Altalena Affair, Juni 1948: Perang Saudara antar Faksi Yahudi di Tengah Pendirian Israel

Anak-anak sekolah di Israel kini dibiasakan untuk mempelajari kisah dua mantan perdana menteri mereka, yakni David Ben-Gurion dan Menachem Begin. Tahun depan, tahun 2021 akan menjadi peringatan 108 tahun kelahiran Begin, dan 48 tahun sejak kematian Ben Gurion. Selama bertahun-tahun, otoritas pemerintah Israel percaya bahwa ada banyak hal yang dapat dipelajari dari kedua tokoh ikon nasional tersebut. Namun faktanya, sebenarnya Ben-Gurion dan Begin tidak terlalu menyukai satu sama lain. Akhirnya, mereka memang berdamai. Namun dalam beberapa minggu pertama setelah negara Israel didirikan pada tahun 1948, kedua pemimpin ini terlibat dalam bentrokan yang bisa membahayakan Israel. Titik terendah hubungan mereka terjadi berkaitan dengan tenggelamnya sebuah kapal kargo di lepas pantai Tel Aviv pada bulan Juni tahun itu, sebanyak 16 orang Yahudi terbunuh dalam insiden itu. Mereka yang jadi korban adalah anggota milisi Irgun (yang kerap dipandang sebagai organisasi teroris), yang terbunuh dalam berbagai peristiwa menjelang tenggelamnya kapal mereka, yang bernama Altalena. Peristiwa itu terjadi hanya sebulan setelah Negara Israel memproklamasikan kemerdekaannya, dimana saat itu mereka sendiri masih memerangi tentara negara-negara Arab yang memusuhi dan kapal itu sendiri sedang membawa senjata-senjata yang sangat dibutuhkan mereka. Komandan Irgun saat itu adalah Menachem Begin. Sementara orang yang memberi perintah untuk menyerang Altalena adalah David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel. Ben Gurion memandang milisi Begin sebagai ancaman bagi pemerintahan baru Israel dan bersedia menumpahkan darah-orang Yahudi untuk membangun otoritasnya.

22 Juni 1948, kapal Altalena terbakar setelah ditembaki di dekat Tel Aviv. (Sumber: Kantor Pers Pemerintah Israel/https://atlantajewishtimes.timesofisrael.com/)

LATAR BELAKANG PERSAINGAN POLITIK DI ISRAEL

Selama masa-masa sulit Perang Dunia II, ketika Sekutu bertempur melawan Nazi, terutama di Afrika Utara, Eropa, dan Pasifik, perang lain sedang terjadi. Perang ini lebih tenang tetapi tetap penting, karena perang ini adalah perang antar Yahudi dalam ikhtiar mereka untuk mendapatkan kemerdekaan di wilayah kekuasaan Mandat Inggris di Palestina. Berbagai pendekatan diterapkan yang menghasilkan upaya bersama untuk membongkar status quo permusuhan pada saat itu. Partai politik besar orang Yahudi saat ini seperti Partai Buruh dan Likud (sebelumnya bernama Herut) dapat dicari akarnya dalam faksi-faksi yang memimpin gerakan-gerakan ini, terutama dalam wujud kelompok bersenjata Haganah dan Irgun. Menghadapi pembatasan Inggris atas imigrasi orang-orang Yahudi ke wilayah Palestina yang dituangkan dalam dekrit “White Paper” tahun 1939 yang terkenal, pendekatan yang digunakan Haganah adalah gerakan  yang lambat dan metodis menuju kemerdekaan, sambil mendukung operasi imigrasi ilegal dan, secara bersamaan, mendukung Inggris dalam upaya perang mereka melawan Kekuatan Poros. Seperti yang dikatakan oleh Ben-Gurion, “Kami akan berperang melawan Hitler seolah-olah tidak ada ‘Buku Putih’ (itu), dan (saat bersamaan) kami akan melawan ‘Buku Putih’ seolah-olah tidak ada perang.” Sementara itu berbeda dengan haganah, Irgun, di sisi lain, dan terutama faksi yang lebih ekstrim, Lehi, menyukai penggunaan kekuatan militer untuk mengusir Inggris dari Palestina. Metodenya adalah menyerang Inggris ketika mereka dalam posisi lemah dan mendesak mereka hingga batas kekuatannya –  apalagi di tengah-tengah suasana Perang Dunia. Dua plot pembunuhan besar dilakukan oleh Irgun di bawah kepemimpinan Yitzhak Shamir: yang pertama adalah pembunuhan Lord Moyne (Pejabat tinggi Inggris) dan Count Bernadotte (mediator konflik Arab Israel asal Swedia). Setelah operasi terhadap Moyne pada tahun 1944, pemimpin Haganah Ben-Gurion melabeli Irgun sebagai “musuh orang-orang Yahudi. ” Haganah kemudian bergabung dengan Inggris dalam menangkapi anggota Irgun – menculik, menginterogasi, dan mendeportasi mereka ke kamp-kamp penjara di Afrika, khususnya di Carthago, Sudan dan di Sembel, Eritrea. Tindakan ini dikenal sebagai “La Saison”, atau “Musim Berburu”. Shamir termasuk di antara mereka yang dideportasi ke Eritrea. Pada tahun 1947, Shamir menjadi bagian dari kelompok yang menggali terowongan sepanjang 200 kaki dan melarikan diri ke Djibouti. Dengan bantuan Irgun, dia pergi ke Paris di mana dia diberikan suaka politik. Di Paris, anggota Komando Tinggi Irgun, Shmuel Katz membantu mengatur kapal kargo yang penuh senjata dan prajurit untuk membantu Irgun di Palestina.

Berita pengeboman King David Hotel oleh Teroris Irgun Yahudi. Irgun telah lama menjadi musuh tidak hanya bagi pihak otoritas Inggris, tetapi juga gerakan sayap kiri Yahudi pimpinan David Ben Gurion, yang kemudian menjadi PM Pertama Israel. (Sumber: https://www.rarenewspapers.com/)

Akhir bulan Juni 1948, sebuah kapal kargo terombang-ambing di perairan negara Israel yang baru lahir. Sarat dengan tentara dan amunisi, LST-138 bekas kapal Angkatan Laut AS itu ditakdirkan menjadi penyebab hampir terjadinya perang saudara antara dua tentara Yahudi yang bersaing untuk menguasai Israel. Malam itu di bulan Juni, kapten Altalena menavigasi ke titik pertemuan yang disetujui sekitar 30 kilometer sebelah utara Tel Aviv, ke sebuah teluk bernama Kfar Vitkin. Di sisi kapten kapal saat itu terdapat Abraham Stavsky, seorang veteran lebih dari selusin kegiatan klandestin menyeberangi Mediterania yang telah berhasil menghindari blokade yang diberlakukan Inggris terhadap pengungsi yang melarikan diri dari kehidupan mereka yang hancur di Eropa untuk memulai kehidupan baru di Palestina. Dibeli di Brooklyn, N.Y., seharga $ 75.000 oleh penulis skenario Ben Hecht dan novelis Louis Bromfield, kapal tua itu berganti nama menjadi Altalena sebagai penghormatan kepada Vladimir Jabotinsky, seorang pemimpin Zionis yang sering menggunakan nom de plume (nama samaran) Altalena. Seorang radikal dan pemberontak dengan kecenderungan anarkis dan mendukung cara-cara terorisme, Jabotinsky percaya bahwa negara Yahudi yang terlahir kembali harus disertai dengan darah, api, dan peluru. Jabotinsky meninggal karena sebab-sebab alami di New York City, dalam pengasingan dari negara yang ingin ia ciptakan. Dia meninggalkan, bagaimanapun, berbagai ajarannya dalam wujud Irgun Zvai Leumi (organisasi militer nasional), yang dipimpin oleh Menachem Begin. Inggris, penguasa mandat di Palestina, adalah musuh Irgun, dimana anggota Irgun mengebom teater, menyerang penjara untuk membebaskan rekan-rekan yang dipenjara dan menyandera tentara Inggris untuk mencegah eksekusi tahanan lain yang menghadapi hukuman mati. Seperti rekan-rekan Arabnya, organisasi teroris itu melahirkan kelompok pecahan yang bahkan lebih kejam — yang dikenal sebagai Stern Gang menurut nama pemimpinnya, Abraham Stern. 

Model kapal Altalena, LST-38. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tanggal 14 Mei 1948, mandat Inggris atas Palestina berakhir, orang-orang Yahudi kemudian segera mendirikan negara Israel dan perang segera pecah antara negara baru itu dan semua negara Arab di sekitarnya. Stern Gang dan para pengikutnya segera terlibat dalam pertempuran putus asa untuk bertahan hidup bersama pasukan lain yang lebih formal, Haganah, kepanjangan militer dari para pemimpin sayap kiri Biro Yahudi yang telah banyak berurusan dengan Inggris. Pada saat itu ada 45.000 personel tentara di Haganah. Sementara itu, Ben-Gurion adalah pemimpin politik nasional negara baru itu. Menghadapi orang-orang Arab, yang telah bersumpah untuk “mengusir orang-orang Yahudi itu ke laut,” Ben-Gurion membentuk satu kekuatan pertahanan, yang terdiri dari unit-unit Haganah dan Irgun. Di Kota Tua Yerusalem, 200 tentara Haganah dan kurang dari 100 pria dan wanita asal Irgun, dengan beberapa senapan, beberapa senapan sub mesin Sten dan tidak banyak amunisi, mencoba bertahan melawan unit elit Legiun Arab Yordania. Dengan ini, Altalena, yang sarat dengan senapan dan amunisi, ribuan bom dan granat tangan, serta senapan mesin, 150 senjata antipesawat, dan lima tank, akan menjadi penyelamat bagi para defender Kota Tua yang sedang berjuang bertahan hidup. Yang dibutuhkan kini hanyalah bagaimana kapal itu bisa berlabuh dan muatannya diturunkan. Altalena telah dibeli oleh Irgun; sukarelawan yang ada dibawanya dijadwalkan akan menjadi petempur Irgun; dan ketika dimasukkan ke Port-de-Bouc, di Prancis, pada bulan April 1948, kapal itu dijadwalkan untuk dimuati amunisi yang dibeli oleh agen-agen Irgun di markas besar Eropa yang berbasis di Paris. Jika semua berjalan sesuai jadwal, kapal bisa mencapai Tel Aviv dan dermaga yang dikuasai Irgun pada tanggal 15 Mei, tepat sehari setelah mandat Inggris berakhir. 

ALTALENA

Namun, sejak awal, rencananya berjalan dengan buruk. Ratusan pedagang senjata Eropa telah masuk melewati apartemen yang berfungsi sebagai markas besar Irgun di Paris. Lima telepon yang ada berdering tanpa henti, dan di setiap sudut setiap kamar transaksi dibuat dalam berbagai bahasa. Senjata bisa didapatkan dengan harga tertentu, tapi Irgun telah ditipu sebelumnya. Saat senjata telah diperiksa, deposit telah dilakukan, namun kemudian pengiriman yang dijanjikan tertunda dan kemudian dibatalkan sementara depositnya sendiri hilang. Kekurangan dana, Irgun kini tidak boleh melakukan kesalahan, sementara mereka harus berurusan dengan berbagai macam orang dan latar belakang di Paris pasca-1945 adalah tindakan yang penuh dengan bahaya. Salah satu masalah paling merepotkan yang dihadapi adalah sebagian besar senjata yang dijual berada di luar Prancis, dan Irgun tidak memiliki sarana yang memadai untuk mengangkutnya. Kemudian dalam kondisi ini senjata dari berbagai tipe dan sumber yang berbeda menjadi tidak dapat dihindari. Sebelumnya banyak gerakan perlawanan di Eropa telah mengubur amunisi masa perangnya untuk dijual. Bersimpati kepada Irgun sebagai sesama pejuang perlawanan, para veteran itu dengan senang hati membuat kesepakatan, dan suplai senjata untuk bisa diangkut kapal mulai mengalir masuk. Sementara itu beberapa sumber lain justru menyatakan bahwa senjata-senjata senilai 153 juta franc itu kemungkinan besar adalah donasi dari Pemerintah Prancis lewat persetujuan bawah tangan rahasia yang disetujui oleh Menteri Luar Negeri Prancis Georges Bidault. Catatan pasti dari perjanjian tersebut belum ditemukan hingga sekarang, sementara motivasi Prancis sendiri tidaklah jelas. Namun, diketahui bahwa Bidault sangat prihatin tentang kemungkinan pengambilalihan Yerusalem oleh Yordania. Wakil Kepala Staf Prancis, Jenderal Henri Coudraux, yang terlibat dalam operasi tersebut, mengatakan dalam penyelidikan pada tahun 1949 bahwa Prancis telah “mencapai kesepakatan rahasia dengan Irgun, yang menjanjikan keuntungan jika mereka bisa berkuasa (di Israel).” Dia menggambarkan perwakilan Irgun dalam negosiasi tersebut, Shmuel Ariel, sebagai “teroris yang tidak mewakili organisasi yang sah dan bertindak untuk mengambil alih kekuasaan dengan kekerasan.”

Beberapa awak Altalena. Tengah baris paling bawah adalah Kapten Monroe Fein. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Menachem Begin, komandan Irgun. (Sumber: https://pastdaily.com/)

Sementara itu, pilot pesawat tempur, navigator, dan operator radio tiba dari Kanada dan Amerika Serikat. Banyak dari mereka adalah veteran Perang Dunia II yang bermaksud menjadi tentara profesional selepas perang langsung pergi begitu mereka menyadari bahwa mereka tidak akan dibayar dengan gaji besar seperti yang mereka tuntut. Yang lainnya, adalah orang-orang idealis dan petualang, yang kemudian sama-sama berakhir dengan menaiki kapal Altalena. Sebuah kontingen Belgia, banyak dari mereka berusia di bawah 18 tahun, ingin menjadi sukarelawan untuk bertempur bersama Irgun. Para pemimpin yang lebih dewasa kemudian berupaya menolak anak-anak yang masih di bawah umur ini dan mencoba menghalangi para remaja yang lebih tua — dengan menyatakan bahwa ini bukanlah petualangan yang cuma berlangsung semalam atau permainan orang dewasa yang dimainkan dengan menggunakan senjata. Namun demikian, 35 anak laki-laki dan perempuan dengan membawa ransel, kantin dan perlengkapan yang lebih mirip dengan yang dipakai pramuka daripada tentara bayaran melintasi perbatasan dan naik kereta menuju ke Paris. Mereka melakukan perjalanan dengan beberapa visa yang diperoleh dari organisasi bawah tanah yang biasa mengangkut pengungsi dari satu kota di Eropa ke kota lain. Sementara itu para pekerja pelabuhan yang beragama Muslim di Port-de-Bouc, setelah mengetahui isi kargo Altalena dan tujuannya, melakukan pemogokan sebagai wujud simpati mereka terhadap rekan seagama mereka di Palestina. Dengan semakin meningkatnya tekanan dari pemerintah agar kapal segera berangkat dan keluar dari Prancis, para agen Irgun dan lebih dari 900 rekrutan mereka segera menaiki kapal. Pada tanggal 11 Juni, lebih dari sebulan lebih lambat dari yang dijadwalkan, Altalena berlayar ke laut di bawah komando seorang kapten Amerika, bernama Munro Fine. Kapal itu berlayar pada pukul 8:30 malam tanggal 11 Juni dengan sekitar 850 penumpang yang menyanyikan “HaTikvah” (lagu kebangsaan Israel) saat berangkat.

KONFLIK ANTAR YAHUDI: BEN GURION VS BEGIN

Waktu itu adalah waktu yang buruk bagi semua orang. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberlakukan gencatan senjata pada pihak yang berperang dan melarang pengiriman bala bantuan di kedua pihak. Di Israel Menachem Begin mengirim telegram ke markas di Paris untuk menunda keberangkatan kapal, tetapi pesannya terlambat sampai ke Port-de-Bouc. Mencari kesepakatan dengan pasukan yang memihak Ben-Gurion, Begin menawarkan kesepakatan: Seperlima dari senjata yang dikirimkan akan digunakan untuk pertempuran yang dilakukan Irgun di Yerusalem, dua perlima ke unit Irgun di Angkatan Pertahanan Israel (IDF) dan sisanya ke unit-unit Palmach dan brigade Haganah. Dalam buku hariannya, Ben-Gurion mencatat langkah-langkah yang diambilnya untuk menangani kapal dan muatan amunisinya itu. Pada 16 Juni 1948, dia menulis: “Yisrael Galili dan Levi Eshkol bertemu kemarin dengan Begin. Besok atau lusa kapal mereka akan tiba, dengan membawa 800 hingga 900 orang, 5.000 senapan, 25 senjata Bren, 5 juta peluru, 50 bazoka, 10 kendaraan lapis baja Bren Carrier. ” Ben Gurion menambahkan: “Zipstein, direktur Pelabuhan Tel Aviv, berasumsi bahwa malam hari akan memungkinkan untuk menurunkan semua muatannya. Saya percaya kita tidak boleh membahayakan Pelabuhan Tel Aviv. Mereka (kapal, amunisi, personel sukarelawan) harus diturunkan di pantai yang tidak diketahui. ” Ketegangan saat itu tinggi karena gencatan senjata awal Perang Kemerdekaan telah berlaku efektif pada tanggal 11 Juni, tepat saat Altalena meninggalkan Prancis. Pimpinan Israel takut bahwa dengan membawa masuk personel kombatan dan senjata baru secara terbuka, mereka akan dianggap melanggar gencatan senjata. Jadi sebuah pelabuhan terpencil harus ditemukan di mana kapal dapat menurunkan muatan dengan tenang. Awalnya, pantai Netanya yang terpilih. 

Personel Haganah dengan senapan mesin ringan Bren dalam latihan di Tel Aviv tahun 1948. Senapan mesin Bren yang amat dibutuhkan termasuk persenjataan yang diangkut oleh kapal Altalena. (Sumber: https://www.worthpoint.com/)

Sebelumnya pada tanggal 1 Juni 1948 telah ditandatangani kesepakatan antara pemerintah sementara Israel dan Irgun untuk melebur Irgun ke dalam jajaran IDF. Dinyatakan dalam perjanjian itu bahwa Irgun akan menghentikan semua aktivitas akuisisi senjata secara independen. Ketika diketahui bahwa kapal Altalena akan datang dengan orang-orang dan peralatan militer di dalamnya, Ben-Gurion bertemu dengan Begin untuk membahas pembagian kargo. Seperti yang telah disinggung diatas, Ben-Gurion menyetujui permintaan awal Begin agar 20% senjata dialokasikan ke Batalyon Irgun di Yerusalem. Namun Ben-Gurion menolak permintaan kedua agar sisa persenjataan ditransfer ke IDF untuk melengkapi batalion Irgun yang baru bergabung. Permintaan ini dianggap sebagai permintaan untuk memperkuat “tentara di dalam tentara”. Setelah melewati beberapa perselisihan dan negosiasi — dan setelah Kapten Fine disuruh membawa kapal ke teluk yang berada 30 kilometer di utara Tel Aviv — pemerintah Israel memberikan keputusannya pada Begin: (bahwa) tidak ada kesepakatan. Pada tanggal 20 Juni, hari Senin, pejabat pemerintah sementara bertemu di Tel Aviv. Ketika kabar tentang rencana pendaratan berhasil mencapai pertemuan tersebut, Ben-Gurion menuntut “agar Begin menyerah dan menyerahkan semua senjata.” Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa resolusi, salah satunya berbunyi: “Kita harus memutuskan untuk menyerahkan kekuasaan kepada Begin atau memerintahkan dia untuk menghentikan kegiatan terpisahnya. Jika dia tidak melakukannya, kita akan melepaskan tembakan. ” Resolusi berikutnya, yang telah menjadi sumber perdebatan tanpa akhir, adalah menuding pemerintah sementara “memberdayakan tentara agar menggunakan kekerasan jika perlu untuk mengatasi perlawanan Irgun dan menyita kapal dan muatannya”. Namun, bagaimanapun kapal tetap datang, sementara saat para teroris Irgun yang kini telah berubah menjadi tentara Israel jelas dalam kondisi terdesak dan kalah dalam pertempuran di Yerusalem karena kekurangan senapan dan amunisi yang sangat dibutuhkan. Pada malam tanggal 21 Juni, Altalena menurunkan jangkar dari Kfar Vitkin. Di pinggir pantai, anggota Irgun menunggu dengan penuh siaga. Tidak peduli apa yang dikatakan dalam perjanjian gencatan senjata, mereka bertekad untuk menurunkan muatan kapal. Sementara itu dua prajurit Palmach datang dengan sebuah perahu dan menawarkan bantuan. Para simpatisan dari kota resor tepi laut di dekatnya, Netanya, juga turun dari tebing dan menuju ke pantai untuk membantu membongkar kargo. Yang pertama turun dari kapal adalah sebagian besar dari 900 sukarelawan, yang segera dibawa ke kamp tentara saat mereka tiba. Kemudian, sepanjang malam, muatan senjata diturunkan dan dibawa ke darat. 

PM David Ben Gurion yang berkuasa menyatakan tidak ada negosiasi dengan Irgun mengenai nasib kapal Altalena. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Kfar Vitkin tahun 1949 dalam peta skala 1: 20.000, dermaga tempat pembongkaran muatan Altalena dilakukan. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Saat matahari terbit, lebih dari sepertiga kargo yang lebih ringan telah dipindahkan dari palka kapal ke pantai — dan kemudian muncul tanda-tanda akan datangnya masalah. Di tebing dan di pantai, dua resimen Haganah, lengkap dengan tank dan artileri, mengepung pasukan Irgun, sementara di laut tiga korvet Israel bersiap menunggu perintah. Perwira Haganah yang bertanggung jawab di tempat itu, Moshe Dayan, memberi waktu 10 menit untuk menyerah pada Begin. Memprotes karena dia membutuhkan lebih banyak waktu, Begin pergi ke Netanya untuk berkonsultasi dengan para pemimpin pemerintah. Sementara itu, personel Irgun ditahan di teluk di pantai dan Altalena terombang-ambing di laut yang tenang, menunggu kabar tentang nasibnya, sementara sebuah pesawat pengamat PBB berputar di atas dan mencatat pelanggaran gencatan senjata yang jelas terlihat ini. Menurut sebagian besar pendapat dari otoritas pemerintah Israel, mereka mengkhawatirkan beberapa aspek dari operasi Irgun ini. Pertama yang menjadi perhatian mereka adalah persetujuannya mengenai gencatan senjata yang mereka terima dan dampak dari pelanggarannya terhadap opini dunia. Kedua, Ben-Gurion khawatir dengan apa yang tampaknya menjadi tantangan bagi otoritasnya oleh kelompok teroris Yahudi seperti Irgun. Jika Irgun diizinkan untuk melakukan apa saja sesukanya, dia tercatat mengatakan, “Kami akan memiliki dua negara — dan dua tentara.” Dia menolak untuk membiarkan adanya pelanggaran terhadap otoritas negara Israel yang baru dibentuk, jika hal semacam itu dibiarkan. Tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Ben-Gurion, Begin kembali ke pantai dan berunding dengan para perwiranya. Saat malam tiba, beberapa jam setelah ultimatum menyerah yang dikeluarkan Dayan berakhir, unit-unit Palmach menyerang. Begin segera melarikan diri dengan perahu dayung ke Altalena, di bawah tembakan dari kapal perang yang aja di ujung cakrawala. Kapten Fine, dengan berani menantang salvo tembakan air, menggerakkan kapalnya yang lebih besar untuk melindungi Begin sampai dia bisa naik ke kapal. Di pantai, dua prajurit Haganah tewas dan enam lainnya luka-luka sebelum personel bersenjata Irgun diserbu dan dipaksa untuk menyerah. 

ALTALENA TENGGELAM

Menurut buku Altalena yang ditulis oleh jurnalis dan analis politik Shlomo Nakdimon, Ben-Gurion sempat menginstruksikan Angkatan Udara Israel untuk menenggelamkan kapal di laut lepas, jauh sebelum kapal itu mendekati pantai. Jika hal ini dilakukan maka akan mengakibatkan hilangnya nyawa yang jauh lebih besar di atas kapal. Gordon Levett, seorang relawan pilot Mahal (satuan sukarelawan internasional yang membantu Israel), menulis dalam bukunya “Flying Under Two Flags” bahwa Heiman Shamir, Deputy Commander of the Air Force, mencoba meyakinkan relawan pilot non-Yahudi untuk menyerang Alralena. Namun, tiga pilot menolak untuk berpartisipasi dalam misi tersebut, salah satunya berkata, “Kamu boleh mencium kakiku. Tapi aku tidak mau kehilangan empat teman dan terbang 10.000 mil (hanya) untuk membom orang-orang Yahudi.” Altalena kemudian berlayar ke selatan, menuju Tel Aviv dengan dibayangi oleh kapal-kapal korvet Israel. Saat kapal mendekati garis pantai, kapal-kapal korvet mulai menembakinya dengan semburan senapan mesin, dan berhenti setelah petempur Irgun di atas kapal Altalena menjawab dengan tembakan senjata Bren yang dipasang di geladak. Di sana, 100 meter dari pantai dan terlihat oleh para jurnalis dan pejabat PBB di teras Hotel Keta Dan, kapal itu kandas. Di pantai, para simpatisan mengerumuni pantai, dan unit-unit Irgun di IDF melakukan desersi untuk membantu rekan-rekan mereka. Menurut rumor, Irgun bermaksud untuk menurunkan muatan dan menggunakan senjata barunya untuk mendirikan negara merdeka dan secara langsung menantang Biro Yahudi dan otoritas Ben-Gurion.

Pasukan IDF dengan senapan mesin mengawasi kapal Altalena. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Penduduk Tel Aviv dan Prajurit IDF menonton Altalena yang terbakar di lepas pantai. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

Gadis Israel berusia 16 tahun yang berpose dalam gambar itu sedang bekerja di toko di Tel Aviv ketika dia mendengar suara tembakan Altalena. Dia meminta seorang fotografer yang lewat untuk mengambil fotonya tanpa, (tampaknya), memahami pentingnya peristiwa bersejarah di sampingnya itu. Foto ini disumbangkan oleh Shimrit Zur (cucu perempuan gadis itu) dan surat kabar Haaretz untuk memperingati Hari Kemerdekaan ke-60 Israel. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Untuk menggagalkan mereka, Ben-Gurion mengadakan rapat darurat pemerintahannya dan mendesakkan wewenang untuk mengambil alih kapal dan menghentikan aksi Irgun dengan menggunakan kekuatan apa pun yang diperlukan. Perintah itu dikeluarkan: “Tangkap Begin … dan tenggelamkan kapalnya.” Di Tel Aviv, di bawah pengawasan korps pers asal berbagai penjuru dunia dan para pengamat PBB, unit-unit Palmach dan Irgun saling berhadapan. Senapan mesin dan tembakan senapan memenuhi udara. Kapal-kapal Korvet menembaki Altalena. Kapanpun Begin terlihat di anjungan, tembakan meningkat. Yigal Allon, komandan Palmach, menggunakan meriamnya. Dari kapal yang kandas, Begin meminta untuk bisa untuk mengevakuasi korban-korban yang terluka. Kapal Altalena rusak parah selama serangan itu. Allon menolak permintaan Begin. Segera Kapten Fine mencoba untuk menyerah, tetapi peluru meriam menghantam kapal saat bendera putih dikibarkan. Beberapa detik kemudian, selongsong lain menghantam kapal, dan meledak menjadi kobaran api. Partisan Irgun di pantai bergegas dengan kapal pesiar kecil yang dirampas dari pantai untuk membantu siapa pun yang masih berada di kapal untuk mengevakuasi Altalena sepenuhnya. Begin dan Fine berada di antara sedikit yang terakhir pergi, Altalena kemudian meledak di belakang mereka saat mereka berhasil mencapai tempat yang aman. Bersama mereka, yang terluka parah, adalah Abraham Stavsky, sang penyelundup veteran — ini akan menjadi aksi pengiriman senjata terakhirnya. 

PELAJARAN PAHIT

Di koloni Jerman Templers di Sarona di pinggiran Tel Aviv, Ben-Gurion bertemu dengan kabinetnya sementara tentara Irgun dan Palmach bertempur di pantai. Unit Irgun yang sedang bersama dengan tentara IDF di luar Yerusalem melakukan desersi. Mereka berbondong-bondong ke barat ke Tel Aviv untuk membantu rekan seperjuangan mereka. Perang saudara di tengah perang kemerdekaan Israel tampaknya segera akan terjadi. Namun pada malam tanggal 22 Juni, persetujuan gencatan senjata telah dicapai antara pihak-pihak yang bertempur. Unit-unit Palmach setuju untuk mundur, meninggalkan pasukan Irgun di pantai. Namun pertempuran antara kedua belah pihak saat itu telah menelan beberapa korban jiwa. Dari 16 orang yang tewas, dua orang adalah sukarelawan asal Kuba yang menaiki Altalena hanya beberapa jam sebelum meninggalkan Prancis dan harus memohon kepada Stavsky untuk mengizinkan mereka bergabung dengan ekspedisinya. Kini di tengah kemenangan, Ben-Gurion berusaha untuk menghancurkan apapun yang tampaknya menjadi lawan di depannya. Para desertir Irgun dikumpulkan dan ditahan, dan unit-unit Irgun yang tersisa di dalam IDF dibubarkan, orang-orangnya disebar di antara resimen-resimen tentara lainnya. Sementara itu Menachem Begin, yang melarikan diri ke wilayah pedalaman, berhasil mencapai stasiun radio klandestinnya dan mengumumkan kepada para pengikutnya bahwa perang saudara harus dihindari. Dia menyatakan tidak akan melawan otoritas pimpinan Ben Gurion dan menuntut diakhirinya  konflik. Selain itu, dia juga meminta tentara Irgun untuk meninggalkan IDF dan berkumpul di Yerusalem, di mana mereka akan melanjutkan pertempuran mempertahankan Kota Tua. Belakangan, Herzl Makov, direktur Menachem Begin Heritage Center di Yerusalem, menyatakan bahwa Begin menyadari apa yang kemudian dia lakukan: “Begin memutuskan untuk tidak melawan. Dia menyadari bahwa itu adalah masalah strategis. Jika kita, orang-orang Yahudi, berperang di antara kita sendiri, maka tidak akan ada kesempatan bahwa upaya kemerdekaan yang mereka perjuangkan akan berhasil. Jadi dia memerintahkan ‘Untuk tidak menembak balik.’ “

Altelena yang terbakar perlahan-lahan tenggelam ke dasar laut. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

Presiden Mesir Anwar Sadat dan PM Israel, Menachem Begin mendapatkan tepuk tangan selama sesi Kongres di Washington, D.C., di mana Presiden Jimmy Carter mengumumkan hasil Kesepakatan Camp David, 18 September 1978. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Di sisi lain ada yang menekankan bahwa Israel benar-benar berhasil menjadi negara yang berdaulat dengan tenggelamnya Altalena. Prof Anita Shapiro, seorang sarjana terkenal yang ahli dalam sejarah Israel, berkata: “Gagasan bahwa minoritas kecil berhak menggunakan kekerasan untuk mengubah jalannya sejarah adalah prinsip dasar dari semua gerakan bawah tanah Yahudi. Dan Ben-Gurion tidak mau hal itu terjadi. ” Sementara itu, badan kapal Altalena yang terbakar tenggelam, dimana senjata, tank, dan senjata antipesawatnya tenggelam ke dasar laut. Rongsokannya kemudian akan tetap menjadi pengingat pahit ketika sebuah negara baru di bawah ancaman eksternal malah menghadapi tantangan internal yang berpotensi memunculkan institusi negara di dalam sebuah negara — dan ketika dua tentara Yahudi, yang seharusnya bersatu untuk melawan musuh bersama, malah saling bertempur satu sama lain. Perdebatan sempat kembali memanas ketika partai Likud yang diketuai Menachem Begin memenangkan Pemilu 1977. Saat itu Begin kemudian berkata, “Prestasi terbesar saya adalah (bahwa saya) tidak membalas (insiden Altalena) dan menyebabkan perang saudara”. Bertahun-tahun kemudian setelah Peristiwa Altalena, pada malam jelang pecahnya Perang Enam Hari, pada bulan Juni 1967 (ketika Levi Eshkol menjabat menjadi Perdana Menteri), Menachem Begin bergabung dengan sebuah delegasi yang mengunjungi Sde Boker untuk meminta David Ben-Gurion kembali dan menerima jabatan sebagai perdana menteri lagi. Setelah pertemuan itu, Ben-Gurion berkata bahwa jika dia dulu mengenal Begin seperti yang dia kenal sekarang, sejarah Israel akan berakhir berbeda. Begin kemudian akan menjadi Perdana Menteri Israel ke-6, yang menjabat dari tanggal 21 Juni 1977 hingga 10 October 1983. Prestasi paling signifikan Begin sebagai Perdana Menteri adalah saat ia berhasil melakukan penandatanganan perjanjian damai dengan Mesir pada tahun 1979, di mana Begin dan Anwar Sadat kemudian sama-sama mendapat Penghargaan Nobel Perdamaian. Pada tahun 2012, puing-puing Altalena ditemukan oleh para ahli kelautan yang ditugaskan untuk menemukan kapal tersebut oleh Begin Center, dalam upaya yang sebagian didanai oleh pemerintah Israel. Altalena akhirnya ditemukan di dasar laut beberapa kilometer di lepas pantai Rishon Lezion pada kedalaman sekitar 1.000 kaki (300 meter). Pemerintah kemudian mengumumkan rencana untuk mengangkat bangkai kapal di masa depan, dan memasangnya di lahan kering sebagai monumen, bisa di Tel Aviv atau di Begin Center. Tugu peringatan untuk 16 petempur Irgun dan 3 tentara IDF yang tewas dalam tenggelamnya Altalena didirikan di Pemakaman Nahalat Yitzhak di Givatayim pada tahun 1998. Upacara peringatan resmi pemerintah untuk para korban diadakan setiap tahun di halaman pemakaman. Upacara tersebut terutama dihadiri oleh kerabat para korban dan tokoh politik Israel.

Memorial Altalena di Pantai Tel-Aviv. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Altalena Affair by David M. Castlewitz

The Altalena Affair – 70 years later By RABBI DAVID GEFFEN; 16 June 2018, 9:40 pm

https://www.google.com/amp/s/atlantajewishtimes.timesofisrael.com/the-altalena-affair-70-years-later/amp/

Fire in the hole: Blasting the Altalena By JOANNA M. SAIDEL; 20 June 2013, 3:39 pm

https://www.google.com/amp/s/www.timesofisrael.com/fire-in-the-hole-blasting-the-altalena/amp/

Raising Israel’s Altalena ship ‘a lesson for the future’ By Matthew Bell; 28 November 2012

https://www.google.com/amp/s/www.bbc.co.uk/news/amp/world-middle-east-20498212

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Altalena_Affair

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Menachem_Begin

 

4 thoughts on “Altalena Affair, Juni 1948: Perang Saudara antar Faksi Yahudi di Tengah Pendirian Israel

  • 18 December 2020 at 9:41 pm
    Permalink

    Thanks a lot for the blog post. Really looking forward to read more. Really Great. Alyson Tally Hachmann

    Reply
    • 18 December 2020 at 10:27 pm
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Best Regard,
      Victor Sanjaya

      Reply
  • 18 December 2020 at 10:54 pm
    Permalink

    Your mode of telling the whole thing in this paragraph is in fact nice, all be able to easily understand it, Thanks a lot. Gae Rice Morris

    Reply
    • 18 December 2020 at 11:08 pm
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Best Regard,
      Victor Sanjaya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *