General Julian Ewell: The Butcher of The Delta & Operation Speedy Express

Julian Johnson Ewell lahir pada 5 November 1915 di Stillwater, Okla. Ia kuliah di Universitas Duke selama dua tahun sebelum memasuki Akademi Militer A.S. di West Point, dan lulus pada 1939. Ewell menjadi penerjun payung dalam Perang Dunia II. Pada saat fajar D-Day, ia terjun di Normandia bersama Divisi Lintas Udara ke-101 sebagai komandan Batalion 3, Resimen Infantri Parasut 501. Begitu banyak penerjun payung yang meleset dari zona pendaratan mereka seharusnya saat itu. Kolonel Ewell hanya bisa menemukan 40 dari 600 orang personel di batalionnya, tetapi mereka kemudian berhasil berkumpul kembali dan segera terlibat dalam pertempuran melawan Jerman.

Julian Ewell sebagai kadet West Point.

Pada musim gugur 1944, Ewell terjun di Belanda dalam Operasi Market Garden, dan turut bertempur di kota kecil Bastogne, Belgia, yang terkepung selama Pertempuran Bulge. Dia dianugerahi Distinguished Service Cross, penghargaan tertinggi kedua di Angkatan Darat, karena aksinya bersama pasukan payung lainnya menahan dua divisi Jerman.

Pada tahun 1952, ia dikirim ke Korea sebagai komandan resimen infantri. Dia kemudian menghabiskan empat tahun di West Point, naik menjadi asisten komandan para kadet. Ewell sempat menjadi executive to the chairman of the Joint Chiefs of Staff, Jenderal Maxwell Taylor di Gedung Putih selama pemerintahan Kennedy. Ewell kemudian menjabat sebagai executive to the chairman of the Joint Chiefs of Staff di Pentagon dan sebagai kepala staf di Corps V di Jerman sebelum dia pergi ke Vietnam pada tahun 1968.

Mayor Jenderal Julian Johnson Ewell, komandan Divisi-9 Amerika yang kerap dijuluki sebagai “The Butcher Of The Delta”.

Jenderal Ewell sempat memegang dua posisi komando teratas di Vietnam, yakni sebagai komandan Divisi Infanteri ke-9 di Delta Mekong dan kemudian sebagai komandan II Field Force, komando tempur Angkatan Darat terbesar di Vietnam.

Mekong Delta

Pada pertengahan 1960-an, daerah Delta Mekong, dengan sawah hijau dengan dusun-dusun yang berderet di sisi kanal, adalah mangkuk nasi dari Vietnam Selatan dan rumah bagi hampir 6 juta warga Vietnam. Daerah Itu juga dikenal sebagai salah satu benteng revolusioner yang paling penting selama Perang Vietnam. Terlepas dari signifikansi militernya, para pejabat Departemen Luar Negeri “memiliki kekhawatiran” dengan penempatan besar pasukan AS di daerah yang berpenduduk padat itu, mereka cemas jika pihak militer tidak mampu membatasi korban diantara warga sipil pada saat menjalankan operasi militernya.

Wilayah II Field Corp yang mencakup kawasan padat penduduk di Delta Mekong.

Namun pada akhir 1968, ketika perundingan damai di Paris mulai berlangsung dengan sungguh-sungguh, para pejabat AS mendorong upaya pasifikasi besar-besaran di kawasan Delta untuk membawa penduduk di bawah kendali pemerintah Vietnam Selatan di Saigon.

Operasi Speedy Express

Di bawah komando Jenderal Ewell antara bulan Desember 1968 sampai Mei 1969, Divisi Infanteri ke-9 melancarkan ofensif skala besar, lewat Operasi Speedy Express, yang bertujuan untuk dengan cepat melenyapkan pasukan musuh dengan kekuatan yang besar dengan didukung armada helikopter gunship hingga bomber B-52. Divisi itu mengklaim bahwa 10.899 musuh berhasil ditewaskan selama operasi itu dengan korban “hanya” 267 orang Amerika gugur, tetapi hanya ada 748 senjata yang berhasil disita – besarnya selisih yang ada, kata para penyelidik, bisa jadi menunjukkan bahwa tidak semua yang mati adalah kombatan musuh.

AP/MCINERNEYA helicopter gunship pulls out of an attack in the Mekong Delta during Speedy Express, January 1969.

Inspektur Jenderal Angkatan Darat menulis pada tahun 1972, “Walaupun tampaknya tidak ada cara untuk menentukan jumlah pasti korban sipil yang ditimbulkan oleh pasukan AS selama Operasi Speedy Express, akan tetapi jumlahnya sepertinya memang substansial, dan dari bukti-bukti yang dikumpulkan menunjukkan bahwa korban sipil mungkin berjumlah beberapa ribu (antara 5.000 dan 7.000). ” Laporan itu baru-baru ini diungkapkan oleh jurnalis Deborah Nelson dan Nick Turse, yang melaporkan pada 2008 bahwa jumlah kematian warga sipil ini setara dengan “a My Lai a month.” My Lai, pembantaian hampir 500 orang Vietnam oleh pasukan Amerika pada tahun 1968, yang telah menimbulkan skandal besar yang sangat mempermalukan Angkatan Darat dan melemahkan dukungan untuk perang.

Pembantaian di My Lai yang menjadi noda dalam keterlibatan Amerika di Vietnam, meski hal yang sama juga lumrah dilakukan oleh pihak komunis.

Turse menggambarkan operasi Jenderal Ewell di Delta dalam artikel bulan Desember di majalah Nation. Dalam bukunya, “The War Behind Me” (2008), Nelson mencatat bahwa setelah operasi berakhir dan Jenderal Ewell berada di II Field Force, ia “memperhatikan catatan korban diantara warga sipil” dan mengeluarkan perintah bahwa kematian seperti itu tidak boleh terjadi dan ditoleransi.

Dari penelitian saya, sebagian besar bukti menunjukkan bahwa perintah Julian Ewell secara tidak langsung mendorong terjadinya kekejaman dengan proporsi yang mencengangkan, “Turse mengatakan dalam sebuah wawancara Selasa.” Angkatan Darat sebenarnya mengetahui indikasi adanya sesuatu yang sangat buruk terjadi di Delta yang laporannya berasal dari berbagai sumber” tetapi mereka memilih untuk tidak terlalu serius melakukan penyelidikan.

Berbagai pengungkapan

Namun demikian, pengungkapan pada tahun 2008 bukanlah indikasi pertama mengenai operasi yang bermasalah itu. Seorang sersan yang bertugas di bawah komando Jenderal Ewell mengirim serangkaian surat tanpa nama kepada komandan tinggi Angkatan Darat pada tahun 1970 tentang tingginya jumlah kematian warga sipil selama operasi itu. Majalah Newsweek menyelidikinya dan menerbitkan laporan kecil. Sebuah artikel Washington Monthly memberikan keterangan dari saksi mata tentang helikopter tempur yang menembaki kerbau dan anak-anak di Delta.

Dalam perang dimana takaran keberhasilan militer menjadi kabur, para prajurit di lapangan lebih peduli pada keselamatan masing-masing dibanding dengan tujuan perang…..atmosfir di lapangan dipenuhi dengan ketakukan, kecurigaan, dan kebencian pada warga lokal.

Beberapa tentara berbicara menentang pembunuhan-pembunuhan itu, beberapa dalam sidang kongres, dan Kolonel David Hackworth, yang bertugas di divisi tersebut, menulis di kolom surat kabar tahun 2001, “Divisi saya di Delta, Divisi ke-9, melaporkan telah menewaskan lebih dari 20.000 Viet Cong di 1968 dan 1969, namun kurang dari 2.000 senjata yang berhasil ditemukan diantara ‘musuh’ yang tewas. Berapa banyak ‘dari sejumlah mayat itu’ yang merupakan warga sipil? “

Surat dari Prajurit

Pada bulan Mei 1970, seorang Sersan anonim mengirimkam surat sepuluh halaman ke kantor Jenderal Westmoreland. Dalam surat, sersan itu menyatakan bahwa ia memiliki “informasi tentang hal-hal yang sama buruknya dengan My Lay” dan menjabarkan, secara rinci, korban manusia dari Operasi Speedy Express. Dalam surat pertama itu, sersan itu menulis bukan tentang segelintir pembantaian tetapi tentang kebijakan komando resmi yang menyebabkan pembunuhan ribuan orang tak berdosa:

Mereka yang nampaknya ketakutan, tidak tahu apa-apa, bahkan tersenyum bisa saja simpatisan musuh, siapa bisa menjamin dan memastikan?

“Pak, Divisi ke-9 tidak melakukan apa pun untuk mencegah pembunuhan, dan malah mendorong perolehan ‘body count” dengan sangat keras, kami “diberitahu” untuk membunuh orang-orang Vietnam dengan jumlah berkali-kali lipat lebih banyak daripada di My Lay, dan dari jumlah itu hanya sedikit yang kami tahu pasti adalah musuh …

Jika Anda tidak bisa memahami yang saya maksudkan tentang banyaknya jumlah orang Vietnam terbunuh dengan cara ini, saya bisa memberi Anda beberapa penjelasan. Sebuah Batalion mungkin akan membunuh 15 hingga 20 orang per hari. Dengan ada 4 batalion di satu Brigade, mungkin mereka akan membunuh sekitar 40 hingga 50 orang sehari atau 1200 hingga 1500 orang sebulan, mudah. (Satu batalion bahkan mengklaim hampir membukukan 1000 body count dalam satu bulan!) Jika apa yang saya ceritakan hanya 10% saja yang benar, walau saya percaya bahwa jumlahnya lebih banyak, setidaknya saya mencoba untuk memberi tahu Anda tentang adanya 120-150 pembunuhan dalam sebulan, (dengan total body count yang dicatat dalam Speedy Express) ini sama artinya terjadi pembantaian seperti My Lay setiap bulannya selama lebih dari setahun. …

Banyak unit-unit tempur Amerika di lapangan yang tidak ambil pusing untuk menentukan posisi lawan terdapat warga sipil atau tidak sebelum memanggil serangan udara.

Para Penembak jitu akan mendapat 5 sampai 10 korban per hari, dan saya pikir 4 batalion semuanya memiliki tim penembak jitu sendiri-sendiri. Secara total bisa timbul 20 korban sehari atau setidaknya 600 setiap bulan. Sekali lagi, jika saya 10% benar maka para penembak jitu telah menimbulkan korban serupa pembantaian My Lay setiap bulannya.

Vietcong sukar dibedakan dengan warga desa biasa, mereka umumnya sama-sama mengenakan piyama hitam…..bagi prajurit Amerika mereka yang berpiyama hitam identik dengan Vietcong.

Dalam surat ini, dan dua surat lagi yang dikirimnya pada tahun berikutnya ke jenderal-jenderal berpangkat tinggi lainnya, sersan itu melaporkan bahwa artileri, serangan udara dan helikopter tempur telah menimbulkan banyak petaka di daerah-daerah yang berpenduduk padat. Yang diperlukan, katanya, adalah hanya beberapa tembakan dari sebuah desa atau garis pepohonan terdekat dan pasukan didarat akan “selalu meminta tembakan artileri, gunship atau serangan udara.” “Berulang kali terjadi,” tulisnya, “(Serangan udara dan artileri) itu akan tetap dipanggil bahkan jika kita tidak ditembak. Dan kemudian ketika [kami] tiba di desa, akan ada perempuan dan anak-anak menangis dan kadang-kadang terluka atau mati. ”Serangan itu diperbolehkan, katanya, karena daerah itu dianggap sebagai daerah Free Fire Zone.

Dari udara mereka yang berlari bisa dianggap sebagai Vietcong di wilayah Free Fire Zone.

Sersan menulis bahwa kebijakan unit itu adalah untuk menembak tidak hanya pejuang gerilya (yang disebut pasukan AS Vietcong atau VC) tetapi siapa pun yang berlari. “Pembunuh nomor satu” warga sipil tak bersenjata, tulisnya, menjelaskan adalah helikopter yang “akan melayang di atas seorang pria di ladang sampai dia takut dan lari dan mereka akan menghabisinya” dan bahwa penembak jitu dari Divisi ke-9 menembak mati petani dari jarak jauh untuk meningkatkan jumlah body count satuan. Dia juga melaporkan bahwa adalah hal yang umum untuk menyandera warga sipil yang tidak bersenjata dan memaksa mereka untuk berjalan di depan para prajurit untuk menjadi tameng atas booby trap musuh. “Tidak seorang pun dari kita yang ingin meledak berkeping-keping,” tulisnya, “tapi hal itu tidak benar untuk dilakukan, yakni menggunakan … warga sipil untuk meledakkan ranjau.”

Helikopter gunship di Delta Mekong menjadi salah satu penyumbang tingginya angka Body Count dalam Operasi Speedy Express.

Ewell menuntut Body Count dan pembelaan

Jenderal Ewell dikenal di Vietnam karena perhatiannya pada “body count” musuh berhasil ditewaskan yang dianggap sebagai indikasi keberhasilan dalam perang. Bawahannya mencatat bahwa dia tidak pernah memerintahkan mereka untuk membunuhi warga sipil tetapi bersikeras meningkatkan jumlah “body count” lewat operasi militer yang anak buahnya lakukan. Pembunuhan-pembunuhan yang terjadi itu bukan karena kecelakaan atau pelanggaran perintah, namun merupakan hasil dari kebijakan komando yang mengubah beberapa daerah di Mekong Delta menjadi “Free Fire Zone” yang membebaskan pasukan Amerika menggunakan firepower nya tanpa batas dalam upaya tanpa henti untuk mencapai jumlah “body count” yang tinggi. Mereka yang ada dalam Zona itu dianggap musuh karena orang-orang Amerika telah memberikan peringatan sebelumnya. Tingginya “Body Count” yang ditimbulkan oleh Divisi ke-9 di Delta Mekong lewat operasi Speedy Express yang banyak memakan korban sipil, menyebabkan Jenderal Ewell, komandannya disebut sebagai “The Butcher of The Delta” alias Penjagal kawasan Delta!

Major General Julian J. Ewell (center) listens to 1st Brigade commander Colonel John Geraci while Colonel Ira A. Hunt Jr., the 9th Infantry Division chief of staff, stands to the right.

Dalam sebuah wawancara, Ira Hunt, seorang pensiunan Mayor jenderal yang adalah kepala staf Jenderal Ewell di Divisi Infanteri ke-9, menyebutnya sebagai “ahli taktik dan inovator yang luar biasa.” Dengan melatih sejumlah besar tentara untuk menjadi penembak jitu, Hunt berkata, “Kami merebut malam dari musuh (dimana biasanya malam hari VC menguasai desa-desa) … Mereka hanya benar-benar berantakan di Delta. Dia juga mendapat ide untuk menggunakan perangkat penglihatan malam di helikopter, dan kami berhasil menghentikan infiltrasi.”

Jenderal Ewell mendapat dukungan dari atasannya juga. Ketika ia dipromosikan untuk memimpin II Field Force, Jenderal Creighton Abrams menyebut Jenderal Ewell sebagai seorang “komandan yang cerdas dan peka … dan ia bermain keras.” Buku Jenderal Ewell yang ditulis bersama Hunt dan terbit tahun 1995 berjudul “Sharpening the Combat Edge,” mengatakan, “Divisi Infanteri ke-9 dan II Field Force di Vietnam, telah dikritik dengan alasan bahwa mereka “terobsesi mereka terhadap jumlah body count’ adalah tidak berdasar. ” Tuduhan itu tidak benar, tulis mereka, dan pendekatan Jenderal Ewell adalah lebih pada “menimbulkan kerusakan maksimum pada pihak musuh”.

 

Patch Divisi ke-9 di Vietnam

Selama masa Ewell memimpin Divisi Kesembilan, dari Februari 1968 hingga April 1969, unit-unitnya memang mencapai “killing ratio” yang sangat tinggi. Sementara rata-rata satuan AS membukukan rasio sepuluh banding satu, pasukan Ewell dilaporkan mencapai rasio tujuh puluh enam banding satu pada bulan Maret 1969. Obsesi Ewell terhadap peroleha body count didukung dengan antusias oleh wakilnya, kemudian Kol. Ira “Jim” Hunt, yang menjabat sebagai komandan brigade di Divisi Kesembilan dan sebagai kepala staf Ewell.

Kebijakan militer Amerika yang menciptakan Free Fire Zone/Zona Bebas Tembak banyak menciptakan korban di kalangan pihak sipil karena musuh yang sukar dibedakan dengan warga biasa.

“Hunt, yang adalah Komandan Brigade kami untuk sementara waktu dan kemudian adalah seorang asisten jenderal … terbiasa berteriak dan mengutuk di radio dan berbicara tentang para brengsek (VC), dan memerintahkan gunship untuk menembaki para ‘sonofabitch’ itu karena mereka terbang di kawasan Free Fire Zone,” tulis Sersan Itu.

Hunt, katanya, “tidak peduli dengan orang Vietnam atau para prajuritnya, dia hanya menginginkan yang terbaik dari semuanya, termasuk perolehan body count”; “Hunt … selalu mengutuk dan berteriak melalui radio dari helikopter Komando kepada para GI atau gunship untuk menembak beberapa orang Vietnam yang dilihatnya sedang berlari walau dia tidak tahu apakah mereka memiliki senjata atau apakah ada wanita atau apa.”

Jenderal Westmoreland dituduh mengabaikan dan menutupi praktek-praktek penggelembungan jumlah body count di medan perang.

Dalam memoarnya tahun 1976, A Soldier Reports, Westmoreland menegaskan, “Angkatan Darat telah menginvestigasi setiap kasus [dan kemungkinan kejahatan perang], dengan tidak mempedulikan siapa yang pertama kali membuat tuduhan,” dan mengklaim bahwa “tidak ada kejahatan yang skala dan kengeriannya melebihi My Lai . ”Namun ia secara pribadi mengambil tindakan untuk membatalkan beberapa penyelidikan atas laporan kekejaman berskala besar yang dijelaskan dalam surat prajurit yang telah disinggung diatas itu.

Setelah Vietnam

Setelah Vietnam, Jenderal Ewell menjadi penasihat militer untuk delegasi AS-Vietnam pada pembicaraan damai di Paris. Dia pensiun pada tahun 1973 sebagai kepala staf di Komando Selatan NATO di Naples. Penghargaan militernya yang lain termasuk empat penghargaan Distinguished Service Medal, dua penghargaan Silver Star, dua penghargaan Legion of Merit, Medali Bronze Star, Purple Heart, dan Air Medal. Pernikahannya dengan Mary Gillem Ewell dan Jean Hoffman Ewell berakhir dengan perceraian. Istrinya yang berusia 40 tahun, Beverly McGammon Moses Ewell, meninggal pada 1995.

Julian Ewell meninggal di usia 93 tahun pada 27 Juli 2009.

Pada tahun 2005, ia menikah dengan pensiunan duta besar AS untuk Madagaskar Patricia Gates Lynch Ewell. Ewell meninggal karena pneumonia 27 Juli 2009 di Rumah Sakit Inova Fairfax pada usia 93 tahun. Dia tinggal di komunitas pensiunan The Fairfax di Fort Belvoir. Ia meninggalkan istrinya, termasuk seorang putra dari pernikahan pertamanya, Gillem Ewell dari Charles Town, W.Va .; seorang putri dari pernikahan keduanya, Dorothy Ziegler dari Montgomery, Ala; anak kembar dari pernikahan ketiganya, Dale Moses Walker dari Albuquerque dan Stephen Moses dari Williamsburg; dua anak tiri, Pamela Gates Belanger dari Denver dan Lawrence Alan Gates dari Memphis; enam cucu; dan cicit.

Kesimpulan

Dalam perang asimetris yang tujuannya terbatas, seperti di Vietnam, parameter mengenai kesuksesan operasi militer menjadi suatu hal yang sukar untuk ditakar. Vietnam bukanlah Perang seperti Perang Dunia II dan bahkan Korea, dimana kesuksesan militer masih bisa diukur dari gerak maju pasukan di garis depan. Di Vietnam, tidak ada garis depan, meski pelanggaran wilayah dan operasi lintas batas antar negara itu tetap ada, namun garis demarkasi 17 derajat (DMZ) itu ada. Amerika cs juga tidak memiliki rencana untuk melakukan invasi, menjatuhkan pemerintahan dan menduduki Vietnam Utara. Yang diinginkan Amerika cs adalah keberlangsungan rezim anti komunis di selatan dan pihak utara menghentikan segala bantuan kepada para pemberontak komunis yang berupaya mendongkel Rezim di Saigon.

Seorang Prajurit Amerika dan tawanan wanita yang diduga merupakan simpatisan Vietcong.

Problem utama bagi kelompok anti komunis di Vietnam adalah memenangkan simpati dari penduduk sipil di Vietnam Selatan, bahwa mereka merupakan pihak yang lebih baik dan lebih peduli dibanding pihak komunis terhadap rakyar sipil. Masalahnya hal semacam ini adalah hal yang bersifat kualitatif yang bisa berubah-ubah dan tidak bisa diukur secara kuantitas. Repotnya hal-hal semacam ini tidak bisa dibebankan dan diselesaikan secara militer.

Bagi komandan-komandan militer di Vietnam, mereka membutuhkan “sesuatu” parameter untuk menentukan kesuksesan mereka. Karena mereka tidak bisa menundukkan militer Vietnam Utara secara total lewat invasi dan merebut pusat komando musuh di Hanoi, mereka mengejar kesuksesan dengan menghancurkan sebanyak mungkin pasukan musuh yang dikirim dari utara ke selatan. Dalam perang atrisi semacam ini, Jenderal Westmoreland berharap bahwa pasukan Amerika bisa “membunuhi” sebanyak mungkin tentara/gerilya komunis dengan rasio yang lebih besar dibanding kemampuan pihak komunis untuk menggantikan mereka yang berhasil ditewaskan. Dalam kondisi semacam inilah pencatatan “body count” musuh menjadi muncul dan dianggap parameter kesuksesan unit-unit tempur satuan non-komunis dalam peperangan.

Fire Support Base Danger, headquarters of an element of the 1st Brigade, 9th U.S. Infantry Division, Định Tường Province

Problem di lapangan, unit-unit tempur mengalami kesulitan dalam membedakan antara kombatan dan warga sipil, ditambah lagi unit-unit komunis banyak bersembunyi dan memanfaatkan simpati dari warga sipil di kawasan berpenduduk padat seperti di Delta Mekong. Kondisi yang tidak menguntungkan dengan dipadu oleh praktek-praktek pencatatan body count sebagai parameter kesuksesan……melahirkan case-case yang serupa dengan Operasi Speedy Express. Operasi-operasi serampangan memang bisa menghasilkan body count tinggi yang menggembirakan bagi komandan-komandan tempur di lapangan dan bisa berefek pada promosi jabatan masing-masing individu, namun sekaligus menjadi boomerang yang mempersulit dan bahkan bisa menggagalkan upaya memenangkan hati dan pikiran rakyat yang seharusnya mereka proteksi. Ada seorang pejabat distrik Vietnam Selatan yang berkata: “saat kamu membunuh orang (komunis) yang tepat, paling kamu akan menghadirkan satu orang (musuh) pengganti, namun saat kamu membunuh orang yang salah, kamu akan menghadirkan sepuluh orang pengganti (yang bisa dari pihak teman, tetangga, dan saudara korban).”

Membakar desa yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Vietcong telah menjadi praktek yang umum dilakukan di Vietnam sejak pertama kali pasukan darat Amerika dikirim di Vietnam tahun 1965.

Pada akhirnya perang memenangkan hati dan pikiran rakyat itu memang tidak pernah mudah karena melibatkan banyak faktor dan tidak bisa ditakar dari sisi militer saja.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

Julian J. Ewell, 93, Dies; Decorated General Led Forces in Vietnam By Patricia Sullivan, Washington Post Staff Writer

Wednesday, August 5, 2009

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/08/04/AR2009080403187.html?noredirect=on

A My Lai a Month, In Operation Speedy Express, new evidence of civilian slaughter and cover-up in Vietnam.

By Nick Turse

https://www.thenation.com/article/my-lai-month/

The Vietnam War, American television series directed by Ken Burns and Lynn Novick (2017)

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Julian_Ewell

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *