FV 4201 Chieftain, Salah Satu Tank Terkuat Di Dunia Asal Inggris Era 1960-1970an

Tank Chieftain adalah pengembangan dari Tank legendaris Centurion (A41), yang memperkenalkan pada dunia konsep Tank Tempur Utama (Main Battle Tank/ MBT) pada tahun 1945. Centurion kemudian digunakan dalam Perang Korea, Perang India vs Pakistan dan lalu mendominasi medan perang di Timur Tengah saat dipakai oleh Israel, serta meriam utamanya telah digunakan sebagai “standar” NATO selama Perang Dingin. Namun, langkah cepat Soviet dalam hal desain amunisi memicu dilakukannya studi untuk membuat tank tempur utama baru yang bertujuan untuk melampaui semua spesifikasi dan menjadi referensi baru desain tank dalam Perang Dingin. Dan pada tahun 1966, ketika mulai beroperasi, Chieftain memang merupakan tank tempur utama yang paling tangguh di dunia. Meriam Royal Ordnance L11A5 kaliber 120 mm (4,72 in) yang dipasang dan dirancang secara khusus pada Chieftain lalu menjadi kaliber standar meriam NATO yang baru. Kecepatan lintas medannya dinilai lebih baik daripada Centurion, dan bisa mempertahankan kemampuannya ini lebih lama dari tank Leopard I, yang lebih ringan. Chieftain juga memiliki sistem proteksi armor terbaik pada saat itu. Lapisan Armor Chobham yang kemudian diujicobakan pada prototype Chieftain lalu akan menjadi tonggak penting dalam pengembangan sistem proteksi pada tank negara-negara Barat.

Sebuah tank Chieftain Mark 11 di Bovington Tank Museum tahun 2013. Pada masanya Chieftain adalah tank terkuat di dunia dan membuat standar baru dalam teknologi tank tempur utama negara-negara NATO. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN

Chieftain berasal dari desain tank baru karya British Leyland, yang mulai dikerjakan sedari tahun 1950, ketika War Office meminta desain tank pengganti Centurion, dan dikenal sebagai Medium Tank No. 2. Tank Centurion itu sendiri sebenarnya tidak dipandang sebagai sistem senjata yang ideal sejak kemunculannya, terutama dari sisi persenjataan meriam utamanya, karena meski masih mampu menangani tank-tank T-34 yang bermeriam kaliber 85 mm dan T-54 yang bermeriam kaliber 100 mm dengan meriam L7 kaliber 105 mm-nya, namun tank-tank berat Soviet telah dipersenjatai dengan meriam kaliber 122 mm (4,8 in) seperti tank IS-3 dan model berikutnya sampai tank T-10. Tank berat British Conqueror (buatan tahun 1955) kemudian mencoba merespon ancaman ini dengan menggunakan meriam berkecepatan tinggi, berkaliber 120 mm (4,72 in), tetapi tidak mengherankan, karena bobotnya yang terlampau berat, tank ini gagal dalam aspek mobilitasnya. Dengan pengalaman ini, maka diputuskan bahwa desain tank berikutnya harus memiliki senjata yang lebih berat (dibanding Centurion), namun harus memiliki mobilitas lebih baik alias berusaha menggabungkan keunggulan dari tank Conqueror dan Centurion. Spesifikasi dari Staf Umum menyatakan bahwa tank tersebut diharapkan mampu menghadang musuh dari jarak jauh, dari posisi bertahan, dan kebal terhadap tembakan artileri kaliber menengah. Untuk tujuan ini, meriam tank itu harus memiliki sudut depresi yang lebih besar daripada 8 derajat yang ada pada Conqueror dan akan dilengkapi dengan lapisan armor pelindung bagian depan yang lebih baik. Tank itu juga diharapkan bisa mencapai kecepatan tembak 10 peluru per menit di menit pertama dan enam peluru per menit untuk empat penembakan berikutnya. Untuk mencapai spesifikasi ini ada dua fitur utama harus disertakan dalam desain tank baru ini, yakni: menggunakan meriam utama baru tipe L11 berkaliber 120 mm (4,72 in), dan memiliki perlindungan oleh lapis baja berpenampang miring baru yang lebih tebal, yang mampu menahan hantaman dari amunisi HEAT (High Explosive Anti Tank) Soviet baru dan peluru AT (Anti Tank) yang kemampuannya ditingkatkan. Tank itu juga harus dilengkapi dengan mesin Leyland L60 yang baru. 

Tank Centurion IDF. Meski tank Centurion terhitung sukses besar, namun tank ini dipandang bukan merupakan desain tank yang sempurna. Hal ini kemudian memicu Inggris untuk mendesain tank Chieftain, yang diharapkan mampu mengatasi kelemahan-kelamahan yang ada pada Centurion. (Sumber: https://hipwallpaper.com/)
Tank T-10 Soviet yang memiliki kaliber meriam 122 mm. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Masalahnya, setidaknya selama dua puluh tahun Chieftain dianggap tidak berhasil memenuhi “magic triangle” desain tank dalam hal persenjataan-armor-kecepatan sebaik yang dimiliki Centurion, karena mesin baru yang digunakannya dan lapisan armornya tidak memenuhi power-to-weight ratio yang memadai. Meskipun memiliki mobilitas yang sangat baik, Chieftain adalah salah satu yang paling lambat dari MBT NATO dalam Perang Dingin, seperti tank Patton Amerika lebih cepat dan punya power-to-weight ratio yang lebih baik (bahkan dari sisi rasio ini, Centurion lebih baik dengan perbandingan 11.1 hp (8.3 kW)/ton vs 13 hp (9.2 kW)/ton). Kondisi ini baru berubah saat tank Challanger penggantinya muncul. Desain FV 4201 dimulai pada tahun 1958. Beberapa prototipe pertama tersedia untuk diuji coba pada tahun 1959 yang mengidentifikasi sejumlah perubahan. Perbaikan kemudian dikerjakan untuk mengatasi getaran dan perangkat pendinginan mesin menghasilkan desain ulang pada lambung bagian belakang.

Tank berat Inggris Conqueror yang menjadi jawaban untuk menghadapi tank-tank berat Soviet yang memiliki meriam kaliber besar. Sayangnya Conqueror memiliki mobiltas yang kurang baik. (Sumber: https://www.goodfon.com/)
Prototipe Chieftain P5 pada tahun 1962 (Sumber: British Leyland/https://tanks-encyclopedia.com/).

Perbaikan ini meningkatkan bobot desain menjadi hampir 50 ton dan karenanya suspensi (yang telah dirancang untuk menahan beban 45 ton) diperkuat. Trackpad juga harus dipasang untuk melindungi jalan dari kerusakan dan ground clearance-nya ditingkatkan. Desain tank ini kemudian diterima pada awal 1960-an. Sementara itu pada periode yang sama, Inggris dan Israel telah sepakat untuk berkolaborasi dalam pengembangan di tahapan terakhir tank ini, dengan maksud agar Israel lalu bisa membeli dan memproduksi tank ini di dalam negeri. Dua prototipe sempat dikirim sebagai bagian dari uji coba selama empat tahun. Namun, akhirnya Inggris memutuskan untuk tidak menjual tank tersebut kepada Israel (karena, pada periode waktu di akhir tahun 1960-an, Inggris lebih memilih bersahabat terhadap negara-negara Arab dan Yordania daripada ke Israel), yang pada akhirnya mendorong Israel untuk mengembangkan tank mereka sendiri. Di Inggris, enam prototipe tank lainnya dan rangkaian 40 tank pra-produksi mengikuti dibuat dari tahun 1961 hingga 1963. Akhirnya tank baru ini diterima untuk resmi dioperasikan pada bulan Mei 1963, dan secara resmi diberi nama Chieftain MBT, yang disertai dengan pesanan produksi sebanyak 770 unit. Pada tahun 1966 versi Mk.I pertama memasuki dinas operasional aktif penuh dengan unit tank Inggris. Secara total 870 tank Chieftain kemudian dioperasikan oleh Angkatan Darat Inggris dan menjadi tank tempur utama mereka sampai diperkenalkannya tank Challanger pada tahun 1983. Tank ini kemudian terus beroperasi di AD Inggris hingga sepenuhnya diganti oleh tank Challanger 2 pada tahun 1996.

DESAIN

Tank Chieftain muncul dengan desain lambung dan turret baru dibanding dengan desain tank Centurion. Terlepas dari desain rantai roda (track) dan beberapa elemen wheel train dan beberapa bagian mekanis yang dihubungkan ke mesin baru, tidak ada bagian lain yang memiliki kemiripan dengan Centurion. Desain awal dari Chieftain menggabungkan beberapa fitur unik, termasuk turret tanpa mantel, yang memungkinkan sudut depresi yang lebih superior. Turretnya memiliki kemiringan yang baik dan terhitung lapang, memungkinkan loader, komandan, dan penembak ditempatkan dengan nyaman. Lampu sorot infra merah besar dipasang di sisi kiri turret. Peluncur granat asap dipasang di bagian depan turret, sedangkan bagian belakang memiliki ruang besar untuk menampung suku cadang dan amunisi, sekaligus bertindak sebagai proteksi ekstra. Kotak tempat penyimpanan besar juga dipasang di penutup track, dan setelah digunakan pada tahun 1966, side skirt ditambahkan untuk melindungi bagian utama track. Beberapa sumber melaporkan bahwa tank ini dapat dilengkapi dengan kit bilah dozer, perangkat penyapu ranjau dan perangkat untuk menyeberangi air. Bahkan ada kit pelampung yang dikembangkan khususvuntuk tank ini. Chieftain dioperasikan oleh 4 orang awak, yang terdiri dari komandan, penembak, pemuat amunisi dan pengemudi. Pengemudi duduk di bagian depan-tengah lambung tepat di depan ring turret. Tiga awak yang tersisa – komandan tank, penembak dan pemuat amunisi – ada di posisi dalam turret. Komandan dan penembak dikelompokkan, duduk bersama-sama dengan komandan di belakang, secara tradisional di sepanjang sisi kanan turret dengan loader di sisi kiri turret. Komandan dan pemuat masing-masing diberi akses palka di sepanjang atap turret seperti halnya pengemudi dengan palka di lambung depan. Ruang para kru dianggap agak cukup nyaman. Awak dikabarkan juga bisa tinggal di dalam tank selama 24 jam dan bahkan lebih lama. Tank itu diketahui memiliki perangkat bejana pemanas – alat untuk mendidihkan air guna menyeduh teh, sebuah tradisi yang sangat khas Inggris. Perangkat itu juga sering digunakan untuk memanaskan ransum makanan para crew. Jangkauan operasional dari tank Chieftain adalah 250 hingga 310 mil (500 km) tergantung pada medan dan kebiasaan mengemudi. Tank ini dapat mengarungi air setinggi 1,066 meter (dibantu oleh “splash board” terintegrasi yang bisa diidentifikasi di sekitar dan di depan area pengemudi) dan melintasi parit selebar 3,149 meter, serta tanjakan dengan gradien 60% juga bisa dilewatinya.

Layout Tank Chieftain. (Sumber: https://www.deviantart.com/)
Pada masanya, interior tank Chieftain terhitung lega dan nyaman. Para crew kabarnya dapat bertahan di dalam tank dalam waktu 24 jam. (Sumber: https://chicospans.artstation.com/)
Tank Chieftain unjuk kebolehan dalam melintasi medan menanjak. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Mobilitas

Tank Chieftain Mk.I dilengkapi dengan mesin Leyland opposed-piston two-stroke diesel L60, sebuah desain terobosan pada masanya untuk memungkinkan penggunaan berbagai tipe bahan bakar. Tetapi mesin ini terbukti tidak dapat diandalkan dan tidak cukup bertenaga untuk memungkinkan tank mendapatkan kecepatan bagus, dengan rata-rata kecepatan sebesar 19-22 mph (30-35 km / jam). Ciri khusus dari mesin ini adalah, untuk memperoleh pembakaran yang baik, penundaan pengapian perlu dikurangi, sehingga membutuhkan suhu internal di dalam silinder setelah proses kompresi lebih tinggi dari biasanya. Penelitian dari mesin ini dimulai pada tahun 1952 dan menyebabkan diadopsinya keluarga mesin piston 6 silinder, seperti mesin truk two stroke, Rootes TS-3, pada tahun 1956. Yang terakhir terinspirasi dari LM L60, tetapi dengan tata letak mekanis yang berbeda. Di TS-3 piston yang dihubungkan oleh rocker lever ke crankshaft tunggal, sedangkan L60 mengambil konsep seperti mesin diesel Junkers Jumo tahun 1930-an, dengan dua crankshaft yang disatukan. Mesin tersebut kemudian dikawinkan dengan transmisi semi-otomatis yang memiliki 6 pengaturan kecepatan untuk gerak maju dan 2 untuk kecepatan mundur. Mesin dan transmisi dirancang agar dapat diganti dengan cepat. Menariknya ada juga unit tenaga tambahan, yang memililiki kekuatan 30 hp. Elemen lain yang dipertahankan dari tank Conqueror adalah penggunaan suspensi Horstmann. Suspensi semacam itu menawarkan banyak keunggulan dibandingkan sistem batang torsi termasuk suspensi yang lebih tahan lama dan perawatan yang lebih mudah. Suspensi Horstmann digunakan oleh banyak kendaraan lapis baja Inggris, termasuk tank Centurion dan Challenger 1, Warrior IFV, sistem artileri berpenggerak mandiri AS90, kendaraan zeni lapis baja Terrier. Tetapi desain mesin ini mengalami masalah tekanan termal yang cukup besar. Solusi teknis yang diadopsi untuk mesin diesel kemudian terbukti tidak sesuai untuk penggunaan multifuel dan mencegahnya mencapai output yang direncanakan sebesar 700 hp tanpa konsekuensi buruk bagi untuk piston dan lapisan silindernya. Masalah-masalah ini dengan ditambah bobot keseluruhan tank menghasilkan tingkat kerusakan hingga 90% dalam latihan untuk seri tank Mark I, yang mana masalah ini tidak pernah benar-benar terpecahkan, tetapi kemudian output mesin dinaikkan pada tahun 1967. 

Mesin Leyland L60 dengan salah satu radiator dalam posisi terangkat, ditampilkan di museum tank Bovington. Reliabilitas buruk dari mesin Leyland menjadi kelemahan utama dalam desain tank Chieftain. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Setelah itu, lapisan armor dan peralatan tambahan menambahkan bobot mereka sendiri ke dalam masalah tersebut. Pada tahun 1974, varian mesin Belzona yang baru diperkenalkan, dimana mesin ini menghasilkan output kekuatan 850 hp, yang merupakan peningkatan besar dibandingkan versi BL asli yang hanya punya kekuatan maksimal 450 bhp. Kecepatan akhir yang diperoleh tank adalah sekitar 48 km / jam (30 mph) di jalan raya, tetapi ini masih di bawah performa Challenger dan hal ini menentukan penggunaan taktis tertentu dari tank ini saat beroperasi bersama tank Challanger yang baru. Output tenaga mesin dalam tank Chieftain diteruskan ke sprocket penggerak belakang, yang dibantu dengan perangkat supine driver’s “hot-shift” epicyclic gearbox. Bobot keseluruhan tank didistribusikan di antara enam roadwheel ganda, tiga return rollers ganda dan satu idler di tiap sisinya. Namun, suspensi yang digunakan adalah tipe Horstmann yang sama dengan Centurion, tetapi kurang cocok untuk mesin diesel L-60. Yang terakhir dikembangkan secara khusus sebagai mesin yang ideal untuk memenuhi permintaan kontemporer untuk penggunaan berbagai jenis bahan bakar, karena konfigurasi pistonnya. Tapi pilihan ini menimbulkan masalah inheren yang merepotkan, sebuah fakta yang akan muncul kemudian hari. Mesin ini dibenci para kru Chieftain, dan sebagai akibatnya, tank Chieftain memiliki tingkat kesiapan operasional rendah, yakni hanya 32-35% pada waktu tertentu, karena sebagian besar waktu tank ini dihabiskan di bengkel untuk memperbaiki mesinnya. Selain itu, dibutuhkan waktu 8 jam bagi mekanik untuk melakukan modifikasi pada tank agar dapat menggunakan bahan bakar jenis lain selain solar.

Tank T-64 Soviet yang turut memakai desain mesin multifuel. (Sumber: https://www.goodfon.com/)
Tank AMX-30 asal Prancis yang sama-sama menghadapi problem penggunaan mesin multifuel. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Mesin Leyland L60 yang sama, meskipun dalam versi yang diturunkan kemampuannya, juga digunakan pada tank Vickers Mk.1 dan pada tank tempur utama India, Vijayanta. Menariknya, Soviet justru memilih menyalin konsep desain mesin multifuel Inggris yang gagal ini dan memasangnya di tank T-64 mereka. Masalah serupa dalam penggunaan mesin Diesel Leyland L.60 oleh Inggris juga, terlihat juga di Prancis dengan mesin diesel Hispano-Suiza HS 110 yang digunakan oleh tank AMX-30 Prancis. Mesin ini memang membantu mencapai tujuan NATO tahun 1957 untuk bisa menggunakan berbagai tipe bahan bakar mulai dari bahan bakar mesin diesel ringan hingga bahan bakar untuk penerbangan ber-oktan tinggi (AVTAG / JP-4). Tetapi, dalam hal ini, proses pengisian bahan bakar dan pelatihan membutuhkan panduan ekstra, sementara dalam hal pemeliharaan menimbulkan masalah dan proses pembakaran sempurna pada mesin terkadang sulit dicapai tanpa penundaan, terutama untuk bahan bakar beroktan 80. Mesin multifuel AMX-30 terbukti sama-sama merepotkan dalam hal ini. Sementara itu, dengan latihan taktis bertahun-tahun dan pemahaman kebatasan desainnya yang diketahui dengan baik, tank Chieftain terbukti menjadi aset yang tangguh dalam arsenal Angkatan Darat Inggris. 

Persenjataan 

Kecepatan tembak dan akurasi meriam utama baru Royal Ordnance L11A5 yang digunakan, dengan mudah mengimbangi kekurangnya mobilitas dari tank Chieftain awal. Meriam ini adalah versi perbaikan dari meriam L11 kaliber 120 mm yang bertipe rifled (laras beralur) dan sepenuhnya distabilisasi, yang dikembangkan untuk tank berat Conqueror. Penggunaan kaliber ini, secara teknis mengungguli kaliber meriam yang umumnya digunakan oleh tank-tank negara-negara NATO yang masih menggunakan meriam kaliber 105 mm (seperti tank M60, Leopard I, dan AMX-30) dan T-62 Pakta Warsawa yang masih memakai kaliber 115 mm (hingga hadirnya tank T-64/72 yang memakai meriam smoothbore kaliber 125 mm). Meriam ini dilengkapi dengan selubung termal. Meriam ini diisi secara manual, dengan laju penembakan rata-rata 8 peluru per menit. Meriam ini menembakkan amunisi terpisah dengan muatan propelan yang mudah terbakar. Inggris bersikeras menggunakan dua bagian amunisi terpisah dengan proyektil dan propelan, berlainan dengan model amunisi tank tunggal yang digunakan oleh tank-tank lain umumnya. Meski demikian cara ini dapat meningkatkan kapasitas muat amunisi dan daya tahan tank karena muatan kantong bahan peledak disimpan di lambung di bawah cincin turret di bagian tank yang berlapis baja paling tebal. Muatan peledak tersebut disimpan dalam tempat yang dilapisi oleh glikol, oleh karena itu kemungkinan besar tidak akan meledak, sementara proyektil disimpan di sekitar turret. Pengaturan ini benar-benar nyaris aman dan tidak akan meledak bahkan jika turret bisa ditembus.

Meriam Royal Ordnance L11A5, yang bertipe rifle dan digunakan sebagai senjata utama dari tank Chieftain. (Sumber: https://weaponsystems.net/)
Interior tank Chieftain yang menggambarkan loader meriam. Pengaturan amunisi tank Chieftain dan proses penyimpanannya sangat memperhatikan faktor proteksi awaknya. (Sumber: https://worldoftanks.com/)

Turret dipasang, sejak awal, dengan senjata coaxial senapan mesin L7 dan kemudian L8A1 kaliber 7,62 mm (0,30 in), dengan sebuah senapan mesin pengukur jarak Marconi FV / GCE Mk.IV A kal.50 (12,7 mm) dipasang di atas meriam utama, yang mampu menjangkau hingga jarak 2400 meter (1,49 mil), meski jangkauan umumnya adalah 1800 m (1,2 mil). Tetapi pada jarak 2000+ meter senapan mesin secara praktis tidak dapat digunakan, dan penembak harus bergantung pada pembesaran visual, kemampuan penglihatan dan keterampilannya sendiri. Senapan mesin koaksial yang dipasang di turret dan dimaksudkan untuk menjaga infanteri musuh tetap ada di jarak yang aman dari kemungkinan mengganggu tank. Senapan mesin 7.62mm kedua dipasang di cupola komandan untuk pertahanan melawan pasukan infanteri dan ancaman pesawat yang terbang rendah. Tank Chieftain bisa membawa 6.000 butir amunisi kaliber 7.62mm dan 300 butir amunisi 12,7 mm. Menariknya tidak seperti tank lain yang menggunakan kaliber yang sama kemudian, meriam kaliber 120 mm Chieftain tidak dapat menggunakan amunisi tipe shaped charge (HEAT/High Explosive Anti Tank). Sebagai gantinya tank Inggris ini menggunakan amunisi Armor-Piercing Discarding Sabot (APDS), Armor-Piercing Fin-Stabilized Discarding Sabot (APFSDS) dan amunisi High Explosive Squash Head (HESH) untuk melawan target-target lapis baja.

Selain meriam kaliber 120 mm, tank Chieftain dibekali dengan 2 senapan mesin kaliber 7,62 mm dengan 6.000 butir amunisi yang bisa dibawanya. Seperti pada gambar sebuah senapan mesin terpasang pada cupola komandan tank. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Total ada 62 – 64 (pada varian akhir) peluru meriam yang dibawa Chieftain (meskipun maksimum 36 peluru tipe APDS yang bisa dibawa, dibatasi oleh tempat penyimpanan propelan). Jangkauan dari peluru APDS adalah 3.000 meter (3.300 yd) sementara Kecepatan maksimumnya adalah, 4.495 kaki / s (1.370 m / s). Sedangkan Jangkauan peluru tipe (HESH) adalah 8.000 meter (8.700 yd), sedangkan kecepatan maksimumnya adalah 2.198 kaki / s (670 m / s). Berbagai tipe amunisi meriam tank Chieftain secara umum dapat digunakan untuk menaklukkan lapisan armor setebal 115-150mm RHA pada sudut 60°, cukup ampuh Untuk menghancurkan tank sekelas T-62 Soviet. Secara umum butuh lebih banyak waktu untuk membidik target secara berurutan dibandingkan dengan sistem kontrol penembakan kontemporer tank Leopard 1, yang didasarkan pada perangkat pengukur jarak optik. Semua ini dan pengembangan perangkat lainnya yang lebih akurat untuk menentukan jangkauan target, membatasi penggunaan senapan mesin pengukur jarak, hingga hanya digunakan pada tiga jenis tank utama. Yang pertama adalah Centurion, versi meriam kaliber 105 mm (4,13 in) yang kemampuannya telah ditingkatkan mulai menggunakan senapan mesin pengukur jarak mulai tahun 1962. Pada saat itu senapan mesin pengukur jarak kaliber 12,7 mm (0,5 in) juga telah diadopsi untuk Chieftain, yang terus diproduksi dengan perangkat itu sampai pertengahan tahun 1970-an.

Proteksi

Chieftain memperkenalkan posisi pengemudi yang agak terlentang (berbaring ke belakang), yang memungkinkan lambung depan dibuat sangat miring – dan dengan demikian memberikan perlindungan yang lebih baik – sambil membuat profile tank tetap rendah, sehingga sukar dibidik. Desain Chieftain dengan lambung dan turret yang dibuat sangat miring sangat meningkatkan ketebalan efektif armor bagian depannya – 388 mm (15,3 in) pada  sudut glacis (dari ketebalan sebenarnya 120 mm (4,7 in)) dan 390 mm (15,4 in) in) pada bagian turret (dari aslinya 195 mm (7,7 in)). Tank ini memiliki kubah mantletless yang memampukan meriam digerakkan hingga sepuluh derajat dalam posisi hull-down. Untuk alasan keamanan, prototipe awal memiliki layar kanvas yang menutupi mantlet dan kotak lembaran logam yang dipasang di atas pelat glacis miring untuk menyamarkan konfigurasi kendaraan aslinya. Tank Chieftain pada tahun 1990-an telah menggabungkan penggunaan armor “Stillbrew” (yang dinamai menurut Kolonel Still dan John Brewer dari Military Vehicle and Engineering Establishment (MVEE)), Improved Fire Control System (IFCS) dan Thermal Observation Gunnery Sight (TOGS). Perangkat NBC yang digunakan juga terus ditingkatkan. Armor depan, yang terbuat dari baja, memiliki ketebalan yang setara dengan 220 mm (8,66 in). Versi armor alternatif juga sempat dicoba, seperti perlengkapan armor tipe ROMOR-A, dan kotak peledak pasif / reaktif Varma. Penambahan utama yang digunakan pada tank ini adalah paket add-on Stillbrew, yang mencakup beberapa area turret, yang terbuat dari kombinasi beton dengan blok karet yang ditutup dengan lapisan plastik. Banyak tank Chieftain varian akhir kemudian dilengkapi paket ini untuk mengalahkan kemampuan penetrasi meriam tank Soviet kaliber 125 mm dan rudal anti-tank kelas berat. Vesi ini kemudian menjadi varian Mark 11. Untuk menutupi gerakan ofensif atau defensif tank dari penembak musuh, tank Chieftain juga dilengkapi dengan dua belas pelontar granat asap yang digerakkan secara elektrik yang dipasang di dua sisinya yang terdiri dari enam pelontar masing-masing. Tank Chieftain juga dilengkapi dengan proteksi terhadap ancaman NBC (Nuklir-Biologi-Kimia), yang mana dalam hal ini belum ada pada tank Centurion.

Tampilan jarak dekat dari lapisan armor Stillbrew (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Fasilitas Pada Turret

Cupola komandan tank yang besar dan dapat berputar memiliki sembilan bukaan, sebuah periskop, sebuah proyektor infra merah dengan daya pembesaran hingga x8 dan sistem penglihatan IR alternatif. Perangkat penglihatan komandan memiliki unit power channel dan periskop teropong yang memiliki pembesaran hingga 10x (kemudian x12 pada tanda II dan x15 pada versi Mark V). Perangkat pengukur jarak inframerah utama di turret itu digabungkan dengan lampu sorot lapis baja dengan jangkauan maksimum 1,5 km (0,93 mil). Interior tank dilapisi dengan sistem NBC (perlindungan Nuclear-Biology-Chemical) yang lengkap. Sembilan blok / periskop prismatik membentuk cincin yang benar-benar terpisah yang dipasang pada bantalan bola. Keuntungan utama dari desain ini adalah pengurangan bobot yang substansial dari turret/kubah tank, yang dapat memindai cakrawala secara independen dari turret.

Cutaway tank Chieftain yang menampilkan detail turret-nya. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Perangkat Pembidik

Sebuah metode “berteknologi rendah”, metode pengukur jarak balistik yang lebih ekonomis pertama kali dikembangkan untuk tank Centurion, juga digunakan oleh kru penembak tank Chieftain. Perangkat ini menggunakan senapan mesin 12,7 mm (0,5 in) yang dimodifikasi untuk menemukan jangkauan dengan menembakkan semburan peluru berturut-turut dalam pola yang tepat untuk menghitung jarak lintasan. Bekas tembakan akan meninggalkan tanda terbakar yang jelas. Penembak kemudian harus memilih bekas tembakan yang sesuai dengan jenis amunisi senjata yang akan ditembakkan, dan mengarahkannya pada sasaran. Kisaran jarak target sangat ditentukan dengan tingkat akurasi yang tinggi dari tembakan, selain juga dengan mempertimbangkan kemiringan trunnion dan crosswinds. Namun, sistem ini bisa mengungkapkan posisi tank sebelum waktunya. Meski sederhana dan kuat, sistem ini membutuh banyak waktu yang berharga. Namun ini bukanlah kerugian yang signifikan pada saat itu, karena tank-tank T-54/55 dan terutama T-62 yang digunakan rata-rata pihak lawannya memiliki waktu muat ulang dan kecepatan putar yang lama. Sejak awal tahun 1970-an, versi Chieftain Mk 3/3 menggantikan pembidik meriam jarak jauh dengan pengintai laser Barr dan Stroud LF-2 dengan jarak maksimum 10 km (6,2 mil). Perangkat ini memungkinkan untuk menyerang target pada jarak yang lebih jauh, dan juga dapat dihubungkan dengan sistem kendali penembakan, yang pada akhirnya memungkinkan menyerang dan mengganti target dengan target yang lebih cepat. Pada model selanjutnya, perangkat pengendalian penembakan disediakan oleh Marconi IFCS (Improved Fire Control System), yang menggunakan komputer balistik digital. Upgrade ini tidak akan selesai sampai akhir tahun 1980, ketika beberapa unit (meski bukan mayoritas) lampu sorot IR-nya telah diganti dengan TOGS. Pada dekade 1980-an sistem pembidik lama hanya digunakan sebagai cadangan jika terjadi kegagalan pada sistem pembidik utamanya, karena telah digunakannya sistem komputer balistik elektronik yang jauh lebih cepat dan lebih tepat. Baik penembak maupun komandan Chieftain memiliki tombol penembakan untuk meriam utamanya.

Brosur perbaikan perangkat pengontrol penembakan dan pembidik dari tank Chieftain 900. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)

PERBAIKAN DESAIN

Chieftain tetap berada di garis depan dinas operasional Inggris sampai tahun 1996 dan dalam perkembangannya telah menelurkan 12 versi dan beberapa sub-varian yang berbeda. Di luar lampu sorot infra merah / putih yang diperbarui dan terhubung dengan meriam utama untuk fungsi penerangan target, perangkat kontrol penembakan/FCS telah berevolusi dengan menggunakan perangkat pengukur jarak laser. Komputer digital segera diperkenalkan untuk secara otomatis mengatur balistik penembakan, menyiapkan masing-masing titik offset untuk setiap target. Disamping itu ada juga tambahan kecil perangkat elektronik atau peningkatan dalam hal proteksi (penambahan lapisan NBC baru), armor rahasia baru yang kemampuannya telah ditingkatkan, Perangkat pengamatan Termal dan Penglihatan Meriam yang telah ditingkatkan atau ditingkatkan ke level seperti tank Challenger I. Namun, sebagian besar dari evolusi yang digulirkan ditujukan untuk menyelesaikan masalah mobilitas, terutama adalah mesin yang telah ditingkatkan kekuatannya. Berikut adalah beberapa versi penyempurnaan Chieftain:

  • Mk.1 (tahun 1965), versi batch pertama yang terdiri dari 40 tank pra-produksi ini sangat kekurangan dalam hal tenaga karena menggunakan mesin Leyland L60 Mk.4A yang berkekuatan hanya 585 hp, sehingga semuanya dengan cepat digunakan untuk tugas-tugas pelatihan. Meski demikian, versi ini memiliki umur yang sangat panjang. Tank ini terus digunakan untuk pelatihan hingga tahun 2000.
  • Mk.2, diperkenalkan pada tahun 1967 dan diproduksi hingga tahun 1969. Versi ini adalah versi operasional pertama dari Chieftain. Tank ini memiliki desain kubah baru dengan perlindungan yang lebih baik. Tank ini didukung oleh mesin Leyland L60 Mk.5A yang kemampuannya telah ditingkatkan, dan bisa menghasilkan kekuatan hingga 650 hp, sehingga memampukan tank untuk melaju dengan kecepatan maksimum di jalanan hingga 40 km / jam.
  • Mk.3, versi ini menggunakan mesin Leyland L60 Mk.6A dan bisa menghasilkan kekuatan hingga 650 hp dilengkapi dengan peralatan tambahan, elemen pembersih udara kering, cupola komandan No 15 Mk 2 yang telah dimodifikasi, mesin yang ditingkatkan dan kemudian diikuti versi Mk 3/2 (menggunakan mesin Leyland L60 Mk.7A dan bisa menghasilkan kekuatan hingga 650 hp, serta memiliki Peralatan listrik dan pembersih udara yang telah ditingkatkan), Mk 3/3 (diperkenalkan pada tahun 1971, menggunakan ER RMG, perangkat pengintai laser, mesin Leyland L60 Mk.7A berkekuatan 720bhp & paket NBC yang telah dimodifikasi), Mk 3 / 3P (versi untuk Iran), Mk 3G (Prototipe dengan turret air-breathing for engine aspiration), dan Mk 3S (Mk 3/G dengan turret air-breathing and commander firing switch). 
  • Mk.4 adalah dua prototipe dengan peningkatan kapasitas bahan bakar dan modifikasi kecil lainnya. 
  • Mk.5 adalah versi produksi akhir (berdasarkan versi 3/3). Tank ini diperkenalkan pada tahun 1975 dan produksinya terus berlanjut sampai tahun 1978. Versi tank berikutnya adalah upgrade dari tank-tank yang sudah ada. Mk.5 dilengkapi dengan sistem kendali tembakan terkomputerisasi dengan perangkat pengintai laser built-in. Peralatan baru ini meningkatkan akurasi penembakan tank. Chieftain Mk.5 juga menggunakan sistem perlindungan NBC yang ditingkatkan. Tank ini didukung oleh mesin Leyland L60 Mk.8A, yang punya kekuatan hingga 750 hp. Dengan mesin baru, versi ini memiliki kecepatan di jalanan maksimal hingga 48 km / jam. Tank ini memiliki kemampuan membawa muatan amunisi sebanyak 64 butir peluru. Pada tahun 1975 semua tank Chieftain Inggris sebelumnya, kecuali Mk.1 awal, diupgrade ke standar Mk.5.
  • Mk.6 adalah versi Mk.2 yang telah ditingkatkan ke versi Mk.5. Pada tahun 1975, semua tank Mk 2 diupgrade kembali ke standar Mk.5. Semua tank sebelumnya kemudian dilengkapi dengan perlengkapan standar baru ini yang memperkenalkan radio Clansman dan banyak perbaikan lainnya. 
  • Mk.7 adalah versi Mk 3 yang diupgrade kembali ke standar Mk 5, yang dikerjakan pada tahun 1975. Versi 7 / 2c kemudian dijual ke Oman.
  • Mk.8 adalah versi Mk 3/3 yang diupgrade kembali ke versi Mk 5. 
  • Mk.9 pada dasarnya adalah Mk.6 yang dilengkapi dengan IFCS/perangkat pengontrol tembakan baru. termasuk pemasangan radio Clansman baru. 
  • Mk.10 (tahun 1985) adalah versi Mk.6 dan Mk.7 yang dilengkapi dengan IFCS & armor Stillbrew. Paket proteksi awak Stillbrew diaplikasikan pada bagian depan turret dan ring dan kemudian menjadi standar baru. Versi ini muncul antara tahun 1984-1986.
  • Mk.11 (tahun 1988-1990) adalah versi Mk.8 yang dilengkapi dengan IFCS, armor Stillbrew, No 11 NBC system, dan TOGS. TOGS (Thermal Observation and Gunnery System) yang diproduksi oleh Barr dan Stroud dan diselesaikan dengan menambahkan laser range-finder. Versi ini muncul tahun 1984-1986.

Peningkatan versi Mk.12 / 13 lainnya dibatalkan pada saat tank Challenger II mulai beroperasi. Namun versi Iran yang dibatalkan kemudian digunakan sebagai dasar untuk pengembangan tank Challenger 1 MBT.

Tank tempur utama Chieftain Mk.1. Versi produksi pertama yang digunakan hingga tahun 2000 sebagai tank pelatihan. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Tank Chieftain Mk. II. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Tank Chieftain Mk. III pada tahun 1970. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Tank Chieftain Mk. 5 pada tahun 1970an. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Tank Chieftain Mk.7 dari batalion ke-4 Resimen Tank Kerajaan Inggris yang ditempatkan di dekat Tilworth pada tahun 1984. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Chieftain Mark 10 BATUS Unit pelatihan Angkatan Darat Inggris di Suffield pada 1990-an. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Tank Chieftain Mark 11 BATUS (kamuflase), dilengkapi dengan perangkat TOGS, unit pelatihan Angkatan Darat Inggris di Suffield, awal 1990-an. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

VARIAN

Dalam perkembangannya, tank Chieftain terbagi menjadi beberapa varian lainnya sebagai berikut:

Chieftain 900 

Ini adalah varian testbed untuk pemasangan armor Chobham yang baru. Glacis lambung dan bagian samping, turret, benar-benar baru, dan versi ini menjadi dasar untuk generasi MBT berikutnya, yakni Challenger 1. 

Tank Chieftain 900 yang jadi dasar pengembangan tank Challenger 1. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)

FV4204 ARV 

Ini adalah kendaraan recovery dan perbaikan bersenjata. 

FV4204 Chieftain ARV. (Sumber: https://arcaneafvs.com/)

FV4205 AVLB 

Ini adalah versi pembawa dan pemasang jembatan dari tank Chieftain (dinamai sebagai n ° 8 sampai N ° 12 bridge), yang dilengkapi dengan jembatan tipe gunting. Sistem Close Support Bridge juga sempat diuji. Sementara itu, AVLB Mk 6 adalah Chieftain Mk 1/4 yang dikonversi dengan penyangga untuk FWMP dan dilengkapi dengan pelindung tambahan. 

FV4205 Chieftain AVLB. (Sumber: https://www.thinkdefence.co.uk/)

AVRE 

Adalah Kendaraan zeni tempur utama, yang digunakan oleh pasukan zeni Inggris Raya. 

Chieftain AVRE. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Chieftain Marksman 

Kendaraaan SPAAG ini adalah versi anti-pesawat berkanon ganda, yang dilengkapi dengan radar Marconi Series 400 dan kanon otomatis asal swiss, Oerlikon 35 mm. Tidak ada dari varian ini yang diekspor. 

Chieftain Marksman. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Chieftain Sabre 

Ini adalah adalah prototipe SPAAG lainnya, dengan kubah pelat datar, bagian depan dengan banyak sudut, tapering bustle, dan kanon laras kembar, kaliber 30mm, dengan muzzle-brakes berlubang banyak. 

Chieftain Sabre. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Shir 2 (Lion 2) 

Adalah versi lain yang dirancang untuk Iran. Itu adalah tank Inggris pertama dengan lapis baja komposit. Iran membuat pesanan besar untuk 1. 225 tank ini. Namun pesanan itu dibatalkan karena revolusi Iran. Tank Shir 2 selanjutnya dikerjakan ulang dan membantu perancangan tank Challenger.

Tank Chieftain Shir 2 (Lion 2). (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Prototipe Lainnya 

Di luar prototipe produksi awal PP1, G1 dan GT, versi penyapu ranjau juga dikembangkan, serta Chieftain Casement Test Rig, Chieftain SID (modifikasi yang dibuat untuk mengurangi signature-nya), sementara yang lain digunakan untuk menguji kit armor ROMOR-A, Varma ERA set, atau untuk menguji suspensi Hydrostrut Vickers / Air-Log Ltd.

DINAS OPERASIONAL 

Tank Chieftain dari Satuan King’s Hussars ke-14/20 berparade dengan corak kamuflase perkotaan, Straße des 17, Berlin Barat, 18 Juni 1989. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Chieftain, seperti tank Centurion sebelumnya, sebagian besar diekspor ke negara-negara Timur Tengah, tetapi gagal diadopsi oleh negara mana pun di dalam lingkup NATO, sebagai gantinya mereka lebih memilih tank Leopard I dari Jerman. Meski demikian Chieftain terbukti digunakan dengan cukup baik dalam pertempuran dan menunjukkan kemampuan beradaptasi untuk mendapat upgrade secara keseluruhan atau di modifikasi secara lokal di pasaran ekspor. Cupola komandan baru lalu dirancang, mesin yang kemampuannya ditingkatkan diperkenalkan dan peralatan tambahan ditambahkan untuk membuat varian Mk 3. Model produksi Chieftain definitif terakhir adalah versi Mk 5 dan versi ini memiliki perlindungan NBC tambahan ini di turret ditambahkan kotak-kotak penyimpanan serta mesin yang kemampuannya ditingkatkan. Saat diperkenalkan, meski memiliki berbagai kelemahan diatas, bagaimanapun Chieftain dianggap sebagai salah satu tank tempur utama paling kuat di dunia. Tank ini secara teknis mengungguli tank-tank kontemporer pada masanya, seperti M60 Patton Amerika, Leopard 1 dari Jerman dan T-62 Soviet (saat itu informasi mengenai Tank T-64 dan T-72 masih samar-samar, namun dari sisi proteksi dan kekuatan meriam, mestinya Chieftain bisa mengimbanginya, kalo tidak bisa dibilang tetap lebih baik). Chieftain memegang gelar ini setidaknya selama sekitar 15 tahun hingga Jerman mengadopsi tank Leopard 2 mereka. Sejak diperkenalkannya Chieftain pada pertengahan tahun 1960-an, senjata anti-tank terus berevolusi dan teknologi tank semakin menunjukkan kematangannya. Soviet lalu memperkenalkan jenis tank baru yang lebih baik dengan cepat. Sebuah laporan Inggris tahun 1986 menyatakan bahwa lapisan armor tank Chieftain dapat dikalahkan oleh semua senjata anti-tank Soviet yang paling modern. Laporan ini juga menyatakan bahwa peluru anti-tank Chieftain dan Challenger terbaru memiliki peluang bagus untuk mengalahkan tank T-64, tetapi tidak dapat mengalahkan tipe tank T-80 terbaru milik Soviet. Berikut adalah catatan dinas operasional tank Chieftain di berbagai negara:

Israel 

Israel dan Inggris telah sepakat untuk membuat versi Chieftain Mk.4 yang didesain sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh IDF yang memiliki minat yang besar dalam pengembangannya, termasuk peningkatan kemampuan menembak dengan posisi lambung tank tersembunyi yang lebih baik. Suatu metode yang sangat membantu penggunaan tank Centurion Israel pada tahun 1967. Sebelumnya pada tahun 1966, Pemerintah Inggris telah menyetujui Chieftain yang akan dibuat di Israel di bawah lisensi dan IDF telah melakukan uji lapangan ekstensif dengan prototipenya pada tahun 1967 yang direncanakan berlangsung selama dua setengah tahun. Namun karena keberatan dari banyak negara-negara Timur Tengah musuh Israel lainnya yang mengancam akan melakukan embargo perdagangan, maka terjadi perdebatan sengit antara MOD (Kementrian Pertahanan) yang mendukung pembelian Chieftain oleh IDF dan Kementerian Luar Negeri yang menentangnya. Kementerian Luar Negeri akhirnya memenangkan argumen tersebut , dan pada akhir tahun 1969 Inggris membatalkan tawarannya kepada IDF. Namun meski dibatalkan, pengembangan yang telah dilakukan pada tank ini kemudian berfungsi sebagai cetak biru untuk pembuatan tank Merkava, yang dipimpin oleh Jenderal Israel Tal, yang sebagian besar terlibat dalam proyek tank adaptasi Chieftain lokal. 

Teknik menembak posisi hull down yang dipraktekkan dengan baik oleh tank Centurion Israel dalam perang 6 hari. Israel ingin memperbaiki kemampuan ini pada desain tank Chieftain yang rencananya bakal mereka buat secara lisensi. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Tank Chieftain diujicoba di Israel tahun 1967-1969. Nampak pada sebelah kanan, adalah Jenderal Israel Tal, yang nantinya akan membantu desain tank Merkava Israel, setelah Inggris menolak menjual tank Chieftain-nya. (Sumber: https://twitter.com/)

Chieftain Yordania 

Varian ekspor utama pertama dari tank Chieftain adalah versi Khalid Shir (Lion), yang juga dikenal sebagai 40302PJ untuk Yordania, yang termasuk dilengkapi dengan beberapa perlengkapan dari tank Challenger Mk. I yang sedang dikembangkan. Tank Shir 1 Yordania terdiri dari 274 tank yang dikirim dari 1980 hingga 1985. Tank ini sebenarnya adalah pesanan Iran yang dibatalkan. Sekitar 90 tank lainnya didapat Yordania dari tank Chieftain Iran yang direbut oleh Tentara Irak dalam perang tahun 1980-1988. Sekitar 350 unit diperkirakan masih tersedia dalam penyimpanan.

Tank Shir-I Al-Khalid Yordania. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Chieftain Iran 

FV4030 / 1 (Mark V 3P) telah diekspor ke Iran, dan kemudian diikuti Shir 2 (FV4030 / 3) yang merupakan Shir 1 Yordania (FV4030 / 2) yang kemampuannya ditingkatkan di Leeds untuk dijual ke Iran, dengan bagian belakang yang dikerjakan ulang untuk memungkinkan pemasangan mesin Rolls Royce CV8 yang lebih baru, seperti yang digunakan oleh tank Challenger. Shir 1 pada dasarnya merupakan peningkatan dari tank Chieftain Mk.V yang dibuat secara eksklusif untuk Iran, dan hingga saat ini masih berada dalam dinas aktif Iran. Tank ini kemudian di-upgrade secara lokal, dan dikenal sebagai tank Mobarez. Varian lain dari Chieftain, sempat dijual ke Iran dari tahun 1975 hingga 1979, dengan 707 bertipe Mark 3P dan 5P, 125-189 tipe FV-4030-1, 41 versi ARV dan 14 varian AVLB dikirimkan sebelum revolusi Iran pecah. Chieftain Iran diketahui digunakan secara ekstensif dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-88 dengan hasil yang beragam yang sebagian besar kehilangan tank ini diakibatkan oleh kerusakan mesin. Pada awal tahun 1981, saat operasi Nasr (artinya Victory/Kemenangan), tank Chieftain dan M60A1 Iran mengambil bagian dalam pertempuran tank terbesar dalam perang tersebut di wilayah Susangerd, dimana mereka kehilangan sekitar 214 tank dan 100 kendaraan lapis baja lainnya sementara Irak hanya kehilangan 50 tank T-62. Sebelum revolusi, Iran diketahui memiliki setidaknya 1.700 tank (yang berkurang menjadi 1.000 yang dapat digunakan setelah revolusi). Dengan kekalahan mereka di Susangerd ini, sekitar 17% dari seluruh kekuatan itu telah dihancurkan. Hal ini jelas melemahnya kekuatan militer Iran.

Tank Chieftain Iran. Iran diketahui menggunakan tank ini secara ekstensif saat perang melawan Irak tahun 1980-1988, namun karena buruknya kepemimpinan, banyak tank ini hancur atau dirampas Irak di medan perang. (Sumber: https://en.radiofarda.com/)
Tank Chieftain yang diupgrade secara lokal menjadi tank Mobarez oleh Iran. (Sumber: https://forums.civfanatics.com/)

Lebih buruk lagi, dengan sanksi yang dipimpin AS terhadap Iran, tank-tank itu tidak dapat diganti sementara tank-tank Irak bisa dengan mudah diganti (karena mereka tidak terkena embargo dan mendapat dukungan dari barat). Sementara itu, penampilan buruk dari tank Chieftain Iran selama masa awal perang, ditengarai sebagian besar berkat pemerintah Iran yang telah membersihkan atau memindahkan sebagian besar personel dan pemimpin militer berpengalaman mereka. Banyak tank Chieftain Iran jatuh ke tangan Tentara Irak selama waktu ini, beberapa dari mereka buru-buru ditinggalkan atas perintah komandannya. Meski demikian, orang-orang Irak tidak seberuntung itu ketika mereka menghadapi tank-tank Iran ini yang ada dalam posisi bertahan, dan serangan balik mereka bisa dipatahkan. Sejumlah besar tank Chieftain Iran tetap berada di dalam inventaris Irak setelah perang. Menurut beberapa sumber, antara 50 dan 75 tank Chieftain telah dimodernisasi dan digunakan oleh Angkatan Darat Irak, sementara sebagian dijual ke Yordania. Dari 875 tank Chieftain yang digunakan Iran pada saat perang pecah, diperkirakan hanya tersisa 200-300 tank saat perang berakhir. 100 diketahui masih ada dalam dinas aktif AD Iran pada tahun 2005. (100 unit pada tahun 1990, 250 pada tahun 1995, dan 140 pada tahun 2000).

Chieftain Irak

Sekitar 50-75 tank Chieftain (bekas milik Iran) sempat digunakan Angkatan Darat Irak pada tahun 1990. Mereka kemudian ditingkatkan ke versi Khalid (4030P2J) dengan peningkatan pada perangkat AC dan lapisan bajanya yang diperkuat, ditambah perangkat penglihatan malam yang lebih baik. Nasib mereka hingga tahun 2001 tidak diketahui. 

Tank Chieftain Irak hasil rampasan dari Iran di Kamp Taji. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Chieftain Kuwait

Kuwait membeli 267 tank Chieftain dari tahun 1976 hingga 1995. Pada saat menjelang Invasi Irak, Kuwait setidaknya memiliki 143 tank Chieftain yang bisa beroperasi. Pada tanggal 2 Agustus 1990, tak lama setelah pukul 00:00 waktu setempat, Irak menginvasi Kuwait. Orang-orang Kuwait jelas tidak siap. Terlepas dari ketegangan diplomatik dan penumpukan pasukan Irak di perbatasan, tidak ada perintah dari pusat yang dikeluarkan untuk angkatan bersenjata Kuwait dan mereka tidak waspada. Banyak personel cuti karena tanggal 2 Agustus merupakan tahun Islam yang setara dengan Tahun Baru dan salah satu hari terpanas dalam setahun. Dengan banyaknya cuti, beberapa kru baru dikumpulkan dari personel yang tersedia. Secara total, Brigade ke-35 Kuwait berhasil menurunkan 36 tank Chieftain, sebuah kompi pengangkut personel lapis baja, kompi kendaraan antitank lainnya, dan baterai artileri yang terdiri dari 7 senjata self-propelled. Mereka kemudian harus menghadapi unit-unit dari Pengawal Republik Irak. Unit-unit tersebut yakni Divisi Lapis Baja “Hammurabi” ke-1, terdiri dari dua brigade mekanis dan satu lapis baja, sedangkan Divisi Lapis Baja Madinah terdiri dari dua brigade lapis baja dan satu brigade mekanis. Unit-unit ini dilengkapi dengan tank T-72, kendaraan tempur lapis baja BMP-1 dan BMP-2, serta memiliki unit-unit artileri yang menyertaimya. Penting untuk dicatat bahwa berbagai pertempuran yang dialami unit-unit tank Kuwait yang terjadi kemudian lebih menghadapi elemen-elemen terpisah daripada melawan kekuatan divisi yang dikerahkan sepenuhnya; khususnya Brigade ke-17 “Hammurabi”, yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Ra’ad Hamdani, dan Brigade ke-14 dan ke-10 Brigade Lapis Baja Madinah. Kondisi ini masih didukung dengan pada kenyataannya, bahwa baik Hamdani maupun pasukannya tidak memiliki permusuhan apapun dengan orang-orang Kuwait dan karena itu mereka berencana untuk meminimalkan korban, baik di pihak militer maupun sipil. 

Tank Chieftain milik Kuwait dalam Perang Teluk. (Sumber: https://tr.pinterest.com/)

Menurut rencananya, tidak akan ada penembakan awal atau tembakan “pelindung (artileri)”. Hamdani melangkah lebih jauh dengan mewajibkan tanknya untuk hanya menembakkan peluru yang memiliki daya ledak tinggi, alih-alih SABOT (Armor Piercing) dalam upaya untuk “menakut-nakuti krunya, tetapi tidak menghancurkan kendaraannya. ” Di pihak lain Brigade Lapis Baja ke-35 Kuwait dari Tentara Kuwait telah disiagakan pada pukul 22:00 tanggal 1 Agustus. Butuh sekitar delapan jam untuk melengkapi dengan amunisi dan persediaan. Namun, mengingat waktu yang terbatas dan kurangnya kesiapan, brigade tersebut harus dikerahkan sebelum bisa dibekali sepenuhnya dan dengan kurang dari setengah kekuatan artilerinya siap. Kolonel Salem berangkat dengan kompi antitank pada pukul 04:30, dengan unit lainnya berangkat pada pukul 06:00. Kamp itu berada 25 km di barat Al Jahra, jadi mereka pindah ke timur dan ditempatkan di barat persimpangan antara Highway 70 dan Sixth Ring Road. Divisi Mekanik “Hammurabi” dari Pengawal Republik Irak saat ini telah mencapai Al Jahra. Mendekati dari utara, Brigade ke-17 bergerak di sekitar barat Al Jahra, dengan memanfaatkan enam jalur Jalan Lingkar Keenam. Mereka tampaknya tidak mengharapkan perlawanan karena mereka ditempatkan di beriringan di jalan dan tidak mengintai atau mengamankan sisi-sisi mereka. Perilaku ceroboh dan kegagalan yang konsisten untuk menggunakan komunikasi menjadi ciri khas unit Irak dalam pertempuran tersebut. Batalyon ke-7 Kuwait adalah yang pertama melawan Irak, sekitar pukul 06:45, menembak dari jarak dekat dari tank Chieftain mereka (sekitar jarak 1 km hingga 1,5 km) dan menghentikan pasukan Irak.

Tank Chieftain Kuwait hancur dalam pertempuran melawan pasukan Irak. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Tanggapan dari pasukan Irak terhitung lambat dan tidak efektif. Unit-unit Irak terus berdatangan di tempat kejadian tampaknya tidak menyadari situasinya, yang memungkinkan pasukan Kuwait untuk menyerang pasukan infanteri Irak masih di dalam truk dan bahkan menghancurkan kendaraan SPG (artileri berpenggerak mandiri) yang masih ada di trailer pengangkutnya. Dari laporan Irak, tampaknya sebagian besar Brigade ke-17 tidak terhambar secara signifikan dan terus maju ke tujuannya di Kota Kuwait. Pada pukul 11.00, anggota Divisi Lapis Baja Medinah Pengawal Republik Irak mendekat di sepanjang Jalan Raya 70 dari arah barat, ke arah kamp Brigade ke-35. Sekali lagi mereka dikerahkan dalam formasi dan benar-benar melaju dengan santainya melewati unit artileri Kuwait dan antara Batalyon ke-7 dan 8, sebelum tank Kuwait melepaskan tembakan. Mengalami banyak korban, tentara Irak mundur ke arah barat. Setelah pasukan Divisi Madinah berkumpul kembali dan bisa dikerahkan kembali, mereka mampu mendesak pasukan Kuwait, yang kehabisan amunisi dan terancam dikepung, untuk mundur ke arah selatan. Orang-orang Kuwait kemudian mencapai perbatasan Saudi pada pukul 16:30, bermalam di sisi Kuwait sebelum menyeberang keesokan paginya. Dalam gerak mundur ini total 136 tank Chieftain Kuwait bisa dirampas atau dihancurkan oleh pasukan Irak. Setelah mundur, Brigade Lapis Baja ke-35 (dikenal sebagai Al-Fatah) ini nantinya akan menjadi bagian dari Pasukan Komando Gabungan Timur selama Perang Teluk 1991 dan mampu kembali ke Kuwait. Setelah pembebasan Kuwait, tank Chieftain Kuwait yang telah menua digantikan oleh tank M-84 buatan Yugoslavia. Pada tahun 1995 20 tank Chieftain masih beroperasi dan per tahun 2000 masih ada 17 unit dalam penyimpanan.

Chieftain Oman 

Oman menerima pengiriman 27 tank Chieftain Mk.V yang kemudian ditingkatkan ke standar Qayd Al Ardh (12 bekas Angkatan Darat Inggris dan 15 produksi baru) yang dilengkapi dengan perangkat penglihatan L20 dan pengintai laser Tipe 520. Semua tank ini masih dioperasikan hingga kini.

Tank Chieftain Mk.11 milik Oman. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

SPESIFIKASI CHIEFTAIN MK.5

  • Crew: 4
  • Bobot tempur: 55 ton
  • Panjang keseluruhan: 10.8 m (35 ft 5.2 in) dengan meriam mengarah kedepan
  • Panjang hull: 7.5 m (24 ft 7.3 in)
  • Tinggi: 2.9 m (9 ft 6.2 in)
  • Lebar: 3.5 m (11 ft 5.8 in)
  • Mesin: Opposed-piston engine Leyland L60 (diesel, multi-fuel compression ignition) dengan kekuatan 750 bhp (560 kW)
  • Jarak jangkau: 500 km (310 mi)
  • Kecepatan maksimum di jalan: 43 km/jam (27 mph)
  • Kecepatan lintas medan: 30 km/jam (19 mph)
  • Lapisan Armor: turret depan, 195 mm (7.7 in) RHA (60°)

Persenjataan

  • Meriam Rifle kaliber 120 mm L11A5
    • Kecepatan tembak: 10 peluru per menit di menit pertama and 6 setelahnya.
    • Elevasi meriam: -10 sampai +20 derajat
    • Laser rangefinder
  • Senapan mesin Coaxial L8A1 kaliber 7.62 mm
  • Senapan mesin L37A1 kaliber 7.62mm pada bagian Cupola

Versi Mark 1 and Mark 2 memiliki sebuah senapan mesin pengukur jarak tipe Browning kaliber .50-inch (12.7 mm) sebelum diganti dengan perangkat laser pengukur jarak.

Perlengkapan lain

  • Dua perangkat radio Clansman VRC 353 VHF (setelah tahun 1979)
  • 1 radio VHF Larkspur C42 1 B47(sebelum tahun 1979)
  • 2 X 6-tabung pelepas granat asap pada turret
  • Bilah Bulldozer (opsional – dipasang pada satu tank per squadron)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

FV4201 Chieftain By David.B, November 14, 2014
https://tanks-encyclopedia.com/coldwar/UK/chieftain.php

Chieftain Main battle tank

http://www.military-today.com/tanks/chieftain.htm

Chieftain MBT Main Battle Tank 

https://www.militaryfactory.com/armor/detail.asp?armor_id=83

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Chieftain_(tank)

https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_the_Bridges

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Nasr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *