General Dynamics F-16: The Pakistan Shooter

Kehadiran Soviet di Afghanistan tidak menciptakan banyak problem bagi negara2 tetangganya, kecuali Pakistan. Invasi Soviet langsung mengakibatkan banjir pengungsi Afghanistan di wilayah sekitar perbatasan Afghanistan-Pakistan. Dari ribuan pengungsi yang melintasi perbatasan, turut serta pula para pejuang Mujahidin. Di wilayah Pakistan, para Mujahidin mendirikan basecamp2 untuk melakukan serangan lintas batas atas posisi2 Soviet di Afghanistan.

F-16A/B yang diterima PAF antara tahun 1983-1987 tidak dilengkapi dengan rudal jarak menengah yang memiliki kemampuan BVR, meski demikian selama periode 1986-1988, armada Falcon PAF berhasil membukukan 8 kill.

Dengan perbatasan antara kedua negara yang tidak begitu jelas dan ditambah bahwa Soviet dan sekutu Afghan nya tidak segan-segan untuk memukul balik penyerang, pelanggaran2 perbatasan menjadi hal yang tidak dapat dihindarkan lagi. Beberapa kali insiden pecah karena ketidaksengajaan namun beberapa juga memang dilakukan dengan sengaja. Hal ini menjadi problem besar bagi Pakistan, mereka tidak dapat membiarkan serangan2 lintas batas negara terus berlangsung, meski demikian dia juga tidak mau terseret konflik dengan pemerintah de facto Afghanistan dan sekutunya yang powerful itu. Untuk memperkuat AUnya, Pakistan pada tahun 1981 menandatangani kontrak pembelian 28 F-16A dan 12 F-16B. 40 pesawat diterima oleh Pakistan antara tahun 1983-1987, dengan tambahan kekuatan ini Pakistan makin Pede untuk menindak pelanggaran udara yang terjadi di wilayahnya.

DRAAF MiG-21MF and Su-22M-4K seen at the Pakistani Peshawar AB, in October 1989, after both planes were flown there by defecting Afghani pilots (US DoD via Tom Cooper)

Kemudian diputuskan bahwa AU Pakistan (PAF) akan merespon segala bentuk pelanggaran perbatasan dan menempatkan skuadron2 tempurnya di Peshawar (hanya 24 km/15 mil dari perbatasan) dan Kamra dalam status siaga untuk mempercepat respon. Peraturan ketat digariskan dengan hanya membolehkan para pilot untuk menyerang pesawat tempur dan bomber, dan setiap reruntuhan harus ada di dalam wilayah Pakistan. Walaupun beberapa kali menerbangkan pesawat tempurnya, tapi PAF belum mampu menembak jatuh para penyusup hingga bulan Mei 1986.

F-16 vs Su-22

Kemudian antara bulan itu hingga bulan November 1988, F-16 PAF dari Skuadron No 9 dan 14 akan menembak jatuh 8 pesawat penerobos batas (satu buah pesawat dikategorikan sebagai probable/kemungkinan). Dari 8 kill itu Skuadron 9 mencatat 3 kill sementara Skuadron 14 mencatat 5 kill. Pada Kontak pertama sebuah Su-22 dijatuhkan oleh sebuah rudal AIM-9 Sidewinder yang ditembakkan oleh komandan Squadron 9, Ldr Qadri, sementara sebuah pesawat lainnya kabur dalam keadaan terbakar karena tembakan kanon, sehingga diklasifikasikan sebagai probable.

Pesawat Angkut serbaguna An-26 Curl banyak digunakan oleh negara2 sekutu Soviet. Setidaknya satu buah diantaranya ditembak jatuh oleh F-16 PAF dalam konflik di Afghanistan.

Pada tanggal 30 Maret 1987 Wg Cdr Razzaq (juga dari Skuadron 9) menjatuhkan sebuah An-26. Sementara itu pada tanggal 16 April 1987 Sqn Ldr Badar dari Skuadron 14 menembak jatuh (lagi) sebuah Su-22. Beberapa hari kemudian terjadi hal yang tidak menyenangkan, pada 29 April, sebuah F-16 tertembak jatuh saat berduel dengan 6 pesawat AU Afghanistan. F-16 itu dikabarkan kemungkinan tertembak rekannya, sementara pesawat2 AU Afghan bisa kabur tanpa menderita kerugian.

A V-VS Su-25 “Grach” seen armed with bombs and unguided rockets while rolling at Baghram AB. The type proved highly successful during the operations over Afghanistan, but started suffering losses to Stingers and Pakistani interceptors in the time between 1986 and 1988. Despite many reports on the contrary, no Su-25s were ever delivered to the Afghani Air Force. (Avijatsija & Vremja)

Pada 4 Agustus 1988 komandan Skuadron 14 Ldr Bukhori menembak jatuh sebuah Su-25 yang diterbangkan oleh Alexander Rustkoi (kemudian hari menjadi Wakil Presiden Russia), dan pada 12 September Flt Lt Khalid Mahmood dari Skuadron 14 membuka catatan kill nya dengan menjatuhkan dua buah MiG-23 sekaligus. Untuk diketahui juga, MiG-23 kemungkinan besar milik AU Soviet atau bisa juga MiG-23 yang diberi marking AU Afghanistan, karena sejauh yang diketahui, Afghanistan tidak mengoperasikan Flogger. Pada 3 November 1988, Khalid Mahmood kembali membukukan kill, kali ini sebuah Su-22 yang menjadi korban dan pada 31 Januari 1989, pilot yang sama menyaksikan sebuah An-24 crash saat mencoba mendarat setelah diintercept olehnya. Ini adalah An-24/26 kedua pada musim dingin itu yang jadi korban, sementara sebuah pesawat lain ditembak jatuh (tidak diakui sebagai kill oleh PAF) pada malam 20/21 November 1988.

Two MiG-23MLDs being readied for a patrol and armed with R-24 air-to-air missiles. (Avijatsija & Vremja)

Sumber Soviet mengklaim bahwa sejumlah kecil pesawat tempur PAF menjadi “korban” dari pilot2 Soviet (sebuah MiG-23MLD mencatat kill atas sebuah F-16), namun pengakuan Soviet ini tidak dapat dikonfirmasi. Apapun klaim yang diberikan, jelas sekali bahwa F-16 Pakistan mampu mengungguli lawan2nya dalam duel2 kecil di perbatasan selama petualangan Soviet di Afghanistan 1979-1989.

Flt Lt Khalid Mehmood (RIGHT) being present Ak-47 from Lt.Gen Ghazi-Ud-Din.
Alexander Rutskoi, 1990, saat perang Sovier-Afghan, Su-25 yang dipilotinya ditembak jatuh oleh F-16 Pakistan.

Sumber tulisan:

The Encyclopedia of 20th Century Air Warfare-Chris Bishop, 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *