Friendly Fire, Ancaman Terbesar Pilot Tempur Iran di tahun 1980

September 2016 menandai peringatan ke-36 dimulainya Perang Iran-Irak, yang menewaskan ratusan ribu orang antara tahun 1980 dan 1988. Kebanyakan orang tidak tahu bahwa konflik brutal ini juga mencatat sejumlah besar insiden penembakan teman sendiri (friendly fire) di pihak Iran – terutama selama beberapa bulan pertama setelah perang pecah. Fratricide/friendly fire adalah pembunuh terbesar pilot angkatan udara Iran pada tahap awal perang udara yang dimulai pada 22 September 1980 ketika pembom tempur angkatan udara Irak menyerang selusin pangkalan militer Iran secara tiba-tiba. Keesokan harinya, Iran meluncurkan rangkaian serangan terbesar dalam sejarahnya, yang diberi nama “Kaman-99.” Dengan kekuatan sekitar 140 pesawat tempur, AU Iran menghantam pangkalan udara Irak dan garnisun tentaranya tanpa kehilangan satupun pesawat akibat tembakan musuh. Selama operasi, F-14 Iran berhasil menembak jatuh 2 MiG-21 Irak (1 MiG-21RF dan 1 MiG-21MF) dan 3 MiG-23M Irak (MiG-23MS), sebuah F-5E Iran juga berhasil menembak jatuh sebuah Su-20 Irak. Menurut pengakuan Iran semua Pangkalan Udara Irak di dekat Iran rusak selama berbulan-bulan dan, efisiensi kekuatan udara Irak menjadi berkurang 55%. Tetapi pada saat armada pesawat mereka kembali dari serangan, banyak yang menjadi korban tembakan rekan mereka sendiri karena kurangnya koordinasi, perintah dan kontrol yang buruk serta kepanikan mendalam yang telah menghinggapi pasukan Iran di darat.

Para pilot Iran dalam Perang Iran-Irak (1980-1988). AU Iran yang merupakan kebanggaan Shah Iran, setelah revolusi mengalami penurunan tingkat operasional yang tajam. (Sumber: http://ww2talk.com/i)
Dalam Operasi Kaman 99 tanggal 23 September 1980, Iran mengerahkan 140 pesawat tempurnya. Menurut pengakuan Iran semua Pangkalan Udara Irak di dekat Iran rusak selama berbulan-bulan dan, efisiensi kekuatan udara Irak menjadi berkurang 55%. (Sumber: https://kavehfarrokh.com/)

Pertahanan udara Iran menjelang Perang

Iran memulai perang sebenarnya dengan dilengkapi sistem rudal anti pesawat kelas medium HAWK yang cukup mumpuni. Iran juga menggunakan sistem SAM jarak pendek Tigercat dan meriam Oerlikon yang dikendalikan oleh radar Super Fledermaus untuk mempertahankan pangkalan udara mereka. Diluar itu Iran juga menggunakan sekitar 300 rudal anti pesawat portable RBS-70 yang diperolehnya dari Swedia, tetapi hanya dengan pasokan terbatas. Rudal darat-ke-udara utama Iran lainnya adalah SA-7 yang bisa ditembakan dari bahu seorang prajurit, dan Iran menggunakannya untuk pertahanan wilayah dan aset-aset kunci seperti fasilitas minyak. Untuk artileri anti pesawat Iran memiliki sekitar 1.800 senjata kaliber 23mm, 35mm, 40mm, 57mm, dan 85mm senjata AA dan berbagai senapan mesin ketika perang dimulai, dengan kira-kira 100 tipe ZSU-23-4 dan ZSU-57-2 senjata AA self-propelled. Namun karena pengaruh pembersihan crew-crew terlatih yang dicurigai memiliki kaitan rezim lama, hal ini turut menghancurkan struktur serta efektifitas dari unit-unit pertahanan udara Iran. Satuan-satuan pertahanan udara Iran gagal dalam mengkoordinasikan proses deteksi dini dan mengontrol wilayah udara mereka dengan sistem yang efektif dan efisien. Hal ini ditambah dengan kualitas prajurit mereka yang jauh menurun akibat revolusi dimana banyak prajurit profesional yang memiliki kemampuan tinggi disingkirkan atau dieksekusi, sehingga mereka terpaksa mengandalkan prajurit Pengawal Revolusi Islam, yang meski militan namun kurang memiliki kepemimpinan dan kualifikasi militer profesional. Berbagai problem yang diderita oleh militer Iran pada umumnya dan satuan pertahanan udara mereke khususnya, telah menyebabkan banyak insiden friendly fire selama perang.

Setelah Revolusi 1979, militer Iran banyak mengandalkan prajurit dari pengawal revolusi, yang meski militan namun kualitas militernya dipertanyakan. (Sumber: https://defence.pk/)
Pasukan Pengawal Revolusi Iran dengan senjata anti pesawat ZU 23-2. Senjata anti pesawat Iran banyak merontokkan pesawat-pesawat AU Iran di hari-hari pertama perang. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Friendly Fire

Insiden friendly fire Iran mencatat paling banyak korban pada pesawat tempur F-4D/E dan F-5E Iran beserta pilot mereka yang menerbangkan misi dukungan udara di garis depan yang intensif. Pada 21 September 1980, pasukan Iran menembak jatuh setidaknya empat F-5E milik mereka sendiri. Dalam sebagian besar waktu terbangnya, pilot Iran tidak dapat terbang di ketinggian yang lebih aman karena ancaman senjata anti pesawat Irak yang berlapis dan harus kembali ke pangkalan dengan terbang di ketinggian 100 atau 200 kaki di atas tanah. Hal ini akan membuat para penembak di satuan anti pesawat Iran yang gugup akan menembaki pesawat mereka hingga hancur … dan kemudian akan terus menembaki pilotnya pada saat mereka terjun dengan parasut. Catatan menunjukkan bahwa angkatan udara Iran kehilangan 67 pilot tempurnya dalam sekitar 1.000 misi serangan udara jarak dekat antara 22 September dan 23 Oktober tahun pertama perang. Dari jumlah tersebut, 39 adalah kru F-4D/E dan 28 lainnya adalah pilot F-5E. Tiga puluh jatuh di atas wilayah yang sangat diperebutkan di Iran barat daya – banyak yang jatuh setelah diserang oleh tembakan Iran. Kemalangan-kemalangan ini jelas semakin melemahkan kekuatan AU Iran yang pada saat awal perang karena pembersihan di lingkungan AU oleh rezim baru dan embargo memiliki sekitar 180 Phantom yang masih operasional dari total sekitar 225 Phantom yang mereka beli dari akhir tahun 1960an sampai tahun 1970an. Sementara itu Iran setidaknya memiliki sekitar 160an F-5E/F Tiger sebelum revolusi pecah tahun 1979.

F-4 Phantom AU Iran melakukan pengisian bahan bakar di udara. Antara 22 September – 23 Oktober 1980 Iran kehilangan 39 crew F-4D/E Phantom akibat Friendly Fire. (Sumber: Pinterest)
Armada F-5 E AU Iran dan Crew nya. Antara 22 September dan 23 Oktober, sebanyak 28 pilot F-5E Iran menjadi korban Friendly Fire. (Sumber: https://fighterjetsworld.com/)

Ironisnya adalah bahwa pilot pesawat tempur-pembom angkatan udara Iran sebenarnya merasa lebih aman saat mereka melakukan serangan jauh di dalam wilayah ruang udara Irak. Diperkirakan sekitar 44 pilot Iran terbunuh atau ditangkap ketika melakukan serangan “misi khusus” di wilayah Irak dalam periode yang sama. Kontributor utama insiden “blue on blue” adalah karena kurangnya komando dan kontrol yang efektif. Ditambah lagi dengan kombinasi mematikan dari kepanikan yang telah menimpa para pengawal revolusi Islam yang setelah menerima sangat sedikit pelatihan, akan menembak apa pun yang terbang di atas kepala mereka, baik kawan atau lawan. Kurangnya koordinasi antara unit yang berbeda yang bertanggung jawab untuk pengelolaan wilayah ruang udara Iran akhirnya turut merenggut korban wakil komandan angkatan udara Iran Kolonel Abbas Babaei. Dia ditembak jatuh dan dibunuh oleh unit artileri anti-pesawat ketika menerbangkan misi kontrol udara garis depan di kursi belakang dari pesawat F-5F pada bulan Agustus 1987. Karena kerugian yang dialami selama perang dan banyaknya insiden friendly fire, akibatnya pada pertengahan tahun 1980-an terjadi krisis pesawat tempur di Iran, dimana F-4 D/E Phantom yang selama ini menjadi tulang punggung operasi udara Iran selama perang, hanya tersisa sekitar 20-30 pesawat yang masih bisa terbang.

Dipandu untuk sergap kawan sendiri

Dalam banyak kesempatan, pesawat tempur Iran malah dipandu untuk menyergap pesawat kawan sendiri. “Lebih sering daripada tidak, komunikasi yang tertunda antara pesawat angkut militer kami yang terlibat dalam misi pengintaian/medevac dengan stasiun-stasiun radar pengontrol darat, sering mengakibatkan pesawat tempur kami yang sedang di udara atau yang terbang dari landasan diarahkan untuk mencegat pesawat-pesawat yang ‘tidak dikenal’ ini,” kata pilot F -14 Iran sekaligus Double Ace, Kolonel “Ferry” Mazandarani. “Dalam salah satu insiden semacam ini pada akhir Oktober 1980, sebuah pesawat tak dikenal muncul di radar F-14 saya ketika saya menerbangkan pesawat tempur untuk melaksanakan misi patroli udara di sebelah barat pangkalan udara Dezful di barat daya Iran. Pesawat yang tidak dikenal itu berada 120 mil di sebelah barat posisi saya dan sistem identifikasi radio tidak dapat memberi tahu saya apakah pesawat ini pesawat kawan atau lawan. “Karena itu saya menyampaikan informasi kecepatan, arah dan ketinggiannya ke dua radar (ground-control-intercept) yang berbeda untuk memverifikasi ulang statusnya. Kedua pengendali GCI segera menyatakannya sebagai pesawat musuh/bandit dan memerintahkan kami untuk mencegatnya. Petugas radar saya, Letnan Satu Y. Ahmadi dan saya kemudian menyiapkan sistem untuk melakukan penyergapan di luar jangkauan visual sambil merencanakan kemungkinan perlunya serangan ulang jika seandainya rudal yang kami lepaskan meleset. “Sekitar 70 mil dari target, saya menyadari pesawat asing ini tetap menjaga kecepatan dan ketinggian terbangnya 500 kaki. Dari fakta-fakta ini, membuat saya menghubungi stasiun GCI sekali lagi untuk mendapatkan konfirmasi lebih lanjut. Responsnya sama. ‘Itu adalah bandit dan anda punya kewenangan untuk menembaknya. “ Meski saya bisa saja meluncurkan AIM-54 Phoenix ke pesawat yang terbang rendah, dengan kecepatan dan ketinggian seperti itu, namun saya ragu-ragu. Saya ingin Kashget/identifikasi visual dengan pesawat itu.

Karena kurangnya koordinasi banyak F-14 Iran malah dipandu untuk menyergap pesawat sendiri selama perang. (Sumber: https://www.flying-tigers.co.uk/)

“Perwira radar saya memprotes. Namun saya beralasan bahwa ini bukan saatnya untuk harus membuang Rudal Phoenix yang mahal pada pesawat yang tidak berdaya. Saya berkata, “Mari kita tembak dia dengan kanon.” “Sekitar 12 hingga 15 mil, saya bisa melihat “bandit” itu terbang dekat ke sisi pegunungan. Saya tidak bisa mengidentifikasi tipe pesawatnya tetapi cat kamuflase terlihat jelas. lewat sebuah belokan lebar menempatkan saya tepat di belakangnya dan kami mencapai sekitar delapan mil dari pesawat itu ketika saya tiba-tiba berteriak pada RIO saya melalui interkom. ‘Jangan menyentuh apa pun. Ini adalah salah satu F-4 kita. ” “Saya melepaskan sistem senjata dan dengan lembut membawa pesawat saya ke sisi samping pesawat itu dan bertukar isyarat tangan dengan awak pesawat pembom tempur yang (ternyata) rusak parah itu.” Keputusan bijak dari Mazandarani ini mungkin saja telah membantu menyelamatkan nyawa pilot F-4E yang pesawatnya rusak parah yang perangkat IFF serta radionya tidak bisa dioperasikan karena tembakan dari darat. Mereka beruntung.

Problem yang masih berlanjut

Namun, hanya ada satu kasus duel udara-ke-udara antara dua pesawat Iran selama perang dengan Irak. Pada 16 Maret 1985, sebuah F-4E dari pangkalan udara Hamedan yang dikemudikan oleh Kapten B. Akbari menembak jatuh sebuah F-4E lain dari pangkalan udara yang sama di garis depan. Baik pilot dan petugas sistem senjata di kursi bagian belakang dapat keluar dengan parasut, tetapi penembak di darat terus membidik dan membunuh pilotnya, Kapten Fath-Nejad, saat ia terjun payung. WSOnya selamat dengan mengalami cedera ringan. Kisah insiden friendly fire ini terus menjadi ancaman bagi angkatan udara Iran selepas perang. Ada banyak desas-desus tentang apa yang sebenarnya menyebabkan sebuah F-14A dengan nomor seri 3-6062 terbakar di atas fasilitas nuklir Bushehr pada tahun 2012. Sementara satu pihak dengan keras menuding masalah sakit vertigo pilot sebagai penyebab atas kecelakaan itu, namun di pihak lain dengan penuh semangat menyalahkan baterai rudal pertahanan udara Tor-M1 Pengawal Revolusi Islam atas kecelakaan mengerikan itu.

Pada tahun 2012 muncul desas-desus adanya F-14A dengan nomor seri 3-6062 terbakar di atas fasilitas nuklir Bushehr. (Sumber: https://www.flying-tigers.co.uk/)
Sistem SAM Tor-M1 Pengawal Revolusi Islam Iran dituding menjadi penyebab terbakarnya F-14A AU Iran pada Insiden tahun 2012. (Sumber: https://nelsa1412.wordpress.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

In 1980, Friendly Fire Was One of the Biggest Killers of Iranian Fighter Pilots by Ryan Kash author of Air Combat Memoirs of the Iranian Air Force Pilots; 21 May 2018

The Lessons of Modern War-Volume II, The Iran-Iraq War

https://csis-prod.s3.amazonaws.com/s3fs-public/legacy_files/files/media/csis/pubs/9005lessonsiraniraqii-chap13.pdf

https://en.m.wikipedia.org/wiki/McDonnell_Douglas_F-4_Phantom_II_non-U.S._operators

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Northrop_F-5

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Islamic_Revolutionary_Guard_Corps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *