English Electric Lightning: Pesawat Tempur Interceptor Asli Buatan Inggris yang Terakhir

Selama tahun 1950-an, perusahaan British English Electric (BAC) mengembangkan pesawat tempur berkecepatan Mach 2 pertama di Inggris (dan kemudian terbukti jadi yang terakhir). Pesawat yang kemudian diberi nama Lightning ini, merupakan sebuah pesawat yang kuat dan mengesankan, namun dibatasi oleh daya tahan terbangnya yang pendek dan persenjataannya yang kurang mumpuni. Diluar itu English Electric Lightning adalah sebuah prestasi teknik yang mengesankan bagi Bangsa Inggris. Pesawat ini adalah pesawat Inggris pertama yang mampu terbang menembus kecepatan Mach 2 yang pernah mereka kembangkan dan menjadi salah satu pesawat pertama yang bisa terbang “supercruise” (mencapai kecepatan supersonik tanpa menggunakan afterburner). Pada saat kelahirannya, Lightning menjadi pesawat pencegat yang ampuh untuk menangkal serangan bomber Soviet di wilayah tersebut dan memberi RAF kemampuan penyergapan yang kuat. Sebagai salah satu pesawat tempur berperforma paling tinggi dalam Perang Dingin, English Electric Lightning dikagumi banyak pihak di seluruh dunia. Awalnya pesawat ini cuma akan digunakan sebagai “solusi sementara” pada awal 1960-an, tapi akhirnya baru pensiun dari garis depan pada tahun 1988.

English Electric Lightning adalah Pesawat Tempur Interceptor Asli Buatan Inggris yang terakhir. (Sumber:https://forum.warthunder.com)

LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN

Meskipun pesawat bertenaga jet yang mulai diperkenalkan menjelang akhir Perang Dunia II, memiliki keunggulan dibanding pendahulunya yang masih bermesin piston dan telah membuat banyak orang takjub, namun beberapa dari mereka juga tahu pada saat itu bahwa pesawat bermesin jet masih bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Sejak tahun 1943, Kementerian Produksi Pesawat Inggris telah mengeluarkan spesifikasi yang diberi kode “E.24/43” untuk pembuatan pesawat jet eksperimental supersonik yang dapat mencapai kecepatan hingga 1.600 KPH (1.000 MPH). Miles Aircraft, kemudian datang dengan konsep yang disebut “M.52” dan menerima kontrak untuk segera mewujudkan desain pesawat mereka. Namun dengan berakhirnya perang, dan diperkirakan adanya penurunan tensi konflik, proyek itu menjadi kurang menarik lagi, dan proyek dibatalkan pada awal 1946. Sebagai gantinya, tim Vickers, yang ada di bawah kendali Barnes Wallis yang terkenal, membangun model pesawat kendali jarak jauh, yang pada dasarnya sekarang kita kenal sebagai drone eksperimental, untuk mengeksplorasi penerbangan supersonik. Hal ini sendiri sebenarnya bukanlah ide yang buruk, karena dalam beberapa dekade terakhir ini, drone sering berhasil digunakan untuk mengevaluasi konfigurasi pesawat tipe baru dengan biaya rendah, tetapi waktu itu Vickers gagal. Bell X-1 yang bertenaga roket buatan Amerika kemudian menjadi pesawat pertama yang secara resmi memecahkan tembok suara/supersonik dalam penerbangan mendatar, pada tanggal 14 Oktober 1947. Inggris dengan ini kemudian kehilangan kesempatan untuk menjadi yang terdepan dalam studi penerbangan supersonik, tetapi mereka tidak cuma berhenti disitu. Mulai tahun 1946, tim desain di English Electric (EE) di bawah komando W.E.W. “Teddy” Petter memulai studi desain untuk sebuah pesawat tempur supersonik, yang lalu mendapatkan kontrak dari Ministry of Supply (MoS) pada tahun 1947 dengan spesifikasi “ER.103” untuk mengerjakan studi desain pesawat eksperimental yang dapat mencapai kecepatan Mach 1.2. Pada waktu itu, untuk menangkal ancaman Bomber Soviet, inggris tidak memiliki pesawat penyergap yang cukup cepat bisa terbang secara supersonik. Waktu itu pesawat tempur Hawker Hunter, jelas merupakan pesawat tempur yang sukses dan secara desain unggul dalam banyak hal. Sayangnya waktu itu Hunter bukanlah yang tercepat, ia baru mampu menembus kecepatan Mach 1 hanya pada saat menukik dan menggunakan afterburner penuh.

Lightning P1A (WG760) lepas landas di Warton pada tahun 1955. (Sumber:https://www.baesystems.com)

MoS dengan cepat menyukai konsep EE, dan pada awal 1949 memberikan perusahaan itu sebuah kontrak dengan spesifikasi “F.23/49” untuk dua prototipe pesawat terbang dan satu prototipe untuk uji-darat yang diberi kode “P.1”. P.1 didefinisikan sebagai pesawat penelitian supersonik, meskipun desainnya memiliki ketentuan untuk dapat dipasangi persenjataan dan radar pembidik. Pesawat eksperimental ini menggabungkan fitur desain canggih dan tidak biasa, seperti mesin turbojet kembar yang dipasang satu di atas yang lain untuk mengurangi area frontal pesawat; dan sayap yang tersayung tajam, dengan ujung ujung sayap membentuk sudut ke badan pesawat, memberikan konfigurasi sayap seperti sayap delta dengan sudut bagian dalam belakang terpotong. Pesawat ini menampilkan intake berbentuk elips di hidung pesawat. Desainnya jauh lebih agresif secara teknologi daripada pesawat tempur supersonik awal segenerasinya, seperti North American F-100 Super Sabre atau Mikoyan MiG-19 Farmer punya Soviet. Petter, salah satu perancang pesawat terbang Inggris yang paling menonjol, mengambil panduan desain dari konsep-konsep Jerman yang dihasilkan pada akhir perang yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para insinyur Jerman yang bekerja di Inggris pada periode pascaperang. P.1 pertama kali melakukan uji penerbangan pertamanya dari Boscombe Down pada 4 Agustus 1954, dengan pilot uji terkenal Roland “Bea” Beamont di kontrol pesawat. Prototipe terbang kedua P.1 melakukan penerbangan pertamanya pada 18 Juli 1955. Kedua prototipe ini ditenagai oleh dua mesin Armstrong Siddeley Sapphire Sa.5 nonafterburning axial flow turbojet. Bahkan dengan mesin tanpa afterburner, prototipe ini dapat dengan mudah melampaui spesifikasi kecepatan Mach 1.2. Meskipun P.1 secara resmi merupakan pesawat penelitian, namun ia telah dirancang untuk mendekati konfigurasi pesawat tempur operasional. Performanya yang sangat luar biasa menyebabkan keputusan cepat dibuat untuk melanjutkannya pada versi operasional yang akan mampu terbang hingga kecepatan Mach 2. Bahkan, prototipe P.1 kedua telah menampilkan item seperti tangki pada perut yang jadi nampak membuncit dan sepasang kanon kembar Aden Mark 4, kanon kaliber 30 milimeter bertipe revolver, yang membuatnya lebih dekat pada spesifikasi operasionalnya.

English Electric P.1 (P.1A) WG763 – prototipe pencegat Lightning berkecepatan Mach 2 di Pangkalan RAF Boscombe Down, Inggris, pertengahan 1950-an. Wujud Lightning mirip dengan pesawat-pesawat tempur buatan Soviet, utamanya MiG. (Sumber:https://forum.warthunder.com/)
English Electric Lightning P1B RAF XA847. (Sumber:https://www.baesystems.com/)

Pesanan segera dibuat untuk tiga prototipe “P.1B” versi pencegat yang akan diproduksi. P.1 secara resmi diberi kode sebagai “P.1A”. Sementara P.1B adalah versi yang memiliki mesin Rolls-Royce Avon kembar berfitur afterburner; ekor pesawat yang lebih besar; beradar airborne intercept (AI) dalam kerucut yang terletak di inlet (yang sekarang diubah dari bentuk elips menjadi melingkar); punggung yang memiliki bahan bakar untuk sistem starter mesin; kokpit yang lebih tinggi; dan persenjataan kanon kembar Aden yang ada di hidung bagian atas, ditambah dudukan di bawah kokpit yang dapat dipasangi dua rudal De Havilland Blue Jay (kemudian menjadi Firestreak), rudal udara-ke-udara (AAM) tipe pencari panas atau 44 Microcell yang memuat roket tanpa pemandu kaliber 5-sentimeter (2 -inch). Prototipe awal P.1B melakukan penerbangan pertamanya pada 4 April 1957, sekali lagi dengan Beamont di kontrol pesawat. Dia dan Jimmy Dell adalah pilot uji utama untuk program pengembangan. Prototype awal ini tidak memiliki tangki ventral, yang muncul pada kedua prototype P.1B lainnya. Pada tanggal 25 November 1958, sebuah P.1B dilengkapi dengan mesin Avon afterburning versi awal mampu terbang melebihi kecepatan Mach 2, dengan afterburner minimum. Persyaratan awal dari Lightning sebenarnya tidak mewajibkan pesawat untuk bisa terbang pada kecepatan mach 2, tetapi EE telah melihat bahwa hal itu mungkin dan bahwa program F-104 dari Amerika juga telah mengalami kemajuan dalam upaya mencapai kecepatan mach 2. Roland Beamont, si pilot penguji kemudian menyatakan bahwa kinerja Lightning di kecepatan mach 2 jauh lebih unggul daripada F-104, dengan lebih sedikit suara dan getaran serta punya kemampuan kontrol yang lebih baik. Ironisnya, pada saat yang sama P.1B membuat penerbangan perdananya, Menteri Pertahanan Inggris Duncan Sandys (sering dipanggil “Sands”) merilis “White Paper “nya yang terkenal, yang menyatakan bahwa era pesawat tempur berawak telah berakhir dan bahwa peluru kendali adalah inti dari pertahanan udara masa depan. Ide ini juga tidak sendirian, Soviet dan Amerika juga sempat mau mengambil langkah serupa. Sandys sejak saat itu menjadi sosok yang dibenci oleh para pecinta penerbangan Inggris. Efek utama dari White Paper ini adalah menyebabkan pembatalan sejumlah proyek pesawat terbang Inggris yang menjanjikan. Namun Proyek pada P.1B sudah terlalu jauh untuk dapat dibatalkan, dan bahkan kemudian mengkonfirmasi bahwa program ini akan tetap dilanjutkan sebagai solusi sementara sampai senjata rudal yang dimaksud tersedia. Itulah kabar baiknya, sedangkan berita buruknya adalah bahwa implementasi beberapa perbaikan yang untuk tipe pesawat tersebut akan ditunda untuk waktu yang lama, dan pada kenyataannya beberapa peningkatan yang pada dasarnya sederhana dan bermanfaat tidak akan pernah diterapkan sama sekali. Kebijaksanaan awalnya adalah bahwa jenis pesawat ini akan dipensiunkan pada tahun 1964, jadi tidak ada alasan untuk menghabiskan waktu dan uang untuk memperbaiki performanya. Versi batch pengembangan pertamanya melakukan penerbangan perdana pada 3 April 1958, dan sisanya dilakukan satu setengah tahun berikutnya. Pada bulan Oktober 1958, Sir Dermont Boyle, kepala staf udara, memilih memberikan nama jenis pesawat ini “Lightning”, dibanding nama “Excalibur”. Lima puluh pesawat telah dipesan pada November 1956, dan produksi pertama “Lightning Fighter Mark 1 (F.1)” melakukan penerbangan pertamanya pada 3 November 1959. RAF menerima Lightning pertamanya pada Desember 1959, dalam bentuk tiga batch versi P.1B yang akan digunakan untuk pemeriksaan operasional. Nampaknya, beberapa atau semua P.1B didesain ulang menjadi versi “Lightning F.1 pada suatu waktu.

Menteri Pertahanan Inggris, Duncan Edwin Sandy (1908 – 1987), yang bertanggungjawab membatalkan berbagai proyek pesawat udara prestisius di Inggris. (Photo by Joseph McKeown/Picture Post/Hulton Archive/Getty Images/https://www.gettyimages.ca/)

DESAIN LIGHTNING F.1

Lightning adalah salah satu pesawat tempur paling khas yang mencapai dinas operasional penuh. Pesawat ini memiliki banyak kemiripan dengan desain beberapa pesawat tempur Soviet, khususnya Mikoyan MiG-19, tetapi sayap “cutout delta” dan pengaturan layout mesin yang unik, membuatnya sangat berbeda dari pesawat tempur jet tempur garis depan lainnya yang pernah dibuat. Pesawat ini ramping dan nampak futuristik, bersudut dan aneh, tetapi semua setuju bahwa pesawat ini adalah mesin tempur yang unik. Lightning memiliki konstruksi badan yang terbuat dari logam semua, kebanyakan dibuat dari aluminium dengan baja dan sejumlah kecil terbuat dari titanium. Sayap memiliki aileron di bagian ujungnya yang menyayung kedalam (60 derajat) dengan ujung terpotong, seperti yang terlihat pada prototype P.1A. P.1A memiliki flap pada bagian leading edge, tetapi ini tidak dipasang pada Lightning versi produksi massal; selain itu, flap P.1A terbelah, sementara pesawat versi produksi memiliki flap one-piece dengan tempat penyimpanan bahan bakar. Sebagian besar tempat penyimpanan bahan bakar berada di sayap, dengan didukung oleh bahan bakar yang terdapat di tangki ventral. Setiap sayap menampilkan potongan kecil sekitar tiga perempat dari ujung leading edge, dimaksudkan untuk memberikan respon aileron yang lebih baik dan mencegah pengalihan aliran udara ke ujung sayap. Sirip ekor dibuat fixed dan memiliki kemudi, sementara sayap ekor pesawat bisa digerakkan. Terdapat sirip tunggal di bawah tangki ventral untuk meningkatkan stabilitas. Terdapat juga rem udara ganda yang dioperasikan secara hidrolik, satu di setiap sisi atas badan pesawat di bagian depan dari sirip ekor. Semua roda pendarat memiliki roda tunggal. Roda pada hidung ditarik ke depan. Roda pendarat utama dibuat sempit agar bisa dilipat masuk ke sayap, dan akibatnya masalah ban pecah adalah hal yang umum. Ban utama harus diganti setelah tidak lebih dari tujuh kali pendaratan. Roda pada hidung tidak dapat dikemudikan, dengan pilot memandu pesawat di darat menggunakan pengereman diferensial. Roda pada hidung dapat berputar 30 derajat ke setiap sisi, dengan sistem memastikan roda tersebut diarahkan lurus ke depan saat pendaratan. Sistem kemudi roda hidung sempat dikembangkan, tetapi tidak akan pernah diadopsi pada Lightning versi produksi manapun.

Detail grafis English Electric Lighning yang bisa membuat orang awam menyangkanya sebagai MiG-21 Fishbed buatan Soviet. (Sumber:https://forum.warthunder.com/)

F.1 dilengkapi dengan dua mesin Avon 201 (RA.24R), yang memiliki fitur afterburner dengan empat pengaturan daya dorong, memberikan kekuatan daya dorong max 50,06 kN (5.103 kgp / 11.250 lbf) dan bisa menjadi 64.2 kN (6.545 kgp / 14.430 lbf) setiap menggunakan afterburner. Beberapa F.1, mungkin hanya hasil modifikasi versi P.1B, yang memiliki mesin versi Avon 200R, dengan daya dorong yang sama tetapi menggunakan sistem afterburner on-off yang sederhana. Mesin menggunakan layout bertumpuk atas dan bawah untuk memastikan bentuk penampang pesawat yang benar-benar minimal. Pengaturan mesin semacam ini tidak hanya mengurangi drag tetapi membuat penanganan pelepasan mesin relatif mudah. Namun, itu juga berarti bahwa dengan dekatnya jarak kedua mesin dapat dipastikan bahwa kerusakan dari salah satu mesin berpotensi melumpuhkan mesin satunya. Akses ke mesin itu mudah dengan melalui lubang besar di bagian atas dan bawah badan pesawat. Mesin atas diangkat keluar melalui lubang palka atas setelah pipa knalpot ditarik keluar dari ekornya, sementara mesin bagian bawah dikeluarkan dari lubang palka bagian bawah. Mesin-mesin itu dijalankan dengan sistem Plessey isopropyl nitrate (AVPIN). Isopropil nitrat adalah zat korosif yang berbahaya, beracun, dan dapat terbakar tanpa oksigen; asap yang masuk ke kokpit bisa berbahaya, dan tumpahannya mampu meluruhkan cat pesawat. Sebanyak 13,6 liter (3,6 galon Amerika/Imperial 3 galon) isopropil nitrat disimpan di punggung badan pesawat, cukup untuk digunakan enam kali starter. Sistem AVPIN bermasalah tetapi dianggap lebih baik daripada mengandalkan sistem ground-starter, yang mungkin sulit didapat saat beroperasi dari lapangan terbang terpencil. Pada dekade berikutnya, unit daya bantu turbin gas (APU) akhirnya memberikan solusi yang memuaskan untuk masalah ini.

Konfigurasi mesin bersusun yang unik dari Pesawat Tempur Lightning. (Sumber:https://www.quora.com/)

Pilot duduk di bawah kanopi clamshell yang berengsel ke belakang. Bidang pandang kokpit baik menurut standar waktu itu, serta bertekanan dan ber-AC. Pilot duduk di kursi lontar Martin Baker Mark BS4.C Mark 2, yang mampu beroperasi pada ketinggian nol tetapi dengan kecepatan minimum 167 KPH (104 MPH / 90 KT). Radar Ferranti AI.23 AIRPASS radar dan sistem kontrol penembakan memungkinkannya melakukan penyergapan dan pengejaran di siang atau malam hari, dan dalam cuaca buruk. Radar berada di kerucut intake, yang dipasang pada dua penyangga, atas dan bawah, di tengah-tengah air intake, dengan penyangga bawah menampung kamera senjata. Avionik Lightning lainnya termasuk sistem navigasi TACAN sebagai alat bantu navigasi utama, yang didukung dengan sistem pendaratan instrumen (ILS). Radio VHF dipasang sejak awal, serta sistem identifikasi teman atau musuh (IFF). Bukan suatu yang aneh seperti pada saat itu, Lightning tidak memiliki sistem pertahanan defensif; bahkan tidak akan pernah dilengkapi dengan dispenser chaff.

Layout kokpit Lighning yang relatif sederhana untuk pesawat tempur di era sekarang. (Sumber: Pinterest)

Persenjataannya terdiri dari kanon kembar Aden Mark 4 tipe revolver kaliber 30 milimeter, yang ditembakkan dari bagian atas hidung dengan 130 peluru per kanon, dan dua AAM berpenjejak panas de Havilland Firestreak yang dipasang pada pylon badan pesawat di bawah kokpit. Firestreak dapat ditukar dengan paket peluncur 44 roket tanpa kendali atau sepasang kanon Aden. Namun, tidak seperti gagasan yang disebutkan sebelumnya bahwa peluru kendali adalah senjata masa depan sedang populer saat itu, rudal Firestreak adalah senjata yang biasa saja dan tidak begitu reliable. Kanon Aden di bagian atas hidung sebenarnya tidak sering ditembakkan karena bisa menutupi pandangan pilot. Faktanya, port-port kanon biasanya dibiarkan kosong untuk mengurangi hambatan, kecuali untuk Lightnings yang bertugas dengan RAF di Jerman, di mana tipe itu ditugaskan untuk menjalankan peran sekunder melakukan serangan darat. Kebetulan, EE mendapat pekerjaan untuk mengintegrasikan roket Hughes Genie AAM, sebuah senjata besar yang dibuat tanpa pemandu dengan menggunakan hulu ledak nuklir, dengan Lightning bisa membawa satu buah di bawah badan pesawat bagian depan. Tidak pernah ada latihan penembakan untuk senjata mengerikan ini.

Lightning dan berbagai tipe senjata yang bisa digotongnya. (Sumber:https://military.wikia.org/)

Pilot sangat menyukai Lightning. Pesawat ini yang jauh lebih kuat daripada Hawker Hunter – sangat cepat, dengan kemampuan roll yang tinggi karena rentang badan yang pendek dan rancangan aileron yang dipikirkan dengan matang, dan kemampuan menanjak yang luar biasa dalam afterburner penuh. Sebuah Lightning tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk menanjak setinggi 18,3 kilometer (60.000 kaki), dan mungkin secara tidak resmi bisa mencapai 23,8 kilometer (78.000 kaki), dengan kecepatan menanjak 20.000 kaki per menit, di mana pada titik itu tidak diragukan lagi aerodinamisnya sudah sukar diajak bermanuver layaknya seperti batu bata. Tetap saja, Lightning bisa menanjak seperti roket, dimana bisa mencapai ketinggian 40.000 kaki hanya dalam waktu 2 menit 30 detik. Pada ketinggian 36.000 kaki, Lightning bisa mencapai kecepatan hingga 1.300 mil per jam (2.100 kilometer per jam). Pesawat itu juga dapat menempuh jarak maksimum 850 mil (1.370 kilometer). Meski demikian radius tempurnya amat pendek dengan kecepatan intercept supersonik, Lightning cuma punya radius tempur 155 mil atau 250 km. Lightning dirancang untuk mencapai targetnya dengan cepat – sesuai namanya – tetapi memiliki daya tahan yang sangat pendek sekali di udara. Hanya bisa terbang selama 35 menit bukanlah hal yang aneh selama pesawat ini melakukan serangan mendadak dengan kecepatan supersonik. Bentuk Lightning ramping berarti bahwa ruang untuk membawa bahan bakar terbatas dan meski Lightning membawa bahan bakar penuh, namun itu tidak cukup untuk membuatnya bisa bertahan lama di udara untuk terbang dengan kecepatan tinggi.

Lightning dikenal punya kemampuan menanjak yang luar biasa. (Sumber:https://forum.warthunder.com/)

Lightning sangat dikenal dalam penampilan penerbangan publik karena snap, power, dan suara gemuruhnya, dan beberapa tim display Lightning RAF dibentuk selama masa dinas operasionalnya. Yang paling terkenal adalah tim “Firebirds” dari Skuadron Nomor 56, yang menerbangkan Lightning bergaris merah selama sekitar satu tahun pada awal 1960-an. Lightning juga melakukan flypast saat pemakaman Winston Churchill pada tahun 1965, dan pada tahun berikutnya, 1966, dua belas Lightning tampil luar biasa di Paris Air Show. Meski demikian ada masalah, dengan pesawat sekuat itu, pesawat ini tidak mudah untuk diterbangkan dengan beberapa fitur yang tidak menyenangkan seperti kecepatan stall yang tinggi dan masalah pada kecepatan pendaratan. Untuk mengurangi kecepatan pendaratan, maka pesawat ini dipasangi dengan parusut pengereman. Karena Lightning kadang-kadang dikenal sebagai pesawat yang “Menakutkan” bagi yang tidak berpengalaman maka hanya pilot yang berpengalaman yang ditugaskan untuk menerbangkan tipe ini, setelah memenuhi kualifikasi tertentu. Hal ini meningkatkan status elit bagi pilot yang ditugaskan ke skuadron Lightning. Namun, begitu bisa menguasai, menerbangkan Lightning sangatlah menyenangkan. Tingkat kecelakaan dari tipe ini sangat rendah. Sebagian besar dari kecelakaan adalah karena kebakaran mesin – kelemahan yang sangat mengganggu dari Lightning – dan bukan karena masalah pendaratan atau karena masalah lainnya.

EE Lightning F.1 dengan Crew Test Roland Beamont. (Sumber:https://www.baesystems.com/)

Lightning F.1 memiliki kelemahan signifikan lainnya. Salah satu yang terburuk adalah masalah pasokan bahan bakar yang tidak memadai dan lama terbangnya yang singkat, masalah ini akan mengganggu Lightning sepanjang masa dinasnya. Untuk sementara waktu, Skuadron F.1 Nomor 74 terpaksa untuk terbang tanpa menggunakan tangki bahan bakar ventral sementara masalah diatasi, sehingga mengurangi jumlah penggelaran mereka sebagai pesawat tempur pertahanan udara. Masalah lainnya adalah bahwa karena Lightning relatif canggih, dibandingkan dengan Hunter yang relatif sederhana, yang menyebabkan masalah yang serius pada pemeliharaannya. Hal ini disebabkan juga karena pesawat ini tidak dirancang sedari awal untuk mudah dipelihara, dan pada awalnya pengoperasiannya tingkat ketersediaan pesawat sangat buruk. Masalah ini juga menjangkiti pesawat pencegat Mach 2 yang canggih di negara-negara lain. Menariknya, radar AIRPASS yang digunakan Lightning cukup andal dan bekerja dengan baik, hal ini tampaknya karena desainnya yang solid namun tidak terlalu kompleks. Hanya 19 F.1 yang dibangun, tidak termasuk satu pesawat uji statik, sebelum produksi kemudian beralih ke tipe “F.1A”, dengan revisi kecil yang menambahkan radio UHF, dengan jangkauan yang lebih panjang dan beberapa penambahan seperti:

  • Jalur kabel eksternal yang dipasang di sepanjang badan pesawat bagian bawah di setiap sisi, alih-alih dipasang di dalam ruang mesin seperti yang ditampilkan pada F.1.
  • Pengaturan windscreen rain-dispersal yang ditingkatkan.
  • Probe pengisian bahan bakar di udara yang bisa dilepas di bawah sayap kiri, dekat wingroot. Ujung probe yang tepat di depan kokpit, memungkinkan pilot untuk mengawasi keranjang selang pengisian bahan bakar, dan lampu dipasang di dasar probe untuk memberikan penerangan di malam hari dan dalam cuaca buruk

Pengiriman awal F.1A ke dinas operasional dilakukan pada awal 1961. Pada saat itu, Lightning telah dikenal sebagai “British Aircraft Corporation (BAC)” Lightning karena English Electric telah menjadi bagian BAC pada 12 Januari 1960.

Meski dikenal sebagai penyergap andal, namun Lighning punya kelemahan serius pada jarak jangkaunya yang pendek. (Sumber:https://www.forces.net/)

LIGHTNING F.2/F.3

Produksi Lightning lebih lanjut disempurnakan, dalam wujud Versi “F.2″, telah disahkan diproduksi pada tahun 1958, dan yang pertama dari 44 unit Lightning F.2 yang diproduksi melakukan penerbangan awal pada 11 Juli 1961. F.2 menampilkan fitur:

  • Generator listrik DC.
  • Sistem pernapasan dengan oksigen cair, menggantikan sistem oksigen gas yang ada sebelumnya.
  • Sistem kontrol penerbangan terintegrasi “OR.946” baru, yang menghubungkan sistem navigasi ke sistem kontrol penerbangan otomatis dan menampilkan tata ruang kokpit yang direvisi secara substansial.
  • Mesin Avon 210R, dengan skema kontrol afterburner yang sedikit ditingkatkan.

F.2 secara eksternal semuanya identik dengan F.1A, kecuali untuk intake kecil tepat berada di tengah punggung pesawat untuk menyediakan udara pendingin untuk generator DC. Pengiriman  awal F.2 dilakukan pada tahun 1962. F.2 umumnya akan dianggap sebagai varian Lightning paling menyenangkan untuk diterbangkan, karena kecocokan antara mesin dan inlet yang optimal dan bobotnya yang belum bertambah.

Lightning F.2 nomor XN769, Juni 1969. (Sumber: Pinterest)

Peningkatan radar AIRPASS ke standar AI.23B, yang memungkinkan penyergapan tidak harus dari belakang, dan penggantian rudal Firestreak ke rudal Red Top AAM mengarah pada konfioversi “Lightning F.3″. Prototipe, yang merupakan P.1B yang dimodifikasi, melakukan penerbangan perdana pada 16 Juli 1962. Rudal Red Top awalnya disebut Firestreak 4. Kedua rudal itu mirip, tetapi Red Top memiliki hidung bulat, sedangkan Firestreak memiliki hidung kerucut, dan perangkat penerbangan Red Top sudah dimodifikasi – meskipun pengaturan keseluruhannya tetap sama. Red Top memiliki jangkauan, kecepatan, dan ketahanan yang lebih besar terhadap jamming. Penjejaknya yang ditingkatkan untuk menampilkan kemampuan “all aspect” terbatas, meskipun hanya terhadap target yang terbang dengan kecepatan tinggi yang menimbulkan panas karena gesekan udara. Red Top menyergap dengan menghantam target, sementara Firestreak AAM yang lebih tua hanya bisa digunakan untuk menembak “knalpot” belakang pesawat. Dalam praktiknya, karena keandalan Red Top pada awalnya masih kurang memuaskan, F.3 masih menggunakan Firestreak untuk sementara waktu. Sementara itu Kanon Aden dihapus pada versi F.3.

Lightning dan rudal Firestreak andalannya. (Sumber:https://forum.warthunder.com/)

Mesin Rolls-Royce Avon 301 (RB.146) dipasang pada versi perbaikan ini, masing-masing dengan daya dorong maksimum 58,86 kN (6.000 kgp/13.220 lbf) dan 72,77 kN (7.420 kgp/16.360 lbf) dengan afterburner. Tidak hanya mesin baru ini lebih kuat, tetapi juga jauh lebih toleran terhadap perubahan aliran udara dan throttle, yang memungkinkan pilot untuk menerbangkan mesin dengan lebih sedikit khawatir atas pengendalian mesin. F.3 juga dilengkapi dengan sirip ekor dengan ujung terpotong, dengan luasnya  yang meningkat 15% untuk mengimbangi ketidakstabilan yaw yang disebabkan oleh penambahan beban AAM. F.3 seharusnya menjadi Lightning yang “definitif”, tetapi pada kenyataannya versi ini tidak begitu berbeda dari versi F.2. BAC kemudian mengusulkan berbagai penyempurnaan lain untuk F.3, tetapi RAF tidak begitu tertarik pada peningkatan kemampuan Lightning karena masih dianggap sebagai pesawat interim. RAF bahkan menolak untuk membeli sistem penyergapan yang sepenuhnya otomatis yang telah dikembangkan oleh Ferranti, Elliot, dan BAC, terlepas dari kenyataan bahwa sistem tersebut telah memakan biaya pengembangan 1,4 juta pound dan diujicobakan di salah satu dari prototype P.1B. Dengan penambahan kemampuan itu akan mengubah Lightning layaknya “rudal berawak” dan penyergapan akan lebih mudah.

Lightning punya konfigurasi aneh dimana tangki bahan bakar dan senjata dapat dipasang pada dudukan diatas sayapnya. (Sumber:http://www.aeroflight.co.uk)

Meski demikian pengembangan itu tidak sepenuhnya bagus, karena jika F.3 kehilangan target pada lintasan pertama penyergapan, maka hampir tidak ada cukup bahan bakar untuk melakukan penyergapan kedua tanpa harus melakukan pengisian bahan bakar di udara, yang pada akhirnya akan memberi banyak waktu kepada pesawat penyusup waktu untuk mencapai targetnya dan kemudian pergi. Selain itu, meskipun F.3 telah memperkuat sayap untuk membawa tangki bahan bakar diatas sayap yang dapat dilepas dengan kapasitas 1.182 liter (312 galon Amerika/260 imperial galon), RAF tidak menunjukkan antusiasme untuk membeli tanki bahan bakar itu. Ironisnya, pada saat gagasan bahwa pesawat berawak akan digantikan oleh rudal dalam jangka pendek mulai tidak jelas realisasinya, dan para perwira RAF yang merasa perlu untuk mendapatkan pesawat berawak yang lebih baik malah gagal mendapatkannya. Ternyata, Lightning akan menjadi solusi pertahanan udara Inggris dan bukan cuma sebagai pesawat solusi sementara. F.3 memasuki layanan pada tahun 1964, dengan 70 pesawat dibangun secara keseluruhan, tidak termasuk P.1B yang dimodifikasi yang berfungsi sebagai prototipe dan sebuah F.2 yang ditingkatkan ke standar F.3 sebelum penerbangan pertamanya. F.3 melengkapi total empat skuadron RAF. Sementara itu F.1 dan F.1A yang lebih tua umumnya sudah keluar dari dinas operasional garis depan pada pertengahan tahun 1960-an, meskipun mereka kemudian terus akan melanjutkan dinasnya sebagai pesawat latih dan peran sekunder lainnya selama satu dekade lebih lama, banyak dari mereka lalu dilengkapi dengan perangkat detektor radar untuk bertindak sebagai target radar.

LIGHTNING F.3A (INTERIM F.6)/F.6

F.3 tidak benar-benar banyak mengatasi masalah ketahanan Lightning, dan oleh karenanya pada tahun 1963 BAC mulai mengerjakan “F.3A” atau “F.3 Extended Range Aircraft (ERA)”, fitur utamanya adalah tangki ventral bahan bakar yang jauh lebih besar dan lebih panjang yang pada akhirnya memberi pesawat yang agak menggembung pada perutnya. Tangki ini bisa dilepas di darat, tetapi tidak bisa dilepas saat terbang. Tangki ventral yang lebih besar sebenarnya telah muncul di prototipe P.1B beberapa tahun sebelumnya. Versi ini menampilkan sirip dorsal kembar bukan sirip dorsal tunggal seperti pada varian Lightning sebelumnya. F.3A juga menampilkan sayap baru yang memberikan pengendalian pada kecepatan rendah yang lebih baik. F.3A tetap mempertahankan mesin Avon 301. Penerbangan awalnya dilakukan pada 17 April 1964. Sebanyak 16 “F.3A” dibuat. Terdapat 14 pesawat yang ditingkatkan ke spesifikasi F.3A juga, termasuk 12 F.3 yang belum dikirim ke RAF; F.2 yang ditingkatkan sebelum penerbangan perdananya; dan sebuah F.2 existing yang sebelumnya ditingkatkan menjadi F.3. 

Lightning F.6 dengan tampilan badan yang agak menggembung. (Sumber:https://www.justflight.com/)

Produksi kemudian beralih ke varian yang ditingkatkan lebih lanjut yang benar-benar dapat menggunakan tangki overwing, dan menampilkan beberapa perbaikan kecil lainnya pada sisi avionik. Versi ini kemudian dikenal sebagai “F.6”, dengan penerbangan perdananya dilakukan pada 16 Juni 1965, dengan Jimmy Dell di kontrol pesawat. 39 Lightning F.6 dibuat. Tampaknya tidak ada prototipe khusus yang dibuat karena F.6 pada dasarnya merupakan perubahan produksi dari F.3A. F.3A kemudian diberi redesignasi “Interim F.6”, meskipun semua kecuali satu dari 16 F.3A yang dibuat kemudian ditingkatkan ke spesifikasi F.6 penuh. Tujuh F.3 juga ditingkatkan ke spesifikasi F.6 sebelum masuk ke layanan RAF. F.6 menderita penambahan bobot yang sering menimpa pesawat terbang yang terus dimodifikasi (sama seperti kasus F-16 yang bobotnya terus meningkat pada blok-blok terbarunya), dengan berat kosong 500 kilogram (1.100 pound) lebih besar dari F.3 dan 1.045 kilogram (2.300 pound) lebih berat daripada F .1, hal ini agaknya mempengaruhi performanya, dan tentu saja afterburner penuh harus digunakan pada saat lepas landas. RAF sangat menyukai F.6, dan sejak awal 1960-an, 31 F.2 dimodifikasi ke standar F.6 secara parsial dan didesain ulang sebagai “F.2A”. F.2A menampilkan perbaikan badan pesawat seperti F.6, tetapi persenjataannya tetap seperti sebelumnya, dengan kanon Aden kembar di bagian atas hidung dan dua AAM Firestreak. Juga tidak ada perubahan signifikan dalam avionik dan mesin Avon 210 dipertahankan. Upgrade itu ternyata murah, dan karenanya F.2A lebih ringan daripada F.6, pilot RAF menemukan tipe ini sebagai salah satu varian Lightning yang paling menyenangkan untuk diterbangkan. Dalam penerbangan di ketinggian yang tidak agresif, mereka bisa menerbangkan F.2A dua jam, suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh varian Lightning lainnya.

LIGHTNING T.4 & T.5 TRAINER

Karena Lightning adalah pesawat yang “sukar dikuasai”, versi konversi latih dua kursi mulai dikerjakan pada tahun 1957. Penerbangan awal dari versi dua kursi yang pertama, yang kemudian dikenal sebagai “P.11”, dilakukan pada 6 Mei 1959. Tipe ini memiliki kokpit tandem berdampingan dan tidak memiliki kanon Aden kembar di hidungnya. Pesawat khusus ini hancur dalam kecelakaan pada 1 Oktober 1959, Lightning pertama yang mengalami nasib seperti itu, tetapi prototipe kedua melakukan penerbangan pertamanya pada 21 Oktober. Pengiriman versi latih produksi pertama, yang disebut sebagai “T.4″, dilakukan pada tahun 1962. Sebanyak 20 unit dibuat, tidak termasuk dua prototipe. T.4 secara umum mirip dengan F.1A kecuali untuk kokpit dua kursinya berdampingan, yang menuntut pelebaran badan sebesar 29 cm (11,5 inci), dan tidak adanya senjata di hidung. Kecuali untuk kedua hal itu, pesawat ini sepenuhnya mampu digunakan bertempur, dengan radar AIRPASS dan kemampuan menggotong rudal Firestreak, dan rudal Firestreak pada prinsipnya dapat ditukar dengan paket dua kanon Aden atau 44 roket yang tanpa pemandu. Kedua kru duduk di kursi lontar Martin Baker BS4.B Mark 2. Sementara itu F.3 juga dibuat versi latih tandem berdampingan, yakni “Lightning T.5”, dengan mesin Avon 301 dan sirip berujung persegi. Dua T.4 produksi pertama dikonversi untuk berfungsi sebagai prototipe untuk T.5. Prototipe T.5 awal melakukan penerbangan perdananya pada tanggal 29 Maret 1962, meskipun kemudian hilang dalam kecelakaan, dan prototipe kedua tidak akan terbang sampai 17 Juli 1964. Sama seperti dengan T.4, T.5 mampu menjalankan fungsi tempur. Total 22 T.5 diperoleh oleh RAF, dengan pengiriman awal pada 20 April 1965. Para kru rupanya memberi versi latih Lightning dengan julukan “Tub” karena kokpitnya yang lebar. Beberapa sumber menyatakan bahwa versi latih ini tidak disukai oleh para kru. Baik T.4 dan T.5 tetap beroperasi selama masa dinas Lightning. T.4 berguna untuk melatih pilot untuk F.2A, karena perbaikan F.2A tidak termasuk penggantian avionik baru dan kit yang lebih tua, T.4 dianggap lebih baik daripada T.5.

Lightning T.5 versi trainer berkursi ganda. (Sumber: Pinterest)

KAPABILITAS AVIONIK DAN PERSENJATAAN

Dalam menjalankan tugas utamanya sebagai pesawat penyergap dan penyerang untuk secondary role-nya, Lightning dilengkapi dengan perangkat radar dan persenjataan dengan kapabilitas sebagai berikut:

1. Radar AI.23

AI.23 adalah sistem radar udara buatan Ferranti dengan sistem monopulse yang pertama beroperasi di dunia. Sistem monopulse memungkinkan didapatkannya resolusi target yang lebih tinggi dan jauh lebih tahan terhadap segala bentuk jamming umumnya. AI.23 juga mengakomodasi fitur radar AI (Airborne Interception) yang sudah ada sebelumnya, dan ditambah berbagai perbaikan lainnya. Di antaranya yang menonjol adalah sistem lock-follow otomatis yang memasukkan berbagai informasi ke sistem pembidik senjata, serta informasi yang akan dikalkulasi oleh komputer untuk memastikan posisi target dan posisi terbaik penyergapan berdasarkan tipe senjata yang dipilih. Misalnya, ketika menggunakan rudal, sistem akan mengarahkan pesawat tidak menuju sasarannya, tetapi posisi di belakangnya dimana rudal itu bisa ditembakkan. Sistem ini kemudian diberi nama, AIRPASS, akronim dari airborne interception radar and pilot’s attack sight system. AI.23 mampu mendeteksi dan melacak bomber Tu-95 Bear milik Soviet pada jarak 40 mil (64 km), dan memungkinkan Lightning melakukan penyergapan yang sepenuhnya independen dengan hanya sedikit bantuan dari kontrol darat. Versi dengan panduan otomatis penuh yang akan mampu menerbangkan pesawat ke jarak terbaik dan menembakkan rudalnya secara otomatis telah dibatalkan pada tahun 1965.

AI.23 AIRPASS, radar sergap Lightning. (Sumber: https://collection.sciencemuseumgroup.org.uk/)

2. Rudal de Havilland Firestreak

De Havilland Firestreak adalah rudal udara-ke-udara infra merah pasif generasi pertama buatan Inggris. Rudal ini dikembangkan oleh de Havilland Propellers (kemudian Hawker Siddeley) pada awal 1950-an dan merupakan tipe senjata semacam ini yang pertama memasuki layanan aktif dengan Royal Air Force (RAF) dan Fleet Air Arm (Kekuatan udara AL Inggris), yang melengkapi pesawat-pesawat seperti English Electric Lightning Listrik, de Havilland Sea Vixen dan Gloster Javelin. Rudal ini adalah tipe rudal tembak belakang bertipe fire and forget, yang mengharuskan pesawat penembak untuk menembakkan rudal ke arah belakang pesawat musuh, dengan sudut serang dibatasi 20 derajat di kedua sisi target. Firestreak adalah rudal pencari panas ketiga yang memasuki layanan operasional, setelah AIM-4 Falcon dan AIM-9 Sidewinder buatan Amerika, yang sudah muncul tahun sebelumnya. Dibandingkan dengan desain kedua rudal Amerika itu, Firestreak lebih besar dan hampir dua kali lipat lebih berat, dan membawa hulu ledak yang jauh lebih besar. Namun memiliki kinerja serupa dalam hal kecepatan dan jangkauan. Keterbatasan desain menyebabkan versi ini disempurnakan menjadi rudal Hawker Siddeley Red Top, tetapi rudal ini tidak pernah sepenuhnya menggantikan Firestreak. Firestreak tetap beroperasi hingga tahun 1988, ketika ia pensiun bersama dengan Lightning RAF yang terakhir. Tidak seperti rudal era 1990-an yang modern, Firestreak hanya bisa ditembakkan pada cuaca langit yang cerah, suatu hal yang langka di Inggris. Rudal ini memiliki hulu ledak berbobot 22,7 kg (50 lb) tipe annular blast fragmentation, berpemandu inframerah, dan punya jarak jangkau 4 mil (6,4 km), serta dapat mencapai kecepatan Mach 3.

Rudal infrared pasif De Havilland Firestreak. (Sumber:https://commons.wikimedia.org/)

3. Rudal Hawker Siddeley Red Top

Hawker Siddeley (yang kemudian menjadi British Aerospace) Red Top adalah rudal udara-ke-udara ketiga asli buatan Inggris yang memasuki layanan operasional, setelah de Havilland Firestreak dan Fairey Fireflash yang digunakan terbatas. Awalnya rudal ini merupakan versi modifikasi dari Firestreak, Red Top muncul sebagai senjata yang jauh lebih baik dari Firestreak, dengan kira-kira dua kali lipat lebih jauh jangkauannya, memiliki sistem penjejak yang lebih sensitif yang memberikan kemampuan all aspect terbatas, dan hulu ledak yang bahkan lebih besar daripada yang ada di Firestreak. Karena sistem penjejak inframerahnya yang lebih sensitif, Red Top bisa menghantam target udara yang permukaannya panas karena gesekan dengan udara. Setelah munculnya White Paper Departemen Pertahanan tahun 1957, Red Top sedari awal dilihat sebagai solusi sementara sampai rudal SAM Bloodhound Mk. II mulai beroperasi. Hal ini berarti bahwa beberapa perbaikan yang direncanakan untuk Red Top tidak pernah direalisasikan, termasuk perbaikan kemampuan All Aspect nya (seperti yang terlihat pada AIM-9L/M Sidewinder nantinya). Red Top hanya “punya kemampuan all aspect terhadap target-target super-sonik.” Mirip dengan Firestreak, Red Top hanya dapat ditembakkan di langit yang cerah. Rudal ini memiliki hulu ledak berbobot 31 kg (68,3 lb) tipe annular blast, penjejak inframerah; dengan fuze kontak sekunder, jarak jangkau maksimal 7,5 mil (12 km), dan bisa terbang hingga kecepatan Mach 3.2.

Rudal Red Top yang punya kemampuan All Aspect terbatas. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

4. Kanon dan Roket

Royal Small Arms Factory ADEN yang menjadi kanon utama Lightning adalah kanon revolver kaliber 30 mm yang banyak digunakan pesawat militer, khususnya Angkatan Udara dan Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Dikembangkan pasca-Perang Dunia II untuk memenuhi persyaratan Kementerian Udara Inggris akan persenjataan pesawat yang lebih mematikan, meriam ini ditembakkan secara electric dan sepenuhnya otomatis setelah dimuat. ADEN memasuki dinas operasional bersama pesawat Hawker Hunter pada tahun 1954, dan kemudian digunakan oleh setiap pesawat bersenjata Inggris sampai munculnya Panavia Tornado pada tahun 1980-an. Kanon ini berkaliber 30 mm (1,18 in) × 113 mm, dan memiliki kecepatan tembak 1.200–1.700 rpm. Kanon ini cukup mematikan hingga jarak 2000 meter. Pesawat-pesawat yang menggunakan kanon ADEN 30 sebagai persenjataan built-in termasuk diantaranya A-4S Skyhawk, Lightning, Folland Gnat (dan HAL Ajeet), Hawker Hunter, Gloster Javelin, Saab Lansen, Saab Draken, SEPECAT Jaguar, Supermarine Scimitar, dan CAC Sabre milik Australia.

Kanon Aden kaliber 30 mm. (Sumber:http://aei-systems.com/)

Untuk persenjataan Roket, Lightning menggunakan Roket SNEB (Prancis: Societe Nouvelle des Etablissements Edgar Brandt) yang adalah roket udara-ke-darat tanpa pemandu kaliber 68 mm (2,7 in.). Roket ini diproduksi oleh perusahaan Prancis TDA Armements, yang dirancang untuk bisa diluncurkan oleh pesawat tempur dan helikopter. SNEB Kaliber 68mm sejauh ini adalah yang paling populer digunakan saat ini baik dari rentang waktu pengoperasiannya maupun jumlah yang diproduksi, yang bahkan melampaui roket udara-ke-darat 57mm buatan Rusia. Proyektil roket SNEB ditenagai oleh motor roket tunggal berbobot 31 kg yang menghasilkan kecepatan 450m/s, dan, tergantung pada muatan hulu ledak yang dipasang, dapat digunakan untuk menghadapi kendaraan tempur lapis baja, bunker, atau sasaran soft target lainnya. Jarak maksimun roket ini kemungkinan antara 5.000-7.000 meter.

Roket SNEB kaliber 68 mm. (Sumber:http://airandground.org/)

DINAS OPERASIONAL RAF

Awalnya, armada Lightning RAF ditugaskan untuk pertahanan titik pada instalasi bernilai tinggi di Inggris, seperti pangkalan “V-bomber”, di mana pembom nuklir strategis Inggris berada. Lightning tidak memiliki jangkauan untuk bisa melakukan banyak hal lain. Misi penyusupan Soviet di Laut Utara yang dilaporkan via “peringatan reaksi cepat (QRA)” harus menunggu F.1A yang siap melakukan pengisian bahan bakar di udara, yang disiapkan oleh pesawat tanker Vickers Valiant. Dilarang terbangnya Valiant secara tiba-tiba pada tahun 1964 menjadi kenyataan yang tidak menyenangkan, tetapi kemudian Handley Page Victor menggantikan peran tanker dari Valiant. Untuk sementara waktu nampaknya Angkatan Udara AS membantu masalah ini, dengan mengirimkan tanker Boeing KC-135 yang menggunakan sistem boom kemudian dilengkapi dengan adaptor pengisian bahan bakar tipe probe-and-drogue. Pilot yang tinggal di pangkalan siap untuk menanti datangnya peringatan, dan ketika peringatan datang, mereka segera membawa Lightning mereka ke udara secepat mungkin, disertai dengan sebuah pesawat tanker. Mereka biasanya akan mengawal pesawat-pesawat Soviet, seperti Tu-95 Bear, Tu-16 Badger, atau Il-38 May. Lightning yang bermarkas di Pangkalan RAF Leuchars di Skotlandia menjadi bagian dari unit Northern Quick Reaction Alert (QRA) dan kerap menjumpai Tupolev Tu-95 Bear milik Soviet yang perlu dikawal keluar dari ruang udara Inggris. Terkadang Soviet akan mencoba mengganggu latihan angkatan laut atau apa pun, dan akibatnya akan ada konfrontasi yang menegangkan, tetapi biasanya pertemuan itu berakhir secara bersahabat. Karena penerbangan patroli laut yang panjang cenderung membosankan maka kru Soviet akan tersenyum, melambaikan tangan, dan mengangkat botol atau pinup. Seorang pilot Lightning yang mengawal Bear pernah kehilangan jejak pesawat tankernya dan tidak bisa menghubunginya lewat radio. Saat dia sedang bersiap untuk mendarat darurat ke Islandia, ketika tiba-tiba salah satu aircrew di Tu-95 menghubungi pilot Inggris itu dan menghubungkannya ke pesawat tanker, serta mengakhiri percakapannya dengan mengatakan: “Electric English MiG, bon voyage!”

Mencegat Bomber mata-mata Tu-95 Bear selama era perang dingin menjadi tugas rutin dari Lightning. (Sumber:https://theaviationgeekclub.com/)

Dua skuadron Lightning dikerahkan ke Jerman pada tahun 1965, di mana mereka ditugaskan menjalankan peran pencegatan di ketinggian rendah. Mereka sering mengawal keluar para penyusup yang telah melintasi perbatasan dari arah Timur, kadang-kadang karena mereka tersesat tetapi kadang-kadang karena mereka sedang menyelidiki pertahanan NATO. Lightning RAF yang ada di Jerman tercatat menghancurkan satu-satunya pesawat yang pernah ditembak jatuh oleh Lightning diluar selain latihan target. Sebuah Harrier RAF mengalami masalah, lalu pilot eject, tetapi pesawatnya terus terbang ke arah Timur menuju perbatasan. Pesawat itu kemudian dihancurkan untuk menghindari insiden lebih lanjut. Skuadron nomor 56 sempat dikerahkan RAF ke Akrotiri di Siprus pada tahun 1967, dan kembali ke Inggris pada tahun 1975. Skuadron nomor 74 dikerahkan ke Pangkalan RAF di Tengah, Singapura, juga pada tahun 1967, untuk kembali dan dibubarkan pada tahun 1971. Selain itu, Lightning juga melakukan kunjungan ke sejumlah besar negara-negara hingga ke Malta dan Iran. Pada tahun 1969, Lightning melengkapi sembilan skuadron garis depan, dengan lima skuadron ada di Inggris, dan akhirnya gagasan bahwa tipe ini adalah pesawat “interim” akhirnya memudar sepenuhnya. RAF menerima fakta bahwa Lightning mereka akan bertugas untuk sementara waktu dan menerapkan beberapa peningkatan kemampuan. Sebuah kait penahan landasan dikembangkan dan dipasang untuk sebagian besar Lightning yang tersisa. Lebih penting lagi, setelah disadari bahwa konsep pesawat tempur bersenjata rudal sepenuhnya adalah sebuah kesalahan, maka mulai tahun 1970, versi F.6 dilengkapi dengan kanon dalam sistem pemasangan yang baru. Tangki ventral yang memiliki tiga bagian, dimana tangki bagian depan dapat ditukar dengan dua kanon Aden dengan 120 butir peluru per senjata, sebagai ganti berkurangnya kapasitas bahan bakar. Penambahan kanon memberikan opsi tambahan bagi F.6, jika rudal gagal menghancurkan target mereka, dan juga memungkinkan menembak target diluar jarak minimum penembakan rudal. Hanya beberapa F.2A yang menerima modifikasi ini.

Skema cat kamuflase unik dari Lightning. (Sumber: Pinterest)

Hingga tahun 1970-an, Lightning hampir selalu terbang dengan cat finishing logam alami tanpa kamuflase, meskipun dengan variasi tanda dan warna trim yang cukup jelas seperti bagian ekor yang dicat kotak-kotak merah dan sebagainya, sesuai dengan pedoman killjoy yang menetapkan pedoman yang lebih ketat untuk dekorasi apa yang boleh dan tidak diizinkan. Pada tahun 1972, skuadron Lightning RAF di Jerman menggunakan skema kamuflase untuk pesawat mereka, dengan warna hijau tua di atas dan warna logam alami di bagian bawah. Skema warna ini diadopsi karena Lightning digunakan untuk melakukan penyergapan di ketinggian rendah di Jerman, dan warna lapisan logam alami membuatnya terlalu mudah terlihat oleh penyusup yang terbang tinggi diatas pedesaan Jerman yang umumnya berwarna hijau. Beberapa tahun kemudian, skuadron Lightning Inggris mengadopsi pola kamuflase hijau abu-abu-gelap dua warna di atas, dengan lapisan logam alami atau abu-abu muda di bagian bawah. Pada tahun 1981, Lightning Inggris mulai dicat dengan berbagai skema warna abu-abu “pertahanan udara” yang rapi, dengan warna abu-abu di atas dan abu-abu muda di bagian perut.

Beredar kabar bahwa Lightning juga pernah berupaya mengintercept pesawat mata-mata U2 milik Amerika. (Sumber:http://www.mark-baker.org/)

Sempat beredar cerita bahwa Lightning mencegat pesawat mata-mata Angkatan Udara AS, Lockheed U-2 yang terbang tinggi dekat Wethersfield, membuat petinggi USAF jengkel, dan pada akhir karirnya bahkan Lightning disebut mengungguli McDonnell Douglas F-15 Eagle dalam kemampuan menanjak. Kisah-kisah ini populer di kalangan penggemar Lightning, tetapi jelas kisah-kisah seperti ini harus dicermati. RAF memang melakukan kegiatan intersepsi sebagai bagian dari latihan; tapi hal yang sama juga coba dilakukan oleh Soviet, dengan tujuan yang lebih mematikan, menggunakan pesawat MiG-19 yang mendaki dan berharap untuk dapat memotong jalur penerbangan U-2 di ketinggian. Pada ketinggian seperti itu, Lightning hampir pasti sukar dikendalikan seperti batu bata, dan penyergapan semacam ini hampir sepenuhnya bergantung pada kontrol darat yang diplot dengan cermat. Seandainya U-2 melakukan tindakan menghindar yang sederhana, Lightning mungkin akan terbang meleset dari target, dan pulang ke rumah dengan tangan hampa. Laporan RAF menunjukkan bahwa percobaan intersepsi ini dinilai berhasil – yang secara mengejutkan, mereka mengatakan bahwa mesin tidak menjadi masalah – tetapi mereka jelas tidak berupaya untuk menembak jatuh. Melihat upaya Soviet untuk menembak jatuh U-2 dengan cara seperti itu mengalami kegagalan, hal ini menunjukkan bahwa RAF jauh lebih profesional daripada Angkatan Udara Soviet, atau bisa jadi pengakuan RAF itu cenderung melebih-lebihkan kejadian sebenarnya. Sementara itu kisah mengenai adu kemampuan dengan F-15, tidak ada yang meragukan mengenai hal itu. Brian Carroll, mantan pilot Lightning sempat menerbangkan F-15, yang dibuat 18 tahun setelah kemunculan Lightning. Ia menjumpai bahwa Lightning lebih cepat lepas landas dibanding dengan Eagle. Ia kemudian berpendapat: “Kedua pesawat memiliki kesamaan performa dan karakteristik handlingnya, keduanya nyaman diterbangkan. Jika disuruh memilih diantara keduanya, akan gila kalau saya tidak lebih memilih Eagle karena avioniknya dan persenjataannya yang canggih. Akan tetapi jika semata-mata untuk bersenang-senang, Lightning tetap lebih baik…sebuah pesawat yang luar biasa”.  Tapi dari kisah ini konfigurasi dari kedua pesawat yang diterbangkan tidak begitu jelas perbandingannya. Dari sisi berat kosong, thrust to weight ratio dengan menggunakan afterburner, Lightning F.3 memiliki rasio sekitar 1,2, sedangkan 1,6 untuk F-15C. Seorang pengamat berkomentar bahwa F-15 akan menghadapi masalah, kecuali ketika hanya membawa dua AAM, dan bahan bakar yang cukup untuk waktu terbang sekitar satu jam. Namun kisah kehebatan Lightning tidak cuma berhenti disitu. Muncul cerita lain yang mengatakan bahwa di akhir masa operasional Lightning, seorang pilot Angkatan Udara AS yang relatif tidak berpengalaman dengan menggunakan F-16 mencoba untuk menantang pilot RAF yang sangat berpengalaman dengan Lightning F.3, dan menemukan bahwa si “anjing tua” Lightning berulang kali membuatnya frustasi saat akan melakukan serangan rudal. Pilot Amerika itu terus mencobanya, dan dalam analisis setelah latihan itu, mengenai apa yang ia dapatkan dari uji coba itu. Dia menjawab: “I was going for a FOX FOUR. I was trying to get alongside, open my canopy, and club the son of a bitch to death.” Namun patut diragukan apakah dalam pertempuran sesungguhnya, Lightning akan mampu untuk menghadapi F-16 – sebuah pesawat tempur modern dengan radar, ECM, dan AAM yang canggih – dan jika saja semuanya gagal, sebuah F-16 bisa saja memaksa Lightning untuk menghabiskan bahan bakarnya. Meski demikian dalam pertempuran udara masalah skill juga tidak dapat diabaikan.

Menurut seorang pilot RAF, Lightning memiliki keunggulan dalam akselerasi dibanding dengan F-15 Eagle, meski jelas F-15 secara keseluruhan lebih superior dari sisi avionik dan persenjataan. (Sumber:https://en.wikipedia.org/)

LIGHTNING DALAM DINAS AU SAUDI DAN KUWAIT

Lightning tidak begitu laku dalam penjualan ekspor. Pada bulan Desember 1965, sebagai bagian dari kesepakatan paket pembelian besar, Arab Saudi memesan 34 Lightning berkursi tunggal dan enam yang berkursi ganda. Yang berkursi tunggal adalah “F.53”, yang pada dasarnya adalah versi F.6, yang menampilkan tangki ventral yang panjang dan sayap yang dimodifikasi, tetapi lebih handal. BAC telah mencoba untuk mempromosikan versi multi-peran F.3 ke RAF sebagai “F.3B”, yang akan menambah kemampuan pesawat untuk menjalankan misi penyerangan dan pengintaian, tetapi RAF tidak tertarik, tampaknya karena pada saat itu doktrin RAF difokuskan pada pesawat dengan peran tunggal. Beberapa penulis percaya bahwa jika Lightning multi-peran yang dipromosikan secara lebih agresif, akan mampu mendongkrak penjualan ekspor dari tipe ini yang bisa menyaingi Hunter yang sangat populer. Saudi tentu menyukai gagasan itu, meskipun mereka juga terkesan dengan pertunjukan penerbangan ketinggian rendah yang dilakukan oleh Jimmy Dell di tengah-tengah kota Riyadh, yang dilakukan atas permintaan Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dell telah menerbangkan pesawat di bawah kecepatan Mach 1, tetapi surat kabar lokal masih melaporkan penerbangan itu dengan penuh kehebohan. Kepala uji coba Angkatan Udara Saudi, Letnan Hamdam, juga melakukan perjalanan ke Inggris, di mana ia bisa menerbangkan F.2 melampaui kecepatan Mach 2.1 pada penerbangan solo pertamanya dengan tipe pesawat ini; dia terkesan.

F-15 dan Lightning milik AU Saudi. Arab Saudi merupakan operator pertama Lightning diluar Inggris. (Sumber: Pinterest)

Versi multi-peran dari F.53 dapat dilengkapi dengan pylon tunggal di bawah masing-masing sayap untuk membawa pod roket atau bom dengan bobot hingga 450 kilogram (1.000 pon), dan pylon yang diperkuat memungkinkan untuk membawa berbagai beban eksternal lainnya. Namun tipe perlengkapan apa yang bisa digotong F.53 Saudi tidak jelas, tetapi opsi yang tersedia cukup mengesankan. Setiap pylon dibawah sayap bisa membawa satu atau (dengan menggunakan adaptor berdampingan) dua bom ukuran 450 kg; atau satu atau dua pod roket buatan Prancis Matra Type 155, masing-masing membawa 18 roket tanpa kendali SNEB kaliber 68-milimeter (2,68 inci). Tentu saja, pylon diatas sayap bisa membawa tangki standar atau pod roket, bahkan juga dapat membawa bom retard berparasut seberat 450-kilogram, yang dijatuhkan dengan menggunakan mekanisme ejektor cartridge berbahan peledak. Tipe bawaan pada pylon atas sayap bahkan lebih mengejutkan dengan adanya adaptor yang dapat membawa dua pod Matra JL100, yang berisi peluncur 18 roket SNEB di depan dan tangki bahan bakar 227 liter (50 Imperial galon/60 US galon) di belakang. Hal ini memberi F.53 konfigurasi tempur yang tangguh dengan bisa membawa delapan peluncur roket, dengan total 144 roket.

Pembelian Lightning oleh Arab Saudi adalah untuk mengcounter ancaman MiG Mesir yang berkeliaran dalam konflik Yaman tahun 1960an. (Sumber:http://www.artfindershop.com/)

Paket senjata untuk Rudal Red Top juga bisa ditukar dengan paket roket tanpa pemandu Microcell, atau perangkat pengintaian. Perangkat pengintaian siang dan malam juga dikembangkan, dengan perangkat pengintaian siang hari menampilkan lima kamera film Vinten 70-milimeter. Sementara perangkat pengintaian malam hari menampilkan kamera dan pemindai garis inframerah, yang didukung oleh fotoflash suar yang dibawa pada pylon sayap. Saudi membeli paket roket dan paket perangkat siang hari, tetapi tidak membeli perangkat pengintaian malam. F.53, seperti juga F.6, dapat membawa dua meriam Aden 30 milimeter di depan tangki ventral, dan pada kenyataannya fitur ini memang dikembangkan untuk F.53, yang kemudian ikut diadopsi pada F.6. Dengan paket roket tanpa pemandu, pod roket di sayap, dan kanon kembar Aden, F.53 memiliki daya pukul yang cukup bagus untuk menjalankan peran serangan. T.55 bahkan lebih unik, karena pada dasarnya pesawat ini adalah versi latih dari F.6. Beberapa sumber mengklaim RAF telah melewatkan kesempatan karena tidak tertarik pada varian ini, yang memiliki kemampuan dasar cukup baik untuk menjalankan peran sebagai pesawat multi-peran yang mumpuni. Saudi segera membeli Lightning, karena Mesir dan Arab Saudi pada waktu itu bermusuhan dalam perang saudara di Yaman, beberapa pesawat tempur Mesir dituduh melakukan pelanggaran wilayah penerbangan dan penembakan, dimana Saudi ingin sekali mampu melawan serangan pesawat tempur MiG Mesir tersebut. Di bawah kesepakatan “Magic Carpet”, pada bulan Juli 1966 Saudi diberikan empat unit F.2 yang kemudian diberi kode sebagai “F.52”, dengan yang kelima dikirimkan juga sebagai cadangan setahun kemudian, dengan ditambah dua T.4 yang diberi kode sebagai “T.54”. Ironisnya, serangan Mesir berhenti sebelum Lightning interim Saudi ini mulai beroperasi, tetapi bagaimanapun mereka berguna untuk membiasakan Angkatan Udara Saudi untuk menggunakan jenis pesawat ini. Sebuah F.3A yang belum ditingkatkan menjadi F.6, kemudian menjadi prototipe awal F.53, melakukan penerbangan perdana pada 19 Oktober 1966. Pengiriman F.53 dimulai pada Juli 1968. Semua Lightning Saudi terbang menggunakan cat logam alami. Mereka melakukan misi serangan darat selama serangan di Yaman pada akhir 1969 dan awal 1970 dan terbukti sangat efektif dalam menjalankan peran tersebut, meskipun satu Lightning sempat ditembak jatuh, dimana pilotnya berhasil diselamatkan. Beberapa serangan darat diterbangkan mampu mengakhiri situasi yang selama ini buntu bagi pasukan darat Saudi. Pilot Saudi menyukai Lightning, dan  mereka memiliki kebiasaan membuat kebisingan dengan terbang melintas di atas desa-desa, yang mengejutkan banyak penduduk lokal.

Selain Saudi cuma AU Kuwait yang tercatat memakai Lightning selain RAF Inggris. (Sumber:https://www.jetphotos.com/)

Lightning Saudi mulai digantikan oleh Northrop F-5 dalam menjalankan peran serangan darat pada tahun 1971 dan kehilangan tugas misi pengintaian tidak lama setelah itu, menyebabkan F.53 Saudi menjalankan peran tunggal sebagai pencegat seperti F.6 RAF. Lightning secara resmi pensiun dari dinas udara Saudi pada tahun 1986. Dari 47 yang dikirimkan, tidak termasuk dua yang hilang sebelum pengiriman, 18 hilang dalam tugas selama berdinas di Saudi; 22 diantaranya dikembalikan ke Inggris untuk kemungkinan digunakan atau dijual kembali untuk pembeli potensial seperti Austria, yang pada akhirnya lebih memilih J-35 Draken bekas Swedia; dan sisanya dipasang sebagai Monumen penjaga gerbang dan display statis lainnya. Beberapa yang dijadikan display memiliki skema warna kamuflase, tetapi cat kamuflase seperti itu tampaknya tidak pernah digunakan saat masa-masa operasional yang sebenarnya. Satu-satunya pembeli asing lainnya dari Lightning adalah Kuwait, yang memesan 12 pesawat “F.53K” berkursi tunggal dan dua “T.55K” yang berkursi ganda pada akhir tahun 1966. Pesawat Kuwait ini sebagian besar atau malah seluruhnya setara dengan yang dimiliki Saudi. Pengiriman pesawat dilakukan pada tahun 1968 hingga 1969. Orang-orang Kuwait menganggapnya tidak cukup memuaskan; dimana selain itu pihak Kuwait memang tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengoperasikan dengan baik dan membuat Lightning tetap bisa terbang. Untuk mengoperasikan Lightning ini, Kuwait terpaksa mempekerjakan kru darat dari Inggris. Pada 1973, Kuwait berusaha menjualnya, dan pada 1977 mereka akhirnya mempensiunkan sepenuhnya, untuk digantikan oleh Mirage F1, yang jauh lebih sederhana dan lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Kuwait. Beberapa Lightning Kuwait juga dipasang sebagai display statis, meskipun tampaknya beberapa diantaranya dihancurkan selama Perang Teluk pada tahun 1990-1991. Pembeli potensial lainnya, yakni Nikaragua, tidak jadi terealisasi ketika negara itu dianggap tidak memiliki kemampuan dan prasarana untuk mengoperasikan pesawat ini. Pada akhir produksinya, total 337 Lightning berbagai jenis dan prototipe dibuat, sebanyak 277 unit diantaranya adalah versi pesawat tempur dan 52 unit lainnya adalah versi latih.

AKHIR MASA BAKTI

Pada akhir 1970-an, Lightning mulai digantikan oleh McDonnell Douglas Phantom dalam layanan RAF, dengan sejumlah Lightning terdegradasi ke peran sebagai ground decoy. Kinerja keseluruhan Phantom setara dengan Lightning, dengan plus dan minusnya, tetapi Phantom memberikan daya tahan penerbangan yang lebih baik; avionik yang lebih canggih; dan persenjataan rudal yang jauh lebih banyak. Phantom dapat membawa empat rudal AAM jarak pendek Sidewinder dan empat rudal AAM jarak menengah Sparrow, dibanding Lightning yang hanya bisa membawa dua AAM jarak pendek Firestreak atau Red Top. Lebih dari itu, rudal Sidewinder dan Sparrow juga jauh lebih unggul secara teknis daripada Firestreak dan Red Top yang lebih tua. Namun Lightning lebih unggul dalam hal persenjataan kanon, karena RAF Phantoms terbatas hanya bisa membawa pod kanon Vulcan 20 milimeter, yang tidak memiliki ketepatan dan kekuatan hantam seperti kanon kembar Aden, milik Lightning. Armada Lightning di RAF mulai dikurangi pada tahun 1974. Saat pesawat serang Jaguar pertama dikirim, tipe ini membebaskan Phantom untuk digunakan murni sebagai pesawat pertahanan udara, yang mulai menggeser peran Lightning. Pada awal 1977, hanya skuadron 5 dan 11 yang masih mengoperasikan Lightning. Namun, Lightning tetap bertahan dalam layanan garis depan RAF selama satu dekade berikutnya. Tahun 1979 adalah peringatan ke 25 dari layanan operasional Lightning, dan oleh karena itu rencananya akan diadakan pameran khusus untuk RAF di Binbrook, dengan Lightning dicat dalam warna-warna sesuai dengan berbagai pengguna sebelumnya dan direncanakan akan terdapat flypast dari 25 pesawat. Namun sayangnya, hujan lebat mengganggu acara itu. Pada tahun 1979, sebuah program dimulai untuk memperkuat wingroot dari F.6 dan T.5 Pada tahun 1985, British Aerospace (BAE, yang telah menggantikan nama BAC), melakukan “program perpanjangan masa layanan (SLEP)” pada 35 F.6, tetapi ini adalah yang terakhir. Gagasan untuk melakukan banyak modifikasi tidak ditindaklanjuti. Padahal Radar modern yang sudah ada akan memberikan peningkatan kemampuan yang signifikan. Seperti varian rudal AIM-9L “All Aspect” yang modern dari Amerika yang sudah teruji di Falklands akan sangat efektif dan lebih mumpuni dari rudal Firestreak dan Red Top kuno, ditambah rudal ini tidak perlu menggunakan perangkat lainnya karena bertipe “Fire and Forget”.

Sampai kini Lightning menjadi jet tempur paling dikenang dalam pengabdiannya di RAF. (Sumber:https://forum.warthunder.com/)

Pada tahun 1985, Lightning mencapai kecepatan Mach 2.2. Pilot yang melakukannya sering berkomentar tentang betapa mudahnya Lightning dikendalikan bahkan pada kecepatan tinggi. Selama uji coba yang digelar British Airways pada bulan April 1985, Concorde ditawarkan sebagai target untuk dikejar oleh pesawat-pesawat tempur NATO termasuk F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, F-14 Tomcat, Mirage, dan F-104 Starfighter – tetapi hanya Lightning XR749, yang diterbangkan oleh Mike Hale berhasil menyalip Concorde pada saat melakukan intersepsi. Lightning akhirnya dihapus dari layanan garis depan di Inggris pada tahun 1988, untuk digantikan sepenuhnya oleh Panavia Tornado ADV. Sejumlah kecil Lightning memang masih digunakan selama beberapa tahun lagi dalam peran sekunder, seperti sebagai pesawat pengejar dan sebagai target radar untuk evaluasi program Tornado. “Penerbangan perpisahan” dari tiga Lightning diselenggarakan pada tahun 1992, meskipun beberapa unit terus masih terbang sebentar setelah itu. Meskipun para pilot RAF menyukai Lightning, namun mereka tidak terlalu sedih untuk melihatnya pensiun. Walau Lightning bukan pesawat yang buruk, tetapi sebagai sistem senjata, pesawat ini tidak memadai dalam hal persenjataan dan daya tahan. Pilot Lightning sering dikatakan lebih sering memeriksa jumlah bahan bakar yang tersisa sebagai kegiatan rutin di sepanjang penerbangan mereka. Banyak Lightning digunakan sebagai display statis, dan sekelompok penggemar udara Inggris mempertahankan setidaknya satu pesawat dalam kondisi layak terbang, meskipun Otoritas Penerbangan Sipil Inggris tidak akan menyetujuinya untuk melakukan penerbangan, karena tingkat kebisingannya. Sebuah perusahaan dari Afrika Selatan bernama “Thundercity” yang menyewakan wahana dan menampilkan pertunjukan udara jet tempur klasik memiliki dua T.5 dan F.6 yang masih bisa terbang. Lightning akhirnya menjadi jet tempur high performance yang terakhir dibuat mandiri oleh Inggris. Sejak 1960-an, pemerintah Inggris akan selalu memilih bergabung dengan negara-negara lain untuk mengembangkan pesawat-pesawat tempur canggih seperti Jaguar, Tornado, dan Eurofighter Typhoon untuk memenuhi keperluannya sendiri.

SPESIFIKASI LIGHTNING F.6

KARAKTERISTIK UMUM

    •    Crew: 1 (2 in T Mk.4 and T Mk.5)

    •    Length: 55 ft 3 in (16.84 m) [170]

    •    Wingspan: 34 ft 10 in (10.62 m)

    •    Height: 19 ft 7 in (5.97 m) [44]

    •    Wing area: 474.5 sq ft (44.08 m2)

    •    Empty weight: 31,068 lb (14,092 kg) with armament and no fuel

    •    Gross weight: 41,076 lb (18,632 kg) with 2 Red Top missiles, cannon, ammunition, and internal fuel

    •    Max takeoff weight: 45,750 lb (20,752 kg)

    •    Powerplant: 2 × Rolls-Royce Avon 301R afterburning turbojet engines, 12,690 lbf (56.4 kN) thrust each dry, 16,360 lbf (72.8 kN) with afterburner

PERFORMA

    •    Maximum speed: Mach 2.27 (1,500 mph+ at 40,000 ft)[citation needed]

    •    Range: 738 nmi (849 mi, 1,367 km)

    •    Combat range: 135 nmi (155 mi, 250 km) supersonic intercept radius

    •    Ferry range: 800 nmi (920 mi, 1,500 km) internals; 1,100 nmi (1,300 mi; 2,000 km)

    •    Service ceiling: 60,000 ft (18,000 m)

    •    Zoom ceiling: 70,000 ft (21,000 m)

    •    Rate of climb: 20,000 ft/min (100 m/s) sustained to 30,000 ft (9100 m)

    •    Wing loading: 76 lb/sq ft (370 kg/m2)

    •    Thrust/weight: 0.78 (1.03 empty)

PERSENJATAAN

    •    Guns: 2× 30 mm (1.181 in) ADEN cannon

    •    Hardpoints: 2 × forward fuselage for mounting air-to-air missiles, 2 × overwing pylon stations for 260 imp gal (310 US gal; 1,200 l) ferry tanks with provisions to carry combinations of:

    ◦    Missiles: 2 De Havilland Firestreak or 2 × Hawker Siddeley Red Top

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The English Electric (BAC) Lightning v1.0.9 / 01 jul 18 by greg goebel

http://www.airvectors.net/aveeltg.html

English Electric / BAC Lightning Single-Seat Supersonic Interceptor Aircraft

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=229

Iraqi Invasion of Kuwait; 1990 Contributed by Tom Cooper, with Brig.Gen. Ahmad Sadik (IrAF), Aug 26, 2007 at 06:21 AM

https://archive.vn/20130706142817/http://www.acig.info/CMS/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=47

Empire of the Clouds: When Britain’s Aircraft Ruled the World p 235-236 by James Hamilton-Paterson, May 1, 2011

LIGHTNING v F-15 by Brian Carroll, July, 2003

https://web.archive.org/web/20080113151745/http://www.lightning.org.uk/archive/0307.php

English Electric Lightning

https://www.baesystems.com/en/heritage/english-electric-lightning

The Numbers Behind The Lightning Jet by James Knuckey; 4th April 2018 at 2:59pm

https://www.forces.net/news/numbers-behind-lightning-jet

English Electric Lightning History

https://www.thunder-and-lightnings.co.uk/lightning/history.php

English Electric Lightning by C N Trueman; 25 May 2015

Electric Lightning F.6

https://forum.warthunder.com/index.php?/topic/435825-english-electric-lightning-f6/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/English_Electric_Lightning

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Airborne_Interception_radar#AI.23

https://en.m.wikipedia.org/wiki/De_Havilland_Firestreak

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Red_Top_(missile)

https://en.m.wikipedia.org/wiki/ADEN_cannon

https://wiki.warthunder.com/ADEN_(30_mm)

https://www.saairforce.co.za/the-airforce/weapons/12/68mm-sneb-rocket

https://en.m.wikipedia.org/wiki/SNEB

4 thoughts on “English Electric Lightning: Pesawat Tempur Interceptor Asli Buatan Inggris yang Terakhir

  • 26 July 2020 at 8:00 pm
    Permalink

    I am really enjoying the theme/design of your web site. Do you ever run into any internet browser compatibility issues? A few of my blog audience have complained about my website not operating correctly in Explorer but looks great in Opera. Do you have any recommendations to help fix this problem?

    Reply
  • 19 August 2020 at 7:55 am
    Permalink

    As a Newbie, I am constantly exploring online for articles that can benefit me. Thank you

    Reply
  • 8 September 2020 at 4:03 pm
    Permalink

    I’ve been absent for a while, but now I remember why I used to love this web site. Thank you, I抣l try and check back more often. How frequently you update your web site?

    Reply
    • 8 September 2020 at 4:03 pm
      Permalink

      Two new post in a week

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *