Beretta BM-59 Asal Italia: Dilisensi Sebagai SP-1 dan Menjadi Pelopor Senapan Infanteri Produksi Indonesia

Senapan M1 Garand asal Amerika dikenal sebagai senapan self-loading (peluru bisa naik dengan sendirinya ke kamar peluru untuk dapat ditembakkan tanpa harus mengokang setiap kali menembak) pertama yang digunakan secara luas di dunia dan dipakai oleh jutaan orang bersama pasukan Amerika dan Sekutunya selama Perang Dunia II dan konflik-konflik sesudahnya. Selama konflik, senapan tersebut memainkan peran utama dalam pertempuran yang tak terhitung jumlahnya dan dikenal sebagai senjata yang kuat dan dapat diandalkan. Namun, senapan itu secara taktis terbatas karena hanya bisa menembak dari “klip” berkapasitas delapan peluru pada satu waktu. Selain itu, bodi kayu yang mendominasi layout senapan menjadikannya senjata yang cukup berat untuk digunakan dalam jangka waktu panjang. Selepas perang, di Amerika senapan ini berevolusi menjadi senapan M-14 yang dipasangi magazine peluru berkapasitas 20 peluru dan berbagai penyempurnaan lainnya. Sementara itu di Italia, desain senapan M1 Garand berevolusi menjadi Battle Rifle/senapan tempur BM-59. Dikembangkan oleh Pabrikan Beretta untuk Angkatan Darat Italia, BM 59 adalah Battle rifle klasik kaliber 7.62mm. BM 59 adalah senapan yang sejaman dengan senapan FN FAL, G3, MAS Mle 1949/56, M-14, dan AKM asal Soviet yang jauh lebih dikenal.

Senapan Battle Rifle Beretta BM-59 asal Italia yang kurang begitu dikenal dibanding FN FAL, G3, M-14, dan senapan serbu AKM asal Soviet. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

LATAR BELAKANG KEBUTUHAN SENAPAN INFANTERI ITALIA

Sejarah senapan BM-59 sendiri dapat dirunut jejaknya dari masa Perang Dunia II saat pasukan Italia bertempur melawan Tentara Merah Soviet. Perlu untuk diingat juga bahwa BM-59 dirancang pada saat “Beruang Rusia” mengancam wilayah Eropa Barat setelah berakhirnya Perang Dunia II. Dengan demikian, senapan itu dibuat bukan sekedar mengikuti jejak senapan M1 yang disuplai AS pasca perang melainkan juga berdasar pengalaman senapan veteran yang pernah menghadapi berbagai pertempuran sengit di Front Timur, yakni senapan Carcano kaliber 6,5×52 mm. Tidak seperti kekuatan besar NATO lainnya seperti Inggris, Amerika Serikat, atau Prancis, orang-orang Italia setelah Perang Dunia II berakhir, bisa dibilang benar-benar memiliki pengalaman tempur dalam melawan Tentara Merah dalam medan perang sesungguhnya. Mussolini dalam Perang Dunia II telah mengirim sebanyak 235.000 tentara Italia ke Front Timur untuk mendukung sekutu Jerman mereka. Nasib mereka yang dikirimkan ke front timur sangat suram, dimana 114.520 diantaranya tewas, ditangkap atau terluka dan Angkatan Darat ke-8 Italia sendiri hampir hancur di bawah kekuatan raksasa Soviet yang tak terhentikan. Setelah pernah berhadapan dengan tentara Soviet, hal ini memberi orang Italia gambaran yang baik tentang fitur apa yang harus dimiliki senapan tempur mereka di masa depan. Sementara itu mengenai Carcano, senapan dan karabin Carcano kaliber 6,5x52mm telah digunakan tentara Italia dalam dua Perang Dunia serta beberapa petualangan kolonial mereka. Yang pertama dalam seri senapan ini adalah senapan panjang yang diberi nama Modello 91 yang dikembangkan oleh Salvatore Carcano dari Turin Army Arsenal pada tahun 1890. Dioperasikan dengan mengokang secara manual, senapan ini memiliki dua lugs pengunci yang berlawanan secara horizontal dan ekstraktor kait sederhana. Desain senapan ini sangat sederhana dan sangat mudah untuk diurai dan dirawat di lapangan.

Dalam pertempuran sengit di Front Timur Perang Dunia II, 114.520 tentara Italia tewas, ditangkap atau terluka oleh aksi pasukan Soviet. (Sumber: https://www.firearmsnews.com/)
Keluarga senapan infanteri Carcano asal Italia yang digunakan sejak awal abad ke-20 hingga saat Perang Dunia II berakhir. (Sumber: https://svppbellum.blogspot.com/)

Sementara kekuatan dari senapan Carcano telah lama dipertanyakan, senapan ini sebenarnya sangat kuat, aman dan terbuat dari baja berkualitas tinggi. Mengisi amunisi senapan ini terhitung sederhana karena peluru dimasukkan dari klip en blok berkapasitas enam peluru dan bukan bertipe klip stripper gaya senapan Mauser yang hanya memuat lima peluru. Senapan ini menembakkan proyektil seberat 162 grain berdiameter 0,267 inci pada kecepatan sekitar 2.300 fps dari laras senapan yang memiliki panjang 30,7 inci (77,98 cm). Koefisien balistik dari proyektil ini kira-kira 0,275 dan M91 memiliki pengaturan pembidik untuk menyasar target sejauh 300 meter. Meskipun tidak memiliki dengan fitur-fitur yang luar biasa, senapan M91 mudah dioperasikan, cukup andal dan digunakan secara intensif dalam pertempuran berat dengan kondisi yang brutal selama Perang Dunia I. Sejumlah versi karabin dan senapan pendek kemudian segera menyusul untuk diadopsi. Catatan setelah pertempuran selama pertempuran di wilayah Afrika Utara Italia (antara tahun 1924-1934) dan kemudian dalam Perang Italo-Abyssinia Kedua (tahun 1935-1936) menunjukkan kinerja yang tidak memadai dari peluru standar kaliber 6,5×52 mm. Alih-alih mengambil solusi logis dan merancang proyektil Spitzer modern untuk meningkatkan eksterior dan terminal balistik dari peluru tersebut, orang-orang Italia malah memutuskan untuk melakukan perubahan drastis. Mereka mengembangkan peluru kaliber 7,35x51mm baru dengan peluru FMJ spitzer 128 grain berdiameter 0,299-0,300 inci modern yang menampilkan inti aluminium di bagian hidung peluru. Dengan ujung peluru yang ringan, mirip dengan peluru kaliber .303 MK VII, peluru ini mampu memberikan efek yaw (kondisi dimana proyektil akan berputar saat menghantam target dan menimbulkan luka yang lebih parah) di awal untuk meningkatkan kinerja terminal peluru. Dengan kecepatan 2.480 fps, peluru kaliber 7,35x51mm memiliki inovasi yang sangat maju pada masanya dan memang kemudian berfungsi sebagaimana mestinya. Tetapi rencana untuk mengganti peluru 6.5x52mm dengan kaliber 7,35x51mm dibatalkan pada tahun 1940 karena masalah logistik. Jadi peluru FMJ 6,5×52 mm dengan ujung bundar gaya abad ke-19 yang sudah ketinggalan zaman terpaksa digunakan secara terus menerus selama Perang Dunia II.

Senapan Carcano M91 pelurunya diisi dari klip en bloc enam peluru yang dimasukkan melalui bagian senapan. Dibanding senapan M1891 / 30 Mosin-Nagant asal Soviet, senapan Carcano memiliki keunggulan kapasitas klip peluru yang lebih besar, yakni 6 banding 5. (Sumber: https://www.firearmsnews.com/)

Di atas kertas, senapan Carcano M41 dengan peluru kaliber 6.5x52mm era Perang Dunia II tampaknya sepadan dengan senapan Soviet, M1891 / 30 Mosin-Nagant yang memiliki kaliber 7.62x54mmR. Dalam praktiknya, peluru Carcano jauh lebih mudah untuk dimuat, punya hentakan lebih kecil, serta punya satu peluru tambahan pada clip nya dan mekanisme operasi senapannya memiliki kecepatan yang setara. Dengan fitur pengaturan pembidik berjangkauan 200 meter, memungkinkan senapan ini dengan cukup mudah menembak target seukuran manusia pada jarak efektif pertempuran pasukan infanteri. Namun, pembidik pada senapan Mosin-Nagant  M1891 / 30 lebih baik, dan senapan Mosin terbukti lebih andal dalam kondisi yang sangat keras dan cenderung lebih akurat. Ditambah peluru 7,62x54mmR membuktikan diri lebih efektif? karena proyektil Carcano yang memiliki ujung bulat panjang sangat stabil dan cenderung menghantam lurus tanpa menimbulkan efek yaw kecuali tulang yang terhantam langsung. Masalah sebenarnya bukanlah bagaimana M41 Carcano mampu melawan senapan M1891 / 30, melainkan kurangnya senjata otomatis yang tersedia untuk infanteri Italia pada masa itu. Pada awal perang, infanteri Soviet telah dilengkapi dengan senapan SVT-40 yang dapat memuat pelurunya sendiri tanpa harus mengokang. Kemudian dalam perang mereka juga dilengkapi dengan senapan sub mesin otomatis tipe PPSh-41 dan PPS-43. Pada saat itu Industri Italia tidak dapat memenuhi kebutuhan senjata otomatis bagi Angkatan Daratnya. Sangat sulit bagi infanteri Italia yang sebagian besar dilengkapi senapan sistem kokang manual untuk mendapatkan, dan mempertahankan, keunggulan daya tembak atas musuh-musuh Sovietnya. Daya tembak (meski berjarak pendek) dari  pasukan infanteri Tentara Merah yang berjumlah masif dan dilengkapi dengan senapan sub mesin ringan menjadi tidak tertahankan, hal Ini utamanya ketika mereka juga didukung oleh tank-tank T-34 atau KV.

Senapan semi otomatis SVT-40 asal Soviet. Kemampuan SVT untuk mengisi peluru secara otomatis tanpa mengokang, memberi keunggulan tersendiri bagi pasukan infanteri Soviet dibandingkan dengan pasukan infanteri Italia. Selepas Perang Dunia II, kebutuhan akan senapan semi otomatis dan full otomatis bagi merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi bagi militer Italia yang telah memiliki pengalaman pahit di Front Timur. (Sumber: https://www.forgottenweapons.com/)
Senapan Sub Mesin PPSh-41 (atas) dan PPS-43 (bawah) memberikan keunggulan daya tembak bagi pasukan Soviet yang tidak bisa diimbangi oleh tentara Italia yang kekurangan senjata otomatis. (Sumber: https://www.dreamstime.com/)

Pada tahun-tahun pasca-perang setelah Kerajaan Italia berganti menjadi Republik pada tahun 1946, Tentara Kerajaan kemudian hanya dikenal sebagai Tentara Italia saja. Ketika memori Tentara Kerajaan mulai memudar dan masuk ke dalam buku-buku sejarah, begitu pula seri senapan Carcano. Awalnya senapan Lee Enfield Inggris menggantikannya sebelum kemudian angkatan bersenjata Italia mengadopsi senapan M1 Garand kaliber .30 buatan Amerika. Amerika Serikat yang memiliki kelebihan senapan M1, telah menyebarkannya secara bebas ke seluruh Eropa, termasuk Italia, dimana dalam waktu 2 tahun (beserta spare part nya) dibuat 100.000 pucuk oleh pabrik-pabrik senjata Italia. Dikenal sebagai sebagai senapan Model 1952 dalam dinas militer Italia, senapan M1 yang bekerja secara semi-otomatis merupakan peningkatan dari senapan Carcano bolt-action dari abad ke-19. Namun pada tahun 1950-an, senapan M1 dengan cepat sudah menjadi ketinggalan zaman. Senapan ini dinilai cukup panjang, berat dan sulit untuk diproduksi, sementara itu senapan M1 sendiri yang menggunakan peluru klip en bloc delapan peluru adalah peninggalan pemikiran era sebelum masa perang. Kini ancaman baru yang dihadapi Italia dan Eropa Barat adalah Tentara Merah Soviet. Tentara Soviet tidak hanya pernah mengobrak-abrik unit terbaik yang dimiliki Italia, tetapi mereka sendirian juga menyumbang 80% dari semua korban yang diderita tentara Jerman selama Perang Dunia II. Dengan pengalamannya, Veteran Italia di Front Timur telah mengetahui tantangan yang dihadapi dalam memerangi tentara Soviet. Ditambah lagi, pada tahun-tahun pasca perang, Rusia mulai dengan cepat melengkapi kembali para prajuritnya dengan desain senjata modern yang dikembangkan dari pelajaran yang didapat mereka selama perang. Peralatan-peralatan tempur terbaru Soviet ini termasuk tidak hanya pesawat dan tank modern, tetapi juga generasi baru senjata ringan yang digunakan oleh prajurit-prajurit infanteri mereka. Unit-unit Soviet, beberapa tahun setelah perang usai, segera mulai menerima senapan serbu AK-47 kaliber 7.62x39mm terbaru dan senapan mesin otomatis tingkat regu, tipe RPD.

Selepas perang dunia II surplus dari senapan semi otomatis M1 Garand berkapasitas 8 peluru per klip asal Amerika membanjiri pasaran dunia, sementara di Italia sendiri senapan M1 dilisensi oleh pabrik-pabrik senjata Italia dengan sebutan Senapan Model 1952. (Sumber: https://www.turbosquid.com/)
Senapan serbu otomatis AK-47 yang legendaris. Pada awal tahun 1950an, pasukan infanteri Soviet sudah mulai dilengkapi dengan senjata-senjata ringan full otomatis, yang memberikan mereka keunggulan dalam volume penembakan. (Sumber: https://www.britannica.com/)
Senapan Mesin Tingkat Regu, RPD asal Soviet, senapan ini memberikan keunggulan daya tembak otomatis di tingkat regu, sementara dengan bobot dan ukurannya yang cukup ringkas, memudahkannya untuk dibawa bergerak dengan cepat. (Sumber: https://www.wallpaperflare.com/)

Sementara itu, Inggris yang dikenal berpikiran maju dalam desain senapan dan peluru di tahun-tahun pasca-perang, kekuatan mereka dengan segera menurun. Amerika-lah yang kemudian akan mendikte kaliber baru apa yang akan dilakukan oleh negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang baru. Daripada merancang sesuatu yang sama sekali baru, seperti yang dilakukan Inggris dengan peluru kaliber 7mm MK 1Z, US Army Ordnance, lebih memilih hanya merombak peluru kaliber 0,30 yang sudah ada, memperpendek casing-nya dari 63mm menjadi 51mm. Peluru 7,62x51mm yang baru itu mendorong proyektil FMJ-BT 0,308 inci dengan inti timah 147 grain pada kecepatan sekitar 2.750 fps. Dengan peluru ini militer negara-negara NATO akan memiliki peluru senapan tempur dengan kekuatan “tradisional” meski mereka menginginkannya atau tidak. Sementara Inggris awalnya mengambil jalan mereka sendiri dan mengadopsi peluru 7mm MK 1Z mereka, namun mereka kemudian segera menyerah. Jadi, pilihan telah dijatuhkan pada peluru senapan baru yang akan digunakan Angkatan Darat Italia dan negara-negara NATO lainnya. Hanya Prancis, dengan peluru kaliber 7,5x54mm yang sangat mirip dengan peluru tersebut, memilih mengabaikan arahan Amerika dan disamping itu Prancis sendiri akhirnya menarik pasukan mereka keluar dari NATO.

Peluru kaliber 7mm MK 1Z, asal Inggris. (Sumber: https://militarycartridges.com/)
Peluru kaliber 7,62x51mm yang ditetapkan menjadi standar NATO. (Sumber: https://www.pixelsquid.com/)
Hanya Prancis yang cukup nekad memilih kaliber peluru mereka, yakni kaliber 7,5x54mm. (Sumber: https://militarycartridges.com/)

Sementara itu pencarian senapan yang dapat menembakkan peluru kaliber 7.62x51mm modern untuk menggantikan senapan M1 kaliber .30 yang sudah menua di Italia dimulai. Senapan tempur atau Battle Rifle yang dimaksudkan untuk mengadopsi peluru 7,62x51mm standar NATO yang baru pada masa itu telah berkembang menjadi senapan dengan beberapa fitur utama, yakni: cukup ringan, punya pilihan penembakan otomatis, dan disuplai peluru dari magazine. Di Eropa sendiri kemudian muncul 2 tipe senapan tempur yang bisa menembakkan peluru kaliber 7.62x51mm standar NATO dan mendominasi pasaran waktu itu. Yang pertama adalah senapan FAL (Fusil Automatique Leger), yang dirancang oleh FN Herstal (Belgia) antara tahun 1948 hingga tahun 1954 oleh Dieudonne Saive dan kemudian diadopsi oleh Belgia, Inggris Raya (dengan produksi lokalnya diberi kode L1A1 SLR/Self Loading Rifle), Jerman, Belanda, Israel, Argentina dan 69 negara lainnya (dalam bahasa Italia terminologi militer singkatan “FAL” juga berlaku untuk senapan BM-59 yang akan diadopsi kemudian). Sementara yang lainnya adalah CETME-Heckler & Koch , yang lebih dikenal sebagai senapan G3, dimana senapan ini dirancang oleh mantan karyawan pabrik Mauser dan berasal dari senapan serbu model 1945 untuk kemudian dikembangkan di Spanyol, Belanda dan Jerman pada 1950-60; Selain ketiga negara tersebut, senjata tersebut diadopsi oleh militer Portugal, Norwegia, Denmark, Turki dan Italia sendiri (hanya untuk penembak jitu).

FAL senapan lansiran FN Herstal (Belgia), yang populer digunakan di seluruh dunia. (Sumber: https://sofrep.com/)
Senapan G3 asal Heckler & Koch (Jerman). Bersama dengan FAL, G3 mendominasi pasaran Battle Rifle dunia. (Sumber: https://modernfirearms.net/)
M-14 Battle Rifle asal Amerika yang dikembangkan dari M1 Garand. Pendekatan ini kemudian diadopsi oleh pabrikan Beretta asal Italia dalam membuat Battle Riflenya sendiri. (Sumber: https://weaponsystems.net/)

Meskipun kedua senjata ini bisa dibilang dapat menyelesaikan kebutuhan operasional utama pasukan, namun keduanya merupakan beban ekonomi yang cukup besar bagi negara selain produsen dan tentunya membutuhkan kursus pelatihan baru untuk penembak dan para teknisi. Kondisi ini menyebabkan pabrikan Breda mengembangkan senapan Model 39 yang gagal dan lebih menyerupai senapan olahraga daripada senjata militer. Beberapa desain senapan lain kemudian diserahkan kepada pihak Angkatan Bersenjata, dan setelah melalui proses eliminasi, kontestan berkurang menjadi dua finalis. Ironisnya, keduanya adalah hasil modifikasi senjata api yang berasal dari negara lain; desain yang pertama adalah LF-59 Franchi yang merupakan modifikasi dari FN FAL, sedangkan satunya lagi adalah BM-59 dari Beretta yang dirancang oleh Domenico Salza. Pihak Beretta memang mengambil jalan yang mudah dengan hanya memodifikasi senapan M1 untuk memenuhi kebutuhan senapan Angkatan Darat Italia. Berkat pengetahuannya yang mendalam tentang desain Garand dan pembuatannya, serta potensi kemampuannya yang masih dapat dieksploitasi mereka merancang senapan baru.

Senapan Breda Model 39 yang gagal, karena lebih menyerupai senapan olahraga. (Sumber: https://www.thefirearmblog.com/)
Senapan LF-59 Franchi yang berkompetisi dengan desain BM-59. LF-59 didasarkan pada desain FN FAL. (Sumber: https://guns.fandom.com/)

Selain melakukan program riset dan pengembangan untuk mendesain senapan otomatis baru, Beretta memutuskan untuk terlebih dahulu memastikan ada atau tidaknya kelebihan tersembunyi dari desain mekanisme dasar Garand. Beretta yang sudah memproduksi senapan dan suku cadang M1 di pabrik mereka di Brescia, ditambah dengan adanya sejumlah besar senapan dan suku cadang buatan Amerika memilih jalur tersebut yang dinilai juga lebih ekonomis. Perlu diketahui, saat itu Italia masih belum pulih benar dari kehancuran akibat Perang Dunia II. Setelah dua tahun riset dan melakukan beberapa modifikasi mekanisme Garand, Beretta dengan panduan insinyurnya Domenico Salza menyimpulkan bahwa dengan menambahkan beberapa perubahan mesin pada yang digunakan untuk memproduksi Garand, mereka dapat membuat senapan baru yang memenuhi spesifikasi NATO dengan biaya yang lebih rendah. Dengan latar belakang desain seperti ini, desain BM-59 dinyatakan sebagai pemenang mengalahkan LF-59. Setelah program desain dan pengujian BM-59 diselesaikan dengan memuaskan pada bulan Maret tahun itu, rangkaian pertama dari pengujian ekstensif oleh Angkatan Bersenjata Italia di poligon eksperimental Santa Severa, di provinsi Roma dimulai. Ketika hasil laporan dikirim ke pejabat NATO, SHAPE (Komando Tertinggi Sekutu di Eropa, yang kemudian ditempatkan di Paris) meminta serangkaian tes operasional untuk dilakukan. Semua otoritas militer NATO diundang untuk menghadiri program uji tembak terakhir yang dilakukan pada tanggal 23-24 Juni di Pabrik Pengembangan Persenjataan Satory, dekat Versailles. Setelah keberhasilan tes ini, selain memberikan rekomendasi, SHAPE telah mendesak agar program penelitian dan pengembangan BM-59 yang lebih baik diselesaikan. Pada tahun 1959, BM-59 secara resmi diadopsi oleh militer Italia.

DESAIN

BM-59 buatan Beretta rancangan Salza pada dasarnya adalah senapan M1 yang dimodifikasi dengan mengubah kaliber pelurunya menjadi 7,62x51mm serta ditambahkan pilihan fitur penembakannya. Pada proses awalnya Salza hanya merancang modifikasi yang mengubah senapan M1 dari kartrid kaliber M2 kaliber .30 menjadi kaliber 7.62 mm NATO yang baru dengan pemasangan laras baru, tetapi kemudian Salza mulai mengurangi ukuran dan berat dari Garand, menyederhanakan mekanisme pengisian pelurunya dan memperkenalkan mekanisme operasinya yang telah terbukti ke komponen-komponen yang mampu mengakomodasi penembakan otomatis penuh. Proses ini dimulai dengan munculnya BM59 E — “BM” singkatan dari “Beretta Modified” —sebuah senapan yang menggabungkan beberapa fitur baru seperti: kompensator recoil / flash suppressor, bantalan penahan hentakan dan magasin 20-peluru yang dapat dilepas pasang. Klip en bloc standar M1, yang selama ini menjadi standar senapan militer Italia akhirnya diganti dengan magasin kotak berisi 20 butir yang bisa dilepas pasang. Meskipun magazine BM-59 dapat dilepas pasang dengan cara yang sama seperti pada senapan FAL, M14, atau AK-47, namun magasin BM-59 juga dapat diisi ulang melalui menggunakan stripper clip, seperti pada senapan SKS buatan Soviet. Faktanya, ini adalah cara yang dianjurkan oleh Angkatan Darat Italia, dimana mereka meminta para prajuritnya untuk mengisi kembali senjata mereka di lapangan; masing-masing diberi beberapa stripper clip, dan hanya satu magazine. Sementara itu magazine pada senapan M-14 Amerika yang sama-sama dikembangkan dari M1 Garand juga dapat diisi ulang dengan cara yang sama, meskipun beberapa negara yang mengadopsinya memberikan lebih dari satu magazine untuk setiap senapan yang dibagikan ke prajurit-prajuritnya.

BM-59 merupakan modifikasi secara ekstensif dari senapan M1 Garand, dengan penambahan eksternal yang paling kentara adalah adanya magazine berkapasitas 20 peluru. (Sumber: https://www.firearmsnews.com/)

BM-59 dilengkapi dengan laras sepanjang 19,3 inci (49,022 cm) dimana larasnya dipasang pada body senapan yang terbuat dari kayu dengan penambahan handguard. Bagian dalam laras senapan BM-59 sama seperti M1 Garand, memiliki 4 alur dengan putaran ke arah kanan (meskipun panjang putaran mungkin berbeda pada senapan standar dengan versi laras yang lebih pendek). Sistem operasi dari BM-59 juga sama dengan M1 Garand; senapan ini dioperasikan berdasar sistem gas dengan “rotating bolt” dan “long-stroke gas piston”, meskipun seperti telah disebutkan sebelumnya, memiliki pilihan mode penembakan yang diintegrasikan ke dalam desainnya, dengan laju kecepatan penembakan sebesar 750 peluru / menit (banyak sumber mengklaim hingga 800 rpm, dan tidak jelas angka mana yang lebih akurat). Tuas pengamannya juga tidak berubah seperti pada M1 Garand, dimana senjata dalam posisi aman saat tuas didorong ke trigger group, dan memungkinkannya untuk menembak saat tuas didorong di depan trigger group. Pembidik BM-59 bertipe full adjustable rear aperture khas M1 Garand yang dapat disesuaikan, dengan satuan ukuran jaraknya diubah menjadi meter, dan bilah depan yang terlindungi. Yang membuat BM-59 menarik adalah bagaimana orang-orang Italia memilih untuk memodifikasinya. Senapan ini memiliki fitur bipod (kaki penopang senapan) lipat yang dipasang ke silinder gas. Bipod ini membantu memberikan stabilitas yang berguna pada saat menembak. Dikombinasikan dengan kemampuan tembak otomatis penuh, hal ini memungkinkan setiap penembak untuk bertindak sebagai pemberi dukungan tembakan otomatis interim di tingkat regu (disamping itu Beretta juga memproduksi versi semi-otomatis yang diberi nama BM-59 SL).

(Kiri) Pembidik belakang pada BM-59 yang dapat disesuaikan ketinggiannya berada di bagian belakang receiver. (Kanan) Melepaskan pengaman dilakukan dengan mendorong tuas keluar dari pelindung pelatuk sebelum menembak. (Sumber: https://www.shootingillustrated.com/)
Bipod dan perangkat peluncur granat senapan, merupakan salah satu fitur khusus dari BM-59. (Sumber: https://www.firearmsnews.com/)

Pada bagian ujung larasnya terdapat tiga kompensator panjang yang, seperti namanya, memiliki tiga fungsi. Perangkat ini bertindak sebagai kompensator untuk mengurangi hentakan mundur, dapat juga digunakan untuk meluncurkan granat senapan standar NATO kaliber 22mm dan untuk mengurangi kilatan cahaya penembakan. Katup pemutus gas juga dipasang bersama dengan pembidik peluncur granat. Ketika perangkat pembidik peluncur granat dibuka gas dengan sendirinya akan berhenti beroperasi. Sebagaimana mestinya senapan infanteri, dudukan bayonet juga menjadi standar. BM-59 menggunakan pisau bayonet yang mirip dengan bayonet M4 asal AS (yang menariknya dibuat untuk digunakan pada senapan M1 Carbine, bukan pada M1 Garand), tetapi juga dapat dipasangi bayonet M6 yang biasa digunakan oleh M-14, dan bayonet M7 yang dipakai M-16, dan model lain yang dapat saling dipertukarkan. Ironisnya BM-59 tidak dapat dipasangi bayonet yang digunakan pada M1 Garand. Dudukan tali gantungan pada senapan yang dapat berputar di bagian depan dipasang di sisi kiri senapan dan sementara dudukan gantungan di belakang dapat berputar 90 derajat dari posisi jam 6 hingga jam 9. Bantalan karet dipasang pada popor senapan dan di bagian popor senapan itu sendiri terdapat ruang untuk menyimpan peralatan pembersih senapan. BM-59 mudah dibongkar dalam tiga sub-komponen utama, yakni: popor, bagian laras, bagian pemicu/trigger.

BM-59 dalam keadaan terurai. (Sumber: https://www.milsurps.com/)
BM-59 dirancang untuk dapat menggunakan bayonet serupa dengan tipe M4 yang digunakan M1 Carbine, serta bayonet M6 dan M7 yang digunakan M-14 dan M-16. Ironisnya BM-59 tidak dapat dipasangi bayonet yang digunakan pada M1 Garand. (Sumber: https://modernfirearms.net/)
BM-59 dilengkapi dengan selempang tali gantungan dan popor yang dilapisi karet, dimana pada bagian popor terdapat ruang untuk menyimpan peralatan pembersih. (Sumber: https://www.firearmsnews.com/)

Beberapa perbedaan antara M1 dan BM 59 terlihat jelas, yang lainnya tidak begitu terlihat. Hampir semuanya telah dimodifikasi. Pada senapan tersebut akan terlihat pemotongan ekstensif diperlukan untuk mengubah receiver standar senapan M1 untuk dapat menerima asupan peluru dari magazine nya. Pelat bagian bawah dari rumahan pemicu M1 dimodifikasi untuk bisa menerima magasin dan kait magasin gaya “paddle” dipasang. Selain itu, tuas pemicu atau peluncur granat dipasang ke rumahan pelatuk. Perangkat ini bisa diputar keluar saat tidak diperlukan. Bolt standar M1 membutuhkan modifikasi untuk bisa menerima peluru dari magazine-nya. Badan senapan juga diubah untuk bisa dipasangi selektor dan magazine. Dengan memutar senapan akan terlihat stripper clip guide ditempatkan pada receiver bridge. Di sisi kiri receiver terdapat penahan bolt baru yang diaktifkan oleh magazine. Ditambah operating rod dan pegas yang lebih pendek dipasang bersama dengan spring guide yang baru. Silinder gas dan plug baru juga dipasang. Berbagai modifikasi ini menunjukkan bahwa BM 59 ternyata bukan semata senapan M1 Garand yang dipasangi magazine. Dengan magazine kosong dan selempang gantungannya, BM 59 memiliki berat 10,8 pon (4,89 kg) dan panjangnya 43 inci (109,22 cm). Tentu saja bukan bobot yang ringan, bobotnya bertambah karena adanya bipod dan peluncur granat.

Ada diatas magazine BM 59 yang berkapasitas 20 peluru adalah (dari Kiri ke Kanan) klip Garand en blok .30-’06, 7,62x51mm NATO, 6,5x52mm dan klip en blok 7,35x51mm. (Foto oleh Laura A. Fortier/https://www.firearmsnews.com/)
(Kiri) Bahkan meski magazine kotak yang dapat dilepas, BM59 masih dapat diisi melalui stripper clip. (Kanan) Seperti senapan di masanya, BM59 mempertahankan keberadaan flash hider dan bayonet lug. (Sumber: https://www.shootingillustrated.com/)

Meski begitu senapan ini adalah senapan yang yang “cukup cantik”, sementara sebagai sebuah senapan tempur tradisional “gaya lama”, BM 59 jelas memiliki daya tarik tertentu, karena peredarannya terbatas. BM-59 mulai digunakan oleh pasukan Alpine pada tahun 1960an tetap dalam dinas operasional sampai tahun 1990-an, menunjukkannya sebagai pengganti yang pantas untuk senapan M1 Garand. Namun seperti layaknya “kuda tua” yang pada akhirnya meninggalkan padang rumput, BM 59 di Italia kini telah diganti oleh senapan serbu Beretta AR-70/90 berkaliber 5,56x45mm. BM-59, tercatat dijual dan digunakan oleh Angkatan Bersenjata Italia, serta diekspor juga ke Aljazair, Argentina, Ethiopia, Indonesia, Libya, Nigeria, dan Somalia. Senapan ini telah banyak digunakan dalam perang-perang kecil di “Dunia Ketiga” dan berbagai operasi perdamaian. Nigeria dan Indonesia diketahui telah memperoleh izin untuk memproduksi senapan ini sendiri. Sejumlah kecil senapan masih aktif digunakan pada angkatan bersenjata Italia, meskipun sebagian besar hanya digunakan untuk keperluan seremonial saja. Namun beberapa senapan masih tetap digunakan di dinas tempur aktif di beberapa negara lain, terutama Somalia, Libya, dan Argentina.

Prajurit Italia dengan senapan BM-59 kebanggaannya. (Sumber: https://www.collezionareexordinanza.it/)

VARIAN

BM 59 diketahui memiliki beberapa varian militer dan sipil yang meliputi: 

Varian Militer 

  • Beretta BM59 Ital standar dengan panjang keseluruhan 43,11 inci dan bipod ringan
  • BM 59 Mark I: memiliki popor kayu dengan pegangan semi-pistol dan panjang keseluruhan lebih pendek 40,5 inci (102,87 cm)
  • BM 59 Mark II: memiliki popor kayu dengan pegangan pistol untuk mencapai kendali yang lebih baik selama penembakan otomatis penuh. Mk. II tidak digunakan oleh militer Italia, melainkan menjadi model ekspor untuk Angkatan Darat Nigeria.
  • BM 59 Mark III: atau dikenal sebagai Ital TA (juga dikenal sebagai Truppe Alpine), adalah varian dengan pegangan pistol dan popor lipat metalik, yang ditujukan untuk pasukan gunung. BM 59 Para mirip dengan BM 59 Ital TA, tetapi ditujukan untuk pasukan terjun payung. Senapan versi pasukan payung ini dilengkapi dengan laras yang lebih pendek dan flash hider. Versi Mark III ini diproduksi dalam dua versi: Alpini dengan panjang keseluruhan 43,7 inci dan Paracadutisti dengan panjang keseluruhan 48,22 inci. Alpini dan Paracadutisti keduanya diproduksi dengan bipod ringan serta popor lipat samping yang khas agar lebih kompak.
  • BM 59 Mark IV: memiliki laras yang lebih berat dengan popir plastik, dan digunakan sebagai senjata otomatis regu ringan. Dengan panjang keseluruhan 44,48 inci (112,98 cm), pegangan pistol dan bipod yang berat, senapan ini juga diproduksi untuk diekspor ke Nigeria.
Berbagai varian militer dari senapan BM-59. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Varian Sipil 

BM62 dan 69 yang langka adalah senapan olahraga untuk sipil dengan peluncur granat dan pembidiknya telah dilepas, sebagai berikut ini: 

  • BM62: senapan semi-auto yang menggunakan munisi kaliber .308 Winchester (varian komersil dari peluru kaliber 7.62 × 51mm NATO), dilengkapi dengan magazine 20 peluru, flash hider versi sipil (tanpa bayonet lug, tidak ada peluncur granat, tidak ada tri-kompensator (sangat jarang memiliki tabung gas) dengan kemampuan menembak menggunakan bipod.
  • BM69: Senapan semi-otomatis dengan bipod dan tri-kompensator.
Senapan BM-62 varian sipil. (Sumber: https://www.invaluable.com/)

DINAS OPERASIONAL

Sebagai senapan yang menerima sedikit perhatian (dibandingkan dengan AK-47, FAL, M16, dan sebagainya), uniknya, BM-59 telah digunakan dalam pertempuran secara ekstensif. Senapan ini pertama kali digunakan di medan tempur sesungguhnya oleh pasukan Indonesia selama operasi anti-gerilya di awal tahun 1970-an, dan kemudian digunakan oleh angkatan bersenjata Indonesia selama Invasi ke Timor Timur tahun 1975-76. Di Indonesia di masa awal-awal Orde Baru, PSM (Pabrik Senjata dan Mesiu, nama lama PT Pindad) mencoba mengambil gebrakan dengan mengambil lisensi dari senjata jenis full battle rifle. Yang dipilih untuk dilisensi adalah BM-59. BM-59 yang dilisensi menjadi SP (Senapan Panjang)-1 sendiri hadir sebagai jawaban atas kebutuhan TNI (dulu ABRI) akan pasokan senjata dalam jumlah yang cukup guna mendukung berbagai operasi militer mereka. Sejak tahun 1962, sejatinya TNI AD telah mulai melakukan uji coba pada BM-59. Dan baru kemudian pada tahun 1967 Men/Pangab menetapkan bahwa standar senapan infanteri adalah BM-59 yang dimodifikasi. Berdasarkan kontrak tanggal 13 Agustus 1967, antara tahun 1968 – 1974, Pindad mendapat order produksi pistol FN M46 (P1) – 44.000 pucuk, senapan BM-59 MK1 (SP-1) – 50.000 pucuk, senapan BM-59 MK1 laras Italia (SP-2) – 10.000 pucuk, dan senapan BM-59 MKIV (SP-3) – 9.000 pucuk. Namun beragam kendala didapati dalam babak-babak awal Operasi Seroja di Timor-Timur yang didominasi pertempuran sporadis. Selain menggunakan senjata organik, seperti AK-47 dan M-16, unit-unit tempur TNI juga banyak yang mengadopsi senjata buatan Pindad. Namun karena alasan teknis, Pindad kemudian menarik 69.000 pucuk SP-1 yang telah diserahkan kepada TNI AD. Meski merujuk kepada produk lisensi dari manufaktur senjata kampiun seperti Beretta, SP-1 nyatanya juga tidak lepas dari masalah. Dalam penggunaan di medan perang, prajurit pengguna SP-1 sering mendapati selongsong peluru yang tidak keluar (macet), popor kayu pecah, picu yang copot karena kompensatornya lepas, yang kesemuanya berdampak bencana bagi prajurit. Alhasil senapan serbu garis depan kemudian diganti dengan M16A1 atau AK-47.

Senapan SP-1 produksi PSM (Pabrik Senjata dan Mesiu, nama lama dari PT Pindad). (Sumber: https://www.airspace-review.com/)
Senapan SP-1 di masa penugasan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur. Dalam penggunaan di medan perang, prajurit pengguna SP-1 sering mendapati selongsong peluru yang tidak keluar (macet), popor kayu pecah, picu yang copot karena kompensatornya lepas, yang kesemuanya berdampak bencana bagi prajurit. Alhasil senapan serbu garis depan kemudian diganti dengan M16A1 atau AK-47. (Sumber: https://www.kaskus.co.id/)

Buruknya kualitas SP-1 ada yang menyebut karena metode produksi Pindad yang masih terbatas, dengan ditambah pengerjaannya diuber serba cepat. Meski tak bisa disebut sebagai produk yang berhasil dipasaran, namun SP-1 juga tidak bisa disebut produk yang gagal total. Sampai saat ini SP-1 kaliber 7,62×51 mm NATO masih digunakan oleh lembaga pendidikan di tingkat Secaba (Sekolah Calon Bintara) dan Secata (Sekolah Calon Tamtama). Kehadiran SP-1, kemudian juga menjadi pelopor dalam pembuatan senapan infanteri standar TNI buatan Indonesia di masa mendatang. Yang menarik, seperti halnya senapan M-14 yang ‘bangkit dari kubur’ dan kini digunakan secara luas oleh pasukan khusus AS, BM-59 juga mengalami fase reborn. Tepatnya pada tahun 1992 saat pasukan paramiliter Italia justru menggunakan BM-59 dalam Operasi Vispri Siciliani untuk menumpas habis mafia dan kaki tangannya dari Pulau Sisilia. Seperti halnya M-14, BM-59 juga dikeluarkan dari gudang penyimpanan, pasalnya militer Italia lebih yakin pada efektivitas peluru kaliber 7,62 mm NATO di medan perkotaan daripada AR70/90 yang telah menjadi senjata standar militer Italia. Akhirnya sebagian besar aksi mafia di Sisilia dapat ditumpas, dan itu sedikit banyak berkat andil dari BM-59. Sebagai informasi, trend urban warfare yang ditandai pertempuran sporadis dan banyaknya penembak gelap, dianggap tidak pas untuk ditangani kaliber 5,56 mm. Pada jarak tembak 400 meter keatas, kaliber 5,56 mm dianggap kurang mumpuni karena proyektilnya yang kecil. BM-59 juga digunakan oleh pasukan Argentina selama Perang Falklands, tentara Somalia, kaum pemberontak, dan milisi dalam Perang Saudara Somalia dan digunakan juga di banyak konflik lain yang mengikutinya. Senapan ini juga terlihat digunakan oleh tentara dan pemberontak Libya dalam Perang Saudara Libya.

Pasukan Italia dalam misi perdamaian di Lebanon tahun 1982-84. Nampak pada gambar prajurit Italia membawa senapan BM-59 varian Para yang telah dilepas bagian kompensatornya. (Sumber: https://www.facebook.com/)
Pasukan gunung Italia dengan BM-59 yang lengkap dipasangi dengan bayonet. (Sumber: https://www.milsurps.com/)
Hingga kini BM-59 masih banyak beredar di negara-negara Afrika, pada gambar terlihat pria nomor 3 dari kanan mengangkat tinggi-tinggi senapan BM-59. (Sumber: https://www.collezionareexordinanza.it/)

Sementara itu versi semi-otomatis dari BM-59 juga telah dijual di pasaran sipil, namun karena publik kurang begitu mengenal senapan ini (penting untuk diperhatikan juga bahwa pasaran sipil juga dibanjiri oleh surplus dan reproduksi dari senapan M1 Garand, dan senapan Springfield Armory yang baru dalam wujud M1A; versi semi-otomatis dari M-14), mereka tidak pernah terjual dengan baik. Hanya setelah bertahun-tahun kemudian kualitas dan kinerja senapan BM-59 mulai dihargai secara luas di kalangan sipil, dan sebagai hasilnya, senapan ini diketahui sekarang sangat langka, mahal, dan menjadi kebanggaan oleh kebanyakan pemiliknya. Sebagai akibat dari keadaan ini, tiruan senapan BM-59 telah beredar di pasaran sipil, banyak di antaranya secara kasar diubah dari M1 Garand oleh perusahaan “fly-by-night”. Senapan “bootleg” ini bisa dibedakan dari BM-59 asli dengan kualitas pemotongan dan pengelasannya yang buruk, dan tidak adanya cap Beretta atau dari Springfield Armory. Selain itu, karena BM-59 dipasarkan dengan filosofi seperti militer Italia bahwa hanya ada satu magasin yang diperlukan untuk setiap senapan (warga sipil juga diharapkan mengisi ulang hanya menggunakan stripper clip, dan magasin cadangan secara efektif dianggap layaknya suku cadang untuk senjata itu sendiri), magasin cadangan menjadi barang yang langka, dan biasanya dijual seharga lebih dari $ 200 masing-masing; harga dua magazine ini sudah cukup mampu untuk digunakan membeli satu senapan SKS. Senapan BM-59 versi sipil bekas sering dijual seharga lebih dari $ 3.000, sedangkan BM-59 bekas stok militer yang berlebih tidak diragukan lagi malah jauh lebih murah. Sementara itu, meskipun BM-59 tidak lagi aktif digunakan oleh negara-negara Blok Barat, namun senapan ini terus digunakan di berbagai negara berkembang, dan kemungkinan besar juga beredar juga ke kelompok-kelompok non-negara. Jika umur panjang dari M1 Garand, Lee-Enfield Mk.II, dan StG-44 menjadi tolo ukur, dimana senapan-senapan ini masih aktif beredar di berbagai faksi-faksi bersenjata, BM-59 mungkin masih akan banyak terlihat dipakai di berbagai medan perang di masa depan.

Spesifikasi BM 59

  • Tahun Produksi: 1959. 
  • Total dibuat sampai tahun 1969: diatas 120,000.
  • Kaliber: 7.62x51mm NATO
  • Sistem Operado: Rotating bolt, short stroke gas
  • Panjang laras: 19.3 inches (49,022 cm)
  • Pembidik depan: Protected blade
  • Pembidik belakang: Fully adjustable protected aperture
  • Kapasitas peluru: 20-peluru dalam detachable box magazine
  • Kecepatan tembak: 800 rpm
  • Kecepatan tembak praktikal: 30-80 rpm
  • Muzzle Velocity: 823 m/s
  • Jarak tembak pembidik: 1200 meter
  • Jarak jangkau: 300 meter dalam tembakan tunggal, 400 meter tembakan otomatis dengan bipod, 1000 meter jarak tembak maksimum (secara teoritis bisa mencapai 3100 meter)
  • Trigger: Two-stage
  • Bobot: 10.8 pound (4,89 kg) dengan magazine kosong dan sling
  • Panjang total: 43 inches (109,22 cm/dengan bayonet USM1: 125 cm/85,5 cm saat popor terlipat)
  • Perlengkapan pendukung: Bipod, peluncur granat kaliber 22mm standar NATO dengan gas cut-off, compensator/flash suppressor, Winter trigger

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Beretta BM 59 7.62mm Italian Battle Rifle by David M. Fortier; May 14, 2020

https://www.firearmsnews.com/editorial/beretta-bm-59-762mm-italian-battle-rifle/376319

Weapons – FAL BM 59

http://www.smalp155.org/curiosita/dotazioni/armamenti/fal-bm-59.php

Classic Guns: Beretta BM59 by Martin K.A. Morgan – Thursday, December 12, 2019

https://www.shootingillustrated.com/articles/2019/12/12/classic-guns-beretta-bm59/

Beretta BM-59 Automatic rifle

http://www.military-today.com/firearms/beretta_bm59.htm

Beretta Model 59 (BM59) Automatic Battle Rifle

https://www.militaryfactory.com/smallarms/detail.asp?smallarms_id=569

Pindad SP-1: Beraksi Di Babak Awal Operasi Seroja, Ini Dia M14 Versi Indonesia oleh Gilang Perdana

Perjalanan Terwujudnya Senapan Serbu Nasional Buatan Pindad oleh RANGGA BASWARA SAWIYYA

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Beretta_BM_59

2 thoughts on “Beretta BM-59 Asal Italia: Dilisensi Sebagai SP-1 dan Menjadi Pelopor Senapan Infanteri Produksi Indonesia

  • 28 January 2021 at 10:17 am
    Permalink

    Bismillah kembang lebih banyak produk Sp 1 pindad,jika perlu senjata SVT rusia bisa kita produksi sendiri diindonesia untuk varian senjata serbu maupun pendidikan ditubuh TNI.sangat memungkinkan juga AK 47 bisa kita produksi dipindad,asal kita mau berinovasi dan fokus kita bisa,selain senjata coba kita inovasi sebuah truk amphibi bisa dilengkapi senjata kaliber berat di platform truk amphibi tersebut,selain buat pendaratan pasukan mengevakuasi korban banjir buat kebutuhan SAR evakuasi korban banjir.itupun bisa membuka lahan kerja buat pemuda pemudi setanah air.

    Reply
    • 28 January 2021 at 10:21 am
      Permalink

      Kl pindad mau kembangin senjata, kembangin senjata yang up to date, SVT dan AK-47 itu sudah teknologi lama…yang beberapa poin kelebihanya sudah diabsorb ke design senjata2 terbaru.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *