Classic Commando Raid: The Fall Of Lima Site 85 (10–11 March 1968)

Lima puluh tahun yang lalu pada 12 Maret 1968, pangkalan rahasia AS di puncak gunung yang berada di wilayah Laos berhasil dikuasai pasukan elit pasukan komando Vietnam Utara. Hanya enam dari delapan belas personel CIA dan Angkatan Udara yang berjaga di pos terdepan yang lolos selamat dalam sebuah insiden yang akan tetap terselubung dalam kerahasiaan selama tiga dekade. Hal ini karena militer A.S. secara hukum dilarang beroperasi di wilayah Laos. Negara Asia Tenggara itu telah dihantam perang saudara yang mengadu kelompok sayap kanan melawan kelompok komunis Pathet Lao — yang belakangan didukung oleh Vietnam Utara, yang menggunakan wilayah Laos untuk secara diam-diam untuk menyalurkan pasukan ke Vietnam Selatan melalui jalur Ho Chi Minh Trail. Namun, pada tahun 1962 Washington, faksi Hanoi dan Laos semuanya menandatangani perjanjian damai di mana kekuatan asing setuju untuk menarik pasukan mereka dari negara itu.

Gerilyawan Pathet Lao

Namun, Vietnam Utara hanya menarik sebagian kecil pasukannya yakni 40 dari 7000 prajuritnya di Laos saat itu, dan Amerika Serikat sendiri terus mentransfer bantuan militer yang luas kepada kerajaan Laos serta memulai kampanye pemboman udara skala besar secara rahasia di kerajaan kecil itu lewat operasi yang dikenal sebagai Operasi Barrel Roll. Ketika pesawat tempur yang berbasis di Vietnam dan Thailand menerbangkan misi ke Laos, para kontraktor/tentara bayaran yang dikelola CIA dan ‘maskapai penerbangan’ klandestein seperti Air America menerbangkan pesawat transport dan mata-mata dari pangkalan-pangkalan di Laos.

Pendirian Lima Site 85 dan Peran CIA

Personel CIA juga merekrut suku Hmong, etnis minoritas yang ada tersebar di beberapa negara Asia Tenggara, untuk berperang melawan Pathet Lao. Dengan tujuan inilah, personel CIA pertama kali mendirikan pangkalan di atas tebing curam gunung Phou Pha Thi, sebuah tempat suci menurut kepercayaan animisme Hmong yang kebetulan terletak secara strategis di dekat perbatasan dengan Vietnam Utara. Pangkalan ini adalah salah satu dari banyak ‘Situs Lima’ di Laos yang dimaksudkan untuk memfasilitasi pasokan udara pasukan sekutu A.S, pangkalan ini kemudian dikenal sebagai Lima Site 85. Fasilitas utamanya berada di puncak gunung setinggi 5.600 kaki yang dikelilingi oleh tebing curam; Anda dapat melihat tata letak pangkalan di foto. Sebuah jalur sepanjang 300 yard yang mengarah ke lereng bawah menuju landasan udara pendek sepanjang 700 meter di dasar gunung digunakan untuk memasok dan merotasi staf, yang dikirim dalam penerbangan mingguan secara rahasia oleh helikopter HH-3 dari skuadron helikopter Angkatan Udara AS ke-20.

Helikopter HH-3 memberi dukungan logistik dan rotasi personel di Lima Site 85 seminggu sekali.

Selain kepentingan militer dan intelijen Amerika dan kepercayaan orang Hmong akan nilai sakral dari Phou Phathi, ada faktor lain yang memengaruhi nilai strategis dari tempat itu, yakni: opium. Phou Phathi berada di tengah-tengah daerah penanaman utama poppy orang Hmong, menjadikannya sebagai sumber finansial utama. Bunga poppy adalah dan merupakan tanaman penghasil uang utama dari suku-suku dataran tinggi Laos. Vang Pao (pemimpin orang Hmong yang bekerjasama dengan CIA), yang berbasis di Longtiang, diduga menggunakan dana dari produksi opium untuk membantu membiayai kebutuhan perang. Ada banyak kontroversi tentang kemungkinan keterlibatan CIA dalam perdagangan narkoba di Laos, tetapi banyak penelitian belum menemukan bukti koneksi dari keduanya.

Pesawat C-123 Provider menjadi salah satu armada transport maskapai Air America yang dioperasikan oleh CIA dalam perang rahasia di Laos.

Kebutuhan situs radar

Dengan dimulainya musim penghujan pada bulan Oktober, cuaca di Vietnam Utara berubah menjadi tidak menguntungkan untuk operasi udara dan kondisi ini tidak akan membaik lagi sampai bulan April. Ini adalah masalah besar bagi operasi Rolling Thunder, yakni kampanye udara Amerika terhadap Vietnam Utara dari tahun 1965 hingga 1968. Pada saat itu, AS memiliki dua pesawat serang segala cuaca: Angkatan Laut menggunakan A-6 dan Angkatan Udara B-52 (waktu itu AU belum memiliki bomber taktis segala cuaca F-111). Karena hanya terdapat A-6 dalam jumlah terbatas yang tersedia, dan karena alasan politis di Washington, B-52 hanya diperbolehkan beraksi di dekat Zona Demiliterisasi. Yang tersisa untuk misi serang adalah F-105 dan pesawat taktis lainnya dalam misi serangan udara ke Vietnam utara, dan selama musim hujan, mereka cuma bisa menyerang sasaran di sekitar Hanoi hanya dalam waktu empat atau lima hari sebulan. Solusi muncul pada tahun 1966 dengan mengadaptasi dari sistem skor penilaian pemboman berbasis radar dari Strategic Air Command. Modifikasi ini, yang disebut MSQ-77, mampu mengarahkan pesawat ke titik yang tepat di langit tempat dimana bom idealnya dijatuhkan. Sistem ini tidak tepat benar, tetapi itu cukup baik untuk digunakan menyerang target seperti lapangan terbang dan area industri. Pada 1967, Angkatan Udara memiliki lima radar MSQ-77 yang bekerja di Vietnam Selatan dan satu di Thailand. Namun, tidak satu pun dari situs-situs ini yang bisa mencakup area jantung Vietnam Utara di sekitar Hanoi. Untuk itu diperlukan penempatan radar di tempat yang memiliki garis pandang tak terhalang ke wilayah udara di atas Hanoi. Selain itu, area target harus berada dalam jarak 175 mil dari radar, yang merupakan jangkauan efektif sistem ini.

Peta lokasi Lima Site 85 di Phou Phati yang strategis.

Pada musim panas 1966, Angkatan Udara AS memutuskan untuk mengadaptasi pangkalan tersebut dengan tujuan baru — untuk berfungsi sebagai bagian dari sistem navigasi radar, atau TACAN (Tactical Air Navigation), dengan memasang generator listrik dan untuk pertama kalinya transponder. Di era sebelum adanya GPS, situs TACAN membantu pesawat tempur menemukan target mereka, terutama, saat terbang di bawah kondisi visibilitas rendah atau di malam hari. (Sistem navigasi radio pertama, yang dikenal sebagai Knickebein, dikembangkan oleh Nazi Jerman, untuk memungkinkan pemboman malam yang lebih tepat di Inggris.) Pada tahun 1967, sistem ini ditingkatkan lagi menjadi perangkat antena TSQ-81 (versi portable dari sistem MSQ-77) dan sistem pemboman jarak jauh yang memungkinkan pangkalan ini dari jarak jauh mengendalikan pembom AS.

The U.S. facility atop of Phou Pha Thi, known as Lima Site 85, was the site of a major battle on 10 March 1968.

Hanoi hanya 135 mil timur laut dari Lima 85, sehingga pangkalan klandestin ini mampu mengarahkan koordinat dengan sangat tepat untuk pesawat A.S. yang membombardir ibukota Vietnam Utara, disamping hanya berjarak 15 mil dari perbatasan Vietnam Utara dan 30 mil dari Sam Neua, markas besar Pathet Lao. Karena serangan itu bisa melibatkan apa saja, mulai dari pembom tempur F-105 hingga puluhan pembom besar B-52, ini menjadikan pangkalan itu turut melipatgandakan kekuatan udara Amerika yang mematikan. Hanya dalam enam bulan, Lima Site 85 mengarahkan antara 25 hingga 55 persen serangan udara yang menggempur sasaran di Vietnam Utara dan Laos.

Armada pembom taktis F-105 Thunderchief membutuhkan bantuan satuan radar darat untuk menjalankan misi pemboman presisi di Vietnam Utara. Situs radar Lima Site 85 memenuhi kebutuhan tersebut, karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan perbatasan Vietnam Utara.

Karena Pangeran Laos, Souvanna menolak menerima personel militer AS di Laos, personel Angkatan Udara AS yang dikerahkan ke Lima Site 85 harus menandatangani surat-surat pemberhentian sementara mereka dari militer AS untuk ditugaskan sebagai karyawan dari perusahaan Lockheed Martin sebelum dikerahkan ke Lima. Lewat sebuah proses lucu yang dikenal sebagai ‘pencelupan domba.’ (dimana para personel militer melepas seragam mereka agar dapat diakui sebagai personel sipil) mereka seharusnya tidak bersenjata, meskipun mereka akhirnya mendapatkan beberapa senjata ringan. Sebaliknya, keamanan pangkalan itu teorinya dijamin oleh masing-masing satu batalion milisi Hmong — dengan supervisi agen CIA — dan satuan Polisi Patroli Perbatasan Thailand yang dikerahkan di sekitar dasar gunung.

Gangguan Komunis dan jerat birokrasi komando

Meski, Lima Site 85 mungkin telah disembunyikan dari publik AS, tetapi keberadaan dan tujuannya bukanlah rahasia lagi bagi Pathet Lao dan Tentara Vietnam Utara (NVA), mereka mulai membuat jalan permanen yang memudahkan mereka mendekati lokasi site strategis tersebut. Tim Scout komunis telah menyelidiki detail pertahanan pangkalan itu pada Desember 1967, dan pada 12 Januari 1968, sebuah penerbangan yang terdiri dari empat pesawat biplane An-2 menyerang Lima 85 menggunakan roket 57mm yang dipasang dibawah sayapnya, dan peluru mortir 120mm dijatuhkan dari pintu samping pesawat transport itu, menewaskan empat Hmong. Sebuah helikopter milik Air America UH-1 terbang untuk mencegat pesawat angkut yang lambat itu dah menembak jatuh salah satu pesawat menggunakan AK-47 yang ditembakkan keluar dari sisi pintu helikopter — menjadi salah satu dari sangat sedikit kejadian dimana helikopter berhasil menembak jatuh pesawat dalam catatan sejarah. Pesawat An-2 lainnya jatuh, baik karena tembakan dari darat atau manuver mengelak mereka yang gagal.

Ilustrasi awak Air America pada saat menembak jatuh pesawat transport Antonov An-2 yang menyerang situs Lima Site 85.

Pangkalan itu kemudian dihantam oleh serangan mortir pada 30 Januari, kemudian pada 18 Februari, milisi Hmong menyergap dan membunuh satu tim pengamat artileri NVA di dekat gunung dan menemukan adanya rencana (musuh) untuk melakukan pemboman terkoordinasi atas fasilitas radar tersebut. Para pemimpin militer Amerika tahu pangkalan yang terisolasi itu dikelilingi oleh pasukan musuh yang lebih kuat dan kemungkinan akan diserang. Mayor Richard Secord, yang bertanggung jawab atas keamanan situs radar itu sempat berencana mengevakuasi awak udara dari Lima Site 85, tetapi karena dukungan TACAN dari pangkalan itu dianggap sangat berharga sehingga dubes Amerika untuk Laos, William Sullivan menolak rencana evakuasi situs tersebut. Tidak dapat mengerahkan kekuatan pertahanan yang signifikan menjaga fasilitas tersebut, teknisi pangkalan itu mulai mengirimkan ratusan serangan udara menggunakan pesawat-pesawat F-4, F-105, dan A-1 Skyraider hingga B-26 Invader di malam hari terhadap pasukan komunis terdekat untuk mengamankan posisi mereka.

Mayor Richard Secord yang bertanggung jawab atas keamanan situs Lima Site 85.

Terlepas dari pembangunan jalan oleh pihak komunis seperti yang sudah disinggung diatas, juga meskipun ada banyak pasukan musuh disekitarnya, meskipun Tentara Kerajaan Laos telah dikalahkan di Nam Bac, dan meskipun situs Phou Den Din (hanya 12 kilometer jauhnya dari Lima Site 85) sempat dikuasai musuh, tetapi permintaan bala bantuan masih ditolak karena sensitifitas politik atas perang rahasia di Laos. Bahkan sampai satu bulan sebelum serangan skala penuh dilakukan, kebijakan resmi yang diambil adalah bahwa dukungan udara jarak dekat akan mampu menahan musuh sampai evakuasi udara dapat dilakukan. Keputusan ini akan terbukti fatal bagi para personel Amerika di sana, beserta sekutu Thailand dan Laos mereka.

Satuan pengaman asal Laos dan Thailand dikomando oleh dua perwira paramiliter CIA, tetapi jelas pasukan ini tidak cocok untuk mempertahankan posisi defensif yang statis. Yang membuat segalanya lebih buruk adalah bahwa staf Kedutaan Besar AS mengetahui hal ini, tetapi mereka siap untuk mengorbankan nyawa sekutu-sekutu mereka selama teknisi dan personel Amerika dapat dievakuasi dengan aman oleh USAF dan CIA. Namun, keputusan tentang kapan evakuasi akan dilakukan semuanya ada di tangan Duta Besar Sullivan, kondisi yang pada akhirnya akan “dibayar mahal” oleh mereka yang ada di Lima Site 85.

Dubes Amerika untuk Laos William H Sullivan, otoritas untuk melakukan evakuasi situs Lima Site 85 ada di tangannya.



Serangan Komando Vietnam Utara

Bahkan pada akhir Februari para personel yang ada di Lima Site 85 tahu bahwa situs itu dalam bahaya, tetapi mereka terus percaya bahwa tempat itu bisa dipertahankan – meskipun ada laporan CIA yang mengatakan Situs Lima Site 85 tidak akan bertahan melewati tangggal 10 Maret. Disamping tidak ada yang mengira bahwa musuh akan mampu melangkah sejauh itu. Dari dasar gunung, lereng berbatu memanjang sekitar setengah jalan pada sudut 45 hingga 60 derajat. Sisa perjalanan menuju puncak jauh lebih curam, menjulang tempat-tempat dengan sudut 85 hingga 90 derajat.

Namun kenyataannya Pasukan elit Vietnam Utara dari batalyon Pasukan Khusus ke-41 telah memanjat tebing yang tampaknya tidak mungkin dilewati di sisi utara Phou Pha Thi tanpa terdeteksi pada 22 Januari dan memastikan kembali rute infiltrasi yang dinilai paling layak. Awal Maret itu, tiga puluh tiga prajurit dari peleton di bawah komando Letnan Truong Muoc berkumpul di dekat gunung, di mana mereka diperkuat oleh regu sapper berjumlah sembilan orang. Pasukan Komando ini dilengkapi dengan tiga pistol K-54 buatan Tiongkok, 23 senapan serbu AK-47, empat karabin SKS 7.62mm dan tiga peluncur granat berpeluncur roket RPG-7. Mereka membawa 200 butir amunisi untuk setiap senapan AK-47, enam butir untuk setiap RPG, 400 gram (14 ons) bahan peledak, dan enam granat tangan. Selain senjata, mereka juga membawa ransum untuk 15 hari dan barang-barang pribadi lainnya, yang mengharuskan setiap prajurit Pasukan Khusus Vietnam Utara untuk membawa beban antara 42 kilogram (93 lb) hingga 45 kilogram (99 lb).

Tentara Vietnam Utara tidak hanya membuktikan sebagai prajurit infanteri yang handal, tetapi juga mampu mengeksekusi misi komando yang rumit dan berani.

Pada pukul 6 sore pada tanggal 11 Maret, sebuah pemboman artileri memberikan perlindungan bagi para pembuka jalan Truong untuk membersihkan ranjau dan mengamankan jalur infiltrasi ke Lima Site 85. Beberapa jam kemudian, pasukan reguler Resimen ke-766 NVA yang terdiri dari 3 batalion NVA dan batalyon Pathet Lao yang disertai juga dengan 20 desertir dari orang Hmong melancarkan serangan untuk menekan pasukan Hmong yang ada di lembah sekitar gunung. Akhirnya sekitar jam 9 malam, pasukan Truong mulai mendaki tebing, para komando itu kemudian dipecah menjadi lima “sel” untuk melancarkan serangan dari berbagai arah. Sel 1 dan 2 akan berkonsentrasi menyerang pos komando, sel 3 dan 4 akan merebut masing-masing peralatan TACAN dan lapangan terbang, dan sel kelima akan tetap sebagai cadangan.

Personel pangkalan melaporkan adanya pemboman artileri, tetapi Duta Besar Sullivan memutuskan untuk tidak memerintahkan evakuasi kecuali jika serangan itu terbukti benar-benar luar biasa dan kritikal. Hanya pada jam 8 pagi keesokan paginya dia mengirim helikopter dan bantuan udara untuk melindungi pelarian para personel. Tapi itu sudah terlambat, para prajurit Truong telah berada di posisi pada pukul 3 pagi itu dan menghancurkan pos-pos penjagaan Hmong dan radar TSQ-81 serta pembangkit listrik pangkalan menggunakan granat berpeluncur roket. Ketika komandan pangkalan Mayor Clarence Barton dan beberapa teknisi Angkatan Udara bergegas keluar untuk menilai situasi, 3 diantara mereka ditembak mati oleh pasukan komando.

Rute serangan komando NVA.

Komandan CIA, Marlow, yang berada di helipad dan melihat adanya ledakan yang menghancurkan beberapa instalasi. Dia kemudian berjuang kembali ke unit rekan-rekannya di puncak dengan dipersenjatai dengan senapan otomatis dan granat. Setelah melakukan misi penyelamatan seorang pria yang tertinggal, Marlow berjuang kembali ke helipad – di mana ia kemudian dianugerahi Inteligent Cross.

Situs radar di puncak Phou Phati.

Pada jam 4 pagi, tiga sel pertama telah menyelesaikan semua misi utama mereka. Beberapa orang yang ditangkap kemudian dilempar dari atas tebing atas perintah Truong. Hanya sel 4 yang terpaksa untuk mengundurkan diri tanpa sempat menyelesaikan misinya, karena tidak mampu mengusir kekuatan Hmong yang lebih superior dan terdiri dari dua peleton infanteri dan pasukan mortir yang ditempatkan di sekitar lapangan terbang. Personel AS yang selamat telah melarikan diri ke bagian di sisi tebing, tempat mereka terjebak ketika granat dan tembakan senjata api kecil menghujani mereka. Mereka menembak balik dengan senapan serbu dan berusaha untuk memanggil serangan udara untuk menjatuhkan bom tepat di atas posisi mereka.

Pada jam 5 pagi, Kedutaan Besar Amerika akhirnya memerintahkan evakuasi penuh, tetapi ketika helikopter berusaha mendarat mereka ditembaki pasukan musuh – yang menyebabkan Marlow harus mengerahkan serangan udara untuk mencoba membersihkan zona pendaratan. Akhirnya saat fajar, helikopter Air America yang dilindungi oleh pesawat serang A-1 Skyraider menukik ke atas gunung. Pasukan Hmong, dipimpin oleh dua agen CIA dan didukung oleh Skyraiders, terlibat dalam pertempuran sengit ketika mereka berusaha untuk mengusir pasukan komando NVA dari situs TACAN. Meskipun demikian peleton Vietnam Utara mampu mempertahankan diri, meski demikian ketika daerah itu dibersihkan, dua perwira CIA, komandan CIA (Marlow) dan lima teknisi berhasil dievakuasi – tetapi satu terkena tembakan selama proses ekstraksi dan meninggal di udara. Dari 11 orang Amerika yang terbunuh di Lima Site 85, delapan orang tercatat berhasil ditemukan, beserta beberapa pejuang Hmong yang terluka.

Bantuan tembakan dari udara oleh A-1 Skyraider tidak mampu mencegah jatuhnya Lima Site 85.

Sersan kepala Richard Etchberger, salah satu awak udara yang terperangkap di tebing, menolak untuk naik helikopter penyelamat sampai dia membantu tiga rekannya yang terluka diangkut oleh helikopter Huey yang menyelamatkan mereka. Ketika ia sendiri dievakuasi, pria Pennsylvania itu telah terluka parah oleh beberapa kali tembakan senapan serbu. Pasukan komunis tetap mempertahankan kendali atas gunung Phou Pha Thai dan kemudian mengusir ofensif pasukan Hmong yang mencoba untuk merebutnya kembali.

Menjelang siang tujuan utama Amerika beralih untuk menghancurkan radar yang ada disana sehingga musuh tidak dapat menggunakannya, dan antara tanggal 12 dan 18, 95 sortie diterbangkan untuk melenyapkan setiap data dan peralatan intelijen yang bisa dikumpulkan oleh Vietnam Utara – tetapi hal ini juga memiliki dampak buruk yakni turut menghancurkan sisa-sisa mayat orang Amerika yang tertinggal di punggung bukit.

Aftermath

Serangan komando Muoc di Lima Site 85 telah secara signifikan melemahkan kampanye udara AS di Vietnam Utara dan Laos. Menurut laporan Vietnam, ia hanya kehilangan satu personel komandonya dan menewaskan sedikitnya empat puluh dua tentara Thailand dan Hmong serta selusin awak udara AS. Sejumlah besar senjata juga berhasil dirampas oleh NVA, termasuk satu howitzer 105 mm, satu artileri kaliber 85 mm, empat recoilless, empat mortir berat, sembilan senapan mesin berat, dan sejumlah besar amunisi

Ironisnya, Washington dan Hanoi sama-sama menjaga kerahasiaan aksi militer mereka di Laos. Vietnam Utara perlu mempertahankan dan mengamankan rute jalur Ho Chi Minh melalui Laos, sementara militer AS terpaksa berupaya menghentikan mereka di sana. Bahwa keduanya melanggar perjanjian yang telah mereka tandatangani adalah sesuatu yang harus disembunyikan dari publik. Dalam akhir yang tragis, Etchberger yang rencananya dinominasikan secara anumerta untuk Medal of Honor, tetapi permintaan tersebut kemudian ditolak oleh Angkatan Udara karena alasan menjaga kerahasiaan perang udara AS di Laos, yang sebenarnya akan terus meningkat di bawah pemerintahan Nixon dan kemudian akan diekspos setelah Pentagon Papers dirilis. Amerika Serikat menjatuhkan satu ton bom untuk setiap orang yang tinggal di Laos, dan aksinya ini memang bisa menunda tetapi tidak bisa mencegah kemenangan komunis yang akhirnya datang pada tahun 1975.

Chief Master Sgt. Richard L. “Dick” Etchberger yang gugur saat Lima Site 85 direbut NVA, Medal Of Honor yang diberikan kepadanya membutuhkan pengakuan puluhan tahun setelah ia gugur.

Hanya tiga puluh tahun kemudian Amerika Serikat secara resmi mengakui adanya pertempuran di situs klandestin tersebut. Etchberger akhirnya dianugerahi Medal Of Honor dalam sebuah upacara pada tanggal 1 September 2010. Sebelumnya pada tahun 2000-an, veteran perang asal Vietnam membantu personil militer AS menemukan sisa-sisa awak udara yang telah dilemparkan ke sisi tebing, dan kemudian diantara orang-orang tersebut terdapat Mayor Barton juga.

Monumen peringatan bagi mereka yang gugur di Lima Site 85.

Jatuhnya Situs Lima Site 85 tidak terjadi karena kurangnya Data intelijen, tetapi kurang baiknya kepemimpinan dalam memanfaatkan data intelijen. Pada saat kejadian atau pertempuran tidak ada unir tempur yang bertanggung jawab atas pertahanan mereka sendiri, dan pihak Amerika juga tidak menggunakan potensi kekuatan mereka yang ada untuk mempertahankan fasilitas mereka – dan itu adalah kerugian yang menandai awal dari berakhirnya kekuatan non-komunis di Laos. Menjaga ingatan akan sebuah episode gelap seperti pertempuran Lima 85 mungkin tidak akan menyembuhkan luka di masa lalu, tetapi hal itu bisa membawa kepada pengakuan jujur atas kesalahan yang pernah dibuat dan menjadi refleksi agar tidak mengulanginya di masa depan.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

50 Years Ago, a Secret U.S. Military Base Was Overrun By Elite Vietnamese Commandos by Sebastian Roblin https://nationalinterest.org/…/50-years-ago-secret-us-milit…

A Fatal Failing Of Intelligent Leadership – The Battle Of Lima Site 85 by Russell Hughes https://www.google.com/…/fatal-failing-intelligent-lead…/amp

The Fall of Lima Site 85 http://www.sgtmacsbar.com/Articles/Site85/Site85.html

The Fall of Lima Site 85 https://www.cia.gov/…/csi-stu…/studies/95unclass/Linder.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Lima_Site_85

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *