F-111 Aardvark: Monster Udara Penghancur Tank Terbaik Dalam Perang Teluk 1991

Pesawat pembom taktis, General Dynamics F-111 Aardvark tercatat menghancurkan lebih banyak tank Iraq daripada A-10 Warthog (yang begitu dipuji) selama Operasi Badai Gurun pada tahun 1991, namun ironisnya kiprahnya sering dilupakan  banyak orang. Dengan menggunakan pod penarget PAVE Tack yang dikombinasikan dengan bom yang dipandu laser, Aardvarks menghancurkan lebih dari 1.500 kendaraan lapis baja Irak. Sebaliknya selama Perang Teluk Pertama A-10 “hanya” menghancurkan sekitar 900 kendaraan militer Irak. Rincian lebih lanjut tentang misi F-111 Angkatan Udara AS (USAF) melawan armada tank Saddam Hussein ini terdapat dalam buku Peter E. Davies berjudul: F-111 & EF-111 Units in Combat.

Maaf saja, sebagai penghancur tank di Perang Teluk 1991, F-111 Aardvark lebih baik daripada A-10 Thunderbolt II.

Latar belakang

Setelah sepuluh hari perang Teluk pecah, banyak mesin perang Saddam yang masih tetap utuh, termasuk setengah dari target strategis, termasuk semua peluncur Scud mobile dan hampir semua, kecuali 25 buah armada tank tempurnya. Waktu itu F-111 dan F-117A adalah satu-satunya pesawat serang yang mampu mempertahankan tingkat sortie yang tinggi terhadap target utama Iraq, karena pesawat taktis lainnya terhambat oleh cuaca buruk atau karena dialihkan ke misi perburuan Scud yang tak henti-hentinya (Scud menjadi teror di Israel dan Saudi, sehingga perlu segera dibungkam). Sementara komandan Angkatan Darat AS dan Korps Marinir AS berkonsentrasi untuk mengusir pasukan Irak dari Kuwait, Brigjen ‘Buster’ C Glosson, yang bertanggung jawab atas aset udara USAF, berfokus pada misi melemahkan pangkalan industri dan militer Saddam di Iraq melalui kekuatan udara.

Tank Iraq yang “ditanam” di tanah

Tank, terutama yang “ditanam” di pasir dan disamarkan dengan jaring-jaring kamuflase di Kuwait, banyak yang lolos dari kehancuran akibat serangan pesawat serang taktis atau karena kamuflasenya yang efektif dan kuatnya tembakan anti-pesawat bagi pesawat yang berani terbang cukup rendah untuk menghancurkan mereka lewat serangan langsung dengan ‘bom konvensional’ yang dijatuhkan oleh pesawat-pesawat F-16, AV-8B Harrier atau A-10A Thunderbolt II. Penggunaan munisi CBU (Cluster) disarankan, tetapi efek dari ledakan sub-munisinya mudah diserap oleh galian pasir dan pertahanan di mana tank-tank tersebut disembunyikan.

Kombinasi PAVE Tack & GBU-12 Paveway II

Pada masa Pertengahan jalannya perang, Jenderal Schwartzkopf terus-menerus disudutkan media karena kurangnya kemajuan proses penghancuran armada tank Saddam sebelum perang darat dimulai. Dalam tahapan ini, TFW ke-48 diminta oleh Jenderal Glosson untuk menyelesaikan problem tersebut dengan menggunakan perangkat PAVE Tack. Pengalaman sebelumnya lewat uji coba yang dijuluki ‘Night Camel’ selama Operasi Desert Shield telah menunjukkan bahwa tank-tank Amerika sulit diidentifikasi menggunakan perangkat sensor biasa milik F-111F jika mereka mematikan mesinnya selama beberapa saat. Namun, kru dari satuan tersebut menemukan bahwa kemampuan deteksi infra-merah dari pod AN/AVQ-26 PAVE Tack yang dipasang pada “bomb bay” F-111 dapat mengenali panas matahari yang diserap oleh lambung tank dibandingkan dengan suhu gurun yang dingin di sekitar mereka. Mereka juga mendapati bahwa awak tank Irak punya kebiasaan menyalakan mesin tank mereka pada malam hari agar mereka tetap hangat, sehingga hal ini justru meningkatkan panas dari tank mereka sekaligus mempermudah untuk dideteksi dari udara.

PAVE Tack Pod

AN / AVQ-26 Pave Tack buatan Ford Aerospace adalah pod penarget elektro-optik yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) untuk pesawat serang militer mereka. Perangkat ini menggunakan laser dan inframerah untuk menemukan dan membidik target bagi bom berpemandu laser dan amunisi berpemandu presisi lainnya. Gambar pencitraan dari Pave Tack ditampilkan ke kokpit, biasanya digunakan oleh Weapon System Officer.

Detail PAVE Tack Pod

Pave Tack yang dikembangkan pada akhir 1970-an, mulai beroperasi pada tahun 1982, dan pada awalnya digunakan McDonnell Douglas F-4 Phantom II dan General Dynamics F-111F Aardvark strike aircraft milik AU Amerika. Debut tempurnya dimulai pada tahun 1986 lewat serangan udara Operasi El Dorado Canyon terhadap Libya dengan pesawat F-111F yang ditempatkan di RAF Lakenheath, Inggris. Perangkat Pave Tack berukuran cukup besar, dengan podnya sendiri memiliki berat 629 kg (1.385 lb) dan panjangnya 4.220 mm (166 inci). Pada F-4, ukuran pod sebesar ini berarti harus dibawa di pylon bagian tengah badan menggantikan posisi tangki bahan bakar tambahan, yang efeknya akan menambah angka drag yang cukup substansial; sehingga kru nya kerap menyebutnya sebagai “Pave Drag”. Membawa PAVE Tack di Phantom umumnya tidak populer. Sebaliknya dengan kemampuan angkutnya yang lebih besar dari Phantom, F-111C dan F-111F dapat membawa pod Pave Tack pada dudukan yang bisa berputar di ruang bom internalnya, dan menariknya ke dalam saat tidak digunakan untuk mengurangi drag dan melindungi perangkat sensornya dari kerusakan.

GBU-12 Paveway II

Kemampuan deteksi dari PAVE Tack ini kemudian digabungkan dengan bom GBU-12 Paveway II, yang merupakan bom berpemandu udara. GBU-12 berasal dari bom serba guna Mk 82 berbobot 500 pon, tetapi dengan tambahan perangkat pencari laser yang dipasang di hidung dan sirip untuk memandu bom terbang menghantam sasaran. Sebagai anggota seri senjata Paveway, Paveway II mulai beroperasi sekitar 1976. Menurut Raytheon, sebagai produsen Paveway II, penembakan munisi ini hanya menghasilkan tingkat meleset sebesar 3,6 kaki (1,1 meter) dari target dibandingkan 310 kaki (94,49 meter) untuk bom tanpa pemandu dalam kondisi serupa.

Tank Buster Mission

Pada 5 Februari, Kolonel Lennon dan WSO regulernya, Steve Williams memimpin dua pesawat F-111F terbang di atas perbatasan Kuwait utara pada pukul 21.00. Saat terbang di ketinggian 14.000 kaki, perangkat PAVE Tack mendeteksi adanya panas dari beberapa tank milik Garda Republik. Kedua pesawat kemudian membidik dan menjatuhkan bom GBU-12D/B Paveway II pada delapan titik cahaya yang terdeteksi PAVE Tack, segera tujuh diantaranya menghilang, disertai dengan banyak ledakan sekunder. Tujuh tank tempur atau kendaraan pengangkut personel milik Garda Republik telah dihancurkan. Dua malam kemudian 40 F-111F dikirimkan secara massal ke area ‘tank block’ (pihak AU sekutu membagi wilayah Kuwait menjadi beberapa blok berukuran 30 x 60 NM untuk mempermudah pesawat serang menyerang target spesifik di wilayah pertahanan pasukan Iraq) di wilayah perbatasan Kuwait utara, memulai program penghancuran kekuatan Iraq dalam rangka merebut kembali Kuwait. Tak lama kemudian Jenderal Schwartzkopf dengan diam-diam mengumumkan kepada pers bahwa mereka telah menemukan solusi untuk masalah penghancuran armada tank Iraq, tanpa secara langsung menjelaskan caranya.

Prinsip Operasi PAVE Tack

Penghancuran tank kemudian segera mencakup 44 persen sortie yang dibukukan wing TFW ke-48 dengan total meluncurkan 2.500 bom GBU-12 pada armada lapis baja Iraq dari total 4666 LGB yang diluncurkan – lebih dari setengah amunisi berpemandu (PGM) oleh armada pesawat Koalisi selama Perang. Secara umum hasil serangan F-111 yang menggunakan perangkat PAVE Tack sepuluh kali lebih baik daripada pengeboman siang hari yang dilakukan oleh armada F-16 terhadap target yang sama. Faktanya, penyerangan dengan munisi bom konven yang tidak akurat pada siang hari oleh pesawat-pesawat Fighting Falcon justru membuat masalah besar (dengan menciptakan titik-titik panas di padang pasir yang dapat disalahartikan sebagai tank di malam hari), sehingga mereka diperintahkan untuk menjauh dari wilayah tank ‘kill box’ selama jam-jam sore hari.

F-16 tidak sebaik F-111 sebagai pemburu tank pada Perang Teluk 1991

Pada 9 Februari, dalam satu malam serangan udara yang terkonsentrasi, empat puluh F-111F menghancurkan lebih dari 100 kendaraan lapis baja Iraq. Lewat kesuksesan ini TFW ke-48 kemudian sepenuhnya beralih ke misi anti-tank ‘plinking’ mulai 13 Februari, ketika 46 F-111F menghantam 132 tank dan kendaraan lapis baja lainnya – masing-masing pesawat menjatuhkan empat bom (tingkat akurasi 71%). Pada malam berikutnya 20 pesawat menghancurkan 77 tank. Pada akhir perang, salah satu kru mencatat rekor menghancurkan 31 tank di total 920 tank yang dibukukan, dan 252 buah artileri, untuk satuan berlambang patung Liberty’ ini.

F-111 satuan TFW-48 dalam Perang Teluk 1991

Misi tank ‘plinking’ ini kemudian dilakukan oleh pesawat F-15E dengan menggunakan perangkat penargetan infra-merah serupa, yang dapat membedakan target ‘aktif’ dengan target yang telah dihancurkan. Jenderal Schwartzkopf, yang kerap menggambarkan dirinya sebagai mantan crew tank, mendapati istilah tank `plinking ‘(berasal dari flyer F-111F buatan Maj Cliff Smith) dianggap merendahkan martabat dan melarangnya. Satuan itu kemudian menggantinya dengan istilah seperti ‘busting’ atau ‘popping’. Satuan TFW-48 mencatat rekor 1/7 dari total “kill” kendaraan lapis baja yang berhasil dihancurkan oleh armada udara Sekutu. Awak tank Iraq kemudian lebih memilih untuk tidur diluar tank mereka, apabila mereka memang benar-benar masih ingin hidup.

F-111 dari TFW-48 menyerbu armada lapis baja Iraq yang tersebar di wilayah Kuwait

Catatan-catatan lain

Selama Operasi Badai Gurun, armada F-111F mampu menyelesaikan 3,2 misi penyerangan yang berhasil untuk setiap misi yang gagal, lebih baik daripada pesawat penyerang A.S. lainnya yang digunakan dalam operasi. Satuan TFW-48 yang total memiliki 66 pesawat F-111F, menjatuhkan hampir 80% bom yang dipandu laser selama perang, termasuk bom penembus penghancur bunker, GBU-28. TFW ke-48 mengerahkan sekitar 1.500 personel ke Pangkalan Udara Taif, Arab Saudi. TFW-48 yang terdiri dari 3 skuadron, TFS 492d, 493d, dan 494 mencapai kekuatan penuh pada Desember 1990. Mereka didukung juga dengan beberapa awak pesawat & anggota lain dari TFS ke-495 yang disebar di 3 skuadron diatas. Secara keseluruhan, TFW ke-48 menerbangkan total 1919 sorti tempur, dengan catatan 2203 serangan yang dilakukan sukses menghantam target. Wing ini kembali ke RAF Lakenheath 13 Mei 1991.

F-111 Aardvark bersama dengan F-117 menjadi penyerang terbaik satuan udara sekutu dalam Perang Teluk 1991

Berlawanan dengan pendapat umum, Angkatan Udara Irak tidak membuat misi F-111 mudah sejak hari pertama perang. Dua F-111 terkena sengat rudal R-23 yang dipandu inframerah yang ditembakkan oleh MiG-23. Sementara satu lainnya tertembak oleh tembakan rudal R-60 yang dilepaskan oleh MiG-29. Dalam ketiga peristiwa tersebut, Aardvark menunjukkan ketangguhannya dan berhasil kembali ke markas dengan susah payah. Namun sebuah EF-111 tidak begitu beruntung di bulan Februari. Saat mengambil manuver menghindar setelah mendeteksi adanya pesawat musuh, pesawat malang itu menabrak tanah, kedua awaknya gugur.

Meski menorehkan prestasi emas dalam perang teluk 1991, namun setidaknya sebuah EF-111 Raven jatuh dalam perang itu saat menghindar dari deteksi pesawat Iraq.

Bagi F-111 prestasi yang dicatat dalam Perang Teluk 1991 menjadi akhir karir tempur yang manis, meski pada awal kelahirannya banyak mengalami masalah hingga sempat ditarik dari dinas operasional selama Perang Vietnam. Lewat jalan terjal F-111 telah membuktikan konsep desainnya sebagai: pembom supersonik jarak jauh yang berukuran relatif kompak yang dapat terbang cepat sedikit diatas tanah untuk menghindari sistem deteksi radar musuh. F-111 dengan kapasitas angkut dan desainnya yang uniknya cukup mampu beradaptasi dengan teknologi terbaru untuk mengatasi tantangan tempur yang aktual pada masanya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Did you know the F-111 Killed More Tanks than the A-10 during Operation Desert Storm? by Dario Leone, 11 September 2019

https://theaviationgeekclub.com/did-you-know-the-f-111-killed-more-tanks-than-the-a-10-during-operation-desert-storm/

Meet the F-111 Aardvark, The Plane Sent to Kill Qaddafi by Sebastien Roblin, August 17, 2018

https://nationalinterest.org/blog/buzz/meet-f-111-aardvark-plane-sent-kill-qaddafi-29032

F-111 Persian Gulf War

https://www.globalsecurity.org/military/systems/aircraft/f-111-pgw.htm

https://www.quora.com/What-aircraft-destroyed-more-armor-during-the-Iraq-War-the-A-10-Warthog-or-the-F-111-Aardvark

https://en.m.wikipedia.org/wiki/General_Dynamics_F-111_Aardvark

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Pave_Tack

https://en.m.wikipedia.org/wiki/GBU-12_Paveway_II

https://en.m.wikipedia.org/wiki/48th_Fighter_Wing

3 thoughts on “F-111 Aardvark: Monster Udara Penghancur Tank Terbaik Dalam Perang Teluk 1991

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *