JACK: Misi Operasi Penyerangan Rahasia Lintas Laut CIA dalam Perang Korea (1951-1953)

Pada pertengahan April tahun 1951, Central Intelligence Agency (CIA) di Jepang secara resmi mengkonsolidasikan aset-aset mereka di Korea. Bagian Kantor Koordinasi Kebijakan (OPC / operasi rahasia) dan kelompok Kantor Operasi Khusus (OSO / pengumpulan intelijen dan kegiatan spionase) bersatu untuk membentuk misi Klandestin gabungan lapangan pertama mereka. Nama dari misi-misi klandestin ini adalah JACK (Joint Advisory Commission, Korea). Awalnya peran CIA dalam perang cukup membingungkan bagi komando militer Amerika, tetapi dengan penggabungan operasi aset-aset mereka di Korea, telah memungkinkan Dinas Intelijen itu untuk memberikan informasi intelijen terbaik kepada Far East Command (FEC) dan Eighth US Army (EUSA) hingga perang di Korea berakhir. Beroperasi di bawah arahan Central Intelligence Agency, secara umum misi JACK bertanggung jawab untuk memasukkan dan mengekstraksi agen-agen Korea yang dilatih AS ke wilayah Korea Utara, untuk melakukan serangan lintas laut rahasia di sepanjang pantai Korea Utara, dan untuk memberikan bantuan penyelamatan bagi pilot-pilot Angkatan Udara yang pesawatnya jatuh.

UDT-1 dan UDT-3 berlatih menjadi pasukan katak di Pantai Naga dekat Camp McGill, Jepang, 1950. Pada awal perang Korea, misi-misi rahasia antar angkatan belum dikoordinasikan dengan baik, sehingga setiap misi seperti berjalan sendiri-sendiri. (Sumber: https://arsof-history.org/)

TIM JACK

Seperti disinggung diatas Central Intelligence Agency, Dinas Intelijen Amerika telah mensponsori berbagai kegiatan klandestin selama Perang Korea, di antara dari misi klandestin ini adalah operasi maritim di belakang garis pertahanan musuh. Selama perang, ratusan gerilyawan yang dilatih oleh CIA dan agen-agen intelijen disusupkan ke Korea Utara dengan parasut dan perahu, banyak diantara mereka tidak pernah kembali. Kurangnya pengenalan CIA dengan kontrol sosial yang diberlakukan oleh rezim Komunis berarti bahwa praktik ini terus berlanjut sepanjang perang, dengan banyak korban yang terus berjatuhan. Aktivitas ‘jauh’ di belakang garis pertahanan musuh yang dilakukan Sekutu gagal karena berbagai alasan, sebagai berikut: Pertama ketergantungan gerilyawan pada pasokan udara membahayakan area base camp dan memfasilitasi proses eliminasi sistematis yang dilakukan oleh pasukan keamanan pihak Komunis. Kedua, pangkalan pulau bagi komando dan kontrol (C&C) CIA yang direncanakan di setiap ujung koridor E&E (escape and evasion) tidak pernah terwujud. Ketiga ‘Jaring pengaman lepas pantai’ (perahu-perahu penyelundup di wilayah pesisir / armada penangkap ikan untuk mencari dan menyelamatkan penerbang yang jatuh) gagal membantu operasi karena perangkat radio tidak tersedia untuk orang-orang Korea yang disusupkan. Karenanya, orang-orang CIA di Jepang tidak memiliki kendali atas aset-aset intel yang telah mereka kirimkan ini. Tanpa adanya penasihat militer Amerika untuk memastikan disiplin dan fokus pada misi, para pemimpin gerilya yang bosan dengan misinya, kerap lebih memilih untuk melakukan aksi-aksi klandestin terhadap target-target yang tersedia dengan tanpa koordinasi. Namun, serangan gerilya terhadap infrastruktur lokal telah menyebabkan lebih banyak masalah bagi warga sekitar dan akibatnya dukungan yang seharusnya bisa mereka dapatkan, secara perlahan berkurang. Para petani di wilayah-wilayah sasaran harus melakukan perbaikan atas kerusakan yang dibuat oleh tim-tim klandestin serta juga ditugaskan sebagai penjaga desa. Meski demikian kerugian gerilyawan dan agen yang terus-menerus tidak menghalangi JACK atau komando dan badan yang berafiliasi dengan PBB untuk mengirim lebih banyak penyusup asal warga Korea Utara ke belakang garis pertahanan musuh.

MAJ John K. ‘Jack’ Singlaub, Wakil Komandan dan Kepala Staf JACK, 1951-52. (Sumber: https://arsof-history.org/)

“Meski hasilnya buruk, kami harus terus berusaha. Kehadiran unit gerilya di belakang garis pertahanan musuh, terlepas dari berapa lama mereka bisa bertahan, mampu mengganggu jalur komunikasi dan militer Korea Utara. Agen harus disusupkan jika data intelijen taktis ingin dikumpulkan. Dan, kami [CIA] juga tetap masih menjalankan misi rahasia E&E, ”kata Mayor (MAJ) John K. ‘Jack’ Singlaub, kepala staf dan wakil komandan, JACK. Intinya agen-agen yang dikirimkan masuk kategori “expendable” (siap dikorbankan). Tragisnya misi-misi penyusupan klandestin yang hanya punya peluang selama kecil semacam ini dan makan banyak korban masih terus dilakukan hingga masa Perang Vietnam sesudahnya. Sementara itu sistem ‘snatch recovery’ (personel) dengan menggunakan pesawat merupakan bagian dari “JACK Air Operation in Korea, 1951-1953” sebagai upaya CIA lainnya untuk memenuhi tanggung jawab E&E-nya. Standar tugas para agen adalah untuk membangun koridor E&E yang dioperasikan gerilyawan di seluruh Korea Utara, tepatnya di sebelah selatan daerah perbatasan China (yang kerap disebut sebagai ‘MiG Alley’), guna membantu awak pesawat PBB yang jatuh dan untuk memberikan data intelijen sampai akhir konflik Korea. Direktur Central Intelligence (DCI) (pensiunan) Jenderal Walter Bedell ‘Beetle’ Smith kemudian menyelesaikan masalah kekhawatiran Kepala Staf Gabungan di Washington dan Jenderal Douglas A. MacArthur di FEC dengan menggabungkan aset-aset CIA di Korea. Serangan unit-unit Navy Underwater Demolition Team (UDT) dan Marinir di berbagai infrastruktur pada pesisir Korea Utara telah menunjukkan bagaimana cara efektif untuk mengganggu musuh, tetapi keberadaan kapal Angkatan Laut AS dalam mendukung operasi ini kerap secara tidak sengaja memberi informasi sasaran pada musuh dan dengan begitu mengurangi efektivitas operasinya. Agar lebih efektif diperlukan aksi penyerangan pantai terselubung yang dilakukan oleh pasukan gerilya yang terlatih khusus dengan didampingi oleh penasehat Amerika yang diantara tugasnya, termasuk misi pengumpulan intelijen, disinilah lahir misi JACK.

Pulau Yo Do yang digunakan sebagai pangkalan Tim JACK. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Pulau Yong Do, yang dihubungkan oleh tanah genting terjal ke arah Pusan, kemudian berfungsi sebagai pangkalan untuk operasi tersebut, yang dilakukan oleh gerilyawan Korea yang terlatih. Pulau bekas Kamp Angkatan Darat Jepang ini dinilai cukup aman karena pada pintu masuknya terdapat jalan lintas yang menghubungkannya dengan semenanjung di sekitar pelabuhan Pusan yang senantiasa dijaga. Empat penasihat utama Amerika yang bertanggung jawab atas pelatihan dan perencanaan operasional misi khusus tersebut adalah ‘Dutch Kramer, Tom Curtis, George Atcheson dan Joe Pagnella. Semuanya telah diproses melalui organisasi garis depan CIA, Joint Advisory Commission, Korea (JACK), yang berkantor pusat di Tongnae, sebuah desa dekat Pusan, di pantai tenggara semenanjung itu. Komandan pertama JACK adalah Kolonel Angkatan Darat Albert R. Haney, sampai dia digantikan oleh veteran Divisi Lintas Udara ke-82 yang legendaris, Kolonel Benjamin Vandervoort yang memimpin salah satu batalion pasukan payung itu di Normandia saat Operasi Overlord dalam Perang Dunia II. Mereka bertugas mengawasi perencanaan dan dukungan untuk operasi laut, udara, dan darat badan tersebut, termasuk penyusupan dan ekstraksi agen, serangan dan penghancuran di wilayah pesisir, serta dukungan untuk Far East Air Force’s Escape & Evasion Program. Sementara itu salah satu proyek JACK, dengan nama sandi Blossom, memiliki tujuan untuk menanam personel anti-Komunis di Korea Utara yang akan berkembang sebagai pendukung pro-demokrasi jika Korea Selatan memenangkan perang. Kebanyakan penyusup politik itu tidak selamat dalam menjalankan misinya. 

MAJ Benjamin H. Vandervoort (kanan), dari Batalyon 2, Resimen Infantri Parasut ke-505 (Prancis dan Belanda) yang legendaris dan dianugerahi Medali Distinguished Service Cross atas tindakan beraninya selama invasi Normandia. COL Vandervoort menjadi komandaan Tim Jack di Korea. (Sumber: https://arsof-history.org/)
Penerima Medali Navy Cross, USMC MAJ Vincent R. ‘Dutch’ Kramer. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Seorang Marinir yang besar dan tangguh, Mayor Vincent R. Dutch Kramer pernah bertugas di Pasifik dan bersama Grup Angkatan Laut AS dan China, selama Perang Dunia II. Sebagai komandan Kamp Grup 3, dia mengawasi pelatihan gerilyawan Nasionalis China, kemudian membawa mereka ke medan tempur untuk melakukan penyerangan dan penyergapan melawan pasukan Jepang. Sama besar dan juga tangguh adalah Letnan Tom Curtis. Seorang veteran Marinir dengan pengalaman 15 tahun, dia pernah bertugas dengan Korps Amfibi, Atlantic Fleet’s secret Scout-Observer Group, sebelum bergabung dengan Office of Strategic Services (pendahulu CIA). Dia memperoleh Medali Bronze Star dan Silver Star untuk aksi sabotase dan misi gerilyanya di Yunani dan Cina. Sementara itu, sebagai perwira Underwater Demolition Team (UDT) 3, Letnan George Atcheson sedang berada di Jepang memimpin detasemen beranggotakan 10 orang ketika Perang Korea meletus pada tanggal 25 Juni 1950. Dia kemudian berpartisipasi dalam aksi penyerangan mendadak dan pengintaian melalui laut bersama dengan Amphibious Group 1’s Special Operations Group 1’s Special Operations Group. Atcheson telah memimpin percobaan serangan UDT yang pertama dalam perang pada tanggal 5 Agustus, ketika ia dan orang-orang dari Tim 3 lainnya mendayung perahu karet ke Yosu dari kapal perusak transport berkecepatan tinggi Diachenko (APD-123), tetapi harus membatalkan misi tersebut di bawah tembakan berat musuh. 

(Kiri ke Kanan) USMC 1LT Thomas L. Curtis, LTJG UDT George C. Atcheson, III, dan SFC James C. ‘Joe’ Pagnella, penasihat JACK untuk personel SMG di Yong-do. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Personel penting berikutnya, seorang veteran dari dua penerjunan tempur di Korea, Sersan Kelas 1 berkulit gelap dan kuat, Joseph Pag Pagnella, yang datang ke pulau itu bersama Resimen Infantri Parasut ke-187, sebuah Tim Tempur Resimen Lintas Udara. Dia kemudian mengingat pertemuan pertamanya dengan Kolonel Vandervoort yang, setelah melihat Sersan Pagnella dan perwira NCO lain bersamanya, berseru, “Sekarang saya punya beberapa sersan!” Dalam tim ini Kramer bertanggung jawab atas operasi di Yong Do. Rekan Korea-nya adalah Mayor Han Chul-Min, yang telah merekrut beberapa ratus warga Korea Selatan dan tidak menyukai orang-orang Korea Utara untuk dilatih dalam misi klandestin. Bekerja sama dengan Kramer, Atcheson dan Pagnella, serta Han, mereka memilih 40 orang untuk menjadi anggota Kelompok Misi Khusus (SMG), yang akan dilatih untuk melakukan penculikan tahanan, penyergapan yang diluncurkan dan didukung dengan kapal serta penghancuran jalur kereta api pesisir dan jembatan di Korea Utara. Dengan dibantu oleh Sersan Pagnella, Letnan Atcheson adalah penasihat senior dan pelatih SMG, yang perwira Korea-nya adalah Mr. O Pak, mantan bajak laut sungai. Dideskripsikan oleh Pagnella sebagai pria paruh baya yang tangguh dengan perawakan ringan, kumis dan janggut berserabut serta rambut keriting dengan mengenakan topi berlambang Marinir, O Pak adalah seorang ahli kendo dan petinju ulung yang bahkan mengajari Pagnella satu atau dua hal selama pelatihan seni bela diri.

(Dari kiri ke kanan) Hans V. Tofte, director CIA paramilitary operations, Korea, ROK MAJ Han Chul-min, dan USMC MAJ Vincent R. ‘Dutch’ Kramer di Atsugi Airbase, Japan. (Sumber: https://arsof-history.org/)
Mr. Oh Pak, mantan bajak laut sungai, adalah ‘sersan pertama’ dari tim SMG JACK. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Atcheson kemudian menangani semua pelatihan penggunaan perahu karet dan instruksi serangan amfibi, termasuk juga pelatihan renang dan penghancuran. Sementara itu, Pagnella bertugas sebagai instruktur senjata, mulai dari penggunaan senapan M-1, karabin M-2, Senapan Sub Mesin M-3, senapan otomatis BAR hingga senapan mesin kaliber .50 dan senjata recoilless kaliber 57mm. Dia juga melatih personel SMG dalam penggunaan granat tangan, ranjau, jebakan dan tembak reaksi. Dia kemudian membangun lapangan tembak 1.000 inci, dengan jarak tembak 250 yard, dan platform pendaratan parasut di medan berbatu Yong Do dengan bantuan dan dukungan dari Atcheson dan personel SMG, 25 di antaranya menjadi berkualifikasi lintas udara. Seorang ahli menembak pistol, Letnan Curtis memberikan kelas terpisah dalam penggunaan pistol otomatis kaliber .45 dan menambahkan pengetahuan mereka dengan keahliannya untuk pertarungan tanpa senjata dan kelas perang gerilya. Mayor Kramer dan Han, ditambah stafnya, berkonsultasi tentang seluruh program pelatihan, yang mencakup penggunaan senjata dari negara asing (Cina dan Rusia), pertolongan pertama, pembacaan peta, patroli, penyergapan, operasi unit kecil dan pemakaian mortir. Karena SMG akan menjadi kekuatan penyerang, keahlian menembak tepat harus diutamakan lebih dari sekedar latihan orientasi senjata. Platform misi utama SMG adalah kapal transport perusak, atau APD. Cepat dan lincah, dengan rancangan lambung yang dangkal yang memungkinkan mereka mendekati pantai di wilayah lawan, kapal angkut perusak ini berkecepatan tinggi, dengan mampu membawa empat LCPR (landing craft personnel, ramped) sepanjang 36 kaki, telah membuktikan dirinya selama Perang Dunia II membawa pasukan penyerang Marinir dan UDT di seluruh medan tempur Pasifik. Empat APD yang ditugaskan di Korea: Diachenko, Horace A. Bass (APD-124), Wantuck (APD-125) dan Begor (APD-127). Dari tahun 1951 hingga 1952, Horace A. Bass, Wantuck dan Begor kemudian akan bergantian mendukung operasi di belakang garis pertahanan lawan yang disponsori oleh CIA. 

Senapan semi otomatis M-1 Garand. (Sumber: https://wikiofbrothers.fandom.com/)
Senapan karabin M-2. (Sumber: https://www.rockislandauction.com/)
Senapan otomatis Browning BAR. (Sumber: https://wikiofbrothers.fandom.com/)
Senapan sub mesin M-3. (Sumber: https://wikiofbrothers.fandom.com/)
Senjata Recoiless kaliber 57 mm, senjata utama tim SMG. (Sumber: https://vistapointe.net/)
Kapal Horace A. Bass (APD-124). (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Prosedur operasi standar untuk meluncurkan dan menjemput tim SMG didasarkan pada pengalaman masa perang selama bertahun-tahun dan perbaikan taktis yang dilakukan selanjutnya. Prosedur ini dimulai dengan sebuah APD akan berhenti di lokasi beberapa ribu meter dari pantai target pada malam hari. Dalam keheningan dan kegelapan, LCPR, atau kadang-kadang LCVP (landing craft vehicle, personnel), diluncurkan dan menarik perahu karet bermuatan gerilyawan. Sekitar 500 meter dari pantai, derek dilepaskan, setelah itu para penyerang mulai mendayung perahu karet mereka menuju pantai, berhenti sekitar 250 meter lepas pantai. Dari sana, perenang pengintai dikirim untuk menyelidiki target. Jika semuanya aman maka akan ada pemberitahuan melalui sinar infra merah, dan para gerilyawan akan mengayuh perahu karet untuk menjalankan misi. Sementara itu proses penjemputan dilakukan dengan perahu karet yang didayung ke titik penjemputan yang ditentukan pada waktu yang telah diatur sebelumnya, dihubungkan untuk ditarik, dan dikembalikan ke kapal dengan LCPR atau VP-nya. Panduan ke pantai target adalah dengan vektor radar dan komunikasi radio. Perahu karet komando memiliki reflektor kecil yang terpasang, sehingga operator radar di pusat informasi tempur APD dapat melacaknya, menyampaikan arah melalui radio saat perahu melaju menuju pantai. Meskipun prosedur tersebut banyak yang dipotong dan diperingkas, keadaan di mana prosedur tersebut dilaksanakan jelas bukan merupakan hal yang kaku. Para awak APD, dan terutama awak kapal, kerap beroperasi di perairan musuh pada malam hari di lepas pantai yang bermusuhan, menghadapi ketegangan, stres, dan terkadang kurang tidur. 

USS Horace A. Bass (APD-124) dengan LCPR di buritannya dan whaleboats MWB terlihat di fantail. (Sumber: https://arsof-history.org/)

MISI PERTAMA

Pada larut malam tanggal 25 Januari 1952, LT Atcheson memimpin rombongan penyerang gerilya yang terdiri dari 45 orang untuk menghancurkan jembatan kereta api. Tak lama setelah memasang bahan peledak, Atcheson melihat lima belas orang personel patroli musuh mendekat. Dia kemudian mengarahkan tembakan dari kapal angkatan laut dengan sangat terampil sehingga empat belas tentara musuh terbunuh dan satu berhasil ditangkap. Kemudian, veteran UDT-3 itu dengan tenang mengawasi pemasangan detonator pada kabel waktu, mengaktifkan sekring, dan memimpin anak buahnya dan tawanan yang berhasil ditangkap kembali ke perahu karet untuk kemudian mendayung ke LCPR yang ada di lepas pantai. Saat kelompok itu naik ke APD, ledakan meledak dengan suara gemuruh. Pada siang harinya, lokomotif yang tergelincir di lokasi jembatan dihancurkan dengan tembakan angkatan laut. Setelah misi ini, tim dinilai telah siap untuk menjalankan misi SMG murni pertama mereka. Kemudian pada tanggal 19 Maret 1952, Wantuck tiba dari Yong Do untuk menjemput sekelompok gerilyawan SMG, perahu karet, perlengkapan, dan perlengkapan lainnya. Bergabung dengan mereka dan pemimpin mereka, O Pak, adalah penerjemah Chon Do-Hyun – yang lebih dikenal di kalangan Amerika sebagai John Chun – Kramer, Atcheson dan Pagnella. Atcheson telah memilih sasaran pantai di utara garis paralel ke-38 dari foto udara dan peta wilayah tersebut dengan berkonsultasi dengan Kramer dan Pagnella. Misinya adalah: Menyergap konvoi pasokan, menangkap pengemudinya dan memeriksa muatan mereka. Atcheson dan O Pak membagi SMG menjadi enam regu beranggotakan lima orang, masing-masing dipersenjatai dengan BAR (senapan otomatis Browning), senapan M-1, karabin, dan senapan submesin kaliber .45. Tim pengaman kapal yang terdiri dari tiga orang terdiri dari perenang pengintai. O Pak, Chun dan Pagnella akan masuk dengan regu senjata recoilless. Anggota SMG lainnya ditugaskan ke kelompok penyerang utama atau kelompok pemblokiran di utara dan selatan jalan. Latihan yang telah dilakukan sebelumnya berjalan dengan baik, rencananya terlihat bagus dan semua orang puas dengan prospek misi yang kemungkinan besar akan berhasil. Sehari di laut, dengan Wantuck berlayar menuju ke utara, Pagnella meminta izin untuk mencoba menembakkan senjata recoilless. Kapten kapal, Komandan John B. Thro, setuju, asalkan Pag hanya menembak dari haluan APD. Seperti yang telah mereka lakukan dalam pelatihan, Pag, kru senjata SMG-nya dan daya tembak dari senjata yang ditembakkan diatas bahu membuat para penonton mereka terkesan.

Operator SMG CIA asal Korea di atas kapal Angkatan Laut AS bersiap untuk misi penyerbuan. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Pada jam 20.00 malam, peringatan umum dibunyikan. Laut tenang saat awak kapal berjaga di posisi siaga mereka sementara kapal diturunkan dan menarik perahu karet berawak ke dalam jarak 500 yard dari pantai. Pada tanggal 21 Maret, misi dimulai dengan sungguh-sungguh. Kondisi gelap telah diberlakukan di atas kapal ketika peringatan umum dibunyikan pada pukul 20.45, dan APD Wantuck, yang berada 4.000 yard di lepas pantai, berdiam di lepas pantai target. Dalam 25 menit, semua LCPR telah diturunkan dan perahu karet diturunkan, dimuati, dan dihubungkan untuk ditarik. Kramer, O Pak, Pagnella dan Chun berada di kapal komando. Atcheson mengikuti dengan PR-2, siap membantu kapal mana pun yang bermasalah atau mengambil tindakan kalau ada kapal kecil Korea Utara yang berniat mengintervensi. Pada malam hari, satu-satunya tanda mendekatnya kapal SMG yang ditarik oleh kapal pengangkut personel dengan mesin yang teredam adalah cahaya berpendar di permukaan Laut Jepang. Derek pengikat kemudian dilepaskan pada jarak 300 yard di lepas pantai, dan semua orang menunggu sinyal dari Han, personel perenang pengintai. Personel kapal komando melihat kedipan cahaya redup di dekat area target, kemudian melihat lampu sinyal pertanda semua siap. Saat Dutch Kramer berbisik, “Semoga berhasil”, Sarge, Pag, kru senjata recoillessnya, O Pak dan Chun naik ke perahu karet.

USMC MAJ Vincent R. ‘Dutch” Kramer mengamati pelatihan penyusupan perahu karet SMG dengan Kapal Angkatan Laut AS. (Sumber: https://arsof-history.org/)

“Kami bergerak perlahan ke pantai”, kenang Pagnella, dalam formasi berlian. “Kecepatan kami bertambah saat orang-orang kami mengayuh serempak. O Pak, Chun dan aku berjongkok rendah saat pengemudi kami memandu di perahu pemimpin. Kami bisa melihat pantai sekarang dan mendengar ombak yang lembut. Perahu-perahu itu menyebar, dan kami meluncur ke pasir, menurunkan muatan dengan cepat, lalu memulangkan semua perahu ke laut. Elemen pengaman di pantai memandu kami ke jalan setapak yang mengarah dari tebing di belakang kami ke jalan di luar pantai. Setelah ada di atas, tim pemblokiran jalan sebelah utara pimpinan Tuan Yu dan empat tim penyergap bergerak dengan cepat bergerak ke posisi di dataran tinggi di barat jalan. Sementara itu Tim pemblokiran jalan selatan mengambil posisinya dengan sektor utama tim yang membawa senjata recoilless kaliber 57 mm. Sekarang semua elemen telah ditempatkan dalam waktu 30 menit. Han, pengintai, dan pemimpin penyerang Sersan Yuan Bol Yo, kembali ke penghalang jalan selatan dan melaporkan kepada O Pak bahwa mereka tidak menemukan jejak apapun di jalan. Saya lalu meminta Chun untuk bertanya kepada O Pak, ‘Berapa jauh posisi utara dan selatan posisi pemblokiran?’ ‘Hanya sejauh satu tikungan jalan,’ ia menjawab. O Pak menangkap maksud saya dan berkata bahwa mereka akan memeriksa di luar posisi pemblokiran. Kami berempat bersama dua pria dari posisi selatan bergerak dengan hati-hati, memeriksa jalan sejauh 100 yard ke selatan menuju desa kecil sekitar satu mil jauhnya. Tidak ada jejak. Kami kemudian kembali ke posisi pemblokiran sebelah selatan. O Pak, Chun, Yuan Bol Yo dan saya melanjutkan ke posisi pemblokiran sebelah utara, di mana kami memberi tahu Tuan Yu bahwa kami melewati belokan untuk memeriksa jalan. Dia bergabung dengan kami, membawa serta seorang pria bersenjata otomatis. Chun berbisik, ‘Sersan Pag, ini sangat berbahaya,’ dan saya menjawab, ‘Ya, tetapi kita harus memeriksa jalan ini.’ Kami berjalan dengan sangat hati-hati, sambil mengamati sepanjang jalan – 50, 100, 150 yard. Tidak ada jejak kendaraan, bahkan gerobak. Ketika kami kembali ke posisi Tuan Yu, O Pak menyuruhnya dan Yuan Bol Yo untuk menunggu 30 menit, kemudian mundur dengan hati-hati bersama dengan masing-masing tim penyergap dan kembali ke pantai melalui posisi pemblokiran selatan kami. Pengunduran diri berjalan lancar, masing-masing tim melindungi satu sama lain dan tim keamanan pantai memberikan perlindungan terakhir sampai semua perahu telah dimuati dan beranjak pergi. 

MISI KEDUA

Itu telah menjadi penyusupan yang sempurna, rencana penyergapan dan penyebaran pasukannya, tetapi sayang pihak Korea Utara tidak mau “bekerja sama” – tidak satupun dari mereka muncul malam itu. Kekecewaan yang dirasakan oleh anggota SMG dibagikan kepada kru Wantuck. Kramer menoleh ke sersannya yang frustasi dan berkata, “Kamu tidak bisa memenangkan semuanya, Pag.” Sementara itu misi yang dijadwalkan untuk dua hari ke depan juga dibatalkan karena laut yang ganas dan ombak yang tinggi. Kemudian tibalah tanggal 24 Maret. Kali ini misinya adalah penghancuran rel kereta. Dalam cuaca yang cerah dan gelombang sedang, Wantuck meluncurkan kapal-kapalnya pada pukul 21.00. Empat ratus meter di lepas pantai, perahu-perahu itu menunggu sinyal dari perenang pengintai SMG. Empat puluh menit kemudian, pengintai pemandu Han kembali ke kapal komando dan melaporkan adanya gelombang besar setinggi 6 kaki – terlalu tinggi untuk melakukan penyusupan. Saat kru bersiap untuk pergi, anggota tim jelas kecewa. Kemudian seseorang melihat lampu di pantai, berkedip di posisi bunker jalan 600 yard di utara pantai. Pagnella bertanya kepada Kramer apakah dia bisa menembakkan beberapa peluru senjata recoilless 57mm ke posisi itu, karena kapal komando mereka hanya berjarak 1.000 yard di lepas pantai. “Silakan, Pag”, jawab Kramer. Sersan itu kemudian pindah ke bagian haluan menuju ke senjata favoritnya. Chou, penembak pertamanya, mengisi peluru dan mengetuk atas kepala Pag. Peluru pertama agak rendah, peluru kedua tepat sasaran, dan peluru ketiga menghasilkan ledakan sekunder. Pag menembakkan tiga peluru peledak tinggi lagi untuk menambah efek kehancuran dan kemudian berkata, Kami berhasil menembak bunker musuh dan dengan senang hati meninggalkan tempat itu. Kembali ke atas Wantuck, salah satu kepala perwira memberi tahu Pagnella, “Sersan Pag, kita mungkin tidak melakukan home run, tetapi kita tahu betul bahwa kita sedang dalam permainan bola!”

Daya dukung perahu motorized whale boat (MWB) Mark II (dari kayu lapis) milik Angkatan Laut AS terbatas. Pengemudi biasanya berdiri untuk mengarahkan perahu ini. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Horace A. Bass kemudian menggantikan Wantuck sebagai platform operasional SMG, dan perkenalannya dengan aktivitas yang disponsori CIA adalah murni operasi khas klandestin. Pada tanggal 20 April 1952, APD itu tiba di luar pelabuhan Pusan dalam perintah yang tergesa-gesa. Komandannya, Komandan Lefteris Lefty Lavrakas, mengirim perwira kapalnya, Letnan Hilary D. Mahin, ke darat dengan perintah untuk menuju ke bilik telepon tertentu, menekan nomor tertentu pada waktu tertentu dan meminta bantuan tim Jack. Jawaban Mahin adalah “Discount Jig”, tanda panggilan Bass. Jack memberi Mahin sederet angka yang ternyata adalah koordinat Yong Do. Di sana, Lefty, Hi Mahin, dan perwira kapal lainnya bertemu dengan Kramer, Atcheson, dan Pagnella untuk mengikuti pengarahan misi. Misinya mirip dengan misi sebelumnya, tetapi prioritas utama yang diberikan adalah untuk menangkap pekerja transportasi Korea Utara yang memiliki pengetahuan tentang ID Card. CIA telah mengetahui bahwa Korea Utara secara teratur mengubah jenis stempel kartu dan warna kertas, yang berarti bahwa operator yang bertugas untuk memalsukan ID bagi agen Korea Selatan membutuhkan informasi.

Jalur kereta api adalah target favorit yang disasar oleh Misi JACK. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Misi sekundernya adalah menghancurkan jembatan atau terowongan kereta api tempat rel kereta api melingkari pantai pesisir yang dangkal di dasar pegunungan yang terjal. Seperti sebelumnya, wilayah operasi SMG adalah pantai timur laut Korea, di atas garis paralel ke-38. Wilayah itu membentang dari perbatasan Manchuria ke selatan ke Pohang — wilayah pegunungan yang berbukit-bukit dengan rel kereta api yang melingkari pantai. Akses menuju ke jembatan rel kereta api dan terowongan yang dituju disediakan oleh pantai berukuran sedang, hampir semuanya berbatasan dengan desa nelayan kecil. Ini adalah target berbahaya karena tidak ada pelabuhan atau teluk kecil dan ‘riptide’ adalah hal yang biasa. Sebagian besar sasaran rel kereta api berada di dekat desa nelayan di mana para tenaga kerja diwajibkan untuk memperbaiki kerusakan akibat bom dan tembakan angkatan laut. Dengan pasukan komunis Cina bercokol di sepanjang garis depan, pasukan Korea Utara telah memfokuskan diri untuk memperketat keamanan internal dan melindungi infrastruktur penting. Kurangnya pelabuhan atau teluk di wilayah tersebut telah membuat mereka menjadi target yang berbahaya, begitu juga kondisi arus balik di wilayah pesisir. Setelah melakukan gladi bersih di wilayah Chumunjin, Atcheson, Pagnella, O Pak dan gerilyawan SMG berangkat di Bass, yang berlayar ke utara menuju Target No. 1 pada malam tanggal 21 April. Komandan Lavrakas mulai bergerak, mendekat hingga jarak 6.200 meter dari pantai. Di laut yang tenang dengan gelombang sedang, peringatan siaga dibunyikan dan kapal diluncurkan pada pukul 2230. Perwira misi yang bertanggung jawab, Letnan Atcheson, naik di kapal komando, PR-3, bersama dengan John Chun dan Letnan Mahin, dengan delapan gerilyawan yang memenuhi perahu karet di belakangnya. Menambahkan beban ke kapal komando itu adalah peralatan penghancuran untuk serangan itu, yakni: peledak Mark-133 seberat 120 pon dan Mark 1350 seberat 80 pon untuk terowongan, jembatan dan rel. 

Penerjemah utama Tim SMG yang sedang membidikkan senjata recoilless kaliber 57mm, Chon Do-hyun/’John Chun,’ tewas dalam misi tanggal 21 April 1952. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Begitu pengikat dilepas, anak buah O Pak mendayung hingga jarak 200 meter dari bibir pantai, lalu berhenti menunggu sinyal dari para perenang pengintai. Mereka tiba-tiba disambut dengan tembakan senapan dan senapan mesin serta granat, tetapi berhasil mundur. Atcheson, mendengar tembakan, tanpa ragu-ragu lagi. Meminta PR-4 untuk menemaninya, dia mendekat dalam jarak 150 yard dari pantai sementara penembak senapan mesin kaliber .30 di PR lainnya menyediakan tembakan perlindungan. Meninggalkan PR-4 di posisi diam, ia naik PR-3 bersama Ken Eckert, dengan beberapa perahu karet di belakangnya, dan berkendara ke pantai untuk menjemput para perenangnya yang terancam. Tembakan musuh menghantam kapal, dan John Chun, yang berdiri di samping Atcheson, tewas seketika. Tiga puluh yard di lepas pantai, Atcheson menemukan dua perenang; satu tewas dan yang lainnya terluka. Yang tersisa satunya hilang. Kembali ke PR-4, Atcheson memindahkan semua yang selamat, kecuali dirinya dan Eckert ke perahu lain, kemudian kembali ke kapal untuk mencari perenang SMG yang tersisa. Dia akhirnya harus menyerah dan kembali ke Bass. Di atas kapal, hasil penghitungan mengungkapkan bahwa tiga gerilyawan telah terbunuh, dua di antaranya tenggelam ketika perahu karet mereka terbalik, dan perenang yang ditemukan itu terluka parah. Perenang ini dipindahkan ke kapal penjelajah Manchester, yang krunya kemudian menemukan perenang SMG yang hilang dalam hidup-hidup keesokan harinya. Sementara itu penterjemah John Chun dikembalikan ke tanah kelahirannya untuk dimakamkan, dengan beberapa pelaut dari Bass dan temannya, Pagnella menghadiri pemakamannya.

MISI KETIGA

Selama minggu pertama bulan Mei 1952, Bass terus mendaratkan para gerilyawan SMG untuk menyerang target di Korea Utara. Terkadang ombak tinggi menghalangi mereka untuk menyelesaikan misi mereka. Pada tanggal 30 April, SMG mendarat di laut yang berombak sedang dekat lokasi Misi No. 1. Setelah bergerak ke darat tanpa perlawanan pada pukul 02.00, mereka melihat kereta api dari arah selatan dengan mesin di depan dan belakang. Tim senjata recoilless lalu melepaskan tembakan. Anggota tim dapat melihat bahwa setidaknya satu peluru telah menghantam kereta, tetapi ketika mereka mendekat untuk menghancurkan kereta sepenuhnya, kru kereta berhasil mundur dari bahaya yang mengancam. Sementara itu Tim penghancur memiliki keberuntungan yang lebih baik, mereka berhasil memasang bahan peledak 120 pon di jembatan dan yang 80 pon di trek. Keduanya meledak saat gerilyawan kembali dengan selamat ke Bass bersama tiga warga sipil Korea Utara yang ditangkap. Pada misi berikutnya, O Pak mengirim separuh anak buahnya ke timur laut dan separuh lagi ke barat daya jembatan yang menjadi sasaran. Kedua tim mendengar suara kereta mendekat dari selatan, tepat sebelum memasuki terowongan. Segera setelah itu, regu di barat laut jembatan bertemu dengan patroli yang terdiri lima orang musuh dan memerintahkan mereka untuk menyerah. Sebagai tanggapan, orang-orang Korea Utara bertiarap untuk berlindung, saat penembak SMG menembaki mereka dengan BAR, senapan mesin, dan tembakan senjata recoilless 57mm. Di lepas pantai, penembak mesin LCPR menambahkan dukungan tembakan dengan senapan mesin kaliber .30, sementara tim penghancur menempatkan bahan peledak mereka. Semua personel berhasil kembali ke APD dan kemudian diberitahu oleh Atcheson bahwa mereka telah berhasil menghancurkan jembatan sepenuhnya. 

Formasi gerilya yang dilatih CIA di Yong-do. (Sumber: https://arsof-history.org/)
Peserta pelatihan SMG mempelajari proses perakitan dan pembongkaran senjata Browning Automatic Rifles (BAR) di bawah pengawasan para advisor A.S. di Yong-do. (Sumber: https://arsof-history.org/)

MISI TERAKHIR

Setelah istirahat yang pantas mereka terima dan adanya konferensi di Pusan, SMG kembali melakukan kembali tugasnya pada bulan Mei. Rupanya, Laksamana Muda George C. Dyer, komandan, Satgas 95, belum sepenuhnya diberitahu tentang kegiatan yang disponsori CIA, dan dia meminta informasi lebih lanjut. Atcheson memberi pengarahan penuh kepadanya tentang misi yang direncanakan akan datang dan kemudian bertemu dengan petugas intelijen dari CTF 95 dan dari Armada Ketujuh. Dia kemudian bertemu dengan komandan Pasukan Angkatan Laut AS Timur Jauh, Vice Admiral C. Turner Joy, yang, setelah mendapat pengarahan dari Atcheson, setuju dengan operasi yang diusulkan. Operasi ini akan menjadi yang terakhir untuk SMG. Pada tanggal 23 Juni 1952, SMG sedang mempersiapkan Misi No. 3 sebagai misi terakhir yang mereka lakukan (total 4 misi mereka lakukan). Misi Nomor 2 telah dibatalkan karena cuaca buruk, dan Nomor 1 telah berhasil mendapat tiga tahanan. Pada pukul 22.00, Bass tiba di pantai target. Jarak pandang waktu itu hanya 100 yard. Setelah kapal pendukung tembakan menghantam baterai pantai di dekatnya, gerilyawan SMG mendarat tanpa lawan sedikit pun setelah tengah malam. O Pak mengerahkan dua tim pemblokir jalan, lalu menemani anak buahnya yang lain mencari desa yang menjadi tujuan mereka. Saat mereka kembali ke pantai dua jam kemudian, gerilyawan SMG telah menahan 10 tahanan dan menyita banyak dokumen. Saat mereka berangkat, mereka melumpuhkan sebuah kapal junk besar dengan tembakan BAR dan granat. Ketika semua kapal tim berhasil dikumpulkan, Bass menyumbangkan tembakan perpisahan berupa tembakan 31 peluru meriam 5 inci yang ditujukan pada konsentrasi kapal dan baterai meriam pantai yang dikendalikan radar. Malam berikutnya, gerilyawan pimpinan O Pak melakukan serangan terakhir yang sangat sukses. Selain menemukan dan menyita banyak makanan, amunisi, pakaian, catatan, dan peta, mereka menangkap beberapa personel keamanan Korea Utara yang berada di atas sampan, sehingga total 13 tahanan yang berhasil dibawa kembali ke Bass untuk diinterogasi. Saat tim mundur, SMG menemukan sampan lain dan menghancurkannya. 

Penghancuran jalur kereta api akan mampu mengganggu jalur komunikasi dan transportasi musuh dalam waktu berminggu-minggu. (Sumber: https://arsof-history.org/)

REFLEKSI

Lebih dari 50 tahun kemudian, George Atcheson dan Joe Pagnella memuji keberanian orang-orang dari Kelompok Misi Khusus. Dalam periode waktu yang relatif singkat, mereka telah menyelesaikan semua tugas yang diminta dari mereka, terkadang beberapa personel gugur dalam prosesnya. Dari semua operasi rahasia CIA terhadap sasaran di Korea Utara, aksi paramiliter dan upaya pengumpulan intelijen yang dilakukan oleh  Tim JACK adalah yang paling berhasil. Mereka juga menyediakan “model operasi”, bersama dengan operasi lainnya di Korea yang disponsori oleh CIA, untuk kegiatan Military Assistance Command, Vietnam-Studies and Observations Group (MACV-SOG) yang kemudian dilakukan oleh militer AS, di Asia Tenggara. Kramer, Atcheson, dan Pagnella melanjutkan pekerjaan mereka di Yong Do dan di tempat lain hingga tahun 1952, dibantu oleh temporary duty Department of the Army civilians, beberapa personel segera dilatih oleh CIA dan dikirim ke Korea. Beberapa pekerjaan lain juga melibatkan Atcheson dan Pagnella yang turut berpartisipasi dalam penyuplaian udara di belakang garis pertahanan yang dilakukan dari Pangkalan Udara K-9, di timur Pusan, oleh Satuan Misi Udara Khusus menggunakan pesawat angkut Douglas C-47 dan Curtiss C-46. Kramer dan Atcheson masing-masing mendapatkan mendapatkan medali Navy Cross dan Silver Star untuk misi CIA yang mereka laksanakan. Pagnella juga menerima rasa hormat dari rekan-rekan SMG-nya atas pengetahuannya tentang pekerjaan NCO yang profesional dan dilakukannya dengan baik.

Tim MACV-SOG di Vietnam yang mengkombinasikan personel Amerika dan personel tempur lokal. Misi kladestin Tim Jack turut menjadi panduan bagi misi-misi serupa yang dilakukan antara unit pasukan khusus dan CIA dalam Perang Vietnam. (Sumber: https://www.army.mil/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Korean War: CIA-Sponsored Secret Naval Raids by John B. Dwyer

JACK OPERATIONS & ACTIVITIES, Korea, 1951 – 1953 by Charles H. Briscoe, PhD

https://arsof-history.org/articles/v9n1_jack_operations_page_3.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Joint_Advisory_Commission,_Korea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *