Interceptor Showdown: F-14 Tomcat vs MiG-25 Foxbat di langit Teluk Persia dan Libya

Pada masanya pesawat MiG-25 Foxbat Soviet pernah secara teratur terbang bebas di atas wilayah udara Iran, dan waktu itu IIAF (AU Kerajaan Iran) tidak memiliki kemampuan untuk mencegat penyusup berkecepatan tinggi ini. Untuk mengatasi problem ini, maka pencarian sebuah pesawat tempur/pencegat baru pun dimulai. Pilot Iran hampir menerbangkan dan menguji setiap pesawat tempur yang tersedia pada saat itu termasuk MiG (beberapa dilakukan secara diam-diam di negara lain, mungkin juga Israel???). Laporan akhir yang menunjukkan pendapat pro dan kontra dari performa setiap pesawat yang telah dicoba, umumnya menyimpulkan bahwa F-14 Tomcat dan F-15 Eagle sebagai pesawat tempur yang terbaik. Pada bulan Agustus 1973, IIAF memilih Tomcat F-14 (Sebagai informasi dari 1970 Irak telah melakukan kontak dengan pemerintah Prancis untuk melengkapi Angkatan Udara mereka dengan Mirage F-1, dan ini adalah faktor lain bagi IIAF untuk memilih F-14 dan mulai merencanakan pembelian, pelatihan para awak, dan pengoperasiannya).

Munculnya MiG-25 Foxbat Soviet yang super cepat dan sering masuk ke wilayah udara Iran, mendorong AU Kerajaan Iran untuk melakukan pengadaan pesawat tempur baru yang mampu menangkal ancaman Foxbat. (Sumber: http://www.scalemodelnews.com/)

Pesanan awal yang ditandatangani pada bulan Januari 1974 mencakup pembelian 30 Tomcat, tetapi pada bulan Juni 50 buah lagi ditambahkan ke dalam kontrak. Pada saat yang sama, Bank-e-Melli milik pemerintah Iran melangkah masuk, dan setuju untuk meminjamkan kepada Grumman senilai $ 75 juta untuk sebagian digunakan menebus pinjaman pemerintah AS sebesar $ 200 juta kepada Grumman, yang baru saja dibatalkan. Pinjaman ini turut menyelamatkan program F-14 dan memungkinkan Grumman untuk mendapatkan pinjaman lebih lanjut sebesar $ 125 juta dari konsorsium bank-bank Amerika, memastikan setidaknya untuk saat ini bahwa program F-14 akan terus berlanjut. Terima kasih tentunya layak ditujukan kepada Bank-e-Melli yang menyelamatkan proyek F-14 Tomcat.

Suntikan dana dari Bank milik Pemerintah Iran bagi Grumman turut berjasa dalam mempertahankan Program F-14 Tomcat. (Sumber: twitter)

Ketika Angkatan Udara Kerajaan Iran (IIAF, berganti nama menjadi Angkatan Udara Republik Islam Iran, IRIAF, setelah Revolusi Islam) membeli F-14 Tomcat, mereka tidak hanya sedang mencari pesawat petarung yang unggul dalam kemampuan manuver dan persenjataan, tetapi juga untuk sebuah pencegat yang sangat fleksibel. IIAF menginginkan sebuah sistem senjata udara yang lengkap, termasuk sensor superior dan senjata jarak jauh yang efektif. F-14 sangat efektif karena radar AWG-9-nya dapat mendeteksi target yang mengudara dari jarak jauh dan secara bersamaan bisa melacak hingga 24 target dan memandu enam rudal AIM-54 Phoenix sekaligus untuk menembak lawan-lawannya. Kombinasi AWG-9/AIM-54 juga memungkinkannya untuk melakukan pencegatan rudal jelajah yang terbang rendah, serta ancaman udara yang mampu terbang tinggi dan cepat seperti MiG-25. Sebelum Revolusi Iran tahun 1979, Iran juga mengorder 714 rudal Phoenix AIM-54A, tetapi hanya 284 yang sempat dikirim pada saat revolusi pecah. Rezim yang kemudian berkuasa membatalkan sebagian besar pesanan, termasuk pesanan 400 rudal Phoenix AIM-54A. Meski demikian kombinasi sistem AWG-9 yang superior dan rudal Phoenix pesanan yang sudah datang akan memegang peranan penting dalam perang yang kemudian pecah melawan Irak.

284 Rudal jarak jauh AIM-54A Phoenix sempat diterima Iran sebelum pesanan dibatalkan oleh Rezim baru Iran. Rudal ini bersama dengan F-14 Tomcat terbukti akan berperan penting dalam Perang yang akan pecah dengan Iran. (Sumber: https://www.artstation.com/)

Latar Belakang

Sementara itu Angkatan udara Irak mulai menerima Foxbat pertamanya, yang terdiri dari 12 pencegat MiG-25P, 12 pesawat pengintai MiG-25R dan enam pesawat latih konversi MiG-25PU pada tahun 1980. Namun, Soviet mengirimkan varian yang dibawah standar teknis yang diminta oleh Irak, jadi Baghdad menolak untuk menerima pesawat-pesawat itu. Moskow akhirnya setuju untuk meningkatkan kemampuan MiG seperti yang diminta dan melatih kru mereka. Seperti yang dilaporkan oleh Tom Cooper dan Farzad Bishop dalam buku mereka unit “F-14 Tomcat Iran dalam pertempuran”, sejak musim gugur 1981, Angkatan Udara Irak (IrAF) mulai menggunakan MiG-25RB untuk membom instalasi minyak Pulau Khark. Aksi-aksi ini pada gilirannya mendorong angkatan udara Iran untuk menerbangkan pesawat pencegat andalannya F-14 Tomcat dalam upaya untuk mencegat armada pengintai yang bisa digunakan untuk mengebom ini. Disini dua pesawat tempur pencegat Perang Dingin yang paling menakutkan siap saling berhadapan. Tetapi ternyata memburu Foxbat Irak bukanlah perkara yang mudah. Terbang dengan kecepatan dan terbang tinggi, Foxbats sangat sulit untuk dicegat. Sebenarnya mencegat MiG-25 adalah serupa latihan berat yang membutuhkan penerbangan presisi tinggi dan operasi dengan kecepatan tinggi, yang menyebabkan beban kerja kokpit berat bahkan ini juga terjadi pada kru IRIAF Tomcat terbaik dan paling agresif.

Sejak musim gugur 1981, Irak mulai menggunakan varian intai-pembom, MiG-25 Foxbat untuk menyerang instalasi minyak di Pulau Khark. (Sumber: https://www.testpilot.ru/)
Pulau Khark yang tepat ada di antara Irak dan Iran. (Sumber: https://www.ursaspace.com/)

Namun demikian pada bulan September 1982, MiG-25RB IrAF mulai menerbangkan misi lebih jauh ke dalam wilayah udara Iran, melakukan misi-misi pengintaian dan penyerangan. Karena misi-misi ini, F-14A yang dikerahkan dari Pangkalan Udara Mehrabad mulai melakukan 24 jam Combat Air Patrols (CAP) di Teheran. Sorti ini awalnya diterbangkan pada ketinggian 30.000 kaki, tetapi ketika MiG-25 mendekat, F-14 harus naik ke 40.000 kaki dan berakselerasi ke kecepatan Mach 1+. Namun karena Foxbats biasanya beroperasi di antara ketinggian 60.000 dan 70.000 kaki dan dengan kecepatan antara Mach 1.9 dan 2.4, mereka terbukti mampu dengan cukup mudah mengelak dan kru IRIAF F-14 harus mengubah ketinggian, posisi, dan kecepatan patroli nya. Kondisi ini masih diperparah dengan adanya perwira Iran yang membelot ke Irak pada tahun 1980 yang turut mengungkapkan cetak biru jaringan radar peringatan dini Iran ke Baghdad. Oleh karenanya Pilot MiG-25 Irak dengan demikian tahu persis di mana dan bagaimana memasuki wilayah udara Iran tanpa diketahui sebelum menambah kecepatan dan menanjak untuk menjalankan misi sebenarnya. Akibatnya, pertahanan udara Iran biasanya terlambat dalam mendeteksi Foxbat, menyebabkan kru F-14 Iran hanya punya waktu tiga sampai lima menit untuk mencoba mencegat pesawat pengintai Irak. Singkatnya, jika tidak ada Tomcat yang terbang tepat di depan MiG-25 Irak yang akan datang, keberhasilan penyergapan hanya memiliki sedikit peluang. Meskipun demikian, orang-orang Iran secara bertahap mempelajari kembali pelajaran yang diajarkan kepada mereka oleh penasihat AS mereka pada tahun 1970-an.

Duel Foxbat Iraq vs Tomcat Iran

Seperti yang dijelaskan oleh Cooper dan Bishop, tidak diketahui kapan tepatnya IRIAF Tomcat berhasil menembak jatuh MiG-25 IrAF untuk pertama kalinya. Pada 4 Mei 1982, seorang pembelot IrAF mengungkapkan kepada para interogator Suriahnya bahwa IrAF telah kehilangan 98 pesawat tempur dan 33 pilot yang disebabkan oleh aksi F-4 dan F-14 Iran, termasuk diantaranya sebuah MiG-25 oleh rudal yang diluncurkan F-14 Iran. Namun pada umumnya pertemuan antara MiG-25 Irak dan pesawat tempur Iran sebagian besar tidak membuahkan hasil – dengan satu pengecualian. Sesuai dengan sumber-sumber Iran, Kolonel Shahram Rostami mengklaim dia menembak jatuh satu Foxbat di atas Teluk Persia utara pada tanggal 16 September 1982 dan satu lagi pada 1 Desember 1982. Beberapa hari kemudian, Mayor Ali-Asghar Jahanbakhsh gagal menembak jatuh dengan rudal, MiG-25 Irak yang mendekati Teheran, tetapi mungkin telah mencetak beberapa tembakan tepat sasaran dengan kanon M61 Vulcan-nya. Dalam kesibukannya untuk menghindar, pilot Irak kemudian melakukan kesalahan dan berbelok ke kiri – menuju wilayah perbatasan Uni Soviet. Menurut laporan Iran pertempuran di bulan September 1982 lah yang menghasilkan “kill” pertama yang berhasil dikonfirmasi atas Foxbat, sementara MiG-25 yang dicegat oleh Jahanbakhsh jatuh di wilayah Turki setelah kehabisan bahan bakar. Hingga kini sumber-sumber Irak menyangkal menderita kerugian sesuai dengan klaim Iran ini.

Kolonel Shahram Rostami (Sumber: Wikipedia)

Pada 16 September 1982 itu, dua F-14A sedang melaksanakan misi CAP antara Bushehr dan Pulau Khark diberi tahu oleh ground-controlled intercept (GCI) bahwa terdapat satu target yang melakukan penerbangan dengan kecepatan sekitar Mach 3 mendekati pulau Khark pada ketinggian 70.000 kaki. F-14 segera bersiap mengatasi ancaman itu dan RIO memulai penyergapan atas target yang jelas-jelas merupakan MiG-25RB dengan mengaktifkan AWG-9-nya. Target segera diperoleh oleh radar F-14 setelah beberapa menit. Satu rudal AIM-54A ditembakkan dari jarak lebih dari 100 km (60 mil). Rudal itu dengan cepat segera memperpendek jarak dengan Foxbat dan menghantamnya, menciptakan bola api yang besar. Pilot dilaporkan telah berhasil melompat keluar dan jatuh ke laut, tetapi ia tidak dapat ditemukan oleh helikopter Iran mungkin karena ia jatuh di perairan yang dipenuhi oleh hiu di Teluk Persia. Kemenangan ini menegaskan bahwa kombinasi AWG-9/AIM-54 dapat menyergap dan menghancurkan MiG-25 yang terbang di kecepatan hampir Mach 3.

Kombinasi AWG-9/AIM-54 terbukti mampu dapat menyergap dan menghancurkan MiG-25 yang terbang di kecepatan hampir Mach 3. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

Rostami terus berburu Foxbats dan atas kegigihannya dia mendapatkan apa yang ia cari pada tanggal 1 Desember 1982. Saat melakukan patroli udara tempur di antara Pulau Khark dan Bandara e-Khomeini Teluk Persia untuk melindungi kapal-kapal dagang yang menuju ke Pelabuhan Bandar Abbas, kontrol darat kemudian memperingatkan tentang adanya pesawat Irak yang mendekat dari utara pada ketinggian 70.000 kaki dengan kecepatan hampir Mach 2.5. Dengan melakukan serangkaian terbang menanjak sementara berakselerasi dari Mach 0,4 ke Mach 1,5, Rostami naik ke ketinggian 40.000 kaki. Pilot MiG kemudian mengaktifkan sistem Electronic Countermeasure (ECM) dan mendekat hingga jarak 71km (38 miles). Meskipun di-jammed, namun RIO Rostami, Letnan Mohammad Rafie dapat melakukan penguncian radar pada Foxbat Irak dan menembakkan rudal AIM-54A Phoenix. Rudal yang besar dan kuat itu bergemuruh ke atas dan menuju ke langit, sementara Rostami menggerakkan Tomcat-nya sekitar 20 atau 30 derajat ke arah barat dan melaju ke kecepatan Mach 1.5 dan naik ke ketinggian 45.000 kaki. Rostami, mengurangi kecepatan dan ketinggian untuk menghindari MiG dan rudal Phoenix nya, sementara ia menjaga targetnya tetap di jangkauan radarnya. Komputer F-14 mengkalkulasi waktu titik impact rudal dan target hingga mencapai angka nol, simbol hit kemudian menyala di layar radar, dan beberapa saat kemudian radar GCI mengkonfirmasi bahwa Foxbat telah menghilang dari ruang lingkup radar mereka. Rudal Phoenix mencetak hantaman langsung, mengubah MiG-25 menjadi bola api raksasa yang mengirimkan potongan api dengan ganas ke bumi. MiG-25RB jatuh ke laut dan meskipun ada operasi SAR IrAF, pilot MiG itu tidak dapat ditemukan. Penyelidikan selanjutnya mengungkapkan bahwa Foxbat yang dimaksud adalah MiG-25R yang diterbangkan oleh Kolonel Abdullah Faraj Mohammad, komandan Skuadron No. 84 angkatan udara Irak. Sistem peringatan dini radar Mohammad gagal dalam misi itu. Kontrol darat memperingatkannya tentang adanya F-14 di depannya, tetapi dia melanjutkan penerbangannya – dan membayarnya dengan nyawanya sendiri untuk kesalahan ini.

MiG-25PD AU Irak (Sumber: http://wp.scn.ru/)

Beberapa hari kemudian, pada 4 Desember, Foxbat IrAF mencoba membalas dendam ketika dua MiG-25PD menembus wilayah udara di atas Iran utara dan mencoba mencegat sebuah pesawat yang terbang dari Turki ketika melewati Tabriz. Tanpa diketahui Foxbat, mengudara sebuah F-14A IRIAF yang diterbangkan oleh Mayor Toufanian (yang merupakan salah satu pilot F-14 Iran pertama), diarahkan ke daerah tersebut. Crew Tomcat meluncurkan Phoenix dan menyaksikan target mereka berusaha untuk lari dari AIM-54 yang telah mereka tembakkan. Rudal Phoenix itu ternyata tidak berfungsi dan lewat di belakang Foxbat. Mayor Toufanian kemudian memacu Tomcat-nya hingga kecepatan Mach 2.2 untuk mengejar targetnya. Setelah AIM-54 pertama gagal, pilot IrAF itu melambatkan pesawatnya, setelah merasa aman. Sebaliknya dengan melakukan hal itu dia telah menandatangani surat kematiannya sendiri, karena Phoenix kedua yang ditembakkan F-14 segera menghantam MiG-25 dari langit. F-14 Iran sejauh yang diketahui terus memburu MiG-25 Irak sampai akhir perang Iran-Irak pada tahun 1988 – tanpa memperoleh keberhasilan lebih lanjut.

Tomcat Amerika vs Foxbat Libya

Sementara itu di Afrika Utara, Libya adalah salah satu pengguna utama MiG-25 dengan mengimpor dalam jumlah besar 96 pencegat MiG-25PD, versi latih MiG-25PU dan pesawat pengintai MiG-25RBK pada akhir 1970-an dan awal 1980-an. Para Penerbang Angkatan Laut AS mengalami beberapa pertemuan dengan Foxbat Libya selama Operasi Attain Dokument II dan Attain Dokument III pada bulan Maret 1986 di lepas pantai Libya (Untuk lebih detail memgenai Operasi ini bisa dibaca di artikel sebelumnya di Blog ini). Mungkin pertemuan yang paling terkenal di periode ini terjadi pada sore hari 24 Maret 1986, ketika dua MiG-25PDS dari angkatan udara Libya bergegas dari Misurata dengan perintah untuk mencegat dan menembak jatuh sepasang Tomcats AL AS yang sedang berpatroli di utara pangkalan. Masih beroperasi dengan ketentuan yang sama sejak 1981 – di mana pilotnya diberikan izin untuk menembak hanya jika mereka ditembaki oleh Libya pertama – Angkatan Laut AS mengarahkan dua F-14A dari VF-33 Starfighters, yang dipimpin oleh wakil komandan yang unit Cmdr. Mike Bucchi, untuk mencegat.

F-14 Tomcat dari Squadron VF-33 Starfighters. Pada bulan Maret 1986, 2 MiG-25PD milik AU Libya mengajak duel 2 Tomcat dari satuan ini. (Sumber: https://www.digitalcombatsimulator.com/)

Seperti yang sering terjadi sebelumnya, Tomcats Angkatan Laut mengejutkan orang-orang Libya. Tak lama setelah dua pasang pesawat tempur itu bertemu pada ketinggian 20.000 kaki, kedua F-14 segera berada di posisi menguntungkan di belakang lawan mereka. Dengan Bucchi di belakangnya, salah satu Foxbats mulai bermanuver sangat agresif, berusaha membalik posisi Tomcat. Gagal! MiG-25 dengan putus asa berhasil dikalahkan oleh F-14A dalam pertempuran udara. Dalam pertarungan udara ini, kamera T.V yang berada di posisi depan F-14 menangkap salah satu video paling spektakuler dari MiG-25 yang mungkin pernah dilihat dalam pertempuran udara. Ketika Foxbat mereka tidak berhasil, Libya menembakkan rudal permukaan-ke-udara SA-5 pada sepasang F-14A dari VF-102. Pada gilirannya, dua insiden ini memprovokasi pembalasan A.S. dalam bentuk Operasi Prairie Fire, di mana pilot Angkatan Laut menenggelamkan dua kapal perang angkatan laut Libya dan dua kali menghancurkan situs SA-5 SAM yang diposisikan di luar Syrte.

Kesimpulan

Sejauh yang diketahui, itu adalah bentrokan terakhir antara F-14 Tomcat dan MiG-25 Foxbat. Menurut penelitian oleh jurnalis Tom Cooper, setidaknya sepuluh MiG-25 (sembilan tipe pengintai dan satu tipe penyergap) mungkin telah ditembak jatuh oleh F-14 Iran (salah satunya kemenangan berbagi dengan F-5) selama perang Iran-Irak. Namun hanya tiga MiG-25 yang diakui hilang (akibat serangan darat dan udara) dan dikonfirmasi oleh Irak. Meski secara keseluruhan mungkin bentrok diantara keduanya tidak banyak, dengan Tomcat secara pasti hanya mencetak satu kemenangan, namun hasil dari sebagian besar bentrokan diantara keduanya menunjukkan bahwa keunggulan F-14 atas jet tempur Soviet itu sudah tidak terbantahkan lagi.

Menurut Tom Cooper, setidaknya 10 Foxbat Irak mungkin sudah ditembak jatuh oleh Tomcat Iran, namun Irak mengakui cuma kehilangan 3 Foxbat selama Perang dengan Iran. (Sumber: https://www.digitalcombatsimulator.com/)

Bagaimanapun secara teknis kedua pesawat, meski perancangan awalnya sama-sama dibuat untuk melakukan misi pencegatan dan dilengkapi dengan radar yang kuat, namun ada beberapa perbedaan teknis mendasar yang mempengaruhi performa mereka dalam pertempuran udara. MiG-25 Foxbat dibuat untuk menyergap dan menghancurkan bomber berkecepatan tinggi, terutama XB-70 Valkyrie yang sedang dikembangkan Amerika, Valkyrie direncanakan mampu untuk terbang hingga kecepatan Mach 3. Dengan target berupa bomber besar berkecepatan tinggi, maka kecepatan adalah kunci dari desain, sementara faktor lain seperti kelincahan manuver bukanlah prioritas utama. Singkatnya misi MiG-25 adalah setelah mendapat informasi dari radar darat akan adanya pesawat musuh yang masuk wilayah udara sendiri, Foxbat segera diterbangkan, berakselerasi dengan kecepatan tinggi, dan bila perlu mengejar targetnya, sementara radarnya yang punya jangkauan hingga 100km mendeteksi target dan dalam jarak 50 km menguncinya sebelum menembakkan rudal R40 (AA-6 Acrid) yang punya jangkauan hingga 80km, dan misi selesai. Pertempuran udara yang membutuhkan kelincahan bermanuver tidak dibutuhkan disini. Disini sebenarnya secara teoritis tidak ada yang salah dari desain MiG-25.

MiG-25 Foxbat sedari awal dirancang sebagai pesawat penyergap untuk target-target yang relatif statis garis penerbangannya dan tidak memerlukan kemampuan manuver tinggi. (Sumber: Pinterest)

Dengan akselerasi maksimum (g-load) dari MiG-25 hanya 2,2 g (21,6 m / s²) dengan tangki bahan bakar penuh, sementara kemampuan maksimalnya hanya 4,5 g (44,1 m / s²). Sebuah MiG-25 yang pernah mengalami tekanan hingga 11,5 g (112,8 m / s²) yang tidak disengaja selama pelatihan manuver pertempuran udara di ketinggian rendah, diketahui mengalami deformasi yang pada akhirnya merusak badan pesawat hingga tidak dapat diperbaiki lagi. Keterbatasan airframe MiG-25 dalam menahan G-force turut membatasi kemampuan manuver (seperti pada saat manuver berbelok dengan radius kecil) pesawat ini dalam pertempuran udara. Sebagai gambaran dalam pertempuran udara di Perang Dunia I, G-force yang dihasilkan dalam “Dogfight” kala itu bisa mencapai 4,5-7 g. Untuk pesawat tempur terbaru yang muncul pada era 1970-an, seperti F-16, misalnya, telah dirancang untuk memungkinkan pilotnya bermanuver hingga 9 g. Jelas disini, pilot MiG-25 jika nekad bermanuver melawan pesawat-pesawat semacam F-16, adalah sama dengan bunuh diri. Sementara itu F-14 Tomcat, meski tidak selincah F-16, namun cukup mampu bermanuver membelok hingga 6,5-7 g.

Pilot Tomcat Iran selain dibekali dengan pesawat tempur superior juga dilatih oleh pilot-pilot US Navy yang berpengalaman dalam duel udara satu lawan satu. (Sumber: https://gearsi.de/)
Rumor yang beredar Petinggi AU Irak melarang pilot tempur manapun mencoba berduel dengan F-14 Tomcat Iran atau coba-coba mendekat jika diketahui terdapat Tomcat di sekitar area terbang mereka! (Sumber: https://www.uskowioniran.com/)

Disamping faktor teknis, faktor kualitas dan tipe pendidikan pilot itu sendiri juga turut menentukan. AU Irak meski pada awal berdirinya banyak berkiblat pada kultur AU Inggris (RAF) dan banyak menggunakan pesawat-pesawat tempur buatan Inggris hingga tahun 1960-an, namun di tahun 1970-an kiblat pembelian alutsista AU nya makin condong ke Uni Soviet, sebagai sedikit dari produsen yang mau menjual persenjataan terbarunya pada Irak (disamping Prancis tentunya) yang agresif membangun militernya, sementara memiliki rezim totaliter yang tidak stabil. Dengan hadirnya berbagai tipe pesawat MiG dan Sukhoi yang memperkuat AU nya, mau tidak mau taktik penggelaran dan pelatihan pilot-pilot Irak menyesuaikan dengan taktik ala Soviet yang banyak mengandalkan kontrol dari radar darat (GCI), yang sedikit membutuhkan inisiatif dari pilot. Sialnya sifat pertempuran udara dalam Perang Iran-Irak yang terbatas, dimana misi serangan udara dilakukan secara sporadis dengan sedikit pesawat, membuat pertempuran udara disana menjadi duel yang sifatnya lebih personal yang membutuhkan inisiatif dari pilot itu sendiri dalam menghadapi dinamika pertempuran udara. Dalam pertempuran semacam ini kelemahan AU Irak menjadi terlihat dengan jelas. Sementara itu sebaliknya pilot-pilot AU Iran banyak mendapat pelatihan dari pilot AU Amerika, yang berdasar pengalaman di Vietnam, mulai memandang penting taktik pertempuran dogfight yang mengandalkan masing-masing individu pilot mengembangkan inisiatifnya dalam pertempuran udara. Khusus pilot-pilot F-14 Tomcat Iran, mereka mendapat pelatihan dari AL Amerika, yang kita tahu melatih banyak pilot-pilot Tomcat terbaik mereka dalam sekolah taktik tempur udara yang kerap dikenal sebagai “Top Gun”. “Kami berlatih dengan banyak pilot Angkatan Laut AS [yang, selama bertahun-tahun] banyak ‘menembak jatuh’ lawan-lawan mereka dalam semua latihan [pelatihan],” kenang Kolonel (kala itu-Kapten) Javad. “Mereka melatih kita dengan baik.”, katanya singkat. Dengan kenyataan seperti ini maka tidak heran jika selama perang muncul rumor bahwa Petinggi AU Irak melarang pilot tempur manapun mencoba berduel dengan F-14 Tomcat Iran atau coba-coba mendekat jika diketahui terdapat Tomcat di sekitar area terbang mereka!

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Foxbats Versus Tomcats, In the 1980s, the MiG-25 and F-14 met in combat by Tom Cooper, March 23, 2018

TOMCAT Vs FOXBAT: THE STORY OF HOW IRIAF F-14 CREWS LEARNED TO SHOOT DOWN THE MiG-25 MACH 3 FIGHTER JET by Dario Leone, 1 Dec 2017

https://www.google.com/amp/s/theaviationgeekclub.com/tomcat-vs-foxbat-story-iriaf-f-14-crews-learned-shoot-mig-25-mach-3-fighter-jet/amp

F14

http://www.iiaf.net/f14/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mikoyan-Gurevich_MiG-25#

https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_Iranian_aerial_victories_during_the_Iran%E2%80%93Iraq_war

Death Match: U.S. Navy F-14 Tomcat vs. Air Force F-15 Eagle (Who Wins)? by Dario Leone, 27 June 2019

https://nationalinterest.org/blog/buzz/death-match-us-navy-f-14-tomcat-vs-air-force-f-15-eagle-who-wins-64476

How Iran Is Taking Ancient F-14 Tomcats and Making Them Better by David Axe, 20 Aug 2019

https://nationalinterest.org/blog/buzz/how-iran-taking-ancient-f-14-tomcats-and-making-them-better-74896?page=0%2C1

Persian Cats, How Iranian air crews, cut off from U.S. technical support, used the F-14 against Iraqi attackers by Tom Cooper, Sep 2006

https://www.airspacemag.com/military-aviation/persian-cats-9242012/?all

https://en.m.wikipedia.org/wiki/G-force

One thought on “Interceptor Showdown: F-14 Tomcat vs MiG-25 Foxbat di langit Teluk Persia dan Libya

  • 17 April 2020 at 3:18 pm
    Permalink

    Bismillah sayang indonesia hanya kebagian cerita sejarah betapa hebatnya MIG.25 VS F.14 dogfight diudara sebagai bagian dari batle provent,dahulu tahun merebut irian alias papua,sebagai generasi muda hanya kebagian cerita bahwasanya presiden soekarno bisa mengakuisisi pesawat MIG.21,dan peralatan mideren lainnya.coba dari sekarang kita ulang Kembali sejarah bangsa tersebut dengan mendatangkan SU.35 dan F.16 VIPER masuk keskadron udara tempur kita,dan pesawat JF.17,J.31 china Pakistan sebagai tambahan kekuatan alat udara kita.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *