HMS Upholder (P37), Kapal Selam Kecil dan Usang yang “Mencekik” Afrika Korps Rommel Di Lautan Mediterania

Kapal selam Upholder adalah kapal kecil, tidak benar-benar dirancang untuk menghadapi bahaya dan kesulitan perang di tempat yang jauh dan perairan yang dalam. Dia dimaksudkan untuk digunakan dalam perang jarak pendek di perairan dekat pantai, dan karena itu, dia digolongkan sebagai “Kapal Selam Patroli Kecil”, seperti halnya kapal lain di kelasnya. Dia hanya membawa 31 awak, dan kecepatannya lambat serta kurang persenjataannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lebih besar di Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan angkatan laut lainnya di dunia, dan dia tidak bisa menyelam di bawah kedalaman 200 kaki, yang dengan ini akan membuatnya sangat rentan terdeteksi di air yang jernih. … seperti di Mediterania. Panjangnya hanya 196 kaki, dia juga tidak bisa berlayar dengan kecepatan lebih dari 11,5 knot di permukaan dan hanya bisa berlayar sembilan knot saat menyelam. Kapal selam dengan bentuk hidung yang lucu ini adalah yang kesepuluh dari kapal selam kelas-U, jadi, tidak seperti kapal selam kelas-U yang dibuat kemudian, dia tidak hanya memiliki empat tabung torpedo internal di bagian depan, tetapi juga memiliki sepasang tabung eksternal yang aneh, di bagian halauan. Kedua tabung tambahan ini menghasilkan bentuk moncong yang bulat, yang membuat kapal sulit dikendalikan saat dia menembakkan torpedo secara salvo di perairan dangkal. Tabung eksterior ini telah dihapus pada kapal selam kelas-U yang dibuat kemudian. Dia hanya mampu membawa sepuluh torpedo secara keseluruhan, tipe Mark 8 berukuran 21 inci dan biasanya memuat empat torpedo sekaligus. Torpedo tipe ini adalah senjata yang primitif menurut standar saat ini, yang hanya bisa ditembakkan lurus ke depan dengan kecepatan sekitar 45 knot tanpa memiliki kemampuan membuntuti target apa pun. Membidik dengan tepat hanya dapat dicapai dengan mengarahkan seluruh badan kapal, memperkirakan kecepatan target, menghitung sudutnya pada haluan, dan kemudian menembakkan “kippers”, bahasa gaul standar Royal Navy untuk torpedo. Nakhoda kapal selam hanya mendapat sedikit bantuan dari alat yang disebut ISWAS — kemudian diganti dengan sesuatu yang disebut “the fruit machine” —yang membantu menghitung sudut arah yang akan dibidik. Menembak dari jarak 1.000 yard, awak kapal selam bisa berharap mendengar suara “whump!” dari tembakan — atau tahu mereka telah meleset — dalam waktu sekitar 40 detik. 

HMS Upholder (P37) dengan wujud hidungnya yang unik. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

KEHIDUPAN KERAS AWAK KAPAL SELAM

Kehidupan di kapal selam mana pun sangat melelahkan, seringkali benar-benar menyedihkan, dan dinas di bawah laut adalah tugas paling berbahaya yang pernah ada. Sementara kerugian kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Inggris tidak mencapai persentase yang sangat tinggi seperti yang diderita oleh Kriegsmarine Jerman, namun lebih dari 70 kapal Inggris hilang selama Perang Dunia II, dimana lebih dari 40 di antaranya hilang di kawasan Mediterania. Konvoi Axis di Mediterania biasanya dikawal dengan baik, dan kapal selam Inggris mana pun bisa dipastikan akan kerap mengalami dijatuhi bom dalam anti kapal selam dalam waktu yang lama. Torpedo di masa itu meninggalkan jejak yang terlihat jelas di permukaan air, dan oleh karenanya konvoi pengawal akan selalu menggunakan petunjuk itu untuk melakukan serangan balik. Rentetan 20, 30, atau lebih bom dalam adalah hal biasa dan seringkali efeknya mematikan. Meski demikian HMS Upholder, yang kecil, terbukti masih dapat menjadi “raksasa mematikan” di antara kapal-kapal perang lainnya, dengan komandannya yang setangguh kapal kecilnya. Malcolm David Wanklyn yang kelahiran India adalah seorang pelaut karier, produk dari sekolah umum Inggris dan Royal Naval College di Dartmouth. Tinggi dan ramping, seorang penunggang kuda yang luar biasa dan naturalis yang antusias, dia adalah seorang pria pendiam, ketenangannya, umumnya dikaburkan di belakang yang pipa briar yang tua dan busuk. Dia adalah, menurut seorang rekan-rekan perwiranya, “seorang dengan disiplin yang sangat ketat … dan dia oleh karenanya tidak pernah populer bagi siapa pun…. Tapi diluar semua itu, dia benar-benar jujur dengan rekan-rekan satu Kapalnya … dan mereka semua menyukainya karena itu. ” Dia adalah tipe perwira yang mampu membuat para pelaut berani untuk melakukan apa saja.

Wanklyn (kiri) dengan letnan pertama dan senior engineer J. R. D Drummond (kanan), 13 Januari 1942. Kehidupan awak kapal selam sampai kapanpun tidak akan pernah bisa dianggap mudah. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

KEMAJUAN LAMBAT PEMBUATAN KAPAL SELAM INGGRIS

Setelah Perang Dunia I, Angkatan Laut Kerajaan Inggris membatalkan banyak proyek pembuatan kapal selam, dan lebih memilih mempertahankan dua jenis kapal selam patroli: kapal kelas H untuk jarak pendek dan jenis L, yang dirancang untuk penugasan jarak jauh. Meskipun beberapa dari kedua jenis kapal itu akan beraksi di hari-hari awal Perang Dunia II — Wanklyn sendiri akan mengomandani dua kapal kelas-H — namun keduanya sudah tergolong usang. Kapal selam H, misalnya, tidak dapat menyelam dengan aman di kedalaman lebih dari 100 kaki, batasan yang hampir seperti bunuh diri dalam Perang Dunia II. Namun demikian, hanya ada sedikit konstruksi baru sampai pertengahan tahun 1920-an. Bahkan kemudian, beberapa kapal yang diproduksi untuk Angkatan Laut Inggris adalah jenis hibrida aneh yang tidak memiliki nilai permanen, misalnya, tipe X1, yang membawa empat meriam kaliber 5,2 inci (132.08 mm) di turret tabung ganda, dan M1, yang membawa meriam besar kaliber 12 inci (304.8 mm) aneh yang diambil dari kapal Battleship tua. Yang lain tipe M dibuat untuk bisa membawa sebuah pesawat terbang. Kemudian ada juga kapal kelas K yang canggung, dan bertenaga uap. Meskipun mereka dapat berlayar dengan kecepatan menakjubkan 24 knot saat muncul ke permukaan, panjangnya sekitar 340 kaki, sehingga sulit dikendalikan, dan hanya aman untuk menyelam sampai kedalaman 200 kaki. 

Kapal Selam kelas M1 Inggris dengan meriam kaliber besar. M1 adalah sedikit dari beberapa eksperimen pembuatan kapal selam Inggris yang gagal setelah berakhirnya Perang Dunia I. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

KAPTEN KAPAL MENGAMATI KEKEJAMAN DALAM PERANG SAUDARA SPANYOL

Sementara itu Kelas O, R, dan P adalah kapal yang lebih besar, yang dirancang untuk melawan Kekaisaran Jepang di wilayah Timur Jauh. Mereka dibangun untuk tetap bisa beroperasi di laut untuk jangka waktu yang lama dengan jarak tempuh yang sangat jauh. Penugasan pertama Wanklyn adalah ke salah satu kapal tipe ini, yakni HMS Oberon, dan dia juga sempat mengomandani dua kapal kelas-H yang juga sudah usang. Pada waktu ia lulus ia ditugaskan ke kapal kelas S yang baru, Shark dan Sealion. Pada tahun 1937 Wanklyn bersama Shark bertugas di perairan Mediterania pada saat puncak Perang Saudara Spanyol. Di sana dia mengamati tentang kekejaman perang secara langsung, saat menyaksikan pilot-pilot Jerman dan Italia menyerang berbagai target di Spanyol. “Keduanya melakukan kekejaman,” katanya kepada saudara perempuannya, “tetapi yang dilakukan oleh pihak Franco sedikit lebih buruk ketimbang lawannya.” Namun sayangnya tidak ada negara demokrasi Barat yang mau berupaya menghentikan penderitaan bangsa Spanyol, atau menghentikan penenggelaman kapal-kapal oleh kapal-kapal asal Jerman dan Italia.

Dalam Perang Saudara Spanyol, Kapten Wanklyn menyaksikan bagaimana kapal-kapal Spanyol turut menjadi korban serangan kapal-kapal asal Jerman dan Italia yang membantu pihak Franco. (Sumber: http://marinavasca.eu/)

USANG SEJAK LAHIR

Upholder (P37) dibangun di galangan kapal Vickers-Armstrong pada musim gugur tahun pertama perang di Barrow-in-Furness di barat laut Inggris. Dia adalah satu dari 49 kapal selam kelas U yang diproduksi selama Perang Dunia II. Desain asli kapal kelas-U adalah kapal selam pelatihan yang tak bersenjata, tapi kemudian dimodifikasi untuk kemungkinan digunakan dalam perang di Laut Utara. Karena itu, selama tahap akhir desainnya, diputuskan untuk melengkapi kapal selam seri kelas U ini dengan tabung torpedo – awalnya enam kemudian dikurangi menjadi hanya empat. Sebuah senjata anti-pesawat kaliber 3 inci (76.2 mm) ditambahkan pada halauannya, tepat di depan menara komando. Berbobot hanya 630 ton, kelas-U lebih kecil dari U-Boat Tipe I Jerman yang memiliki bobot 862 ton. Sementara kelas-U memang bisa dibilang telah usang bahkan pada tahun 1939, namun kelas-U yang pada dasarnya berukuran kecil membuatnya jauh lebih dapat bermanuver dan, pada saat yang sama, menjadi target yang jauh lebih kecil bagi musuhnya. Kapal kelas-U juga terbukti lebih cepat untuk dibuat, dengan biaya rendah untuk proyek pengadaan dalam jumlah banyak dan dapat diandalkan begitu digunakan di laut. Oleh karena itu, produksinya terus dilanjutkan. Upholder diluncurkan pada bulan Juli 1940 dan selesai pada bulan Oktober, dan kapten pertamanya — sekaligus yang terakhir — adalah Letnan Cmdr. Malcolm David Wanklyn. Dalam kapal selam H31 yang sudah usang, Wanklyn— “Wanks” bagaimana teman-temannya memanggil — telah menghabiskan beberapa waktu untuk melakukan patroli perang, dan berhasil menenggelamkan sebuah kapal anti kapal selam Jerman di lepas pantai Belanda. Kini, dia sedang dalam perjalanan ke sebuah pelabuhan kapal selam paling berbahaya di dunia, yakni: Malta. Pada bulan Januari 1941, ketika Upholder tiba di pos tugas barunya, operasi kapal selam Inggris di luar Malta tidak berjalan dengan baik. Sembilan kapal telah hilang sejauh ini, dengan lebih dari 400 awaknya. Kebanyakan diantaranya adalah kapal tua, dimana mereka mencoba untuk beroperasi di laut yang dipenuhi dengan kapal perang permukaan Italia ditambah kapal selam Jerman, serta penuh dengan ladang ranjau. 

Gambar 3 dimensi dari Kapal Selam HMS Upholder. (Sumber: https://sketchfab.com/)

MEDITERANIA SANGAT PENTING UNTUK RENCANA PERANG INGGRIS

Perairan Mediterania yang relatif dangkal adalah medan operasi kapal selam paling berbahaya dalam perang, dimana perairan dangkal ini menyulitkan kapal-kapal selam untuk bisa bersembunyi dengan menyelam menuju kedalaman. Masalah lain yang dialami oleh armada kapal selam ke-10 termasuk adalah keberadaan ranjau laut, kapal pemburu kapal selam kecil di perairan pantai dan pesawat pengintai musuh di darat. Sementara itu sungai air tawar juga bermuara ke Mediterania. Air sungai umumnya terbukti kurang memiliki daya apung dan tidak akan bisa mendukung kapal selam, yang menyebabkan kapal selam yang lewat bisa tenggelam dengan cepat di kedalaman 100 kaki atau lebih tanpa peringatan. Tetapi kelangsungan hidup Pulau Malta sangatlah penting bagi operasi Inggris di Mediterania. Jika kekuatan kapal permukaan, pesawat terbang, dan kapal selam di Malta dapat secara konsisten menghalangi pasokan yang ditujukan ke Afrika Korps Rommel, maka Inggris dapat menguasai pesisir pantai selatan Mediterania dan menghalangi jalan pasukan Poros menuju ke Mesir. Jika mereka tidak bisa, Mesir mungkin akan lepas, dan bersamanya akan mengikuti hilangnya Terusan Suez, ladang minyak di Timur Tengah… dan mungkin perang akan dimenangkan pihak Axis. Pertempuran untuk memperebutkan Malta akan membutuhkan pengorbanan besar-besaran dari pihak RAF, Angkatan Laut Kerajaan Inggris, awak puluhan kapal dagang, dan, termasuk juga, warga pulau yang dikepung itu sendiri. Pertempuran untuk menguasai Mediterania adalah, seperti yang dikatakan Duke of Wellington Dalam Pertempuran Waterloo, sebagai “a damned close-run thing.” Pada satu titik, seluruh komponen udara fungsional dalam pertahanan Malta hanyalah tiga pesawat tempur biplane Gladiator yang sudah usang, yang kemudian diberi nama, khas optimisme ala Inggris, yakni: Faith, Hope, dan Charity. Di Malta pasokan torpedo terbatas; makanan dijatah dengan ketat; jatah untuk personel Angkatan Laut adalah sepotong roti sekali makan, persis seperti yang dimakan penduduk sipil di pulau itu. Bahkan pasokan bir, yang menjadi ransum pokok pelaut Inggris, sangat sedikit atau bahkan tidak ada. Para pelaut Inggris malah meminum minuman lokal yang eksplosif yang disebut “ambeet” atau, lebih tepatnya dikenal sebagai, “jus stuka”.

Posisi Malta yang amat strategis di Laut Mediterania, menjadi duri dalam daging bagi arus perkapalan Jerman dan Italia yang mendukung pasukan Axis di Afrika Utara. (Sumber: https://www.quora.com/)
Rommel bersama staff nya di Afrika Utara. Hidup matinya Afrika Korp pimpinan Rommel ditentukan oleh kemampuan pihak Jerman dan Italia mensuplai pasukannya di Afrika Utara. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

UPHOLDER DILEMPARKAN KE DALAM KEKACAUAN DI MALTA

Upholder dan crew kecilnya akan memainkan peran utama pihak Sekutu dalam memutus jalur pasokan Afrika Korps pimpinan Rommel. Upaya itu akan menjadi jalan yang panjang dan sulit, yang dipenuhi dengan kerugian yang tragis, dan Upholder sendiri memulainya dengan cara yang sulit. Pada tanggal 10 Januari 1941, hanya empat hari setelah kedatangan kapal itu, Jerman memulai “pengepungan kedua” atas Malta, dengan mengirimkan gelombang demi gelombang pengebom tukik menyerang kapal-kapal di pelabuhan dan kapal Yang berlayar di laut. Di antaranya adalah kapal induk HMS Illustrious, yang sudah rusak parah oleh hantaman enam bom di laut, dan puncak serangan yang berkepanjangan itu terjadi pada pertengahan bulan Januari. Saat pesawat-pesawat Jerman dan Italia turun dari langit di atas Malta, Upholder mengalami nasib buruk karena harus berlabuh di sebelah Illustrious. Karena setiap senjata di Malta menembakkan pelurunya ke arah para penyerang, Upholder bergabung dengan senapan mesin Lewis-nya, ketika kapal induk Illustrious dijatuhi dengan bom, yang kadang-kadang jatuh di air dimana semburan bomnya amat berbahaya. Kapal induk itu kena satu bom, tapi dia selamat. Crew kapal Upholder tidak ada yang terluka, tapi mereka sudah sangat dekat dengan maut. Sementara itu, Kapal dagang Essex berada di dekat kapal selam itu. Dia dimuati dengan 4.000 ton torpedo dan amunisi, dan terkena bom di ruang mesin. Sekat dalam kapalnya berhasil menyerap kekuatan ledakan, meskipun hal ini kemudian memakan 38 korban jiwa. Seandainya ledakan bom menerobos ke ruang kargonya, Upholder dan krunya akan dihancurkan oleh ledakan yang dihasilkan.

Malta dibombardir terus menerus dari udara oleh pihak Axis, nampak pada gambar pembom taktis Ju-87 Stuka Jerman sedang menyerang kapal induk HMS Illustrious. Pada saat serangan itu, HMS Upholder tepat berada di samping Illustrious. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

AWAL YANG BURUK DAN KEMUDIAN SUKSES

Hari-hari awal penempatan Upholder di Malta sama sekali tidak menjanjikan. Patroli pertamanya berjalan cukup baik, saat ia berhasil menorpedo dan merusak kapal barang Jerman Duisberg yang berbobot 7.389 ton dan selamat dari serangan bom dalam oleh kapal perusak musuh. Namun, tiga patroli berikutnya gagal, yang membuat Wanklyn merasa malu. Meskipun krunya tetap percaya padanya, komandan, Armada Kapal Selam ke-10, mulai bertanya-tanya apakah Wanklyn dan Upholder akan bisa mendapat kesuksesan lagi. Tetapi pada tanggal 25 April 1942, Upholder menemukan sebuah kapal dagang Italia Antonietta Lauro (bobot 5.428 ton) yang sarat muatan di lepas pantai Lampedusa, sekitar setengah jalan antara Tunisia dan Malta, dan berhasil mengirimnya ke dasar laut. Hanya lima hari kemudian dia menemukan sebuah kapal perusak dan kargo musuh bernama Arta yang kandas di perairan dangkal Kerkenah Bank, utara Cape Bon Tunisia. Namun, ketika Upholder tiba, dia menemukan air sangat dangkal sehingga dia tidak dapat menemukan posisi yang baik untuk menembak. Jadi, seperti meneruskan tradisi terbaik angkatan laut Inggris di era Laksamana Nelson, Letnan Christopher Read memimpin beberapa crew naik ke atas kapal dagang itu. Read menunjukkan bakat nya sebagai “perompak” yang luar biasa, dimana ia berhasil menghancurkan kunci brankas kapal dengan aman dan mengosongkannya. Dengan membawa serta isi brankas dan segunung kecil suvenir militer dari Korps Afrika, mereka kemudian membakar kapal itu dan beranjak pergi. Kemudian, pada tanggal 1 Mei, Upholder mendapatkan dua kapal dagang Jerman lagi, dan kembali ke Malta dengan kemenangan, menghindari ranjau parasut yang memenuhi pintu masuk pelabuhan. Namun, tidak ada waktu untuk istirahat di pelabuhan, karena pesawat-pesawat Jerman dan Italia terus menerus menyerang pulau benteng itu. Ada lebih dari 100 serangan udara di bulan Februari dan Maret; pada bulan April tonase bom yang dijatuhkan masih meningkat lebih tajam. Sebuah kapal selam di pelabuhan akan menyelam ke dasar pelabuhan ketika ada cukup peringatan. Jika tidak ada cukup peringatan, maka akan jatuh korban; pada suatu hari, dua kapal selam tenggelam di tambatannya di pelabuhan. Sementara di laut, dua lagi, kapal selam Undaunted dan Usk, gagal kembali dari misi patrolinya.

Setelah sempat mengawali dengan buruk HMS Upholder kemudian menjadi piawai dalam menyergap kapal dagang pihak Axis. (Sumber: https://fineartamerica.com/)

PANEN BESAR DALAM SERANGAN KE KONVOI KAPAL AXIS

Kemudian, pada pertengahan Mei, Upholder meraih mangsa besar. Di lepas pantai tenggara Sisilia dia menorpedo sebuah kapal tanker seberat 4.000 ton dan kemudian, hanya satu setengah hari kemudian, mengirim sebuah kapal tanker asal Vichy French yang besar ke dasar laut. Pada tanggal 24 Mei dengan tanpa menggunakan asdic — perangkat asal Inggris yang setara sonar — karena rusak oleh air laut dan kini sekarang tinggal memiliki dua torpedo tersisa, Wanklyn terus mencari mangsa. Apa yang kemudian dia temukan adalah sebuah konvoi kapal besar, yang dikelilingi oleh setidaknya lima kapal perusak. Tanpa asdic-nya, dan beroperasi sepenuhnya hanya dengan periskopnya, Wanklyn membawa kapal Upholder ke dalam jarak yang amat dekat dan menembakkan sisa torpedonya. Aksi itu dilakukan dalam kondisi cahaya yang redup dan dilakukan pada kedalaman periskop. Saat Wanklyn mendekati jalur serangannya, Upholder terlihat oleh salah satu kapal perusak lawan yang mengawal, yang berbalik dengan kecepatan tinggi dan mencoba menerjangnya. Wanklyn berhasil menghindari kapal perusak yang datang tanpa pergi jauh dan, saat penglihatan periskopnya muncul kembali, ia menembak kapal angkut terbesar. Torpedonya berjalan lurus dan menenggelamkannya. Kapal malang itu adalah kapal Italia Conte Rosso, berbobot 17.879 ton, yang dengan cepat tenggelam ke dasar Laut Mediterania, dengan membawa hampir 3.000 awak dan pasukannya. Saat Upholder menembakkan torpedonya, dia berusaha keras untuk menghindari serangan balik yang tak terhindarkan dari kapal-kapal perusak yang mengawal konvoi. Selama 20 menit berikutnya, setidaknya 37 serangan bom dalam dijatuhkan di dekatnya, tetapi dengan ketenangan dan keterampilan yang luar biasa kapten Wanklyn membawa Upholder menjauh dari musuh. Wanklyn, diam-diam memberikan perintahnya, menginspirasi krunya dengan ketenangan dan keyakinannya. Dia, seperti yang ditulis oleh penulis Sydney Hart dalam bukunya “Submarine Upholder”, “(layaknya) orang Inggris sempurna yang diselimuti ketenangan tanpa emosi khas orang Inggris.” Dia tetap tidak bingung dengan derit dan rintihan lambung kapal yang disiksa guncangan dan hujan kaca dari bola lampu yang pecah, serta naik-turunnya sisi kapal saat efek ledakan bom menghantamnya. Bergerak sangat lambat, hanya ketika penyerangnya bergerak, selalu berpikir selangkah lebih maju dari kapal perusak di atasnya, Wanklyn membawa kapalnya yang sudah babak belur menyelinap pergi dan kembali ke pangkalan dengan selamat. Atas aksinya ini Wanklyn dianugerahi medali kehormatan tertinggi militer Inggris, Victoria Cross.

Kapten Wanklyn di tengah para crew Upholder. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

MENOREHKAN LEBIH BANYAK KORBAN

Sekarang Upholder bisa mengibarkan dengan bangga bendera Jolly Roger-nya, bendera dengan gambar tengkorak-dan-tulang bersilang hitam tempat kapal selam Inggris biasa mengibarkannya saat berhasil mencatat kemenangan mereka. Bilah warna merah di bendera berarti korbannya adalah kapal perang musuh, sementara putih adalah kapal dagang. Pada pertengahan Juli, Upholder menambahkan kapal pemasok ke dalam catatan korbannya, dan pada serangan yang sama ia juga berhasil menorpedo kapal penjelajah cepat Italia, Garibaldi. Pada 4.000 yard, kapal selam kecil itu menembakkan dua torpedo ke Garibaldi, meninggalkannya mengapung diam di atas air dengan kapal-kapal perusak didekatnya mengeluarkan asap untuk menutupi kapal penjelajah yang terkena torpedo itu. Upholder kemudian berhasil selamat dari rentetan serangan yang sangat buruk dari hampir 40 bom dalam. Meskipun Wanklyn beserta crewnya tidak menenggelamkan Garibaldi, tapi mereka telah membuatnya tidak bisa digunakan sementara waktu dalam waktu yang sangat lama. Pada bulan Agustus, Wanklyn berhasil menenggelamkan lagi sebuah kapal barang dan kapal tanker besar, sementara ia hanya bisa mengutuki keberuntungannya karena dia dipaksa untuk melakukan penembakan yang lama namun gagal dengan dua torpedo terakhirnya ke armada kapal perang besar yang termasuk sebuah Battleship. Wanklyn dan krunya harus menunggu hingga bulan September untuk mencatat kemenangan terbesar mereka.

Lukisan seorang pelaut memasang bom dalam. Bom-bom dalam yang dijatuhkan oleh kapal-kapal selam pengawal konvoi menjadi teror tersendiri bagi crew kapal selam selama Perang Dunia II. (Sumber: https://www.history.navy.mil/)

Misi pada pertengahan September tidak dimulai dengan baik ketika kompas gyro Upholder gagal berfungsi sejak awal, meninggalkannya hanya dengan perangkat kompas magnetis yang kurang dapat diandalkan. Tapi kemudian peruntungannya berbalik. Berlayar di tengah malam, dia dan dua kapal lainnya melihat sebuah konvoi cepat, yang dikawal dengan berat, menuju ke Libya dengan membawa bala bantuan bagi pihak Axis. Wanklyn menunggu sampai dua dari tiga kapal besar seberat 20.000 ton dalam konvoi itu berbaris saling tumpang tindih, lalu menembakkan empat torpedo dari jarak jauh, sekitar 5.000 yard. Penembakannya luar biasa, karena dia menempatkan satu torpedo menghantam baling-baling kapal Oceania, menghentikannya, sementara torpedo kedua membuat sebuah lubang yang fatal di kapal Neptunia. Kedua kapal itu penuh dengan pasukan, dan Upholder menyelinap pergi untuk memuat ulang torpedonya, sementara kapal-kapal pengawal Italia menjemput tentara dan awak dari Neptunia yang tenggelam. Wanklyn belum selesai. Tabung torpedonya kini telah penuh lagi, dia menyelinap masuk untuk “menyelesaikan” Oceania. Dipaksa untuk menyelam dalam-dalam oleh kapal pengawal musuh sampai dia terlalu dekat untuk menembak, dia membawa kapalnya sampai sepenuhnya ada di bawah targetnya, menyelam di kedalaman periskop di sisi yang lain, dan menenggelamkan kapal itu untuk selamanya dengan dua torpedo lagi. Oceania tenggelam hanya dalam delapan menit, membawa serta beberapa ribu pasukan yang tidak akan pernah bisa melawan pasukan Sekutu di Afrika Utara. Upholder yang kecil sekarang telah menenggelamkan sekitar 60.000 ton kapal Axis yang membawa pasukan Jerman dan Italia ke Afrika Utara.

TAHUN BARU DIBUKA DENGAN BAIK OLEH UPHOLDER

Saat ini kru Upholder sudah kelelahan, kelelahan sampai ke tulang karena ketegangan pertempuran yang berkepanjangan, kelelahan karena kurangnya mendapat sinar matahari dan karena udara pengap dari kapal yang terlalu lama terendam. Awak kapal selam dengan masam disarankan agar separuh awak harus bernafas sementara separuh lainnya harus menahan napas. Mereka hampir tidak bisa mendapatkan istirahat yang nyata di pelabuhan, di mana ketenangan apapun yang bisa mereka dapatkan selalu diganggu oleh serangan bom musuh. Mereka telah melewati batasan 12 bulan di medan pertempuran, yang secara umum diterima sebagai batasan yang harus diterapkan pada semua awak untuk segera diistirahatkan. Tetapi sekarang, pada musim gugur tahun 1941, pertempuran di Afrika Utara terus berlanjut, dan tidak ada yang bisa terhindar dari menjalankan kewajiban pertempuran melawan jalur pasokan pihak Axis. Jadi para crew Upholder terus menerus bertempur. Pada awal November mereka menenggelamkan kapal perusak Libeccio dari kelas Maestrale di Laut Ionia, tidak jauh dari pelabuhan Taranto di Italia yang sibuk, dan dalam serangan yang sama, masih ada kapal perusak lain yang mereka buat rusak parah. Tahun 1942 dibuka dengan baik oleh para crew Upholder. Meskipun dia hanya bisa menyebabkan satu kapal dagang yang rusak untuk sebagian besar serangan yang mereka lakukan pada hari pertama tahun itu. Namun pada tanggal 2 Januari, tidak lama sebelum fajar, Upholder melihat sebuah kapal selam besar di permukaan sekitar 15 mil dari Sisilia. Wanklyn dengan tergesa-gesa memerintahkan agar kapal segera menyelam saat kapal selam Italia itu, melihat Upholder, dan segera melaju dengan kecepatan tinggi. Setelah membuat perhitungan jarak dan sudut dalam sepersekian detik, dia menembakkan satu-satunya torpedo yang sisa dan mengenai Admiraglio St. Bon tepat di depan meriam depannya. St. Bon, yang tiga kali lebih besar dari lawan Inggrisnya, segera menghilang tanpa jejak, dan Upholder hanya bisa menemukan tiga orang yang selamat di laut yang gelap. 

Kapal Perusak kelas Maestrale. Upholder tercatat menenggelamkan salah satu kapal jenis ini selama perang, yakni kapal Libeccio. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)

MALTA GROUND ZERO PEMBOMAN

Namun, keberhasilan berulang kali Upholder di laut tidak dapat membantu untuk menghilangkan kelelahan yang mendalam dari para awak kapal selam di Malta. Pengeboman yang terus-menerus, jatah makanan yang sedikit, pelabuhan yang penuh dengan bangkai kapal, sedikitnya waktu tidur dan tidak adanya istirahat yang nyata, terus-menerus melemahkan kekuatan orang-orang di Upholder dan para kapal pendampingnya. Seperti yang digambarkan oleh seorang reporter Inggris tentang Malta yang sedang diserang: “Kami tidak dapat melihat atau mendengar apa-apa… pecahan batu berjatuhan seperti hujan dan pesawat menukik dari langit. Itu menakutkan, dan lebih banyak pesawat datang. Kami melihat sangat sedikit gelombang serangan ini karena awan debu yang sekarang menyelimuti kami. ” Pada tanggal 7 Februari, misalnya, Malta diserang 17 kali dalam satu periode selama 24 jam. Kapten G.W.G. Simpson, yang memimpin armada kapal selam, sekarang mencoba untuk kedua kalinya untuk meyakinkan Wanklyn bahwa sudah waktunya baginya untuk kembali ke Inggris untuk menjalani istirahat yang sebenarnya, tetapi kini hal terbaik yang bisa dia lakukan untuk dilakukan oleh kaptennya yang bertekad kuat itu adalah untuk memintanya beristirahat lebih lama dari biasanya di sebuah tempat pedesaan di luar area pelabuhan pulau yang terus menerus diserang itu. Sementara Wanklyn pergi, Upholder berada di laut lagi, kini dipimpin oleh Letnan Pat Norman. Kali ini dia berhasil mendapatkan sebuah kapal dagang kecil, tetapi kemudian kembali untuk menemukan bom masih saja menghujani Malta, satu dari 236 serangan udara yang diderita Malta bulan itu. Kembali ke laut lagi pada akhir bulan Februari, Wanklyn mendapatkan sebuah kapal dagang berukuran besar, Tembien, dan saat bulan Maret tiba, mereka mundur ke pelabuhan Brindisi di Italia, di bagian timur Italia. 

Pada puncaknya, Malta tidak henti-hentinya mendapat serangan udara dari pihak Axis. Serangan ini banyak memakan korban perkapalan di pihak sekutu dan diantara warga sipil Malta sendiri. (Sumber: https://www.pinterest.nz/)

WAKTU DAN KEBERUNTUNGAN YANG HAMPIR HABIS

Di sana, pada tanggal 18 Maret, Upholder diam sambil mengamati kapal-kapal kecil bergerak keluar-masuk pintu masuk pelabuhan. Akhirnya kesabaran mereka terbayar: Upholder mendapatkan kapal selam Italia, Tricheco di permukaan air dan mengirimnya ke dasar dengan dua tembakan torpedo. Keesokan paginya crew Wanklyn menenggelamkan sebuah kapal pukat dengan tembakan meriam, setelah memberikan waktu kepada awaknya untuk meninggalkan kapal. Sekali lagi Upholder kembali ke Malta yang babak belur dengan kemenangan, tapi waktu mereka hampir habis. Begitu kembali ke pelabuhan, dia kehilangan seorang perwira, yang diperintahkan pergi dengan meninggalkan kemarahan dan rasa frustrasinya, untuk menjalani prosedur medis rutin. Perwira itu, dan seorang perwira lainnya yang diperintahkan untuk naik ke kapal baru, adalah yang beruntung. Sementara itu tidak semua misi Wanklyn adalah misi serangan terhadap kapal-kapal dagang dan kargo militer, meskipun kapal kargo dan kapal pengangkut menjadi sasaran penting dalam perang melawan jalur pasokan bagi pasukan Rommel. Upholder juga mendaratkan orang-orang dari tim Operasi Khusus Inggris di pantai yang dikuasai lawan. Orang-orang ini ditugaskan untuk menyerang instalasi di pantai-pantai Italia, khususnya rel kereta api, yang sering menghadap ke laut. Pada suatu kesempatan, sebuah kapal selam Angkatan Laut Kerajaan membantu dengan muncul ke permukaan untuk membombardir kereta pasukan dengan menggunakan meriam deknya. Salah satu personel unit Operasi Khusus yang berani ini adalah seorang kapten muda asal unit Artileri Kerajaan Inggris yang tampan bernama Tug Wilson. Dia dan Wanklyn menjadi teman dekat, dan Wilson kemudian menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat tinggal kepada kapten Upholder yang pemberani, meskipun pada saat itu Wilson tidak dapat meramalkan apa yang akan terjadi pada temannya itu.

Kapal perusak Libeccio setelah ditorpedo Upholder. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Pada tanggal 9 April 1942, Upholder muncul di tengah malam di Teluk Sousse, dekat situs Kartago kuno. Wilson dan Lance-Corporal Charles Parker berhasil membawa dua agen ke darat. Mereka berhasil kembali, menemukan sebagian besar kapal selam yang hampir tak terlihat itu berdiam rendah di dalam air. “Pongo approaching,” panggil Wilson, dan kru Upholder dengan cepat menjemput pasukan Operasi Khusus itu dan kapal mereka keluar dari Laut Mediterania yang hitam. Misi tersebut adalah yang terakhir bagi Wilson, yang seharusnya juga menjadi yang terakhir bagi crew Upholder. Jadi, ketika Wanklyn bertemu dengan kapal selam Unbeaten, yang sedang dalam perjalanan kembali untuk menjalani perbaikan besar di Inggris, Wilson bersiap untuk pindah ke Unbeaten dalam kegelapan. Namun karena Unbeaten mengalami kerusakan serius, termasuk tabung torpedonya yang tidak berfungsi, Wanklyn menawarkan pada temannya pilihan untuk melanjutkan perjalanan ke Malta dengan Upholder. Terima kasih, tidak, kata sang kapten, “sebesar aku mencintai crew mu, David, aku akan berlayar bersamanya dan mengambil risiko.” Itu adalah keputusan yang menentukan. Dan Wilson berpegang teguh pada hal itu, bahkan saat perwira pertama Unbeaten memanggilnya di malam hari, “Piss off, Tug—we’ve got two feet of water in the fore-ends and the batteries are gassing.” Wilson pasti melihat kembali dalam kegelapan ke Upholder, di mana temannya berdiri di anjungan mungilnya. Itu adalah kali terakhir dia — atau siapa pun — akan melihat Wanklyn dan kapal kecilnya.

Suasana di dalam Kapal Selam selama Perang Dunia II. Pada paruh pertama tahun 1942, para crew Uphholder telah melampaui batasan ketahanannya. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Upholder dan crew nya kini telah hampir secara konstan menjalani misi tempur selama 16 bulan. Upholder telah menyelesaikan 24 misi patroli tempur pada waktu itu, beroperasi di Malta yang terkepung melawan konvoi kapal-kapal Jerman dan Italia yang mencoba memasok Rommel di Afrika Utara. Keberhasilan Sekutu di Afrika bergantung pada keberadaan Upholder, kapal-kapal selam lain, dan kapal perang permukaan Angkatan Laut Kerajaan Inggris serta pesawat-pesawat yang ada di Malta. Kemenangan besar Montgomery di El Alamein pada akhir tahun 1942 sebagian besar merupakan bantuan dari kapal-kapal dan pesawat-pesawat yang ada di Malta dan orang-orang yang bertempur dan mati di dalamnya. Tidak ada kapal yang berkontribusi lebih besar bagi bencana Axis di Afrika Utara selain kapal selam Upholder yang kecil ini. Sekarang anak buah Upholder sudah semakin lelah. Salah satu awak kapal selam telah menulis surat ke rumah tidak lama sebelumnya, memberi tahu ibunya bahwa dia menderita flu yang parah, dan “dengan itu dan suasana yang buruk [saya] tampaknya tidak bernapas dengan baik selama berhari-hari … tetapi,” tambahnya, “Semakin banyak serangan yang kita dapatkan, semakin banyak keberuntungan yang kita miliki untuk melawan kapal-kapal musuh.” Wanklyn sendiri telah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, dan komandan armada kapal selam Inggris di Malta khawatir akan hal itu. Dia menganggap penenggelaman Tricheco oleh Wanklyn yang berani sangatlah berisiko untuk dilakukan, dan dia khawatir Wanklyn kehilangan kebijaksanaannya karena kelelahan. Dia mungkin benar akan hal itu. 

“MENGHITUNG HARI-HARI YANG TIDAKLAH BANYAK LAGI”

Secara keseluruhan, Upholder telah menenggelamkan 129.529 ton kapal musuh, tidak termasuk kapal yang rusak tetapi tidak tenggelam. Selain kapal kargo dan kapal angkut pasukan, dia telah mengirim sebuah kapal perusak dan tidak kurang dari tiga kapal selam musuh ke dasar lautan, dan merusak kapal perusak kedua dan sebuah kapal penjelajah. Dia sudah (dalam perang di kawasan Mediterania yang sangat berbahaya), jauh melampaui harapan hidupnya. Bagaimanapun, kini, dalam patrolinya yang ke-25, akan menjadi yang terakhir baginya. Saat menyelesaikannya, dia dijadwalkan untuk kembali ke Inggris Raya. Wanklyn telah menulis surat kepada istrinya, di Inggris, untuk memberitahunya bahwa itu tidak akan lama. “Menghitung hari,” tulisnya, “tidak terlalu banyak. Hanya 59. ” Tetapi hari-hari itu ternyata terlalu banyak, karena keberuntungan mereka yang luar biasa telah habis. Kali ini kapal kecil yang tampaknya tidak bisa ditenggelamkan itu tidak akan pernah kembali lagi ke Malta. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi padanya, karena seperti begitu banyak kapal dalam Silent Service (kapal selam), dia menghilang begitu saja. Yang terakhir yang pasti diketahui adalah bahwa dia adalah bagian dari tim piket yang terdiri dari tiga kapal, bersama dengan dengan Urge dan Thrasher, yang disiapkan untuk mengawasi konvoi Axis yang diperkirakan akan berlayar dari Tripoli. 

Kapal torpedo Italia Pegaso, yang mungkin telah menenggelamkan HMS Upholder di lepas pantai Tripoli. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Secara kebetulan yang luar biasa, bangsawan Italia yang mungkin mengirim Upholder ke kuburannya adalah keturunan langsung dari seorang pelaut Inggris. Meskipun nama yang diberikan padanya adalah nama orang Italia yang paling murni, nama keluarganya adalah Acton. Ayahnya sendiri pernah bertugas di Royal Navy dalam Perang Dunia I, dalam satu aksi sempat mengibarkan benderanya di kapal perang HMS Dartmouth. Dan sekarang kapal perusak Francesco Acton (nama pelaut itu), Pegaso, menyerang kapal selam tak dikenal pada tanggal 14 April 1942. Urge dan Thrasher sama-sama mendengar ledakan bom dalam, yang berlangsung terus menerus. Upaya berikutnya oleh Thrasher untuk menghubungi kapal Wanklyn hanya menemui kesunyian. Di sisi lain, mungkin saja Upholder menabrak ranjau dalam perjalanan pulang ke Malta, seperti yang diyakini banyak perwira Inggris. Salah satunya, Kapten McKenzie dari Thrasher, tidak yakin kapal perusak telah menenggelamkan kapal rekannya. Dia mendengar dentuman bom-bom dalam: “Kami pikir ‘Kasihan si tua Wanks — dia benar-benar digempur.'” Tapi dia juga mengatakan bahwa ia sempat diberi tahu lewat pesan radio kemudian mengenai Upholder, bahwa dia telah terlihat oleh radar Inggris di dekat ke Malta. Dia percaya, seperti yang lainnya, bahwa kapal Wanklyn menabrak ranjau ketika dia hampir dekat dengan pangkalan. Kapal-kapal lain dari armada ke-10 telah tenggelam dengan cara itu, karena perairan Mediterania dekat Malta dipenuhi ranjau parasut musuh. Bagaimanapun itu terjadi, kapal selam paling terkenal di Royal Navy telah hilang selamanya, mengambil semua crew hilang dengannya. Dia tenggelam di suatu tempat di bagian bawah laut Mediterania, sebagai makam dan monumen bagi Wanklyn, tiga perwira, dan 27 awak lainnya.

CATATAN KHUSUS UPHOLDER DAN CREW NYA

Kapten Wanklyn diatas menara Upholder bersama dengan Crew-nya. HMS Upholder bersama crew-nya akan dikenang dalam catatan emas AL Inggris selama Perang Dunia II. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Kapten G.W.G. Simpson, komandan Armada Kapal Selam ke-10, menulis surat ke Admiralty untuk melaporkan hilangnya Upholder. “Saya harap saya tidak salah,” tulisnya, “untuk mengambil kesempatan ini dengan memberikan sedikit penghormatan kepada Lt Cdr David Wanklyn, VC, DSO, dan crewnya di HMS Upholder, yang rekor briliannya akan selalu bersinar dalam catatan sejarah armada kapal selam Inggris. ” Pada gilirannya, Admiralty mengumumkan kehilangannya bersama dengan semua crew nya: “Dewan Admiralty dengan menyesal mengumumkan bahwa H.M. Submarine Upholder (pimpinan Letnan Komandan M.D. Wanklyn, V.C., D.S.O., R.N.) telah hilang. ” Komunike tersebut kemudian termasuk penghormatan khusus, yang paling tidak biasa untuk Angkatan Laut Inggris yang dikenal tegas dan tidak banyak berkomentar, karena dalam tradisi Angkatan Laut Kerajaan Inggris semua orang diharapkan dapat menampilkan semangat dan keberanian yang luar biasa dalam tugasnya. “Jarang sekali,” pengumuman itu berbunyi seperti yang diberikan pada Upholder dan crewnya sebagai berikut, “for Their Lordships to draw distinction between different services rendered in the course of naval duty, but they take this opportunity of singling out those of HMS Upholder, under the command of Lt. Cdr. David Wanklyn, for special mention…. The ship and her company are gone, but the example and inspiration remain.”

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

HMS Upholder Fought In Mediterranean To Defeat Rommel In North Africa by Robert Barr Smith

HMS Upholder (P37) Coastal Diesel-Electric Attack Submarine by JR Potts

https://www.militaryfactory.com/ships/detail.asp?ship_id=HMS-Upholder-P37

Lieutenant Commander Malcolm David Wanklyn, HMS Upholder

http://www.submarinesonstamps.co.il/History.aspx?h=117

https://en.m.wikipedia.org/wiki/HMS_Upholder_(P37)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *