Aksi Seregu Waffen SS Merebut Kota Beograd dan Kisah Tragis Di Sekitar Invasi Jerman di Yugoslavia, April 1941

Jatuhnya Yugoslavia ke tangan Jerman adalah peristiwa paling menarik yang pernah disaksikan koresponden Associated Press Robert St. John dalam karir yang sempat dia tinggalkan selama lima tahun untuk bertani di New Hampshire, dimana kemudian ia kembali ketika dia merasakan perang akan segera datang. Saat itu pada tanggal 27 Maret 1941, dan di Terrazia, Times Square of Beograd (Disebut juga sebagai Belgrade), ibu kota dari negara yang saat itu bernama Yugoslavia, dipenuhi dengan kerumunan orang yang bersorak gembira atas aksi mengejutkan negara mereka yang tiba-tiba dengan berani menentang Adolf Hitler. Namun, suasana hati ini dengan cepat berubah menjadi amarah, St. John ketika dia mulai menjalankan pekerjaannya sebagai wartawan, mengingat. “Jika saya berani memotret adegan ini, saya pasti dianggap sebagai seorang agen Nazi yang mencoba mengumpulkan bukti, merekam wajah orang-orang yang bertanggung jawab, sehingga mereka dapat dihukum dengan gaya Nazi yang sebenarnya ketika dan jika Hitler benar-benar menguasai negara ini,” kenangnya. “Begitulah gambarannya.” Di awal karir jurnalismenya di Cicero, Illinois, kota yang dimiliki oleh Al Capone, St. John pernah diserang oleh penjahat dan nyaris dibiarkan mati di selokan. Sangat ingin menghindari pengalaman pahit itu, dia melambaikan paspor dan bendera Amerika kecil; kerumunan orang yang berubah-ubah itu, kemudian beralih untuk menggeledah biro wisata sekutu Hitler, Italia, sementara dia mengambil kesempatan itu berjalan kaki dari alun-alun. Hanya 10 hari kemudian, St. John akan kembali ke Terrazia Square untuk menyaksikan pemandangan yang sangat berbeda dan tragis sebelum melarikan diri lagi — kali ini di luar negeri dalam salah satu serangan kilat paling singkat namun paling brutal dalam Perang Dunia II, yang efeknya terasa sampai akhir abad ke-20. Namun orang Amerika lainnya, seorang wanita dari keluarga politik-militer terkemuka, juga akan melarikan diri — bukan dari bahaya tetapi dengan sengaja langsung menuju ke sana dengan hasil yang hampir fatal. 

Journalis, Robert St. John dari Kantor Berita Associated Press. St. John adalah salah satu saksi mata langsung invasi Hitler atas Yugoslavia, April 1941. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

LATAR BELAKANG MENJELANG PERANG

Yugoslavia melakukan perubahan cepat setelah Perang Dunia I untuk membawa wilayah dan orang-orang di tenggara Balkan, yang sebelumnya merupakan bagian dari kekaisaran Austro-Hongaria di Hapsburg, ke bawah kekuaaaan pemerintahan keluarga kerajaan Serbia. Tapi ternyata penyatuan bukan berarti “persatuan”. Hampir selusin kebangsaan dan kelompok etnis yang digabungkan dalam kekuasaannya meluap dengan kebencian satu sama lain, dimana diantaranya tidak ada yang lebih besar kebenciannya dari bangsa Kroasia. Bom waktu politik akhirnya meledak pada tahun 1929 ketika seorang anggota dari kelompok nasional yang berbeda menembak mati tiga wakil Kroasia selama sesi parlemen yang penuh kerusuhan. Dengan alasan bahwa dia perlu bertindak untuk mencegah terjadinya perang saudara dan pemisahan diri, Raja Serbia, Alexander I bergerak cepat untuk mendirikan kediktatoran. Tanggapan para ekstremis Kroasia atas hal ini untuk terus memperjuangkan kemerdekaan mereka adalah dengan mendirikan sebuah kelompok teroris, Ustachi, yang merekayasa pembunuhan raja di Prancis pada bulan Oktober 1934. Dengan pewarisnya Peter II yang baru berusia 11 tahun, sepupunya, Pangeran Paul, mengambil alih pemerintahan. Hasilnya adalah sebuah kekuasaan tanpa kepemimpinan. Pangeran Paul, yang merupakan seorang tokoh berbudaya dengan sedikit minat atau banyak bakat dalam hal politik, tidak merahasiakan niatnya bahwa ia hanya akan berkuasa sampai dia bisa menyerahkan tanggung jawab kepada raja pada hari ulang tahunnya yang ke 18 pada bulan September 1941. Sayangnya untuk pangeran Paul dan tragisnya bagi Yugoslavia, Adolf Hitler tidak mau menunggu. Saat mempersiapkan invasi ke Yunani, Hitler memberikan tekanan tanpa henti pada negara-negara Balkan untuk menandatangani aliansi de facto-nya, Pakta Tri-Partit.

Peter II yang mewarisi tahta Kerajaan Yugoslavia. Karena masih muda, maka perannya untuk sementara waktu dipegang oleh Pengeran Paul. (Sumber: https://www.unofficialroyalty.com/)
Pangeran Paul, yang tidak tertarik untuk memerintah. Ia sedari awal menyatakan akan memerintah hingga Peter II cukup umur untuk menjadi Raja. (Sumber: https://npg.si.edu/)

Robert St. John kemudian mendapati dirinya bergegas dari ibu kota satu ke ibu kota lainnya. Bulgaria, Hongaria, dan Rumania telah masuk dalam aliansi Jerman dan St. John mendapati dirinya menunggu di Beograd hingga nasib Yugoslavia ditentukan. Pada saat-saat yang genting itu ada orang Amerika lainnya, wanita dari keluarga terpandang, yang bertekad untuk melakukan lebih banyak di Yugoslavia daripada sekadar melaporkan apa yang terjadi di sana. Ruth Mitchell adalah putri dari mantan Senator Amerika Serikat dari Wisconsin dan saudara perempuan dari Jenderal Billy Mitchell, advokat kontroversial Amerika dalam memperjuangkan kekuatan udara yang independen. Seorang jurnalis juga, Ruth menerima tugas penting untuk meliput pernikahan Raja Zog I dari Albania pada tahun 1938. “Jika saya tahu apa yang akan terjadi,” dia merenung kemudian atas apa yang dia alami, “apakah saya akan kembali? Jawabannya pasti TIDAK! ” Bermaksud tinggal hanya beberapa hari untuk meliput berita, dia malah menjadi begitu tertarik dengan Albania sehingga dia rela melepaskan karirnya untuk tinggal dan mempelajari tentang Albania. Didesak oleh invasi Italia pada awal tahun 1939, dia kemudian pindah ke Yugoslavia. Di sana ia terpesona oleh sejarah dan budaya Serbia. “Orang Serbia,” dia menulis, “adalah ras yang populasinya sangat kecil; jumlah mereka sebelum perang tidak lebih dari delapan juta. Tapi mereka adalah ras dengan karakter individu yang mencolok, dengan keuletan tujuan dan idealisme yang luar biasa. Cita-cita mereka dapat diungkapkan dalam satu kata: Kebebasan. ”Dengan intensitas tanpa kompromi yang sama untuk suatu tujuan dan karakter flamboyan yang sama yang telah membuat saudaranya, Billy kehilangan karir militernya karena sikap vokal dalam mendukung satuan penerbangan militer di Amerika Serikat, Ruth Mitchell melangkah lebih jauh dengan mendaftar masuk milisi legendaris Serbia, Chetnik, lengkap dengan mengenakan topi bulu, lambang tengkorak dan tulang bersilang, seragam, sepatu bot, belati, dan pil racun jika tertangkap. “Jiwa Serbia sedang bergerak (dalam diri saya)! Saya adalah seorang Chetnik — sampai mati, ” ujarnya dengan bersemangat. Sementara itu, Robert St. John merasa skeptis. “Bagi saya, Nona Mitchell hanya sedang mencari petualangan ala Hollywood. Yah, saya pikir, dia mungkin akan mendapatkan semua yang dia inginkan tidak lama lagi. ” 

Wartawan Aristokrat Amerika Ruth Mitchell, dalam seragam Chetnik, menyaksikan penaklukan Nazi di Yugoslavia. Mitchell secara aktif berpartisipasi dalam kerusuhan politik dan bersenjata yang mengikutinya. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Sementara itu Menteri Luar Negeri Yugoslavia, Aleksander Cincar-Markovic, kemudian Perdana Menteri Dragisa Cvetkovic, dan akhirnya Pangeran Paul sendiri lalu mendapat apa yang ditakuti mereka, yakni “undangan” untuk bertemu Hitler di Berchtesgaden. “Ketakutan telah menguasai,” demikian Churchill akan mencatat. “Para menteri dan politisi terkemuka tidak berani mengutarakan pikirannya. Namun ada satu pengecualian. Seorang jenderal Angkatan Udara bernama Simovic, yang mewakili unsur-unsur nasionalis di antara korps perwira angkatan bersenjata. Sejak Desember kantornya telah menjadi pusat oposisi klandestin terhadap penetrasi Jerman ke wilayah Balkan dan kelambanan pemerintah Yugoslavia. ” Opini publik Serbia, mengingat pada dukungan mereka selama Perang Dunia I dan sesudahnya untuk mewujudkan kemerdekaan tidak menyukai sikap pemerintahnya yang lemah, dan mereka sendiri juga sangat pro-Inggris. “Aku sudah gila!” Pangeran Paul meratap di bawah tekanan. Setelah kunjungan kedua ke Hitler dan jaminan — apapun nilainya — bahwa yang diinginkan Hitler hanyalah tanda tangannya, pangeran akhirnya mengirim Perdana Menteri Cvetkovic dan Menteri Luar Negeri Cincar-Markovic untuk menandatangani Pakta Tri-Partit di Wina pada 25 Maret 1941. Kepada menteri dari Amerika Serikat yang memprotes, Pangeran Paul menjawab dengan getir, “Kalian negara-negara besar sukar dimengerti. Anda berbicara tentang kehormatan, tetapi Anda terlalu jauh. ” Bertemu dengan Arthur Bliss Lane, duta besar Amerika, Paul menyatakan bahwa jika dia tidak bergabung dengan Axis, dia tidak yakin dapat mengandalkan dukungan orang-orang Kroasia dalam invasi Jerman yang pasti akan datang. Teman-teman Serbia Ruth Mitchell, sedih dan terhina atas apa yang mereka anggap pengkhianatan terhadap seorang teman. “Kami telah menulis ‘nasib’ penyerahan diri kami, kemudian mengemasi tas kami, dan berdebat tentang krisis berikutnya yang kemungkinan besar akan pecah,” tulis St. John kemudian. “Tapi kemudian terjadi sesuatu yang memaksa kami melepaskan mesin tik kami, memasang kertas karbon dari koper kami, dan mulai bekerja di Beograd lagi.” 

KUDETA DAN REAKSI HITLER

Pangeran Paul telah memperingatkan Hitler bahwa jika dia menandatangani pakta itu dia tidak akan bisa bertahan enam bulan lagi dalam kekuasaannya. Ternyata perhitungannya meleset selama lima bulan dan 28 hari. Hanya sehari setelah penandatanganan, demonstrasi yang dimulai oleh mahasiswa meletus di jalanan Beograd. Saat St. John melihat, seorang polisi rahasia di sebelahnya berkata padanya, “Kalian para wartawan, sebaiknya menjaga pensilmu tetap tajam. Hal-hal besar berikutnya akan terjadi di Yugoslavia! ” Pada pukul 2:30 keesokan paginya, St. John dibangunkan oleh panggilan telepon dari seorang koleganya yang memberi tahu dia bahwa tentara dan tank ada di jalanan. Bergegas keluar, dia segera dibawa ke sebuah taman untuk bergabung dengan para pelacur, tukang sapu wanita, dan penjelajah malam lainnya. “Kami sedang menyaksikan kudeta kelas satu,” dia mengenali. Tanpa tembakan, gedung-gedung pemerintah diduduki dan para menteri ditangkap di rumah mereka. Di istana, para penjaga membuka gerbang bagi para pemberontak tanpa perlawanan, sementara Raja muda Peter II naik dari pipa pembuangan untuk bergabung dengan mereka. Segera, Jenderal Simovic, pemimpin pemberontakan, datang untuk memberi tahu, “Yang Mulia, saya memberi hormat kepada Anda sebagai Raja Yugoslavia. Mulai saat ini Anda akan menjalankan kekuasaan penuh Anda. ” 

Warga Yugoslavia merayakan Kudeta pada tanggal 27 Maret 1941. Kudeta ini segera memicu kemarahan Hitler. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Sementara itu, Pangeran Paul saat itu sedang menuju ke perkebunan di pedesaan untuk istirahat yang sangat dibutuhkannya. Dia akan mendapatkan waktu istirahatnya yang lebih lama. Keretanya kemudian dicegat dan dialihkan kembali ke Beograd. Di bawah penjagaan, dia kemudian diantar ke kantor perdana menteri yang baru, Jenderal Simovic, untuk menandatangani pengunduran dirinya. Dia akhirnya naik keretanya dengan banyak menterinya untuk pergi ke tujuan yang baru, yakni Yunani. Mereka lebih beruntung dari yang mereka sadari. Saat itu, Ruth Mitchell telah diberi tahu bahwa orang-orang Chetnik sedang melancarkan kudeta mereka sendiri, yang dimaksudkan untuk tidak membiarkan mereka pergi hidup-hidup. Menteri Luar Negeri Cincar-Markovic adalah salah satu dari sedikit orang yang bertahan di rezim baru, dengan konsekuensi yang tragis. “Hanya sedikit revolusi telah berjalan lebih lancar,” komentar Churchill saat itu. Raja, yang baru saja belajar mengemudi, tanpa penjaga merayap dan menyalakan klakson di jalanan yang padat dan liar. Euforia segera menghilang ketika realitas suram mulai mempengaruhi masa depan Serbia. Hanya tiga hari setelah kudeta, pemerintah baru dengan takut-takut mengumumkan bahwa mereka akan mematuhi Pakta Tri-Partit. Namun semua sudah terlambat. Hitler telah bereaksi terhadap berita kudeta dengan ledakan amukannya yang dahsyat dan meledakkan gendang telinga, kemudian mengeluarkan Petunjuk nomor 25, yang memerintahkan tidak hanya untuk menyerang tetapi untuk menghancurkan Yugoslavia sepenuhnya. “Tornado akan meledak di Yugoslavia dengan tiba-tiba yang spektakuler,” sumpahnya. Pada sesi perencanaan dengan bawahan-bawahannya yang berpangkat tinggi, Hitler membuat pernyataan lain yang akan membawa petaka pada sebuah negara besar. Perwira yang mencatat notulen itu menulis: “Awal Operasi Barbarossa akan ditunda hingga empat minggu.”

PECAHNYA PERANG DAN PEMBOMAN BEOGRAD

“Beograd dalam dua hari kedamaian itu adalah tempat yang aneh,” Robert St. John akan mengingat. Suasana yang berat dan menyedihkan menyelimuti kota. Dia kemudian pergi ke stasiun kereta untuk melihat staff kedutaan Jerman beranjak pergi, tetapi ia memperhatikan bahwa atase militer Jerman tidak ada di sana. Salah satu pejabat Jerman membuat pernyataan yang membuatnya merenungkan artinya. “Kami akan segera kembali. Mungkin lebih cepat. Dan saat kami datang, kami akan membawa beberapa suvenir untuk kalian. ” St. John sudah tidak akan berada di sana ketika mereka kembali. Ia diperintahkan untuk melapor keesokan harinya, di Minggu Palem, 6 April 1941, jam 3 sore untuk menerima perintah pengusiran dengan segera. Kembali ke hotelnya untuk menghabiskan malam terakhirnya di Yugoslavia, dia mendapat masalah baru, sebuah telepon dari kantor berita Associated Press di Berlin yang secara samar menyarankan dia untuk tidak pergi tidur. “Kami pikir di sini akan menjadi malam yang luar biasa bagi Anda [untuk] mendengarkan musik dari stasiun siaran Berlin.” St. John dengan patuh berjaga sepanjang malam. Akhirnya, pada pukul 4 pagi, suara Menteri Luar Negeri Jerman Joachim von Ribbentrop tiba-tiba mengudara. St. John tidak dapat memahami apa yang dia teriakkan, tetapi Ruth Mitchell, di rumah, memahaminya. “Bomnya berjatuhan dan sekarang Beograd ini terbakar.” St. John kemudian menelepon seorang kolega Yugoslavianya. “Perang! Perang! Perang pecah di sini, St. John, ”kolega Yugoslavia-nya menanggapi. Dengan reporter Amerika lainnya, St. John lalu bergegas ke balkon kamar hotelnya. “Kami mendengar suara pesawat sebelum kami melihatnya,” dia kemudian menjelaskan. “Awalnya hanya hanya suara dengungan yang samar. Seperti kawanan lebah yang berada jauh sekali. Kemudian suaranya menjadi lebih keras, lebih keras! dan LEBIH KERAS! ” 

Sebuah pembom tukik Junkers Ju-87 Stuka dari Wing Udara Luftwaffe saat terbang target di atas Yugoslavia yang diserang. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Atase militer Yugoslavia di Berlin mengetahui tentang bahaya yang akan datang bagi negerinya, tetapi secara bodoh dan fatal, hal itu tidak dipercayai di Beograd sendiri. Sekarang lebih dari 300 pesawat Luftwaffe — pembom tukik, pembom medium, pesawat tempur – sedang menuju Beograd untuk memulai salah satu pemboman teror terburuk dalam perang, dengan nama sandi yang terang-terangan dan brutal, yakni “Operasi Hukuman”. St. John dan koleganya dengan cepat menuruni tangga saat ledakan mengguncang hotel untuk menunggu di lobi yang ramai dan penuh kepanikan. Sementara itu di rumah, Ruth Mitchell berlindung di bawah tangga sementara bom jatuh hampir 20 meter jauhnya. “Efeknya hampir tak terbayangkan,” tulisnya. Bukan karena kebisingan atau bahkan gegar otak. Namun itu adalah angin yang sangat mengerikan yang paling menakutkan. Angin menghantam seperti sesuatu yang kuat menabrak rumah: setiap pintu yang dikunci dengan mudah terlepas dari engselnya, setiap panel kaca terbang menjadi serpihan, gordennya di dalam ruangan jatuh kebawah seperti pita. ” Ironisnya, satu-satunya pesawat Yugoslavia yang bisa mengudara adalah pesawat-pesawat tempur Messerschmitt Me-109 yang sebelumnya dipasok oleh Jerman. Pesawat-pesawat itu tidak dijatuhkan oleh pilot-pilot Luftwaffe yang jauh lebih berpengalaman, namun terkadang malah disebabkan oleh tembakan antipesawat Yugoslavia yang salah menembak dari bawah. Pesawat-pesawat Luftwaffe menyerang sepanjang waktu dalam gelombang demi gelombang setiap dua hingga empat jam. St. John menggunakan satu jeda serangan untuk menerobos reruntuhan menuju Kedutaan AS. 

Messerschmitt Me-109, pesawat tempur paling modern AU Kerajaan Yugoslavia, saat Jerman menginvasi. Ironisnya ini adalah pesawat buatan Jerman. (Sumber: https://wingsofserbia.com/)
Foto udara pemboman Jerman atas kota Beograd. (Sumber: https://www.serbia.com/)

Dia melewati sebuah truk yang penuh dengan mayat, menggunung dengan kaki yang mencuat. Dia melewati Terrazia Square, tempat perayaan yang dia saksikan hanya 10 hari sebelumnya. “Potongan tubuh manusia,” dia melihat. “Perhiasan dan bahan makanan dan pakaian terlempar dari jendela toko. Kaca dan batu. Bongkahan bom dan potongan atap seng yang bergerigi. ” St. John yakin Jerman telah mengebom alun-alun sebagai aksi balas dendam atas perayaan yang tadinya terjadi di sana. Satu mayat menarik perhatiannya, yaitu seorang wanita muda dengan gaun malam. “Saya mencibirnya,” kenangnya, “dan bertanya-tanya di mana dia tadi malam, hingga masih mengenakan gaun malam pada pukul lima pagi. Kemudian saya melihat kaki kanannya. Setengahnya hilang. Wanita berambut cokelat yang cantik itu telah diledakan keluar dari jendela toko. ” St. John akhirnya berhasil mencapai Kedutaan diikuti oleh Ruth Mitchell dengan seragam Chetniknya. Di mana kudamu? Saya bertanya padanya, ”tulis St. John kemudian. Dia tidak tertawa. Sepanjang jalannya sendiri melalui kehancuran, dia telah menyaksikan sebuah adegan “yang akan menghantuiku selama aku hidup — sebuah lubang menganga di mana sebelumnya merupakan tempat perlindungan serangan udara dan di pepohonan di sekitarnya terdapat kaki dan lengan, banyak di antaranya sangat menyedihkan, tragis, kecil menjuntai dari dahan. ” Pada saat dia sedang diusir, St. John sedang mengemudi dari Beograd selama serangan udara lainnya. Di sisinya ada seorang gadis muda Serbia yang meminta bantuannya dan terbukti sangat berharga saat ia harus berburu makanan dan penginapan di hari-hari mendatang. Sementara itu Raja Peter sekali lagi berada di belakang kemudi mobilnya di tengah-tengah gerombolan kendaraan bermotor. Dia tidak akan pernah melihat ibukotanya lagi.

MENGUNGSI

“Barisan kendaraan-kendaraan di jalan yang meninggalkan Beograd itu menampilkan pemandangan yang aneh,” St John kemudian mencatat. “Ada segala jenis kendaraan beroda, mulai dari gerobak sapi paling kasar yang pernah anda lihat, hingga beberapa limusin diplomatik yang cukup mewah untuk seorang Maharaja India… “Orang-orang yang sangat kami kasihani adalah mereka yang membawa segala milik mereka yang diikat dalam bundel di ujung tongkat yang mereka panggul di bahu mereka. Alih-alih menyusuri jalan raya yang berkelok-kelok, orang-orang yang malang ini berjalan dengan susah payah melintasi ladang karena jalan itu lebih pendek, meski mereka memang harus berjuang menuruni lembah kecil lalu mendaki bukit-bukit terjal. Barisan orang-orang itu masih menjadi salah satu gambaran paling jelas dari keseluruhan perang ini. ” Tidak adanya kepanikan membuat St. John bertanya-tanya apakah orang-orang Amerika akan bereaksi dengan cara yang sama. Dia meragukannya. “Perbedaannya, saya kira,” dia merefleksikan, “adalah bahwa orang-orang Eropa yang malang itu, dan terutama orang-orang seperti Serbia, begitu terbiasa dengan perang dan kehancuran sehingga mereka hanya bisa menerimanya. Tidak banyak lagi yang bisa mereka lakukan. ” Sepuluh mil dari kota St. John berhenti di puncak bukit untuk melihat kota terakhir kalinya. “Kami bisa melihat Beograd,” kenangnya. “Beograd terbakar. Beograd sedang dalam perjalanan untuk menjadi kota mati. Kecuali bahwa banyak dari pria dan wanita yang tergeletak di jalanan kota ini mungkin masih mengerang minta tolong dan meminta sesuatu untuk menghentikan rasa sakit mereka. “Kami bisa melihat asap dari belasan titik api. Dan melalui asap muncul lidah-lidah api merah. Sepertinya ada serangan udara lain yang sedang terjadi. Kami terlalu jauh untuk bisa mendengar suara-suara dengan jelas, tetapi yang kami dengar adalah suara yang tidak jelas yang mungkin merupakan gabungan dari semua penderitaan perang yang bercampur. Suara pesawat, senjata, sirene, dan bangunan yang roboh. “Tapi yang membuat kami berpikir bahwa penyerbuan itu akan terjadi lagi dengan segera adalah adanya titik-titik gelap kecil di langit dan kepulan asap putih, yang kami tahu berasal dari pecahan peluru yang ditembakkan oleh senjata ack-ack (anti pesawat) saat mereka berusaha keras dan dengan  sia-sia untuk menjatuhkan pembom-pembom musuh. ” 

Kehancuran akibat pemboman Jerman di kota Beograd, April 1941. (Sumber: https://www.serbia.com/)
Para pengungsi melintasi Tank Panzer IV Jerman saat invasi ke Yugoslavia tahun 1941. (Sumber: https://www.worldwarphotos.info/)

Pada sore hari, Jerman telah menjatuhkan  bom-bom pembakar untuk menerangi kota bagi serangan malam mereka. Ruth Mitchell termasuk di antara mereka yang melarikan diri dengan berjalan kaki dan dari desa memiliki pandangan yang sama-sama suram seperti St. John. “Kota besar di Danube (Beograd) tampaknya menjadi satu api unggun besar yang berkobar. Lidah api yang besar akan meledak tiba-tiba, menyala dengan terang untuk beberapa saat dan perlahan-lahan menghilang. Tiba-tiba awan asap tebal melingkar ke atas, mengepul, menggeliat, berputar ke langit, memantulkan cahaya amarah di perut mereka yang hitam yang pasti jelas terlihat dalam jarak ratusan mil melintasi sungai besar dan dataran datar tak berbatas. ” Ketika serangan udara dan pembantaian berakhir setelah dua hari yang mengerikan, kota Beograd telah hancur lebur dan diperkirakan 17.000 orang tewas. Robert St. John, yang baru saja mulai menulis sebuah berita, dengan cepat memutuskan bahwa tidak ada harapan baginya untuk dapat melanjutkan pelaporan sehingga dia harus segera keluar dari Yugoslavia. Ruth Mitchell, yang telah menemukan tujuan hidupnya, memilih untuk tetap tinggal. “Aku sangat marah dan diliputi amarah,” demikian dirasakannya. “Aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa selama masih ada nafas di tubuhku, aku akan berjuang untuk menyelamatkan apa yang masih tersisa dari aksi yang “monster kejam” itu tinggalkan pada orang-orang yang mimpinya tidak pernah bisa mereka pahami.” Tapi perjuangan pribadinya harus berakhir bahkan sebelum bisa dimulai — dan cobaan beratnya yang akan dihadapinya baru saja dimulai. 

INVASI

Kurang dari satu jam setelah pemboman Beograd dimulai, invasi darat segera berlangsung. “Sangat penting agar pukulan besar menimpa Yugoslavia tanpa ampun. Tidak boleh ada lagi Yugoslavia, ”demikianlah perintah Hitler. Para tetangga Yugoslavia telah diintimidasi di bawah Pakta Tri-Partit untuk mau bergabung atau mengizinkan lewatnya pasukan Jerman. Menteri luar negeri Hongaria, yang tidak lama sebelumnya menandatangani perjanjian persahabatan dengan Beograd, sendirian berusaha membuat protes yang terhormat, namun sia-sia, — dia kemudian menembak dirinya sendiri. Invasi ke Yugoslavia oleh pasukan Axis dipelopori oleh Angkatan Darat ke-2 Jerman dengan elemen Angkatan Darat ke-12, Grup Panzer Pertama, dan korps panzer independen yang dikombinasikan dengan dukungan Luftwaffe yang luar biasa. 19 divisi Jerman yang dikerahkan termasuk lima divisi panzer, dua divisi infanteri bermotor dan dua divisi pasukan gunung. Pasukan Jerman juga termasuk tiga resimen infanteri bermotor independen yang dilengkapi dengan baik dan didukung oleh lebih dari 750 pesawat. Angkatan Darat ke-2 Italia dan Angkatan Darat ke-9 juga mengerahkan total 22 divisi dan 666 pesawat untuk operasi tersebut. Sementara itu Tentara ke-3 Hongaria juga berpartisipasi dalam invasi tersebut, dengan dukungan lebih dari 500 pesawat. Bagaimanapun, Invasi ini diperintahkan dengan begitu tergesa-gesa sehingga beberapa unit Wehrmacht masih dalam perjalanan dari Jerman, atau baru saja mendapatkan perintah. Delapan divisi tidak akan sampai di sana tepat pada waktunya, tetapi divisi yang ada di sana terbukti sudah cukup mampu untuk mengalahkan Yugoslavia yang malang.

Tank dan pasukan Angkatan Darat Jerman bergerak maju selama invasi Yugoslavia. Di antara kendaraan lapis baja Jerman ini terdapat tiga tank Hotchkiss yang tampaknya rampasan selama invasi Prancis. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Menghadapi ini, 1.200.000 Pasukan Yugoslavia (400.000 diantaranya perlengkapannya kurang) diatas kertas terdiri dari lebih dari 33 divisi Tentara Kerajaan Yugoslavia (Bahasa Latin Serbo-Kroasia: Vojska Kraljevska Jugoslavije, VKJ), empat brigade udara dari Angkatan Udara Kerajaan Yugoslavia (Bahasa Latin Serbo-Kroasia: Vazduhoplovstvo Vojske Kraljevine Jugoslavije) dengan lebih dari 400 pesawat, dan Angkatan Laut Kerajaan Yugoslavia (bahasa Latin Serbia-Kroasia: Kraljevska Jugoslovenska Ratna Mornarica, KJRM) yang kecil dan berpusat pada sekitar empat kapal perusak dan empat kapal selam yang berbasis di pantai Adriatik dan beberapa kapal monitor sungai di Danube. VKJ sangat bergantung pada dukungan transportasi bertenaga hewan, hanya sebagian yang bermotor pada saat invasi, dan hanya memiliki 50 tank yang dapat digunakan untuk menghadapi tank Jerman dengan kekuatan yang relatif sama. Sementara itu VVKJ dilengkapi dengan berbagai pesawat buatan Yugoslavia, Jerman, Italia, Prancis dan Inggris, termasuk kurang dari 120 pesawat tempur modern. Tentara Kedua Belas Jerman dan Grup Panzer ke-1 menyerang dari arah Bulgaria, sementara Tentara Kedua Jerman dan Tentara ke-3 Hongaria menyerang dari Austria, Hongaria, dan Rumania, dan yang terakhir Tentara ke-2 Italia menyerang dari wilayah pendudukannya di Albania. Untuk menghadapi serangan dari berbagai pihak, Tentara Yugoslavia, meskipun, hanya dilengkapi dengan senjata kuno, sistem transportasi yang bertumpu pada gerobak sapi yang lamban (unit Yugoslavia membutuhkan waktu satu hari penuh untuk menempuh jarak yang bisa dilalui oleh pasukan Jerman yang berukuran sama namun bermotor dapat melaju hanya dalam waktu satu jam), bertahan dengan keras kepala di seluruh perbatasan sepanjang 1.900 mil alih-alih menarik diri ke posisi yang lebih dapat dipertahankan seperti yang diminta Inggris. Dan betapa lemahnya pertahanan di perbatasan ini terlihat jelas ketika sebuah kompi sepeda Jerman dengan cepat menembusnya dan mengayuh lebih dari 10 mil tanpa harus melepaskan satupun tembakan! Namun, kelemahan terbesar dari semua pasukan Yugoslavia adalah musuh lainnya yang sama-sama mematikan — musuh dari dalam. 

Tank tua buatan Prancis, Renault FT-17 milik AD Yugoslavia, setelah dihancurkan tentara Jerman selama invasi April 1941. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Kapal Angkatan Laut Yugoslavia ditangkap oleh Regia Marina Italia pada bulan April 1941. Mereka, dari kiri, merupakan penyebar ranjau kelas Malinska, kapal penjelajah ringan Dalmacija dan kapal depo kapal selam, Hvar. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

“Ini adalah fakta yang menyedihkan,” Ruth Mitchell berkomentar dengan getir, “bahwa Yugoslavia, dari semua negara kecil di Eropa, adalah satu-satunya di mana sebagian besar tentaranya dengan perwira regulernya berubah menjadi pengkhianat terhadap sumpah mereka.” Bagian yang dia maksud adalah orang-orang Kroasia, yang melihat invasi sebagai kesempatan untuk mendongkel kekuasaan Serbia dan dengan bersemangat mengambil alih kekuasaan dengan semangat balas dendam yang telah lama mendidih. Seorang perwira Kroasia telah membelot ke Jerman tiga hari sebelum invasi dengan membongkar rencana pertahanan udara Yugoslavia, sehingga memungkinkan Jerman untuk menentukan target, terutama gedung-gedung pemerintah, dalam pengeboman Beograd, kemudian untuk menemukan lapangan udara lokal untuk diserang dan menghancurkan angkatan udara Yugoslavia yang sudah usang. Lebih dari 1.600 lainnya, yakni 95 persen perwira Kroasia di angkatan darat, juga membelot ke pihak Jerman sementara ratusan perwira Serbia dibunuh oleh pasukan asal Kroasia. Peralatan dimatikan, komunikasi terganggu, jalur transportasi dialihkan. Tentara Kroasia akan melambai atau langsung bersorak saat dilewati oleh formasi Jerman. Salah satu dari mereka terkenal saat difilmkan menyerahkan senapannya dan, dengan seringai bodoh di wajahnya, menawarkan untuk berjabat tangan ketika orang Jerman itu menghancurkan senjatanya dan, dengan sangat meremehkan, beranjak pergi. Dari jendela keretanya Ruth Mitchell menyaksikan orang-orang Kroasia merayakan, dengan bendera kerajaan Yugoslavia digantung terbalik. Kereta itu berulang kali mendapat serangan dari pemberontak. “Tiba-tiba datang rentetan tembakan yang gencar. Kereta itu tiba-tiba berhenti. Tentara kami, yang meneriakkan kutukan parau pada orang-orang Kroasia, berjalan menyusuri koridor, melompat keluar dan menuruni tanggul. Tembak menembak berlanjut selama 10 atau 15 menit. Saya bisa menyaksikan kilatan senjata saat prajurit-prajurit Serbia memburu para pengkhianat di antara pepohonan dan semak di sepanjang tanggul. ” 

Seorang warga sipil Yugoslavia, mungkin di bawah tekanan, menunjuk ke posisi yang dia yakini ditempati oleh unit Angkatan Darat Yugoslavia. Pasukan Jerman muncul dengan tergesa-gesa untuk melanjutkan gerak maju mereka. Dalam invasi ke Yugoslavia, Pasukan Jerman banyak terbantu oleh kolaborator di dalam Yugoslavia sendiri, yang kebanyakan merupakan orang Kroasia. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Dia melihat sekilas lebih jauh tentang keputusasaan dari posisi Yugoslavia ketika dia bertemu di kereta api seorang petani Montenegro, kurus, pakaiannya compang-camping, dengan kain di sekitar kakinya bukannya sepatu, yang menceritakan bagaimana dia bergegas pergi dari rumah untuk bertempur hanya dengan bersenjata sebuah pisau. “Disana ada monster besi besar — tank dalam barisan yang panjang mendatangi kami — dan apa gunanya pisau melawan tank? ” demikian dia terus mengulang ucapannya. Medan terkadang merupakan musuh yang lebih berat. Satuan lapis baja Jerman begitu terjebak di jalan sehingga sapi-sapi mulai dirampas dari orang-orang Yugoslavia untuk menarik kendaraan pasokan. Skopje jatuh ke tangan Tentara Keduabelas Jerman pada hari kedua, yang dengan segera menutup perbatasan darat dengan Yunani. Ketika berita itu sampai ke Sarajevo, yang sebelumnya telah dia sampaikan, St. John tahu apa artinya itu. “Yugoslavia yang malang kini terkurung di tiga sisi. Jerat baja kini mengencang…. Dan itu berarti ribuan orang di Sarajevo hanya punya satu jalan keluar sekarang, yakni lewat Laut Adriatik! ” Jumat Agung di Sarajevo berlangsung di tengah kota itu yang berulang kali dibom — St. John dengan sedih melihat tentara-tentara menembak ke arah pesawat, dan kemudian menari-nari sambil berpikir bahwa mereka telah mengusir pesawat itu— sementara berlian ditawarkan untuk ditukar dengan bensin. “Itu adalah pertarungan kecerdikan, dan tidak ada trik yang dilarang,” St. John menceritakan bahwa bensin diburu tanpa henti. “Setiap kali kami memarkir Chevrolet di mana pun, salah satu dari kami harus berjaga-jaga untuk memastikan beberapa pengungsi yang tidak bermoral atau histeris tidak akan membuka kunci tangki bensin dan menyedot bahan bakar terakhir yang kami miliki.” Dengan dipenuhi kepanikan, pemandangan di kafe Sarajevo mengingatkannya “pada Bursa Efek New York.” Untunglah, St. John ingat ada sebuah depot tentara di luar kota; perwira yang bertanggung jawab, sudah pasrah menanti kedatangan tentara Jerman, membiarkan dia mengambil semua bensin yang dia butuhkan. 

Peta Invasi ke Balkan tahun 1941. Dalam melakukan serbuan, Jerman dibantu sekutu-sekutunya seperti Italia, Hungaria, Bulgaria, dan Rumania. (Sumber: https://encyclopedia.ushmm.org/)
Pasukan Bersaglieri asal Italia selama invasi ke Yugoslavia. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Dengan struktur komando Yugoslavia telah dihancurkan dengan sengaja dalam pemboman Beograd dan raja serta pemerintahannya dalam pelarian, pasukan Yugoslavia di medan perang tidak lagi memiliki pemimpin. Dalam pelariannya ke arah pantai, St. John bertemu dengan para perwira staf umum yang meluangkan waktu untuk makan dan mengobrol dengannya. “Anggota Staf Umum Yugoslavia, pada malam terjadinya bencana militer yang besar, membagikan mentega pada biskuit asin dan membicarakan hal-hal yang tidak penting dan tidak pernah menjadi masalah dan tidak akan pernah menjadi hal yang penting,” kenangnya dengan cemas. Tentara Jerman sering kali dengan mudah melewati kantong-kantong perlawanan yang ada. Satu unit Yugoslavia melakukan serangan putus asa pada malam hari dari hutan terhadap sebuah desa tempat orang Jerman ditempatkan. Meraih sepatu bot, helm, dan senjata mereka, tentara Jerman, yang masih mengenakan pakaian dalam, segera mengusir para penyerang. Dengan kecepatan 100 mil sehari, Angkatan Darat Kedua Jerman meluncur ke ibukota Kroasia, Zagreb, pada tanggal 11 April, untuk disambut pertama kalinya dalam perang oleh penduduk non-Jerman. Kelompok Ustachi dengan segera mendeklarasikan kemerdekaannya dan mendirikan rezim masa perang yang paling gila, paling brutal, dan paling berkolaborasi dengan Jerman. “Di utara Yugoslavia, garis depan pertahanan pecah dengan cepat,” Jenderal Franz Halder dari Staf Umum Jerman, mengetahui apa yang mereka lakukan, mencatat dalam buku hariannya. “Unit-unit militer Yugoslavia meletakkan senjatanya atau memilih menjadi tawanan. Satu kompi sepeda menangkap seluruh [unit] dengan stafnya. Seorang komandan divisi musuh memberitahu atasannya bahwa anak buahnya akan meletakkan senjata mereka dan pulang. “

KLINGENBERG DAN REGUNYA MEREBUT BEOGRAD

Tentara Keduabelas Jerman telah menembus garis pertahanan yang kuat yang terdiri dari bunker dan baterai artileri antitank, kemudian bergerak ke arah barat laut sejauh 213 mil melalui Lembah Morava dalam tujuh hari menuju Beograd. Unit Wehrmacht lainnya mendekati dari arah tenggara, melalui Serbia di mana perlawanan paling keras muncul, dan dari arah barat, tetapi semuanya dikalahkan oleh unit kecil dari saingan mereka yang paling dibenci, yakni Waffen SS. Sebuah kompi penyerang bersepeda motor dari SS Das Reich Divison yang dipimpin oleh Kapten Fritz Klingenberg yang digabungkan dengan Angkatan Darat Kedua Jerman berangkat untuk menaklukkan ibu kota Yugoslavia. Lulusan berusia 26 tahun dari akademi perwira di Bad Tölz, Klingenberg telah mendapatkan reputasi sebagai orang yang keras kepala, dan punya karakter yang agak kasar. Selama kampanye di Prancis tahun sebelumnya, mantan komandan kompinya pernah berkata tentang dia, ‘Klingenberg cerdas namun keras kepala, setia namun kerap berlebihan dalam mengoreksi atasannya, brilian di bawah tekanan, namun sombong hingga ke titik kerap melakukan pembangkangan.’ Gambaran seperti itu menunjukkan bahwa Klingenberg lebih sebagai seorang “maverick” daripada seorang perwira militer yang kompeten.

Kapten Fritz Klingenberg asal Waffen SS. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Namun gambaran itu tidak seluruhnya tepat. Klingenberg telah menjalani seluruh karirnya di Divisi Panzer SS Waffen ke-2 “Das Reich” yang elit, dan invasi ke Prancis telah menjadi pembuktian awalnya di medan tempur. Dia dianugerahi Iron Cross Second Class untuk kepahlawanan selama pertempuran di Prancis. Saat itu, Peletonnya ditembaki oleh tembakan senapan mesin yang efektif ketika tank ringan Panzerkampfwagen Mark II yang mendukung mereka menghantam ranjau. Para kru terjebak di dalam kendaraan mereka yang terbakar dan disapu oleh tembakan senapan mesin. Sementara anak buahnya menyelamatkan awak tank, Klingenberg berlari melintasi 100 meter lapangan terbuka, dan mengalahkan posisi tiga prajurit Prancis dengan granat. Dia tidak mengalami banyak luka-luka. Arahan tembakan artileri Klingenberg selama pertempuran juga unik dan mengesankan. Suatu kali, selama kampanye militer di Prancis, ia bahkan meminta tembakan meriam 88mm yang mematikan pada posisinya sendiri untuk mengalahkan serangan balik musuh. Tindakan itu memungkinkan seluruh barisan tentara Jerman untuk bergerak maju, memanfaatkan kebingungan di antara tentara Prancis. Selama pertempuran lain, dia memanggil pembom tukik Junkers Ju-87 Stuka untuk mempertahankan posisinya dan menghentikan gerak mundur musuh, yang mengakibatkan berhasil ditangkapnya 55 personel musuh. Untuk aksinya itu, komandan batalionnya, Letnan Kolonel Hannes Eckhold, menganugerahi kapten muda itu medali Iron Cross First Class. Evaluasi atas Klingenberg ternyata juga mencerminkan ketegaran yang bercampur dengan keberanian dan kreativitas dalam dirinya. Karena dia selalu muncul tanpa cedera dari banyak ancaman kematian dan pengadilan militer, anak buahnya mulai memanggilnya sebagai ‘Pesulap.’ Klingenberg juga mendapatkan reputasi sebagai perampok kelas satu. Apa pun yang dibutuhkan anak buahnya – amunisi, makanan, air, dll. – selalu berhasil dia penuhi. Klingenberg bahkan mengadakan “sekolah” untuk para perampok, yang mengajari anak buahnya mencuri barang-barang penting untuk bisa bertahan hidup. Segera setelah tiba di Yugoslavia, ia dipromosikan menjadi kapten dan diberi komando unit pengintai sepeda motor, yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan data intelijen dengan cepat dan memelihara komunikasi dengan unit belakang. Anak buahnya memegang rekor divisi untuk berbagai laporan pengaduan dan pencurian. Faktanya, banyak pihak menyebut ‘Klingenberg’ sebagai penjahat. Tapi “Penyihir” itu telah mengajari mereka dengan baik – dan tidak ada tuduhan terhadap anak buahnya yang pernah terbukti.

Mengendarai sepeda motor, tentara dari Divisi SS Jerman Das Reich berhenti selama penyerangan ke Beograd. Sebuah detasemen bermotor kecil dari Das Reich yang dipimpin oleh Kapten Fritz Klingenberg merebut Beograd dengan berani dan dilaksanakan secara brilian. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Misi Klingenberg berikutnya di Yugoslavia adalah mengintai di depan unit lapis baja utama, mencari aktivitas musuh dan menandai jalan atau rintangan di peta. Misi-misi pengumpulan-intelijen itu sangat penting agar pasukan Jerman bisa berhasil masuk ke wilayah tersebut. Meskipun Beograd telah ditandai untuk segera direbut, namun sebagian besar satuan Divisi Das Reich masih terjebak dalam tugas mengamankan garis belakangnya sambil mencoba melewati jalur pegunungan Yugoslavia yang sempit. Sementara itu, sisa tentara Jerman lainnya sangat tertinggal dibelakang bahkan mereka sendiri ternyata tidak menggunakan peta yang sama! Pada tanggal 11 April, instruksi yang diberikan pada Klingenberg adalah untuk mengintai dan mendirikan pos pemeriksaan, mengamankan jembatan dan jalan yang bisa ditemukan, kemudian menahan tempat-tempat tersebut sampai datangnya bala bantuan. Saat itu hujan lebat dan salju yang mencair telah menyapu hampir semua permukaan tanah yang lunak, dengan jembatan telah dihancurkan pada saat mundurnya pasukan Yugoslavia. Jalan utama untuk mendekati Beograd tidak lagi menjadi rute yang layak digunakan, dan tank tentu akan kesulitan untuk melanjutkan gerakannya tanpa dukungan pasukan zeni besar-besaran untuk membersihkan daerah tersebut. Setelah beberapa jam mengamati kota yang dibom dari seberang Sungai Danube, Klingenberg percaya bahwa Beograd adalah “miliknya” untuk segera bisa ia ambil alih, karena ia yakin dengan kebingungan yang disebabkan oleh pemboman – pasukan kecilnya dapat menaklukkan kota itu asalkan bisa tiba tepat waktu. Dia hanya punya waktu 24 jam untuk menyerahkan laporan kepada komandonya, dan keputusan harus dibuat dengan cepat. Klingenberg melihat kesempatan untuk menyelidiki lingkungan kota lebih dalam ketika salah satu anak buahnya menemukan sebuah perahu motor terlantar yang diikat ke pohon di sepanjang tepi sungai Donau yang banjir. Dengan hanya membawa satu sersan dan lima prajurit, dia melewati sungai yang berbahaya itu. Perjalanan itu sangat berbahaya, arusnya bergolak akibat limpasan salju yang mencair di pegunungan dan dari hujan lebat. Perahu itu juga kelebihan muatan. Sementara itu, saat menyeberangi sungai, mereka hampir tersapu banjir, tetapi akhirnya berhasil menyeberang. Berhasil mencapai sisi jauh sungai Danube, Klingenberg mengirim dua orang kembali untuk mengangkut lebih banyak pasukan sebelum matahari terbenam. Namun dalam perjalanan pulang, perahu mereka menabrak rintangan yang terendam dan tenggelam. ‘Angkatan laut’ Klingenberg tidak ada lagi, meninggalkan kapten dan enam anak buahnya terdampar ditepi sungai Danube. Mereka benar-benar terisolasi, dengan perbekalan dan amunisi terbatas. 

Gerak maju pasukan Jerman dalam merebut Beograd. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)
Pasukan dari Divisi SS ke-2 Das Reich memasuki Beograd, 12 April 1941. (Sumber: http://worldwartwodaily.filminspector.com/)

Pasukan kecil Klingenberg kemudian maju di sepanjang jalan dan bertemu dengan beberapa kendaraan buatan Inggris yang diawaki oleh tentara Yugoslavia. Mereka merampas dua truk dan sebuah bus, bersama dengan sekitar 20 tentara musuh. Salah satu pria di bus itu adalah seorang turis Jerman yang mabuk yang telah terperangkap di Beograd sejak invasi dimulai. Turis tersebut, yang bisa berbicara bahasa Kroasia, telah ditangkap sebagai mata-mata oleh tentara Yugoslavia dan dibawa untuk dieksekusi. Dia masih mabuk dan tidak menyadari nasib yang akan datang menghampirinya. Ketika dia sadar, dia berpikir bahwa dia masih berada di antara kelompok pengunjung pesta sampai dia diberitahu tentang situasinya. Klingenberg menggunakan dia sebagai penerjemah, di mana kemampuan bahasa Jermannya sangat membantu. Para prajurit SS itu melanjutkan perjalanannya, dengan menggunakan tahanan mereka dan beberapa seragam yang dirampasnya untuk melewati beberapa pos pemeriksaan musuh. Mereka membuat kemajuan bagus pada hari pertama tanpa satupun penjaga pos pemeriksaan musuh curiga. Penduduk Beograd, setelah beberapa hari pemboman, lebih mengantisipasi pengepungan yang lama daripada sebuah serangan cepat, akibatnya pengamanan internal yang lemah membuat Klingenberg cukup mudah memasuki kota. Saat memasuki pinggiran kota, Regu Jerman itu segera terlibat dalam baku tembak selama dua jam. Mereka akhirnya bisa membawa kendaraan yang mereka rampas masuk ke kota dengan banyak tahanan yang terluka di dalamnya, termasuk si turis yang malang. Ajaibnya, tidak ada satupun orang SS yang terluka dalam pertempuran  tersebut. Dengan tidak ada yang bisa menghentikannya, dia berjalan menuju reruntuhan yang pernah menjadi gedung Kementerian Perang, lalu melanjutkan perjalanannya, melewati puing-puing, ke arah Kedutaan Jerman. Gedung itu tidak tersentuh dan masih utuh. Luftwaffe telah dengan sengaja menghindari blok di sekitarnya dari pemboman. Atase militer, yang mana Robert St. John beberapa hari sebelumnya memperhatikan, tidak meninggalkan kota, dan Klingenberg segera berlari untuk mengibarkan bendera Swastika pada pukul 5 sore dan mengumumkan kejatuhan Beograd. Walikota Beograd muncul dua jam kemudian dengan sedikit otoritas yang masih dia miliki untuk meresmikannya. Dengan ini seregu prajurit Jerman dapat dikatakan sendirian menangkap lebih dari 1.300 tentara dan sebuah kota dengan populasi lebih dari 200.000, nyaris tanpa melepaskan satu tembakan pun. Pada keesokan paginya pasukan lapis baja Jerman masuk kedalam kota untuk memastikan dikuasainya Beograd. Setiap orang yang bertugas bersama Klingenberg selama operasi Beograd menerima penghargaan atas keberaniannya dan mendapatkan promosi. Atas aksinya, Klingenberg dianugerahi medali Knight’s Cross, dan dia segera menjadi favorit dari lingkaran dalam pasukan SS. Klingenberg kemudian tewas pada tanggal 22 Maret 1945 saat memimpin divisinya mempertahankan area antara Neustadt dan Landau dalam upaya terakhir untuk membendung gelombang Amerika menjelang akhir perang.

NASIB TRAGIS SANG RAJA

Kembali di tahun 1941 kota besar terakhir Yugoslavia yang masih tersisa setelah jatuhnya Beograd, yakni Sarajevo, jatuh dua hari kemudian. Benar-benar pas, pejabat pemerintah Yugoslavia yang menyatakan penyerahan negaranya, sebelumnya telah menandatangani kapitulasi pertama Yugoslavia kepada Hitler di Wina hanya sebulan sebelumnya, yakni Menteri Luar Negeri, Aleksander Cincar-Markovich. Sementara itu Raja Peter dan Perdana Menteri Simovic telah terbang keluar Yugoslavia dari salah satu dari sedikit landasan udara operasional yang masih tersisa dengan menggunakan pesawat Jerman lain yang dibeli selama masa-masa bulan madu mereka dengan Berlin, yakni sebuah pesawat pembom Junkers Ju-88. Di tengah perjalanan mereka kehabisan bahan bakar dan harus mendarat di sebuah lapangan terbang darurat milik Inggris di Yunani, dengan para awak udara di darat segera menyerbu mereka dengan pistol di tangan. “Dan aku adalah Sinterklas!”, kata seorang pilot Inggris yang marah menanggapi ketika raja muda itu mengidentifikasi dirinya. “Sekarang ayo, keluar.” Setelah raja pada akhirnya bisa meyakinkan pihak Inggris tentang identitasnya, Simovic pingsan dan harus dibawa kembali ke pesawat untuk diterbangkan ke Athena. Dengan menggunakan pesawat Inggris sekarang, Raja Peter II akan memulai perjalanan panjang dan menyedihkannya menuju Yerusalem, Kairo, London — dan berakhir di Los Angeles. 

Raja Muda Peter II dari Yugoslavia berunding dengan Presiden Franklin D. Roosevelt setelah melarikan diri dari Yogoslavia ketika Nazi menyerbu. Dia tidak pernah kembali lagi ke negerinya. (Sumber: Photo by Myron Davis/The LIFE Picture Collection via Getty Images/https://www.gettyimages.fi/)

Sementara itu, Robert St. John akan melakukan pelariannya sendiri yang berbahaya dari Yugoslavia. Di jalan pegunungan yang berkelok-kelok ia melewati pasukan yang sedang membangun perangkap tank dan membayangkan betapa sia-sianya upaya itu. Yang lebih menarik, dia melihat orang lainnya, dengan senapan di pundak mereka, menuju ke hutan untuk melancarkan apa yang kemudian menjadi salah satu gerakan perlawanan gerilyawan paling epik dalam Perang Dunia II. Dia kemudian mengantarkan rekan Serbia-nya ke keluarganya, dan kenangan terakhirnya tentang Yugoslavia adalah pemandangannya dari kaca spion melihat rekan Serbia-nya melambai dengan bangga. Di pantai ia dan tiga jurnalis lainnya menaiki perahu pengangkut sarden sepanjang 24 kaki untuk berlayar menyusuri pantai menuju Yunani. Satu-satunya yang memiliki pengalaman di laut, bagaimanapun, adalah St. John, yang pernah membersihkan geladak kapal transport Angkatan Laut selama Perang Dunia I. Pelayaran itu segera berubah menjadi perjuangan mati-matian melawan hujan lebat dan angin kencang, yang mengombang-ambingkan kapal ringkih mereka. “Beberapa kali kekuatan gabungan angin dan ombak melepaskan dayung dari tangan kami, dan kami harus mengambil risiko tenggelam untuk menangkapnya saat mereka terbang di udara dan mendarat di air,” St. John jelas beruntung untuk jika bisa menulis pengalamannya nanti. Momen paling berbahaya datang ketika sebuah kapal perang Italia melihat mereka dan mengarahkan senjatanya. St. John dan yang lainnya lalu mengibarkan bendera Amerika dan, setelah beberapa menit yang menegangkan, mereka melambai membiarkannya lewat. Setelah empat hari mereka mencapai berhasil mencapai pulau Corfu pada tanggal 20 April 1941. Dari sana St. John mencapai daratan Yunani hanya untuk terjebak dalam serangan kilat Jerman di sana. Setelah selamat dari lebih banyak pemboman, dia masuk ke dalam kapal yang ternyata adalah kapal evakuasi Inggris terakhir. Dari sana ia melewati pulau Kreta tepat sebelum invasi Jerman, kemudian melanjutkan ke Alexandria, Kairo, Cape Town, dan akhirnya mencapai New York.

Mengarungi sungai kecil dan mengibarkan bendera putih dengan mencolok, tentara Yugoslavia mendekati pasukan Jerman dan menyerah, lebih memilih ditahan daripada bertempur dengan musuh yang sudah berpengalaman dalam peperangan. Selama penaklukan cepat mereka atas Yugoslavia, Jerman sukses menyingkirkan sebagian besar perlawanan terorganisir yang mereka hadapi. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Kembali ke rumah, dia disarankan untuk bersikap santai pada sambutannya pada ceramah setelah makan malam dan beristirahat di pedesaan untuk melupakan apa yang dia alami dan menemukan perspektif baru. “Saya tidak membuat komentar yang menyenangkan dalam ceramah itu,” dia menyimpulkan dalam catatannya tentang pengalamannya di Yugoslavia dan Yunani lewat bukunya, From the Land of Silent People (1942). “Saya tidak pergi ke pedesaan untuk mencoba melupakan. Mungkin saya tidak punya perspektif apa pun, “tulisnya. Sementara itu Ruth Mitchell juga berjalan ke pantai, dan mencapai Dubrovnik. Dalam perjalanannya dia bertemu dengan  para diplomat Inggris yang menawarkan untuk mengevakuasi dia. “Aku memang memikirkannya sepanjang malam…. Tetapi, tentu saja, pilihan saya telah dibuat sejak lama, ketika saya bergabung menjadi seorang Chetnik, ”dia, seperti St. John, beruntung bisa menulis pengalamannya kemudian. Pasukan Italia telah tiba, dan dia dengan bersemangat memetakan posisi mereka sambil bersiap untuk bergabung kembali dengan kelompok Chetnik. Tetapi sehari sebelum dia bisa melarikan diri, pada 22 Mei 1941, dia ditangkap oleh Gestapo. Diancam hukuman mati sebagai mata-mata, dia lalu dipenjarakan di Beograd, kemudian di Jerman. Pada akhirnya dia dibebaskan dan lalu berlayar dari Lisbon dengan kapal pengangkut terakhir orang Amerika yang dipulangkan, untuk mencapai New York pada tanggal 30 Juni 1942, dan kemudian akhirnya menceritakan pengalamannya sendiri di bukunya “The Serbs Choose War (1943)”. Ruth Mitchell terbukti lebih beruntung daripada 6.028 perwira dan 337.684 tentara Angkatan Darat Yugoslavia yang juga ditangkap, tetapi tetap, dalam penahanan. Kebencian antar etnis yang parah membuat Yugoslavia mengalami kekalahan yang cepat dan memalukan, serta mengalami puluhan tahun penderitaan, tercermin dengan hanya kurang dari dua persen dari tahanan itu adalah orang Kroasia yang menolak tawaran pembebasan dari Nazi. Korban Yugoslavia terakhir dari invasi tersebut baru meninggal pada tahun 1970. Dia adalah pemuda kurus yang menyedihkan, yang untuk sesaat, sempat menjadi harapan dan idola setidaknya dari sebagian rakyat bangsanya, tidak lain dia adalah Raja Peter II. Diusir oleh Hitler dan kemudian disingkirkan oleh Tito, dia tidak pernah bisa menyesuaikan diri dengan tempat pengasingannya atau meninggalkan fantasi untuk suatu hari akan bisa kembali ke tahtanya. Muak dengan rasa kasihan pada diri sendiri, istrinya, seorang putri Yunani, akhirnya menyerah padanya dan meninggalkannya pergi. Dia mengakhiri hari-harinya di Los Angeles, melarat, putus asa, mabuk-mabukan (almarhum ayah penulis, seorang dealer mobil bekas di Long Beach, memiliki repossessor yang bekerja untuknya yang mengenali bekas raja tinggal di tempat-tempat yang lebih suram di LA). Ketika gagal jantung akhirnya melepaskannya dari kesengsaraannya pada usia 47, Raja – selama sepuluh hari membuat sedikit sejarah bagi keluarga kerajaan. Dia adalah satu-satunya raja yang meninggal dunia di Amerika Serikat.

YUGOSLAVIA YANG MALANG

Meminjam ungkapan Churchill, penyerahan cepat Yugoslavia hanya membuktikan akhir dari awal untuk apa yang akan terjadi di masa depan. Betapapun brutalnya mereka, pendudukan Jerman dan Italia tidak seberapa dibandingkan dengan pemerintahan teror yang dilancarkan Ustachi asal Kroasia terhadap orang-orang Serbia, Yahudi, dan Gipsi. Ketika kelompok Komunis berhasil mengalahkan kaum Chetnik dan mengambil alih kekuasaan, ironisnya seorang Kroasia akhirnya akan menjadi pemimpin seluruh Yugoslavia, tetapi pemerintahan Tito itu terbukti lebih keras, termasuk terhadap rakyatnya sendiri, daripada yang bisa dilakukan raja Serbia mana pun. Ketika Komunisme dan Perang Dingin berakhir, begitu pula nasib Yugoslavia. Namun perpecahan di Yugoslavia segera berubah menjadi mimpi buruk dengan diwarnai perang, pembersihan etnis, pembantaian massal, dan pemerkosaan sistematis yang berpuncak pada kampanye pengeboman NATO tahun 1999. Baru pada tahun 2000, ketika orang kuat Serbia yang menjadi sumber kekacauan, Slobodan Milosevic, dipaksa mundur dari jabatannya oleh warganya yang lelah perang dan kemudian meninggal dalam tahanan Perserikatan Bangsa-Bangsa saat diadili sebagai penjahat perang, segala petaka yang dimulai pada Minggu Palem tahun 1941 itu akhirnya berakhir. Ironisnya, setelah saling berpisah, bagian-bagian dari apa yang dulunya disebut sebagai bekas Yugoslavia menjadi sesuatu yang tidak pernah bisa mereka alami saat menjadi satu kesatuan — yakni menjadi negeri-negeri yang relatif makmur dan demokratis.

Yugoslavia tidak menjadi negara yang tenang selepas Perang Dunia II. Setelah diktator Yugoslavia, Tito meninggal. Negeri yang menyimpan api dalam sekam permusuhan antar etnis segera jatuh ke dalam Perang Saudara yang brutal. Negeri-negeri pecahannya baru bisa menjadi negeri yang damai dan makmur justru setelah mereka tidak bersatu. (Sumber: https://www.youtube.com/)
Invasi ke Yugoslavia telah menunda operasi Barbarossa selama hampir sebulan, efeknya menurut beberapa pengamat dianggap signifikan, karena Jerman kehilangan waktu berharga untuk menaklukkan Soviet sebelum musim dingin yang mematikan datang menghadang. (Sumber: https://aliexpress.ru/)

Sementara itu di pihak Jerman, ironi lainnya juga terjadi, dalam tekadnya yang besar untuk melenyapkan Yugoslavia, Hitler sepertinya telah menyebabkan kehancuran dirinya sendiri. Biaya invasi Yugoslavia, pada saat itu, tampaknya murah — “hanya” memakan korban 151 tewas, 392 terluka, 15 hilang di pihak Jerman, tetapi, seperti yang dikatakan penulis buku sejarah terkenal “The Rise and Fall Of Third Reich”, William L. Shirer, harga sebenarnya akan dibayar kemudian. “Penundaan penyerangan terhadap Rusia agar panglima perang Nazi itu dapat melampiaskan dendam pribadinya terhadap sebuah negara kecil di Balkan yang berani menentangnya mungkin merupakan keputusan paling fatal dan membawa bencana dalam karir Hitler. “Sulit dielakkan bahwa dengan membuat keputusan pada sore hari di bulan Maret itu di gedung Kanselir Berlin pada saat-saat kemarahannya meluap-luap, dia telah membuang kesempatan emasnya untuk memenangkan perang dan membuat Reich Ketiga, yang telah dia ciptakan dengan menakjubkan meski dengan biadab, menjadi kekaisaran terbesar dalam sejarah Jerman dan dirinya sendiri menjadi penguasa Eropa. “Field Marshal von Brauchitsch, Komandan Angkatan Darat Jerman, dan Jenderal Halder, Kepala Staf Umum yang berbakat, mengingatnya dengan penuh kepahitan yang dalam tetapi juga dengan pemahaman mendalam tentang konsekuensi keputusan Hitler itu, ketika kemudian salju tebal dan suhu di bawah nol di Rusia menghantam mereka tiga atau empat minggu lebih cepat dari yang mereka pikir butuhkan untuk mencapai kemenangan akhir. Selamanya setelah itu mereka dan sesama jenderal akan menyalahkan keputusan yang terburu-buru dan keliru dari Hitler dan marah atas semua bencana yang kemudian terjadi. “

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Belgrade Blitz By John W. Osborn, Jr

Invasion of Yugoslavia: Waffen SS Captain Fritz Klingenberg and the Capture of Belgrade During World War II by Colin D. Heaton

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Invasion_of_Yugoslavia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *