Judas Maccabeus, Jenius Militer Dan Pejuang Kemerdekaan Bangsa Yahudi Dari Abad Ke-2 SM

Pada tahun 167 SM, ketika pemberontakan skala penuh meletus di kawasan Yudea, sudah lebih dari 400 tahun berselang sejak tentara Yahudi yang terorganisir terakhir mengangkat senjata melawan musuh, yakni tentara Nebukadnezar dari Babilonia. Pada tahun 586 SM, para prajurit yang mempertahankan Yerusalem dengan gagah berani telah bertempur tanpa harapan melawan pasukan invasi Babilonia yang jauh besar. Setelah itu, satu-satunya petempur yang muncul dari bangsa Yahudi adalah tentara bayaran yang sesekali meminta bayaran untuk bertempur bagi kepentingan bangsa lain. Akar pemberontakan Yudea sebenarnya bisa ditarik kembali pada tahun 198 SM, ketika dinasti Seleukos asal Suriah secara paksa merebut tanah Palestina dari penguasa sebelumnya — Ptolemeus dari Mesir. Kedua faksi non-Yahudi ini adalah keturunan dari jenderal asal Yunani (Seleukos dan Ptolemeus) yang telah mewarisi wilayah tersebut selama 200 tahun sebelumnya setelah pimpinan mereka, Alexander Agung, meninggal dunia tanpa mempunyai anak sebagai penerus bagi Imperiumnya pada tahun 323 SM. 

Setelah Alexander Agung wafat tanpa penerus, kerajaan Macedonia terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan yang dipimpin oleh bekas-bekas jenderalnya. Di kawasan Timur Tengah berkuasa Kerajaan Seleukos dan Ptolomeus yang saling bersaing. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

PERUBAHAN KEBIJAKAN 

Pada awalnya, pergantian pasukan pendudukan tidak banyak berpengaruh pada kehidupan orang-orang Yahudi, yang tetap bebas untuk mempraktikkan pemerintahan sendiri dan, yang paling penting, keyakinan mereka, di bawah penguasa baru mereka, Antiokhus III. Pemerintahan yang toleran yang telah menjadi kebijakan Ptolemeus sebelumnya, menyebabkan orang-orang Yudea telah terbiasa menikmati dari generasi ke generasi pemerintahan dari penguasa yang bersahabat. Tetapi setelah kematian Antiokhus III dan kenaikan putranya Antiokhus IV Epiphanes pada 175 SM, intoleransi dan ketegangan mulai tumbuh di tanah air orang-orang Yahudi itu. Terjebak di antara Mesir yang bermusuhan di selatan dan dekat Roma di barat laut, dinasti Seleukos di Suriah juga menghadapi ancaman dari Kerajaan Media dan Partia yang ambisius di tenggara. Situasi ini menimbulkan banyak ketidaknyamanan yang dapat dimengerti dialami oleh Antiokhus IV, yang menyadari bahwa kedekatannya dengan wilayah Mesir dan wilayah pegunungannya yang ideal mengamati wilayah sekitar dengan menghadap ke jalur perdagangan pesisir yang penting, Yudea harus diamankan dengan kuat karena alasan strategis. Dia memutuskan untuk melakukan ini melalui penerapan secara sewenang-wenang ritual dan budaya Yunani pada penduduk Yahudi dalam upaya untuk membangun bahasa yang sama dan praktek peradaban Yunani secara keseluruhan untuk menciptakan persatuan di kekaisarannya. Upaya untuk memaksakan budaya paganisme pada orang-orang Yahudi ini terbukti menjadi kesalahan fatal. 

Pasukan Anthiokus mengadakan persembahan babi di Bait Suci Orang Yahudi di Yerusalem. (Sumber: http://ekids1glessons.blogspot.com/)

Setelah menerbitkan undang-undang untuk menerapkan Hellenisasi di wilayah Yudea pada tahun 168 SM, Antiokhus IV berangkat untuk menyerang Mesir, ia tampaknya tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan perlawanan bersenjata dari orang Yahudi yang telah lama hidup tenang. Akan tetapi, orang Yahudi sangat setia kepada Tuhan mereka, Yehova, dan mayoritas dari mereka menganggap tindakan penyembahan berhala sebagai suatu hal yang tidak terbayangkan. Ketegangan lantas meningkat. Akan tetapi, terlepas dari kepatuhan mereka selama berabad-abad, perlawanan orang Yahudi terhambat oleh jumlah mereka yang relatif sedikit. Populasi Yudea pada saat itu paling banyak 250.000 orang, dengan hanya sebagian kecil dari mereka adalah para pemuda berbadan sehat untuk mengikuti dinas militer. Ini juga mungkin telah menyebabkan kaisar tampak bersikap santai ketika dia memaksakan penyembahan berhala pada rakyatnya yang dianggap lemah. Untuk mempermalukan orang Yahudi, Anthiokus memerintahkan diadakannya upacara pagan dengan persembahan babi (najis bagi orang Yahudi) di Bait Suci orang Yahudi yang lalu tempat itu pun dijadikan kuil dewa Zeus! Anthiokus juga melarang orang Yahudi mempraktikkan kepercayaannya serta memaksa mereka mengikuti kepercayaan pagan, melarang hari Sabbath dan praktik menyunat. Hukuman bagi yang melanggar adalah hukuman mati. Untuk mengawasi orang-orang Yahudi dibangunlah benteng Acra tepat di depan Bait Suci orang-orang Yahudi. Dengan tindakan-tindakan ini, semuanya kemudian akan menjadi tidak sesuai rencana.

KEGAGALAN DI MESIR, PELUANG DI YERUSALEM

Ketika Antiokhus IV mengepung Aleksandria, utusan dari Italia dengan cepat memberi tahu dia bahwa jika dia tidak berhenti, intervensi Romawi akan segera terjadi. Dibebani dengan musuh yang begitu banyak, dia dengan bijak kemudian mengalah, memutuskan membatalkan rencananya, dan mundur di sepanjang jalan raya pesisir. Pada saat inilah, orang-orang Yahudi pemberontak telah melakukan kerusuhan di Yerusalem. Mengetahui hal ini, Antiokhus IV yang terhina dan khawatir merasa senang dengan apa yang dilihatnya sebagai kesempatan emas untuk menyelamatkan prestisenya yang hilang dalam kampanye militer di Mesir yang gagal. Inilah perang yang bisa dia menangkan, yang betapapun dengan tidak masuk akal, dipaksakan kepadanya oleh musuh yang bisa dia hancurkan dengan mudah, begitu pikirnya. Setelah itu, dia akan bisa memamerkan kemenangan ini kepada lawan-lawan sekelilingnya yang suka berperang, yang mungkin kemudian akan berpikir dua kali sebelum menyerangnya. 

Pasukan Anthiokus IV menjarah Bait Suci dan membunuhi orang-orang Yahudi tanpa membedakan umur tua atau muda. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Patung Antiochus IV Epiphanes di Museum Berlin. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Antiokhus IV kemudian mengirim salah satu jenderalnya yang paling kompeten, Apollonius, untuk memadamkan pemberontakan orang-orang Yahudi. Pasukan Seleukos lalu membantai sebagian besar penduduk Yahudi di Yerusalem, membakar kitab-kitab yang dihormati yang berisi hukum Musa, dan melemparkan ibu muda dan bayi laki-laki mereka yang baru disunat ke kematian mereka dari atas tembok kota. Mereka juga menjarah Bait Suci orang Yahudi dan menodai tempat sucinya dengan menggunakannya menjadi kuil untuk dewa Zeus. Kabar menyebar dengan cepat. Karena terlalu percaya diri, Antiokhus IV mengabaikan fakta bahwa pasukan yang dia kirim untuk melawan orang-orang Yahudi bukanlah yang berkaliber tertinggi. Pasukan ini tidak dipimpin oleh komandan militer yang menginspirasi seperti Alexander, juga bukan legiun Roma yang terlatih, berperalatan lengkap, dan bermotivasi tinggi. Sebaliknya, mereka adalah kumpulan tentara bayaran dan tentara bayaran yang kemampuan dan motivasinya sangat bervariasi. Sebagian besar memiliki sedikit pengalaman lapangan dalam taktik phalanx dan kavaleri yang dirancang sebelumnya oleh orang Yunani. Pasukan Seleukos sendiri juga terdiri dari beberapa tentara Yahudi kaya yang sama bencinya dengan para pemberontak. Namun orang-orang ini dengan cepat membelot ke kubu pemberontak dan menyumbangkan pengalaman penting dan pelatihan militer mereka untuk tujuan-tujuan patriotis mereka. 

PEMBERONTAKAN MAKABE

Setelah dengan berdarah mengamankan Yerusalem, Antiokhus IV mengirim pasukannya ke daerah perbukitan Yudea yang tidak dikenalnya untuk menyelesaikan misi Helenisasi. Seorang perwira bernama Apelles memimpin patroli ke desa Modiin dan memerintahkan Imam setempat, Mattathias, untuk mengurbankan babi dan memakan dagingnya sebagai sebuah langkah penghujatan, yang oleh orang Yahudi dianggap sebagai makhluk najis. Ketika Mattathias menolak untuk mematuhinya, seorang Yahudi lain menawarkan untuk melakukan aksi penistaan itu, dimana imam yang sudah tua itu lalu mencabut belati dan membunuh baik pengkhianat itu maupun Apelles. Lima putra Mattathias juga menghasut penduduk kota untuk bangkit melawan penjajah dan memusnahkan mereka, menandai aksi pertama dalam serangkaian kemunduran panjang untuk dinasti Seleukos dalam apa yang kemudian disebut Pemberontakan Makabe.

Imam tua Mattathias Maccabeus membunuh seorang penista Yahudi yang mengikuti anjuran Apelles, Perwira Tentara Seleukos. Peristiwa ini kemudian memicu pemberontakan orang-orang Yahudi dibawah pimpinan keluarga Maccabe. (Sumber: https://www.amazon.com/)

Memimpin kelompok kecilnya yang terdiri dari sekitar 200 orang (mungkin dengan 50 orang pejuang) ke Perbukitan Gophna yang dengan mudah dipertahankan, Mattathias mulai melatih para petani dalam taktik gerilya yang dia sadari adalah satu-satunya harapan mereka melawan kekaisaran Seleukos yang perkasa. Karena tidak ada orang-orang Suriah yang lolos dari pembantaian di Modiin, butuh waktu bagi pasukan utama mereka untuk mengetahui kematian rekan-rekan mereka. (Atau mungkin mereka berasumsi bahwa unit yang hilang telah desersi begitu saja, praktik yang biasa untuk pasukan semacam ini.) Bagaimanapun, butuh satu tahun bagi militer Seleukos untuk bereaksi. Pada saat ini, Matatias telah meninggal dan digantikan oleh putra tengahnya, Yudas (juga disebut Yehuda). Orang-orang Yahudi sementara itu telah secara produktif menghabiskan masa jeda dengan melakukan pelatihan, perekrutan, dan pengumpulan informasi. Yudas membentuk personel-personel pengumpulan-intelijen yang efisien sambil mengirimkan agen-agen untuk menyebarkan semangat pemberontakan, merekrut orang-orang baru, dan mengumpulkan senjata apa pun yang dapat ditemukan atau dibuat. Pasukan Yudas seperti layaknya ungkapan Mao Tse Tung 2.000 tahun kemudian adalah laksana ikan dan air dengan warga sekitar, yang mendukung dan dengan mudah membaur di antaranya.

MEREBUT ALAT KEMENANGAN

Selain hanya memiliki beberapa pusaka yang berkarat, hanya ada sedikit senjata. Yudas harus puas dengan peralatan pertanian yang dimodifikasi sampai senjata terbaru dapat dirampas. Jika pertempuran awal bisa dimenangkan, ia beranggapan bahwa, pedang, baju zirah, ketapel, tombak, lembing, busur, umban, perisai, dan peralatan pendobrak musuh yang berhasil dirampas akan menjadi rejeki nomplok bagi mereka. Sampai saat itu, Yudas menyadari, dia harus bergerak perlahan. Dia menugaskan pasukannya yang terus berkembang untuk menyergap dan menghancurkan patroli Seleukos, dan mengumpulkan persenjataan baru dalam prosesnya. Dia juga menghabiskan banyak waktu dengan para letnannya, untuk merumuskan taktik yang tidak biasa yang akan membuat lawannya yang kaku tidak siap. Taktik serang lari ala gerilya Maccabee meningkatkan kekuatan bertarung mereka dan membuat tentara Seleukos bingung, kehilangan keseimbangan, dan umumnya memilih mundur. Ketika pedesaan di sekitarnya perlahan-lahan berada di bawah kendali orang-orang Yahudi, garnisun-garnisus Seleukos di Yerusalem diisolasi dan dalam bahaya diserbu atau kelaparan sehingga harus menyerah. Ketika kabar tentang situasi yang gawat ini mencapai Apollonius di markas besarnya di Samaria dekat Yudea, dia terlambat bergerak untuk campur tangan. Ini adalah waktu yang tepat bagi Yudas dan anak buahnya untuk melakukan operasi militer besar pertama mereka. Taktik pertempuran favorit tentara Seleukos adalah formasi “phalanx”. Infanteri dengan baju zirah lapis baja berat akan berkumpul bersama dalam formasi yang ketat, seolah-olah sedang berparade, dengan orang-orang di setiap baris bahu-membahu dan mengikuti barisan di depan mereka. Unit taktis terkecil Seleucos adalah “syntagma” yang terdiri dari 250 prajurit, yang di masa modern bisa dipadankan dengan satuan setingkat kompi. Satuan ini terdiri sekitar 16 barisan dengan tiap baris terdiri dari 16 orang, dengan kata lain unit ini menempati ruang seluas 15 kaki persegi. 4 unit syntagma kemudian akan membentuk sebuah unit “chiliarchia” yang terdiri dari 1.000 orang. 2 unit chiliarchia yang digabungkan akan tersebar di area seluas 120 yard dengan kedalaman 15 yard, yang akan membentuk unit Phalanx terkecil. Prajurit di lima baris pertama memegang tombak mereka secara horizontal, sedangkan 11 baris berikutnya mengangkat tombak mereka tinggi-tinggi, pada dasarnya mereka adalah sebagai cadangan ketika mereka dibutuhkan, yang langka terjadi. Perlindungan pada bagian sayap disediakan oleh pasukan kavaleri dan infanteri bersenjata ringan. Pasukan Seleukos juga dilengkapi dengan artileri pelempar batu besar yang dinamai Ballista. Itu adalah formasi yang kuat namun sulit digunakan tanpa mengorbankan elemen kejutan.

Formasi Phalanx, meski kuat dalam mendobrak dan melindas, namun formasi ini kurang lincah. (Sumber: https://www.hellenic-art.com/)

Dibiasakan dan dilatih dalam metode tradisional ini secara eksklusif, orang-orang Suriah tidak pernah mempertimbangkan keuntungan dari taktik mengganggu penempatan pasukan lawan atau mengubah taktik mereka untuk mengeksploitasi situasi di medan perang. Karena taktik pertarungan serangan langsung ini adalah satu-satunya strategi yang pernah mereka gunakan, kemungkinan untuk bertarung dengan cara lain tidak pernah terpikir oleh mereka. Sebaliknya, Yudas dan rekan-rekannya belum pernah melakukan pertempuran skala besar apa pun sebelumnya, dan mereka berhati-hati dalam mempertimbangkan semua opsi. Bagi para tentara Seleukos, ujian saraf yang tidak biasa mereka hadapi mulai membayangi. Suatu saat pada tahun 166 SM, pasukan ekspedisi yang terdiri 2.000 orang dari Apollonius maju ke Yerusalem melalui rute pegunungan dari arah Samaria. Pasukan ini dibagi menjadi 2 Unit chiliarchia, dimana komandannya Apollonius berkendara diantaranya. Melewati pertahanan Gophna milik orang-orang Yahudi di barat, Pasukan Seleukos melewati daerah yang dipenuhi oleh ngarai terjal dan yang sempurna untuk melakukan penyergapan, tetapi karena mereka belum pernah mengalami penyergapan, sehingga mereka sekarang tidak melindungi diri dari penyergapan. Sementara itu dengan membagi pasukan 600 orangnya menjadi empat unit, Yudas menempatkannya di Nahal el-Haramiah beberapa mil timur laut dari markasnya. Tanpa menyadari kesalahan yang mereka lakukan, orang-orang Suriah berbaris dalam barisan yang teratur ke dalam lorong sempit yang diapit oleh ratusan pejuang Yahudi yang terlatih dan bermotivasi tinggi. 

Yudas Makabeus, jenius militer Bangsa Yahudi. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Kampanye Militer Yudas Makabeus dari tahun 167-164 SM. (Sumber: Battles of the Bible)

Saat itu sore hari ketika unit penutup kepungan berhadapan dengan barisan depan tentara Seleukos, hal ini segera menyebabkan kebingungan dan kekacauan besar. Pasukan yang berada di belakang tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi dan terus maju, menyebabkan seluruh personel resimen menjadi sekelompok orang yang panik dan tidak dapat memahami apa yang terjadi pada mereka. Lereng timur lembah menjadi begejolak dengan kekuatan utama  orang-orang Yudea, menghantam bagian sisi tentara Seleukos sementara unit penyerang ketiga dan keempat bergerak dari arah utara dan timur. Para pemanah Yahudi membunuh Apollonius; dan orang-orangnya yang kini tidak memiliki pemimpin, terperangkap, dan benar-benar bingung dibiarkan berjuang sendirian dalam jenis pertempuran yang tidak mereka kenali. Dalam waktu singkat, pasukan Suriah dihancurkan secara massal, dan senjata serta peralatan mereka jatuh ke tangan pemberontak yang bersemangat. Kemenangan besar itu memberikan Makabe dukungan penting dalam meningkatkan kepercayaan dirinya. Mereka mulai memikirkan bisa memperoleh kemerdekaan langsung daripada sekadar bertahan hidup. Tentara Yudea kini membengkak jumlahnya, dan komandannya jauh lebih unggul dari lawannya, Jenderal Seron (pengganti Apollonius), yang terlalu percaya diri dan terlalu bersemangat dengan segera mencapai lokasi pertempuran, menghancurkan kelompok pemberontak yang kurang terorganisir, dan meningkatkan posisinya sendiri di ketentaraan. Seron memiliki opini yang rendah tentang kemampuan Apollonius dan melihat ketidakmampuannya sebagai satu-satunya alasan kekalahannya, tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa Yudas dan para perwiranya memang dapat beradaptasi dengan cemerlang. Satu-satunya penyesuaian nyata yang dilakukan Seron adalah mengerahkan pasukannya di sepanjang pantai Mediterania dengan dataran pantainya yang luas, sehingga mencegah terjadinya penyergapan. Berbelok ke pedalaman di sekitar Jaffa, para tentara Seleukos melewati Lod dalam perjalanan menuju ke rekan-rekan mereka yang terkepung di Yerusalem. Setelah menggabungkan pasukan mereka, mereka akan menyebar ke pedesaan dalam kampanye pencarian dan penghancuran besar-besaran terhadap pemberontak Yahudi. 

SUKSES KEDUA: PERTEMPURAN BETH HORON

Berharap untuk bisa menghindari deteksi orang-orang Yahudi, Seron pergi ke kota melalui rute sekunder melalui celah di daerah Beth Horon. Celah ini, kemudian nantinya akan digunakan oleh Divisi ke-90 dari pasukan Jenderal Allenby asal Inggris saat maju menuju Yerusalem yang dikuasai Pasukan Turki pada tahun 1917. Rute yang sama juga digunakan tentara Israel untuk bergerak maju ke kota tua Yerusalem dari arah utara dalam perang 6 hari tahun 1967. Namun 2.000 tahun sebelumnya, pengintai Yahudi segera menyadarinya gerakan pasukan Seleukos, dan Yudas bersiap untuk memanfaatkan sepenuhnya wilayah sempit yang bisa jadi sumber kemacetan yang dia ketahui ada di sepanjang jalan. 1.000 tentara Makabe bersiap untuk menghancurkan para penyerbu. Saat itu pasukan Yahudi kalah jumlah 4:1 dibanding pasukan Seron yang berjumlah 4.000 orang. Meski demikian Yudas menyemangati pasukannya bahwa mereka bertempur bagi rumahnya, keluarganya, dan bagi Tuhan mereka. Jalur pendakian melewati celah diapit dengan lereng curam sempurna untuk melakukan penyergapan, dan Seron sendiri berjaga-jaga dengan membuat barisan dibawah komandonya memiliki celah panjang di masing-masing unit, yang membuat seluruh kolom pasukan sepanjang lebih dari satu mil dan tidak mungkin untuk menjebak secara keseluruhan pasukan di dalam ngarai itu. Sementara itu dengan berbekal pedang yang dia ambil dari mayat Apollonius, Yudas secara pribadi memimpin unit pengepungan yang menyerang dan menghancurkan barisan depan pasukan Seleukos dan dengan cepat berupaya membunuh sang jenderal. Yudas meyakini bahwa membunuh komandan musuh secepat mungkin dalam pertempuran akan menentukan hasil pertempuran yang terjadi. Menurut sejarawan Yosephus, Yudas memerintahkan pasukannya untuk “dengan mengesampingkan perlawanan kuat musuh segera bergerak bersama mencapai Seron”. Seron adalah salah satu orang pertama yang tewas dalam pertarungan tersebut, saat para pemanah Yahudi yang ada di kedua lereng melepaskan tembakan mematikan dari busur dan ketapel mereka. 

Peta Pertempuran Beth Horon. (Sumber: Battles of the Bible)
Berbagai macam Prajurit Dinasti Seleukos. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Saat elemen utama barisan Seleukos terhuyung-huyung mundur dalam kekacauan, orang-orang Yahudi menyerang dengan pedang yang baru mereka rampas. Sekali lagi dengan diliputi oleh ketakutan, keterkejutan, dan kebingungan total, pasukan Suriah dengan tergesa-gesa mundur, meninggalkan 800 orang tewas dan sebagian besar peralatan mereka. Saat satuan belakang berbalik dan melarikan diri, para pemberontak mengejar mereka ke dataran pantai dan membunuh lebih banyak lagi orang-orang Suriah. Ketika berita kemenangan menyebar ke seluruh perbukitan, pasukan Yudas telah berkembang menjadi lebih dari 6.000 orang, dengan rekrutan berdatangan dari seluruh penjuru Yudea. Antiokhus IV akhirnya memahami bahwa lawannya adalah seorang jenius militer alami, berbakat dalam menggunakan kesempatan, medan, kejutan, moral, dan memiliki kepercayaan diri. Para Veteran tentara Yudas juga melakukan pekerjaan dengan baik dalam melatih para prajurit baru dalam menggunakan persenjataan terbaru yang berhasil mereka rampas.

“MENCABUT DAN MENGHANCURKAN KEKUATAN ISRAEL” 

Pada titik ini, perang saudara yang tidak terkait terjadi di wilayah timur Kekaisaran Seleukos. Kabar tentang nasib Seron mencapai Antiokhus saat dia bersiap untuk menghentikan pemberontakan ini dan mengisi kembali cadangan keuangannya yang semakin menipis. Dia memilih untuk melanjutkan misi domestiknya dan mempercayakan urusan dengan orang-orang Yudea kepada kerabatnya, Lysias. Namun, dia memiliki masalah yang kerap muncul dengan perang dua front — yakni tenaga kerja yang terbatas. Persentase substansial dari pasukan Suriah yang dialokasikan untuk mengatasi kerusuhan domestik harus tersedot ke Yudea. Sementara itu, pengalaman militer Lysias terbatas, tetapi tidak perlu adanya seorang Alexander untuk memahami instruksi kaisar kepada sanak saudaranya yang baru memulai kariernya: “Cabut dan hancurkan kekuatan Israel dan sisa-sisa perlawanan rakyat Yudea. Hapus semua memori mereka di tempat itu. Tenangkan orang asing di wilayah itu dan berikan tanah itu kepada para pemukim. ” Demikian perintah singkat yang ia terima. Lysias, yang cukup bijaksana, tidak mau memimpin ekspedisi itu sendiri. Dia memberikan tugas kepada Jenderal Ptolemeus, Nicanor, dan Gorgias. Berangkat pada musim semi 165 SM, pasukan Suriah yang berjumlah sekitar 20.000 orang. Dengan mendirikan markas besar di Emaus, di kaki bukit tepat di atas lembah Ayalon, tiga serangkai itu merasa yakin mereka tidak akan dihadapkan pada penyergapan di ngarai sempit. Mereka bertekad untuk melawan lawan mereka di tempat terbuka, tanpa memberikan kesempatan bagi musuh untuk merencanakan atau mempersiapkan serta beradaptasi. 

Ketika pedesaan di sekitarnya perlahan-lahan berada di bawah kendali orang-orang Yahudi, garnisun Suriah di Yerusalem diisolasi dan dalam bahaya kewalahan atau kelaparan dimana mereka sewaktu-waktu mereka harus tunduk. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

PEMBERONTAK MELAKUKAN REORGANISASI

Sementara itu, Yudas telah mengatur pasukannya menjadi unit-unit yang lebih kecil dan lebih mudah diatur yang mampu berperang secara mandiri dengan cara yang lebih konvensional. Pasukan Suriah tidak akan menghadapi pasukan non reguler kali ini, tetapi pasukan profesional yang terlatih dan bermotivasi tinggi yang berjuang untuk bertahan hidup melawan lawan yang berada di sana tanpa alasan lain selain untuk mematuhi perintah. Sementara kedua belah pihak membuat persiapan di menit-menit terakhir, para tentara Seleukos secara tak terduga diperkuat oleh sejumlah pasukan baru dari wilayah Idumea, tepat di selatan Yudea. Kamp yang luas itu semakin ramai oleh massa pengikut kamp dan pedagang budak yang menanti “jarahan” setelah kekalahan yang diharapkan datang di pihak pemberontak Yahudi. Selain rantai dan cambuk, para penjual budak juga membawa emas dan perak dalam jumlah besar sebagai persiapan untuk mendirikan pasar budak yang menguntungkan. Kamp itu menjadi semacam hadiah yang semakin bernilai dari jam ke jam. Yudas dan saudara-saudaranya Simon, Johanan, dan Yonatan memimpin empat pasukan yang masing-masing berjumlah 1.500 orang yang di era modern setara dengan ukuran batalion. Batalion ini kemudian dibagi lagi menjadi satuan berukuran setara kompi, yang terdiri dari 100 orang. Kompi ini masih dibagi menjadi satuan 50 orang setara pleton, yang kemudian dibagi menjadi 5 seksi masing-masing 10 orang (nyaris sama persis dengan unit ketentaraan modern), yang mereka kumpulkan di Mizpa di jalan menuju Beth Horon tepat di barat laut Yerusalem. Setelah memastikan posisi musuh, Yudas memindahkan markasnya ke daerah perbukitan dekat Latrun. Kamp-kamp prajurit yang saling berlawanan sekarang saling mengawasi, dan para pemberontak memutuskan untuk membiarkan musuh mereka mengambil langkah pertama. Mereka bisa melihat dari patroli yang berkerumun dan aktivitas yang ramai bahwa pihak tentara Suriah bersiap untuk menyerang lebih dulu.

Judas Maccabeus dengan pasukannya. (Sumber: https://breakingmatzo.com/)

PENYERGAPAN ORANG-ORANG YUDEA DALAM PERTEMPURAN EMAUS

Gorgias bermaksud untuk mengejutkan orang-orang Yahudi dengan menyerang mereka pada malam hari, tetapi jaringan spionase Makabe memastikan bahwa panglima tertinggi mereka telah diperingatkan sebelumnya, dan dia dengan cepat menyusun tindakan balasan. Menginstruksikan agar sejumlah api unggun yang dinyalakan, Yudas memberi kesan kepada pengintai Suriah bahwa kampnya sepenuhnya dihuni, sementara dia menarik sebagian besar pasukannya dan meninggalkan sebagian tentaranya untuk menjaga api tetap menyala dan bertindak sebagai umpan. Ketika pasukan Gorgias yang berjumlah 6.000 orang menyerang ke posisi awal orang Yahudi, mereka hanya menemukan barisan belakang pasukan lawan, yang sedang melarikan diri ke lembah Shaar Hagai. Dalam kegelapan, orang-orang Seleukos mengira kelompok kecil ini adalah kelompok utama kaum pemberontak dan pergi mengejar mereka melalui medan yang sempit, di mana mereka kemudian segera diserang oleh 1.500 prajurit yang sudah menunggu. Yudas sebelumnya telah menempatkan 1.500 orang lagi di utara kamp Suriah untuk menyerangnya dari belakang ketika ia dan 3.000 tentaranya yang tersisa melancarkan serangan fajar yang direncanakan, tetapi musuh yang memiliki jaringan mata-mata sendiri diperingatkan akan pasukan pemberontak yang mendekat. Yudas tercengang saat melihat pasukan lawan sepenuhnya siap untuk berperang, disusun dalam barisan Phalanx tepat di depan kampnya saat fajar. 

Fase I Pertempuran Emaus. (Sumber: Battles of the Bible)

Dengan hilangnya elemen penting kejutan, Yudas kembali menggunakan akal sehatnya dan membagi komandonya menjadi tiga batalyon 1.000 orang untuk menyerang tentara Seleukos di sayap barat mereka yang rentan. Sementara salah satu dari kelompok ini menyerang pasukan kavaleri yang melindungi, dua lainnya menyerang formasi musuh dari samping. Untungnya bagi orang-orang Yahudi, formasi Phalanx itu menghadap ke selatan, dan mereka muncul di barat. Seandainya mereka muncul tepat di depannya, mereka mungkin tidak akan dapat melakukan serangan balasan tanpa dilihat oleh pihak Suriah dan berbalik menghadap mereka. Saat itu, para Seleucid, yang masih hanya mengenal satu cara untuk bertarung, mulai menyerah dalam pertarungan tangan kosong yang berdarah. Meski masih ada sekitar 12.000 tentara di perkemahan Emaus. Mereka tidak mengira harus bertarung hari itu, dengan asumsi bahwa barisan Gorgias akan melindungi mereka dari musuh. Ketika suara pertempuran mencapai 1.500 tentara Yahudi di utara, mereka berasumsi bahwa kamp mereka sedang diserang dan menyerbu dari posisi tersembunyi mereka. Serangan ini membuat pasukan Suriah yang unggul jumlahnya benar-benar lengah, dan pasukan Seleukos dilemparkan ke dalam kekacauan. Pada titik ini, barisan itu runtuh dan para penyintasnya mundur ketakutan ke tempat yang dianggap aman dari pangkalan mereka. Tetapi setelah mencapai itu, mereka terjebak dalam kekacauan yang mengerikan dan terpencar-pencar di antara kuda-kuda yang menginjak-injak, gajah pengangkut barang, dan para pedagang budak yang ketakutan dan rombongan mereka.

Pertempuran Emaus Fase II. (Sumber: Battles of the Bible)
Yudas Makabeus memimpin pertempuran Emaus. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Setelah orang Yahudi membunuh 3.000 orang Nicanor, sisanya melarikan diri ke pantai. Dengan pikiran yang luar biasa dinginnya, Yudas melarang anak buahnya mengejar mereka atau mulai menjarah — Gorgias belum juga dihabisi. Dengan membakar kamp, para prajurit Yahudi mengirimkan asap tebal ke atas, menarik perhatian Gorgias akan adanya kekuatan kecil yang mengganggunya. Khawatir bahwa mereka akan segera terjebak di antara dua pihak yang ahli dan pejuang yang gigih, tentara Suriah yang tersisa menyerah pada ketakutan dan bergabung dengan pelarian massal ke pantai, yang segera dikejar dengan gencar oleh seluruh tentara Yudea. Para pemberontak, sementara itu, mulai mengumpulkan harta yang berlimpah di perkemahan musuh, termasuk gudang senjata dan peralatan lainnya. Kini tentara Yudas makin membengkak menjadi 10.000 orang.

MAJU DENGAN TERGESA-GESA, MUNDUR DENGAN CEPAT 

Segalanya tampak suram bagi lawan orang-orang Yahudi yang terhuyung-huyung. Lysias selamat dari kehancuran di Emmaeus, berhasil kembali ke Antiokhia, dan tidak membuang waktu untuk mengumpulkan kekuatan lain untuk melanjutkan konflik. Masih berharap untuk bisa bergabung dengan garnisun Yerusalem-nya, Lysias sekali lagi berangkat di sepanjang rute pesisir, tetapi kali ini dia menghindari dataran tinggi yang berbahaya dan mendekati melalui wilayah yang bersahabat, berbelok ke utara dan mendirikan kemah di Beth Zur di wilayah paling selatan Yudea. Bermaksud untuk mengerahkan pasukannya yang terdiri dari 24.000 orang ke Yerusalem dan menjadikannya sebagai pusat kekuatan yang tak tertembus bagi pasukannya di seluruh wilayah, Lysias mulai menyebarkan pasukannya ke segala arah menuju Kota Suci, membasmi perlawanan pemberontak yang mereka hadapi. Kekurangan dari rencana ini adalah bahwa tidak ada cara untuk bisa mencapai Yerusalem tanpa melintasi dataran tinggi, dan orang-orang Yahudi telah berkumpul di wilayah yang terbelah jurang di sekitar Hirbet Beth Heiran. Yudas saat itu membagi pasukannya menjadi empat unit dengan ukuran berbeda-beda, dengan 5.000 orang disimpan sebagai cadangan. Saat satuan-satuan tentara Hellenis melewati ngarai berbahaya Yudea lainnya, mereka sekali lagi siap untuk dibantai. Lysias dengan tidak sabar telah mengumpulkan sejumlah besar tentara bayaran dan wajib militer yang belum teruji dan kurang terlatih dengan tujuan untuk mengalahkan pemberontakan melalui kekuatan yang lebih besar. Besarnya kekuatan yang dikerahkan memudahkan orang-orang Makabe untuk melacaknya saat ia bergerak dengan mencolok di sepanjang dataran pantai yang datar. Lysias membawa tentaranya menuju bencana ketika dia berbelok ke wilayah pedalaman dan memasuki desa perbukitan setelah mendirikan markas di wilayah yang berbatasan dengan dataran tinggi.

Pertempuran Beth Zur. (Sumber: Battles of the Bible)

Dengan susah payah menanjak dengan membawa beban baju zirah dan senjata mereka, tentara Seleukos benar-benar Dalam posisi rentan ketika 3.000 orang Yahudi yang dengan berteriak menyerbu dari parit yang baru saja dilewati. Para tentara Seleukos yang tidak siap dan tidak termotivasi di depan barisan itu dengan cepat menyingkir dan mulai mengalir kembali ke arah dimana mereka datang. Pelarian massal tersebut membuat panik unit-unit belakangnya, yang kemudian diserang dari kedua sisi ngarai oleh dua barisan Yahudi yang terdiri dari 1.000 orang. Sementara itu, masih ada 8.000 tentara Suriah di base camp, dan untuk melawan mereka, Yudas telah menyisihkan 5.000 orang pasukan cadangannya. Namun, orang-orang Suriah yang berkemah segera mengambil langkah kolektif mereka ketika unit-unit terdepan yang hancur melarikan diri di tengah-tengah mereka dengan gerombolan orang Yahudi yang berteriak dalam melakukan pengejaran yang bersemangat. Pada saat para petempur Yahudi mencapai bivak musuh, mereka tidak menemukan musuh yang masih tersisa untuk diperangi — mereka semua telah melangkah ke selatan menuju posisi yang relatif aman di kota Hebron, Idumea. 

MENGEPUNG ACRA

Yudas memutuskan untuk tidak mengejar musuh-musuhnya yang telah dipukul kalah hingga ke wilayah musuh. Dia telah menewaskan 5.000 dari mereka dalam bencana militer lainnya yang dialami Antiokhus IV yang malang. Dengan pikiran analitisnya yang tajam, Yudas menyadari bahwa kemenangan terakhirnya itu telah dipermudah hanya karena lawannya telah membiarkan kemarahan, ketidaksabaran, kesombongan, dan ketakutan mendorongnya untuk bertindak tanpa persiapan yang memadai. Panglima perang pemberontak dengan tepat berasumsi bahwa musuhnya belum akan menyerah untuk melanjutkan perang. Pemimpin Seleukos yakin akan bisa mendapatkan komandan yang lebih cakap dan bisa mengirimnya kembali ke Yudea dengan pasukan tangguh lainnya. Namun karena terganggu oleh perebutan kekuasaan internal, rezim Suriah tidak dalam posisi untuk memulai ekspedisi penghukuman lainnya. Terdapat jeda dalam perang, dan Yudas menghabiskan waktu istirahat itu dengan memproklamirkan kemerdekaan mereka kepada orang-orang sebangsanya dan memulihkan kebebasan beribadah. Sementara itu, masih ada garnisun Seleukos di Yerusalem yang tidak bertaji, dimana anggotanya telah menghabiskan beberapa bulan terakhir untuk membentengi diri mereka sendiri dan mengisi benteng mereka dengan makanan, air, dan senjata sementara orang-orang pimpinan Yudas menduduki tempat-tempat lain. Bagian dari pasukan Suriah ini bercokol di sebuah benteng yang disebut Acra, dan para patriot Yahudi segera menyerang posisi ini segera setelah mereka memasuki kota sehabis kekalahan Lisias. Saat pertempuran masih berlangsung, imam-imam suci memasuki kuil, memulihkannya, dan menghapus pencemaran yang dilakukan kaum pagan. Talmud mencatat bahwa setelah para imam menahbiskan dan mendedikasikan kembali tempat suci pada 164 SM, persediaan minyak persembahan untuk satu hari bisa terbakar selama delapan hari. Keajaiban ini menandai dimulainya festival Hanukkah.

Peta Ekspedisi Penyelamatan. (Sumber: Battles of the Bible)
Setelah Makabeus menguasai kembali Yerusalem para Imam Menyucikan kembali Bait Suci Orang Yahudi. Hal ini menandai dimulainya festival Hanukkah yang terus dikenang orang Yahudi setiap tahunnya. (Sumber: http://www.solaceradio.com/)

Sementara itu, Pasukan Suriah di tempat lain di daerah itu, tidak mau menghadapi pasukan Makabe dalam pertempuran konvensional, mereka memilih menyerang warga sipil tak bersenjata di Galilea dan Gilead, sebelah timur Sungai Yordan. Dengan mengirimkan ke Galilea sebuah ekspedisi penyelamat yang terdiri dari 3.000 orang yang dipimpin oleh saudaranya Simon, Yudas membawa 8.000 orang lainnya, menyeberangi Sungai Yordan, dan berangkat ke Gilead melalui gurun Trans-Jordan. Simon dengan cepat mengalahkan pasukan musuh kecil, menyelamatkan para tahanan, dan kembali bersama mereka ke Yudea. Sementara itu, Yudas berkonsentrasi menyerang serangkaian kota berbenteng di timur Dataran Tinggi Golan. Dimulai dengan Bostra, dia menaklukkan beberapa permukiman Hellenis sampai akhirnya tiba di Dathema, yang dikepung oleh pasukan Seleukos dan Idumean dengan memanjat tembok luarnya. Menghantam para pengepung yang terkejut dari belakang, Yudas dengan cepat membuat mereka kabur. Dia selanjutnya melakukan penjelajahan ke barat laut dan melawan komandan baru Suriah, Timotheus, yang melakukan serangan balik ke luar kota Raphon. Yudas tidak hanya membalikkan serangan ini, tetapi juga merebut dan menjarah kota. Setelah membebaskan orang-orang Yahudi Gilead yang teraniaya, dia bertempur kembali melalui wilayah musuh dan kembali ke Yudea. Pada sekitar waktu ini, kabar tiba di Yudea tentang kematian Antiokhus dan perebutan kekuasaan yang diakibatkan antara putranya Antiokhus V Eupator dan almarhum wali penguasa, Phillip. Menyadari Kekaisaran Seleukos yang sudah melemah sedang berada dalam kekacauan, Yudas memutuskan untuk memanfaatkan peralatan pengepungan yang direbutnya dan mengirimnya ke benteng yang dikuasai Suriah di Acra. Serangan Makabe berikutnya di benteng itu terjadi pada awal tahun 162 SM. Pihak Seleukos yang bertahan melawannya, dibantu oleh kontingen Yahudi Hellenis yang cukup besar di dalam benteng yang takut dieksekusi sebagai pengkhianat jika mereka ditangkap hidup-hidup. Setelah upaya penyerangan awal, Yudas mengumpulkan kembali tentaranya ke posisi pengepungan untuk memaksa penyerahan yang walau berjalan lebih lambat namun tak terelakkan. Beberapa orang Suriah melarikan diri dari Acra dan berjalan kembali ke Antiokhia, di mana mereka memohon Lysias untuk membebaskan rekan-rekannya di Acra.

GERAK MUNDUR YANG BIJAKSANA 

Orang-orang Makabe tidak mengira kalau Lysias akan meninggalkan ibukotanya sampai setelah bisa menyelesaikan masalah dengan Phillip, tetapi Phillip sendiri sedang pergi bertempur melawan pasukan Lysias di timur dan untuk sementara waktu tidak begitu mengganggunya. Dengan mengumpulkan 30.000 tentara bersenjata lengkap dan 30 gajah perang, Lysias berangkat ke Yerusalem melalui rute yang sama yang diambilnya terakhir kali, mendekati dari arah selatan. Tentara ini kemudian menyerang kota perbatasan Beth Zur, memaksa Yudas untuk menghentikan kepungan Acra dan segera menghadapi ancaman yang tidak terduga ini. Jelas ia berpikir bahwa cara terbaik untuk mengejutkan musuh-musuhnya adalah dengan bertindak secara tidak konvensional, Yudas sendiri tidak berusaha untuk membebaskan Beth Zur, melainkan mengambil posisi 12 mil di selatan Yerusalem di Beth Zecharia. Setelah mengamankan Beth Zur, Lysias berbaris untuk menemui musuh bebuyutannya. Setelah mempelajari pengalaman pahitnya, dia mengerahkan unit-unit sayapnya ke dataran tinggi yang mengapit jalur pasukannya untuk menghindari serangan para pemberontak ke sisinya yang tidak terjaga, seperti pengalamannya dulu. Untuk pertama kalinya, orang-orang Makabe akan berperang dalam pertempuran defensif. Itu adalah pengalaman yang tidak pernah mereka alami, dan keberadaan gajah raksasa berbaju zirah membuat mereka takut. 

Peta Pertempuran Beth Zecharia. (Sumber: Battles of the Bible)
Lukisan gugurnya Eleazer Maccabeus. (Sumber: https://es.artsdot.com/)

Dalam keputusasaan, adik laki-laki Yudas, Eleazar, menunduk di bawah salah satu raksasa itu dan menusukkan pedangnya ke dada hewan itu, membunuhnya. Gajah itu jatuh dan membunuh prajurit muda pemberani itu — saudara kandung Yudas pertama yang tewas dalam pertempuran. Orang-orang Suriah akhirnya bertempur dalam jenis pertempuran yang telah dilatihkan kepada mereka, dan mereka terus maju terus, menghancurkan orang-orang Yahudi dengan kekuatan yang lebih besar. Dengan mengabaikan kebanggaan atau egonya, Yudas dengan bijak kemudian memerintahkan pasukannya untuk mundur. Memilih untuk tidak mencoba dan mempertahankan Yerusalem dengan pasukannya yang babak belur, dia berhenti cukup lama untuk membentengi Bait Suci sebelum mundur ke Gophna. Ketika mereka memasuki kota, para penyerbu segera menyerang garnisun Bait Suci, tetapi mereka berhasil dipukul mundur dengan pengorbanan besar. Para pemberontak berdoa agar orang-orang Seleukos tidak mengetahui tentang kekurangan makanan dan perbekalan lain yang secara serius akan membahayakan seluruh revolusi.

PERDAMAIAN SINGKAT

Sementara itu pembawa pesan memberi tahu Lisias bahwa Phillip sedang dalam perjalanan kembali ke Antiokhia, dengan niatan penuh untuk mengambil alih pemerintahan. Di ambang kemenangannya yang sangat dibutuhkan dan tak terduga, pemimpin Seleukos ini terjebak dalam dilema, tetapi dia menemukan solusi yang cerdik. Menyadari bahwa kaum revolusioner tidak akan menyadari situasinya berkaitan dengan Phillip, dia menawarkan gencatan senjata kepada Yudas yang terkejut, dengan menjanjikan otonomi dan kebebasan beragama. Setelah Makabe menerima persyaratan tersebut, Lisias bergegas kembali ke Antiokhia, menghancurkan pasukan Phillip, dan mengkonsolidasikan posisinya sebagai penguasa Seleukos — sementara. Calon Kaisar Antiokhus V Eupator baru berusia sembilan tahun pada tahun 162 SM ketika sepupunya Demetrius dibebaskan oleh orang Romawi, yang telah menahannya sebagai sandera politik, dan kembali ke Antiokhia. Demetrius dengan cepat mendapatkan dukungan rakyat, merebut kekuasaan, dan mengeksekusi Lysias dan Antiokhus muda. Demetrius lalu memberlakukan kembali penindasan di Yudea, dan Makabe, yang dengan menyesal telah bersumpah dengan tidak akan lagi menggunakan taktik konvensional, melanjutkan perlawanan mereka yang cara perang yang tidak konvensional, menyergap dan menghancurkan pasukan Suriah yang besar yang dipimpin oleh Jenderal Nicanor di utara Yerusalem pada musim semi tahun 161 SM. Kepala dan tangan Nicanor kemudian digantung di gerbang Bait Suci. 

Demetrius I. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

RUNTUHNYA PEMBERONTAKAN

Setelah aksi yang mengesankan ini, Yudas dengan cerdik menegosiasikan perjanjian aliansi dengan Roma yang mengakui Yudea sebagai negara merdeka. Untuk pertama kalinya sejak era sebelum pembuangan di Babilonia, orang-orang Yahudi memiliki negara yang berdaulat sendiri. Demetrius takut Yudea yang didukung Roma akan membujuk musuhnya yang lain, Mesir, untuk bergabung dengan aliansi dan menyerbu kerajaannya melalui Yudea. Mendasarkan tindakannya pada laporan bahwa bahwa tentara Makabe sudah dibubarkan, Demetrius mengirimkan ekspedisi berjumlah 24.000 orang pada musim semi 160 SM. Benar saja, Yudas tidak mampu mengerahkan pasukan lebih dari 3.000 orang. Bergabung dalam pertempuran di Elasa, sekitar enam mil sebelah timur Beth Horon, tentara Seleukos bentrok sebentar dengan para petempur Yahudi, yang telah terdemoralisasi, kalah jumlah delapan lawan satu, mereka panik dan melarikan diri, meninggalkan komandan mereka yang tak terkalahkan dengan hanya 800 orang veteran yang gagah berani. Menurut kitab Makabe, pemimpin yang pemberani ini sempat berkata: “Mari kita menyerang, dan kita lihat apa kita bisa mengalahkan mereka.” Anak buahnya sebenarnya membujuk Yudas untuk mundur dan kembali melakukan taktik gerilya. Namun Yudas menjawab: “Tuhan melarangku untuk melakukan hal semacam itu, jika waktu kita datang, biarlah kita mati dengan berani bagi bangsa kita, dengan tanpa mengotori kehormatan kita.” Memimpin kelompok kecilnya dalam serangan putus asa di sayap kanan musuh, Yudas membunuh sejumlah besar tentara Seleukos tetapi gagal dalam tujuan penting membunuh komandan mereka, Jenderal Bacchides. Sebaliknya, Yudas dan kelompok kecil loyalisnya dimusnahkan.

Peta Pertempuran Elasa. (Sumber: Battles of the Bible)
Lukisan meninggalnya Judas Maccabeus. (Sumber: Photo by Culture Club/Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Setelah membutuhkan waktu terlalu lama bagi pasukan Suriah, akhirnya dalam diri Bacchides mereka mampu menemukan seorang pemimpin yang bisa meramu strategi yang tepat dan menanamkan fleksibilitas yang dibutuhkan ke dalam formasi Suriah. Dengan menyadari keunggulan numerik yang sangat kuat yang dinikmati orang-orang Suriah dalam bentrokan bulan April itu, dapat dikatakan bahwa Yudas Makabe ditarik ke dalam perangkap, bahkan meski mereka menyadarinya sejak awal, bahwa mereka tidak dapat membiarkan orang Suriah ini menyerbu tanpa perlawanan di seluruh Yudea. Menghadapi pasukan semacam ini seperti yang mereka lakukan, sebelum mereka punya waktu untuk mengumpulkan tentara yang cukup, adalah hal yang tidak dapat mereka hindari — merupakan kesalahan yang fatal. Namun nampaknya ada alasan tersendiri dari Yudas kenapa dia memilih untuk bertempur sampai mati. Yudas ingin memberi inspirasi bagi bangsanya, dimana pengorbanannya diharapkan dapat memotivasi orang-orang Yahudi untuk tetap berjuang bagi kemerdekaannya. Dalam hal ini ia berhasil

WARISAN YUDAS MACCABEUS

Bukan hal yang aneh, jika Yudas dijuluki sebagai “Palu”. Kemampuan beradaptasi di medan perangnya yang tak tertandingi, kemahiran dalam mengeksploitasi kesalahan musuh, kemampuan bertarung di malam hari, dan kemampuannya menggunakan medan secara efektif, serta bagaimana ia memanfaatkan unsur kejutan, dan aktivitas spionasenya membuatnya menjadi masalah besar bagi komandan-komandan Seleukos. Setelah kematian Yudas, saudara laki-lakinya Jonathan dan Simon terus berjuang hingga akhirnya berhasil mencapai impian Yudea yang merdeka secara agama dan politik. Yudea pada akhirnya memang bebas dari pemerintahan Seleukos dan kematian Antiokhus VII pada tahun 129 SM semakin menegaskan hal ini. Meskipun tidak ada saudara laki-laki Yudas yang masih hidup saat bangsa Israel memperoleh kemerdekaannya, dengan Simon sebagai pemimpin terakhir orang Makabe yang meninggal pada 134 SM, impian mereka tetap berkembang di tengah bangsa Yahudi. Ini adalah pertama kalinya dalam catatan sejarah bahwa rakyat jelata berhasil memenangkan perang revolusioner untuk kebebasan beragama mereka. Karena dia bertempur dalam satu perang yang dicatat dengan buruk, Yudas Maccabeus sebagian besar terlupakan dibawah bayang-bayang jenius militer seperti Alexander Agung, Julius Caesar, Genghis Khan, Napoleon Bonaparte, Shaka Zulu, dan para penakluk hebat lainnya. Berbeda dengan mereka, Yudas adalah orang dengan motivasi mulia yang berjuang karena tidak punya pilihan lain. Tidak terkekang oleh cara-cara bertempur kuno, dia belajar sendiri dan melatih para pengikutnya untuk bertarung melalui metode yang tepat melawan musuh mereka yang kuat tetapi taktiknya ketinggalan zaman. Para ahli strategi militer berteknologi tinggi saat ini akan sangat senang mempelajari pemimpin partisan yang rendah hati di masa lalu ini, yang tidak menginginkan apa pun lebih bagi dirinya dan rakyatnya selain diizinkan untuk hidup dan beribadah dengan damai.

Pada akhirnya orang-orang Yahudi berhasil memperoleh kemerdekannya dan bisa kembali beribadah dengan damai. (Sumber: Artwork by Alex Levin/https://artlevin.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Judas Maccabeus, Hammer of the Jews

Battles of the Bible By Chaim Herzog & Mordechai Gichon; p 265, p 267-272, p 275, p 277, p 295-296; 1997

The Maccabean Revolt By Harry Oates published on 29 October 2015

https://www.ancient.eu/article/827/the-maccabean-revolt/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *