Air America: profesionalisme, heroisme dan kontroversi di tengah perang kotor

Amerika Serikat memiliki banyak maskapai: American Airlines, Delta Air Lines, Frontier Airlines, dll. Salah satu maskapai yang tidak banyak orang pernah dengar adalah Air America. Maskapai ini memiliki sejarah yang panjang dan unik. Air America bukanlah jenis maskapai penerbangan yang biasa. Keberadaan maskapai ini adalah bagian dari operasi rahasia yang dijalankan oleh CIA. Banyak penulis buku dan artikel berasumsi, menyiratkan atau mengira bahwa CIA lah yang memiliki Air America, tetapi pada kenyataannya adalah pemerintah Amerika Serikat yang memiliki Air America, bukan CIA. Namun memang ada koneksi dari CIA, dan awalnya personel CIA mengelola perusahaan ini, meskipun tidak berlangsung lama. Sebagian besar pengoperasian Air America dikelola secara internal.

CAT President Hugh L. Grundy, Governor C.K. Yen, General Yueh Kan (Director of the Provincial Police Administration), and Liu Hsien-Yun (Commissioner of Education).

Presiden Air America, Hugh Grundy bukanlah karyawan CIA, tetapi George Doole, CEO Air America dari tahun 1959 hingga 1971, bekerja untuk CIA mengawasi berbagai perusahaan kontrak yang termasuk diantaranya, Air America. Tidak jelas apakah Doole adalah karyawan staf atau bekerja di bawah perjanjian pribadi. Secara resmi, CIA mengatakan tidak ada catatan bahwa dia pernah bekerja untuk mereka. Doole meninggal karena kanker pada tahun 1985. Dia membujang seumur hidup, dan tidak ada berita kematian, kiriman bunga atau upacara pemakaman yang spesial. Ironisnya, meskipun Grundy menikah dan punya banyak kegiatan lain di luar, dia juga tidak meminta pemakaman khusus; Grundy dan Doole meninggal dengan lebih memilih untuk merahasiakan masa lalunya.

Awal pendirian

Kisah Air America dimulai pada tahun 1946 lewat sebuah Maskapai asal Cina bernama Civil Air Transport yang dimiliki oleh Jenderal Claire Chennault dan Whiting Willauer. Chennault dikenal karena kepemimpinannya atas Flying Tigers yang mendukung pasukan Cina melawan agresi Jepang ke Cina sebelum keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia Kedua. Sementara Willauer adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Princeton dan Harvard. Tidak puas dengan praktik hukum kelautan dan adanya hasrat untuk berpetualang dan berkelana, Willauer pergi ke Cina untuk bekerja sama dengan Chennault, dan terlibat dengan industri transportasi penerbangan China yang masih baru setelah Jepang menyerah. Chennault dan Willauer berhasil di akhir tahun 1940-an dengan menjalankan usaha pengangkutan bulu, timah, makanan, dan barang apa pun dari satu tempat ke tempat lain. Karena penerbangan di Cina waktu itu berbahaya dan sering tidak dilengkapi dengan alat bantu navigasi, CAT mempekerjakan Pilot, veteran Perang Dunia Kedua yang berpengalaman dan berani. CAT kala itu berpihak pada Partai Nasionalis Tiongkok yang dipimpin oleh Chiang Kai-Shek yang pada tahun 1945-46 terlibat perang saudara melawan Partai Komunis Tiongkok yang dipimpin oleh Mao Tse-tung. Pada tahun 1949, kaum Nasionalis melarikan diri dari Cina ketika mereka kalah perang dan CAT membantu mereka pindah ke Formosa di mana Chiang Kai-Shek memerintah Republik Cina/Taiwan sampai kematiannya pada tahun 1975.

Claire Lee Chennault, pendiri Flying Tiger sekaligus penggagas maskapai Civil Air Transport cikal bakal Air America.

Setelah kaum Nasionalis mengungsi ke Formosa, CAT tidak lagi memiliki pekerjaan dan hampir bangkrut. Chennault memohon Departemen Luar Negeri untuk membeli maskapai itu dengan argumen bahwa perusahaan itu memiliki aset dan keahlian untuk membantu menahan China agar tidak meluaskan pengaruhnya di Pasifik. Sementara itu CIA ingin menggunakan aset transportasi udara untuk operasi pengumpulan data intelijen mereka di Cina dan mendesak pemerintah AS mengakuisisi perusahaan, namun Departemen Luar Negeri tidak menginginkan kepemilikan yang jelas atas sebuah perusahaan asal Cina.

Armada Curtiss C-46 milik CAT.

Jadi, CIA menyusun rencana agar dapat menjalankan kepemilikan secara tidak langsung dan menyarankan perusahaan milik pemerintah AS di Delaware untuk membuat anak perusahaan yang pada gilirannya akan membeli sebagian saham dari maskapai Transportasi Udara Sipil, dan dengan demikian akan membantu menyamarkan pemilik sebenarnya. Lewat usul itu didirikanlah Maskapai yang memiliki awal rumit ini, yang berlangsung pada tahun 1950, dengan membuat perusahaan bernama Airdale, yang diciptakan oleh CIA. Airdale kemudian membentuk perusahaan lain bernama CAT, Inc. Mereka kemudian membeli 40% saham di perusahaan lain, Civil Air Transport. Perusahaan ini dimiliki oleh investor Tiongkok yang mempertahankan 60% kepemilikan. Kemudian pada 1950-an, Airdale mengubah namanya menjadi The Pacific Corporation, dan juga mengubah CAT, Inc. menjadi Air America. CAT memiliki banyak pelanggan, termasuk USAF dan CIA. Kemudian, datanglah pelanggan lain seperti Perancis, Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, USAID, IVS, dan CORDS, yang semuanya menyediakan pemasukan bagi maskapai ini, begitu juga kerahasiaan kepemilikan.

Karir awal CAT di Indochina dan Indonesia

Pada bulan November 1952, pilot CAT Inc. Norman Schwartz dan Robert Snoddy, keduanya pilot yang berpengalaman di Perang Dunia II, ditugaskan untuk mengevakuasi agen dari wilayah Manchuria yang dikuasai Komunis China menggunakan alat snatching yang baru dikembangkan. C-47 yang digunakan dipasangi kait untuk menarik perangkat tali penyelamat saat pesawat terbang dengan kecepatan rendah. Dua agen CIA kemudian akan menyeret orang yang mereka tangkap ke dalam pesawat untuk diekstraksi. Tetapi misi ini telah bocor dan sebuah jebakan dipersiapkan, sementara kedua pilot tidak mengetahuinya. Pesawat itu kemudian ditembak jatuh dan para pilot terbunuh dalam kecelakaan itu. Dua agen CIA, John Downey dan Richard Fecteau, ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun. Tidak ada yang tahu keberadaan mereka sampai mereka dibebaskan dan muncul lagi dua dekade kemudian.

“Earthquake” McGoon

Pada waktu yang hampir bersamaan, Prancis terlibat dalam konflik di Vietnam dalam apa yang kemudian disebut sebagai Perang Indocina Prancis. Perancis meminta Amerika Serikat untuk memberikan bantuan transportasi militer, tetapi Eisenhower enggan menggunakan pilot Amerika dalam konflik yang tidak populer baik di Prancis maupun Amerika. Pekerjaan itu kemudian diberikan kepada CAT Inc. Pilot CAT diam-diam dilatih menggunakan pesawat C-119 di Clark AFB, Filipina. Pesawat itu lebih cepat daripada C-46, karena memiliki mesin yang lebih kuat dan bisa membawa beban lebih berat. Pintu kargo belakang memungkinkan akses keluar cepat bagi pasokan via parasut dan dengan demikian mempersingkat waktu terbang diatas target. Pesawat itu dicat dengan tanda pengenal Prancis untuk menyembunyikan identitas mereka. Pesawat itu adalah pesawat militer pertama yang dioperasikan CAT yang tidak bersertifikat FAA, tetapi itu jelas bukan yang terakhir.

The picture you see above is Wally standing by his plane after a very close call. The picture shows the hole in the aircraft that the shell made when it hit. Wally brought the plane home safely this time. He is holding his hands behind his back so his Mom would not see the bandages on both arms. Wounds caused by the anti aircraft shelling of his plane. This picture was taken just ten days before Wally was killed.
Penerbangan C-119 James “Earthquake” Mcgovern di Dien Bien Phu 1954.

Misi-misi itu bukannya tanpa bahaya, dan beberapa anggota awak terluka. Pada tahun 1954, pilot CAT James McGovern dan Wallace Buford ditembak jatuh di atas Dien Bien Phu. Kecelakaan itu menewaskan kedua pilot. Mereka sangat disukai, dan kematian McGovern yang akrab dipanggil dengan nama Earthquake McGoon karena penampilannya oleh teman-temannya komunitas CAT, merupakan pukulan telak secara moral bagi rekan-rekanya, sementara pemerintah AS tidak pernah mengakui adanya tragedi itu. Sisa-sisa jasad mereka sebagian ditemukan beberapa tahun setelah perang di Laos berakhir. Pada 24 Februari 2005, James McGovern dianugerahi secara anumerta (bersama Buford dan enam pilot lainnya yang masih hidup) Legiun Kehormatan dengan pangkat ksatria (chevalier) oleh Presiden Prancis Jacques Chirac atas tindakan heroik mereka saat terbang di Dien Bien Phu selama Pengepungan 57 hari.

B-26 Invader warna hitam, mirip dengan yang digunakan Pope saat menjalankan misi membantu Permesta.

Salah satu pilot lain yang dihormati adalah Alan Pope, yang menerbangkan Douglas B-26 Invader dalam Perang Korea dan mendapatkan tiga Medali Udara dan Distinguished Flying Cross. Pope meninggalkan USAF pada tahun 1954 dan diterima bekerja di CAT Inc. Sementara itu Pemerintahan Eisenhower yang khawatir Indonesia akan menjadi negara komunis tetapi tidak ingin menggunakan pasukan militer AS untuk campur tangan, menemukan solusinya dengan menggunakan CAT Inc, yang akan memberikan mereka alasan penyangkalan yang masuk akal.

Allen Pope saat disidang di Indonesia.

Pada tahun 1958, Pope diperintahkan ke Clark AFB di Filipina di mana ia ditugaskan untuk menerbangkan B-26 yang dicat hitam dengan tanda-tanda yang dikaburkan. Crew lainnya termasuk pilot CAT Inc. William Beale dan Connie Seigrist yang menerbangkan Consolidated PBY Catalina. Misi mereka adalah untuk mendukung gerakan PRRI / Permesta melawan pemerintahan Presiden Sukarno di Indonesia. Pope ditembak jatuh sehabis melakukan pengeboman di Ambon dan ditangkap. Pengadilan militer Indonesia mengadili dan menghukumnya dengan hukuman mati. Bobby Kennedy menegosiasikan pembebasan pada tahun 1962 dan Pope yang berhasil dibebaskan pergi bekerja untuk Southern Air Transport.

Laos dan Vietnam

Airdale Inc. kemudian berganti nama menjadi The Pacific Corporation pada tahun 1957. Dan karena CAT Inc. dan Civil Air Transport yang sama-sama memiliki singkatan CAT menyebabkan kebingungan, diusulkan untuk mengganti nama CAT Inc. menjadi Air America, Inc dan disetujui. Setelah menjabat Eisenhower mengatakan kepada penggantinya John F. Kennedy bahwa Laos adalah “kunci untuk seluruh wilayah Asia Tenggara.” Laos yang dikelilingi oleh daratan, posisinya strategis dan bisa berfungsi sebagai penghalang alami dari Tiongkok dan Kennedy, yang takut Laos dikuasai Pathet Lao yang komunis, kemudian mengirim gugus tugas kapal induk ke Teluk Siam pada bulan April 1961. Pasukan Khusus AS sudah ada di Laos melatih pasukan Laos pada awal tahun 1959 di bawah Proyek Hotfoot.

Posisi Laos yang malang.

Laos yang pada dasarnya hanya memiliki sedikit jalan yang bisa dilewati, Air America menawarkan solusi pengangkutan via udara. Kennedy memerintahkan Marine Air Base Squadron 16 ke Udorn, Thailand untuk mendirikan departemen operasi dan pemeliharaan Air America dan memiliki 16 helikopter UH-34D yang dikirim langsung oleh Marinir. Pada saat yang sama, Project Hotfoot diganti namanya menjadi White Star, namun Kesepakatan Jenewa 1962 antara Amerika Serikat, Uni Soviet, Cina, Vietnam Utara, Burma, Kamboja, Thailand, Vietnam Selatan, Prancis, India, Polandia, Kanada, dan Laos telah memutuskan Laos sebagai negara netral. Semua pasukan AS terpaksa meninggalkan Laos, tetapi Vietnam Utara tetap melanggar Kesepakatan dan menggunakan Laos yang netral untuk mengangkut pasukan militer dan pasokan di sepanjang perbatasan Laos-Vietnam ke Vietnam Selatan untuk bertempur melawan tentara Amerika dan Vietnam Selatan.

Meski telah ada perjanjian netralitas Laos, namun Vietnam Utara terus menggunakan wilayah Laos sebagai jalur logistik operasi militer mereka di Vietnam Selatan.

Amerika menghadapi tiga pilihan buruk: Pilihan pertama adalah menyerang pasukan Vietnam Utara secara terbuka di Laos dengan konsekuensi akan dikecam secara terbuka karena dianggap melanggar Kesepakatan; pilihan kedua adalah pergi dari Laos dan berisiko kehilangan wilayah Pasifik jatuh ke tangan komunisme; atau pilihan terakhir adalah melakukan operasi rahasia dalam upaya untuk menghentikan lalu lintas pasokan komunis ke Vietnam Selatan. Mereka memilih opsi terakhir, tetapi mereka membutuhkan dukungan logistik yang tidak dapat disediakan oleh militer AS, solusinya sekali lagi adalah Air America.

Kegiatan di Laos pada tahun 1963 masih sangat minim, tetapi tragedi masih bisa terjadi. Sebuah C-46 Air America ditembak jatuh di timur Savannakhet. Anggota kru bisa menyelamatkan, tetapi pilot, Joseph C. Cheny dan co-pilot yang baru disewa, Charles G. Herrick terbunuh ketika pesawatnya meledak di udara. Anggota kru yang bisa melakukan bail out ditangkap oleh Pathet Lao. Seorang Amerika, Eugene H. DeBruin, dan lima crew Spesialis Angkutan Udara asal setempat (Asia Tenggara), yang biasa disebut “kickers,” menjadi tahanan perang dan mengalami perlakuan yang tidak manusiawi selama beberapa tahun. Salah satu korban yang selamat, Phisit Intharathat, melarikan diri setelah hampir tiga setengah tahun ditahan. Kisahnya pengalamannya selama ditahan sangat dramatis, sementara sisa crew lainnya mati di penahanan. Eugene DeBruin terdaftar sebagai MIA tetapi diduga meninggal, setelah sempat melarikan diri bersama pilot AL AS Dieter Dengler (lihat kisah film “Rescue Dawn”).

Pada tahun 1964, Angkatan Laut menggunakan F-8 Crusaders sebagai pesawat pengintai pengambil foto yang terbang melintasi perbatasan timur Laos untuk mencoba memverifikasi aktivitas Vietnam Utara menuju wilayah selatan lewat jalur yang kemudian disebut sebagai Ho Chi Minh Trail. Pada satu waktu, seorang pilot F-8 yang pesawatnya trouble menyelamatkan diri, dan Air America mencoba menyelamatkannya tetapi gagal setelah menghadapi tembakan darat yang hebat. Pilot itu berhasil menyelamatkan diri, tetapi pihak Angkatan Laut bersikeras adanya tim penyelamat jika ada lebih banyak pesawat yang ditembak jatuh. Pada Desember 1965, 170 pesawat A.S. telah hilang selama operasi pemboman yang disebut “Rolling Thunder”. Awalnya, wilayah Laos utara terlalu jauh dari Thailand sehingga tim SAR tidak bisa digunakan secara efektif dari sana. USAF sementara menempatkan helikopter di Laos, tetapi risiko diketahui dan diekspos secara publik sebagai pelanggar Kesepakatan dinilai terlalu tinggi. Pemerintah Amerika kemudian memerintahkan Air America sebagai pihak utama yang bertanggung jawab melaksanakan misi Search-and-Rescue di Laos utara.

Air America juga menjalankan misi tempur menerbangkan pesawat serang T-28 Trojan.

Air America sekali lagi mengambil misi tempur, lima pilot – John Wiren, Rick Byrne, Ed Eckholdt, Joe Hazen, dan Tom Jenny – dan kemudian Don Romes diam-diam dilatih menerbangkan pesawat serang T-28D Trojan yang digunakan untuk memberikan dukungan udara jarak dekat untuk operasi SAR. Jumlah pasti penyelamatan yang dilakukan oleh Air America tidak diketahui secara pasti tetapi diperkirakan lebih dari seratus.

Misi FAC dengan pesawat O-1 Bird Dog, salah satu misi berbahaya Air America.

USAF menggunakan personel militer untuk menjalankan tugas sebagai Forward Air Control di Laos pada tahun 1963. Mereka sering disebut sebagai “Kupu-kupu” dan terbang dengan pesawat Air America type Helio Couriers dan Pilatus Porters. Program itu sangatbsukses, dan tidak satu orang pun yang meninggal atau terluka, tetapi Komandan Komando Udara Taktis USAF menginginkan perwira yang ditugaskan memiliki kualifikasi sebagai pilot pesawat tempur. Pada tahun 1966, USAF memulai program Raven untuk menerbangkan pesawat Cessna 0-1 Bird Dog. Ini adalah program yang agresif dan berbahaya, dan cukup banyak pilot tewas akibat tembakan musuh. Mereka juga membutuhkan dukungan logistik. Air America menangani perawatan pesawat, mengangkut roket fosfor putih untuk menandai target dari Thailand ke berbagai tempat di Laos, dan bertindak menjalankan misi SAR untuk pilot yang jatuh.

Surat penugasan Air America untuk menjalankan misi SAR di Laos Utara.

Operasi militer USAF di Laos meningkat sepanjang tahun 1960-an, tetapi kondisi cuaca di Laos membuat misi penerbangan sulit dilakukan. USAF membutuhkan peralatan navigasi, dan situs radar rahasia yang dipasang di Laos utara di salah satu gunung tertinggi di daerah itu. Air America menyediakan pengangkutan suplai makanan dan barang-barang lainnya kepada lokasi-lokasi tersebut dan secara bersama-sama bertanggung jawab untuk melaksanakan misi evakuasi darurat di lokasi tersebut jika diperlukan. Situs ini diawaki oleh teknisi USAF tanpa pelatihan tempur atau pengalaman. Untuk memberikan bantuan sewaktu-waktu dengan segera, dua helikopter Air America harus bermalam (Remain Over Night/RON) setiap malam di situs Lima Site 98 yang berdekatan; Helikopter USAF akan datang dari pangkalannya yang berbasis di Thailand. Sebenarnya, beberapa crew USAF menyatakan keinginan kehadirian helikopter Air America di RON Site 85, yang krusial bukan 98. Namun, tidak ada yang berubah; karena dikhawatirkan kehadiran helikopter di Situs 85 akan memprovokasi musuh untuk menghancurkan target yang menguntungkan ini. Jika mereka hancur, kemampuan evakuasi darurat yang direncanakan akan lenyap. Pada Januari 1968, 2 pesawat transport An-2 menyerang Situs Lima Site 85, dalam aksinya, crew Air America menembak jatuh sebuah An-2 dan memaksa satunya lagi crash. Namun pada bulan Maret 1968, sebuah serangan komando yang berani dari NVA menghancurkan situs Lima Site 85.

Ilustrasi dramatis crew huey Air America menembak jatuh pesawat Antonov-2 Vietnam Utara yang hendak menyerang situs radar Lima Site 85 di Laos.

Pada tahun 1969, Richard Nixon bersumpah akan mengakhiri perang di Vietnam. Nixon meningkatkan intensitas pertempuran di Laos, sehingga memaksa Vietnam Utara untuk mengalihkan banyak kekuatan mereka ke Laos yang cukup membantu Vietnam Selatan untuk dapat mengamankan wilayah mereka terhadap aktivitas agresif Vietnam Utara. Namun aktivitas militer Air America juga meningkat karenanya. Pertempuran di utara di LS-20 Alternate (Laos) sangat intens dan berdarah-darah dimana Amerika mengerahkan oleh tentara dari Suku Hmong dan Thai. Dalam 25 tahun sejak mulai beroperasi Air America menderita sekitar 186 personel tewas dalam tugas, dengan 35% diantaranya terjadi antara tahun 1969 dan 1973.

Armada Pesawat dan berakhirnya petualangan di Laos

Air America menyediakan banyak layanan untuk CIA, salah satunya adalah pengiriman kargo ke daerah-daerah termasuk Vietnam dan Cina. Maskapai ini mengoperasikan pangkalan di berbagai negara seperti Jepang dan Taiwan, yang memungkinkannya terbang ke daerah-daerah ini dengan mudah. Kantor pusatnya berada di Washington, D.C., dan fasilitas pemeliharaannya di Arizona. Maskapai ini mengoperasikan berbagai jenis pesawat seperti C-123, C-130, DHC-4 Caribou, Curtiss-C46 Commando dan Douglas DC-6 hingga pesawat yang tidak lazim dimiliki sebuah maskapai sipil, modifikasi Pesawat Serang B-26 sebagai aset transport. Mereka juga menggunakan helikopter termasuk Bell 47, Bell 204B, Bell 205, Hughes 500D, Sikorsky H-34, hingga helikopter raksasa CH-47 Chinook dan CH-54 Skycrane serta armada Bell dan Pilatus Porter yang disertifikasi oleh FAA. Seringkali, pesawat ini ditandai sebagai pesawat pengangkut sipil yang memungkinkan mereka memasuki zona yang biasanya tidak dapat mereka lakukan jika memakai pengenal militer.

C-123 Provider Air America.
Caribou Air America
C-130 Air America
Helio Courier Air America
Huey Armada Udara Air America.
Air America tercatat juga mengoperasikan helikopter raksasa CH-54 Skycrane.

Dalam Pertempuran untuk Skyline, yang dijalani oleh personel dari suku Hmong, Thai, USAF dan Air America, sangat berdarah dan intens. Tentara Vietnam Utara mencoba menjadikan Skyline sebagai Dien Bien Phu namun gagal. Peristiwa itu adalah kemenangan dalam proporsi yang sangat besar tetapi tidak pernah dilaporkan. Amerika dan Tentara Kerajaan Lao, bersama dengan prajurit Hmong dan Thai memenangkan pertempuran tetapi kalah dalam perang karena politik. Perang di Laos berakhir dengan tiba-tiba pada tahun 1974. Tidak ada pesta kemenangan atau penghargaan. POW asal Amerika di Hanoi dibebaskan pada Januari 1973 lewat kesepakatan Paris Peace Accords, tetapi tidak pernah disinggung tentang POW di Laos, termasuk mereka yang pernah bekerja dengan Air America. Setelah berakhirnya perang di Laos ex Karyawan Air America tersebar luas ke berbagai penjuru dunia. Beberapa pergi bekerja ke Iran, Indonesia, dan Taiwan dan beberapa pulang ke Amerika Serikat. Sisanya pergi ke Vietnam di mana tragedi lain akan terjadi.

An Air America C-123 delivering supplies and picking up Laotian troops at Long-Tieng.

Sehabis perang di Laos, banyak penulis Amerika yang menyoroti dan mengkritik tentang perang rahasia di Laos yang penuh dengan kontroversi, termasuk isu perdagangan narkoba yang menempatkan para bekas crew Air America di posisi yang tidak menyenangkan. Sebagai pembelaan, para ex crew memang tidak banyak menyangkal tentang Perang Rahasia dimana mereka ikut terlibat yang dijalankan di Laos, namun mereka balik menyorot mengenai ketimpangan pemberitaan media Amerika yang seolah menutup mata atas apa yang dilakukan oleh pihak Vietnam Utara. Vietnam Utara jelas-jelas merupakan pihak utama yang tidak mematuhi perjanjian netralitas Laos tahun 1962 dan mengambil banyak keuntungan dari wilayah Laos dengan menggunakan wilayah itu sebagai lalu lintas utama barang dan personel dalam menjalankan aksi militernya di Vietnam Selatan.

Bertugas di Vietnam

Air America juga mendukung militer A.S. selama Perang Vietnam. Pada awal perang, mereka memberikan dukungan kepada beberapa unit, tetapi ini akhirnya berkembang menjadi lebih banyak. Pada 1962, maskapai ini memindahkan dan mengevakuasi pasukan dan personil dari zona perang serta memberikan bantuan bagi beberapa pemerintah asing yang terlibat dalam perang. Mereka juga mengangkut pengungsi dan mengambil foto yang akan digunakan untuk informasi intelijen lebih lanjut. Pekerjaan di Vietnam lebih bersifat administratif daripada pekerjaan di Laos, yang lebih bersifat paramiliter, tetapi hal itu tidak berarti bahwa bahaya tidak ada. Tembakan musuh dari darat atas armada Air America di Vietnam tidak begitu banyak, tetapi masih saja bisa terjadi, oleh karenanya kewaspadaan diperlukan oleh kru Air America. Alat bantu navigasi tersedia di berbagai lokasi di Vietnam Selatan, tetapi itu tidak membantu crew Air America karena pesawat mereka tidak dilengkapi dengan peralatan navigasi. Akibatnya, kecelakaan fatal dan tragis terjadi yang tidak ada hubungannya dengan perang, tetapi sebenarnya bisa dihindari seandainya peralatan navigasi dipasang.

Gambar atas Huey Air America jelang berakhir Perang Vietnam.

Salah satu fungsi dan kemampuan yang menarik dari maskapai ini adalah kemampuannya untuk menyelamatkan pilot AS yang jatuh di atas lautan. Mereka jelas tidak memiliki sertifikasi yang dikeluarkan oleh Administrasi Penerbangan Federal untuk melakukan tugas militer semacam ini. Maskapai ini tumbuh dengan cepat selama kurun waktu ini, dengan mengoperasikan lebih dari 80 pesawat, serta memiliki lebih dari 300 spesialis, mekanik, dll, yang berbasis di Asia Tenggara saja, yang mampu merawat dan mengoperasikan pesawat mereka. Air America bekerja sangat baik untuk sebuah maskapai, mereka mengirimkan kargo bernilai puluhan juta dolar per tahun dan juga mengangkut banyak orang.

Mereka juga membawa berbagai jenis barang. Pada waktu itu di Vietnam penggunaan agen kimia seperti Agen Oranye telah meluas. Bahan kimia ini antara lain turut menghancurkan lahan pertanian di daerah tersebut. Untuk membantu mengatasi masalah ini, maskapai Air America membantu mengangkut bahan makanan untuk mencegah kelaparan. Mereka mengangkut sapi, ayam, benih untuk tanaman, dll, juga mengedrop makanan lewat udara salah satunya adalah beras. Misi mengirim beras dengan cara ini sering dikenal sebagai “Rice Drop.” Pekerjaan untuk Air America melalui kontrak dengan USAID, CORDS dan sebagainya berakhir pada tahun 1973,

During the Vietnam War the air base at Long Tieng was a hub of Air America, Air commando, and Raven forard air control operations. (University of Texas-Dallas History of Aviation Collection)

International Commission of Control and Supervision (ICCS) adalah komite yang merupakan kelanjutan dari Komisi Internasional yang didirikan pada tahun 1953. Tugas mereka adalah untuk mengendalikan dan mengawasi terlaksananya perjanjian Persetujuan Jenewa 1954 yang memisahkan Vietnam Utara dan Selatan di sepanjang garis Paralel ke-17. Seharusnya, ICCS memiliki kekuatan, tetapi kenyataannya mereka tidak memilikinya. Pelanggaran oleh pihak Amerika lebih sering mendapat keluhan oleh ICCS yang berdampak secara publik daripada yang diterima oleh Vietnam Utara. Amerika yang sensitif terhadap publisitas yang merugikan dan oleh karenanya berusaha untuk mematuhi beberapa Kesepakatan Jenewa, dihadapkan pada kenyataan bahwa Vietnam Utara tidak dan tidak akan peduli dengan apa yang dipikirkan orang tentang hal itu. Dengan demikian, Amerika melanjutkan dengan kebijakan operasi rahasia dan klandestin dan secara terbuka menghadirkan Air America sebagai perusahaan swasta yang beroperasi di Vietnam di bawah berbagai kontrak. Kontrak-kontrak yang dimiliki memisahkan jenis pekerjaan dan tagihan kepada pelanggan yang berbeda, tetapi seperti di Laos, sebuah pesawat atau helikopter yang bekerja pada USAID mungkin saja bekerja untuk CIA, atau unit Pasukan Khusus di daerah Delta atau II Corps.

Hari-hari terakhir Air America

Kegiatan militer berkurang setelah Perjanjian Damai 1973 ditandatangani, tetapi segera setelah itu kembali meningkat secara substansial. Namun, pasukan Amerika sudah tidak ada lagi, dan pertempuran yang terjadi adalah antara Vietnam Utara dan Selatan. Vietnam Selatan seharusnya dapat mempertahankan diri melawan Vietnam Utara setelah pasukan Amerika pergi jika saja bantuan keuangan masih mengalir deras dari Amerika. Namun kenaikan harga minyak akibat perang Yom Kippur 1973, menyebabkan banyak persenjataan baru militer Vietnam Selatan mangkrak, hal ini diperburuk dengan semakin dikuranginya bantuan keuangan dari Amerika karena desakan konggres yang sudah enggan turut campur dengan konflik di Vietnam. Akibatnya provinsi demi provinsi jatuh ke Vietnam Utara secara teratur.

Dubes Graham Martin masih memiliki keyakinan bahwa Vietnam Selatan masih bisa bertahan.

Sama seperti di Laos, Air America terlibat dalam evakuasi orang-orang ketakutan yang lari dari tentara Vietnam Utara yang melintasi batas negara. Evakuasi yang kacau dan berbahaya membutuhkan kesabaran dan profesionalisme yang ekstrem di pihak kru Air America. Pada 1974, sebuah rudal pencari panas yang ditembakkan dari bahu menghantam sebuah helikopter Air America yang menewaskan semua orang di dalamnya. Rudal seperti itu tidak dapat dideteksi oleh kru penerbangan dan bisa di mana saja dan kapan saja. Konggres Amerika ingin keluar secepatnya dari Perang Vietnam. Amerika memenangkan perang pada tahun 1972 secara militer tetapi kalah secara politis karena Kongres dan pelaporan yang tidak akurat oleh pers anti-perang. Berdasarkan UU baru Presiden Amerika tidak dapat menggunakan pasukan Amerika di Vietnam Selatan lebih dari enam puluh hari, yang berarti tidak sama sekali karena jelas dibutuhkan waktu lebih lama dari itu untuk mempersiapkan logistik kontingen yang cukup besar. Beberapa penasihat militer Amerika tetap dan melakukan tugasnya secara heroik di bagian utara Vietnam Selatan bersama-sama dengan Marinir Vietnam Selatan dalam pertempuran yang dikenal sebagai “Serangan Paskah tahun 1972.”

Foto legendaris helikopter Air America melakukan misi evakuasi di Saigon saat perang mau berakhir.

Tetapi pada tahun 1975 jelas bagi kebanyakan orang bahwa Vietnam Selatan akan jatuh ke tangan Vietnam Utara. Untuk beberapa alasan yang rumit dan tidak masuk akal, Duta Besar Amerika di Vietnam Selatan, Graham Martin masih berharap bahwa hal itu tidak akan terjadi, tetapi pada bulan April mimpi buruk itu benar-benar terjadi, dan itu adalah peristiwa yang tragis dan mengecewakan. Personel Air America mencoba menyiapkan titik penjemputan untuk para personel kunci agar dapat dievakuasi dan untuk mengamankan stasiun pengisian bahan bakar. Duta Besar tidak menyetujui hal itu, karena dia pikir persiapan seperti itu akan membuat panik penduduk dan menandakan kekalahan bagi Vietnam Selatan.

Tantangan terbesar crew Air America adalah ketersediaan bahan bakar yang cukup membawa helikopter mereka ke kapal2 Armada ke-7 di lepas pantai Vietnam.

Bagaimanapun Operation Frequent Wind (Operasi evakuasi dari Saigon) dijalankan dengan sepenuh hati oleh para crew Air America, dan klip video menunjukkan gambar demi gambar helikopter Air America melakukan tugas heroik jam demi jam, tetapi media umumnya mengabaikan siapa yang menerbangkan helikopter-helikopter berwarna biru dan perak itu. Para kru pesawat berjuang melawan gerombolan orang-orang yang berusaha melarikan diri dan dengan hati yang sedih terpaksa mendorong perempuan dan anak-anak untuk pergi karena jika semuanya diangkut akan menyebabkan kelebihan muatan yang akan membuat pesawat tidak mampu terbang. Landasan pacu di Saigon menjadi tidak bisa lagi dioperasikan, dan kru pesawat melakukan penerbangan terakhir mereka ke Bangkok tertekan dan lelah.

Helikopter dibuang ke laut untuk memberi tempat pendaratan bagi helikopter lain.

Hanya helikopter yang masih tersisa, dan sekarang bahan bakar adalah masalah utama. Perhitungan harus dilakukan untuk menentukan berapa lama mereka bisa tinggal dan berapa lama untuk terbang ke kapal-kapal Amerika di lepas pantai. Para kru Angkatan Laut tidak pernah diberi tahu apa itu Air America, dan yang lebih buruk mereka memperlakukannye seolah-olah crew Air America adalah pengungsi sipil juga. Sesampainya di atas kapal, para kru disambut dengan senjata terkokang; para pilot menyaksikan pintu kabin helikopter mereka dengan cepat dilepas dan disuruh membuang helikopter mereka di laut. Beberapa mematuhi dan yang lainnya tidak, dan yang tidak dengan cepat lepas landas dan terbang ke kapal lain untuk mengisi bahan bakar tidak dapat lagi membantu misi evakuasi. Salah satu yang tidak patuh adalah Kapten Dave Kendall, menceburkan dari ke laut dan kembali naik helikopter yang dikemudikan oleh Larry Stadulis untuk terus melakukan evakuasi sepanjang hari. Bersama-sama, Kendall dan Stadulis mungkin telah menjadi crew helikopter Amerika terakhir yang meninggalkan Vietnam dan mendarat di USS Blue Ridge dalam keadaan gelap.

Air America Bell 205s being evacuated aboard USS Hancock, in 1975.

Akhir dari Air America dan Maskapai turunannya

Kiprah Air America berakhir dengan tiba-tiba, mengikuti berakhirnya perang, helikopter nya dikirim ke Filipina. Ada upaya untuk mempertahankannya setidaknya untuk beroperasi di beberapa daerah. Namun, tidak ada bisnis yang cukup untuk membuatnya tetap dapat berjalan, dan pada bulan Juni 1976, maskapai itu benar-benar ditutup. Semua orang di-PHK tanpa mendapat pengakuan atas pekerjaan mereka, dan tanpa bantuan keuangan. Keluarga mereka yang terbunuh hampir tidak mendapat apa-apa. Bagi mereka yang terluka, mereka menghadapi pertempuran panjang berkaitan dengan asuransi untuk menutupi biaya perawatan mereka. Masalahnya adalah bahwa pejabat CIA mengklaim maskapai itu tidak pernah ada.

Logo Air America

Meskipun maskapai ini ditutup oleh pemerintah, namun maskapai turunannya muncul lagi. Kali ini, itu bukan lagi organisasi rahasia. Maskapai itu digunakan untuk penggunaan yang seharusnya: mengangkut penumpang. Maskapai ini mulai beroperasi pada 1980-an dan melayani beberapa tujuan termasuk Baltimore, Los Angeles, dan London.

Tuduhan Miring dan Refleksi

Salah satu bagian sejarah yang menarik dari kiprah Air America di Asia Tenggara adalah CIA telah dituduh menggunakan maskapai penerbangan itu untuk menyelundupkan heroin keluar dari Laos utara. CIA disebut membantu sekelompok orang di Laos, yang berperang melawan pemberontak komunis Pathet Lao. Kelompok ini bergantung pada penjualan heroin sebagai mata pencaharian mereka. Pada satu waktu, pasukan pemberontak menduduki daerah yang digunakan orang-orang ini untuk menampung pesawat yang datang mengangkut narkoba. Crew Air America kemudian datang untuk menyelamatkan mereka.

Air America dan CIA dituduh menjalankan bisnis narkoba di Laos.

Para kritikus berpendapat CIA dan Pemerintah Laos mungkin mendapat untung dari penyelundupan narkoba itu, jadi mereka menutup mata terhadap apa yang dilakukan oleh militer Laos dengan narkoba itu. Kisah ini belum pernah terbukti, sehingga hanya beredar sebagai dugaan saja. Desas-desus ini rupanya cukup menarik bagi Hollywood untuk membuat film tentang hal itu pada tahun 1990. Film ini berjudul “Air America” dan merupakan film komedi yang dibintangi oleh Mel Gibson dan Robert Downey Jr, yang tentunya banyak sekali melakukan improvisasi dan dramatisasi.

Film Komedi-Action Air America (1990) yang banyak dramatisasi.

Kita tahu “itu hanya film” dan bukan film dokumenter, tetapi penulis skenario John Eskow dan Richard Rush melewatkan kesempatan emas untuk menceritakan kisah nyata tentang Air America, yakni menceritakan kembali kisah orang-orang yang terbang , berjuang dan, kadang-kadang, ada yang gugur dalam menjalankan misi Air America, diantaranya:

* James (Earthquake) McGovern dan Wallace Buford, menerbangkan pesawat Civil Air Transport (pendahulu Air America) ke garnisun Prancis yang terkepung di Dien Bien Phu. Mereka terbunuh ketika pesawat mereka dihantam oleh tembakan komunis pada tahun 1954, dan menjadi satu-satunya orang Amerika yang mati dalam pertempuran selama Perang Indocina Perancis.

* George Ritter, Roy Townley dan Ed Weiddenback dilaporkan hilang pada tahun 1971 setelah C-123 mereka diyakini terkena tembakan anti-pesawat.

* TD Latz mengemudikan helikopter Huey Air America difoto saat menyelamatkan orang Amerika dan Vietnam Selatan dari atap bangunan dekat kedutaan AS di Saigon pada tanggal 29 April 1975, pada hari-hari terakhir keterlibatan AS di Vietnam Selatan dan sehari sebelum pemerintah Vietnam Selatan menyerah ; foto itu menjadi salah satu foto perang Vietnam yang paling diingat.

Sampai hari ini, sebagian besar orang Amerika tidak tahu banyak tentang sejarah nyata Perang Vietnam atau anggota kru Air America yang, walaupun terbunuh atau hilang dalam aksi, tidak ikut dicatat dengan nama-nama mereka yang gugur di Vietnam di Monumen Nasional Perang Vietnam di Washington karena mereka adalah karyawan kontrak untuk CIA.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

Air America – Run By The CIA, This Controversial Covert Airline Was Used Extensively During The Vietnam War

https://m.warhistoryonline.com/instant-articles/controversial-covert-airline-cia.html

Still Untold: The Real Story of Air America in Indochina

https://www.google.com/amp/s/www.latimes.com/archives/la-xpm-1990-09-02-ca-1643-story.html%3F_amp%3Dtrue

Air America: An Historical Synopsis From the Beginning to End

https://www.air-america.org/air-america-history.html

4 thoughts on “Air America: profesionalisme, heroisme dan kontroversi di tengah perang kotor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *