Duel Bomber B-29 Superfortress vs Pesawat Tempur MiG-15 Fagot Dalam Perang Korea (1950-1953)

Uni Soviet mulai membantu Republik Rakyat China dalam membentuk sebuah angkatan udara modern pada tahun 1950, ketika resimen dan divisi Angkatan Udara Soviet dikirim ke Timur Jauh untuk melatih pilot asal China. Waktu itu pihak komunis baru saja memenangkan perang saudara melawan pemerintahan China Nasionalis KMT, yang kemudian lari ke Pulau Taiwan. Keterlibatan China dalam Perang Korea pada akhir Oktober 1950 yang tak terelakkan pada akhirnya menarik pilot Soviet ke dalam konflik juga, dan yang terakhir membuat debut pertama mereka di Korea Utara pada tanggal 1 November ketika pesawat tempur MiG-15 dari 151 GvIAD (Resimen Tempur Pengawal Udara) melawan pesawat-pesawat terbang USAF (AU Amerika). Di pihak lain, dalam perang Korea, USAF mengirimkan baik satuan-satuan pesawat pemburu maupun pembom strategis mereka, termasuk Bomber B-29 Superfortress, yang mendapat namanya sebagai bomber “yang mengakhiri” Perang Dunia II dengan menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Agustus 1945. Bentrokan antara kedua kekuatan udara ini kemudian akan menjadi bagian sehari-hari dari Perang Korea sampai konflik tersebut berakhir pada Juli 1953.

Dalam Dunia Aviasi, Perang Korea adalah sebuah pembatas antara teknologi mesin propeller warisan Perang Dunia II dengan teknologi yang berkembang dengan pesat di dekade 1950an. Dalam Perang ini pesawat berbaling-baling segera menjadi cepat kuno ditengah munculnya berbagai pesawat tempur bermesin jet. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

MISI BARU B-29

Perang Dingin memasuki fase baru dan lebih menakutkan ketika Korea Utara menginvasi Korea Selatan pada tanggal 25 Juni 1950. Lima tahun setelah Perang Dunia II, kondisi militer AS di Pasifik dapat dengan baik disimpulkan sebagai tidak memadai dan ketinggalan jaman. Dalam beberapa bulan pertama setelah pecahnya Perang Korea, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Marinir Amerika harus bergantung terutama pada pesawat baling-baling kuno warisan era Perang Dunia II, seperti F-51 Mustang, F4U Corsair, dan B-26 Invader. Sementara B-29 Superfortress sendiri adalah satu-satunya pembom berat yang tersedia dalam jumlah besar. Pada saat itu hanya ada satu unit udara yang mengoperasikan B-29 di kawasan Timur Jauh, yakni Grup Pembom ke-19, yang ditempatkan pada Angkatan Udara Timur Jauh dan berbasis di North Field di Guam. Dengan pecahnya perang, Grup Pembom ke-19 dengan cepat dipindahkan ke Lapangan Udara Kadena di Okinawa. Kurang dari 24 jam setelah menerima perintah pergerakannya, kelompok tersebut mengirim dua Superfortress dari Kadena untuk menyerang target taktis di Korea Utara, sementara B-29 lainnya menyerang barisan tank di utara Seoul. Dalam konflik baru ini, para pembom tua itu harus menjalankan misi yang tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya, yakni: serangan jarak dekat dan dukungan udara bagi pasukan darat. 

“Pembom tukik Angkatan Laut AD-3 menarik diri dari manuver menukik setelah menjatuhkan bom seberat 2.000 pon di sisi Korea dari jembatan penyeberangan
Sungai Yalu di Sinuiju, arah Manchuria. Catatan: emplasemen senjata antipesawat ada di kedua sisi sungai. Dengan berjalannya perang, misi penyerangan sasaran darat seperti jembatan ini juga dilakoni oleh bomber berat B-29 “. (Sumber: Angkatan Laut Amerika Serikat 1950/https://dpaa.secure.force.com/).

Setelah menghancurkan area industri Korea Utara dalam dua bulan pertama perang, B-29 Superfortress USAF mulai beroperasi dalam berbagai peran, mulai dari dukungan udara jarak dekat bagi pasukan di darat hingga pengeboman jembatan di Sungai Yalu. Perang udara di Korea juga menyaksikan penggunaan ekstensif pesawat taktis yang lebih kecil untuk menyerang sasaran strategis. Dalam Perang Dunia II, pembagian antara pembom strategis dan pesawat pembom taktis terlihat jelas. Pesawat pembom strategis bermesin banyak ditugaskan untuk membom pabrik, jembatan-jembatan utama, pelabuhan, dan pembangkit tenaga listrik jauh di belakang garis musuh. Sedangkan pesawat pembom taktis jarak pendek hingga menengah yang lebih kecil menyerang target yang lebih dekat ke garis depan. Di Korea, pembedaan peran ini menjadi kabur karena pembom strategis yang tersedia, B-29 Superfortress, kemudian digunakan dalam kedua peran ini. Pada beberapa kesempatan markas Komando Timur Jauh bersikeras agar target serangan B-29 harus dekat dengan garis pertahanan terdepan yang dilalui musuh untuk bergerak maju. Pihak AU menurut meski keberatan dengan penggunaan pembom besar terhadap target yang lebih cocok dikerjakan oleh pembom tempur. Kepala Staff AU, Vandenberg, di Timur Jauh dalam suatu inspeksi, mendukung pendapat bawahannya, dengan menjelaskan perbedaan antara operasi udara taktis dan strategis. Setelah mendengarkan pendapat Kepala Staf Angkatan Udara itu, MacArthur mengakui bahwa menggunakan B – 29 untuk melawan target yang sulit ditemukan yang biasanya diserang oleh pesawat pembom tempur memang seperti pemborosan, tetapi dalam keadaan darurat seperti saat itu, dia merasa harus menghancurkan target-target musuh dengan setiap pesawat yang tersedia. 

Dalam Perang Korea misi pemboman pasukan PBB sedapat mungkin dibatasi untuk tidak melewati Sungai Yalu, yang menjadi pembatas alami antara Korea Utara dan China. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Akibatnya, markas besarnya memerintahkan agar B-29 dikirim pada pertengahan Juli 1950 untuk menyerang target-target jembatan, persimpangan jalan, dan konsentrasi pasukan dalam jarak enam puluh mil dari posisi kritis garis depan. Karena kepadatannya — hanya ibu kota Pyongyang, dengan populasi 500.000, yang memiliki lebih dari 100.000 penduduk — dan kurangnya bangunan tahan api, kota-kota di Korea Utara tampaknya hampir sama rentannya terhadap bom-bom pembakar seperti kota-kota di Jepang saat Perang Dunia II. Namun kali ini, pemerintahan Truman tidak mengizinkan penggunaan bom-bom pembakar di kota-kota. Angkatan Udara diperintahkan untuk meminimalkan korban sipil, untuk menekan kemungkinan penggunaanya bagi keperluan propaganda musuh. Penggunaan bom pembakar memang terbukti tidak perlu pada musim panas itu, karena pada pertengahan September 1950 setelah sekitar satu bulan pengeboman secara sistematis, pihak Angkatan Udara mengumumkan bahwa hampir semua target industri strategis di negara itu telah dihancurkan dengan menggunakan bahan peledak tingkat tinggi saja. 

Bentang jembatan rel kereta api dan pecahan yang tersebar membuktikan energi destruktif yang dilepaskan oleh bom para-fragmentasi di jembatan kereta api di Sunan, Korea Utara. Dengan memperlambat laju jatuhnya bom, parasut meminimalkan efek rebound ledakan bom dari target dan mencegah bom terkubur terlalu dalam, sehingga mengurangi efek penuh ledakan. Target-target semacam ini turut menjadi prioritas misi B-29 dalam mengganggu arus transportasi musuh. (Sumber: https://www.nationalmuseum.af.mil/)

Meski demikian, beberapa target strategis potensial musuh masih ada yang belum tersentuh karena alasan politik. Target-target ini termasuk kota pelabuhan Rashin, yang terletak hanya 17 mil dari perbatasan Uni Soviet, dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air di Korea Utara (yang juga memasok listrik ke Manchuria dan Siberia). Sementara itu, Korea Utara dapat memindahkan peralatan dan perbekalan dalam jumlah besar dengan menggunakan kereta api, oleh karenanya sejak awal dianggap penting untuk bisa memotong sistem kereta api Korea Utara di banyak tempat. Selama beberapa minggu pertama pertempuran, tiga skuadron B-29 dari Grup Pembom ke-19 dikirim menyerang setiap jembatan dan persimpangan rel di atas garis Paralel ke-38 yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan. Pembom-pembom Amerika mencatat 46 serangan langsung tepat sasaran (yang secara lengkap memotong jalur rel) dengan bom 1.000 pon di hari-hari awal kampanye udara. Mereka juga menargetkan tempat-tempat industri di sepanjang Sungai Yalu di perbatasan China dan di sekitar ibu kota Korea Utara, Pyongyang. Komando Udara Strategis kemudian segera mengirim empat kelompok pembom B-29 lagi — Grup Pembom ke-22, 92, 98 dan 307 — ke Okinawa dan Jepang, untuk membom tempat-tempat industri di Utara. Ketika musuh mendesak pasukan PBB ke Semenanjung Korea ke dalam kantong yang dikenal sebagai Perimeter Pusan, pesawat-pesawat pembom B-29 menyerang target-target taktis di Selatan untuk membantu membendung gelombang serangan Korea Utara.

MENUJU MIG ALLEY DAN PENGGUNAAN MUNISI PRESISI

Pada akhir Agustus, sebagian besar semenanjung Korea sudah berada di tangan musuh, tetapi Perimeter Pusan telah bertahan. Pada tanggal 15 September, Marinir berhasil mendarat di belakang garis belakang musuh di Inchon yang dengan cepat membebaskan Kota Seoul. Pada saat yang sama, pasukan PBB mendobrak keluar dari Pusan, dan mendesak mundur pasukan Korea Utara. Saat musuh mundur, pembom-pembom B-29 menyerang jembatan-jembatan yang masih utuh dan barisan truk yang mengalami kemacetan di jalan. Pentagon kemudian merilis angka yang menunjukkan bahwa selain merusak atau menghancurkan jumlah material musuh dalam jumlah besar, kampanye taktis Superfortress juga berperan dalam penangkapan 140.000 tentara musuh oleh pasukan PBB. Sementara itu memotong jalur rel di Utara untuk memperlambat mundurnya musuh masih menjadi prioritas utama B-29 — begitu penting sehingga setiap grup pembom berat mendedikasikan delapan pesawat Superfortress setiap hari untuk upaya tersebut. B-29 juga menargetkan desa-desa terpencil yang diyakini menyimpan peralatan dan tenaga kerja manusia untuk memperbaiki kerusakan akibat bom. Sebagian besar penyerangan terkonsentrasi di area segitiga dari Seoul ke Wonsan hingga Pyongyang. Karena pesawat-pesawat tempur Amerika telah memusnahkan angkatan udara Korea Utara dan musuh hanya memiliki sedikit senjata antipesawat, kru B-29 dapat berkonsentrasi pada pemboman dengan akurat. Masalah besar mereka adalah cuaca, karena awan sering kali menutupi pangkalan B-29 selama pelaksanaan misi, dan dalam kondisi seperti itu, pendaratan adalah bagian paling berbahaya dari penerbangan mereka.

Prajurit muda Korea Utara yang ditangkap mengangkat tangan dan menyerah saat Marinir AS (kanan) menodongkan pistol ke arah mereka setelah penyergapan pada tanggal 20 September 1950. Di latar belakang adalah salah satu tank yang mendarat dalam serangan di Inchon, Kota Korea yang berbatasan dengan ibu kota Seoul. Misi pengeboman B-29 di garis belakang musuh turut membantu menjabak ribuan tentara Korea Utara di medan perang. (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/)

Pada pertengahan Oktober, dengan pasukan darat PBB telah merebut Pyongyang dan bergerak ke arah Yalu, dekat perbatasan China, SAC menarik kembali dua grup pembom B-29 — Grup pembom ke-22 dan ke-92 — kembali ke Amerika Serikat. Tampaknya perang mungkin akan berakhir pada hari Thanksgiving, tetapi itu tidak terjadi. Selama minggu pertama bulan November, Pasukan China memasuki perang dengan menggelar pasukannya dalam jumlah besar melintasi perbatasan China-Korea, yang kemudian memicu mundurnya pasukan PBB. Superfortress lalu diperintahkan untuk menghantam kota-kota di sepanjang sisi perbatasan Korea Utara dengan Cina, dan mengganggu sistem transportasi musuh dengan membom jembatan dan pangkalan pengangkutan kereta api. Mereka juga menetralkan lapangan udara musuh (termasuk yang terletak di sepanjang sisi perbatasan Manchuria-Korea) dan menyerang konsentrasi pasukan musuh. Komando pengebom mengandalkan bom pembakar untuk melipatgandakan kerusakan yang dilakukan oleh tiga kelompok pembom yang tersisa. Pemerintah tampaknya tidak lagi khawatir dengan propaganda yang mungkin dikobarkan pemerintah Korea Utara jika bom-bom pembakar digunakan. Beberapa pengebom B-29 memiliki pengalaman menggunakan bom yang dikendalikan radio, peninggalan Perang Dunia II yang memiliki sistem pemandu yang rentan gagal. Dalam praktiknya, pembom harus mengarahkan bom sampai ke target, dengan mengabaikan ancaman pesawat tempur dan tembakan antipesawat. Angkatan Udara menggunakan dua bom berpemandu di Korea, yakni VB-3 Razon dan VB-13 Tarzon, terutama terhadap target jembatan. Setelah bom-bom ini dijatuhkan dari pesawat, pembom secara visual mengarahkan bom ke sasaran dengan kendali radio. Kontrol penerbangan bom Razon dan Tarzon memungkinkan mereka untuk dikendalikan dalam dua sumbu (range, atas dan bawah, dan azimuth, kiri atau kanan). Mereka juga dilengkapi dengan suar pelacak untuk membantu pelacakan visual setelah dilepaskan. Salah satu bom berpemandu seberat 12.000 pon yang pertama tiba di Korea berhasil merusak parah jembatan kereta api di Kangye, sekitar 25 mil di dalam wilayah Korea Utara. Meskipun USAF memiliki hasil yang beragam di Korea dengan menggunakan Razon dan Tarzon, mereka telah merintis penggunaan senjata yang dipandu presisi di kemudian hari.

VB-3 Razon, salah satu tipe bom berpemandu yang digunakan dalam Perang Korea. Setiap B-29 mampu membawa 8 bom jenis ini dalam sekali terbang. beberapa ratus bom Razon dijatuhkan atas target-terget jembatan Korea Utara, meski reliabilitasnya rendah, namun bom ini membuka jalan munculnya munisi presisi di kemudian hari. (Sumber: http://michaelhiske.de/)

Konflik Korea baru berusia kurang dari enam bulan pada pagi hari tanggal 30 November 1950, ketika B-29 Superfortress Angkatan Udara AS, yang menyerang sebuah pangkalan udara di Korea Utara, rusak ringan oleh serangan sebuah pesawat tempur yang menyelip diantara pembom dan terbang terlalu cepat untuk bisa diidentifikasi dan ditembak oleh penembak Superfortress dengan sistem pembidik senjatanya. Jet bersayap lurus Lockheed F-80 yang mengawal pembom berusaha melakukan pengejaran, tetapi pesawat tempur musuh yang berakselerasi dengan cepat menyusut menjadi satu titik, lalu menghilang. Laporan kru pembom tersebut memicu kepanikan yang segera menyebar melalui rantai komando AS. Meskipun deskripsi penerbang tentang pesawat penyusup tersebut tidak cocok dengan pesawat yang diketahui beroperasi di wilayah tersebut, pejabat intelijen AS dengan cepat membuat asumsi yang tepat. Pesawat yang menyerang adalah MiG-15, pesawat tempur bersayap swept wing (sayap menyudut kebelakang) yang lebih unggul dari jet-jet Amerika yang bersayap lurus, kemungkinan besar terbang dari pangkalan di Manchuria. Sebelum insiden tersebut, analis percaya bahwa satu-satunya penggunaan yang diizinkan Stalin untuk pesawat MiG adalah mendukung angkatan udara komunis China dalam melindungi Shanghai dari serangan pembom nasionalis Tiongkok. MiG adalah penanda yang tidak menyenangkan, dimana keterlibatan China di Korea semakin meningkat, dan teknologi tinggi Soviet mulai secara luas digunakan. Serangan terhadap pesawat-pesawat pembom semakin intensif pada awal tahun 1951. Pada tanggal 1 Maret tujuh unit B-29 hilang karena serangan musuh, dan beberapa minggu kemudian enam lainnya jatuh dalam sehari. Beberapa dari kerugian itu disebabkan oleh tembakan anti-pesawat yang hebat, tetapi yang lain jatuh ke tangan pesawat-pesawat MiG yang dilengkapi dengan kanon. Antara bulan November 1950 dan November 1951, Angkatan Udara kehilangan 16 B-29 karena aksi musuh, meskipun telah ada pengawalan pesawat tempur F-86 dan F-84. Ancaman MiG kemudian memaksa Komando Pengebom Angkatan Udara Timur Jauh (FEAF) untuk beralih hampir secara eksklusif ke serangan malam selama sisa perang. Pada musim semi 1952, dengan kebuntuan di lapangan dan kegagalan gencatan senjata yang dirundingkan, FEAF memulai kebijakan baru “penghancuran selektif” dengan menggunakan “kekuatan udara” untuk memaksa pihak komunis dalam posisi bertahan. Tujuannya adalah membuat perang di Korea menjadi terlalu mahal bagi pihak komunis dengan menghancurkan target ekonomi bernilai tinggi tertentu.

Pesawat tempur F-84E Thunderjet memberikan perlindungan atas armada bomber B-29 dari ancaman pesawat-pesawat tempur MiG-15 pasukan komunis, namun perlindungan ini terbukti tidak cukup karena keunggulan dari MiG-15 dibanding pesawat-pesawat pengawal Amerika. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK B-29 vs MiG-15

Boeing B-29 “Superfortress” akan selamanya dikaitkan dengan bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang untuk membantu mengakhiri Perang Dunia II (“Bock Car” dan “Enola Gay” adalah pesawat yang dipilih untuk digunakan membom kedua kota tersebut). B-29 pada masa Perang Dunia II berfungsi sebagai platform pembom berat yang nyaris tak tersentuh oleh lawan, mampu terbang tinggi, dengan teknologi revolusioner yang digabungkan di seluruh desainnya yang mengesankan. Boeing B-29 saat PD II hanya beroperasi di Pasifik melawan Kekaisaran Jepang dan tidak pernah dipanggil untuk bertugas di atas Eropa karena perang melawan Jerman sudah mendekati akhir pada bulan April-Mei 1945. B-29 Superfortress adalah pesawat mid wing monoplane dengan desain yang berpusat pada badan berbentuk tubular yang didukung oleh empat mesin piston radial besar berpendingin udara. Badan pesawat yang seperti pensil dengan didominasi panel kaca besar di bagian hidung dan memberikannya penampilan yang khas. Awak dari pembom B-29 berjumlah sepuluh personel yang terdiri dari pilot, pengebom, navigator, spesialis, dan penembak. Semua sistem senjata ditempatkan di kubah bertenaga listrik yang dioperasikan dengan periskop terintegrasi dan dipasang pada posisi punggung, perut, dan ekor. Pengaturan persenjataan ini mewarisi konfigurasi pembom pendahulunya, meskipun diharuskan oleh bisa beroperasi di ketinggian B-29 yang tinggi (B-17 masih menggunakan beberapa port senapan mesin terbuka, membuat awaknya kerap terpapar suhu dingin yang menggigit di penerbangan ketinggian). 

B-29 Superfortress merupakan pembom strategis paling canggih di era Perang Dunia II, namun disaat Perang Korea pecah, teknologinya sudah mulai ketinggalan jaman. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Untuk pertahanan diri, B-29 setidaknya dilengkapi dengan 10 senapan mesin yang dipasang pada turret elekrik berpembidik optik. (Sumber: http://legendsintheirowntime.com/)

B-29 dilengkapi beberapa senapan mesin berat Browning M2 kaliber 12,7mm untuk pertahanan diri. Empat dipasang di turret punggung yang dioperasikan secara elektrik sementara turret punggung kedua dipasang dua lagi. Sepasang senapan mesin 12,7 mm dipasang di posisi dagu dengan dua senapan mesin lainnya dipasang di bagian belakang badan pesawat. Dan yang terakhir sepasang senapan mesin dipasang di bagian ekor untuk melawan pesawat tempur yang menyerang dari belakang. Di luar senjata ini, kehebatan sebenarnya dari B-29 adalah kemampuannya untuk membawa hingga 20.000 lb (10 ton) persenjataan (umumnya bom) secara internal. B-29 yang memiliki panjang 30,18 meter mampu terbang hingga kecepatan puncak 576 km/jam dan menjelajah hingga 6,598 km di ketinggian hingga 9,695 meter. Pada era Perang Dunia II, dengan kecepatan dan ketinggian terbang semacam ini, B-29 relatif imun dari ancaman pesawat-pesawat pemburu konvensional bermesin propeller (baling-baling), namun hal ini tentu tidak berlaku kalau lawannya bermesin jet, yang kemudian lazim muncul dalam Perang Korea.

MiG-15 selain mampu terbang lebih tinggi dan menanjak lebih cepat dari rata-rata pesawat tempur Amerika pada masanya, MiG-15 juga dipersenjatai dengan persenjataan yang lebih berat, yang lebih dari cukup untuk menjatuhkan B-29. (Sumber: https://www.wallpaperflare.com/)

Sementara itu lawannya, MiG-15 (diberi nama sandi “Fagot”) merupakan pesawat tempur bertenaga turbojet dan bersayap swept wing Uni Soviet yang pertama operasional dalam jumlah banyak di negara itu. Pesawat ini banyak diproduksi dan terlibat dalam pertempuran dalam Perang Korea, dimana kemampuannya terbukti lebih dari cukup untuk melawan pesawat-pesawat tempur sezamannya. Dengan penundaan desain pesawat tempur turbojet Uni Soviet di masa Perang Dunia II, para insinyur malah mendapatkan inspirasi desain sayap swept wing dari ilmuwan Jerman yang ditangkap Soviet, bersamaan dengan keberhasilan mereka mengamankan perjanjian dengan Inggris untuk memproduksi secara lisensi mesin turbojet Rolls-Royce Nene – dan memproduksi pesawat tempur yang sesuai dengan kebutuhan Soviet akan jet tempur yang kuat, efektif, dan mudah diproduksi / dirawat. Mikoyan-Gurevich MiG-15 yang awalnya dikembangkan di Uni Soviet sebagai pencegat kemudian didukung oleh mesin turbojet RD-45, yang merupakan salinan dari Rolls Royce Nene asal Inggris. Dirancang untuk bisa menembak jatuh pembom berat, dengan membawa satu kanon 37mm dan dua kanon 23mm. Pengalaman Jerman di PD II telah menunjukkan perlunya kanon dengan kaliber yang lebih besar dari 20 mm untuk bisa menjatuhkan pembom berat empat mesin, hal ini kemudian akan terbukti dalam Perang Korea. MiG-15 dengan panjang badan keseluruhan hanya 10,86 meter, ini dapat terbang hingga kecepatan maksimum 1,075 km/jam dan menjelajah hingga ketinggian 15,500 m, serta memiliki jangkauan hingga 1,860 km. Berdasarkan deskripsi singkat diatas, jelas menunjukkan bahwa MiG-15 memiliki kemampuan lebih dari cukup untuk bisa “menumbangkan” Bomber berat semacam B-29.

PENGALAMAN-PENGALAMAN

Sersan Staf Richard Oakley, seorang awak di sebuah pesawat pembom Superfortress dari Grup Pembom ke-19, yang diberi nama “The Outlaw”, mengingat salah satu misi yang terjadi tepat setelah MiG pertama kali muncul di Korea. Diposisikan di bagian tengah B-29 dan menjabat sebagai petugas fotografi, dia berharap bisa mendapatkan gambar formasi pembom serta beberapa potret jelas dari setiap MiG-15 yang muncul. Pada saat itu sedikit yang diketahui tentang jet Soviet yang menakutkan itu, dan analis intelijen sangat membutuhkan informasi. “Itu adalah penerbangan yang panjang dari Okinawa ke Korea Utara,” kenang Oakley. “Saat kami mencapai daratan, kami bergabung dengan anggota grup kami yang lain dan menetapkan jalur yang akan menempatkan kami di area yang akan dikenal sebagai MiG Alley. Tiba-tiba, saat saya melirik keluar dari kaca gelembung di samping saya, saya melihat adanya kepulan kecil asap hitam dengan kilatan oranye di tengahnya, dan semuanya segera ada di sekitar kami. Aku bisa mendengar beberapa pecahan pecahan peluru menghantam bagian bawah pesawat kami — pertemuan pertama saya dengan senjata anti pesawat. “Kami tetap terbang dalam formasi ketat sampai ke Yalu sebelum melepaskan muatan kami,” lanjut Oakley. 

Untuk memaksimalkan persenjataan bela dirinya, Bomber semacam B-29 kerap terbang dalam formasi ketat, dimana masing-masing penembak pesawat melindungi formasi dari setiap sudut serang lawannya. (Sumber: https://www.artpal.com/)

“Saat ini kami tidak menemukan satu pun pesawat MiG. Saat kami terbang menuju ke ke Okinawa, kami menerima kabar bahwa angin topan sedang menghantam pangkalan kami, dan kami diperintahkan untuk mengalihkan pendaratan ke Pangkalan Udara Yokota di Jepang. Ini akan menjadi persinggahan singkat; kita akan mendapatkan bom lagi dan kemudian menyerang target lain. ” Target kru pembom berikutnya adalah Rashen, di perbatasan Manchuria – Uni Soviet. “Saat kami mendekati target di ketinggian 24.000 kaki, suhu di luar pesawat minus 50 derajat,” katanya. “Kami terbang di slot No. 4, jadi crew bombardir kami hanya mengawasi pintu bom bomber pemimpin sehingga dia tahu kapan harus melepaskan muatan kami. Ketika sampai pada titik itu… tidak ada yang terjadi! Kami terbang membuat lingkaran besar di atas lautan untuk kembali ke target dan lagi… tidak ada yang terjadi. Pada percobaan ketiga, semua bom akhirnya jatuh, dan saat kami menarik diri, tampaknya ada masalah. Pintu bom kami tidak mau menutup. Di sini kami mencoba untuk tetap dalam formasi dengan tiga pesawat lainnya, tetapi dengan drag tambahan dari pintu bom yang terbuka hampir tidak mungkin bagi kami untuk bisa tetap dalam formasi. Kami akhirnya terpaksa terbang di bawah garis pemboman. Pada saat itu yang lain telah kembali ke Okinawa, dan mengenai jumlah bahan bakar yang kami bakar, navigator kami menyatakan bahwa ketika kami mencapai pangkalan kami, kami hanya akan tinggal memiliki satu jam bahan bakar tersisa dan itu terlalu minim. “

B-29 di Pangkalan Udara Yokota. Selama Perang Korea, banyak B-29 menerbangkan misinya dari pangkalannya di Jepang. (Sumber: https://www.yokota.af.mil/)

Akhirnya pilot memutuskan untuk pergi ke Pangkalan Udara Itazuke di Jepang. Ketika mereka tiba, mereka masih mengalami masalah karena pintu bomb bay masih terbuka dan jarak antara mereka dan landasan nyaris tidak cukup. “Untungnya, pilot kami berhasil melakukan salah satu pendaratan paling mulus yang dapat Anda bayangkan,” kenang Oakley. “Anda bahkan tidak dapat mendengar ‘suara’ ketika roda utama menyentuh landasan. Kemudian kami menemukan bahwa pintu bom tidak mau menutup karena air di saluran hidrolik yang membeku. Masalah ini teratasi, dan kami berangkat ke Okinawa. Saat kami mendekati pangkalan, kami tiba di ujung ekor topan yang menggantung di langit dan jarak pandang mendekati nol. Kami berhasil setelah melakukan pendaratan darurat. Jenis masalah seperti ini muncul setiap saat karena pembom kami semakin tua dan oleh karenanya tidak ada misi yang benar-benar sempurna. ” 

B-29 vs MiG-15

Pilot Letnan Richard Allen, salah satu dari pilot Grup Pembom ke-19, melakukan banyak misi siang hari sebelum kemunculan MiG. Segera setelah grup itu mulai terbang dalam misi malam hari untuk menghindari ancaman jet tempur musuh, bagian bawah Superfortress dicat hitam pekat, untuk mempersulit lampu sorot yang dipasang di dekat Yalu untuk melihat mereka. Tapi begitu B-29 beralih ke serangan malam, pilot MiG yang terlatih dalam operasi malam hari mulai turun tangan, dengan dibantu oleh pengontrol darat yang membantu mereka mencegat pembom-pembom Amerika. “Pada banyak misi kami yang mengharuskan kami terbang ke wilayah MiG-15, kami akan meluncurkan setidaknya satu buah B-29 satu jam sebelum kami lepas landas,” jelas Allen. “Pembom tunggal ini akan terbang ke lokasi yang jauh dari target utama kami, sebagai pengalihan bagi MiG-MiG lawan, dan pada saat kami mencapai daerah target kami, bahan bakar mereka (pesawat-pesawat MiG) hampir habis atau baru saja kembali ke pangkalan mereka untuk mengisi bahan bakar. “Pada salah satu misi malam kami di mana kami terbang dari daerah Wonsan, penembak kami melaporkan bahwa ada beberapa pesawat mendekat dari arah jam 6, dan ketika mereka berada sekitar 200 yard dari kami, mereka tiba-tiba berhenti. Ini berlangsung sekitar setengah jam, dan kami menyimpulkan bahwa mereka adalah pesawat tempur malam Angkatan Udara atau Marinir Amerika. Ketika kami kembali ke markas kami di Kadena, kami melaporkan bahwa kami senang melihat perlindungan di sekitar area target. Keesokan harinya, petugas intel kami memberi tahu kami bahwa tidak ada pesawat kawan di bagian Korea Utara itu, yang berarti mereka (yang kami temui) mungkin saja MiG-15. ”

Dalam menjalankan misi pengeboman malam hari untuk mengurangi ancaman MiG-15, beberapa B-29 dicat hitam di bagian bawahnya untuk mengecoh lampu sorot di sekitar target serangan. (Sumber: https://www.classicwarbirds.co.uk/)

Sementara perut B-29 masih dicat hitam, Allen memimpin satu misi di mana dia menerbangkan satu-satunya pesawat dengan yang masih dicat serba perak. “Pesawat bercat perak, menuju sebelah utara Sinuiju, adalah laksana akhir dunia bagi misi yang berjalan sekitar 15 menit! “katanya.” Misi ini adalah sebuah upaya maksimal, dan kami tidak boleh masuk kesana kecuali jika target mendung. Saya memimpin, dan seluruh formasi kami sedang terbang di tengah badai petir besar sekitar 20 menit di lepas pantai barat laut Korea. Target telah ditentukan, yang memberi kami apa yang kami inginkan. “Kami adalah pesawat pertama yang masuk,” lanjut Allen, “ kemudian kami berbelok ke utara untuk terbang cepat dan sekitar 10 mil dari pantai dimana kami menerobos. Saat kami mendekat, Anda dapat melihat ke utara dan dengan jelas melihat lampu di lapangan terbang besar bagi pesawat-pesawat MiG di Antung. Sementara itu, operator radar kami di Pulau Chodo menjadi gila karena semua pesawat tempur musuh mengudara. Saat kami mencapai Sinuiju, kami bisa melihat lampu sorot mulai menyala di depan kami. Untungnya, kami memiliki pesawat ECM [electronic countermeasures], dan operator radio kami kebetulan menyetel frekuensinya — hal ini membuat mereka menjauh sampai kami berada sekitar empat menit dari target. Peluru pelacak ada di mana-mana, dan semua seperti neraka. Kami beruntung dan berhasil meledakkan bom, dan Anda harus percaya bahwa B-29 dapat melakukan manuver split-S, karena saya melakukannya saat itu! Selama beberapa menit berikutnya, saya melampaui semua batasan kecepatan dan tekanan pada pesawat itu, mencoba menghindari MiG-15 yang terbang di malam hari dan lampu sorot. Akhirnya kami mendapatkan jarak antara kami dan pesawat musuh saat kami keluar dari area tersebut. ” 

MiG-15 berwarna perak dengan bintang merah dan kanon kaliber besar merupakan mimpi buruk para crew bomber dalam Perang Korea. (Sumber: https://www.airspacemag.com/)

Sersan Lyle Patterson, yang berpartisipasi dalam misi siang hari menyerang jembatan di Yalu, mengenang serangan MiG dalam satu serangan mendadak: “Kami lepas landas pada jam 5 pagi dari Okinawa, yang akan membuat kami seharusnya melewati jembatan sekitar jam 10 pagi. Setelah mencapai IP [titik awal ] dan memulai serangan bom kami, saya melihat anak panah kecil yang berkilau jatuh di garis penerbangan yang ada di depan kami— jelas itu MiG-15. Sayap swept wing mereka membuat mereka terlihat seperti mata panah kecil pada jarak tertentu. Masing-masing bercat aluminium alami kecuali adanya tanda bintang merah besar, dan saat mereka keluar dari matahari, mereka benar-benar berkilau. “Pengawal kami pada hari ini adalah F-80 yang bersayap lurus. Mereka kemudian segera bercampur aduk dengan MiG yang menyerang, tetapi yang terakhir memiliki keunggulan besar dalam kecepatan. Beberapa detik kemudian, saya melihat peluru pelacak merah besar datang melesat di dekat ekor kami, meleset tipis. Kami melawan balik dengan senjata kaliber .50 kami, tetapi ada banyak MiG di mana-mana. B-29 yang berada tepat di belakang kami terkena tembakan kanon kaliber 37mm di sayapnya dan mulai mengalirkan bahan bakar saat meluncur ke kanan dan jatuh dari formasi, menuju ke bawah. Pembom utama kami, Dragon Lady, terkena serangan di sisi kiri kokpit, menewaskan pilotnya. Mereka tetap di jalur penerbangannya dan menjatuhkan bom tepat sasaran, dengan kopilot yang menangani kendali pesawat. Beberapa menit kemudian kami diserang dari posisi jam 8, dan saya mengarahkan pandangan saya ke area kokpit MiG sambil menembakkan sekitar 20 peluru. Semua tepat mengenai kokpitnya, dan pesawat itu hancur dengan ekor menghantam diatas hidung. ” 

Dengan kelincahannya MiG-15 dapat menyelinap masuk diantara formasi pembom dan menyerang target-target mereka yang lebih lamban. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Patterson melihat B-29 lainnya tertembak dan mulai jatuh. Tiga dari empat pembom dalam penerbangan tersebut tidak berhasil mencapai target. Yang keempat terkena tembakan tapi berhasil menjatuhkan bom sebelum tertatih-tatih ke pangkalan kawan dan melakukan pendaratan darurat. Saat B-29 Patterson mendarat, masing-masing senjatanya memiliki sisa kurang dari 10 peluru. “Setelah pesawat tempur F-86 Sabre mulai mengawal kami, MiG tidak lagi menjadi masalah,” kata Patterson. “Pada salah satu misi di mana pesawat-pesawat F-86 bersama kami, saya ingat kami diserang oleh setidaknya 15 pesawat MiG. Hanya tiga dari mereka yang mampu menembus perlindungan Sabre, tetapi mereka tidak bisa menembak secara akurat ke arah kami. Pada misi yang sama, saya ingat pesawat-pesawat MiG turun ke formasi kami pada sudut 45 derajat dalam gerak roll lambat. Setiap kali ia menggelinding dan perutnya terangkat, nyala api keluar seperti lilin roma. Dia memiliki sebuah F-86 tepat di ekornya, dengan hidungnya hampir di atas knalpotnya. ” 

Misi MiG-15 dalam menjatuhkan B-29 bukanlah misi yang mudah, selain harus bisa menaklukkan sistem pertahanan mandiri sang bomber, mereka juga harus bisa melewati hadangan pesawat-pesawat tempur pengawal seperti F-86 Sabre. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Untuk kru yang terbang bersama Superfortress yang lamban, kehadiran tiba-tiba jet yang membelah formasi mereka menjadi sumber ketakutan yang meneror mereka. “Saya akan memberitahu Anda, semua orang takut,” kata mantan pilot B-29 Earl McGill, saat dia menjelaskan tidak adanya obrolan radio saat dia mengendalikan Boeing empat mesinnya meluncur di landasan pacu untuk misi menyerang pangkalan udara Namsi, dekat perbatasan antara Korea Utara dan Cina. “Pada misi pertama saya, kami diberi pengarahan tentang (kemungkinan) intersepsi MiG yang intensif. Saya sangat takut pada hari itu sehingga saya tidak pernah merasa takut sejak itu, bahkan ketika saya (harus) menerbangkan misi tempur dengan B-52 [di atas Vietnam]. ” Pada suatu hari bencana di bulan Oktober 1951 — dijuluki Black Tuesday — pesawat-pesawat MiG menembak jatuh enam dari sembilan Superfortress. Sementara itu, pertemuan pertama McGill dengan pesawat MiG berlangsung singkat. “Salah satu penembak memanggilnya. ada siluet kecil, ”kata McGill. Saat itulah aku melihatnya…. [Para penembak] menembakinya.” McGill menjelaskan sistem penembakan yang dikendalikan secara terpusat pada pembom B-29 memberikan perlindungan terhadap ancaman pesawat tempur. Pilot MiG-15 Porfiriy Ovsyannikov yang pernah “berada di seberang laras” senjata B-29 menjelaskan, “Ketika mereka menembaki kami, mereka nampak berasal, dan Anda (kadang) berpikir, Apakah pembom itu terbakar, atau apakah itu asap senapan mesin?” kenangnya pada tahun 2007, ketika sejarawan Rusia Oleg Korytov dan Konstantin Chirkin mewawancarainya tentang sejarah lisan pilot tempur Soviet yang bertempur dalam Perang Dunia II dan Korea. (Wawancara diposting di situs web lend-lease.airforce.ru/english.) Sejarawan itu kemudian meminta Ovsyannikov untuk menilai efektifitas senjata pertahanan B-29. Jawabannya: “Sangat bagus.” Tapi disisi lain pilot MiG mampu melepaskan tembakan dari jarak sekitar 2.000 kaki, dan pada jarak itu, kata McGill, mereka bisa menyerang formasi B-29. “MiG-15 mengejutkan kami,” kata kurator Museum Dirgantara dan Luar Angkasa Nasional Robert van der Linden. Dibandingkan dengan F-86 Sabre Amerika Utara, yang dikirimkan secara tergesa-gesa dalam pertempuran setelah MiG muncul, “MiG lebih cepat, bisa terbang lebih tinggi dan memiliki daya tembak lebih besar,” katanya. Dan pilot Sabre tahu itu. “Anda benar sekali, mereka mengintimidasi (kita),” kata pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Udara Charles “Chick” Cleveland, saat mengingat pertemuan pertamanya dengan MiG-15. Dia menerbangkan Sabre dengan Skuadron Fighter-Intercepter ke-334 di atas Korea pada tahun 1952. Hanya beberapa minggu sebelumnya, komandan skuadronnya, ace terkenal asal Perang Dunia II George Andrew Davis, terbunuh oleh pesawat tempur Soviet (Davis kemudian secara anumerta dianugerahi Medal of Honor)

George Andrew Davis, Ace PD II yang menjadi korban MiG-15 China dalam Perang Korea. Davis kemudian dianugerahi secara anumerta Medal of Honor. (Sumber: https://www.koreanwar.org/)

Sementara itu bagi pilot-pilot Soviet, pertempuran yang terjadi antara MiG-15 dari 64th IAK (Fighter Air Corps) dan Komando Pengebom Angkatan Udara Timur Jauh pada akhir Oktober 1951 adalah salah satu pertarungan yang paling sengit, dan paling berdarah dari seluruh Perang Korea. Tidak kurang dari lima B-29 Superfortress hancur karena aksi pesawat-pesawat tempur Soviet hanya dalam 72 jam antara tanggal 22 dan 24, dengan yang pertama menjadi korban adalah B-29A 44-61656 dari Wing Pembom ke-19, dengan kehancurannya dicatat atas nama ace Soviet dengan 12-kill, Letkol Aleksander Smorchkov dari GvIAP ke-18. Ace Soviet itu kemudian mengenang pengalamannya dalam buku karya Leonid Krylov dan Yuriy Tepsurkaev yang berjudul Soviet MiG-15 Aces of the Korean War; “Misi melawan B-29 ini adalah yang tersulit yang saya terbangkan di Korea. Kami lepas landas dalam cuaca buruk, dan beberapa pilot saya memiliki sedikit pengalaman terbang dalam kondisi seperti itu. Kami mencari celah di awan, tetapi pada saat kami mencapai ketinggian 10.000 m (32.500 kaki) langit telah mendung. Kemudian kami menerima perintah untuk mengikuti panduan yang akan membawa kami ke target “yang besar”. Kami harus menurunkan ketinggian 5.000 m (16.000 kaki) dan terbang di bawah awan. Tapi bagaimana kita bisa menemukannya di tengah mendung? Saya bisa melakukannya sendiri, tetapi saya terbang bersama dengan seluruh resimen. Saya tidak dapat bertanya kepada markas saya karena mereka mengharapkan saya untuk dapat mengelola, dan saya bahkan mungkin ditegur karena menanyakan pertanyaan seperti itu. 

Dalam Perang Korea 109 buah B-29 hancur karena berbagai sebab, termasuk karena aksi musuh. (Sumber: https://twitter.com/)

‘Saya melihat ke belakang saya dan melihat seluruh resimen di sana, menahan formasi dengan baik. Saya memerintahkan mereka semua untuk melihat kebawah, memperhatikan dan tidak menutup diri di atas awan. Saya bisa melihat wingman saya tetapi tidak ada apa-apa di depan saya. Saya tidak ingin mengalami tabrakan! Saya adalah komandan mereka, dan karena itu bertanggung jawab atas semua pilot saya. Jika meski hanya ada satu pasang pesawat yang bertabrakan, itu adalah salah saya. Tapi kami mulai keluar dari awan, dan mendung berada di atas kami. Dan di sanalah mereka —Superfortresses, hanya tiga kilometer (dua mil) dari kami. Pos komando kami memperkirakan ada 12 pembom – saya sudah menghitung mereka – dan ada juga 120 pesawat tempur pengawal. Sementara itu ‘Bagaimana dengan resimen saya? Saya melihat sekeliling dan itu dia! Semuanya bersamaku, dan aku langsung merasa lebih baik. Saya memerintahkan mereka untuk memilih target yang besar, tetapi tidak melupakan yang kecil. Jadi kami mulai menyerang. Kecepatan target kami adalah 500 kmh (312 mph) dan kami sendiri terbang dengan kecepatan 1.100 kmh (688 mph). Pilot yang mengawal tampak seperti pengecut. Jika kami memaksa mereka membagi diri menjadi sepasang atau sekelompok empat pesawat, mereka akan terbang terpisah, ke kiri dan kanan, dan meninggalkan kami menuju jalur terbang yang jelas menuju pembom. “Bagus”, pikirku. “Orang-orang ini (seperti) bekerja untuk kita”. ‘Saya menembak ke salah satu pembom dan melihat peluru pelacak saya meleset dari target. Kemudian saya mendekat, saya menembak lagi ke mesin pembom di sebelah kanan dan tangki bahan bakarnya. Api merah mulai muncul dari sana dan Superfortress itu mulai terbang turun. Ketika pembom itu mulai pecah, saya melihat enam parasut terbuka, tetapi tidak ada waktu bagi saya untuk menonton, karena para pengawal mereka tampaknya telah bangun. “Saya selalu mengajari pilot saya bahwa pesawat seperti B-29 bernilai semua amunisi yang mereka bawa. Jika masing-masing dari kita bisa menembak jatuh sebuah Superfortress, maka itu bagus. Tapi saya masih memiliki beberapa amunisi tersisa setelah menjatuhkan sebuah Superfortress, jadi saya kemudian menggunakannya untuk menghancurkan sebuah pesawat tempur pengawal, F-84. Kemudian saya berkata kepada wingman saya, Vladimir Voistinnyh, “Silakan dan saya akan melindungimu”, saat dia mengejar Thunderjet, tetapi pertempuran saat itu telah memudar dan kami diperintahkan pulang. “

CATATAN-CATATAN

Selama 37 bulan Perang Korea, kru B-29 telah melakukan yang terbaik untuk dapat mengisi peran baru yang menantang. Menurut catatan Komando Pengebom Angkatan Udara Timur Jauh, awak Superfortress dikreditkan dengan menembak jatuh 33 pesawat tempur musuh, 16 di antaranya pesawat MiG. 17 MiG lainnya tercatat sebagai kemungkinan hancur, dengan 11 lainnya rusak. B-29 mencatat 21.000 serangan individu dan menjatuhkan 167.100 ton bom. Angka untuk total kehilangan B-29 sangat bervariasi tergantung pada sumbernya. Berdasarkan Database Kehilangan Pesawat dalam Perang Korea, yang diterbitkan oleh Departemen Pertahanan, total 109 buah B-29A hilang karena penyebab operasional dan aksi musuh. Pada tahun 1955, dengan situasi di Korea telah stabil dan pembom antarbenua mulai memasuki dinas operasional, kebutuhan angkatan udara akan pembom B-29 di Pasifik tidak lagi diperlukan. Terlepas dari keberhasilan Amerika dalam mencegah penaklukan Korea Selatan oleh komunis Korea Utara, Perang Korea 1950-1953 tidak memuaskan orang Amerika yang mengharapkan jenis kemenangan total yang mereka alami dalam Perang Dunia II. Bahkan setelah pihak komunis China memasuki perang, pihak Amerika tetap menempatkan target-target di China tidak boleh diserang dengan pemboman konvensional serta pemboman nuklir. Meski beroperasi dalam batasan-batasan ini, Angkatan Udara A.S. berhasil membantu mengusir dua invasi ke Korea Selatan sambil mengamankan kendali atas langit dengan begitu meyakinkan sehingga pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa lainnya dapat bertempur tanpa takut akan serangan udara musuh. Sementara itu masalah kurangnya personel intelijen terlatih untuk mendukung fungsi penargetan terus berlanjut selama perang. Dua studi terpisah dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas Angkatan Udara di Korea. Kedua laporan tersebut menunjukkan bahwa pecahnya perang telah menyebabkan kekurangan personel intelijen. Mereka juga menunjukkan bahwa pelatihan yang tidak memadai membuat kekurangan ini semakin parah. Kekurangan itu begitu akut sehingga FEAF  (AU Timur Jauh) harus merekrut perwira penerbang untuk melakukan fungsi intelijen. Hingga bulan Juli 1952, Komando Pengebom FEAF “kekurangan personel yang cukup untuk menangani sejumlah besar target harian”.

Di tengah segala keterbatasan performanya dalam menghadapi jet tempur musuh, secara umum B-29 dinilai cukup baik dalam menjalankan perannya dalam Perang Korea, meski harus dibayar dengan korban besar. (Sumber: https://www.pinterest.co.uk/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Superforts vs. MiGs By Warren Thompson

B-29 Operations – Korea

https://www.globalsecurity.org/wmd/systems/b-29-ops-korea.htm

The Jet that Shocked the West: How the MiG-15 grounded the U.S. bomber fleet in Korea By Stephen Joiner; AIR & SPACE MAGAZINE; DECEMBER 2013

https://www.airspacemag.com/military-aviation/the-jet-that-shocked-the-west-180947758/?all

Russian MiG-15 Pilot: How I Shot Down a B-29 Bomber during Korean War By Dario Leone; August 4, 2019

https://nationalinterest.org/blog/buzz/russian-mig-15-pilot-how-i-shot-down-b-29-bomber-during-korean-war-71406

Boeing B-29 Superfortress Strategic Long-Range, High-Altitude Heavy Bomber Aircraft

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=82

MiG-15 FAGOT (MIKOYAN-GUREVICH)

https://fas.org/nuke/guide/russia/airdef/mig-15.htm

Mikoyan-Gurevich MiG-15 (Fagot), Single-Seat Jet-Powered Fighter Aircraft

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=124

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *