Hetzenauer & Allerberger, Duo Sniper Ulung Jerman Asal Austria di Front Timur saat Perang Dunia II

Tiga tank T-34 Soviet bergerak maju perlahan ketika para pengemudinya mencari orang-orang Jerman yang bersembunyi di depan mereka. Tank yang memimpin tiba-tiba berhenti dan mengayunkan laras meriamnya. Pasukan Wehrmacht (Jerman) jelas berada dalam situasi yang berbahaya saat itu. Mereka tidak memiliki dukungan udara ketika pasukan Soviet melakukan serangan besar pada pertengahan Agustus 1943 di sepanjang Front Donets di Ukraina timur. Apa yang dimiliki oleh Sniper Jerman yang  turut membantu satuan yang terpojok itu hanyalah akal dan senapan Mauser-nya untuk melawan tiga raksasa baja yang menjulang di depan mereka dengan sejumlah prajurit Tentara Merah membuntuti. Tiba-tiba, palka tank yang memimpin terbuka sekitar 10 inci dan sebuah kepala muncul dengan teropong untuk memindai situasi. Sniper Josef “Sepp” Allerberger kemudian menempatkan kepala komandan tank Soviet tepat di teleskop pembidik senapannya, dan dalam jarak sekitar 500 kaki ia menembakkan sebuah peluru. Sebuah percikan darah menghantam pintu palka saat kepala itu jatuh menggelosor ke dalam perut tank. Tembakan tunggal itu menandai awal dari sebuah pertempuran liar di Front Timur. Tank-tank itu kemudian melontarkan beberapa tembakan ke arah posisi tentara Jerman, tetapi setelah beberapa menit mereka menembakkan meriam, mereka mundur meninggalkan medan tempur dan membiarkan prajurit infanteri Soviet menyerang posisi pertahanan Jerman yang telah dipersiapkan dengan baik. 

Di Front Timur serangan bergelombang tank T-34 Soviet yang didukung dengan pasukan infanteri menjadi momok tersendiri bagi pasukan Jerman yang mulai terdesak di fase akhir Perang Dunia II. Dalam gambar nampak serangan tank T-34 Soviet dihadang oleh tank Jerman, namun tidak semua satuan Jerman seberuntung ini, tidak sedikit diantara mereka hanya bisa mengandalkan senjata ringan dan akal mereka, termasuk menggunakan satuan sniper untuk mengkompensasi kelemahan mereka. (Sumber: Pinterest)

HETZENAUER & ALLERBERGER

Pertempuran itu mungkin akan terjadi sebaliknya jika saja sniper muda keturunan Austria yang baru berusia 19 tahun itu tidak mengubah jalannya pertempuran dengan menewaskan komandan tiga tank Soviet itu. Pelurunya yang ditembakkan tepat waktu dan diarahkan dengan baik telah menyingkirkan keunggulan awal pasukan Soviet yang besar dari sisi daya tembak dan kemampuan manuver. Sniper memang sering dianggap sebagai “pengganda kekuatan” dalam peperangan dengan kemampuan mereka untuk mengeliminasi pemimpin militer utama atau petugas komunikasi dan sinyal yang penting. Sebagai contoh, jalannya Pertempuran Saratoga yang krusial dalam Revolusi Amerika berubah secara dramatis ketika seorang sniper Amerika berhasil membunuh Jenderal Inggris Simon Fraser dari jarak sekitar 300 yard. Sementara itu selama Perang Sipil Amerika, Jenderal Union (pihak utara), John Sedgwick secara fatal tewas di tangan sniper dalam Pertempuran Spotsylvania Court House tepat setelah ia menyatakan bahwa musuh “tidak (akan) bisa menembak (seekor) gajah pada jarak (seperti) ini.” Allerberger bersama dengan Matthaus Hetzenauer, yang adalah sniper asal Austria lainnya yang terampil di divisi yang sama, secara resmi dicatat telah menewaskan lebih dari 600 tentara musuh selama fase gerak maju pasukan Soviet menuju Berlin pada tahap akhir Perang Dunia II. Dan jumlah total tembakan jitu mereka tidak termasuk sejumlah korban tentara Soviet yang tewas oleh tembakan cepat pistol mesin/SMG (umumnya type MP-38/40) mereka selama menghadapi berbagai serangan frontal tentara Rusia. 

Lukisan tewasnya Jenderal John Sedgwick oleh tembakan sniper pada tanggal 9 Mei 1864 dalam Perang Saudara Amerika. (Sumber: https://cwcrossroads.wordpress.com/)

Keduanya sniper ini sama-sama lahir pada bulan Desember (cuma beda 1 hari) di tahun yang sama serta keduanya sama-sama bertugas di Front Timur. Kedua pemuda Austria itu juga menerima penghargaan Knight Cross yang bergengsi atas aksi mereka, dan tidak seperti kebanyakan sniper, mereka meninggalkan deskripsi yang agak terperinci tentang apa yang mereka lakukan di Front Timur. Sebagian besar sniper, seperti Simo Hayha dari Finlandia — yang dijuluki “Kematian Putih” karena menewaskan lebih dari 505 orang  dalam Perang Musim Dingin di fase awal dimulainya Perang Dunia II – enggan membahas pengalaman mereka sebagai Sniper karena dianggap banyak orang sebagai aksi yang curang dan tidak ksatria. Allerberger, mungkin, meninggalkan catatan yang lebih menarik daripada Hetzenauer, yang telah tercatat membukukan 345 “kill” resmi, sekitar 89 lebih banyak daripada rekannya sesama Austria itu. Tetapi Hetzenauer sendiri merupakan sniper Axis dengan skor tertinggi dalam perang, yang meninggalkan informasi lebih rinci tentang teknik, pelatihan, dan taktik sniper — semuanya diceritakan setelah ia mengalami penahanan lima tahun dan menjalani kerja paksa di tangan Soviet. Keduanya beruntung bisa masih hidup setelah perang berakhir di medan yang banyak memakan korban sniper dengan karakter pertumpahan darah brutal selama empat tahun di Front Timur yang merenggut jutaan nyawa di kedua pihak. 

Josef “Sepp” Allerberger, sniper dengan catatan “kill” nomor 2 di deretan sniper top militer Jerman, dengan angka 275 “Kill”. (Sumber: https://id.m.wikipedia.org/)

Allerberger berasal dari kota Wals-Siezenheim di Austria, yang terletak di dekat kota Salzburg di sebelah timur dekat perbatasan dengan Jerman di sebelah barat. Ia lahir pada 24 Desember 1924, sebagai anak seorang tukang kayu lokal. Berasal dari pegunungan Styria pada usia 18 tahun, Allerberger direkrut ke dalam resimen infanteri pegunungan Alpine ke-144 dari divisi gunung ke-3, yang kemudian bertempur di front Timur. Meskipun mereka akhirnya sama-sama menjadi sniper Wehrmacht, namun jalan yang mereka tempuh untuk menjadi sniper berbeda. Allerberger awalnya dikirim ke Front Timur yang dingin dan brutal pada bulan Juni 1943 sebagai penembak senapan mesin. Perubahan karirnya terjadi setelah ia terluka di Stavropol, sebuah kota di Kaukasus Utara. Kota itu telah dikuasai oleh Jerman pada tahun 1943 dan digunakan sebagai pangkalan bagi Luftwaffe untuk membom posisi strategis Soviet di Grozny. Stavropol mungkin memang hanya bisa dipertahankan sementara oleh Nazi, tetapi penempatan di kota itu telah membuat perubahan permanen dalam karir Allerberger. Sementara memulihkan dari luka-lukanya, penembak senapan mesin ini berlatih dengan senapan Mosin-Nagant 91/30 Soviet yang dirampasnya, yang dilengkapi dengan teleskop 3,5x PU. Pemuda Austria itu, kemudian menjadi piawai dalam menggunakan senapan ini dan ia mencatat 27 “kill” atas prajurit musuh dengan senapan itu dalam waktu 9 bulan pertama sebagai sniper, sebelum dikirim untuk pelatihan sniper di Seetaleralpe. Saat menjalani pelatihannya, penembak berbakat itu diberikan senapan Mauser Karabiner 98k dengan perangkat teleskop 4x perbesaran. Senapan-senapan ini telah dipilih secara khusus untuk para sniper karena akurasi yang sangat baik selama tes yang dilakukan oleh pabrik. Namun, perlu dilakukan perbaikan desain untuk menyesuaikannya dengan teropong teleskopik, dimana pekerjaan ini harus dilakukan oleh seorang ahli senjata. Terlepas dari kesuksesan yang dimiliki oleh senapan Karabiner Mauser selama perang, Allerberger sering menggunakan juga senapan semi otomatis Gewehr 43 dengan teleskop pembidik teleskop 4x perbesaran dan pistol mesin ringan MP40.

Matthäus Hetzenauer, top sniper Jerman asal Austria dengan catatan “345” kill terkonfirmasi. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Sementara itu, rekan di kesatuannya, Hetzenauer lahir pada tanggal 23 Desember 1924 dan berasal dari Brixen im Thale, sebuah kota yang terletak di antara pegunungan Alpen Kitzbühel, dekat tempat ski terkenal di Austria. Dia dibaptis sebagai seorang Katolik pada Malam Natal di gereja paroki abad pertengahan dan dibesarkan bersama dua saudara lelaki dan perempuannya di tanah pertanian orangtuanya di desa. Simon Hetzenauer, ayahnya dan istrinya, Magdalena, hidup dengan bertani di pedesaan. Selain sebagai petani, Simon adalah pemburu yang hebat. Keterampilannya dalam menembak mampu membawakan daging rusa, rusa besar (moose), dan daging kalkun kepada keluarganya. Matthäus muda dengan cepat belajar dari ayahnya untuk memburu mangsanya. Memang, bakat menembak sudah ada dalam dirinya, karena pamannya Josef juga adalah seorang veteran dalam Angkatan Darat Austro-Hungaria dan ia menyimpan medali-medalinya, termasuk Iron Cross, yang dipajang untuk dikagumi oleh anak muda itu. Melalui berburu, Matthäus Hetzenauer belajar seni kamuflase, keterampilan yang akan menjadi bagian integral dalam pelatihan sniper. Anak muda itu juga harus belajar bergerak cepat menyusuri medan dengan cepat jika tembakan pertamanya tidak jatuh ke sasaran. Keterampilan ini sangat penting saat dia perlu melarikan diri dari musuh dalam keadaan darurat. Pada usia 17, Matthäus Hetzenauer direkrut menjadi tentara Jerman. Dia ditugaskan ke 140th Mountain Rifle Reinforcement Battalion di Kufstein di negara asalnya, Austria. Tempat pertahanan di situ tidak hanya berfungsi untuk mendukung operasi militer Jerman di sepanjang Front Timur tetapi juga berfungsi sebagai pos pertahanan melawan serangan musuh yang mau masuk di sepanjang perbatasan selatan Jerman. Dia menghabiskan hampir seluruh tahun 1943 dalam pelatihan dasar dan kemudian dipindahkan ke sekolah sniper dari bulan Maret hingga Juli 1944, setelah atasannya mengenali bakat sniper nya. Pemuda asal pegunungan ini menghabiskan hampir sepanjang waktu perangnya, bertempur di Divisi Gebirgsjäger ke-3, sebuah unit yang dibentuk dari Divisi ke-5 dan ke-7 Angkatan Darat Austria setelah Hitler memprakarsai pencaplokan “Anchluss” negeri itu pada tahun 1938. Divisi ini telah dilibatkan dalam operasi di wilayah Lapland pada tahun 1941 sebelum bertempur di Norwegia dan bertindak sebagai satuan cadangan bagi Grup Tentara Utara ketika mereka mencoba mengambil alih Leningrad. Pada akhir perang, mereka menyerah kepada tentara Soviet di Silesia. Sama seperti Allerberger, Hatzenauer menggunakan senapan semi otomatis Gewehr 43 dengan teleskop bidik ZF4 4x perbesaran dan juga senapan Karabiner 98k dengan teleskop bidik 6x perbesaran, tetapi tidak seperti rekan senegaranya itu, Hetzenauer terlibat juga dalam pertempuran-pertempuran di Hongaria, Slovakia, dan Carpathians sejak bulan Agustus 1944.

SENAPAN SNIPER PILIHAN

Hetzenauer lebih menyukai senapan Mauser K98k dengan teleskop bidik enam kali perbesaran, sementara banyak sniper Jerman lebih memilih teleskop bidik dengan empat kali perbesaran pada Mauser mereka. Kadang-kadang dia menggunakan juga senapan Gewehr 43 buatan Jerman, senapan semi-otomatis dengan 10-peluru dengan teleskop Zielfernrohr empat kali perbesaran. Senapan itu beberapa desainnya dipengaruhi oleh desain senapan semi otomatis buatan Soviet, Tokarev SVT-38. Namun baik senapan semi otomatis Soviet ataupun senapan Jerman ini tidak pernah mampu menandingi akurasi senapan kokang manual. Senapan kokang manual hanya memiliki lebih sedikit bagian yang bergerak dan dengan demikian dapat disetel dengan baik oleh ahli senjata yang terampil untuk membuat senjata akurat yang dibutuhkan oleh sniper. Sementara itu sebaliknya, dalam pertempuran jarak dekat, senapan semi otomatis jenis SVT-38, atau pistol otomatis seperti MP-40 Jerman, terbukti sangat berharga bagi sniper dan para prajurit lainnya ketika mereka membutuhkan tingkat kecepatan tembakan yang tinggi. Ironisnya, desain yang tepat dengan toleransi pemakaian tinggi dari senapan Mauser kadang-kadang terbukti kurang dapat diandalkan pada suhu minus 40 derajat dan suhu yang lebih rendah di Front Timur, dimana periode pembekuan dan pencairan es yang lebih panjang sering mengubah jalanan pedalaman Soviet menjadi sungai lumpur dengan prajurit dan senjatanya bisa diselimuti dengan lumpur. 

Senapan semi otomatis Tokarev SVT-38 buatan Soviet. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Sniper Jerman dengan senapan Gewehr 43 yang desainnya sebagian dipengaruhi oleh senapan semi otomatis Tokarev SVT-38 buatan Soviet. (Sumber: Pinterest)
Dalam pertempuran jarak dekat pistol mesin MP40 (dipegang prajurit berbaju hitam) amat berguna bagi para sniper dan prajurit yang melindunginya saat menghadapi gelombang serbuan lawan. (Sumber: https://vistapointe.net/)

Sementara itu, Senapan Mosin Nagant buatan Soviet memiliki desain yang lebih tangguh dan dilengkapi dengan pelumas sehingga bisa lebih tahan terhadap dinginnya cuaca yang ekstrem di Rusia. Kemampuan ini menjadikannya sebagai senapan pilihan bagi banyak sniper Jerman, dan juga bagi kebanyakan sniper Soviet. Ini terutama berlaku untuk senapan Nagant era sebelum perang yang diproduksi di Tula Arms Plant, yang sejarahnya bisa ditelusuri kembali sejak tahun 1712 ketika didirikan oleh Tsar Peter I. Sniper Finlandia yang terkenal Simo Hayha mencatat sebagian besar “kill” resminya dengan senapan Mosin Nagant berpembidik besi konvensional. Dia berpendapat bahwa teleskop bidik senapan sering mengembun dalam kondisi yang keras dan bidikan terbatas dari scope membatasi kegunaan senjata itu dalam situasi pertempuran jarak dekat. Sementara itu, menurut pengalamannya, Allerberger awalnya lebih suka membawa senapan sniper Soviet Mosin Nagant yang dirampas dengan scope, ditambah dengan senapan Gewehr 43 semi-otomatis untuk dukungan tembakan cepat jarak dekat karena punya kotak peluru berisi 10-peluru. “Sementara tentara Jerman hingga 1940 terus menggunakan teleskop lama era sebelum masa perang, Tentara Merah telah mengembangkan senapan sniper modern dan menyiapkan sejumlah besar satuan sniper,” kata Allerberger. Kedua sniper Jerman ini mengakui betapa susahnya untuk menyiapkan tempat persembunyian  untuk senapan sniper mereka, mereka tahu bahwa sniper Jerman yang jatuh ke tangan musuh akan menghadapi penyiksaan yang berkepanjangan, hingga mati. Allerberger menjelaskan penggunaan senapan Gewehr 43 ketika menghadapi gelombang besar serangan pasukan Soviet. Kadang-kadang, dua gelombang pertama pasukan musuh dipersenjatai dan dua gelombang berikutnya diperintahkan — karena kurangnya senjata — untuk maju ke depan dan mengambil dan menggunakan senjata dari rekan-rekan mereka yang gugur. 

Senapan Mosin Nagant buatan Soviet, kerap dijadikan senapan sniper yang tidak hanya dipakai oleh pihak Soviet tetapi juga oleh para sniper Jerman. (Sumber: https://www.thetruthaboutguns.com/)

TEKNIK SNIPER DAN PENGALAMAN TEMPUR

Allerberger mencatat bahwa pada awal Oktober 1943, Jerman mulai menyadari bahwa pihak Rusia memiliki cadangan tenaga manusia yang hampir tidak pernah habis dan masih sering digunakan secara sembrono untuk melawan mereka. Dia teringat pada salah satu pertempuran di mana gelombang prajurit yang mati dan sekarat asal Rusia mulai menumpuk di depan posisi pasukan Jerman. Mereka menciptakan semacam “tembok” penghalang yang membuat para penyerang Rusia harus memanjatnya untuk bisa sampai ke posisi Jerman. Dan tank-tank T-34 Rusia lebih jauh melindas mayat-mayat orang yang tewas dan terluka, “tulang-tulang mereka patah seperti kayu kering” ketika tank-tank itu bergerak maju sementara prajurit infanteri mereka yang kehabisan amunisi menyerang musuh dengan bayonet dan sekop. Allerberger menggunakan senapan Gewehr 43-nya untuk menembak perut prajurit-prajurit Soviet dalam gelombang demi gelombang serangan yang dilancarkan. Ketika orang-orang itu jatuh dan menjerit kesakitan berkepanjangan dan menyakitkan, hal itu menyebabkan rekan-rekan mereka patah semangatnya dan mundur kembali. Hetzenauer juga menggunakan taktik yang sama dalam menghadapi serangan tentara Soviet, tetapi dia paling sering menggunakan pistol mesin MP40 buatan Jerman dalam peran itu. Hetzenauer dengan singkat mengatakan bahwa “sniper tidak membutuhkan senjata semi-otomatis” jika mereka diterjunkan dengan benar sebagai sniper. 

Dalam perang dunia II di front timur, pasukan Soviet kerap melakukan serangan frontal yang banyak memakan korban dalam menghadapi pertahanan Jerman yang dibangun kuat. Dalam serangan semacam ini, banyak pasukan Soviet menjadi korban sniper Jerman macam Hetzenauer dan Allenberger. (Sumber: Pinterest)

Karena sifat pertempuran yang sengit di Front Timur, kedua belah pihak, kadang-kadang, terpaksa menggunakan peluru tajam, pelacak, dan peledak. Hal ini juga terjadi dalam Perang Musim Dingin ketika sniper Finlandia, Simo Hayha, menderita cedera yang nyaris fatal ketika sebuah peluru peledak dari sniper Soviet menghancurkan sebagian rahangnya dan memaksanya untuk pensiun. Hetzenauer, misalnya, sebagian besar menahan diri untuk tidak menggunakan peluru pelacak karena bisa membantu mengungkap lokasi persembunyiannya. Dia kadang menggunakan amunisi penembus lapis baja ketika melawan penembak senapan mesin dan pengamat Soviet yang sering bekerja di belakang pelat baja berlubang untuk membantu melindungi mereka sambari memberikan celah kecil untuk kegiatan observasi dan penembakan. Yang agak mengherankan, ia juga menggunakan senapan antitank Jerman (panzerbuchse) yang sudah ketinggalan zaman untuk melawan bunker dan celah pengamatan karena amunisinya yang berkecepatan tinggi dan mampu menembus baja. Hetzenauer bersikeras bahwa dia menggunakan amunisi peledak hanya untuk menghantam posisi pengamatan Soviet dan untuk memaksa keluar pasukan Soviet dari rumah-rumah pertanian dari jerami dengan membakar atapnya. 

Simo Hayha, top sniper dunia yang kehilangan sebagian rahangnya akibat tembakan sniper Soviet dalam Perang Musim Dingin Soviet-Finlandia tahun 1939. (Sumber: twitter)

Di Amerika Serikat dan Inggris, sniper adalah sukarelawan, tetapi di Jerman, mereka sering mengambil penembak terbaik dari garis depan dan mengirimnya kembali ke Jerman untuk mengikuti pelatihan, hal inilah yang terjadi dengan Hetzenauer. Di sana mereka diajari panduan-panduan menembak yang lebih baik, serta teknik kamuflase dan pengalihan. Pelatihan sniper yang diikuti Hetzenauer berlangsung selama tiga setengah bulan yang terjadi selama kuartal kedua tahun 1944 di depot pelatihan pasukan di Austria selatan. Di sana ia belajar perlunya kesabaran dan ketekunan sementara ia mengasah keterampilan menembaknya di bawah pengawasan ketat dari sniper yang berpengalaman. Para siswa diharapkan untuk menembak target kecil tanpa gagal di jarak 325-435 yard. Dia juga diajari cara memperkirakan jarak dan menggunakan teknik pengelabuan, serta memanfaatkan medan sebaik mungkin, dan menggunakan boneka yang bisa digerakkan dengan tali dan dilengkapi dengan senapan yang bisa ditembakkan dari jarak jauh dengan kawat. 

Penggunaan “dummy” sebagai salah satu teknik umum untuk mengenali posisi sniper dalam perang. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Di Front Timur, jelang berakhirnya perang, tentara Jerman perlu untuk mengganggu sebanyak mungkin batalion-batalion Soviet yang bergerak maju di front ini, dan karenanya Hetzenauer mulai dikerahkan untuk mendukung misi ini. Tugasnya adalah menjaga unit artileri gunung dari gangguan sniper dan operator senapan mesin Soviet. Itu adalah tugas rutin Hetzenauer, karena brigade gunung nya menderita serangan konstan dari senjata-senjata Soviet setiap harinya. Pemuda Austria itu lebih suka menembak komandan unit Soviet dan crew senapan mesin. Dia sering bekerja dengan berani menembus garis pertahanan musuh, menembak target tertentu, hanya untuk menewaskan komandan musuh. Apa yang dilakukan oleh Hetzenauer ini tidak berbeda dengan permainan catur para sniper. Dalam “permainan catur para sniper” ini Hetzenauer kerap membunuh pion untuk mendapatkan target raja-nya. Itu adalah sebuah keharusan di medan tempur. Hetzenauer kemudian mengatakan, “Saya harus menembak komandan dan penembak senapan mesin musuh karena pasukan kita sendiri terlalu lemah dalam hal jumlah personel dan amunisi tanpa adanya dukungan semacam ini.” Hetzenauer kadang harus menunggu berjam-jam di udara yang dingin dan salju sebelum bisa melepaskan satu tembakan. Dia sabar, tahu bahwa satu gerakan yang salah akan menyingkapkan posisinya dan bisa berakhir dengan kematian di tangan sniper Soviet. Hetzenauer percaya bahwa “Keberhasilan terbaik bagi seorang sniper bukan terletak pada jumlah tembakan yang ia lepaskan tetapi pada kerusakan yang diakibatkannya pada pihak musuh dengan menembak komandan atau orang penting lainnya.” Ini adalah alasan mengapa pihak Jerman dan Soviet sangat menghargai sniper mereka dan bahkan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk melindungi mereka ketika diperlukan.

Sniper Jerman berlatih menembak dengan menggunakan senapan Mosin Nagant rampasan dari balik pelat baja pelindung. Pada akhir tahun 1943, Allenberger dikirimkan ke tempat pelatihan sniper untuk dilatih oleh pelatih sniper berpengalaman. (Sumber: https://www.argunners.com/)

Sementara itu, Allerberger, yang sudah menjadi sniper yang sukses, ditugaskan pada kuartal terakhir tahun 1943 untuk program pelatihan selama empat minggu di dekat Judenburg, Austria, tidak jauh dari rumahnya. Hal ini bisa didapatkannya dengan persetujuan dari komandannya, karena ini akan memberi sniper muda itu waktu istirahat yang diperlukan dari suasana penuh kematian dan kekacauan di Front Timur. Dia kemudian sering dipanggil oleh instruktur di sekolah sniper untuk berbagi pengalamannya. Banyak instruktur berpengalaman itu juga bertugas di Front Timur. Sementara itu, Allerberger dikejutkan oleh adanya “taman menembak” di sekolah, yakni sebuah lanskap miniatur lengkap dengan desa dan jalan di mana mereka harus menembak “musuh” dengan senjata olahraga kaliber kecil ketika mereka muncul di jendela, pintu, dan di belakang pohon. Karena pengalamannya di garis depan, ia bisa terlihat menonjol di latihan itu. Sepanjang pelatihan, instruktur merevisi dan membangun kembali lanskap untuk menjadikannya lebih menarik dan menantang. Kelas sniper yang diikuti Allerberger menyarankan para siswanya untuk merekam pengamatan mereka mengenai medan, kondisi cuaca, dan catatan perkenaan tembakan mereka di buku catatan yang mereka bawa. Sebagai sniper yang berpengalaman, ia mengingatkan perlunya menyamarkan catatan mereka jika ditangkap karena pengalaman yang dialami oleh sniper yang tertangkap oleh Soviet tidaklah menyenangkan. 

Jenderal Guderian dikelilingi oleh petugas komunikasi dalam kendaraan komandonya. Target komandan tertinggi dan tim komunikasi pasukan lawan adalah target-target vital yang kerap diincar oleh para sniper berpengalaman. (Sumber: Pinterest)

Selama perang kedua belah pihak menggunakan berbagai pengelabuan, mulai dari helm yang diangkat dengan tongkat untuk menipu sniper yang tidak berpengalaman di sisi lain hingga perangkat rumit seperti boneka yang bisa terlihat seperti sedang merokok. Hetzenauer memutuskan untuk tidak menggunakan pelat baja berlubang karena mereka wujudnya yang besar dan agak rentan terhadap pengamatan musuh. Dia menggunakan teropong 6×30 Jerman untuk pengamatan umum dan periskop Soviet kecil yang dirampasnya saat dekat dengan musuh di daerah tak bertuan. Allerberger, misalnya, pada awalnya mengembangkan cara yang menarik dengan menggunakan payung tua untuk membantu upaya penyamarannya. Dia melepaskan kainnya dan menggunakan tanaman lokal dan rumput yang dirajut ke dalam rangka kawat untuk menyediakan penyamaran terbatas. Inovasi ini terbukti sangat fungsional dan dapat dengan mudah diperbarui agar sesuai dengan kondisi medan tertentu ketika ia berpindah lokasi persembunyian di medan tempur. Tetapi ada lebih banyak hal yang harus dikuasai seorang sniper dari sekedar cuma memiliki mata yang tajam dan mengikuti pelatihan yang baik. Sniper Jerman yang datang langsung dari tempat pelatihan tanpa pengalaman langsung dalam pertempuran seringkali berhasil menembakkan 15-20 peluru secara tepat sebelum ditewaskan oleh lawan sniper yang berpengalaman – dan Soviet memiliki banyak sniper bagus. Pengalaman yang tak ternilai adalah tetap tenang di bawah tembakan musuh dan dengan hati-hati menyiapkan posisi menembak terbaik dengan satu atau lebih opsi untuk “menyelinap” pergi sering menjadi pembeda antara hidup dan mati.

Sniper Jerman dalam Perang Dunia II. Seorang sniper haruslah sabar dan tenang dalam tekanan, sebab satu langkah yang sembrono dapat mengantar mereka kepada kematian. (Sumber: https://www.argunners.com/)

Allerberger sering merangkak ke wilayah tak bertuan di malam hari untuk mempersiapkan lubang posisi menembaknya bersama dengan rute menyelamatkan diri sebagai persiapan untuk kabur jika diperlukan. Dia sering menambahkan granat tangan dan kawat jerat untuk melindungi jalur masuk persembunyiannya. Hal ini dapat digunakan sebagai perlindungan atau untuk pengalih perhatian jika ia harus segera kabur. Sniper berpengalaman juga tahu bagaimana dan kapan harus melompat ke posisi aman yang telah ditentukan dalam pergerakannnya yang dalam istilah Jerman disebut lompatan kelinci (hasensprung). Memutar cepat dan berguling dua kali sesekali sering menjadi bagian dari gerakan yang membutuhkan kecepatan, kemauan, dan saraf baja. Sniper yang kurang berpengalaman sering merasa takut di tempat persembunyiannya, untuk terus mampu bekerja di tengah tembakan senapan, mortir, dan artileri yang berkelanjutan, dan kelemahan ini yang sering berakibat fatal. Hetzenauer, Allerberger, dan Hayha bersikeras bahwa sniper tidak boleh memposisikan diri di atas pohon (suatu praktik yang kerap dilakukan sniper Jepang) meskipun fakta bahwa posisi di ketinggian akan memberikan pandangan yang lebih baik terhadap musuh. Posisi seperti itu menurut mereka gampang dengan mudah diidentifikasi dan diisolasi, dan pada akhirnya akan mencegah sniper untuk bisa menyelinap pergi dan bertarung di lain hari. Terlepas dari berbagai pelajaran yang masuk akal itu, Allerberger pernah menghadapi satu situasi di barat laut Bakalovo, di mana 11 orang di kompi terdepannya ditembak dalam beberapa menit dengan tembakan di bagian kepala dan dada yang diarahkan dengan baik. Kemudian dua komandan kompi juga tewas karena tembakan peluru peledak ketika mereka berdiri untuk melihat melalui teropong mereka. Jelas sekali bahwa pasukan Jerman itu menghadapi sekelompok sniper Soviet, sesuatu yang pernah mereka dengar tetapi belum pernah mereka temui. 

Sniper bersembunyi diatas pepohonan untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik. Namun menurut Hetzenauer, Allenberger dan Simo Hayha sendiri, seorang sniper sebaiknya menghindari untuk bersembunyi diatas pohon karena terlalu mudah mengundang lawan yang curiga. (Sumber: https://www.argunners.com/)

Upaya untuk mengusir sniper deretan pepohonan lebat di depan mereka terbukti sia-sia, dan lebih buruk lagi mengakibatkan kematian beberapa penembak senapan mesin Jerman. Unit ini tidak memiliki artileri atau bahkan mortir berat untuk mengusir musuh, jadi semua orang harus berlindung sampai Allerberger berhasil sampai ke tempat itu. Sniper Austria ini segera mengamati situasi dan dia tahu bahwa dia harus maju lebih dekat lagi untuk dapat menilai situasi dengan lebih baik. Dia kemudian mengambil lima tas granat dan mengisinya dengan rumput, menambahkan helm dan topeng wajah palsu. Dia meninggalkan kelimanya dengan asistennya, sementara dia dengan hati-hati merangkak ke depan. Ketika Allerberger memberikan sinyal yang sudah direncanakan sebelumnya, boneka itu dinaikkan, dan dia bisa mengidentifikasi di mana sniper musuh berada ketika ia melihat cabang-cabang diatas pohon bergoyang akibat dari gelombang tekanan tembakan. Dia kemudian dengan hati-hati merangkak sekitar 200 yard kembali ke tempat aman dan memberi tahu atasannya tentang rencananya untuk menyerang. Dia menempatkan lima senapan mesin dalam posisi yang disembunyikan dengan baik dan merangkak ke depan lagi setelah memastikan posisi sniper musuh dengan boneka. Begitu berada di posisi di satu sisi, dia memberi isyarat kepada asistennya, yang sedikit mengangkat boneka. Ketika seorang sniper menembak, ia dengan jelas dapat mengidentifikasi posisi sniper itu dan menembak ketika penembak senapan mesin Jerman itu menembaki pepohonan dengan bebas untuk menutupi suara senapan Mausernya yang mematikan. Sniper Soviet jatuh “seperti karung” dari posisi mereka di ketinggian. Setelah beberapa saat, Allerberger memposisikan dirinya kembali dan proses itu diulang lagi. Secara total, ia melumpuhkan 18 sniper musuh dalam waktu satu jam. 

Dalam Perang Pasifik, sniper Jepang malahan kerap bersembunyi diatas pohon kelapa. Meski kerap menimbulkan banyak korban pada pasukan Amerika, namun banyak sniper “pohon” Jepang yang berakhir ditangan berondongan senapan otomatis BAR pasukan Amerika. (Sumber: Pinterest)

Setelah periode tenang beberapa lama, tentara Jerman dengan hati-hati maju ke arah hutan dan mulai mengumpulkan senapan dan peralatan sniper musuh. Ketika seseorang melangkahi tubuh sniper yang tak bernyawa, dia menemukan wajah seorang wanita yang tertembak di dada. Dia tiba-tiba menarik pistol otomatis dari dalam jaketnya dan menembakkan satu peluru, yang mengenai seorang tentara Jerman di pantatnya, ketika dengan cepat kemudian prajurit Jerman itu menghabisinya dengan senapan MP40-nya. Meskipun ini adalah pertama kalinya satuan Jerman itu bertemu dengan pasukan sniper wanita, mereka telah mendengar tentang keberadaan unit tersebut. Faktanya, Soviet tercatat melatih dan mengerahkan lebih dari 2.000 sniper wanita sebelum perang berakhir. Banyak wanita membuktikan sebagai sniper yang ulet dan punya akurasi luar biasa karena mereka bisa bekerja dengan tekun untuk membalas kematian keluarga dan orang-orang terkasih mereka yang tewas di tangan penyerbu Jerman. Lyudmila Pavlichenko, adalah sniper wanita paling sukses dalam sejarah, yang dijuluki sebagai “Lady Death” dengan 309 kill yang terkonfirmasi termasuk diantaranya 36 sniper musuh. Dia bahkan sempat melakukan tur ke negara-negara Sekutu selama perang yang termasuk diantaranya berkunjung ke Gedung Putih di Washington, Amerika. 

Top Sniper wanita Soviet Lyudmila Pavlichenko (tengah) dan ibu negara Amerika, Eleanor Roosevelt (kanan). Pavlichenko tercatat membukukan 309 “kill” selama kariernya sebagai sniper. (Sumber: https://477768.livejournal.com/)
Sekitar 2.000 sniper wanita dikerahkan Soviet dalam Perang Dunia II. (Sumber: Pinterest)

Pada satu waktu, Allerberger dan sniper Josef Roth sempat bergabung untuk menghadapi seorang sniper Soviet yang telah menewaskan sejumlah orang dan telah membuat hidup orang-orang Jerman di garis depan sengsara. Setelah berjam-jam memindai kondisi lingkungan sekitar dan mengintip melalui teropong, mereka menemukan tempat persembunyian sniper itu. Dia dengan cerdik mengamankan dirinya di sebuah gua tanah yang digalinya melalui bendungan. Kedua prajurit Jerman itu perlu membuat sniper musuh menampakkan dirinya sedikit lebih tinggi, oleh karenanya mereka memutuskan untuk menggunakan tas roti besar yang diisi dengan rumput dengan topi ditempatkan di atas dan dinaikkan dengan sebuah tongkat. Pada waktu yang telah diatur sebelumnya, orang ketiga mengangkat boneka itu ke atas. Sniper Soviet itu menembak, dan memperlihatkan posisinya dengan jelas, dan kedua sniper Jerman itu kemudian menembakkan peluru peledak dari dua sudut yang sedikit berbeda. Bunyi gedebuk terdengar dari gua, dan kemudian terdapat aktivitas yang agak sibuk di sisi Soviet. Seorang pengamat Soviet yang tidak waspada kemudian mengangkat teropongnya ke matanya dan membayar kesalahannya dengan nyawanya, ketika ia dibinasakan oleh kedua sniper Jerman itu. Dengan ini, tembakan sniper yang mematikan berhenti dari sisi Soviet. 

Sniper Jerman dengan sedikit kamuflase pada helm nya. Perang sniper bukanlah perang yang bisa dianggap dilakukan secara ksatria, namun merupakan aksi yang licik dan kejam seperti perang itu sendiri. (Sumber: https://allthatsinteresting.com/)

Memoir yang ditulis oleh Allerberger banyak mengungkapkan fakta-fakta “kotor dari peperangan”. Sebagai contoh, menurut Allerberger, sniper harus mengamati dan mengikuti jalur parit dengan cermat, menunggu saat ketika seorang tentara musuh akan muncul ke sana, misalnya, untuk melemparkan toples berisi kotoran manusia. Setiap “kill” atas tentara Rusia banyak tercatat memiliki luka di pantat. Selama pertempuran, Allerberger berusaha untuk tidak membunuh musuh, tetapi untuk melukai tubuh korbannya di bagian dada. Para prajurit ini akan merasakan sakit yang tak tertahankan, dan teriakan mereka memiliki efek demoralisasi terhadap rekan-rekan. “Ketika tentara Rusia menyerang, yang paling efektif adalah dengan melepaskan tembakan di mana peluru jatuh di bagian ginjal. Dalam kasus-kasus ini, mereka yang terluka akan mulai berteriak seperti binatang dan melolong. Alhasil serangannya sering berakhir dengan tiba-tiba, ”kata si sniper itu. Dengan pengakuannya ini, Allerberger, kerap menyesali atas apa yang ia lakukan selama perang. Penembak gunung ini telah belajar tentang kebenaran, yaitu bahwa “perang tidaklah etis atau heroik.” Sementara itu, selain akurasi tembakannya yang fenomenal, Sepp juga dikenal sangat menguasai seni kamuflase. Menurut informasi yang belum dapat dikonfirmasi, kopral Allerberger menjadi salah satu dari beberapa prajurit berpangkat rendah, yang dianugerahi medali salib Ksatria.

KISAH AKHIR

Ketika perang berlangsung, sniper Jerman mengambil peran yang lebih penting dalam melawan gelombang serangan tentara Merah yang nampak tiada habisnya. Mereka sering ditinggalkan di belakang untuk memperlambat atau bahkan menghentikan kemajuan pasukan Soviet, meski hanya dalam beberapa jam, sementara pasukan yang lebih besar ditarik mundur ke posisi yang lebih aman. Dalam misi ini, Hetzenauer kemudian ditangkap di wilayah Cekungan Donets dan menghabiskan waktu lima tahun sebagai buruh kerja paksa di kamp tawanan Soviet. Allerberger lebih beruntung. Pada akhir perang, ia berhasil menghindari penangkapan pasukan Soviet dan dengan aman menemukan jalan pulang ke kampung halamannya di Austria dari Cekoslowakia tengah. Allerberger bisa survive melalui perang dengan memegang teguh prinsip sebagai berikut: “Dia tidak pernah menembak target yang belum diidentifikasi dengan benar; dia hanya menembak sekali dari setiap posisi, dan dia berpikir bahwa menunjukkan sedikit belas kasihan kepada musuh akan membawanya kepada kematiannya.” Dengan 3 prinsip itu telah membuatnya memenangkan 2 medali Iron Cross (kelas 1 dan 2); sebuah Infantry Assault Badge, sebuah Sniper’s Badge (Emas) dan sebuah Knight’s Cross of the Iron Cross. Untuk aksinya di Stavropol, ia juga dianugerahi Wound Badge (Perak). Setelah Perang Dunia 2 berakhir, Allerberger bekerja sebagai tukang kayu seperti ayahnya. Dia meninggal pada 2 Maret 2010 di Wals-Siezenheim, Jerman pada usia 85 tahun. Dalam peringkat informal sniper paling efektif dari Nazi Jerman, Josef Allerberger berada di tempat kedua setelah Matthäus Hetzenauer. Allerberger tercatat membukukan 257 “kill” atas tentara merah Soviet, dimana sebagian dengan menggunakan senapan Mosin Nagant buatan Soviet!

Foto lawas Josef Allerberger. Allerberger terhitung beruntung bisa menghindari penangkapan pihak Soviet dan kembali ke kampung halamannya selepas perang di Austria. (Sumber: http://www.globaldomainsnews.com/)
Buku memoir pengalaman Josef “Sepp” Allenberger. (Sumber: https://www.goodreads.com/)
Hetzenauer tidak seberuntung Allenberger, ia harus menjalani 5 tahun masa penahanan di Soviet sebelum bisa dibebaskan pada tahun 1950. Selepas perang, kisah hidupnya dibukukan dengan mencatat segala pengalamannya semasa perang. (Sumber: https://www.amazon.co.uk/)

Sementara itu, Hetzenauer juga mendapatkan sebuah medali Knight’s Cross of the Iron Cross serta Wound Badge (Hitam) setelah ia menderita cedera kepala akibat tembakan artileri pada bulan November 1944, disamping medali Iron Cross (kelas 1 dan 2), Sniper Badge in Gold, the Close Combat Bar in Gold,  Infantry Assault Badge in Silver, the Black Wound Badge, dan German Cross in Gold. 345 tentara musuh berhasil ditewaskannya dengan tembakan akurat senjatanya yang mematikan dari bulan Agustus 1944-Mei 1945. Itu artinya dia berhasil mencatat lebih dari satu “kill” per hari. Sniper Soviet memang memiliki jumlah catatan “kill” yang lebih tinggi, tetapi apa yang didapat Hetzenauer adalah rekor di antara pasukan Jerman, dan semua jumlah itu dibukukan hanya dalam waktu 10 bulan. Atas catatan ini ia kemudian dinobatkan sebagai Sniper Nazi paling mematikan dari Perang Dunia II. Catatan “kill” terjauhnya yang  berhasil dikonfirmasi adalah dari jarak 1.200 yard (1.100 meter) yang menakjubkan, yang setara dengan panjang lebih dari 10 kali lapangan sepak bola. Jarak yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang paling ahli dalam teknik tembak runduk (sniper). Hetzenauer dianugerahi medali kehormatan tertinggi pada bulan April 1945. Komandan Divisinya, Jenderalleutnant Paul Klatt merekomendasikannya karena jumlah catatan “kill” nya yang besar serta pengabaiannya atas keselamatannya sendiri saat berada di bawah tembakan artileri dan serangan musuh. Kegembiraannya karena mendapatkan medali bergengsi itu tidak bertahan lama karena ia kemudian ditangkap satu bulan kemudian dan menghabiskan waktu lima tahun di sebuah kamp tahanan perang Soviet, dimana rekan-rekannya disiksa dan dibunuh. Mereka menjadi bagian dari 3 juta tentara Jerman yang ditangkap Soviet, dimana hampir 1 juta dari mereka tewas. Hetzenauer berhasil mengatasi segala rintangan sembari menutupi informasi tentang pekerjaannya sebagai sniper dari pihak penahannya, yang telah membuat berat badannya turun hingga 100 pound ketika dibebaskan. Hetzenauer dibebaskan pada tahun 1950. Dia kemudian bekerja sebagai tukang kayu dan menikahi Maria, yang kemudian akan hidup dua tahun lebih lama dari Hetzenauer. Hetzenauer meninggal pada 3 Oktober 2004, enam tahun sebelum Allerberger. Ia berusia 79 tahun saat meninggal, setelah kesehatannya menurun beberapa tahun terakhir hidupnya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

A Tale of Two German Snipers by By Phil Zimmer

Josef Allerberger and Matthäus Hetzenauer: Two Snipers with Over 600 Kills Between Them by Russell Hughes

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/world-war-ii/josef-allerberger-matthaus-hetzenauer.html/amp

Matthäus Hetzenauer: The Deadliest Nazi Sniper Of World War II By William DeLong

Matthaus Hetzenauer

Josef Allerberger: why “second shooter of the Wehrmacht” preferred a Russian rifle

By Daniel Johnson – 10 February 2020

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Matth%C3%A4us_Hetzenauer

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Josef_Allerberger

6 thoughts on “Hetzenauer & Allerberger, Duo Sniper Ulung Jerman Asal Austria di Front Timur saat Perang Dunia II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *