Jet Tempur HF-24 Marut: “Sebuah Pelajaran dan Jalan Berliku India dalam Menuju Kemandirian”

Perang udara tahun 1971 antara India dan Pakistan menarik perhatian para pengamat asing sebagai tempat uji coba untuk beragam pesawat buatan Blok Timur dan Barat seperti Mikoyan-Gurevich MiG-21, Sukhoi Su-7, Lockheed F-104, Mirage III, Folland Gnat dan Hawker Hunter. Misalnya, dalam konflik dua minggu menandai satu-satunya kesempatan di mana dua pesawat tempur Mach 2 yang sangat dibanggakan, MiG-21 Fishbed dan F-104 Starfighter, terlibat dalam pertempuran satu lawan satu (dan Dalam pertempuran ini MiG lah yang menang). Perang tahun 1971 juga mencatat sejarah penerbangan lain yang sangat penting di kawasan: yakni debut tempur jet tempur buatan lokal pertama di anak benua India (dan juga di Asia), dalam wujud pesawat tempur buatan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) HF-24 Marut (Storm Spirit). Marut sebelumnya telah dikritik di India karena pengembangannya yang berlarut-larut, dan telah diejek oleh para pengamat asing karena sudah termasuk ketinggalan zaman sebelum memasuki dinas operasional. Tidak diragukan lagi, ada beberapa validitas yang mendasari kedua tuduhan tersebut. Namun demikian, pesawat tempur India ini ternyata memiliki reputasi yang baik dalam melakukan serangan darat dan dalam pertempuran udara-ke-udara. Bahkan Angkatan Udara Pakistan (PAF), yang punya kebiasaan memiliki laporan tempur yang berbeda secara radikal dari catatan Angkatan Udara India (IAF), menyatakan bahwa tidak ada Marut yang ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat Pakistan dalam pertempuran udara. 

Pesawat tempur HAL HF-24 Marut akan tercatat dalam sejarah sebagai pesawat tempur yang pertama didesain dan dibuat di India (juga di Asia). (Sumber: http://www.indiandefensenews.in/)

LATAR BELAKANG DAN KONTROVERSI DESAIN

India, pada tahun 1955, masih merupakan negara muda (baru merdeka tahun 1947) yang penuh semangat dalam membangun perekonomiannya. Banyak proyek dicoba untuk pertama kalinya di bawah tujuan nasional untuk menciptakan kemampuan manufaktur dan desain yang mandiri. Salah satu upaya tersebut adalah merancang dan membangun di India, untuk pertama kalinya, jet tempur buatan dalam negeri. Persyaratan spesifikasi untuk jet tempur yang diberi nama Marut ini dikembangkan sejak tahun 1956, saat HAL mengambil tiga proyek besar baru atas nama IAF. Salah satunya adalah memproduksi secara lisensi jet tempur ringan British Folland Gnat, yang jalur perakitan barunya akan didirikan di Bangalore. Proyek kedua adalah untuk membuat pesawat latih dasar baru, yang pada akhirnya akan memasuki lini produksi sebagai HJT-16 Kiran (Ray of Light). Proyek ketiga dan paling ambisius adalah untuk mengembangkan pesawat tempur multiperan berkecepatan Mach 2, yang pada akhirnya akan muncul sebagai HF-24. Persyaratan untuk pesawat tempur berkecepatan Mach 2 sangatlah spesifik. Staf Angkatan Udara India menginginkan pesawat tempur multiperan yang mampu beroperasi baik sebagai pesawat pencegat di ketinggian maupun sebagai pesawat serang darat di ketinggian rendah. Pesawat itu harus memiliki kecepatan Mach 2, dapat terbang hingga ketinggian 60.000 kaki (18,290 m) dan memiliki radius tempur 500 mil (805 km). Pesawat itu diharapkan dapat beradaptasi untuk beroperasi sebagai pesawat pencegat segala cuaca, sebagai pesawat latih tingkat lanjut dan sebagai pesawat tempur angkatan laut untuk digunakan di atas kapal induk Vikrant. Pemerintah India juga menginginkan pesawat itu untuk bisa dibuat di India, jika memungkinkan.

Folland Gnat, pesawat tempur ringan lisensi dari Inggris yang diproduksi secara lokal oleh India. (Sumber: http://copy-cats.work/)
Pesawat latih dasar HJT-16 Kiran, produksi lain dari HAL. (Sumber: https://www.aame.in/)

Pengembangan pesawat terbang dengan spesifikasi semacam itu tentunya menghadirkan tantangan yang cukup besar bahkan di negara industri maju mana pun pada pertengahan tahun 1950-an, tetapi di negara Dunia Ketiga seperti India, hal itu tampaknya hampir di luar jangkauan. HAL, yang didirikan oleh Walchand Hirachand pada tahun 1940 dan kemudian dinasionalisasi oleh Pemerintah sejak tahun 1941 merupakan satu-satunya perusahaan penerbangan di India saat itu. HAL awalnya didirikan untuk melakukan perakitan pesawat buatan asing yang ditujukan untuk kekuatan udara India dan China nasionalis, dan untuk memperbaiki dan merombak pesawat untuk kekuatan Udara AS selama Perang Dunia II. Pada tahun 1941, pemerintah India memperoleh hak kontrol di perusahaan dengan membeli tiga perempat sahamnya. Meskipun India telah membangun beberapa pesawat ringan dengan desainnya sendiri sejak Perang Dunia II, pada pertengahan 1950-an, satu-satunya pengalaman mereka membuat pesawat tempur modern bermesin jet adalah saat memproduksi pesawat tempur de Havilland Vampire secara lisensi. Oleh karenanya pengembangan jet tempur berkecepatan Mach 2 adalah sebuah lompatan besar bagi HAL yang dari awalnya baru membangun jet tempur generasi pertama dari era pertengahan 1940-an, berdasarkan desain pihak lain. Pengembangan pesawat semacam itu diakui, pada tingkat tertentu, merupakan masalah prestise. Proyek ini jelas sangat ambisius karena setidaknya pada saat itu India baru saja mulai merakit lokomotif diesel, belum pernah membangun kapal besar, baru saja memulai perakitan mobil, dan hanya memiliki kapasitas peleburan aluminium kecil, dll. Ini adalah visi dari PM Pandit Jawaharlal Nehru dan IAF (Angkatan Udara India) yang dengan antusias ikut serta. Pada saat konsepsi Marut, satu-satunya pengalaman desain industri penerbangan domestik adalah merancang dan membuat HT-2, pesawat latih yang digerakkan baling-baling bermesin piston. Sementara kemampuan manufaktur pesawat berdasar pada pengalaman perakitan secara lisensi Vampire Fighter Bomber FBMk.52 dan Trainer TMk.55. Namun, produksi pesawat tempur Mach 2 akan meningkatkan status India dan HAL di mata dunia. Namun kebutuhan militer jelas sama pentingnya. India dan Pakistan telah berselisih sejak tahun 1947, ketika kedua negara merdeka itu didirikan. Militer India juga harus bersiap untuk bersaing di perbatasan utara dan timur dengan Cina, dimana konflik bersenjata akhirnya pecah pada tahun 1962. 

Produksi de Havilland Vampire secara lisensi, merupakan pengalaman pertama India dalam membuat jet tempur modern. (Sumber: https://www.bharat-rakshak.com/)

Pembuatan Marut adalah proyek pertama dari jenisnya yang dibuat di luar empat kekuatan utama industri aviasi dunia (AS, Uni Soviet, Inggris dan Prancis) untuk membangun sebuah jet tempur supersonik. Apresiasi layak diberikan atas keberanian dari bangsa India, namun sayangnya politik, birokrasi, dan hierarki militer di India waktu itu tidak memiliki pemahaman yang tepat terhadap faktor infrastruktur rantai pasokan dan tantangan kontrol kualitas yang perlu diatasi dalam mewujudkan proyek ini. Disamping itu desain Marut terlalu ambisius di masanya kalau tidak mau dibilang terlalu naif untuk bisa diwujudkan. Dengan melihat persyaratan awalnya, jika Marut diumpamakan seperti desain mobil, IAF seperti mengatakan ingin memiliki mobil yang dapat dikendarai seperti layaknya BMW 3 (syarat kecepatan Mach 2.0), cocok untuk digunakan di ketinggian dan ketinggian rendah (bisa dikemudikan dengan baik di trek balap, sekaligus juga di jalanan Delhi yang rusak), dapat membawa muatan seperti Isuzu D- Max pick-up (membawa muatan untuk misi serangan darat di ketinggian rendah) dan memiliki ketangguhan melintasi lumpur lintas negara dengan penggerak 4 roda (mampu untuk digunakan di segala cuaca & bisa dinavalisasi untuk penggunaan Angkatan Laut). Sementara itu radius tempurnya ~ 800 km berada di luar jangkauan mesin turbojet tempur paling efisien (bahkan di AS) pada tahun 1950-an. Jarak segitu tidak juga bisa tercapai sampai mesin turbofan militer seperti Rolls Royce Spey (digunakan pada Hawker Buccaneer, tahun 1960-an) atau Rolls Royce Adour (digunakan Sepecat Jaguar, 1970-an) hadir di pasaran. Pada waktu itu kemampuan avionik segala cuaca juga masih dalam tahap percobaan yang belum sempurna bahkan di Amerika Serikat dan Uni Soviet pada tahun 1956 dan ironisnya pesawat IAF pada tahun 1956 belum ada membawa radar pengukur jarak, apalagi radar pencari & pelacak. 

McDonnell Douglas F4 Phantom, satu-satunya pesawat buatan tahun 1950-60an yang memiliki spesifikasi multifungsi yang mendekati impian desain HF-24 Marut India. Sayangnya persyaratan Marut terlalu tinggi untuk dipenuhi industri dirgantara India pada masanya. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Ini adalah spesifikasi yang terlalu ambisius untuk tahun 1955 bahkan untuk Inggris, Prancis, atau Uni Soviet. Sebagai tambahan, mungkin perlu dicatat bahwa persyaratan untuk Light Combat Aircraft (LCA) saat ini, Tejas, yang mulai digodok pada pertengahan tahun 1980-an, (sayangnya) mengikuti konsep yang sama dan tidak heran progresnya masih cukup jauh dari dinas operasional penuh setelah 30 tahun kemudian. Satu-satunya pesawat era tahun 1950-an dan 1960-an yang dirancang dengan spesifikasi serupa dengan Marut dan membawa persyaratan untuk bisa digunakan oleh angkatan laut + punya kemampuan segala cuaca adalah pesawat tempur McDonnell Douglas F4 Phantom yang legendaris dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS (serta Marinir AS). Dan harap diingat, bahwa Amerika dulu dan sekarang adalah yang terdepan dalam penelitian dan pengembangan desain serta pengetahuan produksi di bidang kedirgantaraan. Dan bahkan pada Phantom kemampuan manuvernya terbatas. Dr VM Ghatge, desainer penerbangan paling senior di India adalah satu-satunya suara yang menentang proyek Marut. Dia lebih memilih pendekatan setapak demi setapak yang lebih seimbang untuk membangun industri penerbangan nasional dengan pertama-tama merancang & membangun pesawat latih baling-baling, lalu jet latih dasar, kemudian pembom tempur ringan dan kemudian pesawat tempur multi-peran ringan yang lebih canggih dan melakukan semua ini secara bertahap dengan membutuhkan waktu selama kira-kira lebih dari 2 dekade. Ini adalah pendekatannya yang lebih masuk akal, namun saya Ghatge kalah suara.

Kurt Tank desainer pesawat legendaris asal Jerman yang merancang HF-24 Marut. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Focke Wulf Fw-190, pesawat tempur legendaris karya Kurt Tank pada masa Perang Dunia II. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pemerintah India sejak awal bersedia untuk mendukung proyek pesawat tempur Mach 2, sementara staf HAL yang kecil namun antusias juga sama-sama bersemangat untuk melanjutkannya. Namun staf yang ada terlalu sedikit untuk menangani tiga proyek besar baru sekaligus. Yang dibutuhkan perusahaan adalah seorang insinyur penerbangan berpengalaman untuk mengepalai proyek pesawat tempur Mach 2, seseorang yang akrab dengan seluk-beluk pengembangan pesawat tempur canggih. Secara alami, mereka segera mencari orang seperti itu di Eropa. Sebelas tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, industri kedirgantaraan dunia berada di bawah dominasi dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Eropa, yang masih belum pulih dari kerusakan akibat perang, dipenuhi oleh para insinyur pesawat yang menganggur. HAL akhirnya berhasil menggunakan jasa seorang insinyur Jerman bernama Kurt Tank, yang kualifikasinya untuk pekerjaan tersebut dinilai sempurna. Dia sebelumnya telah merancang salah satu pesawat tempur terbaik di era PD II, yakni Focke Wulf Fw-190. Sebelum kedatangannya ke India, Tank sempat bekerja di Argentina bersama timnya untuk merancang pesawat tempur bertenaga jet bersayap swept wing baru untuk militer Argentina. Satu konsep desain nya kemudian diwujudkan menjadi FMA IA-33 “Pulqui” (“Panah”) yang menampilkan bentuk pesawat tempur klasik tahun 1950-an – intake yang dipasang di hidung, kokpit yang dipasang di depan, ekor pesawat model “T-style”, dan sayap utama pesawat yang menyudut belakang. Desain ini mirip dengan pesawat tempur bertenaga jet Focke-Wulf Ta 183 “Huckebein” yang muncul di akhir perang Dunia II. Meskipun penerbangan pertama pesawat Argentina ini dilakukan pada tanggal 27 Juni 1950, hanya lima pesawat yang berhasil diselesaikan dan desainnya tidak menghasilkan apa-apa pada akhirnya. Kegagalan Tank di Argentina, sepertinya akan bisa mendapat penebusan saat ia menerima tawaran dari pemerintah India yang memiliki semangat dan kapasitas Industri lebih menjanjikan dibanding Argentina. Namun, tugas Tank nyatanya jauh dari sekadar mendesain jet tempur. Setibanya di Bangalore pada bulan Agustus 1956, Tank — bersama dengan asisten Jerman bernama Mittelhuber — menemukan bahwa HAL sangat tidak memadai dalam hal personel dan infrastruktur untuk menangani proyek yang begitu rumit. Di antara kekurangan lainnya, perusahaan tersebut kekurangan perangkat mesin yang cocok untuk melakukan pengerjaan prototipe, peralatan uji yang memadai, rig uji statis, dan laboratorium uji terbang. Faktanya, mereka bahkan tidak memiliki landasan pacu yang memadai untuk digunakan oleh prototipe jet tempur. Seluruh departemen desain perusahaan hanya terdiri dari 54 personel India, termasuk tiga insinyur desain senior, dua di antaranya ditugaskan untuk proyek pesawat jet trainer. Tank menemukan bahwa dia tidak hanya harus merancang pesawat jet asli tetapi juga membantu membangun kompleks industri modern yang mampu mengembangkannya. Berkat tim HAL pada masa itu, semua kebutuhan ini akhirnya bisa diciptakan dari nol sementara Kurt Tank membangun tim desain & prototipe yang terdiri lebih dari 850 personel termasuk 18 desainer asal Jerman.

Fw-200 Condor, pesawat maritim jarak jauh era Perang Dunia II, karya lain dari Kurt Tank. (Sumber: http://www.arizonaskiesmeteorites.com/)
FMA IA-33 “Pulqui”, jet tempur karya Kurt Tank yang gagal diproduksi di Argentina. (Sumber: https://www.sas1946.com/)

Tidak seperti para pekerja asal India, Tank tahu persis apa yang harus dilakukan dalam merancang, membangun, menguji, menyempurnakan, dan memproduksi pesawat secara massal sejak dulu di Focke Wulf. Selain pesawat tempur Fw-190, ia juga telah merancang pesawat transport komersial bermesin empat Fw-200 Condor untuk Lufthansa. Condor pertama kali terbang pada tahun 1937. Ketika Perang Dunia II dimulai, desain Condor dimodifikasi menjadi pesawat pembom patroli maritim yang sangat sukses. Tank juga bertanggung jawab atas proyek Ta-154 Moskito, pesawat tempur multiperan berperforma tinggi, bermesin ganda, yang seluruhnya terbuat dari kayu. Produksi Ta-154 dibatalkan ketika pabrik yang memproduksi lem khusus yang diperlukan untuk mengikat badan pesawat kayu dibom, sehingga memutus pasokan produksi. Terlepas dari keterbatasan fasilitas HAL, pekerjaan pembuatan pesawat tempur Mach 2 — yang saat itu dinamai HF-24 dan diberi nama Marut — terus berjalan dengan kecepatan yang relatif singkat. Versi pesawat peluncur kayu skala penuh dari HF-24 memulai uji terbang aerodinamis, dengan ditarik ke udara oleh pesawat angkut Douglas DC-3, pada tanggal 1 April 1959. Perakitan prototipe pertama (HF-001) dimulai pada bulan April 1960, yang kemudian HF-001 diterbangkan untuk yang pertama kalinya pada tanggal 17 Juni 1961, oleh Wing Cmdr. Suranjan Das. Proyek ini dapat dikatakan berjalan dalam waktu yang sangat singkat yaitu dirampungkan dalam waktu 15 bulan sejak dari mulai membuat prototipe hingga penerbangan pertamanya. Lebih dari seminggu kemudian, prototype itu didemonstrasikan dihadapan menteri pertahanan, V.K. Krishna Menon.

Pesawat layang kayu dalam uji terbang ditarik di belakang DC-3 Dakota. Tes glider untuk aerodinamika dimulai pada April 1959. 78 uji terbang dilakukan dengan glider yang dilepaskan antara ketinggian 12.000 dan 15.000 kaki. Penggunaan pesawat terbang layang kayu adalah bagian integral dari pengujian desain gaya Kurt Tank. (Kredit foto: Marutfans.com. Copyright Late Group Captain Kapil Bhargava/https://www.team-bhp.com/)
Tes struktural HF-24 Marut sedang berlangsung. Seluruh struktur diuji untuk beban yang sangat tinggi, setidaknya 50% lebih tinggi daripada yang diizinkan untuk digunakan. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)
(HAL)BR462 ditarik keluar untuk penerbangan pertamanya di hadapan Perdana Menteri Nehru 27 Juni 1961. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Pada tanggal 27 Juni 1961 tim desainer telah cukup percaya diri untuk memamerkan prototipe kepada Perdana Menteri Nehru. Prototipe itu diberi nomor ulang sebagai BR462. Pada bulan November 1961, badan pesawat uji struktural telah selesai dan menjalani uji struktural dan fungsional ekstensif pada rig yang dirancang dan dibuat di Bangalore. Pada tanggal 4 Oktober 1962, prototipe kedua (BR 463) bergabung dengan program pengembangan penerbangan dan dua prototipe diuji secara ekstensif oleh Das dan tim yang terdiri dari tiga pilot uji Angkatan Udara untuk pengujian aerodinamika & stabilitas, protokol mesin, persenjataan, instrumen, prosedur darurat, dll. Itu adalah pencapaian yang luar biasa di jamannya. India menjadi negara ke-6 yang mampu merancang dan menerbangkan pesawat tempur jet supersoniknya sendiri setelah AS, Inggris, Uni Soviet, Prancis, dan Swedia. Namun, performa Marut ternyata tidak memenuhi janji ambisius HAL. Performa yang direncanakan telah didasarkan pada ketersediaan Rolls-Royce Bristol Orpheus BOr-12, mesin turbojet afterburning (biasa digunakan untuk mencapai performa kecepatan diatas kecepatan suara) rancangan Inggris. Marut rencananya akan didukung oleh sepasang mesin tersebut, yang masing-masing memberikan daya dorong 8.170 pon. Namun, pemerintah Inggris membatalkan dukungan keuangannya untuk pengembangan proyek Orpheus BOr-12, dan ketika pemerintah India tidak mau untuk turun tangan dan membayar tagihan, proyek tersebut dihentikan, meskipun anggaran yang dibutuhkan hanyalah £ 13 juta, bukan jumlah yang besar bahkan menurut standar tahun 1961. Akibatnya, Marut harus puas hanya dilengkapi dengan sepasang mesin Orpheus 703 tanpa afterburner, mesin yang saat ini sedang dibangun oleh HAL di bawah lisensi untuk digunakan pesawat tempur ringan Gnat. Meski handal, namun, Orpheus 703 hanya menghasilkan daya dorong 4.850 pon, 44 persen lebih kecil dari mesin yang dirancang digunakan untuk Marut. Akibatnya, Marut kekurangan tenaga dan tidak pernah mampu memenuhi potensi kinerjanya. 

Mesin Rolls Royce Orpheus yang akhirnya dipilih menjadi mesin HF-24 Marut. (Sumber: https://www.team-bhp.com/)
Mesin Tumansky RD9 yang seharusnya cukup ideal untuk digunakan pada HF-24 Marut. Mesin ini kemudian menjadi tenaga pesawat-pesawat tempur Soviet seperti MiG-19, Yak-25, ShenyangJ-6 & Nanchang Q-5 buatan China. (Sumber: https://www.team-bhp.com/)
Mesin E300 asal Mesir yang sempat dipertimbangkan untuk digunakan pada Marut. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sepanjang tahun 1960-an, HAL telah mengarahkan banyak upaya untuk memperoleh mesin yang lebih bertenaga untuk Marut dari berbagai sumber asing. Namun, mesin yang sempat dipertimbangkan dinilai tidak dapat memberikan peningkatan kinerja yang memadai, memerlukan desain ulang struktural badan pesawat yang terlalu besar atau tidak tersedia karena alasan politik atau ekonomi. India diketahui sempat mengevaluasi mesin Tumansky RD-9F buatan Soviet yang digunakan oleh MiG-19 Farmer. Mesin Tumansky memiliki daya dorong penuh 3750 kgf dengan afterburner dan membuatnya cocok untuk Marut. Tetapi karena alasan yang tidak sepenuhnya dipahami mesin Tumansky ditolak dengan alasan MTBO (Waktu Rata-Rata Antara Overhaul) terbatas. Berbicara mesin Tumansky RD9F, mesin sebenarnya adalah mesin yang kokoh, memiliki akselerasi yang hebat, tahan terhadap debu, lumpur dan es dan kemudian menjadi tenaga pesawat-pesawat tempur Soviet seperti MiG-19, Yak-25, ShenyangJ-6 & Nanchang Q-5 buatan China. Sangat populer dalam literatur Barat dikatakan bahwa mesin tua Soviet memiliki MTBO yang lebih rendah. Yang kurang dipahami adalah bahwa mesin Soviet ini hanya membutuhkan sedikit perawatan & pemeliharaan. Setelah menolak mesin asal Soviet, hadir mesin dari sumber yang tidak disangka-sangka, yakni dari Mesir. Selama tahun 1960-an, India berkolaborasi dengan upaya Mesir untuk mengembangkan mesin turbojetnya sendiri, yang disebut E-300. India bahkan menyumbangkan badan pesawat Marut praproduksi ke Mesir untuk uji terbang dengan menggunakan mesin E-300. Mesir sayangnya kemudian membatalkan proyek E-300 pada tahun 1967, setelah Perang Enam Hari. Sementara itu persyaratan IAF untuk pesawat pencegat Mach 2 akhirnya berhasil dipenuhi ketika kesepakatan dicapai dengan Uni Soviet pada bulan Agustus 1962 untuk akuisisi pesawat pencegat MiG-21 Fishbed. Ketersediaan pesawat tempur Soviet yang tangguh itu, yang akhirnya diproduksi juga oleh HAL di bawah lisensi, membuat kurangnya performa Mach 2 dari Marut menjadi titik perdebatan. Pengembangan jet asli India ini sebagai pesawat pencegat tidak lagi dikejar secara serius. Sebagai gantinya, HAL berkonsentrasi pada pengembangan Marut sebagai pesawat penyerang ketinggian rendah, satu kursi dan versi latih lanjut dua kursi. Banyak kerja keras masih harus dilakukan oleh Kurt Tank dan timnya, HAL dan Suranjan Das yang memimpin tim uji coba untuk membantu mematangkan Marut menjadi pesawat yang layak terbang. Terlepas dari keengganan IAF untuk memahami bahwa semua itu dilakukan untuk kepentingan mereka sendiri guna mendukung industri dalam negeri yang masih muda, Pemerintah India dengan bijaksana memesan 18 pesawat pra-produksi dan 62 pesawat operasional untuk mempersenjatai 2 atau 3 skuadron. Namun bagi IAF, masih ada perjalanan panjang agar pesawat yang baru terbang itu bisa benar-benar menjadi pesawat tangguh yang secara konsisten bisa beroperasi dalam kondisi terburuk. Pada tahun 1963, upaya pengembangan Marut tidak memiliki banyak perkembangan karena IAF menolak mengoperasikan secara penuh produk yang belum matang ke dalam skuadron operasional mereka. Faktanya, itu baru akan terjadi pada tahun 1971 pada saat sebagian besar cacat pada desain pesawat berhasil diperbaiki.

DESAIN

Dua pesawat tempur serang Marut praproduksi diserahkan ke IAF untuk uji coba operasional pada tanggal 10 Mei 1964. Setelah tiga tahun pengembangan lagi, unit tempur pertama yang dilengkapi dengan Marut, Skuadron “Dagger/belati” No. 10, didirikan pada tanggal 1 April 1967, sementara Kurt Tank kembali ke Jerman pada saat itu, untuk bekerja dengan konsorsium kedirgantaraan Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB), meskipun ia terus menaruh minat pada desain Marut dan mempertahankan hubungan dekat dengan mantan pemberi kerjanya itu. Marut Mk 1, demikian kode versi produksi disebut, adalah pesawat tempur bermesin ganda dengan satu kursi dengan sayap swept wing dan memiliki ekor. Badan pesawat Marut ramping seperti pensil dan bersih secara aerodinamis dengan dua lubang masuk udara untuk mesin kembarnya. Marut memiliki sayap tipis yang dirancang untuk penerbangan supersonik. Di bawah sayap terdapat 2 pylon senjata di masing-masing sayap. Jarak lebar diantara kedua roda pendarat sengaja dibuat untuk mendukung pendaratan di lapangan udara yang kasar. Kanopinya menggunakan kanopi gelembung yang menyediakan visibilitas yang baik. Pilot duduk tinggi di kanopi yang memberikan pemandangan yang sangat jelas dengan cakupan visibilitas 300 derajat termasuk ke bawah juga. Panjang pesawat adalah  52 kaki dan lebar sayapnya 29 kaki 6 inci. Pesawat tempur itu berat kosongnya 13.658 pon dan memiliki berat lepas landas maksimum 24.048 pon. Pesawat ini memiliki banyak fitur desain yang digunakan pada pesawat akhir tahun 1950-an untuk mengurangi hambatan pada penerbangan supersonik, termasuk badan pesawat yang menggunakan area ruled dan air intake mesin yang dilengkapi dengan shocked cone. Namun demikian, kurangnya tenaga yang tersedia dari mesin pesawat membatasi kecepatan tertingginya pada Mach 1,02 di ketinggian 40.000 kaki. 

Detail Desain HF-24 Marut. (Sumber: https://www.team-bhp.com/)

Sayap Marut sangat licin, tipis, dan besar – ketiga karakteristik utama untuk sayap sebuah pesawat pencegat. Sudut dan ketebalan bersama-sama menentukan kemampuan pesawat untuk terbang menembus kecepatan suara – semakin besar sudut dan semakin tipis sayap, semakin rendah rasio daya dorong dan berat yang diperlukan untuk mendapatkan kecepatan supersonik. Namun, di sisi lain, semakin besar sudut dan tipis sayapnya semakin tinggi kecepatan pendaratannya dan semakin kurang stabil dan bermanuver saat pesawat terbang dengan kecepatan rendah di bawah 250 knot (450 kmph). Sayap Marut adalah kompromi yang seimbang dari sudut sayap yang memadai untuk mendapatkan kecepatan supersonik (asalkan mesinnya cukup memberikan daya dorong) dan ketebalannya cukup untuk mempertahankan kecepatan pendaratan di level sedang dan stabilitas kecepatan saat terbang rendah. Sayap tersebut memberikan akselerasi dan kecepatan di ketinggian rendah pada HF-24 yang tidak dapat ditandingi oleh Sabre Pakistan dan Hawker Hunter India. Faktanya, Marut adalah salah satu dari sedikit, jika bukan satu-satunya, pesawat garis depan yang dapat terbang di kecepatan Mach 1.0 tanpa menggunakan afterburner – meskipun terbang di ketinggian. Sayap Marut dirancang untuk bisa membawa 4 pylon (atau cantelan) dengan bobot masing-masing bisa membawa beban 454 kg (1000 lbs). Selain itu, setiap sayap mampu membawa sekitar 700 liter bahan bakar di tangki integral. Tangki integral berarti ruang internal di dalam sayap ditutup rapat dan diisi dengan bahan bakar yang mengambang di antara struktur sayap. Ini berarti setiap sayap membawa muatan sekitar 1.425 kg bahan bakar dan senjata. Anggap saja itu serupa dengan membawa empat mobil Maruti Alto 800, dua di bawah masing-masing sayap dan melaju dengan kecepatan 550 knot (~ 1000 km / jam). 

Gambar 3 sisi HF-24 Marut. (Sumber: https://www.team-bhp.com/)
Kokpit HF-24 Marut. (Sumber: https://www.team-bhp.com/)

Persenjataan utama Marut terdiri dari empat kanon Aden kaliber 30 mm dengan 130 peluru per kanon, persenjataan yang sama digunakan pada pesawat tempur buatan Inggris Hawker Hunter, yang juga dioperasikan oleh IAF pada saat itu. Kanon Aden adalah kanon revolver lima peluru dengan berat 92 pon yang dapat menembakkan 1.400 peluru per menit. Kanon ini cukup mematikan hingga jarak 2000 meter. Pesawat-pesawat yang menggunakan kanon ADEN 30 sebagai persenjataan built-in termasuk diantaranya A-4S Skyhawk, Lightning, Folland Gnat (dan HAL Ajeet), Hawker Hunter, Gloster Javelin, Saab Lansen, Saab Draken, SEPECAT Jaguar, Supermarine Scimitar, dan CAC Sabre milik Australia. Beberapa laporan mengatakan tentang pelepasan dua kanon untuk mengurangi getaran saat menembak. Ini adalah masalah di tahun 1960-an dan bahkan memakan korban nyawa seorang pilot uji. Tidak diketahui apakah ini masalah sementara atau masalah permanen, namun hal ini tidak hanya mendera Marut saja, interceptor BAC Lightning juga menggunakan solusi serupa. 4 pylon dibawah sayap masing-masing dapat membawa beban 1000 lbs / 454 kg; muatan tipikalnya adalah bom seberat 1000 lbs, 500 lbs & 250 lbs serta bom napalm. Disamping itu Marut juga dipersenjatai dengan paket peluncur roket MATRA tipe 103 untuk 50 roket tanpa pemandu kaliber 68mm, yang terletak di badan pesawat tepat di belakang tempat meriam. Paket roket SNEB (Prancis: Societe Nouvelle des Etablissements Edgar Brandt) kaliber 68mm ini biasanya terdiri dari 18 atau 36 roket per peluncur. Roket buatan Prancis digunakan bahkan hingga hari ini dan merupakan persenjataan roket tanpa pemandu yang paling banyak diproduksi di dunia. Roket buatan Prancis ini dapat ditembakkan secara berurutan dengan interval 0,33 milidetik. Tipikal hulu ledak yang digunakan terdapat beberapa varian, di antaranya adalah berdaya ledak tinggi, fragmentasi & anti-tank. Proyektil roket SNEB ditenagai oleh motor roket tunggal berbobot 31 kg yang menghasilkan kecepatan 450m/s, dan, tergantung pada muatan hulu ledak yang dipasang, dapat digunakan untuk menghadapi kendaraan tempur lapis baja, bunker, atau sasaran soft target lainnya. Jarak maksimun roket ini kemungkinan antara 5.000-7.000 meter. Dengan memiliki ruang senjata internal, HF-24 dapat membawa 50 roket SNEB ini tanpa hambatan yang disebabkan oleh peluncurnya. Hal ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar karena 4 pylon nya akan dapat digunakan untuk membawa bahan bakar atau senjata dengan muatan yang lebih besar pada target atau jangkauan yang lebih jauh untuk munisi tertentu. Tidak diketahui apakah HF-24 bisa membawa munisi cluster seperti Hunting BL755 yang umum digunakan oleh IAF.

Kanon Aden kaliber 30 mm. (Sumber: http://aei-systems.com/)
Pod Roket SNEB. (Sumber: https://www.team-bhp.com/)

DINAS OPERASIONAL 

Meskipun periode pengembangan Marut terhitung berlarut-larut selama 11 tahun dan kegagalannya dalam mencapai performa kecepatan Mach 2, namun IAF tampaknya harus cukup puas dengan pesawat tempur barunya. Menurut koresponden Pushpindar Chopra, pilot IAF dengan bangga menyebut Marut sebagai “Hunter Mk 2.” HAL & IAF telah melakukan 1.800 penerbangan uji, antara tahun 1962 dan 1967, untuk memperbaiki masalah pada Marut. Pada bulan April 1967 No 10 Flying Daggers Squadron menjadi unit pertama yang dilengkapi dengan pesawat tempur asli India yang pertama itu. HF-24 Marut (“Spirit of the Tempest”) saat itu sudah tergolong usang pada saat memasuki dinas operasional pada tahun 1967, dan dinilai tidak dapat mengimbangi MiG-21 India atau F-104 Starfighter milik Pakistan. Kecewa dengan kemampuan tempur udara ke udaranya, Angkatan Udara India membuang kemampuan membawa radar dan rudal udara-ke-udara yang direncanakan untuk dipasang pada pesawat ini, dan menurunkan jet ini ke tugas serang ringan. Kemudian IAF dan Hindustan Aircraft (kemudian dinamai sebagai HAL) terus memodifikasi Marut untuk peran serang. Selama tahun-tahun awal, Marut IAF menderita kelangkaan suku cadang yang pada gilirannya berdampak buruk pada kesiapan operasionalnya. Kekurangan kronis ini mempengaruhi armada Marut antara tahun 1965 dan 1968, namun karena jumlah produksinya meningkat, kesiapannya juga turut meningkat. Tetapi pesawat ini memiliki masalah yang tidak terpecahkan sampai tahun 1970, dan hanya karena pengamatan yang sangat teliti dan profesionalisme pilot dan para insinyur, yang akhirnya bisa mencegah terjadinya kematian bagi pilot-pilot penggunanya. Ada pengakuan luas tentang karakteristik pengendalian yang sangat baik dari pesawat. Kebanyakan pilot yang telah menerbangkannya menggambarkannya sebagai menyenangkan untuk diterbangkan dan sangat baik untuk bermanuver aerobatik dengan respon kontrol yang baik. Dan kemampuannya untuk beradu cepat dengan jet Sabre, terutama pada ketinggian rendah, adalah aset yang berguna pada perang tahun 1971. Marut juga menawarkan diri sebagai platform senjata yang stabil dan memiliki daya pukul yang tangguh. Meski para pilot Marut mengungkapkan keinginannya yang wajar akan daya dorong mesin yang lebih baik dari Orpheus 703, mereka sepakat dalam pandangan mereka bahwa pesawat tersebut membuktikan dirinya sebagai pesawat yang sepenuhnya kompeten untuk melaksanakan misi serangan darat di ketinggian rendah. 

Karena keterbatasan performa mesin, HF-24 harus puas untuk mendapat peran sebagai pesawat serang darat. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)

Cacat utama dari pesawat ini adalah malfungsi kontrol aerodinamis pada saat melakukan manuver roll dan kanopi yang bisa terlepas ketika keempat kanon 30mm ditembakkan secara bersamaan dan dampak rekoil tembakan itu terhadap sistem kelistrikan pesawat. HAL, mengklaim telah mengatasi masalah tersebut tetapi IAF memutuskan untuk lebih aman melepaskan dua kanon bagian atas dan beroperasi hanya dengan dua kanon dibawah selama mengoperasikan pesawat ini. Marut adalah pesawat yang kuat dengan visibilitas yang sangat baik untuk pilot, dan secara aerodinamis adalah salah satu pesawat tempur yang tampilannya paling bersih pada masanya. Marut pada akhirnya melengkapi tiga Skuadron IAF. Skuadron No.10 adalah yang pertama melakukan konversi pada bulan April 1967, No. 220 Desert Tigers dikonversi pada Mei 1969 dan No.31 The Lions pada bulan Maret 1974. Pada saat skuadron ketiga dilengkapi dengan Marut, pesawat tempur tersebut telah didukung oleh 70% komponen buatan lokal. Dari 145 Marut yang diproduksi, 130 lebih memasuki dinas operasional skuadron, sisanya digunakan untuk pengujian & pengembangan. Dengan hanya melengkapi 2-3 skuadron yang masing-masing terdiri dari enam belas per skuadron pesawat, hal ini menyisakan pesawat berlebihan yang menganggur. Lebih menyakitkan lagi, biaya produksi setiap Marut di dalam negeri lebih mahal daripada membeli pesawat tempur yang lebih canggih dan sudah teruji dari luar negeri. Ini adalah “harga” yang harus dibayar dari sebuah ambisi kemandirian namun tanpa diikuti dengan perencanaan yang matang.

Para pilot India mengakui bahwa Marut cukup stabil dan menyenangkan untuk diterbangkan. Pada tahun 1970an, pesawat tempur ini telah memiliki kandungan lokal hingga 70%. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)

Pada saat permusuhan pecah antara India dan Pakistan pada bulan Desember 1971, IAF memiliki dua skuadron Marut dalam dinas operasionalnya, yakni Skuadron Dagger No. 10 dan Skuadron “Tiger Head” No. 220. Selama konflik itu, Marut bertugas dengan cukup sukses dalam menjalankan misi serang darat dan peran penyerangan terhadap sasaran di Pakistan barat. Kedua Skuadron yang dilengkapi HF-24 dioperasikan dari Jodhpur pada bulan Desember 1971 dan bertugas secara eksklusif dalam menyerang target darat musuh seperti tempat penimbunan bahan bakar, jalur pasokan, pusat-pusat komunikasi, lapangan udara Pakistan, persimpangan kereta api, kendaraan lapis baja, dan konsentrasi pasukan. Mengetahui perang akan segera pecah, Pakistan berharap untuk bisa merebut wilayah di sepanjang perbatasan Pakistan Barat dalam serangan pendahuluan pada tanggal 3 Desember 1971 untuk mengkompensasi posisi lemah pasukannya di Pakistan Timur. Satu tusukan pada hari pertama perang ditujukan ke Jaisalmer dan akhirnya Jodhpur — tetapi sebagai sasaran pertamanya adalah pos perbatasan Longewala yang terpencil, yang terletak di tengah gurun Thar. Pasukan Pakistan terdiri dari dua brigade infanteri dan batalyon lapis baja yang berjumlah lebih dari dua ribu prajurit infanteri dan empat puluh lima tank Type 59 (salinan China dari tank T-54/55 Soviet). Di Longewala, mereka hanya menghadapi 120 orang Kompi “A” dari Batalyon ke-23 Resimen Punjab. Pos terdepan India hanya memiliki satu senjata antitank recoilless kaliber 106 milimeter yang dipasang pada sebuah jip, beberapa mortir dan senapan mesin menengah, dan satu regu penunggang unta dari patroli perbatasan. Dengan perhitungan taktis normal, tidak mungkin prajurit-prajurit India dapat bertahan lama. Namun, ketika pasukan Pakistan mulai bergerak maju pada lewat tengah malam dengan tanpa memanfaatkan pengintaian taktis, tank-tank itu terhenti di bukit pasir tebal di sekitar pos terdepan. Para prajurit India, yang bersembunyi di singkapan batu setinggi seratus kaki, menunggu sampai tank-tank tersebut merayap ke jarak dekat dan kemudian melepaskan tembakan, menghancurkan dua belas di antaranya dengan satu-satunya senjata recoilless dan senjata antitank PIAT era Perang Dunia II. Tembakan balasan Pakistan hanya menyebabkan dua korban jiwa. Serangan terhenti ketika infanteri Pakistan menemukan apa yang mereka yakini sebagai ladang ranjau di belakang deretan kawat berduri — yang beberapa jam kemudian ternyata didapati tidak ada.  

Dalam Perang Indo Pakistan tahun 1971, HF-24 Marut menjadi momok menakutkan bagi pasukan lapis baja Pakistan. (Sumber: https://defenceforumindia.com/)

Serangan balasan India dilakukan saat fajar menyingsing ketika jet Marut dari Skuadron 10, diperkuat oleh empat Hawker Hunter Hawker dari Jaisalmer, turun di medan perang, melepaskan roket T-10 dan menembakkan peluru kanon kaliber 30 milimeter ke satuan lapis baja Pakistan yang mengalami kemacetan. Aksi ini dideskripsikan sebagai “Turkey Shoot”. Pada sore hari, pesawat-pesawat penyerang telah menghancurkan dua puluh dua tank tambahan dan setidaknya seratus kendaraan lagi, membuat serangan Pakistan yang seharusnya berdampak sangat besar terhenti. Hasil ini sangat luar biasa karena pesawat India tidak dilengkapi rudal antitank berpemandu khusus yang memberikan pesawat serang darat modern kemampuan serang mematikan terhadap pasukan tank. Pasukan darat India melakukan serangan balik pada siang hari, memaksa pasukan Pakistan mundur total, yang pada akhirnya akan menentukan hasil peperangan di masa sisa perang di front Barat. Marut tercatat menerbangkan sekitar 200 misi tempur selama perang dua minggu itu. Dalam satu misi serangan, mereka terbang sejauh 200 mil laut (~ 370 km) ke wilayah musuh untuk mengirimkan munisi mereka ke sasaran-sasaran musuh. Marut terus-menerus menemukan diri mereka di bawah tembakan berat dan terkonsentrasi dari darat selama misi serang di ketinggian rendah yang mereka lakukan. Setidaknya pada tiga kesempatan, Marut didapati kembali ke markas mereka dengan satu mesin rusak akibat tembakan darat. Pada salah satu kesempatan sebuah Marut kembali ke pangkalan tanpa pengawalan dengan hanya satu mesin berfungsi, terbang sejauh 240 km di dalam wilayah musuh. Kontrol penerbangan jet ini juga dirancang untuk bisa kembali ke kontrol manual secara otomatis jika sistem hidraulik gagal, dan setidaknya satu pilot India terbang pulang dengan sistem manual setelah sistem hidrauliknya tertembak. Meskipun tidak pernah terjadi pertemuan antara Marut dan jet tempur supersonik yang saat itu ada dalam dinas operasional PAF/AU Pakistan — antara lain MiG-19, Mirage III dan F-104 — mereka terkadang terlibat dalam pertempuran udara dengan pesawat-pesawat Canadair Sabre VI milik PAF.

Tidak hanya menjalani peran serang darat, selama perang HF-24 juga terbukti mampu bertempur melawan pesawat-pesawat tempur F-86 Sabre milik AU Pakistan. (Sumber: https://defenceupdate.in/)

Hebatnya tidak ada satupun Marut yang kalah dalam pertempuran udara, tetapi pada setidaknya satu kesempatan sebuah Marut yang diterbangkan oleh Pemimpin Skuadron KK Bakshi dari Skuadron ke-220 berhasil menembak jatuh sebuah F-86 Sabre PAF pada tanggal 7 Desember 1971 (korbannya adalah Flying Officer Hamid Khwaja dari Skuadron ke-15 PAF). Pada tanggal 7 Desember itu, sebuah formasi yang terdiri dari 2 Marut Angkatan Udara India sedang terbang menuju misi penyerangan. Formasi itu dipimpin oleh Sqn. Ldr. KK Bakshi. Saat melintasi Naya Chor, (terletak di Sindh, Pakistan), wingman-nya melihat formasi 4 F-86E  “Sabre” Angkatan Udara Pakistan mendekati mereka dengan cepat. Bahkan dalam situasi di mana jet IAF kalah jumlah, Sqn. Ldr. Bakshi memerintahkan untuk formasinya unti berpecah dan bertempur melawan musuh yang datang. Pesawatnya dilengkapi dengan kanon 4 × 30 mm untuk pertempuran udara sementara Sabre membawa rudal AIM-9 Sidewinder AAM untuk misi tersebut. Pilot Marut ke-2 melakukan beberapa manuver mengelak untuk menghindari bidikan Sabre. Sedangkan Sqn. Ldr. Bakshi mencoba mengejar salah satu Sabre untuk mendapatkan posisi menembak yang sempurna. Akhirnya ketika dia menemukan dirinya di ekor sebuah Sabre, dia beralih ke kanon nya dan menghadapi pesawat Pakistan itu. Upaya pertama tidak berhasil, namun setelah beberapa kali mencoba lagi, peluru kanon yang dilepaskannya mengenai mesin Sabre dan merobek badan pesawat (mungkin bagian ekor) hingga terlepas. Pilot Sabre, Flying Officer Hamid Khwaja keluar dengan kursi lontarnya dan mendarat di wilayah Pakistan. Ini menandai satu-satunya kemenangan yang dibukukan oleh Marut yang pada akhirnya bisa membuktikan kemampuannya dalam pertempuran udara. Alih-alih melanjutkan pertempuran udara, Sqn. Ldr. Bakshi  membatalkan misi penyerangan dan memerintahkan mundur karena dia tidak ingin mempertaruhkan nyawa wingman-nya. Dengan beberapa taktik manuver tajam, mereka berhasil membingungkan 3 Sabre lainnya dan terbang kembali ke India sambil mempertahankan ketinggian terbang diatas puncak-puncak pohon. Sementara itu tidak ada pesawat Marut yang hilang dalam aksi udara meskipun pada akhir perang tiga Marut telah hilang akibat tembakan darat dan satu hilang di darat. Marut keempat hancur di darat saat meluncur di landasan pacu di Uttarlai karena serangan pesawat tempur F-104 Starfighter Angkatan Udara Pakistan. Bahkan PAF, yang biasanya catatannya berbeda dengan catatan IAF, mengakui bahwa hanya lima Marut yang dihancurkan selama perang dua minggu, tiga oleh tembakan senjata kecil dan dua diberondong di darat oleh pesawat PAF. Rekor itu sangat kontras dengan pesawat tempur penyerang darat buatan asing yang digunakan IAF pada saat itu. Pakistan mengklaim telah menghancurkan 31 pesawat serang Su-7 buatan Soviet dan 17 Hawker Hunter buatan Inggris. Sepanjang perang di bulan Desember 1971, skuadron Marut memiliki tingkat kesiapan operasional yang sangat tinggi (berbeda dengan kondisinya di akhir tahun 1960-an), hal ini tidak diragukan lagi banyak disebabkan oleh kesediaan suku cadang yang lebih baik dan desain aslinya yang dirancang mudah dipelihara.

HF-24 Marut versi trainer dengan 2 kursi. (Sumber: https://upload.wikimedia.org/)
HF-24 terbang dalam formasi. Karena satu dan lain hal, HF-24 tidak dapat memenuhi potensi maksimalnya. (Sumber: https://hushkit.net/)

Tim India di HAL berhasil mengembangkan pelatih latih dua kursi yang dikenal sebagai HF-24 T Mark 1. Sementara itu sebuah prototipe eksperimental yang dikembangkan India dengan mesin afterburner Orpheus yang diberi kode Mark 1R hilang saat diuji diterbangkan oleh Grup Kapten Suranjan Das. Kematian pilot yang sangat berjasa pada pengembangan Marut ini dan masalah pada desain afterburner menyebabkan pengembangan ini tidak dilanjutkan lagi. Sementara itu, HAL terus memproduksi Marut Mk 1 untuk IAF hingga tahun 1974. Total produksi akhirnya mencapai 145 pesawat, termasuk 16 pesawat pelatih konversi Mk 1T dua kursi. Versi latihnya mirip dengan pesawat standar Mk 1, dengan tambahan kokpit instruktur di belakang pilot. Kurt Tank, insinyur penerbangan asal Jerman yang merancang Marut, tetap mempertahankan hubungan dekatnya dengan HAL hingga tahun 1970-an. Dia kemudian merancang penerus Marut pada tahun 1973, dengan nama HF-73. Pesawat tempur baru ini akan didukung oleh sepasang mesin turbofan Rolls-Royce RB-199 dan dimaksudkan untuk memiliki kemampuan Mach 2 yang sebenarnya. Pesawat itu juga dirancang untuk membawa dua kali beban senjata yang bisa dibawa Marut. Namun, negosiasi dengan Rolls-Royce produsen mesinnya gagal. Dengan mesin RB-199 tidak lagi tersedia, program HF-73 dibatalkan. Marut terus bertugas di IAF selama tahun 1970-an. IAF sejak itu kemudian mengembangkan dua persyaratan pesawat baru yaitu Deep Strike Penetration Aircraft (DPSA) dan versi jarak pendeknya dalam wujud Tactical Attack & Strike Aircraft (TASA). IAF tidak tertarik untuk menunggu HAL atau DRDO untuk mengembangkan Marut lebih lanjut guna memenuhi salah satu dari persyaratan ini meskipun dengan upaya yang benar dan tanpa birokrasi, persyaratan TASA dapat dipenuhi oleh Marut yang didukung oleh mesin Rolls Royce Adour yang digunakan oleh pesawat serang Sepecat Jaguar. IAF kemudian memilih dua pesawat yang sangat bagus untuk memenuhi persyaratan ini – Sepecat Jaguar untuk persyaratan DPSA dan MiG-23BN yang lalu diikuti oleh MiG-27M untuk persyaratan TASA. Berbeda dengan Angkatan Laut India dan Angkatan Udara China yang sama-sama mendukung industri dalam negeri mereka dengan perintah untuk membuat kemajuan sedikit demi sedikit, IAF memilih untuk tidak melakukan hal itu. Saat itu hubungan Indo-Soviet juga sedang berada di puncaknya dan Soviet menawarkan produksi lisensi untuk MiG-27M, pesawat serang taktis yang bagus, dengan pembayaran menggunakan mata uang Rupee dan IAF merasa ini adalah alternatif yang lebih baik daripada menghabiskan beberapa tahun lagi untuk menunggu pengembangan pesawat HAL. Marut terakhir ditarik dari dinas operasional pada tahun 1990. 

Pesawat serang Sepecat Jaguar yang dipilih India untuk menggantikan peran serang darat jarak menengah India. (Sumber: https://defenceupdate.in/)
MiG-27 dipilih AU India untuk memenuhi kebutuhan pesawat serang taktis. (Sumber: https://www.team-bhp.com/)
HAL Tejas, proyek ambisius India yang lagi-lagi terganjal persyaratan yang kompleks. (Sumber: https://defpost.com/)

Saat ini orang mungkin hanya dapat bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi jika HAL dan badan lainnya seperti DRDO memiliki fokus dan kompetensi, serta IAF memiliki perencanaan jangka panjang seperti Angkatan Laut India yang bekerja dengan Mazagon Docks & Cochin Shipyard dalam membangun beberapa desain kapal asli yang telah dimulai sejak awal 1960-an yang bersamaan dengan proyek HF-24. Untuk mengembangkan industri penerbangan suatu negara, sebuah negara harus berpikir dalam jangka waktu 50 tahun dan melangkah selangkah demi selangkah. Pada pertengahan tahun 1980-an persyaratan baru dibuat untuk Tejas Light Combat Aircraft. Sekali lagi itu adalah proyek dengan spesifikasi ambisius yang menuntut kemampuan dan teknologi seperti sistem kontrol penerbangan fly by wire, radar multi-mode pulse doppler dan mesin turbofan afterburning di kelas 10.000 kgf. Ini adalah teknologi yang hanya berhasil digunakan oleh Amerika (dalam wujud F-16 & F-15) pada saat itu, dah Prancis kemudian (lewat pesawat Mirage 2000) serta Soviet sendiri masih dalam tahap pengembangan. Lagi-lagi sebagian karena mengeluarkan spesifikasi yang sangat luas dan sebagian lagi karena pendekatan birokrasi dari lembaga yang terlibat, Tejas membutuhkan waktu tiga dekade untuk dikembangkan, dan belakangan ini baru saja diresmikan oleh IAF sementara pengoperasiannya masih kurang dari setahun. Sementara mengenai desain dan sejarah dari Marut, pesawat ini memang jauh dari kategori pesawat tempur terbaik di dunia saat memasuki dinas operasional. Baik pihak HAL dan IAF dengan jujur mengakui bahwa pesawat itu kekurangan tenaga dan tidak pernah mencapai potensi terbaiknya. Pesawat itu juga pasti tidak berada di level yang sama dengan jet asal AS, Soviet, dan Eropa Barat pada masa itu. Namun pengembangan pesawat terbang semacam itu tetap merupakan pencapaian yang signifikan bagi sebuah negara Dunia Ketiga yang pada saat itu, baru saja memiliki industri kedirgantaraan. Terlepas dari kontribusi Tank, patut diberi penghargaan yang luar biasa bagi ambisi dan ketekunan orang-orang di HAL bahwa pesawat itu pada akhirnya pernah diproduksi dan bisa digunakan dengan baik dalam pertempuran sebenarnya. HF-24 Marut kini masih tersisa di dua tempat. Satu pesawat diparkir di HAL Heritage Complex di Bangalore, tetapi yang lebih menarik, pesawat lain dengan bersinar berdiri di sudut Museum Deutsches di Munich. Orang-orang Jerman menganggap Marut sebagai bagian dari pencapaian teknologi mereka. Namun hal tersebut malah sering dilupakan di India. Pada saat Tejas dioperasikan IAF, mereka seharusnya mengenang Marut, sebagai pesawat tempur asli pertama asal India.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya HF-24 Marut akan dikenang sebagai simbol cita-cita kemandirian dari India. (Sumber: http://airshow24.info/)

DETAIL TEKNIS

Spesifikasi umum

Crew: 1 versi Pembom Tempur; 2 untuk versi latih

DIMENSI

Panjang: 52′ 1″ (15.87 m)

Lebar: 29′ 6″ (9 m)

Tinggi: 11′ 10″ (3.6 m)

Luas area sayap: 301 kaki persegi (~28 meter persegi)

Sudut sayap: sekitar 52 derajat 

BOBOT

Bobot kosong: 6195 kgs/13,658 lbs

Bobot Konfigurasi Bersih: 8951 kgs/19,734 lbs

Bobot penuh: 10925 kgs/ 24,085 lbs

MESIN 

Tipe: 2 mesin Rolls Royce Orpheus 703 turbojets berkekuatan 2200 kgp (4850 lbs) per mesin.

Ukuran & Bobot: Ini adalah varian dari mesin pesawat Gnat. Kecil & kompak dengan panjang 75 “(1.905 meter) dan diameter 32” (0.8128 meter) Berat = 379 kgs Rasio Power to Weight sebesar 5.9 kgp / kg.

Konsumsi Bahan Bakar: Konsumsi bahan bakar spesifik untuk Orpheus adalah 1080 gram / kgp / jam. Dengan daya dorong penuh untuk Marut, ini berarti 106 liter per menit terbang dengan kecepatan 600 knot dalam kondisi bersih

PERFORMA 

Kecepatan maximum: 1112 kmph / 600 knots* atau Mach 0.91** at sea level; 1086 kmph/ 586 knot atau Mach 1.02 pada ketinggian 

* 1 knot = 1 mil laut per jam yaitu 1,852 km / jam; satu mil laut sama dengan 1 menit dari busur meridian di bumi ** Mach 1.0 adalah kecepatan suara pada ketinggian tertentu; Mach 2.0 sama dengan dua kali kecepatan suara. Di permukaan laut Mach 1,0 = ~ 1225 km / jam; pada ketinggian 36.000 kaki ~ 1054 km / jam.

Kecepatan stall: 248 kmph / 133 knots

Kemampuan menanjak: 6000 kaki/menit atau 30 meter/detik at sea level

Jarak/Radius: 396 kms / 214 nm lo-lo-lo dengan muatan 1800 kgs 

lo-lo-lo adalah konfigurasi penerbangan umum pesawat pembom tempur yang berarti saat menuju sasaran, menyerang dan pergi dilakukan pada ketinggian rendah biasanya di bawah 500 kaki (152.4 meter) atau 1000 kaki (304.8 meter), tergantung pada medan, untuk menghindari deteksi radar; demikian pula bisa juga dibuat konfigurasi seperti lo-lo-hi atau hi-lo-hi. Penerbangan feri secara alami akan menjadi konfigurasi hi-hi-hi untuk mendapatkan penghematan bahan bakar terbaik.

  • Wing Loading: ~66 lbs/ kaki persegi dalam kondisi tanpa membawa muatan; 80 lbs/ kaki persegi saat membawa muatan penuh. 

Angka 66 merupakan kemampuannya untuk melakukan pertempuran jarak dekat saat pergi dari wilayah musuh setelah melepaskan munisi tepat sasaran. 66 adalah kemampuan manuver yang didukung sayap saat membawa muatan ringan. Angka untuk gnat adalah 57 lbs / kaki persegi sementara untuk F-16 yang modern mampu mencapai angka adalah 88. Sementara nilai 80 menunjukkan seberapa baik sayap pesawat mendukung saat melakukan serangan di ketinggian rendah dengan membawa muatan penuh. Di sini kita membutuhkan sayap yang kuat mendukung penerbangan pada kecepatan 550 knot (926 km/jam) di bawah ketinggian 1000 kaki. Di sini HF-24 tidak begitu baik. Pesawat serang lo-lo-lo klasik seperti Sepecat Jaguar memiliki kemampuan dukung sayap hingga 130 lbs / kaki persegi

Untuk misi pencegatan biasa dirancang sayap yang besar, berbentuk segitiga, bobot sayap rendah, sayap bersudut tinggi, tipis sementara untuk misi serang di ketinggian rendah sayap dibuat kecil, panjang di pangkal sayap, bobot sayap tinggi, sudut sedang untuk meningkatkan daya angkat dan kontrol di kecepatan rendah dan lebih tebal untuk meningkatkan aerodinamis dan kapasitas muat bahan bakar lebih besar.

  • Power Loading: 0.50 dalam konfigurasi bersih; 0.41 pada bobot penuh 

Angka ini terhitung sedang bahkan untuk era tahun 1960-an. Ini mencerminkan kegagalan Marut untuk mendapatkan mesin yang tepat atau menunjukkan juga persyaratan mesin terlalu banyak dari IAF. Biasanya untuk tahun 1960-an power loading yang diharapkan dalam kondisi bersih, untuk pencegat, ada di angka 0,60 hingga 0,70 dibandingkan dengan 0,50 pada Marut yang jauh lebih lemah. Di sisi lain di era itu, pesawat serang darat khusus (seperti McDonnell Douglas A4 Skyhawk) akan memiliki kekuatan maksimum power loading 0,33 hingga 0,45. Di sini, rasio 0,41 Marut tidaklah terlalu buruk

Ketinggian jelajah: ~ 45,000′ (13.716 meter) karena Marut terutama digunakan sebagai pesawat serang darat dalam pertempuran, ia biasanya akan terbang pada ketinggian rendah di bawah 1000 kaki (304.8 meter) untuk menghindari deteksi radar

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Indian Aviation: HAL HF-24 Marut, the first Indian Jet Fighter By V Narayan; 22 January 2015

https://www.team-bhp.com/forum/commercial-vehicles/159928-indian-aviation-hal-hf-24-marut-first-indian-jet-fighter.html

Kurt Tank’s Indian Storm

India’s Disappointing Marut Jet Fighter Proved Itself in Combat By Sebastien Roblin

https://nationalinterest.org/blog/indias-disappointing-marut-jet-fighter-proved-itself-combat-21875

Hunter becomes the hunted: When IAF Marut scored the 1st kill!

https://www.google.com/amp/s/defenceupdate.in/hunter-becomes-the-hunted-when-iaf-marut-scored-the-1st-kill/amp/

HAL HF-24 Marut (Spirit of the Tempest)

Supersonic Fighter-Bomber Aircraft 

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=366

Tejas is not India’s first indegenous fighter, that would be the HF-24 Marut Written by Sushant Singh Updated: July 1, 2016 7:10:29 pm

https://indianexpress.com/article/explained/tejas-light-combat-aircraft-indigenous-india-iaf-hf-24-2887950/

English Electric Lightning: Pesawat Tempur Interceptor Asli Buatan Inggris yang Terakhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *