Jalan Hidup Memang Terkadang “Aneh”: Kisah Pararel Jacob DeShazer & Mitsuo Fuchida

Kisahnya dimulai pada penghujung 1941. Dunia sedang berada dalam bayangan masa depan yang tidak pasti. Ancaman perang dari balatentara Jepang sudah melintasi Indochina, dan menjatuhkan bayangannya yang panjang ke kawasan Hindia Belanda. Protes Amerika Serikat terhadap gerak maju itu bagai anjing menggonggongi kafilah. Dan seperti tidak habis-habisnya, berbagai kisah anak manusia lalu muncul ke permukaan setelah perang usai. Hal Drake, penulis senior pada “Pacific Star and Stripes”, mencoba mengungkapkan salah satunya, yang mengisahkan tentang: pengalaman dua serdadu yang sebelumnya telah berperang di pihak yang bermusuhan. “Dari rangkaian penderitaan, kedua orang itu mendapatkan pelajaran yang sama”, katanya.

Pada penghujung tahun 1941, awan gelap ancaman perang membentang diatas langit Asia, dengan geliat ekspansi militer Jepang.

JACOB DESHAZER & MITSUO FUCHIDA

Jacob DeShazer berusia 28 tahun pada akhir tahun 1941. Waktu itu ia baru saja mengalami nasib sial saat mencoba beternak kalkun. Tidak kurang dari US$1.000 uangnya terbenam habis dalam bisnis keparat itu. Dan Madras, kota kediamannya, bukanlah tempat yang terlalu menarik. Apalagi untuk orang seusia DeShazer. Ini bukan Madras di India, lho. Terletak di Negara Bagian Oregon, kota Amerika itu kecil saja; hanya berpenduduk 300 orang. Jalan raya utamanya lapang dan lengang. Sekali-sekali melintas mobil Ford model A, atau Packard dan Maxwell kuno. Bangunan-bangunannya lugu dan agak bego, membuat orang teringat pada suasana kota perbatasan jaman Buffalo Bill. Madras memang tidak banyak berubah sejak pemukim pertama menginjakkan kakinya di sana. Namun kota itu sesungguhnya tidak terlalu jelek. Terselip di sela pegunungan, udaranya lumayan nyaman. Penduduknya bagai terpulau, jarang berhubungan dengan orang luar. Dalam keadaan seperti itu koran menjadi jendela yg amat penting untuk meninjau dunia lain di seberang sana.

Kota Madras, Oregon..kampung halaman DeShazer.

Dan DeShazer, tokoh kita ini, termasuk anak muda yang getol mencari bacaan. Kecuali koran lokal, dia juga rajin berusaha mendapatkan media informasi dari kota yg agak besar, di kawasan itu juga. Nah dari bacaan inilah, ia suatu hari mendapat kejutan. Konon, balatentara dari Nazi Jerman dan Kerajaan Jepang sedang maju malang melintang di penjuru dunia. Terpanggil untuk membela bangsanya, ia mendaftarkan diri ke korps penerbangan Angkatan Darat. Ia ingin jadi pilot, dan seorang yg sembrono mengatakan padanya bahwa persyaratan yang diperlukan ringan saja.  Belakangan ia baru sadar: usianya sudah melewati ketentuan, ia sudah hampir 30 tahun, terlalu tua untuk jadi kadet penerbang, tetapi untungnya Korps Penerbangan masih bisa memanfaatkan DeShazer. Ia dimasukkan ke kesatuan bomber. Segera setelah menerima latihan menembak papan sasaran, tokoh kita ini girang bukan buatan. “Sama seperti berburu kelinci di Oregon Tengah”, katanya. Iapun segera memotong pendek rambutnya, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, buatnya lingkungan barak tidaklah jelek.

Jacob DeShazer

Sekarang kita beralih ke tokoh kita yang kedua: Mitsuo Fuchida. Untuk fuchida, hidup boleh dikata teramat keras. Tamat dari akademi Angkatan Laut Eta Jima pada tahun 1924, ia memang mempersiapkan diri untuk suatu kehidupan yang penuh disiplin. Di akademi itu ia sekelas dengan Minoru Genda yang brilyan- yang kemudian akan jadi terkenal. Mereka bahkan berkawan. Mereka tidak disukai oleh para golongan tua yang masih suka berperang dengan mengandalkan Battleship, dan penjelajah dalam pertempuran dari kapal ke kapal, sementara Fuchida dan Genda dkk amat mengagumi kekuatan udara. Di awal 1941, Fuchida telah berusia 39 tahun. Ia sudah menjadi komandan. Suatu hari, Fuchida diperintahkan berangkat ke lautan pedalaman Jepang. Disana ia menemukan Genda sedang menunggu kedatangannya. “Perang mungkin saja pecah setiap saat”, kata Genda. “Bila saat itu datang, anda akan menjadi komandan sebuah satuan serbu udara”. Fuchida meyakinkan dirinya. Mungkin ini ujian tertinggi dalam hidupnya. Semua godaan, kewajiban belajar keras, kehidupan spartan, dan penyangkalan diri selama ini, akan menemui penggenapannya. Ia sedang mempersiapkan diri mengangkat senjata melawan musuh-musuh negerinya. Dengan penuh kerahasiaan, latihan khusus dimulai. Pesawat-pesawat terbang Angkatan Laut Jepang yang ringan dipaksa terbang rendah seraya melepaskan torpedo, kadang2 hanya sekitar 12 meter diatas permukaan laut. Hanya setan yang menganggap pekerjaan ini main-main. Langit putih cerah tatkala Fuchida naik ke pesawatnya, sebuah bomber ringan, ia sudah memenuhi kewajibannya terakhir, menulis sepucuk surat ke kampung halaman. Kepada ayahnya yang sudah uzur ia bertutur: “saya yakin saya akan gugur. Tetapi kematian ini agung dan dengan penuh hati”. Ayahnya mengangguk-angguk, tentunya, maklum Jepang.

Kapten Mitsuo Fuchida.
Akademi Angkatan Laut Etajima.

PEARL HARBOR

Dan pesawat Fuchida lah yang pertama-pertama tiba diatas kapal induk Akagi. Di belakangnya segera menyusul pesawat lain. Dari sana seluruh informasi bergerak menuju sasaran. Mereka terbang pada ketinggian 3.000 meter, diatas sebaris awan tipis berarak. Tiba-tiba awan terkuak, dan garis pantai tampak dibawah sana. Mendadak, dan sangat mengesankan, muncullah Pearl Harbor nun depan disana, luas dan lengang. Tidak sebuah isyarat kehidupan yang tampak dibawah. Serangan yang bersejarah itu memang betul-betul kejutan total. Di tempat duduk pesawatnya, diantara pilot dan navigator, Fuchida menggapai mikrofon, ia mulai mengucapkan kata sandi, yang menjadi tanda kesuksesan impian Genda. Kata2 inilah yg kemudian mengangkat namanya menjadi legenda: “Tora, Tora, Tora.” Selanjutnya mari kita ikuti penuturan dari Fuchida sendiri. Angkatan Laut Jepang di bawah komando Laksamana Madya Chūichi Nagumo yang terdiri dari enam kapal induk dengan 423 pesawat siap untuk menyerang pangkalan Angakatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii. Pada jam 06:00 pagi, gelombang pertama 183 pesawat pengebom tukik, pembom torpedo, pembom dan pesawat penyerang, lepas landas dari geladak kapal-kapal induk 370 km sebelah utara Oahu menuju Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor.

Type 97 B5N Kate, pesawat yang digunakan Fuchida dalam memimpin serbuan Pearl Harbor.

“Saya harus mengakui bahwa saat ini lebih bersemangat dari biasanya karena saya terbangun pagi itu pada pukul 3:00 pagi, waktu Hawaii, empat hari setelah hari ulang tahun saya ketiga puluh sembilan. Enam kapal induk kami di posisi 230 km sebelah utara dari Pulau Oahu. Sebagai komandan umum skuadron udara, saya melakukan pengecekan akhir pada laporan informasi intelijen di ruang operasi sebelum melakukan pemanasan pada pesawat tempur saya yang bermesin tunggal, dengann tiga tempat duduk tipe-97, pesawat tempur yang digunakan untuk pemboman mendatar dan meluncurkan terpedo.” “Matahari terbit di timur dengan megah di atas awan putih ketika saya memimpin 360 pesawat tempur menuju Hawaii pada ketinggian 3.000 meter. Saya tahu persis tujuan saat itu, yakni untuk mengejutkan dan melumpuhkan kekuatan angkatan laut Amerika di Pasifik. Tapi saya cemas memikirkan beberapa kapal perang Amerika tidak berada di sana. Tapi saya tidak boleh berlarut-larut memikirkan tentang hal itu. Saya hanya khawatir tentang keberhasilan militer yang akan saya buat.” Pada jam 07:20, Fuchida, memimpin perjalanan di sisi timur pulau itu, kemudian membelok ke barat dan terbang di sepanjang pantai selatan melewati kota Honolulu. Dia memerintahkan “Tenkai!” (“Ambil posisi menyerang!”), dan kemudian pada jam 07:40 waktu Hawaii, setelah melihat tidak ada aktivitas AS di Pearl Harbor, Fuchida menutup kaca kanopi pesawat Nakajima-nya, bomber terpedo B5N2 Tipe 97 Model 3 “Kate”, dan menembakkan peluru suar hijau memberikan sinyal untuk menyerang.

Mitsuo Fuchida bersiap naik pesawat di dek Kapal Induk Akagi.

Pada jam 07:49, Fuchida menginstruksikan operator radionya, Norinobu Mizuki, untuk mengirim sinyal kode “To, To, To” (“Totsugeki seyo!” – “Serang!”) ke semua pesawat. Pilot Fuchida, Letnan Mitsuo Matsuzaki, memandu bomber dalam menyapu daerah sekitar Barber Point, Oahu. “Begitu kami mendekati Kepulauan Hawaii di hari Minggu pagi yang cerah, saya melakukan pemeriksaan awal dari pelabuhan, dekat Hickam Field dan instalasi lain sekitar Honolulu. Melihat seluruh Armada Pasifik Amerika melabuhkan jangkar dengan damai di bawah kami, saya tersenyum saat meraih mikrofon dan memerintahkan, ‘Semua skuadron, terjun ke menyerang!’ Waktu itu adalah jam 07:49 pagi.” Pada jam 07:53, Fuchida memerintahkan Mizuki untuk mengirim kata-kata kode “Tora Tora! Tora!” ke kapal induk Akagi, kapal komando dari Armada Udara ke-1. Pesan yang berarti bahwa kejutan lengkap telah tercapai. Karena kondisi atmosfer yang menguntungkan, transmisi kata kode “Tora Tora! Tora!” terdengar di seluruh radio kapal perang Jepang, di mana komandannya, Laksamana Isoroku Yamamoto dan seluruh stafnya, duduk sepanjang malam menunggu kata-kata serangan itu. Setelah gelombang pertama penyerang kembali ke kapal-kapal induk, Fuchida tetap berada di atas Pearl Harbour untuk memeriksa kehancuran yang dicapai dan mengamati serangan gelombang kedua. Dia kembali ke kapal induknya setelah serangan gelombang kedua menyelesaikan misinya. Dengan bangga, dia mengumumkan bahwa armada kapal perang AS telah dihancurkan. Fuchida memeriksa pesawatnya dan mendapati badan pesawatnya penuh dengan 21 lubang besar akibat tembakan peluru anti serangan udara, di mana hanya kabel-kabel kontrol utama yang masih mengikat membuat pesawat tempurnya tetap utuh.

Pesawat Zero meraung diatas Pearl Harbor.
Kapal-kapal tempur Amerika tenggelam di Pearl Harbor.

Kesuksesan serangan Pearl Harbour itu membuat Fuchida menjadi pahlawan nasional di mana Kaisar Hirohito sendiri memberikan medali penghargaan. “Seperti badai dahsyat, pesawat-pesawat skuadron saya, pesawat terpedo, pengebom tukik dan pesawat penyerang, menggempur secara tiba-tiba dengan keganasan yang tak terlukiskan. Ketika asap mulai mengepul dan kapal-kapal perang yang hebat, satu per satu mulai miring, hati saya menyala-nyala dengan sukacita. Selama tiga jam berikutnya, saya langsung memerintahkan lima puluh pembom yang ada untuk tidak hanya menyerang Pearl Harbor, tetapi juga lapangan udara, barak militer dan dermaga kering di dekatnya. Lalu saya berputar-putar di ketinggian yang lebih tinggi untuk menilai secara akurat kehancuran yang dicapai dan melaporkannya kepada atasan saya.” “Delapan kapal tempur yang ada di pelabuhan, lima rusak parah. Kapal Arizona rusak sama sekali; kapal Oklahoma, California dan West Virginia tenggelam. Kapal Nevada dalam kondisi tenggelam; hanya kapal Pennsylvania, Maryland dan Tennessee bisa diperbaiki. Dari delapan kapal tempur, California, West Virginia dan Nevada bisa diperbaiki setelah waktu yang lama, namun kapal Oklahoma, setelah diangkat kemudian ditenggelamkan lagi sebagai monumen. Kapal-kapal kecil lainnya rusak, tetapi yang lebih menyakitkan 3.077 personel Angkatan Laut AS terbunuh atau hilang, 876 luka-luka, 226 tentara darat tewas dan 396 terluka, adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.” “Itu adalah peristiwa yang paling menggetarkan dalam karir saya. Dari sejak saya mendengar cerita mengenai kemenangan Jepang melawan Rusia tahun 1905, saya bermimpi menjadi seorang laksamana seperti Laksamana Togo, pemimpin armada Jepang dalam perang laut tersebut.” Di geladak Akagi dan kapal perang lainnya, sukacita pecah tiada terkira. Dalam satuan serbu yang sedang mengamuk di atas kapal-kapal perang Amerika itu, hanya kegarangan yang mewarnai angkasa. Angkatan Laut Amerika hancur lebur di Pearl Harbor, dengan kapal-kapal tempurnya tenggelam ke dasar laut.

DOOLITTLE RAID

Beberapa minggu sebelum serangan ke Pearl Harbor tersebut, Jacob DeShazer berangkat ke Columbia, Carolina Selatan, untuk mengikuti latihan lanjutan. Hari minggu itu ia dalam posisi tidak bagus; ia mendapat hukuman mengupas kentang di dapur. Dan ketika sebuah berita singkat terdengar di radio, DeShazer bagai disengat tawon. Ia membanting sebiji kentang yang belum selesai dikupas kedalam periuk. “Hai, Jepang!”, katanya berteriak,”Tunggulah pembalasan kami!” Berita radio itu menyebutkan tentang penyerbuan atas Pearl Harbor. Toh sampai beberapa minggu kemudian tidak ada yang bisa dilakukan. Paling-paling DeShazer dan rekan2nya hanya menyimak dan menyimak berita perang melalui koran dan buletin dengan dahi makin berkerut. Anak muda ini makin berang dan senewen saat tahu Wake dan Guam pun ikut jatuh ke tangan Jepang. Suasana barak yang tidak berubah makin membuatnya penasaran. Ia ingin berbuat sesuatu-kemanapun dia mau, bukan sekedar bengong. Dan demikianlah pada suatu pagi, awal Februari 1942, seorang menyampaikan:”Anda diperintahkan menghadap komandan.” “Bah”, pikir DeShazer. Paling-paling kebagian omelan, atau perpanjangan masa hukuman di dapur, ia berangkat dengan ogah-ogahan.

Kapal Induk USS Hornet penuh oleh bomber Medium B-25 Mitchell.

Tapi di kantor yang rapi itu sudah ada sekitar 15 atau 20 rekannya. Saat itu Kapten tampak santai, tidak terlalu formal. Ia nampak bermanis-manis sebelum kemudian mengatakan:”Saya memerlukan beberapa sukarelawan untuk sebuah misi berbahaya.” Semuanya terdiam sampai seorang prajurit bertanya “well, misi macam apa itu?” Dan sang Kapten tidak bisa menceritakan apa-apa kepada mereka. Ia hanya mengulangi:”Tugas ini penuh resiko dan berbahaya. Dan saya membutuhkan tenaga sukarelawan”. Untuk DeShazer, justru tugas macam ini yang ia nanti-nantikan. Ia sudah jenuh dengan kegiatan rutin yang sontoloyo. Ia maju kedepan dan mengacungkan tangan. Dan yang lain segera mengikuti. Mereka kemudian disuruh kembali ke tempat masing-masing. Semuanya merasa bangga, karena mengemban tugas yang sangat rahasia, meski mereka belum tahu benar apa itu. Tapi dalam beberapa hari mereka sudah berada di Eglin Field, Florida, dan latihan pun segera dimulai. Di sana ada lapangan terbang yang sama lebarnya dan sama panjangnya dengan jalan utama di kota kecil Madras. Bedanya, di lapangan ini ada sebuah sudut kecil yang ditandai dengan kapur. Para penerbang diharuskan melakukan beberapa olah gerak pesawat di sudut yang kecil itu, pekerjaan yang sungguh berbahaya, dan penuh tantangan. Namun DeShazer tidak khawatir. Ia dan awaknya disatukan oleh keterampilan dan kepercayaan diri yang besar.

James Doolittle bersiap memimpin Raid di tanah Jepang.
B-25 susah payah lepas landas dari USS Hornet.

Teknik lepas landas yang unik itu akhirnya berhasil dikuasai. Lalu datanglah perintah yang membingungkan. Mereka harus berangkat ke pantai barat, San Francisco. Pesawat-pesawat Bomber medium B-25 Mitchell dinaikkan ke kapal induk USS Hornet. Kemudian mereka semua dikumpulkan. Lalu tanpa basa-basi, mereka diberi tahu:”kita akan mengebom Tokyo, Yokohama, Kobe, Osaka, Nagoya….” Sebagai sebuah aksi militer, langkah itu bisa dinilai “manusiawi”. Enam belas bomber bermesin ganda akan “mengamuk” secara “hati-hati”, khusus memilih sasaran militer dan Industri. Sasaran sesungguhnya adalah moral dan psikologi rakyat kedua negara, Amerika dan Jepang. Amerika memerlukan headline yang semarak, tidak sekedar berita kekalahan dari hari ke hari. Dan orang Jepang itu patut diberi pelajaran. Selama ini mereka yakin garis pantai mereka tidak bisa ditembus musuh. Dan ternyata pertempuran kali ini jauh lebih dahsyat dari yang pernah dibayangkan DeShazer. Ada rasa cemas menyelinap dalam kalbunya. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia teringat pelajaran agama di sekolah dulu. “Saya mulai berpikir, hanya beberapa hari lagi saya boleh hidup di dunia ini”, katanya dalam sebuah tulisan.”Saya khawatir: kemana saya akan pergi setelah mati?”. Kekhawatiran memang beralasan. Operasi itu direncanakan sampai pada menit dan tetes bahan bakar terakhir. Bagaimana memasuki daerah musuh, menyerang sasaran, kemudian memilih jalan terpendek ke Laut Jepang, dan kabur ke daerah China yg aman untuk para prajurit Amerika.

B-25 armada Doolittle membom sasaran di daratan Jepang.

Saat operasi dimulai, kawanan pengebom itu bagai kipas terkembang terbang berpencar menuju pelbagai sasaran meninggalkan geladak USS Hornet. Hanya pesawat DeShazer yang terbang menuju Nagoya, kota pusat Industri yang riuh, dengan penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa. Kesan pertama DeShazer mengenai Jepang datang dari lukisan2 kuno negeri itu:”gunung2 yang hijau, ditudungi awan dan dicadari kabut tipis”. Dan kini ia menikmati tamasya dari ketinggian. Dibawah terbentang pemandangan yang sejuk, halaman dengan pagar tanaman yang tampak, hutan tipis dan lebat. Tiba-tiba nampak Nagoya. Kota itu kelihatan coklat kelabu. DeShazer memeriksa sasarannya yang pertama, perusahaan gas Toho. Pabrik ini penuh tangki yang mungkin berisi Propane, gas C3H8 yang gampang terbakar. Sebagai bombardier DeShazer menjatuhkan sebiji bom. Dan rasanya itu lebih dari cukup. Api marak dan asap mengepul. Pesawat DeShazer menyingkir dari pemandangan berantakan itu. Ia kemudian bergerak menuju sasaran berikutnya. Kelak ternyata mereka keliru menyangka sasaran itu sebagai kompleks pabrik. DeShazer kembali menjatuhkan bom. Dari bawah terdengar sayup rentetan tembakan meriam penangkis udara, tapi tidak berbahaya. Dan DeShazer mulai merasakan semacam kebuasan merasuk dirinya. Ia mulai menggila. Ia meraih senapan mesin dan menyapu penumpang sebuah kereta api yang dipergokinya. Ia bahkan menyikat seorang lelaki yang sedang berperahu. Mengapa?”kemarahan saya bangkit ketika mengingat berita yang pernah saya baca di koran,” katanya “saya dengar para penerbang Nazi Jerman menembaki penduduk sipil Prancis.” Tapi jalan menuju China ternyata makan waktu berjam-jam. Sampai mata merah mencari, tidak tampak lapangan terbang bersahabat yang mungkin mereka darati. Lalu terjadilah apa yang selama ini sangat dicemaskan: angka penunjuk bahan bakar pesawat mendekati garis nol. Nah Dari pesawat interkom terdengar perintah:”kita harus terjun.” Dan itulah yang mereka lakukan, mereka meloncat di kegelapan, dan payung mulai terbuka. Dan sialnya, mereka mendarat di daerah China yang dikuasai Jepang!

MIDWAY

Sementara itu kembali ke kisah Fuchida, ia senantiasa terkenang audiensinya dengan Kaisar Hirohito, dan pertemuannya kembali dengan ayahnya yang gembira bukan kepalang. Ketika satuan tempurnya bergerak kembali, mereka mencatat sejumlah kemenangan gemilang. Mereka menenggelamkan kapal induk Hermes di sekitar Sri Lanka. Pekerjaan itu sama mudahnya dengan merebut Singapura, Hongkong, dan Indonesia. Kemenangan itu hanya dinodai dengan satu hal: serangan udara Amerika ke daratan Jepang. Presiden Roosevelt mengatakan ketika itu, bahwa para penerbangnya berangkat dari suatu tempat bernama Shangrila. Keterangan itu sempat membuat Fuchida membongkar peta setengah mati. Dimana Shangrila? Belakangan ia tahu, Shangrila hanyalah nama kerajaan mistik dalam novel James Hilton, “Lost Horizon”! Sementara itu di suatu tempat di China, para pemeriksa sia-sia memaksa DeShazer bicara. Tidak sebutir pengakuan keluar dari mulut prajurit bengal alias tangguh ini. Hakim lalu mengatakan, besok pagi ia bakal dipancung. Ia dilemparkan kembali kedalam selnya, yang pengap. Tangan terbelenggu, mata ditutup. Sepanjang malam ia mengginggil oleh udara dingin yang nyaris tak tertanggungkan.

Para crew Doolittle Raid yang tertangkap Jepang.
SBD Dauntless mengamuk di Midway.
4 kapal induk Jepang ditenggelamkan AL Amerika di Midway.

Ketika secercah kehangatan terasa meraba tubuhnya, tahulah ia bahwa fajar mulai merekah. Ia merasa tubuhnya dipaksa berdiri, kemudian disorongkan keluar sel. Ada terlintas dalam pikirannya niatan untuk berdoa. Kain penutup matanya tiba-tiba ditanggalkan. Pemeriksa kemarin tidak kelihatan. Tetapi ada beberapa orang, satu diantaranya menyandang kamera. Semuanya tampak mengumbar senyum. Kemudian ia, pilotnya, dan awak lain yang turut tertangkap, dinaikkan ke pesawat udara dan diterbangkan ke Jepang. Mereka berpikir, disana pasti sudah menunggu mahkamah militer bohong-bohongan – sekedar jalan untuk menghukum mati mereka sebagai penjahat perang. Sementara itu bagi Fuchida, serangan udara dari pihaknya di Pearl Harbor dinilai lebih bersifat lihai ketimbang jahat. Ia ingin Fiji dan Samoa direbut, untuk memutuskan mata rantai yang tipis antara Amerika dan Australia. Tetapi Laksamana isoroku Yamamoto, staff markas besar AL Jepang, memilih Midway. Beliau percaya tindakan ini merupakan tekanan terhadap Hawaii, dan mencegah Amerika melancarkan serangan udara baru. Itulah pertempuran Fuchida yang terakhir. Diangkat sebagai komandan satuan serbu udara yang bertugas menamatkan armada Amerika, dan menghancurkan pertahanan Midway, ia dengan penuh rasa tanggung jawab naik kapal induk Akagi. Tetapi sayang enam hari sebelum melancarkan serangan ia ambruk diserang penyakit usus buntu. Tepat pada saat pertempuran terdengar teriakan2 panik:”kyukoka!” Musuh ternyata lebih dulu mengirimkan pesawat-pesawat mautnya menghantam Akagi.

Pertengahan tahun 1944 Saipan dan Tinian Jatuh.
Berita ganasnya pertempuran di Saipan-Tinian.

Akagi berantakan oleh ledakan yang tidak kepalang tanggung. Fuchida terlempar ke laut; kedua tumitnya remuk. Ia kemudian dipungut oleh sebuah kapal perusak Jepang. Banyak penerbangnya yang tertembak jatuh. Ada juga yang pulang kembali untuk menemukan puing dan asap, yang menandai tempat Akagi terbakar. Mereka tidak bisa berbuat lain kecuali menyingkir ke tempat yang agak jauh dari api, kemudian mencemplungkan pesawat-pesawat yang kehabisan bahan bakar itu ke laut, lalu menunggu jemputan. Tiga kapal induk lain turut tenggelam. Dalam beberapa menit yang mengerikan, perimbangan kekuatan dalam perang Pasifik mengalami perubahan drastis. Para dokter mengatakan kepada Fuchida: ia tidak boleh terbang lagi. Tiba-tiba ia merasa tua. Ia mulai menjadi pemarah, muak akan tugas staf yang kini harus diterimanya. Ia kemudian dipindahkan ke Tinian di kepulauan Mariana. Tetapi tak lama kemudian ia diperintahkan pulang ke Tokyo. Tempatnya digantikan seorang bekas temannya di akademi dulu. Dan peristiwa itu seperti tangan gaib yang sengaja bertindak untuk menyelamatkan jiwanya: dua minggu lagi Tinian akan menjadi neraka saat Amerika menyerang. Pada saat-saat terakhir, bertahan sampai mati di pulau tersebut, seluruh prajurit staff, termasuk sahabat Tinian itu, dengan bersama-sama melakukan harakiri. Fuchida mulai berpikir:”apa makna ‘penyelamatan’ ini, sebenarnya?”

RASA PAHIT AKIBAT PERANG

Kira-kira dimasa yang sama, DeShazer sedang terus menerus menimbun dendam. Hatinya sangat sakit ketika Jepang-jepang itu memaksanya berlutut. Tulang keringnya ditekan dengan papan yang kasar dan tajam. Setiap ia menggeliat, kepalanya dihajar dengan sebatang bambu. Ketika dendam sudah sampai puncaknya, ia mencoba berharap. Tetapi harapan nyaris mustahil di penjara militer Jepang, dengan suasana yang menekan itu. DeShazer mencoba berharap untuk terakhir kalinya dengan iman yang masih tersisa. Tiba-tiba ia terpukau: apa sesungguhnya makna iman, hidup, harapan? DeShazer mendengar, pilotnya bersama dua awak lainnya sudah dikembalikan ke China dan mengalami nasib buruk: ditambatkan pada sebatang salib, di sebuah pemakaman di Shanghai, kemudian diberondong habis. DeShazer sendiri dan rekan2 lainnya yang tersisa “hanya” dijatuhi hukuman seumur hidup. Malah setelah seorang terhukum kedapatan mati karena kurang makanan, sikap para penguasa Jepang berubah lunak. Suatu hari seorang pengawal datang menawarkan buku ke seantero sel. Mereka boleh membaca. Buku-buku itu ternyata adalah Alkitab/bible dan beberapa karya teologi-mungkin hasil jarahan di suatu perpustakaan misionaris. Jepang2 itu sendiri tidak baca Bible.

Mr. Hite, blindfolded, is led from a Japanese transport plane after he and the other captured aviators were flown from Shanghai to Tokyo.
Enola Gay membawa petaka di Hiroshima.
Bom Atom di Hiroshima.
Hiroshima rata dengan tanah. Sehari setelahnya Mitsuo Fuchida ditugaskan untuk meneliti kerusakan di kota itu. Dia beruntung tidak terpapar efek radiasi.

Pada bulan Juli 1945 Okinawa jatuh. Dan Fuchida merasa tidak lama lagi keadaan akan berubah. Jepang tengah-tengah bersiap melakukan pertempuran terakhir. Kali ini di kandang sendiri. Pada 6 Agustus Fuchida diberi tahu bahwa Hiroshima telah diratakan dengan tanah oleh “ledakan ajaib bertenaga dahsyat”. Hari berikutnya Fuchida dan sebuah tim ditugaskan untuk memeriksa kerusakan di Hiroshima. Belakangan diketahui bahwa semua anggota tim, kecuali Fuchida terkena paparan racun radiasi atom dan meninggal karenanya. Setelah perang usai, Fuchida kembali ke kampung halamannya dan mencoba bertani. Ia sering nampak di jalanan: sebagai seorang opsir yang sakit hati, dan kehilangan kepercayaan. Seorang yang dipatahkan oleh kekalahan. “Inilah hari-hari mendung dalam hidup saya,” katanya. “Semuanya kehilangan makna dan warna, kecuali bahwa saya masih bernafas. Berkali-kali saya selamat dari maut, tetapi untuk apa?” Selama beberapa waktu, sebagai bekas opsir AL Kerajaan yang terlibat dalam perang Pasifik, Fuchida dituntut sebagai penjahat perang. Ia memang kemudian berhasil melalui rangkaian pengusutan dengan selamat, tetapi tetap harus muncul di persidangan berkali-kali sebagai saksi. Fuchida merasa bahwa persidangan itu cuma sekedar persidangan pemenang perang.

PENYEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN

Pada musim semi tahun 1947, dengan keyakinan bahwa Amerika telah memperlakukan tawanan Jepang dengan cara yang sama, Fuchida bertekad untuk membawa bukti untuk sidang berikutnya, dan pergi ke Pelabuhan Uraga dekat Yokosuka untuk bertemu dengan kelompok tawanan perang Jepang yang baru saja pulang. Dia terkejut ketika bertemu dengan perwira teknik pesawatnya, Kazuo Kanegasaki, yang diyakininya telah meninggal di Pertempuran Midway. Ketika ditanya, Kanegasaki bercerita kepada Fuchida bahwa mereka tidak disiksa atau dilecehkan. Kenyataan itu sangat mengejutkan Fuchida. Kanegasaki kemudian melanjutkan kisahnya mengenai seorang wanita muda yang bernama Peggy Covell, yang melayani mereka selama dalam tawanan perang dengan penuh kasih dan rasa hormat, sekalipun kedua orangtuanya, misionaris, telah dibunuh oleh tentara Jepang di pulau Panay di Filipina. Cerita Kanegasaki tidak bisa diterima dengan akalnya, karena dalam semangat Bushido, balas dendam bukan hanya diizinkan tetapi juga menjadi sebuah “tanggung jawab” utama bagi pihak pemenang untuk dilakukan guna memulihkan kehormatan. Pembunuh orang tua akan menjadi musuh bebuyutan seumur hidup. Ia kemudian terobsesi untuk mencoba memahami mengapa ada orang yang memperlakukan musuh mereka dengan kasih dan pengampunan.

DeShazer bertemu dengan Fuchida.
Fuchida dan DeShazer berkawan hingga akhir hayat.

Pada musim gugur tahun 1948, Fuchida sedang berjalan melewati patung perunggu Hachiko (anjing setia, yang menjadi teladan di Jepang) di Stasiun Shibuya, ketika menerima satu pamflet tentang kehidupan Jacob DeShazer, anggota dari Penyerangan Doolittle atas Tokyo yang ditangkap oleh Jepang setelah pesawat pembom B-25 nya kehabisan bahan bakar di Cina yang diduduki Jepang. Dalam pamfletnya yang berjudul “Aku Adalah Tawanan Perang Jepang,” DeShazer seorang mantan sersan Staf Angkatan Udara Amerika dan awak pesawat pembom, menceritakan kisahnya di penjara. Dalam pamflet itu yang berbahasa jepang, Fuchida melihat pamflet pengarangnya yang ada di kulit depan. Dan membaca namanya: Jacob DeShazer. Tak disangka orang inilah yang turut membuat Fuchida dulu membongkar peta untuk mencari Shangrila!” DeShazer dalam pamflet itu, mengalami siksaan berat, dijatuhi hukuman mati, dan diterungku dalam keadaan sangat buruk. Terbenam dalam bacaan Bible di penjara, ia berjanji pada diri sendiri untuk memaafkan musuh-musuhnya. Dan setelah perang, ia kembali ke Jepang sebagai misionaris. Fuchida mula-mula hanya sekedar kagum. Kemudian seperti diingatkan. DeShazer ini telah mengalami peristiwa yang sangat dahsyat dan berbagai penderitaan, toh ia berbicara dengan kasih. Fuchida membaca pamflet itu lebih khusuk.

Mitsuo Fuchida sebagai Pendeta di akhir hayatnya.
Jalan hidup memang aneh….mereka disatukan karena kasih dan pengampunan.
Kisah luar biasa DeShazer dari dendam menjadi memaafkan.

Apa yang menjadi pegangan DeShazer lewat pengalamannya di penjara adalah sebagai berikut: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:17-21) “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:8) “Maka demikianlah yang terjadi” kata Hal Drake menutup tulisannya. DeShazer akhirnya menjadi pendeta, di sebuah gereja sederhana di kota kecil, sekitar 20 mil di barat laut Tokyo. Tidak kurang dari 26 tahun ia mengabdi disana. Kemudian pulang ke kampung halamannya di pedalaman Oregon. Fuchida sendiri lalu ditahbiskan menjadi pendeta Presbyterian, dan mengabdikan sisa hidupnya bagi karya penginjilan. Ia meninggal pada tahun 1976. Betulkah, kata orang, jalan hidup kita sudah ditetapkan dari sononya?…atau semua tergantung respon kita atas hal suka duka yang kita alami? Jalan hidup terkadang memang aneh…

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Jalan Hidup Terkadang Memang Aneh; Selingan Majalah Tempo, 5 Maret 1983

MITSUO FUCHIDA : DARI PEARL HARBOUR KE KALVARI

https://www.pesta.org/mitsuo_fuchida_dari_pearl_harbour_ke_kalvari?fbclid=IwAR0KqlrZlv1WOljH1opDORWzxprrzBlXxr-8elo5LgHb9WhZbSeSPyZDUSw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *