Invasi Georgia Selatan, 3 April 1982, 22 Marinir Inggris menahan pasukan pendarat Argentina yang jauh lebih besar.

“Kami mempersiapkan diri dan kemudian menembak jatuh Puma yang mencoba mendaratkan pasukan tempur Argentina. Hal itu seperti hadiah bagi kami. ”

Peta Georgia Selatan

Begitulah Komandan Seksi George Thomsen dari Marinir Kerajaan Inggris menggambarkan sambutan hangat yang diberikan kepada pasukan Argentina ketika mereka melakukan salah satu upaya pertama untuk mendaratkan pasukan di Pulau Georgia Selatan, 950 mil ke barat laut Kepulauan Falkland. Hal itu sehari setelah invasi Argentina ke Falkland. Upaya invasi ke Georgia Selatan itu menandai dimulainya aksi keberanian yang luar biasa yang kadang-kadang digambarkan sebagai versi modern dari episode Rorke’s Drift (sebenarnya perbandingan ini terlalu berlebihan). Alih-alih ribuan pejuang Zulu yang berani melawan pos pertahanan pasukan Inggris di jantung Afrika, kini yang dihadapi para marinir Inggris adalah sejumlah tentara Argentina yang dipersenjatai dengan persenjataan modern di sebuah pulau Atlantik Selatan yang terisolasi.

Tampilan marinir Inggris saat Perang Falkland 1982.

Sebuah Detasemen Marinir Inggris yang berjumlah 22 Prajurit baru saja tiba di pulau yang dingin itu pada pertengahan Maret 1982. Dengan Lansekap tandus, pulau ini terdiri beberapa ngarai dalam yang dipenuhi gletser yang menyerupai novel fantasi. Dengan jarak hampir 8.000 mil, para marinir menemui diri mereka bertempur di tempat yang sangat jauh dari tanah air mereka.

Misi itu diterima oleh para Marinir dengan biasa-biasa saja, mereka kemudian berpose santai bergerombol dengan latar belakang es di belakangnya. Keheningan kemudian terputus beberapa saat setelahnya dengan adanya suara gemuruh rotor helikopter yang mendekat.

HMS Endurance at Mar del Plata naval base, during her trip to the Falklands in February 1982.

Detasemen marinir kecil itu hanya memiliki tugas sederhana. Mereka meninggalkan Falklands dengan kapal HMS Endurance untuk mengawasi sekelompok pekerja besi tua Argentina yang secara provokatif mengibarkan bendera Argentina di wilayah Inggris. Tak satu pun dari mereka mengira bahwa ini akan menjadi awal dari konflik yang akan berlangsung selama 74 hari.

2 minggu setelah mereka tiba, mereka mendengarkan Rex Hunt, Gubernur Kepulauan Falkland, menyatakan keadaan darurat di BBC World Service. Invasi Argentina ke Falklands segera menyusul pengumuman ini pada 2 April 1982.

“Sod that, I’ll make their eyes water!”

Itulah tanggapan Letnan Keith Mills atas instruksi yang mereka terima dari London bahwa ia seharusnya hanya memberikan sedikit perlawanan seandainya ada pelanggaran yang dilakukan oleh Argentina atas wilayah Inggris.

Sebaliknya, Mills malah segera mulai memperkuat posisi pertahanan marinirnya. Marinir mengatur jebakan di sepanjang pantai dan membuat bom berisi kepala tombak, mur, dan baut dan menempatkannya di bawah dermaga. Mereka nyaris tidak punya waktu untuk mengambil foto tersebut ketika suara helikopter memperingatkan mereka tentang kedatangan Argentina pada tanggal 3 April 1982.

ARA Bahía Buen Suceso (B-6)

Pihak Angkatan Laut Argentina memerintahkan korvet ARA Guerrico untuk bergabung dengan Bahía Paraíso di Leith, dengan dilengkapi dua helikopter dan membawa 40 marinir, bersama dengan tim Astiz. Tujuannya adalah menguasai Grytviken, Georgia Selatan. Kelompok itu akan disebut Grupo de Tareas 60.1, di bawah komando Kapten Trombetta, di atas kapal Bahía Paraíso.

ARA Guerrico, korvet AL Argentina yang terlibat dalam invasi Pulau Georgia Selatan.

Menurut rencana Argentina, pendaratan pertama akan dipimpin oleh helikopter Alouette milik ARA Guerrico, diikuti oleh tiga gelombang marinir yang menggunakan Puma dari kapal Bahia Paraiso. Setelah mengirim pesan radio menuntut agar Inggris menyerah, Trombetta akan memerintahkan ARA Guerrico untuk masuk ke pelabuhan Grytviken, tepat di depan King Edward Point. Menurut ketentuan Argentina, mereka mengizinkan korvet untuk menembakkan senjatanya hanya atas permintaan langsung dari pihak pasukan yang mendarat. Pasukan Astiz akan tetap berada di atas kapal Bahia Paraiso. Semua pasukan yang terlibat harus menghindari korban musuh sejauh mungkin. Sejarawan resmi Inggris Lawrence Freedman percaya bahwa Trombetta membuat ketentuan ini dengan berpikir bahwa ia hanya berurusan dengan tim BAS (British Antartic Survey) dan bukan pasukan Marinir berpengalaman. Total kekuatan Argentina yang dikerahkan adalah 60 marinir, 1 korvet, 1 kapal survey dan 2 helikopter.

Senjata anti tank Carl Gustav, salah satu arsenal Marinir Inggris yang mempertahankan pulau Georgia Selatan.

Konflik dimulai dengan marinir menembak jatuh sebuah helikopter Puma ketika berusaha mendaratkan pasukan Argentina. Helikopter itu segera terlihat oleh Mills dan anak buahnya saat mulai mendekat dan segera diguyur tembakan otomatis yang hebat. Pilot Puma itu mampu menyeberangi teluk dan jatuh mendarat di tepi selatan. Dua orang tewas dan empat lainnya luka-luka. Pada saat yang sama, pasukan Argentina memulai bergerak menuju Shackleton House, tetapi para marinir Inggris menembaki mereka dengan tembakan gencar sehingga mereka tidak bisa bergerak lebih jauh. Karena itu, pasukan Argentina meminta Guerrico untuk memberi dukungan tembakan.

Senjata anti tank Carl Gustav, salah satu arsenal Marinir Inggris yang mempertahankan pulau Georgia Selatan.

Beberapa saat kemudian pada pukul 11:55, korvet Argentina ARA Guerrico melepaskan tembakan dengan senjatanya. Beruntung bagi para marinir, ARA Guerrico hanya mampu menembakkan satu salvo sebelum kanonnya 20 mm nya macet, demikian juga kanon 40 mm setelah hanya menembakkan enam peluru. Sementara senjata 100 mm lainnya gagal digunakan segera setelah tembakan pertama, kapal itu menjadi tidak berguna.

Grytviken, 3 April 1982

Hal ini memberi pasukan Letnan Keith Mills cukup waktu untuk membalas. Pada 11:59, empat menit setelah ARA Guerrico melepaskan tembakan, kapal ini segera diserang oleh tembakan senjata ringan. “Marauders Mills”, begitu mereka kemudian dinamai, meluncurkan roket anti-tank Carl Gustav 84 mm yang hampir melumpuhkan kapal. Para Marinir Inggris terus menembak dan akhirnya bisa mendaratkan 200 proyektil ke korvet itu. Menurut Mills, pasukannya melepaskan tembakan dari jarak 550 meter (1.800 kaki). Penembakan pasukan Marinir Inggris itu menewaskan satu pelaut dan melukai lima lainnya, merusak jaringan listrik, kanon 40 mm, satu peluncur Exocet dan kanon 100 mm.

Grytviken, 3 April 1982

Meskipun demikian, Mills dan anak buahnya tidak punya waktu untuk merayakan hal tersebut. Ketika ARA Guerrico tertatih-tatih keluar dari teluk, Marinir Argentina datang mendarat sementara para Marinir Kerajaan masih disibukkan dengan korvet Argentina itu. Marinir Argentina segera maju ke posisi Inggris. Kedua belah pihak saling menembak dan Kopral Nigel Peters tertembak di lengan dua kali. Orang-orang Argentina mengungguli jumlah Marinir Inggris dengan perbandingan tiga banding satu dan mereka juga memiliki korvet yang mensupport mereka.

Kini Kapal musuh sekarang berada pada posisi aman di luar jangkauan tembakan senjata kecil, dan dengan meriam utama 100 mm yang kembali berfungsi, kapal itu segera dapat melepaskan tembakan lagi. Perubahan keadaan ini meyakinkan Mills bahwa sudah waktunya untuk menyerah. Saat itu adalah pukul 12: 48 –– hampir tepat satu jam setelah jatuhnya helikopter Puma Argentina.

Letnan Mills berjalan ke posisi Argentina sambil melambaikan jas putih. Dia kemudian dengan terus terang menggertak komandan Argentina bahwa para Marinir Inggris akan terus bertempur sampai pihak Argentina menyerah atau menyetujui persyaratan yang mereka ajukan. Hal itu adalah contoh gertakan yang luar biasa dan karakter terbaik khas tentara Inggris.

Pasukan Marinir Inggris menyerah kepada pasukan penyerbu Argentina di South Georgia.

Pihak Argentina kemudian setuju untuk membebaskan dan mengembalikan para Marinir itu ke Inggris. Mills dan anak buahnya kemudian dilucuti senjatanya dan ditahan di atas kapal Argentina, Bahia Paraiso. Tidak ada kebencian antara tentara Inggris dan Argentina, dan anggota Marinir Andrew Michael Lee melaporkan bahwa mereka diperlakukan dengan baik oleh Argentina. Para Marinir itu kemudian menerima sambutan bagai pahlawan dari publik Inggris yang bersemangat ketika mereka akhirnya kembali ke rumah pada 20 April.

Perang Falklands kemudian berlangsung hingga 14 Juni. Konflik ini adalah konflik yang terakhir kalinya dimana Inggris bisa dikatakan berperang sendirian. Beberapa bahkan mengatakan bahwa perang itu adalah pertarungan terakhir Kerajaan Inggris.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

When 22 British Marines Held off a Superior Argentine Invasion Force & a Naval Corvette

https://m.warhistoryonline.com/instant-articles/when-22-british-marines-held-off-a-superior-argentine-invasion-force-a-naval-corvette.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Invasion_of_South_Georgia

“Too few, too far” a vivid account of the Battle of South Georgia

https://en.mercopress.com/2009/04/14/too-few-too-far-a-vivid-account-of-the-battle-of-south-georgia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *