Invasi Irak ke Kuwait 2 Agustus 1990: Aksi kontroversial Saddam yang mengguncang Dunia

Invasi Irak ke Kuwait pada tanggal 2 Agustus 1990 adalah sebuah operasi militer singkat yang dilakukan oleh Irak terhadap negara tetangganya Kuwait, yang mengakibatkan pendudukan Irak selama tujuh bulan di negara itu. Invasi ini dan penolakan Irak untuk menarik diri dari Kuwait dengan tenggat waktu yang diamanatkan oleh PBB pada akhirnya menyebabkan intervensi militer oleh koalisi pasukan PBB yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Perang Teluk pertama dan mengakibatkan pengusiran pasukan Irak dari Kuwait dan pembakaran 600 sumur minyak Kuwait oleh pasukan Irak selama mereka mundur. Peristiwa ini dimulai pada awal tahun 1990, saat Irak menuduh Kuwait mencuri minyak bumi Irak melalui pengeboran yang serong ke wilayah Irak, meskipun beberapa sumber Irak menunjukkan keputusan Saddam Hussein untuk menyerang Kuwait dibuat hanya beberapa bulan sebelum invasi dimulai. Sementara itu beberapa pihak menilai ada beberapa alasan yang mendasari langkah Irak menganeksasi Kuwait itu, termasuk ketidakmampuan Irak untuk membayar lebih dari US $ 14 miliar yang telah dipinjamkan ke mereka untuk membiayai Perang Iran-Irak, dan tingkat produksi minyak bumi Kuwait yang tinggi yang membuat harga dan pendapatan minyak turun bagi Irak. Invasi dimulai pada 2 Agustus 1990, dan dalam waktu sekitar dua hari sebagian besar Angkatan Bersenjata Kuwait berhasil dikalahkan oleh Pengawal Republik Irak atau mundur ke wilayah Arab Saudi dan Bahrain. Irak kemudian membentuk pemerintahan boneka yang dikenal sebagai “Republik Kuwait” untuk memerintah wilayah Kuwait dan kemudian mencaploknya segera, ketika Saddam Hussein mengumumkan dalam beberapa hari kemudian bahwa Kuwait adalah provinsi ke-19 Irak.

Keputusan Saddam untuk menginvasi Kuwait membawa konsekuensi dan dampak besar bagi sejarah di Timur Tengah dan dunia. (Sumber: https://www.theguardian.com/)

Latar belakang dan alasan invasi

Ketika Perang Iran-Irak pecah, Kuwait awalnya tetap netral dan juga mencoba menengahi pertikaian antara Iran dan Irak. Pada tahun 1982, Kuwait bersama dengan negara-negara Arab lainnya di Teluk Persia mendukung Irak untuk membatasi pengaruh pemerintah Iran yang revolusioner. Antara tahun 1982-1983, Kuwait mulai memberi pinjaman keuangan yang signifikan ke Irak. Bantuan ekonomi besar-besaran Kuwait ke Irak memicu reaksi Iran yang mulai memusuhi Kuwait. Iran berulang kali menargetkan tanker minyak Kuwait pada tahun 1984 dan menembakkan senjata ke personil keamanan Kuwait yang ditempatkan di pulau Bubiyan pada tahun 1988. Selama Perang Iran-Irak, Kuwait berfungsi sebagai pelabuhan utama Irak begitu Basra berhasil dikepung dan diblokir oleh Iran. Namun, setelah perang berakhir, hubungan persahabatan antara kedua negara Arab itu berubah menjadi suram karena beberapa alasan ekonomi dan diplomatik yang memuncak pada invasi Irak ke Kuwait. Pada saat Perang Iran-Irak berakhir, Irak tidak dalam posisi keuangan yang baik untuk dapat membayar 14 miliar dolar AS yang dipinjamnya dari Kuwait untuk membiayai perangnya dan oleh karenanya meminta agar Kuwait menghapuskan utang itu. Irak berpendapat bahwa perang telah mencegah munculnya “ekspansi” Iran ke wilayah Kuwait. Namun, keengganan Kuwait untuk membebaskan utang Irak membuat hubungan kedua negara semakin tegang. Pada akhir 1989, beberapa pertemuan resmi diadakan antara Kuwait dan para pemimpin Irak, tetapi mereka tidak dapat memecahkan kebuntuan diantara keduanya.

Tentara Irak di depan mural Khomeini, 20 April 1988. Perang Iran-Irak (1980-1988) dengan hasil yang tanpa pemenang pada akhirnya menjerumuskan Irak pada jerat hutang yang besar dengan negara-negara Teluk, seperti Kuwait. (Sumber: http://america.aljazeera.com/)

Pada tahun 1988 Menteri Perminyakan Irak, Issam al-Chalabi, menekankan perlunya pengurangan kuota produksi minyak mentah Negara-negara anggota Organisasi Pengekspor Minyak (OPEC) untuk mengakhiri banjir minyak di pasaran tahun 1980-an. Chalabi berpendapat bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan membantu Irak meningkatkan pendapatannya dan membayar kembali utangnya sebesar US $ 60 miliar. Namun, mengingat industri perminyakan hilirnya yang besar, Kuwait kurang peduli dengan harga minyak mentah dan pada tahun 1989, Kuwait meminta OPEC untuk meningkatkan plafon kuota total produksi minyak negara itu sebesar 50% menjadi 1,35 juta barel per hari. Sepanjang sebagian besar tahun 1980-an, produksi minyak Kuwait jauh di atas kuota wajib OPEC dan ini telah mencegah kenaikan lebih lanjut harga minyak mentah. Kurangnya konsensus di antara anggota OPEC merusak upaya Irak untuk mengakhiri booming produksi minyak dan akibatnya mencegah pemulihan ekonomi Irak yang dilumpuhkan karena perang. Menurut mantan Menteri Luar Negeri Irak Tariq Aziz, “setiap penurunan harga US $ 1 per barel minyak menyebabkan penurunan hingga US $ 1 miliar dalam pendapatan tahunan Irak yang memicu krisis keuangan akut di Baghdad”. Diperkirakan antara tahun 1985 dan 1989, Irak kehilangan US $ 14 miliar per tahun karena strategi harga minyak Kuwait. Penolakan Kuwait untuk mengurangi produksi minyaknya dipandang oleh Irak sebagai tindakan agresi terhadapnya.

Tuduhan Irak bahwa Kuwait “mencuri’ hasil ladang minyak Rumaila menjadi salah satu alasan Irak untuk menginvasi Kuwait. (Sumber: https://www.geoexpro.com/)

Hubungan yang semakin tegang antara Irak dan Kuwait semakin diperburuk ketika Irak menuduh bahwa Kuwait melakukan pengeboran serong di perbatasan internasional ke arah ladang minyak Rumaila Irak. Perselisihan tentang ladang Rumaila dimulai pada 1960 ketika deklarasi Liga Arab memutuskan perbatasan Irak-Kuwait adalah 2 mil di utara ujung paling selatan ladang Rumaila. Selama Perang Iran-Irak, operasi pengeboran minyak Irak di Rumaila menurun sementara di sisi Kuwait meningkat. Pada tahun 1989, Irak menuduh Kuwait menggunakan “teknik pengeboran canggih” untuk mengeksploitasi minyak dari bagiannya di ladang Rumaila. Irak memperkirakan bahwa minyak Irak senilai 2,4 miliar dolar AS “dicuri” oleh Kuwait dan menuntut kompensasi. Kuwait menolak tuduhan itu dan menganggapnya sebagai taktik palsu Irak untuk membenarkan tindakan militer terhadapnya. Beberapa perusahaan asing yang bekerja di ladang Rumaila juga menolak klaim Irak, dan menganggapnya sebagai sebuah “kamuflase untuk menyamarkan niat lebih jauh Irak”. Pada 25 Juli 1990, hanya beberapa hari sebelum invasi Irak, para pejabat OPEC mengatakan bahwa Kuwait dan Uni Emirat Arab telah menyetujui proposal untuk membatasi produksi minyak harian mereka menjadi 1,5 juta barel, sehingga sebenarnya berpotensi menyelesaikan perbedaan kebijakan minyak antara Kuwait dan Irak. Pada saat mendekati penyelesaian, lebih dari 100.000 tentara Irak telah dikerahkan di sepanjang perbatasan Irak-Kuwait, dan oleh karenanya, pejabat Amerika menyatakan bahwa hanya ada sedikit indikasi penurunan ketegangan meskipun telah ada penyelesaian masalah di OPEC.

Irak menuduh Kuwait memproduksi minyak diatas kuota OPEC yang mengakibatkan harga minyak turun dan memberatkan ekonomi Irak. (Sumber: https://www.eia.gov/)

Disamping alasan-alasan diatas, pihak Barat percaya bahwa invasi Irak ke Kuwait sebagian besar dimotivasi oleh keinginannya untuk mengambil kendali atas cadangan minyak yang besar. Sementara itu Pemerintah Irak menjustifikai invasi mereka dengan mengklaim bahwa Kuwait sebenarnya adalah bagian alami dari Irak yang diakibatkan oleh imperialisme Inggris. Setelah menandatangani Konvensi Anglo-Ottoman 1913, Inggris berencana untuk memisahkan Kuwait dari wilayah Ottoman dan menjadikannya kerajaan yang terpisah, tetapi perjanjian ini tidak pernah disahkan. Pemerintah Irak juga berpendapat bahwa Emir Kuwait adalah sosok yang sangat tidak populer di kalangan penduduk Kuwait. Dengan menggulingkan Emir, Irak mengklaim bahwa hal itu akan memberi warga Kuwait kebebasan ekonomi dan politik yang lebih besar. Kuwait secara resmi berada di bawah wewenang pemerintah Utsmaniyah Basra, dan meskipun dinasti yang berkuasa, keluarga Al Sabah, telah ikut perjanjian protektorat pada tahun 1899 yang menyerahkan tanggung jawab untuk urusan luar negerinya ke Inggris, Kuwait tidak pernah melakukan upaya untuk memisahkan diri dari Kekaisaran Ottoman. Karena alasan ini, perbatasannya dengan provinsi Basra tidak pernah secara jelas didefinisikan atau disepakati bersama. Namun sebagai negara kecil yang ada di bawah bayang-bayang negara-negara kuat di sekelilingnya seperti Arab Saudi, Irak dan Iran, Kuwait – sebuah negara dengan luas hanya 14.000 kilometer persegi, dengan populasi sekitar 1,6 juta – yang kemudian dikenal sebagai negara kaya minyak dengan posisi strategis yang penting, keberadaannya memang sudah terancam sejak di negeri itu muncul pemerintahan yang mandiri.

Klaim Irak atas wilayah Kuwait didasari pada fakta historis bahwa wilayah Kuwait pernah menjadi bagian dari Provinsi Basra saat era Ottoman di abad ke-19. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tanggal 25 Juli 1990, April Glaspie, duta besar AS untuk Irak, meminta komando tinggi Irak untuk menjelaskan persiapan militer yang sedang berlangsung, termasuk pengumpulan pasukan Irak di dekat perbatasan. Duta Besar Amerika menyatakan kepada lawan bicaranya di Irak bahwa Washington, “yang diilhami oleh sikap persahabatan dan bukan oleh konfrontasi, tidak memiliki pendapat tentang konflik antara Kuwait dan Irak”, dan menambahkan bahwa “kami tidak memiliki pendapat tentang konflik internal antara negara-negara Arab”. Glaspie juga mengindikasikan kepada Saddam Hussein bahwa Amerika Serikat tidak berniat “memulai perang ekonomi melawan Irak”. Disamping Amerika sendiri tidak memiliki perjanjian pertahanan dengan Kuwait. Pernyataan-pernyataan ini mungkin menyebabkan Saddam yakin ia telah menerima lampu hijau secara diplomatik dari Amerika Serikat untuk menyerang Kuwait. Menurut Richard E. Rubenstein, Glaspie yang kemudian ditanya oleh wartawan Inggris mengapa dia mengatakan itu, jawabannya adalah “kami tidak berpikir dia akan (bertindak) sejauh itu” yang berarti menyerang dan mencaplok seluruh Kuwait. Meskipun tidak ada pertanyaan lanjutan yang diajukan, dapat disimpulkan bahwa apa yang dipikirkan pemerintah A.S. pada Juli 1990 adalah bahwa Saddam Hussein hanya berusaha untuk menekan Kuwait untuk menghapus hutang dan untuk menurunkan produksi minyaknya.

Dubes AS untuk Irak, April Glaspie. Komentar Glaspie sebelum invasi ke Kuwait dinilai Irak sebagai sikap Amerika yang tidak akan “merintangi” langkahnya menindak Kuwait. (Sumber: https://www.washingtonexaminer.com/)

Kekuatan militer Kuwait

Angkatan bersenjata Kuwait dibentuk sebagai reaksi atas ancaman Irak sejak dari tahun 1961. Awalnya, mereka secara perlahan namun sistematis diorganisasikan dan dilatih oleh Inggris, yang tetap berpengaruh di negara tersebut hingga tahun 1970-an. Situasi berubah pada 1980-an, ketika pemerintah Kuwait mulai memperkenalkan sejumlah proyek modernisasi, yang semuanya masih sangat terbatas dan didasarkan pada pengadaan pembelian senjata murah dari banyak sumber, yang pada akhirnya malah menyebabkan mimpi buruk logistik. Didorong oleh pengalaman mereka sendiri di wilayah tersebut, Inggris awalnya tertarik untuk membantu mengembangkan Angkatan Udara Kuwait (KAF). Kekuatan udara mereka awalnya dilengkapi dengan enam Jet Provost T.Mk.51, dan empat helikopter Westland Whirlwind – yang semuanya diterbangkan oleh pilot Inggris. Setelah kader awal pilot asli Kuwait dilatih, pada tahun 1969 total sebelas Hawker Hunter F.Mk.57 dikirim, sambil menunggu pencarian Kuwait untuk pesawat tempur yang lebih maju. Upaya ini berakhir ketika Inggris dan AS (hampir seperti) memaksa Kuwait – dan Arab Saudi – untuk membeli pencegat BAC Lightning F.Mk.53, bahkan walau pesawat ini tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pembelinya: waktu itu Inggris tertarik untuk membeli 50 pesawat General Dynamics F- 111, sebuah pembom tempur buatan Amerika Serikat, dan hasil penjualan Lightning adalah untuk memastikan pendanaan untuk proyek pembelian mereka ini. Kurangnya pengalaman di antara pilot Kuwait terbukti menjadi hambatan dalam penggunaan Lightning yang canggih dan oleh karenanya terdapat beberapa kesepakatan tambahan untuk mendukung pembelian dan operasional Lightning ini. Akhirnya, 12 Lightning F.Mk.53 dibeli, bersama dengan dua pesawat latih T.55, namun, mereka semua tidak akan beroperasi penuh selama bertahun-tahun. Sebagai contoh, pada akhir 1968 sebuah kontrak ditandatangani dengan BAC untuk pembelian 12 Strikemaster Mk.83, yang seharusnya akan memberikan pelatihan awal yang lebih baik kepada Kuwait. Juga, beberapa mantan perwira Kementerian Pertahanan Inggris dikontrak untuk mengorganisasi sebuah perusahaan yang akan mengatur dan mengawasi pelatihan pilot Saudi dan Kuwait beserta personel perawatannya di darat. Perusahaan ini, bagaimanapun, dibayar oleh pemerintah Inggris, dan sudah pada tahun 1970 muncul keluhan bahwa Inggris sebenarnya bahkan tidak pernah memperoleh sepeserpun dari seluruh penjualan Lightning, karena semua keuntungan dihabiskan untuk proyek-proyek sekunder yang diperlukan untuk membuat pesawat itu operasional di dua angkatan udara negara Teluk itu.

Seperti negara-negara Arab lain yang dekat dengan Inggris, AU Kuwait menerima juga pesawat tempur Hawker Hunter. (Sumber: https://www.deviantart.com/)
Pengaruh Inggris yang kuat bahkan mampu “memaksa” Kuwait untuk membeli pesawat tempur BAC Lightning F.Mk.53 buatannya. (Sumber: http://www.aeroflight.co.uk/)

Pada tahun 1970, angkatan bersenjata Kuwait terdiri dari pasukan yang terdiri dari 4.500 orang, yang diorganisasikan sebagai kelompok brigade dengan 50 tank menengah Vickers Mk 1 MBT, baterai howitzer 25pdr, kendaraan lapis baja, dan rudal anti-tank Vigilant. Pada saat itu, KAF memiliki 900 personel, yang diorganisasikan menjadi satu skuadron pembom-tempur (dilengkapi dengan Hunter and Lightning), dan satu skuadron pendukung (dengan enam BAC Strikemaster, dua pesawat pengangkut Lockheed C-130 Hercules, dua helikopter Whirlwind dan enam helikopter Agusta-Bell AB.205 helikopter). Hubungan Kuwait dengan Irak tetap tegang dan pada bulan Maret 1973, Baghdad berusaha memaksa Kuwait menyerahkan wilayah yang berseberangan dengan pangkalan angkatan laut yang baru dibangun di Omm ol-Qasr. Pertempuran perbatasan singkat menunjukkan perlunya Angkatan Udara Kuwait yang dilengkapi dengan baik dan menanggapi situasi ini Emir Kuwait segera meluncurkan program penbelian senjata baru yang komprehensif. Pada awal 1974, Kuwait mengorder 18 pesawat tempur Dassault Mirage F.1CK dan dua Mirage F.1BK (dua kursi), serta 24 buah helikopter SA.342 L/K “Gazelle” di Prancis, beberapa di antaranya memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal anti-tank HOT. Mirage F.1CK yang dikirimkan ke Kuwait, dilengkapi dengan radar Cyrano-IV “versi dasar”, tanpa upgrade yang lebih canggih seperti pada versi F.1EQ di negara tetangganya Irak. Persenjataan utama pencegat baru itu adalah rudal AIM-9 Sidewinder produksi AS, yang kemudian digantikan oleh Matra R.550 Magic Mk.I pada awal 1980-an.

jelang invasi Irak, pesawat tempur utama Kuwait adalah Mirage F-1, yang ironisnya punya spesifikasi lebih rendah dari Mirage tipe sama yang dimiliki oleh Irak. (Sumber: http://www.acig.info/)

Sementara itu, pada bulan Maret 1974, mereka meminta ijin pembelian 30 McDonnell Douglas A-4KU Skyhawk dan sistem SAM MIM-23 HAWK, dan pada 20 Januari 1975 McDonnell Douglas diizinkan untuk memproduksi pesawat ini untuk Kuwait. Semua A-4KU adalah benar-benar baru, dan mirip dengan standar A-4M Skyhawk II yang dikirim ke USMC pada saat itu, ditenagai oleh mesin P&W J-52-P-408 yang kuat, dengan kap kokpit yang lebih besar dan ujung sirip yang berbentuk mengkotak, tetapi tanpa perlengkapan elektronik yang dirahasiakan dan kemampuan untuk meluncurkan rudal AGM-45 Shrike dan AGM-62 Walleye, atau peralatan yang diperlukan untuk membawa senjata nuklir. Mereka juga membeli TA-4KU versi dua kursi juga ditenagai oleh mesin yang sama, dan memiliki kemampuan payload yang sama dan peralatan pendukung lain dari A-4KU, termasuk perlengkapan avionik yang disimpan di dorsal di belakang kokpit. Sebagian besar pesawat dan helikopter baru untuk KAF dikirim antara tahun 1976 dan 1978, saat itu para kru mereka dilatih di Kuwait oleh instruktur Prancis dan Pakistan.

Untuk pesawat penyerang, AU Kuwait mengandalkan pesawat McDonnell Douglas A-4KU Skyhawk buatan Amerika. (Sumber: http://wp.scn.ru/)
Pesawat Short Tucano T.Mk.52 pesanan AU Kuwait. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Setelah semua Mirage dan Skyhawks dikirim, pada tahun 1983, KAF mengorder lagi 13 Mirage F.1CK-2 tambahan dan empat Mirage F.1BK-2, bersama dengan pesanan untuk enam helikopter Super Puma AS.332F, yang dilengkapi dengan rudal anti-kapal Exocet. Terlepas dari sikap resmi mereka yang “pro-pan-Arab”, pada tahun yang sama Kuwait juga menolak tawaran Mesir untuk membeli Alpha Jet yang dirakit di Mesir di bawah lisensi, dan sebaliknya memesan 12 Hawk T.Mk.64 dari Inggris. Namun, sejak 1987, Kuwait semakin dekat dengan AS untuk memenuhi kebutuhan pertahanannya, dan kerja sama ini menghasilkan pesanan 32 pesawat tempur multirole berkursi tunggal McDonnell Douglas F/A-18C Hornet, dan delapan pesawat dua kursi F/A-18D. Bersama dengan Hornet, AS rencananya akan mengirimkan 120 rudal udara-ke-udara AIM-9L Sidewinder, 344 rudal AGM-65G Maverick dan 40 rudal anti-kapal AGM-84D Harpoon. Dua tahun kemudian, ketika produksi Hornet pertama untuk Kuwait akan selesai, yang pertama dari 12 pesanan Hawk tiba, sementara itu KAF juga memesan 12 pesawat Short Tucano T.Mk.52 dari Inggris, untuk memenuhi peran sebagai pesawat latih dasar dan lanjutan.

Tank Chieftain Mk.5, menjadi andalan satuan lapis baja AD Kuwait saat pecah perang dengan Irak. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Untuk memperkuat AD nya pada tahun 1988, Kuwait mengorder 200 tank M-84 dari Yugoslavia, namun hanya sedikit yang telah aktif saat Irak melakukan invasi. (Sumber: Reddit)
Kuwait punya kebiasaan mengimpor senjata dari berbagai negara, salah satunya mereka mengekspor juga kendaraan tempur BMP-2 buatan Soviet. (Sumber: http://www.missing-lynx.com/)

Pada saat itu, KAF menjadi kecabangan yang paling baik diperlengkapi dibanding dengan semua cabang militer lainnya – dan ini karena beberapa alasan, yakni: keluarga al-Sabah yang berkuasa selalu mengandalkan bantuan dan dukungan dari salah satu negara adikuasa dan oleh karena itu mereka hanya mempertahankan pasukan kecil dan relatif kurang terlatih (ini juga merupakan tindakan pencegahan terhadap kemungkinan munculnya ketidaksetiaan di angkatan bersenjatanya); angkatan udara dianggap sebagai satu-satunya sarana pertahanan yang penting bagi negara kecil itu, sementara Angkatan Darat sedikit lebih dari sekadar “penahan” bagi setiap penyerbu potensial, yang dirancang untuk memperlambat agresi selama beberapa hari. Setelah itu, diharapkan bantuan dari luar negeri akan tiba. Pada tahun 1989, Pasukan Darat Kuwait pada umumnya masih dilengkapi dan dilatih oleh Inggris dan dilengkapi dengan 143 tank Chieftain pada saat invasi Irak, tetapi program modernisasi sederhana mulai diluncurkan pada tahun 1988, dengan Kuwait memilih kendaraan tempur infanteri BMP-2 (pesanan awal 245 unit) dari Rusia dan tank M-84 MBT (200 yang diorder, baru 15 yang aktif di tahun 1990) dari Yugoslavia. Kendaraan pertama yang dipesan baru akan tiba pada musim gugur 1990. Bersama-sama itu diikuti dengan pembelian sejumlah sistem senjata lain dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, dan Yugoslavia. Beragamnya tipe perlengkapan tempur di angkatan bersenjata Kuwait terbukti menciptakan mimpi buruk di bidang logistik dan membutuhkan sejumlah besar instruktur asing, serta tim penghubung asing yang cukup besar untuk ditempatkan di Kuwait. Pasukan Pertahanan Kuwait yang kecil, hanya yang terdiri dari tiga brigade mekanik (termasuk Brigade ke-24 dan 35). Kekuatan ini didukung oleh tim kecil dari United States Liaison Office Kuwait (USLOK), yang berfokus pada dukungan logistik.

Rencana militer Irak dan Kuwait

Rencana operasi militer Irak untuk menginvasi Kuwait sebenarnya didasarkan pada kombinasi rencana lama Inggris dari tahun 1950-an, yang “diperbarui” berdasarkan pelajaran dari 18 bulan terakhir perang melawan Iran, dengan berbagai elemen baru – dengan satu pengecualian : tidak akan ada hulu ledak kimia yang akan digunakan, bahkan walau penggunaan senjata kimia sudah menjadi bagian standar dari doktrin taktis Irak sejak akhir 1987. Selain itu, Pemimpin Irak memahami pentingnya menangkap petinggi pemerintah Kuwait, agar dapat menggantinya secara legal oleh badan yang akan mendukung tujuan-tujuan Irak. Orang-orang Irak berusaha untuk menggunakan kekuatan sekecil mungkin: alih-alih memulai invasi mereka dengan serangan udara yang kuat dan pemboman artileri yang sebenarnya bisa dilakukan oleh militer mereka, mereka berencana untuk mengerahkan unit-unit komando ke Kota Kuwait, dengan tugas menangkap keluarga kerajaan. Bersamaan dengan itu, empat divisi Pengawal Republik Irak akan bergerak masuk ke Kuwait: dua unit akan menduduki ibukota, sementara dua lainnya akan melakukan manuver yang melingkar dan memutuskan komunikasi antara Kota Kuwait dan perbatasan Saudi. Oleh karena itu, setelah serangan udara pertama terhadap lapangan udara Kuwait dilakukan oleh artileri jarak jauh Irak dan pembom-tempur dari Angkatan Udara Irak (IrAF). Serangan udara dan artileri hanya akan dilakukan sejauh ini untuk menjaga KAF tidak menerbangkan pesawatnya. Untuk operasi ini, Irak mengerahkan empat divisi Komando Pengawal Republik mereka (RFGC):

  • Divisi Lapis Baja Hammurabi ke-1 (dengan Brigade Lapis Baja ke-8 dan ke-17, dan Brigade Infanteri Mekanik ke-15, dilengkapi dengan total sekitar 350 MBT T-72 dan 100 BMP-2 APC) dan Divisi Infanteri Bermotor Nebukadnezzar ke-6 (dengan Infanteri ke-19 dan 22 yang Bermotor dan satu brigade lapis baja), dikerahkan di utara Kuwait, di sepanjang Highway 6, yang menghubungkan Basrah dan Kota Kuwait; mereka akan menyerang langsung di ibukota Kuwait.
  • Divisi Lapis Baja al-Medinah al-Munawera ke-2 (dengan Brigade Lapis Baja ke-2 dan ke-10, dan Brigade Mekanik ke-14, yang dilengkapi dengan MBT T-72 dan APC BMP-2) dan Divisi Infanteri Mekanik Tawalkalna al-Allah ke-3 (dengan dua brigade mekanik dan satu brigade lapis baja) dikerahkan ke barat laut Kuwait; mereka akan menyerang dari arah barat laut, melintasi Wadi al-Batin, bergerak ke selatan dan kemudian ke timur, sehingga memutus semua koneksi darat antara Kuwait dan Arab Saudi.
  • Irak juga mengerahkan unit komando RGFC dan Angkatan Darat yang setara dengan divisi penuh untuk operasi ini. Meskipun berbasis di barat daya Basrah, dan dengan demikian jaraknya relatif jauh dari Kuwait, unit ini memainkan peran penting – melalui penyerbuan yang menggunakan helikopter.
Pasukan Pengawal Republik, menjadi tulang punggung militer Irak untuk menginvasi Kuwait. (Sumber: Pinterest)

Untuk mendukung unit-unit ini, Korps Penerbangan Angkatan Darat Irak (IrAAC) akan mengerahkan satu skuadron helikopter tempur Mil Mi-25 (ASCC-Code “Hind”), beberapa unit helikopter angkut Mi-8 dan Mi-17, juga sebuah skuadron helikopter Bell 214ST. Tugas unit helikopter adalah yang terutama untuk mengangkut dan mendukung pasukan komando Irak ke Kota Kuwait, dan kemudian mendukung gerak maju pasukan darat. IrAF memiliki setidaknya dua skuadron Sukhoi Su-22 dan satu pembom tempur Mirage F.1EQ di pangkalan as-Shoibiyah AB (bekas markas RAF, Shaybah), 45 km barat daya Basrah, dan dua skuadron MiG-23BN yang ditempatkan di Pangkalan Ali Ibn Abu Talib AB (yang lebih dikenal pihak Barat sebagai “Tallil”), sebelah selatan an-Nasseriyah, di mana satu skuadron pembom tempur Sukhoi Su-25K dikerahkan juga. Selain itu, itu mereka menggunakan pesawat penumpang Boeing 727, yang dilengkapi dengan perangkat komunikasi stand-off yang kuat – dan pengacau radar.

Su-22M4 AU Irak. (Sumber: http://wp.scn.ru/)
MiG-23BN AU Irak. (Sumber: http://www.acig.info/)

Tugas utama IrAF adalah membangun keunggulan udara melalui serangan udara terbatas terhadap dua pangkalan udara utama Kuwait, dan untuk memberikan dukungan udara jarak dekat dan pengintaian yang diperlukan. Di pihak Kuwait, sama sekali tidak ada rencana pertahanan yang serius. Sementara ketegangan telah meningkat sudah sejak berbulan-bulan, tingkat kewaspadaan dalam angkatan bersenjata Kuwait tetap rendah. Hanya selama satu minggu pada pertengahan Juli 1990, Pasukan Darat dan KAF diperintahkan untuk siaga: kemudian, seperti kebiasaan orang-orang di negara itu, mereka diperintahkan untuk mundur, sambil menunggu berlalunya waktu terpanas tahun itu, ketika sebagian besar orang di Kuwait memilih untuk tidak bekerja. Sejalan dengan itu, Emir Kuwait tidak mengeluarkan perintah atau menyiapkan rencana untuk pertahanan negaranya dan hanya memerintahkan patroli biasa ditugaskan ke daerah perbatasan, meski mereka ini bisa dengan jelas melihat pasukan Irak dikerahkan di depan mata mereka, hanya detasemen kecil yang dikerahkan di sepanjang perbatasan. Pada 1990, KAF sudah menjadi angkatan udara yang berkembang dengan baik, yang direncanakan akan digunakan sebagai garis pertahanan pertama negara itu,namun mereka hanya punya dua pangkalan udara utama: Ali al-Salem Sabah AB, di luar Kota Kuwait di selatan, dan Ahmad al-Jaber AB, sekitar 50 km di selatan. Kekuatan mereka bertumpu pada lima skuadron pesawat tempur dan helikopter serta kru yang terlatih. Pada 1 Agustus 1990, unit KAF terdiri dari:

  • Sqn No.9: dengan 14 A-4KU/TA-4KU berpangkalan di Ahmed al-Jaber AB
  • Sqn No.12: dengan 12 Hawk T.Mk.64 berpangkalan di Ahmed al-Jaber AB
  • Sqn No.18: dengan 13 Mirage F.1CK/ F.1BK berpangkalan di Ali al-Salem Sabah AB
  • Sqn No.25: dengan 15 A-4KU/TA-4KU berpangkalan di Ahmed al-Jaber AB
  • Sqn No.33: dengan armada helikopter SA.342K Gazelle yang berpangkalan di Ali al-Salem Sabah AB
  • Sqn No.41: dengan pesawat L-100-30, DC-9-32CF berpangkalan di Ali al-Salem Sabah AB
  • Sqn No.61: dengan 12 Mirage F.1CK-2/F.BK-2 berpangkalan di Ali al-Salem Sabah AB
  • Sqn No.62: dengan armada SA.330H Puma dan SA.330F Super Puma berpangkalan di Ali al-Salem Sabah AB

Pasukan Darat Kuwait terdiri atas tiga brigade, termasuk Brigade Mekanis ke-15, yang berbasis di Kota Kuwait selatan; Brigade Mekanik “Fatah” ke-35, yang dilengkapi dengan tank Chieftain, yang berbasis di bagian barat negara itu, dan Brigade Mekanik ke-6, juga dilengkapi dengan Chieftain, yang berpusat di utara. Semua ini berada di pangkalan mereka, dengan sejumlah besar tank dan kendaraan lain di dalam penyimpanan. Intinya, baik KAF maupun Pasukan Darat beroperasi seperti dalam kondisi masa damai, dengan sebagian besar perwira dan yang berpangkat tamtama cuti. Selain itu, Perusahaan Westinghouse dikontrak untuk mengoperasikan balon pengamatan radar, yang diposisikan di selatan perbatasan Irak: awak dari radar aerostat ini yang melaporkan pergerakan pertama kali mengenai unit Irak yang bergerak menuju perbatasan, pada pukul 23:00, pada 1 Agustus 1990.

Invasi 2 Agustus 1990

Serangan Irak dimulai pada pukul 01:00 dini hari tanggal 2 Agustus 1990, dengan T-72 dan infanteri mekanik Divisi al-Medinah al-Munawera bergerak ke perbatasan selatan Safwan dan di sepanjang Highway 6 menuju Kota Kuwait. Tidak ada perlawanan: meskipun mendapat informasi tentang pergerakan pasukan Irak di perbatasan, keluarga kerajaan dan pejabat Kuwait tidak melakukan apa pun untuk menyiagakan angkatan bersenjata mereka, sebaliknya sibuk dengan persiapan terburu-buru untuk mengungsi. Tentara Irak dengan cepat melewati pangkalan Brigade Mekanis Kuwait ke-6, dan bergegas menuju selatan, mencapai pinggiran Kota Kuwait pada pukul 05.00 pagi, beberapa menit sebelum fajar. Bersamaan dengan itu, Divisi Lapis Baja al-Medinah al-Munawera memasuki ladang minyak Rumailah dan bergerak cepat ke arah selatan, melewati pangkalan Brigade Mekanik ke-35 Kuwait pada prosesnya. Baru sekitar pukul 05.00 waktu setempat, satuan Pasukan Darat Kuwait yang pertama – kira-kira berkekuatan satu batalion tank Chieftain dari Brigade Mekanik ke-35, yang dipimpin oleh Kolonel Salem al-Srour – bergerak keluar dari pangkalannya dan menuju ke Jahra, dengan maksud memperlambat pergerakan tentara Irak. Saat fajar, pasukan udara kedua belah pihak beraksi, dan di sekitar waktu ini – tak lama setelah 05:00 – unit pertahanan udara Kuwait diaktifkan. Sesaat sebelum gelombang pertama pembom-pembom IrAF tiba, dua A-4KU KAF diterbangkan dari pangkalan Ahmed al-Jaber AB. Mereka menyerang iring-iringan depan Divisi Lapis Baja al-Medinah al-Munawera, masing-masing membuat dua serangan, menyebabkan sedikit (jika ada) kerusakan sebelum pergi.

Rudal SAM MIM-23B I-HAWK milik Kuwait yang dikendalikan oleh kontraktor asing cukup banyak memakan korban kekuatan udara Irak pada saat invasi Irak. (Sumber: https://picryl.com/)

Karena kekacauan dan putusnya rantai komandonya – setidaknya juga disebabkan karena tidak ada perwira Pakistan, India dan Bangladesh dan NCO yang mengelola persenjataan dan dukungan teknis dari unit-unit KAF pada saat itu – KAF belum juga mampu melakukan serangan lagi hingga formasi besar pembom tempur dan helikopter Irak mencapai Kota Kuwait. Namun demikian, terdapat situs SAM MIM-23B I-HAWK yang aktif di pulau Bubiyan, yang dikendalikan oleh kontraktor asal AS, yang segera melakukan aksi penembakan setelah mendeteksi formasi pertama pesawat dan helikopter Irak yang mendekat. Meskipun Kuwait kemudian mengklaim bahwa “situs SAM” mereka telah menembak jatuh hingga 14 pesawat dan helikopter Irak, hanya dua “kill” HAWK yang dapat dikonfirmasi: yakni atas sebuah Su-22 dan MiG-23BN yang ditembak jatuh ketika mendekati Teluk Persia utara pada waktu fajar. Dua pesawat ini adalah bagian dari formasi yang lepas landas dari Pangkalan Wahda AB (lebih dikenal sebagai-Shoibiyah), dan sedang terbang untuk menyerang posisi Kuwait, di sepanjang rute as-Shoibiyah – al-Faw – Kuwait IAP. Su-22 yang ditembak jatuh itu milik Skuadron No.109, dan MiG-23BN nya milik Skuadron No.49 dan kedua pesawat tempur itu diterbangkan oleh dua orang Letnan Satu yang masih muda. Kedua pesawat itu ditembak jatuh sekitar pukul 05.00, dan pihak Irak tidak menemukan jejak mereka selanjutnya. Sebagai reaksi terhadap aktivitas situs MIM-23B I-HAWK Kuwait di Bubyan, sebuah Su-22 dari Skuadron IrAF No.109 (berbasis di as-Shoibiyah AB), menembakkan satu rudal anti-radar Kh-25MP, memaksa situs itu untuk mematikan radarnya. Meskipun IrAF telah memiliki Kh-25 sejak beberapa tahun, rudal itu tidak pernah digunakan mereka untuk melawan Iran, dan ini adalah pertama kalinya mereka menembakkan senjata ini. Hasil dari serangan ini tidak diketahui. Kemudian pada hari itu, sekitar pukul 09.00, ketika unit-unit khusus Irak tiba di Pulau Bubiyan untuk merebut situs rudal I-HAWK, mereka mengetahui bahwa rudal itu dipasang pada mode operasi “otomatis”. Para Kontraktor AS yang mengoperasikannya telah melarikan diri, meninggalkan orang-orang Kuwait yang terkejut dan kemudian menyerah: mengangkat tangan segera setelah mereka melihat prajurit Irak pertama datang.

Untuk membungkam situs rudal HAWK Kuwait, Su-22 Irak menembakkan sebuah rudal Kh-25 meski hasilnya tidak diketahui. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu, sekitar 50 helikopter Mi-8/17 dan Bell 214ST yang membawa pasukan komando IrAAC, dikawal oleh helikopter tempur Mi-25 dan BO-105 mencapai Kota Kuwait hampir tanpa perlawanan, pada saat mereka tiba tidak ada pesawat KAF yang mengudara. Pihak Irak memang kehilangan beberapa helikopter ketika helikopter-helikopter ini menabrak kabel-kabel bertegangan tinggi, namun hal ini menyebabkan kerugian yang signifikan dan beberapa kekacauan, setidaknya sejauh ini pasukan komando Irak gagal untuk merebut Istana Emir Kuwait dan juga gagal mencegat anggota keluarga kerajaan yang beranjak pergi. Rumor yang beredar di militer AS di Kuwait menyatakan bahwa operasi ini gagal menangkap Emir Kuwait karena para perencana Irak gagal menyadari perbedaan waktu satu jam antara Kota Kuwait dan Baghdad, yang mengakibatkan tidak terkoordinasinya serangan yang dilakukan oleh pasukan khusus Irak, Pasukan Pengawal Republik, dan angkatan laut – yang kapal-kapalnya digunakan tidak hanya untuk membawa pasukan komando namun juga untuk menyerang kota, menyerang gedung-gedung pemerintah dan istana Emir di Dasman serta Pulau Bayan dengan tembakan artileri.

Untuk mengangkut satuan komando yang menyerbu ke Kuwait, Irak menggunakan juga helikopter Bell 214ST. (Sumber: Reddit)
Invasi ke Kuwait adalah aksi tempur kedua dari MiG-29 Fulcrum AU Irak setelah diterjunkan pada bagian akhir perang lawan Iran. Saat invasi ke Kuwait, Irak telah memesan total 130 Fulcrum sebagai pesawat tempur paling canggih mereka, namun baru sekitar 30 an yang mereka terima saat perang pecah. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

Secara umum perlawanan udara Kuwait terhadap serangan Irak hanya sedikit berhasil, tetapi harus disebutkan bahwa IrAF lebih tertarik untuk merebut sebanyak mungkin pesawat KAF dalam kondisi utuh. Namun demikian, serangan udara, dan penembakan di Pangkalan Ali al-Salim Sabah AB memang menyebabkan beberapa kerusakan: Sebuah Mirage F.1CK seriall “712” (yang kerap salah disebutkan sebagai nomor “516” dalam beberapa publikasi asal Barat) terkena tembakan dan hanya tersisa bagian belakang badan pesawat, sirip, dan sayap kanan, sementara berapa Mirage lain yang rusak dan tidak bisa beroperasi tidak diketahui. Pangkalan Ahmed al-Jaber AB, dan juga Kuwait International Airfield telah diserang oleh pesawat-pesawat tempur IrAF, dan kemudian sebagai akibatnya sebuah Boeing 747 “G-AWND” milik British Airways hancur di landasan. Menghadapi serangan Irak ini, KAF bergegas menerbangkan sebanyak mungkin pesawat ke udara – bukan untuk melawan Irak, tetapi untuk mengevakuasi mereka ke Arab Saudi. Meskipun Kuwait mengklaim bahwa pencegat mereka yang terbang menyerang helikopter-helikopter Irak yang terbang rendah di atas Kota Kuwait, dan menembak jatuh hingga 15 di antaranya dalam proses tersebut, tidak ada laporan saksi mata yang mengkonfirmasi hal itu. Sebaliknya: jelas bahwa armada Mirage F-1 KAF melarikan diri ke Arab Saudi, tidak bersenjata dan tanpa melakukan perlawanan. Bahkan, IrAF berhasil memantau aktivitas mereka dengan bantuan peralatan ESM pada Boeing 727-nya yang berpatroli dari dalam wilayah udara Irak, pada ketinggian menengah. Mereka merekam sejumlah Mirage dan Skyhawk lepas landas dari pangkalan-pangkalan udara KAF dan menghilang ke arah selatan. Hanya satu Mirage KAF yang mencoba untuk mengunci radarnya pada Boeing IrAF untuk waktu yang singkat, setelah terbang dari pangkalan Ali al-Salem AB: penguncian itu berakhir ketika pesawat Kuwait itu membelok tajam ke arah selatan dan menghilang. MiG-29 dan Mirage F.1EQ Irak mengudara di dalam wilayah udara Kuwait, dan pilot mereka melaporkan penampakan armada Skyhawk KAF setidaknya sekali, tetapi tidak ada pertempuran udara ke udara yang terjadi kemudian. Divisi Lapis Baja al-Medinah al-Munawera memasuki Kota Kuwait pada pukul 05:30, dimana tank-tank T-72 dan APC BMP-2 berlomba di jalan-jalan utama, hanya untuk terjebak kemacetan. Kegagalan unit ini untuk melewati ibukota Kuwait, dan lambatnya gerakan mereka yang diikuti Divisi Lapis Baja Hammurabi, memungkinkan sebagian besar Brigade ke-15 Kuwait, yang terletak di selatan Kota Kuwait, untuk melarikan diri ke Arab Saudi dengan sebagian besar asetnya, dan juga membiarkan unit-unit KAF di pangkalan Ahmed al-Jaber AB untuk menyiapkan pesawat tambahan untuk membantu evakuasi. Di Istana Bayan, Pengawal Emir – dengan didukung oleh beberapa kendaraan lapis baja Saladin – berjuang menunda serangan Irak, tetapi segera kewalahan.

Boeing 747 “G-AWND” milik British Airways hancur di landasan akibat serangan Irak. (Sumber: Pinterest)
BMP-2 dan T-72 Irak terjebak kemacetan di Kuwait. (Sumber: https://965q8.wordpress.com/)
Sebuah BO-105 Irak hilang pada serbuan tanggal 2 Agustus 1990. (Sumber: http://iraqimilitary.org/)

Antara pukul 09:00 dan 10:00 pagi, sebuah helikopter Bell 214ST IrAAC hilang di Teluk Persia, di luar Kota Kuwait. Beberapa jam kemudian, sebuah Mi-25 dan BO-105 gagal kembali dari misi di Kuwait. Helikopter SAR IrAF yang dikirim kemudian tidak menemukan ada crew yang selamat. Diluar dua pembom-tempur yang ditembak jatuh dini hari, hanya itulah kerugian Irak itu yang mengkonfirmasi klaim Kuwait. Ketiga helikopter itu diduga oleh Irak telah ditembak jatuh dalam pertempuran udara-ke-udara. Namun, Irak tidak pernah mengidentifikasi pesawat Kuwait tipe apa yang menyerang helikopter-helikopter ini, mereka berspekulasi bahwa beberapa Mirage yang mendarat di Arab Saudi kemudian kembali untuk menyerang puluhan helikopter IrAAC yang beroperasi di ketinggian rendah antara Basra dan Kota Kuwait. Kuwait mengklaim sebanyak 23 “kill” terhadap helikopter Irak, termasuk 13 diantaranya dicetak oleh Mirage F.1CK dan tiga oleh pilot A-4KU. Namun, mereka tidak merinci jenis helikopter yang ditembak jatuh atau memberikan jenis referensi lain yang memungkinkan pengecekan ulang yang lebih akurat. Selain Mirage Kuwait, IrAF juga berspekulasi bahwa mungkin salah satu F-15 Angkatan Udara Kerajaan Saudi terlibat dalam aksi ini. Oleh karena itu, klaim-klaim KAF mengenai bagaimana mereka menembak jatuh helikopter-helikopter IrAAC ini masih harus diteliti lebih seksama.

Sebuah Mi-25 Irak juga gagal kembali dari misinya di tanggal 2 Agustus 1990. (Sumber: http://wpalette.com/)
Armada tank Irak masuk kota Kuwait, 2 Agustus 1990. (Sumber: Pinterest)

Menjelang siang, Irak memegang kendali penuh atas Kota Kuwait dan Bandara Internasional Kuwait, kecuali beberapa lokasi-lokasi penting seperti Istana Bamyan. Pasukan Irak menyerang Istana Dasman, Kediaman keluarga Kerajaan, mengakibatkan Pertempuran di sekitar Istana Dasman. Serangan di kompleks terakhir ini dilancarkan pada pukul 13.00 dengan dukungan artileri. Pengawal Emir Kuwait yang didukung oleh polisi setempat dan tank-tank Chieftain serta satu peleton kendaraan lapis baja Saladin berhasil mengusir serbuan udara oleh pasukan khusus Irak, tetapi Istana itu akhirnya jatuh setelah pendaratan yang dilakukan oleh marinir Irak (Istana Dasman terletak di pantai). Pengawal Nasional Kuwait, serta Pengawal Emir tambahan tiba, tetapi istana tetap berhasil diduduki, dan tank Pengawal Republik meluncur ke Kota Kuwait setelah beberapa jam pertempuran sengit. Emir Kuwait, Jaber Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah telah melarikan diri ke arah gurun Arab Saudi. Adik laki-lakinya yang lebih muda, Sheikh Fahad Al-Ahmed Al-Jaber Al-Sabah, ditembak dan terbunuh saat menyerang pasukan Irak ketika ia berusaha untuk mempertahankan Istana Dasman dan setelah itu tubuhnya ditempatkan di depan sebuah tank dan ditabrakkan, menurut seorang Tentara Irak yang ikut saat serangan namun desersi setelah serbuan itu. Rumah Sakit al-Emiri Kuwait, dekat Istana Dasman, melaporkan 3 orang Kuwait tewas dan 45 lainnya terluka di sana. Sekitar 95 orang Irak dirawat dengan luka-luka, kata rumah sakit itu, sambil menambahkan bahwa mereka tahu ada lebih banyak korban di rumah sakit lain.

Sheikh Fahad Al-Ahmed Al-Jaber Al-Sabah meninggal dalam serangan Irak ke Istana Dasman, 2 Agustus 1990. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Di Doha, pasukan khusus Kuwait juga melakukan perlawanan, sedangkan sebuah batalion tank Chieftain dari Brigade Mekanis ke-35 yang dibantu dengan unit-unit BMP, dan baterai artileri benar-benar menyebabkan beberapa pelambatan gerak maju unit-unit Irak di barat. Namun, unit ini segera dikepung dan kemudian kehabisan amunisi. Di selatan, Brigade Lapis Baja ke-15 bergerak segera untuk mengevakuasi pasukannya ke Arab Saudi. Dari Angkatan Laut Kuwait yang kecil, dua kapal rudal mampu menghindari penangkapan atau perusakan. Unsur-unsurnya yang masih tersisa kemudian mundur ke zona netral antara Irak dan Arab Saudi: unit-unit Irak yang mengejar mereka ke daerah ini kemudian secara keliru dianggap sebagai ujung tombak kemungkinan invasi Irak ke Arab Saudi. Di tempat lain, sejumlah perwira Kuwait yang masih hidup telah melakukan permintaan bantuan ke USLOK (perwakilan Amerika). Namun tidak ada bantuan yang datang, sementara Pemerintah AS mengutuk invasi Irak, belum ada keputusan tentang apa yang akan mereka lakukan mengenai hal itu.

Invasi Irak ke Kuwait Agustus 1990. (Sumber: http://www.acig.info/)

Apa yang terjadi kemudian tidak diketahui secara terperinci, terutama karena perlawanan militer Kuwait hampir terhenti, dengan apa yang tersisa dari Angkatan Darat mereka disibukkan untuk upaya melarikan diri ke Arab Saudi. KAF memang berusaha melakukan perlawanan, sambil setiap saat mengevakuasi pesawat tambahan ke arah selatan. Tiga helikopter Gazelle yang dikerahkan untuk menyerang satuan lapis baja Irak dilaporkan ditembak jatuh setelah lepas landas dari Pangkalan Ali al-Salem Sabah AB, sementara enam Hawk dievakuasi dari Pangkalan Ahmed al-Jaber AB ke Bahrain: salah satu di antaranya, dengan nomor seri “142”, rusak saat mendarat di sana. Pangkalan udara Kuwait kemudian menjadi tidak operasional lagi – baik karena tembakan artileri atau serangan udara lanjutan dari IrAF, karenanya beberapa Skyhawk yang tersisa di sana diketahui telah beroperasi dari jalan raya terdekat dalam dua hari berikutnya. Hal ini juga menunjukkan fakta bahwa beberapa unit Pasukan Darat Kuwait memang masih terkonsentrasi di daerah itu dan memberikan perlawanan; jika tidak, kemajuan Irak akan membuat operasi semacam itu tidak mungkin dilakukan.

Helikopter SA.342 Gazzelle milik AU Kuwait sempet digunakan untuk menyerang iring-iringan kendaraan lapis baja Irak, namun 3 diantaranya ditembak jatuh. (Sumber: http://www.acig.info/)

3 dan 4 Agustus

Dengan sebagian besar Kuwait dengan cepat dikuasai oleh militer Irak, hari kedua hanya terdapat aksi-aksi yang terbatas. Pada malam hari, Irak akhirnya mampu membuat TV Kuwait tidak dapat beroperasi, sementara itu beberapa helikopter AS.332C Super Puma KAF digunakan untuk mengangkut amunisi ke daerah-daerah kantong Pasukan Darat Kuwait yang terisolasi yang masih melawan serangan Irak. Salah satu dari mereka, yang bernomor seri “545” hancur dalam ledakan saat mendarat di Pangkalan Ali al-Salim AB, sementara dua lainnya – nomor 541 dan 544 – hilang di lapangan terbang yang sama dalam keadaan yang tidak diketahui. Di darat, unit-unit Kuwait yang tersebar masih berjuang menunda kemajuan Irak di sepanjang titik penyempitan di selatan, sampai ditaklukkan atau kehabisan amunisi. Mereka yang kemudian bisa mundur ke Arab Saudi, meninggalkan banyak peralatan yang tertinggal. Sementara itu, total 18 Mirage telah diterbangkan ke dua lapangan terbang Saudi di mana mereka dilayani dan dipersenjatai oleh kontraktor Perancis – dan personil militer Saudi. Beberapa dari mereka menerbangkan beberapa misi ke Kuwait pada 3 Agustus. Namun secara keseluruhan, armada Mirage KAF sudah tidak digunakan lagi. Selanjutnya, mereka yang tersisa dikonsentrasikan Pangkalan Udara di al-Ahsa AB, dekat Hufuf, Arab Saudi, di mana mereka membentuk Wing bersama dengan Mirage 2000 dan Mirage F.1CR milik Prancis.

Antara 3-4 Agustus 1990 helikopter AS.332C Super Puma milik KAF mencoba mensuplai kantong-kantong perlawanan tentara Kuwait yang masih melawan invasi Irak. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Skyhawk yang tersisa di Pangkalan Ahmad al-Jaber AB terbang beberapa kali melakukan serangan udara di pagi hari, kemudian berangkat ke Arab Saudi, di mana total 24 A-4KU dan TA-4KU terkonsentrasi di Pangkalan Raja Abdul Aziz AB, dekat Dhahran. Selama operasi terakhir mereka dari jalan raya dekat Pangkalan Ahmad al-Jaber AB, setidaknya dua Skyhawk tergelincir di landasan. Sementara sebuah A-4 lainnya jatuh saat lepas landas di malam hari, total empat pesawat dikonfirmasi hilang oleh Kuwait, meskipun nasib pesawat-pesawat itu yang tidak diketahui. Sebuah perusahaan komersial AS segera dikontrak untuk mempertahankan dan melayani satuan yang berhasil dievakuasi ke Arab Saudi, dan beberapa di antara mereka beraksi di Kuwait pada sore yang sama, untuk setidaknya mencoba memberikan perlawanan. Sortie A-4-terakhir yang terbang dari jalan raya dekat Pangkalan Ahmad al-Jaber AB disebutkan telah diterbangkan di pagi hari tanggal 4 Agustus 1990, pesawat itu kemudian pergi ke Arab Saudi. Beberapa tank Chieftain Kuwait terakhir dari Brigade Mekanik ke-35 terus bertempur hingga sore hari tanggal 4 Agustus; dibiarkan tanpa amunisi dan bahan bakar, mereka kemudian terpaksa untuk pergi ke Arab Saudi juga dalam keadaan relatif utuh.

Penghitungan Kerugian

Setelah invasi, spesialis persenjataan Irak dari Pangkalan al-Kut AB diterbangkan ke kedua pangkalan udara KAF, untuk memeriksa peralatan dan persenjataan yang berhasil dirampas. Di sana mereka telah menemukan sebanyak 14 Mirage F.1CKs yang masih utuh (laporan ini berbeda dengan sebagian besar sumber Barat yang hanya menyebutkan lima F.1CK/CK-2s dan tiga F.1BK dirampas oleh Irak, sementara Irak melaporkan bahwa jumlahnya antara 12 dan 14), bersama setidaknya lima Skyhawk, enam Hawk T.Mk.64, dan satu pesawat transport Lockheed L-100-30 (versi sipil C-130 Hercules). Yang juga berhasil direbut adalah seluruh perlengkapan untuk empat atau lima baterai SAM MIM-23B I-HAWK dan satu baterai SAM Skyguard (bersama dengan sekitar 12 SAM), dan sekitar 180 sampai 240 rudal udara ke udara Matra R.550 Magic Mk.I

Sebuah Lockheed L-100-30 milik KAF dirampas Irak setelah sukses menginvasi Kuwait. (Sumber: http://www.acig.info/)

Spesialis persenjataan Irak memverifikasi bahwa tanggal pembuatan Rudal Magic Kuwait lebih tua daripada gelombang pertama rudal serupa yang dipasok ke IrAF, pada tahun 1980. Lebih lanjut, pilot dan teknisi IrAF menyimpulkan, bahwa radar Cyrano IV dari Mirage Kuwait lebih kuno dan kurang canggih daripada yang dipasang di pesawat yang dikirim ke Irak, dan memiliki jumlah mode kerja yang lebih rendah bahkan jika dibandingkan dengan Mirage F. 1EQ awal yang dikirimkan ke IrAF. Semua Mirage KAF kemudian diangkut ke Pangkalan Abu Ubaida AB, di mana mereka digunakan secara luas untuk tujuan pelatihan, antara Agustus 1990 dan Januari 1991. AS mengamati perkembangan ini dan lapangan terbang ini kemudian menjadi sasaran utama USAF, selama “Perang Teluk II” pada akhir Januari 1991, dengan hasil bahwa sebagian besar hangar yang menyimpan Mirage Kuwait hancur, menghancurkan serta delapan atau sepuluh pesawat di dalamnya. Kuwait Hawk sedikit lebih beruntung, mereka semua berhasil dipindahkan ke Pangkalan Rashid AB, di Baghdad selatan, dan ditambahkan ke Flying Leaders School – sekolah senjata-tempur dari Angkatan Udara Irak. Lima diantaranya akan selamat dalam perang antara Irak dan “Koalisi Teluk” pimpinan AS, pada Januari dan Februari 1991.

Hawk KAF yang berhasil dirampas utuh oleh Irak, kemudian digunakan untuk melatih pilot-pilot Irak antara Agustus 1990-Januari 1991. (Sumber: https://www.dstorm.eu/)

Secara total, KAF berhasil diungsikan dalam kondisi yang cukup utuh dan beberapa hari kemudian pemerintah Kuwait yang ada di pengasingan mengklaim bahwa selama invasi total delapan Mirage, tiga atau empat A-4KU, lima helikopter Gazelle (tiga ditembak jatuh oleh Irak dan dua hancur di landasan), dan tiga Super Puma hilang dalam pertempuran, sementara tidak kurang dari 80% aset KAF – termasuk enam Hawk T.MK.64, tiga Lockheed L-100-30, dan sebagian besar helikopter – berhasil dievakuasi ke Arab Saudi, tempat mereka dan kru mereka akan ditata ulang menjadi “Angkatan Udara Kuwait Bebas”. Meskipun pesawat-pesawat ini kemudian tidak digunakan untuk mendukung operasi udara di Perang Teluk berikutnya, “Angkatan Udara Kuwait Bebas” turut membantu Arab Saudi dalam berpatroli di perbatasan selatan dengan Yaman, yang dianggap sebagai ancaman oleh Arab Saudi karena hubungan Yaman dan Irak yang dekat. Secara total, pihak Kuwait mengklaim bahwa KAF telah menembak jatuh tidak kurang dari 37 helikopter Irak dan dua pesawat tempur dalam dua hari pertempuran, serta menghancurkan sejumlah kendaraan lapis baja. Tidak kurang dari 15 di antaranya seharusnya ditembak jatuh pada pagi pertama pertempuran, sementara SAM MIM-23B I-HAWK Kuwait setidaknya berhasil menembak jatuh 23 pesawat dan helikopter Irak. Namun, sementara sembilan nama pilot Mirage dan A-4KU KAF diklaim mencetak total 16 kemenangan udara-ke-udara, tidak ada rincian spesifik lainnya tentang klaim ini yang pernah dipublikasikan, dan oleh karenanya tidak mungkin divalidasi.

Armada Skyhawak Kuwait yang berhasil melarikan diri kemudian diorganisasi dalam satuan udara Kuwait Bebas. (Sumber: Reddit)

Penilaian militer

Terlepas dari beberapa kesalahan, keberhasilan keseluruhan invasi Irak tidak perlu dipertanyakan: dengan superioritas numerikal sudah selayaknya mereka bisa menaklukkan Kuwait. Pihak Irak, tentu saja, menarik banyak pelajaran penting dari invasi mereka ke Iran, pada bulan September 1980. Alih-alih maju dengan santai, dan tanpa memperhatikan keunggulan jumlah, kali ini mereka berhasil menang secara meyakinkan. Dalam waktu singkat pasukan Irak mampu bergerak cepat, dimana 3 Divisi beratnya mampu maju 80 km dalam waktu sekitar 10 jam dan bergerak lagi sejauh 75 km dalam waktu 24 jam kemudian. Meskipun 4 divisi lainnya yang mengikuti lebih lambat, dalam waktu 24 jam mereka juga mampu mengambil posisi di seluruh Kuwait. Namun, ada dua kesalahan krusial yang dibuat Irak: yang pertama adalah kegagalan mereka untuk menangkap Emir Kuwait, atau setidaknya anggota keluarga kerajaan yang punya pangkat tinggi, dan yang lainnya adalah ketidakmampuan mereka untuk menghancurkan sisa-sisa kekuatan KAF pada hari pertama perang. Jadi, sementara banyak pengamat di barat menggambarkan operasi militer Irak telah dieksekusi dengan sempurna, invasi ini sebenarnya tidak berjalan semudah yang diharapkan. Terutama dalam serangan terhadap Istana Bayan dan lapangan udara Kuwait, serta beberapa instalasi kunci lainnya sering digambarkan sebagai tidak terkoordinasi dan serampangan. Bahkan, tampaknya pasukan Pasukan Republik yang angkuh tidak menganggap serius perlawanan Kuwait, mereka berulang kali menunjukkan kurangnya sikap disiplin dari tentara yang terlatih dan kenyang pengalaman perang, mereka lebih sering menyerupai pasukan yang kacau tanpa perintah. Terlalu sering mereka terlibat dalam aksi merampas makanan dari penduduk setempat dan mencuri tempat tidur untuk digunakan pada posisi pertahanan mereka yang dibangun dengan tergesa-gesa.

Secara militer kesuksesan operasi militer Tentara Irak dalam menaklukkan Kuwait bukannya tanpa kritikan, terutama atas kegagalan mereka menangkap para pemimpin pemerintahan Kuwait. (Sumber: Pinterest)

Tidak mengherankan jika ribuan orang Kuwait dan orang asing berhasil melarikan diri ke Arab Saudi sebelum perbatasan akhirnya berhasil diblokir, pada tanggal 11 Agustus. Ketika Irak mulai mengganti unit Garda Republik mereka di Kuwait dengan empat formasi Angkatan Darat pada 5 Agustus, para analis militer AS, menduga bahwa Irak sekarang akan bersiap-siap untuk melakukan invasi ke bagian utara-timur Arab Saudi, yang praktis tidak terlindungi. Kenyatannya operasi militer Irak dengan cepat kehabisan kemampuannya untuk mendukung pasukan terus bergerak maju dan Pengawal Republik terpaksa ditarik kembali ke Irak selatan. Bahkan, Baghdad sempat berjanji akan menarik semua pasukannya dari Kuwait pada 5 Agustus. Sebagai gantinya, pemerintahan boneka didirikan, dipimpin oleh Alaa Hussein Ali. Setelah dua hari Irak menganeksasi Kuwait, mereka mengangkat Hussein sebagai gubernur “provinsi baru” itu dan menggambarkan tindakannya sejauh ini sebagai sebuah “pembebasan” daerah tersebut dari Emir Kuwait. Dengan perkembangan ini serta fakta bahwa intelijen AS tidak mengetahui pasti tentang niat Irak dan ditambah munculnya minat AS untuk akhirnya mendapatkan hak menempatkan pasukannya di Arab Saudi, menyebabkan AS memutuskan melakukan intervensi militer. Selama negosiasi pada 5 dan 6 Agustus, mereka berhasil meyakinkan para bangsawan Saudi tentang perlunya mengerahkan pasukan darat AS dan pesawat Angkatan Udara AS di negara itu. Melihat perkembangan ini Irak menjadi curiga dengan seberapa cepat pengerahan pasukan dan niat AS. Oleh karena itu, pada hari-hari berikutnya, pesawat pengintai IrAF menerbangkan sejumlah pengintaian di atas wilayah udara Arab Saudi, jelas mereka mencari informasi reaksi militer Saudi atau AS. Mereka tidak menemukan banyak, karena pasukan AS baru mulai tiba di Arab Saudi pada 8 Agustus 1990. Namun demikian, setidaknya dalam dua kasus pesawat IrAF berhasil dihalau oleh F-15 RSAF saat terbang di dalam wilayah udara Saudi.

Setelah serbuan

Setelah kemenangan Irak, Saddam Hussein mengangkat Alaa Hussein Ali sebagai Perdana Menteri “Pemerintahan Sementara Kuwait Bebas” dan Ali Hassan al-Majid sebagai gubernur de facto Kuwait. Sementara itu Keluarga kerajaan Kuwait yang ada di pengasingan dan mantan pejabat pemerintah lainnya memulai kampanye internasional untuk membujuk negara-negara lain untuk menekan Irak agar meninggalkan Kuwait. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan 12 resolusi yang menuntut penarikan segera pasukan Irak dari Kuwait, tetapi tidak berhasil. Menyusul perang singkat Irak-Kuwait, sekitar setengah dari populasi Kuwait, termasuk 400.000 orang Kuwait dan beberapa ribu warga negara asing, melarikan diri dari negara itu. Pemerintah India mengungsikan lebih dari 170.000 orang India di negara-negara Arab dengan menerbangkan hampir 488 penerbangan selama 59 hari. Selama pendudukan 7 bulan, pasukan Saddam Hussein menjarah kekayaan Kuwait yang sangat besar disamping muncul juga laporan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan tentara pendudukan.

Saddam menunujuk Alaa Hussein Ali sebagai pemimpin Kuwait yang “dibebaskan” Tentara Irak. (Sumber: http://lusa.fotos.sapo.pt/)

Menanggapi aneksasi Kuwait oleh Irak, Amerika Serikat dan Uni Soviet, untuk pertama kalinya bertindak bersama dalam krisis internasional besar, bergerak secara bersamaan untuk mengisolasi Irak setelah invasi mereka ke Kuwait. Washington memberlakukan larangan pembelian minyak dan perdagangan serta memindahkan armada Kapal Induk ke Teluk, sementara Moskow, sebagai pemasok senjata utama Irak, menangguhkan semua pengiriman pesanan senjata Irak. Sementara itu, Prancis, yang sebelumnya merupakan sekutu dekat Baghdad, mengikuti jejak Amerika dengan membekukan aset Irak dan Kuwait, sementara Inggris mengumumkan bahwa mereka hanya akan membekukan aset Kuwait saja. Dewan Keamanan PBB menuntut penarikan segera pasukan Irak. Di Brussel, seorang pejabat NATO mengatakan tujuan sanksi adalah “untuk melumpuhkan Irak secara total, terutama dengan menolak membeli minyak mereka”. Dunia Arab memandang dengan perasaan cemas perkembangan ini, karena Presiden Saddam telah menjadi penguasa Arab pertama dalam sejarah modern yang mengirimkan pasukannya, tanpa alasan, ke negara Arab lain, untuk menggulingkan pemerintahnya dan membentuk rezim boneka.

Menyikapi invasi Irak atas Kuwait, baik Amerika maupun Soviet kompak untuk mengutuk dan mengisolasi Irak agar hengkang dari Kuwait. (Sumber: https://www.businessinsider.in/)

Setelah Saddam menolak menarik mundur tentara Irak dari Kuwait sesuai dengan batas deadline yang diberikan PBB, maka pasukan koalisi pimpinan Amerika diberi lampu hijau untuk mengusir paksa tentara Irak dengan kekuatan militer. Upaya pengusiran pasukan Irak dari Kuwait dimulai dengan pemboman udara dan laut pada tanggal 17 Januari 1991, berlanjut selama lima minggu. Aksi ini kemudian diikuti oleh serangan darat pada tanggal 24 Februari. Dalam 100 jam perang darat yang membawa kemenangan menentukan bagi pasukan koalisi, mereka berhasil membebaskan Kuwait dan maju hingga ke wilayah Irak. Pasukan Koalisi menghentikan gerak majunya dan mengumumkan gencatan senjata setelah 100 jam kampanye pertempuran darat dimulai. Selama perang terjadi pertempuran udara dan darat terbatas di sekitar wilayah Irak, Kuwait, dan daerah-daerah di perbatasan Arab Saudi. Irak sempat meluncurkan rudal Scud terhadap target militer koalisi di Arab Saudi dan juga terhadap sasaran Israel, untuk menarik simpati negara-negara Arab, namun gagal.

Foto propaganda Saddam berdoa di gurun Kuwait yang tampil di koran “Babil’ milik putranya. Sikap keras kepala Saddam untuk mundur dari Kuwait membawa kehancuran bagi Irak sendiri. (Sumber: https://www.telegraph.co.uk/)

Sebuah studi tahun 2005 mengungkapkan bahwa pendudukan Irak memiliki dampak buruk jangka panjang pada kesehatan penduduk Kuwait, terutama seperti aksi tentara Irak yang membakar lading minyak Kuwait secara besar-besaran saat mundur. Pada Desember 2002, Saddam Hussein meminta maaf atas invasi tahun 1990 itu hanya sesaat sebelum digulingkan pada invasi 2003 di Irak. Dua tahun kemudian, kepemimpinan Palestina juga meminta maaf atas dukungannya selama perang terhadap Saddam. Pada tahun 1990, presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, sekutu lama Saddam Hussein, mendukung invasi Saddam Hussein ke Kuwait. Setelah Irak kalah dalam Perang Teluk, orang-orang Yaman dideportasi secara massal dari Kuwait oleh pemerintah Kuwait. Militer AS terus melanjutkan kehadiran mereka di Kuwait dengan menambahkan 4.000 tentara pada bulan Februari 2015 saja. Diluar itu kehadiran warga sipil AS juga sangat kuat di Kuwait dengan sekitar 18.000 anak-anak Amerika disana diajar oleh 625 guru dari AS.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Invasion_of_Kuwait

Iraq invasion of Kuwait, 1990; Contributed by Tom Cooper, with Brig.Gen. Ahmad Sadik (IrAF) Aug 26, 2007 at 06:21 AM

https://archive.ph/20130706142817/http://www.acig.info/CMS/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=47

Superpowers unite on Iraq by Simon Tisdall in Washington and David Hirst in Nicosia; Fri 3 Aug 1990 14.43 BST

https://www.theguardian.com/world/1990/aug/03/iraq.davidhirst

The Iraqi Invasion; In Two Arab Capitals, Gunfire and Fear, Victory and Cheers, Reuters; Aug. 3, 1990

Arabs at War: Military Effectiveness, 1948-1991 (Studies in War, Society, and the Military) by Kenneth M. Pollack; September 1, 2004; Page 236

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kuwait_Army

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Gulf_War

One thought on “Invasi Irak ke Kuwait 2 Agustus 1990: Aksi kontroversial Saddam yang mengguncang Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *