German Infantry Tactics of World War II

Semua pertempuran yang terjadi dalam sejarah umumnya sangat bergantung pada teknik prajurit infanteri dan Perang Dunia II termasuk diantaranya. Taktik infanteri merujuk pada teknik dan strategi militer yang digunakan oleh infanteri suatu negara di medan perang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dan tujuan taktis. Prajurit infanteri biasanya merupakan bagian yang paling besar dari kekuatan tentara suatu negara, selain itu pada kenyataannya sebagian besar program pelatihan militer dimulai dengan modul pelatihan tempur infanteri sebelum melanjutkan ke bidang pelatihan yang lebih khusus.

Infanteri Parasut Amerika

Menjadi pasukan tempur garis depan, mereka dihadapkan pada bahaya yang lebih besar dan kerusakan yang dibuat oleh pertahanan musuh, jadi bisa dikatakan merekalah yang menanggung beban terbesar pertempuran dan pengalaman mereka di medan perang seringkali sangat realistik, brutal dan aktual dibandingkan dengan prajurit dari kecabangan lainnya, mereka umumnya juga dikenal sebagai umpan meriam/cannon fodder.

Infanteri Chekoslovakia

Oleh karena itu taktik infanteri yang baik sangat penting dan yang kemudian akan terdiri dari pendekatan militer secara strategis dan teknik yang berfungsi untuk meminimalkan risiko dan korban pada prajurit, dan sebaliknya taktik yang meningkatkan risiko dan banyak korban pada prajurit infanteri dapat dianggap sebagai taktik infanteri yang buruk. Taktik infanteri yang lebih efisien secara keseluruhan mungkin bergantung pada hal-hal seperti medan pertempuran, persenjataan dan teknologi yang digunakan, kekuatan relatif dan jumlah tentara, dan kemungkinan ketersediaan dukungan dari front lain seperti angkatan laut dan angkatan udara.

Infanteri Inggris asal India di Front Burma

Infanteri Jerman pada Perang Dunia II

Angkatan Bersenjata Jerman saat PD II, dikenal sebagai Wehrmacht dengan kekuatan diperkirakan 10 juta tentara pada saat waktu. Bertentangan dengan pendapat umum, Wehrmacht aslinya tidak terlalu mekanis dan secara teknologi canggih, mereka sering dibiarkan menjelajahi medan mereka dengan kuda, dan faktanya formasi mekanis dan tank mereka hanya menyumbang sekitar 20 persen dari kekuatan mereka.

Infanteri Jerman dalam Perang Dunia II

Taktik infanteri Jerman dalam Perang Dunia II didasarkan pada gerakan agresif yang dipadu dengan unsur kejutan sebagai resep untuk kesuksesan operasi militer mereka. Mereka fokus pada aspek-aspek seperti kecepatan serangan, dan daya tembak senjata yang sensasional, seperti diantaranya adalah senapan mesin MG-34 dan MG-42. Mereka sangat bergantung pada penggunaan senjata otomatis, seringkali dengan mengorbankan akurasi.

Senapan Mesin multifungsi MG-34/42 menjadi “jantung” dari taktik gelar regu infanteri Jerman saat PD II.

Jerman menanamkan disiplin melalui pelatihan dan seperti dalam pasukan beberapa negara lainnya, mereka menekankan tanggung jawab dan mendorong bawahan untuk menggunakan inisiatif mereka. Hal ini menjadi kunci atas beberapa keputusan berani yang dibuat oleh tentara infanteri Jerman di Perang Dunia II.

Struktur Regu

Pasukan Infanteri Jerman seperti juga negara2 lain, sering dioperasikan dalam kelompok-kelompok kecil khusus berjumlah sekitar sepuluh orang. Dalam hal pembagian peran, satu regu terdiri dari seorang pemimpin, asistennya atau sebagai orang kedua dalam komando, seorang penembak senapan mesin, dan asistennya yang sering membawa amunisi dan terus menembakkan peluru senapan mesin jika penembak senapan mesin tertembak, sementara prajurit sisanya dibekali senapan (rifle) dan secara kolektif disebut sebagai riflemen. Beberapa riflemen memiliki keahlian dalam bahan peledak dan membawa granat tangan dan kadang-kadang disebut sebagai pembawa granat dan atau pelempar.

Squad infanteri Jerman di fase awal PD II

Pemimpin regu memimpin tujuan regu, mengkomunikasikan perintah dari komando atasnya serta tujuan dan sasaran misi. Adalah juga tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan rekan satu timnya untuk memastikan bahwa amunisi dan persediaan lain yang diperlukan tersedia sesuai kebutuhan sambil memastikan keamanan pasukannya di medan perang.

Jabatan, senjata dan tugas masing-masing anggota regu infanteri Jerman dalam PD II.

Asisten pemimpin regu mengoordinasikan regu dan mewakili ketika pemimpin regu berhalangan hadir atau saat ditembaki di medan perang, ia juga menjadi penghubung dengan regu lain di dalam peleton saat terdapat misi bersama. Setiap peleton biasanya terdiri dari empat regu.

Machine gun team with MG34 at the Eastern Front.Photo BreTho CC BY-SA 4.0

Penembak mesin mengoperasikan senapan mesin ringan (LMG) dan bertanggung jawab atas senjatanya. Tujuannya biasanya adalah untuk mencapai jarak tembak yang cukup dari target dan membuka tembakan, dia juga perlu memberikan perlindungan sementara rekan satu timnya maju atau untuk mengalihkan perhatian musuh dengan menarik pemusatan tembakan musuh sementara rekan timnya menyusup ke barisan musuh. Asistennya akan membantu dengan mengganti amunisi yang habis dan melakukan perbaikan jika senjata macet dan jika perlu mengambil alih peran penembak senapan mesin jika penembak utama menjadi korban, ia juga membawa sepucuk pistol.

Rifleman yang mahir melempar granat sangat penting dalam taktik infanteri Jerman dalam memberi kejutan dalam menggunakan peledak berkekuatan besar pada posisi perkubuan musuh dari jarak yang cukup.

Riflemen sisanya akan membentuk bagian penyerang pasukan, biasanya mereka sesekali menembaki musuh satu kali ketika berada dalam jangkauan tembak, mereka lebih mobile daripada anggota pasukan lainnya dalam regu. Pelempar granat sering kali merupakan riflemen yang memiliki tanggung jawab dan keterampilan tambahan untuk melemparkan granat dari jarak yang cukup jauh pada musuh, ledakan besar biasanya memiliki dampak yang lebih besar pada pasukan musuh sementara granat asap memberikan perlindungan yang memungkinkan mereka untuk bergerak tanpa perlawanan musuh yang signifikan karena terbatasnya akuisisi visual.

Persenjataan

Awalnya semua orang selain penembak senapan mesin dan asistennya dilengkapi dengan “Karabiner 98 kurz”, senapan standar Jerman, bahkan pemimpin regu. Namun sekitar tahun 1941 pemimpin regu mendapatkan senapan sub mesin ringan (SMG) MP40 dengan 6 magazine masing-masing berisi 32 peluru 9mm parabellum.

Senapan K98Kurz tetap menjadi andalan rifleman infanteri Jerman dalam kurun waktu 1939-1945.

Penembak senapan mesin dilengkapi senapan mesin multifungsi MG 34 dan kemudian dengan MG42, crew senapan mesin dilengkapi dengan pistol sementara drum amunisi untuk senapan mesinnya berisi 50 peluru 7,92 mm. Asisten penembak membawa 4 drum amunisi dengan 50 peluru dan masing-masing berat 2,45 kg. Selain itu, terdapat satu kotak amunisi tambahan dengan 300 peluru yang total beratnya 11,53 kg. MG42 jelas bukan sistem senjata yang ringan, bobot kosong senjatanya sendiri sekitar 11,6 kg dan bisa melonjak jadi 20 kg jika menggunakan bipod.

A German Waffen SS soldier involved in heavy fighting in and around the French town of Caen in mid-1944. He is carrying an MG 42 configured as a light support weapon with a folding bipod and detachable 50-round belt drum container. Photo: Bundesarchiv, Bild 146-1983-109-14A / Woscidlo, Wilfried / CC-BY-SA 3.0

Ada juga pembawa amunisi yang ditugaskan untuk membantu tim penembak senapan mesin, tugasnya adalah mengangkut dan memasok amunisi. Dia membawa dua kotak Ammo dengan 300 butir peluru masing-masing. Berbeda dengan asisten penembak senapan mesin, dia membawa senapan bukan pistol.

Untuk komandan regu dengan berjalannya perang mereka dibekali SMG MP-38/40.

Untuk masing-masing rifleman mereka memiliki sekitar 9 klip peluru untuk senapannya dengan masing-masing berisi 5 peluru, sehingga mereka siap melakukan 45 tembakan. Ini adalah jumlah reguler, pada kenyataannya bisa ada lebih banyak peluru yang dibawa jika situasi pertempuran membutuhkan. Wakil komandan regu dipersenjatai dengan cara yang sama seperti riflemen. Dengan demikian, total satu regu memiliki 1 senapan mesin ringan, 1 senapan sub mesin (SMG), 2 pistol, 7 senapan dan beberapa granat tangan, yang dibawa tergantung pada situasinya.

Formasi

“German Infantry Division – Chart” 1941-1945

Pasukan Jerman beroperasi menggunakan kombinasi tiga formasi dasar termasuk kolom regu atau Reihe, baris regu atau Kette dan regu dalam gerak maju. Kette yang pada dasarnya merupakan Reihe dengan perubahan manuver 90 derajat dari formasi sebelumnya. Dalam formasi Reihe penembak senapan mesin dengan asistennya selalu ada di bagian paling depan, mereka adalah anggota kunci dari regu, yang juga ditunjukkan dengan penandaannya “Schütze 1” atau “prajurit infanteri nomor 1”. (base man) yang diikuti oleh anggota lainnya. Formasi ini adalah formasi yang tidak cocok untuk situasi berbahaya. Saat formasi berubah menjadi Kette, maka tim senapan mesin ini akan berubah menjadi di pusat regu, sementara sisa pasukan akan tersebar di kanan kirinya, bergerak maju dibawah perlindungan tim senapan mesin, formasi ini cocok digunakan untuk menyerang musuh yang tidak terlindung dan dalam kondisi tidak siap. Kette dapat dengan mudah dimodifikasi menjadi schützenkette atau skirmish line, saat seluruh anggota regu dibutuhkan firepower nya dengan jarak antar prajurit sekitar 3,5 meter terpisah satu sama lainnya.

Dalam formasi kette, posisi penembak senapan mesin ada di tengah untuk mendapatkan field of fire terbaik sekaligus melindungi manuver sayap-sayap regu.
Fluiditas formasi Reihe dan Kette, menjadi dasar gerak mobilitas infanteri Jerman.

Pasukan dalam formasi march pada dasarnya adalah campuran dari Kette dan Reihe yang digunakan ketika bergerak maju ke arah musuh yang mungkin berada dalam pengepungan atau dalam posisi pasukan melakukan invasi. Dalam formasi ini Penembak senapan mesin mungkin tidak diposisikan terpusat dalam hal ini dan tujuan utamanya adalah untuk memberikan keunggulan daya tembak selama serangan.

Ofensif

Serangan ofensif infanteri Jerman dibagi dalam lima tahap; development, deployment, advancement, attack, dan penetration. Berbagai tahapan ini terjadi secara berurutan dan transisi antara masing-masing tahap seringkali kabur. Development terdiri dari serangkaian kegiatan yang mengarah ke pengiriman prajurit infanteri ke medan perang yang ditentukan. Dalam deployment, para prajurit diberi pengarahan tentang tujuan mereka dan dengan cepat kemudian membentuk formasi. Di medan perang, advancement dimulai dengan pasukan yang beroperasi di bawah formasi seperti yang telah dibahas sebelumnya sementara secara sistematis mendekati posisi pasukan musuh. Tergantung pada sifat misi, tahap ini mungkin atau mungkin juga tidak mengalami tembakan dari lawan.

Infanteri Jerman menyerang di Ardennes 1944

Dalam serangan, kontak senjata pecah dan terjadi tembak-menembak habis-habisan, riflemen menembak ke segala arah sementara menutup sisi sayap mereka, penembak senapan mesin menyediakan tembakan perlindungan untuk rekan satu tim dan berusaha untuk mencapai superioritas daya tembak. Biasanya pada tahap ini tidak ada banyak gerakan maju, disini anggota pasukan berupaya untuk menerobos pertahanan musuh. Pada tahapan Penetrasi pasukan Jerman sudah jauh masuk menembus pertahanan musuh, biasanya masuk sekitar seratus meter dari garis pertahanan musuh dan disini menunjukkan bahwa Ofensif berhasil dan pasukan musuh mulai melakukan pengunduran diri.

Pertahanan

Dalam pertempuran di front timur bukan hal yang aneh jika prajurit Jerman menggunakan senjata rampasan musuh seperi SMG PPSh-41.

Dalam operasi defensif, infanteri Jerman ditugaskan untuk mempertahankan garis pertahanan utama, penembak senapan mesin dan pelempar granat dikerahkan ke sayap kiri dan kanan untuk memulai serangan balik atau ofensif jika memungkinkan. Riflemen disebar di sepanjang garis pertahanan untuk mempertahankan wilayah yang mereka diduduki.

Dengan berjalannya perang, semenjak digagalkannya ofensif Jerman di Kursk 1943, infanteri Jerman mulai dibiasakan dalam posisi defensif yang terus berlanjut sampai akhir perang.

Kesimpulan

Jerman memang kalah dalam Perang Dunia II tetapi para ahli strategi militer setuju bahwa mereka mengoperasikan infanteri mereka dengan efisien, cepat, mengejutkan, dan unggul dalam beberapa pertempuran yang memberi mereka aura kedikdayaan dan membawa mereka meraih beberapa kemenangan selama perang. Mereka tangguh dan dikenal dengan agresifitas mereka yang membantu mereka mencapai hasil yang cukup baik sampai pada pertempuran Stalingrad dan Kursk pada tahun 1943, setelah itu mereka menderita kekalahan besar yang memaksa mereka mundur hingga akhirnya menyerah pada Mei 1945.

Infanteri Jerman di Front Timur

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

German Infantry Tactics of World War II

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/world-war-ii/german-tactics-wwii.html/amp

German Squad Tactics & Organization in World War 2

https://www.quora.com/Is-the-MG42-effective-or-is-it-just-a-waste-of-ammunition

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *