Hiroyoshi Nishizawa, “The Devil of Rabaul”: Pilot Tempur Terbaik Jepang Yang Menggetarkan Pasifik

Hiroyoshi Nishizawa umumnya diakui sebagai pilot pesawat tempur era Perang Dunia II asal Jepang dengan jumlah “kill” (menembak jatuh pesawat musuh) terbanyak, meskipun jumlah pastinya bervariasi antara sumber satu dengan yang lain. Beberapa sumber mencatat rekor totalnya adalah 88, 89 sampai 102 “kill” hingga ia gugur pada 26 Oktober 1944. Banyak pilot pesawat tempur terkemuka Perang Dunia II, seperti Erich Hartmann dari Jerman, Ivan Kozhedub dari Rusia dan Richard Bong dari Amerika, tampak seolah-olah mereka memang dilahirkan untuk mendapatkan kehormatan yang layak mereka dapatkan. Tapi untuk kasus Hiroyoshi Nishizawa, Ace-of-ace Jepang ini nampaknya adalah sebuah pengecualian. Salah satu kawan seperjuangannya, Saburo Sakai, menulis bahwa “seseorang merasa pria itu (Nishizawa) harusnya berada di ranjang rumah sakit. Dia tinggi dan kurus untuk ukuran orang Jepang, tingginya hampir lima kaki delapan inci. Dia memiliki wajah pucat; beratnya hanya 140 pound, dan tulang rusuknya menjulur tajam ke kulitnya. ” Meskipun Nishizawa menguasai bela diri judo dan sumo, Sakai mencatat bahwa rekannya “hampir selalu menderita malaria dan penyakit kulit tropis. Dia pucat hampir sepanjang waktu. ” Sakai, yang merupakan salah satu dari sedikit teman Nishizawa, menggambarkannya sebagai orang yang pendiam, “hampir seperti orang buangan yang termenung daripada seorang pria yang pada kenyataannya telah menjadi objek pemujaan.” Namun, bagi beberapa orang terpilih yang mendapatkan kepercayaannya, Nishizawa sangatlah setia. Nishizawa mengalami metamorfosis yang luar biasa sebagai pilot tempur ulung di kokpit pesawat tempur Mitsubishi A6M Zero-nya. “Untuk semua orang yang (pernah) terbang bersamanya,” tulis Sakai, “ia (bisa) menjadi ‘Iblis’…. Tidak pernah aku melihat seorang pria dengan pesawat tempur melakukan apa yang akan dilakukan Nishizawa dengan Zero-nya. Aksi aerobatiknya menakjubkan, sekaligus brilian, benar-benar tidak dapat diprediksi, mustahil, dan menggetarkan hati untuk disaksikan. ” Dia juga memiliki mata seperti pemburu, yang mampu melihat pesawat musuh sebelum rekan-rekannya tahu adanya hal lain di langit. Bahkan ketika generasi baru pesawat Amerika merebut langit Pasifik dari pesawat Zero Jepang, banyak yang yakin bahwa selama dia berada di kendali pesawat Zero-nya, Nishizawa tidak terkalahkan. Dan itu terbukti menjadi masalahnya. 

Hirosyoshi Nishizawa, pilot tempur paling top Jepang dalam Perang Dunia II. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

LATAR BELAKANG

Hiroyoshi Nishizawa lahir pada tanggal 27 Januari 1920, di sebuah desa pegunungan di prefektur Nagano, sebagai putra kelima dari Shuzoji dan Miyoshi Nishizawa. Shuzoji adalah manajer tempat pembuatan sake. Setelah lulus dari sekolah dasar yang lebih tinggi, Hiroyoshi bekerja untuk sementara waktu di sebuah pabrik tekstil. Kemudian, pada bulan Juni 1936, sebuah poster menarik perhatiannya, yakni poster tentang: permohonan bagi sukarelawan untuk bergabung dengan Yokaren (program pelatihan penerbang cadangan). Dia melamar dan memenuhi syarat sebagai siswa pilot di Kelas Otsu No. 7 Kekuatan Udara Angkatan Laut Jepang (JNAF). Dia menyelesaikan kursus pelatihan penerbangannya pada bulan Maret 1939, lulus di peringkat ke-16 dari kelas yang berisi 71 siswa. Setelah bertugas di Oita, Omura dan Sakura kokutai (grup udara) pada Oktober 1941, Nishizawa ditugaskan ke Chitose Kokutai (Ku.). Setelah penyerangan di Pearl Harbor dan pecahnya perang dengan Amerika Serikat tanggal 7 Desember 1941, chutai (skuadron) dari kelompok Chitose, termasuk Petty Officer 1st Class (PO1C) Nishizawa, ditempatkan di lapangan terbang Vunakanau di Pulau New Britain yang baru diambil alih. Mereka tiba di minggu terakhir bulan Januari 1942. Skuadron ini dilengkapi dengan 13 pesawat tempur Mitsubishi A5M “Claude” yang sudah usang yang diwariskan kepada mereka oleh Tainan dan kokutai ke-3 (yang telah dilengkapi dengan pesawat tempur A6M2 “Zero” baru). Detasemen ini akhirnya mendapat tiga Zero pertamanya pada tanggal 25 Januari. 

Nishizawa memiliki perawakan tinggi kurus untuk ukuran orang Jepang. Meski pada foto dia nampak tersenyum, namun pada kenyataannya, Nishizawa adalah sosok yang serius dan pendiam. (Sumber: Pinterest).
Meski kemudian akan dikenal sebagai Ace dengan Pesawat tempur Zero, namun seperti pilot-pilot tempur Jepang di masa-masa awal perang Pasifik, Nishizawa mengawali kariernya dengan menerbangkan pesawat tempur A5M Claude yang telah usang. (Sumber: https://www.artstation.com/)

Nishizawa menerbangkan A5M di atas Rabaul pada tanggal 3 Februari ketika ia dan delapan rekannya menemukan dua pesawat amfibi Consolidated Catalina I dari Angkatan Udara Australia (RAAF) yang beroperasi dari pangkalan udara dan laut Sekutu di Port Moresby, New Guinea. Salah satu pesawat Catalina menghindari pesawat-pesawat Jepang, tetapi Nishizawa menyerang pesawat yang lain dan melumpuhkan salah satu mesinnya. Pilot Australia, Lt. G.E. Hemsworth, berhasil menerbangkan pesawatnya yang lumpuh kembali ke Port Moresby dengan mesin yang tersisa, sementara penembaknya, Sersan Douglas Dick, mengklaim menembak jatuh sebuah pesawat musuh yang kemudian dihitung sebagai kemungkinan. Nishizawa, di sisi lain, kemudian dikreditkan sebuah Catalina sebagai kemenangan pertamanya. Rabaul kemudian diserang oleh sekelompok kecil pembom Sekutu sepanjang Februari. Sementara itu Jepang merebut Sarumi dan Gasmata di sebelah barat New Britain pada tanggal 9 Februari dan segera mendirikan pangkalan aju di sana. Pada hari berikutnya, beberapa detasemen, termasuk unit Nishizawa dari Chitose Ku., Digabungkan menjadi grup udara baru, yang ke-4. Ketika pesawat Zero baru tersedia, Nishizawa ditugaskan menerbangkan sebuah A6M2 Zero dengan kode ekor F-108. Pada satu waktu, dua belas Zero dari Ku ke-4 sedang mengawal delapan pembom dalam serangan di Pulau Horn pada tanggal 14 Maret ketika mereka menghadapi tujuh pesawat Curtiss P-40E Warhawks dari Skuadron ke-7, Grup Pemburu ke-49, Kekuatan Udara Angkatan Darat AS (USAAF), yang dipimpin oleh Kapten Robert L. Morissey. Dalam pertarungan yang terjadi kemudian, tiga pilot Ku-4, termasuk Nishizawa, mengklaim menjatuhkan enam P-40, bersama dengan dua kemungkinan, sementara lawan mereka mengklaim lima pesawat Zero. Pada kenyataannya, Jepang hanya kehilangan dua pesawat tempur dan pilot mereka (Letnan Nob Nobro Iwasaki dan PO1C Genkichi Oishi), sedangkan Amerika kehilangan satu P-40 yang pilotnya, Letnan 2 Clarence Sandford, berhasil melompat keluar pesawat di atas Pulau Bremer. 

TRIO MAUT DARI LAE

Jepang tidak pernah mendorong dilakukannya penghitungan skor individu, mereka lebih cenderung menghargai upaya tim dalam sebuah unit. Seperti halnya dengan Prancis dan Italia, kemenangan udara pilot-pilot Jepang secara resmi dihitung untuk grup udara, bukan untuk individu. Secara umum, upaya untuk memverifikasi klaim pribadi oleh penerbang Jepang hanya dapat dilakukan dari pemeriksaan pascaperang lewat surat-surat dan buku harian mereka, atau dari rekan-rekan mereka. Klaim selanjutnya Nishizawa adalah sebuah Supermarine Spitfire di atas Port Moresby pada tanggal 24 Maret. Dia merupakan salah satu dari lima pilot Jepang yang berpartisipasi dalam menembak jatuh tiga pesawat yang diduga merupakan tipe Spitfire yang ditembak jatuh di lokasi yang sama pada tanggal 28 Maret. Namun, dapat dikatakan bahwa pihak Jepang telah salah mengidentifikasi lawan mereka, karena tidak ada Spitfire di Australia pada saat itu. Sementara itu, pada tanggal 8 Maret, pasukan Jepang mendarat di timur laut New Guinea dan merebut Lae dan Salamaua. Kemudian, pada 1 April, JNAF menjalani reorganisasi, di mana Ku-4 diubah menjadi unit pembom secara eksklusif, dan chutai tempurnya – termasuk Nishizawa – dimasukkan ke dalam Ku Tainan, di bawah komando Kapten Masahisa Saito. Unit ini beroperasi dari lapangan terbang hutan di Lae, di mana kondisi kehidupan disana menyedihkan. “Lapangan udara terburuk yang pernah saya lihat, tidak termasuk Rabaul atau bahkan pangkalan udara garis depan di Cina,” kata seorang personel Ku. Tainan, PO1C Saburo Sakai. Tetapi wingman-nya, PO3C Toshiaki Honda, dengan gembira menggambarkan Lae sebagai “tempat berburu terbaik di dunia.” Honda merujuk ke Port Moresby, yang merupakan “sarang lebah” Sekutu yang terletak hanya 180 mil jauhnya dari Lae. Di sana, pesawat-pesawat P-40 RAAF didukung oleh pesawat-pesawat Bell P-39 Airacobra dari Grup Pursuit ke-8, USAAF. Kedua tipe pesawat itu secara umum dinilai lebih inferior dari pesawat-pesawat Zero Jepang yang dipakai Nishizawa dan Sakai.

Pesawat pembom A-20 Havoc menyerang Pangkalan Udara Jepang di Lae tahun 1943, terlihat pembom G4M Betty di landasan pesawat. Lae adalah pangkalan udara penting Jepang di Pasifik pada tahun 1942-1943, selama beberapa waktu Hiroyoshi Nishizawa berpangkalan di tempat primitif ini. (Sumber: https://ww2db.com/)

Di Lae tidak ada hangar pesawat, tidak ada tempat pemeliharaan, bahkan menara kontrol. Para personel di darat, baik pilot dan anggota kru darat, tidur di gubuk-gubuk kasar yang dibuat dari pohon-pohon yang ditebang dari tepi landasan. Alat transportasi bermotor di darat terdiri dari sebuah mobil Amerika kuno yang dirampas, yang oleh beberapa kru mekanik berhasil diperbaiki kembali untuk mereka gunakan. Seluruh garnisun tempur di Lae terdiri dari 200 pelaut yang mengawaki senjata anti pesawat dan menjaga perimeter pertahanan di tepi hutan. Terdapat seratus petugas pemeliharaan, 30 pilot, dan setengah lusin staf. Sementara itu umumnya pangkalan Amerika yang sebanding mungkin akan memiliki lebih dari 3.000 personel. Rutinitas harian di tempat itu bervariasi, ditentukan hanya menurut cuaca atau aktivitas pembom Amerika. Setiap pagi, pukul 02:30 pagi, kru pemeliharaan mulai bekerja merawat pesawat tempur. Satu jam kemudian pilot dibangunkan. Setelah sarapan, enam dari mereka pergi ke lapangan terbang di mana terdapat enam pesawat tempur Zero, melakukan pemanasan dan siap untuk lepas landas, dengan senjata telah terisi penuh. Mereka adalah satuan pertahanan udara di Pangkalan Lae. Tidak ada radar, tidak ada patroli, tetapi Zero bisa — dan sering — terbang dalam hitungan detik. Bahkan rute tempur yang dijalani para pilot telah menjadi standar. Untuk bisa mencapai daerah Port Moresby — target utama pengebom Jepang yang terdiri dari lapangan terbang dan fasilitas pengirimannya — Zero dan pembom harus melintasi Pegunungan Owen Stanley yang ketinggiannya mencapai 15.000 kaki. Di atas punggung bukit, perairan membentang di depan mereka, dan kemudian Port Moresby.

Saburo Sakai, senior dari Nishizawa dalam skuadron tempur di Lae. Sakai telah berpengalaman tempur di China, Filipina dan Jawa. (Sumber: Pinterest)
Toshio Ota, bersama dengan Sakai dan Nishizawa, ketiganya membentuk “trio maut” pilot tempur Jepang di kawasan Papua dan Kepulauan Solomon. Ketiganya dikenal sebagai “Cleanup Trio” yang menyapu pesawat-pesawat sekutu di kawasan Pasifik Barat Daya. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sebuah flight Zero dari Tainan Ku, yang dipimpin oleh Letnan j.g. Junichi Sasai, berpatroli di Laut Koral dan kembali melewati Port Moresby pada tanggal 11 April ketika orang-orang Jepang melihat adanya 4 pesawat Airacobra. Sakai, yang dilindungi oleh dua wing man nya, PO3C Honda dan Seaman 1st Clas Keisaku Yonekawa, terbang menukik pada dua P-39 paling belakang dan segera menembak jatuh keduanya. “Saya membawa Zero keluar dan mengayunkannya dengan ketat,” tulis Sakai, “bersiap untuk menghadapi langsung di belakang dua pesawat tempur yang ada di depan. Pertempuran (ternyata) sudah berakhir! Kedua P-39 terjun dengan liar ke bumi, mengikuti dibelakangnya nyala api yang terang dan asap tebal …. Saya mengenali salah satu Zero yang masih keluar dari jalur menukiknya, Hiroyoshi Nishizawa, seorang pilot pemula. Zero kedua, yang telah membunuh musuh dengan satu tembakan tepat, dipiloti oleh Toshio Ota, terbang dengan gerakan melingkar yang tajam untuk bergabung kembali dengan formasi. ” Sejak saat itu, Nishizawa dan PO1C Ota yang berusia 22 tahun segera menonjol di antara para penerbang veteran dari Tainan Ku. Yang kemudian berada di peringkat teratas bersama Sakai sebagai Ace (penerbang top) terkemuka dari kelompok itu. “Seringkali kami terbang bersama,” tulis Sakai, “dan dikenal oleh pilot lainnya sebagai‘ trio pembersih. ‘”Ota meski sering berbagi ilmu penguasaan tentang kontrol pesawat Zero dengan Nishizawa, namun keduanya memiliki kepribadian amat berbeda; Ota lincah, periang dan ramah. Sakai berpikir Ota akan “lebih betah, di klub malam daripada kesepian di Lae.”

Nishizawa (baris depan kanan) bersama dengan Ota (depan kiri) dan Sakai (berdiri belakang kanan) di Pangkalan udara Lae. (Sumber: http://wgordon.web.wesleyan.edu/)

Selama beberapa minggu ke depan, Tainan Ku. mendapatkan beberapa kesuksesan, tetapi kesempatan tampaknya menghindar dari Nishizawa. Pada tanggal 23 April, ia, Sakai dan Ota menembakki lapangan terbang Kairuku di utara Port Moresby, dan pada tanggal 29 April, Nishizawa adalah satu dari enam pilot Zero yang merayakan ulang tahun Kaisar Hirohito dengan memberondong Lapangan Port Moresby. Akan tetapi, pada kedua kesempatan itu, Jepang tidak menghadapi perlawanan di udara. Kemudian, pada 1 Mei, saat delapan Zero sedang menuju Port Moresby mereka menemukan 13 P-39 dan P-40 terbang perlahan di ketinggian 18.000 kaki. Nishizawa, seperti biasa, melihat mereka terlebih dahulu dan berbalik dalam putaran lebar untuk menyerang pesawat musuh dari kiri dan belakang. Tujuh rekannya tidak jauh di belakang, dan mereka mengejutkan orang-orang Amerika sepenuhnya, menembak jatuh delapan sebelum mereka yang selamat bisa pergi. Sakai, yang mengklaim dua kemenangan dalam pertarungan, menggambarkan apa yang terjadi ketika mereka kembali ke Lae: “Nishizawa melompat dari kokpitnya ketika Zero-nya berhenti. Kami terkejut; biasanya dia turun perlahan. Namun hari ini, dia merentangkan tubuh dengan bebas, mengangkat kedua tangan di atas kepalanya, dan menjerit, “Yeeeeooow!” Kami menatap dengan heran; ini benar-benar berbeda dari karakternya. Kemudian, Nishizawa menyeringai dan berjalan pergi. Mekaniknya yang tersenyum memberi tahu kami alasannya. Dia berdiri di depan pesawat tempurnya dan mengangkat tiga jari. Nishizawa kembali ke performa terbaiknya! ” Nishizawa terus dalam kondisi terbaik, saat menembak jatuh dua P-40 di atas Port Moresby pada hari berikutnya dan P-40 lainnya pada tanggal 3 Mei. 

Curtiss P-40, pesawat tempur Amerika yang kerap dihadapi Nishizawa dan kawan-kawannya selama pertempuran di kawasan Papua dan kepulauan Solomon. (Sumber: https://www.goodfon.com/)
Bell P-39 Airacobra, pesawat lain yang kerap dihadapi pilot-pilot Zero Jepang, seperti Nishizawa. Airacobra kerap dikenal sebagai pesawat yang lebih inferior dari Zero Jepang. (Sumber: http://hyperscale.com/)

Pada tanggal 7 Mei, Sakai, Nishizawa, Ota dan PO1C Toraichi Takatsuka berhadapan dengan 10 P-40 yang terbang 14.000 kaki di atas Port Moresby. Pemimpin formasi P-40 melihat empat pesawat Jepang, dua ribu kaki lebih rendah dari posisi terbang pesawat-pesawat Amerika. Kondisi itu adalah kondisi yang ideal untuk melakukan penyergapan. Perintah segera disampaikan. Tiga pesawat tempur harus menukik bersamanya untuk memencarkan formasi musuh; sementara enam P-40 yang tersisa akan tetap terbang di ketinggian mereka, siap untuk turun sekaligus jika ada masalah. Semuanya nampak sempurna, lagipula mereka berada dalam posisi yang ideal untuk menyerang: dengan memiliki keunggulan ketinggian terbang, dan memiliki pesawat tempur yang dapat menukik dengan cepat. Situasi seperti itulah yang diinginkan pilot mana pun. Dengan teratur, layaknya sebuah tim, keempat P-40 turun menukik ke arah pesawat-pesawat tempur Jepang. Rencananya sederhana: ketika formasi Zero pecah, setiap pilot P-40 akan mengambil satu mangsa, menembaknya dengan keras, dan mengakhiri pertempuran secepat mungkin. Tapi yang terjadi kemudian tidak terjadi sesuai dengan rencana, karena pilot-pilot P-40 itu telah menyerang formasi “sarang lebah terburuk” di seluruh Angkatan Laut Jepang. Lawan-lawan mereka adalah pilot-pilot tempur terbaik yang pernah dimiliki Jepang. Bahkan sebelum komandan P-40 melihat keempat Zero, Nishizawa telah menandai keberadaan pesawat-pesawat Amerika, mengayunkan sayapnya sebagai sinyal kepada pilot lain dan menunjukkan arah serangan. Setiap pilot Zero mengangguk. Ota meluncur hanya untuk terbang beberapa meter disamping sayap pesawat Nishizawa; Takatsuka melakukan hal yang sama dengan Sakai. Dari jauh, pesawat-pesawat Jepang tampaknya tidak bergerak. Pilot-pilot Zero tidak memberikan indikasi bahwa mereka mengetahui adanya P-40 di atas mereka. Pesawat-pesawat Amerika yang berat menukik dengan kecepatan tinggi, masing-masing pilot siap menembak.

Pesawat A6M3 Zero Jepang bersiap untuk lepas landas. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada detik terakhir, tepat sebelum berada pada titik kritikal, formasi pesawat Jepang melompat keluar dari jalur terbangnya. Tetapi alih-alih berguling dan berhamburan, seperti yang diharapkan oleh pilot P-40, Zero bergerak ke atas dalam mendaki yang cepat dan hampir vertikal. Pesawat Tempur Amerika yang memimpin itu berbelok ke kanan dan hendak mulai melakukan manuver loop. Masih di posisi menikung hendak menanjak, pesawat itu hancur berantakan ketika menabrak jalur lintasan peluru kanon pesawat Zero. Sebuah sayapnya terkoyak saat melakukan manuver high-g, membuat pesawat tempur itu terbang tak terkendali di udara. Skor satu untuk Saburo Sakai. Sementara itu, Hiroyoshi Nishizawa membawa Zero-nya terbang nyaris stall, hanya terbang bergantung pada putaran baling-balingnya. Kemudian sebuah P-40 bergerak melintas di depannya, dan secepat kilat tembakan panjang dari dua kanon dan dua senapan mesin mengubah pesawat itu jadi bola api. Dua P-40 lainnya jatuh ke tangan Toshio Ota, dan Takatsuka. Pesawat-pesawat Zero sekarang menyebar ke kanan dan kiri, ketika enam P-40 yang tersisa, melayang di atas kepala mereka, untuk menemukan ruang kosong di depan senjata mereka. Pesawat-pesawat Zero berputar-putar ke atas, terbang membuat lintasan loop ketat, yang segera membuat pesawat-pesawat P-40 tepat di depan kanon mereka. Nishizawa, Sakai, dan Ota menembak jatuh masing-masing sebuah pesawat musuh di udara; sementara Takatsuka berguling dan menukik. Pilot-pilot Zero lalu bergabung dalam formasi dan terbang kembali ke Lae. Dalam pertarungan itu, kemenangan telak ada di tangan pilot-pilot Jepang: tujuh dari sepuluh P-40 berhasil ditembak jatuh, tanpa satupun lubang peluru bersarang di salah satu pesawat Jepang yang terlibat dalam pertempuran. Jelas pilot-pilot P-40 tidak mengetahui siapa yang mereka hadapi. Hingga hari itu Saburo Sakai, dengan pengalaman tempur di Cina, Filipina, Jawa, dan Lae, telah mencetak 22 “kill” untuk menjadi Ace terkemuka di Jepang. Nishizawa, dengan hampir sebulan menjalani pertempuran melawan pesawat Amerika dan Australia di Port Moresby, telah menorehkan 13 kill, sementara Ota telah mencetak 11; Takatsuka membuntuti mereka dengan sembilan. Nishizawa kemudian berbagi skor dalam penghancuran dua pesawat P-39 pada tanggal 12 Mei, dan mendapat dua Airacobra lagi pada 13 Mei. 

Pembom B-25 menyerang landasan Jepang di tengah hutan Pasifik. Serangan semacam inilah yang menginspirasi Nishizawa untuk melakukan aksi “Danse Macabre” di atas Port Moresby bersama dengan Ota dan Sakai. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Hujan deras membuat personel Tainan Ku tidak bisa terbang pada 15 Mei, dan pada subuh berikutnya, beberapa pesawat pembom North American B-25 Mitchell dari Kelompok Pembom ke-3 terbang diatas Lae dan merusak landasan dengan beberapa bom. Sepanjang hari kemudian dihabiskan untuk memperbaiki kerusakan. Malam itu, Nishizawa, Ota dan Sakai sedang bersantai di ruang radio, mendengarkan musik dari stasiun radio Australia ketika Nishizawa mengenali lagu Camille Saint-Saëns’ eerie “Danse Macabre.” “Ini memberiku ide,” katanya bersemangat. “Kamu tahu misi besok, kita akan memberondong Moresby? Mengapa kita tidak menarikan tarian kematian kita sendiri? ” Ota menolak proposal Nishizawa sebagai ocehan orang gila, tetapi dia tetap bersikeras. “Setelah kita pulang, mari kembali ke Moresby, kita bertiga, dan lakukan beberapa peragaan demonstrasi tepat di atas lapangan,” saran Nishizawa. “Seharusnya ini akan membuat mereka yang di bawah marah!” “Itu mungkin menyenangkan,” jawab Ota. “Tapi bagaimana dengan komandan? Dia tidak akan pernah membiarkan kita melakukannya. ” “Begitu?” jawab Nishizawa dengan senyum lebar. “Siapa bilang dia harus tahu tentang itu?” Pada 17 Mei, Letnan Cmdr. Tadashi Nakajima memimpin Tainan Ku. dalam upaya maksimal untuk menetralisir Port Moresby, dengan Sakai dan Nishizawa sebagai wingman-nya. Namun, upaya penyerangan itu tidak menghasilkan apa-apa, dan tiga formasi pesawat tempur Sekutu menghadapi Zero dalam pertempuran udara yang berputar-putar. Lima P-39 diklaim dijatuhkan oleh Jepang, termasuk dua oleh Sakai dan beberapa kemenangan bersama yang mungkin untuk Nishizawa. Namun, dua Zero ditembak di atas lapangan udara dan kemudian jatuh di Pegunungan Owen Stanley, menewaskan Letnan j.g. Kaoru Yamaguchi dan PO2C Tsutomu Ito. Setelah menyerang, Formasi Jepang dirapikan untuk melakukan penerbangan kembali. Sakai memberi isyarat kepada Nakajima bahwa ia akan mengejar pesawat musuh yang telah dilihatnya dan memisahkan diri. Beberapa menit kemudian, dia sudah kembali ke Port Moresby, untuk membuat pertemuannya dengan Nishizawa dan Ota. Setelah menetapkan rutinitas mereka dengan gerakan tangan dan memeriksa sekali lagi adanya pesawat Sekutu, ketiganya melakukan tiga loop ketat dalam formasi dekat. Setelah itu, Nishizawa yang gembira mengindikasikan bahwa ia ingin mengulangi penampilannya. Menukik hingga 6.000 kaki, Zero melakukan tiga loop lagi, masih tanpa ada tembakan dari bawah. Tiga pilot Jepang itu kemudian kembali ke Lae, tiba 20 menit setelah unit lainnya mendarat. 

Sakai (kiri) dan Nishizawa (kanan) keduanya bertanggungjawab atas rontoknya sedikitnya 151 pesawat sekutu. (Sumber: https://9gag.com/)

Sekitar jam 9 malam, seorang petugas mengatakan kepada Sakai, Ota, dan Nishizawa bahwa Letnan Sasai menginginkan mereka di kantornya segera. Ketika mereka tiba, dia mengangkat surat. “Apakah kamu tahu di mana aku mendapatkan benda ini?” dia berteriak. “Tidak? Aku akan memberitahumu, bodoh! surat ini dijatuhkan di pangkalan ini beberapa menit yang lalu, oleh pesawat penyusup musuh! ” Surat itu, yang ditulis dalam bahasa Inggris, mengatakan: “Kepada Komandan Lae: Kami sangat terkesan dengan ketiga pilot yang mengunjungi kami hari ini, dan kami semua menyukai manuver loop yang mereka terbangkan di atas pangkalan kami. Itu benar-benar sebuah pameran. Kami akan sangat menghargai jika pilot yang sama kembali ke sini sekali lagi, masing-masing mengenakan syal hijau di lehernya. Kami minta maaf kami tidak bisa memberi mereka perhatian yang lebih baik pada perjalanan terakhir mereka, tetapi kami akan memastikan bahwa lain kali mereka akan menerima sambutan habis-habisan dari kami. ” Nishizawa, Sakai dan Ota berdiri dengan perhatian kaku dan membuat upaya yang sangat besar untuk menyembunyikan kegembiraan mereka sementara Sasai menegur karena “perilaku idiot” mereka dan melarang mereka mengadakan pertunjukan aerobatik lagi di lapangan terbang musuh. Namun, tiga ace terkemuka Tainan Ku itu diam-diam setuju bahwa koreografi udara Nishizawa berdasar “Danse Macabre” tidaklah sia-sia. 

Di Pasifik, Nishizawa dan kawan-kawan nya juga berkesempatan berhadapan dengan “benteng terbang” B-17, yang sukar untuk dijatuhkan. (Sumber: Pinterest)

Nishizawa menambahkan korban P-39 lainnya ke dalam skornya pada tanggal 20 Mei. Sebuah serangan terhadap Lae oleh enam pembom B-25C Mitchell dari Skuadron ke-13, Kelompok Pembom ke-3, pada tanggal 24 Mei membawa reaksi spontan dari 11 pesawat Zero. Nishizawa bisa mencapai pesawat-pesawat Mitchell itu terlebih dahulu, dan beberapa saat kemudian peluru kanonnya mengirim pesawat pembom pemimpin, yang diterbangkan oleh Kapten Herman F. Lowery, jatuh dengan kobaran api tepat di luar lapangan terbang Jepang. Dalam pertarungan yang berlangsung antara Lae dan Salamaua, Ota menjatuhkan B-25 kedua dalam formasi, sementara Sakai mendapat dua dan Sasai mendapatkan satu, sehingga hanya satu yang berhasil kembali dengan selamat ke Port Moresby. Sementara itu pada 27 Mei, pesawat-pesawat Jepang terbang rendah di atas hutan ketika mereka bertemu empat pembom Boeing B-17E dari Grup Pembom ke-19 yang terbang dalam formasi, dikawal oleh 20 pesawat tempur Bell P-400 (model ekspor dari P-39 dengan menggunakan kanon 20mm menggantikan kanon P-39 yang berkaliber 37mm) dari Grup Pursuit ke-35, yang telah tiba di Port Moresby untuk menggantikan Grup 8 yang babak belur pada akhir Mei. Pesawat-pesawat Zero menyerang dari bawah dan pertempuran udara di ketinggian rendah terjadi, di mana Sakai menembak jatuh satu Airacobra dan mendorong yang lain untuk menabrak celah gunung. Secara kebetulan, Nishizawa dan Ota juga mengklaim sebuah Airacobra dalam cara yang sama, masing-masing membuat korbannya jatuh dan kemudian menarik diri di detik-detik terakhir. 

Pesawat pembom Hudson, salah satu lawan yang gagal dijatuhkan Nishizawa dalam sebuah misinya tanggal 22 Juli 1942. (Sumber: Pinterest)

Nishizawa menambahkan P-39 lain ke dalam catatan pribadinya pada 1 Juni, diikuti oleh dua lagi pada 16 Juni. Pada 25 Juni, ia secara pribadi menjatuhkan sebuah P-39 dan berbagi dalam penghancuran pesawat musuh kedua dengan dua pilot lainnya. Sebuah P-39 lainnya jatuh lagi oleh senjatanya pada 4 Juli. Terlepas dari keberhasilan yang begitu mempesona, orang-orang Jepang tidak sepenuhnya sukses. Pada saat dua puluh tiga Zero mencegat satu Flight pembom B-26 di atas Lae pada 9 Juni, mereka mengklaim menjatuhkan empat pembom di Cape Ward Hunt ketika mereka berjumpa dengan 11 P-400 dari Skuadron ke-39, Grup Fighter ke-35. Warrant Officer Satoshi Yoshino, ace dengan 15-kemenangan, ditembak jatuh dan terbunuh oleh Kapten Curran L. Jones, yang kemudian membawa skornya menjadi lima saat menerbangkan Lockheed P-38F Lightning. Bahkan Nishizawa yang hebat bertemu lawan sebandingnya pada 11 Juli; Zero-nya tertembak dalam upayanya yang gagal untuk menjatuhkan sebuah bomber B-17, tetapi ia berhasil menjatuhkan sebuah P-39 pada hari yang sama. Demikian pula, pesawat pembom Lockheed A-28 Hudson terbukti terlalu cepat dan tangguh untuk bisa dijatuhkannya pada tanggal 22 Juli. Namun pada 25 Juli, ia menjatuhkan sebuah P-39 lainnya di Port Moresby dan bergabung dengan delapan Zero lainnya dalam menembak jatuh sebuah B-17 di atas Buna. Ketika lima pembom B-17 datang untuk mengebom Lae pada 2 Agustus, Jepang mencoba taktik baru menyerang secara langsung. Hasilnya spektakuler – peluru kanon Nishizawa merobek pesawat yang pertama yang kemudian meledak dalam kobaran api. Ota, Sasai dan Sakai, juga menyumbang beberapa B-17. Tiga P-39 mencoba melakukan intervensi, hanya untuk dikalahkan dan ditembak jatuh oleh Nishizawa, Ota dan Sakai. Setelah pertarungan, B-17 kelima juga ditembak jatuh, tetapi tidak sebelum penembaknya merusak Zero Sakai dan menembak jatuh Pelaut Kelas 1 Yoshio Motoyoshi – wingman Nishizawa. Saat mendarat, Nishizawa mengabaikan sorakan para awak daratnya. “Isi bahan bakar pesawat saya dan isi senjataku,” perintahnya, dan ia sendirian melakukan pencarian atas wingmannya yang hilang. “Dua jam kemudian dia kembali,” tulis Sakai, “perasaan sedih terlukis di wajahnya.” 

KEHILANGAN KAWAN-KAWAN DEKAT

Ku Tainan. kemudian pindah ke lapangan terbang Lakunai di Rabaul pada hari berikutnya. Pada tanggal 7 Agustus, tersiar kabar bahwa Marinir AS mendarat di pulau Guadalcanal, lebih dari 500 mil jauhnya di ujung bawah rantai Kepulauan Solomon, pukul 5:20 pagi itu. Tanpa penundaan, Letnan Cmdr. Nakajima memimpin 17 Zero untuk mengawal 27 pembom Mitsubishi G4M “Betty” dari Ku 4. untuk melakukan serangan terhadap gugus tugas Angkatan Laut AS yang mendukung invasi. Pesawat-pesawat Jepang bertemu dengan 18 pesawat tempur Grumman F4F-4 Wildcat dan 16 pembom tukik Douglas SBD-3 Dauntless dari kapal induk Saratoga, Enterprise dan Wasp. Nishizawa dicatat menjatuhkan enam F4F dalam pertempuran udara pertama antara pesawat Zero berbasis darat dan pesawat tempur dari kapal induk Amerika. Salah satu korbannya mungkin adalah Letnan Herbert S. (“Pete”) Brown dari VF-5, yang diserang oleh sebuah Zero yang membuat tembakan defleksi dari jarak sekitar 1.500 kaki di atasnya, menghancurkan kanopi Wildcat dan melukai dia di pinggul dan kaki. Pete Brown melaporkan bahwa lawannya datang menemuinya, dan setelah kedua musuh itu saling memandang, pilot Jepang itu menyeringai dan melambai. Keterampilan dan keliaran dari Brown mirip dengan Nishizawa, tetapi Nishizawa tidak berhasil menjatuhkan F4F nya. Brown berhasil kembali ke kapal induknya, Saratoga. Kemungkinan korban dari skuadron VF-5 akibat aksi Nishizawa lainnya, termasuk Ensign Joseph R. Daly, yang ditembak jatuh dan menderita luka bakar parah tetapi berhasil terjun dengan selamat di dekat Guadalcanal, serta Letnan j.g. William M. Holt, yang terbunuh. 

Grumman F-4F Wildcat, pesawat tangguh asal Amerika yang kerap merepotkan Zero Jepang. (Sumber: Pinterest)

Sementara itu setelah melewati pertempuran yang sulit, Sakai berhasil menghancurkan sebuah F4F dari VF-5 yang diterbangkan oleh Letnan James J. Southerland II, yang terluka tetapi bisa terjun dengan selamat. Sakai kemudian menjatuhkan sebuah SBD-3 dari skuadron pemandu kapal induk Wasp VS-71, yang menewaskan Aviation Radioman Kelas 3 Harry E. Elliott dan melukai pilotnya, Letnan Dudley H. Adams, yang kemudian diselamatkan oleh kapal perusak Dewey. Selanjutnya, Sakai menyerang apa yang sepertinya terdiri dari delapan Wildcat – hanya untuk mendapati bahwa ia telah salah mengidentifikasi, mereka sebenarnya adalah formasi pembom tukik SBD dari skuadron VB-6 dan VS-5. Salah satu senjata tembak belakang kaliber 0,30 dari pembom tukik itu menembak Sakai tepat di kepala, yang untuk sementara waktu membutakannya. Pertarungan pecah sementara armada Zero kembali dari misi jangka panjang mereka. Nishizawa memperhatikan bahwa Sakai telah hilang dan ia kembali gusar kehilangan rekannya. Pergi sendirian, ia menjelajah di daerah itu, baik untuk mencari tanda-tanda keberadaan Sakai sekaligus untuk mencari lebih banyak pesawat Amerika untuk diperangi, mungkin bahkan jika perlu ia akan menabrak mereka. Akhirnya, kemarahannya mendingin dan kembali ke Lakunai. Kemudian, yang mengejutkan semua orang, Sakai yang terluka parah tiba, setelah melakukan penerbangan epik sejauh 560 mil. Nishizawa secara pribadi mengantarnya, secepat mungkin, ke dokter bedah. Dievakuasi ke Jepang pada 12 Agustus, Sakai kehilangan penglihatannya, tetapi kembali ke pertempuran pada tahun 1944 dan melengkapi skor terakhirnya dalam perang menjadi 64 – Sakai kemudian tercatat sebagai ace Jepang peringkat keempat.

Pembom Tukik SBD Dauntless Amerika, tipe pesawat yang nyaris menewaskan Saburo Sakai dalam pertempuran diatas Guadalcanal. (Sumber: Pinterest)
Saburo Sakai saat mendarat dalam keadaan nyaris buta. (Sumber: https://archive.kaskus.co.id/)

Klaim Jepang dalam pertempuran udara tanggal 7 Agustus berjumlah 36 F4F (termasuk tujuh tidak dapat dikonfirmasi) dan tujuh SBD. Kerugian Amerika yang sebenarnya adalah sembilan Wildcat dan sebuah Dauntless. Empat pilot F4F (Holt, Letnan. Charles A. Tabberer dan Ensign Robert L. Price dari VF-5, dan Aviation Pilot 1st Class William J. Stephenson dari skuadron VF-6) dan operator radio pesawat SBD, Elliott gugur. Sementara itu, klaim dari pihak Amerika lebih sedikit – tujuh pembom, ditambah lima kemungkinan, dan dua pesawat Zero. Faktanya Jepang menderita kerugian empat G4M dan enam lainnya kembali ke markas dalam keadaan rusak berat sehingga harus dihapuskan dari inventaris, bersama dengan hilangnya dua personel Tainan Ku. PO1C Mototsuna Yoshida (12 kemenangan) dan PO2C Kunimatsu Nishiura, keduanya terbunuh oleh Letnan j.g. Gordon E. Firebaugh dari Squadron VF-6 asal USS Enterprise, tepat sebelum Firebaugh sendiri ditembak jatuh dan dipaksa untuk melompat keluar. Sakai dan Yoshida adalah yang pertama dari banyak ace Jepang yang kariernya berakhir singkat selama pertempuran enam bulan dengan skuadron asal Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Marinir AS yang beroperasi dari Henderson Field Guadalcanal. Junichi Sasai, yang skor resminya ada pada angka 27, terbunuh oleh Kapten Marion E. Carl dari skuadron tempur Marinir VMF-223 pada 26 Agustus. Pada 13 September, PO3C Kazushi Uto (19 kemenangan), Warrant Officer Toraichi Takatsuka (16) dan PO2C Susumu Matsuki (8) tewas dalam pertempuran udara yang kejam dengan pesawat-pesawat F4F-4 Wildcat dari skuadron VF-5 dan VMF-223. 

Pangkalan Udara Henderson Field di Guadalcanal memegang peran penting dalam menangkal supremasi udara Jepang di kawasan Pasifik Barat Daya meski kerap dibom dan diserang pesawat-pesawat Jepang. (Pinterest)

Nishizawa bisa selamat dan beradaptasi dengan perubahan taktik dan pesawat Amerika yang baru. Pada tanggal 5 Oktober, ia dan delapan pilot lainnya menjatuhkan sebuah B-25 yang menyerang Rabaul, dan pada tanggal 8 ia dan delapan rekannya bertanggung jawab atas jatuhnya sebuah pembom torpedo di atas Buka. Selama pertempuran diatas Guadalcanal antara 16 Zero dari Tainan Ku. dan delapan pesawat F4F-4 dari VMF-121 pada 11 Oktober, Nishizawa mencetak satu-satunya keberhasilan bagi kedua belah pihak ketika dia berhasil memaksa Letnan Dua Arthur N. Nehf untuk meninggalkan Wildcat-nya di Lunga Channel. Nishizawa dikreditkan dengan satu dari lima F4F yang diklaim oleh Ku Tainan. saat bertempur dengan VMF-121 diatas Guadalcanal pada tanggal 13 Oktober. Satu-satunya kehilangan Marinir yang sebenarnya terjadi ketika PO1C Kozaburo Yasui, PO3C Nobutaka Yanami dan Seaman 1st Class Tadashi Yoneda menembak sebuah Wildcat yang pilotnya, Kapten Joseph J. Foss dari VMF-121, berhasil melakukan pendaratan darurat di Henderson Field. Nishizawa mengklaim F4F lain pada tanggal 17, dan sebuah pembom torpedo yang dijatuhkan bersama pilot lain. Dia mengklaim berhasil menembak jatuh F4F lainnya dalam pertempuran dengan Mayor Leonard K. Davis ‘VMF-121 pada 20 Oktober, tetapi pada kenyataannya tidak ada pihak yang menderita kerugian di hari itu. Sementara itu, Toshio Ota, membuat penembak marinir, Henry B. Hamilton dari VMF-212 terluka parah, pada 21 Oktober, untuk mencatat kemenangannya yang ke-34, tetapi dia sendiri ditembak jatuh dan gugur beberapa saat kemudian oleh Letnan Satu Frank C. Drury. Pada 25 Oktober, karier ace Tainan Ku lainnya. berakhir ketika Ku Keisaku Yoshimura (9 kemenangan) menjadi korban Joe Foss dari VMF-121. 

ACE PALING TOP JEPANG

JNAF menjalani reorganisasi lain pada tanggal 1 November, di mana semua unit yang memakai nama dirancang ulang berdasarkan angka. Ku Tainan. dengan demikian menjadi Kokutai ke-251. Pada pertengahan bulan, kelompok itu dipanggil kembali ke pangkalan udara Toyohashi di Jepang untuk menggantikan kerugiannya. Komandan Yasuna Kozono menjadi komandan baru, Letnan Cmdr. Nakajima menjadi perwira udara, dan personel baru dilatih oleh 10 kader veteran yang masih hidup, termasuk Nishizawa. Pada saat ia ditarik ke Toyohashi, total kemenangan pribadi dan bersama Nishizawa mencapai sekitar 55, tetapi waktu itu arah pertempuran berbalik berpihak pada orang Amerika. Pasukan Jepang terakhir dievakuasi dari Guadalcanal pada 7 Februari 1943. Sejak saat itu, Sekutu akan secara permanen melakukan ofensif di Pasifik. Ketika berada di Jepang, Nishizawa mengunjungi Sakai, yang masih dalam pemulihan di rumah sakit Yokosuka. Menemui rekan lamanya, Nishizawa mengeluh tentang tugas barunya sebagai instruktur: “Saburo, bisakah kamu membayangkan aku berlarian dalam pesawat biplane tua yang reyot, mengajari beberapa anak muda yang bodoh bagaimana cara menikung dan berbalik, dan bagaimana menjaga celananya tetap kering?” Nishizawa juga menceritakan hilangnya sebagian besar rekan mereka karena kekuatan pasukan Amerika yang semakin besar. “Ini tidak seperti yang kau ingat, Saburo,” katanya. “Tidak ada yang bisa saya lakukan. Terlalu banyak pesawat musuh, terlalu banyak. ” Meski begitu, Nishizawa tidak sabar untuk kembali berperang. “Aku ingin sebuah pesawat tempur di bawah kendaliku lagi,” katanya. “Aku hanya harus kembali beraksi. Tinggal di rumah di Jepang membunuhku. ” Sehari sebelum pergi, selama kunjungannya ke Sakai, Nishizawa terpaksa memberi tahu temannya itu bahwa hampir semua pilot hebat dari Pangkalan Lae — Ota, Sasai, Yonekawa, Hatori, dan yang lainnya — telah hilang atau gugur dalam pertempuran. Dari kelompok awal 80 pilot Zero, hanya sembilan, termasuk Sakai dan Nishizawa, yang masih hidup saat itu.

Nishizawa setelah dipromosikan menjadi Warrant Officer, November 1943. Nishizawa sempat dua kali ditugaskan sebagai instruktur, namun terbukti menjadi pengajar bukanlah bakat dari dirinya, yang merupakan pilot tempur murni. (Sumber: http://ww2awartobewon.com/)
Pesawat tempur Nishizawa dengan nomor ekor UI-105 terbang diatas Kepulauan Solomon, Mei 1943. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Ku ke-251. kembali ke Rabaul pada tanggal 7 Mei 1943, dan memulai kembali operasi di atas Pulau Papua dan Kepulauan Solomon. Di antara pesawat Zero yang diketahui telah diterbangkan oleh Nishizawa pada waktu itu adalah A6M3 Type 22 dengan nomor ekor UI-105. Pada 14 Mei, 32 Zero dari Ku 251. mengawal 18 pembom G4M dari Ku 751. dalam serangan besar ke Teluk Oro, Papua. Mereka bertemu dengan pesawat-pesawat P-40 dan Lockheed P-38 Lightning dari 49th Fighter Group. Kemudian terjadi pertempuran udara yang membingungkan, di mana Jepang mengklaim 13 pesawat Amerika (lima di antaranya diakui sebagai kemungkinan), sementara Grup ke-49 Amerika mengklaim 11 G4M “Betty” (nama Sekutu bagi pembom Jepang itu) dan 10 pesawat pengawal “Zeke” mereka. Hasil sebenarnya adalah bahwa enam G4M gagal kembali ke markas mereka di Kavieng, New Ireland, dan empat kembali dalam keadaan rusak, sedangkan Ku 251. tidak kehilangan pilot sama sekali. Sementara itu satu-satunya korban di pihak Amerika adalah Letnan dua Arthur Bauhoff, yang P-38nya dijatuhkan oleh dua A6M3, salah satunya diterbangkan oleh Nishizawa. Bauhoff terlihat terjun menggunakan parasut ke dalam air, tetapi kapal yang dikirim untuk menyelamatkannya hanya menemukan sekumpulan hiu berkeliaran yang mengisyaratkan nasibnya. Pesawat-pesawat P-40K dari Skuadron ke-7 menyerang pembom-pembom Jepang, tetapi upaya Letnan Satu Sheldon Brinson digagalkan oleh pesawat Zeke yang bermanuver liar yang pilotnya jelas seorang veteran tua, dan ia berhasil melarikan diri hanya dengan menukik. Itu mungkin adalah P-40 yang diklaim dijatuhkan pada hari itu oleh Nishizawa, yang gaya bertarungnya persis dengan deskripsi Brinson. Sebuah P-40K lain dari Squadron ke-7 begitu rusak sehingga roda pendaratannya hancur, dan pesawat tidak dapat diperbaiki lagi, meskipun pilotnya, Letnan Satu John Griffith, tidak terluka sama sekali. 

Nishizawa terbang bersama wingman-nya 7 Mei 1943. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada 7 Juni Kokutai ke-251 dan 204 lepas landas untuk berpatroli di daerah Guadalkanal, hanya untuk dicegat di Kepulauan Russell oleh sekumpulan pesawat campuran sekutu – F4F-4 Marinir dan Chance Vought F4U-1 Corsair dari Squadron VMF-112; P-40F dari Skuadron ke-44, Grup Tempur ke-18; P-38F dari Skuadron ke-339, Grup Pesawat Tempur ke-347; dan P-40E Kittyhawks dari Skuadron No. 15, Angkatan Udara Selandia Baru (RNZAF). Pada tanggal 14 Mei, kedua belah pihak melakukan klaim berlebihan – Ku 251. sendiri mengklaim berhasil menembak jatuh 23 kemenangan (lima di antaranya kemungkinan), sedangkan Sekutu mengklaim total 24 Zero. Kerugian aktual Sekutu adalah empat F4U dan P-40, bersama dengan beberapa rusak (dua dari empat Kittyhawk RNZAF yang rusak harus mendarat di Pulau Russell), tetapi secara ajaib, semua pilot mereka selamat. Di sisi lain, dari delapan Zero yang hancur, tujuh pilot mereka terbunuh, termasuk empat dari Ku 251. Klaim Nishizawa termasuk Corsair pertamanya, yang mungkin adalah komandan VMF-112, Mayor Robert B. Fraser, yang, setelah menjatuhkan dua Zero untuk kemenangan kelima dan keenamnya, ia sendiri ditembak jatuh tetapi berhasil diselamatkan. Drama utama pada hari itu, berpusat pada PO1C Masuaki Endo, yang menembak jatuh sebuah P-38 sebelum diusir oleh pilot P-40 Letnan Satu Jack A. Bade dari Skuadron ke-44, Endo kemudian diakui menjatuhkan sebuah Lightning oleh saksi mata Jepang. Endo kemudian terlibat dalam duel senjata langsung dengan Letnan Satu Henry E. Matson dari Squadron ke-44, tetapi Zero-nya ditembaki oleh enam senapan mesin kaliber .50 pesawat Amerika itu. Dalam tindakan pengorbanan diri terakhir, Endo menabrakkan Zero-nya ke P-40 Matson. Matson menyelamatkan diri dan selamat dari perhatian tiga Zero yang mendekati Zero dengan memberi mereka senyum lebar dan melambai pada mereka, yang ditanggapi oleh pilot-pilot Jepang dengan melambai kembali dan terbang menjauh. Matson kemudian ditemukan oleh kapal penyelamat. P-40 Matson lalu dicatat sebagai kemenangan ke-14 bagi Endo, yang kematiannya membuat JNAF kehilangan pilot tempur lain yang tak ternilai dan berpengalaman. 

Nishizawa (kiri) sebagai instruktur, sebuah pekerjaan yang dibencinya. (Sumber: http://ww2awartobewon.com/)

Pada pertengahan Juni, Nishizawa telah menambah daftar korbannya dengan enam pesawat Sekutu. Setelah itu, kelompok udara angkatan laut Jepang sepenuhnya meninggalkan praktik mencatat kemenangan pribadi, dan catatan pasti jumlah kemenangan Nishizawa menjadi sulit dipastikan. Namun, selama masa itu, atas prestasinya ia dianugerahi hadiah dari komandan Armada Udara ke-11, Wakil Laksamana Jinichi Kusaka – pedang militer bertuliskan Buko Batsugun (“Untuk Keberanian Militer yang Bercahaya”). Nishizawa lalu dipindahkan ke Ku ke-253. di bulan September. Ia beroperasi dari Lapangan udara Tobera, New Britain, hingga ia dipanggil kembali ke Jepang sebulan kemudian. Pada saat itu, Letnan Cmdr. Harutoshi Okamoto, komandan Ku 253, melaporkan bahwa skor total Nishizawa adalah 85. Nishizawa kemudian dipromosikan menjadi warrant office pada bulan November dan sekali lagi menjabat sebagai pelatih di Oita Ku., Tetapi kinerjanya dalam peran itu dinilai hampir tidak dapat ditoleransi oleh atasannya. Dia ditugaskan ke Ku ke-201. pada bulan Februari 1944, ditransfer dari pangkalan Atsugi untuk mempertahankan Kepulauan Kurile utara terhadap serangan bom dari Angkatan Udara AS Ke-11. Namun, hanya sedikit peluang yang didapatnya untuk memerangi musuh, dan Nishizawa tidak dapat menambahkan apa pun catatan rekornya.

Letnan Yukio Seki, Kamikaze pertama dalam sebuah cover majalah era perang November 1944. Dalam misi Kamikaze pertama ini, Nishizawa ditugaskan untuk mengawal armada kamikaze pimpinan Letnan Seki. (Sumber: http://ww2awartobewon.com/)
Kapten Sakae Yamamoto (cedera), komandan Air Group 201, membriefing pilot Kamikaze Letnan Yukio Seki di Lapangan Terbang Mabalacat, 25 Oktober 1944. Pilot bertubuh tinggi di sebelah kiri adalah Nishizawa, pemimpin pesaawat pengawal. (Sumber: http://ww2awartobewon.com/)

Sementara itu ancaman invasi Amerika ke Filipina semakin meningkat, dan 29 pesawat Hikotai (detasemen) 304 dari Ku ke-201. dikirim ke lapangan terbang Bamban di pulau Luzon pada 22 Oktober 1944. Pada tanggal 24 Oktober, Nishizawa bersama kontingen dari detasemen itu, yang dikirim ke lapangan terbang Mabalacat di Pulau Cebu. Pada hari berikutnya, Nishizawa memimpin tiga A6M5, yang masing-masing diterbangkan oleh Misao Sugawa, Shingo Honda dan Ryoji Baba, untuk memberikan pengawalan bagi lima pesawat lainnya, yang membawa bom 550-pound. Para sukarelawan yang mengemudikan Zero yang bersenjata bom, dipimpin oleh Letnan Yukio Seki, akan dengan sengaja menabrakkan pesawat mereka ke dalam kapal perang Amerika yang mereka temui, terutama kapal induk, dalam misi resmi bunuh diri pertama satuan kamikaze, atau “angin dewa.” Dalam proses menyingkirkan gangguan dari 20 pesawat tempur Grumman F6F Hellcat, Nishizawa dan para pengawalnya mengklaim menembak jatuh dua pesawat Amerika, yang menambah skor pribadinya menjadi 87. Serangan bunuh diri itu juga berhasil – empat dari lima pesawat kamikaze menyerang target mereka dan menenggelamkan kapal induk pengawal St. Lô. Nishizawa melaporkan keberhasilan serangan tersebut kepada Komandan Nakajima setelah kembali ke markas dan kemudian secara sukarela ikut serta dalam misi kamikaze hari berikutnya. “Itu aneh,” Nakajima kemudian memberi tahu Saburo Sakai, “tetapi Nishizawa bersikeras bahwa dia memiliki firasat. Dia merasa akan hidup tidak lebih dari beberapa hari. Aku tidak akan membiarkannya pergi. Seorang pilot yang cemerlang seperti itu memiliki nilai lebih bagi negaranya saat ia ada di belakang kendali pesawat tempur daripada menukikkan pesawatnya ke kapal induk, meski ia memohon untuk diizinkan melakukannya. ” Sebagai gantinya, pesawat Nishizawa dipersenjatai dengan bom seberat 550 pon dan diterbangkan oleh Naval Air Pilot 1st Class Tomisaku Katsumata, seorang pilot yang kurang berpengalaman yang meski demikian bisa menukik ke kapal induk pengawal Suwannee di selat Surigao. Meskipun kapal itu tidak karam, namun ia terbakar selama beberapa jam – 85 awaknya tewas, 58 hilang dan 102 lainnya luka-luka. 

PERJALANAN TERAKHIR

Sementara itu, Nishizawa dan beberapa pilot lainnya meninggalkan Mabalacat pagi itu pada tanggal 26 Oktober 1944, dengan pesawat pembom untuk mengambil beberapa Zero pengganti di Lapangan udara Clark di Luzon. Zero Nishizawa sendiri juga memerlukan penggantian, setelah hancur digunakan dalam operasi lain. Selama terbang diatas Calapan di Pulau Mindoro, pesawat bomber transport mereka diserang oleh dua pesawat Hellcat dari Squadron VF-14 asal kapal induk Wasp dan ditembak jatuh. Salah satu pilot Amerika, melihat pesawat bermesin ganda muncul dari lapisan tipis awan stratus di atasnya. Pilot Hellcat itu mengidentifikasinya sebagai pembom Jepang dan melepaskan beberapa tembakan. Dalam serangan itu, peluru merobek tubuh pilot di kabin, menghantam mesin dan sayap, merobek tangki bahan bakar dengan tembakannya. Meski berusaha menghindari, pesawat itu meluncur dan tergelincir dengan liar, setidaknya pesawat yang dikendarai Nishizawa masih mampu membuat pilot pesawat tempur musuh mengagumi kemampuan terbangnya. Namun kemudian semua itu berakhir. Sebuah bola api menjamur menyeruak di pepohonan, membumbung di atas hutan ketika pesawat-pesawat Hellcat itu menikung dan menanjak. Nishizawa, yang percaya bahwa dia tidak akan pernah bisa ditembak jatuh dalam pertempuran udara, meninggal sebagai penumpang yang tak berdaya – mungkin jadi korban Letnan j.g. Harold P. Newell, yang dicatat menjatuhkan sebuah pesawat “Helen” (nama kode Sekutu untuk Nakajima Ki.49 Donryu, Pembom Angkatan Darat) di timur laut Mindoro pagi itu. Nishizawa baru berusia 24 tahun saat gugur. Setelah mengetahui kematian Nishizawa, komandan Armada Gabungan, Laksamana Soemu Toyoda, menghormatinya dengan menyebutkan dalam semua buletin unit dibawahnya dan secara anumerta mempromosikannya ke pangkat letnan muda. Karena kekacauan menjelang akhir perang, publikasi buletin itu ditunda dan upacara pemakaman untuk pilot pesawat tempur terbesar Jepang itu tidak juga dilaksanakan sampai tanggal 2 Desember 1947. Nishizawa juga diberi nama anumerta Bukai-in Kohan Giko Kyoshi, sebuah Ungkapan Buddhis Zen memiliki terjemahan: “Di lautan militer, diantara semua pilot terkemuka, muncullah seorang Budha yang terhormat.” Itu bukan batu nisan buruk bagi seorang pria yang dulu dikenal sebagai “Iblis”. Dalam kariernya yang singkat, Ace of Aces Jepang ini telah mendapatkan rasa hormat dari musuh-musuhnya dan kawan-kawannya. Dia telah menjadi simbol keberanian, patriotisme, dan keberanian yang diakui secara nasional. Hiroyoshi Nishizawa berjalan sampai hari ini di garis yang unik antara seorang pria dan sebuah mitos, dengan cerita yang hanya bisa disaingi oleh segelintir orang lain dalam sifatnya yang misterius dan menginspirasi.

Pembom Ki-49 “Helen”, pesawat terakhir yang ditumpangi oleh Nishizawa sebelum gugur. (Sumber: Pinterest)
Letnan Harold P Newell yang menembak jatuh pesawat yang ditumpangi oleh Nishizawa. (Sumber: http://ww2awartobewon.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Devil: Japan’s Ace of Aces By Jon Guttman

Nishizawa: Japan’s Deadliest Combat Pilot—102 U.S. Air Force Kills by Martin Caidin; Stag, October 1961, pp. 36, 38-9, 70-3

http://wgordon.web.wesleyan.edu/kamikaze/american/mensadventuremags/nishizawa/

The Devil of Rabaul: Japanese Ace With 88 Kills Who Died in the Passenger Seat by Malcolm Higgins

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/world-war-ii/devil-of-rabaul-japanese-ace.html/amp

Ace of the Month – February – Lt(JG) Hiroyoshi Nishizawa

https://warthunder.com/en/news/3546–en

 

7 thoughts on “Hiroyoshi Nishizawa, “The Devil of Rabaul”: Pilot Tempur Terbaik Jepang Yang Menggetarkan Pasifik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *