F-14 Super Tomcat 21/ST21 & ASF-14 Super Tomcat: The Fighter that never were

Pada saat F-14 Tomcat dipensiunkan tahun 2006, banyak fans berat pesawat “swing wing” ini yang menyayangkan karena bagi golongan ini Tomcat seharusnya masih bisa dan layak digunakan beberapa tahun kedepan. Kini F / A-18E / F Super Hornet telah menjadi tulang punggung Angkatan Laut AS pada abad ke-21, yang sejarahnya dapat dirunut kembali sebagai akibat dari diberhentikannya program pesawat A-12. Setelah adanya pembengkakan biaya besar-besaran, kenaikan bobot pesawat dan penundaan besar, Menteri Pertahanan Dick Cheney menghentikan program jet penyerang kapal induk induk yang futuristik itu. Keputusan ini meninggalkan “lubang besar” dalam pemenuhan kebutuhan pesawat Angkatan Laut di masa depan.

Konsep Pesawat Serang A-12 Avanger II yang mati di tengah jalan. A-12 dimaksudkan untuk mengganti peran pesawat serang A-6 Intruder

Pada tahun 1991, Perang Dingin baru saja berakhir. Kongres mulai membicarakan tentang program-program pertahanan berisiko tinggi, yang sangat agresif dikembangkan selama beberapa dekade perang dingin, kini setelah ancaman Soviet hilang, mereka merasa program-program tersebut sudah tidak relevan lagi. Sentimen akan/perlu adanya “dividen perdamaian” terus meningkat dan anggaran pertahanan mulai turun. Dengan masa pensiunnya A-6E TRAM Intruder yang sudah dekat dan adanya kekosongan akibat program A-12 yang dibatalkan, pabrikan mulai melontarkan ide perbaikan desain dengan menggunakan platform yang sudah ada. Harapannya adalah dengan menggunakan desain yang sudah “existing”, Kongres akan melihat produk seperti ini memiliki risiko yang rendah, dengan biaya yang bisa ditekan akibat dari menggunakan platform yang sudah terbukti dan pada akhirnya akan menyetujui pengadaannya.

Depan ke belakang, EA-18G Growler, F/A-18F Super Hornet, dan F/A-18E Super Hornet. Keluarga Super Hornet dipilih menjadi tulang punggung armada udara AL AS di abad ke-21

Pada saat yang sama, program NATF (setara dengan program Advanced Tactical Fighter dari USAF) sedang dalam pengerjaan, tetapi biaya dan jadwal untuk pengembangannya diperkirakan akan sangat besar, dan mengingat apa yang terjadi pada program “Flying Wing” A-12. Jelas bahwa diperlukan suatu yang lebih sederhana yang punya “risiko rendah” dan konsep desain semacam ini kemudian terbukti sukses dalam pengembangan dan pengadaan F / A-18E / F Super Hornet. Meski demikian menurut beberapa orang program itu dikembangkan pada pesawat yang salah. Bukan hal yang mengejutkan, mengingat resistensi terhadap desain F/A-18 Hornet sudah muncul sejak tahun 1980-an, dimana bagi mereka-mereka ini Hornet tidak sebaik A-6 Intruder dalam menjalankan fungsi pesawat penyerang dan tidak bisa bertempur sebagai “predator udara” seperti F-14 Tomcat.

Konsep Super Tomcat 21

Konsep Super Tomcat 21 muncul dari proposal sebelumnya yang dibuat oleh Grumman setelah berakhirnya program A-12 yang disebut Quick Strike Tomcat. Quick Strike dimaksudkan sebagai peningkatan kemampuan F-14 yang ada dengan memberi mereka perangkat navigasi canggih dan pod penargetan yang serupa dengan sistem LANTIRN USAF, bersama dengan peningkatan mode serangan darat pada radar APG-71 (dikembangkan dari radar AWG-9 yang digunakan F-14 versi awal) milik F-14D dan memikiki kemampuan untuk membawa lebih banyak persenjataan standoff seperti AGM-84E SLAM dan AGM-88 HARM. Quick Strike lebih ditujukan sebagai pengganti Intruder yang lebih murah daripada A-12 yang canggih, dan dipandang pada saat itu tidak memiliki lompatan teknologi yang cukup signifikan dari versi F-14B dan D yang sudah ada. Juga ditambah adanya desas-desus bahwa desain Hornet generasi baru yang murah sedang dikerjakan oleh McDonald Douglas turut menurunkan minat terhadap konsep Quick Strike.

An F-14 “Tomcat” equipped with a Low-Altitude Navigation and Targeting Infrared for Night (LANTIRN) pod prepares to enter the landing pattern after a successful mission. The fighter is attached to Fighter Squadron One Zero Two (VF-102) “Diamondbacks,” deployed aboard USS JOHN F. KENNEDY (CV 67) in support of Operation SOUTHERN WATCH.

Konsep Quick Strike kemudian akan menjadi pendorong dalam melengkapi armada F-14 dengan pod penargetan LANTIRN. Peningkatan kemampuan ini ternyata menjadi salah satu investasi terbaik yang pernah dilakukan NAVAIR dengan platform yang sudah ada dan Tomcat yang awalnya berfokus pada misi pertahanan udara kemudian menjadi bomber taktis pilihan pada akhir 1990-an dan pengontrol udara garis depan, yang dikenal sebagai FAC, pada awal 2000-an.

Peningkatan kemampuan

Jika jadi, Super Tomcat 21 akan merupakan modifikasi dari desain F-14 yang dilengkapi dengan mesin GE-F110-129 dengan daya dorong yang akan memungkinkan Tomcat memiliki kemampuan super-cruise (mencapai kecepatan mach 1+ tanpa menggunakan afterburner) dan terbang secara kontinu di mach 1.3. Selain itu, jet ini akan dilengkapi radar APG-71 yang ditingkatkan, surface control yang dimodifikasi dan diperbesar, dan perluasan pangkal sayap depan (leading edge root extensions/LERX) yang akan menampung lebih banyak bahan bakar dan meningkatkan kemampuan pengendalian pada saat terbang pada kecepatan rendah. Thrust nozzle vectoring yang diintegrasikan langsung ke sistem kontrol penerbangan digital baru juga menjadi salah satu pilihan upgrade. Modifikasi ini akan memberi “Si Kalkun” kemampuan manuver yang super dan akselerasi mantap serta terbang kecepatan tinggi dalam waktu lama. Selain itu, super-cruise yang dikombinasikan dengan tambahan kapasitas bahan bakar internal akan memberikan Super Tomcat jangkauan terbang yang jauh lebih besar daripada versi sebelumnya. Jet tersebut juga dapat membawa pod penargetan dan navigasi, sehingga memberikan kemampuan multi-peran yang sebenarnya. Kemudian untuk kanopi, kaca depan single-piece baru akan ditambahkan untuk memberikan tingkat visibilitas ke depan yang jauh lebih baik.

Mesin GE-F110-129 yang punya kemampuan Super Cruise

Kemudian ada juga versi serang yang kemampuannya dioptimalkan yang disebut sebagai Attack Super Tomcat 21. Dari sudut pandang avionik jet ini memiliki peningkatan kemampuan dibandingkan dengan pendahulunya, dengan perangkat FLIR serang dan Terrain Following Radar yang ditempatkan pada dudukan rudal Phoenix di bawah badan pesawat. Sistem Pencarian & Lacak Infra Merah dan Sistem Kamera Televisi akan dipasang di pod hidung yang mirip dengan pod TCS / IRST F-14D. Avionik pada kokpit pesawat ditingkatkan dengan Head Up Display (HUD) baru berlayar lebar yang akan mampu memproyeksikan citra navigasi FLIR. Komputer misi baru dan pertahanan diri yang ditingkatkan juga dimasukkan dalam proposal Attack Super Tomcat 21 yang lebih canggih. Super Tomcat 21 dan Attack Tomcat 21 dirancang sebagai konsep yang dapat dijalankan dengan re-manufaktur armada F-14 yang sudah ada atau dengan memproduksi pesawat yang baru.

Kokpit F-14A Tomcat

Berdasarkan pengakuan dari insinyur berpengalaman yang bekerja untuk Grumman pada proposal Super Tomcat 21. Dia mengatakan bahwa desain Super Tomcat benar-benar menakjubkan dan kemampuan handling di kecepatan rendah, terutama dengan thrust vectoring dan mesin yang lebih besar, akan ada banyak wilayah yang dapat dicakup dalam satu misi yang belum pernah terjadi pada desain sebelumnya. Insinyur ini yang kemudian bekerja untuk “kontraktor lain” pada program-program pesawat tempur besar, menyatakan bahwa kinerja manuver Super Tomcat dan kemampuannya untuk beroperasi sebagai pesawat tempur yang tidak tergantung pada aset tanker jarak jauh masih belum dapat ditandingi oleh pesawat tempur lain hingga kini. Dia memang menyebutkan bahwa konsep yang serupa dengan Super Tomcat muncul pada seri model terakhir Flanker Rusia, terutama dengan fitur thrust vectoring dan bahan bakar internal yang besar, tetapi menurutnya itu masih belum sebanding dengan Super Tomcat.

Beberapa konsep dalam Super Tomcat 21 diaplikasikan dalam fighter Flanker series terbaru milik Russia

Modifikasi yang diusulkan pada Super Tomcat 21 mencakup hal-hal berikut:

  • Penggunaan Mesin turbofan F110-GE-129 yang punya daya dorong 29K pound ini, dengan modifikasi sama ditemukan di blok F-16 terbaru dan beberapa turunan Strike Eagle, meskipun dengan pipa knalpot yang lebih panjang yang disesuaikan dengan Tomcat, akan memberikan kinerja supercruise untuk ST21 (> Mach 1 tanpa penggunaan afterburner yang boros bahan bakar) sambil membawa muatan senjata udara-ke-udara yang relevan.
  • Memperbesar leading edge yang masing-masing akan memberi tambahan penyimpanan bahan bakar sebanyak 2,200 pon.
  • Targeting pod Ford Aerospace (sekarang Lockheed Martin) Night Owl / FLIR dan pod navigasi yang terpasang di bawah pesawat.
  • Kaca depan yang menjadi satu frame untuk meningkatkan visibilitas.
  • HUD layar lebar yang mampu memproyeksikan citra FLIR.
  • Glass Cockpit dengan Komputer multimisi terbaru dan prosesor grafis.
  • On-Board Oxygen Generations System (OBOGS)
  • Radar AN / APG-71 dengan tambahan upgrade yang diambil dari AN / APG-70 yang digunakan pada F-15E. Jangkauan dan kemampuan ditingkatkan dibandingkan dengan AN / APG-71 original yang digunakan F-14D, yang merupakan hasil pengembangan dari AWG-9.
  • Sistem Kontrol Penerbangan Digital (DFCS).
  • Pylon sayap yang mampu membawa tangki bahan bakar eksternal sebanyak 300 galon.
  • Kemampuan untuk membawa tangki eksternal sebanyak 425 galon pada hardpoint nacelle jika dikembangkan. Ukuran tangki yang sudah ada adalah sebesar 280 galon.
  • Fowler-flap multi-segmen yang lebih besar.
  • Pengurangan approach speed dan kontrol kecepatan lambat yang lebih baik.
  • Integrasi senjata jarak jaug terbaru, serta kapabilitas membawa rudal AIM-120 AMRAAM.
  • Upgrade Counter Measures AN / ALE-47.
Tidak mampu membawa rudal AIM-120 AMRAAM adalah salah satu kelemahan dari F-14 Tomcat

Secara keseluruhan, ST21 akan menjadi fighter multi-peran yang menakutkan. Dengan kapasitas bahan bakar yang meningkat secara drastis, baik secara internal maupun eksternal, jarak dan waktu terbangnya akan meningkat secara dramatis. Dikombinasikan dengan kemampuan terbang supercruise dalam konfigurasi pertempuran udara-ke-udara, kemampuan membawa rudal AIM-120, dan sistem Pencarian dan Pelacakan Inframerah (IRST) yang modern serta TV Camera Set (TCS) yang diperbarui yang diambil dari F-14D, ST21 akan menjadikan Tomcat menjadi fighter superioritas udara dan fleet defender hebat. Faktanya, tidak ada fighter lain di dunia yang memiliki kemampuan deteksi dan identifikasi target jarak jauh yang serupa.

Konsep Revolusi F-14 Super Tomcat yang tidak pernah terwujud
Grumman F-14 Super Tomcat 21 model. It now hangs in the Cradle Of Aviation Museum in Garden City, NY. It gave a general arrangement for the ST21.
Konsep Artis Super Tomcat-21
Konsep Super Tomcat-21

ASF-14 Super Tomcat

Konsep varian Tomcat paling hebat yang pernah diusulkan dikenal sebagai “ASF-14″ (Advanced Strike Fighter 14) akan menjadi versi yang benar-benar dibuat baru dan paling canggih dari keluarga F-14 yang legendaris. Merupakan “Super Tomcat” sejati dalam setiap arti sebenarnya, versi ini akan memiliki kapasitas bahan bakar internal yang lebih besar daripada Super Tomcat 21 dengan sayap yang lebih tebal, sub-sistem dari generasi Tomcat lama yang besar dan berat diganti dengan komponen struktur serat karbon untuk menghemat bobot dan volume. Awalnya varian ini akan menggunakan mesin yang sama dengan Super Tomcat, tetapi ada pula pembicaraan tentang kemungkinan penggunaan mesin F-119 dari F-22 atau mesin F120 di kemudian hari. Namun kabarnya kemampuan jelajah super Tomcat dengan mesin-mesin canggih ini akan lebih terbatas oleh akumulasi panas pada kecepatan Super Cruise (apalagi pada kecepatan 2 mach?!).

Mesin P&W F-119 yang punya kemampuan Super Cruise dan Thrust Vector sempat dipertimbangkan untuk digunakan ASF-14 Super Tomcat

Bahkan tanpa thrust vector, peningkatan performa aerodinamis pada ASF-14 akan memungkinkan jet untuk bermanuver lebih 77 derajat AoA secara kontinu, apalagi jika ditambahkan thrust vector akan membuat desain pesawat baru ini menjadikannya penempur paling jago bermanuver sepanjang masa. Selain itu, ASF-14 akan dilengkapi dengan pertahanan diri dan countermeasures untuk menjalankan misi “Wild Weasel” berkemampuan untuk melakukan misi suppression/destruction of enemy air defenses (SEAD/DEAD) terhadap pertahanan udara musuh.

ASF-14/Super Tomcat 2010 dirancang memiliki kemampuan untuk melakukan misi suppression/destruction of enemy air defenses (SEAD/DEAD) terhadap pertahanan udara musuh.

Mungkin bagian terbaik dari konsep ASF-14 adalah bahwa pesawat itu akan menjadi pesawat yang sama sekali baru, sama seperti yang terjadi pada Super Hornet. Hal ini berarti sub-sistem era 1960-an yang berat dan kompleks akan diganti dengan sub-sistem komponen modular. Semua sistem hidrolik dan kelistrikan jet yang selama ini jadi problem merepotkan pada Tomcat lama selama bertahun-tahun akan diganti dengan sistem yang lebih disederhanakan. Selain itu, banyak komponen struktural akan dibuat dari serat karbon, bukan aluminium atau titanium. Ini akan memungkinkan Tomcat baru hanya sedikit lebih berat (sekitar 1.200 pon) daripada pendahulunya, sementara mampu membawa ribuan pon bahan bakar lebih banyak. Bahkan kabarnya ada beberapa pembicaraan bahwa beberapa karakteristik “stealth” akan diterapkan pada ASF-14, ini mungkin termasuk modifikasi pada dudukan kipas mesin dan pintu akses roda dan pintu akses lainnya agar dapat mengurangi potensi deteksi radar.

Super Tomcat 2010 dirancang banyak menggunakan komponen struktural akan dibuat dari serat karbon untuk mengurangi bobot sekaligus menambah ruang untuk membawa bahan bakar lebih banyak dari Tomcat biasa.

Kokpitnya akan menampilkan desain “all glass cockpit” dengan helm mounted display untuk pilot dan RIO / WSO. Bagian paling menarik dari pembaharuan avionik adalah penggunaan radar besar terbaru pada Tomcat. Sebuah radar “active electronically scanned array (AESA)” yang sangat besar akan dipasang dan dilengkapi dengan sejumlah besar mode operasi untuk misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat bahkan juga untuk melakukan serangan elektronik yang mematikan dari jarak jauh. Kita bisa melihat betapa luar biasa kemampuan radar AESA dari ASF-14 dengan melihat program peningkatan radar AESA APG-63V3 yang saat ini digunakan oleh F-15. APG-63V3 sebenarnya lebih memiliki keunggulan dalam beberapa hal daripada radar APG-77 AESA yang digunakan oleh F-22A karena memiliki diameter piringan yang lebih besar, memungkinkan lebih banyak modul transit / penerima untuk digunakan, dan ia juga lebih baru dalam hal desain. Tomcat awalnya dibangun untuk menampung radar fire control Hughes AWG-9 yang sangat besar, radar terbesar yang pernah digunakan pada pesawat tempur AS saat itu, jadi pastinya akan ada cukup ruang untuk menampung radar AESA besar itu.

Radar APG-63V3 yang sudah mengaplikasikan teknologi AESA

Berdasarkan dugaan bahwa ASF-14 akan didasarkan pada desain ST21 untuk digunakan pada tahun 2010-an. Kita bisa menamai pesawat yang ditingkatkan kemampuannya ini sebagai Super Tomcat 2010, atau ST2010.

Peningkatan kemampuan dalam program ST2010 kemungkinan meliputi hal-hal berikut ini:

  • Radar Active Electronically Scaned Array (AESA). F-14 memiliki piringan radar terbesar dari semua pesawat tempur Amerika. Dengan demikian, ST2010 kemungkinan akan memakai AESA paling kuat dari semua Fighter di dunia. Varian radarnya kemungkinan berdasar pada AN / APG-63 (V) 3 yang digunakan oleh Eagle, dengan kapabilitas multi-mode yang ditingkatkan, seperti halnya AN / APG-82 yang diterima F-15E saat ini, tetapi dengan susunan antena yang lebih besar, akan telah menjadi sistem yang paling mungkin untuk memenuhi persyaratan ini. Radome akan sedikit didesain ulang untuk mengakomodasi set radar AESA.
  • AN / APX-111 (V) “pizza box” perangkat identifikasi teman atau lawan (IFF).
  • Kedua awak dilengkapi dengan Digital-Helmet Mounted Cuing System (D-JHMCS II) yang dipasang di helm dengan kemampuan night vision dan punya kemampuan menembakkan AIM-9X.
  • Tampilan kokpit yang ditingkatkan dengan tampilan area luas yang disempurnakan di bagian RIO.
  • Sniper Advanced Targeting Pod menggantikan pod penargetan Ford Aerospace Night Owl atau apa pun yang ada dalam layanan pada saat itu. Nav pod bisa dipasang atau dicopot tergantung pada kebutuhan misi.
  • Beyond-line-of-sight SATCOM mampu memberikan informasi mengenai ancaman paling penting secara real time, blue force tracking, dan informasi penting misi ke Super Tomcat. Super Tomcat kemudian dapat membagikan sebagian informasi itu ke platform lain dengan konektivitas 16 Link. EA-18G Growler punya kemampuan ini, dan yang sekarang digunakan adalah generasi kedua.
  • Missile Approach Warning System (MAWS). Terpasang pada lubang pada hidung bagian atas, pod hidung bagian bawah, leading edge gloves, badan pesawat atas, badan pesawat bawah, dan di atas ekor kembar ST2010, sistem ini memberikan kemampuan deteksi total atas ancaman rudal musuh.
  • Peningkatan kemampuan counter measures AN / ALE-47 yang diperluas.
  • Fully integrated towed fiber-optic decoys yang letaknya di dekat bagian belakang platform bawah-badan pesawat ST2010.
  • Penggantian sistem pencarian dan pelacakan inframerah AN / AAS-44 dengan IRST21.
  • Komputer misi dan prosesor tampilan grafis yang diperbarui.
  • Integrasi persenjataan standoff terbaru seperti Small Diameter Bomb, JSOW, SLAM-ER, WCMD, Laser JDAM, dll.
  • Pembaharuan Sistem peperangan elektronik digital modern yang terintegrasi dan meningkatkan situational awareness, mode perang elektronik AESA, dan banyak lagi. Layar monitor besar pada RIO akan memungkinkan mereka bekerja sebagai manajer misi yang menguasai sensor, peperangan elektronik, informasi data, dan informasi data satelit yang ditampilkan untuk meningkatkan kewaspadaan situasional secara maksimum.
Konsep Super Tomcat 2010

Perbandingan dengan Super Hornet

Tidak ada keraguan bahwa program F / A-18E / F Super Hornet dan E / A-18G Growler sangat mengesankan. Program ini telah memberikan 80% solusi kepada Armada Udara AL Amerika tepat waktu dan sesuai anggaran yang ada secara konsisten selama satu setengah dekade. Jet tersebut relatif dapat diandalkan dan memiliki banyak kesamaan komponen dan karakteristik dengan Hornet lama yang memudahkan awak pesawat dan crew perawatan. Meskipun sebagai pengganti F-14 dan A-6, Super Hornet memiliki kekurangan dalam beberapa hal yang sangat penting, terutama dalam hal jarak dan kecepatan.

Meskipun banyak yang skeptis, namun Super Hornet telah membuktikan diri sebagai pesawat handal dan memiliki cost effectiveness tinggi

Super Hornet, atau “Rhino” seperti yang sekarang sering disebut, memang tidak boros bahan bakar seperti varian A / B / C / D yang lebih kecil, tetapi jangkauan dan daya tahan dianggap masih kurang. Selain itu secara aerodinamis juga tidak sebaik varian terdahulu dengan memakai sayap yang lebih tebal dan badan pesawat yang lebih besar, membuatnya kurang aerodinamis dan efisien dibanding Tomcat atau bahkan Hornet lama dalam hal ini, terutama ketika ada beban yang harus dibawa dibawah sayapnya yang besar. Kelemahan ini sebagian akan terselesaikan dengan memutakhirkan armada Super Hornet yang ada ke konfigurasi Blok III / Advanced, yang memiliki pod senjata dan tangki bahan bakar berkonsep stealth.

Jika konsepnya terwujud Super Tomcat 21 akan memiliki kecepatan dan daya jangkau yang lebih unggul dari Super Hornet

Sebaliknya, F-14 membawa sebagian besar senjatanya dalam ceruk yang menjadi bagian dari keseluruhan desain daya angkatnya, yang membentang di antara dua nacelles mesin jet. Konfigurasi ini sangat mengurangi gaya hambatan dibandingkan dengan pesawat yang membawa senjata mereka di pylon-pylon sayap mereka. Keberadaan sayap yang besar dan surface control super memang membantu manuver Tomcat saat terbang dalam kecepatan rendah, tetapi hal ini menjadi kurang begitu penting dengan adanya perangkat helm mounted sight yang dipasangkan dengan rudal pencari panas yang punya sudut penembakan tinggi. Dengan kata lain, Anda sekarang hanya perlu melihat musuh Anda lebih dulu untuk membunuh mereka dalam pertempuran udara. Singkatnya, Super Hornet adalah kompromi yang efisien dan sangat cerdas, dimana pesawat ini mampu melakukan segalanya, namun juga tidak memiliki spesialisasi kemampuan.

Kesimpulan

Mengambil desain pesawat serang ringan dan mengubahnya menjadi pesawat serang ukuran medium sebenarnya jauh dari ideal. Sementara itu mengambil desain fighter berat dan mengubahnya menjadi fighter yang lebih baik jauh lebih relevan terutama mengingat tantangan unik di masa sekarang. ASF-14 akan menjadi puncak teknologi pesawat tempur non-stealth Amerika, yang menawarkan kecepatan, jangkauan luar biasa, lama pengoperasian, sensor canggih dan kemampuan manuver super dalam sebuah desain yang telah teruji. Faktanya, dengan peningkatan kemampuan yang direncanakan lewat varian ASF-14, “ultra-Tomcat” sebenarnya cukup masuk akal diterapkan mengingat selama 13 tahun terakhir fokus strategis Amerika telah beralih Teater Pasifik yang punya wilayah laut luas. Sayangnya proposal ASF-14 tidak pernah terwujud karena AL AS berpikir bahwa proyek itu akan terlalu mahal dalam jangka panjang dan lebih memilih desain Super Hornet sebagai gantinya. Jadi kini kita telah mendengar tentang betapa hebatnya integrasi avionik pada Super Hornet atau Growler, mungkin kita juga bisa membayangkan seberapa efektif avionik tersebut jika diintegrasikan ke dalam desain pesawat yang dapat membawanya lebih jauh ratusan mil jauhnya dari Armada Kapal Induk dengan kecepatan Super Cruise yang lama.

Super Tomcat 21 kalau jadi diproduksi, berpotensi menjadi monster udara di abad ke-21

Di satu sisi Super Hornet sejauh ini telah membuktikan mampu memberikan performa yang “cukup” dalam memenuhi tuntutan tugasnya sebagai multirole fighter yang menjalankan berbagai peran menggantikan pesawat tempur F-14 sebagai Fleet Defender, A-6 Intruder sebagai pesawat serang, EA-6B Prowler sebagai pesawat perang elektronika, hingga S-3 Viking & KA-6 Intruder sebagai pesawat tanker portable dengan menggunakan satu platform pesawat yang punya tingkat “commonality” tinggi yang mempermudah crew perawatan. Meski banyak yang mencibir keluarga Hornet sebagai “Jack Of All Trades Master Of None” yang menguasai banyak kemampuan, tapi tidak memiliki kelebihan yang menonjol, Super Hornet membuktikan sebagai program dengan “cost effectiveness” tinggi di tengah trend pengetatan anggaran saat ini. Super Hornet hingga saat ini menurut kepala program Super Hornet Boeing tercatat memiliki biaya operasional per jam terendah (setidaknya tergolong rendah) dibanding fighter-fighter lain di Angkatan bersenjata AS yakni sebesar $18,000 per jam. Dengan performa seperti ini tidak mengherankan jika Super Hornet banyak dilirik oleh beberapa kekuatan udara dunia. Australia telah mengoperasikan 24 F/A-18F dan memesan lagi 12 EA-18G Growler sementara Kuwait telah memesan 28 F/A-18 E/F dengan 12 opsi tambahan. Di luar itu Super Hornet juga masuk list program pengadaan di Canada, Finlandia, Jerman, India, Polandia, dan Swiss. Kanada, Finlandia, dan Swiss adalah customer lama Hornet versi terdahulu (seperti Australia dan Kuwait) menunjukkan bahwa negara-negara ini cukup percaya dan puas atas kinerja keluarga Hornet.

Super Hornet Blok III terus siap memenuhi tantangan udara abad ke-21

LCDR Joe “Smokin” Ruzicka, yang merupakan Radar Intercept Officer (RIO) yang menerbangkan F-14 terakhir sebelum pensiunnya Tomcat pada tahun 2006, tahun lalu merilis sebuah wawancara yang menarik dengan Tyler Rogoway dari Foxtrot Alpha. Ruzicka menjelaskan bahwa, Super Hornet adalah pesawat yang hebat, namun kekuatan utamanya berasal dari kecanggihan teknologi, yang amat membantu pilot dalam menerbangkannya. “Sebaliknya untuk menerbangkan Tomcat, saya pikir Anda harus menjadi penerbang yang lebih baik karena teknologi yang dikandung Tomcat tidak bisa memenuhi semuanya. Terserah pada crew yang menerbangkan untuk memaksimalkan kinerjanya (atau sebaliknya malah menghancurkan kinerjanya jika anda adalah pilot yang payah)”. Orang kemudian bertanya-tanya apakah yang akan terjadi jika teknologi hebat yang dimiliki Super Hornet diintegrasikan pada F-14.

Membandingkan Tomcat dan Super Hornet mirip dengan membandingkan Mobil Tangguh dan Mini Van.

Namun kenyataannya tidak satu pun dari proposal semacam itu sempat dibuat dan kita tidak akan pernah tahu apakah Tomcat versi baru itu akan lebih baik daripada Super Hornet yang ada kini, tetapi yang pasti kedua pesawat ini adalah dua pesawat yang berbeda seperti yang dijelaskan oleh Ruzicka, yang mengatakan kepada Rogoway bahwa cara yang lebih baik untuk memahami perbedaan antara F-14 dan F / A-18E / F adalah menggunakan analogi mobil besar “berotot” dengan mini-van, “dengan Tomcat yang pertama dan Super Hornet adalah anlogi yang terakhir. Mobil “berotot” tidak memiliki banyak hal dalam hal teknologi mewah, hanya menawarkan kecepatan kasar dan keperkasaan layaknya film Steve McQueen, tetapi ia tetap dapat menyelesaikan pekerjaannya. Mini-van di sisi lain adalah mobil yang sangat bagus, lengkap dengan DVR untuk anak-anak, penyejuk udara, power window, dan banyak tempat untuk menaruh cangkir minuman anda. Ini adalah mobil yang bagus — tetapi tetap saja sebuah mini-van. “

Super Hornet tercatat memiliki biaya operasional per jam terendah (setidaknya tergolong rendah) dibanding fighter-fighter lain di Angkatan bersenjata AS yakni sebesar $18,000 per jam.

Pada akhirnya gelar kekuatan udara memang tidak hanya ditentukan oleh kegarangan performa dan efek deterrent dari inventory udara yang dimiliki masing-masing negara, tapi juga ditentukan oleh budget dan cost effectiveness dari alutsista yang dimiliki. Mungkin seperti Super Hornet tidak punya performa segarang Super Tomcat atau Su-35 Flanker Family, namun dengan kemampuan rata-ratanya…para pengguna Super Hornet dapat menggelar armadanya lebih sering di waktu kapanpun dan dimanapun ada trouble spot di seluruh dunia dengan tingkat “cost effectiveness” yang dimilikinya……dibanding dengan menggelar pesawat berkemampuan super tapi tingkat kesiapannya rendah.

Belum lagi ini kita masih membicarakan Super Tomcat yang tidak pernah diproduksi vs Super Hornet dan belum melibatkan pembahasan F-35 versi US Navy….bukan begitu?

Patch yang pas “jika saja kamu ada”

Tentang penulis:

Tyler Rogoway adalah jurnalis pertahanan dan fotografer yang mengelola situs web Foxtrot Alpha untuk Jalopnik.com. Anda dapat menghubungi Tyler dengan ide cerita atau komentar langsung mengenai hal ini atau topik pertahanan lainnya melalui alamat email Tyler@Jalopnik.com

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

TOP GUN Day Special: The Super Tomcat That Was Never Built

https://www.google.com/amp/s/foxtrotalpha.jalopnik.com/top-gun-day-special-the-super-tomcat-that-was-never-bu-1575814142/amp

This Is What Grumman’s Proposed F-14 Super Tomcat 21 Would Have Actually Looked Like

https://www.thedrive.com/the-war-zone/29653/this-is-what-grummans-proposed-f-14-super-tomcat-21-would-have-actually-looked-like?xid=fbshare

Here’s Where Boeing Aims To Take The Super Hornet In The Decades To Come

https://www.thedrive.com/the-war-zone/27272/heres-where-boeing-aims-to-take-the-super-hornet-in-the-decades-to-come

The F-14 Tomcats that never were vs F/A-18E/F Super Hornet: who would have won?

https://theaviationist.com/2015/02/25/f-14s-that-never-were/

One thought on “F-14 Super Tomcat 21/ST21 & ASF-14 Super Tomcat: The Fighter that never were

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *