Isaac Camacho: Baret Hijau Keturunan Indian, yang Berhasil Kabur dari Tahanan Vietcong Dalam Perang Vietnam

Kenangan dikurung, dibelenggu, dan terpapar oleh herbisida beracun Agen Oranye yang kuat masih hidup di benak pensiunan Kapten Angkatan Darat AS Isaac “Ike” Camacho, yang merupakan prajurit Amerika pertama yang berhasil melarikan diri dari kamp tawanan perang pihak komunis dalam Perang Vietnam. Namun demikian, Camacho, yang telah menghabiskan hampir dua tahun sebagai tawanan perang, mengatakan bahwa dia siap bertugas lagi jika saja dia masih mampu melakukannya. “Pada satu titik dalam hidup Anda, Anda harus melayani negara Anda. Ini (seperti apa yang dia alami) adalah salah satu cara melayani negara Anda, ”kata Camacho yang kini berusia 81 tahun dari rumahnya di El Paso Timur. Karena peluang suksesnya yang amat kecil, hingga kini Camacho tercatat sebagai satu dari sekitar tiga tawanan perang Amerika yang berhasil sukses kabur dengan selamat dari penahanan selama Perang Vietnam. Berikut adalah kisah luar biasa Camacho itu.

Meskipun sempat melewatkan hampir 2 tahun dalam tawanan Vietcong, namun Isaac Camacho, tidak pernah menyesal untuk bertugas bagi negaranya. (Sumber:https://honor365.org/)

ISAAC CAMACHO SI BARET HIJAU

Isaac ‘Ike’ Camacho lahir pada tanggal 3 Juni 1937 di komunitas pertanian Fabens, Texas, tempat warganya biasa menanam dan memetik kapas sebagai mata pencaharian utamanya. Bersama dengan ibunya Maria Eloreaga, wanita keturunan Mescalero-Apache yang sudah janda dan dua saudara perempuannya, ia kemudian pindah ke El Paso setelah ayahnya, Pablo Camacho (seorang pebisnis truk keturunan Mexico) meninggal saat Camacho berusia 13 tahun karena kecelakaan. Di El Paso, ia kemudian bersekolah di Thomas Jefferson High School dan menikmati menjadi bagian dari komunitas Meksiko-Amerika di El Paso. Camacho muda bekerja di toko kelontong untuk membantu menghidupi keluarganya. “Saya benar-benar kesulitan dalam sekolah, karena saya tidak punya banyak waktu seperti anak-anak lain,” kata Camacho. “Ketika sekolah selesai, mereka memiliki kesempatan untuk melakukan pekerjaan rumah. Sedangkan saya tidak. Segera setelah sekolah selesai, saya akan pergi bekerja. ” Hanya tiga hari setelah ulang tahunnya yang ke 18 Pada tahun 1955, Camacho memilih bergabung dengan Angkatan Darat dengan mendaftar program ROTC (Reserve Officers’ Training Corps), dimana seorang anggota Airborne (Pasukan Payung) berbicara kepada kelompok itu. Camacho bergabung dengan militer karena ketertarikannya terhadap film-film Perang Dunia II dan karena daya tarik dari perekrut Angkatan Darat yang mengendarai mobil Buick untuk mengunjungi sekolah menengahnya. Orang ini menimbulkan kesan yang cukup  mendalam bagi Camacho dan tiga temannya, yang kemudian bergabung dengan Angkatan Darat dan meminta untuk bisa mengikuti pelatihan Airborne. “Saat itu, Angkatan Darat memiliki apa yang disebut sistem ‘buddy’. Kami berempat dari Jefferson, Kelas ’55, memutuskan bergabung dengan Angkatan Darat, ”kata Camacho. “Angkatan Darat menjamin bahwa kami akan tetap bersama selama tiga tahun. Kami menyukai Angkatan Darat. Tiga tahun berlalu dengan sangat cepat. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar lagi dan menjadikannya sebagai karier kami.” Bagi Camacho, itu adalah awal dari karir militernya yang sukses. Pada tahun 1960, Camacho telah dipromosikan ke posisi E-5 dan bertugas sebagai instruktur terjun payung untuk satuan Airborne ke-503 (kemudian menjadi Resimen Airborne ke-173). Seorang teman lalu memberi tahu dia tentang adanya sebuah unit baru elit yang sedang dibentuk yang membutuhkan personel berpengalaman. Penasaran, Camacho mencari informasi dan kemudian segera menjadi anggota Kelompok Pasukan Khusus ke-77 yang baru dibentuk itu. Pada akhir periode pelatihan, ia diperintahkan ke Vietnam. Dalam kariernya sejauh itu, Camacho sempat ditempatkan di Augsburg, Jerman; Okinawa, Jepang; Can Tho, Vietnam Selatan, dan di Fort Bragg di North Carolina

Isaac Camacho, saat masih bergabung dengan pasukan Airborne. Saat ditahan oleh Vietcong, Camacho disangka sebagai orang keturunan Hispanik, meski ia sendiri mengaku bahwa ia memiliki keturunan Indian Amerika. (Sumber:https://voces.lib.utexas.edu/)

Awalnya, Camacho ditugaskan ke daerah antara Kontum-Dak To, di Lembah A Shau. Selama tur keduanya di Vietnam Selatan pada tahun 1963, ia telah menjadi bagian dari Kelompok Pasukan Khusus ke-5 (Satuan Baret Hijau yang terkenal) yang bertugas di provinsi Hau Nghia. Unit itu telah mendirikan kamp Tim-A di Hiep Hoa (Detasemen A-21), di Plain of Reeds, sekitar 45 mil timur laut Saigon, untuk melatih personil Civilian Irregular Defense Guard (CIDG)/Satuan Pertahanan Lokal untuk melakukan pengintaian dan penyerangan ke daerah yang dikuasai musuh. Dibangun di tepi kanal dan dikelilingi oleh kawat berduri, garnisun berukuran 125 x 100 meter ini dilindungi oleh emplasemen senapan mesin kaliber .30 di keempat sudutnya. Selain itu, terdapat dua mortir 81mm yang terletak di dekat gerbang. Ada banyak alasan kenapa kamp itu memiliki tingkat pengamanan yang tinggi, karena kamp tersebut terletak di dekat wilayah Parrot Beak dekat perbatasan Kamboja yang terkenal karena menjadi area utama aktivitas VC. Pada Oktober 1963 seorang teman Camacho yang juga bertugas di Pasukan Khusus, Letnan Satu Nick Rowe, ditangkap di Tam Phu, di Semenanjung Ca Mau. Bulan berikutnya giliran Camacho.

DITANGKAP VIETCONG

Pada malam 22 November 1963, dengan bergerak diam-diam di bawah naungan kegelapan malam, 400-500 penyusup VC menyerang pos terdepan di Hiep Hoa. Dibantu oleh informasi dari mata-mata mereka, para gerilyawan sudah mengenali tata ruang garnisun dan juga tampaknya tahu bahwa separuh pasukan di kamp sedang melakukan misi pengintaian. Viet Cong memanjat dinding kamp dan berteriak dalam bahasa Vietnam, “Jangan tembak! Yang kita inginkan adalah orang-orang Amerika dan senjata! ” Kapten Doug Horne, komandan Detasemen, saat itu tengah pergi dengan 36 Pasukan Khusus/pasukan CIDG untuk melakukan patroli, dan hanya menyisakan 5 orang Amerika di Kamp. Bergerak dengan diam-diam, VC dengan cepat membunuh beberapa penjaga perimeter dan kemudian menembak mati setiap warga kamp ketika mereka muncul dari tempat tidur mereka. Beberapa Pasukan Khusus menjaga posisi senapan mesin dan mulai berusaha membendung gelombang penyerang. Camacho, yang merupakan spesialis senjata berat di kamp, meraih sebuah karaben dan berjalan ke bunker mortir, di mana ia menembakkan mortir terhadap musuh sendirian. Dia masih menembak sekitar 30 menit kemudian ketika Letnan John R. Colby, perwira eksekutif detasemen, yang sedang berusaha untuk mengerahkan pasukan pertahanan bergabung dengannya. Mengingat intensitas serangan, dan melihat bahwa beberapa pasukan CIDG telah melarikan diri, Colby memutuskan bahwa upaya lebih lanjut untuk mempertahankan kamp akan sia-sia.

Tugas Camacho di Vietnam seperti umumnya satuan Baret Hijau, adalah melatih pasukan gerilya lokal untuk memerangi Vietcong. (Photo by Larry Burrows/The LIFE Picture Collection via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Dia memberi Camacho sebuah granat untuk digunakan sebagai perlindungan tambahan dan memerintahkannya untuk pergi selagi dia bisa. Camacho pergi dengan enggan, karena tahu bahwa beberapa orang Amerika masih bertempur di dalam kamp. Begitu berada di luar kompleks, dia memikirkan teman-temannya dan tidak bisa memaksa dirinya untuk meninggalkan mereka. Dia kemudian memasuki kembali perimeter kamp dan menghadapi senjata yang lebih berat dan ledakan mortir. Ketika dia tiba-tiba berhadapan muka dengan beberapa VC, dia menembak mati mereka dengan karabinnya. Tembakan musuh begitu dahsyat hingga Camacho melemparkan granatnya ke VC dan melesat lari ke bunker senapan mesin untuk bersembunyi. Tetapi VC segera menemukannya, beserta Sersan George E. Smith, Spesialis Claude McClure dan Staf Sgt. Kenneth M. Roraback (operator radio), sementara itu Letnan Colby berhasil meloloskan diri. “Rupanya, saya terlihat”, Camacho kemudian ingat, karena dalam 30 detik berikutnya, “saya telah dikelilingi mereka dan lampu senter sedang menyorot saya. Saya diperintahkan untuk bangun, dan ketika saya melakukan VC, mereka mengambil karaben saya”. VC itu merasakan panas laras karaben itu, lalu mengatakan sesuatu kepada rekannya dalam bahasa Vietnam. Sementara mereka mengikat Camacho, salah satu VC memukulnya dengan popor M-1 dan Camacho pingsan karenanya. Saat ia sadar, ia merasakan darah keluar dari luka di bagian belakang kepalanya. Kemudian perintah diberikan, dan mereka praktis diseret keluar melewati kawat berduri. Dengan ini Kamp Hiep Hoa menjadi kamp Pasukan Khusus pertama yang dikuasai musuh dalam Perang Vietnam.

Vietcong senantiasa memiliki informasi intelijen yang bagus. Saat mereka memutuskan untuk menyerang posisi lawan mereka selalu berusaha mengenali posisi dan kekuatan lawannya dengan seksama melalui jaringan mata-mata mereka yang efektif. (Sumber:https://edition.cnn.com/)

Beberapa menit kemudian, pesawat datang dan mulai menjatuhkan napalm dan menembak. Tangan mereka diikat di siku sekencang mungkin dan ada tali di leher mereka, serta ditarik seperti keledai. Begitu mereka keluar dari jangkauan bom, Smitty dan Camacho disuruh berjalan menyusuri jalan kecil, sementara para VC yang menawan mereka mulai mengunci dan mengokang senjatanya. Mereka bersiap membunuh para tahanan, tetapi kemudian seseorang datang dari depan barisan dan memberi perintah lain. Kedua tawanan Amerika itu selamat. Kedua tawanan ditutup matanya dan dipindahkan, pertama dengan berjalan kaki dan kemudian ditempatkan di atas gerobak sapi dan ditutupi dengan terpal. Camacho masih bisa melihat keluar meski diikat. Mereka mengelilingi Gunung Nui Ba Den, dan Camacho melihat bintang utara ada di depan mereka. Mereka mungkin berada di Highway 22 atau salah satu cabang dari jalur Ho Chi Minh Trail. Ketika mereka memasuki Kamboja, VC melepas tutup kepala mereka dan mulai menyandangkan senjatanya. Rasanya aneh, karena di Vietnam mereka lebih mengatur suaranya, tetapi di Kamboja mereka bersantai, bahkan berbicara. Mereka menempuh perjalanan jauh dengan mata tertutup dan disuruh diam. Malamnya mereka pindah lagi dengan berjalan kaki.

BERTEMU BURCHETT DAN ORANG KUBA

Mereka naik sampan untuk mencapai sebuah tempat yang terlihat seperti pulau – ada air di sekitarnya. Itu pasti semacam tempat peristirahatan atau pusat R&R. VC menumpuk senjata mereka dan terlihat sedang memasak dan bersantai. Ada ruang kelas untuk pelatihan dan indoktrinasi. Para tahanan ditempatkan di sebuah rumah yang diawasi oleh empat penjaga. Mereka dikurung dengan dirantai. “Sungguh, tidak banyak yang bisa Anda lakukan dengan rantai di pergelangan kaki Anda dan diikat ke pohon besar”. Ingat Camacho. Dua malam setelah penangkapan Camacho, sebuah telegram dikirimkan kepada ibunya, Maria Elorreaga, yang memberi tahu dia bahwa putranya telah hilang. Telegram itu hanya mengungkapkan sedikit rincian bahwa markas Pasukan Khusus telah dikuasai musuh dan berjanji bahwa perwakilan Angkatan Darat A.S. akan segera menghubungi kembali ibunya segera. Keempat orang Amerika waktu itu telah dibawa ke Trai Bai, sebuah lokasi perkemahan kecil di dekat perbatasan Kamboja, tidak lebih dari 60 mil dari Saigon. Sungai Vam Co Dong terletak di sebelah timurnya. VC menemukannya sebagai tempat perlindungan ideal di dalam hutan.

Camacho dan ketiga kawannya digiring menuju Kamp Tawanan Perang Vietcong, Desember 1963. (Sumber:https://isaaccamachoamericanhero.com/)

Semua orang di kamp memusatkan perhatian mereka pada para pendatang baru. Kepala Camacho masih sakit, dan sepertinya dia merasa bahwa peluang mereka untuk bisa bertahan hidup sangat kecil. Keempat orang Amerika itu memang punya alasan lain yang membuat mereka patah semangat. Pagi setelah penangkapan mereka, VC telah menerima berita radio yang mengumumkan pembunuhan Presiden John F. Kennedy. Ketika orang-orang Amerika itu dibawa melalui dusun-dusun kecil yang dihuni oleh orang-orang yang bersimpati kepada VC, penduduk desa ternyata mengejek mereka dengan berkata: Kennedy di-et (Kennedy sudah mati). Segera setelah mereka tiba di Trai Bai, Wilfred Burchett, seorang penulis dan simpatisan Komunis Australia, dan Roger Pic, seorang fotografer Prancis, tiba untuk mendokumentasikan keadaan mereka. “Saya tidak ingat (apakah) difoto”, kata Camacho, tetapi buktinya ada – mereka semua orang Amerika mengenakan piyama hitam. Wilfred Burchett menghampiri Camacho dan memperkenalkan diri. Dia berkata bahwa “orang Amerika sedang dalam masalah karena sedang berperang di perang yang tidak populer, dan dia mencoba melihat apa yang bisa dia lakukan untuk membantu kita. Dia bertanya apakah saya mengerti. Dia mengajukan beberapa pertanyaan, dan saya menjawab dengan sopan tanpa memberikan informasi yang berarti. Dia bertanya kepada saya apakah ada yang bisa dia lakukan untuk saya, dan saya mengatakan kepadanya, “Ya, tuan, dapatkah Anda bisa memberi tahu saya siapa yang memenangkan pertarungan antara Sonny Liston dan Cassius Clay?” Burchett pasti kecewa, dan segera pergi begitu saja.

Wilfred Burchett, seorang penulis dan simpatisan Komunis Australia sempat mewawancarai Camacho dan rekan-rekannya saat dalam tawanan Vietcong. (Sumber:https://www.quotetab.com/)

Camacho harus melawan depresi pada saat itu. “Saya pikir yang paling membuat saya takut adalah ketika beberapa orang Kuba datang untuk berbicara dengan saya”, kenangnya. Mereka memakai baret seperti Che Guevara. Insiden itu terjadi setelah Burchett pergi. Apa yang mereka lakukan adalah mendudukkan saya di atas tunggul pohon, dan mereka berdiri di atas saya dan melihat ke bawah. Saya kira mereka berusaha membuat saya merasa rendah ketika mereka berada di atas. Seseorang diantaranya bertanya kepada saya, ‘Eres Latino?’ (‘Apakah Anda Hispanik?’), Dan saya menjawab, ‘Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan.’ Lalu dia bertanya kepada saya, ‘Apa kewarganegaraan Anda?’ Dan Camacho menjawab bahwa ia adalah seorang keturunan Indian. “Dia bertanya apakah aku kenal Fidel Castro, dan aku bilang tidak. Dia benar-benar marah dan berkata, “Kamu tidak kenal Fidel Castro?” Saya mengatakan kepadanya, “Tidak, satu-satunya Castro yang saya kenal adalah Castro teman sekolah saya di Fabens, Texas.” Selanjutnya dia bertanya, “Apakah kamu suka? musik gitar? “Saya menjawab,” Ya, saya suka musik gitar. Lalu dia bertanya, “Kamu suka Sabica?” “Aku tidak tahu siapa Sabica,” kataku padanya. “Kamu suka musik gitar tapi kamu tidak kenal Sabica?” “Aku berkata,” Tidak. “Dia bertanya,” Kenapa kamu suka musik gitar? “Dan aku menjawab,” Karena Elvis Presley memainkan gitar. ” Mereka marah, dan saya mendengar mereka berkata, “Este pendejo no sabe nada. Es un baboso bien hecho ‘(Orang Bodoh ini tidak tahu apa-apa. Dia benar-benar idiot). Mereka tidak menyadari bahwa Camacho paham apa yang mereka katakan. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Ya no voy’ hablar con este ‘(‘Saya akan tidak berbicara dengannya lagi’). Jadi kemudian dia berjalan berkeliling dan meletakkan pistolnya di sebelah pelipis Camacho. ‘Hacete para ya!’ (‘Pindah ke sana!’) Katanya. Saya mengatakan kepadanya, “Jika Anda ingin menembak saya, tembak saja saya. Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. “Saya terus berbicara bahasa Inggris sepanjang waktu sampai mereka akhirnya berkata,” Dejalo, el no sabe nada. El es nada mas que un titere de los Estados Unidos‘ (Tinggalkan dia sendiri, ia tidak tahu apa-apa. Ia tidak lebih dari boneka Amerika Serikat ’). Penanya Camacho akhirnya berbicara dalam bahasa Inggris dan berkata, “Ya, Anda tahu Anda di sini sebagai tawanan perang dan orang-orang ini telah menderita selama bertahun-tahun. Kami akan berbicara dengan Anda nanti. “Saya pikir mereka berusaha menghancurkan kami secara mental.

Fidel Castro saat berkunjung ke Vietnam. Dalam masa penahannya di wilayah Kamboja, Camacho sempat bertemu dengan beberapa orang Kuba. (Sumber:https://militaryhistorynow.com/)

DALAM TAWANAN VIETCONG

Kamp dikelola oleh orang Vietnam yang menyebut dirinya ‘komisaris.’ Dia akan memberi tahu betapa sulitnya mereka, bahwa mereka dibom sepanjang waktu dan sulit memberi tawanan makanan dan obat-obatan. Dia akan berkata, “Saya mengerti bahwa Anda sakit, tetapi Anda tidak punya urusan di negara ini dan oleh karenanya harus membayar atas dosa-dosa yang telah anda perbuat. Apa yang kami harapkan dari Anda adalah bahwa Anda bergabung dengan sesama orang Amerika, dimana sekarang ada banyak orang seusiamu yang memprotes perang, dan Anda harus bergabung dengan kawan-kawan Anda dalam perjuangan untuk membiarkan orang-orang Vietnam hidup seperti yang mereka inginkan. ‘ Camacho kaget karena mereka memiliki setiap informasi tentang gerakan anti-perang. Interogasi termasuk upaya untuk mendapatkan pengakuan dari kami, yang terutama berkaitan dengan pembakaran dan penjarahan serta pembunuhan anak-anak yang tidak bersalah, pembunuhan dan pemerkosaan dan semua hal lainnya. Itulah konteks dari pengakuan itu. Akhirnya, mereka ingin kita mengakui bahwa kita telah menginvasi kedaulatan mereka dengan datang dan melakukan semua hal ini. Saya tidak pernah menandatanganinya. Mereka akan menekan saya dengan bertanya, “Kapan kamu akan sadar?” Saya mengatakan kepada mereka bahwa pengakuan itu tidak ada artinya bagi saya, dan saya bertanya, “Apa yang Anda ingin saya lakukan, bohong?” “Tidak, tidak, ‘kata mereka,’ pengakuan harus datang dari hatimu. ‘

Camacho dan ketiga rekannya mengenakan piyama hitam saat dalam penahanan. (Sumber: Twitter)

Selama enam bulan pertama di penawanannya, Camacho memberi tahu mereka bahwa ia hanyalah seorang juru tulis bagian perbekalan. Mereka bertanya pekerjaan apa itu, dan Camacho memberi tahu mereka, “Jika seseorang membutuhkan tempat minum atau selimut, saya akan memberikannya.” Mereka berkata, “Oh, Anda memasok perlengkapan perang?” Dan Camacho menjawab. ‘Tidak,’ katanya, ‘Itu bukan bahan perang, hanya tempat minum dan barang-barang seperti itu.’ Semuanya berjalan baik untuk sementara waktu sampai suatu hari mereka memanggil  untuk menginterogasi Camacho dan menunjukkan kepadanya salinan majalah Newsweek. Mereka berkata, “Apakah Anda tahu apa ini?” Saya berkata, “Ya, majalah Amerika.” Mereka berkata, “Buka halaman 14”, jadi Camacho membukanya, dan ada artikel tentang Hiep Hoa, yang menjelaskan bagaimana ia dan rekan-rekannya ditangkap. Dikatakan dalam artikel itu bahwa Isaac Camacho telah mengajarkan taktik perang anti-gerilya. “Kami sangat suka ini, dan orang-orangmu lah menulis ini!” Kata mereka. “Kamu telah menipu kami!” Mereka hampir membuat Camacho dan rekan-rekannya mati kelaparan setelah artikel itu muncul. Kemudian Chicago Tribune dan The New York Times memuat artikel tulisan Mike Mansfield dan Ernest Gruening, dua politisi anti-perang. Setiap kali mereka mendapatkan sesuatu seperti itu, ketika tawanan-tawanan Amerika itu diinterogasi mereka akan menunjukkannya. Mereka akan menyombongkan diri, “Bahkan hati orang-orang ini untuk VC – ini adalah patriot sejati.” Itu sangat melemahkan semangat. Dalam sebuah tulisan di New York Times, 10 Mei 1964, tertulis kisah-kisah mereka yang berbunyi: “Jika saja serangan Vietcong di Hiep Hoa terjadi 10 hari kemudian, mereka (para tawanan) sudah  dalam perjalanan pulang, karena waktu enam bulan tugas mereka akan dipersingkat sehingga membuat mereka bisa pulang untuk menikmati libur Natal. Spesialis McClure, seorang kulit hitam, bisa menganggap dirinya kurang beruntung karena ia baru saja menikah hanya beberapa hari sebelum meninggalkan Amerika Serikat pada 10 Juli untuk pergi ke Vietnam Selatan, dan sedang menghitung hari untuk bisa bertemu kembali dengan istrinya. Dia terluka di lengan kiri oleh pecahan mortir selama serangan itu.” Camacho mengakui bahwa ia dan rekan-rekan Amerika lainnya awalnya menganggap mereka lebih unggul dari Viet Cong, tetapi pasukan gerilya itu adalah salah satu pasukan paling terlatih baik di dunia. Mereka memiliki sistem komunikasi yang sangat baik, diorganisir dan mempelajari semua yang ditulis media Amerika di surat kabar, majalah, dan siaran radio. Dia memahami hebatnya sistem komunikasi Viet Cong setelah penangkapannya. Pada satu waktu, ketika para gerilyawan melepaskan penutup matanya, dia mendapati dirinya duduk di depan radio di dapur kecil di salah satu gubuk mereka. “Ada beberapa cara mereka bisa masuk ke gelombang radio pasukan kita,” kata Camacho. “Mereka menekan tombol dan saya bisa mendengar bos saya memberi tahu orang-orang di kamp saya, ‘Jadi apa yang Anda katakan adalah bahwa kamp saya dihancurkan dan saya memiliki empat Amerika yang hilang?'” Camacho mengatakan bahwa para penculik komunis itu kemudian tertawa lepas.

Sersan Kenneth Mills Roraback, rekan Camacho yang hingga kini masih belum jelas keberadaannya. (Sumber:https://dpaa.secure.force.com/)

Kamp itu terletak di bawah hutan berkanopi rangkap tiga. Dimana tidak bisa melihat langit kecuali jika sedang bekerja keluar. Dibawah selalu gelap. Para tawanan dikurung di kerangkeng yang cukup besar untuk tidur dan berolahraga. Enam bulan pertama mungkin yang paling sulit, karena mereka membuat para tawanan tetap terisolasi. Satu-satunya waktu untuk melihat seseorang adalah ketika mereka pergi ke sumur untuk mencuci atau membersihkan cangkir kecil yang diberikan kepada mereka. Kemudian para tawanan disuruh untuk bekerja dengan seorang penjaga mengawasi sehingga tidak dapat saling berbicara. Kesempatan pertama yang dimiliki, untuk berbicara satu sama lain adalah sekedar untuk menyapa hai, bagaimana kabarmu? Anda baik-baik saja? ’- hal-hal semacam itu. Pada awalnya para penjaga akan memukul mereka di belakang karena berbicara, tetapi mereka segera memutuskan bahwa para tawanan tidak akan melarikan diri, dan kemudian para tawanan dapat berbicara sedikit dan akhirnya, bisa bercakap-cakap. Para tawanan diberi cukup makan sehingga akan cukup kuat untuk bekerja. Satu pekerjaan yang diberikan adalah membangun tempat perlindungan bom, dan oleh karenanya para tawanan harus keluar setengah mil di hutan untuk memotong kayu. Dalam pekerjaan seperti inilah para tawanan dapat melihat langit. “Anda tidak tahu betapa menyenangkannya bisa melihat langit biru dalam situasi seperti itu. Kami melihat keluar dan berkata, ‘Ya Tuhan, langitnya terlihat indah.’, kenang Camacho. Kayu-kayu yang diambil telah dirobohkan oleh pengeboman atau kilat, jadi kami tidak perlu merusak pepohonan disekitar.

Pesawat C-123 menyemprotkan herbisida diatas hutan lebat selama perang Vietnam, 1962. Lebatnya hutan menyebabkan kamp-kamp POW yang menyekap tawanan Amerika tidak nampak darai udara. (Sumber:https://www.politico.com/)

Camacho ditahan di kerangkeng berukuran sekitar 8 kaki kali 6 kaki. Awalnya, ia telah ditempatkan di sel satu orang, tetapi mereka kemudian ditempatkan di sel dua orang untuk mengurangi jumlah penjaga yang dibutuhkan. Kerangkeng itu dibuat dari kayu. Mereka sangat jarang menggunakan bambu kecuali mungkin untuk kasau. Konstruksi kerangkeng dipalu bersama dengan pasak kayu, bukan paku, dan terpasang dengan sangat ketat. Atap yang terbuat dari jerami membuat mereka tetap kering selama musim hujan. Meski hujan deras, tetapi pada saat air disaring melalui cabang-cabang pepohonan dan atap melindungi mereka dari curahan air hujan. Terdapat lubang yang digali di salah satu ujung kerangkeng yang digunakan sebagai tempat perlindungan saat serangan udara, yang beberapa kali digunakan. Terdapat lampu di dekat kerangkeng untuk mengamati aktivitas tahanan, mereka akan berteriak “Pica” ketika sebuah pesawat mendekat. Itu berarti para tahanan harus mematikan lampu dan berlindung. “Selama satu kali serangan Skyraider, kami melompat ke dalam lubang, tetapi rantai di kaki kami tidak cukup panjang, sehingga kaki kami tetap terikat. Kami tahu bahwa ular dan kalajengking mungkin ada di dalam lubang, tetapi kami tetap harus tetap berlindung.” kenang Camacho. Satu bom mendarat sangat dekat sehingga kerucut hidungnya terlempar dekat kerangkeng. Pepohonan hancur dan para tawanan bisa mencium bau asap pada hari berikutnya karena bau mesiu yang menyebar.

Model kerangkeng tempat Camacho ditahan. (Sumber:http://isaaccamachoamericanhero.com/)

Para tawanan melakukan lebih banyak lagi penebangan kayu dan menggali beberapa sumur serta bekerja di penggilingan padi. Camacho tidak percaya akan banyaknya beras yang dimiliki para penawannya yang menggunung. Yang membuat ia marah adalah ketika melihat orang-orang itu melewati kerangkengnya dengan membawa sekarung tepung atau beras, susu kental, minyak sayur untuk memasak, dan semuanya tercantum tulisan: “Didonasikan oleh orang-orang Amerika Serikat.” Kondisi fisik Camacho memburuk, berat badannya berkurang dan telah mengalami malaria, hepatitis dan beri-beri, hal itu disebabkan oleh kekurangan vitamin. Mereka diberi makan saus nuoc mam (saus ikan) dan banyak nasi. Terkadang juga campuran nasi dan garam. Mereka biasa diberi makan ikan basi dengan cacing merayap keluar dari mulut dan matanya. Ketika ia buang air, ia bisa melihat ada cacing di kotorannya. Ketika Camacho melihat VC memakan paprika, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia bertanya kepada para penjaganya tentang apa yang mereka makan dan mereka mengatakan kepadanya bahwa mereka menyebutnya ‘ot‘ dan apakah Camacho menginginkannya. Setelah Camacho memakannya, ia pura-pura seperti orang kepedasan. Ia menjatuhkan diri ke lantai dan mulai meminta air. Kerangkengnya sekarang dikelilingi oleh VC, dan mereka semua tertawa. Mereka memberi Camacho lebih banyak lagi, jadi ia memakannya. Selain paprika itu adalah sayur, Camacho tahu itu adalah obat yang akan membersihkan sistem pencernaannya dan membunuh semua cacing yang ada di perutnya.

Berita New York Times tanggal 10 Mei 1964, yang memuat kisah Camacho dan ketiga rekannya dalam tawanan Vietcong. (Sumber:https://www.nytimes.com/)

Suatu kali Camacho melakukan mogok makan karena makanan yang diberikan tidak teratur. Kepada penjaganya dia berkata, “Saya tahu kalian bisa memberi kami makanan yang lebih baik daripada ini.” Komisaris datang dan ingin tahu apa yang menjadi. Dia menunjuk nasi dan berkata, ‘Apa itu?’ Camacho menjawabnya dengan sarkastis, mengatakan, ‘Maksudmu kamu sudah tinggal di Vietnam seumur hidupmu dan tidak tahu apa itu? Itu nasi! ” Komisaris itu berkata, ‘Kami sudah bekerja keras untuk memberi makan nasi kepada Anda, dan Anda membuangnya.’ Camacho menjawab, ‘Saya tidak bisa (cuma) makan nasi lagi. Itu sebabnya saya membuangnya. Saya akan mati (kl cuma makan nasi. “Malam itu akhirnya mereka mendapat makanan yang layak dengan ada daging selain nasi. Bisa jadi itu salah satu tikus raksasa yang mereka bunuh atau mungkin babi hutan, para tawanan tidak tahu, yang jelas mereka makan banyak daging yang tidak biasa. Mereka makan daging gajah, ular, rusa liar, ayam dan banyak sayuran selain daging. Prajurit tidak bisa bertarung hanya dengan makan nasi, mereka tidak akan pernah berhasil. “Mereka biasanya memberi kita bagian lemak dari daging monyet. Kami memang tidak dibuat kelaparan sampai mati, tetapi mereka memberi kami yang terburuk dari yang terburuk. Saya hampir kehilangan hidup saya saat ditahan. Saya terkena malaria, hepatitis, sindrom iritasi usus besar, ”Camacho menceritakan. “Saya mengalami banyak hal. Kamp itu pernah juga disemprot dengan Agen Orange, ”lanjutnya. “Kami sering demam. Nyamuk-nyamuk juga tidak ramah di sana. cukup sulit tapi kami bisa bertahan disana. ”

Prajurit Amerika dalam tawanan komunis saat perang Vietnam. Menjadi tawanan komunis di Asia Tenggara, hanya memiliki peluang yang amat kecil untuk bisa melarikan diri. (Sumber: Pinterest)

Terkadang ketika angin sepoi-sepoi bertiup dari aula menuju tempat tahanan, para tawanan bisa mencium aroma masakan yang enak. Saat lapar, saat itulah indra penciuman akan menjadi sangat sensitif. Camacho sedikit demi sedikit belajar bahasa Vietnam secara otodidak, karena para penahannya tidak tertarik untuk mengajarinya, sedangkan para penterjemah lebih tertarik belajar bahasa Inggris. Hal ini sangat membantu bagi dirinya. Camacho punya firasat bahwa suatu hari nanti mereka akan dilepaskan rantai saat ada di luar kerangkeng, jadi mereka dapat mencari titik lemah dari kerangkengnya. Suatu hari ia mendapat kesempatan itu. Kerangkeng yang lebih baru sedang dibangun, dan Camacho tahu bahwa akan ada lebih banyak tahanan yang akan datang ke kamp. Mereka melepas rantai para tahanan untuk bisa digunakan oleh dua pendatang baru, seorang kapten Marinir bernama Cook dan seorang prajurit satu bernama Craft. Camacho mencungkil sebuah batang di kerangkengnya, sampai ia bisa melonggarkannya dan menariknya ke atas dan mengikatnya dengan tali kecil yang ia miliki. Hal itu memberinya sedikit ruang sehingga bisa merangkak keluar dari kerangkeng.

MELARIKAN DIRI

Para tawanan hanya punya gambaran kasar tentang tanggal. Para tahanan baru  kemudian membantu mereka mencari tahu, dan akhirnya mereka membuat kalender. Camacho ingin melarikan diri pada 4 Juli, tetapi sebenarnya pada 8 Juli 1965 baru dia pergi. Smitty, teman satu selnya, tahu bahwa dia akan kerepotan jika dia mencoba melarikan diri, karena dia tidak punya sepatu bot. Dia tahu dia tidak akan bisa berjalan jauh dengan sandal plastik yang dia kenakan. Mereka berdua tahu bahwa para penjaga akan selalu memeriksa. Smitty tetap terjaga sepanjang malam untuk memastikan lampu tetap menyala dan para penjaga tidak harus masuk. Mereka kemudian menurunkan kelambu untuk tidur, dan Camacho meninggalkan sepasang piyama hitam yang dibundel di atas dipan untuk memberikan ilusi bahwa ia masih di sana. Saat itu musim hujan dan hujannya deras. Penjaga di pos di dekatnya, dan sulit untuk melihat apakah yang ada di dalam kerangkeng. Camacho sangat senang karena ia menyimpan sepatu bot lamanya. Ia punya sedikit nasi, sebuah cermin, dan beberapa kertas tembakau untuk menulis kata ‘POW’ di atas selembar plastik hitam. Ia meminta Smitty lagi untuk tetap terjaga dan menyalakan lampu, dan kemudian ia pergi. Petir dan kilat menerangi jalan tempat mereka biasa bekerja — ke sanalah Camacho menuju. Setelah keluar sekitar 300 meter, ia menyelinap ke hutan. Ada dinding di sana tempat mereka biasa beristirahat dan mencari bidang langit. Ia tahu sepatu bot nya meninggalkan jejak, tetapi tidak akan bisa dilacak karena tersapu oleh air hujan yang turun.

Adegan film Rescue Dawn yang menceritakan kisah nyata POW Amerika yang berhasil menyelamatkan diri dari tawanan Pathet Lao di laos selama perang Vietnam. Sama seperti pengalaman Camacho, berjalan di hutan tanpa panduan merupakan hal yang sukar karena hutan itu sendiri laksana penjara raksasa dengan segala macam tantangan alamnya. (Sumber:http://aquestionofscale.blogspot.com/)

Camacho berjalan sekitar 45 menit saat hujan turun ketika ia menyadari bahwa ia telah berputar 360 derajat dan sekarang kembali ke area kamp. Hal itu benar-benar mengecewakannya. Ia mulai berpikir, mungkin ia harus kembali ke kerangkeng dan mencobanya lain waktu. Tapi ia tahu bahwa ia akan mendapat masalah kalo sampai tertangkap lagi. Ia memutuskan untuk mencoba lagi. Camacho berlutut untuk berdoa dan berpikir sebelum melanjutkan. Saat itu yang dipikirkannya adalah, ‘Mengenai taktik melarikan diri dan menghindar,’ dan sepertinya Tuhan mendengarkannya. Ia melihat dedaunan kecil mereka jatuh karena badai, dan mengalir mengikuti air. Seketika ia tersadar. Itu saja — ikuti air! Camacho memutuskan untuk mengikuti sungai kecil yang saat itu mengarah ke sungai yang lebih besar, dan akhirnya ia tiba di sungai kecil yang mengalir ke cabang Sungai Saigon. Ia melompat dan berenang mengikuti arus. Ia tahu tidak akan ada orang di sana yang bisa menghentikannya dalam cuaca seperti itu, dimana ia berusaha menempuh jarak sejauh mungkin. Ketika ia keluar dari air, tubuhnya dipenuhi dengan lintah. Ia berlari ke arah hutan dan mulai mencabuti hewan pengisap darah itu. Lintah ada di mana-mana! dan Camacho memutuskan untuk berjalan di hutan dan di sepanjang aliran sungai. Apa yang ingin ia lakukan adalah mencari tempat di mana ia bisa melihat matahari. Ia harus pergi ke selatan atau tenggara – itulah satu-satunya tempat dimana sungai mengalir. Ia tahu bahwa ia tidak bisa tinggal terlalu dekat dengan sungai karena di situlah musuh akan mencarinya. Ia melihat perangkap kecil untuk hewan kecil seperti muskrat dan tahu bahwa ada orang di dekatnya. Pada hari kedua ia bisa mendengar orang-orang mencarinya. Camacho akan bersembunyi setiap kali ia mendengar mereka. Ia memanjat pohon di malam hari untuk menjauh dari harimau dan binatang lainnya. Ia berjalan melewati  suatu daerah dan berpikir, “Pasirnya bagus, tanah yang bagus seperti arroyo di selatan AS. Ini bagus – sekarang saya bisa bersantai sejenak. “Tapi ia hanya pergi beberapa meter ketika melihat beberapa jejak harimau. Camacho memutuskan untuk mengubah arah. Selama beberapa hari pertama, buah berlimpah. Ia akan mengisi kantong dengan buah-buahan. Ada satu yang tampak seperti jeruk kecil atau nektarin, juga beberapa seperti buah kiwi dan beberapa mangga. Ia tahu apa itu mangga, karena ia sudah memakannya sejak lama.

Sungai Mekong selain berarus deras juga menjadi surga bagi banyak lintah penghisap darah. (Sumber:https://www.wikiwand.com/)

Camacho hanya punya tongkat untuk membela dirinya. Pada hari ketiga ia merasa dehidrasi. Ia tersesat dan ingin melakukan navigasi. Malam itu, ia mendengar suara putaran baling-baling di kejauhan dan memutuskan untuk berjalan ke arah itu. Cuaca mendung ketika ia mulai berjalan pagi itu. Menjelang sore, ketika matahari terbit, ia menyadari bahwa ia telah bepergian ke arah yang salah. Pada hari keempat, tanggal 13 Juli 1965 ia hanya mengemas apa yang perlu ia bawa dan mulai berjalan. Camacho menemukan ada genangan air dan senang, karena ia sudah kehabisan air. Ia memperhatikan bahwa airnya penuh dengan larva nyamuk, tetapi tetap meminumnya. Ia terus berjalan, dan sekitar jam 10:30 atau 11 pagi, ia melihat sebuah pesawat Amerika – mungkin itu adalah pesawat pengamatan Cessna L-19 yang benar-benar terbang rendah di tingkat puncak pohon. Camacho bisa membaca tanda-tanda Amerika di pesawat itu. Ia mulai berjalan ke arah pesawat itu terbang. Ia berjalan menyusuri jalan tanah liat yang keras, dan ia pikir itu mungkin jalan yang sama dengan yang ia lewati saat dibawa ke utara menuju Song Mau. Camacho bisa melihat sebuah penanda di jalan, dan ketika ia semakin mendekat ia melihat beberapa tanda, sesuatu tentang sekelompok unit pasukan zeni. Itu adalah tanda-tanda pertama dari “peradaban” yang pertama ia lihat sejak penangkapannya. Ia kemudian duduk kembali di hutan dan berpikir, “Saya tidak bisa membuka identitas saya sekarang.” Pertama-tama ia melihat sebuah truk sampah lewat di jalan. Tidak ada tentara yang mengendarainya, jadi ia pikir itu pasti truk sipil. Ia tinggal di hutan untuk mempelajari berbagai hal dan terus berjalan sampai mendekati perkebunan pohon karet. Berjalan di dekat jalan, ia bergerak maju, bersembunyi di balik pohon, sampai ia melihat bendera Vietnam kecil dan sebuah gerbang dengan beberapa emplasemen senjata dan bunker.

DISELAMATKAN

Ia mulai berpikir bahwa ia telah berhasil, tetapi Camacho ingin berhati-hati. Lalu ia melihat sepeda motor kecil datang. Camacho bersiap-siap untuk menjatuhkan pengendara sepeda itu kalau-kalau dia musuh ketika tiba-tiba melihat sebuah mobil kecil mengikutinya dengan simbol Palang Merah di bempernya. Ia melompat ke jalan dan mulai melambaikan sebuah ranting untuk memberi sinyal. Orang di mobil itu berbicara kepada dalam bahasa Prancis, menanyakan bantuan apa yang ia bisa lakukan. Camacho tahu sedikit bahasa Prancis, dan mengatakan kepadanya bahwa ia adalah orang Amerika dan butuh bantuan. Camacho benar-benar gugup dan khawatir kl orang itu akan berbalik ke arah, tetapi orang itu bertanya lagi, “Vous ette un Americain?” Dan Camacho menjawab, “Oui, je suis un Americain”. Orang itu memberinya tumpangan ke kompleks tentara Vietnam dan berteriak pada penjaga untuk memberi tahu mereka. Dia membawa Camacho langsung ke rumah kepala desa. Kepala desa berbicara dengan bahasa Inggris yang baik. Camacho mengatakan kepadanya bahwa ia telah ditangkap di Hiep Hoa. Kepala desa itu mengatakan kepadanya bahwa tidak ada kamp Amerika di Hiep Hoa, dan Camacho menjawab, “mungkin sekarang tidak, tetapi dulu ada ketika saya ditangkap.” Kepala desa itu mengatakan kepada Camacho bahwa ia tidak terlihat seperti orang Amerika, jadi Camacho menunjukkan kepadanya tatonya. Camacho melihat keluar jendela dan melihat beberapa baret dan mengatakan kepada kepala desa itu, ‘Jika Anda tidak percaya kepada saya, mintalah Beret Hijau di sana untuk datang.’ Kepala desa itu meminta prajurit Beret Hijau itu untuk masuk. Ketika dia melihat Camacho, dia menangis dan berkata, ‘Ike, apakah itu kamu?’ Camacho menjawab, ‘Ya, ini aku. ‘ Setelah 4 hari menempuh perjalanan menembus hutan, pada akhirnya tanggal 13 Juli 1965, Camacho berhasil mencapai sebuah pos militer Amerika.

13 Juli 1965, Minth-Than Vietnam. Isaac Camacho dan Sersan Thomas Rocky Laine.” (Sumber:https://voces.lib.utexas.edu/)

Mereka membawanya ke kamp Pasukan Khusus di Minh Tranh. Sersan Satu Rocky Laine dan beberapa orang lain yang dikenal Camacho ada di sana. Mereka semua senang melihatnya dan ia mandi air panas serta mengenakan seragam baru. Mereka melayaninya dengan sepiring besar sarapan telur dan ham. Camacho tidak bisa memakannya. Otaknya menginginkannya, tetapi perutnya menolaknya. Camacho benar-benar sakit, dan mereka membawanya ke Rumah Sakit Lapangan Ketiga di Tan Son Nhut untuk pemeriksaan. Helikopter yang membawanya ke rumah sakit sebenarnya sedang dalam perjalanan melalui pos di Da Nang ketika orang-orang mengalihkannya. Pilot membawa Camacho ke Da Nang, dan ia bertemu Sersan Thompson, seorang teman lamanya. Dia memeluk Camacho sebelum ia dilarikan keluar. Begitu Camacho tiba di rumah sakit, Kolonel Mike De La Peña datang menemuinya dalam waktu setengah jam. Ia hanya bisa menggambarkan keseluruhan episode melarikan dirinya dari tawanan Vietcong bagaikan mimpi. Di kamar rumah sakit, Kolonel De La Peña berdiri di sampingnya seperti sosok ayah dan ada air mata di matanya. Camacho ikut terharu dan menangis. Setelah ditanyai, Isaac Camacho dipromosikan menjadi sersan kepala, dan ia kemudian menerima promosi  menjadi kapten. Pihak berwenang mengatakan kepadanya untuk tidak berbicara tentang pertemuannya dengan orang-orang Kuba. Dia dikirim ke Okinawa, di mana diketahui bahwa perutnya telah menyusut ke seukuran anak 6 tahun selama 20 bulan masa penahanannya, sementara bobotnya berkurang hingga 21 pon. Seorang dokter memperingatkannya bahwa Camacho mungkin akan memiliki masalah perut selama sisa hidupnya.

KISAH AKHIR

Sebagai tentara Amerika pertama yang melarikan diri dari kamp POW VC, Camacho kembali ke rumah dan disambut sebagai pahlawan. Dia diberi ucapan selamat oleh Walikota El Paso Judson Williams, Anggota Kongres Richard White dan Presiden Johnson. The El Paso Times melaporkan bahwa ibunya berkata, “Terima kasih Tuhan yang baik! Doa saya telah dijawab! Dia adalah anak lelaki satu-satunya milik saya, satu-satunya putra saya, saya selalu bangga padanya. Saya adalah ibu yang paling bahagia di dunia. Saya berdoa siang dan malam selama 20 bulan yang panjang.” Mantan komandan Camacho menulis surat yang mendesak agar ia dianugerahi Medal of Honor. Tapi itu hal tidak pernah didapatnya, mungkin karena kurangnya saksi. Atas aksinya yang gagah berani di Hiep Hoa, Camacho menerima medali Silver Star. Pada tahun 1999 ia juga dianugerahi Distinguished Service Cross. Banyak orang masih merasa bahwa dia seharusnya layak menerima Medal of Honor atas keberanian yang dia perlihatkan untuk mendukung rekan-rekannya. Setelah semua yang telah dilaluinya, Isaac Camacho masih merekam jelas pengalamannya. Berbicara tentang pertemuannya dengan George Smith, temannya yang ditahan bersamanya dalam satu sel, Camacho berkata: “Saya selalu mengatakan bahwa saya berhutang atas cara dia berkorban untuk saya. Itu berjaga sepanjang malam untuk saya bisa melarikan diri. Kami berbicara panjang lebar di El Paso. Dia memberi tahu saya tentang reaksi para penjaga di pagi hari setelah saya melarikan diri.”

Sersan Sersan George E. Smith dan Claude Mcclure saat dibebaskan di Phnom Penh, Kamboja tahun 1965. (Sumber:https://outlet.historicimages.com/)

“Hal itu adalah hal terlucu yang pernah saya lihat dalam hidup saya”. Kata Smith, para penjaga VC memeriksa kerangkengnya di dalam dan luar. Mereka tidak bisa percaya bagaimana Camacho bisa keluar! Mereka mengerahkan sekitar lima atau enam orang untuk mengamati. Bahkan komisaris sendiri ikut turun ke dalam lubang untuk melihat apakah Camacho masih ada di sana. Mereka bahkan tidak tahu penjaga mana yang harus disalahkan karena mereka semua bertugas dan berjaga disana. Mereka menemukan lelaki terkecil di kamp dan mencoba memaksanya melewati jeruji untuk melihat apakah kepalanya bisa masuk, dan tentu saja tidak bisa. Mereka tidak pernah tahu di mana pintu keluarnya. Saya ingin tertawa, tetapi saya tidak bisa.” Rekan Camacho yang ditangkap pada 22 November 1963, yakni McClure dan Smith akhirnya dibebaskan dari Kamboja pada bulan November 1965. Sementara itu nasib dari Kenneth M. Roraback, tidak diketahui hingga kini, meski pada 26 September 1965, Radio Pembebasan Vietcong memberitakan bahwa ia telah dieksekusi, sebagai pembalasan dari eksekusi 3 rekan mereka di Da Nang . Camacho selama berdinas di Angkatan Darat menerima penghargaan dua Purple Heart, dua Silver Star dan sebuah Bronze Star, dengan penghargaan dan dekorasi militer lainnya, seperti Distinguished Service Cross. Setelah berkarier di Angkatan Darat, ia bekerja dengan Layanan Pos A.S. selama lebih dari 20 tahun dan pensiun pada Juni 1997. Selama bertahun-tahun, Camacho pergi ke sekolah-sekolah di seluruh negeri untuk berbicara tentang pengalaman militernya dan mendesak siswa untuk tetap bersekolah dan keluar dari kelompok-kelompok geng kriminal.

Camacho dalam video saat ditawan Vietcong. (Sumber:http://www.northeastpowmianetwork.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Isaac ‘Ike Camacho: Escaped from Captivity During the Vietnam War written by Eddie Morin and originally published in the June 2000 issue of Vietnam Magazine.

Isaac Camacho (Mr. Camacho was interviewed by Robert Rivas on April 24, 2010, in El Paso, Texas) By Anna Kavich

https://voces.lib.utexas.edu/collections/stories/isaac-camacho

El Paso Army veteran recalls life as POW in Vietnam By Lisa Amaya / El Paso Inc. Nov 10, 2018

http://www.elpasoinc.com/lifestyle/local_features/el-paso-army-veteran-recalls-life-as-pow-in-vietnam/article_2613b5c4-e455-11e8-aee0-bb3ea35e7928.html

CAMACHO, ISSAC “IKE”

https://www.pownetwork.org/bios/c/c134.htm

4 G.I.’S IN VIETNAM TELL OF CAPTIVITY; Say Treatment’s Decent­Send Word to Families; May 10, 1964

https://www.nytimes.com/1964/05/10/archives/4-gis-in-vietnam-tell-of-captivity-say-treatments-decentsend-word.html

Isaac Camacho an American Hero By Billy Waugh

http://www.northeastpowmianetwork.org/Reading.html

6 thoughts on “Isaac Camacho: Baret Hijau Keturunan Indian, yang Berhasil Kabur dari Tahanan Vietcong Dalam Perang Vietnam

  • 12 June 2020 at 1:22 am
    Permalink

    Hai sob, saya paling suka dengan artikelnya, sangat bermanfaat dan bisa jadi bahan referensi.

    Reply
    • 12 June 2020 at 7:00 am
      Permalink

      Terima kasih, asal dibaca saja saya sudah senang….

      Reply
  • 20 July 2020 at 4:00 am
    Permalink

    duh bagus ini web berisi sejarah militer, salut bacaan bergizi

    Reply
  • 17 September 2020 at 12:33 pm
    Permalink

    569444 377351You must join in a tournament 1st with the greatest blogs on the internet. I will recommend this internet internet site! 40385

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *