Insiden Teluk Sidra Kedua, 4 Januari 1989: Duel F-14 Tomcat vs MiG-23 Flogger

Setelah dua F-14 Tomcat dari Skuadron VF-41 Black Aces asal Kapal Induk USS Nimitz (CVN-68) menembak jatuh dua pesawat tempur Su-22 Fitter AU Libya pada tanggal 19 Agustus 1981 dan setelah Operasi El Dorado Canyon, yakni serangan udara yang diluncurkan pada tanggal 15 April 1986 terhadap Libya, Kolonel Gaddafi dan rezimnya tidak lagi menjadi prioritas tinggi bagi militer AS. Namun pada akhir tahun 1988, ketegangan antara Washington dan Tripoli kembali meningkat. Saat itu, pemerintah Amerika Serikat menuduh Libya membangun pabrik senjata kimia di dekat kota Rabta dan sekali lagi Gaddafi memperingatkan AS agar tidak ikut campur dalam urusan Libya, dengan mengulangi ancaman untuk melakukan tindakan militer. Menanggapi ancaman Gaddafi, USS John F. Kennedy (CV-67) dan kelompok tempurnya dikirim untuk melakukan latihan “kebebasan bernavigasi” di lepas pantai Libya. Sekali lagi Amerika dan Libya akan bentrok dalam sebuah insiden yang dikenal sebagai Insiden Teluk Sidra Kedua. Bentrokan itu terjadi di atas Laut Mediterania sekitar 40 mil (64 km) utara Tobruk, Libya.

Ilustrasi saat F-14 Tomcat AL AS menembak jatuh sepasang Su-22 Fitter dalam insiden Teluk Sidra pertama tahun 1981. 8 Tahun kemudian kedua kekuatan udara akan berduel lagi di tempat yang sama. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

LATAR BELAKANG

Pada tahun 1980-an – jauh sebelum peristiwa 9/11 ketika fokus militer AS telah bergeser sepenuhnya ke wilayah Timur Tengah – kapal induk Amerika biasanya menghabiskan waktu masa penempatan mereka di Laut Mediterania dengan bermain kucing-dan-tikus dengan Angkatan Laut Soviet, melakukan latihan antar negara dengan Sekutu-sekutu NATO-nya, dan memiliki banyak kebebasan besar untuk berlayar ke pelabuhan-pelabuhan di sekitar situ, seperti di Cannes dan Malta. Selama waktu itu juga terdapat seorang yang menjengkelkan namun gigih bernama Muammar Gaddafi yang merupakan diktator Libya. Beberapa dekade sebelum Gaddafi menemui ajalnya secara mengenaskan di tangan pemberontak, ia melakukan berbagai upaya untuk memprovokasi kapal-kapal dari Armada Keenam Angkatan Laut AS, terutama dengan mengklaim bahwa seluruh wilayah Teluk Sidra adalah perairan milik Libya. Dia menyebut garis di sepanjang bagian paling utara dari teluk itu sebagai “Garis Kematian” dan memperingatkan bahwa setiap kapal atau pesawat Amerika yang melintasinya akan berhadapan dengan kekuatan penuh dari militer Libya. Menanggapi hal itu pesawat-pesawat dari wing udara kapal induk Amerika secara rutin terus terbang di dalam area “Garis Kematian” sebagai bagian dari operasi “kebebasan bernavigasi” Angkatan Laut Amerika (alias “operasi FON”/Freedom Of Navigation) yang dirancang untuk membuktikan komitmen terhadap konvensi hukum kelautan internasional yang menyatakan bahwa Teluk Sidra sebenarnya adalah sebuah teluk, oleh karena itu satu-satunya perairan teritorial yang dapat diklaim Libya adalah perairan yang membentang sejauh 12 mil dari garis pantainya, yang bertentangan dengan klaim Libya tersebut. Operasi FON pada umumnya membosankan karena militer Libya tidak menanggapi sama sekali aksi FON dari kapal-kapal Amerika meskipun telah terlontar berbagai gertakan dari Gaddafi. Pesawat-pesawat tempur mereka biasanya akan menghabiskan waktu berjam-jam melakukan patroli udara tempur mengarungi langit tanpa ada satu vektor pun peringatan dari pengontrol di pesawat peringatan dini yang layar radarnya nyaris bebas gangguan dari tanda-tanda aktivitas musuh.

Muammar Gaddafi, salah satu lawan Amerika paling “Top” di era tahun 1980an. (Sumber: https://www.pri.org/)
“Garis kematian” imajiner Muammar Gaddafi di Teluk Sidra yang tidak pernah diindahkan oleh Militer Amerika. (Sumber: https://harpgamer.com/)

DUEL F-14 VS MIG-23

Insiden Teluk Sidra kedua terjadi pada tanggal 4 Januari 1989 akhirnya pecah ketika dua pesawat tempur F-14 Tomcat Angkatan Laut Amerika Serikat menembak jatuh dua pesawat tempur MiG-23 Flogger milik Libya yang tampaknya berusaha untuk menyerang mereka, seperti yang terjadi delapan tahun sebelumnya di insiden Teluk Sidra yang pertama, pada tahun 1981. Pada tahun 1989, ketegangan antara Libya dan AS meninggi setelah AS menuduh Libya membangun pabrik senjata kimia di dekat Rabta, dimana hal ini menyebabkan AS mengerahkan kapal induk USS John F. Kennedy di dekat pantainya. Sementara itu, Grup kapal induk kedua, yang berbasis di sekitar kapal induk USS Theodore Roosevelt, juga sedang dipersiapkan untuk berlayar ke Teluk Sidra. Pada pagi hari tanggal 4 Januari 1989, Grup Tempur USS John F.  Kennedy sedang beroperasi sekitar 130 km sebelah utara Libya dan sedang berlayar ke arah timur untuk berlabuh di Haifa, Israel, dengan sekelompok pesawat serang A-6 Intruder berlatih di selatan Pulau Kreta, dengan dikawal oleh dua pasang F-14A dari Skuadron VF-14 “Tophatters” dan VF- 32 “The Swordman”, dan juga sebuah pesawat peringatan udara (AWACS) E-2C Hawkeye Skuadron dari VAW-126. Kemudian pagi itu Patroli Udara Tempur di bagian paling selatan dilakukan oleh dua pesawat tempur F-14 dari Skuadron VF-32 (dengan crew CDR Joseph Bernard Connelly / CDR Leo F. Enwright di pesawat BuNo 159610, ‘AC207’, callsign “Gypsi 207”) dan (dengan crew LT Hermon C. Cook III / LCDR Steven Patrick Collins di pesawat BuNo 159437, ‘AC202’ callsign “Gypsi 202, ada juga yang menulis sebagai Gypsi 204). Para perwira telah diberi pengarahan khusus untuk misi ini karena ketegangan yang tinggi terkait kehadiran Grup Kapal Induk mereka di Teluk Sidra; para pilot diberi tahu untuk siap sedia menghadapi semacam tindakan permusuhan dari pihak Libya. Kedua F-14 hanya dipersenjatai dengan empat rudal jarak menengah AIM-7 Sparrow dan dua rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder, karena mereka diluncurkan sebelum pemuatan senjata yang diinginkan, yang terdiri dari dari empat AIM-7 dan empat AIM-9 selesai dilakukan, jadi mereka kekurangan 2 rudal AIM-9. Setelah diisi bahan bakar oleh pesawat tanker KA-6D Intruder, dua F-14 itu dengan Gipsy 207 memimpin, kembali ke misi CAP mereka, ketika Hawkeye, dengan callsign “Closeout”, memperingatkan mereka tentang kehadiran pesawat Libya.

USS John F Kennedy (CV-67). Pada saat insiden Teluk Sidra Kedua, 4 Januari 1989, Kapal Induk USS John F Kennedy (CV-67) sedang dalam misi latihan dan berlayar menuju ke Haifa, Israel. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Pesawat Peringatan Dini E-2C Hawkeye dari Skuadron dari VAW-126, yang terlibat dalam Pertempuran Udara diatas Teluk Sidra tahun 1989. (Sumber: http://www.seaforces.org/)

Pada Pukul 11:50, setelah beberapa waktu berpatroli, pesawat AWACS E-2 memberi tahu para crew F-14 bahwa empat MiG-23 Libya telah lepas landas dari lapangan terbang Al Bumbah, dekat Tobruk. Kedua F-14 dari Skuadron VF-32 itu segera berbelok menuju kearah dua MiG-23 Flogger pertama yang terbang sekitar 50 km di depan pasangan Flogger kedua dan mendapatkan mereka terdeteksi di radar, sementara pesawat-pesawat Tomcat dari Skuadron VF-14 tetap bersama grup pesawat A-6 yang menjalankan latihan. Pada saat itu kedua Flogger berada pada jarak 72 mil laut (133 km) jauhnya di ketinggian 10.000 kaki (3.000 m) dan langsung menuju kearah kedua Tomcat dan kapal induk Amerika. Melihat hal ini kedua F-14 segera berbalik dari posisi berhadapan langsung dengan pesawat lawan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak mencoba untuk mengajak bertarung. Namun kedua Flogger mengubah jalur terbang mereka untuk melakukan manuver pencegatan dengan kecepatan mendekati sekitar 870 knot (1.610 km / jam). Kedua F-14 lalu turun ke ketinggian 3.000 kaki (910 m) untuk memberi mereka gambaran radar yang lebih jelas dari kedua Flogger di langit dan meninggalkan Floggers dalam kesulitan mendeteksi mereka. Empat kali lagi F-14 berbalik, namun MiG terus bermanuver mendekat. Pada pukul 11:59 Radar Intercept Officer (RIO) Tomcat yang memimpin diperintahkan untuk mempersenjatai rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-7 Sparrow yang dibawanya. Crew Pesawat E-2C telah memberi wewenang kepada crew F-14 untuk menembak jika merasa terancam; awak F-14 tidak harus menunggu sampai pihak Libya melepaskan tembakan. 

Gypsy 207, F-14A Tomcat dari Skuadron Udara VF-32 “The Swordsmen” yang terlibat dalam Pertempuran Udara 4 Januari 1989 diatas Teluk Sidra. (Photo Credit: US Navy/http://fly.historicwings.com/)
F-14 Tomcat kedua yang terlibat dalam pertempuran 4 Januari 1989. (Sumber: http://fly.historicwings.com/)

Hampir pukul 12:01, RIO Tomcat pimpinan mengatakan bahwa “Bogeys (sebutan untuk pesawat musuh) telah menyerang saya lagi untuk kelima kalinya. Mereka ada di depan saya sekarang, dalam jarak 20 mil ”, yang diikuti segera dengan perintah “ Master arm on” saat dia memerintahkan pengaktifan senjata. Pada jarak 14 mil laut (26 km) RIO dari F-14A yang memimpin menembakkan rudal jarak menengah AIM-7M Sparrow pertama; dia mengejutkan pilotnya, yang tidak menyangka akan melihat rudal bergerak menjauh dari Tomcat-nya. RIO melaporkan “Fox 1. Fox 1.” Sparrow gagal melacak targetnya karena pengaturan setting yang salah. Pada jarak 10 mil laut (19 km), ia meluncurkan rudal Sparrow kedua, tetapi juga gagal melacak targetnya. Kedua Flogger berakselerasi dan terus mendekat. Pada jarak 6 mil laut (11 km), kedua Tomcat berpisah dan kedua Flogger membuntuti Tomcat wingman sementara Tomcat pemimpin berputar untuk mendapatkan sudut yang tepat dibelakang ekor mereka. Tomcat Wingman lalu menembakkan rudal Sparrow ketiga dari jarak 5 mil laut (9,3 km) dan menjatuhkan salah satu pesawat Libya. Tomcat yang memimpin sekarang telah mendapatkan kuadran di belakang Flogger terakhir. Setelah mendekati hingga jarak 1,5 mil laut (2,8 km) pilot Tomcat itu menembakkan rudal jarak dekat Sidewinder, yang terbang tepat mencapai sasarannya. Kedua Tomcat lalu melanjutkan perjalanan ke utara untuk kembali ke Grup Kapal Induknya. 

Pesawat tempur MiG-23 Flogger yang digunakan AU Libya dalam Insiden Teluk Sidra kedua tahun 1989. (Sumber: https://hushkit.net/)

TRANSKRIP RADIO

Transkrip pada radio yang kemudian dirilis mengungkapkan gentingnya situasi saat itu: 

Gypsy 207 (F-14 Tomcat) RIO Collins: “Gipsi 207 kontak pada posisi 175, jarak 72 mil, tampak seperti penerbangan dua pesawat, Ketinggian 10 (10 artinya 10 ribu kaki).”

CLOSEOUT (E-2C Hawkeye): “jarak terdeteksi, menunjukkan 78 mil.” 

Gypsy 204 (F-14 Tomcat) RIO Enright: “Kurangi kecepatan sedikit.” (Petugas Radar Intercept meminta pilot untuk memperlambat laju pesawat sehingga dapat memberikan lebih banyak waktu baginya untuk mengunci target dan pesawat Libya untuk merespons.) CLOSEOUT: “Target menunjukkan jarak mendekat 25 mil” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Kontak tampaknya sedang menuju, ah, 315 sekarang, kecepatan 430, ketinggian sekitar 8.000.” 

CLOSEOUT: “Roger Ace, bawa ke utara.” Gypsy 204 Pilot Cook: “Sepertinya kita harus membuat putaran cepat di sini.” Gypsy 204 RIO Enright: “Ayo ke kanan, ah aku harus memberimu arahan di sini. Ya, datanglah ke kanan sekitar 40. ” 

Gypsy 207 RIO Collins: “207 ah, 61 mil sekarang, arah 180, Ketinggian 8, menuju ke, uh, 330.” 

Gipsi 204 RIO Enright: “teruslah kesana.” CLOSEOUT: “Alpha Bravo this is Closeout.”

Gypsy 204 RIO Enright: “Kembalilah ke kiri, ah, 20 derajat ke sini, dia berbelok sekarang.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Bogies tampaknya datang, ah, bergeser ke kanan sekarang, menuju, eh, utara, kecepatan 430, ah, ketinggian 5.000 sekarang turun. Jadi ayo jatuhkan dia sekarang, kita akan turun. ” 

CLOSEOUT: “Concur.”

Pada titik ini, pesawat masih berjauhan, tetapi terbang sangat cepat. F-14A Tomcat memilih untuk turun untuk memastikan bahwa radar mereka mendapatkan posisi penguncian yang jelas tanpa gangguan yang mungkin mengganggu gambaran radar atas musuh mereka. 

Gypsy 207 RIO Collins: “Jarak, 85 mil sekarang. Bogies tampaknya langsung menuju ke arah kita. Saya menuju…. Ke arah 150 offset 33 derajat, 50 mil, 49 mil sekarang, kecepatan 450, ketinggian 9, saya akan turun ke ketinggian 3. ” 

Gypsy 204 Pilot Cook: “Ya, mereka tidak pergi.” 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Oke”. 

Gypsy 207 RIO Collins: “Baiklah, sekarang offset 30 derajat. Bogies menuju ke arah 340, kecepatan 500, ayo berakselerasi. ” Gypsy 207 Pilot Connelly: “Oke, sepertinya mereka sekarang berada di ketinggian 9.000 kaki.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, para bogies kembali ke arah kita sekarang, sekarang mari kita ke kanan 30 derajat di sisi lain.” Gypsy 204 Pilot Cook: “Datang ke arah kanan, katakan ketinggianmu.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Roger, ketinggian sekarang 11, siap.” 

CVG-67 Kennedy Shipboard Air Command (Alpha Bravo): “closeout ah, Peringatan kuning, senjata ditahan, saya ulangi, peringatan kuning, senjata ditahan. Alpha Bravo keluar. ” 

CLOSEOUT: “Roger, Gipsi, kami lewati, Alpha Bravo mengarahkan peringatan kuning, senjata ditahan.” 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “jarak35 mil di sini.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Baiklah. Bogies telah kembali ke arahku sekarang untuk ketiga kalinya. Mereka berada di 35 mil, Ketinggian 7. ” 

CLOSEOUT: “Alpha Bravo, closeout, apakah Anda mendengar?”

Dalam misi patroli udara pengamanan Kapal Induk, F-14 Tomcat selain mengandalkan radarnya yang kuat jua dibantu oleh pesawat peringatan dini E-2C Hawkeye. (Sumber: https://sierrahotel.net/)

Pada titik ini, pilot Angkatan Laut AS telah berulang kali berusaha untuk berbalik dan bermanuver untuk memposisikan diri mereka pada posisi yang menguntungkan ketika ancaman yang datang. Namun, setiap kali pula, kedua pilot Libya yang menerima panduan GCI (Ground Control Intercept/kontrol pencegatan dari operator di darat) menyesuaikan jalur terbangnya guna memastikan bahwa pesawat-pesawat F-14 tidak mendapatkan keuntungan apa pun. Dengan setiap belokan (atau “jink” dalam bahasa pilot pesawat tempur Angkatan Laut AS), pesawat Libya mematahkan manuver pesawat Amerika dan terus menekan, memastikan mereka berhadap-hadapan langsung, yang merupakan harapan terbaik mereka (meski tipis) untuk secara efektif bisa menghadapi pesawat Amerika. 

Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, saya mengambil arah lain, kanan, kanan, ah, 210.” 

CLOSEOUT: “Teman-teman, saya menguncinya di sini 30 mil, ketinggian 13.000, dia yang mengikuti.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Diterima, bogie kembali mengikuti saya untuk keempat kalinya. Saya kembali ke kanan. Saya kembali ke kiri sekarang. Ke kiri 27 mil, Bogie berada di ketinggian 7.000 kaki. ” Gypsy 207 Pilot Connelly: “Kami ada di ketinggian 5.” 

CVG-67 Kennedy Shipboard Air Command (Alpha Bravo): “Awas, bogies diarah 135-50, ketinggian 16, menuju ke 340”. (Peringatan ini untuk kedua MiG Libya, tetapi disalahartikan oleh CLOSEOUT yang berarti bahwa pasangan tersebut siap bertempur dan ancaman tidak diteruskan.) 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Oke.” CLOSEOUT: “Roger, musuh yang sama.” Gypsy 207 Pilot Connelly: “Oke, Anda sedang berhadapan sekarang, ganti arah.” Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, para bogies kembali menyerang saya untuk kelima kalinya. Mereka ada di depan saya sekarang. Dalam jarak 20 mil. ” 

Sistem pencegatan yang dipandu oleh pengontrol darat (GCI). Taktik ini ini bagus jika dipandu dengan benar, akan tetapi jika pertempuran menjadi cair dalam jarak dekat, inisiatif pilot akan sangat menentukan hasil akhir pertempuran. (Sumber: https://forum.baloogancampaign.com/)

Pesawat Libya kini telah mendekati dalam jangkauan yang pas. Bagi pilot Angkatan Laut AS, ini berarti mereka harus segera melawan dan menembak jatuh pesawat itu. Pesawat-pesawat Libya berada pada ketinggian hampir 11.000 kaki lebih tinggi dari pesawat Amerika, yang memilih untuk turun untuk meningkatkan kinerja radar mereka, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Pesawat Libya, bagaimanapun, memiliki sistem radar yang jauh lebih rendah dan mungkin tidak bisa mendapatkan gambaran radar yang baik tentang ancaman yang mereka hadapi. Mereka hanya mengikuti panduan GCI saja – Radar Warning Receiver (RWR) segera terdengar di file audio dari F-14, sehingga pesawat-pesawat Libya tidak pernah bisa mengunci untuk menembak. Pesawat-pesawat Amerika kemudian melanjutkan untuk melawan mereka dengan maksud untuk menghancurkan dua pesawat Libya itu.

Gypsy 207 RIO Collins: “Master arm on, master arm on.” (Suara peringatan Master Arm di latar belakang.) 

CLOSEOUT: “Oke, Good Light” 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Good Light” Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, sedang memusatkan ke posisi T, bogie telah berbalik kembali ke saya lagi, 16 mil, di tengah titik.” 

CLOSEOUT: “Katakan ketinggianmu.” Gypsy 207 RIO Collins: “Saya di ketinggian 5, menanjak.” 

CLOSEOUT: “Tidak, ketinggian dia.”

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Tidak, tunggu sebentar.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “ketinggian mereka berada di 9!” 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Alpha Bravo dari 207.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “13 mil. Fox 1! Fox 1! ” 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Ah, Jesus!” 

Pilot Tomcat Gypsy 207, Joseph B. Connelly, terkejut melihat salah satu rudalnya diluncurkan, karena serangan itu tidak dikoordinasikan dengan baik oleh RIO-nya, Steven P. Collins. Beberapa detik kemudian, rudal AIM-7M Sparrow itu gagal melacak sasaran dengan benar. RIO Collins secara tidak benar telah salah mengatur penembakan rudal sebelum diluncurkan, yang mengakibatkan kegagalannya (ini adalah masalah berulang yang kerap dialami saat peluncuran rudal AIM-7M Sparrow dari F-14A Tomcat pada saat itu.)

Rudal jarak menengah AIM-7 Sparrow yang digunakan untuk menjatuhkan MiG-23 Libya pada pertempuran 4 Januari 1989. Sparrow yang dipandu radar memang dapat menjangkau sasaran lebih jauh dari rudal jarak dekat berpemandu inframerah AIM-9 Sidewinder, namun Sparrow masih memerlukan panduan dari pesawat yang menembakkan hingga rudal menghantam sasaran, akibatnya Sparrow kerap dinilai kurang reliable dibanding dengan Sidewinder yang sederhana tapi dapat dianggap sebagai rudal “Fire And Forget”. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Gypsy 204 Pilot Cook: “berpencarlah ke kanan” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Baiklah, 10 mil, dia kembali didepanku. Fox 1 lagi! ” (Kali ini, sakelar disetel dengan benar dan misil melacak target dengan benar – namun, perlu waktu untuk mencapai target.) Gypsy 207 Pilot Connelly: “awasi mereka.”

Gypsy 207 RIO Collins: “6 mil, 6 mil.” 

Gipsi 204 RIO Enright: “Tally 2, Tally 2! Mereka gantian kearah saya. ”

RIO di Gypsy 204, Leo F. Enright, melihat dua MiG-23 Libya karena mereka sekarang hanya enam mil di depannya. Kedua pesawat Libya mendekat dengan cepat dan telah meniadakan keunggulan sistem penembakan jarak jauh F-14 dengan rudal Sparrow mereka. Pada titik ini, pertempuran itu terancam akan berubah menjadi pertempuran udara gaya jaman dulu. Pesawat-pesawat Libya telah menjalankan taktik mereka dengan baik dan pesawat pemimpin Tomcat Angkatan Laut AS, Gypsy 207, telah membuat dua kesalahan saat menembakkan rudal berpemandu radar AIM-7M Sparrow miliknya. 

Gambaran singkat pertempuran udara di Teluk Sidra, 4 Januari 1989. (Sumber: https://military.wikia.org/)

Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, jarak sekarang 5 mil. . . 4 mil. ” 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Oke, lepaskan rudal.” 

Gypsy 204 RIO Enright: “Menikunglah kekanan. ” 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Tembakan bagus, tembakan bagus!” (Rudal AIM-7M Sparrow ketiga yang ditembakkan mengenai MiG-23 dan berhasil menjatuhkannya.) 

Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, tembakan yang baik, tembakan yang baik!” 

Gypsy 204 Pilot Cook: “Saya akan mendapatkan yang satunya lagi.” 

Gypsy 204 RIO Enright: “Pilih Fox 2, pilih Fox 2 !!” 

Gypsy 204 Pilot Cook: “Aku memilih Fox 2.” (Cook mengacu pada tombol pilihan yang sudah diubah untuk memilih rudal pencari panas jarak dekat AIM-9M Sidewinder.) 

CLOSEOUT: “Perhatikan jejaknya.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Belok ke kanan. ” Gypsy 204 Pilot Cook: “Sialan dia!” 

Gipsi 204 RIO Enright: “Tembak dia!” 

Gypsy 204 Pilot Cook: “Saya belum mendapat suaranya (Rudal Sidewinder akan menimbulkan suara dengungan saat menjejak targetnya.)”

Gypsy 207 RIO Collins: “Itu yang kedua.” Gypsy 204 Pilot Cook: “Saya sudah mendapatkan yang kedua di depan saya sekarang.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, saya melindungi Anda.” 

Gypsy 204 Pilot Cook: “Dapatkan Fox, dapatkan, kunci dia! Kunci dia. ” 

Gipsi 204 RIO Enright: “Di sana! Tembak dia, Fox 2! ” 

Gypsy 204 Pilot Cook: “Saya tidak bisa! Saya tidak mendapatkan suaranya fxxxking. ” (Ketenangan dan nada datar dari pilot, bahkan dengan frase mengumpat, itu menarik; dia tampaknya sedang menyelesaikan masalahnya dan untuk sesaat marah karena sistemnya tidak bekerja sebagaimana mestinya – namun dia meluangkan waktu untuk menyelesaikan masalah saat dia terus membuntuti MiG untuk mendapatkan posisi menembak yang tepat.)

Rudal AIM-9 Sidewinder: sederhana, reliable dan mematikan. (Sumber: http://vnfa2.tripod.com/)

Pada titik ini, pilot Gypsy 204, Hermon C. “Munster” Cook III, mendapati MiG-23 Libya telah berada sempurna di HUD-nya (display pada kokpit yang membantu penembakan). Semuanya nampak baik-baik saja dan dia berada dalam jarak 1,5 mil dari MiG, tepat di belakangnya. Anehnya, pilot tidak mendengar nada dengungan rudal dari rudal AIM-9M Sidewinder. Beberapa saat kemudian, Cook menyadari bahwa dia telah mengecilkan volume hingga nyaris mati. Saat memutar kenop, dia disambut oleh nada geraman sempurna dari rudal, yang telah melacak target dengan sempurna. Adapun pilot MiG Libya, mereka tampaknya tidak dapat mengikuti arah pertempuran udara yang berubah dengan cepat. Gypsy 204 melakukan pengereman awal dan kemudian berbalik untuk berada di belakang MiG Libya, menarik hingga menimbulkan beban gravitasi 5G dalam manuver terus menerus. Setelah terlalu dekat untuk dijangkau untuk sistem senjata berbasis radar, pilot Gypsy 204 memilih rudal pencari panas, yang dapat ditembakkan oleh pilot di kokpit depan dan RIO, Leo F. Enright, dialihkan ke peran yang berbeda dalam pertempuran, dengan tetap membuka matanya dan melacak keseluruhan gambar pertempuran dan merencanakan jalan keluar setelahnya, sehingga membebaskan pilot untuk berkonsentrasi melakukan serangan. Pilot MiG Libya, yang seharusnya berbelok dengan tajam di tengah pertempuran udara yang ketat dan memerlukan inisiatif, tidak bermanuver secara efektif. Tampaknya sementara sementara awalnya memperoleh instruksi GCI yang sempurna, namun setelah melawan F-14 selama beberapa lama, sekarang setelah pertempuran berlangsung, pilot Libya tidak memiliki inisiatif individu untuk melawan secara “satu lawan satu” dalam pertarungan yang saling berkejar-kejaran. 

Tampilan Head Up Display (HUD) yang amat membantu pilot sehingga tidak perlu sering-sering memperhatikan instrumen pesawat. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Gypsy 204 Pilot Cook: “Nada (rudal Sidewinder) sudah siap!” (Setelah kenop volume diputar, nada langsung menggeram ke volume tinggi.) 

Gypsy 204 RIO Enright: “Fox 2.” (RIO menyebut peluncuran via pilot dari rudal pencari panas AIM-9M Sidewinder.) 

Gypsy 204 Pilot Cook: “Tembakan yang bagus! Tembakan yang bagus! ” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, kill yang bagus.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Pilot melompat keluar.” 

CLOSEOUT: “Pilot keluar dari yang pesawat kedua.” (E-2C Hawkeye menyampaikan laporan radio ke Komando Udara di USS Kennedy (Alpha Bravo).

Selama beberapa detik yang singkat, kedua F-14 mengamati dua parasut pilot Libya saat mereka turun kedalam air. Mereka juga mengamati dampak kehancuran dari dua MiG-23 di dalam air. Kemudian mereka berbelok dan turun, melaju menjauh dan ke utara. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Libya memiliki dua pesawat MiG-23 lainnya di udara, meski mereka berada 50 km lebih jauh ke selatan, dan ini dianggap sebagai ancaman bagi para pilot dan RIO kedua Tomcat. Meskipun mereka mungkin juga bisa menyerang dan menembak jatuh keduanya, namun mereka tidak tahu di mana kedua pesawat itu sekarang berada. Asumsi mereka adalah bahwa dua MiG lainnya cukup jauh atau telah menghindari pelacakan karena pesawat radar peringatan dini, E-2C Hawkeye “Closeout” tidak memberikan laporan tentang keduanya selama pertarungan sebelumnya. Faktanya, “Closeout” menyampaikan kehadiran keduanya sebelumnya tetapi peringatan itu disalahartikan oleh dua kru Tomcat. 

Kamera senjata dari F-14 Tomcat pemimpin yang menunjukkan MiG-23 kedua meledak setelah dihantam oleh rudal AIM-9 Sidewinder. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Gypsy 204 RIO Enright: “Oke Munster, ayo ke utara, ke utara.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Oke. kesisi kiri menanjak. ” 

Gipsi 204 RIO Enright: “Oke.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Baiklah. Berbalik saja. Pergi ke utara, ayo turunlah, ke kecepatan 500 knot, ayo kita pergi dari sini. ” 

Gypsy 204 Pilot Cook “Oke, dua penembakan yang bagus.” 

CLOSEOUT: “Di sini terlihat 2 parasut di udara, dari Munster.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Oke, saya mengerti, ah–.” 

Gypsy 207 Pilot Connelly: “Saya juga melakukan penembakan, satu penembakan.” 

Gypsy 207 RIO Collins: “Satu tembakan.”

Gypsy 204 RIO Enright: “Turunkan ke, ah, 3.000 di sini Munster.” 

CLOSEOUT: “The, ah, splash 160 at 96.” Gipsi 204 RIO Enright: “Ayo pergi, Munster turun menjadi 3.000 dan ayo keluar dari sini.”

CATATAN-CATATAN

Setelah kembali ke kapal induk, kedua pesawat Tomcat itu segera dipasangi tanda ‘kill’ sebuah Flogger di atas hidungnya, meskipun tanda ini lalu dihapus pada saat jet ini kembali ke Oceana pada tanggal 31 Januari; Kennedy kemudian berlabuh di Norfolk keesokan harinya. Meski demikian Pesawat CO GYPSY 201 (BuNo 162694), bagaimanapun, kembali ke Oceana dengan bendera Libya dicat di sebelah nama kru (yakni Connelly dan Collins – membuat beberapa penulis kemudian percaya bahwa itu adalah pesawat yang sama selama pertarungan yang sebenarnya) di rel kanopi pesawat. Karena detail pertempuran secara bertahap dibuka, siluet ganda dari MiG-23 lalu ditambahkan pada saat  pengecatan ulang yang diterapkan pada pesawat milik CAG dan CO pada akhir tahun 1989. Sementara itu, meski kru sepasang Tomcat itu mendapatkan gelar “MiG killer”, yang menjadikan mereka bagian dari catatan langka dalam sejarah peperangan udara modern, instruktur di Navy Fighter Weapons School menyimpulkan kinerja pilot Tomcat yang memimpin sebagai “secara profesional memalukan.” (Salah satu anggota senior dari staf Top Gun menggambarkan penembakan itu seperti “meninju anak-anak yang keluar dari bus sekolah.”) Juga diceritakan bahwa penghargaan Fighter Pilot of the Year tahun itu tidak diberikan kepada pilot pemimpin – yang juga kebetulan adalah komandan skuadron – melainkan diberikan kepada wingman-nya, yang saat itu baru saja menjadi letnan pada tur pertamanya. Dalam catatan Tomcat Angkatan Laut Amerika, kedua kemenangan udara itu tercatat menjadi kemenangan ke-3 dan ke-4 dari total 5 kemenangan udara yang pernah dibukukan oleh F-14 Tomcat mereka. (2 kemenangan lainnya diperoleh atas sepasang pesawat serang Sukhoi Su-22 dalam Insiden Teluk Sidra Pertama tahun 1981 dan satu lagi dicatat atas sebuah helikopter Mi-8 pada saat Perang Teluk tahun 1991). Identifikasi Tomcat yang terlibat dalam pertempuran itu bermacam-macam dan narasi di atas menggunakan detail dari kedua crew Tomcat. Namun, sebagian besar sumber lain mengidentifikasi Tomcat wingman sebagai AC202 dan bukan AC204. Akan tetapi semua sepakat bahwa AC207 sebagai pesawat Tomcat yang memimpin.

Siluet MiG-23 dilukis pada Gypsy 202 setelah pertempuran; namun lukisan itu telah dihapus sebelum kapal kembali berlayar. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Bagaimanapun pertempuran ini selanjutnya akan dikenang sebagai salah satu pertempuran jet klasik era tahun 1980-an dimana dalam pertempuran telah mengadu pilot Angkatan Laut AS yang secara teknis lebih unggul, yang juga lebih berpengalaman dan terampil, melawan pilot tempur Libya berkualitas rendah, yang kurang terlatih yang hampir pasti menjalankan misi one way ticket. Meski demikian terlepas dari liputan media yang positif pada saat itu, pertempuran tersebut menunjukkan bahwa bahkan kru penerbang terbaik yang terlatih pun dapat membuat kesalahan – dan tetap menang. Pertempuran itu bisa saja berakhir berbeda, namun hanya karena kegigihan pilot Amerika dan petugas radar nya (RIO) di kedua F-14A Tomcat dan penguasaan serta kendali mereka atas situasi udara di semua fase pertempuran itu telah menghindarkan mereka dari bencana. Sederhananya, pilot Angkatan Laut Amerika memang membuat kesalahan tetapi mereka bisa pulih dengan cepat dan tidak pernah membiarkan situasi pertempuran udara keluar dari kendali mereka. Sepanjang pertarungan, bahkan ketika pesawat Libya berputar dan berbalik, pilot Amerika bisa melakukan manuver balasan yang efektif. Namun pertempuran ini juga bukanlah pertempuran sepihak, pertempuran tersebut menggambarkan komando dan kontrol yang sangat baik juga dari pihak Libya, meski pada akhirnya kehilangan dua pesawatnya. Hal ini memang tidak menutupi fakta, bahwa MiG Libya (terutama dari sisi deteksi radar dan persenjataan) dan pilot mereka lebih rendah kualitasnya dalam segala hal dibanding pilot-pilot Amerika. Jika pihak Angkatan Laut AS membuat kesalahan kecil, AU Libya Libya membuat kesalahan besar. Tidak diragukan lagi, pertempuran tersebut memiliki beberapa kekurangan, tetapi hal ini tidak jarang terjadi dalam pertempuran udara ketika musuhnya “nyata” dan dapat menembak balik, tidak seperti dalam simulasi latihan dimana kesalahan apapun yang dilakukan nyaris tidak akan berefek fatal. Pelatihan pilot Angkatan Laut AS jelas jauh lebih unggul dari pelatihan yang didapat pilot-pilot Libya, yang hanya mengandalkan arahan GCI selama pertempuran. Sekali dalam mereka dalam jarak dekat, bahkan ketika pilot AS membuat kesalahan, kru mereka bereaksi dengan cepat, menyesuaikan diri, dan terus melanjutkan pertempuran. Dalam pertempuran tersebut, pilot-pilot Libya tidak mendapatkan posisi penembakan yang efektif atau punya kesempatan itu – pilot Angkatan Laut AS dan RIO nya tidak pernah memberi mereka kesempatan.

Gambar langka dari salah satu MiG-23 milik AU LIbya. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

Kedua pilot Libya terlihat berhasil mengeluarkan diri dari pesawat dan terjun payung ke laut, tetapi Angkatan Udara Libya tidak dapat menyelamatkan mereka. Tidak diketahui mengapa dua MiG beroperasi dengan cara ini, atau mengapa Libya tidak berhasil meluncurkan operasi penyelamatan untuk menyelamatkan kedua pilotnya.Keesokan harinya, Libya menuduh AS menyerang dua pesawat pengintai milik mereka yang tak bersenjata, dan Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, menyerukan sidang darurat PBB untuk menangani insiden tersebut, tetapi rekaman dari video kamera-senjata kedua Tomcat yang dirilis 2 hari kemudian, menunjukkan bahwa kedua pesawat Libya telah dipersenjatai dengan rudal AA-7 Apex yang punya jangkauan maksimum 12 mil (19,31 km). Tergantung pada modelnya, rudal ini bisa berupa rudal radar-homing semi-aktif atau rudal inframerah-homing (pencari panas), menurut doktrin Soviet era itu, pesawat-pesawat pencegat mereka biasanya membawa satu jenis rudal namun memiliki 2 tipe penjejak pada satu misi, dimana rudal akan diluncurkan sepasang untuk meningkatkan perkenaan target. Idenya adalah jika rudal penjejak radar gagal berfungsi, versi pencari panasnya dapat tetap bekerja, begitu pula sebaliknya. Bukti-bukti yang diberikan Amerika tersebut membantu mendukung argumen AS bahwa MiG-23 Libya memang punya niat bermusuhan. Sementara itu tidak diketahui secara pasti apa maksud sebenarnya dari kedua pesawat Libya pada tanggal 4 Januari. Gaddafi bisa jadi percaya AS sedang mempersiapkan serangan terhadap fasilitas kimia Libya di Rabta dan memerintahkan militernya untuk mengecek apakah pesawat Amerika yang terbang di lepas pantai adalah pembom yang menuju sasaran di Libya. Alasan lain yang mungkin menjelaskan profil penerbangan MiG-23 adalah berkisar dari asumsi bahwa serangan itu sengaja dilakukan hingga kerusakan radio dengan pengontrol darat yang menyebabkan pesawat tempur Libya berhadap-hadapan dengan kedua pesawat F-14.

Salah satu gambar yang menunjukkan MiG-23 AU Libya bersenjata. (Sumber: https://theaviationist.com/)
Rudal AA-7 Apex. (Sumber: https://www.the-blueprints.com/)

Rincian yang dirilis tiga bulan setelah insiden tersebut mengungkapkan bahwa MiG-23 Libya tidak pernah menyalakan radar onboard mereka yang diperlukan untuk memandu mengarahkan rudal AA-7 yang mereka bawa pada jarak maksimum. Belokan yang dilakukan oleh pilot Libya sebelum peluncuran rudal pertama oleh F-14 dianggap terlalu kecil untuk dianggap sebagai tindakan bermusuhan menurut ketua Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, Les Aspin. Terlepas dari temuan ini, Aspin mengatakan klaim pertahanan diri oleh AS masih bisa dibenarkan karena akselerasi dari MiG-23 yang terus berlanjut saat mereka terus menutup jarak dengan F-14, dan hal ini juga didukung oleh fakta bahwa Libya memiliki sejarah untuk melakukan penembakan lebih dahulu, seperti pada Insiden tahun 1981. Sementara itu atas permintaan National Air and Space Museum, Angkatan Laut AS memberikan pesawat BuNo 159610 ke Udvar-Hazy di dekat Bandara Internasional Dulles. Meskipun Tomcat BuNo 159610 dari Skuadron VF-32 yang menjatuhkan MiG-23 Libya berasal dari tipe F-14A Tomcat, namun ia kemudian menjalani program manufaktur ulang untuk diubah menjadi tipe F-14D dan kemudian ditugaskan dalam misi serangan presisi di Skuadron VF- 31. Pada tanggal 30 September 2006, pesawat tersebut diresmikan (di museum) kepada publik dengan pensiunan Kapten Connelly dan Kapten Enwright hadir di podium sebagai tamu kehormatan. Per Agustus 2015, BuNo 159437 masih berada di fasilitas Aircraft Maintenance and Restoration Group (AMARG) di luar Davis-Monthan AFB. Pesawat ini adalah salah satu dari tujuh F-14 yang saat ini tersisa di kompleks AMARG dan belum discrapped karena rencananya akan ditempatkan di beberapa museum di masa yang akan datang. Jika BuNo 159437 jadi dipamerkan di museum, kemungkinan besar ia akan ditempatkan di Kapal Induk USS John F. Kennedy setelah kapal itu sendiri menjadi museum.

F-14 Tomcat BuNo 159610 di Boeing Aviation Hangar, Steven F. Udvar-Hazy Center, Chantilly, VA. (Sumber: https://airandspace.si.edu/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Gulf of Sidra Incident (1989) By Richard Darling; 20/05/2016

This Libyan MiG shootdown by F-14s was both heroic and gooned up By Ward Carroll; April 21, 2015 15:29:29 EST

https://www.wearethemighty.com/articles/this-libyan-mig-shootdown-by-f-14s-was-both-heroic-and-gooned-up

How two F-14 Tomcats shot down two Gaddafi’s MiG-23s, 25 years ago today By Dario LeoneJanuary 4, 2014

Tomcat 4-Qaddafi 0: how two U.S. Navy F-14s shot down two Libyan MiG-23s over the Gulf of Sidra on Jan. 4, 1989 By Dario Leone; Jan 3, 2019

https://www.google.com/amp/s/theaviationgeekclub.com/tomcat-4-qaddafi-0-how-two-u-s-navy-f-14s-shot-down-two-libyan-mig-23s-over-the-gulf-of-sidra-on-jan-4-1989/

SPLASH TWO MIGS POSTED BY HW ON 04 JAN 2013

http://fly.historicwings.com/2013/01/splash-two-migs/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/1989_air_battle_near_Tobruk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *