Aku Mata-Mata (Jepang) Di Pearl Harbor

Semalam habis nonton film “Tora-Tora-Tora”, yang menampilkan peran Intelijen Amerika menjelang serbuan Jepang di Pearl Harbor, saya teringat ada sebuah kisah spionase yang jarang diceritakan, yakni mengenai tokoh spion Jepang yang melakukan kegiatan mata-mata di Pearl Harbor. Di Edisi koleksi Angkasa “Pearl Harbor”, kisah ini cuma disinggung sedikit, kebanyakan yang diulas menceritakan mengenai keluarga Kuehn dari Jerman dan agen ganda Dusko Popov. Berikut adalah kisah dari Takeo Yoshikawa, yang menjadi mata-mata Jepang di Pearl Harbor jelang pecahnya Perang Pasifik.

Dusko Popov (kiri), mata-mata yang kerap diingat saat membahas mengenai kisah spionase jelang serangan udara di Pearl Harbor. Popov disebutkan sempat menyampaikan informasi mengenai rencana serangan Jepang ke pihak sekutu. (Sumber: https://allthatsinteresting.com/)

TAKEO YOSHIKAWA

Takeo Yoshikawa a.k.a Tadashi Morimura dilahirkan pada 7 maret 1914 di Matsuyama, sebuah kota kecil di pulau Shikoku. Ayahnya bekerja di kantor polisi setempat, Takeo memiliki dua kakak perempuan Tasuko dan Masako, serta adik laki2 bernama Tadshige. Pada februari 1930, Takeo mendaftar pada Akademi Angkatan Laut Kekaisaran dan lulus. Tiga setengah taun kemudian ia sudah berpangkat Letnan Dua. Pada awal 1935, ia mengikuti pendidikan penerbang pesawat pemburu, tetapi gagal karena terserang penyakit perut. Kemudian ia dikeluarkan dari dinas militer pada tahun 1936 dengan membawa kekecewaan besar sebagai seorang Bushido yang telah mencurahkan segala daya untuk dapat menjadi seorang prajurit yang diidam-idamkan sejak lama olehnya. Takeo kemudian bekerja di bidang sipil, sampai pada suatu hari ditawari oleh pekerjaan oleh seorang Kapten Angkatan Laut. Tanpa ragu, ia menerima pekerjaan itu dan segera pergi ke Tokyo, dimana ia diperkerjakan di Dinas Intelijen Angkatan Laut. Tugas utamanya adalah mengumpulkan segala informasi mengenai kekuatan Angkatan Laut Inggris dan Amerika di Pacific, dimana terdapat pangkalan Angkatan Laut di Guam, Manilla, dan Pearl Harbor. Syarat pertama yang harus dikuasai oleh Takeo adalah penguasaan bahasa Inggris, kemudian ia disuruh memperdalam ilmunya akan pengetahuan Angkatan Laut Inggris dan Amerika lewat majalah2, koran2, dan berita2 setiap harinya. Disamping itu ia mempelajari buku-buku terkenal mengenai Angkatan Laut, seperti “Jane’s Fighting Ship” yang menjelaskan mengenai tipe-tipe kapal perang di dunia.

Takeo Yoshikawa a.k.a Tadashi Morimura. (Sumber: https://www.azcentral.com/)
Buku “Jane’s Fighting Ship” yang menjelaskan mengenai tipe-tipe kapal perang di dunia. Buku terbitan sipil ini kerap menjadi rujukan petinggi-petinggi militer dunia mengenai persenjataan yang beredar di dunia. (Sumber: https://www.amazon.com/)

MISI SPIONASE

Akhirnya pada bulan Januari 1941 Takeo dipanggil di Kementrian Luar Negeri, untuk menerima perintah penugasan. “Takeo kami ada tugas yang sangat penting dan rahasia”, kata kolonel Maeda ”tak lama lagi kau akan berangkat ke konsulat kita di Honolulu sebagai ‘wakil Konsul’. Satu2nya tugasmu disana adalah mengumpulkan info segala keterangan mengenai Armada Pacific Amerika yang berlabuh di Pearl Harbor. Kami minta dikirimi laporan tiap pekan. Untuk keamananmu kau harus menggunakan nama samaran, saat ini kau bernama Tadashi Morimura” “Nagao Kita, konsul Jenderal kita di Honolulu adalah satu2nya orang yang mengetahui identitas dan tugasmu yang sebenarnya. Ia merupakan tokoh yang dapat kau percayai sepenuhnya. Disamping itu Kita akan mengurus pengiriman semua berita kepada kami. Aku ingin menekankan sekali lagi disini bahwa ini adalah suatu tugas yang sangat rahasia. Apakah kau masih ada pertanyaan lain?” “Tidak kolonel. Segalanya sudah jelas bagiku”, sahut Takeo. Beberapa pekan kemudian Takeo mendapat perintah untuk menaiki sebuah kapal barang yang pada tanggal 27 Maret 1941 akan berangkat dari Yokohama menuju Honolulu, tepat seminggu kemudian Takeo Yoshikawa sampai di Hawaii.

Sebuah kapal terlihat di dermaga dari Bishop Street, di pusat kota Honolulu tahun 1930an. Jelang pecahnya Perang Pasifik, meski merupakan pangkalan utama Armada Pasifik Amerika, namun Hawaii merupakan wilayah yang tenang. (Sumber: https://www.onlyinyourstate.com/)

HAMPIR MENEMUI AJAL

“Tadashi Morimura, kami harap kau mengalami pelayaran yang menyenangkan”, begitulah kata2 konsul Kita menyambut Takeo. Konsul itu seorang pria yang gemuk-pendek dengan sifat yang menarik hati serta menyenangkan. Pada siang itu juga Morimura mulai melakukan aktifitas pertamanya, dengan melakukan perjalanan menuju Honolulu. Dalam pekan pertama ia sering menggunakan bis-bis atau taksi setempat untuk meyelidiki kondisi di sekelilingnya. Lama kelamaan ia dapat menuju ke berbagai tempat tanpa tergantung angkutan2 umum tersebut. Sekarang ia sering melakukan perjalanan kaki di sekitar Pearl City serta Pearl Harbor. Dengan kecewa Morimura mendapati bahwa penduduk Jepang di situ (sekitar lebih dari 83.000 orang) yang tinggal di pulau Oshu, dimana Pearl Harbor dan Honolulu terletak, sangat pro Amerika. Orang2 keturunan Jepang (Nisei) disitu pada setiap kesempatan sangat bangga menonjolkan diri dengan mengucapkan “I’am an American Citizen/aku warga negara Amerika”. Dari golongan penduduk ini Morimura tidak menerima bantuan sedikitpun.

Orang-orang keturunan Jepang-Amerika (Nisei) di Hawaii. Menurut pengamatan Takeo Yoshikawa, orang-orang Nisei lebih merasa sebagai orang Amerika ketimbang sebagai orang Jepang, dari mereka tidak dapat diharapkan datang informasi intelijen yang berarti bagi kepentingan Jepang. (Sumber: https://www.100thbattalion.org/)
Kapal perang yang tidak diketahui namanya di Pearl Harbor. Data-data penempatan kapal-kapal perang Amerika di Pearl Harbor adalah informasi yang dicari-cari oleh Tadashi Morimura. (Sumber: https://www.pinterest.ca/)

Morimura sering menyewa pesawat olahraga kecil, yang hampir tiap hari melakukan penerbangan yang utamanya terbang diatas lapangan2 terbang dan instalasi militer. Salah satu tugas yang diterima dari atasannya di Tokyo adalah untuk mencari kebenaran apakah dimulut pelabuhan Pearl Harbor dibawah permukaan air direntangkan jaring2 untuk menghalangi kapal selam atau tidak. Suatu perintah yang mudah namun sulit untuk dilaksanakan. Oleh karenanya Morimura menggunakan segala akalnya. Untuk beberapa hari ia membiarkan jenggotnya tumbuh panjang, kemudian dikenakannya pakaian yang kumal dan compang-camping, dan berlagak sebagai buruh pelabuhan miskin ia berangkat melakukan penyelidikan. Dengan berjalan lambat dan terseok-seok ia berjalan kearah pelabuhan dimana kapal2 perang berlabuh, ia berhasil mendekati kapal perang2 itu sampai sejarak kurang lebih dua ratus meter tanpa gangguan. Namun disitu ada suatu pagar kawat berduri yang tingginya dua meter. Dengan hati2 ia memandang sekelilingnya, dikejauhan nampak seorang prajurit penjaga yang berjalan tidak mengacuhkannya. Satu2 nya jalan adalah menggunakan gunting kawat kecil yang dibawanya khusus. Sementara ia hati2 mendekati pagar itu tiba2 terdengar teriakan keras dari kejauhan. Ia cepat membalikkan badan dan nampak prajurit penjaga itu berteriak kepadanya. Morimura merasa bahwa kedoknya kemungkinan telah terbongkar. Sementara itu sang prajurit berlari cepat-cepat kearah Morimura berdiri. “Apa barangkali kau mau mati konyol bung?” seru prajurit itu”tak tahukah kau kalau pagar kawat berduri ini dialiri listrik? Sekiranya tadi kau menyentuhnya, maka detik ini kau sudah mati” “so sorry” jawab Morimura dengan bahasa Inggrisnya yang buruk.”saya tidak akan datang kemari lagi, very sorry sir”, sambil menahan rasa tegangnya, Morimura pergi meninggalkan prajurit itu, yang mengawasinya dengan perasaan campur aduk. Secara kebetulan Morimura lolos dari maut.

SPION HANDAL

Beberapa hari kemudian Morimura menemukan sebuah tempat yang bagus dimana secara tidak mencolok ia dapat memperhatikan kapal2 Amerika dan lapangan terbang. Dalam perjalanan ia selalu membawa sebuah kail ikan. Ini merupakan alibi yang bagus, bila seandainya ada orang bertanya, ia akan menjawab bahwa ia sedang mencari tempat yang banyak ikannya, akan tetapi tersesat. Bukit2 tinggi di sekeliling Pearl Harbor juga memberikan tempat observasi alami dimana Morimura dapat mengambil kesempatan sebaik-baiknya untuk mendapat pemandangan bagus sekitar pelabuhan. Selama melakukan “tamasya” ini Morimura tidak pernah membawa benda2 yang mencurigakan seperti dokumen2, peta2, kamera, pensil atau kertas. Apa yang dilihat oleh matanya diingatnya baik-baik. Kemudian hari Morimura menyatakan juga:” spionase berlainan daripada yang dilihat di novel dan film2 populer, sebenarnya adalah suatu pekerjaan dimana yang terpenting adalah daya ingat yang amat baik, ketelitian dan juga suatu kesabaran yang luar biasa. Pekerjaan mata2 adalah pekerjaan yang sangat berat”.

Dalam menjalankan misi mata-matanya, Morimura kerap menyamar menjadi pemancing ikan dan juga kerap menyewa pesawat sipil untuk terbang mengamati pangkalan Amerika di Pearl Harbor. (Sumber: https://www.realcleardefense.com/)

BANTUAN MATA-MATA JERMAN

Hasil2 pekerjaan Morimura sehari-hari dikirim melalui saluran diplomatik kepada atasannya….yakni pimpinan tertinggi militer di Tokyo. Disamping Konsul Jendral Kita, ada 3 orang lagi di Hawaii yang mengetahui Morimura sebagai mata2 pemerintah Jepang. Mereka adalah Dr. Otto Kuehn, istrinya yang bernama Friedel, dan putrinya Ruth. Dr. Bernard Otto Kuehn semula awalnya berupaya menjadi dokter di Jerman, akan tetapi menemui banyak kesulitan. Dalam suasana penuh kerahasiaan keluarga Kuehn dikirim ke Hawaii oleh Menteri Propaganda Nazi Joseph Goebbels. Tugas bagi keluarga ini yaitu : memata-matai untuk kepentingan Third Reich. Setibanya di Hawaii “Herr Doktor” ini berpura-pura seolah-olah sedang mengumpulkan bahan2 bagi sebuah buku ilmiah mengenai pulau itu. Pada setiap orang Dr. Kuehn mengatakan bahwa ia melarikan diri dari Jerman karena takut terhadap pemerintah Nazi. Pada akhir taun 1940 FBI bekerja sama dengan dinas rahasia lainnya mulai memperhatikan gerak-gerik keluarga ini. Sesaat setelah hancurnya armada Amerika di Pearl Harbor, keluarga ini ditangkap. Morimura telah bebarapa kali mengunjungi keluarga Kuehn, dan iapun bersekongkol dengannya perihal suatu cara khusus dalam keadaan darurat memakai lampu2 besar mobil yang dinyala-matikan untuk memberikan isyarat kepada kapal2 selam Jepang di muka pantai.

Potongan berita koran mengenai keluarga Kuehn yang membantu aksi mata-mata Jepang di Pearl Harbor. (Sumber: https://www.commdiginews.com/)

PESAN TERAKHIR

Pada tanggal 1 november 1941 tibalah kapal barang Jepang di Honolulu. Di atas kapal itu terdapat “penata usaha” kapal bernama Suguru Suzuki (pada tanggal 1 juli 1961 menjadi Laksamana Madya di AL Bela Diri Jepang!) penata usaha Suzuki ditemani Kapten Maejima yang berlagak menjadi dokter kapal, yang “anehnya” tidak tau ilmu kedokteran sama sekali ketika ada seorang awak yang sakit. Setibanya di Honolulu konsul Kita segera naik keatas kapal barang tersebut. Kita memberi tahu Suzuki dan Maejima agar jangan menggunakan telepon kalau mereka hendak berhubungan dengan konsulat, karena menurutnya sudah disadap. Sore itu juga Morimura berkunjung ke Suzuki. Suzuki menyerahkan kepadanya suatu daftar pertanyaan yang secepatnya harus dihafalkan lalu dibakarnya. Jawaban2nya harus disampaikan kepada Suzuki secara pribadi. Suzuki tak pernah meninggalkan kapal selama lima hari kapal itu berlabuh di Honolulu. Secara kebetulan pejabat pelabuhan telah menunjukkan tempat berlabuh pada bagian yang terjauh dari pelabuhan bagi kapal itu, dimana dari anjungan Suzuki dapat memperoleh pemandangan yang strategis mengenai lapangan terbang militer dan pelabuhan Pearl Harbor tersebut. Suzuki memiliki pengaruh begitu besar sehingga ia mampu menunda keberangkatan kapal sehari lagi sehingga ia dapat melihat suasana kapal pada hari minggu. Salah satu pertanyaan terpenting Suzuki adalah pada hari apa setiap minggunya dalam keadaan normal terdapat paling banyak kapal berlabuh di Pearl Harbor. “ pada hari minggu” jawab Morimura tanpa ragu.

Posisi kapal-kapal perang Amerika saat serangan di Pearl Harbor. Data-data akurat ini disediakan oleh aksi spionase Morimura dan kawan-kawan. (Sumber: https://visitpearlharbor.org/)

Pada tanggal 12 November 1941 Suzuki tiba kembali di jepang dan segera meneruskan informasi yang diperolehnya dari Morimura itu kepucuk pimpinan militer di Tokyo. Keesokan harinya ia berangkat menuju Kuril dimana armada invasi Jepang secara perlahan-lahan berkumpul untuk melaksanakan serangan tiba2 pada Pearl Harbor. Orang-orang di konsulat Jepang di Honolulu merasa akan terjadi sesuatu tak lama lagi. Tapi apa yang sebenarnya terjadi itu tak seorangpun tahu. Pada tanggal 5 Desember 1941 Morimura menerima perintah dari Tokyo untuk menyiarkan berita2 iklan pendek melalui pemancar radio setempat di Honolulu. Bunyi iklan itu antara lain adalah: “HILANG: SEEKOR ANJING POLISI JERMAN BERNAMA MAYER” atau “DISEWAKAN: SEBUAH RUMAH DI WAIKIKI”. Tanpa diketahui oleh Morimura berita2 ini dan lain2nya lagi, yang disusun dengan gaya yang sama sebenarnya diterima oleh kapal bendera “Akagi” di armada Jepang yang dengan secepat-cepatnya sedang berlayar menuju Pearl Harbor. Setelah diterjemahkan berita2 ini berbunyi: “kapal induk meninggalkan Pearl harbor” dan “awak kapal cuti seperti biasa”. Berita2 komersil ini memang tiap hari disiarkan oleh pemancar2 radio kecil di Hawaii. Pada malam sabtu menjelang minggu 7 desember 1941, Morimura tanpa diketahuinya mengirim berita terakhirnya mengenai keadaan di Pearl Harbor, yang bunyinya sebagai berikut: 7 DESEMBER 1941 DARI=KITA, KEPADA=MENTERI LUAR NEGERI, TOKYO BERITA MILITER RAHASIA KEPADA=KEPALA BAGIAN KETIGA. DINAS INTELIJEN ANGKATAN LAUT DARI=MORIMURA BERLABUH DI PEARL HARBOR SEMBILAN KAPAL TEMPUR, TIGA BELAS PENJELAJAH RINGAN, TUJUH BELAS KAPAL TORPEDO. SEMUA KAPAL INDUK DAN PENJELAJAH BERAT MENINGGALKAN PELABUHAN SELANJUTNYA SEGALANYA SEPERTI BIASA.

DITAWAN

Berita ini segera diteruskan kepada panglima tertinggi Jepang, yang dengan armada invasinya yang terdiri dari dua puluh tujuh kapal perang dan hampir empat ratus pesawat tempur sedang berada kira2 tiga ratus kilometer dari Pearl Harbor. Empat jam setelah menerima berita terakhir Morimura tersebut, pesawat Jepang pertama terbang dari kapal induk menyerbu Pearl harbor……………………………..serbuan yang ganas dan mematikan terjadilah seperti yang telah banyak kita baca di artikel-artikel sejarah Perang Dunia II. Sementara pemboman berlangsung polisi Honolulu mengirim beberapa agen ke konsulat Jepang untuk menjaganya. Agen2 tersebut sedang berdiri diruang depan, melihat bagaimana pelbagai dokumen serta surat2 berharga dibakar. Dengan murka disambarnya setumpuk surat2 dan sebuah buku sandi dari seorang pegawai Jepang. Ketika sesaat kemudian agen2 dinas rahasia Amerika tiba disitu dan mempelajari dokumen2 tersebut sadarlah mereka betapa luar biasa luasnya aktifitas mata2 Jepang tersebut. Tanpa disadari oleh Morimura selama bebarapa pekan terakhir ia telah diawasi. Meski tindak-tanduknya mencurigakan, akan tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia melanggar hukum. Selain itupun ia tidak dapat ditangkap karena kekebalan diplomatiknya, paling buruk ia cuma akan diusir dari negara itu. Tapi sekarang persoalannya lain, pesawat2 Jepang sedang membomi daerah Amerika. Itu hanya berarti satu…yakni perang, dan waktu perang berlaku undang2 lain. Karenanya polisi mendapat perintah untuk menangkap seluruh staf konsulat Jepang, dan diantara tahanan itu terdapat Morimura.

Data-data kapal yang menjadi korban serangan Jepang di Pearl Harbor. (Sumber: http://www.aerospaceweb.org/)
Kehancuran akibat serangan Jepang di Pearl Harbor memang dahsyat, namun untungnya bagi Amerika tidak ada kapal induk yang menjadi korban, serta infrastruktur pangkalan dan tangki-tangki minyak hanya mengalami sedikit kerusakan. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

SETELAH PERANG

Pada akhir bulan Desember 1941 rombongan mereka diangkut ke Amerika serikat, dan ditempatkan di sebuah peternakan tua di Arizona. Pada bulan Agustus 1942 dalam rangka pertukaran staf diplomatik mereka diangkut dengan kapal Gripsholm-Swedia yang netral kembali ke Jepang, dimana dia kembali bekerja di dinas Intelijen Angkatan Laut sampai akhir perang. Sehabis perang Morimura kembali menggunakan nama aslinya Takeo Yoshikawa, kemudian menikah, dan memiliki seorang putra dan putri. Ia terus merahasiakan siap dirinya, karena takut diadili atas perannya dalam serbuan ke Pearl Harbor. Namun akhirnya siapa dirinya sebenarnya terkuak juga. Pada tahun 1955 ia mendirikan usaha permen, akan tetapi segera gagal, setelah kisahnya beredar luas. Ia menjalani kehidupan yang pahit dimana tidak ada satupun orang yang mau mempekerjakan dia. Ia hidup dari usaha istrinya sebagai agen asuransi. Takeo dibenci oleh publik Amerika atas perannya dalam serbuan di Pearl Harbor yang selalu diingat sebagai “The day of Infamy”, sementara publik Jepang pun banyak yang menyalahkannya karena perannya dalam menginisiasi peristiwa perang Pacific dan efeknya hingga peristiwa Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki. Sejarah pun melupakannya, satu-satunya orang yang mau mengerti dan menerimanya adalah istrinya sendiri………..

Tadashi Morimura tahun 1961. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Diterjemahkan kembali dari:

Aku Mata-Mata di Pearl Harbor oleh Antoon van Zuilen, majalah Varia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *