti di Taegu di mana ia menjalani pelatihan dan menerima peralatan dari tentara Amerika. Brigade tersebut kemudian mendapat pelatihan terbatas, dan setelahnya tersebut pindah ke utara ke wilayah Kaesong untuk kemudian bergabung dengan divisi infanteri Amerika ke-25.

OFENSIF PBB KE KOREA UTARA

Dengan kondisi tentara PBB yang beragam, meski sebagian besar terdiri dari prajurit-prajurit Amerika tetapi unit-unit PBB secara total terdiri dari 16 negara berbeda. Kemudian muncul perintah tiba-tiba datang ke markas Angkatan Darat Kedelapan Jenderal Walton ‘Johnnie’ Walker untuk melakukan serangan besar-besaran dan mendorong agar perang dapat diakhiri lebih awal. Janji Jenderal Douglas MacArthur untuk menarik mundur dua divisi dan membawa ‘mereka pulang sebelum Natal’ memberikan ilusi bahwa perang akan segera berakhir saat pasukan PBB bergerak menuju ke Sungai Yalu, dekat perbatasan China. Sebenarnya ada beberapa keraguan yang diungkapkan, terutama oleh komandan Angkatan Darat Kedelapan, Jenderal Walker. Namun keberatan tersebut, bagaimanapun, dengan cepat disingkirkan oleh klik perwira yang ada di sekeliling MacArthur. Tekanan dan godaan untuk mengakhiri perang dalam satu serangan besar-besaran menjadi terlalu sulit untuk bisa ditahan. Para jenderal dan komandan di lapangan yang benar-benar akan terlibat pada salah satu kampanye militer paling berdarah dalam perang memprotes, namun suara-suara mereka tidak pernah diakui atau diabaikan. Laporan intelijen yang diberikan kepada MacArthur menunjukkan adanya kehadiran dan penangkapan beberapa pasukan Tiongkok pada akhir bulan Oktober dan awal November. Mayor Jenderal Willoughby, kepala intelijen MacArthur, membuatnya terus mengikuti semua laporan yang masuk tentang pergerakan pasukan Tiongkok dalam jumlah yang lebih besar. Meskipun demikian, keputusan telah final diberikan kepada Angkatan Darat Kedelapan, pimpinan Jenderal Walker. Walker mencoba beberapa kali untuk menunda dengan memprotes kurangnya dukungan logistik dan pasokan yang masih dalam perjalanan dari Jepang dan Amerika Serikat, tetapi yang dia dapatkan hanyalah semakin meningkatnya kemarahan MacArthur terhadapnya dan ketidaksabarannya atas penundaan tersebut. 

Setelah berhasil merebut kembali Seoul, bulan September 1950, pasukan PBB dibawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur meneruskan ofensif hingga ke Korea Utara dan Perbatasan China, hal ini kemudian menimbulkan malapetaka bagi pasukan PBB. (Sumber: http://koreanhistory.info/)

Angin kencang dari Manchuria bertiup di atas pegunungan granit yang curam dan lembah bermedan berat di Korea Utara. Cuaca terdingin dalam kurun waktu setidaknya 40 tahun mencengkeram daratan. Tentara yang mati rasa dan sengsara berusaha untuk tetap hangat di sekitar api unggun darurat yang dibuat dari drum kosong ukuran 50 galon. Unit medis mulai merawat kasus radang dingin pertama mereka. Makin lama, Korea menjadi mirip pepatah ‘Neraka membeku’. Dalam kondisi ini perlu untuk mencampur alkohol dengan bensin untuk mencegah saluran gas membeku di kendaraan dan peralatan. Plasma darah harus dipanaskan selama 90 menit sebelum dapat digunakan. Obat-obatan yang larut dalam air membeku, dan keringat yang terkumpul di sepatu bot tentara membeku sepanjang malam. Medan wilayah utara Korea, dengan lembah berbentuk v yang panjang, pegunungan terjal yang tinggi, dan kurangnya jaringan jalan terlihat nyata, bersama dengan hawa dingin yang luar biasa yang menyapu pasukan yang bergerak maju, berkontribusi pada elemen tragedi yang membentuk pertempuran yang akan pecah di masa mendatang. Divisi ke-7 Angkatan Darat AS dan unit lainnya tidak siap menghadapi perang di musim. Hanya beberapa unit tempur yang memiliki seragam musim dingin. Namun demikian mereka tetap diperintahkan maju. Pada 21 November, mereka diperintahkan untuk bergerak melintasi dasar sungai yang menurut mereka airnya hanya setinggi pergelangan kaki yang tidak akan menimbulkan masalah. Namun, malam sebelumnya, bendungan di hulu telah dibuka dan air dilepaskan. Para prajurit akhirnya harus mengarungi air dingin setinggi pinggang dengan bongkahan es mengapung di atasnya. Setelah beberapa kali gagal, penyeberangan itu kemudian dibatalkan. Delapan belas prajurit menderita radang dingin parah dan seragam beku mereka terpaksa harus dipotong. 

ANCAMAN CHINA

Selama gerak maju yang mantap itu, pasukan Walker menjadi semakin “tipis” kedalamannya saat Semenanjung Korea semakin melebar dan memaksa tentara untuk mempertahankan lebih banyak wilayah saat bergerak maju ke utara. Satuan tempur yang dibawahinya saat itu terdiri dari Korps I AS, yang terdiri dari Divisi ke-24 AS, Brigade ke-27 Inggris, dan Divisi ke-1 Republik Korea (ROK); Korps IX AS yang terdiri dari Divisi ke-2 dan ke-25 Amerika dan Brigade Turki ke-1; divisi ROK ke-6, ke-7, dan ke-8; dan Divisi Kavaleri ke-1 sebagai cadangan Angkatan Darat. Walker sangat berhati-hati dalam melibatkan pasukannya dalam pertempuran. Pihak intelijen mencoba mendapatkan perkiraan yang realistis tentang kekuatan pasukan Tiongkok dan pergerakan mereka. Briefing harian pada awal bulan November menunjukkan peningkatan dramatis dalam kekuatan pasukan Tiongkok dan Korea Utara dari 40.100 menjadi 98.400 orang. Perkiraan ini masih sangat tidak memadai. Pada kenyataannya yang berkumpul di depan Korps IX Walker di barat adalah Grup Angkatan Darat XIII dari Tentara Lapangan Keempat Cina, yang terdiri dari 18 divisi infanteri dengan total setidaknya 180.000 orang. Sementara yang dihadapi oleh Korps I Amerika di timur adalah Grup Angkatan Darat IX dari Tentara Lapangan Ketiga Tiongkok dengan 12 divisi infanteri yang terdiri dari sekitar 120.000 orang. Total kekuatan Pasukan Tiongkok adalah sekitar 300.000 orang; 12 divisi Tentara Rakyat Korea Utara juga turut menambahkan sekitar 65.000 pasukan ke kekuatan musuh. Tentara Korea Utara telah cukup pulih dari kekalahan mereka sebelumnya di tangan tentara Amerika, sebagai sebuah unit yang dinilai oleh komandan mereka layak tempur. Ditambahkan ke barisan itu adalah sekitar 40.000 gerilyawan yang beroperasi di belakang garis depan pasukan PBB. Kekuatan musuh seperti ini jelas lebih dari yang selama ini diperkirakan.

Pasukan asal Australia kembali dari misi pengintaian di Chongju-Korea Utara, 29 Oktober 1950. Pada masa ini, pasukan PBB belum menyadari bahaya yang mengancam dari seberang perbatasan dengan China. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Di seberang perbatasan Korea Utara-China, ratusan ribu pasukan China telah bergerak maju untuk melintasi Sunga Yalu, bersiap untuk menginvasi wilayah Korea Utara. Dalam pergerakannya, pasukan China dengan cerdik bisa meminimalisir deteksi pasukan PBB. (Sumber: Pinterest)

Tentara Tiongkok telah berhasil memindahkan sejumlah besar pasukan dengan cara yang paling primitif. Menggunakan hewan dan punggung mereka sendiri untuk mengangkut perbekalan, mereka tidak dibatasi oleh jalan-jalan primitif. Mereka bergerak melintasi darat tanpa menggunakan truk atau peralatan mekanis lainnya dan karena itu memiliki keuntungan mobilitas yang lebih besar. Hal ini telah mereka praktekkan bertahun-tahun selama perang melawan Jepang maupun selama Perang Saudara China melawan tentara KMT. Tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebaliknya, terjebak dengan jalan-jalan utama dan harus memperbaiki jalan-jalan yang ada untuk memindahkan orang dan peralatan. Kompi-kompi Zeni bergerak maju, mencoba membuat jalan untuk bisa dilalui oleh tank dan truk. Perbedaan lain yang mencolok pada tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amerika Serikat adalah kepatuhan mereka pada rutinitas, dengan pemikiran dan taktik yang masih dipengaruhi oleh Perang Dunia II. Sementara itu Tentara Tiongkok dibiasakan untuk membawa di punggung mereka semua makanan yang dibutuhkan setiap prajurit setidaknya selama enam hari. Makanannya adalah nasi dan dadih kedelai dalam bentuk padat serta barang serupa yang tidak perlu dimasak atau dipanaskan agar bisa dimakan. Buku harian tentara Tiongkok yang ditemukan menceritakan rasa lapar mereka karena jatah makanan yang sangat dibatasi ini, tetapi mereka berhasil mencapai tujuan mereka dalam cuaca dingin dan angin yang menggigit dan di atas medan yang sama yang melumpuhkan lawan-lawan mereka di Pihak Pasukan PBB. Laskar Cina umumnya berjalan pada malam hari dan rata-rata bergerak setidaknya 18 mil per hari selama kurang lebih 18 hari. Di siang hari, mereka menyembunyikan diri di medan pegunungan yang keras. Satu-satunya pergerakan siang hari yang diizinkan adalah oleh kelompok pengintai. Pembatasan sangat ketat sehingga para perwira berwenang untuk menembak dan membunuh tentara mana pun yang melanggar perintah menyembunyikan diri. Banyak dari taktik pergerakan tentara Tiongkok yang mirip dengan yang digunakan oleh Napoleon Bonaparte satu setengah abad sebelumnya. 

COUNTER ATTACK CHINA

Pada tanggal 19 November, Divisi ke-25 AS meninggalkan Kaesong pada pukul 6 pagi dan tidur di kota pertambangan Kunu-ri sekitar pukul 2 malam itu. Keesokan harinya, Brigade Turki, yang sebagian besar merupakan unit infanteri tanpa truk pengangkut pasukan, dilepaskan dan dipindahkan sebagai cadangan Korps IX di Kunu-ri. Komando Angkatan Darat Kedelapan Walker dibagi di tengah-tengah oleh Sungai Chongchon. Sebagai bagian dari gerak maju Korps IX ke utara, Pasukan Turki diperintahkan pada tanggal 21 November untuk bergerak ke utara bersama Divisi ke-25. Pada tanggal 22 November 1950, Pasukan Turki telah menyelesaikan tugasnya untuk menetralkan patroli Korea Utara di daerah tugas mereka. Gerakan konstan ke Kunu-ri telah dimulai dengan baik. Kunu-ri, seperti semua desa kecil lainnya di sektor utara, sebagian besar adalah rumah yang terbuat dari lumpur dan kayu. Itu adalah tempat yang benar-benar biasa-biasa saja, tidak banyak berbeda dengsn desa lain mana pun yang bertengger di lereng gunung dan di lembah yang dalam yang dipotong oleh sungai-sungai pegunungan yang berarus deras. Maju bersama rekan-rekan Amerika mereka, Pasukan Turki diperintahkan untuk menjalin kontak dengan Divisi ke-2 AS di sayap kanan Korps IX dan juga untuk melindungi bagian sayap kanan dan belakang divisi mereka. Brigade tersebut telah menerima informasi mengenai keberadaan resimen Tiongkok yang diketahui berada di barat laut Tokchon. Jenderal Yazici menggambarkan situasi yang dihadapinya dengan kata-kata ini: “Perintahnya seperti itu. Namun pertanyaan mengenai data intelijen lebih lanjut tentang keberadaan musuh dan Korps ROK, tidak ada yang tersedia atau lebih banyak informasi yang dapat diberikan agar tidak menurunkan moral Brigade Turki …. Situasinya serius, dan menuntut tindakan segera. ” 

Pada bulan November yang dingin menggigit, pasukan China menginvasi Korea Utara dalam serangan yang mengejutkan tentara PBB. (Sumber: Pinterest)

Pada tanggal 26 November, Pasukan Komunis China (CCF) melancarkan serangan balik yang kuat terhadap Korps I dan IX AS. Pasukan utama China bergerak menuruni pegunungan tengah melawan Korps ke-II ROK di Tokchon. Pasukan Korea Selatan tidak bisa menahan serangan itu dan pertahanan mereka segera runtuh. Serangan China ini diperkirakan memiliki proporsi yang mengkhawatirkan, dan pasukan Turki diperintahkan untuk melindungi sayap kanan pasukan PBB. Truk-truk ditugaskan untuk mengangkut Batalion ke-1 Turki ke Wawon, 15 mil timur Kunu-ri, sekitar setengah jalan ke Takchon, menurunkan mereka dan kembali untuk mengangkut Batalyon ke-2. Setelah disadari bahwa jumlah truk yang tersedia tidak cukup, beberapa anggota brigade memutuskan untuk berjalan kaki. Perintah yang saling bertentangan, dan transmisi yang kacau membuat situasi menjadi kacau balau. Pasukan Turki kemudian diperintahkan untuk menutup jalan dan mengamankan Unsong-ni. Mencoba menjelaskan kebingungan saat itu, Jenderal Yazici menulis:

“Tidak ada waktu untuk memindahkan brigade ke Unsong-ni dan menyebarkannya di sana sebelum gelap. Selain itu, musuh, yang seharusnya berada di Chongsong-ni, ternyata terlalu dekat dengan garis depan yang diinginkan Korps untuk kita pertahankan. Bahwa Brigade mungkin menjadi sasaran serangan mendadak sebelum mencapai posisinya sangat mungkin terjadi. Yang lebih penting adalah fakta bahwa penduduk sipil belum dipindahkan dari daerah tersebut. Jika para petani dan gerilyawan yang mungkin telah disusupi di antara mereka berusaha memblokir penyeberangan gunung atau Jalan Wawon di belakang, Brigade tersebut mungkin akan menderita kerugian besar. Faktanya, Divisi ke-2, yang seharusnya kami pertahankan bagian sayap kanannya, telah mundur. Mustahil untuk memenuhi tugas berangkat dari Karil L’yong, tempat Brigade berada, karena medannya sangat terjal dan berhutan lebat. Sementara tugas kami adalah melindungi jalan Kunu-ri Tokchon dan jalan lainnya di utara dan selatan, dengan garis depan selebar 12 mil yang harus dipertahankan. Ini tidak mungkin karena kami harus melawan musuh yang lebih unggul secara numerik yang mengetahui wilayah itu dengan baik. Selanjutnya, medan juga membatasi penggunaan artileri dan senjata infanteri berat yang efektif. ” 

Berita mengenai invasi tentara China di Korea Utara di media massa, 28 November 1950. (Sumber: https://brooklyneagle.com/)

Setelah bermalam di Wawon, Brigade kembali bergerak pada pukul 05.30 dini hari (27 November). Saat unit-unit itu melintasi Gunung Karill Yon yang curam dan saat satuan terdepan turun ke Lembah Tokchon (jam 1430), Korps Angkatan Darat memberi perintah, “Jangan maju lebih jauh dan bertahan di garis yang telah Anda capai. ” Jenderal Yazici telah membaca berita yang tampaknya biasa-biasa saja dan tidak penting “Jika Anda tidak memiliki pasukan di daerah Changsangni, pesawat kami telah mengidentifikasi kekuatan seukuran resimen yang asalnya tidak diketahui” Setelah menganalisa berita ini Yazici merasa ada sesuatu yang aneh dan memerintahkan Brigade Turki untuk bertahan bukan di tempat yang diperintahkan Korps Angkatan Darat, tetapi di garis Wawon, 15 km ke barat dibelakang garis yang ditetapkan. Keputusan Jenderal Yazici akan membawa Brigade Turki terhindar dari kehancuran dan yang akan mencegah kehancuran besar pasukan sekutu.

KEPAHLAWANAN DI KUNU-RI

Seperti yang diuraikan dengan jelas diatas oleh Yazici, Turki berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mereka harus mundur ke tenggara. Penarikan itu menambah ancaman di sisi timur Turki sendiri serta sisi timur Divisi ke-2. Yazici memerintahkan anak buahnya untuk bergerak ke arah Wawon di timur laut Kunu-ri. Brigade saat itu telah kehilangan kontak dengan korps. Oleh karena itu, karena Yazici memikul tanggung jawab, ia memerintahkan anak buahnya untuk menempatkan diri di Wawon. Ketika mereka mencapai Wawon, mereka menyerang ke arah Tokchon, dengan berjalan kaki dan tanpa dukungan tank. Medannya berada di hulu sepanjang Sungai Tongjukkyo ke dalam celah gunung yang memisahkan Sungai Chongchon dari drainase Taedong. Di sini, hulu Sungai Tongjukkyo menyebar menjadi banyak aliran kecil. Ketika dia menerima informasi bahwa pengamat udara telah melihat ratusan tentara China bergerak menuju Tokchon, Mayor Jenderal Laurence Kaiser, yang memimpin Divisi ke-2 AS, berkomentar, “Di situlah mereka akan menyerang.” Serangan balasan China benar-benar menyerang di sepanjang garis depan. Dua peleton Brigade Turki yang ditugaskan untuk melakukan tugas pengintaian sekarang diberi tugas menjaga belakang. Orang Cina memburu brigade itu dengan cermat. Pada malam tanggal 27 November, Divisi ke-114 PVA yang bergerak maju dari Korps ke-38 — di bawah komando Zhai Zhongyu — menyergap dan menghancurkan peleton pengintaian Brigade Turki. Satuan pengintai Brigade melawan pasukan China yang mendekat di Karil L’yong Pass, dan tidak dapat memutuskan kontak. Hanya beberapa orang dari satuan itu yang berhasil selamat.

Peta counter attack Pasukan China di Korea Utara, 28 November – 1 Desember 1950. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Meski demikian Turki telah mencapai satu tujuan mereka — mereka telah mengikat banyak musuh. Tentara Cina menderita banyak korban karena mencoba berulang kali untuk merebut posisi pasukan Turki, dan semua serangan mereka berhasil dipukul mundur. Akhirnya, Yazici, memahami bahwa brigade itu dikepung oleh tentara Cina yang lebih unggul secara numerik, oleh karenanya akhirnya ia memerintahkan penarikan diri. Pasukan Turki terisolasi dalam kondisi cuaca suhu di bawah nol, sementara perintah mereka tidak sepenuhnya dipahami. Dan pada malam hari, orang-orang China terus menerus membunyikan rentetan suara yang tiba-tiba menggunakan drum, terompet, peluit, seruling, pipa dan simbal gembala, bersama dengan teriakan, tawa, dan celoteh suara manusia. Kini ofensif telah berubah dan sekarang pasukan PBB melakukan gerak mundur. Musuh yang bermaksud mengepung mereka terus-menerus mengubah taktik dan arah serangan. Meski komunikasi terus berlanjut dengan Brigade Turki, beberapa perintah dipahami, tetapi sebagian besar tidak. Brigade tersebut diperintahkan untuk bergabung dengan Resimen ke-38 AS, untuk melindungi posisi sayap dari Resimen ke-38 dan mengamankan rute mundur ke arah barat. Dalam kebingungan gerak mundur dan pesan yang kacau, serta salah arah, petunjuk penting itu terlambat dua jam dalam pengirimannya. Aliran pesan dan perubahan perintah ke pihak Turki dalam perjalanan ke Tokchon pada tanggal 27 November mencerminkan kurangnya informasi yang tepat dan tingkat ketidakpastian yang tinggi yang dialami oleh Korps IX dan Angkatan Darat Kedelapan saat mereka berjuang untuk menafsirkan berbagai peristiwa yang berkembang dan meluas dengan cepat. Barisan itu berubah arah dalam kekacauan massa dan kemacetan jalan. Sekali lagi, saat tentara Turki mendekati Wawon, mereka menghadapi tembakan musuh yang berat. CCF telah tiba sebelum pasukan Turki dapat berkumpul kembali dan mengambil posisi bertahan. Satu yang pasti adalah bahwa, pada siang hari hari itu, tentara Cina telah menyerang Batalyon ke-1 yang memimpin pergerakan di Wawon dan penyergapan ini menimbulkan pukulan telak bagi tentara Turki. Batalyon itu dikepung, dan terjadi pertempuran jarak dekat antara bayonet Tiongkok dan pisau panjang Turki. Dilaporkan bahwa terdapat dua kompi Turki masih bertempur di timur Wawon dan menderita sekitar 400 personel yang terluka. Orang Cina menyerang pasukan yang mundur berantakan dan para prajurit diperintahkan untuk berbalik sekali lagi. Kompi ke-9 Turki menerima beban terbesar dari serangan itu karena harus menutupi pasukan utama yang mundur. Kompi ke-10 dari Batalyon ke-3 brigade tersebut menerima perintah untuk membentuk garis pertahanan terdepan brigade. Di Markas Divisi 2, informasi tentang posisi, kondisi dari Pasukan Turki dan pergerakan mereka yang sebenarnya semakin sulit diperoleh. Tank-tank yang dikirim ke posisi Turki berulang kali balik tanpa mendapat informasi yang cukup. Kebingungan menyebabkan berbagai peristiwa yang mengejutkan, seperti tentara Amerika meninggalkan posisi dan peralatan mereka begitu saja, termasuk senjata mereka. Tentara Cina tampaknya seperti ada di mana-mana dan kadang tidak ada di mana-mana pada waktu yang sama. Konfirmasi pergerakan mengenai pergerakan pasti tentara China jarang didapat dan sering keliru. Tentara Cina, yang dilaporkan ada di depan, ternyata sedang mendekati mereka dari belakang. Pihak Turki kemudian memutuskan untuk mengevakuasi pos komando mereka. Sebuah gaya perang baru namun sebenarnya sudah kuno telah dimulai. Tentara Cina dan Korea Utara menggunakan berbagai taktik di daerah pegunungan yang hanya menyisakan sedikit tempat, kalaupun ada, untuk bergerak. Cuaca telah menjadi musuh sekejam medan pertempuran. Tentara Turki dan Amerika, tidak dapat saling berkomunikasi dan berkoordinasi, memang bertempur dengan gagah berani, tetapi tanpa banyak arahan dan tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh sesama prajurit dan unit mereka. 

Dalam cuaca yang buruk bersalju, Tentara Turki dengan senapan semi otomatis M1 Garand berjaga-jaga di garis depan. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

Mayor Lutfu Bilgin, komandan Batalyon ke-3, mengirim Kompi ke-9 untuk mempertahankan posisi sayap dari kompi ke-10 dan ke-11. Tentara Cina mulai mengendurkan serangan pada kompi ke-10 tetapi mereka terus mengepung kompi 9 dan 11. Pagi hari tanggal 28 November, Pasukan China menerobos dan menyerang posisi kompi ke-9 dengan kekuatan penuh. Kompi itu dihancurkan, dan Mayor Bilgin serta banyak anak buahnya terbunuh. Pada pukul 08.00 tanggal 28 November, Pertempuran Wawon dimulai. Hari itu serangan pasukan musuh yang unggul secara numerik pertama-tama dilakukan terhadap Pass Axis dan kemudian terhadap Pass Poin dimana pertahanan pasukan Turki dipatahkan. Pada tengah hari, pengepungan musuh yang ketat berhasil dihalau dengan serangan balasan pasukan Turki. Jenderal Yazici berada di markas besarnya di Taechon, desa yang lebih besar di tenggara Kunu-ri. Tentara Turki bertahan di Wawon hingga sore hari dan kemudian mundur ke posisi lain di barat daya Wawon. Sore harinya atas usaha musuh untuk memotong jalan Kunuri-Wawon dengan memindahkan pasukan ke belakang di luar daerah efektif Brigade, Jenderal Yazici memerintahkan persiapan penarikan Brigade ke ruas jalan Sinnimni. Diketahui bahwa kedua sisi Brigade telah terbuka dan pasukan kawan telah ditarik. Selama Perang Korea musuh selalu menemukan kesempatan untuk mengepung Brigade dengan menembus front unit pasukan kawan yang bersebelahan dengan Brigade Turki. Tetapi tidak ada serangan musuh yang berhasil menembus bagian depan Brigade Turki. Brigade mulai mundur ke wilayah Sinnimni dari Wawon setelah senja pada pukul 18.30. Unit-unit yang mundur ke Sinnimni dengan tergesa-gesa mulai menempati posisi bertahan. Pada jam 24.00 serangan musuh dimulai dalam bentuk serangan kecil. Sementara unit-unit yang terletak di medan yang menguntungkan terus bertahan, unit-unit lain dari Brigade yang gagal bertahan mulai mundur ke arah Kunuri. Batalyon Turki kehilangan sebagian besar kendaraannya. Para penyintas bergegas ke perbukitan ketika semua cara lain untuk melarikan diri tidak bisa dilakukan. Pada saat itu, orang-orang China telah menguasai semua jalan. Sebagian Tentara Turki terus bertempur menunda kemajuan Tentara China untuk mendapatkan waktu bagi sisa pasukan mereka untuk membentuk kembali dan membangun semacam pertahanan yang bisa dibuat, tetapi mereka tidak berhasil dalam upaya tersebut. Bagian dari unit yang telah ditarik berhenti di barat Sinnimni dan melalui mendirikan pos Komando Brigade yang kuat dan ditempatkan dalam posisi bertahan baru.

Marinir Amerika beristirahat di tepi jalan dalam gerak mundur di Chosin Reservoir, 29 November- 3 Desember 1950. (Sumber: https://www.postandcourier.com/)

Menjelang siang tanggal 29 November, sebuah serangan dilakukan dengan Kompi Infanteri untuk menyelamatkan Batalyon ke-2 dan Kompi ke-2 yang berada di bawah pengepungan musuh di Sinnimni. Kepungan musuh berhasil dipatahkan dan penarikan unit ke Kaechon bisa dilakukan. Serangan yang dilakukan musuh pada sore hari terhadap posisi Kaechon berhasil dihancurkan hingga prajurit terakhir mereka. Namun kekuatan yang dikirim musuh ke luar area efektif Brigade di belakang tidak dapat dihentikan. Menghadapi situasi ini, pada jam 1530 Jenderal Tahsin Yazici memerintahkan Batalyon ke-2 dan 3 mundur ke barat Kaechon. Sebelum batalion bisa mencapai 2 km dari Kaechon, mereka dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil oleh tembakan efektif yang mereka terima dari tiga arah. Saat Brigade memasuki malam tanggal 29/30 November, jalan di Hacham-Kunuri dipotong dan kepungan musuh sudah sempurna. Pada jam 17.15, Batalyon ke-1 yang telah mundur dari Kaechon bertempur di Hacham yang terkepung. Meskipun unit-unit tersebut dihancurkan dan personel penghubung dan manajemen tidak ada, kelompok-kelompok kecil yang dipimpin oleh para perwira muda mulai menghancurkan kepungan musuh. Brigade tersebut berhasil keluar dari kepungan Hacham melalui aksi penyerangan dan infiltrasi yang berlangsung sepanjang malam. Satu-satunya dukungan yang diterima pasukan Turki dari IX Corps selama periode itu adalah sebuah peleton tank dan transport truk. Terdapat juga tambahan kekuatan artileri ke brigade dan hal ini memungkinkan beberapa orang dalam brigade itu tetap bertahan. 

Pasukan Turki mengawal tawanan China ke markas mereka, sementara rekan-rekan lainnya maju ke garis depan untuk bertempur melawan musuh yang lebih banyak lagi, Desember 1950. (Sumber: Photographer: Keystone/Hulton Archive/Getty Images/ https://www.bloomberg.com/)

Tanggapan PBB terhadap serangan Tiongkok pada November 1950 telah digambarkan sebagai ‘bugout’, alias sebuah aksi mundur besar-besaran yang seharusnya tidak terjadi. Sangat sedikit yang ditulis tentang kondisi yang berkontribusi pada kegagalan ofensif MacArthur di bulan November, serangan yang dimulai dengan ekspektasi tinggi untuk membawa pulang tentara pada hari Natal. Setelah itu, kata ‘pulang ke rumah pada saat Natal’ terus terngiang-ngiang di telinga pihak militer dan politisi. Kondisi ini mirip dengan ekspektasi tinggi pasukan sekutu saat menjelang Operasi Market Garden pada bulan September 1944, saat petinggi sekutu memiliki ekspektasi untuk mengakhiri perang sebelum natal, yang ternyata buyar karena Operasi Market Garden gagal dan di bulan Desember pecah Operasi Militer Jerman di Ardennes yang memukul pasukan sekutu di berbagai sektor tanpa diduga-duga. Sementara itu, pada tanggal 30 November 1950 berbagai kelompok yang bergerak maju ke Sunchon dari selatan Tunuri bertemu dengan pengepungan baru di sini. Sunchon Pass telah berada di bawah kendali musuh selama dua hari terakhir. Serangan yang dilakukan Divisi ke-2 AS dari utara dan Brigade Inggris dari selatan tidak membuahkan hasil. Setelah istirahat sebentar, infanteri Turki mulai menyerang musuh yang telah menggali pertahanan di Sunchon Pass. Dengan serangan yang melibatkan infanteri AS dan tank ini, jalur lintasan ini kembali dibuka. Serangan Bayonet dari Infanteri Turki sekali lagi telah menunjukkan reputasinya, dan mampu membuka Sunchon Pass di mana Divisi ke-2 telah menghadapi perlawanan kukuh. Dengan demikian pertempuran yang dijalani Brigade Turki, yang kemudian diberi nama Pertempuran Kunuri berakhir dengan hasil yang sukses. Brigade Turki telah berhasil menyediakan waktu dan ruang yang diperlukan untuk penarikan dengan mencegah pengepungan Angkatan Darat Kedelapan dan Korps Angkatan Darat IX dan penghancuran Divisi ke-2 AS, melalui pertempuran yang dilakukan antara tanggal 27-30 November. Brigade Turki, yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman perang, dalam pertempuran pertamanya mampu menunjukkan kapabilitasnya, dengan turut membantu menyelamatkan Tentara sekutu dari malapetaka yang lebih besar. Brigade Turki kehilangan lebih dari 15% personel dan 70% peralatan dalam Pertempuran Kunuri, dengan 218 personelnya tewas dan 455 luka-luka, dan hampir 100 orang ditawan. Pada tanggal 13 Desember 1950, Jenderal Walton Walker, komandan Angkatan Darat Kedelapan AS, menganugerahkan 15 medali Silver Star dan Bronze Star kepada Brigade Turki atas keberanian mereka dalam melawan Tentara China. Jenderal Yazici sendiri termasuk diantara mereka yang memperoleh medali Silver Star.

Komandan Tentara ke-8, Jenderal Walton Walker menyematkan medali penghargaan kepada Tentara Turki. (Sumber: http://weekly.chosun.com/)

Di tengah berbagai berita buruk yang mengiringi nasib pasukan PBB di Korea Utara, musim dingin 1950 itu, datang berbagai pengakuan dan pujian atas peran dan kiprah Brigade Turki dalam pertempuran pertama mereka oleh berbagai media dan berbagai tokoh, diantaranya:

“4.500 tentara di tengah-tengah tembak-menembak telah mengetahui bagaimana menciptakan keajaiban. Pengorbanan Tentara Turki akan selamanya ada dalam pikiran kita.” – Washington Tribune

“Pertempuran yang berani dari Brigade Turki telah menciptakan efek yang menguntungkan bagi seluruh Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa.” – Time

“Kejutan dari pertempuran di Korea bukanlah orang Cina tetapi Turki. Tidak mungkin saat ini menemukan kata untuk menggambarkan kepahlawanan yang telah ditunjukkan oleh orang Turki dalam pertempuran itu.” – Abent Post 

“Tentara Turki telah menunjukkan di Kunuri sebuah kepahlawanan yang layak dicatat dalam sejarah mereka yang gemilang. Turki telah mendapatkan kekaguman dari seluruh dunia melalui pertempuran gemilang mereka dalam pertempuran itu.” – Figaro 

Ketangguhan Tentara Turki dalam Perang Korea diakui oleh berbagai pihak, termasuk dari Jenderal Douglas MacArthur yang memimpin pasukan PBB di Korea. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

“Orang Turki yang telah dikenal sepanjang sejarah karena keberanian dan kesederhanaan mereka, telah membuktikan bahwa mereka telah menjaga karakteristik ini, dalam perang yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di Korea.” – Burner – Anggota Kongres AS 

“Tidak ada yang tidak tahu bahwa Turki, sekutu berharga kami, adalah pejuang yang tangguh dan bahwa mereka telah mencapai prestasi yang sangat hebat di garis depan.” – Claude Pepper, Senator AS 

“Ketika Tentara Turki untuk sementara waktu yang lama bertempur melawan musuh dan sekarat, Tentara Inggris dan Amerika mundur. Tentara Turki, yang kehabisan amunisi, memasang bayonet mereka dan menyerang musuh dan terjadilah pertempuran tangan kosong yang mengerikan. Tentara Turki berhasil menarik diri dengan bertempur terus menerus dan dengan menggendong rekan-rekan mereka yang terluka di punggung mereka. Mereka berbaris menuju Pyongyang dengan kepala terangkat tinggi. ” – G.G. Martin – Letnan Jenderal Inggris 

“Pasukan Turki telah menunjukkan keberhasilan di atas yang diharapkan dalam pertempuran yang mereka berikan di Korea.” – Jenderal Collins – Komandan Angkatan Darat AS 

“Kami berhutang atas lolosnya ribuan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa keluar dari pengepungan karena kepahlawanan tentara Turki. Tentara Turki di Korea telah menambahkan catatan kehormatan baru dan tak terlupakan pada sejarah dan legenda kepahlawanan bangsa Turki. ” – Emanuel Shinwell – Menteri Pertahanan Inggris 

“Tentara pemberani dari negara pemberani, Anda telah menyelamatkan Tentara Kedelapan dan Angkatan Darat ke-IX dari pengepungan dan Divisi ke-2 dari kehancuran. Saya datang ke sini hari ini untuk berterima kasih atas nama Tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa.” – Jenderal Walton H. Walker, Komandan, Tentara Kedelapan 

“Tentara Turki adalah pahlawan diantara para pahlawan. Tidak ada kemustahilan bagi Brigade Turki.” – Jenderal Douglas MacArthur – Panglima Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa

PERTEMPURAN KUMYANGJANI

Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa sempat sangat terguncang secara moral dan material diakhir serangan musuh yang dimulai pada malam tanggal 25/26 November 1951. Upaya untuk menghentikan musuh tidak membuahkan hasil. Tentara Cina yang telah mendapatkan inisiatif untuk maju dan menyerang Pasukan PBB satu demi satu. Musim dingin, salju, kekalahan demi kekalahan dan kerugian yang diderita telah meruntuhkan moral tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa. Atmosfer yang ada saat itu adalah kekalahan total. Tentara Cina telah menjadi sesuatu kekuatan yang tidak bisa dilawan atau ditangani. Berbagai unit pengintai kembali dengan panik dan memberikan laporan berlebihan yang menghancurkan harapan. Dengan demikian, di bawah kondisi semacam ini rencana telah mulai disiapkan untuk melakukan evakuasi dari Korea dan unit-unit PBB diperintahkan untuk secara diam-diam mencari informasi jalan-jalan dimana mereka bisa melakukan penarikan mundur. Pada tanggal 4 Januari 1951, Seoul Ibukota Korea Selatan jatuh ke tangan Pasukan Komunis untuk kedua kalinya. Pada akhir Januari, kini Brigade Turki sekali ini dikirim medan pertempuran yang berbahaya, sama seperti di Kunuri, dalam aksi ofensif pasukan PBB lewat Operasi Thunderbolt. Pada tanggal 25 Januari 1951, Brigade Turki mulai bergerak menuju garis depan musuh dengan membentuk dua barisan. Setelah maju 1,5 km mereka segera berhadapan dengan musuh. Kompi-kompi Turki itu mulai menyerang posisi musuh seperti anak panah yang keluar dari busur. Dalam waktu 100 jam posisi pertahanan kuat musuh berhasil dimasuki dan perlawanan musuh dihancurkan. Kompi-kompi itu tidak menunggu waktu lama untuk bergerak dan berpencar kembali untuk mulai mencari musuh. Setelah maju ke utara sekitar 2,5 km, posisi pertahanan musuh ditemui di bukit dengan ketinggian 185 meter (umumnya bukit-bukit semacam ini di Korea diberi nama menurut ketinggiannya). Kompi ke-10 berhasil memasuki posisi pertahanan musuh pada jam 15.00 dimana pertempuran sengit segera terjadi. Pertempuran tanpa henti dan jarak dekat terjadi di sepanjang garis depan. Musuh secara harfiah mempertahankan posisinya sampai “nafas terakhirnya”. Kegelapan telah turun tetapi hasil yang menentukan tidak dapat diperoleh. Musuh bertahan dan tentara Turki menyerang. Situasi yang sangat kompleks dan berbahaya telah terjadi dimana musuh dan pasukan kawan bercampur satu sama lain. 

Tentara Turki dalam posisi tempur di perbukitan Korea. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

Korps Angkatan Darat memberi perintah kepada Tentara Turki untuk memasang bayonet mereka di tempat yang telah mereka kuasai dan tidak mundur satu langkah pun”. Kompi-kompi tersebut berpikir bahwa menyerang dan menumpas musuh lebih logis daripada sekedar menunggu musuh berinisiatif di bawah hawa dingin yang menjengkelkan. Pada jam 05.00 pagi tanggal 25 Januari posisi pertahanan musuh berhasil direbut seluruhnya. Pasukan infanteri yang tidak ingin membiarkan musuh mengambil nafas terus maju pada pukul 07.00 tanggal 26 Januari. Setelah 5 km, garis pertahanan baru musuh ditemukan. Brigade itu menyerang dengan segala kemampuannya di posisi-posisi yang dipertahankan musuh dengan segala kekuatan dan tekad. Dalam pertempuran di mana Brigade bertempur dengan gigih, serangan yang dilakukan musuh tidak membuahkan hasil. Musuh yang tidak dapat menemukan kesempatan untuk mengubah formasi pertempurannya dari serangan ke bertahan kemudian mulai mundur menuju garis paralel ke-38 dan menderita kekalahan besar serta mulai meninggalkan Seoul. Ketika Brigade ditarik kembali setelah pertempuran, mereka disambut dengan antusiasme, simpati dan penghargaan dari tentara sekutu di sepanjang jalan. Setelah pertempuran Kumyangjang-Ni, tanggal 25-26 Januari 1951 ini, di mana Brigade Turki memukul mundur pasukan China yang kekuatannya tiga kali lipat dari Brigade Turki, dan meskipun kemudian brigade Turki (tanpa dibantu oleh unit sekutu lainnya) dihancurkan oleh serangan gigih yang berulang kali dilancarkan oleh tentara Korea Utara dan China, Presiden Harry S Truman memutuskan untuk menandatangani Distinguished Unit Citation (sekarang Presidential Unit Citation) yang diberikan pada Brigade Turki tanggal 11 Juli 1951. Brigade Turki kemudian juga dianugerahi Presidential Unit Citation dari Presiden Korea Selatan. Panglima Tertinggi Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jenderal Matthew B. Ridgway, berkata, “Saya telah mendengar tentang ketenaran tentara Turki sebelum saya datang ke Korea. Sebenarnya saya tidak terlalu mempercayai apa yang saya dengar. Tapi saya sekarang paham bahwa sebenarnya Anda adalah prajurit terbaik dan paling dapat dipercaya di dunia “dan dengan demikian menjelaskan emosi yang dia rasakan dan penilaian yang dia dapatkan setelah melihat performa yang ditunjukkan tentara Turki dalam Pertempuran Teagyewonni yang mengikuti kemudian. Pada tanggal 4 Maret 1951, pasukan PBB akhirnya bisa merebut kembali kota Seoul dari tangan tentara komunis.

AKSI FINAL BRIGADE TURKI DALAM PERANG KOREA

Pada bulan Juni 1951, Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah maju ke jalur Sungai Imjin-Chorwon-Kumhwa. Aksi militer pada tahun 1950 dan 1951 tidak dapat memperoleh hasil yang menentukan dan para pihak saling bertahan dan menghentikan operasi penyerangan. Ini berarti bahwa Perang Korea tetap di tempat seperti pada saat dimulainya dan bahwa perang belum mencapai tujuan yang ditetapkan. Sekarang tidak ada operasi lain yang dapat dilakukan kecuali operasi-operasi penyergapan, pengintaian, dan konflik pertempuran garis depan kecil-kecilan. Operasi militer besar telah berhenti. Pihak-pihak yang mengerti bahwa mereka tidak dapat menyelesaikan masalah di Korea dengan senjata telah memulai diskusi mengenai “gencatan senjata”. Diskusi yang berlangsung di Panmunjon berlarut-larut dan tidak membuahkan hasil. Fakta bahwa seringnya pembahasan dan rekonsiliasi yang tidak dapat dilakukan malah semakin memperbesar peluang dimulainya kembali operasi militer besar-besaran. Untuk alasan ini para pihak memperkuat garis pertahanan mereka, dan siap menunggu untuk menghadapi kemungkinan serangan. Pada pertengahan tahun 1953, musuh sudah mulai bersiap untuk sekali lagi mencoba peruntungannya dengan kekuatan senjata. Penyerangan yang dilakukan tidak lama kemudian dengan kekuatan besar di depan posisi Brigade Turki memiliki dua tujuan. Entah mereka pada akhirnya akan menerima tuntutan mereka pada diskusi “gencatan senjata” Panmunjom pada posisi yang secara strategi militer menguntungkan atau mereka akan mencapai kesimpulan dengan berupaya menembus garis pertahanan sekutu. 

Sejak tahun 1951, kedua belah pihak yang bertempur di Korea telah merintis perundingan untuk menyelesaikan perang bukan dengan kekuatan senjata, namun pada akhirnya nilai tawar di meja perundingan ditentukan di medan pertempura. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Dengan demikian serangan yang sebelumnya telah direncanakan oleh musuh secara mendetail dan dilaksanakan dengan menggunakan semua pengalamannya akhirnya dimulai pada tanggal 28 Mei 1953 pukul 19.48. Teknik yang digunakan dan keinginan untuk bertempur yang ditunjukkan oleh musuh dalam serangan ini memiliki level yang layak dipuji. Dalam serangan ini, yang kemudian berlangsung selama tiga puluh jam, semua eselon musuh dari prajurit tempur hingga jenderal bertempur dengan segenap kekuatan mereka sebagai bukti pentingnya tujuan yang mereka perjuangkan diatas. Karena pertempuran ini akan menjadi yang terakhir untuk menentukan hasil konflik di Korea yang telah berlangsung selama 3 tahun. Jika kalah, mereka harus menerima konsekuensinya, tetapi jika tujuan operasi militer berhasil dicapai setidaknya mereka akan memperoleh keuntungan politik. Dengan demikian, Brigade Turki harus menghadapi serangan musuh lagi yang memiliki tujuan yang menentukan dan telah dipersiapkan dengan baik. Di depan posisinya yang sangat dekat satu sama lain. Situasi seperti itu memiliki kerugian taktis yang serius. Selain itu, Pasukan Turki harus menunggu dalam posisi pertahanan yang kaku, lembab, dan gelap yang sangat melelahkan dan membuat kesal para prajurit. Hari-hari berlalu sedemikian rupa hingga tanggal 28 Mei jam 19.48, saat perang kembali menjadi berdarah-darah dengan serangan musuh yang didukung oleh tembakan artileri yang hebat. Serangan musuh yang meningkat di depan posisi Batalyon ke-2 Brigade menyebabkan pertempuran yang sangat berdarah dan kemudian berubah menjadi krisis serius di perbukitan Garson [Carson], Big Wegas [Vegas], Elko dan Little Wegas [Vegas] yang mana berlanjut selama tiga puluh jam. Bukit-bukit yang disebutkan di atas sering berpindah tangan selama pertempuran berdarah yang berlanjut dengan keras dan kejam dari jam 19.48 tanggal 28 Mei 1953 hingga jam 24.00 pada tanggal 29 Mei selama siang dan malam tanpa henti. 

Peta posisi pertahanan di Nevada Complex, tempat pertempuran terakhir Tentara Turki di Korea terjadi, Mei 1953. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Musuh memulai serangan pada tahun 19.48 dengan mengebom Bukit Wegas Kecil. Mereka memasuki posisi itu pada jam 20.00. Saat musuh sedang memperkuat Little Wegas, pasukan infanteri Turki menyerang pada pukul 21.15 dengan bantuan tembakan artileri. Pada pukul 21.19 musuh mulai berlarian setelah gagal bertahan. Musuh yang berhasil merebut bunker dihancurkan pada jam 21.51 dengan bom dan serangan bayonet. Pada jam 21.52, Garson dan Elko benar-benar hancur, sementara musuh mengubah Big Wegas menjadi neraka dengan tembakan artileri dan mortir. Musuh yang memasuki Big Wegas diusir kembali pada pukul 21.58 dengan serangan bayonet. Amunisi mulai menipis di garis depan pertempuran. Pada pukul 22.08 musuh masuk kembali ke Big Wegas. Pada jam 22.20 bala bantuan musuh mencapai Big Wegas. Musuh segera menjadi sasaran tembakan artileri yang intens. Pada pukul 22.40 serangan balik dilakukan terhadap Big Wegas. Musuh kemudian menyerang Garson pada jam 22.45. Pada jam 13.15 pasukan Infanteri Turki merebut kembali Big Wegas. Sementara itu tentara musuh yang telah memasuki posisi Elko diusir kembali pada jam 23.15. Tidak ada kesempatan juga yang diberikan kepada musuh, yang telah memasuki Little Wegas, untuk bisa tetap bertahan dan sebagai hasil dari serangan balik pasukan Turki, bukit itu berhasil direbut kembali pada jam 23.34. Pada pukul 23.30 musuh memasuki Big Wegas, sementara pada pukul 23.53, serangan musuh terhadap Elko dan Garson juga dimulai. Komunikasi kabel dan nirkabel terputus. Situasi tersebut mulai menghadirkan krisis skala penuh pada pasukan Turki. Pertempuran jarak dekat terus berlanjut di garis depan. Pada pukul 00.40 musuh mulai kembali menyerang Little Wegas. Musuh mencoba untuk menembus garis depan pertempuran sebelum siang hari. Pukul 01.20 musuh memasuki Garson.

Komandan pasukan Turki meneropong posisi musuh. (Sumber: https://www.aa.com.tr/)

Pukul 01.50 pertempuran terus berlanjut dengan musuh yang telah memasuki beberapa bunker di Little Wegas dan Big Wegas. Sementara komunikasi tidak dapat dilakukan dengan Garson. Pada pukul 03.23 tentara musuh memasuki Little Wegas dan mereka yang mendekat mendesak penyerahan diri tentara Turki. Pada pukul 03.47 komandan Brigade memberi perintah untuk menyerang Big Wegas. Sementara itu, Garson telah ada di tangan musuh. Pada pukul 04.27 musuh memperkuat Big Wegas. Pada pukul 05.05 Garson sedang ditembaki. Little Wegas tetap bisa dipertahankan tetapi yang terluka tidak bisa dievakuasi. Dengan serangan pada pada pukul 10.50, Tentara Turki kembali merebut Big Wegas. Pasukan musuh mundur. Dimana-mana terdapat mereka yang tewas dan terluka. Pada pukul 11.15, kompi asal Amerika menyerang Garson dari posisi Elko, namun setelah dikepung oleh tentara Cina, dan mulai mundur pada jam 16.00. Pada pukul 15.43, tentara Cina mulai memasuki Elko. Pertempuran dengan menggunakan granat tangan dimulai di Elko. Pasukan musuh menduduki bunker. Setelah itu mereka memasuki Big Wegas pada pukul 16.15. Infantri Turki segera menyerang balik dan mengusir musuh kembali. Pertempuran terus berlanjut dengan ketegangan tinggi. Pada jam 19.33 musuh mulai menyerang Little Wegas dari arah Big Wegas. Pada pukul 20.05, Baterai Artileri ke-2 Turki mulai ditembaki. Pada pukul 20.21 itu mereka benar-benar hancur. Pada pukul 20.50, pihak Divisi memutuskan untuk mengevakuasi Wegas. Pasukan musuh sebenarnya tidak bisa masuk ke Wegas. Tapi pukul 21.09 infanteri Turki mundur sesuai perintah. Pada tahun pukul 20.20 Wegas benar-benar dievakuasi. 

Pasukan Turki mendaki bukit sementara kedua rekannya berjaga-jaga di belakang dalam Perang Korea. (Sumber: https://www.aa.com.tr/)

Perintah memutuskan untuk menghentikan pertempuran berdarah ini. Pada akhir pertempuran berdarah yang berlangsung selama tiga puluh jam, musuh, dengan penarikan batalion Turki, telah berhasil merebut Big Wegas, Elko dan Garson. Tetapi karena telah menggunakan semua kekuatan dalam serangan itu, mereka tidak dapat melakukan serangan terhadap garis pertempuran utama lainnya. Serangan musuh yang dilakukan dengan kekuatan besar yang terkonsentrasi dan dengan kelompok artileri dan mortir yang kuat, selama tiga puluh jam terjebak di garis depan pertempuran sektor pasukan Turki. Pertempuran itu merupakan pertarungan yang keras yang ditunjukkan dengan banyaknya korban di masing-masing pihak. Lebih dari 117.000 tembakan artileri dan 67 misi dukungan udara jarak dekat yang dilancarkan telah turut membantu unit darat PBB dalam menahan serangan yang dilakukan oleh pihak PVA (China). Sementara itu PVA sendiri telah menembakkan 65.000 peluru artileri dan mortir sebagai balasannya, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam Perang Korea. Selama pertempuran ini, menurut laporan perwira pengawas garis depan artileri Turki, pihak Turki menderita korban 300 orang sedangkan musuh sekitar 2000 korban. Di sisi lain Jenderal Ridgway menjelaskan korban yang diderita dalam pertempuran, yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Nevada Complex itu dengan angka sebagai berikut “Brigade Turki menderita 104 personel tewas dan 376 luka-luka. Kerugian musuh diperkirakan sekitar 2.200 tewas dan 1.075 luka-luka” (*diambil dari buku “The Korean War” yang ditulis oleh Jenderal Matthew Ridgway halaman 220). Musuh memahami setelah pertempuran ini bahwa tidak ada pilihan selain “menghentikan tembak-menembak” dan memulai kembali negosiasi gencatan senjata, tak lama kemudian “gencatan senjata” ditandatangani. Aksi Brigade Turki bagaimanapun sedikit banyak mempengaruhi “gencatan senjata” yang ditandatangani di Korea, melalui pertempuran yang dilakukan pada 28 dan 29 Mei 1953.

Marilyn Monroe berfoto bersama sekelompok pasukan Turki di Korea. (Sumber: Reddit)

RESUME BRIGADE TURKI DI KOREA

Medan, cuaca, kurangnya keterampilan bahasa yang memadai antara orang Amerika dan Turki, dan kurangnya pilihan untuk menghadapi operasi musuh secara besar-besaran itu menentukan hasil yang berdarah dan tragis. Selama ofensif PBB dan serangan balasan China hingga berakhirnya perang Korea, Brigade Turki ke-1 menderita 3.514 korban, di mana 741 diantaranya tewas dalam pertempuran, 2.068 luka-luka, 163 hilang dan 244 ditawan, serta 298 korban lainnya karena sebab-sebab non-pertempuran. Tentara Turki, dipersenjatai dan dilatih oleh penasihat militer Amerika, melakukan lebih baik daripada harapan mereka atau yang diharapkan banyak orang dalam pertempuran, yakni dalam perang dan pertempuran nyata pertama yang mereka hadapi sejak berakhirnya Perang Dunia I. Unit-unit Amerika dimana mereka diperbantukan menghormati keterampilan dan keuletan mereka dalam pertempuran. Beberapa komentar perwira Amerika memberikan wawasan tentang Tentara Turki dan kemampuan mereka. “Mereka benar-benar lebih suka bersikap ofensif dan mereka melakukannya dengan cukup baik,” kata salah satu penilaian. ‘Mereka tidak pandai dalam posisi bertahan, dan tentu saja mereka tidak pernah mundur.’ Laporan lain menceritakan tentang keterampilan patroli mereka: ‘Patroli Tentara Turki selalu melaporkan jumlah korban yang tinggi di pihak musuh ketika mereka kembali dari patroli. Awalnya pihak Markas besar menyangsikan jumlah yang tinggi itu, bahkan jauh lebih tinggi daripada yang didapat unit lainnya, sampai tentara Turki memutuskan untuk membawa mayat musuh kembali dan menumpuknya di markas untuk dihitung jumlah mayatnya. ” Tentara Turki menyesuaikan diri dengan cara yang berani dan terhormat ditengah beberapa kondisi terburuk yang dialami mereka dalam Perang Korea. Sangat sedikit hal lain yang bisa diminta atau diharapkan dari mereka. Korban besar di pihak mereka telah menunjukkan tentang kehormatan dan komitmen mereka. Keberanian mereka tidak membutuhkan promosi. Semua itu muncul dengan sendirinya.

Setelah berpuluh tahun tidak bertempur, Pasukan Turki masih mampu membuktikan kemampuan mereka sebagai prajurit tangguh yang disegani oleh sekutu-sekutu mereka di Korea. (Sumber: https://forums.spacebattles.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Korean War: 1st Turkish Brigade’s Baptism of Fire written by A.K. Starbuck

The Turkish Brigade

https://web.archive.org/web/20110628202710/http://www.korean-war.com/turkey.html

Korea: Gallant allies: The Story of the Turkish Brigade by Bruce Steele

Turkish soldiers in the Korean War

https://defence.pk/pdf/threads/turkish-soldiers-in-the-korean-war.323047/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Wawon

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_the_Nevada_Complex

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Turkish_Brigade

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Korean_War

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *