Ironi Sejarah: Saat Amerika Menyelamatkan Nyawa Ho Chi Minh Dan Turut Membantu Melatih Vietminh

Ketika Mayor Angkatan Darat A.S. Allison Thomas, seorang Michigan berusia 30 tahun duduk untuk makan malam bersama Ho Chi Minh dan Jenderal Vo Nguyen Giap pada tanggal 15 September 1945, dia memiliki satu pertanyaan menjengkelkan di benaknya. Ho telah mendapatkan kekuasaan beberapa minggu sebelumnya, dan Thomas bersiap untuk meninggalkan Hanoi keesokan harinya dan kembali ke Amerika Serikat, misinya telah selesai. Dia dan tim kecil orang Amerika telah berada di Indochina Prancis bersama Ho dan Giap selama dua bulan, sebagai bagian dari misi Office of Strategic Services (OSS) untuk melatih gerilyawan Viet Minh dan mengumpulkan data intelijen yang berguna untuk digunakan melawan Jepang di hari-hari terakhir Perang dunia II. Tapi sekarang, Vietnam telah dideklarasikan kemerdekaan oleh Ho dan Jepang menyerah bulan sebelumnya, perang di Pasifik telah berakhir. Begitu pula misi OSS di Indocina. Pada makan malam terakhir dengan tuan rumahnya yang ramah, Thomas memutuskan untuk langsung ke intinya pertanyaannya. Begitu banyak laporan yang diajukan oleh OSS menyangkut kesetiaan dan niat Ho yang ambigu, dan Thomas sudah muak karenanya. Dia bertanya langsung kepada Ho: Apakah dia seorang Komunis? Ho menjawab: “Ya. Tapi kita masih bisa berteman, bukan? ” 

Ada pada masanya dimana Ho Chi Minh menjadi sekutu yang diandalkan oleh Amerika Serikat dalam melawan Jepang. Tidak ada yang menyangka bahwa 20 tahun kemudian Ho Chi Min akan memimpin negaranya untuk melawan Amerika. (Sumber: https://www.itourvn.com/)

Itu adalah pengakuan yang mengejutkan. Pada pertengahan 1940-an, kepemimpinan Viet Minh, di bawah Ho Chi Minh, meminta bantuan Barat dalam gerakan kemerdekaannya dan mereka mendapatkannya. Ketika Perang Dunia II berakhir, Amerika Serikat dan sekutunya, kebanyakan dari mereka bekas kekuatan kolonial, sekarang menghadapi masalah baru. Gerakan kemerdekaan muncul di seluruh wilayah di Timur. Tapi bekas kekuatan kolonial telah kehilangan kekuatan militer mereka, dan Amerika hanya ingin “membawa pulang pemuda-pemuda mereka setelah perang telah berakhir”. Selama perang, Amerika Serikat telah berupaya mencari sekutu dari berbagai golongan ideologi untuk memerangi kekuatan fasis, hanya untuk menemukan, bertahun-tahun kemudian, mungkin secara tidak sengaja melahirkan para pemimpin dunia baru baik karena akibat kesalahpahaman atau perhitungan lainnya kini setelah perang berakhir ada di pihak yang berseberangan dan berpotensi menjadi lawan mereka di masa mendatang, dan Ho adalah salah satu contohnya. Sebagai Pemimpin kemerdekaan Vietnam, Ho Chi Minh, hanyalah merupakan tokoh yang relatif kecil beberapa tahun sebelumnya. Namun pada tahun 1945, Ho telah menjadi pemimpin gerakan revolusioner yang akan menghasilkan masalah bagi Amerika selama beberapa dekade mendatang

PERTEMUAN TIM RUSA DENGAN “MR. HO”

Dua bulan sebelum makan malam perpisahan Thomas dengan Ho dan Giap, dia dan enam orang lainnya dari Tim Operasi Khusus Nomor 13, dengan kode nama “Rusa/Deer” terjun payung ke kamp di tengah hutan bernama Tan Trao, dekat Hanoi, dengan petunjuk untuk melanjutkan perjalanan ke markas di Ho Chi Minh, yang mereka kenal saat itu hanya sebagai “Mr. Hoo. ” Misi mereka, seperti yang mereka ketahui, adalah membentuk tim gerilya yang terdiri dari 50 hingga 100 orang untuk menyerang dan memblokir jalur kereta api dari Hanoi ke Lang Son guna mencegah militer Jepang masuk ke China. Mereka juga akan berupaya menemukan target Jepang seperti pangkalan dan depot militer, dan mengirim data-data tersebut kembali ke agen OSS di China, serta data-data intelijen apa pun yang mereka bisa dapatkan. Dan mereka harus memberikan laporan cuaca untuk operasi penerjunan udara dan operasi Kekuatan Udara Angkatan Darat AS (USAAF) sesuai kebutuhan. Thomas telah terjun payung pada tanggal 16 Juli 1945, sebagai bagian dari tim yang terdiri dari tiga orang yang juga termasuk operator radio, Sersan satu William Zielski dan Pfc Henry Prunier, penerjemah mereka. Tidak tahu siapa atau apa yang mereka hadapi ketika mereka mencapai zona penurunan, Thomas dan timnya segera dikelilingi oleh 200 pejuang gerilya yang menyambut mereka dengan hangat dan menunjukkan mereka ke gubuk tempat tinggal mereka. Mereka kemudian bertemu dengan Ho Chi Minh, yang menyebut dirinya “C.M. Hoo” di markasnya untuk mengoordinasikan operasi bersama dengannya. Thomas tidak tahu bahwa Ho adalah seorang Komunis, mampu berbicara bahasa Rusia atau pernah mengunjungi Uni Soviet. Meskipun demikian, Ho secara terbuka membahas politik dengan Thomas, menekankan tidak hanya mengenai kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Prancis, tetapi juga keinginannya untuk bekerja bersama dengan Prancis mencari solusi. 

Archimedes L.A. Patti, Perwira OSS yang membentuk Tim “Rusa” yang membantu Vietminh memerangi Jepang menjelang berakhirnya Perang Dunia II. (Sumber: https://alchetron.com/)

Dalam laporan resmi pertamanya kepada direktur OSS Archimedes L.A. Patti di Kunming, China, keesokan harinya, Thomas mencatat mengenai Ho: “Dia secara pribadi menyukai banyak orang Prancis tetapi sebagian besar tentaranya tidak.” Ini mungkin salah satu bentuk tipu muslihat Ho yang sengaja dilakukannya untuk mendekatkan dirinya sendiri dengan sekutu potensialnya meski hanya untuk sementara waktu. Di usia pertengahan 50-an, Ho tampaknya benar-benar berusaha meyakinkan komandan Tim Rusa tentang ketulusannya. Dalam upaya untuk lebih menghilangkan kekhawatiran OSS atau pemerintah AS tentang Ho, Thomas dengan tegas menulis dalam laporan tersebut: “Lupakan Komunis Bogy. VML [Liga Viet Minh] bukanlah Komunis. Mereka berdiri untuk memperjuangkan kebebasan dan reformasi dari kekerasan Prancis. ” Pandangan Thomas sendiri, sebenarnya tidak sepenuhnya diamini oleh Patti. “Saya sadar”, kata Patti, “Bahwa Ho Chi Minh adalah seorang komunis, atau sudah pernah ke Moskow dan mendapatkan beberapa pelatihan disana serta bahwa Vietminh sesungguhnya adalah sebuah partai” Namun, Patti saat itu tertarik pada Vietminh semata-mata dari sudut pandang bahwa gerakan ini dapat membantu misi-misi intelijen dalam rangka melawan Jepang. Sikap Ho sendiri terhadap Amerika sebenarnya ambigu. Dia adalah ahli taktik, yang pandai memilah-milah berbagai opsi yang dinilai paling menguntungkan tanpa menggoyahkan keyakinan akan tujuan yang diperjuangkannya. Dalam sebuah pembicaraannya dengan Kaisar Bao Dai pada akhir tahun 1945, sebagai contoh, ia mendeskripsikan Amerika secara sinis: “Mereka hanya tertarik untuk menggantikan Prancis…..mereka ingin mereorganisasi ekonomi kita agar bisa mengontrolnya. Mereka pada dasarnya adalah kapitalis. Apa yang dianggap penting oleh mereka adalah semata-mata urusan bisnis”. Meski demikian, seperti apa yang diucapkan Stalin, dalam mencapai tujuan, kalau perlu bekerjasama dengan ibu iblis pun tidak masalah. Pada tanggal 30 Juli, sisa dari Tim Rusa diterjunkan menyusul Thomas, yang terdiri dari asisten ketua tim, Letnan René Defourneaux, Sersan Staf. Lawrence R. Vogt, seorang instruktur senjata, fotografer Sersan Aaron Squires dan seorang tenaga medis, Pfc Paul Hoagland. Defourneaux, adalah seorang ekspatriat Prancis yang telah menjadi warga negara AS. Ia telah terjun payung ke Prancis pada masa awal perang untuk membantu Perlawanan sebelum bergabung dengan OSS.

Anggota Tim Rusa berfoto dengan “sahabat-sahabat Vietminh-nya”. Dari kiri ke kanan (berdiri): Phần Đinh Hủy (Hồng Việt), René Defourneaux, Hồ Chí Minh, Allison K. Thomas, Võ Nguyên Giáp, Henry Prunier, Đàm Quang Trung, Nguyễn Quý, dan Paul Hoagland. Baris depan (berlutut): Lawrence Vogt, Aaron Squires, Thái Bạch (Thái Bá Chi). (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Orang pertama yang ditemui Defourneaux ketika dia mencapai zona penurunan adalah “Mr. Van, ”yang tidak lain adalah Jenderal Giap sendiri. Mr. Van tampaknya sebagai orang yang bertanggung jawab disitu. Ho tidak berada disitu, tetapi ketika Defourneaux melihatnya, kesan pertamanya adalah Ho merupakan seorang lelaki tua yang jelas-jelas menderita suatu penyakit. Berlawanan dengan pesan seorang analis intelijen Prancis di Kunming, yang memperingatkan mereka bahwa Ho adalah: “seorang pemberani, pintar, pandai menipu, kejam dan mematikan”, kini yang ditemui orang-orang OSS itu bukanlah orang yang “licik seperti ular”, tetapi pria tua kurus seperti tulang yang dibungkus kulit berwana kuning. Dalam salah satu ironi terbesar dalam year sejarah Perang Vietnam, setidaknya yang berhubungan dengan pemerintahan Komunis di bawah Ho Chi Minh, mungkin tidak akan pernah ada jika Amerika tidak datang seperti ketika mereka tiba. “Ho sangat sakit sehingga dia tidak bisa bergerak dari sudut gubuknya bambunya yang berasap,” kata Defourneaux. Ho sepertinya tidak punya banyak waktu tersisa untuk hidup; Defourneaux mendengar bahwa itu bukan dalam hitungan beberapa minggu tetapi dalam beberapa hari. “Tenaga medis kami mengira ia mungkin terkena disentri, demam berdarah, hepatitis,” kenangnya. “Saat dirawat oleh Pfc Hoagland, Ho mengarahkan orang-orangnya ke hutan untuk mencari tumbuhan. Ho segera pulih, hal ini menunjukkan pengetahuannya tentang hutan. ” Dalam laporan lain ke OSS, Thomas telah mengemukakan sejumlah perhatiannya mengenai masalah politik, mulai dari kesetiaan Ho, hingga perjuangan di Indochina berkaitan dengan Prancis, Vichy, Jepang, China, dan Inggris. Dalam laporan tanggal 27 Juli, Thomas telah menyatakan bahwa liga yang didirikan Ho adalah penggabungan semua partai politik yang berdiri untuk kebebasan dengan “tidak ada ide politik selain hal itu”. Thomas menambahkan, “Ho benar-benar menghindari gagasan bahwa partai itu adalah sebuah gerakan komunis” karena “para petani tidak tahu apa arti kata komunisme atau sosialisme — tetapi mereka memahami kebebasan dan kemerdekaan.” Dia mencatat bahwa tidak mungkin bagi orang Prancis untuk tetap tinggal di Vietnam, mereka juga tidak diterima disana oleh karena orang Vietnam “membenci mereka lebih buruk daripada (kepada) orang Jepang …. Ho berkata dia akan menyambut satu juta tentara Amerika untuk masuk tetapi tidak satupun orang Prancis”.

KONTROL ATAS INDOCHINA PRANCIS SELAMA PERANG DUNIA II

Indochina Prancis selama Perang Dunia II adalah laksana kuali yang mendidih dari kekuatan kolonial yang sedang merosot, dimana kekuatan kolonial mulai terpecah dan kekuatan lain yang sedang bangkit. Terdiri dari Vietnam, Kamboja, dan Laos, Indochina Prancis pada akhir abad ke-19 telah menjadi “permata dalam mahkota Prancis” di Asia Tenggara. Di antara beberapa kepentingan global, regional dan internal yang bersaing di Indochina Prancis selama Perang Dunia II terdapat pihak-pihak sebagai berikut: Vichy Prancis, yang mengontrol koloninya hanya dengan izin dari sekutu Jepang dan dominator Jermannya; diikuti kemudian oleh Republik Prancis, yang berusaha untuk merebut kembali wilayah kolonialnya; Amerika Serikat, yang berperang melawan Jepang; dan Jepang, yang berusaha mempertahankan hegemoni regionalnya. Juga terlibat disitu adalah pihak Komunis dan Nasionalis yang bertikai di China, yang berusaha mempengaruhi wilayah di selatan mereka; dan berbagai faksi lokal yang berusaha mendapatkan kemerdekaan, karena semuanya ingin melepaskan beban kekuasaan kolonial atau imperialisme. Vietnam sendiri dibagi menjadi tiga wilayah utama dengan faksi mereka sendiri yang berjuang untuk saling menguasai: Tonkin di utara, Annam di tengah, dan Cochinchina di selatan. Kontrol Prancis atas Indochina baru menghadapi tantangan hanya ketika Prancis jatuh ke tangan Jerman pada tahun 1940 dan dibagi menjadi dua pemerintahan — Prancis yang diduduki Jerman, dan di selatan yang terdapat pemerintahan Vichy yang netral dan didominasi Jerman di bawah pimpinan pahlawan Perang Dunia I, Marsekal Henri Philippe Pétain. Vichy mempertahankan kendali atas sebagian besar wilayah Prancis di seberang lautan selama perang, termasuk Indochina. Namun, orang-orang Prancis yang masih tersisa di Indochina kurang loyal kepada pemerintah boneka Jerman Vichy dibandingkan dengan Pétain. 

Tentara Jepang berbaris di jalanan Kota Saigon sekitar tahun 1944. Meski militer Jepang bebas menggunakan wilayah Indochina untuk keperluan perangnya, namun kontrol atas administrasi pemerintahan di sana masih ada di tangan Pemerintah Vichy Prancis dibawah Pengaruh Jerman, yang merupakan sekutu Jepang. (Sumber: Pinterest)

Ketika Jepang berekspansi ke Pasifik dan Asia di awal Perang Dunia II, ironisnya Jepang mendapati dirinya dilumpuhkan oleh aliansinya sendiri dengan Nazi Jerman. Sebab, selama pemerintah Vichy dan Kekaisaran Jepang terikat dengan Jerman, Prancis secara de facto tetap menguasai Indochina, meskipun Jepang diizinkan untuk mendirikan pangkalan militer disana. Namun, ketika perang di Pasifik berakhir, invasi Sekutu ke Normandia dan pembebasan Paris yang mengakibatkan jatuhnya Pemerintahan Vichy Prancis pada bulan Agustus 1944, dengan itu berakhir pula otoritas Vichy terhadap setiap klaim mereka atas wilayah kolonial mereka sebelumnya. Sementara itu sepanjang sebagian besar masa Perang Dunia II, Amerika Serikat mencari dan mendukung sekutu mereka di China dan kawasan Asia Tenggara lainnya, termasuk Indochina Prancis, untuk melawan militer Jepang jika memungkinkan. Dengan pembebasan Prancis pada tahun 1944, pemerintah AS beralih ke koordinator intelijen utamanya selama perang: OSS, yang dibuat pada tahun 1942 oleh Presiden Franklin D. Roosevelt guna mengamankan tujuan dan kepentingan mereka di kawasan itu. 

PESAN OSS UNTUK HO: BEKERJA BERSAMA KAMI UNTUK MELAWAN JEPANG

Pada saat itu, OSS beroperasi dari pangkalan mereka di ibukota masa perang China, di Chungking. Dengan semakin meningkatnya komplikasi militer di Indocina, William Donovan, direktur OSS, menginstruksikan stafnya untuk menggunakan “siapa pun yang akan bekerja dengan kita untuk melawan Jepang, tetapi jangan sampai terlibat dalam politik Prancis-Indochina”. Sementara itu, Viet Minh, gerakan pembebasan yang muncul di bawah kepemimpinan Ho Chi Minh pada awal 1940-an, tidak hanya mengupayakan kemerdekaan Vietnam dari Prancis, tetapi juga kemerdekaan dari pendudukan Jepang. Pada pertengahan tahun 1944, OSS mendekati Ho untuk membantu mengatur jaringan intelijen di Indocina untuk membantu melawan Jepang dan membantu menyelamatkan pilot Amerika yang jatuh. Saat itu, “Ho telah bekerja sama dengan Amerika dalam kegiatan propaganda,” tulis Kapten Archimedes Patti, kepala pangkalan OSS di Kunming, Cina, dan kemudian Hanoi. Hubungan Amerika dengan Ho sebenarnya telah dimulai pada bulan Desember 1942 ketika perwakilan dari Viet Minh mendekati Kedutaan Besar AS di China untuk meminta bantuan dalam mengusahakan pembebasan “seorang Annamite bernama Ho Chih-chi (?)” dari penjara Pemerintah Nasionalis China, di mana dia ditahan karena memiliki dokumen yang tidak valid. Pada 16 September 1943, ketika Ho akhirnya dibebaskan, dia kembali ke Vietnam untuk mengusahakan Vietnam mendapat kemerdekaan. Memo OSS pada bulan Oktober 1943 mengusulkan agar Amerika Serikat “menggunakan orang-orang Annamites … untuk melumpuhkan sejumlah besar pasukan Jepang dengan melakukan perang gerilya secara sistematis di wilayah hutan-hutan yang sulit ditembus.” Surat itu melanjutkan dengan menyarankan untuk menyebarkan propaganda OSS yang paling efektif, yakni dengan “meyakinkan orang-orang Annamites bahwa perang ini, jika dimenangkan oleh Sekutu, mereka akan mendapatkan kemerdekaan.”

Tentara kolonial Prancis mundur ke perbatasan China pada saat Jepang mengkudeta kekuasaan Pemerintah Vichy di Indochina, Maret 1945. Setelah kekalahan Jerman menjadi jelas di Eropa, Jepang tidak lagi merasa terikat atas hubungan kerjasama mereka dengan Jerman, hal ini berefek buruk pada orang-orang Prancis di Indochina. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Ketika Pihak Poros jelas akan kalah di Eropa, dan bahwa pemerintahan Vichy Prancis kehilangan legitimasinya, pihak Jepang tidak lagi terikat di Indochina dalam hubungannya dengan Jerman. Jepang dengan cepat membuat terobosan di Vietnam, dengan melakukan kudeta pada bulan Maret 1945 yang membubarkan pemerintah Prancis dan membentuk pemerintahan boneka. Pada tanggal 9 Maret pukul 21.30 lewat operasi Meigō Sakusen (明号作戦, operation Bright Moon), Pasukan Jepang menyerang garnisun-garnisun Prancis tanpa peringatan. Satu demi satu garnisun Prancis dikepung dan komandan-komandan senior Prancis, hampir semuanya tanpa kecuali ditahan Jepang. Uniknya dalam episode kudeta Jepang atas pemerintahan Vichy Prancis di Indochina ini, Pemerintah AS, yang tidak bersimpati pada pemerintahan Vichy menolak untuk memberikan bantuan udara pada garnisun-garnisun Prancis yang masih bertahan, baik untuk menyerang posisi posisi Jepang maupun mengirimkan suplai perbekalan, meski pangkalan-pangkalan udara mereka di kawasan China Selatan hanya beberapa ratus kilometer dari posisi-posisi Prancis. Pada akhir Maret, perlawanan Prancis berakhir. Dari 13.000 pasukannya yang sempat melawan Jepang, 200 perwira dan 4.000 prajurit, menurut catatan pada “Memoires” de Gaulle terbunuh atau dibantai dalam gerak mundur mereka ke China. Pada tanggal 11 Maret, Kaisar Bao, setelah bertemu dengan Duta Besar Jepang di Hue, memproklamasikan kemerdekaan Vietnam dan niatnya untuk bekerja sama dengan Jepang. Ho Chi Minh terkejut dengan perkembangan ini, dan menganggap gerakan kemerdekaan lain semacam ini sebagai ancaman bagi Viet Minh. Pada saat yang sama, dengan kudeta Jepang terhadap Prancis, OSS menyadari bahwa mereka terputus dari aliran intelijen dari Indochina Prancis ke pangkalannya di Kunming, dan mendesak Ho untuk bekerjasama dengan Amerika Serikat. “Kudeta telah menghasilkan banyak masalah baru dan mungkin masalah rumit yang akan membutuhkan perhatian yang besar,” para perwira OSS di China melaporkan ke markas besar. “Prancis tidak lagi berkuasa. Sementara 24 juta [orang Vietnam] di Indocina yang [menawarkan] dukungan untuk rezim nasionalis baru. Secara militer, hal itu memerlukan perubahan rencana; kami tidak dapat mengandalkan pasukan Prancis dan lokal. ” Akan tetapi, pihak Jepang tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk mempertahankan seluruh Vietnam, dan Viet Minh mulai mengorganisir diri mereka sendiri sebagai pemerintahan sementara di semua kota kecil kecuali kota-kota terbesar, tempat Jepang memiliki pertahanan kuat. 

Ho Chi Minh (duduk sebelah kiri) berfoto bersama Tan Malaka dari Hindia Belanda (berdiri nomor 3 dari kiri) selama Kongres Komintern (Komunis Internasional) ke-4 di Moskow, 5 November – 5 Desember 1922. Ho adalah seorang manipulator handal, dengan licin dan cerdiknya, ia berhasil menyembunyikan cita-cita komunisnya di hadapan orang-orang yang bekerjasama dengannya dalam melawan Jepang selama Perang Dunia II. (Sumber: https://www.quora.com/)

Juga pada bulan Maret 1945, gerilyawan Viet Minh menyelamatkan seorang pilot AS yang telah ditembak jatuh di Vietnam. Ho Chi Minh sendiri mengawal pilot tersebut kembali ke pasukan Amerika di Kunming, tempat Angkatan Udara Keempat Belas berpangkalan. Menolak tawaran hadiah uang, Ho hanya meminta kehormatan untuk bertemu dengan Mayor Jenderal Claire Chennault, pendiri Grup Relawan Udara Amerika yangblegendaris di China, satuan “Harimau Terbang,” dan sekarang menjadi komandan Angkatan Udara Keempat Belas Amerika. Selama pertemuan pada tanggal 29 Maret, Chennault berterima kasih kepada Ho, yang, setelah berjanji untuk membantu pilot Amerika lainnya yang jatuh, Ho tidak meminta imbalan, ia hanya meminta foto jenderal yang ditandatangani. Ho kemudian dengan bangganya menunjukkan gambar itu kepada faksi nasionalis Vietnam lainnya sebagai bukti hubungan hangatnya dengan — dan tersirat sebagai dukungan dari — Amerika. Saat ini, hanya sedikit yang tahu bahwa Ho (yang bernama asli Nguyen Ai Quoc) adalah seorang Komunis lama yang telah dilatih di Uni Soviet. Bahkan Kantor Informasi Perang dilaporkan terkesan dengan Ho dimana “(mampu) berbahasa Inggris, cerdas, dan minatnya yang jelas dalam upaya perang Sekutu”. Pada tanggal 27 April, Kapten Patti bertemu dengan Ho Chi Minh untuk meminta izin mengirim tim OSS untuk bekerja dengannya dan orang-orang Annamites guna mengumpulkan data intelijen tentang Jepang. “Selamat datang, teman baikku,” kata Ho menyapa Patti. Dia setuju untuk bekerja dengan tim OSS dan meminta senjata modern kepada Patti. Ho untuk menarik perhatian Patti sengaja menginformasikan bahwa Vietminh dapat menyediakan 1.000 personel pasukan gerilya untuk membantu operasi Amerika di Indochina. Ho kemudian mendirikan kamp pelatihan di hutan, di tempat yang disebutnya Tan Trao — bekas dusun Kimlung dan lokasi baru markas besar Viet Minh — sekitar 200 kilometer dari Hanoi. Di sana dia bersiap untuk menerima kedatangan orang-orang Amerika. 

TIM RUSA MULAI MELATIH VIETMINH 

Grup OSS pimpinan Kapten Patti, Tim Rusa, dibentuk pada tanggal 16 Mei dan berangkat dari Amerika Serikat ke markas OSS di Kunming, di mana mereka harus menunggu hingga dua bulan untuk mendapat izin memasuki Indochina Prancis. Akhirnya keputusan dibuat bagi Mayor Thomas dan enam anggota tim lainnya untuk terjun payung ke kamp pelatihan Tan Trao pada bulan Juli 1945. Kapten Patti pernah bertugas bersama Thomas di Afrika Utara dan menilai dia adalah “adalah perwira muda yang baik, tetapi dapat dipahami bahwa ia tidak memahami tentang intrik-intrik perebutan kekuasaan dalam dunia internasional”. Thomas segera cepat berteman dengan Ho dan Giap di Tan Trao, bahkan sering mengabaikan anggota tim lainnya. Bagian tugas dari misi tim adalah untuk menunjukkan target untuk diserang USAAF, tetapi Thomas menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Ho dan Giap, dan bahkan mengarahkan target USAAF menyerang posisi-posisi Jepang berdasarkan rekomendasi dari Ho, berlawanan dengan perintah yang dia terima dari OSS. Defourneaux, yang menyandang nama samaran Raymond Douglas, sebagai putra seorang ibu keturunan Prancis-Amerika, untuk melindunginya identitasnya dari penduduk lokal, memiliki pengalaman berbeda dengan Ho. Ho terus menyelidiki latar belakang Defourneaux dan curiga serta waspada terhadapnya. 

Squadron Bomber Medium ke-51 USAAF membom Saigon, 28 April 1945. Berkat kemampuan persuasif Ho Chi Minh pada pimpinan Tim OSS di Indochina, armada pembom AS kerap menyerang sasaran yang direkomendasikan oleh Ho Chi Minh, dibanding arahan dari Kunming. (Sumber: Pinterest)

Ho mengatakan kepada Defourneaux bahwa dia berharap Amerika Serikat akan menangani Vietnam seperti halnya Filipina. “Kami pantas mendapatkan perlakuan yang sama,” kata Ho. “Anda harus membantu kami mencapai kemerdekaan. Kami adalah orang-orang yang mandiri. ” Defourneaux tidak percaya bahwa Giap dan Ho “berada pada gelombang yang sama”, dan ia curiga bahwa Giap telah melakukan sesuatu secara mandiri. Saat itu, dia tidak tahu bahwa Giap, atau “Mr. Van, ”salah satu“ sahabat hutan ”OSS lainnya, sedang menjalankan sekolah indoktrinasi tentang ajaran komunisme. Seiring pertemanan Thomas dengan Giap dan Ho tumbuh, hubungannya dengan anak buahnya sendiri memburuk, dan Defourneaux menjadi waspada terhadap mereka. Ho, dan terutama Giap, memiliki “kendali penuh atas pemimpin kami,” kata Defourneaux. Dalam buku hariannya, Defourneaux menulis tentang Thomas: “Saya tinggal bersama rekan-rekan yang lain dan tidak bisa tidak mendengar percakapan mereka. Mereka membencinya, secara pribadi aku semakin membencinya setiap hari. ” Dia mengatakan bahwa Thomas mengira Ho dan Giap hanyalah pemimpin reformasi agraria, “tetapi Ho sendiri tidak tahu cara menggunakan sekop dan Giap tidak tahu cara memerah susu sapi.” 

Perwira OSS melihat personel Vietminh berlatih melempar granat. Tidak ada yang menyangka, gerilyawan Vietnam yang dilatih perwira Amerika jelang Perang Dunia II, nantinya akan akan jadi embrio kekuatan militer yang akan menantang Amerika 20 tahun kemudian. (Sumber: https://www.docsteach.org/)

Sementara itu berkaitan dengan pelatihan yang dilakukan personel OSS pada pasukan Ho, awalnya mereka tidak begitu meyakini kemampuan 200 orang pasukan gerilya Vietminh yang hanya dibekali dengan senapan musket antik, senjata tua Prancis, dan beberapa senapan SMG Sten Inggris. Tapi kemudian mereka segera terpukau dengan pasukan Vietminh, yang telah mereka suplai dengan senapan, mortir, granat dan material lain, serta meminta mereka untuk melatih personel gerilya lainnya. Salah seorang personel OSS mengingat: “Orang-orang Vietnam memiliki kemampuan unik dalam belajar dan beradaptasi. Mereka mampu belajar untuk membongkar senapan dan memasangnya kembali dengan sempurna hanya setelah diperlihatkan beberapa kali saja”. Mereka nampaknya tidak menyadari bahwa dengan ini mereka sebenarnya sedang melatih “anak-anak macan, yang nantinya akan menerkam mereka sendiri”. Beberapa tahun kemudian, embrio gerilya kecil ini akan menjadi inti dari pasukan tempur tangguh yang akan menaklukkan Prancis dan merepotkan tentara Amerika 2 dekade kemudian, sementara saat itu mereka menyelamatkan pilot-pilot Amerika yang jatuh, nantinya mereka akan menjatuhkan banyak pilot-pilot Amerika dalam perang di masa mendatang.

JEPANG MENYERAH DAN HO MENYATAKAN KEMERDEKAAN VIETNAM 

Tak lama setelah pelatihan dimulai pada minggu kedua bulan Agustus, Sersan Zielski, operator radio tim, menerima siaran radio pada tanggal 15 Agustus yang mengumumkan penyerahan Jepang, menyusul pemboman atom di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus, dan Nagasaki pada tanggal 9. Menyadari misi pelatihannya telah berakhir, Tim Rusa membagi senjata kepada para prajurit dan bersiap untuk pergi keesokan harinya. Sementara itu dibawah syarat penyerahan Jepang, Inggris akan menduduki bagian selatan Vietnam, dan Cina masuk ke wilayah utara Vietnam untuk melucuti senjata tentara Jepang dan mengembalikan mereka ke tanah air mereka. Orang-orang Amerika meninggalkan kamp di tengah hutan pada tanggal 16 Agustus dan berjalan kaki bersama Giap dan pasukannya ke Thai Nguyen, sebuah ibu kota provinsi Prancis. Di sana, para gerilyawan bertempur melawan Prancis dan Jepang sampai gubernur Prancis menyerah, pada tanggal 25 Agustus, dan Jepang akhirnya menyadari bahwa pemerintahan mereka di tanah air telah menyerah dan menerima gencatan senjata keesokan harinya. Selama pertempuran ini, Giap telah mengatur agar Tim Rusa bersembunyi di sebuah rumah persembunyian di pinggiran kota. 

Giap meninjau gerilyawan Vietminh, Agustus 1945, jelang proklamasi kemerdekaan Vietnam. (Sumber: https://www.sutori.com/)

Sementara itu, Viet Minh berencana mengadakan konferensi di sebuah desa di Tan Trao, kawasan perbukitan Provinsi Tuyen Quang pada tanggal 16 Agustus, yang diberi nama Kongres Rakyat Nasional. Sekitar 30 delegasi dari Vietnam, Thailand, dan Laos berkumpul di desa itu untuk membahas masalah mereka. Dalam konggres itu, Partai Komunis Indochina secara jelas mengumumkan kebijakannya, sebagai berikut:

“Memimpin rakyat dalam pemberontakan dengan tujuan untuk melucuti kekuatan militer Jepang sebelum kedatangan pasukan sekutu di Indochina, serta merebut kekuasaan dari Jepang dan pemerintahan bonekanya, dan pada akhirnya sebagai representasi rakyat, akan menerima pasukan sekutu yang datang untuk melucuti tentara Jepang yang ada di Indochina”

Selama beberapa hari berikutnya, di tengah ketidakpastian politik, beberapa delegasi berusaha merebut kendali. Namun akhirnya Ho Chi Minh berhasil mengklaim kepemimpinan dan terpilih sebagai presiden pemerintahan sementara pada tanggal 27 Agustus. Mereka mengusulkan dan memberikan suara memilih lagu kebangsaan baru, dan bendera nasional baru dengan bintang emas pada latar belakang merah, yang kemudian akan menjadi akrab bagi sebagian besar pasukan darat Amerika dua dekade kemudian. Seminggu kemudian, pada tanggal 2 September, di hari yang sama Jenderal Douglas MacArthur menerima penyerahan resmi Jepang di atas kapal perang USS Missouri, Ho Chi Minh berada di Hanoi dan mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam dari semua kekuatan kolonial, dengan menggunakan Deklarasi Kemerdekaan Amerika sebagai rujukan pidatonya. Spanduk “Selamat Datang bagi Sekutu” (khususnya, Amerika Serikat) dikibarkan di Alun-Alun Ba Dihn kota Hanoi, kontingen OSS di Hanoi memotret acara tersebut dan Menteri Dalam Negeri Giap mengakui dukungan AS dalam pidatonya. Di tengah deklarasi kemerdekaan, tiba-tiba satu Flight pesawat tempur P-38 Lightning milik Amerika melintas diatas lapangan secara tidak sengaja, dimana hal ini semakin memperkuat keyakinan rakyat Vietnam yang hadir di situ atas apa yang diucapkan Giap.

Pada tanggal 2 September 1945, Ho Chi Minh mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam di Ba Dinh Square, Hanoi. Saat itu sebuah flight pesawat tempur Amerika tidak sengaja melintas diatas lapangan. Hal ini seolah-olah secara simbolik dianggap sebagai dukungan Amerika atas apa yang dilakukan Ho Chi Minh. (Sumber: https://vietnamtimes.org.vn/)

Secara kebetulan, pada hari yang sama dengan deklarasi kemerdekaan Ho, Letnan Kolonel Peter Dewey, keponakan dari calon presiden dua kali, Thomas Dewey asal Chicago, tiba di Saigon. Kolonel Dewey adalah komandan tim OSS lain di Indocina, dengan nama sandi “Embankment,” yang mengawasi pengumpulan intelijen di wilayah Saigon. Dewey adalah pemuda yang luar biasa. Pada usia 28 tahun, ia pernah bekerja sebagai koresponden di Prancis, menulis buku tentang kekalahan Prancis, bertempur bersama Angkatan Darat Polandia, dan melaksanakan aksi spionase di belakang garis Jerman di Prancis selama Perang Dunia II. Seiring berlalunya bulan itu di Saigon, Inggris, yang bebas dari permusuhan dengan Jepang, mulai terlibat secara politik, kekacauan pun terjadi dan perang saudara berkecamuk. Dewey segera bertentangan dengan Mayor Jenderal Douglas D. Gracey, komandan pasukan Inggris yang ditugaskan untuk melucuti tentara Jepang. Dewey meski menyukai Prancis, namun tidak menyukai sikap Gracey yang mendukung aksi-aksi yang mengarah pada tindakan memfasilitasi kembalinya kekuasaan Prancis di Indochina. Di sisi lain, Gracey mencurigai Dewey bersekongkol dengan Vietminh, Dewey kemudian diperintahkan keluar dari Vietnam. 

Letnan Kolonel Thomas Dewey yang tidak sengaja dibunuh Vietminh di Saigon, 26 September 1945. Dewey kemudian tercatat sebagai korban Amerika pertama dalam konflik Vietnam. (Sumber: https://sofrep.com/)

Sebelum pergi, Dewey menulis dalam laporannya ke OSS, yang ternyata bersifat profetik: “Cochinchina terbakar, Prancis dan Inggris habis di sini, dan kita (Amerika) harus keluar (juga) dari Asia Tenggara.” Pada tanggal 26 September 1945 dinihari, dua hari setelah Viet Minh memimpin pemogokan nasional sebagai tanggapan terhadap darurat militer yang diberlakukan Inggris, Dewey siap meninggalkan Saigon. Dewey pergi bersama rekannya, Kapten Herbert J. Bluechel ke bandara Saigon, hanya untuk mengetahui bahwa pesawatnya terlambat. Keesokan harinya mereka kembali untuk mengecek pesawat. Pergi dengan menggunakan jip tanpa penanda ke bandara (penanda dilarang oleh Gracey), Dewey yang ada di belakang kemudi mencari jalan terpendek di padang golf Saigon setelah seorang personel OSS terluka akibat serangan Vietminh. Tiba-tiba terdapat batang-batang kayu yang memblokade jalan. Dewey mengerem dan mencoba memutarinya, saat ia menyadari ada 3 orang Vietnam di selokan tepi jalan. Dewey marah dan berteriak kepada mereka dalam bahasa Prancis. Disangka sebagai seorang perwira Prancis, mereka membalas dan membunuhnya dengan tembakan senapan mesin yang menghantam kepalanya, sehingga dengan ini, ia segers tercatat sebagai korban Amerika pertama di Vietnam, hampir dua dekade sebelum keterlibatan penuh AS dalam Perang Vietnam. Meski ada spekulasi luas tentang para penembaknya, mulai dari persekongkolan yang melibatkan sekutu hingga kasus kesalahan identifikasi, investigasi yang dilakukan kemudian gagal membuahkan jawaban. Kapten Patti memberi tahu Ho Chi Minh tentang kematian Dewey, dan Ho menyatakan penyesalannya kepada markas besar AS di Saigon.

AKHIR MISI OSS DI INDOCHINA 

Dengan berakhirnya perang di Pasifik, OSS mengakhiri misinya di Indocina. Tim Rusa tinggal di Thai Nguyen selama beberapa hari setelah kemenangan Viet Minh di sana, “(mereka) menjadi gemuk, dengan kulit kecoklatan karena kerap berjemur, mengunjungi kota dan menunggu izin [dari Patti] untuk pergi ke Hanoi,” kata Defourneaux. “Viet Minh melakukan segalanya untuk membuat kunjungan kami senyaman mungkin bagi kami.” Begitu mereka tiba di Hanoi, orang-orang Amerika bersiap untuk kembali ke Amerika Serikat. Malam sebelum pergi, Mayor Thomas makan malam pribadi dengan Ho dan Giap. Pada tahun-tahun berikutnya, Ho Chi Minh terus menulis surat yang bersifat diplomatik kepada Presiden Harry Truman, meminta bantuan AS, tetapi surat itu tidak pernah dijawab. Ho tidak memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat sampai Amerika perlahan-lahan terlibat membantu Prancis dalam melawan Vietminh pada tahun 1950-an. Meskipun agen OSS jelas berperan di Indocina selama Perang Dunia II, penyebab dan efek yang jelas terkait dengan konflik AS-Vietnam di masa depan jauh lebih kabur. Pertama, mereka yang telah bekerja dengan individu atau organisasi yang tidak berbagi nilai atau kepentingan Amerika adalah hal yang biasa, terutama selama Perang Dunia II. Mungkin contoh terbaik adalah aliansi AS dengan Uni Soviet, khususnya dengan Josef Stalin. Kedua, Amerika Serikat perlu menjangkau organisasi yang mapan dan diakui di Indocina sebagai sekutu mereka dalam mengalahkan Jepang dan mengakhiri perang dengan cepat. Sementara tidak ada sekutu lokal AS yang alami di wilayah itu, juga tidak ada kepentingan kolonial yang tertanam karena Prancis sendiri terpecah, berkolaborasi dengan Vietminh adalah hal yang logis. Ketiga, meski memiliki tim OSS yang bekerjasama dengan Vietminh, Amerika Serikat hanya memiliki sedikit dampak taktis, operasional, atau strategis langsung yang efektif mempengaruhi Ho Chi Minh, Jenderal Giap atau Viet Minh di masa depan.

Amerika memang tidak dapat disebut sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kebangkitan Ho Chi Minh, namun apa yang mereka lakukan di Indochina tahun 1940an jelas mempengaruhi jalannya sejarah keterlibatan mereka dalam Perang Vietnam 20 tahun kemudian. (Sumber: https://www.history.com/)

Apakah Amerika, melalui OSS, bertanggung jawab atas kebangkitan Ho Chi Minh dan perang berikutnya melawan Amerika Serikat? Tidak, tapi Amerika juga tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab seperti itu. Ho memanipulasi pemimpin Tim Rusa yang tidak berpengalaman serta pejabat diplomatik AS di Kunming untuk memenuhi kebutuhannya yang sengaja tidak ia sebutkan secara jelas. Ho dengan sengaja menyimpan foto pribadi Chennault atau meminta agen OSS berdiri di sisinya untuk menunjukkan kedudukan internasionalnya di antara orang Vietnam. Selain itu, kegagalan untuk mengidentifikasi Ho Chi Minh sebagai ideolog yang dididik oleh Soviet dan komunis adalah kekurangan utama pihak intelijen Amerika yang pada akhirnya memuluskan jalan bagi kemunculan Ho sebagai pemimpin nasional dan pada akhirnya, sebagai musuh Amerika Serikat. Di tahun-tahun berikutnya ketika ditanya oleh jurnalis atau sejarawan tentang hubungannya dengan Ho, Thomas bersikap defensif: “Saya (memang) bersahabat dengannya dan mengapa tidak? Lagipula, kami berdua ada di sana untuk tujuan yang sama, melawan Jepang… bukanlah tugas saya untuk mencari tahu apakah dia seorang Komunis atau bukan. ” Pada akhirnya, dari suasana yang kacau dan menentukan dari Perang Dunia II — hampir tanpa disadari — takdir telah diputuskan akan datangnya konflik yang selama tiga dekade berikutnya akan mengadu kekuatan adidaya terbesar di dunia melawan gerakan lokal yang dipimpin oleh orang-orang yang, pada saat kelahirannya, mencari persahabatan dan dukungan dari Amerika Serikat.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

How American Operatives Saved the Man Who Started the Vietnam War written by Claude G. Berube

Vietnam: A History Book by Stanley Karnow; p 149-151; 1983

The Two Vietnams: A Political and Military Analysis; p 55-58, p 99; Book by Bernard Fall; 1963

Vietnam: The Ten Thousand Day War; p 7-8, p 12; Book by Michael Maclear; 1981

Vietnam: An Epic Tragedy, 1945-1975; p 10; Book by Max Hastings; 2018

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Japanese_coup_d%27%C3%A9tat_in_French_Indochina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *