Aksi Legendaris John Ripley di Jembatan Dong Ha, 2 April 1972: “Tuhan Tolong Jangan Biarkan Aku Mengacaukan Semua Ini”

Di Christie’s, sebuah restoran di Sungai Han di Da Nang pada tahun 1997, Ripley mengangkat segelas apa yang sekarang dikenal sebagai “333 Bier,” “Ba Muoi Ba Muoi Ba,” orang-orang di sekitar mejanya bersikeras berdiri untuk menghormati satuan 3d Bn, Marinir 3d, 3d MarDiv dimana mereka pernah bertugas. Ini adalah kali pertamanya sejak Serangan Paskah tahun 1972, John Ripley menjalani tur pertamanya dengan sesama bekas anggota kompi Lima, 3/3 yang kembali bersamanya untuk reuni di Vietnam dalam sebuah Wisata Sejarah Militer. Mereka menikmati kehangatan persahabatan di bawah cahaya lampu-lampu malam. Mereka bukan lagi Marinir muda, yang masih di medan tempur, dan aktif di dalam Korps Marinir. Saat Ripley mengangkat gelasnya, dia memberikan toast sambil berkata: “Here’s to the drunken Marine with beer in his canteen. You’ve heard of the Unknown Soldier, but never an unknown Marine!” Mereka tertawa yang kemudian Disusul oleh suara gelas kosong yang dibanting ke meja. John Ripley dan kawan-kawannya itu sedang bernostalgia pengalaman mereka di masa perang Vietnam. Bagi Ripley daerah yang paling tidak terlupakan saat perang adalah sebuah kota kecil yang bernama Dong Ha. Jika Anda belum pernah ke Dong Ha, rasanya bukan menjadi masalah. Hanya ada sedikit orang yang mengenal Dong Ha, dan lebih  sedikit lagi orang yang membicarakan tentang Dong Ha, kecuali apa yang terjadi pada hari-hari sekitar Paskah tahun 1972. Kini Marinir Vietnam Selatan yang saat itu ada disana sudah tidak ada lagi, antara menghilang atau mati, sedang para prajurit Vietnam Utara yang pernah melepaskan tembakan gencar dari seberang Sungai Cua Viet mungkin juga telah menua atau mati. John Ripley juga telah meninggal dunia 12 tahun lalu dan bukan tipe orang yang suka membual. Meski demikian, sudah menjadi kebiasaan dari para marinir Amerika untuk menceritakan apa yang terjadi di Dong Ha kala itu dari generasi ke generasi. Membicarakan sosok Kolonel John W. Ripley sendiri, satu hal yang muncul di pikiran adalah Ripley sebagai seorang kapten yang ada di jembatan di Dong Ha hari itu…

Kolonel John Ripley di Jembatan Dong Ha dalam Tur Wisata Sejarahnya setelah masa perang. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

LATAR BELAKANG

Dong Ha, adalah kota paling utara Vietnam Selatan, dulunya pernah ramai dengan aktivitas militer. Kota kecil itu berfungsi sebagai markas bagi Resimen Marinir ke-4 Amerika, pangkalan helikopter utama, dan dikelilingi oleh pangkalan-pangkalan artileri, serta telah secara langsung mendukung pasukan Marinir di Con Thien dan zona demiliterisasi (DMZ) sebelah timur timur. Tempat itu juga telah menjadi titik awal untuk membantu garnisun Khe Sanh yang terkepung pada tahun 1968. Dong Ha juga diketahui memiliki jembatan terbaik di atas Sungai Cua Viet dan jalur langsung menuju ke Kota Hue, ibu kota kuno Vietnam. Di sebelah barat Dong Ha terdapat Camp Carroll, yang diambil dari nama Kapten Marinir James J. Carroll, yang secara anumerta dianugerahi Navy Cross atas aksinya di dekat Zona Demiliterisasi pada tahun 1966. Kamp itu berada di dataran tinggi di sisi selatan Highway 9, kurang lebih setengah jalan antara Dong Ha dan Khe Sanh. Saat ini, tanaman lada telah menghapus hampir semua jejak Firebase berbentuk segilima itu. Marinir Amerika telah meninggalkan Camp Carroll sejak tahun 1969 sebagai bagian dari kebijakan “Vietnamisasi” Presiden Richard M. Nixon yang mulai mengalihkan upaya perang ke pihak Vietnam Selatan. “Vietnamisasi” Itu hampir berhasil, tetapi seperti begitu banyak “rencana baik” yang dibuat dalam keterlibatan Amerika di Asia Tenggara, kebijakan itu juga berjalan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Bantuan Amerika dalam bentuk dollar kepada Vietnam Selatan, perangkat militer serta bantuan militer menjadi mubazir. Pasukan Amerika di Vietnam tidak memiliki rencana taktis atau strategis untuk kembali berkomitmen penuh dalam perang yang telah berlangsung hampir 4 tahun bagi Amerika (1965-1969). Sementara itu di Paris, masih berlangsung perundingan damai. Sedang Di Hanoi setelah hampir 30 tahun perang, mereka mulai mempersiapkan diri dalam menyongsong kemenangan yang telah ada di depan mata. Bagi mereka satu serbuan besar yang terkoordinasi diperlukan untuk mendapatkan sebanyak mungkin wilayah Vietnam Selatan, memusnahkan dan menghancurkan semangat Angkatan Darat Republik Vietnam (ARVN), dan untuk mendapatkankan posisi menguntungkan selama negosiasi di Paris. 

Dong Ha yang strategis merupakan bagian dari kawasan markas penting marinir Amerika dan dikenal sebagai “Leatherneck Square”, yang terdiri dari: Dong Ha, Cam Lo, Con Thien dan Gion Linh. Dong Ha menghubungkan garis DMZ Vietnam dengan kota penting Quang Tri dan Hue, serta pangkalan Khe Sanh. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)
Teknisi Korps Marinir A.S. memeriksa mesin Wright R-1820 dari helikopter Sikorsky UH-34D Seahorse yang sedang diperbaiki di pusat pasokan NSAD Cua Viet, dekat Dong Ha (Vietnam Selatan), 1 Oktober 1966. Dong Ha merupakan pusat suplai, markas helikopter dan dikelilingi pangkalan artileri penting yang melindungi kawasan DMZ Vietnam di wilayah militer Korps I. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Di pihak lain, Pasukan ARVN telah terbukti kurang efektif, dan mereka hanya memiliki pertahanan yang terbentang tipis untuk mempertahankan perbatasan darat sepanjang 600 mil milik mereka. Bagi para pemimpin di Utara, strategi perang mereka “melampaui” perbatasan wilayah negara semenanjung Indochina, yang meliputi wilayah Vietnam Utara-Selatan, Laos dan Kamboja. Pasukan mereka selama bertahun-tahun diketahui telah membangun kekuatan dan menggunakan wilayah “netral” Laos dan Kamboja untuk membantu upaya perang mereka di Vietnam Selatan. Di Amerika Serikat, pada tahun 1972 sedang dekat masa pemilihan presiden. Sentimen anti-perang yang ada diantara penduduk dan dalam lingkaran pemerintah AS telah mencapai puncak tertinggi hingga saat itu dan tuntutan desakan untuk melakukan penarikan pasukan Amerika terus berlanjut dan makin menguat. Bagi militer AS, perang kembali seperti saat mereka mulai teribat dengan bertumpu pada penasehat militer mereka yang ditugaskan untuk membantu militer Vietnam Selatan. Hanoi kemudian melancarkan ofensif yang melibatkan hampir seluruh pasukannya, 14 divisi dan 26 resimen independen dilibatkan, untuk untuk operasi militer yang kemudian dikenal sebagai “Serangan Paskah” atau Operasi Nguyen Hue, menurut orang-orang Vietnam Utara (Operasi Nguyen Hue, dinamai untuk menghormati kaisar yang menyatukan Vietnam pada tahun 1788). Mereka telah menunggu masa musim hujan dengan awannya yang tebal dan rendah, karena musim penghujan akan membatasi penggunaan kekuatan udara Amerika yang mematikan. Ketika itu keterlibatan Amerika di Vietnam sudah menurun pada bulan Maret 1972, dan Vietnam Utara memutuskan bahwa waktu itu adalah saat yang tepat untuk melancarkan serangan terakhir, yang tidak hanya akan berakhir dengan kemenangan militer tetapi juga akan memberikan pukulan psikologis yang menghancurkan bagi Vietnam Selatan dan sekutu AS mereka. Tujuan Serangan Paskah itu adalah untuk merebut Saigon, dan Vietnam Utara berencana untuk merebutnya dengan melakukan tiga serangan terpisah namun terkoordinasi ke Vietnam Selatan, yakni: melalui Dataran Tinggi Tengah, menyusuri Jalur Ho Chi Minh Trail dan menyusuri garis pantai di Highway 1. Serangan yang terakhir ini memiliki tujuan utama kota kuno Hue — yang dipandang sebagai langkah pertama yang diperlukan untuk akhirnya bisa merebut Saigon, sebuah strategi yang akan mereka ulang lagi 3 tahun kemudian.

Peta serangan Pasukan Vietnam Utara dalam Ofensif Paskah tahun 1972. (Sumber: http://blog.projectwhitehorse.com/)

INVASI

“Anda bisa menyerah bersama kami atau memilih untuk bunuh diri,” kata komandan Vietnam Selatan yang ada di Carroll, Letnan Kolonel Pham Van Dinh, seorang perwira Vietnam Selatan yang banyak jasanya kepada dua Penasihat militer Amerika yang terkejut, Letkol William C. Camper dan Mayor Joseph Brown, dan menawari mereka berdua dengan pistol miliknya. Hari itu tanggal 2 April 1972, para penghuni Camp Carroll, yang terdiri dari kesatuan-kesatuan Tentara Vietnam Selatan, benar-benar telah terkepung oleh Tentara Vietnam Utara dan hampir sudah bersiap mengibarkan bendera putih. Vietnam Utara jelas menginginkan Camp Carroll, melihatnya sebagai pertahanan terdepan dari garis pertahanan Utara dan Barat Vietnam Selatan di wilayah Korps I  dan menjadi rintangan besar antara gerak ofensif mereka dengan Kota Quang Tri di tenggara. “Bukan itu yang kita lakukan sebagai orang Amerika,” jawab Camper pada Letkol Dinh. “Kami punya rencana lain.” Mereka lalu mengambil radio dan membuka hubungan komunikasi. Sebuah helikopter CH-47 Chinook kemudian hadir untuk menyelamatkan dua advisor Amerika itu melarikan diri dengan sebagian tentara Vietnam Selatan di bawah tembakan gencar. Karena kelebihan beban, helikopter itu mampu terbang tapi berakhir dengan melakukan pendaratan darurat di Jalan Raya Nomer 1. Mereka berhasil, tetapi garnisun di Camp Carroll sebanyak 1.500 personel menyerah tanpa melepaskan satu tembakan. Agak ke timur, kota Dong Ha berada dalam bahaya dengan hanya beberapa beberapa prajurit mengenakan seragam kamuflase bergaris loreng harimau dari Korps Marinir Vietnam Selatan yang menghadapi ancaman armada tank buatan Soviet dan artileri self-propelled, beriringan sepanjang enam mil sampai garis DMZ.

Camp Caroll difoto dari udara. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Letnan Kolonel Pham Van Dinh menyerah kepada pasukan Vietnam Utara bersama 1.500 prajuritnya di Kamp Caroll pada tanggal 2 April 1972. Dinh diketahui sebelumnya adalah perwira yang berprestasi, namun menjelang berakhirnya perang Vietnam, dia mulai meragukan dukungannya kepada rezim Saigon yang banyak melakukan mis-management dan korupsi. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Lima tahun sebelumnya, ada 50.000 Marinir yang melindungi kawasan sekitar Dong Ha dari ancaman Vietnam Utara. Namun kini pada tanggal 30 Maret 1972, hanya ada satu batalion Marinir Vietnam Selatan. Pada hari Kamis sebelum Paskah itu, dua divisi NVA yang didukung oleh tank dan artileri buatan Soviet melintasi DMZ pada siang hari dalam serangan darat awal yang akan membawa pasukan NVA masuk ke semua wilayah Vietnam Selatan. Di tengah serangan gencar Vietnam Utara, segera orang-orang berdesak-desakan diantara banjir pengungsi dan desertir ARVN yang terus mengalir ke selatan. Dong Ha hingga hari ini masih dianggap sebagai bagian yang terlupakan dari wilayah vietnam dan hanya dikenal sebagai salah satu sudut dari empat pangkalan Marinir Amerika di masa perang yang biasa disebut sebagai “Leatherneck Square”: Dong Ha, Cam Lo, Con Thien dan Gio Linh. Bahkan hingga hari ini, di buku panduan wisata mengunjungi Dong Ha ditulis “Masih ada bagian wilayah barat ke Dong Ha, yang bukan merupakan tempat yang ramah atau menarik …. dimana tidak terdapat alasan yang masuk akal untuk dikunjungi.” Pada 30 Maret 1972, serangan artileri hebat menghujani pos-pos ARVN paling utara di Provinsi Quang Tri. Divisi ke-304 dan 308 Vietnam Utara, tentara dengan kekuatan 20.000 personel yang didukung oleh lebih dari 200 tank menerobos melalui DMZ ke wilayah Korps I. Rencana Offensif itu adalah sebuah serangan yang sangat bagus, tetapi Vietnam Utara tidak secara serius mempertimbangkan dua hal. Mereka meremehkan semangat tempur Marinir Vietnam Selatan (yang berbeda dengan semangat kesatuan ARVN lainnya) dan penasihat Amerikanya, John Ripley yang menjaga tepi selatan jembatan sepanjang 500 kaki di Dong Ha. Sebelumnya pada hari itu, saat matahari terbit di langit dan pasukan besar NVA yang luar biasa bersiap untuk melindas pasukan kecil yang bersiap melawannya, Ripley sendiri yakin bahwa dia tidak akan hidup untuk melihat matahari terbenam hari itu. Dalam pikirannya sendiri dia merasa sebagai orang mati berjalan, dalam perjalanan menuju kematian.

JOHN RIPLEY

Ripley adalah Marinir yang berperawakan ramping namun berotot yang dipadu dengan semangat kuat. 700 pria dari Batalion Marinir Vietnam Selatan ke-3 dan perwira komandan mereka, Maj Le Ba Binh, beruntung memiliki penasehat dan “teman tepercaya” seperti Ripley. Pada usia 33, Ripley adalah “veteran” dengan catatan dua kali Tour di Vietnam. Lahir pada tanggal 29 Juni 1939 sebagai putra dari pasangan Bud and Verna Holt Ripley, John Walter Ripley, yang dikenal sebagai “Rip” oleh teman-temannya, dibesarkan di Radford, Va. Dia mendaftar di Korps Marinir setelah  menyelesaikan sekolah menengah pada tahun 1957, untuk kemudian mengikuti sekolah persiapan Akademi Angkatan Laut dan kemudian memasuki Akademi Angkatan Laut AS. Dia lulus pada tahun 1962 dan ditugaskan sebagai letnan dua Marinir. Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar, Ripley ditugaskan ke kapal induk Independence selama satu tahun, kemudian bergabung dengan Batalyon ke-2, Marinir ke-2, di mana ia bertugas sebagai komandan peleton senapan dan senjata. Dia sempat bertugas sebagai pemimpin peleton pengintaian pada tahun 1965 dan kemudian pertama kali ke Vietnam pada bulan Oktober 1966 menjadi komandan Kompi “Lima”, Batalyon ke-3, Resimen Marinir Ketiga. “Ripley’s Raiders” mereka menyebut diri mereka, dan mereka bersikeras memasang label “33” yang diambil dari “lia Muoi Ba” Bier (bir) Vietnam yang berarti 3d Bn, Marinir 3d. Mereka menyukai Ripley. Dia bukan pengecut. Dia memimpin mereka dalam banyak pertempuran, tetapi juga memperhatikan anak buahnya dengan baik, dan mereka terbukti bertempur serta terluka bersama. Selain Purple Heart, Ripley juga memenangkan Silver Star saat memimpin serangan Kompi “Lima” melawan pos komando resimen NVA di kawasan DMZ. Hebatnya, meski Ripley sempat terluka empat kali tetapi menolak menerima lebih dari satu Purple Heart karena kebijakan pada saat itu menerima beberapa Purple Heart berarti harus segera dievakuasi.

Kapten John Ripley membaca peta saat menjadi komandan Kompi Lima, Batalyon ke-3/Resimen Marinir ke-3 (3/3), tahun 1967. (Sumber: Arsip USNI/https://www.navalhistory.org/)

Orang-orang dari Lima Company mengagumi “kapten” mereka dan suka bercerita tentang dia. Seorang marinir bercerita, “Saya ingat Sersan Staf Joe Martin berkata, Ripley berada di kapal Harlan Comity (LST-1196) di pelabuhan di Karibia pada tahun 1964. Dia bertemu dengan seorang perwira yang hari itu mengatakan sesuatu hal yang menghina tentang Korps. ‘Rip’ melemparkannya ke laut. Sebagai hukuman mereka menempatkannya di dek paling bawah USS Boxer [(LPH-4)]. Di mana lunas nya berbentuk V. Di situ Ripley melakukan push up sepanjang hari. Akhirnya dia malah diangkat sebagai komandan pleton. Ripley, bahkan untuk standar Marinir, memiliki kebugaran fisik luar biasa. Dia adalah orang percaya “berkeringat pada saat latihan akan mengurangi cucuran darah pada saat bertempur”. Fisiknya yang bagus membuatnya sukses saat berlatih bersama Marinir Kerajaan Inggris di Semenanjung Malaya, di sekolah Angkatan Udara dan Ranger Angkatan Darat AS dan dengan tim UDT Angkatan Laut. Dia juga memiliki kualifikasi penerjun, scuba, dan ranger. Selain menjaga fisiknya, Ripley juga menjaga jiwanya tetap bugar. Sebagai seorang Katholik yang taat, dia percaya bahwa “Anda harus melakukan yang terbaik ketika berdamai dengan penciptamu’. keteguhan Imannya memberikan persona Marinirnya tambahan ekstra keberanian ketika hal itu dibutuhkan. Dia adalah seorang lelaki dengan keyakinan mendalam dan tak tergoyahkan yang percaya pada Tuhannya, negaranya dan Korpsnya. Pada bulan Oktober 1969 dia terpilih untuk bertugas sebagai Perwira Pertukaran dengan Marinir Kerajaan Inggris. Dia mengikuti Kursus Komando Marinir di Lympstone, Inggris, kemudian bertugas di Singapura dengan Brigade Komando ke-3 dan dengan satuan Komando ke-40 di Malaya Utara, serta menjalankan misi selama beberapa bulan dengan satuan senapan Gurkha yang terkenal. Kolonel Ripley juga sempat bertugas dengan satuan Special Boat Service (SBS ke-3) dan dengan Grup Kompi Zulu di Norwegia utara. Mengambil alih pimpinan Kompi “Yankee”, Ripley dan satuannya ditempatkan di seluruh wilayah Inggris, Skotlandia, dan Wales. Ripley kemudian kembali ke Norwegia untuk musim dingin keduanya untuk menyelesaikan Kursus Peperangan Artic dan Gunung di Elvegardsmoen. Ia juga menyelesaikan Kursus Peperangan Bersama di Old Sarum, Inggris. Di akhir dua tahun masa tugasnya berlatih bersama Royal Marines Inggris, Ripley telah menguasai serangkaian keterampilan bertempur yang hanya dimiliki oleh sangat sedikit Marinir AS.

John Ripley tahun 1971. Ripley adalah salah satu marinir Amerika yang kemampuannya paling komplit dan berpengalaman yang pernah dihasilkan Amerika. Namun yang terutama dari karakter Ripley adalah keteladanan dan keteguhan moralnya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Dia kembali ke Vietnam sebagai satu-satunya penasihat untuk batalion Marinir Vietnam Selatan ke-3 pada bulan Juni 1971, dan dia bersama mereka selama Serangan paskah NVA pada tahun 1972. Dari kekuatan yang mencapai lebih 500.000 tentara pada tahun 1968, sekarang pada saat pasukan Vietnam Utara menyerang hanya tinggal ada 27.000 tentara Amerika di seluruh Vietnam. Sementara itu, pihak Vietnam Selatan masih mengandalkan para wajib militer yang tidak disiplin dan dipimpin dengan buruk dan mereka terbukti buruk dalam pertempuran melawan tentara dari Vietnam Utara yang merupakan lawan mereka hampir lebih unggul dalam segala hal. Meski demikian, Korps Marinir Vietnam adalah pengecualian. Pasukan yang tangguh dalam pertempuran ini didisiplinkan oleh personel-personel Vietnam Selatan yang pernah bersekolah di Sekolah Instruktur Pelatihan di Pulau Island, tempat para marinir Amerika dilatih. Mereka juga dipimpin oleh perwira-perwira yang pernah bersekolah di Sekolah Pendidikan Dasar di Quantico. Sebagai satuan “pemadam kebakaran” yang selalu dikerahkan di saat-saat kritis, mereka umumnya bertempur selama enam bulan, dan kemudian kembali ke pangkalan mereka selama sebulan untuk beristirahat sebelum kembali beraksi. Batalyon ke-3 baru saja kembali untuk diperkuat dan dilengkapi ulang di dekat Saigon dan kini ada dalam kekuatan penuh saat Vietnam Utara menyerang.

SEMUA DATANG BERSAMAAN PADA MINGGU PASKAH, 2 APRIL 1972

Ripley adalah satu-satunya penasehat militer yang ditempatkan pada 3d VNMC Bn yang prajuritnya tersebar di antara wilayah Cam Lo dan Dong Ha. Beberapa hari sebelumnya, Angkatan Darat Vietnam Utara mulai memberikan tekanan pada Firebase-firebase (pos-pos artileri) Vietnam Selatan di dekat zona demiliterisasi (DMZ). Meskipun asumsi dari pihak Vietnam Selatan adalah bahwa NVA akan menyerang pangkalan-pangkalan ini dan kemudian mundur, marinir Vietnam Selatan mulai bergerak ke utara untuk melawan ancaman musuh. Sebagai satu-satunya penasihat Amerika untuk batalion infanteri Korps Marinir Vietnam ke-3, Ripley bersama unit tersebut saat bergerak ke utara ke desa Dong Ha, kurang dari tujuh mil selatan zona demiliterisasi. Mencapai Dong Ha pada 1 April, Ripley dan marinir Vietnam Selatan bertemu dengan serangan artileri NVA yang brutal yang berlangsung sepanjang malam. Pada siang hari keesokan harinya — pagi Paskah — penembakan dari pihak musuh melambat dan Ripley meninggalkan bunkernya untuk melakukan pengintaian dan memeriksa kawah-kawah bekas tembakan artileri terdekat untuk mencoba menemukan dari mana musuh menembak. Aksi-aksi pada hari sebelumnya dan serangan artileri berat musuh telah membuat dia dan rekan-rekan marinir Vietnam Selatannya hanya mendapat sedikit waktu untuk tidur atau makan. Dengan kawah-kawah bekas tembakan artileri ada di mana-mana, daerah itu menyerupai permukaan bulan, namun bagaimanapun wilayah itu adalah dataran yang telah dikenal Ripley jauh-jauh hari. Dia pernah tinggal, bekerja, dan bertempur di sekitar Dong Ha selama 12 bulan pada tahun 1967 sebagai komandan kompi dengan unit Marinir AS. Apalagi, Ripley sangat akrab dengan jembatan yang membentang di Sungai Cua Viet. Dia pernah berada di sana ketika unit zeni Navy Seabees membangunnya, jadi dia tahu bagaimana jembatan itu dibangun, dan dia memahami nilai penting strategis dari jembatan ini yang luar biasa, sebagai satu-satunya jembatan yang bisa dilintasi tank berat, artileri self-propelled dan kendaraan militer serupa lainnya yang hilir mudik di jalur Highway 1 —Satu-satunya rute jalan utama dari utara ke selatan di Vietnam Selatan. Sebuah jalur yang oleh pasukan kolonial Prancis di era sebelumnya dikenal dengan sebutan sebagai “Street Without Joy”.

Jembatan diatas Sungai Dong Ha, dilihat dari udara. Jembatan ini adalah satu-satunya jembatan yang bisa dilintasi tank berat, artileri self-propelled dan kendaraan militer serupa lainnya yang hilir mudik di jalur Highway 1 —Satu-satunya rute jalan utama dari utara ke selatan di Vietnam Selatan. (Sumber: https://www.seabee-rvn.com/)
Mayor (kemudian Letkol) Le Ba Binh, komandan Batalion ke-3 Vietnam Selatan yang bersama dengan John Ripley di Jembatan Dong Ha, 2 April 1972. (Sumber: https://no.pinterest.com/)

Ketika Ripley kembali ke bunkernya setelah memeriksa situasinya, dia menerima telepon dari Letkol Gerald H. Turley, asisten penasihat senior AS untuk korps marinir Vietnam yang berusia 41 tahun. Turley memberitahunya bahwa sejumlah tank musuh sedang menuju selatan di sepanjang Highway 1. Laporan awal dari sekitar 20 tank segera bertambah menjadi 200 buah. Ripley dan komandan batalyon marinir Vietnam, Mayor Le Ba Binh, selama ini telah memecahkan banyak masalah taktis selama mereka bersama, tetapi ancaman yang kini muncul di seberang jembatan berbeda — marinir-marinir pimpinan Binh hanya memiliki sedikit kemampuan untuk menghentikan tank T-54 buatan Soviet. Batalyon ke-3 hanya memiliki sepuluh roket anti-tank ringan, membuat mereka hampir tidak berdaya melawan pasukan Vietnam Utara. Ripley mendengarkan Maj Binh, menerima perintahnya melalui radio. Komandan brigade memerintahkan Binh untuk “mempertahankan Dong Ha dengan segala cara dan segenap kekuatan.” Dia berjanji akan mengirimkan senjata recoilless kaliber 106 mm dan beberapa tank M48 milik ARVN, tetapi dari arah utara, bergemuruh mesin diesel melintas di atas Highway 1 dengan diikuti gemuruh suara roda rantai yang menandakan tank T-54 dan PT-76 buatan Soviet dalam jumlah banyak mendekat. Saat saat itu, terdapat gedung pasar yang besar di sudut barat daya jembatan, yang dulunya berdiri berdampingan dengan jembatan kereta api tua buatan Prancis yang sudah tidak digunakan lagi di atas Sungai Cua Viet. Ketika Marinir Vietnam mengkonsolidasikan posisi pertahanan mereka, mereka melihat bendera merah Republik Rakyat Vietnam Utara dan, di bawahnya, infanteri Vietnam Utara, berjongkok dengan AK-47 siap tembak, mulai menuju kedua jembatan.

Serangan Paskah di sekitar Dong Ha, wilayah militer Korps I. (Sumber: https://cslegion.com/)
Pasukan NVA menyerbu dengan kekuatan penuh yang didukung oleh tank-tank dalam Ofensif Paskah Tahun 1972. (Sumber: https://static.wikia.nocookie.net/)
Roket anti tank ringan M72 LAW. Saat Pasukan Vietnam Utara menyerang, batalion ke-3 Marinir Vietnam Selatan hanya memiliki 10 roket M72 untuk menghadapi banyak tank-tank NVA. (Sumber: https://www.globalsecurity.org/)

Ripley kemudian mengatakan kepada sejarawan marinir Charles D. Melson, “hujan tembakan sengit” kemudian terjadi, sebagian besar diarahkan pada Marinir sebagai pesan pembuka dari tentara komunis. Tidak ada dukungan udara jarak dekat yang bisa dihubungi saat itu, tetapi ada kapal perusak AS di lepas pantai, dan mereka tahu bagaimana menggunakan meriam angkatan laut dengan akurat pada sasaran tank. Di atas cakrawala membumbung asap dari bahan bakar yang terbakar. Pada siang hari dari arah selatan Sungai Cua Viet, meriam 90 mm dari dua tank M-48 ARVN mulai menyalak, menghancurkan beberapa tank Vietnam Utara. Namun, ada terlalu banyak tank dan tidak cukup daya tembak untuk menghentikan mereka. Tank-tank ARVN lainnya enggan memberikan dukungan. Pada pukul 12:15 tank NVA pertama berbobot 40-ton dengan mantap dan tak terbendung menapaki jalan ke arah jembatan jalan raya. Saat itulah muncul “kejaiban” datang dalam bentuk seorang Sersan Marinir Vietnam Selatan veteran berbobot 90 pon, Huynh Van Luom, maju sendiri kearah jembatan. Dia hanya membawa dua kotak amunisi berlumuran tanah dan gulungan kawat berduri untuk digunakan perlindungan. Seketika Sersan Luom memperpanjang senjata antitank M72 miliknya, dan berupaya menembak tank terdepan agar berhenti. Luom menekan mekanisme tembak, yang mengaktifkan roket dan hulu ledaknya. Tembakannya meleset. Sekarang, tank itu tidak ragu lagi untuk terus bergerak maju. Sgt Luom menggunakan LAAW kedua, membidik dan menembak. Yang satu ini menghantam tank secara langsung dan membuat macet turretnya. Komandan tank membalikkan kendaraannya dan mundur dari jembatan. Ripley kemudian selalu mengingat tindakan Sgt Luom sebagai “tindakan kepahlawanan tunggal yang paling berani yang pernah saya dengar, saksikan, atau alami.” Dia menyadari bahwa sersan itu “Sendirian membalikkan momentum seluruh serangan.” pasukan penyerbu tidak bergerak maju dan tidak juga berbalik. Seluruh terobosan serangan NVA dari arah selatan terhenti, rombongan penyerbu itu dalam posisi rentan. Masih menjadi misteri mengapa rombongan tank itu tidak bergerak maju melindas sersan kecil itu dan terus menyeberangi jembatan.

RENCANA MELEDAKKAN JEMBATAN

Dalam kisahnya di tahun 2009, sejarawan Angkatan Darat COL Frederic L. Borch menulis bahwa Ripley menerima jawaban dari LtCol Gerald IL Turley, asisten AS. penasihat senior untuk Korps Marinir Vietnam. Ripley bertanya tentang dukungan udara. Turley menjawab setengah mendebat Ripley, “itu (apa yang kamu hadapi) bukan satu-satunya pertempuran di kota ini… setiap firebase … sudah jatuh ke tangan musuh …. pasukan kamu satu-satunya yang kita miliki. Tidak ada lagi yang bisa mem-back-up pasukanmu “. Ripley menjawab Turley bahwa dia mengerti. Tetapi ketika dia mengetahui beberapa menit kemudian bahwa sebuah pesawat pengintai telah mengamati pergerakan tank musuh yang membentang dari Jembatan Dong Ha hingga kembali ke garis DMZ, dia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan pasukan musuh adalah dengan menghancurkan jembatan Dong Ha. Dia tahu bahwa jika 200 tank dan 20.000 tentara Vietnam Utara itu menyeberangi jembatan, musuh bisa saja berada di Hue saat malam tiba, dan itu mungkin menjadi awal dari akhir bagi Vietnam Selatan. “Kita harus meledakkan jembatan itu,” Ripley megontak Turley lewat radio. “Kita harus mengulur waktu.” Baik Ripley maupun Turley tidak memiliki kewenangan semacam itu. Ripley kemudian berkata, “Letnan Kolonel Turley menyerahkan keputusan di tangannya sendiri dan berkata: ‘Lakukan dan pikirkan konsekuensinya nanti saja.” Seolah-olah mengingatkan bahwa pertempuran masih berlangsung, pasukan Vietnam Utara mulai menembaki sisi selatan jembatan dengan artileri dan tembakan senjata ringan. Ripley, kini semakin bertekad untuk segera sampai ke jembatan, setelah menyadari bahwa ada batalion tank Vietnam Selatan di dekatnya dan bahwa dia dapat menggunakan salah satu tank-tank M-48A3 untuk pergi ke jembatan. Kru tank ARVN tidak antusias ketika Ripley meminta salah satu tank mereka untuk berhadapan dengan tank-tank Vietnam Utara, namun Ripley menemukan bahwa Mayor James E. Smock, penasihat Angkatan Darat AS untuk pasukan Tank ARVN ke-290 itu, bersedia bergerak membawanya ke jembatan dan memberikan apa yang terbukti kemudian menjadi bantuan yang sangat berarti. 

Marinir dari Kompi E, Batalyon ke-2, Marinir ke-3, mengendarai tank M48A3. Di dekat Dong Ha, 2 April 1972, terdapat unit tank M48A3 milik Vietnam Selatan, dengan tank ini, John Ripley berkendara menuju jembatan Dong Ha. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)
Kapten John Ripley (kiri) Penasihat untuk Batalyon Marinir ke-3 Vietnam dan Mayor Le Ba Binh komandan batalion (kanan, di sebelahnya). (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)
Kapten John Ripley (kedua dari kiri) dengan Kolonel Gerald Turley (kedua dari kanan) beberapa hari sebelum dimulainya Serangan Paskah. (Sumber: https://nobility.org/)

Tapi, siapa yang akan meledakkan jembatan itu? Kenyataannya, Ripley adalah pilihan yang logis saat itu, sebagai orang yang memiliki kemampuan pas dan disaat yang tepat pula. Ingat semua sekolah militer yang diikuti oleh Ripley? semuanya dipenuhi dengan kelas tentang meteri penghancuran dan, ketika Ripley remaja, dia sering membuat terkesan teman dan kerabat dengan merambat di bawah jembatan besar di dekat rumahnya di Radfordi Va. Dan, dia mengaku dengan penuh antusias kepada Smock, “Saya sudah selalu ingin meledakkan jembatan. ” Sementara itu, pasukan zeni ARVN telah menempatkan sebanyak 500 pon bahan peledak plastik TNT dan C-4 di dekat jembatan jika sewaktu-waktu ingin dimusnahkan. Tapi menurut buku “Jembatan di Dong Ha,” oleh pensiunan Kolonel Laut John G. Miller, “Para para pasukan zeni ini tidak menempatkan bahan peledak di bawah jembatan, apalagi mencoba untuk melakukan penghancuran, karena mereka takut bertindak terlalu jauh.” Jembatan itu, yang baru selesai pada tahun 1970, telah dibangun dengan kokoh dari kayu, dan diperkuat dengan balok-balok baja “I”, balok gir dan penyangga beton oleh satuan zeni US Navy Seabees dan, oleh karena itu, tidak akan mudah runtuh. Ripley dengan cepat menduga apa yang akan dilakukannya. Singkatnya, Col Borch menjelaskan, “TNT akan digunakan bersama dengan peledak C4. … C4 akan memotong balok induk dan TNT yang meledak akan mengangkat … jembatan dan mematahkan beton pendukung, untuk kemudian mengirimnya reruntuhannya ke dasar air. Satu-satunya masalah adalah hal itu tidak bisa dilakukan. Setidaknya bukan oleh satu orang. Terutama jika satu orang membawa sekaligus dua tas seberat 15-pon berisi bahan peledak C4, perangkat peledak dan harus menggantung di balok utama jembatan, kemudian bergerak bergantungan dengan tangan dan di bawah tembakan gencar pasukan Vietnam Utara. Tapi tidak ada satupun yang mengatakan pada Ripley bahwa hal itu tidak bisa dilakukan. Ripley mempersiapkan diri dan membisikkan doa yang nyaris sempurna— “Tuhan tolong, jangan biarkan aku mengacaukan semua ini!” 

RIPLEY, BELIEVE OR NOT

Ripley membawa dirinya sendiri melompati pagar jembatan dan menuju ke balok jembatan yang diselimuti rangkaian kawat berduri, bergerak dengan bertopang pada balok tersebut yang merobek lengan dan kakinya. “Jangan sampai mati kehabisan darah sebelum kau melakukannya,” kata Smock. Ripley mengayunkan tubuhnya dan berada 50 kaki di atas sungai. Dia harus bergerak sejauh 100 kaki ke penyangga pertama. Saat itulah penembak NVA di sisi utara sungai melihat dia dan mulai menembak. Marinir Vietnam Selatan di sisi selatan membuka tembakan dan menarik perhatian tembakan dari pihak tentara komunis. “Yesus, Maria bawa aku di sana. Yesus-Maria-bawa aku-ke sana. Jesus Mary get me there,” adalah lantunan doa yang Ripley ucapkan ketika tangan dan lengannya membawa tubuhnya melintasi jembatan. Melson menulis bahwa sekitar setengah jalan, Ripley “mencoba untuk mengayunkan dirinya ke dalam balok-balok baja dengan mengaitkan tumitnya di kedua sisi balok. Saat itulah dia menyadari bahwa dia masih memiliki perlengkapan webnya dan senapannya tersampir di pundaknya. Sekaligus berat itu menyakitkan …. Lengannya sakit, jarinya juga merasa sakit, walau pegangan jarinya terasa mencengkeram aman, namun dia merasa tidak bisa bertahan di sana tanpa batas …. Setelah beberapa kali mencoba untuk mengayunkan tubuhnya, dia mampu mengaitkan tumitnya di atas balok . ” 

Diorama yang menggambarkan aksi Kapten John Ripley memasang bahan peledak di jembatan Dong Ha, 2 April 1972. (Sumber: https://nguoivietgarland.wordpress.com/)

Ripley memasang peledak pada kedua sisi gelagar yang direncanakan untuk memotong balok jembatan. Sementara itu, Smock sibuk memasang kotak-kotak seberat 50 pon TNT dan peledak. Setiap kali dia memanjat pagar jembatan dengan membawa kotak-kotak itu, dia mendapat tembakan. Dalam pikiran Ripley dan Smock ada pertanyaan, “Mengapa tank-tank itu tidak segera bergerak maju melintasi jembatan?” Ripley sangat khawatir. “Mengapa mereka tidak mengarahkan lebih banyak perhatian kepada saya? Apa yang mereka lakukan di sana?” Orang Vietnam Utara hanya menonton dengan frustrasi ketika Ripley berayun dari satu balok ke balok lainnya. Tembakan senjata ringan mereka berdesing di sekitar dan di bawah Ripley, tetapi tidak ada yang mengenainya. Sementara itu, Marinir Vietnam Selatan terus memberikan tembakan penekan, sambil menyemangati Ripley melewati hujan peluru: “Dai uy, Dai uy, dee dau, dee dau!” – “Kapten, kapten, bergeraklah, cepat, cepat!”. Sebuah tank T-54 komunis dengan hati-hati bermanuver menurunkan posisinya kearah tepi sungai. Turretnya mengarahkan kanon 100 mm ke Ripley dan menembak. “Ya Tuhan! Mereka (akan) berhasil mengenaiku kali ini!” pikir Ripley. Peluru kanon itu melintas kurang dari dua kaki, dibawah balok dan memantul di tepi selatan. Ripley hampir kehilangan cengkeramannya. Ripley kembali bekerja memasukkan kepala peledak. Dia tidak memiliki crimper untuk mengencangkan kepala peledak ke fuze. Jadi dia harus menggunakan giginya untuk mengencangkan. Meskipun dengan banyak kesulitan Ripley mengerjakannya dengan penuh ketelitian dan dengan sabar pindah dari balok ke balok lainnya-semua berjumlah enam dan memasang peledaknya, masing masing setiap balok dia membutuhkan waktu 30 menit. Pemasangan peledak itu memakan waktu tiga jam (5 kali perjalanan bolak-balik) tetapi akhirnya Ripley kembali dengan Smock di sisi selatan. Saat itulah ia memasang kotak detonator. Sebagai seorang perfeksionis, Ripley tahu dia harus kembali di bawah jembatan, untuk memasang perangkat backup sebagai cadangan jika kabel peledak tidak berfungsi. Smock menegurnya. “Hei, kamu dumbjarhead! Itu tidak perlu. Apa yang kamu lakukan itu?” “kamu tanker (crew Tank) tidak mengerti apapun (soal demolition),” jawab Ripley. Walau demikian Smock mengatakan dia cukup pandai untuk mengetahui bahwa Ripley sudah cukup memasang peledak untuk meledakkan jembatan bahkan “untuk tiga kali peledakan.” Smock juga cukup pandai untuk menghubungkan beberapa kotak TNT di bawah jembatan kereta api tua dan berharap ketika jembatan Dong Ha meledak, ledakan itu juga turut meledakkan jembatan kereta api tua itu.

Lukisan karya Charles Waterhouse yang menggambarkan Kapten John Ripley bergelantungan di bawah jembatan untuk menggagalkan gerak maju Tentara Vietnam Utara, 2 April 1972. (Sumber: Arsip USNI/https://www.navalhistory.org/)

Ripley akhirnya berhasil kembali. Dia menemukan baterai jip untuk digunakan sebagai sumber listrik yang diperlukan untuk meledakkan jembatan, dan mereka kemudian berlari menuju garis pertahanan pasukan Marinir Vietnam. Di sana dia mengaktifkan kabel ke terminal baterai: tidak ada yang terjadi!! Saat itulah Ripley melihat seorang gadis muda terpisah dari ibunya. Sebuah tembakan mortir NVA jatuh di belakangnya. Ripley berlari ke gadis itu, menggendongnya dan berlari ke arah ibunya. Ketika dia mendekati wanita itu, dia dan gadis itu terlempar oleh ledakan besar. Saat itulah jembatan mulai meledak dan runtuh. Sekring waktu telah bekerja! Saat gadis muda itu bangkit berdiri dan berlari ke arah ibunya, debu dan asap hilang, Ripley melihat ada celah 100 kaki antara sisi selatan dan sisa jembatan. Kayu-kayu dan sisa jembatan akan terbakar selama 4 hari berikutnya. Jembatan kereta api Prancis tua itu juga turut hancur menjadi dua. Pasukan Vietnam Utara berhenti menembak, mematikan mesin tank mereka, membuka palka dan melihat dengan keheranan. Pada pukul 1630 Ripley melaporkan kedua jembatan telah hancur. “Jembatannya (sudah) runtuh! ” Ripley mengirim radio ke Kolonel Turley. “Saya katakan lagi, jembatannya runtuh. Dia ada di sungai. Mereka tidak akan menyeberang di Dong Ha! ” Keberanian Ripley benar-benar menyelamatkan hari itu — dan banyak sekali nyawa orang Vietnam Selatan di Dong Ha. Namun tentara NVA, masih mengancam, mengirim tank-tank amfibi PT-76 mereka ke tepi sungai. Saat itulah kapal perang US Navy melepaskan lebih banyak tembakan dari lepas pantai dengan panduan dari Ripley dan penerbangan dari beberapa satuan pesawat-pesawat serang A-1 Skyraider milik Vietnam Selatan mulai menghantam pasukan lapis baja NVA. Sementara itu, Ripley tidak pernah mengerti mengapa orang-orang Vietnam Utara tidak menyeberangi jembatan selama periode tiga jam dimana dia dan Smock bekerja keras untuk memasangnya dengan bahan peledak. “Itu adalah salah satu bagian yang paling tidak bisa dijelaskan dari keseluruhan kejadian di sana hari itu,” katanya.

Tank T-54 Vietnam Utara beraksi selama Serangan Paskah. Yang aneh menurut Kapten John Ripley adalah pada tanggal 2 April 1972 itu, dalam kurun waktu 3 jam satuan tank dan pasukan NVA seperti “terhipnotis” dengan tidak melakukan suatu tindakan yang berarti untuk menyeberangi jembatan sungai Dong Ha. (Sumber Kredit Gambar: ARSIP NASIONAL/https://discover.hubpages.com/)
Jembatan Dong Ha terbakar selama empat hari setelah dihancurkan John Ripley, 2 April 1972. Di paling kanan adalah kendaraan lapis baja musuh yang terkena serangan udara dan tidak dapat bergerak maju. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Sementara invasi musuh ke Jalan Raya Highway 1 telah dihentikan — orang Vietnam Utara tidak pernah menyeberangi Sungai Cua Viet di Dong Ha — keadaan tidak berjalan dengan baik bagi orang Vietnam Selatan di selatan dan barat. Akhirnya pasukan NVA bisa melintasi jembatan di bagian hulu ke arah barat, di mana mereka kemudian akan bertempur melawan pasukan-pasukan Vietnam Selatan di Sungai My Chanh, 15 mil selatan Cua Viet. Para Marinir dan kru tank Vietnam Selatan terus bertahan di Dong Ha. Serangan dari barat berhasil menembus ke Highway 1 di selatan kota, tetapi pasukan Marinir terus berjuang, terkepung. Satu per satu, tank M-48 mereka hancur atau kehabisan bahan bakar. Diperintahkan untuk meloloskan diri, para kru tank yang masih hidup memanggul senapan dan bergabung dengan pasukan Marinir. Melanjutkan pertempuran di Kota Quang Tri, Batalyon ke-3 akhirnya ditarik keluar dari medan tempur. Dari 700 personel Marinir yang memulai pertempuran, hanya 52 yang yang masih tersisa. Tapi jalannya invasi telah berubah secara dramatis dengan hancurnya jembatan di Dong Ha, yang mana faktor penting yang akhirnya menyebabkan kegagalan seluruh ofensif Vietnam Utara pada tahun 1972 untuk mengakhiri perang lebih singkat. Karena aksi Ripley, pasukan Vietnam Utara telah kehilangan momentum serangan. Diperlukan tiga tahun lagi sebelum NVA dapat melancarkan serangan lain dalam skala sebesar ini dan mengakhiri perang sepenuhnya. Aksi heroik Ripley pada Minggu Paskah tahun 1972 mungkin adalah contoh terbaik tentang bagaimana seseorang dapat mengubah hasil sebuah pertempuran, jika bukan perang itu sendiri. Kapten John Ripley hanyalah satu orang di satu jembatan pada suatu hari menjelang akhir perang yang panjang, tetapi apa yang dia lakukan akan terus diceritakan oleh para prajurit-prajurit di generasi-generasi yang akan datang.

Jembatan baru diatas sungai Dong Ha dan sisa fondasi jembatan yang diledakkan John Ripley. (Sumber: https://www.seabee-rvn.com/)

EPILOG

Sementara itu, Ripley kemudian mendapat penghargaan Navy Cross, dan Angkatan Darat AS memberikan Smock medali Silver Star, di sisi lain Vietnam Selatan kemudian ditinggalkan dan dibiarkan berjuang sendiri, sampai kalah 3 tahun kemudian. Setelah meninggalkan Asia Tenggara akhir tahun 1972, Ripley melanjutkan kariernya dalam berbagai penugasan. Dia sempat memimpin Batalyon ke-1, Resimen Marinir 2, dari 1979 hingga 1981. Selama waktu tersebut mereka dikerahkan untuk mengikuti Latihan Senjata Gabungan 2-80, lalu ke Pusat Pelatihan Peperangan Gunung. Pada bulan Januari 1981 batalion tersebut dikerahkan ke Norwegia, untuk menjadi unit pertama dari jenisnya yang melakukan Pelatihan Artic Warfare dan operasi musim dingin di sana. Setelah menyelesaikan turnya dengan Resimen Marinir ke-2, Kolonel Ripley belajar di Naval War College di Newport, RI, lulus pada tahun 1982. Dia kemudian ditugaskan ke bagian Staf Gabungan, bertugas di sana sebagai Perencana Politik-Militer dan Kepala Cabang, Divisi Eropa, J-5, untuk lalu diangkat menjadi Senior Marine and Director, Division of English and History, di Akademi Angkatan Laut AS. Selama periode ini ia membuat rekor menugaskan lebih dari 300 personel Akademi ke Korps Marinir. Kolonel Ripley kemudian menghabiskan satu tahun sebagai Asisten Kepala Staf, G-3 dengan Pasukan Ekspedisi Marinir ke-3, Okinawa, Jepang. Pada tahun 1988 Ripley mengambil alih komando Resimen Marinir ke-2 di Camp Lejeune. Setelah menyelesaikan tur ini, ia memimpin Korps ROTC Marinir & Angkatan Laut di Virginia Military Institute. Selama waktunya di VMI, Kolonel Ripley menciptakan unit NROTC terbesar dan paling produktif di Amerika.

John Ripley dan istri Moline di Inggris selama turnya dengan Marinir Kerajaan Inggris dengan (dari kiri ke kanan) putranya Thomas, Stephen dan putri Mary. Selepas perang Vietnam. John Ripley terus berkarir di marinir Amerika dan berprestasi dalam jabatan-jabatan-jabatan yang ia pegang. (Sumber: https://modernamericanheroes.wordpress.com/)
“Bud” Ripley (kanan) dan ketiga putranya, (dari kiri ke kanan) John, Michael dan George. Ketiga putra Ripley bergabung dengan Angkatan bersenjata Amerika. (Sumber: https://nobility.org/)

Ripley pensiun pada tahun 1992 dan menjadi presiden Southern Virginia College dan kemudian menjadi presiden Akademi Militer Hargrave, juga di Virginia. Pada tahun 1999, ia menjadi direktur Sejarah Korps Marinir dan Divisi Museum. Dikenal sebagai seorang prajurit tangguh yang memiliki integritas dan profesionalitas, ia banyak menerima banyak penghargaan. Meski demikian, akibat banyak mengalami pertempuran, Kolonel Ripley diketahui terjangkit penyakit yang pada musim panas 2002 membutuhkan transplantasi hati. Nyaris meninggal, dengan hanya ada sedikit waktu tersisa dan sudah menerima Ritus Terakhir Katholik dua kali, hati pengganti akhirnya ditemukan. Komandan Korps Marinir, yang menyebut Kolonel Ripley sebagai simbol kebanggaan Marinir yang masih hidup, mengirim satu seksi helikopter CH-46 dari skuadron kepresidenan Marine One ke Philadelphia untuk mengambil hati tersebut. Setelah koordinasi lebih lanjut dengan pihak Kepolisian Washington D.C. untuk mendapatkan zona pendaratan di kota, hati tersebut berhasil dikirim tepat pada waktunya dan berhasil ditransplantasi dengan sukses. Pada tahun 2002, Ripley adalah perwira marinir pertama yang diberi gelar Distinguished Graduate of the U.S. Naval Academy. Pada bulan Mei 2004, Unit Ekspedisi Marinir 22d di Afghanistan menamai pangkalan operasi garis depan mereka dengan nama “Ripley.” Ripley meninggalkan jabatannya di divisi museum dan sejarah pada tahun 2005.

Diorama ini, yang terletak di Bancroft Hall di Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat, dibuat secara dramatis untuk menghormati dan menggambarkan kepahlawanan Kolonel Ripley selama penghancuran jembatan Dong Ha. (Sumber: https://nobility.org/)
Plakat di Jembatan Sungai Dong Ha yang mencatat dan mengkonfirmasi aksi heroik John Ripley pada tanggal 2 April 1972. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)
Marinir AS dari Marine Corps Helicopter Squadron One, yang bertanggung jawab untuk mengangkut presiden, bekerja di dekat helikopter CH-46 Sea Knight di Pangkalan Korps Marinir Quantico di Virginia, 24 September 2018. Pada musim panas 2002 saat kolonel John Ripley sakit keras dan membutuhkan transplantasi hati, pihak marinir menugaskan sebuah helikopter ini untuk menerbangkan hati yang didonorkan pada kolonel Ripley. (Sumber: https://www.businessinsider.com/)

Pada tahun 2006, asrama baru di Sekolah Persiapan Akademi Angkatan Laut di Newport, R.I., diberi nama “Ripley Hall,” setelah acara kelulusan. Dan pada tahun 2008, Ripley dilantik menjadi bagian dalam Ranger Hall of Fame Angkatan Darat AS. Selama dua tahun pengabdiannya di Vietnam, ia berpartisipasi dalam 26 operasi besar yang mencakup banyak pertempuran di tingkat Kompi Senapan, Batalyon, dan Divisi. Dia dan seorang Marinir lainnya memiliki pengalaman tempur yang lebih banyak di level kompi senapan dan tingkat batalion daripada Marinir tugas aktif lainnya. Dia telah menjadi subjek di lebih dari 30 buku dan telah memberi ceramah secara luas tentang kepemimpinan tempur, kinerja dalam kesulitan dan nilai humaniora, klasik, dan seni liberal. Dia sangat diminati untuk diundang sebagai pembicara motivasi dan berpartisipasi dalam berbagai seminar tingkat nasional. Kolonel Ripley selama kariernya telah mendapatkan enam penghargaan untuk keberanian dan empat belas penghargaan yang dia terima termasuk medali Navy Cross, Silver Star, dua penghargaan Legion of Merit, dua penghargaan Bronze Star dengan Combat “V”, Purple Heart, Defense Meritorious Service Medal, Navy Commendation Medal, Presidential Unit Citation, dan Navy Unit Citation, Combat Action Ribbon, The Vietnamese Distinguished Service Order, dan Cross of Gallantry with Gold Star. Aksi heroik Kolonel Ripley di jembatan Dong Ha lalu dipilih sebagai aksi tunggal yang diabadikan dari seluruh semua lulusan Akademi Angkatan Laut selama Perang Vietnam. Di Memorial Hall di Akademi Angkatan Laut, diorama besar berjudul “Ripley at the Bridge” mewakili aksi mulia dan gagah berani dari semua prajurit lulusan Akademi Angkatan Laut yang bertempur di Vietnam. Kolonel John Walter Ripley meninggal di rumahnya di Annapolis, Md., 28 Oktober 2008. Dia berusia 69 tahun. Selain putranya Stephen, Kolonel Ripley meninggalkan istrinya yang dinikahinya selama 44 tahun, Moline Blaylock; seorang saudara perempuan, Susan Goodykoontz; dua putra lainnya, Thomas dan John; seorang putri, Mary Ripley; dan delapan cucu.

Pemakaman Kolonel John Ripley pada tanggal 7 November 2008. (Sumber: https://nobility.org/)

Sumber:

40 Years Ago Today: Captain John Ripley at the Bridge: “Please, God, Don’t Let Me Screw This Up!” By R. R. Keene; https://blog.usni.org/posts/2012/04/02/40-years-ago-today-captain-john-ripley-at-the-bridge-please-god-dont-let-me-screw-this-up

Ripley’s Believe It or Not by Fred L. Borch 

Somehow Blow the Bridge

This is how ‘Ripley at the Bridge’ became a Marine Corps legend by Blake Stilwell

Colonel John W. Ripley

https://nrotc.oregonstate.edu/colonel-john-w-ripley

Marine Legend: While under fire he dangled from Dong Ha Bridge for three hours by Joseph Fernandez

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/instant-articles/the-bridge-at-dong-ha.html/amp

Col. John W. Ripley, Marine Who Halted Vietnamese Attack, Dies at 69 By Dennis Hevesi; Nov. 3, 2008

Col. John W. Ripley, USMC: Uncommon Valor by Jeremias Wells

https://tfpstudentaction.org/blog/col-john-w-ripley-uncommon-valor

https://en.m.wikipedia.org/wiki/John_Ripley_(USMC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *