Hamilton Fish III Bertempur Bersama Harlem Hellfighters Yang Legendaris dalam Perang Dunia I

Pada Juli 1918, Kapten Angkatan Darat AS, Hamilton Fish, Jr. yang berusia 30 tahun, berada di Prancis yang sedang dilanda perang dengan Resimen Pengawal Nasional New York ke-15 — yang juga dikenal sebagai Infanteri ke-369 (AS). Hal ini tidak begitu aneh, kecuali bahwa resimen itu adalah unit tempur yang terdiri dari prajurit-prajurut berkulit hitam yang dipimpin oleh perwira kulit putih. Lebih jauh, resimen itu berada di bawah komando Prancis karena tidak diizinkan untuk bertempur dengan pasukan Amerika yang saat itu dipisahkan  berdasarkan rasial secara kaku. Namun demikian, darah tetaplah merah tidak peduli apa warna kulitnya, dan pertempuran (melawan Jerman) akan segera terjadi. Seperti yang dicatat Fish dalam otobiografinya tahun 1991, Hamilton Fish: Memoir of American Patriot: “Jerman melancarkan serangan habis-habisan — Pertempuran Champagne-Marne — terhadap barisan kami. Tepat sebelum pertempuran dimulai, saya menulis apa yang saya pikir akan menjadi surat terakhir saya kepada ayah saya: “‘ Ayah terkasih:… Saya ditugaskan dengan kompi saya bersama dua kompi Prancis untuk mempertahankan posisi penting [sebuah bukit] terhadap ofensif Jerman yang diperkirakan akan datang. “Kompi saya akan berada di posisi pertama untuk melawan konsentrasi (serangan musuh) yang luar biasa terhadap kami dan saya tidak percaya bahwa ada kemungkinan di antara kita yang bisa selamat dari serangan pertama (musuh). Saya bangga dipercaya dengan jabatan terhormat seperti ini dan memiliki kepercayaan besar pada pasukan saya untuk melakukan tugas mereka sampai akhir. Sisa Resimen kami menggali pertahanan jauh ke belakang kecuali untuk kompi L dan M; yang terakhir mempertahankan sebuah desa di belakang kami. 

Hamilton Fish III, putra keluarga politisi Amerika yang terpandang, merasa terhormat sempat memimpin sebuah kompi dari Resimen ke-369, yang dikenal sebagai “Harlem Hellfighter”. (Sumber:https://warfarehistorynetwork.com/)

“Kompi saya diharapkan untuk melindungi sayap kanan posisi kami dan untuk melakukan serangan balik saat Boche pertama [sebagaimana orang Prancis menyebut Jerman] menyerang. Dalam perang beberapa unit memang harus dikorbankan untuk keselamatan unit yang lain dan bagian ini jatuh kepada kita serta akan dieksekusi dengan senang hati sebagai kontribusi kami untuk kemenangan akhir (sekutu). Betapa saya mengasihimu, dan terima kasih atas semua perhatian dan pengabdianmu. Saya ingin engkau bersiap-siap jika saya terbunuh, tegarlah dan ingat bahwa seseorang tidak dapat mengharapkan cara yang lebih baik untuk mati daripada untuk memperjuangkan tujuan yang benar dan untuk negaranya. Putramu yang terkasih, Hamilton. ’

“KALAU KALAU AKU TERBUNUH …” 

Namun, dia tidak terbunuh. “Ketika serangan itu datang, kompi saya siap, mempertahankan posisinya meskipun ada terjadi pertempuran sengit. Kompi K — kompi saya — kehilangan tiga orang, dan terdapat enam korban luka dan empat menjadi korban gas beracun. Saya selamat tanpa cedera, meskipun kudaku terbunuh dalam serangan artileri, helm saya terkena pecahan peluru, dan ada beberapa goresan. ” Serangan Jerman pada 8 Agustus 1918 telah gagal, dan menyebabkan apa yang dianggap oleh markas besar Jenderal Erich Ludendorff mereka sebut “hari yang hitam bagi Angkatan Darat Jerman,”. Komandan resimen Fish asal Prancis, Jenderal Gouraud, mencatat bahwa “Itu adalah pukulan berat untuk musuh dan hari yang indah bagi Prancis. ” Fish menambahkan, “Kami mulai merasakan bahwa gelombang kemenangan telah berbalik ke arah kami.” 

Buku Max Brooks yang bercerita tentang unit “Harlem Hellfighter” infanteri Afrika-Amerika pertama yang berperang dalam Perang Dunia I melalui novel grafis baru yang diilustrasikan oleh Caanan White. (Sumber:https://www.npr.org/)

Sebenarnya, Hamilton Fish, Jr., hampir tidak akan menjadi tentara. Dia datang dari keluarga politik partai Republik yang  dan berasal dari distrik yang sama dengan “teman” dan musuh bebuyutannya, Franklin Delano Roosevelt. Kakek buyutnya, Nicholas Fish, adalah seorang kolonel dalam Perang Revolusi, Ajudan Jenderal pertama Negara Bagian New York, Pengawas Pendapatan pertama di New York, dan menurut pengakuannya juga merupakan, “Seorang teman akrab Lafayette dan Alexander Hamilton. ” Sementara itu, kakeknya, yang juga bernama Hamilton Fish, adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dan Gubernur New York, salah satu dari dua Senator A.S dari negara bagian itu, serta menjadi Menteri Negara A.S. di bawah pemerintahan Presiden Ulysses S. Grant. Hamilton Fish Jr. lahir di Garrison, NY pada 7 Desember 1888, sementara ayahnya — yang juga bernama Hamilton Fish — adalah Ketua Majelis New York di ibu kota negara bagian Albany serta anggota Kongres. Hamilton Jr bersekolah di Sekolah Santo Markus dan lulus dari Universitas Harvard (seperti halnya FDR) pada usia 20 dengan gelar cum laude dalam ilmu politik. Dia ditawari janji untuk mengajar ilmu pemerintahan dan sejarah di Harvard, “yang kemudian dengan sangat menyesal saya tolak,” katanya.” Hamilton adalah seorang keturunan Belanda, sama seperti, FDR, juga keturunan Belanda.

DARI HARVARD MENUJU MEDAN PERANG 

Hamilton Fish III, adalah Kapten tim football Harvard dan satu-satunya yang masih tersisa [pada tahun 1979] dari anggota yang masih hidup dari Tim Football All-American All-Time Walter Camp. Ia 3 kali terpilih pada Tiket Progresif [Partai Banteng Moose Theodore Roosevelt], dan anggota Majelis [Negara] dari Kabupaten Putnam. ” (FDR juga pernah bertugas di Badan Legislatif Negara Bagian.) Setelah lulus dari Harvard pada tahun 1910 sebagai jago tekel All-American (dan kemudian masuk Hall of Fame Football Tingkat Universitas), Fish muda memperoleh dua gelar hukum sebelum melanjutkan ke Majelis Negara. Lalu datanglah perang. “Saya telah bertugas selama dua tahun di National Guard,” dia ingat kemudian, “pelatihan dilakukan di Plattsburg, N.Y., sementara saya adalah anggota Majelis di legislatif Negara Bagian New York. Perwira komandan saya terkesan dengan kinerja saya dan merekomendasikan agar saya dipromosikan menjadi kapten. Diperlukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencapai promosi, tetapi saya telah mempelajari peraturan latihan secara luas dan tahu bahwa saya bisa lulus ujian.… “Pada hari ujian, saya bertemu dengan seorang mayor yang saya tidak tahu bahwa ia belum menjadi kapten sampai dia berusia lebih dari 50 tahun. Dia mengajukan sejumlah pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan pelatihan militer dan menyatakan bahwa saya terlalu muda untuk menjadi kapten. Saya tidak tahu saat itu bahwa kakek buyut saya Nicholas Fish adalah mayor termuda yang pernah ditugaskan di Angkatan Darat, saat itu ia berusia 18 tahun tiga bulan. Jika saja saya tahu, saya akan memberi contohnya. Karena itu, saya hanya memberi tahu mayor itu bahwa saya pikir usia, pengalaman, dan latar belakang saya sudah cukup untuk menjadikan saya kandidat yang memenuhi syarat.

Kapten Angkatan Darat A.S. Hamilton Fish, komandan Kompi K, Infanteri ke-369 selama Perang Dunia I, dalam foto yang tidak bertanggal. (Sumber:https://www.army.mil/)

“Tapi sang mayor bahkan tidak mengizinkan saya untuk mengikuti ujian, dan mengatakan kepada saya bahwa jika saya mengambilnya, dia akan menanyakan kepada saya pertanyaan tentang memasak yang mana saya pasti akan gagal. Saya memprotes bahwa apa pun pengetahuan saya tentang memasak, saya bisa tahu instruksi latihan sebaik dia, tetapi sang mayor tetap bertahan dalam penolakannya. ” Di New York City, Fish yang kecewa bertemu dengan Kolonel William Hayward dari Garda Nasional, yang kemudian mengorganisir resimen prajurit berkulit hitam untuk dilatih tugas tempur di Prancis. “Dia bertanya padaku apakah aku ingin bergabung dengan Resimen itu sebagai kapten. Saya langsung menerima tawarannya dan menjadi salah satu perwira pertama dari satuan yang kemudian dikenal sebagai Resimen Infanteri ke-369, Harlem Hell Fighter yang terkenal itu. ” Resimen Ke-369 didirikan setelah bertahun-tahun pemimpin sipil dari Harlem, lingkungan kulit hitam yang terkenal di Manhattan melakukan lobi oleh para pejabat setempat. Gubernur Charles Whitman akhirnya membentuk unit kulit hitam ini, yang pertama kali dikenal sebagai Resimen Pengawal Nasional New York ke-15, pada tahun 1916, ketika AS bersiap-siap untuk kemungkinan memasuki Perang Dunia I. Mayoritas dari para pendaftar satuan ini sebenarnya berasal dari Harlem, yang merupakan rumah bagi 50.000 dari 60.000 warga Afrika-Amerika di Manhattan pada tahun 1910-an. Yang lain datang dari Brooklyn, kota-kota di atas Sungai Hudson, dan New Jersey, Connecticut, dan Pennsylvania. Beberapa dari mereka adalah remaja, sementara beberapa ada yang berusia di pertengahan 40-an. Mereka awalnya bekerja sebagai portir, penjaga pintu, atau operator lift, beberapa guru, penjaga malam atau tukang pos. Motif mereka bergabung termasuk atas alasan petualangan, patriotisme, dan kebanggaan. “Untuk menjadi seseorang kamu harus menjadi anggota Infanteri ke-15,” tulis tamtama Arthur P. Davis dari Harlem. Perang kemudian benar-benar dideklarasikan oleh Amerika terhadap Kekaisaran Jerman pada tanggal 2 April 1917, dan pada musim panas berikutnya dua ribu prajurit resimennya memulai pelatihan mereka di Camp Whitman, NY. Pada bulan Oktober mereka menerima perintah untuk melakukan perjalanan ke Spartanburg, SC untuk pelatihan tempur yang lebih banyak. 

MENGHADAPI KETEGANGAN RASIAL 

Di posisi barunya, Fish merasakan kesulitan. Dia menulis: “Menyadari bahwa kehadiran begitu banyak pasukan kulit hitam di kota yang didominasi kulit putih dalam kehidupan yang terpisah … dapat menyebabkan masalah, saya mengirim telegram kepada Franklin Roosevelt, yang saat itu menjabat sebagai Asisten Sekretaris Angkatan Laut, mengatakan kepadanya tentang ketakutan saya dan meminta dia melakukan apa yang dia bisa. agar kami dikirim langsung ke Prancis.… Meskipun saya memohon kepada Roosevelt, perintah kami tetap tidak berubah, dan kami pergi ke Spartanburg selama 12 hari penuh ketegangan. Jelaslah bahwa kami tidak disambut di kota. Para prajurit diserang, dipaksa keluar dari trotoar dan mengalami pelecehan ras lainnya. ” Setelah mengadakan pertemuan yang tergesa-gesa dengan pejabat setempat, Kapten Fish yang tegas memberi tahu mereka “bahwa jika ada warga kota yang berusaha secara paksa untuk mengganggu hak-hak pasukan kulit hitam di bawah komando saya, saya akan menuntut agar tindakan hukum segera diambil terhadap para pelaku. Hal ini menenangkan segalanya untuk sementara waktu. ” kata Fish: Pada tanggal 24 Oktober, resimen dipanggil kembali ke Camp Whitman. Di sana, bagaimanapun, resimen ke-369 menghadapi lebih banyak masalah ketika menemukan dirinya bertempat tinggal bersebelahan dengan resimen kulit putih asal Alabama. “Pada suatu sore, saya mengetahui bahwa personel prajurit asal Alabama bermaksud menyerang kami pada malam hari … Saya harus meminjam amunisi … karena kami tidak memilikinya. Setelah mempersenjatai tentara kami, saya dan rekan-rekan perwira saya memberi tahu mereka bahwa jika mereka diserang, mereka harus melawan; jika mereka ditembaki, mereka akan balas menembak. ” Pertemuan tengah malam antara Fish dan tiga perwira Alabama memunculkan sebuah cerita di surat kabar kemudian yang menyatakan bahwa dia telah ditantang mereka untuk berkelahi (yang dia tolak), tetapi pada kenyataannya, ketiganya kembali ke resimen mereka untuk mencegah apa yang dia peringatkan dimana “akan menjadi pembantaian … dan saya dibiarkan berdiri di sana dengan membawa revolver saya di posisi menembak, sambil tidak yakin bagaimana  bisa melepaskan pelatuk tanpa menembakkan peluru, “seperti yang dia ingat pada tahun 1991. 

Cukup lama beberapa wilayah Amerika Serikat memberlakukan kebijakan pemisahan kehidupan antara orang kulit putih dan kulit hitam. (Sumber:https://www.pbs.org/)

Satuan ini kemudian berlayar menuju ke Prancis dari pelabuhan New York pada 27 Desember 1917. Dalam perjalanan ke luar negeri ke Prancis, Fish mendapati ia terkejut bahwa konvoi pasukan mereka berlayar tanpa bantuan pengawal kapal perusak pada saat kapal selam U-Boat Jerman menenggelamkan segala macam kapal Sekutu. Sekali lagi, ia menulis kepada FDR: “Saya menulis fakta-fakta berikut kepada Anda sebagai teman yang memiliki kepercayaan pada kerahasiaan Anda dan sebagai teman yang percaya pada penilaian Anda yang baik dan kemampuan untuk memperbaiki suatu kondisi yang dalam waktu dekat akan membahayakan kehidupan dari ribuan tentara Amerika … Saya tidak punya keinginan untuk mengkritik siapa pun dan hanya berharap untuk memperbaiki kondisi sebelum mengakibatkan bencana. ” Mereka mendarat di Brest, Prancis, pada  awal tahun 1918. Di dermaga, mereka mengejutkan tentara Prancis dan warga sipil dengan membawakan lagu “La Marseillaise” dengan nuansa jazz. Setelah  itu mereka diangkut dengan kendaraan yang sedingin es yang tidak hangat ke pelabuhan St. Nazaire, dimana Fish dan anak buahnya menemukan diri mereka secara tak terduga dipekerjakan sebagai stevedores, ia menulis dalam memoarnya: “(kami ditugaskan) Membuat persiapan untuk datangnya pasukan Amerika lainnya yang sedang dalam perjalanan ke Prancis.” Dia melanjutkan, “Kami (selama ini) telah dilatih untuk berperang sebagai tentara, bukan untuk bekerja sebagai buruh, dan kami semua sangat ingin mencapai garis depan, tetapi komando militer Amerika enggan untuk mengintegrasikan angkatan bersenjata mereka dengan menugaskan bersama pasukan resimen kulit hitam dengan kulit putih. (Sebagai anggota Kongres selama Perang Dunia II, saya kemudian memainkan peran aktif dalam mencoba mengintegrasikan angkatan bersenjata.) ” Anehnya, Reformasi integrasi militer tidak terjadi di salah satu dari empat kali periode pemerintahan Presiden Roosevelt yang lahir di Utara, tetapi sebaliknya malah pada era penerusnya yang kelahiran Selatan, Harry S Truman dari Missouri, yang, seperti halnya Fish, adalah veteran Perang Dunia I.

Sebuah poster militer yang mempromosikan pekerjaan stevedores di pelabuhan debarkasi St. Nazaire untuk Pasukan Ekspedisi Amerika di Perancis, 1918. Resimen Infanteri ke-369 Afrika-Amerika tiba di St. Nazaire pada awal tahun 1918 dan sempat akan ditugaskan untuk melakukan tugas perburuhan ketimbang tugas tempur. (Sumber:https://www.army.mil/)

TEMPAT MINUM PENUH DENGAN ANGGUR PRANCIS

Ditempatkan di bawah komando Prancis oleh Komandan Pasukan Ekspedisi Amerika, Jenderal John J. Pershing (yang sebelumnya telah memimpin pasukan kavaleri kulit hitam melawan Suku Apache pada hari-hari awal karirnya), pasukan ke-369 terpaksa mengganti perlengkapan Amerika mereka di Chalons, dan untuk sementara waktu menggunakan “senapan Prancis”, helm, ikat pinggang, dan tempat minum yang tidak menyimpan air tetapi minuman yang sangat disenangi para prajurit, karena dipenuhi dengan anggur Prancis. “Namun penggantian perlengkapan ini tidak semuanya menyenangkan, sebagai ganti senapan Springfield mereka, prajurit resimen ke-369 menerima senapan Lebel Prancis – yang memiliki reputasi bagus untuk keandalannya, tetapi punya karakter temperamental dan menjengkelkan saat harus diisi peluru. “Lebel mereka sama sekali tidak sebagus Springfields kami,” kata Fish. “Orang Prancis, Anda tahu, adalah prajurit-prajurit yang sangat percaya pada granat tangan sebagai senjata utama, senapan mereka kurang lebih merupakan sesuatu yang digunakan untuk memasang bayonet.” Meski demikian di satu sisi bersama pasukan Prancis, Resimen ke-369 diperlakukan seolah-olah mereka tidak berbeda dari unit Prancis lainnya. Untuk sebagian besar anggota Resimen, orang-orang Prancis tidak menunjukkan kebencian terhadap mereka dan tidak memisahkan unit ke-369 secara rasial. Prancis menerima prajurit kulit hitam Resimen ke-369 dengan tangan terbuka dan menyambut mereka di negara mereka. Orang Prancis saat itu menghadapi kekurangan personel dan kurang peduli dengan masalah ras dibanding orang-orang Amerika pada saat itu. Setelah kira-kira satu bulan, kami dinilai siap untuk bertempur… dan ditugaskan ke dalam Angkatan Darat ke-4 Prancis di bawah komando Jenderal Prancis bertangan satu yang terkenal, Jenderal Gouraud, yang mana saya cukup akrab, berkat kefasihan saya dalam berbahasa Prancis, kenang Fish. ” Pasukan ke-369 resmi dikirim ke medan tempur pada 15 April 1918 – lebih dari sebulan sebelum pertempuran besar pertama dialami Pasukan Ekspedisi Amerika. Dalam perjalanan ke garis depan, mereka tiba-tiba dihantam oleh rentetan artileri Jerman: “Serangan itu terdengar seperti angin kencang di laut. Beberapa peluru meledak pada baterai artileri yang melukai sejumlah tentara Prancis dan beberapa anak buah saya juga.… Kami beranjak ke posisi baru kami di parit, yang memiliki barisan kawat berduri yang terbentang di depan. Ketika kami tidak berdiri di parit, kami tidur di tempat perlindungan kami, yang dalamnya 50 kaki. “

Karena ditugaskan bersama satuan Prancis, anggota Resimen ke-369 terpaksa menggunakan senapan lebel milik Prancis yang kurang disukai dibanding dengan senapan Springfield buatan Amerika. (Sumber:https://collections.royalarmouries.org/)
Personel resimen ke-369 menjaga parit pertahanan di garis depan. (Sumber:https://www.army.mil/)

Dalam satu insiden di malam hari, seorang tentara Prancis menjatuhkan sekotak granat yang kemudian jatuh ke kamar tidur prajurit, yang melukai tiga anak buah Fish. “Saya pergi ke ruang istirahat itu ditemani oleh seorang letnan Prancis untuk melihat apa yang bisa saya lakukan. Letnan itu tidak tahan pemandangan yang dia lihat dan pingsan. Akibatnya, saya harus membawa ketiga prajurit yang terluka 50 kaki ke permukaan. Hebatnya, meskipun luka kepala dan tubuh mereka serius, ketiganya selamat. ” Selama tiga bulan pertama di garis depan, tepat ketika serangan musim semi Jerman berlangsung puluhan mil ke barat laut, Resimen ke-369 berjaga di garis depan dan sesekali terlibat pertempuran kecil. Pada tanggal 15 Juli, resimen ke-369 berhasil bertahan lama dari bombardemen ketika Jerman membuka Pertempuran Marne Kedua, bagian dari serangan terakhir mereka di perang itu. Para Hellfighter ambil bagian dalam serangan balik Prancis yang dilakukan kemudian, dimana mereka kehilangan 14 anggota resimen, dengan 51 lainnya menderita luka-luka. Pada bulan September 1918 — ketika Fish menghadiri sekolah staf di Langres — Jerman meluncurkan serangan terakhirnya dalam perang di Meuse-Argonne. Menurut catatan National Guard, “di Sechault, Prancis pada 29 September 1918, mereka yang datang dari jalanan Harlem dan lingkungan Kota New York lainnya, datang… berbaris menuju takdir mereka dalam Serangan Meuse-Argonne…. ‘Hari itu cerah dan sejuk. Terdapat harapan tinggi di tengah pasukan. ‘Serangan artileri yang dahsyat mendahului serangan Resimen ke-369, yang kemudian dijuluki sebagai para ‘ Pejuang Neraka ‘/Hellfighter oleh lawannya.

ADU TEMBAKAN MERIAM DAN SENAPAN MESIN YANG MENGERIKAN

Setelah pertempuran brutal yang memakan banyak korban, Schault berhasil direbut dan Resimen ke-369 bergabung disana untuk mengkonsolidasikan posisi mereka di depan. Aksi mereka dalam pertempuran ini menghasilkan medali Croix de Guerre (Prancis) yang diberikan untuk seluruh anggota Resimen, tetapi Meuse-Argonne juga menimbulkan korban hampir sepertiga dari prajurit kulit hitam yang bertempur disana. Sebagai bagian dari Serangan Meuse-Argonne, di mana lebih dari satu juta tentara Amerika dan Prancis menyerang garis pertahanan Jerman, resimen ke-369 menderita beberapa korban terburuk yang pernah diderita oleh resimen Amerika dalam perang itu, dengan 144 orang tewas dan hampir 1.000 lainnya luka-luka. “Apa yang telah saya lakukan sore ini?” tulis Kapten Arthur Little dalam memoarnya, ‘Dari Harlem ke Rhine’. “(aku) Kehilangan setengah personel batalionku — dengan mendorong ratusan pria ke dalam kematian mereka.” Meski menderita banyak korban dalam perang, namun Resimen dari Pengawal Nasional yang terkenal ini meninggalkan catatan yang membanggakan pada AEF (Satuan Ekspedisi Amerika di Eropa) sebagai “Resimen yang tidak pernah kehilangan personel yang ditangkap, sementara bisa mempertahankan parit perlindungan atau wilayah yang mereka duduki.” Sedangkan bagi Fish, ia mengenang, “Saya bergegas kembali ke kompi saya, tepat pada waktunya untuk pertempuran, yang berkecamuk tanpa henti selama 48 jam berikutnya dalam pertukaran tembakan antar senapan mesin dan tembakan artileri yang mengerikan. Ketika semuanya berakhir, 30% personel resimen saya menjadi korban. Untuk apa yang saya lakukan dalam pertempuran, saya dianugerahi Silver Star. Kutipan pada medali itu berbunyi:

Aksi Resimen ke-369 di medan Perang Dunia I diakui pemerintah Pranci sehingga seluruh personelnya dianugerahi medali Croix de Guerre. (Sumber:https://adastracomix.com/)

“‘ … Terus-menerus terkena tembakan senapan mesin dan artileri musuh, keberaniannya yang tanpa gentar dan mengabaikan keselamatannya sendiri mengilhami prajurit-prajurit dalam resimen, yang mendorong mereka untuk melakukan serangan yang menentukan pada pasukan musuh yang kuat. Di bawah tembakan musuh yang berat, dia membantu menyelamatkan banyak orang yang terluka dan juga mengarahkan dan membantu dalam tugas yang sulit untuk membawa ransum atas daerah-daerah yang tersapu tembakan musuh ke pasukannya yang kelelahan. ‘” Dalam memoarnya pada 1991, Fish menambahkan, “Pertempuran Meuse-Argonne adalah satu-satunya pertempuran terpenting dalam Perang Dunia I. Jika Jerman berhasil, mereka akan memiliki jalur terbuka ke Paris dan ke Laut Utara, tetapi kami menghentikan mereka . Sekarang (setelah pertempuran itu) hanya masalah waktu (saja) sebelum Jerman dipaksa untuk menyerah, ”yang memang kemudian dilakukannya, dengan meminta Gencatan Senjata pada tanggal 11 November 1918. Fish menulis kepada ayahnya, “Tampaknya hampir seperti mimpi, terlepas dari kenyataan bahwa perdamaian telah diabaikan selama dua minggu terakhir. Saya senang pembunuhan massal manusia ini berakhir dan berharap itu akan menjadi ‘seni’ yang hilang di masa depan. ” Dengan demikian, sebagai seorang prajurit garis depan yang telah melihat perang secara langsung, Fish, kemudian akan menjadi anggota Kongres tahun 1920-1944 yang menentang FDR pada masalah pelik mengenai masuknya Amerika ke dalam Perang Dunia II — sampai peristiwa Pearl Harbor. 

CATATAN-CATATAN HARLEM HELL FIGHTER

Sebagai Resimen infantri kulit hitam Amerika pertama yang bertempur dalam Perang Dunia I, Resimen ke-369 menghabiskan lebih banyak waktu di parit pertahanan dan di tembakan musuh, daripada unit militer AS lainnya, yakni selama 191 hari. Sekitar 1.300 dari para personel Hellfighter menjadi korban perang, menurut Peter Nelson dalam bukunya A More Unbending Battle: The Harlem Hellfighter’s Struggle for Freedom in WWI and Equality at Home. Pemerintah Prancis selain memberi seluruh anggota resimen itu penghargaan Croix de Guerre, juga menganugerahkan 171 medali kepada beberapa individu untuk keberanian mereka di medan tempur. Sementara itu salah satu personelnya, Pvt. Henry Johnson akhirnya mendapat penghargaan Medal Of Honor pada tahun 2015, hampir 100 tahun setelah aksinya di Prancis. Di antara banyak anggota Resimen Hellfighters yang terkenal adalah James Reese Europe, seorang musisi dan pemusik jazz terkenal yang menjabat sebagai perwira infanteri dan pemimpin band resimen itu. Secara tidak langsung dengan ini personel Hellfighter turut memperkenalkan musik Jazz di Eropa, yang jejaknya masih terasa hingga sekarang. Pada 17 Februari 1919, kerumunan massa memenuhi Fifth Avenue dalam parade kemenangan untuk menghormati Hellfighters. Band satuan ini memulai prosesi dengan berbaris sambil menyanyikan lagu Prancis, yang penuh dengan “keriuhan terompet,” lapor New York World. 3.000 prajurit Resimen ke-369 kemudian berbaris dalam formasi Prancis, 16 sejajar melewati Fifth Avenue dari 23rd Street ke 145th dan kawasan Lenox. Johnson, yang menjadi salah satu prajurit Amerika paling terkenal dalam perang, mengendarai mobil convertible, memegang buket bunga lili merah dan putih dan membungkuk kepada orang banyak.

Henry Johnson personel Harlem Hellfighter yang akhirnya dianugerahi medali Medal Of Honor tahun 2015, hampir 100 tahun setelah aksinya di Prancis. (Sumber:https://africanquarters.com/)
Infanteri ke-369 berbaris dalam parade di New York City ketika ribuan penonton menonton di sepanjang rute, Februari 1919. (Sumber: Arsip Nasional/https://www.military.com/)
Mengirim orang Afrika-Amerika untuk memperjuangkan demokrasi di luar negeri, sementara menghadapi segregasi rasial dan ketidaksetaraan hak di dalam negerinya, telah menunjukkan kemunafikan dalam kebijakan pemerintah dan masyarakat kulit putih Amerika. (Sumber:https://adastracomix.com/)

Meskipun aksi heroik mereka selama perang tidak serta merta dalam waktu singkat mengubah nasib hak-hak individu mereka di dalam negeri Amerika, namun pengabdian resimen ini selama perang telah meningkatkan perasaan ketidakadilan diantara orang-orang sebangsanya yang semakin menyadari bahwa mengirim orang Afrika-Amerika untuk memperjuangkan demokrasi di luar negeri, sementara menghadapi segregasi rasial dan ketidaksetaraan hak di dalam negerinya, telah menunjukkan kemunafikan dalam kebijakan pemerintah dan masyarakat kulit putih Amerika. Sebagai contoh masih diremehkannya orang kulit hitam, tercermin dalam perang itu sendiri, dari 375.000 orang kulit hitam yang bertugas dalam Perang Dunia I, 200.000 dikirim keluar negeri, tetapi bahkan di medan perang, hanya sedikit dari mereka yang melihat pertempuran. Sebagian besar dari mereka menderita menjalani pekerjaan yang melelahkan di unit-unit layanan nontempur sebagai bagian dari Unit Pasokan tentara. Peneliti, Lentz-Smith menempatkan jumlah pasukan kulit hitam yang benar-benar bertempur di angka 42.000, atau hanya sekitar 11 persen dari semua prajurit kulit hitam yang dikirimkan. Sementara itu, Henry Johnson yang menjadi pahlawan bagi rekan-rekan pasukannya, bersaksi di hadapan legislatif New York pada awal 1919 dalam mendukung rancangan undang-undang untuk memberi para veteran pilihan dalam perekrutan pemerintah. Tapi dia segera bosan berbicara di depan umum. “Henry Johnson diharapkan … untuk menyeringai, tertawa, menunjukkan kegembiraan yang baik, dan berbicara tentang apa yang dia lakukan malam itu di bulan Mei (aksi kepahlawanannya yang memperoleh penghargaan dalam perang) seolah-olah itu memberinya sensasi seumur hidup,” tulis Nelson. “Dia menjadi, bagi rekan-rekan kulit hitamnya, sebagai simbol kedewasaan orang kulit hitam, tetapi bagi orang kulit putih, dia diharapkan menjadi suara pendukung untuk harmoni rasial.” Sebaliknya, setelah pidatonya yang berapi-api di St. Louis pada bulan Maret 1919, ia menuduh tentara kulit putih sebagai rasis dan pengecut, Johnson kemudian mundur dari ruang publik. Dia menghabiskan sebagian tahun 1920-an di rumah sakit Angkatan Darat Walter Reed dan kemudian menjadi sakit karena TBC. Dia meninggal pada bulan Juli 1929, pada usia 39, karena pembesaran jantung.

Dari sisi budaya, pasukan kulit hitam Amerika turut memperkenalkan musik Jazz di Prancis. (Sumber:https://taskandpurpose.com/)

FISH KEMBALI KE RUMAH 

Sementara itu Fish setelah kembali ke Amerika, ia menulis, “Rekor kami, para prajurit Resimen ke-369, yang kami buat medan pertempuran adalah hal yang luar biasa. Kami menghabiskan 191 hari di parit garis depan, lebih lama dari resimen Amerika lainnya. Kami adalah resimen Sekutu pertama yang mencapai wilayah Rhine.… Saya akan selalu ingat orang-orang kulit hitam pemberani yang bertugas bersama saya di parit-parit Prancis.… Saya juga tidak akan melupakan keberanian para sersan setia saya.… Pada akhir Perang Dunia I Saya berkata kepada anak buah saya, ‘Kamu telah berjuang dan mati untuk kebebasan dan demokrasi. Sekarang, Anda harus pulang ke Amerika Serikat dan terus berjuang untuk kebebasan dan demokrasi Anda sendiri. ” Di negerinya, Hamilton Fish adalah satu dari tiga orang yang menulis Pembukaan dari the American Legion dan  menjadikannya satu-satunya Komandan Nasional kehormatan yang masih hidup. Pada tahun 1920, ketika FDR mencalonkan diri sebagai wakil presiden dari Demokrat dan dikalahkan, Hamilton Fish terpilih sebagai anggota Kongres dari Distrik Orange-Dutchess-Putnam, yang termasuk rumah saingannya, di Hyde Park. Dia bertugas di Kongres selama 25 tahun dan merupakan anggota minoritas dari Foreign Affairs and Rules Committee, meskipun adanya upaya intensif dari FDR untuk mengganjal kariernya, tetapi FDR gagal untuk melihat dia tidak terpilih kembali pada tahun 1942. 

Hamilton Fish III dan FDR, keduanya kemudian menjadi lawan politik yang gencar bermusuhan satu sama lainnya. (Sumber:https://alchetron.com/)

Fish memperkenalkan rancangan undang-undang di Kongres untuk mengembalikan jenazah Prajurit Amerika Pertama yang Tidak Dikenal, yang hari ini beristirahat di Arlington National Cemetery, dan terpilih untuk meletakkan karangan bunga di Makam pada upacara pemakaman pada tanggal 11 November 1921. Pada tahun 1922, ia memperkenalkan dan mengamankan pengesahan Resolusi Palestina – versi Amerika dari Resolusi Balfour Inggris – untuk tanah air bagi orang Yahudi di Palestina. Dia menjadi ketua Komite Kongres pertama pada 1930-1931 untuk menyelidiki propaganda dan kegiatan Komunis di Amerika Serikat. Pada Konferensi Oslo pada 15 Agustus 1939, Fish memimpin delegasi Amerika ke Interparlemenary Union dua minggu sebelum Hitler menyerbu Polandia, dan memperkenalkan permohonan untuk moratorium 30 hari yang berupaya menyelesaikan masalah perang krisis Danzig dengan arbitrasi. Semua upayanya ini membuatnya bermusuhan dengan Presiden Roosevelt, yang menolak untuk mengizinkannya masuk ke Gedung Putih, bahkan setelah 7 Desember 1941, diduga karena ucapan tidak benar yang pernah ia katakan tentang ibu FDR. Sementara itu, sebagai anggota Kongres Fish menentang Lend-Lease dan Selective Service karena dianggapnya terlalu provokatif, dan bahkan pernah menyarankan bahwa saingannya itu yang sekarang dibencinya harus mengundang Pemimpin Komunis Rusia, Josef Stalin ke Gedung Putih. 

WARISAN FISH

Hamilton Fish III terbukti memiliki karier dan usia yang panjang hingga 102 tahun. (Sumber:https://www.gettyimages.com/)

Menurut penulis biografi James MacGregor Burns dalam bukunya “Roosevelt: The Soldier of Freedom, 1940-45, “[FDR] menyimpan kebenciannya bagi orang-orang asal lingkungannya sendiri, seperti Hamilton Fish, yang ia rasa telah mengkhianati dirinya; seperti yang mereka lakukan untuknya. ” Dalam kampanye tahun 1940 muncul ungkapan dalam pidato mengenai “Martin, Barton and Fish” yang terkenal di radio di mana Presiden FDR memilih trio konservatif top Republik itu sebagai lawannya. FDR meninggal pada tahun 1945 pada usia 62 dan Fish, yang meninggal pada 20 Januari 1991 pada usia 102, hidup cukup lama untuk melihat aktivitas saingannya di sekitar peristiwa Pearl Harbor dipertanyakan. Dia mencatat dalam sebuah wawancara, “Saya telah mempelajari Komunisme selama 50 tahun. Soviet sendiri telah melawan Stalin, teman baik Roosevelt. ” Adapun julukan “Martin, Barton dan Fish”, ia hanya tersenyum, menambahkan, “ ia mendapat tepuk tangan yang luar biasa. Dia memiliki popularitas yang luar biasa. ” Fish menulis lima buku, termasuk FDR: The Other Side of the Coin—How We Were Tricked into World War II, dan dipuji oleh American Legion Magazine karena mensponsori undang-undang yang sukses yang mempromosikan manfaat perekrutan dan fasilitas medis untuk veteran. Fish juga hidup cukup lama untuk melihat seluruh Angkatan Bersenjata AS sepenuhnya terintegrasi dengan orang kulit hitam dan wanita.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Hamilton Fish III and the “Harlem Hell Fighters” by Blaine Taylor

Untold Stories Of The Harlem Hellfighters Of World War I BY JAMES CLARK , APR 20, 2017 7:00 AM EDT

https://www.google.com/amp/s/taskandpurpose.com/.amp/history/harlem-hellfighters-369th-infantry-regiment-untold-story

One Hundred Years Ago, the Harlem Hellfighters Bravely Led the U.S. Into WWI by Erick Trickey, SMITHSONIANMAG.COM 

MAY 14, 2018

https://www.smithsonianmag.com/history/one-hundred-years-ago-harlem-hellfighters-bravely-led-us-wwi-180968977/

The Harlem Hellfighters were captured in a famous photo. Now a retired archivist has uncovered their stories by Michael E. Ruane; November 11, 2017 at 9:00 AM EST

https://www.google.com/amp/s/www.washingtonpost.com/news/retropolis/wp/2017/11/11/a-retired-archivist-wondered-about-the-harlem-hellfighters-captured-in-a-famous-photo-now-shes-uncovered-their-stories/%3FoutputType%3Damp

Who Were the Harlem Hellfighters?

by Henry Louis Gates, Jr. | Originally posted on The Root

The Harlem Hellfighters: The Full Story By Melissa Ziobro, Army Historical Foundation

https://www.google.com/amp/s/www.military.com/history/harlem-hellfighters-full-story.html/amp

WWI’s Harlem Hellfighters Who Cut Down Germans and Gave France Jazz by Christopher Dickey, World News Editor

Updated Aug. 08, 2018 8:49AM ET

https://www.thedailybeast.com/the-harlem-hellfighters-who-cut-down-germans-and-gave-france-jazz?ref=scroll

https://en.m.wikipedia.org/wiki/369th_Infantry_Regiment_(United_States)

2 thoughts on “Hamilton Fish III Bertempur Bersama Harlem Hellfighters Yang Legendaris dalam Perang Dunia I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *