Glubb Pasha, Jenderal asal Inggris Di Tengah Legiun Arab

Letnan. Jenderal Sir John Bagot Glubb, yang biasa dikenal sebagai “Glubb Pasha” yang membangun Legiun Arab Yordania menjadi salah satu pasukan tempur paling tangguh di Timur Tengah, telah lama meninggal dunia di Inggris pada tahun 1986. Dia meninggal di usia 88 tahun. Namanya mungkin kini sudah banyak dilupakan orang, namun “warisannya” baik dalam bentuk peran historis dirinya telah turut membentuk sejarah Timur Tengah. Sementara buku-buku yang ditulisnya setelah pensiun, menarik untuk dipelajari bagi mereka yang tertarik dengan sejarah dunia Arab dan Timur Tengah. Glubb adalah yang bagian terakhir dari sekelompok kecil tentara, negarawan dan administrator yang mempertahankan supremasi Inggris di Timur Tengah selama hampir empat dekade setelah Perang Dunia I dan jatuhnya Kekaisaran Ottoman. Bahkan, untuk sementara waktu ia menjadi orang penting terakhir asal Kerajaan Inggris di wilayah itu juga. Seorang lelaki kecil dan pemberani, Jenderal Glubb menghabiskan 36 tahun hidupnya di antara orang-orang Arab dan memiliki pengaruh besar di antara mereka. Ia dikenal, sebagai ” Lawrence of Arabia kedua” atau ‘Raja Yordania yang tidak bermahkota’, dan akhirnya menjadi simbol yang tidak diinginkan dari imperialisme Inggris ketika peran Glubb berangsur menghilang setelah diberhentikan oleh Raja Hussein dari Yordania.

Glubb Pasha meninjau Parade Legiun Arab tahun 1953 di Yordania. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

LATAR BELAKANG

Dua meriam 6 pounder, yang telah dengan susah payah diseret ke benteng-benteng Kota Lama Yerusalem, ditempatkan di Notre Dame Hospice yang megah. Saat itu tanggal 23 Mei 1948, dan pada tengah hari, Legiun Arab akan melancarkan serangan yang telah lama direncanakan terhadap beberapa posisi tentara Yahudi yang menghalangi masuknya mereka ke wilayah Yerusalem Barat. Sementara prajurit biasa dan warga sipil setempat mungkin memuji upaya ini, komandan satuan Legiun Arab itu bimbang. John Bagot Glubb – biasa dikenal sebagai Glubb Pasha oleh anak buahnya dan Raja Abdullah dari Kerajaan Trans-Jordan — percaya pasukan kecilnya lebih cocok untuk bertempur di padang pasir daripada di lorong-lorong gelap dan bangunan batu yang padat di kota kuno Yerusalem. Tetapi Abdullah menuntut dilakukannya serangan langsung ke Yerusalem, baik di Kota Tua nya maupun yang Baru. Meski bimbang dan enggan, namun karena pernah menjadi prajurit, John Glubb tahu bagaimana ia harus mematuhi perintah. 

John Bagot Glubb lahir dari keluarga militer, dimana ayahnya adalah seorang Jenderal. (Sumber: https://www.7iber.com/)

Dilahirkan di Preston, Lancashire, pada tanggal 16 April 1897, Glubb adalah putra Mayor Jenderal Sir Frederic Manley Glubb dan Frances Letitia Bagot. Dia dididik di Cheltenham College dan Royal Military Academy di Woolwich sebelum ditugaskan sebagai letnan dua di Royal Engineers pada tahun 1915. Dia bertugas di Prancis dan Belgia selama Perang Dunia I, dimana dia dikenal keberaniannya yang dibuktikan dengan penghargaan yang diterimanya. Setelah perang, Glubb memilih menjadi “seorang Arab”. Mengundurkan diri dari dinas militer Inggrisnya pada tahun 1926 untuk menjadi seorang administrator bagi pemerintah Irak, ia tinggal di antara orang Bedouin, berbicara dalam bahasa mereka, memahami kebiasaan mereka dan bekerja untuk kepentingan mereka yang lebih besar. Glubb adalah seorang lelaki kecil dengan suara bernada tinggi, dan walaupun dia pemalu dan pendiam di berbagai kesempatan, dia dikenal memiliki temperamen yang buruk. Selama perang ia terluka tiga kali, sebuah peluru merobek ujung dagunya, meninggalkannya dalam posisi miring yang tidak sesuai dengan pipinya yang gemuk dan wajahnya yang bulat. Cidera itu membuatnya mendapat julukan di antara para pengikut Arabnya sebagai: Abu Hanaik (Father of the Jaw). 

Bagot Glubb membangun Legiun Arab dari individu-individu yang tidak memegang nilai-nilai kedisiplinan menjadi sebuah satuan militer paling profesional di kawasan Timur Tengah. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Pada tahun 1930, ia meninggalkan Irak untuk bekerja bagi Raja Abdullah, yang mengontraknya untuk membantu membangun Legiun Arab Trans-Jordan, Al-Jaish Al-Arabi. Legiun itu awalnya adalah pasukan keamanan internal yang dibentuk pada tahun 1921 oleh orang Inggris lainnya, Letnan Kolonel Frederick Peake. Pada tahun-tahun setelah Perang Dunia I, wilayah Trans-Jordan adalah daerah protektorat Inggris, dan tugas Peake adalah menjaga ketertiban di antara berbagai suku Arab di wilayah itu. Ditempatkan di perbatasan tenggara dekat perbatasan dengan Arab Saudi, Glubb harus membangun kontingennya dari awal. Dia berada 120 mil jauhnya dari ibu kota Trans-Jordan, Amman, tinggal di sebuah mobil Buick tua dan harus menghadapi Ikhwan (saudara-saudara), yakni orang-orang fanatik agama yang telah memberontak melawan Raja Ibn Saud dari Arab. Pada masa perang mereka bertempur di pihak Saudi, namun setelah perang, Ikhwan kemudian telah berbalik untuk menyerang desa-desa yang tidak memiliki pertahanan baik di Irak dan Trans-Yordania untuk memperoleh persediaan dan makanan. Perintah langsung yang diberikan kepada Glubb adalah untuk menghentikan pemberontakan tersebut. Untuk melakukan itu, ia harus menjelajahi desa-desa Huwaitat dan berusaha meminta bantuan mereka. Sayangnya, Huwaitat, seperti banyak suku Arab lainnya, hanya mengenal satu pemerintahan selama lebih dari 400 tahun terakhir, yakni: Ottoman, dimana mereka telah belajar untuk tidak mempercayai orang-orang Turki, dan ketidakpercayaan itu sekarang menurun ke Glubb dan para administrator Arabnya. 

PEMBENTUKAN LEGIUN ARAB

Untuk membantu upayanya, Glubb dibantu oleh empat orang kepercayaannya. Salah satunya adalah seorang budak yang diperoleh Glubb dari Arab Saudi. Dua lagi adalah warga Irak yang telah bertugas di sisinya selama bertahun-tahun, dan satunya lagi adalah orang suku Shammar yang bergabung dengannya ketika ia meninggalkan Irak. Kelima orang itu mencoba membujuk orang-orang Huwaitat untuk bergabung di pasukan kecil Glubb. Sembari memuji pencapaian mereka, Glubb juga memperingatkan para anggota suku itu bahwa jika mereka tidak membantu mempertahankan desa mereka, laki-laki lain akan melakukan pekerjaan itu – bagi orang Arab, hal itu akan membuat mereka kehilangan muka. Akhirnya, seorang sukarelawan, Awwadh ibn Hudeiba, melangkah maju dan, sekitar tiga hari setelah mendaftar, ia ditempatkan di bersama dengan empat asisten Glubb. Seorang perwira dari markas besar Peake di Amman tiba untuk membayar orang-orang itu, dan dengan gaya militer sejati, ia menuntut agar para prajurit berhitung. Terkejut dengan keteraturan yang tidak biasa dijalaninya, sukarelawan legiun itu menanggalkan seragamnya dan memutuskan pergi. Beruntung bagi Glubb, tiga orang Huwaitat lagi, yang tidak terintimidasi oleh aturan formalitas tentara, segera bergabung, kemudian datang 17 lagi. Personel kecil ini adalah awal sederhana dari Tim Patroli Gurun Glubb yang terdiri dari 20 personel dan empat truk, dengan empat senapan mesin Vickers. 

Legiun Arab dengan truk bersenapan mesin Lewis tahun 1941. (Sumber: https://www.tumbral.com/)

Pada musim semi 1931, Glubb memiliki sekitar 90 personel yang mengenakan seragam legiun – jubah panjang berwarna khaki dengan lengan putih panjang, selempang merah di dada, tali lanyard merah untuk mengikat revolver, bandolier amunisi, dan ikat pinggang di tengah dimana menggantung belati bergagang perak. Segera, putra-putra para sheik bersaing untuk bisa masuk, dan meskipun Glubb dan para letnannya menyambut mereka, siapa pun yang tidak memenuhi standar tinggi Glubb mendapati dirinya berakhir di pelatihan berat legiun dan keluar dari satuan itu. Glubb juga menyadari bahwa pasukan Arabnya membutuhkan sikap kemandirian yang membutuhkan lebih dari kemampuan menggunakan pisau atau senjata. Selain memerangi Ikhwan, Glubb juga berperang melawan buta huruf, ia lalu meluncurkan kampanye membaca dan menulis di antara suku Huwaitat. Pada Mei 1931, jumlah serangan di perbatasan telah berkurang hampir setengahnya. Satuan Patroli Gurun mewakili sekitar seperlima dari 1.200 pasukan tempur Legiun Arab. Meski secara resmi ada di bawah Peake dalam hierarki legiun, Glubb mendapati dirinya mengambil tanggung jawab yang semakin besar untuk pasukan Raja Abdullah sampai, pada bulan Maret 1939, Peake mengakhiri 17 tahun karir Trans-Jordan-nya untuk pensiun di Inggris. Glubb sekarang adalah komandan dari 2.000 prajurit Legiun. Satuan ini dikenal sebagai satuan yang tangguh dan jago dalam menembak. Pada tahun 1940-an, Patroli Gurun telah menyingkirkan unta-untanya yang terakhir dan mulai melakukan perjalanan dengan truk-truk Ford terbuka dengan senapan mesin Lewis yang dipasang pada tripod di atap kabin. 

Orang-orang Badui Arab dari Suku Huwaitat, merupakan personel-personel pertama dari Legiun Arab pimpinan Glubb. (Sumber: https://www.tumbral.com/)
Legiun Arab turut berperan dalam perang singkat Inggris vs Irak tahun 1941. Terlihat dalam foto prajurit Legiun Arab menjaga pangkalan udara dengan senapan mesin Vickers. (Sumber: https://www.tumbral.com/)

Pada saat itu, perang baru berkecamuk di Eropa, yang segera menyebar ke Timur Tengah, dan pada bulan Februari 1941 sebuah partai politik pro-Jerman mengambil alih Baghdad. Pada bulan April, Irak menyatakan perang terhadap Inggris dan mengepung barak Angkatan Udara Kerajaan di Habbaniya di Sungai Eufrat, sekitar 75 mil sebelah barat Baghdad. Sebagai tanggapan langsung, Inggris mengirim 750 orang pasukan melintasi padang pasir untuk membebaskan Habbaniya dan merebut kembali Baghdad. Glubb dan kontingen kecil Patroli Gurunnya menemani satuan itu. Perintahnya adalah untuk membantu elemen-elemen Irak yang masih loyal kepada Emir pro-Inggris, Abdul Illah. Setelah pemerintah pro-Inggris dipulihkan di Baghdad, Glubb kembali ke Trans-Jordan. Pada bulan Mei dan Juni 1941, ia membantu Inggris melawan pasukan Prancis Vichy di Suriah, kemudian menghabiskan sisa waktu di Perang Dunia II menjaga suku-suku Badui dalam kedamaian di perbatasan. Dengan menempatkan Legiun Arab menjaga wilayah-wilayah itu, telah memampukan Inggris untuk mengerahkan pasukannya dan pasukan Commonwealth bertempur melawan tentara Axis. Jika saja Rommel tidak dipukul mundur di El Alamein, mungkin saja Legiun Arab dikerahkan ke garis depan melawan pasukan Jerman/Italia. Keempat baris pita pada dekorasi seragam Glubb termasuk adalah medali Distinguished Service Order yang diberikan atas kepemimpinannya dalam kampanye-kampanye saat Perang Dunia II. Pada 1945, Legiun Arab telah meningkat menjadi sekitar 8.000 orang, semua sangat loyal kepada komandan Inggris mereka, yang mereka sebut sebagai Glubb Pasha (Jenderal). Legiun telah berubah dari pasukan polisi kecil yang terdiri atas beberapa ratus orang, menjadi kekuatan militer yang terkenal di seluruh dunia Arab sebagai pasukan tempur paling efektif sejak zaman para khalifah. Kekuatan utama mereka bertumpu pada Brigade Mekanis yang terdiri dari 3.000 prajurit (yang dibangun di sekitar Satuan Mobil Gurun Glubb) dan 500 personel Desert Patrol Force. Komandan satuan-satuan ini mayoritas berasal dari prajurit reguler dari Angkatan Bersenjata Inggris.

PERANG ARAB ISRAEL 1948

Setelah Perang Dunia II, kekuatan legiun mulai berkurang. Pada tahun 1947, jumlah mereka turun menjadi 4.000 orang. Meski demikian mereka adalah satuan militer lokal paling profesional di Timur Tengah pada masanya. Legiun dilatih menurut model Inggris dan sebagian besar dipimpin oleh perwira Inggris (kecuali 5 orang!), termasuk Glubb. Aroma pengaruh Inggris sangat kental dalam Legiun Arab. Seperti Inggris, Legiun direkrut dari para sukarelawan dengan masa dinas jangka panjang. Legiun juga sama seperti militer Inggris yang lebih mementingkan kualitas ketimbang kuantitas, dengan menekankan skill individu yang dilatih selama bertahun-tahun. Sementara sebagian besar perwiranya adalah orang Inggris, sekelompok calon pemimpin Arab sedang dilatih. Glubb jelas menyadari apa yang akan terjadi di masa depan. Pemerintah Inggris sedang bersiap untuk pergi dari Timur Tengah. Bagi Glubb dan atasannya, Raja Abdullah, ancaman baru mulai muncul dari wilayah barat Amman. Hal itu datang dari apa yang oleh banyak orang Arab dianggap sebagai gangguan, yakni: kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina. “Begitu orang-orang Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah bangsa, dapatkah mereka disalahkan karena menginginkan sebuah negara?” Glubb bertanya pada dirinya. Dari kantornya yang kecil di puncak bukit di Amman, dia berusaha untuk memimpin pasukannya dan, selanjutnya, menjadi negara milik Abdullah, menuju sebuah era baru. Rencana pendeklarasian Israel sebagai sebuah negara merdeka membuka peluang bagi orang-orang Arab untuk menghadapi perang yang sulit. Pada tanggal 30 November 1947, Legiun Arab mulai beroperasi untuk mendukung konvoi pasokan ke pasukan Arab di sekitar Yerusalem. Jelang pecah perang pada tahun 1948, Legiun Arab kembali ke kekuatan penuhnya di masa perang, yakni sebanyak 8.000 personel dengan didukung oleh 50 unit kendaraan lapis baja buatan Inggris dan 20 buah senjata artileri. Jumlah ini sebenarnya bukan jumlah yang mengesankan, namun jelas jauh mengungguli unit-unit Haganah Israel yang akan mereka hadapi. Sebagai contoh, saat pertempuran awal di Yerusalem, dimana Legiun Arab mengerahkan hampir setengah kekuatannya, senjata terberat yang dimiliki orang-orang Israel hanyalah dua senapan mesin medium dan dua senjata antitank PIAT.

Legiun Arab berbaris di depan kendaraan lapis baja Marmon Herrington Mark IV di Yordania tahun 1946. Berakhirnya Perang Dunia II menjadikan Legiun Arab sebagai satuan militer paling profesional dan bersenjata lengkap di Timur Tengah. (Sumber: https://www.tumbral.com/)
Personel Haganah-Israel sedang berlatih dengan senapan mesin ringan Bren. Dibanding lawan-lawan Arabnya seperti Legiun Arab Yordania, personel Israel jelas kalah dalam bidang persenjataan. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Mengenai motivasi Raja Abdullah pada tahun 1948, sebenarnya dipenuhi dengan ketidakjelasan, namun yang terlihat adalah jelas bahwa ia tidak benar-benar ingin membinasakan negara orang-orang Yahudi itu, seperti yang ingin dilakukan oleh rekan-rekannya asal negara-negara Arab. Setidaknya awalnya di tahun 1947, Abdullah terlihat hanya berharap dapat menguasai wilayah yang dialokasikan oleh PBB untuk bangsa Palestina, dah memasukannya menjadi bagian dari Yordania. Sementara itu buat Glubb, ia membatasi diri untuk hanya berupaya mencoba menguasai dan mempertahankan wilayah Palestina yang dialokasikan PBB sebelum batas-batas internasionalnya secara resmi dideklarasikan. Pertimbangan terakhir yang mempengaruhi pemikiran Glubb adalah ia ingin membatasi jumlah korban di pasukannya. Ia sadar Legiun Arab pimpinannya berjumlah kecil, sementara personelnya yang diambil secara sukarela jelas sukar untuk digantikan dengan cepat. Glubb mencoba menjauhkan pasukannya untuk terlibat langsung dalam pertempuran, hingga bulan Mei 1948, ketika orang-orang Yahudi di Blok Etzion, sekelompok permukiman di jalan utara Hebron, menyerang bala bantuan Arab dan pasokan yang ditujukan ke Yerusalem. Pihak Inggris memandang aksi orang-orang Yahudi ini tidak dapat ditoleransi dan pada 4 Mei, seminggu sebelum Mandat Inggris di Palestina akan berakhir, Inggris mengirimkan pasukan regulernya dengan diperkuat oleh tank-tank, mobil lapis baja Patroli Gurun dan satu kompi Legiun Arab yang dibantu orang-orang Arab bersenjata di sekitarnya menyerbu empat permukiman Yahudi yang membentuk Blok Etzion. Pasukan Inggris tidak bertahan lama, setelah mereka merasa sudah memberi pelajaran pada para pemukim Yahudi, mereka meninggalkan Etzion, sementara laskar-laskar Arab tetap bertahan.

Merdekanya Israel pada 14 Mei 1948 segera memicu gelombang serangan dari negara-negara tetangga Arabnya. Dalam perang ini, Legiun Arab pimpinan Glubb berupaya menguasai dan mempertahankan wilayah Palestina yang dialokasikan bagi Bangsa Palestina masuk kedalam wilayah Kerajaan Trans-Yordania. (Sumber: https://id.wikipedia.org/)

Glubb bertemu dengan Sheik Mohammed Ali Jabary, walikota Hebron, pada 10 Mei dan merencanakan serangan terakhir. Peringatan diberikan bagi penduduk desa untuk membantu mereka dalam perang suci ini. Bersenjatakan senapan tua dan senapan SMG Sten, dan membawa karung untuk mengambil barang rampasan mereka, penduduk desa menjawab panggilan itu. Pada 12 Mei, pasukan Glubb menyerbu pemukiman Yahudi. 400 atau lebih pihak yang bertahan bertempur dengan berani, menghentikan legiuner Glubb yang jauh lebih kuat dan memberi para laskar pendukungnya pukulan lebih dari yang bisa mereka tanggung. Glubb beralih dari satu perwira Legiun Arab ke yang lain, berusaha menemukan pemimpin yang mampu memberikan kemenangan. Setelah lebih dari 24 jam pertempuran terus-menerus, pada 14 Mei orang-orang Yahudi terakhir di Blok Etzion mengibarkan bendera putih dan menyerahkan diri kepada laskar Arab, yang membantai beberapa dari mereka sebelum pasukan Glubb mampu memulihkan ketertiban. Sebanyak 129 penghuni Etzion tewas, 15 diantaranya dibunuh setelah menyerah. Pemandangan brutal seperti ini bukanlah hal yang aneh pada saat itu. Aksi pembantaian kerap dilakukan oleh kedua pihak semasa perang, seperti pembantaian di Deir Yassin pada bulan April sebelumnya, yang dilakukan oleh ekstrimis Yahudi, Irgun dan Lehi atas pemukiman Arab-Palestina.

Personel Legiun Arab menembakkan mortar selama pengepungan di Blok Etzion. (Sumber: https://www.tumbral.com/)

Sementara itu, para pemimpin Arab berunding tentang bagaimana cara untuk menangani Yerusalem. Banyak pemimpin di Suriah dan Mesir optimis tentang peluang mereka mengusir orang-orang Yahudi, namun Glubb menyatakan keraguannya. Sebagai pendukung rencana internasionalisasi Yerusalem yang diajukan oleh PBB yang masih berusia muda, ia berusaha untuk menjaga Legiun Arabnya yang terlatih dalam pertempuran padang pasir dari apa yang ia ramalkan sebagai perang kota dari rumah ke rumah. Rencana AS menyerukan agar Yerusalem Timur menjadi kota terbuka dan agar Haifa menjadi kota yang masuk wilayah Trans-Jordan. Tetapi orang-orang seperti Fawzi el-Kaoukji, komandan Tentara Pembebasan Arab, dan Abdul Rahman Azzam, sekretaris jenderal Liga Arab, menyerukan dilakukannya perang habis-habisan melawan orang-orang Yahudi dan sepotong kecil negara mereka. Glubb nampaknya hanya punya sedikit pilihan. Orang-orang di negara tempat ia mengabdi menuntut kemuliaan dan kemenangan, dan rajanya, Abdullah, memiliki takhta untuk dilindungi dan rakyat yang setia untuk ditenangkan. Pada tanggal 14 Mei, Israel menyatakan kemerdekaannya. Pada hari berikutnya, tanggal 15 Mei, Glubb dengan enggan memimpin Legiun Arabnya ke Kota Tua Yerusalem dan melakukan serangan terhadap tentara Yahudi, Haganah, yang telah mengambil posisi defensif di Kota Baru dan di Kawasan Yahudi kuno di Yerusalem. Dengan wilayah Kota Tua yang dipertahankan dengan kuat, Glubb mengirim dua resimen ke Latrun, ke wilayah terbuka dan berbukit-bukit di Yudea. Di sana, ia akan menjaga wilayah Yerusalem tetap terbuka dengan Trans-Jordan sembari menghalangi pasukan bantuan bagi pihak Yahudi. Strategi itu berhasil. Sementara pasukan Arab dipukul mundur di Haifa, di Tel Aviv dan di gurun selatan Beersheba, Legiun Arab pimpinan Glubb bertahan sendirian di Yerusalem dan di Latrun. Selama perang Palestina 1948 itu, Legiunnya mencetak satu-satunya kemenangan besar pihak Arab atas pasukan Israel, yang membangkitkan perasaan benci terhadapnya di kalangan orang Israel. Bahkan kelompok ekstrimis Irgun Zvai Leumi menjatuhkan perintah ”hukuman mati” terhadapnya.

Personel Legiun Arab beraksi dalam pertempuran di Yerusalem. Prajurit sebelah kiri menggunakan senapan mesin ringan Chauchat asal Prancis era PD I, sementara prajurit sebelah kanan membawa SMG MP-40 buatan Jerman era PD II. (Sumber: https://www.tumbral.com/)

Pada tanggal 23 Mei, Legiun Arab menyerang Rumah Sakit Notre Dame dan menyerbu ke Kota Tua. Seperti yang ditakutkan Glubb, ia menderita kerugian besar, termasuk beberapa mobil lapis baja akibat bom molotov, dan ia menghentikan serangan pada jam 5 sore tanggal 24 Mei. Namun, tak lama kemudian, orang-orang Yahudi yang kehabisan amunisi dan perbekalan lain, seperti yang direncanakan Glubb. Mengingat nasib rekan-rekan mereka di Etzion, sisa-sisa orang-orang Yahudi yang bertahan di Kota Lama itu lalu menemui Legiun Arab untuk menyerah diri pada tanggal 28 Mei. Terbukti tentara kecil Glubb adalah pasukan profesional; mereka tidak membantai tahanannya. Pada pertengahan Juni, gencatan senjata diumumkan. Waktu itu Legiun hanya memiliki sedikit amunisi untuk artileri dan tidak banyak untuk senjata kecil dan senapan mesin Lewis. Glubb memohon kepada Raja Abdullah untuk menerima gencatan senjata tersebut. Jika perang dihentikan pada saat itu, Trans-Jordan akan memiliki Kota Tua, Gurun Negev dan bandara di Lydda. Sementara itu di Kairo, para pemimpin Arab bertemu untuk membahas masa depan. Tawfig Pasha mewakili Trans-Jordan, tetapi ia tidak dapat memenuhi keinginan Glubb dan Abdullah, para pemimpin Arab lainnya menyerukan agar perang terus dilanjutkan. Melaporkan kembali pada pemimpinnya, Tawfig Pasha mengatakan bahwa dia tidak bisa menyuarakan perdamaian tanpa dikecam sebagai pengkhianat terhadap kepentingan dunia Arab. Dan dengan demikian perang terus berlanjut – dengan Israel tidak hanya berhasil mempertahankan wilayah yang masih mereka mereka, tetapi juga pergi untuk melanjutkan ofensif, merebut kembali Ramlah dan Lydda (yang mereka sebut sebagai Lod) dan mengusir brigade Mesir di kantong Faluja pada bulan Oktober. 

AKHIR KARIR

Dengan berakhirnya perang yang diumumkan pada tanggal 9 Januari 1949, Raja Abdullah, yang didukung oleh legiun (sekarang berkekuatan 6.000 orang), menganeksasi wilayah Yerusalem Timur, Hebron dan Nablus, dan mengubah nama negaranya menjadi Kerajaan Hashemite Arab di Yordania. Dia juga mulai menjauhkan hubungannya dengan Inggris. Glubb mengalihkan perhatiannya sekali lagi untuk menjaga perbatasan. Para laskar Arab melakukan penyerangan malam hari terhadap permukiman Yahudi, dan tentara Glubb kemudian akan melawan serangan balasan dari pihak Israel. Kemudian pada tahun 1953, Raja Abdullah dibunuh, dan cucunya, Hussein, berkuasa. Sentimen anti-Inggris mulai tumbuh, dan pada tanggal 1 Maret 1956, Raja Hussein memecat Glubb sebagai komandan Legiun Arab. Anak didik dan ajudan pribadi Glubb, Ali Abu Nawwar, menggantikannya. Raja Hussein memecat Jenderal Glubb yang saat itu menjadi Kepala Staf dan komandan Legiun yang beranggotakan 20.000 orang, tampaknya karena ia menganggap Glubb lambat dalam mempersiapkan cukup banyak perwira Yordania sebagai komandan pasukan, menggantikan perwira-perwira asal Inggris yang masih menjadi mayoritas di dinas militer Yordania. Tindakan itu disertai dengan keputusan Hussein untuk memutuskan hubungan yang telah lama terjalin dengan London dalam upaya yang hampir membawanya kedalam bencana untuk membawa negaranya lebih dekat ke kubu nasionalis Arab. Eksperimen Hussein ini terbukti berumur pendek karena kemudian muncul upaya pembunuhan Nasser terhadapnya pada tahun berikutnya, ketika Hussein mengubah halauan dan mulai membangun pasukannya dengan bantuan  negara barat lainnya, yakni Amerika. Jenderal Glubb sendiri, dalam sebuah memoar tahun 1958 yang berjudul, ” A Soldier With the Arabs, ” mengemukakan alasan pemecatan dan pengusirannya dari Yordania yang menurutnya sebagian karena kesalahpahaman di antara rekan-rekannya dan sebagian karena keinginan Raja yang bersekolah Inggris itu untuk menegaskan dirinya sebagai penguasa atas negaranya dan menunjukkan kepada dunia Arab bahwa dia bukan boneka dari London. Raja muda, dengan reputasi playboy itu masih merasa perlu untuk menunjukkan kompetensinya, setelah naik takhta pada tahun 1953 menggantikan ayahnya yang dinyatakan tidak kompeten secara mental untuk bertugas sebagai raja. Belakangan setelah Glubb pergi, sukarelawan elit legiun lalu bergabung dengan wajib militer penjaga nasional, dan pasukan Yordania yang baru. Namun dengan kepergian Glubb dan perwira-perwira Inggris lainnya, militer Yordania tidak lagi memiliki kualitas yang sama dengan dulunya. Banyak perwira pengganti asal Yordania yang tidak sekompeten perwira-perwira Inggris.

Raja Hussein bersama dengan komandan pasukan Zeni nya, Brigadier John Constant tahun 1950-an. Keinginan Raja Muda ini untuk menunjukkan citra kemandirian terlepas dari bayang-bayang Inggris, telah mendorongnya untuk meminta pergi personel-personel Inggris dari militer Yordania. Salah satu “korban” dari kebijakan ini adalah John Bagot Glubb sendiri. (Sumber: https://www.thetimes.co.uk/)
Bagot Glubb kemudian menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi penulis yang banyak mengisahkan mengenai dunia Arab yang dikenal dan dicintainya. (Sumber: https://www.gettyimages.com/)

Glubb kembali ke Inggris, dianugerahi gelar ksatria oleh Ratu Elizabeth dan melanjutkan kehidupan sebagai cendekiawan yang kemudian menetap di Mayfield, Sussex. Glubb menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya dalam masa pensiun yang tenang sambil mengejar karier keduanya sebagai penulis buku dengan antusiasme dan energi yang sama dengan yang ia bawa saat menjadi prajurit di antara orang-orang Arab. Dia juga tetap menjadi pendukung setia bagi kepentingan Bangsa Arab. Beberapa dari 20 buku yang ia tulis sejak 1956 adalah termasuk otobiografi, “The Changing Scenes of Life” pada tahun 1983. Sebagian besar buku-buku karyanya mengisahkan tentang sejarah ilmiah mengenai orang-orang Arab pada zaman kuno dan modern. Lewat buku-bukunya, ia berusaha untuk menghilangkan kesalahpahaman dan prasangka Barat tentang dunia Arab dan Islam. Contoh buku semacam itu, dimulai dari bukunya pada tahun 1964 berjudul ” The Great Arab Conquests, ” sebuah buku yang mengisahkan tentang sejarah Arab pada abad ketujuh di mana, ia menulis, bahwa orang-orang Badui Arab telah ” membangun kerajaan terbesar di dunia pada zamannya, ‘ ‘Kekuasaan mereka bertahan selama dua setengah abad sebelum secara bertahap mengalami kemunduran selama 700 tahun setelahnya. Sementara itu bukunya ”The Lost Centuries” yang diterbitkan pada tahun 1966, menelusuri kisah kerajaan Muslim dari abad ke-12 hingga masa kebangkitan kerajaan-kerajaan Eropa pada abad ke-15. Pada buku “The Life and Times of Muhammad” sekali lagi ia berupaya untuk memperbaiki pandangan klise yang dia pikir telah merusak citra Pendiri dan Agama Islam. Jenderal Glubb, yang menikah pada 1938 dengan Muriel Rosemary Forbes, meninggalkan dua putra dan dua putri. Laporan dari London mengutip keluarganya yang mengatakan bahwa dia meninggal dengan tenang di tempat tidurnya di rumahnya di Mayfield. Dia meninggal di Mayfield, Sussex Timur, pada tanggal 17 Maret 1986, sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-89.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Glubb Pasha and the Arab Legion written by David M. Castlewitz

SIR JOHN GLUBB IS DEAD AT 88; COMMANDED THE ARAB LEGION By Wolfgang Saxon; March 18, 1986

Arabs at War, Military Effectiveness, 1948-1991 p 268-272 by Kenneth M. Pollack; 2002

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kfar_Etzion_massacre

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Deir_Yassin_massacre

9 thoughts on “Glubb Pasha, Jenderal asal Inggris Di Tengah Legiun Arab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *