Imamura vs Ter Poorten

Batavia, 8 Maret 1942

Minggu dini hari itu Letnan Jenderal Imamura dibangunkan oleh ajudannya. Utusan Kolonel Shoji dari Lembang datang menyampaikan pesan tentang keinginan pihak Hindia Belanda untuk melakukan gencatan senjata. Shoji telah mempersiapkan rencana pertemuan untuk dihadiri oleh Imamura di Kalijati. Imamura segera menyetujui rencana itu dan mempersiapkan keberangkatan pagi itu juga untuk berunding. Shunkichiro Miyoshi pun segera dipanggil untuk menjadi penterjemah. Nama Miyoshi memang tidak asing lagi di Indonesia. Sejak 1926 ia sudah ditempatkan di Indonesia sebagai perwira penasehat politik di Konsulat Surabaya. Tahun 1940 ia dipindahkan ke Batavia sebagai wakil konsul dan kemudian menjadi konsul di Makasar pada tahun 1941.

Hitoshi Immamura

Pukul 8.30 pagi konvoi 20 mobil itu pun meninggalkan Markas Besar Tentara Jepang yang menduduki bekas asrama mahasiswa di Manggarai (sekarang kompleks POMAD Guntur-tahun 1980an). Perjalanan yang mengambil rute Cibinong-Krawang itu terhenti di Krawang karena jembatan yang sudah dihancurkan Belanda. Sisa2 pertempuran yang dahsyat masih tampak jelas di sekitar Purwakarta, mendekati Kalijati. Rombongan Jepang tiba di kompleks Pangkalan Udara Militer Kalijati pukul 16.00. setengah jam kemudian rombongan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan mobil2 berbendera putih tiba.

Gubernur Tjarda sangat gusar melihat para wartawan (melulu Jepang tentu saja) di situ. Tuan rumah kemudian mengabulkan permintaan Tjarda agar wartawan tidak mengambil foto. Tepat pukul 18.00, Panglima Angkatan Darat ke 16, Letjend Hitoshi Imamura dengan seragam lengkap memasuki meja perundingan. Kepalanya yang gundul kelihatan ketika ia membuka topinya dan duduk di kursi sejajar dengan stafnya. Di hadapannya duduk Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Ter Poorten, Jenderal Pesman dan Jenderal Bakker.

Gubernur Jenderal Tjarda

“apakah tuan2 berada di sini sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda mewakili seluruh pasukan dan pemerintah dan rakyat (Hindia belanda)?” tanya Imamura membuka perundingan. Tjarda menjawab singkat mengiyakan. “kalau benar demikian, apakah kalian ini sanggup untuk membicarakan tantangan menyerahkan diri atau melanjutkan peperangan?” tanya Imamura mendesak.

Semua mata mengarah kepada penterjemah Belanda yang dengan susah payah mencoba mencari kalimat yang lebih halus. “saya tak sanggup menterjemahkannya”, kata penterjemah itu akhirnya. Miyoshi pun kemudian mendapat tugas menerjemahkan seluruh perundingan itu.

“tidak bisa”, jawab Tjarda setelah mendengar terjemahan Miyoshi, “kami memang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang sebenarnya memiliki hak untuk memimpin angkatan perang, tetapi baru2 ini Sri Ratu Wilhelmina telah mencabut hak tertinggi itu dan menyerahkannya kepada Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda”.

Imamura pun lalu melihat ke arah Ter Poorten. “apakah kalian bersedia menyerah?”, tanya Imamura. “kami hanya dapat menyerahkan Bandung”, jawab Ter Poorten. “saya tak peduli dengan jawaban itu. Yang saya tanyakan sekarang apakah Hindia Belanda mau menyerah tanpa syarat. Dan sebagai Panglima, apakah yang menjadi kewajiban Tuan?” sergah Imamura.

Panglima KNIL Letjen Hein Ter Poorten saat menandatangani perjanjian penyerahan tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati. Praktis karir militernya berakhir di sini.

“untuk memimpin Angkatan Bersenjata”, jawab Ter Poorten. “lalu untuk apa tuan2 datang kemari?” tanya Imamura gusar. “kami datang bukan atas kemauan sendiri, tetapi memenuhi undangan pihak Jepang”, jawab Ter Poorten.

Perundingan berkembang menjadi tegang. Imamura menekankan bahwa pertemuan ini terjadi dalam situasi peperangan. Tujuan pertemuan itu menurut Imamura adalah jelas untuk memastikan: terus berperang atau menyerah. “pembicaraan lain tidak saya layani”, kata Imamura tegas. Tjarda sendiri tetap bersikeras bahwa hal ini hanya dapat diputuskan oleh Ratu Wilhelmina. “Dan untuk menghubungi Sri Ratu sekarang ini tidaklah mungkin”. Berkali-kali pula Tjarda meminta pengertian Imamura bahwa maksudnya menghentikan perang adalah karena tak sampai hati melihat Bandung hancur.

Imamura yang naik pitam lalu menghardik”saya memberi waktu sepuluh menit untuk kalian memutuskan menyerah tanpa syarat atau melanjutkan peperangan”. 
Sebelum meninggalkan ruangan, imamura masih sempat mengancam: “bilamana mengalami jalan buntu, dan kalian masih keras kepala untuk tidak menyerah tanpa syarat, kalian akan saya perintahkan meninggalkan tempat ini. Kalian akan diantar oleh pasukan kami sampai garis pertahanan. Tetapi setibanya kalian di garis gencatan, saya akan mengirimkan pesawat pembom untuk menghancurkan Bandung”.

Tentara Jepang masuk Jawa

Sepuluh menit itu merupakan neraka bagi Tjarda dan Ter Poorten. Tjarda masih tetap yakin bahwa Hindia Belanda akan dapat melawan. Tjarda juga menganggap bahwa masyarakat akan tetap membantu. Tetapi sebagai seorang militer Ter Poorten lebih yakin bahwa kekuatan yang dimilikinya tak akan mungkin mampu menghadapi kekuatan Jepang. Imamura masuk kembali. Ia tak mau lagi bicara dengan Tjarda. Tetapi pembicaraan dengan Ter Poorten pun bukan main seretnya. Permintaan Tjarda untuk diizinkan pulang ke Bandung ditolak mentah2 oleh Imamura. Tjarda akhirnya keluar dari ruangan dan membentaki wartawan foto yang menunggu di luar.

Perundingan Imamura dan Ter Poorten pun akhirnya mengalami jalan buntu. Sebelum mengakhiri perundingan hari pertama, seorang staf Imamura membacakan risalah:
“diperoleh kesan bahwa pihak Hindia Belanda tidak berkeinginan lagi untuk melanjutkan peperangan. Sungguhpun demikian, pihak Belanda belum lagi dapat memutuskan untuk menyerah. Pemerintah Hindia Belanda masih tetap memperpanjang pembicaraan dengan menggunakan tipu muslihat dan memakai Kruideniers Politiek atau politik warung hingga saat2 terakhir. Balatentara Dai Nippon memandang rendah sikap demikian”.

Pertemuan berikutnya yang semula diminta Imamura mulai pukul sepuluh pagi, ditawar Ter Poorten hingga pukul 15.30 karena jarak Kalijati-Bandung yang waktu itu memakan waktu empat jam. “tapi ingat”, ancam Imamura, “bila ini diingkari, pesawat2 pembom Jepang akan disiapkan untuk menghancurkan Bandung”.

Bandung, 9 Maret 1942

Ter Poorten mengumpulkan seluruh staf perwira di Markas Besar Komando. Pagi itu juga Ter Poorten berhasil menyusun konsep kapitulasi tanpa syarat. Pukul 07.45 suara Ter Poorten dikumandangkan melalui radio NIROM. Sepuluh instruksi penyerahan diri dan penghentian perlawanan itu tidak saja berlaku bagi Angkatan Darat, tetapi juga Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Siaran itu dilakukan berulang-ulang hingga pukul 12.00. Telegram pun dikirimkan kepada setiap instalasi Hindia Belanda untuk menyerahkan diri pada resor Jepang terdekat. (langkah ini diikuti pihak sekutu pada tanggal 12 Maret 1942).

Ternyata Ter Poorten tiba satu jam sebelum waktu yang ditentukan di Kalijati. Imamura menanyakan apakah pihak Hindia Belanda telah mengumumkan penyerahan melalui radio. Ter Poorten menjawab apa adanya. “kami kira sudah cukup tuan selaku Panglima Tertinggi telah bersumpah untuk menyerah tanpa syarat. Kami mengerti pula penderitaan Tuan. Dan sebagai Panglima Tertinggi kami sangat iba”, kata Imamura. Kemudian Ter Poorten menyerahkan surat resmi penyerahan diri kepada Imamura.

Ter Poorten sebagai POW (Prisoner of War) dan baru dibebaskan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Manchuria.

Perundingan ini menghindarkan Bandung dari pertumpahan darah. Pada malam hari terdengar suara terakhir dari penyiar radio NIROM yang menggunakan bahasa Belandanya yang terakhir: Wij sluitern nu, vaarwel tot betere tijden. Leve de Koningin”. Siaran kami tutup sekarang, selamat berpisah sampai masa yang lebih baik. Hidup Sri Ratu!……………dan tamatlah pula riwayat Hindia Belanda di Indonesia.

Sumber : Artikel majalah Mutiara 3-16 Maret 1982

One thought on “Imamura vs Ter Poorten

  • 16 June 2020 at 6:22 pm
    Permalink

    Dan Hitoshi Imamura empat tahun kemudian menjadi tawanan Belanda dan hampir saja di hukum mati jika tidak di selamatkan oleh Bung Karno karena dia harus bertanggung jawab atas terbunuhnya para perwira sekutu dg cara tidak manusiawi

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *