Invasi Irak ke Iran, 22 September – 7 December 1980: Perjudian Besar Saddam Hussein Yang Membawa Bencana

Invasi Irak ke Iran adalah kampanye militer Irak pada tahun 1980 yang dilancarkan terhadap tetangganya Iran, di mana Angkatan Bersenjata Irak melintasi perbatasan internasional dan menginvasi negara itu. Aksi serangan ini kemudian memicu Perang Iran-Irak yang berkepanjangan hingga 8 tahun dan memakan korban 1 juta lebih orang Iran dan Irak. Invasi awal ini diluncurkan pada tanggal 22 September 1980 dan berlangsung hingga tanggal 7 Desember di tahun yang sama. Bertentangan dengan harapan Irak bahwa respon yang diberikan oleh Iran akan tidak terorganisir dan buruk (karena kekacauan yang disebabkan oleh Revolusi Islam tahun 1979), invasi Irak kemudian justru mengalami kemacetan parah karena menghadapi perlawanan sengit dari pihak Iran, meski Irak sempat merebut lebih dari 15.000 km2 wilayah Iran. Perang Iran-Irak kemudian secara permanen akan mengubah jalannya sejarah Irak. Perang ini menekan kehidupan politik dan sosial Irak, dan menyebabkan persoalan ekonomi yang parah. Bagi Iran, perang ini sebaliknya malah semakin mengukuhkan kekuasaan rezim baru Iran yang diawal mereka berkuasa menghadapi penentangan dari negara-negara mantan sekutunya, yakni Amerika.

Sukarelawan anak-anak asal Iran maju ke medan tempur. Invasi Saddam Hussein atas Iran pada tahun 1980, justru merekatkan rakyat Iran pada rezim Khomeini yang baru saja berkuasa pada tahun 1979. (Sumber: https://notevenpast.org/)

LATAR BELAKANG

Irak dan Iran sebenarnya telah terlibat dalam bentrokan perbatasan selama bertahun-tahun dan telah bersengketa dalam polemik jalur air di Shatt al Arab, dimana pada tahun 1979, konflik ini dimunculkan kembali paska Revolusi Islam Iran. Irak sebelumnya telah mengklaim saluran air sepanjang 200 kilometer di pantai Iran sebagai wilayahnya, sementara Iran bersikeras bahwa thalweg – sebuah garis mengalir di tengah jalur air – yang dinegosiasikan terakhir pada tahun 1975, sebagai perbatasan resmi. Meski demikian orang-orang Irak, terutama para pemimpin Baath, menganggap perjanjian Algier tahun 1975 hanya sebagai gencatan senjata, bukan penyelesaian definitif mengenai masalah tersebut. Sementara itu, pada tahun 1979–1980, Irak yang menerima manfaat dari ledakan harga minyak dunia, telah menghabiskan dana sebesar US $ 33 miliar, yang memungkinkan pemerintahnya untuk melakukan pembelanjaan besar-besaran untuk proyek-proyek sipil dan militer. Dalam beberapa kesempatan, Saddam yang baru saja naik ke tampuk kekuasaan menyinggung tentang kisah-kisah penaklukan Islam Arab atas Persia dalam upaya mempromosikan posisinya sebagai yang terdepan dalam melawan Iran. Misalnya, pada 2 April 1980, setengah tahun sebelum perang meletus, dalam kunjungannya ke Universitas al-Mustansiriya Baghdad, Saddam beretorika dengan menyinggung kekalahan Persia pada Pertempuran al-Qādisiyyah di abad ke-7, berkata: “Atas nama Anda, saudara-saudara, dan atas nama orang Irak dan Arab di mana pun kami memberi tahu para pengecut dan kurcaci Persia yang mencoba membalas (kekalahan) al-Qadisiyah bahwa semangat al-Qadisiyah serta darah dan kehormatan orang-orang al-Qadisiyah yang membawa pesan di ujung tombak (kini) mereka lebih besar dari upaya mereka (sebelumnya).”

Jalur air strategis Shatt Al- Arab yang dipersengketakan antara Irak dan Iran. (Sumber: https://www.researchgate.net/)

Sementara itu pada 1979–1980, kerusuhan anti-Ba’ath (Partainya Saddam) muncul di berbagai wilayah mayoritas Syiah Irak, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang bekerja untuk bisa membawa revolusi Islam di negara mereka. Saddam dan para deputinya percaya bahwa kerusuhan tersebut diilhami oleh Revolusi Iran dan dipicu oleh pemerintah Iran. Pada tanggal 10 Maret 1980, ketika Irak menyatakan duta besar Iran sebagai persona non-grata, dan menuntut penarikannya dari Irak pada 15 Maret, Iran menjawab dengan menurunkan hubungan diplomatiknya ke tingkat kuasa hukum, dan menuntut Irak menarik duta besar mereka dari Iran. Pada bulan April 1980, sebagai tanggapan terhadap Partai Ba’ath yang menyatakan keanggotaan dalam Partai Dawa Islam sebagai pelanggaran berat pada akhir Maret, militan Syiah membunuh 20 pejabat partai Ba’ath, dan Wakil Perdana Menteri Tariq Aziz hampir terbunuh pada tanggal 1 April; Aziz selamat, tetapi 11 siswa tewas dalam serangan itu. Tiga hari kemudian, prosesi pemakaman yang diadakan untuk mengubur para siswa dibom. Menteri Penerangan Irak, Latif Nusseif al-Jasim juga nyaris tidak selamat dari pembunuhan oleh militan Syiah. Pada bulan April 1980, Ayatollah Agung Syiah Irak, Muhammad Baqir al-Sadr dan saudara perempuannya Amina al-Sadr dieksekusi sebagai bagian dari tindakan keras Saddam untuk memulihkan kendali atas gejolak orang-orang Syiah Irak.

Presiden Irak, Saddam Hussein, 2 November 1980. Menjelang Perang Iran-Irak pecah tahun 1980, Saddam Hussei berulang kali melemparkan retorika bernada permusuhan pada pihak Iran. (Sumber: https://www.wbur.org/)

Seruan berulang-ulang orang-orang Syiah untuk menggulingkan partai Ba’ath dan dukungan yang diduga mereka terima dari pemerintahan baru Iran membuat Saddam semakin memandang Iran sebagai ancaman yang, jika diabaikan, suatu hari nanti bisa menggulingkannya; ia kemudian menggunakan serangan-serangan diatas sebagai dalih untuk menyerang Iran pada bulan September tahun 1980, meskipun pertempuran kecil di sepanjang perbatasan Iran-Irak telah menjadi kebiasaan harian sejak bulan Mei tahun itu. Terlepas dari retorika permusuhan Iran, intelijen Irak sendiri sebenarnya melaporkan pada Juli 1980 bahwa “pada saat ini, Iran tidak memiliki kekuatan untuk melancarkan operasi ofensif yang luas terhadap Irak, atau untuk mempertahankan (diri) dalam skala besar.” Beberapa hari sebelum invasi Irak dan di tengah pertempuran lintas perbatasan yang meningkat pesat, intelijen militer Irak kembali menegaskan pada 14 September bahwa “organisasi penempatan posisi pasukan musuh tidak menunjukkan niat bermusuhan dan tampaknya mengambil sikap yang lebih defensif.” Irak kemudian segera setelah mengambil alih properti dari 70.000 warga sipil yang diyakini berasal dari Iran dan mengusir mereka dari wilayahnya. Banyak, jika tidak sebagian besar, dari mereka yang diusir sebenarnya adalah orang-orang Syiah Irak yang berbahasa Arab yang memiliki sedikit atau tidak ada hubungan keluarga dengan Iran. Hal ini menyebabkan ketegangan antara kedua negara semakin meningkat.

Ayatollah Agung Syiah Irak, Mohammed Baqir AL Sadr dan sudara perempuannya Sayedah Amina Al-Sadr. Sadr bersaudara dibunuh oleh rezim Irak pada bulan April 1980. Hal ini menimbulkan kemarahan umat Syiah baik di Iran dan Irak dan semakin memperuncing ketegangan antara Irak dan Iran yang mayoritas penduduknya menganut ajaran Syiah. (Sumber: https://www.tehrantimes.com/)

Irak juga membantu memicu kerusuhan di antara orang-orang Arab Iran di provinsi Khuzestan, dengan mendukung mereka dalam perselisihan urusan perburuhan, dan mengubah pemberontakan menjadi pertempuran bersenjata antara Pengawal Revolusi Iran dan para militan, yang menewaskan lebih dari 100 orang di kedua sisi. Kadang-kadang, Irak juga mendukung pemberontakan bersenjata oleh Partai Demokrat Kurdi Iran di Kurdistan. Peristiwa yang paling menonjol adalah pengepungan Kedutaan Besar Iran di London, di mana enam pemberontak Arab Khuzestan bersenjata menyandera staf Kedutaan Iran, yang mengakibatkan pengepungan bersenjata yang akhirnya diakhiri oleh unit SAS Inggris. Sumber akademis tahun 2014 menegaskan bahwa para penyerang kedutaan “direkrut dan dilatih” oleh pemerintah Irak. Menurut mantan jenderal Irak Ra’ad al-Hamdani, pihak Irak percaya bahwa selain pemberontakan Arab, Pengawal Revolusi akan terpancing keluar dari Teheran, yang pada akhirnya akan mengarah ke aksi kontra-revolusi di Iran yang akan menyebabkan pemerintahan Khomeini runtuh dan karenanya akan memastikan kemenangan Irak. Namun, alih-alih berbalik melawan pemerintah revolusioner seperti yang telah diramalkan para ahli, rakyat Iran (termasuk orang-orang Arab Iran) bersatu untuk mendukung negara tersebut dan melakukan perlawanan keras terhadap invasi Irak.

Revolusi Islam Iran, Februari 1979. Revolusi yang terjadi di Iran, memicu beberapa kelompok Syiah Irak yang dibekingi Iran untuk melakukan gerakan anti partai Ba’ath yang berkuasa di Irak, termasuk upaya mebunuh Wakil Perdana Menteri Irak, Tariq Aziz pada tanggal 1 April 1980. Perkembangan ini turut mendorong Saddam Hussein untuk menginvasi Iran. (Sumber: https://www.brookings.edu/)

Kepentingan utama Saddam dalam perang ini sendiri kemungkinan berasal dari keinginannya untuk memperbaiki apa yang dianggapnya “salah” dari Perjanjian Algiers 1975, selain mencapai keinginannya untuk mencaplok wilayah Khuzestan Iran dan menjadi negara adidaya regional. Tujuan Saddam yang terakhir itu adalah untuk menggantikan peran Mesir sebagai “pemimpin dunia Arab” dan untuk mencapai hegemoni Irak atas Teluk Persia. Dia melihat kelemahan Iran yang meningkat karena revolusi, dan akibat sanksi, serta isolasi internasional. Sementara itu Saddam telah banyak berinvestasi di militer Irak sejak kekalahannya melawan Iran pada tahun 1975, dengan membeli sejumlah besar persenjataan dari Uni Soviet dan Prancis. Antara 1973 dan 1980 saja, Irak membeli sekitar 1.600 tank dan APC dan lebih dari 200 pesawat buatan Soviet. Pada 1980, Irak memiliki 242.000 tentara (nomor dua setelah Mesir di dunia Arab), 2.350 tank dan 380 pesawat tempur. Di pihak lain Intelijen Irak meyakini, bahwa militer Iran pasti sedang mengalami kesulitan karena kelangkaan spare part dari senjata-senjata mereka yang mayoritas buatan Amerika, yang kini menjadi musuh besar bagi Iran. Pasukan Pasdaran (Pengawal Revolusi Iran) ditengarai juga tidak memiliki pengalaman tempur. Setelah menyaksikan tentara Iran yang kuat yang membuatnya frustrasi pada tahun 1974-1975 (memakan korban hampir 1.000 orang) hancur, Saddam melihat adanya kesempatan untuk menyerang, dengan menggunakan ancaman Revolusi Islam Iran sebagai dalih.

Dari kiri ke kanan: Mohammad Reza Pahlavi, Houari Boumédiène dan Saddam Hussein di Algiers, 1975. Perjanjian Algiers yang berupaya mendamaikan Iran dan Irak dalam sengketa wilayah Shatt Al-Arab dipandang Saddam sebagai sebuah kesalahan, yang coba “dibenahinya” dengan menginvasi Iran tahun 1980. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Tentara-tentara Iran memegang senapan dengan anyelir tertancap di larasnya selama demonstrasi di Isfahan, Desember 1979. Revolusi Iran diperkirakan Saddam yang didukung oleh pembelot-pembelot Iran, telah melemahkan militer Iran. Dengan ini invasi Irak ke Iran akan jauh lebih mudah. Prediksi Saddam terbukti keliru. (Sumber: https://en.radiofarda.com/)

Disamping itu invasi yang berhasil ke wilayah Iran akan memperbesar cadangan minyak Irak dan menjadikan Irak kekuatan dominan di kawasan itu. Dengan Iran dilanda kekacauan, kesempatan bagi Irak untuk mencaplok Provinsi Khuzestan yang kaya minyak punya potensi terwujud. Selain itu, populasi etnis Arab Khuzestan yang besar akan memungkinkan Saddam untuk bertindak sebagai pembebas bagi orang Arab dari kekuasaan Bangsa Persia. Negara-negara Teluk lainnya seperti Arab Saudi dan Kuwait (meskipun bermusuhan dengan Irak) ditengarai mendorong Irak untuk menyerang, karena mereka takut bahwa revolusi Islam ala Iran bisa terjadi di dalam perbatasan mereka sendiri. Orang-orang buangan Iran yang lari ke Irak, seperti mantan PM Shapour Bakhtiar dan mantan komandan pasukan darat Iran, jenderal Gholam-Ali Oveisi juga turut membantu meyakinkan Saddam bahwa jika dia menyerang, republik Islam Iran yang masih muda akan segera runtuh. Namun untuk bisa sukses melakukan hal itu, Irak memiliki satu problem, yakni: perwira-perwira senior mereka tidak kompeten! Hanya sedikit dari jenderal-jenderal yang memimpin Angkatan Darat dan Angkatan Udara Irak yang memiliki pengalaman tempur, mereka semua dipilih lebih karena alasan loyalitas pada rezim ketimbang kemampuan personal mereka di bidang militer. Dalam beberapa kasus, para pemimpin di Baghdad memilih untuk menempatkan komandan tempur yang agresif ke peran-peran yang kurang begitu penting, ketimbang mempromosikan mereka ke jabatan tinggi karena takut bisa menjadi ancaman bagi rezim. Dalam pengamatan Edgar O’ Balance, korps perwira Irak dengan pangkat diatas Kolonel bisa dideskripsikan, sebagai: “kurang memiliki visi dan imajinasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya”.

Wilayah kaya minyak Iran di Provinsi Khuzestan yang diincar oleh Saddam Hussein. (Sumber: https://www.globalsecurity.org/)

PERBANDINGAN KEKUATAN

Menjelang pecahnya perang, perimbangan kekuatan antara Irak dan Iran adalah sebagai berikut:

ANGKATAN DARAT IRAK

Pada bulan Agustus 1980 Militer Irak memiliki setidaknya 242.000 tentara, 2.800 tank, 4.000 APC, 1.400 senjata artileri, 380 pesawat tempur, dan 230 helikopter. Pada saat itu organisasi Angkatan Darat Irak terbagi sebagai berikut: 

  • Korps Angkatan Darat I (sektor antara Rawanduz dan Marivan), terdiri dari: Divisi Infanteri ke-7 (Markas Soleimaniyah), Divisi Infanteri ke-11 (Markas Soleimaniyah; termasuk Brigade Infanteri ke-113, sebagian dilepas ke Korps Angkatan Darat III) 
  • Korps Angkatan Darat II (sektor antara Qassre-Shirin, Ilam, dan Mehran, satuan lapis bajanya kemudian dikerahkan pada wilayah antara Mehran dan Dezful), yang terdiri dari: Divisi Lapis Baja ke-6 (Markas Baqubah), Divisi Lapis Baja 9 (Markas Samavah; terdiri dari: 35AB, 43AB, 14MB), Divisi Lapis Baja ke-10 (Markas Baghdad; terdiri dari: 17AB, 42AB, 24MB), Divisi Infanteri ke-2 (Markas Kirkuk), Divisi Infantri 4 (Markas Mawsil), Divisi Infanteri 6 (Markas Baqubah), Divisi Infantri 8 (Markas Arbil) 
  • Korps Angkatan Darat III (Markas al-Qurnah, bertugas pada sektor antara Dezful dan Abadan) yang terdiri dari: Divisi Lapis Baja ke-3 (Markas Tikrit; terdiri dari: 6AB, 12AB, 8MB), Divisi Lapis Baja ke-10 (Markas Baghdad; 10AB), Divisi Lapis Baja 12 (Markas Dahuoq; disimpan sebagai cadangan), Divisi Mekanis 1 (Markas Divaniyeh; terdiri dari: 1MB, 27MB, 34AB), Divisi Mekanis ke-5 (Markas Basrah; terdiri dari: 26AB, 15MB, 20MB), Satuan Independen AB ke-10, Brigade Pasukan Khusus Independen ke-31 (minus dua batalion: satu ditempatkan di Divisi Mekanis ke-5, satu lagi ke Divisi Lapis Baja ke-3), Brigade Pasukan Khusus Independen ke-33, Brigade Infanteri ke-113 (detasemen)

Note: AB (Armored Brigade/Brigade Lapis Baja); MB (Mechanized Brigade/Brigade Mekanis); IB (Infantry Brigade/Brigade Infanteri)

Tank T-62 yang menjadi inti dari Divisi Lapis Baja Standar Irak saat perang Iran-Irak meletus tahun 1980. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Satu brigade mekanis dengan kendaraan tempur angkut pasukan BMP-1 melengkapi Divisi Lapis Baja Irak pada tahun 1980. (Sumber: https://www.super-hobby.com/)

Selain diatas, terdapat juga dua brigade lapis baja independen, yakni Brigade ke-10 dan ke-12, yang posisi pastinya masih belum jelas. Divisi lapis baja standar Irak (Armored Division/AD) saat itu memiliki dua brigade lapis baja (dilengkapi dengan 300 tank T-62 MBT) dan satu brigade mekanis (dengan kendaraan tempur angkut pasukan BMP-1 ICV), satu brigade artileri (dengan artileri berpenggerak sendiri), serta elemen pendukungnya. Sedangkan sebuah divisi mekanis (Mechanized Division/MD) standar Irak memiliki satu brigade lapis baja (dilengkapi dengan 200 tank T-54/55 yang lebih tua dari T-62 yang ada pada Divisi Lapis Baja), satu brigade mekanis (dilengkapi dengan APC BTR-50 atau OT-64 buatan Cekoslovakia, yang akan muncul tahun 1981), dan satu brigade artileri, serta elemen pendukungnya. Menurut beberapa sumber-sumber Barat, pada bulan September 1980 IrA (AD Irak) mengoperasikan sekitar 100 tank T-72, yang terhitung masih baru, dimana kemungkinan ditempatkan pada Brigade Lapis Baja Independen ke-10, yang bermarkas di Barak al-Rashid, di Baghdad. Beberapa sumber Irak bahkan menyatakan bahwa tembakan pertama dalam perang tersebut sebenarnya ditembakkan oleh T-72 mereka. Namun, belum ada konfirmasi pasti bahwa Angkatan Darat Irak memang mengoperasikan T-72 pada tahap perang ini. Penampilan pertama mereka yang bisa dikonfirmasi hanya baru terjadi pada tahun 1982. Semua Divisi Mekanis dan Lapis Baja Irak juga memiliki resimen pertahanan udara organik, yang terdiri dari setidaknya satu situs SAM SA-6 (bertentangan dengan banyak pemberitaan yang salah, SA-6 Irak selalu tetap ada di bawah kendali Angkatan Darat), SA-9, dan artileri pertahanan udara berpenggerak sendiri ZSU -23-4. Pada tahap selanjutnya perang, sistem rudal SA-13 menggantikan SA-9 di sebagian besar formasi mekanis mereka.

Tank T-55 Irak yang lebih tua dari T-62 melengkapi Divisi Mekanis Standar Irak pada tahun 1980. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Kendaraan lapis baja pengangkut personel BTR-50PK milik Irak. Divisi mekanis Irak dilengkapi dengan satu brigade kendaraan lapis baja pengangkut personel. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Korps Udara Angkatan Darat Irak (IrAAC) pada saat itu mengoperasikan dua “Wing Pengangkut Tempur Komposit” (yang pertama dan kedua) dengan total delapan skuadron helikopter. Setiap skuadron memiliki beberapa flight, yang masing-masing dilengkapi dengan jenis helikopter yang berbeda-beda, sehingga setiap skuadron memiliki sejumlah Mi-8, SA.342L Gazelles, dan SE.316 Alouette III didalamnya. Pengecualian dari aturan ini adalah “Skuadron Serang, Transportasi, Pelatihan, dan Operasi Khusus ke-4” (ATTSOC ke-4), yang, selain menggunakan helikopter Mi-8 dan SA.342L, juga mengoperasikan semua dari 17  helikopter tempur Mi-25 yang tersedia bagi Irak waktu itu. Juga, “Skuadron Serang, Transportasi, dan Pelatihan ke-3” mengoperasikan beberapa helikopter Wessex HU.Mk.52 buatan Inggris yang masih tersisa. Basis utama IrAAC adalah di Pangkalan Udara al-Taji, tetapi Flight berbeda dari skuadron yang berbeda-beda juga turut dikerahkan di banyak lokasi lainnya di seluruh Irak. ATTSOC ke-4 / SSOC ke-4, misalnya, biasanya memiliki sepasang Mi-25 yang bermarkas di Basrah International Airport, dekat istana Presiden di Baghdad, al-Kut, Kirkuk, Nassiriyah, Jalibah, Ruthbah, dan Tallil.

Korps Udara AD Irak dilengkapi dengan helikopter-helikopter tempur Mi-25 Hind buatan Soviet yang bisa digunakan untuk menembakkan senjata kimia. (Sumber: http://wp.scn.ru/)
Helikopter Mi-8 Irak yang menjadi tulang punggung armada transpotasi udara Irak. (Sumber: https://sejarahmiliter.com/)

Telah didirikan sedari awal pada tahun 1980, Mi-25 dari SSOC ke-4 dipersenjatai dengan senjata kimia, dan unit tersebut biasanya memiliki setidaknya sepasang Mi-25 yang dipersenjatai dengan bom kimia yang berbasis di Samara, Baiji, Mawsil, dan / atau Falluja. Nanti, unit yang sama akan mendapatkan helikopter Bo.105 dari Jerman Barat, beberapa di antaranya juga dipersenjatai tangki untuk penyemprotan bahan kimia. Juga kemudian selama perang, pada saat serangan Iran yang lebih besar dilancarkan dan setelah lebih banyak helikopter Mi-25 dikirim ke Irak, SSOC ke-4 akan membentuk detasemen permanen di masing-masing pangkalan ini, di mana Hind yang dilengkapi dengan senjata kimia terus-menerus dalam kondisi siap sedia. Secara teoritis, IRAAC berada di bawah kendali IRA (AD Irak), tetapi pada praktiknya, satuan ini secara efektif telah ditempatkan langsung di bawah kendali rezim pada masa-masa ini. IrAAC diketahui tidak mengendalikan semua aset helikopter yang dimiliki Irak: unit VIP-Transport, yang menerbangkan helikopter SA.342 dan Mi-8, bertanggung jawab atas transportasi tokoh-tokoh politik dan militer yang penting, sementara satu skuadron yang terdiri dari 14 helikopter (dari 16 yang awalnya dikirim) SA.321G / H Super Frelons, beberapa di antaranya kompatibel dengan rudal anti-kapal AM.39 Exocet, ditugaskan ke Angkatan Laut Irak.

ANGKATAN UDARA IRAK (IrAF) 

Pada tahun 1980, menjelang pecah perang melawan Iran, formasi Angkatan Udara Irak dibagi menjadi berikut:

Komando Dukungan IrAF (Penggelarannya mulai dari wilayah utara menuju selatan, dan dari barat menuju timur) adalah sebagai berikut:

Wing pembom tempur Kirkuk, yang terdiri dari:

  • No. 1 FBS, dengan pesawat pembom tempur Su-20, di Pangkalan Udara al-Hurriyah (Kirkuk) 
  • No. 5 FBS, dengan pesawat pembom tempur Su-22M, di Pangkalan Udara al-Hurriyah AB (Kirkuk) 
  • No. 17 FS, dengan pesawat tempur MiG-21MF, di Pangkalan Udara al-Hurriyah AB (Kirkuk) 
  • No. 44 FBS, dengan pesawat pembom tempur Su-22M & Su-22M-3R, di Pangkalan Udara al-Hurriyah AB (Kirkuk)

*Note: FBS (Fighter Bomber Squadron/Skuadron Pembom Tempur); FS ( Fighter Squaron/Skuadron Pesawat Tempur); FRS (Fighter Reconnaissance Squadron/Skuadron Pesawat Tempur Pengintai)

Pembom tempur Sukhoi Su-22M-4 AU Irak. (Sumber: https://www.uskowioniran.com/)

Wing pembom tempur Mosul, yang terdiri dari:

  • No. 11 FS (Det.), dengan pesawat tempur MiG-21MF, di Pangkalan Udara Firnas AB (Mosul)

Wing Wilayah Barat Qayyarah (dalam formasi; belum beroperasi), seharusnya terdiri dari:

  • No. 63 FS, dengan pesawat tempur MiG-23MLA, di Pangkalan Udara Qayyarah Barat (dipindahkan ke Tahmmouz AB setelah dimulainya perang) 
  • No. 79 FS, dengan pesawat tempur Mirage F.1EQ (belum terkirim) 
  • No. 92 FS, dengan pesawat tempur Mirage F.1EQ (belum terkirim) 
MiG-21MF AU Irak. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Wing Pengebom, yang terdiri dari:

  • 7 Sqn, dengan pesawat pengebom Tu-22B / U, di Pangkalan Udara Tahmmouz AB (“al-Taqaddum”, dekat Habbaniyah) 
  • 8 Sqn, dengan pesawat pengebom Tu-16 / Tu-16K-11-16, di Pangkalan Udara Tahmmouz AB (Skuadron ke-7 dan ke-8 kemudian digabungkan menjadi Skuadron ke-10). Sejumlah pembom Il-28 juga berada di Tahmmouz AB; kondisi mereka pada saat invasi Irak masih belum jelas: menurut satu sumber mereka tidak lagi beroperasi tetapi digunakan sebagai umpan; menurut sumber yang lain kabarnya mereka dikerahkan dalam pertempuran. 
  • No. 39 FS “Defenders of Baghdad”, dengan pesawat tempur MiG-23MS, di Pangkalan Udara Tahmmouz AB
  • No. 84 FRS, dengan pesawat tempur MiG-25RB, di Pangkalan Udara Tahmmouz AB (ada dalam formasi; namun tidak beroperasi) 
  • No. 96 FS, dengan pesawat tempur MiG-25PDS, di Pangkalan Udara Tahmouz AB (ada dalam formasi; namun tidak beroperasi)
Pembom Tu-22 Blinder milik AU Irak. (Sumber: https://www.key.aero/)
MiG-25PDS AU Irak. (Sumber: http://wp.scn.ru/)

Sekolah Penerbang Pemimpin, yang terdiri dari:

  • Detasemen No. xx, dengan pesawat latih tempur Hunter F.Mk.59A / B di di Pangkalan Udara Rashid AB (Baghdad)
  • Detasemen No. xx, dengan Jet latih Provost T.Mk.52 di Pangkalan Udara Rashid di AB (Baghdad

Wing Tempur al-Rashid, yang terdiri dari: 

  • No. 9 FS, dengan pesawat tempur MiG-21PFM, di Pangkalan Udara Rashid AB (Baghdad) 
  • No. 11 FS, dengan pesawat tempur MiG-21bis, di Pangkalan Udara Rashid AB (Baghdad) 
  • No. 70 FRS, dengan pesawat tempur MiG-21RF, di Pangkalan Udara Rashid AB (Baghdad)

Wing Udara Pangkalan H-3 / al-Wallid yang terdiri dari: 

  • No. 84 Sqn (sebenarnya detasemen), dengan pesawat tempur MiG-23MS, di Pangkalan Udara al-Wallid AB 
  • No. xx Sqn (sebenarnya detasemen), dengan pesawat tempur MiG-21bis / MF, di Pangkalan Udara al-Wallid AB
MiG-23 Flogger AU Irak. (Sumber: http://wp.scn.ru/)

Wing Pembom Tempur Al-Kut 

  • No. xx FBS, dengan pesawat tempur Su-7BMK, di Pangkalan Udara Abu Ubaida al-Jarrah AB (“al-Kut” atau “al-Jarrah” AB) 
  • No. 23 FBS, dengan pesawat tempur MiG-23BN, di Pangkalan Udara Abu Ubaida al-Jarrah AB (“al-Kut” atau “al-Jarrah” AB) 

Wing Pembom Tempur Nasseriyah 

  • No. 73 FS, dengan pesawat tempur MiG-23MF, di Pangkalan Udara Ali Ibn Abu-Thalib AB (“Tallil”) (ada dalam formasi; namun tidak beroperasi) 
  • No. 77 FBS, dengan pesawat pembom tempur MiG-23BN, di Pangkalan Udara Ali Ibn Abu-Thalib AB 

Wing Pembom Tempur Shoibiyah 

  • No. xx FS, dengan pesawat tempur MiG-21MF, di Pangkalan Udara al-Wihda / Shoibiyah AB 
  • No. 109 FBS, dengan pesawat pembom tempur Su-22M, di Pangkalan Udara al-Wihda / Shoibiyah AB

IrAF / ADC juga mengoperasikan hampir 120 situs SAM SA-2 dan SA-3 (kemudian akan segera diperkuat oleh setidaknya empat baterai SAM Roland-2, yang dikirim dari Prancis), serta semua semua meriam anti pesawat (AAA) di atas kaliber 57mm. Sementara sistem rudal SA-2 dan SA-3 dioperasikan dalam sebuah komplek pertahanan udara, sistem rudal anti pesawat Roland akan digunakan sebagai unit penembakan tunggal. Harus ditambahkan juga bahwa sebuah kontingen angkatan udara Soviet yang cukup besar sedang beroperasi dengan IrAF pada saat invasi. Kontingen ini terdiri dari 24 pesawat tempur MiG-25R / RB / RBSh, setidaknya 12 pesawat tempur MiG-21MF dan setidaknya delapan pesawat tempur MiG-23MLA, semuanya berbasis di Pangkalan Udara as-Shoibiyah AB, dekat Basrah, yang secara efektif berada di bawah kendali Soviet. Niat awal dari kontingen ini adalah untuk menguji pesawat-pesawat ini terhadap kekuatan udara Iran, sebelum secara bertahap menempatkan mereka di bawah komando Irak. Misalnya, antara bulan Agustus 1980 dan April 1981 empat MiG-25 ditempatkan di bawah kendali Irak, dan unit MiG-23MLA, yang terdiri dari pilot-pilot Soviet dan juga pilot-pilot Irak, sedangkan MiG-21MF akhirnya semuanya diberikan kepada IrAF setelah perang dimulai.

Sistem Rudal SA-2. (Sumber: https://www.pinterest.co.uk/)

 Iran, bagaimanapun, tidak terlalu peduli dengan rencana Soviet atau Irak, tetapi empat pesawat tempur F-4E dari TFB.3 telah menyerang pangkalan udara as-Shoibiyah dalam serangan pertama mereka sebagai tanggapan atas invasi Irak, pada sore hari tanggal 22 September. Serangan tambahan lalu dilakukan pada dua hari berikutnya, dan akhirnya pihak Soviet terpaksa mengevakuasi semua MiG-25 ke Pangkalan Udara H-3 / al-Wallid AB, di Irak barat, sementara semua MiG-23MLA dipindahkan ke Pangkalan Udara Qayyarah West AB, di Irak barat laut. Sementara itu, meskipun Moskow berulang kali menekankan sikap netralnya dalam perang ini, kontingennya tetap di Irak hingga bulan April 1981, sampai mereka benar-benar dievakuasi setelah unit MiG-23MLA menderita kerugian besar dalam pertempuran udara dengan Iran (termasuk empat MiG-23MLA oleh satu pesawat tempur F-14A IRIAF, pada tanggal 29 Oktober 1980; dua pesawat lainnya hilang saat melawan serangan balasan Iran pada tahun 1981), dan beberapa MiG-25 dihancurkan dan / atau dirusak di darat oleh pesawat-pesawat Phantom Iran dalam serangan yang dikenal sebagai “H-3 Blitz”, pada tanggal 4 April 1981. 

Komando Pelatihan IrAF

Akademi Angkatan Udara, Tikrit, terdiri dari:

Unit Latihan dasar 

  • Sekolah Terbang Ke-1, dengan pesawat latih A.202A Bravo 
  • Sekolah Terbang ke-2, dengan pesawat latih A.202A Bravo 
  • Sekolah Terbang ke-3, dengan helikopter Mi-2, Mi-4, SA.342 Gazelle 

Unit Pelatihan Utama (sebagian dilakukan dari al-Rashid AB), terdiri dari:

  • Sekolah Terbang ke-4, dengan pesawat latih jet L-29 
  • Sekolah Terbang ke-5, dengan pesawat latih jet L-29

Unit Pelatihan Senjata, terdiri dari:

  • Sekolah Terbang ke-6, dengan pesawat latih PC-7 
  • Sekolah Terbang ke-7, dengan pesawat latih Jet Provost T.52, di Pangkalan Udara al-Rashid AB
Helikopter SA.342 Gazelle. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Komando Transportasi IrAF 

Brigade Transportasi, yang terdiri dari:

  • Skuadron ke-31, Flight A dengan pesawat transport Il-76MD, berpangkalan di Baghdad / Saddam International Airport
  • Skuadron ke-31, Flight A dengan pesawat transport An-12B, berpangkalan di al-Rashid AB 
  • Skuadron ke-32, Flight A dengan pesawat transport An-2, tersebar pada berbagai lapangan terbang lain

Sebagian besar pesawat angkut – kecuali semua An-12B, dioperasikan dengan warna maskapai penerbangan nasional Irak, “Iraq Airways”. Perusahaan yang sama juga mengoperasikan banyak pesawat An-24TV, namun sebagian besar digunakan untuk keperluan militer (mirip dengan Angkatan Bersenjata Soviet yang banyak menggunakan “maskapai sipil” Aeroflot dalam mendukung operasi militernya), dan beberapa di antaranya disimpan dan dihancurkan di darat selama serangan udara awal Iran.

Pesawat angkut-tanker Il-76. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Angkatan Laut Irak (IrN) 

Angkatan Laut Irak memiliki unit penerbangan, diantaranya:

  • Nomor. xx NS, dengan helikopter SA.321GV Super Frelon, berpangkalan di Pangkalan Umm-ol-Qassr NAS
  • Nomor. xx NS, dengan helikopter AB.212ASW, (ada dalam formasi; namun tidak beroperasi; helikopter tidak pernah dikirim)
SA.321GV Super Frelon milik AL Irak dengan rudal anti kapal Exocet. (Sumber: https://twitter.com/)

ANGKATAN DARAT REPUBLIK ISLAM IRAN (IRIA) 

Secara umum, kesatuan Angkatan Darat Republik Islam Iran berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan saat Irak menyerang. Sebagian besar satuan mereka hanya tinggal 50% dari kekuatan awal mereka (beberapa bahkan kurang) dan ada di bawah komando perwira berpangkat lebih rendah, karena semua jenderal bekas Tentara Kekaisaran Iran dicopot dari jabatan mereka setelah revolusi tahun 1979. Selama hari-hari awal perang terdapat kekacauan yang cukup besar dalam rantai komando, yang menyebabkan situasi di mana sebagian besar unit yang lebih besar tersebar ke dalam kelompok-kelompok tempur kecil, yang bertempur bekerjasama dengan milisi lokal dan tanpa komando keseluruhan yang koheren. Pada bulan September 1980 unit-unit IRIA yang ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Irak, adalah sebagai berikut:

  • Divisi Lapis Baja ke-16, berbasis di Ghazvin, dengan tiga AB (Brigade Lapis Baja) yang dilengkapi dengan tank M-60A-1 MBT dan M-113 APC, termasuk brigade ke-1 di Ghazvin, brigade ke-2 di Zanjan, dan brigade ke-3 di Hamedan. 
  • Divisi Lapis Baja ke-81 “Kermanshah”, dengan tiga AB yang dilengkapi dengan tank Chieftain MBT dan APC M-113, termasuk yang Brigade ke-1 di Kermanshah, ke-2 di Islam-Abad-Gharb, dan ke-3 di Sar-e-Pol-e-Zahab. 
  • Divisi Lapis Baja ke-92 “Khuzestan” dengan tiga AB yang dilengkapi dengan tank Chieftain MBT dan APC M-113 (termasuk Arm Cav. Bn ke-28), termasuk brigade ke-1 di barat Khorramshahr dan selatan Ahwaz, ke-2 di Dezful barat, dan ke-3 di Ahwaz barat. 
  • Divisi Infanteri ke-21, yang berbasis di Teheran, dibentuk sebagai gabungan dari Brigade Pengawal ke-2 dan divisi Infanteri ke-1 yang bermarkas di Teheran, dengan total empat formasi mekanis (termasuk brigade dari bekas Divisi Pengawal ke-1 dan Brigade Pengawal Independen, dan Batalyon Infantri ke-141) 
  • Divisi Infanteri ke-28, dengan satu AB (dilengkapi dengan tank M-60A-1s MBT), dua MB (dilengkapi dengan APC M-113), dan resimen pengintaian (dilengkapi dengan tank Scorpion dan APC M-113), dikerahkan di wilayah Sanandaj, Saquez dan Marivan. 
  • Divisi Infanteri ke-64, ditempatkan di Orumiyeh, dan meliputi wilayah Oromiyeh, Mahabad, Piransahr dan Salmas. 
  • Divisi Infanteri ke-77, terdiri dari satu AB (dilengkapi dengan tank M-47) dan dua MB (dilengkapi dengan APC BTR-50), ditempatkan di Khorasan, dan mencakup perbatasan Soviet dan Afghanistan, serta wilayah Iran timur yang tersisa.
  • Brigade Lapis Baja ke-37, yang bermarkas di Shiraz 
  • Brigade Lapis Baja 88, yang bermarkas di Zahedan (dilengkapi dengan tank Chieftain MBT), mencakup wilayah perbatasan dengan Afghanistan dan Pakistan.
  • Brigade Infanteri ke-30, dengan markas besar di Gorgan. 
  • Brigade Infanteri 84, dengan markas besar di Khoramabad, tetapi ditempatkan di medan operasi dan mencakup wilayah Ilam, yang menghubungkan posisi Divisi ke-81 dan ke-92. 
  • Brigade Pasukan Khusus ke-23, dengan markas besar di Teheran, ditempatkan di sepanjang perbatasan Irak dalam 13 detasemen terpisah.
  • Brigade Lintas Udara ke-55, bermarkas di Shiraz, dengan satu batalion dikerahkan di wilayah Sardasht, dan satu kompi masing-masing di Sanandaj dan Dezful. 
  • Grup Artileri Independen ke-11, area penempatannya tidak diketahui. 
  • Grup Artileri Independen ke-22, dikerahkan di area Khuzestan. 
  • Grup Artileri Independen ke-33, area penempatannya tidak diketahui. 
  • Grup Artileri Independen ke-44, area penempatannya tidak diketahui. 
  • Grup Artileri Independen ke-55, ditempatkan di area Khuzestan.
Tank M601A1 Iran. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Tank Chieftain Iran. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Tank M-47 Iran. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Satuan Udara Angkatan Darat Republik Islam Iran (IRIAA) 

Angkatan Darat Iran memiliki beberapa satuan udara, sebagai berikut:

Grup Penerbangan Kermanshah / Bakhtaran dengan markas utama di Pangkalan Udara Shahid Ashrafi Esfahani, di Kermanshah, yang terdiri dari:

  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter AB.205 dan AB.206
  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter Bell 214C 
  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter Bell 209 / AH-1J 

Grup Penerbangan Esfahan, dengan pangkalan utama di Pangkalan Udara Shahid Vatanpour (dinamai demikian pada tahun 1981), dekat Esfahan, dan Shahid Ashtari / Pangkalan Dukungan Penerbangan Angkatan Darat ke-4, yang terdiri dari:

  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter AB.206 
  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter Bell 214C 
  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter Bell 209 / AH-1J 
  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter CH-47C 

Grup Penerbangan Kerman, dengan markas utama di Pangkalan Udara Masjed-Suleyman, yang terdiri dari:

  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter Bell 214C 
  • Kompi xx, dilengkapi dengan helikopter Bell 209 / AH-1J
Helikopter tempur Bell 209 / AH-1J  milik Iran. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Helikopter Bell 214 Iran. (Sumber: https://www.airteamimages.com/)
CH-47 Chinook Iran. Sejak awal perang, helikopter pengangkut Angkatan Darat Iran dan Angkatan Udara sangat aktif dalam memindahkan bala bantuan dan pasokan – serta mengevakuasi yang terluka – di sepanjang garis depan. (Sumber: http://www.acig.org/)

ANGKATAN UDARA REPUBLIK ISLAM IRAN (IRIAF) 

Kekuatan Angkatan Udara Iran dibagi menjadi:

TFB.1, Mehrabad IAP (Teheran) 

TFW (Wing Tempur Taktis) ke-11, terdiri dari

  • “Instructure” OCU ke-11, yang dilengkapi dengan pesawat tempur dan pengintai F-4E & RF-4E (dilepas di TFB.4 pada tahun 1981) 
  • TFS (Skuadron Tempur Taktis), yang dilengkapi dengan pesawat tempur dan pengintai F-4E & RF-4E 

ERW ke-1, terdiri dari

  • No. xx TRS, dengan pesawat angkut C-130E 
  • No. xx TRS, dengan pesawat pengintai RF-4E dan RF-5A (hanya diatas kertas: semua pesawat dikerahkan dengan unit TFW ke-21, 31 dan 61 yang berbeda-beda) 
F-4 Phantom, tulang punggung pesawat tempur multirole AU Iran. (Sumber: https://hushkit.net/)

TTW (Wing Transport Taktis), terdiri dari:

  • TTS (Skuadron Transport Taktis) ke-11, dengan pesawat angkut C-130E / H. 
  • TTS ke-12, dengan pesawat angkut C-130E / H. 
  • Skuadron Tanker, dengan pesawat Boeing 707-3J9C dan Boeing 747-2J9F 
  • Sebuah Flight dengan helikopter Bell 214A & HH-43 
  • No. xx TTS, dengan pesawat angkut Fokker F.27M
Pesawat angkut C-130 Hercules AU Iran. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Wing Pelatihan, yang terdiri dari:

  • No. xx TS (Skuadron Latih) dengan pesawat latih T-33A 
  • No. xx TS, dengan pesawat latih Beech F33

TFB.2, Tabriz IAP (Tabriz) 

TFW (Wing Tempur Taktis ke-21), yang terdiri dari:

  • TFS ke-21, dengan pesawat tempur F-5E / F 
  • TFS ke-22, dengan pesawat tempur F-5E / F 
  • TFS ke-23, dengan pesawat tempur F-5E / F 
  • Detasemen, dengan pesawat pengintai RF-5A (ditugaskan ke salah satu dari tiga TFS ‘) 
  • Detasemen, dengan pesawat angkut C-130H 
  • No. xx COIN Sqn, dengan pesawat O-2A 
  • Flight dengan helikopter Bell 214
Pesawat tempur ringan F-5 AU Iran. (Sumber: https://www.kavehfarrokh.com/)

TFB.3, Shahid Nojeh AB (bekas Pangkalan Shahorkhi AB, dekat Hamedan) 

TFW ke-31, yang terdiri dari:

  • TFS ke-31, dengan pesawat tempur dan pengintai F-4E & RF-4E 
  • TFS ke-32, dengan pesawat tempur dan pengintai F-4E & RF-4E
  • Flight dengan helikopter Bell 214

TFW ke-32, yang terdiri dari:

  • TFS ke-306, dengan pesawat tempur F-4D (dikirim ke TFS ke-71 pada bulan Desember 1980) 
  • TFS ke-308, dengan pesawat tempur F-4D (dikirim ke TFS ke-72 pada bulan Desember 1980) 
  • TFS ke-33, dengan pesawat tempur dan pengintai F-4E & RF-4E (mulai bulan Desember 1980, bersama dengan F-4E dari TFS ke-71; dilepas di TFB.4 dari awal tahun 1981) 
  • TFS ke-34, dengan pesawat tempur F-4E (mulai bulan Desember 1980, bersama dengan F-4E dari 91 dan 101 TFW; dilepas ke TFB.9 pada tahun 1988) 
  • Flight dengan helikopter Bell 214A

TFB.4, Vahdati AB (Dezful) 

TFW ke-41, terdiri dari

  • TFS ke-41 “Lions”, dengan pesawat tempur F-5E / F 
  • TFS ke-42, “Devils”, dengan pesawat tempur F-5E / F 
  • TFS ke-43 “Tigers”, dengan pesawat tempur F-5E / F 
  • Detasemen ke-306 (dari TFS ke-71), dengan pesawat tempur F-4D (ditempatkan berkala dari Oktober 1980) 
  • Detasemen ke-308 (dari TFS ke-72), dengan pesawat tempur F-4D (ditempatkan berkala mulai bulan Oktober 1980) 
  • Detasemen dari TFW ke-21, dengan pesawat tempur F-5E (pengerahan sementara antara bulan Oktober / November 1980) 
  • Flight dengan helikopter Bell 214A

*TFB.5, Kermanshah (pada tahun 1980 digunakan oleh IRIAF hanya sebagai lapangan udara darurat; sebaliknya, TFB.5 menjadi salah satu pangkalan utama IRIAA) – tidak ada unit yang ditempatkan secara permanen 

TFB.6, Bushehr IAP (Bushehr) 

TFW ke-61, terdiri dari:

  • TFS ke-61, dengan pesawat tempur dan pengintai F-4E & RF-4E 
  • TFS ke-62, dengan pesawat tempur dan pengintai F-4E & RF-4E 
  • TTW ke-61, dengan pesawat angkut C-130H 
  • Flight dengan helikopter Bell 214A

TFB.7, Hor AB (Shiraz) 

TFW ke-71, terdiri dari:

  • TFS ke-71, dengan pesawat tempur F-4E (kemudian diganti dengan F-4D dari TFW ke-32) 
  • TFS ke-72 – “Flying Lions”, dengan pesawat tempur F-14A (kemudian digantikan diganti dengan F-4D dari TFW ke-32; semua F-14 ditempatkan pada detasemen TFS ke-73 di Mehrabad pada tahun 1981) 
  • TFS ke-73, dengan pesawat tempur F-14A
F-14 Tomcat “monster” udara AU Iran. Dalam inventory AU Irak, tidak ada pesawat tempur yang sebanding dengan Tomcat Iran. (Sumber: https://defencyclopedia.com/)

TTW ke-71, terdiri dari:

  • TTS ke-71, dengan pesawat angkut C-130E / H. 
  • TTS ke-72, dengan pesawat angkut C-130E / H. 
  • TTS ke-73, dengan pesawat angkut Fokker F.27M 
  • Flight dengan helikopter Bell 214A 
  • VP No. xx, dengan pesawat patroli maririm P-3C 

TFB.8, Khatami AB (kemudian dinamakan sebagai Shahid Baba’ie AB; Esfahan) 

TFW ke-81, terdiri dari:

  • TFS ke-81, dengan pesawat tempur F-14A 
  • TFS ke-82, dengan pesawat tempur F-14A 
  • Flight dengan helikopter Bell 214A 

TFB.9, Bandar Abbas AB (Bandar Abbas) TFW ke-91, terdiri dari:

  • TFS ke-91 “Sharks”, dengan pesawat tempur F-4E 
  • TFS ke-92, dengan pesawat tempur F-4E

TFB.10, Chah Bahar AB (Chah Bahar) TFW ke-101 

  • TFS ke-101, dengan pesawat tempur F-4E (dibubarkan pada tahun 1980, kru dikirim ke TFB.3; direformasi pada 1990-an dengan sisa pesawat F-4D)
  • TTS ke-101, dengan pesawat angkut C-130E / H.

TFB.11 Omidiyeh AB (Aghajari) (konstruksi belum lengkap dan tidak beroperasi pada masa awal perang; akan menjadi pangkalan unit IRIAF yang lebih besar baru setelah tahun 1981), yang akan terdiri dari: 

  • TFW ke-51 (masih dalam pembentukan) 
  • TFS ke-51, dengan pesawat tempur F-5E / F (masih dalam pembentukan)
  • TFS ke-52, F-5E / F (masih dalam pembentukan)

*TFB.12 Masjed Soleyman (digunakan oleh IRIAF sebagai lapangan terbang dispersal atau untuk pangkalan detasemen pesawat tempur F-5E dari TFW ke-41, serta untuk detasemen yang lebih besar dari satuan helikopter IRIAA) – tidak ada unit yang ditempatkan secara permanen.

ANGKATAN LAUT REPUBLIK ISLAM IRAN (IRIN)

Angkatan Laut Iran, setidaknya memiliki kekuatan sebagai berikut:

  • 3 Batalyon Marinir

Satuan Udara Angkatan Laut Republik Islam Iran (IRINA), dengan pangkalan di Chahbahar NAS, terdiri dari:

  • HC No. xx, dengan helikopter Bell 206
  • HM No. xx, dengan helikopter MH-53
  • HS No. xx, dengan helikopter anti kapal selam AB.212ASW

Pada bulan Agustus 1980 Militer Iran setidaknya memiliki 110.000–150.000 tentara, 1.700–2.100 tank, (sekitar 500 yang dapat dioperasikan), 1.000 kendaraan lapis baja/APC, 300 artileri yang dapat dioperasikan, 485 pembom tempur (hanya 205 yang bisa beroperasi penuh), dan 750 helikopter.

Helikopter CH-53 Iran. (Sumber: http://globalmilitaryreview.blogspot.com/)

KEKUATAN PASUKAN IRAN DI KHUZESTAN

Untuk pertahanan Khuzestan, yang merupakan target utama invasi Irak, IRIA memiliki unit-unit yang bertumpu pada Divisi Lapis Baja ke-92 bertugas untuk mempertahankan front sepanjang 400 km (yang diserang oleh lima divisi Irak dan sekitar lima brigade). Unit ini hanya berkekuatan 50% dari seharusnya, tetapi diperkuat oleh elemen-elemen berikut:

  • Grup Lapis Baja ke-37, yang terdiri dari elemen-elemen dari Brigade Lapis Baja ke-37 yang dikerahkan untuk mendukung AB ke-2/AD ke-92 di sebelah barat Dezful. 
  • Batalyon pertahanan ke-151, yang menjaga pertahanan utama di utara Khoramshahr dan 27 posisi pertahanan lainnya yang dibuat di sepanjang perbatasan dengan Irak (biasanya dibangun sekitar tiga kilometer dari perbatasan); unit-unit ini dilengkapi dengan 80 tank M-4 Sherman dan M-24 Chaffee, ditempatkan di sejumlah posisi pertahanan statis (masing-masing “pertahanan” ini memiliki dua emplasemen tank), senjata recoilles kaliber 106mm, artileri anti-pesawat dan peluru kendali anti-tank ; satuan ini seharusnya berkekuatan total sekitar 1.300 prajurit, tetapi kekuatannya sebenarnya sangatlah kurang. 
  • 1 batalion infanteri dari ID ke-21 
  • 1 batalion infanteri dan 1 kompi lapis baja dari ID ke-77 
  • 1 batalion lapis baja dari AD ke-88 
  • 1 batalion Marinir IRIN (ditempatkan di Pangkalan Angkatan Laut Khoramshahr).

Note: AD (Armored Division/Divisi Lapis Baja); ID (Infantry Division/Divisi Infanteri); AB (Armored Brigade/Brigade Lapis Baja)

Tank M4 Sherman dan Tank Destroyer M36 Jackson asal Perang Dunia II milik Iran di garis depan perang 1980-1988. (Sumber: https://wwiiafterwwii.wordpress.com/)

INVASI IRAK 

Irak melancarkan invasi skala penuh ke Iran pada tanggal 22 September 1980. Angkatan Udara Irak pada hari itu melancarkan serangan udara mendadak di sepuluh lapangan udara Iran dengan tujuan menghancurkan Angkatan Udara Iran, meniru Angkatan Udara Israel saat menghancurkan Angkatan Udara Negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Sedari awal, komandan Irak mengesampingkan pentingnya data-data intelijen, dimana mereka tidak meluncurkan misi pengintaian untuk memperoleh informasi mengenai target-target mereka sebelum melakukan serangan. Pihak Irak hanya mengandalkan keterangan dari para pembelot Iran mengenai pesawat-pesawat yang dikerahkan Iran di pangkalan-pangkalan udara mereka dan lokasi-lokasi serta kemampuan pertahanan udara Iran. Keterangan para pembelot itu kadang sudah kadaluarsa, dan dengan sengaja mengecilkan kemampuan Iran untuk mendorong pihak Irak semakin bersemangat untuk menyerang. Irak mengabaikan bahwa AU Iran dilatih dengan doktrin ala Amerika, serta menganggap bahwa doktrin Iran tidak berbeda dengan doktrin mereka, yang gado-gado dari doktrin Inggris, Soviet dan bahkan Prancis. Irak juga tidak menyadari bahwa Iran telah membangun shelter-shelter beton untuk melindungi pesawat-pesawat tempur mereka. Disamping kesalahan-kesalahan itu, hanya sedikit skuadron-skuadron pesawat-pesawat paling modern Irak, seperti MiG-23, Su-20, dan Su-22 yang siap untuk melancarkan serangan berskala besar dan terkoordinasi. Mereka selama ini dibiasakan menyerang target desa-desa pemberontak Kurdi dari ketinggian dan tidak terlalu mempedulikan apakah bom yang dijatuhkan tepat sasaran atau tidak. AU Irak hanya punya kemampuan melakukan serangan udara maksimal 100 kali per hari. Sebagai bandingan, AU Israel yang lebih superior, saat melawan AU negara-negara Arab, membutuhkan 700 serangan per hari untuk mencapai keunggulan udara.

Ledakan di Pangkalan Udara Mehrabad di Teheran setelah pasukan Irak menyerang Iran pada tanggal 22 September 1980. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pesawat angkut tua C-47 Skytrain Iran yang hancur setelah serangan Irak. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Serangan itu terbukti gagal merusak Angkatan Udara Iran secara signifikan. Serangan-serangan itu memang merusak beberapa infrastruktur pangkalan udara Iran, tetapi gagal menghancurkan sejumlah besar pesawat Iran, karena akurasi dan data intelijennya buruk. Angkatan Udara Irak hanya mampu menyerang masuk jauh ke wilayah Iran dengan beberapa pesawat MiG-23BN, pembom Tu-22, dan pesawat serang Su-20. Tiga pesawat MiG-23 berhasil menyerang Teheran, menyerang bandaranya, tetapi hanya menghancurkan beberapa pesawat. Pesawat-pesawat Irak juga diketahui kerap membawa tipe persenjataan yang salah saat menyerang target-target Iran. Pada kasus lain, pilot-pilot Irak tidak berupaya untuk menghancurkan beberapa pesawat-pesawat Iran yang berjajar di tempat terbuka, dan hanya menjalankan misi utamanya untuk menghancurkan landasan pacu. Sementara itu, operasi yang dilancarkan oleh pasukan Irak antara tanggal 22 sampai tanggal 30 September 1980 berkembang sebagai berikut:

Korps Angkatan Darat ke-I

Divisi Infanteri ke-1 dan ke-11 terutama dioperasikan untuk melawan orang-orang Kurdi. Sementara Divisi Infanteri ke-4 adalah yang sebenarnya memulai serangan pertama ke Iran, dengan merebut Panjwin setelah dua hari pertempuran sengit melawan pasukan perbatasan Iran, gendarmerie, dan unit Pasdaran, Basij, dan Mostafazin (yang bergabung di bawah kesatuan “Komando Pengawal Revolusi” pada tanggal 1 Januari 1981) bahkan sebelum invasi secara resmi dimulai, pada tanggal 22 September. Setelah Irak menginvasi Iran, Divisi Infanteri ke-4 memulai perjalanan ke Kurdestan Iran, dengan tugas merebut Orumiyeh dan Sandandaj. 

Area yang diperebutkan Irak dan Iran dalam perang tahun 1980-1988. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Korps Angkatan Darat Ke-II 

Divisi Mekanis ke-7 Irak maju menuju Qassre-Shirin, merebut kota, yang setelah melewati banyak pertempuran, tempat itu hancur total; kemudian mereka maju menuju ibu kota provinsi Kermanshah (berganti nama menjadi Bakhtaran setelah revolusi di Iran, tetapi diganti namanya kembali menjadi Kermanshah setelah perang dengan Irak). Di tempat lain Divisi Infanteri Ke-2 merebut Mehran, mengancam Ilam, dan mencapai kaki pegunungan Zagros, sehingga memutus jaringan jalan yang menghubungkan Iran utara dengan Dezful dan seluruh Khuzestan. Sementara itu, tugas dua divisi lapis baja milik korps ini adalah untuk merebut Dezful dan memutuskan koneksi jalan antara Iran utara dan barat daya. Divisi Lapis Baja ke-10 harus masuk jauh ke wilayah Iran bersama dengan Divisi Lapis Baja ke-9. Namun, upaya mereka dengan cepat dihentikan oleh serangan balik yang dilakukan oleh Iranian Army Aviation (IRIAA) dan Angkatan Udara (IRIAF). IRIAA mengerahkan sejumlah besar helikopter serang Bell AH-1J Cobra, yang menggunakan AGM-71A TOW ATGM secara besar-besaran, sedangkan pesawat tempur Northrop F-5E / F Tiger II IRIAF, dipersenjatai dengan bom-bom Mk.82, napalm, dan cluster, serta peluncur roket 68mm. Dalam serangkaian serangan udara selama lima hari pertama perang, hampir 50% kendaraan milik Divisi Lapis Baja ke-10, saat Divisi Lapis Baja ke-9 berhasil menerobos lebih jauh kedalam, masuk lebih dari 40 km ke wilayah Iran dalam minggu pertama. Dalam proses penyerangan, mereka merebut stasiun radar peringatan dini yang penting secara strategis sekitar 15 km barat daya Dezful, dan secara langsung mengancam Pangkalan Udara Vahdati AB (“TFB.4” dalam bahasa militer Iran), yang mendapat serangan artileri berat. Pergerakan unit ini, bagaimanapun, juga dihentikan oleh perlawanan keras kepala dari IRIAA dan IRIAF, yang mencoba mengulur waktu agar unit-unit Angkatan Darat Iran yang lebih berat bisa dimobilisasi, secara efektif menetralkan Divisi Lapis Baja ke-9 Irak sebagai sebuah unit tempur, dengan menghancurkan lebih dari 200 tank dan APC-nya.

Helikopter AH-1 Cobra Iran dengan rudal TOW. Kombinasi keduanya menjadi mimpi buruk bagi pasukan lapis baja Irak. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)

Korps Angkatan Darat ke-III 

Tugas unit-unit yang tergabung dalam korps ini adalah target sebenarnya dari seluruh invasi Irak, yakni: merebut provinsi Khuzestan yang kaya minyak, untuk mengamankan jalur air Shatt-al-Arab bagi Irak, memperbesar jangkauan Irak ke dalam Teluk Persia, dan mengamankan sumber minyak tambahan. Topografi daerah tersebut disukai pasukan yang melakukan invasi dan cocok bagi penggunaan tank serta kendaraan lapis baja lainnya. Divisi Mekanis ke-1 ditugaskan untuk melakukan serangan dari al-Amarah terhadap Ein-e-Khoosh dan Fakeh, dengan tujuan mencapai dan merebut Andimeshk dan Dezful, yang pada gilirannya akan mengisolasi Ahwaz dari utara; unit ini kemudian terjebak hanya beberapa kilometer dari perbatasan dan tidak dapat bergerak maju sampai Divisi Lapis Baja ke-10 menembus jauh ke dalam Iran, yang pada gilirannya menyebabkan unit IRIA mundur dengan teratur ke belakang jembatan Pol-Naderi di Sungai Karakeh.

22 September 1980 pukul 1400: Tank-tank T-62 dari Divisi Lapis Baja ke-6 melintasi perbatasan Iran. (Sumber: https://www.kavehfarrokh.com/)

Divisi Lapis Baja ke-10 ditugaskan untuk bergerak di sepanjang rute yang sejajar dengan Divisi Mekanis ke-1, di sisi utaranya, menuju melalui Dehloran dan Musian ke Malavi, Andimeshk dan Dezful, serta mengisolasi Dezful dari utara dalam prosesnya. Divisi tersebut berhasil mencapai penetrasi terdalam Irak semasa perang dengan unsur-unsurnya adalah yang pertama mencapai Sungai Karakeh, sekitar 75 km di belakang perbatasan, pada hari ketujuh perang. Divisi Lapis Baja ke-6 juga melakukan hal yang sama, tetapi di sepanjang rute selatan, untuk menembus wilayah Iran dekat Bostan, lalu melewati utara Susangerd dan merebut Ahwaz. Dalam perjalanan yang mirip dengan Divisi Lapis Baja ke-10, unit tersebut berhasil mencapai pinggiran utara Ahwaz pada akhir minggu pertama perang.

Bagian dari Divisi Mekanis ke-1 Irak menuju Dezful, pada akhir September 1980. (Sumber: https://web.archive.org/)

Sementara itu, Divisi Mekanis ke-5 menyerang langsung ke arah utara Abadan, dimana tujuan awalnya adalah untuk maju dan merebut Ahwaz. Unit ini hanya mencapai penetrasi minimal dan tidak dapat melakukan lebih dari mendukung Divisi Lapis Baja ke-3. Namun demikian, kedua unit ini berhasil mengepung Khoramshahr. Divisi Lapis Baja ke-3 akan menyerang dari tiga jurusan dalam serangan ini, dengan target bergerak masuk sekitar 40km ke dalam wilayah Iran, kemudian berbelok ke selatan dan mengisolasi Khoramshahr. Upaya mereka itu lalu dihentikan oleh serangan udara Iran yang sangat berat saat maju ke utara Khoramshahr, dan berhasil menembus hanya sekitar 15-20 kilometer. Akibatnya, mereka hampir tidak bisa memotong jalan yang menghubungkan Khoramshahr dengan Ahwaz di timur laut. Waktu itu Brigade Lapis Baja ke-12 “Abu-al-Wallid” ditahan sebagai cadangan Korps, dan tidak berpartisipasi dalam pertempuran.

SERANGAN UDARA BALASAN IRAN

Sementara itu, meskipun invasi udara Irak telah mengejutkan Iran, angkatan udara Iran segera membalas dengan serangan terhadap beberapa pangkalan dan infrastruktur militer Irak dalam Operasi Kaman 99 (Busur 99) tanggal 23 September 1980. Dalam operasi ini kelompok-kelompok jet tempur F-4 Phantom dan F-5 Tiger Iran menyerang sasaran di seluruh Irak, seperti fasilitas minyak, bendungan, pabrik petrokimia, dan kilang minyak, dan termasuk Pangkalan Udara Mosul, Baghdad, dan kilang minyak Kirkuk. Irak terkejut dengan aksi pembalasan ini, karena Iran hanya mengalami sedikit kerugian sementara Irak mengalami kerugian besar dan gangguan ekonomi. Disamping itu kekuatan udara Iran yang terdiri dari helikopter-helikopter tempur AH-1 Cobra dengan rudal anti tank TOW mulai menyerang divisi-divisi pasukan darat Irak yang sedang bergerak maju, bersama dengan F-4 Phantom yang dipersenjatai dengan rudal Maverick asal Amerika, mereka menghancurkan banyak kendaraan lapis baja dan menghalangi kemajuan pasukan Irak, meskipun tidak sepenuhnya bisa menghentikannya. Iran telah menemukan bahwa sekelompok dua atau tiga F-4 Phantom yang terbang rendah dapat mencapai target hampir di mana saja di wilayah Irak.

F-4 Phantom milik Iran sedang diisi bahan bakar oleh sebuah pesawat tanker udara Boeing 707 selama perang Iran-Irak. Jet Iran sering mengisi bahan bakar sebelum melakukan misi tempur di atas udara Irak. Phantom pada gambar dilengkapi dengan enam bom Mk-82. Konfigurasi semacam ini memungkinkan Phantom untuk menyerang target darat pada ketinggian rendah dan kecepatan tinggi. (Sumber: https://www.kavehfarrokh.com/)

Sementara itu, serangan udara Irak ke Iran dipukul mundur oleh jet-jet tempur pencegat F-14 Tomcat Iran, yang menggunakan Rudal Udara ke Udara Jarak Jauh AIM-54 Phoenix, menjatuhkan selusin pesawat tempur buatan Soviet milik Irak dalam dua hari pertama pertempuran. Militer reguler Iran, pasukan polisi, sukarelawan Basij, dan Pengawal Revolusi semuanya melakukan operasi mereka secara terpisah; dengan demikian, pasukan invasi Irak tidak menghadapi perlawanan terkoordinasi. Namun, pada tanggal 24 September, Angkatan Laut Iran menyerang kota pelabuhan Basra, Irak, menghancurkan dua terminal minyak dekat pelabuhan Irak Faw, yang mengurangi kemampuan Irak untuk mengekspor minyak. Pasukan darat Iran (terutama terdiri dari Pengawal Revolusi) mundur ke kota-kota, di mana mereka mendirikan pertahanan melawan para penyerbu. Pada tanggal 30 September, angkatan udara Iran melancarkan Operasi Scorch Sword, yang menyerang dan merusak parah reaktor nuklir Osirak dekat Baghdad (nantinya akan dihancurkan secara total oleh AU Israel dalam Operasi Babylon). Pada tanggal 1 Oktober, kota Baghdad telah menjadi sasaran delapan serangan udara. Sebagai tanggapan, Irak melancarkan serangan udara terhadap sasaran-sasaran di Iran. Pada tanggal 28 November, Iran meluncurkan Operasi Morvarid (Pearl), sebuah serangan gabungan udara dan laut yang menghancurkan 80% kekuatan angkatan laut dan semua situs radar Irak di bagian selatan.

PERTEMPURAN SUNGAI KAROUN

Pertempuran Sungai Karoun meletus pada  tanggal 11 Oktober 1980, ketika unsur-unsur dari Divisi Mekanis ke-5 dan Divisi Lapis Baja ke-6 mendirikan sebuah jembatan kecil di sisi timur, dekat Darkhowein, sekitar 15 km timur laut Khoramshahr, yang menyebabkan kejutan di pihak Iran dan mengancam untuk memblokir rute pasokan lokal Iran. Dari posisi itu, pasukan Irak bisa maju ke arah timur dan selatan, dan akhirnya mengepung Dezful.

PERTEMPURAN SUNGAI KARAKEH 

Pertempuran Sungai Karakeh meletus ketika elemen-elemen Divisi Mekanis ke-1 Irak, yang bergerak maju menuju Andimeshk dan Dezful, mendirikan sebuah jembatan di dekat Shoush. Di sisi Iran, garis depan yang mempertahankan Dezful dengan Pangkalan Vahdati (TFB.4) dan situs radar Dehloran yang penting secara strategis dipertahankan oleh unit-unit berikut (tersebar dari utara menuju selatan, membentang dari Beyat, melalui Nahr-Anbar dan Shoush ke Fakkeh): 

  • Batalion Kavaleri Lapis Baja ke-283 / Divisi Lapis Baja ke-92. 
  • Batalion Lapis Baja ke-2 / Divisi Lapis Baja ke-92. 
  • Batalion Lapis Baja ke-37 (Grup Tempur) 
  • Batalion Infanteri ke-138 / Divisi Infanteri ke-21 
  • Batalion Infanteri ke-141 / Divisi Infanteri ke-21 (disimpan sebagai cadangan di jembatan Pol-Naderi)
Tank-tank T-62 dari Divisi Lapis Baja Irak ke-6 terlihat di Dataran Karakeh, pada bulan Maret 1982: berminggu-minggu kemudian, unit ini hampir semuanya dihancurkan oleh serangan Iran yang mengubah arah perang melawan Irak. (Sumber: https://web.archive.org/)

PENGALAMAN YANG GAGAL DAN SERANGAN BALIK PERTAMA IRAN

Pada awal bulan Oktober 1980 Komando Tinggi IRIA mempersiapkan serangan balasan yang pertama. Serangan ini akan bertumpu pada bala bantuan yang dikerahkan dari Teheran ke daerah Dezful dan Andimeshk, terutama dari elemen-elemen dari Divisi ke-21, yang didukung oleh Batalyon Lapis Baja ke-291 / Divisi ke-77. Brigade ke-2 dari Divisi Lapis Baja ke-92 juga ditempatkan di daerah Shoush, tetapi tampaknya tidak berpartisipasi dalam operasi ini. Tugas dari operasi ini adalah menerobos garis depan Irak dekat Sorkheh Naderi, di tenggara Andimeshk, dan meluncurkan gerak maju dua arah. Dengan arah utara melalui Dashe-e-Abas menuju Ein-e-Khoosh, dan selatan melalui Chenaneh menuju Fakkeh, di perbatasan Irak. Jika berhasil, cabang di selatan kemudian akan berbelok ke arah selatan dan menyerang instalasi garis belakang Irak di daerah Bostan. Rencana ini sangat berani, menuntut gerak maju cepat dari beberapa unit kecil Angkatan Darat Iran (setara dengan satu divisi) melawan tidak kurang dari dua divisi Irak yang diperkuat. Tanpa unsur kejutan, serangan ini, yang diluncurkan pada tanggal 15 Oktober 1980, hanya memperoleh keuntungan yang minimal, yang mengakibatkan kemunduran kecil di garis depan Irak, sementara pasukan infanteri dari Divisi ke-21 bergerak maju beberapa kilometer, pesawat-pesawat Hunter dari Sekolah Pemimpin Penerbangan IrAF – yang diterbangkan oleh beberapa dari pilot-pilot Irak yang paling berpengalaman – menyerang tank-tank M-60 MBT dan M-113 APC dari Batalyon ke-291 Iran saat mereka bersiap untuk maju di lembah timur laut Andimeshk. Dalam aksinya ini pesawat-pesawat Hunter menghancurkan sejumlah tank dan APC. Yang lebih parah adalah serangan pesawat-pesawat tempur Irak pada barisan batalion-batalion pasokan Iran, yang juga menyebabkan kerusakan berat dan mengakibatkan unit-unit tempur Iran dibiarkan tanpa bahan bakar dan amunisi. Akhirnya, serangan Iran harus dibatalkan sebelum bisa dimulai dengan benar. Ini adalah satu-satunya operasi penting dalam perang ini di mana pesawat-pesawat Hunter IrAF diketahui turut berpartisipasi. Menurut sumber Irak yang diwawancarai baru-baru ini, aksi itu juga merupakan kesempatan terakhir di mana pesawat Hunter terlibat dalam pertempuran. Menarik untuk dicatat bahwa ini adalah kesempatan lain selama perang ini ketika kekuatan udara memberikan setidaknya satu pukulan yang menentukan: bahkan meski perencanaan Iran tidak terlalu ambisius, operasi militer di Jembatan Naderi berpotensi menyebabkan kerugian besar bagi pasukan Divisi Lapis Baja ke-10 Irak, jika serangan awal bisa menembus sayap kirinya. Namun, serangan udara Irak yang mendahului membuat Iran tidak mungkin melancarkan serangan lapis baja mereka.

MBT Chieftain Iran terlihat pada masa awal selama perang. Iran hanya memiliki satu Divisi Lapis Baja yang ditempatkan di Khuzestan pada hari-hari pertama perang, dan inipun sebenarnya masih dalam masa reorganisasi pada tahun 1979, ketika Revolusi Islam berkembang. Akibatnya, unit tersebut tidak siap bertempur saat invasi Irak datang. Namun demikian, dua brigade lapis baja Iran melakukan yang terbaik untuk membantu menghentikan kemajuan Irak. (Sumber: https://web.archive.org/)

PERTEMPURAN KHORRAMSHAHR

Unit Angkatan Darat Irak yang dilibatkan dalam operasi yang berlangsung antara bulan September / Oktober 1980 ini adalah sebagai berikut:

  • Divisi Lapis Baja ke-3 (terdiri dari Brigade Lapis Baja ke-35 dan 43, serta Brigade Mekanis ke-14) 
  • Brigade Pasukan Khusus ke-31 (khususnya Batalion ke-2 dan ke-3) 
  • Brigade Pasukan Khusus ke-33 (khususnya Batalion ke-8 dan ke-9) 
  • Batalion Tank al-Hassan (berasal dari 26AB / 5MD dan dipasang ke Brigade Pasukan Khusus ke-33 )
  • Batalion Mekanis ke-3 (berasal dari 15AB / 5MD – bagian utama dari satuan ini menyerang ke arah Ahwaz di sisi Divisi Lapis Baja ke-3) 
  • Batalion ke-1 (berasal dari Brigade Infanteri ke-49) 
  • Batalion Komando ke-4 (berasal dari Divisi Infanteri ke-2) 
  • Batalion ke-2 dan ke-3 (berasal dari Brigade Infanteri ke-2/ Divisi Infanteri ke-2) 
  • Batalion ke-1/ Brigade Infanteri ke-429
  • Pasukan Jeish-Al-Shabi (dua batalyon paramiliter) 
  • Batalion ke-1 (berasal dari Brigade Infanteri ke-23) 
  • Batalion ke-3 Pasukan Khusus Pengawal Republik (berasal dari Brigade Pengawal Republik)

Operasi pertama Irak dalam memasuki Khorramshahr diluncurkan oleh kekuatan utama Brigade Lapis Baja ke-3. Pertempuran dimulai dengan serangan udara Irak terhadap titik-titik penting pertahanan Iran, sementara divisi mekanis Irak bergerak maju ke kota dalam formasi seperti bulan sabit. Mereka diperlambat oleh serangan udara Iran dan pasukan Garda Revolusi dengan senjata recoilless, granat berpeluncur roket, dan bom molotov. Orang-orang Iran telah membanjiri daerah rawa-rawa di sekitar kota, memaksa orang-orang Irak untuk melintasi sebidang tanah sempit. Tank-tank Irak melancarkan serangan tanpa dukungan infanteri, dan banyak tank hancur akibat tim anti-tank Iran. Upaya ini lalu dihentikan dan diblokir di daerah Pol-No dan Nahr Arayez, dan tidak bisa lagi melanjutkan serangan. Upaya berikutnya telah diluncurkan oleh Batalyon ke-8 dari Brigade Pasukan Khusus ke-33. Aksi inipun dihentikan dengan kerugian besar bagi tentara-tentara Irak, yang menyebabkan guncangan di pihak mereka. Para komandan IrA kemudian bereaksi dengan mengerahkan pasukan komando tambahan, diikuti dengan dukungan satuan lapis baja. Pada akhirnya tanggal 30 September, pasukan Irak telah berhasil membersihkan posisi-posisi pertahanan tentara Iran dari wilayah pinggiran kota. Keesokan harinya, tentara Irak melancarkan serangan infanteri dan lapis baja ke dalam kota. Setelah pertempuran sengit dari rumah ke rumah, orang-orang Irak berhasil dipukul mundur. Pada tanggal 14 Oktober, Irak melancarkan serangan kedua. Iran lalu meluncurkan penarikan diri teratur dari kota, jalan demi jalan. Pada tanggal 24 Oktober, sebagian besar kota telah dikuasai pasukan Irak, dan orang-orang Iran dievakuasi melintasi Sungai Karun. Meski demikian beberapa partisan tetap bertahan, dan pertempuran berlanjut hingga tanggal 10 November. Diperkirakan akibat pertempuran ini, 7.000 orang tewas di masing-masing pihak. Untuk menggambarkan berdarahnya pertempuran ini, orang Iran menyebut Khorramshahr sebagai “Kota Darah” (خونین شهر, Khunin shahr). Pertempuran Khorramshahr berlangsung selama 34 hari, dan melibatkan sejumlah besar pasukan Irak, jauh melampaui apa yang direncanakan komandan-komandan Irak. Pada gilirannya, pertempuran ini malah memungkinkan Iran untuk menstabilkan garis depan mereka di Dezful, Ahwaz dan Susangerd, dan memindahkan bala bantuan ke wilayah Khuzestan. Pada saat Khorramshahr jatuh, unit Angkatan Darat Irak yang dikerahkan untuk merebut provinsi ini tidak lagi hanya menghadapi Iran Divisi Lapis Baja ke-92, tetapi juga Divisi Lapis Baja ke-16, Divisi Infanteri ke-21, dan ke-77. 

T-62 dari Divisi Lapis Baja ke-3 Irak melewati jalanan Khoramshahr. Hanya sedikit bangunan di kota ini yang tidak hancur selama pertempuran pada bulan Oktober dan November 1980, yang mengakibatkan Khoramshahr sering dijuluki sebagai “Iranian Stalingrad”. (Sumber: https://web.archive.org/)

KESIMPULAN 

Secara keseluruhan rencana Irak untuk menginvasi Iran pada awalnya didasarkan pada rencana Inggris yang serupa untuk melakukan intervensi pada tahun 1950-an, seperti dilaporkan di beberapa sumber yang berbeda. Setelah hampir 30 tahun, di mana setiap perencanaan diperbarui oleh orang-orang Irak sesuai dengan perubahan di pihak Iran, rencana yang sama sekali baru kemudian dikembangkan. Menurut mantan perwira tinggi Irak, rencana invasi pada tahun 1980 adalah ditujukan untuk mengusir unit-unit artileri Iran dari perbatasan Irak, sehingga mereka tidak dapat menyerang kota-kota Irak – terutama Basrah. Tugas ini harus diselesaikan dalam jangka waktu antara tiga hingga tujuh hari, dan kemudian Baghdad bermaksud untuk bernegosiasi dengan pihak Teheran. Ini sepenuhnya sesuai dengan strategi perang standar Arab untuk memberikan “pukulan pertama” yang berat, dan kemudian bernegosiasi atas dasar “situasi  yang baru”. Karenanya, penetrasi ke wilayah Iran yang dicari Komando Tinggi Irak tidak lebih dalam dari 40 km, dan tidak ada niat untuk menguasai wilayah Iran untuk jangka waktu yang lebih lama. Ide ini pada akhirnya tidak berjalan, karena kemudian Iran tidak siap untuk bernegosiasi, terutama dengan keberadaan pasukan Irak yang berada jauh di dalam wilayah mereka. Juga, karena para ulama Iran lebih tertarik untuk memperpanjang perang dan mengeksploitasinya untuk tujuan mereka sendiri, yakni untuk memperkuat kekuasaan mereka sendiri. Militer Irak dilengkapi dengan baik tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya siap untuk perang ketika diperintahkan untuk menginvasi Iran, meskipun demikian, Iran jelas lebih tidak siap lagi. Unit Irak paling penting, yang performanya sangat baik adalah unit lapis baja yang melakukan “serangan tank” di atas medan terbuka antara kota-kota Iran. Mereka beberapa kali mampu mengejutkan Komando Tinggi Iran, yang menyebabkan kejutan dan kekacauan diantara unit-unit Iran yang tersebar yang kalah jumlah dan kewalahan dalam upaya untuk mempertahankan diri di garis depan yang terlalu besar. Meskipun banyak pengamat cenderung menggambarkan pola operasi Irak sebagai operasi “bergaya Soviet”, namun militer Irak jauh lebih dipengaruhi oleh Inggris, dan bertempur sesuai dengan cara-cara mereka, meskipun Angkatan Darat mereka hampir secara eksklusif dilengkapi dengan MBT, APC, dan artileri buatan Soviet. Ini cukup wajar karena Inggris banyak membantu pendirian Angkatan Darat Irak di masa-masa awal pembentukannya.

Pasukan Irak menembakkan artileri di pinggiran kota Khoramshahr-Iran, Oktober 1980. (Sumber: https://www.britannica.com/)

Faktor penting utama yang pada akhirnya mengubah seluruh operasi Irak menjadi kegagalan adalah aspek kekuatan udara. IrAF tidak akan pernah bisa menyamai kualitas dari unit udara Iran, terutama IRIAF dan IRIAA. Kekuatan udara Irak tidak memiliki daya tembak, kemampuan pesawat, dan pelatihan yang setara dengan pihak Iran. Rezim Irak sebenarnya mengetahui ini; tetapi, mereka berharap kondisi Angkatan Udara Iran dan Angkatan Darat paling tidak sama buruknya dengan kondisi militer Iran lainnya (setelah revolusi tahun 1979). Ada juga harapan bahwa IrAF dapat menekan IRIAF dengan serangan pertama terhadap sebagian besar lapangan udara Iran. Harapan ini, yang dipicu terutama oleh laporan dari perwira Iran yang membelot ke Irak selama 1979 dan terutama pada musim panas 1980, terbukti sia-sia. Hanya dalam 24 jam, IRIAF berubah menjadi mesin perang yang efektif, yang menyerang tidak hanya di seluruh Irak, tetapi juga menyebabkan kerugian besar bagi Tentara Irak di darat. Hanya dalam waktu tiga minggu (dan akan memakan waktu lebih sedikit jika tidak ada periode cuaca buruk hingga awal Oktober 1980) IRIAF secara efektif menghentikan invasi Irak dengan menghancurkan jalur pasokannya sepenuhnya, dan sebagian besar depo di dekat garis depan. Angkatan Udara Irak sudah memberikan yang terbaik untuk menekan IRIAF, tetapi hanya sedikit dari operasi dukungan udaranya yang efektif. IrAF juga mengalami kerugian yang cukup besar. Akibatnya, mereka mengalihkan perhatiannya ke sasaran yang bersifat propagandistik. Satu-satunya keberhasilan yang dicapai penerbang-penerbang Irak sejauh itu dalam perang adalah gangguan mereka terhadap pasokan bahan bakar di Iran, yang menyebabkan kekurangan yang dirasakan bahkan oleh IRIAF, dimana pada satu saat bisa menghabiskan cadangan strategis minyak mereka ke tingkat yang hanya cukup untuk pemakaian beberapa hari. Sebagai tanggapan, IRIAF menyerang pusat-pusat cadangan minyak strategis, serta merusak seluruh industri minyak Irak sedemikian rupa sehingga Irak harus membatalkan semua ekspor minyaknya. Industri minyak Irak lalu belum akan pulih dari pukulan ini selama beberapa tahun. Kampanye IRIAF melawan depot minyak dan industri minyak Irak menyebabkan tiga hal, yaitu: Iran secara efektif menghentikan depot-depot minyak Irak dalam memasok bahan bakar dan pelumas untuk militer Irak; Iran mampu memblokir pelabuhan Irak, al-Faw dan Basrah, dan kemudian juga menetralisir dua terminal minyak di selatan al-Faw (al-Omayeh dan al-Bakr). Selanjutnya, IRIAF juga menghantam semua stasiun pompa utama di sepanjang jalur pipa minyak ke Turki, Suriah, dan Yordania, yang secara efektif menghentikan aliran minyak Irak ke luar negeri.

Jembatan KRB3MR, terlihat di sini setelah dihantam dan dihancurkan oleh Bom GBU-10 LGB, yang dijatuhkan oleh F-4D IRIAF: meskipun empat pesawat yang masing-masing dipersenjatai dengan dua LGB dikirim ke serangan ini, bom pertama sudah menghantam rumah dan gerak maju pasukan Irak ke utara Ahwaz dihentikan. (Sumber: https://web.archive.org/)

Pada akhirnya, serangan Irak gagal, dimana rezim Iran tidak dapat dihancurkan dari dalam oleh intervensi asing, kemudian orang-orang Iran yang sangat patriotik malah bahu-membahu tanpa mempedulikan bagaimana rezim mereka berkuasa di Teheran untuk mempertahankan negara mereka. Bertentangan dengan ekspektasi Irak, bahkan orang-orang Arab yang tinggal di Khuzestan – juga orang-orang Kurdi Iran, Armenia, dan Azerbaijan – bergabung dalam pertempuran untuk membantu mempertahankan Iran. Sebenarnya, invasi Irak justru memungkinkan rezim yang goyah di Teheran untuk memantapkan dirinya dalam kekuasaan, dan dengan demikian menghasilkan situasi yang persis berlawanan dengan yang diharapkan. Meskipun dalam keadaan kacau Angkatan Darat Iran dan pasukan darat lainnya (termasuk bermacam-macam formasi dari “Pengawal Revolusi”, Gendarmerie dan Polisi) terbukti mampu berimprovisasi dengan keras kepala dan memberikan perlawanan sengit, yang menjadi kejutan besar bagi orang-orang Irak. Akibatnya, pasukan Iran mampu menyebabkan korban yang sangat besar bagi Tentara Irak yang tidak berpengalaman. Hanya karena kekacauan yang cukup besar di dalam rezim di Teheran dan kepemimpinan di lapangan, yang terutama disebabkan oleh Revolusi Islam 1979, mencegah Iran untuk bisa mengerahkan kekuatan militer penuh mereka melawan Irak pada tahap awal perang. Faktanya, bahkan pada tahun 1980 kebanyakan orang Iran mengharapkan perang ini tidak akan berlangsung lebih dari beberapa minggu, dan bahwa kenyataannya hal ini tidak terjadi adalah salah satu pukulan paling parah bagi banyak dari mereka. Tetapi, pada masa-masa revolusi seperti ini mereka belum menyadari fakta bahwa perang akan berkepanjangan. Bagaimanapun patriotisme saja, tidak akan cukup untuk menghentikan Irak, tanpa campur tangan kekuatan udara Iran. IRIAF dan IRIAA, sangat efektif dalam menghancurkan begitu banyak kendaraan, artileri dan pasokan Irak, sehingga kemampuan ofensif Angkatan Darat Irak secara efektif bisa dinetralkan. Orang-orang Irak tidak dapat melanjutkan gerak maju mereka meskipun adanya keputusan dari unit-unit lapis baja dan mekanis mereka untuk bergerak jauh di antara kota-kota Iran. Dengan demikian, kekuatan udara – bertentangan dengan apa yang biasanya dilaporkan mengenai perang ini – berperan penting bagi hasil akhirnya. Dinas penerbangan Iran dengan efektif memenangkan “Pertempuran di Teluk Persia” ini – meski dengan harga mahal mengorbankan banyak awak dan pesawat yang berharga. 

Hanya dalam beberapa hari setelah dimulainya perang, pasukan Irak sudah belajar untuk takut terhadap serangan angkatan udara Iran – terutama dari pesawat-pesawat tempur F-4E yang dipersenjatai dengan rudal AGM-65 Maverick. Awak BMP-1 ini sedang kabur kendaraan mereka dengan cepat karena dua pesawat Phantom yang muncul di ujung cakrawala. (Sumber: https://web.archive.org/)

Alasan keberhasilan dari operasi udara Iran bermacam-macam. Meskipun sumber-sumber Irak menyangkal hal ini dengan keras kepala hingga hari ini, satu skuadron F-14 IRIAF mampu membangun superioritas udara di atas medan perang di Khuzestan, pada pertengahan Oktober 1980, dengan menjatuhkan lebih dari selusin pesawat tempur Irak hanya dalam waktu dua hari, dan pada gilirannya memungkinkan unit tersebut dari pangkalan Vahdati AB (TFB.4) dan Hamedan (TFB.3) – diperkuat oleh unsur-unsur dari Tabriz (TFB.2) – untuk pertama-tama menetralkan sistem pertahanan udara Irak yang baru didirikan di daerah tersebut (terdiri dari beberapa sistem SA-6), dan kemudian hancurkan jaringan suplai Irak. IrAF sendiri saat itu belum berada posisi untuk untuk melawan armada pesawat-pesawat tempur F-14, dan terlebih lagi untuk mencegah armada pesawat tempur F-4 dan F-5 IRIAF, serta helikopter serang AH-1J IRIAA yang menyerang pasukan darat Irak. Untuk mengepung kota-kota Iran yang terkepung di wilayah Khuzestan, Irak membutuhkan sumber daya tambahan. Bala bantuan ini, bagaimanapun, harus dipindahkan di sepanjang jalur komunikasi pasokan mereka yang terbuka terhadap serangan udara Iran. IRIAF menghantam posisi-posisi ini dengan keras dan berulang kali. Karena alasan ini, orang-orang Irak akhirnya hanya dapat merebut satu kota besar di Iran, yakni: Khoramshahr – yang terletak hanya beberapa kilometer dari perbatasan Irak. Di tempat lain, formasi-formasi mekanis Irak yang maju diserang dengan gencar dari udara yang menghancurkan personel-personel dan peralatan-peralatannya. Serangan berani Irak atas sungai Karoun, pada akhir Oktober, misalnya, dihancurkan meskipun ada momen kejutan dan kekacauan yang ditimbulkannya pada pasukan Iran di sekitarnya.

F-14 Tomcat Iran menembakkan rudal jarak jauh AIM-54 Phoenix. Kombinasi keduanya membuat AU Iran mampu membangun superioritas udara diatas wilayah Kuzhestan. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Serangan-serangan dari IRIAF dan IRIAA, terlepas dari semua masalah pada data target-target Irak, berhasil menemukan posisi-posisi pasukan Irak yang menerobos dan menghancurkan kendaraan apa pun milik Irak yang dapat mereka temukan. Operasi udara Iran seringkali sangat efektif, sehingga ada beberapa kasus di mana sebuah divisi yang terdiri dari empat helikopter AH-1J Cobra cukup untuk menghentikan pergerakan seluruh brigade lapis baja Irak selama berjam-jam. Kasus semacam itu terbukti menentukan. Kota Khoramshahr memang akhirnya bisa direbut oleh pasukan Irak setelah pertempuran yang sangat sengit dari rumah ke rumah, dan dari ruang ke ruang – di mana kekuatan udara Iran tidak dapat memainkan peran dominan atau efektif – tetapi selama itu pasukan Irak menderita kerugian yang begitu besar sehingga mereka tidak akan pernah mencoba lagi upaya serupa dengan kota Iran lainnya. Pada saat Khoramshahr jatuh, satuan cadangan strategis Irak telah habis hingga titik di mana mereka tidak dapat memulai kembali operasi ofensif selama bertahun-tahun yang akan datang. Karena itu, invasi mereka ke Iran terhenti saat menghadapi perlawanan keras kepala dari pihak Iran – dan kemudian musim hujan pada bulan November 1980. Pada tanggal 7 Desember, Saddam Hussein mengumumkan bahwa Irak kini ada dalam keadaan defensif. Pada akhir tahun 1980, meski Irak telah menghancurkan sekitar 500 tank Iran buatan Barat dan merampas 100 lainnya, perang panjang nan melelahkan dan memakan banyak korban, masih baru saja dimulai.

Tentara Iran yang melawan invasi Irak selama Pertempuran Khorramshahr, tahun 1980. Baru beberapa bulan perang, di akhir tahun 1980, pasukan Saddam Hussein sudah kehabisan “bensin”. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Iraqi Invasion of Iran, September 1980 By Tom Cooper & Farzad Bishop, with additional details from N. R.; Sep 9, 2003, 06:33

https://web.archive.org/web/20060613022838/http://www.acig.org/artman/publish/article_206.shtml

Arabs at War: Military Effectiveness, 1948-1991 (Studies in War, Society, and the Military) by Kenneth M. Pollack; September 1, 2004; Page 182-185

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Iraqi_invasion_of_Iran


Iran-Iraq War / The Imposed War (1980-1988)

https://www.globalsecurity.org/military/world/war/iran-iraq.htm

https://en.m.wikipedia.org/wiki/1974%E2%80%9375_Shatt_al-Arab_conflict

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *