IAI Nesher, sang predator udara asal Israel

IAI Nesher (Bahasa Ibrani: נשר, “burung bangkai griffon” – sering disalahartikan sebagai “elang”) adalah versi Israel dari pesawat tempur multirole Fighter Dassault Mirage 5. Setelah kehilangan beberapa pesawat selama Perang Enam Hari 1967 dan Perang Atrisi yang terjadi pada akhir 1960-an, Angkatan Udara Israel (IAF) berusaha mendapatkan varian yang lebih baru dari pesawat tempur Dassault Mirage III yang sangat sukses. Sementara kemitraan untuk memproduksi pesawat semacam itu, Mirage 5, dibentuk antara pabrikan Prancis Dassault Aviation dan perusahaan kedirgantaraan Israel Israel Aircraft Industries (IAI), pada bulan Januari 1969, sebagai tanggapan atas serangan Israel 1968 di Lebanon, pemerintah Prancis mengumumkan akan memberlakukan embargo senjata pada Israel. Menanggapi embargo tersebut, Israel memutuskan untuk melanjutkan dengan usaha memproduksi pesawat tempur di dalam negeri.

Latar belakang dan pengembangan

Pada awal 1962, Angkatan Udara Israel (IAF) mengoperasikan pesawat tempur Dassault Mirage IIICJ yang pertama. Selama dua dekade berikutnya, pesawat itu akan digunakan sebagai platform untuk meraih supremasi udara, mengamankan langit dari pesawat musuh dan selama pengoperasiannya akan mencapai rekor “kill” yang mengesankan. Dengan kinerja Mirage IIICJ dianggap sangat positif, maka kemudian dipertimbangkan untuk pengembangan lebih lanjut pada type ini.

Pada akhir 1960-an, IAF berada di bawah tekanan untuk memperoleh pesawat tambahan dengan tujuan mengganti lebih dari 60 pesawat tempur yang telah hilang selama beberapa kali konflik antara Israel dan tetangganya, termasuk Perang Enam Hari tahun 1967 dan Perang Atrisi mengikuti segera setelahnya dan berlanjut hingga tahun 1970. Selain itu, perlombaan senjata muncul antara Israel dan beberapa tetangganya, seperti Suriah dan Mesir, yang terus menerima persenjataan yang semakin maju dari Uni Soviet selama masa ini, sekaligus untuk mengganti kerugian mereka selama pertempuran-pertempuran melawan Israel, seperti dengan mengganti armada MiG-21 F-13 (Fishbed C) dengan MiG-21 MF (Fishbed J).

Top Ace Jet Tempur Sepanjang Masa, Giora Epstein (17 kill) membukukan 9 kill dengan IAI Nesher selama karirnya di AU Israel.

Oleh karena itu, kemudian Israel telah memulai upaya pengembangan bersama dengan produsen pesawat Prancis Dassault Aviation untuk mengembangkan dan memproduksi varian lanjutan pesawat tempur Mirage III yang terbukti sangat sukses. Produk program ini kemudian dikenal sebagai Mirage 5 dan akhirnya dibuat prototype nya oleh Israel dan diberi nama Raam dalam bahasa Ibrani (guntur). Dassault membuat pengembangan Mirage 5 atas permintaan Israel, yang merupakan pelanggan asing utama Mirage III dan umumnya telah memilih Prancis sebagai pemasok militer utama mereka selama ini. Persyaratan khusus yang ditetapkan oleh IAF untuk versi berikutnya dari tipe ini adalah mereka ingin membuang kemampuan semua cuaca pesawat dan menghapus sistem radar utamanya dengan sebagai gantinya adalah adanya peningkatan kapasitas dan jangkauan membawa persenjataan; hal ini dimungkinkan oleh iklim yang sebagian besar cerah dan kondisi cuaca khas yang ada di Timur Tengah, tidak membutuhkan pesawat dengan kemampuan segala cuaca seperti varian Mirage III sebelumnya.

Dassault Mirage V milik AU Chili

Bahkan sebelum penerbangan perdananya, Israel telah memesan 50 unit pesawat, serta sepasang pesawat latih jenis itu, yang ditujukan untuk IAF. Namun, program ini secara efektif terhenti pada Januari 1969 ketika, sebagai tanggapan atas serangan Israel di Lebanon tahun 1968 (sebagai balasan dari aksi teroris asal Palestina yang melakukan penyerangan ke pesawat komersial El Al), pemerintah Prancis mengumumkan bahwa mereka akan memberlakukan embargo senjata pada Israel dan “negara-negara yang berperang di Timur Tengah”. Sebuah alasan yang “mengada-ada, karena kemudian Prancis mengekspor juga Mirage 5 ke negara-negara “agresif” macam Libya. Pemberlakuan embargo ini mencegah pengiriman 30 pesawat Mirage 5 pertama, yang sudah dibayar oleh Israel, dan kemungkinan tambahan opsi untuk 20 buah lagi. Selain mencegah pengiriman lebih lanjut, itu juga menghentikan semua dukungan Prancis untuk mengoperasikan armada Mirage IIICJ IAF yang sudah ada.

Secara strategis, memang embargo ini kemudian memberi dorongan besar bagi Israel untuk mengembangkan kemampuan industri senjata domestiknya sendiri untuk memenuhi kebutuhan sesuai tuntutannya. Namun Embargo ini juga dianggap sebagai kemunduran besar bagi IAF, yang telah siap untuk menerima varian Mirage 5 yang baru untuk mengkompensasi kerugian yang timbul selama Perang Enam Hari, sementara mereka masih menggunakan Mirage IIIC, tetapi menemukan diri mereka tidak dapat mengakses dukungan perawatan resmi dari negara produsen. Menanggapi keputusan pahit dari Perancis, Israel memutuskan untuk memproduksi sendiri prototype Mirage versi mereka sendiri (dikenal sebagai proyek Raam A dan B); dilaporkan, Israel telah memiliki skema dan dokumentasi yang diperlukan mengenai desain pesawat ini, meskipun Israel tidak secara resmi mendapatkan lisensi manufaktur dari Dassault. Menurut penulis penerbangan Don McCarthy, mereka berspekulasi bahwa badan intelijen Israel Mossad telah berperan dalam mendapatkan beberapa informasi manufaktur Mirage 5, sementara yang lain malah menuduh bahwa pendiri Dassault, Marcel Dassault, bisa jadi memberikan informasi desain secara langsung.

Produksi

Menurut penulis penerbangan Doug Dildy dan Pablo Calcaterra, Dassault diam-diam memberikan perangkat dan sejumlah besar komponen badan pesawat ke Israel melalui konsorsium industri perusahaan dirgantara Israel Israel Aircraft Industries dan perusahaan penerbangan Amerika North American Rockwell, yang diklaim telah menjual lisensi manufaktur pada Januari 1968. Dilaporkan, airframe pesawat kosong pertama, yang tidak dilengkapi senjata, perangkat elektronik, kursi lontar, atau mesin, telah dikirim langsung dari pabrik Dassault di Prancis. Dildy dan Calcaterra mengklaim bahwa informasi terperinci tentang rancangan mesin pesawat Atar diperoleh melalui pabrik industri Swiss Sulzer, yang telah memproduksi mesin untuk Mirages Swiss sendiri; dengan memiliki cetak biru ini dan dengan beberapa mesin SNECMA Atar 09C turbojet yang punya daya dorong 13.670 pound dari Mirage IAF yang sudah ada lewat proses reverse engineering, Israel kemudian dapat secara mandiri memproduksi mesin pesawatnya sendiri.

IAI Finger at Air Fest 2010

Selama tahun 1969, IAI memulai aktivitas manufaktur pada proyek tersebut di fasilitas udara Bandara Ben Gurion. Secara resmi, Israel membuat pesawat setelah memperoleh serangkaian gambar lengkap. Namun, beberapa sumber menyatakan bahwa Israel telah menerima 50 Mirage 5s dalam keadaan dibongkar dan dikirim dalam peti langsung dari Angkatan Udara Prancis (ADA), sementara AdA selanjutnya mengambil 50 pesawat yang awalnya ditujukan untuk dikirimkan ke Israel. Selama September 1969, prototipe Nesher pertama melakukan penerbangan perdananya. Dan pada 21 Maret 1971, Raam A pertama dikirim ke IAF pada Mei 1971. Kemudian pada November 1971, pesawat itu diberi nama resmi Nesher (sejenis Burung Nasar).

IAI Nesher dalam layanan AU Israel dan Argentina

Badan pesawat Neshers identik dengan Mirage 5, tetapi terdapat perbaikan besar pada sistem avionik yang dibuat Israel, bersama dengan pemasangan kursi lontar JM6 konfigurasi zero-zero buatan Martin-Baker, dan penambahan opsi pemasangan berbagai jenis AAMs (Rudal Udara ke Udara), termasuk rudal pencari panas Shafrir buatan Israel. Secara total, 51 pesawat tempur Nesher (Nesher S) dan sepuluh pesawat latih dua kursi Nesher (Nesher T) dibuat oleh IAI. Nesher memiliki perangkat avionik yang lebih sederhana daripada Mirage IIIC IAF, dan dikabarkan juga sedikit kurang lincah dalam bermanuver. Namun, ia memiliki jangkauan tempur yang lebih jauh dan kemampuan angkut senjata yang lebih besar. Berkurangnya kemampuan manuver ini tidak mencegah Nesher tampil baik dalam pertempuran udara selama Perang Yom Kippur tahun 1973.

Pada tahun 1974, produksi Nesher dihentikan demi produksi derivatif Mirage yang lebih maju yang telah direncanakan dibuat secara paralel dengan Nesher. Perbedaan utama dari tipe baru ini adalah penggantian mesin Atar oleh mesin General Electric J79 yang diproduksi secara lisensi oleh Israel. J79 adalah mesin asal Amerika yang populer untuk pesawat tempur, yang telah digunakan pada pesawat tempur seperti Lockheed F-104 Starfighter dan McDonnell Douglas F-4 Phantom II. Pesawat yang dihasilkan kemudian diberi nama IAI Kfir.

Kiprah tempur di Israel

Pada Mei 1971, Raam A pertama dengan pilot Danny Saphira dikirim ke pangkalan udara Hatzor untuk IAF. Pengiriman berlanjut hingga Februari 1974, dimana saat itu total 51 pesawat tempur Nesher dan 10 versi latih dua kursi Nesher telah dikirim ke IAF. Skuadron baru pertama diresmikan di ‘Etzion Airbase di’ Bik’at Hayareakh ‘(‘ Valley of the Moon ‘) di dekat Eilat, pada September 1972, dan yang kedua didirikan pada Maret 1973 di Hatzor. Tipe ini total melengkapi 4 skuadron tempur – skuadron “First Fighter”, skuadron “First Jet”, “Hornet” dan “Guardians of Arava”. Puncak tertinggi karier Nesher dengan IAF terjadi selama Perang Yom Kippur tahun 1973. Jenis pesawat ini dilaporkan berkinerja baik selama konflik, pilot IAF yang menerbangkan pesawat tersebut secara kumulatif mengklaim lebih dari seratus “kill” atas musuh-musuhnya.

IAI Nesher (נשר) S, aircraft 592 of the 113 Tayaset “Ha’Tsira’a (The Wasps)”, Heyl Ha’ Avir (Israeli Air Force); Hatzor/Israel, late 1973.

Meskipun mereka awalnya dimaksudkan lebih untuk menjalankan misi serangan darat seperti layaknya desain Mirage 5 yang dibutuhkan Israel, namun dengan berjalannya waktu Neshers justru digunakan untuk misi pertempuran udara-ke-udara. Komando IAF kemudian memutuskan untuk menggunakan Phantom, Skyhawks dan Sa’ars (Dassault Super Mystere) menyerang target darat, dan menugaskan Mirages dan Neshers tugas memerangi pesawat musuh dan membangun keunggulan udara di atas zona pertempuran. Neshers terbukti menjadi penempur yang baik dan bisa mengatasi musuh mereka (MiG dan Sukhoi) dengan relatif mudah.

Dalam perang Yom Kippur tahun 1973, F-4E Phantom II AU Israel justru ditugaskan menjalankan fungsi Fighter Bomber ketimbang sebagai pesawat superioritas udara, yang mana peran ini diambil oleh armada Delta Wing, Mirage III dan IAI Nesher.

Kemenangan udara pertama Nesher terjadi pada 8 Januari 1973, ketika 4 Neshers dari skuadron “First Fighter” saat mengawal F-4 Phantom ke Suriah untuk menyerang basis teroris. Dalam pertempuran udara dengan MiG-21 AU Suriah, 6 MiG ditembak jatuh, dua oleh Neshers. Nesher menikmati kesuksesan besar dalam Perang Yom Kippur dengan menembak jatuh lusinan pesawat Mesir, Suriah, dan Libya, skuadron “First Fighter” sendiri mencetak 59 kemenangan dengan hanya kehilangan 4 pesawat.

Ilustrasi MiG-21MF AU Mesir melintas diatas Piramida. Banyak MiG-21 Mesir yang jadi korban IAI Nesher selama perang Yom Kippur 1973.

Salah satu kemenangan pertama dalam perang itu bukanlah melawan sebuah pesawat terbang tetapi rudal udara-darat AS-5 Kelt yang diluncurkan ke Tel Aviv oleh sebuah Tu-16 Badger Mesir pada hari pertama perang, 6 Oktober 1973. Ketika Mirage-5 Libya mulai memasuki gelanggang pertempuran, semua Mirage dan Nesher Israel ditandai dengan segitiga kuning besar yang dibatasi oleh bingkai hitam tebal untuk mencegah kemungkinan salah identifikasi. Setidaknya dua Mirage-5 ditembak jatuh oleh Neshers, serta sebuah Phantom Israel ditembak karena kesalahan identifikasi. Sang navigator dan pilot, seorang mantan komandan skuadron Nesher, terjun dengan parasut ke tempat aman. Pada akhir perang, sebuah Nesher dengan nomor 510 telah menembak jatuh 13 pesawat musuh, sedangkan yang bernomor 561 menembak jatuh 12 pesawat.

Kemampuan AU Israel dalam membukukan banyak kemenangan udara selama perang didukung oleh para crew terlatih sehingga setiap pilot dan pesawat tempur yang ada bisa membukukan banyak sortie/misi udara dalam sehari.

Menurut statistik yang dibuat setelah perang, ada 117 pertempuran udara selama Perang Yom Kippur (65 di Suriah dan 52 di Mesir) dimana setidaknya 227 pesawat musuh ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat Israel dalam pertempuran-pertempuran ini, dan hanya enam pesawat Israel yang ditembak jatuh (mereka sedang dalam misi intersepsi, dan terkena tembakan meriam atau dengan rudal SAM), walau kemungkinan besar korban di pihak Israel bisa lebih besar, namun menurut pengamat Amerika cuma 10% dari sekitar 120an pesawat Israel yang hancur dalam perang disebabkan oleh pertempuran udara, sisanya karena tembakan oleh meriam anti pesawat dan rudal SAM (SA-6 disebut bertanggungjawab menembak jatuh 40 pesawat Israel).

Israeli Nesher over the Golan Heights during the Yom Kippur War.

Nesher tidak hanya melakukan misi intersepsi saja selama perang, mereka juga melakukan beberapa serangan darat di Dataran Tinggi Golan dan di front selatan. Aksi mereka begitu intens, dengan setiap pilot melakukan banyak misi serangan setiap harinya. Tidak seperti dalam Perang 6 hari, dimana hampir seluruh kill AU Israel dibukukan dengan tembakan kanon, dalam perang Yom Kippur, cukup banyak Kill pilot Israel dibukukan dengan tembakan rudal udara ke udara baik AIM-9 Sidewinder maupun Shafrir 2 buatan Israel. Nesher Israel selama perang dibekali dengan 2 kanon DEFA 30 mm dan setidaknya 2 rudal air to air jarak pendek penjejak infra merah AIM-9/Shafrir-2. Selama perang pesawat2 tempur Israel baik Phantom II, Mirage III, dan IAI Nesher menembakkan 176 rudal Shafrir-2 yang berhasil menembak jatuh 89 pesawat musuh dengan persentase akurasi diatas 50%, lebih bagus dari catatan kill rudal Air to Air Amerika di Vietnam.

Listed from top to bottom: Shafrir-1, Shafrir-2, Python-3, Python-4, Python-5.

Segera setelah konflik, keputusan dibuat untuk mempensiunkan Nesher. Dengan diperkenalkannya Kfir yang lebih canggih telah mengurangi nilai penting Nesher, dan keterlibatan Nesher secara intensif dalam operasi ofensif sebelumnya telah membuat airframes nya cepat bertambah tua. Setelah ditarik dari dinas operasional IAF dengan hanya cuma 10 tahun operasional, sebagian besar Nesher yang tersisa diperbarui dan dijual ke Argentina, di mana jenis itu kemudian dikenal sebagai “Dagger”.

Kiprah tempur di Argentina

Argentine Air Force Dagger, Jujuy Airport, 1981

Setelah pensiun dari operasional IAF, sisa pesawat Israel diperbaharui dan diekspor ke Angkatan Udara Argentina dalam dua batch, 26 pesawat tempur dikirim pada 1978 dan 13 lainnya pada 1980. Dalam layanan Argentina, jenis itu dioperasikan dengan nama Dagger. Pada puncaknya, Argentina mengoperasikan total 35 Dagger A fighter satu kursi dan empat versi trainer dua kursi Dagger B. Selama 1978, armada Dagger digunakan untuk membentuk unit baru, Grup Udara ke-6; unit ini segera diaktifkan dengan dukungan Grup Udara ke-8 (yang telah mengoperasikan Mirage IIIEA) dan Angkatan Udara Peru, yang sudah menjadi pengguna lama Mirage 5. Urgensi pembentukan unit ini adalah hasil dari konflik Beagle, yakni sengketa wilayah dan krisis diplomatik antara Argentina dan negara tetangganya Chile pada waktu itu.

IAI Dagger milik AU Argentina.

Selama Perang Falklands 1982 antara Argentina dan Inggris, Dagger dikerahkan ke pangkalan udara angkatan laut di daerah selatan seperti Río Grande, Tierra del Fuego, dan lapangan terbang di Puerto San Julián. Meskipun tidak punya kemampuan pengisian bahan bakar udara dan jarak yang cukup jauh ke target mereka, yakni pasukan Inggris di Falklands dan kapal-kapalnya yang ada di sekitar Falkland, tipe ini berhasil melakukan total 153 sorti terhadap target darat dan laut dalam 45 hari operasi tempur. Dalam serangan anti-kapal mereka, mereka dilaporkan bertanggung jawab atas kerusakan beberapa kapal, termasuk HMS Antrim, Brilliant, Broadsword, Ardent, Arrow dan Plymouth. Secara total, 11 Dagger hilang dalam pertempuran (sembilan dari mereka telah dilaporkan dihancurkan oleh rudal AIM-9L Sidewinders yang ditembakkan dari Sea Harriers dan dua oleh rudal darat-ke-udara (SAM)).

Ilustrasi IAI Dagger (Nesher Argentina) saat menyerang kapal-kapal Inggris dalam Perang Falkland.

Sebagai bagian dari kontrak 1979 dengan IAI, Angkatan Udara Argentina telah menetapkan bahwa Dagger akan dilengkapi dengan perangkat avionik baru dan sistem HUD, yang memungkinkan mereka untuk memenuhi standar seperti Kfir C.2 (dan beberapa subsistem lainnya). Program itu, yang diberi nama Finger, masih berlangsung pada 1982 ketika Perang Falklands pecah. Meskipun konflik relatif singkat, salah satu konsekuensi dari perang adalah, karena beberapa Sistem Elektronik ini dibuat oleh Marconi Inggris, sehingga perlu untuk mengganti sistem buatan Inggris itu setelah embargo senjata diberlakukan oleh pemerintah Inggris. Penggantian sistem tersebut menyebabkan pesawat dimodifikasi ke standar Finger IIIB; dimana dalam model ini berbeda dari standar Finger asli dengan mengganti peralatan yang berasal dari Inggris, dengan menggunakan perangkat buatan Prancis dari Thomson-CSF.

IAI Dagger AU Argentina.

General characteristics Nesher:
• Crew: one
• Capacity: 9259 lb
• Length: 51.35ft (15.65m)
• Wingspan: 8.22 ()
• Height: 13.94ft (4.25m)
• Wing area: 374.6 ft² (34.8m²)
• Empty weight: 14551lbs (6,600kg)
• Loaded weight: 29762 lb (13,500kg)
• Max. takeoff weight: 13,500kg 
Performance
• Maximum speed: mach 2.1 (39,370ft)
• Range: 1,300km () 1186 with 4700 litres of auxiliary fuel in drop tanks plus 2 Air to Air missiles and 2600 lb of bombs
• Service ceiling: 55,775ft (17,680m)
• Rate of climb: 16,400ft/min (83m/s)
Armament
up to 4200kg of disposable stores

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/IAI_Nesher

IAI Nesher (Vulture) https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp…

IAF Aircraft Inventory: Israel Aircraft Industries Nesher https://www.jewishvirtuallibrary.org/israel-aircraft-indust…

Nesher https://www.globalsecurity.org/mili…/world/israel/nesher.htm

Israel Air Force: Complete List of Israeli Air Victories
(1948 – Present) by Dave Lednicer https://www.jewishvirtuallibrary.org/israel-air-force-recor…

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Python_(missile)

Air Warfare in the Missile Age, Lon O. Nordeen-1985

2 thoughts on “IAI Nesher, sang predator udara asal Israel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *