Aksi gila menyeberangi Sungai Waal, 20 September 1944: Saat Pasukan Payung jadi Pasukan “Dayung”

Pada September 1944 pasukan Jerman di Eropa Barat terguncang – Perancis telah dibebaskan, dan pasukan lapis baja Sekutu terus bergerak maju ke Belgia dan Luksemburg. Saat itu nampaknya kekuasaan NAZI di Eropa Barat tinggal menunggu waktu kejatuhannya dan perang segera berakhir. Demi mempersingkat berakhirnya Perang, Field Marshal Bernard Law Montgomery asal Inggris kemudian merancang rencana ambisius untuk memotong ujung utara pertahan Jerman di Garis Siegfried dan dengan melalui Wilayah Belanda, pasukan sekutu langsung masuk ke Jerman dengan jalan merebut jembatan-jembatan kunci di atas sungai Meuse dan sungai Rhine. Operation Market Garden, begitu rencana Montgomery itu diberi nama, akan menjadi serangan gabungan pasukan lapis baja dan pasukan payung, dengan pasukan payung dan pasukan infantri yang diterbangkan glider mendarat di belakang garis musuh dan merebut setiap jembatan sampai mereka digantikan oleh pasukan lapis baja. Meskipun serangan itu bisa mencapai banyak tujuan awalnya, tetapi pasukan Sekutu gagal merebut dan mempertahankan jembatan di Arnhem, Belanda, yang menyebabkan gagalnya seluruh rencana operasi yang diluncurkan sekutu. Penulis Cornelius Ryan yang terkenal, menulis pertempuran itu dalam bukunya yang terlaris pada tahun 1974, “A Bridge Too Far” (yang jadi basis cerita untuk film perang epik buatan tahun 1977, yang berjudul sama). Dalam bukunya yang baru, Hope: The American Side of a Bridge Too Far, John C. McManus, profesor sejarah militer dari Universitas Sains dan Teknologi Missouri, meneliti peran para penerjun payung dari divisi Lintas Udara ke-82 dan ke-101 AS dalam salah satu Pertempuran paling kontroversial dalam Perang Dunia II itu. Dalam buku tersebut dikisahkan bagaimana pasukan payung dari Resimen Infantri Parasut ke-504 melakukan serangan siang hari di cabang sungai Rhine, yakni sungai Waal di Nijmegen, dengan menggunakan kapal-kapal kecil yang disediakan oleh Inggris. Aksi “gila”, yang menjadi salah satu episode paling dramatis dalam Operasi Market Garden ini dilakukan pada 20 September 1944. Berikut adalah bagaimana kisah heroik dan kontroversial itu terjadi.

Rencana Operasi Market Garden, September 1944. (Sumber: https://www.quora.com/)

LATAR BELAKANG DAN PERENCANAAN

Dalam beberapa hari setelah Operasi Market Garden diluncurkan dan setelah menghadapi kendala pada pengiriman gelombang-demi-gelombang pasukan payung yang seharusnya diterjunkan kemudian, Kolonel John Frost dan orang-orang dari Divisi Lintas Udara Pertama Inggris berhasil diisolasi oleh tentara Jerman di kota Arnhem. Posisi mereka di jembatan Arnhem semakin melemah, dan kebutuhan akan bala bantuan jelas semakin kritis, sementara setiap jam jumlah korban serangan Jerman semakin meningkat. Lima belas mil di selatan, orang-orang dari Divisi Lintas Udara ke-82, yang dipimpin oleh Brig. Jenderal James M. Gavin – bersama Mayjen Allan Adair dari Divisi Pengawal Lapis Baja – terjebak dalam pertempuran sengit untuk menguasai kota Nijmegen yang terbakar. Bertekad untuk tidak meninggalkan apa-apa kepada pasukan sekutu, orang-orang Jerman telah membakar kota tertua di Belanda itu, menciptakan semacam neraka yang kemudian menjadi lokasi pertempuran jarak dekat yang sengit. Untuk sampai ke posisi pasukan Frost di Arnhem, Sekutu harus merebut jembatan Nijmegen dari kontrol tentara Jerman. Operation Market Garden dari awal sangat bergantung pada perebutan dengan cepat jembatan-jembatan yang melintang di sepanjang jalur dari Belgia menuju Arnhem, tetapi menjadi jelas setelah dua serangan frontal yang gagal pada tanggal 17 dan 19 September bahwa merebut sebuah jembatan Nijmegen dari cengkeraman divisi SS Panzer dibutuhkan serangan serentak dari kedua sisi. Gavin bertekad agar sebuah detasemen dikirimkan untuk bergerak sekitar satu mil menyusuri Sungai Waal, menyeberang dengan perahu, dan kemudian bergerak mendekati ujung jembatan yang lain dalam suatu manuver kejutan untuk merebut jembatan yang vital itu. Batalion ke-3 pimpinan Mayor Julian Cook, dari Resimen Infantri Parasut ke-504 akan ditugaskan untuk menyeberangi sungai, yang direncanakan akan dilakukan tanggal 20 September 1944 pada pukul 08.00 pagi.

Divisi Lintas Udara ke-1 Inggris berjuang mempertahankan Jembatan di Arnhem melawan pasukan Jerman yang lebih kuat dan silengkapi dengan kendaraan lapis baja termasuk tank. Seberapapun heroiknya perlawanan pasukan payung Inggris, namun semuanya akan sia-sia jika pasukan payung Amerika dari Divisi Lintas Udara ke-82 gagal merebut jembatan yang melintasi sungai Waal di Nijmegen. (Sumber: Pinterest)

Pukul 09.00, Batalion Ke-3 menerima perintah pemberitahuan bahwa mereka akan melakukan penyerangan Sungai Waal untuk mengamankan Jembatan Jalan Raya Nijmegen itu di sore harinya. Sementara Cook yang awalnya merasa akan memiliki unsur kejutan dalam melakukan serangan, kini ia segera menyadari bahwa serangan dari pasukan Resimen Infanteri Parasut ke-504 itu akan lebih mirip sebagai sebuah misi bunuh diri, karena mereka tidak bisa mengharapkan perlindungan visual dari kegelapan. Waktu adalah hal yang krusial, dan keberhasilan misi tidak bisa menunggu hingga malam hari. Sebaliknya, pasukan Cook diperintahkan untuk mendayung menyeberangi sungai di siang hari bolong – dengan pertahanan berat Jerman sudah menunggu di seberang sungai. Cook, bersama personel S-3 dan Komandan Kompi kemudian segera melakukan pengintaian. Penyeberangan akan diluncurkan diantara dua bangunan besar di tepi selatan sungai. Bangunan-bangunan ini, yakni pembangkit listrik daerah itu, terletak di luar batas barat kota Nijmegen. Pengintaian yang dilakukan hanya terbatas karena penembak jitu masih menduduki daerah di seberang sungai tersebut. Senapan mesin dari arah kota dan seberang sungai menjaga atap di seberang agar tidak bisa digunakan untuk melakukan pengintaian. Dari posisi lantai 9 dalam gedung, hanya satu orang pada satu waktu yang bisa mendapatkan pandangan yang baik dari daerah yang akan diserang. Pengamatan lewat peta dan pengintaian visual memunculkan gambaran daerah rendah yang rata di tempat pendaratan. Semua jalan dan jalur kereta api berada di atas tanggul. Tanggul ini memotong area menjadi tempat-tempat pertahanan Jerman. Tanah di antara tempat itu rendah dan datar. Dengan pengecualian adanya parit drainase yang sempit, secara umum tidak ada tempat untuk berlindung di area pendaratan. Tembakan menyusur hanya dibatasi oleh jarak maksimum senjata yang ditembakkan. Seluruh area didominasi oleh keberadaan Fort Hof Van Holland, benteng kuno, sekitar 800 yard di utara sungai dan 800 yard di sebelah barat tanggul kereta api. Seluruh benteng dikelilingi oleh parit selebar 75 kaki. Di antara sungai dan Benteng terbentang tanggul dengan permukaan jalan yang sejajar dengan sungai, menyulitkan untuk dapat dilakukan pengamatan dan tembakan datar ke daerah tepat di belakang tanggul, sehingga ideal bagi pihak yang bertahan. Sungai itu sendiri sudah menghadirkan hambatan besar selebar 1.200 kaki, dengan arus ke barat yang kuat diperkirakan memiliki kecepatan delapan mil per jam.

Mayor Julian Cook, Komandan Batalion ke-3/504th PIR. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Semua kapal yang tersedia harus digunakan dalam setiap gelombang, dan gelombang pertama serangan akan terdiri dari Kompi H dan I dan Satuan Markas Batalyon Ketiga yang akan diikuti dan dipimpin Mayor Cook langsung. Sisa Batalion Ketiga akan menyeberang dalam gelombang kedua. Gelombang berikutnya akan mengangkut Batalion Pertama. Rencana serangan adalah untuk menyerang parit pertahan musuh, dengan melewati Benteng di sisi utara, bergerak langsung ke jalan raya Arnhem-Nijmegen dan menyerang ke selatan menyusuri jalan raya. Kompi G, pada gelombang kedua, harus masuk ke posisinya mengitari jalan raya, menghalangi setiap pergerakan di jalan raya, dan melindungi bagian belakang batalion. Kompi H dan I, dalam gelombang pertama, akan menyerang ke selatan di sepanjang jalan raya, I di kiri (timur), H di kanan (barat), dan merebut ujung utara jembatan jalan raya. Ketika Cook menyiapkan anak buahnya, ditetapkan bahwa komandan batalion yang paling dipercaya Gavin, Letnan Kolonel Benjamin Vandervoort, akan menyerang ujung barat jembatan Waal bersama Batalion ke-2, PIR ke-505. Konvoi yang mengantarkan kapal-kapal penyerang Cook, sementara itu, terhambat oleh tembakan musuh yang hebat di sepanjang jalan yang dijuluki oleh para GI sebagai “Jalan Tol Neraka,” yang selanjutnya berakibat ditundanya waktu penyeberangan. Merasakan bahwa anak buahnya nervous menanti “misi bunuh diri” yang tidak kunjung dimulai itu, sang mayor bercanda bahwa “ia ingin meniru gaya George Washington melintasi sungai Delaware dalam gambar lukisan yang terkenal. Dimana dia akan berdiri tegak di kapal dan dengan kepalan tangan kanannya, “berteriak,” Maju, maju! “

Jenderal James Gavin, komandan Divisi Airborne ke-82 dalam Operasi Market Garden. (Sumber: Pinterest)

Tepat pada pukul 1440 tiga truk Inggris meluncur di jalan di belakang pabrik Nyma. Para pengemudi melompat keluar dan mulai menurunkan kapal-kapal yang banyak dinanti. Bersantai di dekatnya, pasukan Batalion 3 Mayor Julian Cook berdiri dan turun menuju ke truk yang baru datang untuk membantu orang-orang Inggris menurunkan muatan mereka. Anehnya, meskipun pasukan Batalion ke-3 tidak lebih dari satu mil jauhnya, mereka bahkan tidak bisa mendengar pertempuran yang terjadi di ujung selatan jembatan, yang saat itu masih berkecamuk. Ketegangan, bagaimanapun semakin bertambah ketika mereka melihat kondisi kapal-kapal itu. Mereka mengharapkan sebuah perahu besar, mungkin bahkan dengan mesin tempel dan berlapis baja sebagai perlindungan, bukan kapal yang mereka lihat ini. Kapal-kapal itu lebih mirip “potongan kayu lapis dengan kanvas melilit mereka dan beberapa papan tambahan ditumpuk di atasnya,” kenang Kapten Moffatt Burriss. Mereka tampak seperti ” tidak akan berhasil digunakan untuk melewati kolam renang,”, apalagi melintasi salah satu sungai terbesar di Eropa. Orang-orang dari resimen 504 akan seperti “sitting duck” yang dengan dibungkus kanvas tipis melawan pertahanan kuat Jerman. Perahu-perahu itu panjangnya 19 kaki dan tingginya tidak lebih dari 30 inci. Kulit kanvas dari masing-masing perahu melilit kerangka, rata, dengan kayu plywood di bawah dan pasak kayu yang membentuk tepiannya, dengan sebuah “ekor” kayu di bagian belakang berfungsi sebagai kemudi. Chaplain Delbert Kuehl bertanya bagaimana perahu-perahu itu akan digerakkan. “Dengan Dayung kano,” jawab seseorang singkat. Setiap kapal seharusnya memiliki delapan dayung, namun beberapa malah hanya memiliki sedikitnya dua. Ketika orang-orang Cook bertanya kepadanya bagaimana mereka bisa mendayung dengan hanya dua dayung, ia mengatakan kepada mereka untuk menggunakan popor senapan mereka. Setiap kapal memiliki berat hampir 400 pon, tetapi dengan senjata dan amunisi, mereka mungkin akan berbobot dua kali lipat selama penyeberangan. Setiap perahu rencananya akan membawa 13 orang prajurit pasukan payung dan 3 crew yang akan mengatur dan mengemudikan kapal.

Perahu penyerang sederhana yang digunakan dalam penyeberangan Sungai Wall oleh pasukan payung Amerika. (Sumber: https://www.saak.nl/)

MENYEBERANGI DAN MEREBUT JEMBATAN SUNGAI WAAL

Pada pukul 1450 tembakan pendukung serbuan mulai berdentuman. Artileri, mortir, dan tank menembaki posisi terbuka Jerman di seberang sungai. Selama hampir 10 menit, para penembak artileri Sekutu menembakkan peluru meriam yang meledak ke arah musuh sebelum beralih ke peluru asap putih. Tabir asap yang muncul berikutnya nampak tipis saja bagi pasukan payung. Ditambah lagi, adanya angin yang meniupnya kembali ke arah mereka. Dalam hati mereka, para prajurit tahu bahwa visibilitas pihak Jerman nyaris tidak akan terganggu dengan asap seperti itu. Kemudian, akhirnya, pada pukul 1503, Cook meniup peluit dan memerintahkan semua orang untuk bergerak. Setiap tim perahu berdiri dan mengangkat perahu mereka yang aneh dan berat ke pundak mereka. Dengan susah payah, masing-masing kelompok menaiki tanggul dan berlari sebaik mungkin dengan membawa beban yang begitu berat. Mereka tersandung-sandung di jalan menuju sungai sekitar 150 meter jauhnya. Ketika orang-orang itu diperlambat dengan adanya pagar kawat yang berdiri di sepanjang rute menuju sungai, tank-tank harus menabrak penghalang ini, sementara para prajurit meledakkan lebih banyak lubang di rintangan itu dengan granat Gammon. Begitu melewati pagar kawat, mereka menuruni tanggul yang curam, lalu susah payah melintasi 50 meter tanah berlumpur yang terbuka ke tepi sungai. Dengan menanggung beban berat kapal, banyak prajurit yang tenggelam sedalam-dalamnya ke lumpur. Tabir asap sudah mulai menghilang. Dengan canggung, para lelaki itu mulai menaruh perahu mereka ke tanah berpasir di tepi sungai dan mulai menaiki kapal sebaik mungkin. Beberapa perahu beringsut ke dalam air dengan lancar, sementara yang lain terhenti di lumpur. Beberapa bahkan tenggelam dan harus ditarik keluar dengan susah payah oleh pasukan terjun payung yang panik. Dalam gelombang pertama ini sekitar 260 orang, yang terdiri dari kompi H dan I, plus staff markas serta crew kapal akan berjuang berlayar menyeberangi sungai Waal.

Situasi di Nijmegen pada pagi hari 20 September 1944. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Pada suatu titik (terdapat beberapa catatan yang berbeda tentang kapannya), saat orang-orang Jerman melihat pasukan penyeberangan, mereka mulai melepaskan tembakan. Perpaduan yang mengerikan dari mortir, tembakan senjata 20mm, tembakan meriam 88mm, tembakan senapan mesin dan tembakan senjata ringan mulai berdatangan menyambut perahu-perahu serbu yang ringkih itu. Sebagian besar berasal dari posisi musuh yang ada di jembatan kereta api, tanggul dan Fort Hof van Holland. Kombinasi tembakan kawan dan lawan memekakkan telinga. “Kebisingan yang memekakkan telinga dimulai,” kata Jan van Gent, seorang pria anggota kelompok perlawanan Belanda yang berkendara bersama dengan tank-tank Inggris, kemudian menceritakan. “Flak kaliber 2 dan 4 sentimeter, ditempatkan di suatu tempat dekat jembatan kereta api dan ditembakkan seperti orang gila.” Tembakan ini begitu kuat sehingga, menurut van Gent, memotong dua tiang beton menjadi dua di sepanjang tanggul jalan. “Seolah-olah marah pada kami karena nekad melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, mereka kemudian menembakkan semua senjata yang dimilikinya pada kami,” Keep menulis. Dia sendiri merasa tidak berdaya di tengah perlawanan musuh yang begitu sengit. Di belakang mereka, tank-tank Pengawal Irlandia terus menembakkan peluru ke posisi-posisi Jerman, sementara prajurit dari Batalion ke-2 menjatuhkan peluru mortir dan menembakkan senapan mesin mereka dengan yang cukup akurat. Tabir asap yang melayang rendah hanya menawarkan sedikit perlindungan nyata. Selain itu, mereka harus berjuang sendiri. Tetapi setelah melihat sekeliling ia merasa kagum setelah melihat bahwa, terlepas dari semua yang mereka hadapi, namun tidak ada yang bimbang. Di tengah kekacauan menghindari tembakan musuh, orang-orang mati-matian berusaha naik ke kapal. Megellas, seperti banyak perwira lainnya, mengalami kesulitan mengatur anak buahnya. “Mencoba mengoordinasikan para prajurit untuk naik ke kapal dan menyeberangi sungai yang arusnya bergerak cepat hampir tidak mungkin dilakukan.” Pada saat ini sebagian besar prajurit telah naik ke atas kapal mereka dan mendorong dari tepi selatan yang ditembaki dengan gencar. Setiap orang berdesakan mencari tempat di perahunya. Beberapa duduk; beberapa berlutut; beberapa membungkuk ke samping — tidak ada yang berdiri. Orang-orang di sepanjang sisi perahu mendayung sekuat tenaga. Banyak yang menggunakan popor senapan mereka, sementara beberapa bahkan menggunakan tangan mereka. Di jalan yang sejajar dengan sungai, Kopral Bill Chennell dari 2nd Household Cavalry Regiment berdiri di atas mobil lapis baja untuk melihat-lihat kapal-kapal itu. “Aku bisa mendengar suara senapan mesin dari tepi seberang,” kenangnya. “Kamu bisa … melihat peluru pelacak dari senapan mesin, tapi tidak orang Amerika. Jelas bahwa tidak ada yang akan melewati bisa melewati tembakan gencar itu tanpa terluka. ”

Peta Penyeberangan di Sungai Waal, 20 September 1944. (Sumber: https://www.saak.nl/)

Lebih dekat ke tepi sungai, Letnan John Gorman, seorang komandan tank Pengawal Irlandia, sedang menembakkan meriam di tepian utara ketika awaknya sedapat mungkin menembakkan peluru meriam secepat yang mereka bisa. Ia kemudian menyaksikan Pasukan kecil Amerika menyerbu musuh yang jauh lebih kuat dengan latar belakang sungai dan jembatan raksasa yang menjulang beberapa mil di sebelah kanan. Tembakan Jerman nampak luar biasa gencar. “Tampaknya bagi saya, orang-orang Jerman telah menembakkan senjatanya dua atau tiga kaki di atas permukaan air, untuk mengenai orang-orang Amerika tepat di dada,” katanya kemudian. Komandan Gorman, Mayor Edward Tyler, khawatir tentang keamanan tanknya sendiri. Bagaimanapun, mereka bertengger di tempat terbuka, di sepanjang tanggul jalan, di sisi sungai di samping pembangkit listrik. “Kami ada di tempat terbuka dengan siluet Enam belas tank kami tepat dibawah langit.” Tank Tyler menembakkan meriam dan senapan mesinnya dengan gencar. Mereka juga menembakkan beberapa peluru asap untuk menutup celah besar yang terbentuk di antara awan asap yang melayang. Di pembangkit listrik [komandan Resimen Infantri Parasut ke-504] Kolonel Reuben Tucker dan [Komandan Korps Lintas Udara Pertama Inggris] Letnan Jenderal Frederick Browning menyaksikan dengan terpesona, ketika perahu-perahu itu dengan kacau mencoba melewati arus deras dan tembakan gencar musuh. Browning menoleh ke Tucker dan berkata, “Betapa hebatnya sebuah pasukan terus bergerak maju seperti itu. Negara mana pun harus bangga dengan (punya pasukan seperti) mereka.”

Dari Seberang sungai satuan artileri Inggris memberikan bantuan tembakan, meski efektifitasnya meragukan. (Sumber: https://europeremembers.com/)

Semengara itu, faktanya para prajurit di kapal-kapal yang ringkih itu lebih merasakan rasa takut, ketimbang bangga. Tembakan musuh yang berdatangan begitu kuat sehingga membuat seolah-olah air sungai menjadi bergolak. Begitu banyak peluru mortir yang meledak dan begitu banyak peluru senapan mesin berjatuhan di air itu hingga Sersan Staf Clark Fuller mengatakan “(tembakan) membuat air di sekitar kita terlihat berjatuhan seperti air hujan.” Arus yang deras dan tembakan gencar dari pihak Jerman, membuat pelayaran itu sangat mengerikan. Tabir asap yang dibuat oleh satuan Yeomanry Leicestershire dan Satuan Pengawal Irlandia mulai pudar ketika munisi asap berkurang dan senapan mesin menjadi terlalu panas. Kapten Henry Keep, yang pernah menjadi pendayung di Princeton, mengatakan bahwa kapal-kapal itu “semuanya penuh dengan orang-orang yang mendayung dengan panik di tengah deru tembakan di mana-mana, sementara berlayar dengan perahu kanvas yang tidak berdaya dan rapuh ini, semua berjuang mati-matian untuk menyeberangi Waal secepat mungkin dan sampai ke tempat di mana setidaknya mereka bisa bertempur – ini adalah kenyataan yang brutal dan mengerikan. Banyak yang begitu ketakutan sehingga sulit untuk menguasai diri mereka untuk bergerak atau mendayung kapal. Namun, mereka harus melakukannya, karena siapa pun yang tidak membantu mendayung atau mengemudikan perahu pasti hanya menambah beban saja. Beberapa pria mengutuk, yang lain berdoa dengan sungguh-sungguh. Mayor Cook, seorang Katholik yang taat, kemudian berdoa dengan keras, dimana Letnan Virgil Carmichael, mengingat bagaimana Cook meneriakkan “Hail Mary-full of Grace-Hail Mary-full of Grace” (Salam Maria-penuh rahmat-Salam Maria-penuh rahmat) dalam setiap dayungannya. Di belakang Cook, di atas kapal yang sama, Kuehl berdoa dengan keras, berulang-ulang, “Tuhan, kehendak-Mu lah yang terjadi!” Pendeta pemberani itu benar-benar meragukan bahwa akan ada orang yang bisa berhasil sampai ke tepi utara. Untuk mengatakan bahwa mereka semua adalah seperti “sitting duck” tidaklah benar, bagaimanapun, bebek merasa nyaman di dalam air — tetapi tidak demikian bagi para penerjun payung itu. Setiap dayungan mereka justru semakin mendekatkan diri mereka pada jangkauan tembakan dari senjata musuh. Tembakan mereka menyapu air, kanvas, dan tubuh para prajurit Amerika. Pria yang duduk berdampingan dengan Kuehl, kepalanya lepas terkena tembakan senjata kaliber besar. Tembakan di kepala yang fatal sangat umum (indikator akuratnya tembakan Jerman) saat itu. Kejadian semacam ini bukan cuma satu dua kali, menunjukkan betapa horror nya penyeberangan maut itu. Di kapal lain, peluru membuat lubang menganga di sisi kanvas. Orang-orang kemudian dengan panik berusaha menjaga agar perahu mereka tetap mengapung, dengan menutup menggunakan helm mereka. Beberapa kapal begitu penuh dengan prajurit yang gugur dan terluka sehingga mereka hanyut tanpa tujuan ke hilir.

Pasukan Payung menjadi Pasukan “Dayung”. Karena diam sama saja jadi sasaran empuk maka jalan satu-satunya adalah secepat mungkin mendayung sampai seberang dan memburutentara Jerman yang menembaki mereka. (Sumber: Reddit)

Sekitar 20 meter dari tepi utara kapal lain terkena efek ledakan mortir, melemparkan semua orang yang ada diatasnya ke depan, terbalik membuat mereka mengutuk, dan harus berenang “gaya” anjing. Para prajurit yang basah kuyup itu berhasil mencapai tepi sungai dengan berbagai cara yang mereka bisa. Prajurit Joseph Jedlicka, yang dibebani senapan BAR yang berat dan dua sabuk magazine peluru besar, tenggelam ke dasar sungai, di sekitar kedalaman 8 kaki air. Alih-alih mencoba berenang, dia hanya menahan napas dan berjalan merangkak ke tepian utara. Perwira komandannya, Letnan Ernest Murphy, melihat Jedlicka muncul dari air. Bagi Murphy, operator BAR itu tampak seperti bocah bandel yang sedang main-main. “Keluar dari air,” kata Murphy. “Ini bukan waktunya untuk bermain-main.” “Yah, L-T,” jawab Jedlicka, “Aku tidak bisa berenang, dan aku harus merangkak di dasar sungai.” Terlepas dari gentingnya situasi, letnan dan anggota tim lainnya di perahu yang sama dan basah kuyup tertawa. Menurut perkiraan yang paling baik, dari 26 kapal yang dikirim oleh Inggris – dari 33 telah dijanjikan – hanya 13 yang berhasil sampai ke tepi sungai di seberang. Perahu-perahu mendarat dengan tidak teratur, dan kacau. Untungnya, tanah berlumpur dan berpasir itu mengarah ke sebuah tanggul kecil yang menawarkan semacam perlindungan, setidaknya dari orang-orang Jerman yang menembak dari posisi di sepanjang tanggul dan benteng. Pasukan yang kelelahan melompat keluar dari perahu mereka, mengumpulkan senjata mereka dan terhuyung-huyung ke pantai ke tanggul. Sementara itu, hanya dalam satu atau dua menit setelah pendaratan, sekelompok prajurit yang tidak terluka — bersama dengan orang-orang yang tertembak tetapi masih bisa bertarung — bangkit dan mulai bergerak melewati tanggul ke tanah terbuka yang mengarah ke tanggul.

Mereka yang sampai ke seberang tidak punya waktu untuk bersantai-santai, mereka telah menjadi makhluk buas yang hanya memiliki keinginan untuk menghabisi tentara Jerman yang tanpa ampun membantai rekan-rekan mereka diatas perahu. (Sumber: https://www.jamesdietz.com/)

“Kami tampak berubah menjadi seperti sekelompok hewan, tanpa martabat dan ganas. ”, kata seorang prajurit. Satu hari sebelumnya, di pinggiran Nijmegen, Letnan Kolonel Patrick Cassidy dan orang-orang dari Resimen Infantri Parasut ke-502 menemukan diri mereka ditembaki. Paddy McCrory, seorang awak tank dalam satuan Pengawal Irlandia, datang untuk membantu Cassidy, melepaskan rentetan tembakan yang menewaskan 30 orang Jerman dan seketika mengubah perimbangan pertempuran. “Ketika ragu, menyeranglah,” kata orang Irlandia itu setelah serangannya. Ungkapan ini kemudian diadopsi Cassidy sebagai motto-nya, yang lalu menyebar ke seluruh jajaran pasukan terjun payung Amerika. Apakah motto itu pernah terngiang di telinga para prajurit di 13 kapal yang berhasil menyeberang itu tidak diketahui. Namun demikian, mereka jelas menunjukkan artinya sepenuhnya dari motto itu. Setelah melintas, Keep menulis, “Sering kali saya melihat pasukan yang didorong kebrutalan di medan pertempuran dalam selang waktu singkat pertempuran, menjadi orang-orang fanatik dan gila oleh kemarahan dan keinginan untuk membunuh – orang-orang yang sementara waktu melupakan arti dari rasa takut. Namun, saya belum pernah menyaksikan metamorfosis manusia ini yang ditampilkan secara ekstrim seperti pada hari ini. Orang-orang seperti itu kini berada di sampingnya. Mereka terus melintasi tempat terbuka itu terlepas dari semua yang bisa dilakukan Kraut (orang-orang Jerman), sambil mengutuki dengan keras, senjata mereka terus menembak. ” Siapa pun yang bertahan, bahkan untuk sesaat, berisiko terkena peluru. Semua orang sekarang berniat, sampai pada titik obsesi, untuk segera melintasi tanah terbuka yang mematikan dan segera menyerbu tentara Jerman di tanggul. “Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menuju tanggul, karena tidak ada perlindungan di tempat lain atau apa pun,” Letnan Thomas Pitt, perwira personel batalion, kemudian berkata. Hampir semua bangun dan berlari di sepanjang tanah terbuka. Mereka maju dengan terburu-buru, dan dengan cepat. Satu kelompok akan tiarap di tanah dan memberikan dukungan tembakan sementara yang lain yang berlari langsung menuju ke posisi Jerman, seperti bagaimana mereka telah dilatih. Orang-orang itu berteriak, mengutuk, dan menembakkan senjata mereka dari pinggul. Di sana-sini mereka bertemu parit pertahanan Jerman dan membunuhi beberapa tentara musuh. “[Kami] melanjutkan melalui parit dengan berlari, mereka kemudian menemukan beberapa parit sudah ditinggalkan kecuali oleh beberapa orang Jerman yang terbunuh, kebanyakan dari mereka berkerumun di dalam lubang, mencari perlindungan dari tembakan [pendukung] tentara kami yang gencar dari tepi selatan,” tulis Kapten Carl Kappel.

Scene Film A Bridge Too Far, saat pasukan Payung Amerika mendekati jembatan Nijmegen. Cepatnya pasukan payung memotong kabel-kabel penghubung bahan peledak telah mencegah tentara Jerman meledakkan jembatan. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Beberapa tentara musuh mengangkat tangan dan berusaha menyerah, tapi tentara Amerika tidak menghiraukan mereka. “Sudah terlambat,” kata seorang tentara. “Orang-orang kita, setelah melihat bagaimana rekan-rekan mereka dibantai tembakan Jerman, terus menembak sampai setiap orang Jerman di tanggul terbaring mati atau sekarat.” Di tempat lain, Letnan Richard LaRiviere dan beberapa orang bertemu sekelompok 30 atau 40 yang berusaha menyerah (“prajurit biasa,” seingat letnan itu). Hanya untuk menjumpai tentara Amerika menembak mati mereka semua. Namun, dalam banyak kasus, tentara Jerman menolak menyerah dan bertarung sampai sampai akhir. Pertempuran itu berlangsung dalam jarak dekat, begitu dekat sehingga mereka yang bertarung dapat dengan jelas melihat wajah musuh mereka. Ketika Letnan Virgil Carmichael berhasil mencapai tanggul, seorang pria penembak BAR di sampingnya sedang menyeberang jalan tanggul. Seorang penembak senapan mesin Jerman terdekat melihatnya dan menembakknya. Semburan peluru menyapu helm penembak BAR itu. Orang-orang Amerika kemudian melemparkan granat ke dalam lubang senapan mesin, dan membunuhnya. Kekacauan hebat dari tembakan dan asap musuh merusak struktur unit tempur yang ada. Seperti di Normandia sekitar tiga bulan sebelumnya, para perwira mengomandoi prajurit-prajurit yang ada di sekitar mereka dan bertempur dalam kelompok-kelompok kecil, meski bukan bersama anak buah mereka. Orang-orang Cook yang berhasil menyeberang dan lolos dari maut menyeberangi sungai lebih dari siap untuk bertarung, mereka mengusir musuh dari posisi pertahanan di tanggul mereka dan mengirim para insinyur Jerman yang bergegas untuk meledakkan bahan peledak yang dipasang di jembatan, namun ledakan yang ditunggu-tunggu tidak pernah datang. Orang Amerika telah memotong kabel peledak yang dipasang ketika mereka bergerak maju, mengamankan jalan agar tank-tank Inggris dan pasukan lapis baja pimpinan Vandervoort bisa menyeberang dengan aman dari sisi lainnya. Sekitar 48 anak buah Cook telah terbunuh, sementara 151 lainnya luka-luka, jumlah korban yang bisa mencapai 50% dari pihak yang menyerbu (menurut Cornelius Ryan, sekitar 134 personel Batalyon Cook, telah gugur, terluka atau hilang). Tetapi mereka bagaimanapun berhasil merebut jembatan itu. Keberhasilan itu disambut dengan datangnya bala bantuan pasukan Sekutu sehingga banyak pasukan terjun payung mengerumuni tank dengan gembira, bahkan menciumi kendaraan lapis baja itu. Jumlah korban pasti di pihak Jerman dalam aksi penyeberangan yang berani dan gila itu tidak diketahui secara pasti, namun setidaknya dalam pertempuran untuk jembatan kereta api, total sekitar 267 tentara Jerman tewas dan sedikitnya lebih dari 200 orang Jerman ditangkap.

AFTERMATH

Namun kegembiraan itu berlalu dengan cepat, karena bala bantuan dari pasukan Inggris yang datang bukannya terus bergerak maju melalui rute yang baru dibuka langsung menuju ke Arnhem yang “hanya” berjarak 11 mil saja, dimana pasukan Frost sedang mengalami situasi genting, Kapten Inggris Lord Carrington malah memerintahkan anak buahnya untuk membuat garis pertahanan dan menunggu dukungan pasukan infanteri, sebelum kembali bergerak maju. Kemudian, yang lebih buruk, orang-orang Inggris malah mulai duduk untuk menyeduh teh. Tentara-tentara Cook yang telah berdarah-darah dan menderita banyak korban untuk merebut jembatan, menjadi marah, dan menuduh orang-orang Carrington pengecut dan meninggalkan Divisi Lintas Udara ke-1 Inggris yang terperangkap untuk berjuang sendirian di Arnhem. Mengenai sikap penerjun payung anak buah Cook, sejarawan Antony Beevor menulis, “mereka secara alami percaya bahwa satu-satunya alasan misi semi-bunuh diri penyeberangan Waal tetap dilakukan di siang hari adalah karena setiap jam sangat krusial jika Corps XXX ingin menyelamatkan Satuan Airborne ke-1 di Arnhem. Kalau tidak, serangan itu bisa menunggu sampai setelah gelap. “

Tank Inggris melewati Jembatan Nijmegen, 21 September 1944. Tidak lama setelah menyeberangi jembatan satuan Lapis Baja Inggris menghentikan gerakannya meski tinggal 11 mil dari Arnhem. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Tujuh puluh lima tahun kemudian, kemarahan itu masih bergema. “Inggris seharusnya mempercepat gerakan mereka, tetapi mereka malah berhenti untuk minum teh,” kata veteran dari Divisi Airborne ke-82, Gene Metcalfe kepada HistoryNet. Metcalfe, yang pesawat C-47-nya ditembak jatuh beberapa detik setelah dia melompat, kemudian nyaris lolos lagi dari kematian pada hari yang sama ketika peluru meriam dari senjata anti-tank Jerman kaliber 88 milimeter meledak di dekatnya, yang membuatnya tidak sadarkan diri. Setelah menggulingkan Metcalfe dan mendapati bahwa dirinya masih bernafas, tentara dari Divisi Panzer SS ke-10 kemudian membawanya sebagai tahanan ke kastil Belvedere di Nijmegen. Dia akan menghabiskan waktu delapan bulan ke depan dipindah-pindahkan ke beberapa kamp tahanan perang yang mengerikan, dimana beberapa kali ia berupaya melarikan diri.

Nama-nama mereka yang gugur dalam penyeberangan Sungai Waal, 20 September 1944. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Pada sebuah upacara di Nijmegen untuk memperingati 75 tahun pembebasan kota itu, Metcalfe, yang sekarang berusia 97, bergurau bahwa dia memang, pada kenyataannya, berhasil menyelesaikan misi merebut jembatan itu – hanya untuk menjadi tawanan Nazi. Metcalf mengatakan kepada HistoryNet bahwa ia menganggap dirinya beruntung telah ditangkap oleh tentara dari Divisi SS ke-10 dan bukan ke-9, sebuah unit Nazi dengan reputasi suka mengeksekusi para tahanan. “Divisi ke-9 baru saja tiba dari Italia setelah memusnahkan seluruh kota,” katanya. Mereka membunuh semua orang – wanita dan anak-anak – di kota itu. “Mereka sangat kejam.” Sementara itu perbincangan apakah dengan berhasil direbut dan diseberanginya sungai Waal, maka jalan menuju Arnhem akan terbuka dan memungkinkan pasukan Frost yang terkepung bisa diselamatkan, sampai sekarang masih menjadi topik hangat. Beberapa pihak berargumen bahwa bagaimanapun tentara Jerman telah hampir menutup akses jalur masuk mendekati Arnhem, sehingga Korps ke XXX tidak bisa bergerak lebih jauh lagi, sementara yang lain merasa bahwa peluang itu belum sama sekali “hilang” kl tentara Inggris mempercepat gerakan mereka.

Robert Redford (tengah) yang memerankan Mayor Julian Cook dalam Film A Bridge Too Far (1977)

Kisah heroik, walau gagal, dari Divisi Lintas Udara ke-1 Frost dalam merebut Arnhem, kemudian diabadikan dalam buku Cornelius Ryan, A Bridge Too Far, sebuah kisah yang lalu diadaptasi menjadi film pada tahun 1977, dengan disutradarai oleh sutradara Richard Attenborough dan dibintangi oleh Sean Connery dan bintang-bintang besar terkenal pada masa itu, seperti Robert Redford yang memerankan Mayor Julian Cook. Hingga hari ini, peristiwa penyeberangan pasukan payung itu diperingati setiap malam di Nijmegen, dengan setidaknya seorang veteran berjalan melintasi jembatan De Oversteek yang baru dibangun; di Belanda untuk “menyeberanginya.” Empat puluh delapan lampu jalan yang membentang di jembatan menerangi jembatan itu untuk menghormati 48 orang yang menyerahkan nyawa mereka untuk merebut jembatan dari tentara Nazi. Bagi mereka yang ada di sana, seperti Metcalfe, kenangan mereka pada hari itu teringat dengan jelas. Merenungkan kembali mengapa ia berhasil selamar sementara yang lain tidak, terus mengganggu para veteran itu. “Anda bisa berpikir bahwa anda bisa selamat, karena pelatihan, pengetahuan, dan hal-hal lainnya,” katanya. “Tapi hal-hal buruk tetap terjadi, dan saya katakan bahwa kenapa kami bisa selamat, sekitar 90 persen adalah karena keberuntungan. “Itu hanya karena murni keberuntungan.”

Film A Bridge Too Far

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

‘When in doubt, lash out’: The 82nd Airborne’s Crossing of the Waal River, 75 Years Later by Claire Barrett and J.D. Simkins; October 2019

Operation Market Garden: ‘Hail Mary’ in Holland by John C. McManus

The Heroic Waal River Crossing – 82nd Airborne – 504th PIR – H-Company After Action Report by Joris Nieuwint

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/articles/the-heroic-waal-river-crossing-82nd-airborne-504th-pir-h-company-after-action-report.html/amp

Battle of Nijmegen: Taking the Bridges Over the Waal by Jan Bos

A Bridge Too Far by Cornelius Ryan, 1974

2 thoughts on “Aksi gila menyeberangi Sungai Waal, 20 September 1944: Saat Pasukan Payung jadi Pasukan “Dayung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *