Black September di Yordania, Tahun 1970: Saat Militer Raja Hussein Mengusir Keluar Gerilyawan Palestina dari Yordania

Operasi yang diluncurkan hampir 50 tahun lalu untuk mengusir Yasser Arafat dan para petempur Palestina dari Yordania sering dikenang sebagai Peristiwa `Black September, ‘dan peristiwa itu kemudian menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah organisasi gerilyawan Palestina. Sementara itu publik Israel lebih mengingat peristiwa Black September sebagai operasi di mana Kerajaan Hashemite Yordania dengan tegas memadamkan pemberontakan orang-orang Palestina dalam waktu satu bulan (meski faktanya diperlukan lebih dari 1 bulan untuk menyelesaikan perlawanan mereka). Disamping itu, tindakan yang dilakukan oleh Raja Hussein 50 tahun yang lalu untuk mengusir Yasser Arafat dan sejumlah tokoh senior Palestina dari negaranya ini sering digunakan sebagai contoh yang menguatkan pendapat mereka-mereka yang berpandangan bahwa di Timur Tengah, cara kerja yang efektif untuk dilakukan disana adalah tindakan yang dilakukan lewat kekejaman dan sikap menindas tanpa ampun. Pertarungan militer antara Yordania dan Palestina sebenarnya sudah berlangsung selama satu setengah tahun, bukan cuma sebulan saja. Puncaknya memang baru terjadi pada bulan September 1970, tetapi pertempuran itu baru dimenangkan setelah melewati masa 10 bulan berdarah, di mana orang-orang Palestina telah mengejutkan orang-orang Yordania dengan keuletan perlawanan mereka. 

Asap membumbung di kota Amman selama bentrokan antara militer Yordania dan fedayeen Palestina, 1 Oktober 1970. (Sumber:https://en.m.wikipedia.org/)

SEBUAH NEGARA DALAM NEGARA

Kekalahan negara-negara Arab dalam Perang 6 hari tahun 1967 telah meradikalisasi rakyat Palestina, yang sebelumnya telah berusaha mencari bantuan dari negara-negara Arab untuk mengalahkan Yishuv (komunitas Yahudi di Palestina sebelum 1948). Pada tahun 1948 setelah Israel berdiri, mereka terus menggantungkan harapan pada negara-negara Arab sehingga mereka bisa mendapatkan kembali tanah air mereka. PLO memang tidak memiliki peran penting dalam Perang di bulan Juni 1967, namun, setelah kegagalan negara-negara Arab dalam perang konvensional melawan Israel, Palestina memutuskan untuk mengadopsi taktik perang gerilya sebagai metode paling efektif untuk menyerang dan mengalahkan Israel. Aksi gerilyawan Palestina dalam menyerang Israel dari wilayah Yordania yang menjadi lokasi pengungsian mereka, kemudian justru pada akhirnya berkembang dan mendorong mereka untuk terlibat konflik terbuka dengan otoritas Yordania, dimana banyak serangan mereka ke target-target Israel dilakukan. Titik awal untuk memahami proses yang mengarah pada konfrontasi terbuka itu dapat ditemukan sejak Maret 1968, ketika Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memasuki desa Karameh, Yordania, sekitar tujuh kilometer timur Sungai Yordan, tempat seorang pemuda yang saat itu belum begitu dikenal sebagai pemimpin faksi Fatah Palestina, Yasser Arafat, memiliki kantor pusatnya. Langkah Israel itu datang sebagai tanggapan atas serangkaian serangan yang dilakukan oleh organisasi perlawanan Palestina terhadap posisi-posisi Israel, yang diluncurkan dari wilayah Yordania. Perdana Menteri Israel, Levi Eshkol menyatakan bahwa tujuan operasi itu adalah untuk mencegah “gelombang teror baru” terhadap Israel. Dewan Keamanan PBB kemudian mengutuk tindakan Israel itu. Antara 128 hingga 170 orang Palestina terbunuh selama operasi itu, tergantung versi mana berita itu berasal. Tetapi, tanpa diduga, IDF, yang masih terlena dengan kemenangan gemilang mereka dalam Perang Enam Hari, menderita banyak korban: sekitar 28 tentaranya tewas, 80 lainnya terluka, empat tank mereka dirampas orang-orang Palestina. Dan Yasser Arafat sendiri berhasil melarikan diri. Pada bulan Februari 1969, Arafat (yang tetap menjadi pemimpin Al Fatah) telah menjadi kepala PLO. Pada awal 1970, setidaknya ada tujuh organisasi gerilya Palestina yang diidentifikasi ada di Yordania. Salah satu organisasi terpenting adalah Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) yang dipimpin oleh George Habash. Meskipun PLO berusaha untuk mengintegrasikan berbagai kelompok ini dan mengumumkan dari waktu ke waktu bahwa proses ini telah terjadi, tetapi mereka tidak pernah secara efektif bersatu.

Raja Hussein meninjau lokasi pertempuran Karameh. Kegagalan Israel dalam menangkap Yasser Arafat dalam pertempuran Karameh, 21 Maret 1968, telah melambungkan pamor gerakan perlawanan Palestina sekaligus menimbulkan dilema bagi Raja Hussein dalam menyeimbangkan kontrol dan keamanan dalam negerinya. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu, pencapaian terbatas gerilyawan Palestina di medan perang kemudian menarik perhatian orang-orang Palestina di Yordania dan seluruh dunia Arab. Arafat dipuji-puji sebagai sosok yang telah berhasil, sampai batasan tertentu, untuk mengembalikan martabat bangsa-bangsa Arab yang telah dipermalukan oleh Israel. Ribuan pemuda Palestina kemudian tergerak ingin mendaftar di organisasinya. Fatah menjadi organisasi paling penting dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dimana mereka juga dengan mudah bisa mendapatkan dana dan senjata dari negara-negara Arab dan Eropa Timur. Pada efeknya, secara terbuka mereka mulai tidak menghormati hukum Yordania. Setelah pertempuran Karameh, pasukan Arafat menjadi lebih berani. Di kamp-kamp pengungsi dan di beberapa kota Yordania, mereka berperilaku seolah-olah mereka memiliki tempat itu: Mereka berjalan dengan senjata dan berseragam, mendirikan pos pemeriksaan, mengumpulkan pajak, dan menolak bepergian dengan menggunakan plat nomor Yordania di mobil mereka. Menurut buku Avi Shlaim, “Lion of Jordan: The Life of King Hussein in War and Peace”, mereka mengemudi dengan berisik berkeliling Amman dengan jip bersenjata, seperti pasukan pendudukan; mereka memeras uang kontribusi dari individu-individu, kadang-kadang juga orang asing, di rumah mereka dan di tempat-tempat umum; mereka mengabaikan peraturan lalu lintas, gagal mendaftar dan melisensikan kendaraan mereka, menolak untuk berhenti di pos pemeriksaan militer; dan meremehkan tentara Yordania. Kehadiran mereka di Amman, jauh dari medan perang, tampak jelas seperti tantangan bagi rezim Dinasti Hashemit yang berkuasa disana. Penguatan organisasi Palestina di wilayah Yordania menimbulkan dilema bagi Raja Hussein. Di satu sisi, sekitar dua pertiga dari rakyatnya adalah warga Palestina (Jumlah orang Palestina di Yordania saat itu mencapai 1 juta – sekitar 60% dari total populasi negara itu – menjelang akhir 1960-an), yang mendukung perang gerilya melawan Israel. Dengan demikian, Hussein tidak dapat menentang mereka tanpa dimusuhi oleh sebagian besar orang Yordania – dan dapat mengundang konfrontasi dengan Mesir pimpinan Nasser, yang mendukung Palestina. Di sisi lain, meningkatnya kekuatan Palestina jelas merongrong kedaulatan pemerintahannya. Polisi dan tentara Yordania tidak lagi pemegang otoritas di kamp-kamp pengungsian Palestina di Jordania, dan mereka secara bertahap kehilangan otoritas di wilayah utara kerajaan itu juga. Sementara itu telah ada sekitar 500 bentrokan antara orang-orang Palestina dan perwakilan pemerintah Yordania antara pertengahan 1968 hingga akhir 1969.

Pejuang Palestina mengendalikan pintu masuk ke kota Amman, 1970. Independensi gerakan perlawanan Palestina di Yordania telah menimbulkan kondisi negara dalam negara yang tidak menguntungkan bagi penguasa Kerajaan Yordania. (Sumber: AFP / East News / https://birdinflight.com/)

Konfrontasi besar antara gerilya Palestina dan pemerintah Yordania terjadi pada bulan November 1968 ketika pemerintah berusaha melucuti kamp-kamp pengungsi, tetapi perang saudara bisa dihindari dengan kompromi yang masih menguntungkan orang-orang Palestina. Hussein mencapai kesepakatan tujuh poin dengan organisasi-organisasi Palestina: Anggota-anggota organisasi ini dilarang untuk berjalan di sekitar kota-kota dengan dipersenjatai dan berseragam; mereka dilarang menghentikan kendaraan sipil untuk melakukan pencarian dan pemeriksaan; mereka dilarang merekrut pria muda yang layak untuk bertugas di tentara Yordania; mereka diharuskan membawa surat-surat identitas Yordania; kendaraan mereka diminta untuk menggunakan plat nomor Yordania; kejahatan yang dilakukan oleh anggota organisasi Palestina akan diselidiki oleh otoritas Yordania; dan perselisihan antara organisasi Palestina dan pemerintah akan diselesaikan oleh dewan gabungan perwakilan Raja dan PLO. Kesepakatan yang dicapai antara kedua belah pihak kemudian tidak bertahan lama dalam ujian realitas. Organisasi-organisasi Palestina terus mengumpulkan kekuatan di Yordania, dan melakukan apa pun yang mereka sukai di kamp-kamp pengungsi. Mereka bahkan mengintensifkan pertempuran melawan Israel. Selama 1969, mereka melakukan 3.170 operasi penyerangan terhadap Israel dari wilayah Yordania, tanpa repot-repot mengoordinasikannya terlebih dahulu dengan tentara Yordania. Akibatnya serangan balasan yang dilakukan oleh Israel telah merusak ekonomi Yordania, dan memaksa sekitar 70.000 warga Yordania melarikan diri dari rumah mereka di Lembah Jordan. Pada musim semi 1969, Amerika Serikat memulai upayanya untuk mempromosikan perjanjian politik antara Israel dan negara-negara Arab. Sementara itu, Raja Hussein berharap bahwa pemerintahan Republik Richard Nixon dari Partai Republik akan kurang ramah terhadap Israel, dan akan memaksa Israel untuk menarik diri dari wilayah yang didudukinya pada tahun 1967. Ia pergi ke Washington untuk menjelaskan bahwa Jordania bersedia menjadi lebih fleksibel, untuk memastikan keberhasilan inisiatif Amerika. Organisasi-organisasi Palestina dengan cemas mengamati gerakannya itu. Mereka takut  perjanjian terpisah antara Yordania-Israel,  akan menghancurkan impian lahirnya negara Palestina yang membentang hingga ke Laut Mediterania.

Parade Pasukan Faksi Fatah, Palestina di Yordania tahun 1970. Dibukanya kontak antara Amerika-Israel-Mesir-Yordania untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah tidak disukai oleh kelompok Perlawanan Palestina yang menganggapnya sebagai ancaman bagi perjuangan kemerdekaan mereka. (Sumber:https://birdinflight.com/)

Untuk melemahkan kontak-kontak politis dan untuk memancing konfrontasi militer antara Yordania dan Israel, Arafat dan rekan-rekannya meningkatkan konflik bersenjata mereka melawan Israel. Hussein akhirnya mencapai kesimpulan bahwa dia harus segera bertindak – tetapi ia sadar tangannya terikat oleh rekan-rekan komunitas Arab nya. Dia tidak bisa berbuat lebih dari yang diperbolehkan oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, yang kala itu dipandang sebagai pemimpin utama dunia Arab. Pada awal Februari 1970, Hussein pergi ke Kairo, dan menerima persetujuan diam-diam dengan Nasser untuk mengambil tindakan lebih tegas terhadap organisasi-organisasi Palestina. Ketika raja kembali ke Yordania pada 10 Februari, dia menerbitkan dekrit 10 poin. Di antara ketentuan-ketentuannya adalah adanya larangan campur tangan oleh anggota organisasi Palestina dengan aktivitas pasukan keamanan Yordania, larangan pertemuan organisasi atau majelis tanpa izin dari Kementerian Dalam Negeri, dan larangan aktivitas politik Palestina. Organisasi-organisasi Palestina jelas tidak menyukai ketentuan baru ini. Pada 11 Februari, mereka mendirikan markas militer bersatu untuk mempersiapkan kemungkinan menghadapi serangan dari militer Yordania. Pada malam yang sama, 300 orang terbunuh dalam konfrontasi yang pecah antara kedua belah pihak di jalan-jalan ibukota, Amman. Raja Hussein takut kehilangan kendali. Nasser mengizinkannya untuk memaksakan pembatasan-pembatasan pada orang-orang Palestina, tetapi sekaligus memperingatkan agar Yordania tidak melakukan perang habis-habisan melawan Palestina. Hussein memerintahkan tentara Yordania untuk menahan diri dari aktivitas konfrontasi lebih lanjut, dan menyatakan: “Kami semua fedayeen” [kelompok komando Palestina]. Setelah itu, ia memecat menteri dalam negerinya, yang merupakan musuh terbesar organisasi Palestina di pemerintahannya. Babak pertama pertempuran antara kedua belah pihak berakhir dengan kemenangan yang jelas bagi Yasser Arafat.

PEMBANGKANGAN GERAKAN PALESTINA DI YORDANIA

Pada akhir Juli 1970, Mesir memutuskan untuk menerima rencana yang diusulkan oleh Menteri Luar Negeri AS William Rogers, yang menyerukan gencatan senjata segera atas perang atrisi antara Mesir dan Israel, dan untuk segera dilakukan penarikan oleh Israel dari wilayah yang didudukinya tahun 1967, sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 242. Setelah Mesir, Yordania kemudian juga mengumumkan bahwa mereka akan menerima rencana tersebut. Keputusan dramatis ini membawa dampak semakin intensifnya pertarungan antara Palestina melawan Yordania. Organisasi kiri radikal dalam PLO, Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), pimpinan George Habash, Front Demokrasi untuk Pembebasan Palestina (DFLP) pimpinan Nayef Hawatmeh, dan Popular Front- General Command pimpinan Ahmed Jibril, memutuskan  melemahkan rezim Raja Hussein untuk memastikan kegagalan dari “Rencana Rogers,” serta kalau memungkinkan dan perlu, raja Hussein sendiri harus digulingkan. Menurut pendapat mereka, rezim Hashemite harus dihilangkan sepenuhnya, karena dia dianggap konservatif dan pro-Barat. Yasser Arafat, pemimpin Fatah, khawatir langkah untuk menggulingkan raja Hussein adalah langkah yang terlalu tergesa-gesa. Tentara Yordania pada tahun 1970 berjumlah 70.000 tentara yang terlatih, dengan 2/3 nya berasal dari Suku Bedouin Yordania, sementara sisanya berasal dari Palestina dan Suku Harari. Seperti umumnya di Yordania, personel Bedouin, yang setia pada Raja Yordania, mendominasi satuan Lapis baja, bebarapa brigade infanteri, dan perwira-perwira di satuan tempur, sementara personel asal Palestina ditugaskan di bagian support dan satuan infanteri lainnya. Angkatan Darat Yordania memiliki korps lapis baja yang dilengkapi dengan 300 tank M-60 Patton dan Tank Centurion yang telah diupgrade dengan meriam L7 kaliber 105 mm menggantikan meriam lamanya, yang dibagi dalam 3 brigade lapis baja dan sebuah brigade mekanis. Sementara itu angkatan udaranya telah dibangun kembali setelah kehancurannya di tahun 1967, dengan dilengkapi sekitar 32 pesawat tempur Hawker Hunter dan 18 F-104 Starfighter. Menghadapi kekuatan militer Yordania, organisasi perlawanan Palestina diatas kertas paling banyak diperkuat sekitar 25.000 gerilyawan dan 76.000 milisi paruh waktu, yang terutama bersenjata ringan. Jumlah ini nampaknya dibesar-besarkan dan tidak sekuat yang terlihat, mereka tidak memiliki senjata berat selain mortir ringan dan senjata anti tank panggul (kemungkinan RPG buatan Soviet atau China). Dengan melihat perimbangan yang tidak menguntungkannya ini, Arafat memilih untuk bermain kedua sisi, dengan memilih berada di tengah dalam kekacauan yang terjadi kemudian: Di satu sisi, dia tidak menghentikan organisasi radikal di kalangan pejuang Palestina; di sisi lain, dia tidak secara terang-terangan menentang Hussein. 

Jelang pecahnya pertempuran terbuka dengan pihak Palestina, AU Yordania telah diperkuat kembali dengan armada 32 pesawat tempur Hawker Hunter yang sebelumnya dihancurkan AU Israel dalam perang 6 hari 1967. (Sumber:https://www.thunder-and-lightnings.co.uk/)
Selain Hawker Hunter, AU Yordania juga diperkuat oleh 18 unit F-104 Starfighter buatan Amerika. (Sumber:http://users.skynet.be/)
Menyesuaikan tradisi menggunakan Tank buatan Amerika, AD Yordania juga dilengkapi dengan Tank M-60 buatan Amerika. (Sumber:https://stock.adobe.com/)
Menghadapi pasukan Yordania yang bersenjata lengkap, gerilyawan PLO hanya memiliki pasukan bersenjata ringan. (Sumber:https://commons.wikimedia.org/)

Pada awal September 1970, kegiatan organisasi-organisasi kiri Palestina di Yordania telah berubah menjadi pembangkangan terbuka terhadap Raja Hussein sendiri. Pada awal September, kelompok gerilya mengendalikan beberapa posisi strategis di Yordania, termasuk kilang minyak di dekat Az Zarqa. Sementara itu, fedayeen juga menyerukan pemogokan umum penduduk Yordania dan mengorganisir kampanye pembangkangan sipil. Pada tanggal 1 September, sebuah upaya gagal untuk membunuh Raja Hussein dilakukan saat dia sedang dalam perjalanan ke bandara Amman. Pada tanggal 6 September, dalam waktu 2 jam anggota Front Populer membajak tiga pesawat: sebuah pesawat Swissair dan sebuah pesawat TWA dibajak dan dibawa ke bandara di Zarqa, sementara sebuah pesawat tambahan, milik Pan American, dibajak dan diarahkan ke bandara Kairo, di mana pesawat itu diledakkan hanya beberapa detik setelah 176 penumpang dan awaknya dalam waktu tiga menit menyelesaikan evakuasi dengan paksa. Tiga hari kemudian, sebuah pesawat Inggris dibajak, dan dibawa ke dekat Amman. Para penumpangnya disandera. Para pembajak menuntut pembebasan tahanan Palestina di berbagai negara. Seorang juru bicara Front Populer mengatakan di Beirut bahwa pembajakan itu dilakukan untuk “memberi pelajaran kepada Amerika, karena dukungan mereka yang sudah lama terhadap Israel.” Yasser Arafat tidak mengutuk pembajakan, yang kemudian memicu protes internasional terhadap Palestina. Hussein tahu bahwa komunitas internasional sekarang akan lebih bersimpati terhadap upaya yang “menentukan” melawan organisasi-organisasi Palestina, dan bahwa Nasser – yang ingin mempromosikan Rencana Rogers – akan kurang mendukung Palestina. Sementara itu Raja Yordania dengan cepat kehilangan kendali atas kerajaannya. Pada puncak drama pesawat yang dibajak, Palestina menyatakan daerah Irbid di utara negara itu sebagai “wilayah yang dibebaskan,” dan mengumumkan bahwa mereka sedang mempersiapkan “pertikaian” terbuka.

Orang-orang Palestina memeriksa Douglas DC-8 milik Swissair, yang dibajak dalam perjalanan dari Zurich ke New York. (Sumber: AFP / East News / https://birdinflight.com/)

Lingkaran terdalam dari Raja Hussein, yakni warga Transyordan yang takut akan pemberontakan Palestina, menjelaskan kepada raja bahwa saatnya telah tiba untuk mengalahkan orang-orang Palestina. “Pada 15 September, di istana di Sweileh, sebelah utara Amman, para kolega dan penasihat raja berkumpul,” tulis Prof. Asher Susser dari Universitas Tel Aviv dalam bukunya “Between Jordan and Palestine,” sebuah biografinya berbahasa Ibrani 1983 tentang Wafsi al-Tal, perdana menteri Raja Hussein. “Orang-orang ini, yang telah lama mendukung aksi keras terhadap fedayeen, meyakinkan Hussein bahwa saatnya telah tiba untuk bertindak. Mereka memperkirakan bahwa tentara dapat mengusir fedayeen dari kota-kota besar dalam dua hingga tiga hari. Di tengah optimisme ini, keraguan Hussein kemudian menghilang. Pada hari yang sama keraguan itu menghilang, dia membuat keputusan untuk menyerang fedayeen. Ketidakpastian dan frustrasi yang sudah muncul selama beberapa minggu terakhir menghilang. Suasana di istana pada malam 16 September adalah seperti di markas militer pada malam menjelang pertempuran. Rencana operasional kemudian dibuat dan diorganisir dengan cepat. Asumsinya adalah bahwa hanya ada beberapa jam tersisa sebelum konfrontasi habis-habisan akan pecah dan tak terhindarkan. “ Rencana awalnya seperti yang dijelaskan oleh Brigadir Jenderal S.A El-Edroos adalah sebuah serangan cepat dalam waktu 48 jam diperlukan untuk mengatasi gerilyawan Palestina, sebelum tentara Syria yang selama ini mensupport Palestina turut terlibat dalam pertempuran. Angkatan Darat Yordania akan membersihkan kota Amman dan kota-kota besar lainnya dari para Fedayeen Palestina dan kemudian mengisolasi dan mengamankan wilayah pedesaan.

PERTEMPURAN MELAWAN SURIAH

Pada pagi hari tanggal 16 September, Hussein mengumumkan kondisi darurat militer dan menunjuk Brigadir Muhammad Daud untuk memimpin kabinet yang terdiri dari para perwira militer. Pada saat yang sama, raja menunjuk Field Marshal Habis al Majali, seorang beduin yang sangat proroyalis Hussein, sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata dan gubernur militer Jordan. Hussein memberi Majali kekuatan penuh untuk menerapkan peraturan darurat militer dan memadamkan aksi fedayeen. Pemerintah baru segera memerintahkan fedayeen untuk meletakkan senjata mereka dan mengevakuasi kota. Pada hari yang sama, Arafat diangkat menjadi komandan tertinggi Tentara Pembebasan Palestina (PLA), kekuatan militer reguler PLO. Pada tanggal 17 September, serangan militer Yordania dimulai. Tank-tank Patton dari brigade lapis baja ke-60, disertai dengan kendaraan lapis baja dari Divisi Mekanis ke-4 memasuki Amman dari semua sisi bersama dengan Divisi Infanteri ke-1, dan menyerang markas besar organisasi-organisasi Palestina. Pertempuran terjadi di Zarqa, Sweileh, Salt dan Irbid juga. Pendapat penasihat raja, bahwa orang-orang Palestina akan bisa dikalahkan dalam beberapa hari, terbukti salah. Orang-orang Palestina mengejutkan tentara Yordania dengan perlawanan keras kepala mereka. Pasukan lapis baja Yordania memasuki kota tua Amman  melewati jalan-jalan sempit dengan sedikit dukungan dari satuan infanteri, akibatnya gerilyawan-gerilyawan Palestina dengan menggunakan senjata anti tank panggul menciptakan masalah pada barisan lapis baja Yordania. Terjadi pertempuran dari rumah ke rumah. Hussein tahu bahwa semakin lama pertempuran berlanjut, semakin besar risiko tekanan negara-negara Arab dan dunia internasional akan memaksa mereka untuk menghentikan serangan dan mencapai kompromi dengan pihak Palestina. Sialnya, bagi Yordania, 5.000 tentara keturunan Palestina melakukan desersi dan bergabung dengan PLO, dalam beberapa kasus membawa serta senjata berat yang mereka punyai. Meski kemudian menjadi jelas bahwa mayoritas prajurit Palestina tetap loyal pada Raja Hussein, akan tetapi timbul pertentangan keras diantara petinggi militer Yordania, contohnya pada hari ketiga operasi, komandan divisi ke-2 Yordania mengundurkan diri, kemungkinan karena bersimpati pada PLO.

Markas Keamanan di kamp pengungsi Palestina di Ibrid, September 1970. (Sumber: AFP / East News / https://birdinflight.com/)

Pada tanggal 18 September, dua hari setelah serangan dimulai dimana pasukan Yordania mengalami kemacetan di medan tempur Amman, pasukan lapis baja kecil, seukuran brigade lapis baja asal Suriah menyerbu Yordania dari arah utara untuk memperkuat kekuatan yang bertahan di Irbid. Dua hari kemudian, pasukan itu bergabung dengan dua brigade lapis baja Suriah, yang semakin diperkuat pada hari berikutnya, sehingga berakhir menjadi pasukan seukuran divisi dengan diperkuat oleh sekitar 300 tank T-55 bersama dengan Divisi Infanteri ke-5, yang mengenakan pengenal tentara Suriah, dan sementara itu sekarang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) juga telah memiliki kendaraan lapis bajanya sendiri. Kekhawatiran Yordania juga bertambah dengan adanya potensi campur tangan dari pasukan Irak. Divisi Lapis Baja ke-3 Tentara Irak yang berkekuatan 17.000 orang selama ini tetap berada di Yordania timur sejak setelah Perang Enam Hari 1967. Pemerintah Irak bersimpati dengan Palestina, tetapi tidak jelas apakah divisi itu akan terlibat dalam konflik untuk mendukung fedayeen. Dengan demikian, Brigade ke-99 Yordania harus ditinggalkan untuk memantau orang-orang Irak. Pembukaan front tambahan ini jelas merusak rencana skenario pertempuran Yordania melawan pihak Palestina. Pasukan Suriah ini sekarang berkekuatan sekitar 16.000 orang. Orang-orang Yordania jelas khawatir bahwa Suriah bercita-cita untuk mengeksploitasi perkembangan perang saudara yang pecah di kerajaan ini untuk menduduki dan merealisasikan impian mereka akan sebuah negara “Syria Raya.” Pasukan Syria kemudian mendesak masuk Yordania dan menghantam sebuah kompi tank Centurion dekat pos polisi di ar-Ramtha. Pada awalnya pihak Yordania tidak terlalu merespon gerak maju pasukan Syria karena mereka lebih mengutamakan mengamankan ibukotanya. Disamping di Irbid hanya ada satu brigade Syria yang dianggap tidak terlalu mengancam, sementara untuk menghadapinya, Pasukan Yordania mengerahkan brigade lapis baja ke-40 dan divisi infanteri ke-2 mereka dan kemudian berhasil menghentikan gerak maju Suriah. Setelah kondisi dianggap cukup stabil, Yordania mengirimkan sebuah batalion mekanis dari Brigade 40 ke arah selatan untuk membantu Divisi mekanis ke-4 mengamankan ibukota.

Tank Centurion (rampasan) Organisasi Pembebasan Palestina dalam pertempuran, 24 September 1970. (Sumber: AFP / East News / https://birdinflight.com/)

Namun saat Syria mengirimkan divisi infanteri ke-5 yang telah diperkuat ke arah Amman, Yordania menjadi waspada. Mereka bereaksi cepat dengan mengirimkan brigade infanteri ke-25 “Khalid ibn al-Walid” dari Divisi infanteri ke-2 dan 2 batalion lapis baja, yang terdiri dari 100 tank improved Centurion milik Brigade lapis baja ke-40 menuju utara untuk menghentikan gerak maju Syria. Pasukan Yordania yang bergerak ke utara dibagi dua, dimana Brigade ke-25 membentuk garis pertahanan di lembah ar-Ramtha, untuk memblokir pasukan Syria di selatan dan barat daya lembah. Sementara brigade ke-40 membentuk garis pertahanan di sepanjang jalan raya menuju Amman, sebelah selatan ar-Ramtha, sedikit lebih maju dari posisi Brigade ke-25. Pasukan Syria menyerang brigade ke-40 pada tanggal 21 September. Dalam pertempuran sengit sepanjang hari, pasukan Yordani didesak pasukan lapis baja Syria dari posisi pertahanan mereka. Komandan Yordania lalu memutuskan mundur ke pertahanan brigade ke-25, dengan meninggalkan persimpangan ar-Ramtha yang strategis. Dengan mengamankan persimpangan ini, Divisi ke-5 Syria kemudian bisa membuka kontak dengan rekan-rekan mereka di Irbid. Dari sini, kedua pihak hanya beradu muka dengan muka saling mendorong tanpa ada upaya untuk menyerang sayap-sayap kekuatan lawan. Awak-awak tank Yordania, terus berupaya menghancurkan tank Syria dari posisi statis dengan hull tank terbenam di tanah disepanjang garis pertahanan mereka dengan mengandalkan kemampuan hantam dan tembakan jarak jauh dari meriam 105 mm tank mereka. Namun meski memiliki posisi pertahanan dan kualitas senjata yang lebih unggul, penembak tank Yordania performanya payah, mereka hanya mampu menghancurkan 10 tank T-55 Syria dengan kerugian 19 tank Centurion di pihak mereka. Sementara itu meski kedua belah pihak punya dukungan artileri, namun mereka tidak mengerahkan nya, atau bisa jadi gagal menyadari kegunaannya. Menghadapi kekuatan Syria yang unggul 2:1, pada sore hari karena kalah dalam jumlah, Pasukan Yordania mulai mundur.

Tank Yordania dalam posisi statis, September 1970. Kurangnya imajinasi dari kru lapis baja Yordania membuat mereka gagal memanfaatkan keunggulan teknis persenjataannya dalam melawan pasukan invasi Syria yang mendukung PLO. (Sumber:https://birdinflight.com/)

Kekalahan Brigade Lapis Baja ke-40 menimbulkan kepanikan pada Raja Hussein, yang mulai percaya bahwa tidak ada yang dapat menghentikan pasukan Syria untuk merebut Amman. Pada tanggal 22 September, Amman mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk menghentikan pergerakan pasukan Syria. Pada titik ini, mereka memutuskan untuk mengerahkan kekuatan AUnya yang kecil untuk menghentikan pasukan lapis baja Syria. Sampai sejauh ini AU Yordania baru digunakan untuk melawan orang-orang Palestina. Memang sempat ada kekhawatiran, dengan hadirnya pesawat-pesawat Yordania akan memancing kekuatan udara Syria, yang bisa menghancurkan kekuatan kecil AU Yordania, namun kini, demi keberlangsungan kekuasaan Kerajaan, pengorbanan itu diperlukan. Maka pada tanggal 22 September ketika Divisi Infanteri ke-5 Syria menyerang pasukan Yordania di Kitim-an-Nu’aymah, RJAF (AU Yordania) mengerahkan segenap kemampuannya. Mereka dilaporkan melakukan 200-250 sortie serangan darat melawan divisi Syria itu sepanjang hari. Untung bagi Yordania, Syria tidak mengerahkan kekuatan udaranya, lebih-lebih lagi Divisi ke-5 Syria hanya dilengkapi dengan sedikit senjata pertahanan udara, sehingga AU Yordania bebas menguasai udara. Dengan pasifnya pasukan lapis baja Yordania, upaya untuk mengalahkan pasukan darat Syria sepenuhnya jatuh pada AU Yordania. Terkadang satu pesawat Yordania harus menjalankan 4 hingga 8 sortie untuk menyerang pasukan Syria dalam waktu hampir 16 jam non stop. Serangan udara ini berhasil menghancurkan 20-30 tank Syria serta kendaraan lapis bajanya dengan jumlah yang hampir sama.

Posisi konsentrasi pasukan Fedayeen Palestina jelang invasi Syria ke Yordania, September 1970. (Sumber:https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu Angkatan Laut Amerika Serikat mengirim Armada Keenam ke Mediterania timur, Inggris juga mengirimkan 2 kapal induknya ke Malta dan Israel melakukan “penyebaran militer guna pencegahan” dan bila perlu membantu Hussein, untuk melawan pasukan gerilya Palestina. AS dan Israel berbagi kekhawatiran Yordania. Sebagai tanggapan, Soviet mengirimkan 20 kapal dan 6 kapal selam ke Suriah untuk mengimbangi mereka. Kedua belah pihak menunjukkan kemauan untuk melakukan serangan – yang bisa mengarah pada perang besar jika situasi tidak ditangani segera. Penerbangan pengintaian yang kemudian dilakukan oleh Angkatan Udara Israel di atas pasukan Suriah menimbulkan kekhawatiran di Damaskus bahwa Suriah akan dikalahkan dalam perang lain jika tidak menarik pasukannya dari Yordania. Suriah dengan demikian terpaksa membawa pasukannya keluar dari Yordania utara pada 24 September, setelah kehilangan lebih dari setengah kekuatan lapis baja yang dikerahkannya akibat serangan Yordania, secara keseluruhan mereka kehilangan 62 tank, 60 kendaraan lapis baja pengangkut personel dan menderita 600 korban selama 2 hari pertempuran. Keterlibatannya Syria di Yordania pada saat itu tetap menjadi bahan perdebatan sejarah. Hafez al-Assad, yang adalah menteri pertahanan Suriah pada September 1970, mengatakan kepada penulis biografinya, Patrick Seale, bahwa niat Suriah untuk menyerang Yordania utara hanya untuk melindungi orang-orang Palestina dari pembantaian. Apa pun masalahnya, penarikan cepat Suriah adalah pukulan berat bagi harapan orang-orang Palestina. Pasukan lapis baja Yordania terus menyerang markas mereka di Amman, dan mengancam akan menghancurkan mereka di wilayah lain di kerajaan itu juga. Palestina akhirnya menyetujui gencatan senjata pada tanggal 25 September. Hussein dan Arafat menghadiri pertemuan para pemimpin negara-negara Arab di Kairo, di mana Arafat memenangkan kemenangan diplomatik. Pada 27 September, Hussein terpaksa menandatangani perjanjian yang melindungi hak organisasi Palestina untuk beroperasi di Yordania. Bagi Jordania, hal ini sangat memalukan bahwa perjanjian itu memperlakukan kedua belah pihak dalam kedudukan setara.

Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser menjadi perantara gencatan senjata antara Yasser Arafat dan Raja Hussein pada pertemuan darurat Liga Arab di Kairo pada 27 September 1970. Nasser meninggal pada hari berikutnya karena serangan jantung. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Perjanjian itu menyatakan bahwa Yordania “akan mendukung gerakan pembebasan Palestina”; bahwa “kedua belah pihak akan mundur dari kota-kota,” dan “bahwa semua tahanan akan dibebaskan.” Satu-satunya klausul yang berpihak pada orang Yordania adalah klausul yang menyatakan bahwa polisi Yordania akan menjadi satu-satunya badan yang berwenang untuk memberlakukan hukum dan ketertiban. Pada 13 Oktober, Hussein dan Arafat menandatangani perjanjian lebih lanjut di Amman, di mana fedayeen akan mengakui kedaulatan Yordania dan otoritas raja, untuk menarik pasukan bersenjata mereka dari kota dan desa, dan menahan diri dari membawa senjata di luar kamp mereka. Sebagai imbalannya pemerintah setuju untuk memberikan amnesti kepada fedayeen untuk insiden yang telah terjadi selama perang saudara. Tetapi Hussein tidak punya alasan untuk beranggapan bahwa orang-orang Palestina akan mematuhi pasal ini seperti sikap mereka sebelumnya, setelah menandatangani perjanjian yang sama. Menurut perkiraan minimum yang konservatif, beberapa ratus warga Palestina tewas dalam pertempuran di bulan September 1970; menurut perkiraan maksimum, ada beberapa ribu korban. Satuan Militer independen mereka mungkin mengalami pukulan besar. Keadaan itulah yang kemudian disebut sebagai “Black September” peristiwa untuk mengenang sebuah bulan yang berdarah. Namun secara politis, Arafat dan organisasi-organisasi Palestina tidak mendapat pukulan telak. Bahkan setelah membawa kekuatan utama pasukannya untuk melawan mereka, Hussein tidak berhasil mengusir mereka dari negara itu, dan mereka dapat mempersiapkan diri untuk tahap kampanye selanjutnya. Tetapi dua perkembangan di luar Yordania menentukan nasib organisasi Palestina di Yordania. Pada 28 September, Nasser meninggal karena serangan jantung mendadak. Dia baru berusia 52 tahun, dan dikatakan bahwa tekanan luar biasa yang dia alami karena peristiwa Black September telah menyebabkan kematiannya. Dengan kematian Nasser, payung pelindung terpenting Palestina di Yordania menghilang, dan keterlibatan Mesir dalam konflik Yordania-Palestina berkurang untuk sementara waktu. Dua bulan kemudian, menteri pertahanan Suriah, Hafez al-Assad, pemimpin cabang pragmatis partai Ba’ath, mengambil alih kendali di Damaskus. Jadi Suriah juga tidak bebas untuk sementara waktu terlibat dalam urusan Palestina. Waktunya sudah matang bagi Hussein untuk melancarkan tahap ketiga dan terakhir dari aksi perang berkelanjutannya antara dirinya dan Yasser Arafat.

PERTEMPURAN TERAKHIR HUSSEIN 

Setelah kematian Nasser, Arafat mengerti benar bahwa posisinya telah melemah. Pada 31 Oktober 1970, ia menandatangani perjanjian lima poin, yang mirip dengan yang ditandatangani pada November 1968, dan dirancang untuk mengembalikan kontrol negara secara eksklusif kepada Raja Hussein. Perjanjian tersebut menyatakan bahwa anggota organisasi Palestina diharapkan untuk menghormati hukum Yordania, menginstruksikan mereka untuk membongkar pangkalan mereka, dan melarang mereka berjalan-jalan dengan senjata dan berseragam di kota-kota dan desa-desa. Seandainya Palestina menghormati perjanjian itu, Hussein akan mengalami kesulitan untuk terus bertindak terhadap mereka. Tetapi PFLP dan DFLP – dua organisasi di sebelah kiri Arafat – menolak untuk menerima persyaratannya. Mereka meminta anggotanya untuk mengabaikan pemerintah Yordania, dan pada pertemuan Dewan Nasional Palestina, mereka bertanggung jawab dalam mendorong penerimaan proposal bahwa Transjordan akan menjadi bagian dari negara Palestina yang akan didirikan di masa depan. Pembangkangan terbuka ini menyebabkan konflik baru antara Palestina dan tentara Yordania, yang para komandannya ingin menyelesaikan pekerjaan yang telah mereka mulai pada bulan September. Pada awal bulan November 1970, insiden pertempuran meletus antara anggota PFLP dan DFLP dengan pasukan keamanan Yordania. Pada 9 November, perdana menteri Yordania Wasfi al-Tal, musuh bebuyutan warga Palestina, mengumumkan bahwa sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani sebulan sebelumnya, pihak berwenang tidak akan lagi membiarkan orang Palestina berjalan-jalan dengan senjata atau menyimpan bahan peledak. Pengumuman itu tidak dihormati, dan pasukan keamanan menerima instruksi untuk menyita senjata orang-orang Palestina. Raja Hussein memerintahkan Brigadir Jenderal Sharif Zayid bin Shakir, sepupunya, sebagai komandan operasi, yang terbukti merupakan pilihan yang tepat. Dalam kepemimpinannya, pasukan Yordania belajar dari kesalahan sebelumnya dan merencanakan dengan matang operasinya, Yordania juga telah menerima tank M-60 baru dari Amerika untuk mengganti kerugian mereka sebelumnya.

Pasukan Yordania berpatroli di Amman, Musim Gugur 1970. (Sumber:https://birdinflight.com/)

Hingga Januari 1971, tentara Yordania meningkatkan kontrolnya di semua kota-kota besar. Pada awal bulan itu, tentara Yordania memulai serangan terhadap pangkalan-pangkalan Palestina di sepanjang jalan raya antara Amman dan Jerash, untuk memutuskan mereka dari kota-kota lain dan mengambil alih jalan yang menghubungkan benteng-benteng pertahanan mereka. Menanggapi operasi tersebut, Palestina sepakat untuk menyerahkan senjata mereka kepada pihak Yordania. Perjanjian ini nyatanya juga tidak dihormati. Menjelang akhir Maret, setelah sebuah gudang senjata Palestina ditemukan di Irbid, tentara Yordania menempatkan jam malam di kota, menangkap beberapa aktivis Palestina, dan mengusir yang lain. Pengambilalihan Irbid selesai pada awal April. Setelah itu, banyak anggota senior organisasi Palestina, yang menyadari kelemahan mereka, mulai menarik diri dari Amman juga. Namun, terlepas dari serangkaian kekalahan, organisasi Palestina tidak menyerah. Pada 5 Juni, organisasi senior Palestina, termasuk Fatahnya Yasser Arafat, mengeluarkan deklarasi di Radio Baghdad di mana mereka menyerukan penurunan Raja Hussein. Alasan yang mereka berikan untuk ini adalah bahwa dengan memecatnya adalah merupakan satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penandatanganan “perjanjian damai antara Israel dan Yordania.” Menanggapi desas-desus bahwa PLO berencana membentuk pemerintahan di pengasingan, Hussein pada awal Juni mengarahkan Tal untuk “menangani secara meyakinkan dan tanpa ragu-ragu dengan komplotan yang ingin mendirikan negara Palestina yang terpisah dan menghancurkan persatuan warga Yordania dan Orang-orang Palestina. “

Anak-anak Palestina bermain di reruntuhan kamp pengungsi Wihdat, September 1970. (Sumber: AFP / East News / https://birdinflight.com/)

Pada pertengahan Juni 1971, setelah tiga bulan yang menegangkan di mana kedua pihak melakukan upaya untuk memperkuat posisi mereka dengan cara-cara politik, Jordania memulai kampanye terakhir untuk melawan orang-orang Palestina. Tentara Yordania, yang selama hampir 10 bulan telah mendesak organisasi perlawanan Palestina keluar dari kota-kota besar, menggunakan pasukan besar untuk mengusir mereka dari daerah pegunungan di kota Jerash dan Ajloun, di utara kerajaan, di mana sekitar 3.000 gerilyawan bersenjata Palestina berada. Pada 13 Juli, tentara Yordania melakukan ofensif terhadap pangkalan fedayeen sekitar lima puluh kilometer barat laut Amman di daerah Ajlun – benteng terakhir fedayeen. Tal mengumumkan bahwa perjanjian Kairo dan Amman, yang telah mengatur hubungan antara fedayeen dan pemerintah Yordania, tidak lagi berlaku. Para anggota Fatah menyatakan bahwa mereka lebih memilih mati dalam pertempuran daripada menyerah pada tekanan Yordania. Amman mengerahkan brigade lapis baja ke-99, yang diperkuat dengan sebuah batalion infanteri, di sebelah timur pegunungan, sementara brigade infanteri ke-4 “Hussein bin Ali” menyerang dari arah utara. Kedua satuan juga didukung oleh kekuatan udara dan artileri serta kompi Zeni untuk menaklukkan medan yang berat. Akhirnya brigade infanteri ke-36 “Yarmouk” dikerahkan ke sebelah barat dan utara untuk memblokir semua jalan keluar melewati pegunungan Gilead. Setelah empat hari berperang, tentara Yordania mengatasi kantong perlawanan terakhir Palestina. Pada 18 Juli, fedayeen terakhir menyerah pada pasukan darat Yordania. Dalam pertempuran ini 120 tentara Yordania tewas atau terluka, dan sepanjang kampanye militer dari September 1970 sampai Juli 1971, mereka kehilangan 600 prajurit gugur dan 1.500 luka-luka. Pada 19 Juli, pemerintah mengumumkan bahwa sisa pangkalan Palestina di Yordania utara telah dihancurkan dan 2.300 dari 2.500 fedayeen telah ditangkap. Beberapa hari kemudian, banyak orang Palestina yang ditangkap dibebaskan baik untuk pergi ke negara-negara Arab lain atau untuk kembali ke kehidupan yang damai di Yordania. Raja Hussein mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa sekarang ada “ketenangan mutlak” di kerajaan itu. Tujuh puluh dua orang Palestina yang takut dengan tentara Yordania memilih untuk melakukan tindakan yang paling memalukan bagi mereka: Mereka melarikan diri ke Tepi Barat dan menyerah kepada tentara IDF. Kekalahan Palestina mutlak sudah. Raja Hussein telah menghilangkan ancaman terbesar bagi tahtanya, dan telah memperkuat kontrolnya atas kerajaan. Di akhir pertempuran, 120 tentara Yordania dan 3.500-5.000 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, tewas selama operasi militer dilakukan, sementara Arafat sendiri mengklaim, Yordania telah membunuh 25.000 orang Palestina (kemungkinan sebuah angka yang terlalu dibesar-besarkan). Fatah, yang merasa terpukul dan terhina, kemudian membentuk gerakan pembalasan yang disebut sebagai organisasi “Black September.” Operasi pertama yang dilakukan oleh kelompok ini terjadi pada 28 November 1971. Empat anggotanya membunuh Wasfi al-Tal, perdana menteri Yordania dan musuh Palestina, di tangga Hotel Sheraton di Kairo. Kata-kata terakhir Tal adalah: “Mereka membunuhku. Pembunuh, mereka hanya percaya pada api dan kehancuran.” 

Sekelompok fedayeen dicegat oleh patroli perbatasan Israel setelah melarikan diri melintasi Sungai Jordan, 21 Juli 1971. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sementara itu Raja Hussein menjadi benar-benar terisolasi dari dunia Arab lainnya, yang menuduhnya melakukan tindakan terlalu keras terhadap fedayeen dan mengecamnya sebagai yang bertanggung jawab atas kematian begitu banyak rekan Arabnya. Pada bulan Desember kelompok Black September kembali menyerang pejabat Yordania dalam sebuah upaya pembunuhan yang gagal pada duta besar Yordania untuk Inggris. Hussein menuduh bahwa pemimpin Libya, Kolonel Muammar al Qadhafi terlibat dalam komplotan untuk menggulingkan monarkinya. Pada bulan Maret 1973, pengadilan Jordania memvonis tujuh belas fedayen Black September yang dituduh merencanakan menculik perdana menteri dan menteri-menteri kabinet lainnya dan menyandera mereka sebagai imbalan atas pembebasan beberapa ratus fedayen yang ditangkap selama perang saudara. Hussein kemudian mengubah hukuman mati menjadi penjara seumur hidup “untuk alasan kemanusiaan” dan, sebagai tanggapan terhadap tekanan dari dunia Arab, pada bulan September, ia membebaskan para tahanan – termasuk pemimpin mereka Muhammad Daud Auda (juga dikenal sebagai Abu Daud) – di bawah amnesti umum.

Wasfi Tal (kanan) dengan Yasser Arafat (kiri) pada 12 Desember 1970 selama negosiasi gencatan senjata. Tal dibunuh pada tanggal 28 November 1971 di Mesir oleh Organisasi September Hitam. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

SETELAH BLACK SEPTEMBER 

Terdapat ungkapan yang menyatakan bahwa sejarah akan berulang dengan sendirinya, sekali sebagai tragedi dan sekali sebagai lelucon, namun hal ini belum terbukti di Timur Tengah. Di sini tragedi cenderung terulang lagi dan lagi. Untuk identitas negara Yordania, bulan September 1970 adalah sebuah titik balik. Upaya berkelanjutan yang dilakukan oleh Raja Hussein untuk mengaburkan perbedaan antara identitas orang-orang Transjordan dan orang-orang Palestina digantikan oleh upaya “Jordanisasi” pada administrasi dan tentara di kerajaan, dan membuka jalan bagi Hussein untuk secara bertahap melepaskan keinginannya untuk mendapatkan kembali kedaulatan totalnya atas wilayah Tepi Barat. Dukungan Amerika dan Israel atas Yordania dalam menghadapi invasi Suriah di wilayah utara kerajaan itu telah memperkuat keyakinan Yordania tentang fakta bahwa stabilitas kerajaan itu bergantung pada dukungan Barat. Sementara itu untuk kepemimpinan Palestina, Black September adalah bulan di mana bulan itu membuktikan bahwa kekuatan militer anggotanya tidak boleh diremehkan, dan bahwa ia memiliki kemampuan untuk merumuskan agenda negara-negara Arab dan Israel. Pada saat yang sama, kepemimpinan Palestina juga membuktikan bahwa mereka tidak menyadari keterbatasan kekuatannya, dan telah salah memperkirakan kemauan dan kemampuan negara-negara Arab untuk memperjuangkan rakyatnya. Sejak itu, kepemimpinan Palestina telah kembali ke pencapaian – dan kesalahan – mereka dalam Black September, dimana kedua hal itu kemudian sering mereka ulangi kembali di masa depan, seperti di Lebanon tahun 1980an.

Pada tahun 1982, Arafat kembali terusir dari tempat markas perlawanannya, kali ini di Lebanon. (Sumber:https://english.alaraby.co.uk/)

Untuk Yasser Arafat, Black September adalah sebuah ujian. Dia diminta untuk menghormati perjanjian, dan berulang kali juga melanggarnya; dia diminta mengusir para ekstremis di pihaknya, dan dia nyatanya tidak mengusir mereka; dia diminta memilih tujuan strategis yang realistis, dan dia tidak memilihnya. Dari Yordania ia melanjutkan aksinya di Libanon, dari Libanon ia diusir ke Tunis, dari Tunis kembali lagi ke Gaza dan ke Ramallah, di mana ia mendapati dirinya, 32 tahun setelah Black September, sekali lagi dalam kekacauan, dan sekali lagi dikepung oleh pasukan lapis baja yang ia tidak akan dapat menundukkan. Pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa Black September tidak cepat terlupakan. Setelah invasi IDF baru-baru ini ke kota-kota Palestina (tahun 2002), Kerajaan Hashemite mengirim beberapa peringatan serius ke Israel. Hal itu termasuk peringatan tentang konsekuensi tragis jika mereka mendeportasi Yasser Arafat kembali ke Yordania.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Out of Jordan by Uriya Shavit; 10.04.2002

https://www.google.com/amp/s/www.haaretz.com/amp/1.5300023

Arabs at War, Military Effectiveness, 1948-1991 p 335-341 by Kenneth M. Pollack; 2002

Jordanian Removal of the PLO

https://www.globalsecurity.org/military/world/war/jordan-civil.htm

Black September: How Palestinian Terrorism Was Born by Ivan Siiak

2 October, 2015

https://birdinflight.com/world/black-september-how-palestinian-terrorism-was-born.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Black_September

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *