British Rifle Section in World War II

Kompi senapan Inggris dalam Perang Dunia II terdiri dari 4 elemen: 1 kompi Markas Besar dan 3 Pleton (untuk selanjutnya sering disebut sebagai Peleton Senapan atau “Peleton” saja). Kompi Markas Besar berfungsi sebagai pusat komando dan elemen pendukung kompi, sementara Peleton Senapan adalah elemen tempurnya. Setiap Pleton terdiri dari 3 Regu/regu/tim senapan.

A typical infantry section in Normandy, 1944.  The section’s Bren gun is not visible in this photo; the man next to the tree is likely the Bren gunner.  The man at bottom right appears to be wearing a dispatch rider’s helmet, and is probably from company headquarters.

Regu senapan, sering hanya disebut Regu saja, adalah tulang punggung dari infanteri Inggris. Satuan ini adalah unit terkecil yang dapat beroperasi secara independen. Secara tradisional, satuan ini terdiri dari delapan orang. Selama Perang Dunia II, satuan ini bertambah menjadi sepuluh orang; Namun, delapan orang masih mungkin beroperasi efektif, dengan dua prajurit lainnya yang tersisa digunakan sebagai cadangan. Enam personel dianggap sebagai jumlah operasional minimum. Secara tradisional, satu pleton terdiri dari tiga Regu; sementara satu peleton biasa beroperasi bersama selama serangan, sebagian besar patroli dilakukan di tingkat Regu. Istilah “regu” digunakan secara lebih umum; kelompok mana pun yang terdiri dari tiga prajurit atau lebih dapat membentuk satu regu, dan biasanya dibentuk secara ad hoc.

Struktur dasar

Kopral biasanya ditunjuk sebagai pemimpin Regu, dengan lance corporal sebagai asisten pemimpin Regu; sementara sisanya berpangkat prajurit. Unit ini akan melakukan semua tugasnya bersama-sama. Mereka tidur di kamar barak yang sama, dan bertanggung jawab untuk menjaganya tetap bersih; mereka makan bersama; yang paling penting, mereka berlatih bersama. Petugas dan NCO sering mengubah kegiatan pelatihan menjadi kompetisi antara tiga Regu yang berbeda dalam peleton. Kadang-kadang, seluruh Regu akan dihukum karena kesalahan satu orang. Semua kegiatan ini dirancang untuk mendorong kerja tim dan kerja sama dalam Regu ini; pada saat Regu itu berperang, sudah menjadi sifat alami bagi para anggotanya untuk bekerja bersama dan saling bergantung sama lain.

Struktur Regu Senapan Inggris (1943-1945)

Setiap anggota Regu membentuk ikatan yang kuat dan melihat diri mereka seperti sebuah keluarga. Mungkin saja ada individu-individu yang tidak saling menyukai, tetapi mereka masih saling percaya dan bergantung. Kelemahan dari pendekatan model seperti ini adalah jika timbul korban jiwa maka dapat menciptakan kerusakan emosional yang besar pada unit tersebut. Jika kemudian cukup banyak korban, kadang-kadang lebih baik membubarkan Regu itu dan menggunakan orang-orangnya sebagai tenaga pengganti satuan lain, daripada mencoba mengganti kerugian yang ada. Selain itu secara praktikal sulit bagi pasukan pengganti untuk masuk ke Regu yang sudah mapan.

Persenjataan

Dalam pertempuran, pemimpin Regu biasa membawa Sub Machine Gun, baik Thompson kaliber .45 ACP atau Sten kaliber 9x19mm Parabellum, tergantung pada medan tempur dan periode waktu. Sten dibuat untuk menggantikan Thompson sebagai SMG yang murah dan dengan cepat bisa dibuat secara massal. Pengecualian terjadi pada Tentara ke-8 yang dikerahkan ke Italia, di mana prajurit Inggris terus menggunakan M1928, M1928A1, dan M1A1 Thompsons yang lebih baru hingga akhir perang. Pemimpin Regu juga biasanya membawa satu set pemotong kawat, dan asisten pemimpin Regu akan membawa parang. Satu senapan mesin ringan Bren kaliber .303 melengkapi per Regu. Meskipun Bren yang disuplai kotak amunisi 30 peluru (standarnya diisi 28 peluru) dapat dioperasikan oleh satu orang, namun akan lebih efektif ketika dioperasikan oleh sebuah tim. Crew Bren Nomor 1 adalah penembak, dibantu oleh crew Bren Nomor 2, yang membawa laras cadangan dan sebagian besar magazine peluru; seperti sebagian besar anggota Regu lainnya, crew no 2 dipersenjatai dengan senapan bolt action Lee-Enfield bermagazine 10 peluru kaliber .303. Perwira di Kompi Senapan secara resmi diizinkan membawa revolver Enfield atau Webley. Diberikannya pistol kepada perwira secara eksklusif sudah umum dilakukan sampai Perang Dunia II pecah.

Senapan bolt action Lee-Enfield standar Infanteri Inggris dalam Perang Dunia II
Meski telah ada Sten, namun beberapa pemimpin Regu Infanteri Inggris masih dipersenjatai dengan SMG Thompson, seperti mereka yang ditugaskan medan di Italia
Sten Gun muncul untuk memenuhi kebutuhan infanteri Inggris akan SMG yang murah dan mudah diproduksi massal
Militer Inggris memperbolehkan para perwira untuk membawa revolver sebagai senjata cadangan

Karena Bren disuplai peluru dari magazine/kotak peluru, bukan dari sabuk peluru, setiap anggota Regu dapat membantu membawa amunisi. Setiap orang membawa dua magazine, kecuali crew Bren yang membawa hingga enam (kalau perlu): dua di kantong standarnya, ditambah empat lagi di satu set kantong tambahan. Asisten pemimpin Regu bertanggung jawab untuk memilih posisi menembak terbaik untuk crew Bren, dan menggunakan parang untuk membersihkan semak-semak saat dibutuhkan. Dia akan memilih target untuk crew Bren dan mengamati keefektifan tembakan. Crew Bren nomer 2 akan mengganti magazine, dan juga mengganti laras untuk menghindari kerusakan karena terlalu panas akibat rentetan tembakan panjang.

Bren LMG senjata terpenting dalam struktur regu infanteri Inggris saat Perang Dunia II

Sejauh ini, senjata Bren adalah sistem senjata terpenting di unit Regu senapan Inggris, sebanding dengan bagaimana senapan mesin serba guna adalah senjata paling penting di unit Gruppe Angkatan Darat Jerman saat itu. Taktik tempur unit Regu Inggris yang berbasis di sekitar senapan mesin ringan Bren bahkan nilai penting dari senjata Bren itu lebih dari unit Jerman yang mendasarkan kemampuan ofensifnya di sekitar senapan mesin serbaguna MG-34 atau MG-42, maka dari itu beban amunisi untuk senapan mesin ringan Bren Inggris didistribusikan di antara semua anggota Regu senapan lebih dari unit pasukan Jerman yang setara, dimana beban amunisinya dibawa penembak dan asistennya.

Standar Bawaan Amunisi per Regu/regu (1944)

Section Commander (160 peluru untuk Sten SMG; 2 Mills Bombs) – 

◦ 5 Sten gun magazines, 32 peluru per magazine

◦ 2 Mills Bombs

Rifleman (50 peluru senapan Lee Enfield, 108 peluru untuk Bren; 1 Mills Bomb) – 

◦ 10 clips amunisi senapan dalam 1 Bandolier yang digantungkan di torso, 5 peluru per clip

◦ 2 Bren gun magazines dalam 1 Patt’ 1937 pouch, 28 peluru per magazine

◦ 10 clips mengisi magazine Bren dalam 1 Bandolier yang disimpan pada Patt’ 1937 pouch, 5 peluru per clip

◦ 1 Mills Bomb 

Section Second-in-Command* (50 peluru senapan; 112 peluru Bren) – 

◦ 10 clips amunisi senapan dalam 1 Bandolier yang digantungkan di torso, 5 peluru per clip

◦ 4 Magazine Bren (2 per Patt’ 1937 pouch), 28 peluru per magazine

Bren No. 1 (140 peluru untuk Bren) – 

◦ 1 magazine Bren yang sudah terpasang pada senjata dengan 28 peluru

◦ 4 magazine Bren (2 per Patt’ 1937 pouch), 28 peluru per magazine

Bren No. 2* (50 peluru senapan; 112 peluru untuk Bren; 2 Mills Bombs) – 

◦ 10 clips untuk amunisi senapan dalam 1 Bandolier yang digantung di torso, 5 peluru per clip

◦ 4 Magazine Bren (2 per Patt’ 1937 pouch), 28 peluru per magazine

◦ 2 Mills Bombs 

• Total: 1,000 peluru untuk senjata Bren, 400 peluru untuk Rifles, 160 peluru untuk Sten, 10 Mills Bombs

*Juga membawa 2 utility pouches sebagai tambahan 2 basic pouches.

Formasi

Manual pelatihan “Infantry Section Leading (1938)” menggambarkan formasi berbeda yang dapat dipilih oleh pemimpin Regu tergantung pada medannya: Single file, file (kolom ganda yang digabungkan), panah, atau extended line (garis sejajar). Meskipun formasi-formasi ini memberi pemimpin Regu kontrol yang baik terhadap anak buahnya, namun hanya memiliki sedikit fleksibilitas. Pengalaman masa perang menyebabkan perubahan diterapkan dalam manual yang dibuat kemudian, “Infantry Training:  Fieldcraft, Battle Drill, Section and Platoon Tactics (1944)”. Sementara Single file dan extended line dipertahankan, manual yang lebih baru juga termasuk loose file dan irregular arrowhead, berdasarkan pada formasi sebelumnya tetapi dengan penerapan lebih fleksibel. Manual 1944 juga memperkenalkan formasi, yang masing-masing terdiri dari dua hingga empat orang. Formasi ini adalah yang termudah untuk beradaptasi, dan juga yang paling sulit dikenali melalui pengamatan udara.

Formasi tembak Single File

Sebuah Regu akan berpatroli sebagai satu kesatuan, tetapi akan pecah menjadi dua kelompok setelah bertemu musuh. Grup Bren terdiri dari asisten pemimpin Regu dan crew Bren Nomor 1 dan crew Bren Nomor 2, seperti yang dijelaskan di atas. Sisanya, yaitu, pemimpin Regu dan anggota lainnya yang bersenjatakan senapan, disebut sebagai kelompok penyerbu. Bahkan ketika dipecah menjadi dua kelompok, unit itu masih satu kesatuan; asisten pemimpin Regu tidak memiliki komando independen dan tidak berwenang melebihi instruksi yang ditetapkan oleh pemimpin Regu. Kedua kelompok beroperasi saling mendukung dan berhubungan satu sama lain, tidak pernah beroperasi sendiri-sendiri.

Formasi Extended Line

Regu 2IC (in charge of the Gun Group/yang bertanggung jawab atas senjata regu) harus berada dalam posisi yang ideal untuk mengamati seluruh medan sambil melaksanakan tugas yang tidak begitu berisiko — tetapi masih sangat penting — untuk mengoperasikan senapan mesin ringan Bren yang amat penting bagi Regu itu.

Formasi Arrowhead

Taktik tempur

Memecah kelompok bertujuan untuk membuat taktik “fire and maneuver” (manuver dan menembak) lebih efektif; sementara satu kelompok bergerak, kelompok lain dalam posisi tetap, menyediakan tembakan perlindungan. Dengan cara ini, kedua kelompok bisa bergerak bergantian dengan tetap memperhatikan keseimbangan ofensif dan defensif. Tujuan dari taktik ini adalah untuk membuat tim Bren ada di posisi yang menguntungkan untuk memberikan tembakan yang efektif, terutama dari sisi samping pihak musuh yang tidak terlindungi. Begitu musuh tertekan oleh tembakan Tim Bren, tim sisanya yang bersenjatakan senapan akan menyerang musuh, menembak dari pinggul saat bergerak. Bilamana memungkinkan, tim senapan akan melemparkan satu atau dua granat dari jarak cukup dekat, tetapi serangan terakhir biasanya dilakukan dengan bayonet. Ketika tim senapan cukup dekat dengan musuh sehingga tim Bren tidak bisa lagi dengan cukup aman memberikan tembakan pendukung, tim Bren akan mengatur ulang posisinya untuk menghadang musuh yang berusaha melarikan diri, atau untuk mencegah bala bantuan yang datang.

The rifle section in the attack, showing typical “fire and maneuver” tactics.  Diagram copied from “Infantry Training:  Fieldcraft, Battle Drill, Section and Platoon Tactics (1944)”.  “FUP” is “forming up point”, and “SL” is “start line”.

Beberapa manual pelatihan yang dibuat pada masa perang menampilkan anggota Regu yang memiliki peran khusus, seperti penembak jitu atau “bomber” (grenadier). Namun, manual yang lebih umum tidak memasukkan deskripsi semacam ini, dan sebagian besar batalyon infanteri lebih suka tentara mereka untuk menjadi prajurit “rata2”, yang dilatih untuk menggunakan berbagai tipe senjata yang dioperasikan dalam Regu. Hal ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar dan recovery efektifitas Regu dengan lebih cepat saat korban berjatuhan; misalnya, jika penembak Bren terluka, prajurit lain akan mengambil alih senjata menggantikan penembak yang terluka.

Setiap anggota regu infanteri Inggris dilatih untuk dapat mengoperasikan Bren LMG, hal ini amat membantu fleksibilitas di medan tempur jika penembak utama Bren tidak dapat menjalankan tugasnya.

Sesekali terdapat variasi dari struktur yang dijelaskan di atas. Tidak jarang pemimpin Regu menjadi korban, dan asistennya akan menjadi menggantikan sebagai pemimpin Regu. Jika asisten juga menjadi menjadi korban, salah satu dari “old sweats”, atau prajurit yang paling berpengalaman, akan bertindak sebagai pemimpin Regu, biasanya atas penunjukan oleh sersan peleton, tetapi kadang-kadang atas inisiatifnya sendiri. Di banyak unit Lintas Udara, pemimpin Regu adalah sersan dan bukan kopral, karena dirasa perlu pengalaman yang lebih besar dalam operasi Airborne.

Troops from 1st Parachute Battalion fighting near Arnhem, September 1944.  The Bren LMG can be seen at left.  The corporal is armed with a rifle; he is most likely the assistant section leader, as the Airborne typically used sergeants as section leaders.

Ada juga saat-saat ketika beberapa prajurit bersenjata senapan mengganti senapan mereka dengan SMG Sten, ketika diketahui bahwa sifat pertempuran berubah menjadi pertempuran jarak dekat, seperti operasi di kota-kota, atau di daerah “pagar tanaman” (hedgerow) Normandia. Di akhir perang, beberapa Regu bisa dilengkapi dengan dua senjata Bren, karena LMG yang sebelumnya dialokasikan untuk keperluan lain tersedia dalam jumlah berlebih untuk infanteri.

Legacy

Setelah Perang Dunia II, Angkatan Darat Inggris kembali ke Regu yang terdiri dari delapan orang, dan mempertahankan struktur dasar Regu yang sama. Senapan Lee-Enfield digantikan dengan senapan Self-Loading Rifle L1A1, dan Bren dimodifikasi dari kaliber lama .303 inci menjadi kaliber 7,62 x 51mm NATO; tetapi bagian dasar Regu yang terdiri dari tim senapan dan tim senapan mesin ringan tetap ada. Bren akhirnya diganti dengan senapan mesin serba guna yang menggunakan sabuk peluru. Tentara Inggris masa kini dipersenjatai dengan berbagai, terutama dari keluarga senapan SA80; unit Regu sekarang dibagi menjadi empat orang “fire team”. Namun konsep lama tentang cara kerja, pelatihan, cara hidup dan teknik tempur bersama sebagai Regu tempur masih tetap sama.

Formasi Regu Infanteri Inggris di era Modern

Kesimpulan

Secara taktikal, konsep Regu/squad/regu senapan Inggris saat Perang Dunia II lebih mirip dengan konsep regu Amerika dibanding dengan konsep milik Jerman. Konsep Jerman mendasarkan pada senapan mesin ringan MG-34/42 sebagai pusat dari ofensif regu, sedangkan pada konsep Inggris, meski senapan mesin ringan Bren menjadi faktor krusial, namun Bren lebih berperan pada tugas covering fire yang bersinergi dengan prajurit bersenjata senapan dalam melakukan ofensif dan gerak maju regu.

A section advances through a village in Normandy, 1944.  The corporal, armed with a Sten carbine, leads his section.  The man directly behind him is the Bren Number 2, as evidenced by the supplemental pouches full of Bren magazines.

Jika melihat karakteristik dari Bren dan senapan mesin GPMG milik Jerman, secara spec, regu Jerman diuntungkan dengan firepower dari MG-34/42 yang punya rate of fire tinggi. Sebagai senjata penekan posisi lawan, MG milik Jerman jelas menakutkan, namun dari sisi akurasi Bren lebih bisa diandalkan dalam memberikan tembakan terarah ke posisi lawan. Di pihak lain, Regu Inggris memiliki distribusi load yang lebih merata dibanding regu Jerman, hal ini tentunya akan membantu mobilitas dari unit kecil ini.

Pada akhirnya kedua konsep yang berbeda ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebaik apapun konsep tempur masing-masing unit, kemenangan di medan pertempuran ditentukan oleh pihak mana yang mampu mendistribusikan kekuatan secara seimbang dan efisien di waktu dan tempat yang paling krusial. Kekuatan besar tidak berguna bila digunakan di medan yang tidak krusial, sebaliknya kekuatan kecil yang dikonsentrasikan di titik yang krusial bisa jadi menjadi penentu di medan perang.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

The Rifle Section: Backbone of the British Infantry

https://www.google.com/amp/s/sergeanttombstoneshistory.wordpress.com/2017/10/29/the-rifle-section-backbone-of-the-british-infantry/amp/

British Army Rifle Company (1943-1945)

https://www.battleorder.org/uk-rifle-co-1944

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *