Juli-Agustus 1966: Saat Moshe Dayan Pergi ke Vietnam Setahun Sebelum Pecah Perang 6 Hari.

Pada tanggal 12 Juli 1966, mantan Kepala Staf IDF Moshe Dayan — jenderal tempur flamboyan, kontroversial yang sukses besar memimpin serangan ke Semenanjung Sinai selama perang 1956 dengan Mesir — naik jet komersial di London dalam perjalanan ke Vietnam Selatan. Dayan yang saat itu sudah berusia 51 tahun telah mengundurkan diri dari posisi militer pada tahun 1958, untuk terjun ke dunia politik tahun berikutnya dan telah bertugas selama lima tahun sebagai menteri pertanian bangsanya. Dia sekarang adalah penulis “Sinai Diary”, sebuah media cetak di Israel sekaligus seorang pendukung partai di Parlemen Israel (Knesset) dan seorang warga negara bebas yang ingin pergi ke tempat petualangan bisa didapat. Keputusan Dayan untuk melakukan perjalanan ke negara yang dilanda perang itu dikritik dari banyak pihak: sesama anggota partai melihatnya sebagai langkah yang salah arah, dan MK Shmuel Mikonis dari partai komunis Maki menentang perjalanannya itu dan mengklaim bahwa kehadiran sosok terpandang Israel di tengah perang yang kontroversial itu akan merusak citra netralitas Israel. Menteri Luar Negeri, Abba Eban, menolak klaim ini, tetapi dia sendiri benar-benar bingung atas langkah Dayan yang baginya tampak sebagai langkah tergesa-gesa dan tidak dipertimbangkan matang; dia mempertanyakan mengapa Dayan sama sekali tidak berkonsultasi dengan pemerintah sebelum memutuskan pergi. Perdebatan sengit tentang perjalanannya ke Vietnam diadakan di Knesset, tetapi Dayan tidak ambil peduli atas berbagai reaksi yang muncul.

Dengan mengabaikan berbagai tentangan tokoh-tokoh di Israel, Moshe Dayan pada bulan Juli 1966 memantapkan pilihannya untuk pergi ke Vietnam.

TUJUAN KE VIETNAM

Dayan menjadi kepala staf Angkatan Bersenjata Israel pada tahun 1953. Dalam posisi itu ia menyusun – dan mengeksekusi – rencana untuk invasi Sinai pada tahun 1956. Sepuluh tahun kemudian, Dayan sangat ingin sekali melihat perang lain. Sudah ”sepuluh tahun sejak saya terakhir berperang, sepuluh tahun sejak saya berhadapan dengan tank, meriam lapangan, dan pesawat musuh yang menyerang — dan sekaligus di depan para prajurit nya,” tulis Dayan dalam memoarnya yang diterbitkan di Amerika Serikat pada tahun 1976. “Saya ingin melihat sendiri, di tempat dimana perang modern dilakukan, bagaimana persenjataan baru yang dibuat digunakan dalam pertempuran dan apakah hal itu dapat diadopsi oleh angkatan bersenjata milik kita sendiri. ” Dayan — yang kemudian akan mengokohkan reputasi militernya dengan memimpin Israel menuju kemenangan dalam Perang Enam Hari 1967 — memilih untuk mengunjungi Vietnam pada tahun 1966, karena baginya tempat itu adalah “laboratorium ‘militer’ terbaik dan satu-satunya yang bisa didapat saat itu.

Saat ditanya mengapa ia pergi ke Vietnam, Moshe Dayan menjawab dengan singkat bahwa ia ingin melihat “perang modern dilaksanakan”.

Jadi, Dayan untuk memuluskan rencananya, bermaksud untuk menulis serangkaian artikel surat kabar untuk tiga media massa: Maariv, surat kabar top Israel; London Sunday Telegraph; dan The Washington Post. “Artikel-artikel itu akan membahas pengamatan saya tentang situasi politik di sana,” kata Dayan kepada wartawan ketika ia meninggalkan London. “Saya juga sangat tertarik dengan pertempuran. Saya berharap bisa diperbolehkan menyertai penugasan di unit tempur militer Amerika. ” Ternyata, Dayan menulis lebih banyak tentang strategi dan taktik militer daripada tentang situasi politik. Dia merasa paling menikmati menulis tentang masalah militer karena dia telah menghabiskan hampir seluruh karirnya dalam seragam tempur untuk negaranya. Meski demikian Dayan yang juga terlibat dalam dunia politik di Israel, juga tidak mengabaikan situasi politik di Vietnam. Selama lima minggu di negara itu, Dayan menghabiskan waktu di lapangan dengan lebih dari satu unit militer Amerika dimana dia dengan sangat antusias membenamkan dirinya ke dalam perang Vietnam dengan nyali yang hanya dimiliki oleh segelintir pejabat tinggi yang pernah atau akan pernah berkunjung ke Vietnam.

BERTEMU MONTGOMERY SEBELUM KE VIETNAM

Dayan bertemu Komandan Military Assistance Command, Vietnam (MACV) Jenderal William Westmoreland; dan makan malam bersama Jenderal Harold K. Johnson, kepala staf Angkatan Darat A.S. yang juga berkunjung ke Vietnam; ia berbincang dengan Letnan Jenderal Stanley R. “Swedia” Larsen, komandan I Field Force; juga dengan komandan2 divisi dan batalion; dimana dia pergi berpatroli bersama dengan komandan kompi dan para prajurit yang mereka pimpin. Dia juga menghadapi penyergapan lebih dari satu kali. Dari observasi yang dia buat, ia kemudian memiliki keyakinan bahwa Amerika berperang dengan cara perang yang salah di Vietnam — dan perang ini dia yakini, paling-paling, akan berakhir dengan jalan buntu. Moshe Dayan mengatakan bahwa dia menyadari bahwa dia hanya tahu sedikit tentang perang di Vietnam sebelum dia memutuskan untuk pergi ke sana. Pada awalnya dia pergi ke Paris, London dan Washington untuk memahami pemikiran beberapa tokoh militer berpengalaman. Di Paris ia bertemu dengan para jenderal yang bertempur di Vietnam selama Perang Indochina pertama (1945-54). Di London, ia sempat mengadakan audiensi dengan Marsekal purnawirawan Inggris, Bernard Montgomery, yang sempat ditemui Dayan di awal tahun 50-an.

Sebelum ke Vietnam, Moshe Dayan menyempatkan diri untuk bertemu dengan Field Marshal Montgomery. Dalam pertemuannya, Monty menyebut petualangan Amerika di Vietnam adalah hal yang gila.

Monty mengatakan kepada Dayan bahwa Amerika telah menerapkan strategi yang salah dengan bergantung pada sejumlah besar pasukan tempur, pemboman agresif dan rencana memindahkan seluruh populasi desa yang terancam oleh Viet Cong ke tempat yang aman. Kebijakan itu, kata Montgomery yang telah berusia 78 tahun, kepada Dayan, adalah hal yang “gila.” Ex Field-Marshal Bernard Law Montgomery, memiliki pandangan yang jelas tentang topik Vietnam. Dia melihat Cina sebagai kekuatan yang terus meningkat. “Orang-orang Amerika salah karena ingin memaksakan ‘gaya hidup’ mereka pada orang lain.” Dayan merangkum hasil pertemuan itu dalam diary-nya, “saya pergi setelah dua jam berbincang, dan ketika berpisah dia mengatakan: ‘Ketika kamu kembali dari Vietnam, datang dan beri tahu saya apa yang kamu pikirkan dan beri tahu orang-orang Amerika bahwa mereka gila. ‘”(10 Juli 1966,“ Vietnam Diary ”).

PEMIKIRAN PETINGGI MILITER AMERIKA

Setelah pertemuannya di Paris dan London, Dayan terbang ke Washington, tempat ia menghabiskan waktu lebih dari seminggu untuk mempelajari dengan cepat strategi dan taktik Amerika di Vietnam. Di Pentagon, Dayan bertemu dengan tiga kolonel bersemangat “gung-ho” yang memberi pengarahan kepadanya dan sambil kemudian mengatakan kepadanya bahwa orang Amerika pasti menang di Vietnam. Dia juga mengadakan pertemuan dengan tiga perencana pemerintahan Kennedy dan Johnson, golongan orang-orang yang terbaik dan paling cerdas — dan paling berpengaruh dalam Perang Vietnam: Penasihat Keamanan Nasional Walt Rostow; mantan Duta Besar A.S. untuk Vietnam Selatan Jenderal Maxwell Taylor (yang banyak menasihati LBJ tentang perang di Vietnam); dan Menteri Pertahanan Robert S. McNamara. Ketiga “hawkish” Perang Vietnam itu dengan percaya diri menggembar-gemborkan keefektifan strategi “search and destroy” A.S. yang mendapat banyak pujian dari sekutu Vietnam Selatan mereka. Seperti yang kemudian ditulis Dayan dalam memoarnya, mereka “melihat kunci kemenangan dengan menghancurkan semangat juang Hanoi … dengan pemboman besar-besaran di Vietnam Utara dan memusnahkan unit-unit Viet Cong di selatan.” McNamara dan Taylor, katanya , “Percaya bahwa jika aktivitas militer Amerika ini dipertahankan dan diperkuat, Ho Chi Minh tidak akan bisa bertahan lama.”

Pasukan Amerika dengan latar belakang desa yang terbakar. Para petinggi militer Amerika di Vietnam yakin akan taktik “Search and Destroy” yang mereka jalankan.

TIBA DI VIETNAM

Moshe Dayan tiba di Saigon pada tanggal 25 Juli. Dia menyamakan situasi di sana — dengan banyaknya tentara Vietnam Selatan dan Amerika yang bersenjata lengkap berjongkok di belakang bunker-bunker berpasir di persimpangan besar kota itu — dengan kehidupan di Yerusalem dan kota-kota lain di Palestina di bawah pemerintahan kolonial Inggris. Bukan sebuah situasi yang menjanjikan menurutnya. Militer AS menyambut dan memberi akses terbuka untuknya. Ke mana pun dia pergi, para jenderal dan kolonel mengajaknya minum dan makan malam — dan memberinya cukup banyak kebebasan untuk melihat perang itu dari dekat secara pribadi. Meskipun McNamara mengatakan kepada Westmoreland (menurut Dayan) untuk tidak mengekspos dirinya terhadap “terlalu banyak risiko,” namun, para perwira Amerika di tingkatan rendah membiarkannya “melihat banyak aksi (seberapa yang dia maui).” Namun, sebelum menuju ke lapangan, Dayan sempat bertemu dengan para pemimpin politik dan militer Vietnam Selatan yang berpengaruh, termasuk Nguyen Van Thieu, yang saat itu menjadi orang nomor dua dalam pemerintahan di bawah Perdana Menteri Nguyen Cao Ky. Thieu memberi tahu dia — banyak hal — tentang betapa dia mengagumi panglima militer Jenderal Vietnam Utara, Vo Nguyen Giap, yang mengalahkan Prancis di Dien Bien Phu pada tahun 1954.

Moshe Dayan with U.S. Brig. Gen. William Stiles, assistant commanding general, 1st Marine Division. Dayan toured the Vietnam battleground in the summer of 1966, to write a series of newspaper articles on the political situation there, though he wrote mostly about military strategy and tactics. (National Archives)
Dayan sedang beristirahat di tengah hutan. Para komandan militer Amerika sebenarnya diinstruksikan agar tidak membawa Dayan dalam misi-misi yang menyerempet bahaya, namun para komandan di garis depan nampaknya tidak peduli dengan hal itu.

OBSERVASI KE MEDAN TEMPUR

Dua hari kemudian dengan dilengkapi 3 kartu pengenal (Vietnam Selatan, Amerika dan Israel) serta mengenakan seragam militer Amerika, sepatu bot hutan dan topi bisbol berwarna hijau zaitun, Dayan berada di atas kapal patroli AS di Delta Mekong dimana dia menyaksikan para pelaut Amerika menghentikan dan memeriksa kapal sungai Vietnam untuk mencari barang-barang selundupan. Disini Dayan melontarkan kritik, bahwa jika tidak melakukan pencarian secara serius dan menutup perdagangan regional, kesan yang muncul di antara penduduk adalah bahwa Viet Cong sangat kuat sehingga dibutuhkan pasukan yang dilengkapi dengan persenjataan terbaik untuk mengalahkan mereka. Dia menyarankan sebaliknya, menurut catatan di buku hariannya tanggal 27 Juli, agar Amerika secara signifikan mengurangi pasukan “dan di tempat-tempat tertentu untuk menempatkan satuan laut dan udara, yang dapat dipanggil setiap saat melalui radio komunikasi.”

Moshe Dayan dengan penutup mata hitamnya yang khas dan seragam militer Amerika menyeberangi sungai di Vietnam, Agustus 1966.

Hari berikutnya Dayan melakukan tur VIP ke USS Constellation, kapal induk besar yang berada di Laut Cina Selatan, tempat pesawat tempur US Navy terus-menerus meluncur menuju misi serangan udara ke Vietnam Utara dan Selatan. Seperti yang akan terjadi selama seluruh kunjungannya ke Vietnam, Dayan sangat terkesan dengan kekuatan mesin perang AS dan oleh kemampuan dan dedikasi pasukan Amerika. Tetapi dia menyuarakan keraguan tentang apakah kekuatan yang luar biasa, dedikasi dan kemampuan akan memungkinkan Amerika untuk menang dalam perang yang pada dasarnya adalah perang gerilya melawan musuh yang gampang menghilang. Dia juga skeptis dengan penjelasan resmi tentang tujuan perang Amerika. Terlepas dari apa yang dia lihat dan diberitahu, Dayan berkata, dia berpikir bahwa orang-orang Amerika “tidak berperang melawan infiltrasi ke Selatan [Vietnam] atau melawan gerilyawan, atau melawan … Ho Chi Minh, tetapi melawan seluruh dunia. Tujuan sebenarnya mereka adalah menunjukkan kepada semua orang — termasuk Inggris, Prancis, dan Uni Soviet — tentang kekuatan dan tekad mereka sambil menyampaikan pesan ini: ke mana pun orang Amerika pergi, mereka tidak dapat dilawan. ”

LIVING LIKE A GRUNT

Meskipun usianya sudah menginjak 51 tahun, pendamping dari Amerikanya tahu bahwa jurnalis bermata satu itu telah melihat satu atau dua pertempuran dalam hidupnya. Dia tidak takut mendekati garis depan yang terus-menerus bergerak antara musuh dan pasukan Amerika, tiarap saat penyergapan, menyeberangi sungai atau menjadi kotor oleh lumpur dan keringat. Dia bergerak seperti cacing dalam debu yang panas, kata seorang jenderal Amerika. Namun itu tidak berarti bahwa lumpur di Vietnam tidak meninggalkan kesan mendalam padanya. “Saya telah melihat lumpur dalam hidup saya; kami sering berlutut di dalamnya pada tahun-tahun awal di Nahalal, tetapi saya belum pernah melihat lumpur seperti ini, “tulisnya pada tanggal 13 Agustus, sembari menambahkan bahwa lumpur ini disebabkan oleh gerakan tank-tank, yang mengaduk tanah dan menyebabkannya terendam oleh air hujan monsun yang turun tanpa henti. “

Meski sudah tidak muda lagi, namun Moshe Dayan tidak minta diistimewakan, ia mau menjalani sehari-hari di Vietnam layaknya prajurit berpangkat rendah.

PENGALAMAN DI DMZ

Dayan terus terkesan oleh senjata Amerika dan semangat militer mereka setelah dia kembali ke Vietnam Selatan dari USS Constellation. Perhentian pertamanya adalah tiga hari “Tour of Duty” dengan kompi Marinir yang berpatroli di selatan Zona Demiliterisasi (DMZ). Dia bergabung dengan kompi marinir yang dipimpin oleh Letnan Satu Charles Krulak, putra Letnan Jenderal Victor “Brute” Krulak, yang saat itu adalah komandan Marinir Armada Pasifik, dan seorang pria yang memiliki andil kuat dalam membuat garis besar kebijakan Korps Marinir di Vietnam. Dayan menanyakan kepada Krulak muda (yang kemudian juga menjadi komandan Korps Marinir) tentang tujuan Amerika di Vietnam, dan juga memberi tahu letnan muda itu mengenai penilaiannya sendiri tentang situasi di lapangan. Dayan, menurut Charles Krulak, mengatakan orang Amerika harus “berada di mana masyarakat sipil hidup,” bukan berusaha untuk memburu VC di hutan-hutan.

Moshe Dayan berpatroli bersama para prajurit Amerika di garis depan.

MENUJU KE DATARAN TINGGI TENGAH

Dari DMZ, Dayan pergi ke Danang, lalu ke Pleiku di Dataran Tinggi Tengah, tempat mantan jenderal Israel itu menyaksikan aksi pertempuran untuk pertama kalinya. Dayan disambut di Pleiku oleh komandan Divisi Kavaleri-1, Mayor Jenderal John “Jack” Norton, lulusan West Point 1941, yang telah terjun di belakang garis pertahanan Jerman selama D-Day dengan Divisi Lintas Udara ke-82. “Saya mendapat kabar dari Jenderal Westmoreland,” Dayan mengutip Norton yang mengatakan, “Untuk Anda, mon général, semua pintu terbuka. Jaga dirimu, dan demi Tuhan, jangan membuat salah satu prajurit di unitku terbunuh. ” Empat hari kemudian, Dayan naik helikopter menemani prajurit Kavaleri udara dalam Operasi Paul Revere, kelanjutan dari Operasi Hastings di dekat perbatasan Kamboja. Sekali lagi, dia terkesan dengan kekuatan militer Amerika, terutama dengan inovasi Angkatan Darat dalam peperangan yang menitik-beratkan pada penggunaan helikopter. “Ada total 1.700 buah helikopter di negara ini,” tulisnya, “lebih banyak dari semua helikopter di Eropa.” Tetapi Dayan kurang terkesan dengan taktik dan strategi Amerika, dan menyatakan keraguan serius tentang kemampuan intelijen AS. Ketika pasukan Air Cavalry pergi menjalankan misi “search and destroy”, Dayan berkata, “ada satu hal yang terlewatkan, yakni tidak ada satupun yang tahu persis di mana posisi batalion Viet Cong. Foto-foto udara dan pengintaian udara gagal untuk mengenali perkemahan Viet Cong, parit pertahanan, bunker yang disamarkan dengan vegetasi hutan. ”

Moshe Dayan dengan latar belakang helikopter CH-47 Chinook yang sedang menurunkan meriam artileri. Selama di Vietnam, Dayan senantiasa terkesan dengan gelar senjata dipertunjukkan Amerika di Vietnam.

Dayan dan kawan-kawan Amerikanya mendarat di zona pendaratan yang panas. “Di sekelilingnya terdengar suara peluru yang meledak dan tembakan senapan mesin,” tulisnya dalam laporannya di surat kabar. Orang Amerika merespons seperti biasa, dengan unjuk firepower senjata yang besar. Kemudian Dayan memandang dengan takjub ketika apa yang disebutnya “pertunjukan gelar mesin tempur Pasukan Kavaleri ke-1” segera didaratkan ke zona pendaratan: howitzer 105mm, gunungan peluru artileri, lebih banyak senjata dan amunisi, buldoser, peralatan komando dan kontrol. “Tapi di mana perangnya?” Dayan bertanya retoris. “Rasanya seperti menonton manuver militer — timpang hanya dari satu sisi. Mungkinkah mereka sukses dengan cara ini, saya bertanya-tanya, apakah Viet Cong juga memiliki pesawat tempur, artileri dan kendaraan lapis baja? Senjata terberat di unit Viet Cong adalah mortir sedang, bisa dipanggul di punggung seorang pria. Tapi apapun itu, di manakah Viet Cong nya berada? Dan di mana pertempuran itu? ” Jawaban itu datang segera — setengah jam kemudian, ketika kompi satuan kavaleri pertama yang mendarat 300 yard didepannya disergap. Menurut Dayan, kompi itu menderita 70 persen korban, total 25 tewas dan 70 terluka. Di antara yang tewas adalah seorang komandan peleton yang “terbunuh ketika sebuah peluru menghantam dan meledakkan granat yang tergantung di ikat pinggangnya.”

BERSAMA PASUKAN KHUSUS

Dayan kemudian menghabiskan dua hari di kamp Pasukan Khusus di Plei Me, tiga mil dari perbatasan Kamboja. Segera setelah tiba, dia keluar berpatroli dengan pasukan Baret Hijau. Tapi Dayan meninggalkan patroli dengan tiba-tiba ketika Norton mengirim kabar bahwa ada sebuah serangan berat VC terhadap unit Korea Selatan yang ada di dekat situ. Dayan bergegas ke tempat kejadian dan melaporkan bahwa sekitar 130 tentara Korea telah memukul mundur sekitar 1.000 tentara yang menyerang Viet Cong, dengan bantuan tepat waktu dari serangan artileri besar-besaran Amerika. Dayan sangat terkesan. Unit pendukung Amerika menembakkan lebih dari 21.000 peluru artileri,” ia melaporkan. “Ini lebih banyak dari total gabungan volume tembakan artileri yang dilepaskan oleh tentara Israel selama kampanye Sinai dan dalam Perang Kemerdekaan.” Dayan menemukan situasi serupa di mana pun dia pergi. Dia menyimpulkan bahwa taktik dan strategi Viet Cong bisa bekerja, tetapi strategi Amerika, paling banter, hampir sukses. Tujuan utama Viet Cong, katanya, “adalah untuk menyerang unit-unit Amerika dengan tujuan menghancurkannya hanya ketika prospek kesuksesannya besar…. Sembilan puluh dari setiap seratus pertempuran dalam Perang Vietnam dimulai seperti yang ini, yakni atas inisiatif Viet Cong, ketika mereka menganggap situasinya menguntungkan. ” Adapun orang Amerika, Dayan menulis bahwa mereka kerap tidak melakukan penghancuran musuh “ketika situasi taktis menguntungkan.” Komandan Amerika, katanya, “sangat ingin melakukan kontak dengan Viet Cong setiap saat, dalam situasi apa pun, dan berapa pun harganya. “

Kemanapun Dayan pergi, ia tidak pernah luput dalam menulis catatan mengenai pengalaman, pelajaran dan pemikirannya yang didapat selama di Vietnam.

GELAR SENJATA YANG MENGESANKAN,….TAPI

Dayan terus terkesan oleh persenjataan Amerika. “Apa yang dimiliki orang Amerika,” katanya dalam tulisannya surat kabar, “adalah semua yang hanya dapat diimpikan oleh seorang komandan tempur, seperti: helikopter yang tersedia untuk menyerbu pasukannya ke lokasi mana pun; pasukan terlatih dengan semangat agresif dan siap beraksi; dukungan udara dan artileri; peralatan, amunisi, dan bahan bakar dalam pasokan yang hampir tak terbatas. ” Meskipun demikian, kata Dayan, orang Amerika “belum berhasil mengusir Viet Cong.” Lebih buruk lagi, “mereka belum berhasil menggiring mereka ke pertempuran yang menentukan. Mereka tidak selalu tahu di mana unit Viet Cong berada; dan ketika mereka bergerak melintasi mereka — musuh dengan mudah lepas dari genggaman mereka setelah pertempuran awal, menggagalkan upaya mereka untuk menutup rute keluar Viet Cong. ” Dayan mendapat kesan dari percakapannya dengan para tentara dan perwira bahwa mereka pada umumnya, sopan dan menyenangkan. “Sebagai individu, mereka berkualitas ’emas,’” tulisnya pada 29 Juli. “Namun, semuanya ada batasnya, terutama bila menyinggung kekuatan Amerika Serikat. Dalam hal ini, bahkan dalam percakapan, mereka tidak menunjukkan fleksibilitas. ”

Moshe Dayan turun dari helikopter UH-34 Cocktaw. Meski kagum dengan peralatan tempur Amerika, namun Dayan senantiasa mengungkapkan keraguannya akan keberhasilan Amerika di Vietnam.

Dayan juga terkesan dengan tekad musuh. Dia memberikan satu contoh, setelah dia diizinkan untuk menyaksikan interogasi seorang tahanan VC di sebuah kamp pasukan pertahanan lokal Civilian Irregular Defense Group (CIDG) di dekat Pleiku pada 16 Agustus. Menjelang akhir sesi, Dayan menulis, tahanan itu melihat interogator Amerika-nya pada matanya dan meludahi wajahnya. “Dengan suara datar, dia berkata,‘ Sekarang kamu bisa membunuhku. Saya tidak takut. Andalah yang takut. ” Terlepas dari tekad musuh dan keberhasilan strategi mereka, Dayan menyuarakan keraguan bahwa Viet Cong dapat mengalahkan Amerika, terutama karena superioritas AS yang luar biasa dalam “pesawat, artileri, armor, komunikasi modern, kapal induk, helikopter-kavaleri, yang melawan musuh yang nyaris tidak memiliki apa pun (yang sebanding dengan yang dimiliki Amerika)”.

CARA PERANG PIHAK KOMUNIS

“Satu-satunya cara Dayan melihat kemenangan bagi pihak Komunis adalah secara politik — bukan militer — satu: jika orang Amerika” karena alasan politik (domestik atau asing) … memutuskan untuk menghentikan perang sebelum mencapai kemenangan total ” Dayan melanjutkan, kemudian dengan menunjukkan cara-cara lain yang bisa dilakukan pemerintah Hanoi yang dapat membuat orang Amerika frustasi dengan maju mundur di medan perang. “Hanoi dapat menolak untuk pergi ke meja perundingan,” katanya, dan “menolak untuk menandatangani perjanjian apa pun di mana dia harus menerima pembagian Vietnam ….” Di bidang pertempuran, katanya, VC dapat mencegah Amerika dan Vietnam Selatan untuk melakukan “pasifikasi di pedesaan” dengan menciptakan pertempuran ” mengadu unit reguler musuh dengan unit reguler mereka dalam pertempuran frontal dan dengan perang gerilya.”

“Ho Chi Minh’s path cannot be blocked with bombs” Moshe Dayan’s penultimate article on behalf of Ma’ariv. The article was published on October 28, 1966.

KRITIKAN TERHADAP TAKTIK WINNING HEART AND MIND

Dayan menolak untuk menerima klaim dari Jenderal Westmoreland bahwa tujuan militer adalah untuk membantu rakyat Vietnam, namun buatnya tujuan Amerika adalah untuk menghancurkan Viet Cong. “Ini bukan perang untuk membantu Vietnam selain perang Amerika Serikat melawan Viet Cong. Tidak penting bagaimana mereka mencapai tujuan itu, bahkan jika itu bertentangan dengan kepentingan orang Vietnam, untuk mempertahankan Kesepakatan Jenewa atau karena alasan lain, ”tulisnya tentang kesannya di Vietnam. “Mereka tidak akan menghentikan perang sekarang, bahkan demi kebaikan Vietnam (tapi siapa pula yang akan menentukan baik atau buruknya?).” Apa yang diungkapkannya bukanlah bentuk sikap pasifisme. Dayan mendukung bahwa negara adikuasa seperti Amerika Serikat bisa menembak “setiap sniper musuh dengan rentetan tembakan artileri.” Namun, ia sangat menentang apa yang disebutnya “Proses Amerikanisasi masyarakat Vietnam”. Dia menulis pada 4 Agustus: “Para dokter, guru, administrasi, bersemangat dalam mengajar anak-anak di sini tentang baseball dan Kepramukaan. Namun semua ini tidak berasal dari rakyat Vietnam sendiri, seperti negara mana pun, mereka dapat menerima bantuan dari luar negeri, tetapi bukan dari hal yang dipasakan. Kemajuan harus secara alami dan mandiri, melalui konsultasi dan bantuan tetapi bukan dengan dikte dan pelatihan. ”

Moshe Dayan menikmati jagung bakar bersama penduduk lokal Vietnam. Dayan mengkritisi program Desa Strategis yang dijalankan pemerintah Vietnam Selatan dan Vietnam, dimana program tersebut dinilainya malah memperburuk masalah pengungsi.

Untuk Viet Cong, ia menyimpulkan, “tidak dapat mengusir Amerika, tetapi mereka dapat menghindari diri mereka diusir. Mereka dapat menggagalkan normalisasi kehidupan rakyat di selatan. ” Dayan sangat kritis terhadap program Desa Strategis yang dicanangkan Vietnam Selatan-Amerika dan strategi penggantinya, strategi memenangkan hati-dan-pikiran rakyat. Sejak 1962 pemerintah Saigon telah merelokasi penduduk desa Vietnam dari daerah-daerah yang diancam oleh musuh ke dusun-dusun yang sesak yang dibentengi mereka sendiri. Pada hari-hari terakhirnya di negara itu, Dayan mengunjungi dua tempat seperti itu, yang ia sebut “pemukiman pengungsi.” Dayan tidak menyukai sebagian besar dari apa yang dilihatnya. “Suasananya tidak menyenangkan,” tulisnya dalam artikel surat kabarnya. Para wanita, katanya, menolak untuk diwawancarai. “Ketika kami mendekati mereka, mereka dengan sedih mundur. Bahkan anak-anak, yang biasanya menyukai hal-hal seperti ini tampak menderita, mengulurkan tangan mengemis sambil diam-diam mengikuti ibu mereka. ” Di pemukiman kedua, Dayan melaporkan bahwa sebagian besar orang tampak lebih bahagia, dengan anak-anak yang lebih muda bersekolah di sekolah yang didukung A.S. dan yang lebih tua bekerja di pekerjaan dengan gaji layak di lingkungan yang aman. Tetap saja, kata Dayan, segalanya tampak tidak beres. Apa yang “orang Amerika sebut ‘pemukiman kembali para pengungsi,'” Dayan melaporkan, “sebenarnya bukan pembangunan desa-desa pertanian tetapi penciptaan daerah kumuh di sekitar kamp-kamp Angkatan Darat mereka.”

HARI-HARI TERAKHIR DI VIETNAM DAN KONKLUSI YANG DIDAPAT

Dayan menghabiskan minggu terakhirnya di Vietnam, dari tanggal 20-27 Agustus, di Delta Mekong dan di Lai Khe ditemani Mayjen William Depuy, komandan Divisi Infanteri ke-1. Dia datang dengan lebih banyak kritik terhadap misi “search and destroy” yang dijalankan oleh orang-orang Amerika, strategi perang atrisi, dan meramalkan bahwa Viet Cong dapat menang jika mereka tetap bertahan pada taktik gerilya “hit and run”. Dan dia sekali lagi mencela strategi “winning heart and minds”, seperti yang dicontohkan dalam program pemukiman kembali para pengungsi. “Saya tidak percaya Amerika melakukan pasifikasi rakyat Vietnam,” tulis Dayan dalam pengiriman tulisan terakhirnya dari zona perang. “Proses Amerikanisasi perang dapat berhasil, dari sudut pandang militer, tetapi Amerikanisasi dalam kehidupan sehari-hari, hanya akan memberi Viet Cong alasan untuk melakukan serangan-serangan teroris dan memberi mereka argumen propaganda dalam melawan apa yang mereka sebut penyebaran hegemoni Amerika di Vietnam. Dia memperkirakan bahwa Angkatan Darat AS memiliki kekuatan untuk menghancurkan VietCong, tetapi tidak akan pernah dapat mencabut dukungan dan penghormatan yang ada pada sebagian besar penduduk negara itu (terhadap VietCong) karena pihak Utara/komunis dianggap berjuang untuk kemerdekaan Vietnam. Petualangan Dayan di Vietnam memperkuat satu pandangan klise yang usang yang sering dikutip oleh para pendiri Israel – betapa pentingnya Negara Israel untuk bisa menghadapi tantangannya sendiri. Di Israel, ketika kita berbicara tentang” keterlibatan Amerika “kita harus tahu apa artinya ‘bantuan militer Amerika’: itu tidak berarti bahwa mereka akan menempatkan Armada Ketujuh di bawah komando IDF, tetapi sebaliknya, adalah berupa “pemindahan kedaulatan” Israel ke tangan Pasukan Amerika, demi mempertahankan kemerdekaan sekutunya – Amerika pertama-tama akan mengambilnya dari mereka untuk diamankan ”(29 Juli 1966“ Vietnam Diary ”). Hal-hal dan observasi yang dilakukan ini kemudian ditulis Dayan dalam bukunya, Vietnam Diary, yang diterbitkan di Israel pada tahun 1977. Buat Dayan, “Amerika memenangkan segalanya — kecuali perang.” Kurang dari setahun setelah Moshe Dayan meninggalkan Vietnam, ia akhirnya kembali ke garis depan politik Israel. Dia kemudian diangkat sebagai menteri pertahanan pada tanggal 1 Juni 1967, dan — bersama dengan Jenderal Yitzhak Rabin — memimpin Israel menuju kemenangannya yang luar biasa selama Perang Enam Hari dari tanggal 5-10 Juni 1967.

Pengalaman yang didapat Dayan di Vietnam, kemudian dibukukan dalam buku “Vietnam Diary” yang diterbitkan di Israel tahun 1977.
Pada akhirnya Dayan mendapatkan jabatan yang ia idam-idamkan: Menteri Pertahanan Israel.
Dayan dan tentara Israel di Yerusalem, 1967. Setahun setelah petualangannya di Vietnam, Dayan sukses membawa militer Israel memperoleh kemenangan gemilang di perang 6 hari, Juni 1967.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Moshe Dayan Sounds the Alarm in Vietnam by Marc Leepson

RARE PHOTOS: When Moshe Dayan Toured Vietnam and Called Out U.S.

https://www.google.com/amp/s/www.haaretz.com/amp/israel-news/MAGAZINE-photos-when-moshe-dayan-toured-vietnam-called-out-u-s-arrogance-1.5433374

From the Political Wilderness to the Asian Jungle: Moshe Dayan in Vietnam

2 thoughts on “Juli-Agustus 1966: Saat Moshe Dayan Pergi ke Vietnam Setahun Sebelum Pecah Perang 6 Hari.

  • 12 December 2020 at 4:46 pm
    Permalink

    Bagus buat bacaan para perwira untuk mengambil keputusan

    Reply
    • 12 December 2020 at 5:04 pm
      Permalink

      Yup juga buat orang-orang awam yang baca sejarah, untuk memahami faktor-faktor yang bisa mempengaruhi hasil akhir perang.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *