Catatan Emas Dan Aib Brigade Marinir ke-2 “Blue Dragon” Korea Selatan Dalam Perang Vietnam (1965-1972)

Pada tanggal 1 Juni 1965, Perdana Menteri Vietnam Selatan, Nguyễn Cao Kỳ meminta bantuan militer dari Korea Selatan. Menanggapi hal itu, untuk mendukung Vietnam Selatan dari ancaman komunis Vietnam Utara, Dewan Negara Korea setuju untuk mengirim sebuah Divisi dan unit pendukungnya pada tanggal 2 Juli, dan akhirnya Majelis Nasional Korea Selatan membuat keputusan akhir untuk mengirim pasukan pada tanggal 13 Agustus. Pada tanggal 17 Agustus, Korps Marinir Republik Korea menempatkan berbagai batalyon, kompi, dan peleton ke Resimen Marinir ke-2 untuk meningkatkan ukurannya menjadi seukuran brigade. Korps Marinir awalnya memang merencanakan meningkatkan kekuatan batalionnya menjadi unit ukuran resimen, tetapi laporan dari Vietnam mengatakan bahwa memisahkan pasukan Angkatan Darat dan Marinir lebih tepat untuk dilakukan, sehingga satuan marinir setingkat Brigade perlu untuk dibentuk. Dengan kehadiran Presiden Park Chung-hee, Brigade Marinir ke-2 secara resmi diaktifkan di kamp pelatihan Korps Marinir ROK (Republic Of Korea) di Pohang pada tanggal 20 September 1965.

Memenuhi permintaan Perdana Menteri Vietnam Selatan, Nguyễn Cao Kỳ. Korea Selatan mengirimkan satuan marinirnya untuk bertempur melawan kekuatan komunis dalam Perang Vietnam. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

LATAR BELAKANG

Pada tanggal 9 Oktober 1965, Brigadir Jenderal Lee Bong Chool dan Brigade Marinir ke-2 Korea Selatan mendarat di Teluk Cam Ranh (hanya 6 bulan setelah Amerika secara resmi mengirim pasukan marinirnya ke Vietnam). Berbicara kepada wartawan yang datang untuk menyaksikan kedatangan unit tempur pertama dari Republik Korea (ROK), veteran Perang Korea itu menyatakan, “Kami hanya memiliki satu tujuan di sini — bertempur,” dan dia menekankan bahwa marinir, pelaut, dan tentara dari Unit “Blue Dragon” Korea siap untuk melawan gerilyawan Komunis Viet Cong “di mana saja, (dan) kapan saja”. Selama enam tahun berikutnya, lebih dari 37.000 marinir ROK memenuhi janji Jenderal Lee. Dengan jumlah mereka yang cuma lebih dari 10 persen prajurit Korea yang dikerahkan ke Vietnam, mereka telah membuktikan diri sebagai satuan tempur yang efektif yang melebihi proporsi jumlah mereka. Bertugas di seluruh negeri, baik bekerja bersama maupun terpisah dari unit Marinir AS, marinir Korea melanjutkan warisan keberanian dan pengorbanan yang telah dimulai dalam unit mereka sejak Perang Korea. Kesuksesan mereka di medan perang Vietnam kemudian membawa misi dan tanggung jawab baru di Korea sendiri, dan mengantarkannya pada “Zaman Keemasan Korps Marinir” di Korea Selatan. 

Pembawa bendera Brigade saat peringatan pertama kedatangan Brigade Marinir ke-2 Republik Korea di Vietnam Selatan. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Satuan “Blue Dragon” sendiri bukanlah kontingen Korea Selatan pertama yang dikirim ke Vietnam. Sebelumnya dalam menanggapi permohonan dukungan internasional, pemerintah Korea telah mengirim 10 instruktur Tae Kwon Do dan rumah sakit bedah tentara keliling (MASH) ke Vietnam Selatan pada tanggal 13 September 1964. Sementara itu banjir besar selama musim gugur membuat pemerintah Saigon meminta dukungan satuan zeni untuk membantu dalam upaya rekonstruksi dan pengamanan. Pada bulan Februari 1965, Grup Bantuan Militer Korea untuk Vietnam yang terdiri dari 2.400 orang, tiba di Bien Hoa. “Unit Dove” ini diorganisir di sekitar kompi zeni Angkatan Darar dan marinir, dengan didukung oleh batalion keamanan, kompi transportasi, markas besar dan elemen penghubung dan kapal pendarat tank. Selama tahun pertama mereka, pasukan zeni Korea membangun empat sekolah, tiga jembatan, dua apotik dan dua kantor dusun, dan juga melaksanakan banyak proyek rekonstruksi kecil. Pada musim semi tahun 1965, Presiden Korea, Park Chung Hee mengumumkan pengiriman sebuah divisi infanteri Korea ke Vietnam. Pasukan Marinir dipastikan memiliki peran dalam pasukan tersebut, karena mantan komandan marinir Kim Seung Un menjabat sebagai menteri pertahanan rezim Park. Markas besar Korps Marinir ROK merekomendasikan sebuah brigade berkekuatan 5.800 orang sebagai bagian dari kontribusi marinir, dan memerintahkan Divisi Marinir ke-1 untuk membentuk dan melatih brigade yang akan dikirimkan. Kementerian Pertahanan Nasional mengarahkan agar resimen Angkatan Darat Korea untuk mempersiapkan hal serupa. Jenderal Lee, yang memimpin sebuah kompi di batalion Menteri Kim selama kampanye Inchon-Seoul tahun 1950, lalu diangkat menjadi komandan pertama.

PENUGASAN KE VIETNAM

Brigade Marinir ke-2 diorganisir di sekitar tiga batalion infanteri Resimen Marinir ke-2, dengan didukung oleh batalion artileri komposit (kaliber 105 mm dan 155 mm), kompi mortir berat, detasemen aviasi dan satuan markas, serta kompi-kompi perbekalan, medis, dan keamanan. Angkatan Darat ROK menyediakan sebuah batalion artileri kaliber 155mm dan kompi zeni perintis, sementara angkatan laut menjalankan peran tradisional dengan mengirimkan dokter, medis, dan perwira pengarah tembakan angkatan laut. Marinir dengan penuh kebanggaan memerintahkan Divisi Marinir ke-1 segera menjawab panggilan negara, untuk menegaskan moto yang diadopsi oleh lima komandan mereka sebelumnya, yakni “Siap untuk Dikirimkan.” Ketika marinir ROK mendarat di Cam Ranh Bay pada bulan Oktober 1965, mereka menggantikan Divisi Lintas Udara ke-101 Amerika, dengan mengambil tanggung jawab untuk melindungi depot perbekalan yang sedang dikembangkan disana. Saat itu adalah awal musim hujan, dan prajurit-prajurit Blue Dragon harus cepat beradaptasi dengan tantangan di lingkungan yang baru. Di tengah hujan lebat dan lumpur yang menyertainya, mereka mengejar musuh yang sulit ditangkap yang lebih menyukai taktik tembak-lari dari jaringan terowongan yang mengelilingi daerah tersebut. Sambil berfokus pada patroli unit kecil, marinir Korea siap memasukkan taktik baru yang dipelajari dari pasukan sekutu mereka. Selama Operasi Washington, Batalyon ke-2 diangkut lewat udara ke Phan Rang, tempat marinir ROK membersihkan area yang digunakan pasukan gerilya yang mengancam pangkalan udara. Batalyon tersebut kembali ke Teluk Cam Ranh untuk menjalankan tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh unit tentara Prancis (dalam perang sebelumnya) maupun Vietnam Selatan: yakni mengamankan Pegunungan Ca Tau. Pada tanggal 4 November, Batalyon ke-2 menyerang ke atas gunung, secara sistematis menghancurkan pasukan musuh yang bertempur dari posisi yang dipertahankan dengan baik selama lebih dari 18 tahun. Setelah sembilan jam pertempuran, marinir ROK mengamankan gunung tersebut. 

Area kewenangan Tentara Korea Selatan di Vietnam bulan Desember 1966. (Sumber: http://webdoc.sub.gwdg.de/)

Empat hari kemudian, Satuan Blue Dragon memulai Operasi Lightning, sebuah operasi dengan satuan seukuran brigade pertama mereka. Bergerak cepat, mereka membersihkan daerah tempat gerilyawan Viet Cong secara teratur menyerang fasilitas pasukan sekutu, dan mengamankan Highway 1, sebuah jalan utama di Vietnam Selatan. Marinir Korea kemudian merebut bukit yang menghadap Pangkalan Udara Nha Trang, merebut mortir-mortir berat dan menghilangkan ancaman terhadap pangkalan udara Amerika itu. Sebagai hasil dari aksi marinir ROK selama pertempuran awal ini, komandan Viet Cong bahkan sempat memerintahkan tentara mereka untuk menghindari unit-unit Korea dan mundur jika mereka melakukan kontak senjata. Pada bulan Desember, marinir ROK pindah ke daerah Tui Hoa, di mana unit Tentara Vietnam Utara (NVA) dan para gerilyawan Viet Cong menargetkan tanaman padi yang melimpah di wilayah itu. Beroperasi bersama Resimen ke-47 ARVN dan didukung oleh Marinir AS dan unit Aviasi Angkatan Darat AS, marinir ROK memulai Operasi Blue Dragon I untuk melindungi panenan beras. Hingga tanggal 16 Januari 1966, marinir ROK telah membersihkan area dari pasukan musuh, mengalahkan elemen dari Resimen ke-95 NVA, mengamankan Highway 1 dan memblokir rute infiltrasi laut. Segera setelah operasi, Satuan Blue Dragon memulai aksi bantuan bagi masyarakat sipil selama enam bulan di wilayah tersebut, untuk mendapatkan kepercayaan dari penduduk Tui Hoa melalui banyak proyek rekonstruksi yang mereka buat. 

PARA NAGA DI MEDAN TEMPUR

Brigade tersebut kemudian memulai Operasi Sea Breeze pada tanggal 22 Juli 1966, untuk mengejar gerilyawan yang melarikan diri dari daerah pesisir dan sekarang beroperasi dari wilayah pegunungan. Selama operasi ini, aksi Kapten Lee In Ho — seorang perwira infanteri yang lulus dari Akademi Angkatan Laut Korea dan Sekolah Dasar Korps Marinir AS — menjadi simbol keberanian semua prajurit Korea. Pada tanggal 11 Agustus, Pasukan marinir dari Batalyon ke-3 membawa dua wanita Viet Cong yang ditangkap ke Kapten Lee, perwira intelijen batalion. Selama interogasi, para wanita tersebut mengungkapkan lokasi markas mereka dan membawa Lee dan satuan patroli Yang terdiri dari enam orang ke pintu masuk sebuah gua besar. Saat Lee dan anggota marinirnya memasuki gua, seorang gerilyawan yang bersembunyi di dalam melemparkan granat tangan ke arah mereka. Lee segera melemparkannya kembali, tetapi granat kedua menyusul, dan Lee memerintahkan anak buahnya keluar. Granat itu meledak saat dia meraihnya. Tubuh Lee menyerap ledakan itu, melindungi anak buahnya dari bahaya dan aksinya itu langsung membunuhnya. Kisah aksi Kapten Lee lalu mendominasi halaman depan surat kabar utama Korea Selatan, yang editorialnya memuji kebajikan dan menyesali kematiannya. Sangat tersentuh oleh pengorbanan perwira muda tersebut, Presiden Park kemudian menulis surat belasungkawa kepada keluarga Lee, Lee sendiri secara anumerta dipromosikan menjadi mayor dan dianugerahi Medali Taeguk, Medali kehormatan tertinggi untuk keberanian dalam militer Korea Selatan. Presiden Lyndon Johnson sendiri memberikan medali Silver Star kepada janda Lee selama kunjungannya ke Korea musim gugur itu. 

Marinir Korea, seperti unit militer Korea Selatan lainnya di Vietnam, dikenal karena efisiensi dan keberaniannya. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Brigade Marinir ke-2 ROK lalu dikirim kembali ke Semenanjung Batangan selama bulan Agustus dan September dan ditugaskan di area taktis yang menjadi tanggung jawab Komando Pertahanan Chu Lai. Ini adalah pertama kalinya unit marinir Amerika dan Korea beroperasi bersama sejak bulan Maret 1954. Operasi itu juga merupakan reuni antara komandan senior kedua pasukan; yakni Letnan Jenderal Lewis W. Walt, panglima III Marine Amphibious Force (MAF III), dan Jenderal Lee yang pernah menjadi teman sekelas di Quantico, Va. Meskipun Blue Dragon tidak di bawah komando III MAF, marinir Amerika dan Korea mengoordinasikan setiap aksi mereka dalam mempertahankan pangkalan. Segera setelah tiba, brigade tersebut memulai serangkaian operasi untuk mendapatkan kembali kendali atas desa, jalan dan saluran air dari unit Viet Cong dan satuan non regulernya. Aksi individu dan unit kecil dalam operasi itu dicirikan oleh contoh keberanian luar biasa yang tak terhitung jumlahnya. Namun tidak ada yang mewujudkan keberanian itu lebih dari Petty Officer Ji Deok Chul. 

Marinir Korea Selatan sedang menginterogasi warga Vietnam Selatan. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Selama Operasi Kang Ku, pasukan Viet Cong menyergap Peleton ke-3/Kompi ke-3 saat memasuki sebuah desa pada tanggal 1 Februari 1967. VC mengepung peleton tersebut, dan korban diantara marinir ROK bertambah dengan cepat. Petty Officer Ji, petugas medis kompi, bergegas ke marinir-marinir yang terluka. Meski terkena tembakan senapan, dia mengabaikan lukanya sendiri dan merawat tiga kawannya. Melihat ada 20 VC yang maju ke posisinya, Ji mengambil senapan dan membunuh banyak gerilyawan itu. Ketika helikopter tiba untuk mengangkut yang terluka, Ji menolak untuk ikut naik, dan bersikeras bahwa orang-orang yang berada di bawah perawatannya harus dievakuasi terlebih dahulu. Dia kemudian gugur saat menyaksikan helikopter pergi membawa marinir yang terluka ke garis belakang. Sebagai pengakuan atas keberanian tanpa pamrihnya, Petty Officer Ji dipromosikan secara anumerta dan dianugerahi Medali Taeguk, satu-satunya pelaut ROK yang menerima penghargaan tersebut. 

Dalam Pertempuran Tra Binh Dong, Marinir Korea Selatan memperoleh kemenangan terbesarnya selama perang. (Sumber: http://rokfv.com/)

Sementara itu pada dini hari tanggal 14 Februari, sekitar 2.400 tentara NVA menyerang Kompi ke-11/Batalyon ke-3. Marinir pimpinan Kapten Jung Kyung Jin yang mempertahankan sebuah bukit kecil di pinggiran desa Tra Binh Dong. Ketika Pasukan Vietnam Utara menembus pertahanan Peleton ke-3, marinir Korea melawan dengan berbagai berbagai macam alat, beliung, dan tinju yang kuat. Letnan Dua Shin Won Bae, Komandan Peleton Satu, memimpin regu penembaknya 100 meter di luar batas perimeter untuk menghancurkan tim mortir musuh. Menembakkan senapan mesin dan melempar granat tangan, Letnan Shin dan Sersan Oh Sung Hwan membunuh tentara-tentara NVA dan mengerahkan peletonnya untuk memulihkan pertahanan perimeter. Ketika pasukan Vietnam Utara menyerang kompi itu untuk terakhir kalinya, marinir ROK menghentikan mereka. NVA kemudian melarikan diri dengan meninggalkan 243 orang tewas, lebih dari 100 dari mereka berada berserakan dalam perimeter pertahanan ROK. Sementara itu Kompi ke-11 kehilangan 15 personel marinir. Setelah kekalahan itu, NVA membatalkan rencana serangan selanjutnya terhadap Kota Quang Ngai dan Pangkalan Marinir AS di Chu Lai. Pemerintah Korea memberikan lebih banyak penghargaan untuk para prajuritnya yang terlibat dalam Pertempuran Tra Binh Dong daripada yang diberikan pada aksi lainnya selama perang. Presiden Park mempromosikan semua marinir Korea yang terlibat dalam pertempuran satu pangkat lebih tinggi, sebuah promosi yang diterima seluruh unit pertama sejak masa Perang Korea. Kapten Jung dan Letnan Shin menerima satu-satunya Medali Taeguk yang diberikan kepada dua orang untuk aksi yang sama. Kompi ke-11 juga menerima Presidential Unit Citations dari pemerintah A.S. dan ROK. Setelah briefing yang diberikan kepada wartawan asing, frasa “Myth-Making Marines” muncul di media, melanjutkan warisan frase “Ghost-Catching Marines” dan “Invincible Marines” dari era Perang Korea. 

Tampilan Marinir Korea Selatan dalam Perang Vietnam. Pada awalnya pasukan Korea dibekali dengan senjata-senjata usang era Perang Dunia II asal Amerika, seperti senapan M1 Carbine, yang tentunya kalah kelas dengan senapan AK-47 yang digunakan oleh tentara Vietnam Utara dan bahkan beberapa unit Vietcong. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Beberapa bulan setelah Pertempuran Tra Binh Dong, brigade tersebut melakukan serangkaian operasi pembersihan. Bersama dengan unit Marinir AS, Angkatan Darat AS, dan ARVN, marinir Korea memburu musuh yang dengan terampil menggunakan medan kompleks di pantai dan gua-gua alam di pegunungan sebagai basis untuk operasi gerilya mereka. Awalnya, Vietcong dan NVA yang dilengkapi senapan serbu AK-47 memiliki senjata perorangan yang agak lebih unggul daripada tentara Korea Selatan, karena tentara Korea masih dipersenjatai dengan persenjataan era Perang Dunia II (seperti M1 Garand dan M1 karabin), meskipun pasukan ROK seperti pasukan sekutu lainnya lebih mengandalkan penggunaan yang berlebihan dari senjata artileri berat dan dukungan udara terhadap unit lawan yang bersenjata ringan dan mortir. Para prajurit brigade Marinir Korea pada akhirnya menerima senapan serbu M16 baru untuk menggantikan M1 Garand “antik” era Perang Dunia II, yang telah digunakan marinir Korea sejak Perang Korea. Meski memiliki senjata baru, operasi yang mereka jalani terus menantang, sementara progresnya seperti jalannya operasi militer lain dalam perang Vietnam, amat sukar untuk dinilai. Operasi Dragon Head II, pada 15 Juli 1967, adalah sebuah pengecualian, ketika marinir ROK menemukan pos komando Divisi ke-2 NVA, dan berhasil merampas berbagai senjata, amunisi, dan 350 ton bahan makanan. Pada akhir musim panas tahun itu, Batalyon Marinir ke-5 ROK tiba di Vietnam, yang kemudian mengakibatkan Brigade Blue Dragon berkembang kekuatannya menjadi empat batalion infanteri. 

Seorang Marinir Korea Selatan memegang SMG M3 Grease yang berlumuran lumpur selama Operasi Jefferson, Februari 1966. (Sumber: https://medium.com/)

Pada akhir tahun 1967, Brigade Marinir ke-2 mulai bergerak ke daerah sekitar Hoi An, di mana mereka beroperasi disitu selama sisa masa perang. Blue Dragon menyelesaikan proses perpindahan mereka satu hari sebelum dimulainya Serangan Tet tahun 1968, dan langsung sukses dalam mengalahkan serangan skala besar yang dilakukan oleh Divisi ke-3 NVA selama sebulan pertempuran di pinggiran kota. Setelah Serangan Tet, marinir ROK memulai serangkaian operasi di Provinsi Quang Nam, melakukan total enam operasi pada tahun 1968 dan 12 pada tahun 1969. Mereka secara agresif dan berulang kali berpatroli di wilayah tersebut untuk membersihkan desa-desa dari gerilyawan VC. Secara bersamaan, orang-orang Korea menekankan upaya pemberian bantuan pada masyarakat sipil, melatih perwira dan staf bintara untuk menjadi penerjemah dan menugaskan mereka ke setiap kompi. Unit -unit juga ROK menjalin hubungan dengan dusun-dusun dan sekolah. Melalui pesta untuk menghormati para tetua desa, membantu proses penanaman padi dan demonstrasi bela diri Tae Kwon Do, disini marinir ROK bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari warga Vietnam Selatan.

Penembak Meriam Brigade ke-2 menembakkan howitzer kaliber105mm dari markas mereka di dekat Hoi An, 10 Juli 1968. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Selama musim panas tahun 1969, brigade marinir Korea tersebut bertempur dengan Marinir AS dan tentara ARVN untuk membersihkan pasukan musuh dari Pulau Go Noi, yang penuh dengan ranjau, jebakan dan kompleks terowongan NVA. Sebelas batalion pasukan sekutu menyapu daerah itu selama lima bulan, bertahan dalam cuaca panas hebat hingga 115 derajat Fahrenheit, ular, dan penyakit untuk melenyapkan berbagai infrastruktur Viet Cong. Pada tanggal 12 September 1969, marinir Korea dan Amerika melakukan serangan amfibi gabungan pertama mereka sejak pendaratan di Inchon tahun 1950. Operasi yang diberi nama “Defiant Stand” ini adalah operasi pasukan pendaratan khusus terakhir dalam perang. 

SISI GELAP UNIT BLUE DRAGON

Sementara itu selain dikenal sebagai pasukan tempur yang tangguh dan ditakuti lawan di Vietnam, serta dikenal dalam upaya-upayanya membantu masyarakat sipil Vietnam, akan tetapi patut dicatat juga sisi gelap dari satuan marinir Korea di Vietnam. Selama perang tercatat beberapa peristiwa pembantaian warga sipil yang dilakukan oleh unit-unit Blue Dragon. Berikut adalah kisah-kisah kebrutalan unit Blue Dragon selama perang Vietnam. Dalam Pembantaian Bình Tai yang diduga dilakukan oleh Pasukan Marinir Korea Selatan pada tanggal 9 Oktober 1966, 168 warga di desa Binh Tai di Provinsi Bình Định di Vietnam Selatan menjadi korban. Koran Korea Selatan, The Hankyoreh, memberitakan hal ini setelah menyelidiki kejahatan perang di Vietnam dan mengungkap berbagai kekejaman lainnya. Kolonel Kim Ki-tae, mantan komandan Kompi Ketujuh, dari Divisi Marinir ke-2 (Blue Dragon) dari Marinir ROK, mengakui pada The Hankyoreh bahwa pada tanggal 9 Oktober 1966 pasukan Korea Selatan yang diterbangkan dengan helikopter membakar rumah penduduk desa Binh Tai dan menembak para penduduk desa yang melarikan diri dari bangunan-bangunan yang yang terbakar. Serangan itu diperintahkan sebagai tindakan penghukuman oleh Markas Besar Divisi sebagai pembalasan atas pembunuhan seorang Mayor Infanteri ROKA (Soryeong) dan prajurit Artileri Marinir ROK berpangkat Jungsa (Sersan Satu) tiga hari sebelumnya oleh tembakan penembak jitu. 

Seorang Marinir Korea Selatan dari Batalyon Ke-1, Brigade Marinir ROK ke-2, Unit Blue Dragon, mengawal tiga tahanan Viet Cong yang ditangkap selama misi “Search And Destroy”. Selain efektifitasnya, marinir Korea Selatan di Vietnam juga terkenal akan kebrutalannya. (Sumber: https://www.stripes.com/)

Dalam Pembantaian Bình Hòa pada tahun yang sama, aksi ini konon dilakukan oleh pasukan Korea Selatan antara tanggal 3 Desember dan 6 Desember 1966, dimana 430 warga tak bersenjata di desa Bình Hòa, Provinsi Quảng Ngãi di Vietnam Selatan menjadi korban pembantaian. Pada tahun 2000, dilaporkan bahwa dalam sebuah monumen di dalam desa, menyebutkan bahwa tanggal pembantaian dilakukan pada tanggal 22, 24, dan 26 Oktober 1966 dan mengatakan bahwa 403 orang dibunuh oleh prajurit-prajurit Korea Selatan. Distrik itu berada di wilayah operasional Brigade Blue Dragon. Sebagian besar korban adalah anak-anak, lansia dan perempuan. Lebih dari separuh korbannya adalah perempuan (termasuk tujuh yang sedang hamil) dan 166 anak-anak. Pembantaian Binh Hoa kemudian ditampilkan dalam film dokumenter Korea “The Last Lullaby” yang membahas tentang kejahatan perang unit militer Korea di Vietnam Selatan. Sementara itu dalam pembantaian Phong Nhị dan Phong Nhất (Dalam bahasa Korea: 퐁니 · 퐁넛 양민 학살 사건, Vietnam: Thảm sát Phong Nhất và Phong Nhị) dilaporkan telah dilakukan oleh Divisi Marinir ke-2 Korea Selatan pada tanggal 12 Februari 1968 atas warga tak bersenjata di desa Phong Nhị dan Phong Nhất, Distrik Điện Bàn Provinsi Quảng Nam di Vietnam Selatan, sebanyak 69-79 warga desa menjadi korban. Pada waktu itu, Pasukan Korea Selatan baru saja dipindahkan ke daerah itu, menjelang Serangan Tet, dengan ditugaskan untuk mengamankan desa-desa yang terletak di daerah padat penduduk di dan sekitar kota Da Nang. Mentransfer Marinir Korea ke sektor Da Nang yang berpenduduk padat dari sektor yang berpenduduk sedikit sebenarnya tidak disukai oleh Komandan ARVN dan AS dan aksi kebrutalan marinir Korea ini kemudian menghentikan upaya pengamanan dan pembangunan hubungan dengan warga sipil Vietnam Selatan. Pembantaian tersebut berdampak negatif pada upaya pengamanan yang sedang berlangsung di wilayah tersebut dan kemudian kisahnya menjadi dikenal luas.

Selama Perang, Marinir Korea Selatan tidak segan-segan untuk melakukan pembalasan kolektif kepada penduduk desa Vietnam Selatan atas setiap korban di pihak mereka. (Sumber: https://www.maryscullyreports.com/)
Beberapa orang Korea percaya bahwa aksi brutal tentara Korea di Vietnam disebabkan oleh perintah Presiden Park Chung Hee sendiri serta doktrin beberapa perwira Korea Selatan yang terpengaruh oleh doktrin militer Jepang selama Perang Dunia II. (Sumber: https://www.scmp.com/)

Setelah itu muncul kembali pembantaian yang konon dilakukan oleh Marinir Korea Selatan pada tanggal 25 Februari 1968 terhadap warga yang tidak bersenjata di desa Hà My, komune Điện Dương, Distrik Điện Bàn, Provinsi Quảng Nam di Vietnam Selatan. Menurut antropolog Korea Selatan Heonik Kwon, aksi itu dilaporkan dilakukan sebagai pembalasan atas tembakan mortir Vietcong di pangkalan baterai Artileri Marinir ROKA yang menewaskan seorang Marinir artileri Korea Selatan berpangkat Kapten dan seorang Sersan Satu serta empat wajib militer. Baterai ke-4 dari Resimen Artileri Marinir, yang dilengkapi dengan 3 howitzer 155mm dan 6 meriam 105 mm, kemudian memberikan dukungan tembakan ke Resimen Infantri Parasut ke-2 yang terletak pada jarak 8 km. Serangan itu didahului oleh dua jam penembakan oleh senjata artileri kaliber 155 mm, di mana dua helikopter berputar-putar di atas desa dan menembakkan senapan mesin ke mereka yang mencoba melarikan diri. Kemudian helikopter dan truk mengangkut hampir 200 marinir ke desa untuk membunuh lebih banyak lagi warga sipil dari jarak dekat. Korbannya adalah 135 wanita, anak-anak dan orang tua dari tiga puluh rumah tangga. Setelah pembantaian tersebut, Marinir membuat kuburan dangkal dan mengubur tubuh korban secara massal dan kemudian menggunakan bom napalm dari helikopter dalam upaya untuk menghancurkan barang bukti. Banyak orang menyatakan bahwa penyerangan terhadap mayat dan kuburan ini dikenang sebagai tindakan yang paling tidak manusiawi dari insiden tersebut. Komune Vietnam Selatan yang ada di tempat tersebut kemudian menjadi sarang aktivitas para partisan, yang tetap bertahan melawan pasukan Korea di wilayah tersebut sampai Pasukan Korea ditugaskan untuk menjaga pangkalan-pangkalan hingga kepulangan mereka pada tahun 1973. Komune tersebut kemudian akan mendapatkan gelar sebagai Distrik Pahlawan Angkatan Bersenjata Rakyat dari PAVN. Pada bulan Desember 2000, tugu peringatan bagi 135 korban didirikan di desa Hà My. Mengenai aksi brutal Marinir-marinir Korea ini, orang-orang Korea mengklaim bahwa aksi pasukan Pasukan Korea ini diduga berasal dari perintah Presiden Park Chung-hee sendiri untuk meminimalkan jumlah korban melalui praktik seperti penyanderaan, disamping kebrutalan pasukan Korea Selatan, disebabkan oleh banyaknya perwira yang dilatih oleh Jepang selama Perang Dunia II dengan banyak perwira yang mengikuti doktrin yang sama selama Perang Korea. Tuduhan juga telah dikemukakan bahwa para pemimpin AS tidak mencegah kekejaman tentara Korea, tetapi malah menoleransi mereka.

EPILOG

Bagaimanapun penampilan marinir ROK di Vietnam membawa banyak perubahan bagi korps mereka di kampung halaman. Brigade Marinir ke-5 Korea didirikan pada November 1966 dan mengambil alih jawab atas pertahanan Semenanjung Kimpo dari 1st Provisional Marine Brigade, yang memungkinkan satuan yang terakhir untuk dipindahkan ke Pohang dan diperlengkapi kembali dengan senjata dan peralatan baru. Pemerintah ROK juga menetapkan Batalyon ke-2, Resimen Marinir ke-3, sebagai “Unit 99”, dan menugaskannya untuk memberikan pengamanan bagi semua kunjungan presiden ke markas angkatan laut di Chinhae. Korps Marinir ROK kemudian juga mendirikan sekolah komando dan staf dan mengkonsolidasi semua unit pelatihan dan pendidikan di bawah satu komando pada tahun 1967. Pada tahun itu, komandan Korps Marinir ROK dinaikkan pangkatnya menjadi bintang empat. Promosi di media yang baik memicu minat banyak orang pada korps, menarik pria muda terbaik Korea Selatan untuk bergabung ke unit layanan terkecilnya. Untuk pertama kalinya, lulusan Akademi Angkatan Laut ROK mulai memilih karier di korps Marinir. Bersaing melawan kecabangan dan universitas lain, tim atletik Marinir ROK juga sempat memenangkan kejuaraan nasional dalam bidang keahlian menembak, sepak bola, bisbol, dan Tae Kwon Do. Meskipun demikian, dasar kedinasan Marinir tetaplah sama. Semua perwira dan NCO senior diharapkan untuk bisa bertugas selama satu tahun di Vietnam. Banyak yang mengajukan diri untuk menjalani tur kedua. Marinir biasa menjalani masa tugas selama tiga tahun untuk memenuhi kewajiban layanan mereka. Disiplin bersifat mutlak dan pelatihan difokuskan pada hal-hal dasar. Pelatihan seni bela diri ditambahkan sebagai ukuran kesiapan tempur berdasarkan pengalaman di Vietnam.

Pengalaman Marinir Korea Selatan dalam Perang Vietnam turut meningkatkan pamor satuan ini di Korea serta turut membantu memperbaiki pertahanan dalam negeri di Korea Selatan. (Sumber: https://www.aljazeera.com/)

Pada bulan November 1971, Presiden Park mengumumkan penarikan pasukan Korea dari Vietnam. Unit Blue Dragon adalah yang pertama kali dipulangkan. Batalyon pertama berangkat pada bulan Desember, dan marinir ROK terakhir meninggalkan Vietnam pada tanggal 22 Februari 1972. Selama penugasan enam tahun dan lima bulan, 37.304 personel marinir ROK bertugas di Vietnam, 1.076 di antaranya tewas dan 2.884 terluka — secara proporsional unit ini memiliki tingkat korban tertinggi dari unit-unit Korea mana pun di Vietnam. Brigade Marinir ke-2 kemudian dinonaktifkan pada  tanggal 10 Maret 1972. Pada tahun 1981, Brigade ini diaktifkan kembali dan diupgrade menjadi satuan setingkat Divisi. Meskipun menyadari banyaknya korban jiwa selama penugasan mereka di Vietnam dan pada akhirnya pemerintah Saigon jatuh ke tangan komunis, namun marinir Korea memandang konflik dalam konteks yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari pembangunan bangsa mereka sendiri dan perjuangannya dalam melawan komunisme. Pengalaman yang diperoleh di medan perang Vietnam memungkinkan marinir ROK untuk meningkatkan kemampuan pertahanan di semenanjung Korea. Cara kerja pasukan ROK dipuji oleh beberapa pihak sekutu yang berpartisipasi di Vietnam dengan menyatakan bahwa “Pasukan Korea teliti dalam membuat perencanaan mereka dan amat baik dalam melaksanakan rencana mereka. Mereka biasanya mengepung suatu daerah dengan gerakan senyap dan cepat. Sementara meskipun jumlah musuh yang terbunuh oleh pasukan Korea proporsinya mungkin tidak lebih besar daripada unit tempur Amerika yang serupa, akan tetapi ketelitian orang Korea dalam mencari area di mana mereka akan bertempur dibuktikan oleh fakta bahwa orang Korea biasanya muncul dari pertempuran dengan membawa jumlah persenjataan rampasan yang jauh lebih besar daripada pasukan Amerika yang terlibat dalam aksi serupa.” Hal ini membuktikan bahwa pasukan Korea benar-benar melawan kombatan musuh yang signifikan dan tidak melakukan penggelembungan jumlah “body count” (korban di pihak lawan) yang umum dijumpai di laporan-laporan tempur unit-unit Amerika, dimana kerap korban sipil yang timbul karena pertempuran dicatat sebagai kombatan lawan.

Dari sisi ekonomi, keterlibatan Korea Selatan di Vietnam turut berkontribusi pada perkembangan industri dan ekonomi bangsa Korea yang berorientasi ekspor. (Sumber: https://asia.nikkei.com/)
Jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan komunis memang menyakitkan bagi Veteran Korea yang banyak berkorban di Vietnam, tapi setidaknya pengalaman mereka membantu Pemerintah Korea untuk tidak membuat kesalahan serupa dengan rezim Hanoi, serta semakin memperkuat ketahanan Korea Selatan. Kini Korea Selatan menjadi negara yang maju, makmur, dan kuat dalam pertahanannya. (Sumber: AP Photo/Yves Billy/https://www.pennlive.com/)

Perang di Vietnam juga telah menggarisbawahi ancaman komunisme di dalam negeri Korea, sambil menampilkan kemampuan militer ROK kepada para sekutu dan musuh-musuh mereka. Keterlibatan Korea juga berkontribusi pada perkembangan industri dan ekonomi bangsa Korea. Keterlibatan Korea di Vietnam menjadi dasar perkembangan ekonomi mereka yang berorientas pada ekspor seperti saat ini. Empat puluh tahun setelah Blue Dragon dikerahkan ke Vietnam, catatan pengalaman tempur mereka di sana terus menginspirasi generasi baru marinir ROK. Patung Mayor Lee In Ho kini terpasang di pintu masuk Akademi Angkatan Laut ROK, dimana kematiannya selalu diperingati setiap tahunnya. Putranya kemudian mengikuti jejak ayahnya bergabung dengan akademi dan korps Marinir Korea Selatan. Mayor Jenderal Shin Won Bae adalah salah satu veteran Vietnam terakhir yang pensiun. Penerima Medali Taeguk ini sempat memimpin Divisi Marinir ke-2, yang mewarisi garis keturunan dari Brigade Marinir ke-2 yang bertugas di Vietnam. Blue Dragon di masa sekarang bertugas untuk melindungi Pulau Kanghwa dan Semenanjung Kimpo, melayani dengan dedikasi yang sama seperti yang dilakukan pendahulunya di hutan-hutan Vietnam.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Korea’s Myth-Making Marines By James F. Durand

https://en.m.wikipedia.org/wiki/2nd_Marine_Division_(South_Korea)

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Binh_Tai_Massacre

https://en.m.wikipedia.org/wiki/B%C3%ACnh_H%C3%B2a_massacre

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Phong_Nh%E1%BB%8B_and_Phong_Nh%E1%BA%A5t_massacre

https://en.m.wikipedia.org/wiki/H%C3%A0_My_massacre

https://en.m.wikipedia.org/wiki/South_Korea_in_the_Vietnam_War

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *