Arti penting Sepeda sebagai alat angkut logistik dalam Perang Vietnam (1946-1975)

Dalam perang panjang Vietnam untuk memperoleh kemerdekaannya, pertama melawan kekuatan kolonial Perancis dan kemudian melawan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, banyak faktor yang berkontribusi pada kemenangan akhir pasukan Komunis. Pada intinya kunci kemampuan mereka adalah pada kemauan keras dan keuletan jutaan orang Vietnam yang harus mengandalkan cara-cara yang relatif primitif untuk memerangi musuh yang menggunakan teknologi perang yang lebih canggih. Di antara teknik berteknologi rendah — yang sering diremehkan oleh musuh-musuh mereka — yang ternyata terbukti krusial bagi hasil akhir perang melawan Prancis dan, pada tingkat tertentu, Amerika Serikat, adalah penggunaan sepeda sederhana. Poin ini mungkin paling baik digambarkan dalam laporan surat kabar terbitan London tanggal 3 Oktober 1967, yang mengisahkan sidang di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika Serikat. Senator William Fulbright, dari Arkansas, yang menjadi penentang keterlibatan Amerika dalam Perang di Vietnam menanggapi kesaksian wartawan New York Times tentang penggunaan sepeda secara ekstensif oleh pasukan Komunis di Vietnam. Reporter, Harrison Salisbury (telah berkarir sejak masa Perang Dunia II), yang baru saja dari di Hanoi, merinci untuk komite itu tentang bagaimana sepeda memungkinkan Viet Cong (VC) dan Tentara Vietnam Utara (NVA) reguler untuk terus memasok pasukan mereka bahkan di bawah kondisi yang paling buruk. Salisbury mengakhiri kesaksiannya dengan penegasan yang kuat: “Saya benar-benar percaya bahwa tanpa sepeda mereka harus keluar dari perang.” Fulbright yang tercengang, yang hampir melompat dari tempat duduknya, menjawab kepada Salisbury: “Mengapa kita tidak berkonsentrasi membom sepeda mereka alih-alih jembatan? Apakah Pentagon tahu tentang ini? ”Sebagian besar anggota komite dan mereka yang hadir berpikir bahwa senator itu melontarkan pendapat sarkastik. Tawa meledak pada gagasan sejumlah besar pesawat Amerika canggih memburu sepeda di hutan lebat Vietnam. Berbeda dengan yang nyengir dan cekikikan dari mereka yang hadir, keheningan dengan wajah batu muncul dari anggota militer AS berseragam yang turut hadir. Mereka, bersama dengan bos mereka di Pentagon dan di Vietnam, tahu bahwa sepeda musuh sangat penting untuk mempertahankan upaya perang mereka melawan Amerika Serikat dalam perang di Asia Tenggara. Itu bukan masalah tertawa. Faktanya sepeda -sepeda sederhana itu mampu selamat dari gempuran senjata paling modern dalam militer Amerika.

Senator William Fulbright, dari Arkansas, yang menjadi penentang keterlibatan Amerika dalam Perang di Vietnam terheran saat menanggapi kesaksian wartawan New York Times tentang penggunaan sepeda secara ekstensif oleh pasukan Komunis di Vietnam. (Sumber: https://www.imdb.com/)

Latar Belakang

Setelah Perang Dunia II, militer Barat telah meninggalkan angkutan sepeda dan menggantikannya dengan mobil dan kendaraan pengangkut personel lapis baja. Unit-unit infantri sepeda di pasukan Jerman dibubarkan bersama sisa pasukan lain yang dikalahkan dalam perang itu. Tentara Sekutu didemobilisasi, membubarkan sebagian besar pasukan mereka, termasuk semua unit sepeda yang relatif sedikit mereka gunakan selama perang. Satu-satunya di Eropa yang masih memakai sepeda adalah Swiss, di mana pasukan Grenadier bersepeda masih memainkan peran penting. Sementara itu di Asia Timur, penggunaan sepeda dalam perang terus berlangsung di kalangan tentara Merah Cina yang melakukan serangan gerilya terhadap pasukan Nasionalis. Dalam perang saudara China, konvoi truk sering diserang oleh sekelompok kecil kelompok partisan komunis. Di mana-mana sepeda di China memudahkan para partisan untuk berbaur dengan massa, sebelum dan sesudah mereka melakukan serangan mereka terhadap armada truk buatan Amerika milik pasukan Nasionalis pimpinan Chiang Kai Shek. Sementara itu, sehabis Perang Dunia II Prancis yang sekali lagi ingin mengambil kendali atas koloni-koloni mereka di Indochina. Tetapi mereka segera berhadapan dengan kelompok Komunis Vietnam, yang dipimpin oleh Ho Chi Minh, bertekad untuk mengusir imperialis Prancis dari tanah air mereka. Arsitek dari strategi militer mereka adalah Jenderal Vo Nguyen Giap, yang menyerukan dilakukan aksi-aksi skala kecil hingga besar tanpa henti terhadap Prancis, yang dirancang untuk melemahkan mereka dengan secara kumulatif meningkatkan ketidakyakinan mereka, menimbulkan kerugian terus-menerus dan menghancurkan kepercayaan diri mereka. Untuk melakukan ini, Giap harus bisa menggerakkan orang dan berperang dengan cepat dan diam-diam di sekitar medan perang. Pada tahun 1953, setelah tujuh tahun pertempuran sengit, Prancis menderita 74.000 korban, dengan 190.000 tentara lainnya terjebak dalam pendudukan tanpa hasil. Berharap untuk menegosiasikan jalan keluar dari konflik, Jenderal Henri Navarre, komandan militer tertinggi Prancis di Indocina, menyusun rencana untuk menarik Giap ke dalam pertempuran set-piece yang menentukan dan menghentikan pola perang yang mirip pertarungan kucing dan tikus itu. Jika dia dapat meraih satu kemenangan yang jelas, maka Perancis akan berada dalam posisi yang kuat untuk memperoleh penyelesaian politik terhormat yang akan memungkinkan Paris untuk meninggalkan negara itu tanpa harus kehilangan muka.

Partisan Komunis China menggunakan sepeda dalam perang saudara China 1945-1949. (Sumber: https://www.campfirecycling.com/)

Tempat yang dipilih Navarre untuk pertempuran klimaksnya adalah di Dien Bien Phu, sebuah persimpangan transportasi vital di sebuah lembah di ujung barat negara itu, 220 mil dari Hanoi. Tempat ini berada di rute utama menuju ke Laos, di mana jalur pasokan penting Vietnam dari Cina terhubung. Navarre yakin bahwa lawannya tidak memiliki sistem dan peralatan transportasi yang cukup untuk membawa makanan dan senjata yang diperlukan untuk memenangkan pertempuran besar di daerah terpencil ini. Pada akhir November 1953, 15.000 tentara Prancis menduduki Dien Bien Phu dalam Operasi Castor. Vietminh menerima tantangan itu dan dengan cepat mengepung pos terpencil Prancis itu dengan 50.000 prajurit, didukung oleh puluhan ribu pekerja dan kuli yang memotong jalur hutan baru untuk membawa pasokan ke medan pertempuran. Pertarungan untuk merebut pangkalan itu kemudian segera berubah menjadi pertempuran logistik. Prancis sangat keliru dengan meremehkan kemampuan Vietminh untuk mengangkut artileri berat dan pasokan untuk pasukan mereka. Mereka menduga bahwa mereka hanya akan menghadapi mortir, bukan senjata berat jarak jauh. Tetapi Giap ternyata dapat menempatkan 144 artileri berat/meriam howitzer — ditambah belasan kaliber yang lebih kecil — di sekitar pos Prancis yang malang itu. Kunci dari teknik pasokan Vietminh dalam pertempuran epik ini adalah kombinasi berbagai moda transportasi — yang didasarkan pada armada sepeda terbesar dalam sejarah militer. Meskipun pihak Vietminh juga menggunakan 600 truk Molotova 2,5 ton buatan Rusia serta sampan, kuda poni, dan sekitar 200.000 kuli pengangkut muatan, tulang punggung jaringan logistik mereka terdiri dari 64.000 pria dan wanita yang mendorong sepeda mengangkut beban logistik. Giap dengan sabar mengumpulkan ratusan senjata artileri, jutaan amunisi, dan berton-ton makanan di sekitar Dien Bien Phu sebelum mengepung posisi pasukan Prancis.

Diorama satuan logistik Vietminh dalam Museum Kemenangan Dien Bien Phu. Satuan sepeda dan portir manusia menjadi elemen penting kemenangan Vietminh yang monumental pada tahun 1954. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pada tanggal 7 Mei 1954, setelah 3 1/2 bulan persiapan, termasuk penimbunan sejumlah besar makanan dan amunisi, yang kemudian diikuti oleh lebih dari dua bulan pertempuran yang sengit, benteng Prancis yang terkepung di Dien Bien Phu jatuh ke tangan Vietminh. Prancis kehilangan lebih dari 3.000 orang tewas dan 8.000 lainnya ditawan. Sementara Vietminh kehilangan 8.000 tentara tewas. Sepanjang pengepungan, jalur pasokan Vietminh, yang menggunakan transportasi sepeda dan sarana transportasi lainnya, tidak pernah secara serius diganggu oleh pesawat-pesawat Prancis, meskipun Prancis tahu rute pasokan dan area penyimpanan di sepanjang jalan. Mereka tidak memiliki pesawat yang cukup untuk mengganggu aliran pasokan Vietminh yang siang dan malam terus mencapai zona pertempuran. Lebih jauh, kanopi hutan yang lebat membuat penyerangan jalur pasokan menjadi sangat sulit dipastikan akurasinya.

Pasukan Sepeda Vietminh dan Vietnam Utara

Dalam pertarungan mereka melawan Prancis — dan kemudian Amerika — orang-orang Vietnam menyukai sepeda Peugeot buatan Prancis, dengan sepeda buatan Ceko, menjadi sepeda pilihan mereka berikutnya. Mereka mengubahnya menjadi Xe Tho atau Sepeda Beban. Dengan daya angkutnya yang besar, sepeda sangat efektif digunakan di jalan dan jalur sempit Vietnam di musim kemarau, dan mudah dimodifikasi dalam penggunaannya. “Pertama, sepeda kami harus diubah menjadi sepeda pengangkut, dengan kayu penopang yang mampu membawa beban 200 kilogram atau lebih,” kata Ding Van Ty, seorang pemimpin brigade sepeda dan tukang reparasi, dalam buku “The Bicycle in Wartime”, tulisan Jean Fitzpatrick. “Kami harus memperkuat semua bagian …. Kami menyamarkan semuanya dengan daun dan bergerak di malam hari.” Ty menjelaskan bagaimana kursi dilepas dan sebuah rak yang terbuat dari logam, kayu atau bambu diikatkan pada roda belakang. Ini memberikan garis panjang dari mana tas atau kotak digantung dan barang-barang lainnya diikat dengan tali atau potongan ban dalam. Rangka sepeda sering diperkuat dengan menambahkan penyangga dari logam, kayu, atau bambu, memperkuat dudukan roda depan dan meningkatkan kemampuan suspensi. Bahkan dengan dua personel mengawaki setiap sepeda, tonase pasokan yang berhasil dikirim jauh lebih banyak daripada yang dikonsumsi oleh awak sepeda itu.

Diorama operator sepeda NVA dalam Museum Khe Sanh. Seperti mengulang era Vietminh melawan Prancis, Vietnam Utara kembali menggunakan satuan sepeda dalam perang melawan Amerika. (Sumber: Dokumentasi Pribadi).

Setelah dimuati, operator sepeda tidak mungkin berjalan cukup dekat di samping sepeda untuk menggunakan setang secara normal untuk kemudi. Oleh karena itu, tongkat kayu atau bambu diikat pada setang yang cukup panjang untuk memungkinkan operator untuk memegang dan mengarahkan sepeda. Biasanya, tongkat lain dimasukkan ke dalam tabung kursi vertikal yang digunakan untuk mendorong sepeda atau menahannya agar tidak jatuh saat melewati lereng atau tanjakan. Daya angkut untuk kendaraan roda dua yang dimodifikasi ini berkisar hingga 600 pound, dengan beban rata-rata sekitar 440 pound, dibandingkan dengan beban 80 hingga 100 pound yang dapat diangkut oleh portir manusia. Rekor tercapai di Dien Bien Phu dengan satu sepeda mampu membawa beban 724 pound. Rekor ini akan terlampaui satu dekade kemudian ketika sebuah sepeda, atau seperti orang Vietnam Utara menyebutnya, “kuda baja,” mampu membawa 924 pound muatan di sepanjang Jalur Ho Chi Minh pada tahun 1964.

Dengan tongkat dan batang kemudi modifikasi, sepeda mampu mengangkut beban yang lumayan hingga 200-300 kg. (Sumber: The Vietnam War: The Illustrated History of the Conflict in Southeast Asia)

Selain mengangkut orang dan logistik, sepeda juga bertugas mengangkut korban luka di medan perang. Pada tahun 1968, anak perusahaan Peugeot membuat model khusus untuk Angkatan Darat Vietnam Utara yang berisi peralatan bedah dan medis dengan dua lampu utama, dan kabel ekstensi yang dapat dilepas untuk menerangi rumah sakit lapangan kecil. Dan sebuah medevac sederhana dibuat dengan menggunakan dua sepeda yang diikat bersama dengan batang bambu panjang tempat satu atau dua usungan dapat ditempatkan. Pada 1963 Amerika Serikat memiliki 12.000 penasihat militer di Vietnam Selatan dan menggantikan posisi Perancis di Asia Tenggara, dengan tujuan baru untuk mencegah penyebaran komunisme di seluruh wilayah. Dalam enam tahun, lebih dari setengah juta tentara AS dan sekitar 100.000 tentara sekutu akan ditempatkan di Vietnam untuk bertempur melawan Viet Cong dan Vietnam Utara. Mengesampingkan pengalaman dan kekalahan Prancis yang dianggap karena kurangnya teknologi canggih, militer Amerika mengerahkan kemampuannya perangnya, dengan dukungan helikopter dan kekuatan udaranya yang luar biasa secara masif. Mengabaikan nasihat Prancis, militer AS menganggap bahwa hal-hal sederhana seperti sepeda sudah usang dan berpendapat bahwa dampak angkutan sepeda pada kemampuan logistik musuh dapat diabaikan.

Sepeda di Ho Chi Minh Trail

Untuk menghadapi Amerika secara militer, Giap kembali ke strategi yang digunakannya dalam melawan Prancis — mengobarkan perang yang berkepanjangan dan menggunakan Laos dan Kamboja sebagai tempat perlindungan. Sebagai bagian dari skema perangnya, pasukannya akan melawan mobilitas dan daya tembak militer A.S. dengan bergerak dan bertempur di malam hari (meski mereka juga berani beraksi di siang hari, namun pergerakan logistik umumnya dilakukan di malam hari). Dan untuk dapat terus mempertahankan pasukannya di medan tempur, ia tetap mengandalkan transportasi sepeda untuk mengirimkan makanan dan senjata ke pasukannya. Giap menggunakan sepeda, seperti yang dikatakan oleh seorang kolonel Amerika, sebagai “truk pickup.” ribuan dari mereka bergerak setiap hari. Rata-rata mereka bergerak 25 mil sehari, pengendara sepeda Vietnam melintasi jalur sempit yang jarang lurus lebih dari empat meter dan dipenuhi oleh tunggul, akar, dan celah. Kepala dan tubuh para pengendara itu terus-menerus bersinggungan dengan pohon bambu dan tanaman rambat yang menjalar. Mereka melewati jalan setapak yang buruk, banyak jembatan kecil yang bergoyang, yang hanya ditopang oleh tanaman merambat di hutan melewati ratusan jalur air, bahkan yang lebih buruk. Kokoh, dapat bermanuver, dan andal dalam semua kondisi ini, sepeda juga menawarkan keunggulan dalam hal keheningan, dibanding truk misalnya. Pembawa sepeda dapat mendengar pesawat Amerika tepat pada waktunya untuk menarik diri dan menghindari deteksi.

Meski kemampuan sepeda sebagai angkutan logistik telah terbukti, namun bagaimanapun para operator sepeda tetap harus menghadapi tantangan medan dan alam yang berat di belantara Vietnam yang banyak dialiri sungai dan dipenuhi jalanan yang berkontur berat. (Sumber: https://www.combatreform.org/)

Meskipun sebagian besar militer AS menolak pentingnya sepeda dalam perang, Pentagon membuat laporan pada tahun 1965 tentang penggunaannya selama masa perang. Kolonel B.F. Hardaway, kepala Unit Penelitian dan Pengembangan Lanjutan Badan Penelitian Unit Pengembangan Proyek-Vietnam, telah meminta penelitian untuk membantu Pentagon menilai penggunaan sepeda oleh musuh dan menentukan cara terbaik untuk menghadapinya. Pada bagian pendahuluan mencatat, “Ketertarikan pada penggunaan pasukan sepeda muncul sekali lagi, kali ini di Asia Tenggara, di mana jaringan jalan tidak memadai untuk transportasi bermotor, tetapi di mana jalan setapak dan tanggul dapat memberikan jalan yang dapat memungkinkan pergerakan sepeda.” tetapi laporan itu hanya memberi sedikit panduan; sebagian besar didasarkan pada sumber-sumber Amerika, dengan hanya beberapa referensi untuk penggunaan sepeda oleh Jepang di Malaya dan dampak transportasi sepeda terhadap hasil akhir pertempuran di Dien Bien Phu. Segera setelah laporan itu dikeluarkan, atasan Hardaway menginstruksikan dia untuk membatalkan topik pembicaraan – dan melanjutkannya ke masalah yang lebih relevan.

A “steel horse,” or ngua thep, being pushed by its porter. (Sumber: https://www.campfirecycling.com/)

Meski demikian, beberapa pengamatan yang dibuat militer Amerika, setidaknya memiliki beberapa catatan menarik, berikut ini. Disebutkan bahwa “Prajurit pengendara sepeda dengan sepeda yang muatan penuh sesak mampu menempuh jarak rata-rata 50 mil, dan jarak maksimum 100 mil sehari, dengan laju rata-rata delapan hingga 10 mil per jam dan masih tetap siap untuk bertempur, ”tulis analis yang mengkonsultasikan hasilnya dengan pihak Angkatan Darat. Tidak seperti jip atau truk kargo, sepeda tidak mengalami masalah mesin rusak atau kekurangan bahan bakar. Tanpa kendaraan bermotor yang dimiliki, unit militer mungkin perlu menunggu berjam-jam untuk mereka dapat mengumpulkan bus sipil atau alat transportasi lainnya untuk mendukung pergerakan mereka. Praktis hal semacam ini tidak menjadi masalah bagi pasukan sepeda. Dengan sepeda, anggota milisi dapat bergerak secepat mungkin mengirim pemberitahuan ke dusun terdekat jika mereka diserang dan meminta bantuan. Sepeda juga praktis lebih senyap dibandingkan dengan kendaraan bermesin gas atau diesel. Dengan berbagai keunggulan ini, bahkan pihak Vietnam Selatan sempat tertarik untuk menggunakan pasukan bersepeda, namun tidak jelas lagi kelanjutannya.

Tentara Vietnam Selatan mengendarai APC M113. ARVN sempat tertarik untuk menggunakan pasukan bersepeda, namun tidak jelas lagi kelanjutannya. (Sumber: https://nationalinterest.org/)

Selama awal 1960-an, pemerintah Vietnam Utara mulai memperluas dan memodernisasi Ho Chi Minh Trail, yang pada waktu itu sangat sempit sehingga hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau dengan sepeda. Pada tahun 1975, Jalur itu akan terdiri dari 12.000 mil jalan dan jalur yang dibuat ditengah upaya Amerika yang semakin keras untuk menutupnya. Digunakan selama Perang Indocina Pertama sebagai jalur komunikasi ke utara oleh Viet Minh, daerah yang jarang penduduknya yang sejajar dengan perbatasan Vietnam, Laos dan Kamboja sebenarnya adalah sebuah jalur labirin, jalan, dan sungai yang mengalir ke ujung Pegunungan Annamite di Laos timur, melalui beberapa medan yang paling tidak ramah dan hutan yang nyaris tidak bisa ditembus di dunia (waktu itu). Jaringan jalan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dilalui dengan berjalan kaki dengan kecepatan enam mil sehari. Sepeda dan kuda poni digunakan pada bagian-bagian jalan setapak untuk membawa perbekalan ke selatan, tetapi bahkan penggunaannya dinilai tidak praktis. Pada tahun 1964, kehadiran Amerika yang semakin meningkat di Vietnam Selatan menyebabkan Hanoi mulai memperbesar jalur itu menjadi rute truk untuk mengangkut lebih banyak pasokan untuk mempertahankan pasukan VC dan NVA mampu tetap beroperasi di selatan. Jalur itu diperlukan untuk menutupi jalur pasokan via laut, yang nyaris mampu diblokir oleh Amerika lewat Operasi Market Time. Pada 1966, Ho Chi Minh Trail telah menjadi tulang punggung logistik dari upaya militer Vietnam Utara.

Sepeda yang telah mendapat sentuhan modifikasi sehingga dapat mengangkut banyak beban. (Sumber: https://www.campfirecycling.com/)
Truk Zil-157 buatan Soviet di Jalur Ho Chi Minh Trail. Jelang berakhirnya perang, armada logistik Vietnam Utara didukung oleh banyak armada truk, meski sepeda tidak sepenuhnya ditinggalkan. (Sumber: Pinterest)

Aliran perbekalan dan pasukan dari Vietnam Utara terutama keluar di tiga titik utama: Lembah A Shau, Lembah Ia Drang dan Zona Perang C (Wilayah Barat Laut Saigon dari Kamboja). Menggunakan Jaringan jalan yang telah dimodernisasi, jumlah pasukan dan jumlah pasokan yang bergerak ke selatan bertambah secara dramatis, dari total 30.000 orang dan 20 hingga 30 ton pasokan setahun dalam periode 1959-64, menjadi 10.000 hingga 20.000 pasukan per bulan dan 120 ton bahan perang sehari pada 1968, memang bukan jumlah yang besar, apalagi jika dibanding dengan pasokan Amerika, tapi jumlahnya mencukupi untuk kebutuhan perang sehari-hari VC/NVA. Kecukupan pasokan dari Vietnam Utara juga dibantu oleh kebutuhan pasokan yang sedikit dari pasukan tempur Komunis di Vietnam Selatan. Divisi NVA atau VC sebanyak 10.000 orang hanya membutuhkan tiga ton pasokan per hari. Lebih jauh, kebanyakan makanan yang dikonsumsi oleh tentara Komunis banyak diambil dari penduduk desa Vietnam Selatan sebagai bentuk pajak yang lokasinya tidak jauh dari markas mereka di selatan. Salah satu perkiraan Intelijen AS menyebutkan bahwa pasokan eksternal pihak komunis untuk pasukan di Vietnam Selatan sekitar 100 ton per hari – 15 ton dikirimkan melalui DMZ, 35 ton lewat Kamboja dan 50 ton dari Laos. Pada tahun 1968 saat Serangan Tet dan operasi besar lainnya dilaksanakan, angka-angka ini meningkat tetapi masih ada di kisaran 120 ton setiap hari. Sebaliknya satu divisi tempur berat AS membutuhkan sekitar 5 kali jumlah ini. Hasil dari semua faktor ini memungkinkan sepeda, yang berlimpah di seluruh wilayah Vietnam, dapat dimanfaatkan sepenuhnya dan menyediakan moda transportasi yang murah dan siap untuk mendukung kebutuhan logistik militer yang paling sederhana.

Kecukupan logistik pihak militer komunis di Vietnam Selatan selama perang, selain didukung armada logistik yang ulet, juga disebabkan karena konsumsi unit-unit tempur mereka yang minim, dibanding militer lawannya. (Sumber: pinterest).
Pemboman udara besar-besaran kekuatan udara Amerika terbukti gagal dalam menghentikan arus logistik pasukan Vietnam Utara. (Sumber: https://portside.org/)

Upaya Amerika untuk menghentikan lalu lintas di jalur Ho Chi Minh dilakukan terus-menerus namun tidak berhasil. Operasi rahasia CIA, serangan darat dan pemboman besar-besaran B-52 semuanya gagal menghentikan arus pergerakan pasukan dan logistik komunis di Ho Chi Minh Trail. Tonase bom yang dijatuhkan di jalur yang melewati Laos menunjukkan besarnya skala kampanye udara Amerika, dimana tonase dan sortie yang dilakukan adalah sebagai berikut: tahun 1969– 433.000 ton, tahun 1970–394.000 ton (74.147 sorti), tahun 1971–402.000 ton (69.000 sorti). Taktik yang paling efektif untuk mengganggu pergerakan di jalur itu adalah penggunaan serangan helikopter skala kecil terhadap lalu lintas truk. Meskipun helikopter hanya menerbangkan sebagian kecil dari misi serangan terhadap konvoi truk di Jalur itu, mereka menyumbang setengah dari kerusakan yang ditimbulkan pada mereka. Helikopter, bagaimanapun, rentan terhadap ribuan senjata antipesawat musuh yang disebar di Ho Chi Minh Trail pada akhir 1960-an, dan misi-misi ini segera digantikan oleh serangan bom dari bomber B-52 yang terbang tinggi — tapi sangat tidak akurat. Ketika pemboman AS menghentikan sebuah barisan truk, sepeda dan kuli manusia akan dikirim untuk mengangkut barang. Secara keseluruhan, serangan udara AS terhadap jalur itu hanya menimbulkan 2 persen dari kerugian yang diderita Vietnam Utara saat menggunakan Ho Chi Minh Trail. Meskipun kekuatan udara Prancis dan A.S. tidak dapat menghentikan aliran pasokan di sepanjang Ho Chi Minh Trail, medan itu tetap mengambil banyak korban di pihak Viet Minh dan kemudian portir Vietnam Utara dan para pengendara sepeda. Tujuh puluh dua kuburan militer yang berjajar di jalur itu membuktikan bahaya alam yang ditimbulkan selain karena intervensi manusia telah banyak memakan korban. Lebih banyak pengendara sepeda dan kuli angkut — perkiraan berkisar antara 10 hingga 20 persen — tewas karena penyakit, kelelahan, dan serangan harimau, gajah, dan beruang daripada oleh bom atau peluru. Mereka beristirahat di banyak pos di Jalur, yang benar-benar tidak lebih dari tempat terbuka di hutan, dan mereka dipindahkan setiap beberapa hari untuk mencegah musuh menemukan mereka.

Aftermath

Ironisnya selepas perang, bersepeda di bekas jalur Ho Chi Minh Trail menjadi salah satu kegiatan wisata yang menarik wisatawan untuk datang ke Vietnam. (Sumber: http://www.cyclingvietnam.net/)

Ketika Perang Vietnam semakin meningkat intensitasnya, begitu pula ukuran dan ruang lingkup penggunaan Ho Chi Minh Trail, yang lebih dari apa pun menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Vietnam Utara adalah perang logistik, dimana dalam perang ini Vietnam Utara tidak kalah,tidak peduli apa yang dilakukan Amerika Serikat. Mulai tahun 1965, jumlah truk Vietnam Utara yang melintas ke selatan sepanjang Ho Chi Minh Trail naik menjadi sekitar 2.300, dengan 2.500 bergerak ke arah yang berlawanan. Jumlah ini akan meningkat secara dramatis selama sisa perang karena truk kemudian menjadi andalan pengangkutan logistik dari Vietnam Utara. Sepeda, bagaimanapun, tidak pernah sepenuhnya diganti sebagai alat transportasi material perang. Faktanya, organisasi yang bertanggung jawab atas pergerakan semua persediaan ke selatan di sepanjang Jalur, Grup Transportasi ke-559, sepanjang perang masih mempertahankan antara 50.000 pasukan dan 100.000 buruhnya dan dua batalion sekitar 2.000 pengendara sepeda yang terlibat dalam memindahkan pasokan ke daerah-daerah yang tidak dapat diakses di sepanjang jalur tersebut melengkapi tugas konvoi truk. Memang, di hutan-hutan Vietnam, sepeda terus menjadi pesaing melawan teknologi perang terbaik abad ke-20 yang dimiliki Barat. Uniknya, orang-orang Vietnam kini memanfaatkan Ho Chi Minh Trail untuk tujuan pariwisata. Meskipun tidak ada lagi jaringan jalan primitif seperti dulu, melainkan jaringan jalan, dan sementara jalur itu tidak pernah dikenal oleh orang Vietnam sebagai Ho Chi Minh Trail (yang merupakan nama pemberian pihak Amerika), sekarang ada lusinan perusahaan yang akan membawa wisatawan Barat menyusuri jalan jalur bersejarah itu dengan bus, mobil, motor, dan ya, sepeda.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Pedal Power – Bicycles in Wartime Vietnam by Arnold Blumberg, who served in the U.S. Army during the Vietnam War, is a frequent contributor to military history publications and is the author of the forthcoming book from Casemate Publications, When Washington Burned: An Illustrated History of the War of 1812.

https://www.historynet.com/pedal-power-bicycles-in-wartime-vietnam.htm

How the Bicycle Won the Vietnam War by Wesley Cheney, Jan 30, 2017

https://www.campfirecycling.com/blog/2017/01/30/how-the-bicycle-won-the-vietnam-war

South Vietnamese Troops Almost Fought on Battle Bicycles by Joseph Trevithick, 23 July 2018

https://nationalinterest.org/blog/buzz/south-vietnamese-troops-almost-fought-battle-bicycles-26526

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Viet_Cong_and_Vietnam_People%27s_Army_logistics_and_equipment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *